Senin, 29 Februari 2016

“Cinta Palsu” Beredar Luas di Kalangan Orang Muda Termasuk Mahasiswa

“Cinta Palsu” Beredar Luas di Kalangan Orang Muda Termasuk Mahasiswa

Usia saya tidak muda lagi dan masa remaja sudah lama meninggalkan saya, namun kali ini saya bikin tulisan yang berjudul: “Cinta Palsu” Sudah Menjadi Fenomena di Kalangan Orang Muda. Judul ini muncul setelah saya mengikuti tema program pada 2 buah TV swasta.
Terus terang saya bukan penggemar acara berisi hura-hura atau yang berbau remaja alay. Anak- anak saya dan juga istri saya hampir tiap sore asyik mengikuti topik topik pembahasan dalam 2 program TV swasta nasional. TV ini adalah Trans TV dan juga Trans 7.
Dimana-mana saya duduk- maksudnya di warung, di lobby, dan di rumah orang, saya kerap menemui banyak orang lebih suka memilih TV swasta ini. Mungkin karena program siarannya lebih unik dibanding dengan TV lain yang isinya banyak bertemakan film yang ending topiknya dapat ditebak, atau program TV yang selalu menayangkan kehidupan politik yang carut marut.
Akhirya saya juga coba mengikuti salah satu program yang diminati oleh keluarga saya yaitu program “Katakan Putus” di Trans TV. Juga program “Rumah Uya” di Trans 7. Kedua-dua TV ini programnya cukup kompak dibawah arahan Trans Media- ini menurut saya.
Kesannya acara Rumah Uya ini agak hura-hura, namun diakhir acara ada pelajaran yang diperoleh. Yaitu jangan terjebak dalam cinta yang salah. Begitu juga dengan acara Katakan Putus, yang berharap sepasang tokoh yang hubungan pacarannya diterpa masalah agar segera putus dan ada pelajaran bagi sang tokoh yang gemar memberi PHP (Pemberian Harapan Palsu) atau PHO (Penggaggu Hubungan Orang).
Bedanya bahwa kalau acara Rumah Uya. Ini semacang Talk Show. Rumah Uya mendatangkan tokoh (sepasang orang muda) yang diterpa masalah cinta. Tentu saja mereka datang dan rela problem mereka buat diekspos. Biasanya ada seorang Cowok gateng yang mencintai gadis dan secara diam diam juga mencintai pacar orang. Kemudian mereka berbohong untuk saling merayu dan saling menutupi modus cintanya. Lihat dulu foto icon Rumah Uya..dibawah ini !!
Wah salah upload. Itu icon buat Trans Tv yaitu "Katakan Putus" Ini yg dibawah baru icon buat Rumah Uya di Trans 7.

Tidak mutlak Cowok ganteng yang membuat masalah, pada beberapa sesi juga ada seorang Cewek Cantik yang jatuh cinta dengan seorang pemuda dan entah apa prinsipnya maka dia juga mencintai pemuda lain, dan kerap pemuda itu juga mengkhianati kekasihnya yang setia.
Pada acara Katakan Putus, awak Trans TV menemani tokoh yang mengalami korban cinta. Bisa jadi ia seorang wanita yang cintanya dikhianati oleh kekasihnya yang munafik- pura pura cinta sejati, namun dibalik itu ia adalah pengkhianat sejati. Juga bisa jadi ia adalah seorang cowok yang dengan enteng menaklukan hati wanita dan sekaligus menkhianati beberapa wanita.
Awak Trans TV menemani sang korban untuk berburu dan membongkar kepalsuan cinta. Dalam satu episode terbongkarlah kepalsuan kepalsuan cinta. Rata rata tokoh-tokoh cinta yang penuh dengan kepalsua itu jago bersandiwara- manis mulut, cantik dan ganteng, berdandan modist. Ini semua kelebihannya untuk menaklukan dan sekaligus mengibuli hati dan cinta pasangannya.
Terkesan bagi saya bahwa banyak cinta yang ditawarkan dan dilakoni oleh orang muda- umumnya mereka adalah mahasiswa- penuh kepalsuan. Apakah dia wanita atau pria, ketika dia menjalin komunikasi dan menjalin cinta dengan seseorag maka pada saat yang sama dia juga mempunyai PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain).
Saya salut dengan kehidupan cinta masa lalu, karena lebih awet, sehat dan tahan lama. Nggak percaya..??? Coba lihat kehidupan cinta ayah dan ibu anda. Mereka sudah menikah lebih dari 20 tahun dan cinta mereka awet. Atau lihat cinta kakek- nenek anda. Usia cinta mereka sudah puluhan tahun, ya lebih tua dari usia ibu anda. Dan sungguh kita kagum atas kualitas cita mereka.
Sebaliknya coba simak kisah cinta anak anak muda sekarang dan juga para tokoh selebrity. Ya sangat rentan dan mudah hancur. Saat mereka jatuh cinta, keromantisan mereka diuber dan diekspos ke publik seolah-olah merekalah yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia ini. Namun beberapa bulan kemudia cinta mereka berantakan. Malah kalau mereka dah punya anak, anak mereka menderita menjadi korban ...hidup tanpa ayah atau tanpa ibu. Cukup banyak anak-anak dirawat dan dibesarkan oleh single parent. Dibesarkan oleh single parent yang galau...dan kelak anak mereka juga tumbuh kurang sehat emosi dan jiwanya.
Apa sih penyebab keretakan cinta remaja sekarang ? Mengapa orang muda sekarang rentah mudah putus cita, bercerai, konflik perkawinan ? Mengapa perkawinan orang muda sekarang kalah sehat dari perkawinan generasi lama- Ayah ibu dan kakek nenek mereka ? Salah satu penyebabya adalah “Media Sosial” degan SMS dan chattingannya. Kalau begitu FACEBOOK, TWITTER, INSTAGRAM, WHASUP, LINE, BBM, dll adalah racun bagi kelanggenangan cinta. Ya Mengapa ???

SMS dan Chatting Salah Satu Penyebab Perceraian. Melihat meriahnya sebuah pesta perkawinan, rasanya tidak ada pasangan yang bercita-cita untuk bercerai. Bukan berarti sebuah bahtera perkawinan akan langgeng sampai akhir hayat. Tidak jarang, bahtera perkawinan itu akan pecah ditengah perjalanan dengan berbagai sebab, salah satunya adalah gangguan pihak ketiga.
Selama ini, Kabupaten Aceh Tengah dikenal sebagai daerah yang “adem,” warganya rukun, angka perceraian rendah karena kentalnya ikatan kekerabatan. Namun, warga Kabupaten Aceh Tengah terkaget-kaget membaca data perceraian yang dilansir media online Lintas Gayo, Sabtu (9/3/2013). Baru memasuki bulan ketiga 2013, Mahkamah Syar'iyah (Pengadilan Agama) Takengon telah memutuskan 58 perkara cerai gugat dari 155 perkara yang diterima pengadilan itu. Apa penyebabnya? Menurut Drs HM Yacoeb Abdullah, Ketua Mahkamah Syar'iyah Takengon, perceraian itu terjadi disebabkan, antara lain karena krisis moral, tidak ada tanggung jawab, penganiayaan berat, cacat biologis (impotensi-pen), poligami, kawin paksa, cemburu dan gangguan pihak ketiga.
Memang, akhir-akhir ini gangguan pihak ketiga menjadi trend baru runtuhnya sebuah bahtera rumah tangga. Lebih-lebih setelah hampir semua kawasan Aceh Tengah terjangkau jaringan handphone dan maraknya penggunaan media jejaring sosial. Ditengarai, SMS dan chatting menjadi alat pihak ketiga untuk berkomunikasi dengan isteri/suami orang lain sehingga berpotensi mengganggu rumah tangga pasangan lainnya. Berawal dari sebuah SMS iseng yang menanyakan kabar, lama-lama menjadi ajang curhat.
Begitu saling curhat, terbukalah berbagai hal yang terkait dengan problem rumah tangga kedua belah pihak. Setelah curhat, SMS mengarah ke masalah yang lebih pribadi, sampai akhirnya membuat janji pertemuan disebuah tempat diluar kota. Itulah sepenggal pengakuan yang diungkapkan HA (40) seorang laki-laki yang harus didamaikan oleh cerdik pandai.
Bercerai dari Suami Akibat Kecanduan Chatting (ummuraihanah: http://jilbab.or.id/archives/403-bercerai-dari-suami-akibat-kecanduan-chatting). Duh,…siapa yang tidak kenal dengan chatting?? Rasanya hampir sebagian besar umat manusia diatas muka bumi ini mengenal chatting dengan baik,…bahkan amat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.Sarana yang satu ini memang sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang jauh dari keluarga,handai taulan,teman atau saudara dan yang lainnya.
Enak mengobrol di sini karena selain murah juga praktis ditambah teknologi sekarang yang bisa memuat suara kita didalamnya sekaligus webcamnya maka jadilah berkomunikasi jarak jauh ini nyaris sempurna.Orang jadi lebih suka memilih teknologi ini dibandingkan dengan komunikasi lewat telpon karena biayanya yang tidak murah selain itu Penelpon tidak bebas ngobrol karena teringat biaya pulsa yang bisa aja membengkak!!Akan tetapi tahukah anda bahwa dibalik itu semua bagi mereka yang tidak pandai menggunakannya bisa terfitnah dengannya,..terfitnah dengan chatting kok bisa?? Ya…bisa bahkan ada salah satu akhwat muslimah tertinah dengan chatting ini,..sampai ia harus bercerai dengan suaminya gara-gara chatting ini,…kisah nyata yang perlu kita baca untuk diambil ibrahnya
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i…ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah disini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya.Dirumah iapun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya dimana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon.Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya beliaupun mahir bermain internet.Yang akhirnya iapun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah,…hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah..sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya beliau akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting ,…sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk diinternet.Sang istripun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian,… ia merahasiakan dengan siapa ia chatting ..khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi….sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lekai tersebut.
Fitnahpun semakin terjadi didalam hatinya,..ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda..dan sejuta keindahan lainnya dimana setan telah mengukir begitu indah didalam lubuk hatinya,..
Duhai fitnah asmara semakin membara,…ketika ia chatting lagi sang laki-laki itupun tambah menggodanya,..ia pun ingin bertemu empat mata dengannya..Gembiralah hatinya,..iapun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa.Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran,..lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab.Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya….
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya,..sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya..Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar,…lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya iapun meminta cerai dari suaminya.Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki terse but yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu,..karena terus didesak sang istri akhirnya iapun dengan berat hati menceraikan istrinya.Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu.Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya iapun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda.Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya,..ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini,…dengan tegasnya silelaki itu berkata “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau Hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami.Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia Kapadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!” Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini,..sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya….iapun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu…mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.

Sungguh kisah diatas patut untuk direnungkan bersama semoga kita semua ukhti muslimah tidak terfitnah dengan sarana ini (chatting ini),..dan agar lebih waspada serta hati-hati…bila ada yang ingin menggodamu maka acuhkan saja,…selain karena resikonya yang tinggi (kita tidak tahu siapa dia)mungkin ia hanya ingin meluangkan waktu senggangnya dengan menggoda anda…Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita.Dan, penulis berdo’a semoga peristiwa diatas tidak menimpa muslimah lainnya.amiin.

Kamis, 25 Februari 2016

Kunci Kehebatan Bangsa Barat ?

Kunci Kehebatan Bangsa  Barat ?
                                                                                                                 
            Umumnya banyak orang menyebut bangsa Eropa sebagai orang barat. Namun dibalik itu bahwa kata “barat” lebih menunjukan status kebudayaan seperti lebih individualisme, suka berkompetisi, lebih mandiri, menggunakan logika, dan mereka menghargai privacy (hak-hak pribadi) yang mana budaya ini dipakai pada umumnya di Benua Eropa, Australia dan Amerika.
Sejak dulu orang barat itu memang hebat. Kunci kehebatannya karena mereka mempunyai semangat eksplorasi dan curiosity (rasa ingin tahu)  yang sangat tinggi. Penulis sendiri memiliki pengalaman positif bersama teman-teman yang berasal dari barat. Bukan berarti penulis terlalu menganggungkan karakter orang barat. Tentu saja orang-orang kita juga memiliki karakter yang juga hebat. Namun penulis ingin mengupas beberapa karakter positif yang dimiliki oleh orang barat tersebut.
            Jalaluddin Rakhmat (1998) menulis tentang protipe (karakter umum) orang Barat. Dia mengatakan bahwakalau di Asia atau Indonesia lelaki dewasa boleh menangis dan berteriak histeris, namun di mata orang barat akan terlihat kekanak-kanakan. Karakter pertama yang terlihat dari mereka adalah keteraturan dalam memanfaatkan waktu.
Mempelajari eksistensi orang barat dari berbagai sudut pandang selalu menarik. Segala pencapaian yang telah mereka peroleh. Kita bisa melihat seberapa besar pengaruh dan kontribusi orang-orang barat terhadap dunia.  Itu terjadi karena dilator belakangi oleh semangat kerja keras (endeavour) hingga akhirnya bisa menorehkan jasa yang tinggi.
            Prestasi orang  barat tidak hanya dalam satu bidang, namun di berbagai bidang, seperti dalam prinsip dan teori keilmuan, sains, teknologi, dan beberapa bidang lainnya. Kelebihan orang barat selama ini sudah banyak yang kita ketahui. Penemuan mereka dibutuhkan oleh umat manusia. Mereka yang berhasil tersebut memiliki  semangat yang hebat. Dalam belajarpun semangat mereka sungguh sangat hebat, karena memang prinsip hidup bahwa mereka memperioritaskan pendidikan.
            Karena begitu pentingnya peran pendidikan, maka sistem wajib belajar  bagi anak-anak juga pertama kali muncul di negara barat. Ada kebiasaan positif yang diterapkan oleh orang barat. Kebiasaan tersebut telah terlaksana turun temurun. Pendidikan buat anak-anak telah mereka lakukan sejak dari dalam kandungan.
            Geert Hofstede dalam Jalaluddin Rakhmat (1998) mengatakan bahwa mahasiswa barat tertarik untuk menguasai dan mendalami satu atau lebih mata pelajaran. Sementara kebanyakan mahasiswa di negara berkembang, termasuk di Indonesia, hanya tertarik sekedar lulus dalam ujian.
            Ketepatan waktu penting di Barat. Sementara ketepatan waktu di negara kita tergantung pada status sosial. Orang golongan atas, seperti kepala dan orang yang dianggap penting lainnya, cenderung memperlambat kedatangannya untuk orang bawah. Dan orang lapisan bawah harus on time untuk mereka. Orang yang merasa terdidik- karena pendidikan mereka tinggi- cenderung untuk enggan melakukan pekerjaan kasar. Mereka memandang status akan tinggi kalau tidak bekerja dengan tangan.  
Orang orang barat yang pintar terlahir dari kelurga yang sangat peduli dengan arti sebuah pendidikan. Untuk melihat keunggulan barat, mungkin bisa dengan cara membandingkan dengan budaya Timur. Walaupun beberapa negara di timur atau di benua Asia juga sudah sangat maju menyamai negara-negara Eropa seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Taiwan dan Singapura. Namun kita bandingkan dengan kondisi negara Asia secara umum dengan budaya bangsa barat.
Budaya maksudnya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, dan lain lain. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak.
Ada beberapa perbedaan antara budaya barat dan timur yang dewasa ini dapat kita amati dari media sosial- media elektronik dan juga media cetak. Bebeeapa perbedaan terlihat dari life style, trendy, nilai sosial, dan pendidikan. Life style atau gaya hidup orang Barat cenderung bersifat individualis. Mereka lebih senang hidup sendiri, berbeda dengan orang timur yang cenderung lebih bersosialisasi.
Tentang trendy, bahwa orang barat cenderung tidak mengikuti trend dan lebih memilih sesuatu yang bersifat tradisional. Penulis jadi memahami mengapa teman-teman penulis yang datang dari Eropa dan Australia, saat berlibur di Sumatera, mereka sangat menikmati kunjungan ke tempat- tempat tradisionil. Sementara kita, sebagai orang timur lebih memilih untuk mengikuti trend yang berbau modern, rasanya lebih enak menghabiskan waktu di mall atau pusat perbelanjaan yang modern. Kita menganggap orang yang tidak mengikuti trend sebagai orang yang belum mengenal selera modern. Jadinya orang barat lebih kaya pengalaman, apalagi saat berada dalam lingkungan tradisionil, mereka terlihat melakukan observasi atau pengamatan.
Menurut kebanyakan orang timur bahwa orang barat cenderung kurang mengetahui tata krama karena bersifat individualis, atau karena cara berpakaian mereka yang jauh berbeda dari standar orang timur. Anggapan demikian tentu bersifat subjektif, karena mereka juga memiliki ukuran etiket dan tata karma sendiri. Mereka lebih mandiri, percaya pada diri sendiri dan malah lebih patriot dan mencintai tanah air mereka- misalnya Orang Perancis sangat bangga menggunakan bahasa mereka. Orang Jerman tidak akan begitu bangga dalam menggunakan bahasa Inggris, mereka bangga dengan bahasa Jerman mereka.
Kemajuan orang barat, mereka peroleh kemajuan melalui pendidikan yang berkualitas dan percaya diri yang tinggi. Orang barat terlihat lebih mementingkan pendidikan. Mereka berlomba-lomba dalam hal mengejar prestasi. Sementara kita sebagai orang timur cenderung cepat puas dengan dengan ijazah yang kita peroleh.
Mari kita perhatikan, begitu banyak masyarakat kita yang menuntut ilmu di sekolah dan perguruan tinggi. Mereka belajar hanya sebatas mengerjakan PR atau belajar hanya sekedar mencari skor untuk ujian. Kalau tidak ada ujian maka cara belajar mereka terlihat melorot. Banyak yang pergi kuliah hanya untuk mendapatkan ijazah dan setelah selesai dari pendidikan mereka terlihat malas untuk menambah ilmu pengetahuan.
Filosofi yang berbunyi “tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat, atau long life education” hanya diaplikasikan oleh orang- orang barat (dan juga orang-orang yang datang dari maju lainnya di Asia). Kita sendiri, belum sepenuh hati dalam menggeluti ilmu pengetahuan. Karena mayoritas orang barat berpendidikan tinggi maka orang barat lebih tinggi tingkat kepercayaan dirinya.
Dimana letak kehebatan bangsa barat yang lain ? Kehebatan mereka terlihat dari ketertiban atau kedisiplinan. Pendidikan yang tinggi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Orang yang berpendidikan tinggi lebih taat pada peraturan. Orang barat lebih disiplin dalam mengendarai kendaraan, menyebrang pada tempatnya dan mereka lebih mematuhi peraturan lalu lintas yang ada. 
Di Melbourne, penulis lihat bahwa traffic light (lampu lalu lintas) dipatuhi oleh semua pengguna jalan. Saat lampu merah menyala maka trem, taxi, motor atau kenderaan pribadi hingga pengendara sepeda juga pada berhenti.  Tidak ada yang suka menyerobot dan menyerempet pengguna jalan lainnya dan semua warga menyebrang jalan pada tempatnya.
Dalam keluarga barat, anak dididik supaya mandiri sejak kecil, setelah dewasa orang tua sudah melepaskannya dan hidup masing masing. Berbeda dengan kebiasaan dalam masyarakat kita, perlakuan orang tua terhadap anak sangat protektif, sehingga anak tidak mandiri. Keluarga barat juga terbiasa menanamkan pola-pola berfikir jangka panjang, anak-anak harus memiliki tujuan hidup yang konkrit dan cara berfikir mereka lebih kritis dan terbuka. Kalau bangsa kita ingin maju maka kita musti memiliki pola berfikir jangka panjang.
Gaya kepemimpinan di barat juga membuat mereka lebih maju. Ada tiga bentuk gaya mempin yang kita kenal, seperti otoriter, demokrasi dan laissez-faire atau serba membolehkan. Orang barat sangat mengenal konsep demokrasi yang diadopsi orang orang tua di rumah hingga di perusahaan atau negara. Power gap (jarak antara pemimpin dan yang dipimpin) dalam masyarakat demokrasi sangat dekat.
Dalam masyarakat barat jarak antara pemimpin dan rakyat sangat dekat. Sebaliknya di negeri kita secara umum jarak antara pemimpin dan rakyat sangat jauh jauh. Begitu pada banyak rumah dimana orang tua seperti kepemimpinan seorang ayah- yang cenderung menjaga wibawanya dengan membuat jarak dengan anak-anak mereka. Jadinya  sistem masyarakat kita dan pemerintahan kita beda dengan gaya pemerintahan bangsa-bangsa yang ada di barat yang jarak antara pemimpin dan jarak tidak terlau jauh atau disebut juga Low Power Gap.
Low power gap ini membuat komunikasi atas-bawah, anak dan orang tua, guru dan murid, hingga boss dan buruh sangat nyambung. Mereka bisa melaksanakan manajemen rumah tangga, manajemen sekolah atau pendidikan hingga manajemen dalam masyarakat dan negara menjadi lebih berkualitas. Ini juga menjadi alas an mengapa orang barat bisa menjadi lebih hebat. Jadi kehebatan orang barat terbentuk dari way of life  mereka.
Sebenarnya remaja kita di Indonesia juga bisa menjadi lebih hebat. Sumarkoco Sudiro (1990) mengatakan bahwa untuk bisa menjadi hebat maka para remaja harus mempunyai identifikasi dan penjelajahan. Identifikasi bisa diperoleh dalam semua bidang seperti: ilmu pengetahuan, seni, rohani, spiritualisme, dll. Maka orang tua dan guru harus menghargai dan menumbuhkan identifikasi diri melalui jati diri atau karakter tokoh yang harus ditiru.
Maka kualitas diri akan muncul melalui identifikasi, yaitu melalui pengalaman langsung, dengan membaca buku-buku dan dengan budaya lain. Remaja yang kurang punya identifikasi cenderung punya pribadi yang lemah. Untuk mengembangkan identifikasi adalah dengan memperbanyak penjelajahan ke museum, melalui sekolah yang bermutu, melakui rumah/ keluarga yang bermutu, juga mengunjungi universitas, pabrik dan pergi ke seminar. Kegiatan jelajah lainnya adalah dengan menjumpai langsung berbagai orang dengan berbagai jenis pekerjaan. Juga dengan mengenal tokoh-tokoh hebat lewat membaca biografi mereka. 

Menggenjot Semangat Berwirausaha

Menggenjot Semangat Berwirausaha


            Orang Minang (di daerah lain disebut dengan orang Padang) sejak dahulu dikenal sebagai suku bangsa yang gemar merantau. Mereka meninggalkan sanak dan saudara serta sawah dan ladang, Fenomena merantau telah membuat  kampung halaman menjadi sepi, rumah-rumah menjadi kosong, sebagian hanya dihuni oleh orang-orang tua saja. Motivasi merantau adalah untuk memperbaiki taraf hidup. Dan memang terbukti bahwa mereka yang hidup di rantau, setelah memutar kincir-kincir (mengolah fikiran) dan menambah semangat kerja (endeavour) bisa hidup lebih sukses daripada mereka yang tinggal di kampung.


            Merantau karena melanjutkan pendidikan sudah menjadi hal yang lazim. Suku bangsa lain juga demikian. Namun merantau untuk mengubah nasib, dari susah menjadi sukses, patut diteladani oleh orang-orang dan generasi lain. Umumnya orang-orang dulu melirik profesi berdagang agar bisa mengubah nasib mereka, Malah juga banyak yang menjadi pengusaha sukses.

Se mati-mati aka mambuka lapau nasi- sehabis-habisnya akal atau peluang ya membuat warung nasi”, demikian prinsip hidup mereka, sehingga tidak heran bahwa di mana-mana bermunculan  restoran Padang.

Menjadi PNS (pegawai negeri sipil) saat itu dipandang sebagai pekerjaan di bawah standar. Malah ada orang yang sudah terlanjur menjadi pegawai mengundurkan diri dan putar haluan untuk berdagang atau menjadi penguasaha. Namun bagaimana sekarang ? Nah itulah problemanya bahwa mental berdagang, menjadi penguasaha atau berwirausaha hampir-hampir sirna dari mental generasi ini. Semua seolah olah memiliki mental kurang berani dan hanya pandai bermimpi untuk menjadi pegawai- PNS, BUMN dan pegawai swasta. Padahal dari fenomena terlihat bahwa menjadi PNS, BUMN dan pegawai swasta pintunya tidak terbuka lebar lagi.

Menjadi pegawai tidak begitu berdampak signifikan membuat bangsa ini maju, dibanding menjadi seorang pengusaha. Bukankah sebahagian anggaran Negara dihabiskan untuk membiayai jumlah pegawai pemerintah yang sangat banyak. Bayangkan pegawai pemalas, pegawai yang kurang efektif juga digaji. Seharusnya generasi muda perlu menumbuhkan semangat wirausaha agar tidak hidup dari anggaran negara. Mereka perlu membaca biografi penguasaha sukses untuk menambah motivasi hidup.

Siapa yang tidak kenal dengan nama Hilton. Di tiap-tiap kota besar, kita dapat menemui kata “Hilton”. Kata Hilton biasanya dihubungkan dengan dunia parawisata, tepatnya untuk nama jaringan atau assosiasi hotel berskala internasional. Sebenarnya ada apa dibalik nama Hilton tersebut ?

Hilton adalah tokoh bisnis terkemuka di dunia, ia berasal dari San Antonio, New Mexico. Ia anak kedua dari delapan bersaudara, dan anak lelaki pertama. Ayahnya, Augustus Hover, adalah pengusaha tambang dan mengerti dengan kebutuhan para penambang batu bara dan orang-orang yang bepergian pulang-balik melintasi perbatasan Mexico. Itu adalah peluang bisnis dan mendorong nya untuk membangun toko serba-ada (depatement store) untuk menyediakan kebutuhan masyarakat.

                1) Hilton Sang Pendiri Hotel

Ketika ia meninggal dalam usia 91, Hilton memimpin 185 hotel di Amerika Serikat dan 75 di seberang lautan. Hilton punya karakter bahwa sebelum mengambil keputusan-keputusan yang penting, maka ia perlu berhari-hari meneliti dan menimbang-nimbang segala implikasinya dan mempelajari segala sesuatu. Ia juga membangun rumah dengan banyak kamar untuk disewakan bagi orang-orang yang butuh tempat bermalam, ia menyebut tempat atau rumah tersebut dengan “hotel”. Jadi keluarga Hilton mempunyai toko dan hotel.

Usia anak-anak hingga remaja adalah  masa kerja keras bagi Hilton. Ibu dan saudara-saudara perempuannya mengurusi hotelnya sendiri sedangkan dia dan ayahnya tetap bekerja di toko. Tetapi begitu toko tutup pada pukul 6 sore, Hilton makan malam sedikit, dan langsung tidur.

Orang tuanya dan keluarganya selalu bekerja keras.  Yang membuat mereka berhasil (kaya) adalah karena mereka juga membuka usaha dalam bidang real estate, membeli tanah untuk membangun rumah. Prinsip hidup Hilton adalah seperti “tunjukkan sikap hormat kepada siapa saja yang anda hadapi dan dan memberi jawaban dengan keramahan”. Walaupun sibuk, Hilton masih mempunyai waktu untuk menikmati hidup dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya di rumahnya. Hilton juga menghormati tradisi masyarakat  setempat. Hilton adalah salah satu tokoh usahawan internasional yang berhasil dan terkenal. Kemudian contoh tokoh wirausaha dari dalam negeri adalah seperti Yusuf Kalla. 

                2) Jusuf Kalla Sang Pengusaha Tanah Air Yang Sukses
Muhammad Jusuf Kalla lahir di Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 1942. Ia menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1967 dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977). Pengalamannya dalam bidang organisasi adalah seperti menjadi Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969 memberi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit tersebut.

Yusuf Kalla berasal dari keluarga wirausaha. Ayahnya  dikenal luas oleh dunia usaha sebagai pengusaha sukses. Usaha-usaha yang dirintis ayahnya (NV. Hadji Kalla) diserahkan kepemimpinannya sesaat setelah ia diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar Akhir Tahun 1967. Di samping menjadi Managing Director NV. Hadji Kalla, juga menjadi Direktur Utama PT Bumi Karsa dan PT Bukaka Teknik Utama. Usaha yang digelutinya, di samping usaha lama,seperti  ekspor hasil bumi, juga mengembangkan usaha yang penuh idealisme, yakni pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi. Usaha ini berguna untuk mendorong produktivitas masyarakat pertanian.

Anak perusahaan NV. Hadji Kalla antara lain; PT Bumi Karsa (bidang konstruksi) dikenal sebagai kontraktor pembangunan jalan raya trans Sulawesi, irigasi di Sulsel, dan Sultra, jembatan-jembatan, dan lain-lain. PT Bukaka Teknik Utama didirikan untuk rekayasa industri dan dikenal sebagai pelopor pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) dan gangway (garbarata) di Bandara, dan sejumlah anak perusahaan di bidang perumahan (real estate); transportasi, agrobisnis dan agroindustri.

                3) Bob Sadino Sang Pengusaha di Bidang Pangan dan Peternakan
Bob Sadino adalah contoh wirausahawan yang berhasil lainnya. Ia lahir di Lampung (1933). Bob adalah seorang pengusaha yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira banyak orang. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Di saat melakukan sesuatu maka pikiran seseorang bisa berkembang. Rencana tidak harus selalu baku dan kaku. Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting  adalah bertindak.”
Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya. Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta.
Hilangnya semangat menjadi usawan membuat banyak generasi muda di negara kita bermimpi (berharap) untuk bekerja sebagai PNS, anggota polisi dan TNI, menjagi pegawai BUMN dan swasta, hingga menjadi pelayan toko. Walaun negara kita luas dan banyak laut, jarang sekali yang bermimpi untuk menjadi pengusaha kapal, ekspor-import atau wira usaha lainnya. Sekarang ada fenomena bahwa bila gagal menjadi PNS, pegawai BUMN dan swasta maka para lulusan perguruan tinggi rela menjadi sarjana penunggu perlombaan menjadi PNS atau pegawai lain pada tahun-tahun berikutnya.  Ada pemikiran bahwa semangat wirausaha perlu dihidupkan kembali dalam keluarga dan juga bercermin dari kisah sukses pengusaha lain.
Sudah saatnya banyak orang kita yang menjadi tokoh bisnis yang sering disebut dengan “pebisnis atau wirausahawan”, dan kalau boleh menjadi pebisnis terkemuka. Untuk itu mereka musti mengerti dengan kebutuhan orang lain, seperti menyediakan kebutuhan masyarakat. Mereka perlu memiliki karakter wirausaha, seperti “membuat pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan”.  Mereka perlu menanamkan karakter suka mengambil tanggung jawab/ bekerja keras sejak masa anak-anak /  remaja.
Tentu saja orang tua (kalau boleh juga guru mereka) perlu menjadi model dari pekerja yang sungguh-sungguh. Calon wirausahawan tentu saja musti cerdas (banyak belajar) dan banyak wawasan (banyak pengalaman). Mereka musti mengikuti kegiatan berorganisasi, kalau boleh mengambil peran leadership- sebagai pemimpin.
Calon wirausahawan sebaiknya suka melakukan kegiatan/ tindakan dan bukan terlalu banyak berteori. Menjadi wirausahawan tidak boleh berkarakter gengsi-gengsian dalam bekerja, harus bisa menyinsing lengan baju dan harus bisa menyentuh benda-benda yang dipandang hina, seperti pasir, batu, lumpur,rumput, mencangkul, berlumuran debu. Mereka musti memiliki fikiran kreatif, gemar bekerja/berkarya, kemudian punya visi untuk pemasaran atau human relation. Calon wirausaha juga harus banyak menimba ilmu dan pengalaman bisnis dari orang/ usahawan (pebisnis) yang lain.

Di Singapura, Hongkong, Jepang dan negara-negara maju lainnya, di sana jumlah wirausahanya sangat banyak. Maka bila negeri ini memiliki wirausahawan yang lebih banyak seperti di negara tersebut maka insyaallah bangsa ini akan lebih jaya. 

Mahasiswa, Jangan Doyan Main Game Ala Anak SD Lagi !!!

Mahasiswa, Jangan Doyan Main Game Ala Anak SD Lagi !!!

            Bahwa bermain itulah adalah kegemaran seseorang dari usia balita hingga dewasa, malah ada hingga usia tua. Dalam sebuah teori tentang kebutuhan bermain, yang diungkapkan oleh Jean Piaget. Bermain adalah bagian dari kehidupan anak. Anak menghabiskan sangat banyak waktu buat bermain, lewat bermain anak akan memperoleh pengalaman dan pelajaran, hingga muncullah teori “learning by doing dan learning by playing”.
            Seiring dengan pertambahan usia maka, anak perlu diperkenalkan rasa tanggung jawab. Anak perlu dilibatkan dalam beraktivitas- melakukan kegiatan di rumah seperti: mencuci piring, menyapu rumah, melipat kain, menstrika pakaian, hingga membantu membersihkan motor ayah. Tentu saja orang tua musti mengerti dengan parenting- yaitu ilmu tentang menjadi orang tua yang baik- yang bisa menerapkannya buat mendidik keluarganya. Maka insyaallah keluarga mereka akan tumbuh menjadi keluarga yang cerdas dan bertanggung jawab.

            Bermain juga menjadi kebutuhan remaja dan orang dewasa, karena bermain berguna buat memberikan rasa rileks dan mengusir ketegangan atau stress pada fikiran. Kalau seorang balita perlu waktu bermain selama10 jam perhari, maka dengan meningkatnya umur, kebutuhan bermainnya seharusnya berkurang menjadi 9 jam, 8 jam, 7 jam, dan seterusnya hingga menjadi 2 jam per-hari. Sebagai pengganti dari kelebihan waktu tersebut akan berguna untuk kegiatan belajar, melakukan hobby dan juga kegiatan lain di rumah lainnya.
            Proses pengurangan jam bermain dari jumlah waktu yang banyak hingga hanya 2 jam per hari, tentu tidak datang dengan sendirian. Pola menghargai waktu yang seimbang antara bermain dan belajar atau bekerja, sesuai dengan porsi usia perlu dorongan dari orang tua. Jadinya setiap anak perlu memiliki agenda kegiatan- yaitu daftar beraktivitas di rumah. Dalam agenda kegiatan akan ada waktu buat sholat, membaca al-Quran, membuat PR, istirahat, membaca buku, hingga membantu orang tua. Tentu saja anak yang mampu melakukan aktivitas berdasarkan agenda kehidupan yang dirancang, bakal meraih sukses dalam hidupnya.
            Apa dan bagaimana fenomena yang terjadi sekarang? Bahwa sekarang cukup banyak remaja- siswa SLTA hingga mahasiswa- yang kurang memahami pola dan kebutuhan bermain. Berapa jam mereka harus bermain dan bagaimana pola permainan yang seharusnya mereka adopsi kurang mereka kenal.
            Yang membedakan siswa dan mahasiswa adalah karena ada kata “maha”, yang berarti “sangat; amat; teramat”. Sederhananya kita dapat mengartikan mahasiswa adalah seorang murid yang "besar". Ya benar, Seorang murid yang "besar", dengan kata besar dalam tanda kutip, yang memiliki banyak arti yang kompleks terkait dengan kata sebelumnya. Yaitu seorang mahasiswa harus lebih cerdas, lebih berkualitas dari seorang siswa. 
            Pemahaman bahwa seorang mahasiswa adalah “seorang siswa yang amat dewasa, amat cerdas dan amat dikagumi” sempat tergores dalam memory penulis sewaktu masih duduk di bangku SD. Hingga tahun 1980-an atau di awal tahun 1990-an. Saat itu belum begitu banyak orang yang tamatan SLTA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Juga di saat itu perguruan tinggi jumlahnya masih sedikit, dan hanya ada di ibu kota propinsi. Seorang mahasiswa yang pulang kampung akan didengar semua ucapannya dan akan menjadi suri-teladan (model kehidupan)  segala tindak tanduknya. Dan bila ia mau kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu maka ia akan dilepas beramai-ramai oleh tetangga dan terutama kaum kerabatnya.
            Citra tentang seorang mahasiswa adalah siswa besar yang sangat hebat semakin terpatri dalam fikiran, dan semakin penulis pahami saat membaca buku sejarah. Apalagi saat menatap foto tokoh intelektual, misal Muhammad Hatta (wakil Presiden pertama RI) yang menuntut ilmu di negeri Belanda, ia tekun membaca ilmu pengetahuan dan juga aktif berorganisasi buat memperjuangkan kemerdekaan tanah air.
Juga tentang citra seorang mahasiswa, sebagai orang yang hebat membuat penulis kagum saat melihat foto Bung Karno menuntut ilmu, berlatih berpidato, membaca buku tebal-tebal, ikut berorganisasi, dan jago bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Penulis telah membacabuku biografinya, ditulis oleh Cindy Adam: Soekarno as retold to Cindy Adam.
            Penulis kagum bahwa mahasiswa itu adalah orang yang hebat. Menjadi mahasiswa di Pulau Jawa terasa lebih dahsyat lagi. Sewaktu penulis masih kecil, kami merasakan bahwa seseorang yang mampu kuliah di Pulau Jawa terasa hebat, karena perjalanan ke sana sulit dan mahal. Apalagi saat itu beasiswa dan bidik misi belum ada lagi. Mencari kesempatan untuk bisa kuliah butuh perjuang hingga bersimbah keringat fikiran. Ya penulis merasakan bahwa rata-rata anak-anak Sumatra dan juga dari Pulau lain yang kuliah di sana bisa berhasil setelah bersimbah keringat dan air mata- maksudnya melalui liku-liku kehidupan.
            Sebagaimana dikatakan oleh Torsten Husen (1995) bahwa tanggung jawab belajar ada pada siswa dan mahasiswa. Guru dan dosen hanya berfungsi sebagai animator (penggerak) dan menyediakan kesempatan untuk belajar. Dan belajar harus dimulai sejak dari lahir hingga seterusnya. Hanya masyarakat yang bekerjalah yang mampu membina remaja/ anak-anak untuk bekerja keras dan tekun.
            Zaman berganti, dan itulah kenyataannya bahwa, arti kata “mahasiswa” juga mengalami pergeseran. Di era reformasi mahasiswa diidentikan sebagai seorang pembuat onar yang hampir setiap hari muncul dalam media cetak maupun media elektronik, meskipun tidak semua mahasiswa "berperilaku" demikian, banyak juga mahasiswa yang mampu berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik, hanya saja intensitas terekspose oleh media yang kurang berimbang dan pencitraan masyarakat lah, yang sebenarnya memberikan sebuah identitas kepada mahasiswa.
            Namun arti atau makna kata “mahasiswa” tidak lagi sedahsyat mahasiswa di zaman- zaman dulu. Mahasiswa sekarang, ya kadang- kadang ibarat siswa SMA saja. Pintarnya hanya sebatas berkisah betapa indahnya gedung kampus mereka. Kalau mereka berasal dari perguruan tinggi favorit maka mereka sebatas bangga memakai jaket dari kampus mereka, yang mana jaket itu sendiri amat jarang mereka pakai kalau di kampus sendiri.
            Makna kata kehebatan mahasiswa semakin merosot saat mereka tidak memantulkan fikiran yang intelektual- miskin dalam hal inspirasi dan tidak mampu memotivasi adik-adiknya. Bagaimana seorang mahasiswa yang sempat dijuluki sebagai “social agent changing- agen buat perubahan” kalau mereka sendiri memilki ilmu yang minim atau ilmu pengetahuan yang pas-pasan. Tidak mampu berkomunikasi dan tidak mampu melakukan improvisasi- atau peningkatan. Jadinya mereka adalah mahasiswa yang serba nanggung: akademik, dan pengetahuan nanggung, dan leadership serta enterpreneur juga nggak kenal. Inilah wajah sebagian mahasiswa kita.
            Dewasa ini, menurut subjektif penulis, cukup banyak mahasiswa yang tidak punya budaya buat membaca dan juga tidak terbiasa bertukar fikiran yang terfokus. Kalau membaca, hanya sebatas membaca halaman demi halaman yang ditugaskan oleh sang Dosen. Karena proses ujian tergantung pada kisi-kisi dan standar kompetensi. Maka itulah yang mereka baca dan hafal sesering mungkin, kisi-kisi dan indikator itu pulalah yang ditanya pada ujian mid semester dan ujian semester hingga nilai mereka bisa bertaburan nilai “A”. Namun IPK yang tinggi tidak berarti apa apa sepanjang itu hanya sebatas lipstick picisan saja.
            Bagaimana hakikat dan kualitas mahasiswa sekarang ? Kerutan di dahi karena mencari jawaban makin lama. Apakah mahasiswa itu adalah siswa yang hebat ? Bagaimana kalau mahasiswa itu tidak punya pola kehidupan, kerjanya kupu-kupu saja (kupu-kupu atau kuliah pulang- kuliah pulang). Kalau di kampus sebatas memamerkan gadget dan membalas-balas chatting ringan lewat BBM, Facebook dan Twitter. Atau waktu-waktu berharga banyak habis buat bercengkrama dengan suara manja kayak anak SD atau tiap sebentar selfie buat diupload pada instagram.
            Apakah mahasiswa kayak begini masih bisa menyandang status agent of social changing kalau mereka bengong untuk beraktivitas- hingga di rumah atau dikosan hanya membuang buang waktu dalam bentuk menghempaskan domino, main futsal berkepanjangan, juga cukup banyak yang main game on-line.
            Penulis tidak begitu bangga dengan mahasiswa kalau dia sendiri tidak terbiasa membaca dan lebih parah lagi penulis sering bertanya-tanya apa sih bedanya antara seorang mahasiswa dengan seorang murid kelas dua SD yang ternyata sama-sama suka mengkonsumsi game on-line ?
            Itulah kenyataanya bahwa gara-gara cukup banyak mahasiswa yang tidak mengenal tentang pola-pola cara belajar efektif dan pemanfaatan waktu maka gaya hidup mereka sudah sama saja dengan siswa yang lebih rendah dari mereka. Malah, sebagaimana yang kita ungkapkan, bahwa bentuk permainannya juga mirip dengan permainan anak-anak SD yang masih ingusan.
            “Wahai para mahasiswa, mohon jangan doyan bermain game on-line lagi, karena game on-line adalah konsumsi buat anak SD bukan buat anda lagi sebagai calon kaum intelektual !!!”
Nggak percaya dengan kenyataan ini  dan mau buktiin ?  Tengoklah box-box internet yang betebaran di seputar kampus, terutama di perguruan tinggi pinggiran, mereka menghabiskan waktu buat mengakses game on-line. Atau kalau lagi punya laptop dan tablet, maka mereka terpaku dengan game buat merebut skor-skor buat mengantarkan mereka ke dalam khayalan infantile- khayalan kekanak- kanakan dunia maya. Prilaku begini harus diputus sedini mungkin. Apa gunanya negara kita yang luas ini, meluluskan ribuan mahasiswa yang ternyata berkulitas rendah.
            Anak-anak kita, para siswa dan mahasiswaperlu banyak membaca. Mereka harus memiliki buku bacaan, buku motivasi dan majalah/koran. Ini semua pekerjaan rumah bagi kita. Kini para pemikir pendidikan, guru, kepala sekolah, orang tua dan pemerintah perlu lagi memikirkan untuk memaksimalkan pemanfaatan perpustakaan.
Cobalah buka mata, hati dan telinga, bahwa cukup banyak siswa SD yang tidak punya majalah anak-anak lagi, mereka tidak lagi membaca buku buku sang tokoh kehidupan. Karena pustaka sekolah sering terkunci, buku buku berdebu dan koleksi buku tidak memadai. Kita lebih peduli mencat dinding sekolah, membuat gerbang semata.
            Demikian juga saat di bangku SLTP dan SLTA, siswa kita tidak mengenal tokoh kehidupan dari membaca dan kerja mereka hanya sebatas bimbel dan bimbel dan berlomba memburu skor tinggi buat membanggakan sekolah dan orang tua, meski dibalik skor yang tinggi tidak begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan. Ada baiknnya siswa kita sejak dibangku SLTP dan SLTA diperkenalkan konsep wirausaha dan enterpreneur.
            Dewasa ini di perguruan tinggi ternyata nilai akademik yang tinggi hanya berguna sekedar untuk kelulusan kuliah saja. Sementara kesuksesan dalam dunia kerja lebih banyak ditentukan oleh pengalaman leadership dan entrepreneurship mereka semata. Para siswa yang banyak bersentuhan dengan kisah-kisah bagaimana jadi guru, jadi dokter, jadi perawat, jadi insinyur, kerja di bank, hanya melahirkan generasi yang tetap bermimpi ingin jadi PNS atau menjadi anak buah semata, dan ini tidak salah.
Namun lebih dahsyat apabila ekskul  sekolah mendatangkan (mengundang) para  tokoh enterpreneur dan juga tokoh leadership dari kehidupan nyata. Mari kita rancang kegiatan buat mempertajam leadership dan entrepreneur mereka sejak usia dini. Kita beri mereka pengalaman berharga sejak usia dini, karena pengalaman di usia  muda akan bersifat long-lasting atau teringat sepanjang masa.  

Rabu, 24 Februari 2016

Ada Mr Jo, Mr Ai, ada Katty dan Barbara di SMA Negeri 3 Home Stay di Maninjau.

Ada Mr Jo, Mr Ai, ada Katty dan Barbara di SMA Negeri 3 Home Stay di Maninjau.
lihat yuukkk videonya

Prestasi Hebat Butuh Karakter Yang Dahsyat

Prestasi Hebat Butuh Karakter Yang Dahsyat

            Ternyata orang-orang hebat tidak hanya datang dari benua Eropa atau Amerika, atau tidak hanya datang dari Jepang atau Australia, namun juga bisa berasal dari Indonesia. Barangkali orang hebat tersebut bisa jadi kita sendiri. Markis Kido dan Hendra Setiawan (Bobo, tahun XXXVI, 11 September 2008) misalnya adalah dua tokoh berusia sangat muda berasal dari Indonesia. Mereka begitu kompak meraih medali emas pada olimpiade Beijing melalui olah raga bulu tangkis.
            Untuk mampu  meraih prestasi  hebat, apalagi untuk tingkat dunia, tentu tidaklah mudah. Semua harus melalui perjuangan yang berat dan  hebat. Mereka harus melewati hadangan permainan dunia yang lain, yang  juga sangat hebat dan tidak terkalahkan. Bagi Markis Kido dan Hendra Setiawan, saat meraih juara dunia, usia mereka barus berkisar 23 dan 24 tahun. Tentu titik awal sukses pada usia tersebut telah mereka rintis sejak dini. Mungkin pada masa anak-anak atau pada masa remaja- yaitu usia belajar di SD atau di SMP. Di mana pada masa anak-anak lain banyak bermanja-manja atau berhura-hura, mereka tekun merintis mimpi mereka. Yaitu berlatih dengan tingkat porsi belajar/ berlatih/ berkarya yang juga hebat untuk menuju prestasi yang besar.

            Dalam kenyataan bahwa orang Indonesia juga mampu meraih juara dunia dalam usia yang relatif muda. Gita Gutawa yang saat itu berusia 14 tahun (Nurhayati, 2008: 2-3) mengikuti festival  music pada Nile Song Festival yang berlangsung di Cairo mampu mendapat penghargaan Grand Prix winner- penghargaan  tertinggi. Ia juga mendapatkan  predikat terbaik dari seluruh kelompok peserta hingga meraih juara umum. Ini merupakan seleksi dari 85 negara. Tim juri juga mengatakan bahwa mereka belum pernah menemukan penyanyi usia remaja yang berkualitas seperti Gita.
            Prestasi besar yang ia peroleh sebagai juara dunia bukan terjadi secara kebetulan. Prestasi tersebut diraih bukan secara instant- “sekarang berlatih, besok juara”- atau prestasi yang ia peroleh juga tidak jatuh dari langit. Namun ia peroleh melalui serangkaian persiapan dan proses yang hebat.
            Dunia musik bukanlah hal yang baru bagi Gita. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan pemusik. Faktor lingkungan sangat menentukan keberhasilan bagi seseorang. Ketika duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, ia sudah mulai belajar bermain piano klasik. Ia juga memperkuat ilmu musiknya dengan mempelajari music jazz, bahkan melengkapi dengan mengikuti privat piano dan gitar. Dukungan orang tua juga menentukan. sejak kecil orang tuanya menanamkan sistem belajar yang mandiri dan bekerja juga mandiri. Ia bukan tipe anak manja.
            Tulisan ini tidak terfokus tentang juara dunia asal Indonesia, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa meraih prestasi level dunia. Ada artikel yang membahas tentang karakter yang perlu dimiliki bila seseorang ingin berprestasi yang hebat- ya seperti prestasi untuk level dunia. Artikel tersebut menjelaskan bahwa tokoh olah raga yang ngetop di tahun 1970-an dan 1980-an, yaitu Muhammad Ali, adalah jago tinju sejati sedunia. Itu karena ia berkali-kali menang adu tinju kelas dunia. Kemudian Joe Girad adalah jago jual sedunia- world class achiever- karena selama 12 tahun berturut turut ia berhasil menjual puluhan ribu mobil sedunia.
            Ia juga tokoh hebat, namun dalam dunia bisnis,  yang bisa disejajarkan dengan Rudy Hartono (pemain bulu tangkis), Karpov (jago catur), Pele (jago sepak bola). Pengalaman Joe Girad menjadi jago dunia tentu karena ia memiliki karakter hebat. Karakter hebat ini mungkin bagus untuk disadur.
            Paling kurang ada sepuluh karakter hebat atau karakter positif yang dimiliki oleh seseorang yang berprestasi hebat tersebut. Karakter tersebut adalah seperti memiliki tekad baja, memiliki visi dalam berkarya, berkarakter tekun dan tabah, selalu berfikir positif, bersemangat dan antusias, memiliki kemampuan dalam relasi antar manusia, bersikap kreatif, bersikap jujur, pandai berkomunikasi, dan selalu bersikap konsisten.
            Siapa saja bisa berhasil apalagi sampai pada level dunia. Untuk itu ada beberapa kebiasaan negatif yang perlu diusir yaitu mengatasi rasa malas, rasa takut, keterbatasan pengetahuan, dan keterbatasan relasi dengan manusia lain. Bahwa adakalanya orang yang berprestasi level dunia tidak lulus SMA dan bearasal dari keluarga yang miskin. Namun mereka punya tekad atau motivasi untuk berhasil  dan berjuang untuk melawan kelemahan diri  dengan mencari banyak pengalaman. .
            Untuk meraih sukses ternyata perlu mimpi atau visi. Visi tentu mempunyai manfaat. Manfaat terbesar dari visi adalah untuk memberi arah dan tuntutan. Dengan demikian upaya dan kegiatan menjadi efektif dan sekaligus juga efissien. Orang yang tidak punya visi tentu akan gampang teralihkan dan kemudian terombang ambing. Sebahagian remaja sekarang ada yang belum punya visi, sehingga mereka bingung tentang aktivitas apa yang akan mereka tekuni di masa depan.  Kalau demikian bahwa visi sangat perlu untuk dimiliki.
            Menjadi orang yang sukses, apalagi untuk level dunia, musti memiliki karakter tekun dan tabah. Bayangkan andai Zidane tiba-tiba malas berlatih bola kaki atau Lance Amstrong malas latihan balap, mereka tentu tidak akan jadi juara dunia. Bertekun dalam mengerjakan sesuatu tentu memerlukan pengorbanan. World class achiever sangat memahami arti ketekunan ini. Menunda sebuah pekerjaan yang penting demi nonton filem adalah contoh ketidak tekunan.
            Kemudian mereka juga perlu memiliki fikiran positif. Fikiran positif adalah sikap dasar yang harus dipertahankan. Sikap positif tentu berasal dari fikiran yang positif. Mereka perlu berfikir bahwa bekerja itu sehat, kejujuran adalah modal hidup, komitmen sangat diperlukan dalam kerja, kerjasama dan ketabahan sangat penting dan juga perlu memiliki sikap pemaaf. Poin-poin yang kita sebutkan tadi adalah bagian dari karakter positif untuk memperkuat pikiran positif. Selalu berfikir positif dapat menyehatkan jiwa menjadi pribadi yang positif. 
            Para jago dunia dan orang-orang sukses selalu bersemangat dan antusias.  Antusias sendiri berarti “kegairahan, semangat yang besar dan kegembiraan yang besar (Echols dan Shadilly, 2006). Gaya bersemangat dan antusia dari Joe Girard terlihat saat ia memberikan seminar. Ia berlari, melompat dan berteriak. Suaranya melengking, bergetar dan membahana. Lain kali suaranya mengecil dan berbisik sambil menangis. Ia berbicara dengan hati dan emosinya. Tentu saja tiap orang punya karakter antusias dan semangat yang berbeda. Namun  paparan karakter tadi adalah deskripsi emosi antusia dari  Joe Girard.
            Jago dunia yang bergerak dalam bidang bisnis, seperti pemiliki merek dagang Philip, Samsung, Carrefour, Pizaa Hut, dan lain-lain mutlak perlu berhubungan dengan banyak orang. Semakin maju bisnis mereka maka semakin banyak mereka harus berhubungan dengan orang lain. Pemilik merek dagang yang kita sebutkan tadi tentu telah melayani puluhan atau ratusan juta orang di dunia. Dapat ditebak bahwa kunci sukses mereka dalam bisnis karena mampu menangi kebutuhan manusia. Tentu mereka harus mengiklan diri dan menjumpai banyak orang, mendengar keluhan dan memperkecil keluhan tadi. Prinsip human relation mereka adalah mereka menyukai orang dengan sungguh-sungguh. – love customers honestly, genuinely and sincerely.
            Jangan biarkan otak ngawur atau blank. Karena sukses level dunia harus kreatif otaknya. Menjadi jago dunia tentu dambaan banyak orang. Untuk itu mereka musti punya energi, semangat, antusias, keterampilan dan percaya diri yang gede. Bila ini sudah dimiliki namun belum punya strategi maka akan sia-sia. Strategi adalah tugasnya otak yang kreatif atau kognitif yang kreartif.  Ide-ide yang baru berasal dari otak yang kreatif- yang kaya dengan imajinasi.  Otak yang kreatif tidak mutlak monopoli dari pendidikan formal atau dari universitas. Otak yang kreatif tergantung kepada pemilik otak tersebut dalam merawat dan menumbuhkan kembangkan kekuatan imajinasi dan keberanian.
            Juga perlu diingat bahwa kejujuran adalah kunci suskses. Ada orang yang  beranggapan bahwa kejujuran itu tidak penting, namun begitu seseorang tahu bahwa ia telah dibohongi maka pelaku kecurangan (orang yang tidak jujur tadi akan ditinggalkan).  Kejujuran adalah landasan kepercayaan dan kepercayaan adalah basis dari hubungan baik. Selanjutnya hubungan baik sarana dalam berbisnis. Maka kalau ingin berbisnis yang selalu langgeng maka kita perlu berlaku jujur pada pelanggan.
            Ada pribahasa berbunyi : hewan diikat dengan tali dan manusia diikat dengan kata. Manusia diikat dengan kata berarti bahwa kata-kata sebagai alat berkomunikasi itu sangat penting. Menjadi sukses untuk level apa saja- apalagi untuk level nasional dan level dunia maka perlu memiliki kemampuan berkomunikasi. Orang yang ingin sukses tidak perlu pasif dalam berkomunikasi- dengan arti kata harus mampu berkomunikasi. Musti aktif bertanya, aktif  menyapa, aktif memuji, aktif mensugesti dan aktif mendengar akhirnya kita terbawa aktif. Tidak hanya menggunakan mulut, tapi juga bahasa tubuh, mata, tangan dan senyuman. Pokonya musti menjadi orang yang aktif, positif dan dinamis dalam berkomunikasi. 
            Rasa takut dan jarak sosial antar manusia tidak perlu ada dalam berkomunikasi. Namun yang perlu ada adalah suasana fun- menyenangkan- ada rasa menerima, menyenangi dan mendengar dengan siapa kita berkomunikasi.  Kalau begitu orang  jago musti  pintar mengkomunikasikan isi hati dan isi fikiran kepada teman bicaranya.
            Terakhir bahwa orang yang ingin menjadi jago atau suksesd perlu mempunyai karakter konsisten. Kalau aktif dalam bidang bisnis dan  berhubungan dengan orang banyak maka mereka harus bersikap ramah, baik, melayani, menolong, memberi perhatian, menghormati  dan berusaha memuaskan klien. Tentang hal ini sudah diketahui oleh banyak orang. Tapi mereka hanya sebatas tahu saja- idealnya menerapkan secara sungguh-sungguh dan konsisten.  

            Ya benar bahwa untuk meraih prestasi hebat maka dibutuhkan persiapan besar. Orang hebat tidak mutlak monopoli dari benua Eropa dan Amerika, atau juga bukan monopoli Negara maju atau lembaga pendidikan yang maju. Siapa saja bisa jadi jago atau sukses. Untuk menjadi jago maka perlu persiapan, latihan dan proses usaha yang posrsinya cukup besar. Mereka perlu lingkungan kondusif- yang memberikan rangsangan dan tantangan serta dukungan dari guru dan orang tua. Selanjutnya mereka perlu memiliki karakter dan sikap positif seperti memiliki tekad baja, memiliki visi dalam berkarya, berkarakter tekun dan tabah, selalu berfikir positif, bersemangat dan antusias, memiliki kemampuan dalam relasi antar manusia, bersikap kreatif, bersikap jujur, pandai berkomunikasi, dan selalu bersikap konsisten.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture