Jumat, 19 Mei 2017

Rusdi, Sahabatku, Berangkat Menemui Allah, Sang Pencipta



Rektorat UNP Berduka, Wafatnya Prof Rusdi Thaib
Posted by: Ajo Pleno in Nasional, Padang, Pendidikan, Sumbar 11 Mei 2017

Rektorat UNP Berduka, Wafatnya Prof Rusdi Thaib
Padang, PADANG-TODAY.com-Duka mendalam dirasakan civitas akademika Universitas Negeri Padang atas meninggalnya Guru Besar Prof Dr Rusdi Thaib, MA,Ph.D, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni, yang juga mantan Atase Kemendikbud, KBRI Kuala Lumpur. Jajaran Rektorat UNP, para dosen dan staf tenaga kependidikan serentak berbelasungkawa mendalam atas wafatnya mantan Dekan FBS ini.
Bagi Rektor UNP, Prof Ganefri,PhD, almarhum Rusdi Thaib adalah sosok pembawa kejayaan dan figur yang mengharumkan nama UNP di berbagai forum nasional dan internasionaL . “Beliau sosok yang mampu menciptakan suasana kerja keras di tengah berbagai keterbatasan,” ujar Ganefri, Rabu (10/9).
Lanjut Ganefri, sosok almarhum lelaki kelahiran 2 Juli 1964 di mata civitas akademika UNP juga dikenal sebagai pembelajar keras bahkan almarhum pernah belajar di luar negeri, yakni Curtin University of Technology, Perth, Australia pada tahun 1997 sampai 2001. Tidak hanya itu, sosok Rusdi Thaib adalah seorang pendidik sejati sekaligus guru besar yang senantiasa tidak pernah berhenti belajar. “Beliau seorang guru besar, seorang dosen yang selalu memiliki attitude terpuji, di samping Skill dan Knowledge yang mengesankan. Bahkan Pak Rusdi juga dikenal mudah akrab dan humoris ,” kata Rektor UNP , didampingi Wakil Rektor I, II, III dan IV, Prof. Dr. Yunia Wardi, Syahril, PhD, Prof Dr. Ardipal dan Prof. Dr. Syahrial Bakhtiar.
Sebagai informasi, almarhum Prof Dr Rusdi Thaib sempat dilarikan ke Rumah Sakit Ibnu Sina yang berada di Jalan Gajah Mada, Kelurahan gunung Pangilun, Kecamatan Nangggalo. Seusai dipastikan telah wafat, Rusdi Thaib disemayamkan dan dilepas di lobby Rektorat UNP sebelum dibawa kerumah duka, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Jln Dadok Raya, untuk selanjutnya dimakamkan di kanagarian Paninggahan, Kabupaten Solok.(rel/Dodi Syahputra)

In Memoriam Prof. Rusdi Thaib, M.A., Ph.D.

By: Afrianto
Alm. Prof. Rusdi, M.A., Ph.D.
Alm. Prof. Rusdi, M.A., Ph.D.
Saya memasuki ruang seminar internasional di Pangeran Beach Hotel pagi ini agak terlambat. Plenary session pertama sudah dimulai. Salah satu pembicara, Dr. Willy A Renandya, seorang scholar di pengajaran bahasa Inggris dari Singapura, sudah terlihat di panggung. Setelah bertegur sapa dengan beberapa panitia dan beberapa dosen saya dulu di UNP, saya masuk mencari tempat duduk.
Mata saya tertuju ke deretan bangku kosong di sebelah kanan agak ke tengah. Saya kemudian memilih duduk di sana. Persis di depan saya, duduk seorang lelaki berjas hitam. Dari belakang saya sudah tebak, itu pasti Prof Rusdi, sang ketua konferensi dan juga dosen saya. Karena acara sedang berlangsung, saya memilih belum menyapa. Tetapi, segera saya duduk di kursi baris belakang, beliau menoleh dan beliau reflek setengah berdiri menyapa saya.
Sayapun berdiri, berjalan ke arah beliau yang tersenyum hangat. Kami bersalaman setengah berpelukan.
‘Alhamdulillah, Pak Ustadz datang’, kata beliau dengan hangat. Beliau memang begitu, selalu punya cara membuat hati mahasiswanya senang.
‘Iya Pak. Maaf, agak telat. Thanks for inviting us’, jawab saya setengah berbisik, karena tak mau mengganggu presentasi yang sedang berlangsung.
Beliau masih meneruskan beberapa kalimat motivasi, mengomentari positif beberapa kegiatan saya yang beliau pantau lewat FB saya.
Tak lama, saya kembali ke bangku di baris belakang. Tempat dimana tas dan alat tulis saya ditinggal. Selama presentasi dari plenary speakers, beberapa kali beliau menoleh ke belakang, tersenyum, seperti ingin mengajak ngobrol, atau tertawa bersama ketika ada humor segar dari pembicara.
Sebelum sesi plenary pertama selesai, saya lihat beliau berdiri meninggalkan ruangan, sambil melirik kecil ke arah saya. Saya balas dengan anggukan. Beliau pasti sibuk mengurus konfrensi sebesar ini, pikir saya.
Selang satu jam, semua peserta konferensi dikejutkan berita yang bagai petir di siang bolong. Seorang dosen mengabarkan bahwa Prof. Rusdi telah meninggal dunia. Beliau ditemukan pingsan (atau bahkan sudah tiada) oleh seorang di dalam mobil di lapangan parkir kampus. Ketika dibawa ke RS Ibnu Sina, kabarnya beliau sudah tiada.
Semua peserta dan panitia ISELT V shocked. Mayoritas yang mengenal beliau terlihat menangis dan menahan duka yang mendalam. Wajah-wajah murung dan sedih terlihat di hampir setiap sudut. Konferensi berubah menjadi suasana berduka cita.
Ah, Prof! Hidup sungguh misterius. Bersyukur saya bisa menggenggam erat tanganmu pagi ini. Untuk yang terakhir kalinya. Saya awalnya tidak berniat ikut konferensi tahun ini, tetapi karena dimention khusus dulu di Fb, saya anggap itu undangan khusus darimu Prof. Saya kemudian datang, bertemu denganmu. Pertemuan terakhir. ūüė≠

Mayoritas Mahasiswa UNP yang mengenalnya akan sepakat mengatakan bahwa beliau adalah salah satu dosen terbaik yang kami punya. Dulu di generasi saya, beliau adalah diantara dosen muda yang menjadi favorit banyak mahasiswa. Cerdas, energik, low profile, dan selalu berusaha memotivasi mahasiswa dengan caranya yang khas. Di dalam kelas, maupun di luar kelas.
Saya meneruskan kuliah masters dan PhD sampai ke luar Negeri, salah satunya adalah karena dorongan dari beliau. Motivasi beliau juga berpengaruh banyak dalam mendorong saya agar bisa berkarir di Perguruan Tinggi.
Terakhir, dengan rendah hati beliau bertanya, ‘Anto, Ayo apa yang bisa kolaborasikan? Saya follow up dengan request beliau sebagai salah satu reviewer journal Internasional yang saya kelola. Dengan cepat beliau jawab ‘yes’. He is indeed really helpful.
Mengapa orang baik sering cepat dipanggil Tuhan?

Selamat jalan guruku, guru kami. InshaAllah husnul khatimah. Ya, Allah. Peluklah guru Kami!
Duka sedalam cinta dari kami. Penulis Afrianto Daud (English 95)
###
By Sisyri Rusdi (English 98)
Jadi ingat masa masa kuliah dengan almarhum.. Terutama sewaktu beliau pertama mengajar Writing masuk lokal B dekat GOR PPSP. Di buku panduan nama dosen tertulis AT (Atur Kemudian, Red).  Ketika beliau datang, kita semua mengira almarhum mahasiswa juga.. memakai topi, sangat low profile.. masuk lokal langsung perbaiki tali sepatu dengan membawa tas sebelah kiri dan beberapa buku sebelah kanan.. beliau pertama yang mengulurkan tangan menyalami Havid.. (Havid Ardi selalu duduk paling depan) kemudian almarhumah Suci dan semua mahasiswa yang hadir saat itu..
Akhirnya beliau memperkenalkan diri bahwa beliau lah dosen kita yang akan mengajar writing 2 (kalau tidak salah semester 2).. Kemudian beliau bercerita pengalaman kuliah di Australia dan terakhir cerita bagaimana cara beliau membeli tas di Australia yg beliau bawa hari itu. Kita semua jadi melongo.. Tersenyum dan tertawa mendengarkannya..
Setelah itu banyak lagi rangkaian kenangan yg tidak terlupakan dengan almarhum. Semasa kuliah dengan beliau yang santai.. Tidak membosankan dan tidak kaku dengan mahasiswanya.
Dan ketika beliau ambil absen ketika mau absen nama saya beliau berhenti sejenak karena nama ayah saya (diakhir nama saya, Sisyri Rusdi, Red) sama dg nama beliau.. lalu beliau buat lelucon lagi..
Semoga almarhum husnul khatimah.. Dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan…
#memori awal pertemuan Bapak Rusdi dg kls B English ’98# (Sisyri Rusdi).
Photo courtesy: Dra. An Fauzia Syafei, M.A

Perginya Atdikbud Berjiwa Sederhana

May 10, 2017   BERITA SIKL
http://sekolahindonesia.edu.my/web2/wp-content/uploads/2017/05/20130726_182604-copy.jpg
Hari ini kami berduka, Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Keluarga Besar Sekolah Indonesia Kuala Lumpur telah kehilangan Prof. Drs. Rusdi Thaib, M.A, Ph.D, mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur yang selama ini banyak memberikan aura posit terhadap sekolah. Beliau meninggal dunia pada hari Rabu, 10/5/2017 di Rumah Sakit Ibnu Sina, Padang.
Almarhum sebelum menjabat sebagai Atdikbud KBRI Kuala Lumpur merupakan seorang dosen senior jurusan Bahasa dan Satra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Negeri Padang (UNP ). Setelah menyelesaikan tugas di Kuala Lumpur, beliau kembali menjadi pendidik di UNP sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
KBRI Kuala Lumpur khususnya SIKL merasa sangat kehilangan karena beliau telah menorehkan banyak kenangan. Jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan warga negara Indonesia di Malaysia sangat besar. Beliaulah yang merintis community learning center (CLC) di Sabah dan Serawak dan juga menggagas berdirinya Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).
Berkat jasa beliaulah maka sampai hari ini anak-anak Indonesia yang berada ladang-ladang sawit di wilayah Sabah dan Sarawak dapat mengenyam pendidikan yang layak melalui program CLC.
Selain mengenang jasa beliau yang juga sangat besar terhadap perkembangan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, SIKL mengenang almarhum sebagai sosok yang sangat sederhana, ramah, rendah hati dan humoris. Di setiap kegiatan bersama SIKL, beliau selalu bercerita tentang masa kecilnya ketika bersekolah dulu dan kemudian memotivasi kami untuk terus maju dan bersemangat dalam menghadapi segala rintangan dalam mendidik anak bangsa.
Banyak prestasi yang sudah beliau torehkan. Bahkan disaat menjelang akhir hayatnya, almarhum masih memberikan ceramah di sebuah seminar di Pangeran Beach Hotel Padang. Ini menjadi bukti bahwa dedikasi beliau terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia tidak pernah usai. Selamat jalan Prof. Rusdi. Doa kami menyertaimu. (AR)


Kamis, 18 Mei 2017

Budaya Membaca Untuk Melejitkan Potensi Diri



Budaya Membaca Untuk Melejitkan Potensi Diri
Oleh: Marjohan, M.Pd

            Saat saya terbang dengan pesawat Qantas dari Jakarta menuju Melbourne, saya menemui pemandangan dan pengalaman baru di bandara Ngurah Rai- Bali, Bandara Sydney dan bandara Tullamarine Melbourne. Tiga bandara dengan banyak orang asing. Saya menyukai Indonesia dan mengapresiasi warga Indonesia sangat banyak. Namun saya  lihat ada perbedaan dalam pemanfaatan waktu senggang.  
            Yang berkulit coklat, saya asumsikan sebagai orang kita, selama dalam pesawat lebih suka ngobrol dan anak-anak muda sibuk main game dengan gadget. Sementara yang berkulit putih lebih memilih tidur, mendengar e-book atau membaca buku yang sengaja mereka persiapkan dari rumah buat dibaca selama perjalanan.
            Saya jadi teringat dengan catatan membaca literasi para siswa di dunia yang saya baca pada salah satu dinding bagian dalam di rumah puisi Taufik Ismail di Aie Angek dekat Padang Panjang, Sumatra Barat. Sella Panduarsa Gareta (2014) menyelami sastra di rumah Taufik Ismail, menyatakan bahwa ada beberapa negara yang mewajibkan siswa mereka untuk membaca buku- novel, biografi, dan buku sastra lainnya, yakni sebagai berikut:
            “Bahwa siswa Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam diwajibkan oleh pihak sekolah membaca 5 sampai 7 buku dalam waktu sekitar dua tahun. Siswa Rusia, Kanada, Jepang, Swiss dan Jerman diwajibkan pihak sekolah membaca 12 hingga 22 judul buku. Siswa Perancis, Belanda dan Amerika Serikat diwajibkan pihak sekolah membaca 30 judul buku dalam waktu dua tahun.” Bagaimana dengan di Indonesia ?
            Siswa SMA di Indonesia tahun 1929 hingga 1942 juga membaca sekitar 25 judul buku pertahun. Yaitu di saat nama sekolah AMS Hindia Belanda, AMS itu singkatan dari Algemeene Middlebare School. Saat di sekolah AMS Hindia Belanda dahulu siapa yang membaca 25 judul buku pertahun ? Itu yang namanya Soekarno, Mohammad Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Natsir, Ali Sastromijoyo dan Muhammad Yamin. Namun dari tahun 1943- 2008, siswa wajib membaca nol buku pertahun.
            Di negara-negara maju yang saya tangkap pengertiannya bahwa betapa pendidikan di negara tersebut kegiatan membaca literasi telah melampaui target ketuntasan sehingga semua anak-anak sekolah sangat menyukai membaca dan membaca telah menjadi kebutuhan utama mereka. Sementara kemampuan membaca untuk pendidikan kita- dari kacamata dunia, kemungkinan belum mencapai target sempurna. Hanya baru sebatas kenal abjad dan mampu membaca peggalan dongeng ringan.
            Membaca dalam pendidikan kita baru sebatas pemberian PR. Guru-guru menugaskan siswa buat membaca dan membuat ringkasan. Siswa membuat ringkasan dan membaca dengan perasaan enggan, bosan dan mendongkol.
            Saat membaca terasa sangat berat dan membosankan bagi kebanyakan siswa SD di negeri kita, sementara itu membaca di negara Skandinavia terasa sebagai kebutuhan primer. Begitu pulang sekolah para siswa dari kelas rendah membawa buku cerita atau novel anak-anak yag ukurannya cukup tebal. Membaca dengan antusias dengan bantuan orang tua di rumah. Membaca kemudian meningkatkan kualitas verbal dan komunikasi mereka, juga menggugah imajinasi mereka hingga mereka menjadi siswa terkemuka.
            Ngainun Naim (2013: 1-7) memaparkan tentang potret buram membaca literasi di negara kita. sebuah data paradoks menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang sukses menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Namun angka yang sedemikian menggembirakan ternyata tidak seiring dengan hasil survei UNESCO tentang minat membaca masyarakat Indonesia. Survei tersebut menunjukan bahwa minat membaca masyarakat Inonesia sangat redah. Tahun 2006, minat membaca masyarakat Indonesia berada pada posisi paling rendah di kawasan Asia. Sementara International Educational Achievement mencatat bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN.
            Apa yang menjadi penyebab membaca belum bisa menjadi budaya ? Sesungguhnya siapapun orangnya, apa pun profesinya, memiliki tradisi membaca. Maka semua profesi punya kontribusi positif untuk membangun budaya membaca. Namun profesi yang paling menggalakan minat membaca adalah mereka yang berasal dari dunia pendidikan. Apalagi kegiatan sehari-hari mereka juga dekat dengan dunia pengembangan ilmu.
            Namun tampaknya dunia pendidikan juga belum terlalu dekat dengan tradisi membaca. Banyak dosen dan guru ternyata belum banyak yang membaca secara tekun. Pada hal bagi mereka membaca merupakan sarana yang paling efektif untuk memperkaya wawasan. Himbauan bahwa dosen dan guru yang baik musti terbiasa membaca dan terus membaca untuk memperbarui dan menambah wawasan serta ilmu pengetahuannya hingga mereka layaknya mencari orang berlevel internasional.
Kesukaan terhadap membaca yang tinggi saya temui pada Craig Pentland, teman Australia saya, dimana kami sudah berteman sejak 22 tahun yang lalu. Setiap kali datang ke Sumatra untuk berlibur dia selalu membawa dua atau tiga buku yang dibaca selama berada di Sumatra. Tak jarang begitu liburannya berakhir dan ia telah menyelesaikan membaca 2 atau 3 buku. Begitu juga dengan teman-teman saya dari Eropa- Louis, Annes Bedos dan Francois, juga memanfaatkan waktu istirahat mereka buat membaca buku-buku. Saat membaca mereka terlihat sangat fokus dan sangat menikmatinya.
Desi Anwar (2015: 90-93) seorang wartawan yang produktif dan seorang host pada Metro TV juga berbagi pengalaman tentag betapa membaca itu sangat penting dan sangat menyenangkan. Dia sudah gemar membaca sejak masih kanak-kanak. Pengalaman membacanya dimulai dengan membaca novel pada usia 7 tahun. Dia masih ingat betapa asyik rasanya memegang buku, terasa berat dan serius. Pada mulanya Desi membaca degan susah payah, halaman demi halaman, seperti mahasiswa yang bersemangat menghadapi ujian. Dia sudah bertekad menyelesaikannya dan ia mengharuskan dirinya menyelesaikannya. Akhirnya dia merasakan kesenangan dalam membaca. Membaca telah membawanya ke masa yang lain, membaca telah menjadi sumber kesenangan yang sejati. Ya benar bahwa membaca adalah keunikan sejati yang dapat kita miliki karena membaca berarti menyerahkan diri kita kepada semua indra.    
Pertama kali membaca bukusaya memang merasakan kesulitan dan kejenuhn dalam menaklukan halaman demi halaman. Dan buku pertama yang taklukan adalah sebuah buku biografi milik teman satu kos saya. Nama bukunya “Pasang Surut Pengusaha Pejuang- Otobiografi Hasyim Ning”. Buku tersebut hanya setebal 392 halaman, namun terasa sangat tebal dan sangat berat saat itu.
Yang penting saat itu saya sudah punya motivasi untuk membaca keseluruhan isi buku tersebut. Maka mulailah saya menamatkan buku tersebut dengan cara memaksa diri. Pada mulanya saya coba membaca 10 halaman, kemudian istirahat dan membaca 10 halaman lagi. Saya buat target buat menamatkan keseluruhab halamannya. Saya biasakan membaca buku dengan menggunakan pensil.
Bila ada hal-hal yang penting buat saya maka akan saya garis bawahi. Nanti setelah saya menamatkan buu tersebut baru saya pindahkan ke buku catatan saya. Akhirnya dengan susah payah saya berhasil mematkan membaca buku tersebut dalam waktu hampir 2 minggu. Saya kemudian membaca tiap, sekarang setelah hampir 30 tahun , membaca sudah terasa sebagai kebutuhan primer saya.
Setiap orang yang telah terbiasa dengan budaya membaca mereka akan sangat beruntung. Sementara itu membaca sangat direkomendasikan oleh Al-Quran (oleh Allah Swt): Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Surat 96:1).
Budaya membaca akan mampu buat melejitkan potensi diri. Ngainun Naim (2013:155-189) mengupas tentang membaca dalam rangka menangkap makna dan meraih prestasi. Ada banyak orang yang berubah karena membaca, misal lewat membaca biografi yang bisa mengantarkan menjadi penulis hebat.   
Salah seorang yang hidupnya berubah karena membaca, khususnya membaca biografi orang-orang terkenal, adalah Edward Bok. Pada masa kecilnya, Bok yang merupakan imigran Belanda di Amerika hidup dalam kubangan kemiskinan. Dalam sejarah hidupnya, Bok tidak pernah bersekolah lebih dari enam tahun.
Dia meninggalkan sekolah ketika berumur tiga belas tahun. Sebagai gantinya ia mulai mendidik dirinya sendiri. Dia menabung sampai dia mendapatkan cukup uang untuk membeli ensiklopedi biografi Amerika. Kemampuan membeli ensiklopedi ini membuatnya memperoleh banyak inspirasi dan membangun kreativitas dirinya. Pengaruh bacaan tersebut mendorongnya untuk melakukan hal yang luar biasa. Dalam perjalan selanjutnya, Bok menjadi penulis biografi yang ternama. Ia telah mewawancarai ratusan tokoh terkenal dan menulis biografi mereka. Semua itu bermula dari sebuah langkah mendasar, yaitu membeli dan kemudian membaca secara intensif biografi mereka.
Salah seorang pakar psikologi Indonesia adalah Prof. Dr. Ashar Sunyoto Munandar. Dalam perjalanan panjang hidupnya, Ashar mengaku bahwa ia begitu dipengaruhi oleh kata-kata yang tersusun rapi dalam aneka buku dongeng. Beberapa buku cerita dari masa kecilnya yang berkesan adalah Dik Trom, Piltje Bel, dan buku cerita karya Dr. Karl May. Bahkan, tanpa disadarinya, buku cerita itu pula yang memberikan rangsangan imajinasi dan wawasan luas tentang kehidupan.
Kesempatan meminjam buku bacaan di usia belia ini menjadi penanda signifikan bagi munculnya minat besar Prof. Ashar untuk membaca. Sejak itu, minatnya  membaca tumbuh pesat. Membaca dan terus membaca telah menjadikan Prof. Ashar sebagai pribadi penuh kualitas sehingga ia menjadi seorang pakar psikolog ternama di negeri ini. Bacaan cerita di masa kecilnya telah menjadikan dia sebagai pribadi yang terus tumbuh dan berkembang.
Besarnya pengaruh buku cerita juga dialami oleh penuis cerita yang cukup populer di dunia melalui bukunya Harry Potter, dia adalah J.K Rowling. Ia menulis novel legendaris tersebut dalam tujuh seri. Itu tentu saja merupakan hasil kerja keras dan perjuangan J.K Rowling yang sangat luar biasa. Orang mungkin hanya melihat dari sisi hasilnya saja. Padahal, kesuksesan yang diraihnya sesungguhnya dipegaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah pengaruh bacaan pada masa kecilnya.
J.K Rowling menuturkan tentang kenangannya yang paling jelas mengenai masa kanak- kanaknya. Adalah ayahnya yang duduk dan membacakan buku buatnya The Wind in the Willows. Bacaan demi bacaan yang terus digelontor orang tuanya pada masa kecil J.K Rowling secara tidak disadari telah membuat kesan hebat pada dirinya. Maka J.K Rowling mulai memimpikan cerita- cerita fantasis yang anehnya memiliki alur yang bagus dengan tokoh-tokoh yang begitu nyata.
Pengaruh bacaan kemudian mendorongnya untuk menjadi seorang penulis. Menulis baginya merupakan dorongan yang sangat hebat. Yang jelas membaca telah memberi kontribusi besar pada kemampuan J.K Rowling dalam menulis. Kesuksesan yang kini diraihnya merupakan akumulasi dari bacaan yang telah lengket dalam kehidupannya semenjak kecil. Begitulah, membaca kisah hidup para tokoh telah mengubah kehidupannya. Tentu saja ada banyak orang yang telah memperoleh manfaat positif dari kebiasaan membaca.
             
    Catatan:
Aa Navis (1986). Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Otobiografi Hasyim Ning. Jakarta: Grafiti Pers
Ngainun Naim (2013). The Power of Reading- Menggali Kekuatan Membaca Untuk Melejitkan Potensi Diri. Yogyakarta: Aura Pustaka
Sella Panduarsa Gareta (2014). Menyelami Sastra di Rumah Taufik Ismail. Jakarta: Antara News (www.antaranews.com)
Desi Anwar (2015). Hidup Sederhana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Buatlah Dirimu “Attraktif” Agar Sukses Segera Datang



Buatlah Dirimu “Attraktif” Agar Sukses Segera Datang
Oleh: Marjohan, M.Pd

            Keinginan untuk meraih sukses sudah menjadi kebutuhan banyak orang, mulai dari yang berusia muda hingga berusia dewasa. Demikian juga di kalangan pelajar, terutama bagi yang sudah duduk di kelas 12- atau kelas akhir- tingkat SMA/MA, maka mereka mendaftarkan diri pada bimbel (bimbingan belajar). Buat apa ?
            Mereka mengatakan agar mereka bisa sukses- jebol di perguruan tinggi favorit di pulau Jawa atau pada jurusan- jurusan favorit di perguruan tinggi negeri yang terkemuka di Indonesia. Jadinya begitu banyak anak- anak muda yang berjibaku dalam belajar hingga bisa memperoleh kejuaraan dalam suatu perlombaan, prestasi akademik, hingga lulus dengan nilai yang gemilang. Namun apakah mereka betul- betul bisa meraih sukses 5 tahun atau 10 tahun setelah itu ?   
            Saya tiba-tiba menjadi lebih sadar akan makna mencari sukses setelah saya membaca sebuah artikel, yang ditulis oleh Melisa Stanger, dengan judul “Attractive people are simply more successful”, bahwa orang- orang yang terlihat attraktif (lebih menarik) akan lebih mudah untuk meraih sukses. Dia mengatakan bahwa orang- orang yang terlihat attraktif akan lebih cepat buat mendapatkan pekerjaan dan memperoleh bayaran yang lebih tinggi.  
            Mereka juga memperoleh promosi lebih cepat dan mereka juga dibayar lebih banyak dari pada orang-orang yang bekerja pada bidang yang sama, namun penampilannya kalah attraktif. Dengan demikian betapa penting menjadi orang-orang yang penampilannya terlihat attraktif, karena mereka yang terlihat attraktif akan mampu memperoleh nafkah sedikit lebih baik dari pada orang-orang yang penampilannya biasa-biasa saja.
            Daniel Hamermesh, seorang profesor ilmu ekonomi dari Universitas Texas- Amerika Serikat, juga meyakini tentang fenomena bahwa orang yang terlihat attraktif akan bisa menjadi lebih sukses. Ia menulis tentang fenomena ini menjadi sebuah buku yang berjudul “Beauty pays: why attractive people are more successful”.
            Kemudian, Melisa Stanger juga mengatakan bahwa ada sejumlah penelitian yang mempelajari tentang konsep kecantikan/ ketampanan sebagai sebuah faktor dalam meraih kesuksesan seseorang secara berkali-kali. Terbukti bahwa orang- orang yang cantik memang cenderung mampu membawa lebih banyak uang ke dalam perusahaan dimana mereka bekerja. Sehingga mereka terlihat sebagai karyawan yang sangat bernilai dan sebagai orang yang bekerja lebih keras.
            Dalam pengalaman lain bahwa para salesmen yang beroperasi- menjajakan dagangan- secara door to door ternyata para salesmen yang penampilannya lebih attraktif akan mampu menjual dagangan lebih laris kepada pelanggan mereka. Karena pelanggan mereka memang lebih suka untuk berhubungan dengan orang-orang yang memiliki wajah yang good looking.
            Dario Maestripiene, seorang professor neurobiology dari Universitas Chicago, mengatakan bahwa orang- orang yang memiliki penampilan “good looking” atau attraktiv memang memiliki daya tarik sehingga banyak orang yang tertarik untuk berinteraksi dengannya. Mereka senang menghabiskan banyak waktu untuk ngobrol dan melakukan kebersamaaan dan juga. Banyak orang yang juga senang untuk membeli produk dari mereka yang memiliki wajah good looking tersebut, sehingga perusahaan juga akan membayarkan upah dengan bonus yang lebih tinggi pada mereka.
            Daniel Hamermesh mengatakan bahwa faktor good looking tidak hanya faktor utama pembentuk daya tarik tersebut. Namun juga ditentukan oleh faktor karakter- karakter positif yang mereka miliki- seperti keberanian, sopan santun, ramah tamah, dll.       Jadi bukan suatu hal yang sia-sia kalau banyak orang sangat peduli dengan penampilan. Menghabiskan dana ekstra buat perawatan tubuh, hingga mereka bisa tampil lebih attraktiv.
            Kecantikan dan ketampanan dapat memantulkan rasa percaya diri seseorang. Memang rasa percaya diri tersebut terlihat pada prilaku, sehingga mereka yang memiliki penampilan good looking dan rasa percaya diri akan mampu menghargai diri mereka (self esteem) yang lebih tinggi. Mereka menjadi orang yang disenangi dan cenderung lebih mudah diterima oleh banyak kalangan.
            Riset tentang efek faktor kecantikan/ketampanan juga pernah dilakukan di Universitas Rice dan Universitas Houston. Mereka membatasi studi tentang bagaimana penampilan wajah mempengaruhi keungguan seseorang dalam melakukan wawancara.ditemukan bahwa orang-orang yang wajahnya kurang terawat- bernoda, jerawatan, ada goresan luka dan komedo- ini semua bisa mempengaruhi kualitas wawancara dan penurunan kuaitas rasa percaya diri. Ada kesan bahwa mereka kehilangan daya tarik, sehingga banyak informasi penting yang ada pada mereka yang kurang tergali.
            Juan Madesa, professor dari Universitas Houston, mengatakan bahwa semakin sering pewawancara memperhatikan noda-noda pada wajah maka semakin sedikit dia mengingat tentang konten (isi) dari topik yang dibahas selama wawancara berlangsung. Akhirnya kualitas materi wawancara juga ikut jadi menurun.
            Sehubungan dengan uraian di atas tentang kesuksesan dalam belajar, bekerja, dan faktor noda pada wajah yang merusak daya tarik penampilan. Saya juga teringat pada pengalaman sendiri. Bahwa ada teman masa remaja saya yang sangat rajin dan disiplin dalam belajar sehingga setiap dia ujian, dia mampu meraih nilai ujian yang lebih tinggi. Dalam ujian harian, ujian tengah semester, dan ujian kenaikan kelas, dia juga mampu meraih angka- angka yang fantastis. Sehingga pada rapornya tertera nilai- nilai yang mengagumkan. Bagaimana reaksi teman- teman kepadanya ?
            Sebagian merasa kagum pada kemampuan akademik dan merasa biasa-biasa saja, apalagi melihat performance nya yang sedikit kaku, kurang ramah, kurang suka berkomunikasi sehingga banyak orang yang kurang tertarik buat ngobrol dengannya. Juga dia sendiri juga kurang peduli dengan penampilannya. Dia membiarkan wajahnya kurang terawat sehingga membuat lawan jenis juga malas banyak ngobrol dengannya atau ngobrol hanya sebatas basa-basi saja.
            Sehubungan dengan judul tulisan ini, bahwa orang-orang yang memiliki attraktif akan lebih sukses. Daya tarik atau attraktif sangat dipengaruhi oleh faktor good looking- wajah yang tampan atau wajah yang cantik. Namun itu semua merupakan anugerah dari Tuhan (Allah Swt).
            Daniel Hamermesh juga menambahkan bahwa bagi mereka yang memiliki faktor wajah yang kurang beruntung, tentu akan juga bisa membuat keberuntungan yang lebih. Mereka masih memiliki tempat- tempat untuk mewujudkan kesuksesan.
            “Jangan mencari pekerjaan dimana faktor wajah menjadi penentu keberhasilan. Maka jangan putuskan untuk menjadi pembawa acara di TV, namun bisa bekerja sebagai penyiar radio. Jangan menjadi aktor film, namun carilah tempat pekerjaan yang anda senangi dimana wajah bukan sebagai faktor penentu yang utama,” demikian nasehat Daniel Hamermesh.
            Apa daya tarik (attraktif) semata- mata hanya terfokus pada faktor good looking ? Saya pernah membaca artikel tentang Sri Owen, seorang perempuan yang berasal dari Sumatra Barat. Dia memperoleh pendidikan bahasa Inggris dan kemudian bekerja sebagai penyiar radio BBC London. Sri berkenalan dengan seorang pemuda Inggris yang punya nama Owen.
            Owen adalah pemuda Inggris yang tinggi dan tampan dan Owen adalah wanita Asia (asal Sumatra Barat/ Indonesia) yang wajahnya  biasa- biasa saja. Namun kecantikan yang dimiliki oleh Sri bukan semata-mata ditentukan oleh faktor good looking. Pribadi Sri yang menarik, wawasannya yang luas dan daya tarik dari dalam diri Sri membuatnya punya punya pesona tersendiri di mata Owen. Akhirnya Owen memutuskan untuk menikah dengan Sri dan setelah menikah nama Sri lebih akrab disapa dengan “Sri Owen”. Hingga sekarang mereka masih menetap di Inggris dengan bahagia dan mereka berdua mengembangkan usaha dalam bidang kuliner Indonesia.
            Jadi bagaimana implikasi dari judul artikel ini ? Bahwa orang dengan penampilan yang attraktif akan lebih mudah buat meraih sukses. Namun kualitas kepribadian juga menjadi penentu dari daya tarik lainnya. Mereka yang memiliki pribadi yang menarik juga akan lebih cepat buat sukses.
            Wajah yang hanya sekedar good looking- cantik atau ganteng- saja belum bisa memberikan jaminan bahwa dia punya daya tarik bagi orang lain. Kecuali kecantikan atau ketampanannya didukung oleh faktor yang lain seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan bergaul, mengambil keputusan, kemampuan bersimpati dan kemampuan sosial lainnya.
            Sejak dahulu banyak orang sangat yakin bahwa untuk sukses sangat ditentukan oleh faktor kompetensi. Maka ramailah orang berusaha untuk menjadi lebih cerdas dalam bidang akademik. Dan mereka bisa memproleh kesuksesan, namun sebagian kesuksesan tersebut hanya berjalan di tempat. Agar sukses bisa lebih ditingkatkan maka- seperti yang saya paparkan pada bagian atas artikel ini-  maka milikilah daya tarik (attraktif) pada pribadi kita. Mari perhatikan penampilan diri, rawatlah wajah kita, rambut dan cara berbusana kita yang lebih elegan. Kemudian miliki pula kecantikan yang terpancar dari dalam diri yang terbentuk karena nilai karakter kita.
            Juga taatlah pada Allah Swt, karena Dia lah yang membolak balikan hati kita dan yang mampu memberi kesejukan dan ketenangan pada hati kita. Peliharalah hubungan baik dengan sesama dan jadilah pendengar yang baik yang mampu bersimpati. Kemampuan berkomunikasi dan bersosial juga sangat menentukan. Moga- moga kesuksesan segera berpihak kepada kita. (Marjohan, M.Pd adalah Guru SMAN 3 Batusangkar- Sumatra Barat)      

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture