Senin, 03 April 2017

Mengapa Anak Laki-Laki Harus Tumbuh Menjadi Orang dewasa Yang Lebih Kuat

Mengapa Anak Laki-Laki Harus Tumbuh Menjadi Orang dewasa Yang Lebih Kuat
Oleh: Marjohan, M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)
Adalah fenomena umum, namun banyak yang tidak menyadari, bahwa setiap semester saat penerimaan raport dan selalu ada pengumuman tentang para juara kelas di mulai dari sekolah rendah (SD) hingga tingkat SLTA (SMA/MA dan SMK). Mayoritas murid perempuan tercatat sebagai peraih nomor 1, 2 dan 3 pada banyak sekolah. Apa ini maksudnya ?
Bahwa murid perempuan terbiasa belajar lebih bersungguh-sungguh dibandingkan dengan murid-murid laki-laki. Terus memasuki perguruan tinggi populasi anak perempuan (mahasiswi) selalu lebih banyak dibandingkan kaum laki-laki. Selanjutnya saat wisuda, jumlah mahasiswi juga jauh lebih banyak dibandingkan para kaum laki-laki (mahasiswa). Apa maksudnya ini ?
Bahwa sejak berusia kecil secara umum anak laki-laki telah memperlihatkan prilaku yang kurang unggul dibandingkan anak perempuan. Perhatikanlah buku catatan anak perempuan. Terlihat bahwa mereka memiliki buku catatan yang lebih rapi dan lebih lengkap sehingga mereka pantas untuk menjadi lebih unggul. Belajar dengan buku catatan yang rapi tentu lebih menyenangkan. Sementara banyak anak laki-laki yang buku catatannya ditulis nggak lengkap dan asal-asalan. Jadinya mereka belajar juga sering dengan kurang semangat. Jadinya mereka terkesan kurang unggul.
Bagaimana kalau fenomena ketidak unggulan laki-laki dalam belajar berlanjut- tumbuh dan berkembang- dalam masyarakat ? Tentu pada akhirnya akan banyak laki-laki yang bertekuk lutut pada hegemoni kaum perempuan dalam bidang akademik. Kelak bila dewasa, bila laki-laki muda menikah maka sang perempuan bisa menjadi pencari nafkah yang utama dan suami mereka akan mengemis uang jajan setiap pagi pada sang istri.
Saya terkesima membaca artikel yang ditulis oleh Maureen Rice, yang berjudul “can love survive when a woman earns more than a man ?” Dia mengatakan bahwa dewasa ini, terutama di negara maju dan mungkin di negara berkembang, bahwa sangat banyak kaum perempuan yang bekerja dan gaji atau upah mereka sama banyak dengan uang upah/ gaji yang diterima oleh kaum laki-laki.
Bukan hanya dengan perolehan “uang nafkah (gaji atau upah) yang sama”, malah juga ada sebagian perempuan yang mampu memperoleh pendapatan (uang) yang porsinya 5 kali lebih banyak dari suami mereka. Memang di negara maju banyak perempuan- mungkin ada sekitar 19 %- yang mampu memperoleh income yang jauh lebih tinggi dari income suami mereka. Melihat fenomena ini tentu saja ada yang bertanya-tanya tentang “bagaimana perasaan mereka dan sikap/ perasaan suami mereka atas status baru ini (?). Yaitu status yang mungkin perempuan tersebut bisa menjadi “new role model” pagi para perempuan mudayang sedang gila-gilanya mencari jadi diri dan mencari life style buat menuju masa depan. Atau mereka malah akan mengalami relationship disaster- bencana dalam hubungan perkawinan mereka (?)
“Arrijalu qawwamuna ‘ala nnisak”. Demikian firman Allah SWT (4:34), yang berarti bahwa bahwa kaum laki-laki pelindung (pemimpin) bagi perempuan. Para suami adalah pelindung bagi istri dan keluarganya. Maka akan terasa adanya rahmat- yaitu dalam bentuk ketenangan atas harga diri. Namun kalau malah para perempuan yang lebih kuat- lebih dominan- maka akan terasa adanya bencana. Atau paling kurang adanya sedikit
pergesekan pada perasaan suami. Karena terganggu egonya, mereka merasa kehilangan harga diri.
Kewibawaan laki-laki, sebagai pemimin dan pelindung, akan tersandung oleh kelebihan-kelebihan yang dimiliki perempuan. Utamanya kelebihan atas “money, education level and communication ability. Perempuan tersebut pada akhirnya menjadi pengendali kewibawaan rumah tangga dan laki-laki- sang suami- akan menjadi orang yang gengsi atau wibawanya ditaklukan oleh wibawa perempuan/ istrinya.
Di suatu tempat saya dengar ada seorang suami ngambek dan dia kabur menuju rumah orangtua. Dia meninggalkan empat anaknya yang masih kecil begitu saja- hanya sekedar menitipkan ketetangga, saat sang istri pergi bekerja ke kantor.
Itulah laki-laki itu kadang-kadang ibarat seorang bayi yang bertubuh besar. Ya susah juga untuk membujuk suami yang ngambek dari rumah untuk balik pulang karena ia punya kriteria atau persyaratan buat menjemputnya. Setelah diadakan rapat keluarga dari kedua belah pihak, setelah diusut tentang sebab dan akibat mengapa hal itu terjadi- sang suami yang kerjanya serabuta harga dirinya lagi terluka oleh ucapan dan beberapa hal kecil dari prilaku istrinya.
Suami yang berhati rapuh ini ternyata lagi menderita penyakit “rendah diri”. Pekerjaannya tidak menentu dan jumlah uang yang dia peroleh tidak menentu- kadang banyak dan sering hanya sedikit yang hanya sekedar pembeli secangkir kopi pahit. Sementara kedudukan istri sebagai seorang pegawai di tempat yang cukup basah hingga bisa selalu membawa jumlah uang yang lebih. Secara tidak langsung dia merasa lebih terhormat di mata keluarga. Dia menjadi pencari nafkah utama buat keluarga dan anak-anak
Kasus hubuganrumah tangga yang lain adalah akibat perbedaan status- yaitu tingkat pendidikan. Sepasang suami istri yang sebetulnya jumlah income yang mereka peroleh perbulan cenderung sama, malah kadang- kadang suami bisa membawa pulang jumlah uang yang berlebih. Namun jumlah uang berlebih itu belum berarti apa-apa buat istrinya. Kecuali kalau suaminya tamatan universitas dan bisa membawa uang lebih dan ini baru bisa diberi acungan dua jempol.
Memang istrinya lulusan universitas dan bekerja dan suaminya hanya berpendidikan diploma dua. Dalam candaan sang istrinya selalu membanggakan status kesarjanaanya. Dia merasa dirinya lebih terdidik, lebih berkualitas. Memang suaminya hanya tersenyum dan dibalik senyuman itu sang suami memutuskan untuk mengakhiri perkawinan dengan segala resiko di meja pengadilan agama. Tidak lama setelah perceraian, sang suami meneruskan pendidikannnya ke strata sarjana dan kemudian memutuskan pernikahan keduanya setelah itu. Candaan dan perbedaan penddidikan dengan keunggulan istri juga memicu kejengkelan suami.
Demikian juga halnya dengan kemampuan berkomunikasi. Meskipun sang suami uangnya lebih banyak dari istri dan juga karir suami lebih bagus, namun komunikasi istri lebih lincah. Ini juga berpotensi menimbulkan pergesekan hati. Ya laku-laki terlahir sebagai makhluk yang lebih ego. Dia dia sulit untuk diberi nasehat apalagi sampai diceramahi/ digurui secara terang-terangan oleh sang istri.
Ya banyak laki-laki kalau diberi saran atau masukan oleh sang istri dianggap sebagai tindakan yang mendikte dan cerewet. Laki-laki yang kurang lincah dalam berkomunikasi pada akhirnya untuk mempertahankan perkawinan mereka dengan cara strategi banyak bungkam- malas banyak omong pada istri. Akhirnya sang suami menjadi jago diam dan istri tidak punya tempat lagi buat curhat- curah pendapat di rumah.
Perempuan yang pribadinya lebih unggul dibandingkan suami, selain mengganggu keharmonisan hubungan perkawinan dengan suami, juga ikut mempngaruhi pribadi anak-anak mereka, terutama tumbuh-kembang psikologi anak laki-laki mereka dalam mencari identitas diri.
Dalam mencari identitas diri, anak laki-laki merefleksikan dirinya melalui diri ayahnya. Seorang bocah laki-laki tentu akan selalu ingin meniru kegiatan sang ayah. Ia ingin setinggi ayah, dan setampan ayah. Ia juga ingin sehebat dan sepopuler sang ayah. Namun apa jadinya setelah ia tahu bahwa sang ayah kalah unggul dibanding ibu dan akhirnya ayah bukanlah orang yang hebat dalam pandangannya.
Dengan arti kata bahwa seorang ibu yang lebih “gede” pengaruhnya dibandingkan pengaruh ayah akan mempengaruhi nyali anak laki-lakinya, nyalinya lebih kecil. Selain itu, ayah dan anak laki-laki yang interaksi mereka kurang berkualitas- mungkin juga ayah jarang hadir bersama anak- juga akan mempengaruhi nyali anak laki-lakinya, nyalinya lebih kecil.
Banyak contoh dan peristiwa tentang ibu yang punya power otoriter yang berlebihan. Ini membuat pribadi anak-anak mereka tumbuh dengan kekacauan dalam mencari identitas diri. Sekali lagi, anak laki-laki menjadi kurang berani alias bernyali yang kecil.
Memang setiap orang punya kisah dan takdir kehidupan yang berbeda. Pada sebuah tempat, seorang anak laki-laki yang hidup bersama ibu yang super tegas- sementara ayahnya berada jauh di tempat lain, telah menumbuhkan dan mendidik anaknya dengan penuh disiplin dan peraturan yang kaku. Ada selusin “some do’s dan some don’ts” tertera didinding. Yang jelas sang anak laki-laki harus belajar dan belajar selalu, tidak boleh pergi ke rumah teman hingga keluyuran.
Sang anak memang bisa masuk SD, SMP dan SMA yang berkualitas dan hampir tak punya waktu buat menikmati hobi dan bersosial. Hingga dia bisa melanjutkan kuliah ke perguruan favorite dimana dia sangat tertarik hanya buat belajar dan kurang membuka diri dalam bergaul serta beraktivitas. Begitu wisuda dan wisuda dia menerima selembar ijazah dan ia selanjutnya kebengonngan- nggak tahu- mau dibawa kemana ijazah tersebut. Ternyata semua perguruan tinggi tidak memberikan pekerjaan, hanya memberikan mimpi dan selembar ijazah.
Banyak orang yang hanya sekedar tahu dimana mau kuliah dan setelah itu bila selesai kuliah, jarang mereka tahu dimana mau bekerja atau pekerjaan apa yang mau dibikin. Apalagi perguruan tinggi hanya menawarkan jurusan yang kadang kala tidak begitu laku lagi dalam dunia pekerjaan. Namun bagi sebagian orang sangat memahami bahwa kuliah dan menuntut ilmu hanyalah sarana untuk mematangkan diri. Sementara untuk kehidupan sangat dipengaruhi oleh keterampilan bergaul, bukan oleh kemampuan akademik melulu. Jadinya nilai jazah perlu didukung oleh nyali yang gede, kemampuan berdaptasi, kemampuan berkomunikasi dan bergaul, serta kerja keras.
Power ibu yang kelewatan monopoli, pinter dan tegas juga membuat jati diri dua anak laki-laki dan seorang anak perempuannya jadi kacau balau. Sekarang kedua anak laki-laki sudah berusia melebihi kepala tiga, namun tidak memiliki keberanian untuk menikah, bagaimana menikah sebab saat remaja, mereka hampir tidak pernah membahas tentang jatuh cinta, dan bagaimana buat berpacaran. Karena itu semua adalah tabu. Namun saat sang ibu yang sudah berangkat tua dan ingin agar anak-anak mereka semuanya menikah agar mereka kelak bisa punya keturunan dan sebagai cucu buat ditimang- ditimang. Namun sudah terambat karena hati sang anak susah buat terbuka untuk kehadiran hati orang lain.
“Arrijalu qawwamuna ‘ala nisak- bahwa laki-lakilah yang sangat ideal untuk menjadi pelindungnya perempuan”.Namun merujuk pada perolehan prestasi akademik yang bertaburan sejak dari bangku SD, SMP, SMA hingga ke perguruan tinggi, lebih banyak diraih oleh kaum perempuan. Maka bisa jadi kelak bermunculan ratuhan, ribuan dan mungkin jutaan laki-laki yang kalah unggul pengaruhnya dibandingkan kaum perempuan.
“Wahai para pemuda....baik yang sedang belajar di bangku SLTA maupun yang lagi menuntut ilmu di perguruan tinggi, jadilah pemuda yang memiliki pribadi yang lebih kuat melebihi perempuan, terutama perempuan yang kelak menjadi istrimu !!! Kalau pribadi dan kualitas dirimu lebih lemah, maka rumah tanggamu akan mengalami masalah perkawinan. Anak-anak mu, terutama anak laki-lakimu akan bengong dalam mencari identitas dirinya”. Kalau demikian, apa yang harus dilakukan oleh kaum laki-laki agar bisa menjadi laki-laki yang lebih berkualitas ?
Man jadda wa jadda. Siapa saja yang bersungguh-sunggu maka ia akan berhasil dalam setiap domain kehidupan.kalau dibikin rumus tentang bagaima lelaki yang berkualitas itu, ia harus memiliki kualitas yang ditandai oleh “head, heart and hand” yang berisi. Ia harus memilii kecerdasan, sholeh dan kuat.
Para nabi dan rasul adalah manusia yang memiliki otak yang cerdas, hati dengan keimanan yang kuat dan tubuh yang sehat dan kuat. Dari biografi Nabi Muhammad SAW dapat kita ketahui bahwa pada masa kecil beliau memperoleh pengalaman yang sangat
banyak dan juga diajar tentang rasa tanggung jawab, peduli dengan makhluk dan peduli dengan sesama manusia. Kualitas hati, pemikiran dan perbuatannya menjadi rujukan bagi kita- pemeluk agama Islam- dalam menjalani kehidupan ini.
Para pemimpin dan banyak laki-laki sukses di Indonesia dan di dunia adalah mereka yang memiliki kualitas pemikiran, dan keuangan serta pengaruh yang jauh lebih kuat melebihi para istri mereka. Utamanya dalam bidang pengetahuan, keuangan, pengaruh atau kemampuan bargaul dan berkomunikasi. Artikel ini tidak bernada untuk menghasut agar para laki-laki untuk bisa lebih unggul dan melecehkan kaum perempuan. Sekali lagi tidak bermaksud untuk merendahkan kaum perempuan. Tidak !!!
Namun mengajak mereka-para lelaki yang berusia muda- agar segera memiliki kualitas diri. Sebab kalau mereka kelak menikah maka mereka tentu harus menjadi pemimpin dan pelindung bagi keluarganya. Namun perempuan juga harus menjadi orang yang lemah kualitasnya, kualitas laki-laki dan perempuan atau suami dan istri musti berimbang.
Dalam dunia moderen ini hubungan perkawinan dari laki-laki dan perempuan musti bersifat partnership, yaitu saling melengkapi dan saling bekerja sama. Mengurus anak dan rumah tangga bukan tanggung jawab perempuan, namun dikelola oleh kedua belah pihak. Jadi kita, sekali lagi, berharap agar pemuda, siswa dan mahasiswa untuk pedulis memilki kualitas diri yang mencakupi pemikiran, spiritual, pengalaman hidup, wawasan dan kemampuan bersosial. Dari sekarang mereka harus think smart dan work hard.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture