Senin, 13 Februari 2017

Orang Tua Yang Ambisius Berpotensi Menciptakan Anak-anak Yang Penggugup



Orang Tua Yang Ambisius Berpotensi Menciptakan Anak-anak Yang Penggugup
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


            Berkompetisi atau perlombaan dan persaingan terjadi pada semua lini, termasuk pada dunia pendidikan. Setiap awal tahun akademik banyak anak-anak dan memperoleh dorongan dari papa dan mama agar bisa memasuki sekolah yang bergengsi. Cukup mudah untuk mengenali sekolah yang punya nama, biasanya punya label ekstra seperti “sekolah model, sekolah percontohan, sekolah excellent, sekolah unggulan, sekolah perintisan, dll”. Mayarakat sangat mencatat nama-nama sekolah tersebut.
            Sejak level Sekolah Dasar, para guru, kepala sekolah untuh mewanti-wanti dan mempersiapkan anak didik mereka buat meneruskan pendidikan ke SMP dan ke Madrasah yang bergengsi. Begitu juga buat tamatan SMP/ MTsN juga memompa motivasi siswa mereka untuk berlomba sebanyak mungkin untuk memasuki SMA favorite. Itu sangat bagus karena di sekolah tersebut terjadi percepatan proses pembelajaran. Lingkungan belajar terkondisi agar anak-anak bisa belajar lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab.
            Apa keuntungan bagi suatu sekolah mendorong para siswa untuk memasuki sekolah favorite ? Tentu saja buat mendongkrak nama sekolah dengan sebutan sebagai “sekolah yang berprestasi, sekolah yang sukses, sekolah berkualitas, sekolah unggulan, dll” agar sekolah tersebut menjadi lebih laris dan selalu diincar oleh para calon siswa dan para orang tua mereka.
            Bagi para siswa di tingkat SLTA (terutama di SMA, Madrasah) mereka berlomba-lomba mempersiapkan diri buat melanjutkan ke Perguruan Tinggi favorite yang mana utamanya berjejer di pulau Jawa. Semua siswa sudah hafal nama PT favorite seperti ITB, UI, IPB, UNPAD, UNDIP, UGM, UB, ITS, UPI dan untuk di luar pulau Jawa mereka menyerbu Jurusan Kedokteran, karena dianggap masa depannya lebih cerah.
            “Pucuk dicinta ulam pun tiba- harapan bersambut”, maka para CEO industri pendidikan berlomba mendirikan pelayanan bimbingan belajar (Bimbel) agar para siswa yang berbakat bisa meraih skor yang tinggi. Pada mulanya tempat tempat bimbel hanya berada di ibukota propinsi, seperti di Padang buat Propinsi Sumatra Barat. Namun akses bimbel yang berkualitas sejak beberapa tahun terakhir telah hadir dan menjamur hingga ibukota kabupaten. Malah bagi sekolah yang ingin selalu menjaga gengsi sekolah sebagai sekolah peraih skor akademik tertinggi telah berlapang dada dan membuka tangan untuk mendatangkan “Program Bimbel” di lingkungan sekolah, dengan harapan anak didik mereka bisa megisi bangku-bangku di PT favorite di pulau Jawa.
            Memang keberadaan program pencerdasan siswa fokusnya adalah pada bidang akademik. Anak atau siswa yang dianggap hebat adalah kalau dia mampu meraih rata-rata skor 100, khususnya untuk bidang studi yang terlibat dalam UN (Ujian Nasional). Untuk memotivasi agar semua siswa mampu meraih skor sempurna maka “nama siswa yang jagoan bimbel”  dengan skor tinggi, fotonya dan pujiannya dipajang pada baliho dengan ukuran besar di sepan sekolah dan di depan gedung bimbel.
            Para orang tua juga diundang agar terlibat untuk menggiring siswa buat menjangkau skor setinggi mungkin, sebab bila skornya tinggi maka PT yang favorite juga jurusan yang favorite sudah menunggu siswa cerdas di depan mata. Lagi pula bila mampu kuiah di PT favorite maka lulusan dari sana bakal mampu berkarir di perusahan hebat dengan gaji yang sangat menjanjikan.
Tentu saja para orang tua menjaga baik-baik akan statement ini. Jadi sejak awal sekolah, mungkin di semester satu, para orang tua sudah memprogram agar anak mereka harus ikut bimbel di luar jam sekolah. Tentu saja biaya bimbel cukup mahal, karena program pengayaannya memang bagus dan ruang kelas dibikin sejuk- full AC- dan terang benderang. Bagi orang tua harga bimbel memang terasa namun “Indak kayu janjang dikapiang- nggak ada uang tetap akan diusahakan” buat membiayai bimbel putra-putri mereka.        
Setelah putra-puti mereka ikut bimbel yang berharga mahal, maka para orang tua memotivasi, menagih hingga memaksa mereka ikut program bimbel hingga tuntas. Kalau malas berarti mengecewakan orang tua. Kini semua anak peserta bimbel harus bisa membuktikan dan memberikan skor yang tinggi.
“Wah sebagian merasa senang dan cukup banyak merasa terpaksa dan stress. Apalagi mereka dipaksa bisa menjadi perfek: hebat dengan angka, hebat dengan huruf dan hebat pengetahuan umum. Ibarat seekor hewan ajaib dimana dia harus hebat berenang, hebat terbang, hebat memanjat dan dan hebat merayap”. Inilah hakikat dari pengejaran untuk pencerdasan secara kognitif.
Dari jatah waktu anak yang berjumlah 24 jam, mayoritas hanya tersedia buat tidur dan amat banyak untuk urusan akademik. Al-hasil mereka kesulitan mencari waktu buat ikut kegiatan sosial, utuk bisa berbagi dengan sesama, untuk melatih otot dan kesenian mereka. Memang cukup banyak peserta bimbel yang saat mengakhiri bangku SLTA mereka menorehkan skor akademik yang tinggi dan akhirnya disambut oleh PT favorite.
Setelah melalui proses pembelajaran di PT selama 8 semester, tentumereka juga terbiasa dengan pola tumbuh dan berkembang yang kurang luwes, sekedar cerdas akademik namun miskin dengan keterampilan hidup. Akhirnya bisa wisuda, namun mereka terlahir sebagai orang cerdas namun hanya sebagai penumpang kendaraan atau “pencaker- pencari kerja”. Buka sebagai driver/ pengemudi atau seorang yang punya naluri untuk mendirikan lapangan pekerjaan.
Headline pada koran Singgalang (13 Januri 2017), sebuah koran terbitan Padang, dengan yaitu: Lowongan di PT Seen Padang, Kuota kurang dari 100, namun pelamar 40 ribu orang” Apa maksudnya ? Bahwa 40 ribu pelamar termasuk bagi mereka yang sangat yakin bahwa kalau IPK Tinggi, kalau Juara Satu sejak dari bangku sekolah maka hidup akan muda. Pernyataan ini sangat diyakini oleh para guru, kepala sekolah, para siswa dan banyak orang tua.
Tidak ada ruginya bagi kita- para orang tua yang mampu secara finansial- untuk mendaftarkan anak untuk ikut belajar di lembaga bimbel. Karena bisa memperkaya wawasan kognitif anak dan juga membantu anak buat memahami pelajaran yang kurang dia pahami. Yang kurang bijak adalah “mendaftarkan anak ke bimbel kemudian memberi tekanan padanya agar mampu menjadi orang yang “the best” untuk semua bidang studi. Bila sang anak mampu meraih skor setinggi mungkin maka kelak jalan mudah menuju PTN favorite terbuka lebar dan pada akhirnya kehidupannya, lewat kemampuan kognitif yang hebat, hidupnya akan indah dan mudah. Apakah memang benar ?
Cerdas hanya sebatas kemampuan “kognitif atau teori yang diperoleh dari sekolah saja”  tidak cukup buat sukses dalam kehidupan. Namun juga harus punya multi-intelegensia, terutama cerdas afeksi dan soft-skill (keterampilan sosialnya).
Tony Wagner, dalam bukunya The Global Achievement Gap (2008) menulis tentang cerdas afeksi. Kalau anak mau survive di abad 21, maka dia perlu memiliki tujuh skill, yaitu:
1)      Critical Thinking and Problem Solving
2)      Collaboration across network and leading by influence.
3)      Agility and adaptability
4)      Initiative and entrpreneurealism
5)      Effective oral and written communication
6)      Accessing and analyzing information
7)      Curiosity and imagination.
Nah telah banyak putra-putri kita yang kuliah di PT dan wisuda menjadi sarjana, tetapi mengapa ? Dari 100 % yang lulus, yang mampu mencari kerja sebanyak 20 % dan yang menjadi pengangguran cukup banyak, yaitu 80 %. Kenapa demikian...?? Ya karena mayoritas hanya sekedar menonjol untuk cerdas dalam berteori- sekedar jago dengan kognitif. Dan teori- teori yang dipelajari dalam ruangan kelas tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Apa yang harus mereka miliki ?
Wagner melakukan survey ke berbagai perusahaan. CEO perusahaan-perusahaan besar seperti Apple mengaku tidak tertarik dengan score test- seperti Score IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) atau nilai Ujian Nasional. Kalau mereka merekrut tenaga atau SDM, yang mereka perhatikan bukan hasil ujian tulis, tetapi adalah mereka yang “Pandai Bertanya” dalam berdiskusi. Assumsinya adalah bahwa orang yang pandai bertanyaberarti orang yang punya critical thingking dan tahu masalah. Maka tinggal lagi buat encari solusinya.
Tujuan utama pendidikan adalah bukan untuk anak punya skor UN yang tinggi dan lulus ujian sekolah. Tetapi mengantarkan siswa menjadi manusia yang punya pikiran kritis dan dan bisa memecahkan masalah. Selanjutnya cerdas membangun kerjasama serta jiwa kepemimpinan. Ini tidak mungkin dimiliki oleh siswa yang banyak mengurung diri, kurang bergaul dan tidak terbiasa dengan tanggung jawab.
Siswa yang punya waktu buat aktif dalam peran sosial tentu akan memiliki kecerdasan adaptif, punya inisiatif, juga cerdas mengakses dan menganalisis informasi. Melalui pergaulan yang berkualitas mereka akan memiliki kecerdasan berkomunikasi lisan dan tulisan dengan baik.
Prof. Dr Zainudin Maliki, Guru Besar UNAIR, yang tulisannya saya peroleh lewat grup WhatsUP, menulis bahwa hanya perusahaan yang enggan untuk maju yang terbiasa merekrut SDM berdasarkan skor UN dan nilai yang tinggi. Sementara itu banyak maju lebih tertarik mencari SDM yang cerdas affektif nya, mau kerja keras- ini bagi mereka yang suka berolah raga, inovatif, imajinatif, kreatif, pandai berteman dan membuka jaringan, serta berani mengambil resiko.
Orangtua bukan guru (a teacher) yang bertugas untuk bidang kognitif (proses berfikir) namun ia adalah seorang “educator” yang punya peran dalam membentuk karakter- seperti keberanian, disiplin, kerajinan, tanggung jawab, dll. Namun selama ini orang tua hampir-hampir melepaskan peran sebagai pembentuk karakter dan akhlak. Dia telah berperan pula dalam membentuk kognitif anak, dan ini tidak salah, yang salah adalah dia memaksa anak untuk menjadi jago pada semua bidang studi.
Anak-anak lewat, senyumnya, dipaksa-paksa untuk menjadi jago matematika, jago fisika, jago kimia, jago baha inggris, jago akuntansi, dan semua bidang studi. Anaknya lelah dan tumbuh menjadi orang pencemas dan penggugup. Mengapa ? Karena mereka punya orang tua yang “ambisius”.
Bagaimana seharusnya ? Apa orang tua dari negara maju juga ambisius sehingga memaksa-maksa untuk jago pada semua bidang studi ? Meggy Tandjaja- seorang Hotelier di ‎Beringin Dua Hotel- Provinsi Maluku (https://www.linkedin.com/pub/meggy-tandjaja) berbagi opini tentang bagaimana menumbuhkan (mendidik) anak-anak agar menjadi maju, dengan meniru prinsip positif para orang tua di negara maju, seperti di Jepang dan Amerika. Apa yang membuat suatu negara maju? Berdasarkan pengamatannya selama berinteraksi dengan orang-orang dari negara maju seperti Jepang dan Amerika, ada beberapa hal yang sama yang membuat mereka tampak lebih "tua" dari pada kita orang Indonesia.
Inilah prinsip dan nilai yang lebih ditekankan oleh orang tua pada anak- anak mereka;
- Mandiri, Sejak dini, mereka sudah diajarkan untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri, seperti membereskan piring setelah makan dan mencucinya, hingga mereka remaja.
- Tidak Mudah Menyerah, Secara finansial, tidak semua orang asing berasal dari keluarga berada. Secara psikologis, rata-rata dari mereka akan tetap mencoba melakukan sesuatu sendiri, tidak merengek atau meminta tolong orang lain kecuali terpaksa. Contoh sederhana saja, si A yang masih mendapat uang jajan dari orang tuanya. Ternyata uang tersebut tidak cukup untuk biaya hidupnya, jadi ia putuskan mencari pekerjaan untuk menambah uang sakunya daripada meminta kepada orang tua.
- Berani Keluar dari Zona Nyaman, Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka berani mengeksplorasi sesuatu. Meskipun itu berarti harus meninggalkan negerinya selama beberapa waktu. Mereka percaya bahwa eksplorasi membuka lebih banyak wawasan dari sekedar teori buku atau cerita pembawa acara di TV. Mereka cenderung lebih suka beraktifitas di luar ruangan dan pergi ke tempat-tempat yang belum mereka kunjungi sebelumnya, sekalipun hal tersebut dilakukan seorang diri.
- Menghargai Privasi, atau yang lebih dikenal dengan kata "cuek". Mungkin sikap yang satu ini agak bertentangan dengan kebiasaan kita yang senantiasa peduli dengan lingkungan sekitar kita. Saking pedulinya kita, terkadang sampai masalah pribadi orang lain juga ingin tahu.  
- Sederhana, karena sejak muda sudah terbiasa hidup mandiri, biasanya mereka cenderung berpikir praktis, tidak berbelit-belit. Yang paling nampak adalah dari segi penampilan. Mereka cenderung tampil apa adanya dalam keseharian mereka. Yang wanitanya pun hanya memakai makeup yang menonjolkan sedikit saja kelebihan wajah. Aksesoris yang dikenakan pun tidak mencolok.
- Peduli Lingkungan, masalah kesehatan dan kebersihan adalah keluhan umum yang sering didengar. Sehat tidaknya makan pagi hari itu, bersih tidaknya toilet umum, sampai polusi udara yang membuat mereka menggunakan masker saat keluar gedung. Meskipun bukan aktifis lingkungan yang sering terjun ke lapangan, mereka mengupayakan setidaknya di tempat tinggalnya memenuhi kriteria kebersihan dan kesehatan yang mereka harapkan, atau paling tidak mendekati.
- Menghargai Waktu, ini hal klise yang akan terus diulang sampai seluruh masyarakat Indonesia sendiri disiplin waktu. Orang asing dikenal sangat disiplin waktu. Untuk hal janji bertemu, rata-rata mereka biasanya sudah siap di tempat yang dijanjikan 5 menit sebelumnya. Dalam hal keseharian mereka, meskipun hanya pelajar, mereka punya segudang kegiatan layaknya orang-orang pada tahap usia orang bekerja Indonesia misalnya seperti bertemu teman baru, bekerja paruh waktu, atau membaca buku. Penggunaan telepon genggam atau smartphone sangat minim bila bersama teman-teman karena waktu bersama teman-teman pun sangat berharga.
- Sikap Baik, baik dan sopan pada siapa saja bahkan kepada orang yang paling menyebalkan sekalipun. "Selama orang itu tidak mengusik hidupku, aku akan baik-baik saja padanya." Bahkan bagi orang Jepang, mengajak orang seperti itu pergi makan bersama lebih baik. "Ia sudah berusaha keras (menjadi orang baik), hanya belum berhasil. Kita harus menyemangatinya (dengan mengajaknya pergi makan bersama)."
- Hidup Selayaknya Makhluk Sosial, meskipun dari negara maju yang teknologinya serba canggih, mereka masih memilih berkomunikasi secara riil dengan orang lain. Bahkan mereka lebih suka dikirimkan kartu pos atau surat daripada surel. Menurut mereka, komunikasi langsung sangat penting, bisa mempererat hubungan sosial satu dengan yang lain.
            Itulah beberapa sikap positif yang tumbuh dan berkembang, dimana para orang tua sangat punya peran untuk menumbuhkannya. Jadinya orang tua di negara kita tidak perlu terlalu ambisius hanya membentuk anak untuk cerdas secara kognitif, namun ia tumbuh tanpa memiliki nilai disiplin, kemandirian, keberanian, tanggung jawab, kreativitas, dll.
Jadi yang perlu dikembangkan pada anak kita adalah nilai nilai seperti: mandiri, tidak mudah menyerah, berani keluar dari zona nyaman, menghargai privasi, sederhana, peduli lingkungan, menghargai waktu, sikap baik, dan hidup selayaknya makhluk sosial.
(Catatan: Tony Wagner (2008). The Global Achievement Gap: Why Even Our Best Schools Don't Teach the New Survival Skills Our Children Need--And What We Can Do About It. New York: Basic Books.)

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture