Selasa, 13 Juni 2017

Parenting Berkualitas Menghasilkan Generasi Bernas



Parenting Berkualitas Menghasilkan Generasi Bernas

            Tumbuh-kembang seorang anak sebetulnya dapat dilihat dari berbagai sisi, yaitu sisi kognitif (perkembang otak), psikomotorik (keterampilan atau gerak) dan afektif. Sosok seorang anak itu juga bisa dilihat dari unsur biologis, psikologis, spiritual, dan sosial. Usia anak-anak juga sering disebut sebagai “tahapan usia emas atau “golden age”. Yaitu usia dengan pertumbuhannya begitu dasak dalam bentuk ledakan-ledakan yang hebat.
Ide ini-bagaimana ledakan hebat ini bisa terbentuk- mungkin sulit untuk dipahami. Namun mari kita telusuri kembali pada awal-awal masa pertumbuhannya. Di awal masa kelahirannya, seorang bayi terlahir dengan berat sekitar 3 kg. kemudian pertumbuhan berat badannya naik berturut turut, bulan pertama- 65 %, bulan ke dua- 60%, bulan ke tiga- 50%, bulan ke empat 40 % dan terus mencapai angka 10 %, 5% hingga mencapai angka pertumbuhan yang stabil setelah proses pertumbuhan dalam ledakan besar itu berakhir.
Tentu saja pertumbuhan biologis (tubuh) anak dalam ledakan yang hebat terjadi bagi anak yang mengkonsumsi asupakan gisi secara normal dan sempurna. Hingga pertumbuhan tubuh (biologi) sang anak berakhir setelah terjadi osifikasi atau pengerasan tulang di akhir masa remaja mereka.
Penambahan berat badan bayi dengan asupan gizi yang sempurna terjadi setiap minggu dan bisa diukur dengan jelas setiap bulan. Penambahan dari tumbuhnya ukuran tubuh, dalam bentuk ledakan terus terjadi selama masa anak-anak hingga berakhir pada masa awal masa dewasa. Yang mana signifikan pertumbuhannya terlihat setiap tahun.
Demikian juga halnya dengan otak, ia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Otak adalah organ yang betanggung jawab untuk membuat seorang bayi atau anak menjadi cerdas. Ledakan kecerdasan juga terjadi dalam usia awal masa anak-anak. Dimana ini ditandai dengan pertumbuhan lingkaran kepala dalam ukuran millimeter setiap minggu dalam tahun pertama dan kedua dari kehidupannya. Setelah pertumbuhan dan perkembangan otak sempurna, maka selanjutnya yang terlihat adalah pertumbuhan dalam kecerdasan anak.
Dalam buku David Hull (1985) dalam buku “The Macmillan Guide to Child Care” digambarkan tentang ledakan- ledakan pertumbuhan kecerdasan anak dari segi personal dan sosial mereka- yaitu keterampilan berbahasa, gerak halus dan gerak kasar. Ledakan-ledakan kecerdasan yang sangat dahsyat juga terjadi dalam masa 2 tahun (masa bayi), barangkali ini adalah sebagai “Super Golden Age”. Dan super golden age berikutnya dengan ledakan terhebat terjadi hingga mereka mencapai usia lima tahun pertama. Jadi ledakan-ledakan kecerdasan mencapai perkembangan dasar hingga mereka berusia 5 tahun.
Untuk perkembangan personal dan sosialnya, yaitu  dari mampu tersenyum karena digoda hingga mampu memakai baju sendirian dalam waktu singkat. Pertumbuhan untuk  kemampuan linguistik (kemampuan berbahasa) dimulai dari seonggok bayi merah, yang hanya mampu menangis, kemudian berkembang hingga mampuan menggunakan gestur (bahasa tubuh)- melambaikan tangan- hingga mampu ngobrol dalam kalimat sederhana  yang sempurna-“Aku suka mama, aku suka papa, aku mau pergi, aku takut, dll’- dalam rentang usia 4 tahun. Sedangkan kemampuan motoriknya, dimulai dari mampu memegang tangan (meggenggam tangan sendiri), menjangkau permainan hingga mampu melukis kepala manusia (lukisan kasar tentunya) dalam usia 4 tahun.
Betapa ledakan kecerdasan pada semua anak terjadi dimana- mana di dunia ini  dan juga bagi anak-anak kita. Ledakan kecerdasan yang terdahsyat adalah dalam masa 4 atau 5 tahun pertama kehidupan mereka. Itu semua merupakan bentuk kecerdasan dasar- basic intelligent- dimana selanjutnya bentuk-bentuk kecerdasan mereka siap buat dikembangkan. Mereka sudah memiliki kecerdasan dasar- bentuk masternya- yang hebat yang siap buat untuk diledakan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal. Namun bagaimana respon lingkungannya, terutama para orangtua di rumaha dan para guru dari sisi paedagogik di sekolah ?
Para orang tua yang peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-akan mereka akan segera mendalami tentang ilmu parenting. Jadinya anak- anak bisa maju terutama karena memperoleh pengasuhan dari orang tua yang berkualitas- punya referensi tentang parenting. Pada umumnya bangsa-bangsa yang memilki SDM yang bagus itu karena mampu mengoptimalkan ledakan kecerdasan anak-anak mereka. Kita agaknya juga perlu belajar dari rahasia manajemen mendidik anak atau parenting management  mereka.
Di dunia ini sangat banyak negara-negara yang memiliki orang tua yang hebat dalam mendidik anak. Ya semua anak-anak bisa  menjadi maju, sekali lagi, adalah  karena orang tua mereka sangat memahami konsep parenting- yaitu peran orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan membesarkan mereka (anak-anak).
Sekarang mari kita pahami bagaimana tentang bentuk-bentuk parenting mereka. Misalnya, kita pilih saja parenting dari4 negara maju, yaitu negara-negara yang SDMnya berkualitas dengan demikian juga terkenal  bagus (bertanggung jawab) dalam mendidik anak. Negara-negara yang kita pilih adalah  Perancis, Cina, Amerika dan Jepang. Orang tua di negara-negara tersebut adalah orang tua yang ideal dan kita patut belajar dari bentuk parenting mereka.
1).Parenting dari orang tua Perancis
Saya merasa beruntung bisa berkenalan dengan tiga orang Perancis, yaitu: Louis Deharveng, Anne Bedos dan Francoisse Brouquisse. Mereka telah menjadi teman saya sejak tahun 1993 sampai tahun 2012. Mereka sering mengunjungi (berlibur) ke tempat saya secara teratur di Batusangkar. Tentu saja saya punya kesempatan untuk saling bertukar pikiran dengan mereka. Itu membuat saya mengenal negara Perancis dan budaya negara mereka lebih mendalam. Saya jadi tahu mengapa Perancis menjadi salah satu negara terhebat di Eropa dan juga di dunia. Itu semua karena masyarakat Perancis dibesarkan dan didik oleh orang tua yang sasngat hebat dalam mendidik keluarga mereka.
Apakah orang Perancis bersikap lebih baik ? Saya pernah berbincang-bincang dengan orang Perancis. Saya dan juga tetangga berkesimpulan bahwa ‘Orang Perancis bersikap lebih baik”. Teman-teman saya orang Perancis tersebut bukan orang timur namun mereka berbicara sangat sopan dan juga makan dan minum tanpa mubazir. Cara mereka menyantap makan sangat sesuai dengan ajaran Islam, yaitu makan tanpa menyisakan makanan.
Salah seorang famili keluarga kami menikah dengan wanita Perancis dimana saya bisa mengamati bagaimana mereka mendidik dan membesarkan anak mereka. Saya melihat bahwa keluarga Prancis  tidak repot/ bising pada waktu makan kita. Mereka tampak seperti  sedang berlibur- ya terlihat rileks saja. Anak balita mereka bisa duduk tenang di kursi, menunggu makanan. Tidak ada jeritan atau juga tidak merengek. Saya juga mencari tahu tentang karakter keluarga Perancis dan benar bahwa itu adalah karakter rata-rata.
Saya sering melihat anak kecil yang mudah marah  pada waktu makan dan anak-anak Perancis jarang bersikap demikian.  Bila anak mereka rewel maka orang tua mereka tidak bersikap aggresif dalam menenangkan anak, kecuali mereka selalu bersikap tenang atau rileks saja. Pelajaran dari keluarga Perancis, bahwa  orang tua Perancis  memperkenalkan pelajaran cara “bersopan santun” dalam hidup kepada anak-anak  mereka sebagai berikut:
a) Anak-anak harus mengatakan halo, selamat tinggal, terima kasih dan minta pamit. Ungkapan ini membantu mereka dalam bergaul dan sekaligus membuat pribadi mereka disenangi.
b) Ketika anak-anak menunjukan karakter nakal, maka orang tua memberi mereka   peringatan dengan cara "Membelalakan mata"- sebagai isyarat teguran, tanpa harus mengomel atau membentak.
c) Orang tua Perancis  mengingatkan pada anak bahwa “siapa yang bos/ pimpinan”.  Orang tua Prancis mengatakan, "Ini saya yang memutuskan", maksudnya agar anak    mampu bertanggungjawab dan mengambil keputusan.
d) Jangan takut untuk mengatakan "tidak." Dan anak-anak harus belajar bagaimana    mengatasi frustrasi.
Mengapa  anak-anak Prancis tidak terbiasa melempar makanan? Dan mengapa orang tua mereka tidak suka berteriak atau menghardik ? itu sudah menjadi karakter positif mereka. Orang tua Prancis juga  tidak sempurna, namun mereka memiliki kebiasaan  yang bagus dan benar-benar mereka laksanakan. Mereka  bersemangat kalau berbicara dengan anak-anak, tidak asal-asalan dalam menjawab pertanyaan anak. Mereka mengajak anak melakukan eksplorasi- memperkenalkan alam pada anak- mengajak mereka ke luar rumah dan juga  membacakan banyak buku- untuk memperkenalkan bacaan pada anak. Mereka juga membawa  anak untuk belajar tenis, kursus melukisan dan ke museum ilmu pengetahuan interaktif.
Orang tua Perancis selalu melibatkan diri dalam keluarga. Mereka menganggap bahwa orang tua yang baik perlu menyediakan waktu buat anak. "Bagi saya, malam hari adalah waktu buat bersama keluarga/ anak. Orang tua Perancis sering memberi anak stimulus (rangsangan untuk berbuat positif) dan selalu ingin anak mereka menerapkan disiplin.
Bagaimana mereka mendidik anak ? Ya tentu saja melalui disiplin. Namun kata disiplin tidak berhubungan dengan hukuman- sebagai pengertian yang sempit. Kalau ada kesalahan langsung membentak anak- bukan demikian. Orang tua Perancis tidak buru-buru  menjemput anak yang menangis namun mendorong mereka untuk menenangkan diri sendiri.  Ketika anak-anak mencoba untuk mengganggu pembicaraan, ibu berkata, "Tunggu  sebentar ya sayang, ibu tengah berbicara..!!" Kata sang ibu dengan sopan dan sangat tegas pada anak.
Ibu atau ayah Perancis juga mengajar anak-anak mereka bagaimana : belajar bermain sendiri. "Yang paling penting adalah bahwa ia belajar untuk menjadi bahagia dengan dirinya sendiri, "Orang tua Perancis mempercayakan anak-anak untuk cukup banyak kebebasan dan otonomi/ kemandirian.  Menyediakan makanan buat diri sendiri, menyediakan pakaian buat diri sendiri- jadi dari usia kecil tidak diajar bermanja atau serba dibantu. Ya bagaimana kelak anak bisa sukses dalam hidup kalau mereka sepanjang hidup terbiasa banyak dibantu.
2).Parenting dari orang tua Cina
Di mana-mana di dunia orang Cina terkenal sebagai orang yang berhasil. Dapat dikatakan bahwa majunya negara Singapura adalah juga karena pengaruh orang-orang keturunan Cina. Ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh sebagian orang-orang keturunan Cina. Dari media masa kita dapat mengetahui bahwa orang-orang Canada dan Amerika Serikat keturunan Cina juga termasuk orang-orang yang berpengaruh di sana. Malah John Naisbitt, penulis terkenal di dunia, mengatakan bahwa orang-orang Cina migran (Cina Perantauan) telah berpengaruh dalam perkembangan ekonomi dunia, khusus bagi mereka yang berada di daerah pantai timur benua Asia, mulai dari negara Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, pantai timur Cina, Vietnam, Thailand, Philipina, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia.
 Kita bertanya-tanya bagaimana orang tua Cina dalam  membesarkan anak-anak mereka hingga  sukses. Kita bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan orang tua hingga menghasilkan anak yang jago dalam  matematika, musik, ICT dan perlombaan sains. Amy Chua (2011) seorang penulis tentang parenting mengungkapkan beberapa hal yang tidak pernah diizinkan oleh orang tua Cina pada anak-anak mereka:
a) Menginap atau bermalam di rumah seseorang.
b) Hura-hura atau buang-buang waktu.
c) Mengeluh.
d) Menonton TV atau bermain game computer
e) Memperoleh skor nilai yang rendah.
f) Tidak menjadi siswa/ mahasiswa yang terjelek.
Ibu-ibu di negara Cina mengatakan bahwa mereka percaya anak-anak mereka bisa menjadi siswa "yang terbaik", bahwa "prestasi akademik mencerminkan orang tua yang sukses," dan bahwa jika anak-anak tidak berprestasi di sekolah berarti ada "masalah" dan itu berarti orang tua sang anak  "tidak melakukan pekerjaan mendidik dengan baik’.
Orang tua Cina menuntut nilai sempurna karena mereka percaya bahwa anak mereka bisa mendapatkannya. Jika anak mereka tidak mendapatkan maka ibu Cina menganggap itu karena si anak tidak bekerja/ belajar cukup keras. Maka solusi atas kondisi tersebut “anak perlu dikritik atau dipermalukan”. Bukan hanya sekedar mempermalukan anak namun orang tua berlepas tangan dalam hal mendidik.
Orang tua Cina percaya bahwa anak-anak mereka berutang kepada mereka semuanya karena mereka telah berkorban dan berbuat banyak bagi anak-anak mereka. Dan memang benar bahwa ibu Cina  menyediakan waktu yang sangat melelahkan agar anak bisa mengikuti les privat, pelatihan, menginterogasi dan memata-matai anak-anak mereka. Maka pemahamannya adalah bahwa anak-anak Cina harus menghabiskan hidup mereka dan mentaati mereka dan membuat mereka bangga.
Orang tua Cina percaya bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan karena itu  mereka mengesampingkan semua keinginan anak-anak yang belum logika. Itu sebabnya putri Cina belum dapat memiliki pacar saat di bangku SMA  dan mengapa anak-anak Cina tidak bisa pergi hura-hura.
3). Parennting dari orang tua Amerika
Suatu hari saya berkenalan dengan Dr. Jerry Drawhorn (dan Prof. Louis Down pada waktu yang berbeda). Dari Jerry saya mengetahui beberapa kebiasaan dan budaya orang amerika. Sebagai seorang arkeolog ia pernah berbicara tentang kecerdasan. Ada banyak orang Amerika yang begitu pintar dan kepintaran mereka adalah sebagai kontribusi dari orang tua mereka. Saya kemudian menjadi tahu dari Prof. Louis Down (di waktu senggang saat memberi seminar di IAIN Batusangkar tahun lalu) bahwa dari beberapa kelompok etnik yang ada di Amerika maka etnik Jerman dan etnik Yahudi termasuk unggul dalam mendidik keluarga mereka. Untuk perkembangan awal-awal teknologi Amerika Serikat bisa jadi sebagai kontribusi dari Etnik Jerman, ya bisa jadi mereka adalah etnik Jerman yang beragama Yahudi. Selanjutnya saya sebut saja dengan istilah “Etnik Yahudi Amerika”. 
Etnik Yahudi Amerika telah lama dikagumi oleh banyak orang di Amerika karena kemampuan mereka dalam menghasilkan anak-anak yang berkembang secara akademis. Mereka punya budaya “guilty” atau merasa bersalah kalau tidak berhasil dalam hidup dan ini punya dampak dalam menciptakan keberhasilan mereka.
Rasa bersalah (guilty) adalah bentuk pesan-pesan emosi yang memberi rasa rumit dalam pikiran. Orang tua Yahudi merasa bersalah kalau keluarga mereka gagal atau kurang berhasil dalam berbuat. Gambarannya bisadalam bentuk ungkapan:
I am ashamed if I am not success, my parent will be embarrassed if I am failed, our people will be forgotten if we have very poor score, etc
Rasa bersalah ini merupakan dorongan yang kuat dalam melindungi dan juga dalam menyempurnakan mutu kehidupan diri dan kehidupan keluarga. Agar hasil kegiatan mereka bisa sempurna maka mereka tidak mau berbuat asal-asalan, mereka berbuat lebih profesional. Rasa bersalah telah mendorong semua orang Yahudi untuk berbuat- belajar dan bekerja- secara serius dalam berbagai bidang kehidupan sehingga mereka menjadi bangsa yang berkualitas.
Orang tua Yahudi juga menularkan rasa bersalah (pesan-pesan emosional) pada anak-anak mereka, sehingga dalam belajar bila mereka tidak memperoleh hasil yang belum maksimal maka akan timbul rasa guilty atau rasa bersalah. Selanjutnya rasa bersalah menjadi pendorong untuk berbuat lebih berkualitas. Jadi bagaimana anak-anak Yahudi memperoleh skor akademik yang tinggi dan juga untuk mendapatkan perhatian dari perguruan tinggi terbaik? Tentu saja adanya dorongan yang kuat dari dalam hati, bila tidak bisa maka mereka akan mengalami rasa bersalah (guilty) yang mendalam.
4) Parenting dari orang tua Jepang
Bagaima dengan kualitas karakter anak-anak  di Jepang ? Kualitas mereka tentu saja terbentuk dari kualitas parenting para orang tua dan juga dukungan media masa sehingga terbentuklah masyarakat yang punya disiplin, empati dan pendidikan yang pro pada karakter.
a) Menumbuhkan disiplin keluarga.
Tentu saja setiap pemuda dan pemudi Jepang yang ingin menikah maka mereka terlebih dahulu mengikuti kursus parenting, atau juga belajar secara otodidak tentang menjadi orang tua yang baik (parenting). Jadinya setelah menikah dan punya anak maka mereka tidak kebingungan dalam menanamkan konsep. Disiplin adalah konsep utama yang selalu ditanamkan oleh orang tua untuk keluarga mereka.
Karena memahami konsep parenting, maka orang tua di Jepang bersikap lembut namun juga tegas. Sejak lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang orang tua. Para orang tua di Jepang disiplin sekali terhadap anak-anaknya dan kedisiplinan ini diajarkan sejak dini. Anak-anak tidak selamanya bersikap manis, kadang-kadang bersikap agak nakal dan menjadi hilang kontrol.
Jika sang anak tidak mematuhi- bersikapmenganggu ketertipan umum, maka mereka akan memukul kepala si anak. Hukuman ini lazim buat orang Jepang, dan memukul kepala (menempeleng kepala) tentu saja tidak lazim bagi bagi hukum positif kita dan juga tidak harus kita tiru (mungkin diganti dengan bentuk mencubit atau memukul selain kepala untuk tujuan mendidik).
Namun di tempat umum, orang tua Jepang pantang untuk memarahi atau bersikap kasar terhadap anak, karenaanak perlu dipelihara harga dirinya. Mereka dihukum ketika sudah di rumah. Oleh sebab itu, anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya karena jika mereka melanggar aturan maka mereka tahu apa konsekwensinya. Namun kadang- kadang ada juga ibu-ibu yang memukul kepala si anak di tempat umum jika sang anak bersikap kelewatan atau tingkahlakunya sangat agresif.
b) Berempati bisa berarti memahami perasaan orang lain.
Orang tua Jepang umumnya sudah punya wawasan yang baik, yang mereka peroleh lewat pendidikan atau lewat otodidak, hingga mereka bisa menjadi model bagi anak. Orang tua yang berkarakter baik akan cenderung melahirkan anak yang juga baik. Umumnya orang Jepang dan juga orang di negara maju cenderung  mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri. Misal kalau lagi menyetir maka cenderung memperlihatkan kesabaran dan tidak mau menjadi raja jalanan.
Ketertiban dan sopan santun anak sangat diperhatikan di Jepang bila anak tidak tertib  maka mereka memperoleh hukuman. Di tempat umum, anak-anak jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Misalkan di restoran, tidak ada anak-anak yang hilir mudik, berjalan kesana kemari. Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh orang tua. Jika sang bayi rewel, sang orang tua akan berdiri dan menggendongnya.
Di rumah sakit, klinik, mall, dan tempat umum lainnya, tidak ada anak-anak yang berjalan mundar-mandir (berkeliaran), lari kesana kemari, berbicara keras-keras. Misalkan di klinik atau rumah sakit, berbahaya jika anak kita berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari (berkeliaran). Di kereta, anak-anak harus duduk dengan tertib dan tidak berisik. Banyak penumpang yang ingin tidur dan beristirahat, jadi pikirkan kenyamanan mereka juga.  
Pengalaman-pengalaman parenting dari orang tua di negara maju tadi perlu kita adopsi untuk agar kita para (berkeliaran) bisa menemani ledakan kecerdasan anak sejak dari masa bayi hingga mereka remaja dan dewasa. Ada beberapa catatan yang harus kita kuasai antara lain:  memperkenalkan pelajaran cara “bersopan santun” dalam hidup kepada anak-anak, mengajari mereka untuk bisa bertegur sapa, mengucapkan terima kasih, bagi orangtua agar menghindari banyak mengomel pada anak, apa lagi sampai menghardik-hardik. Berkomunikasi dengan anakdengan penuh semangat. Juga mengajarkan pada anak untuk bisa menghargai waktu, tidak hura- hura,lupa diri karena asyik dengan permainan.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture