Selasa, 13 Juni 2017

Pengalaman Pendidikan Di Sebuah Sekolah Amerika Serikat



Pengalaman Pendidikan Di Sebuah Sekolah Amerika Serikat

            Praktek pendidikan (pembelajaran) di negara berkembang, juga pada sebagian sekolah-sekolah kita, masih terasa masih corak otoriternya. Dimana para guru kurang memberi siswa kebebasan untuk berekspressi. Stakeholder sekolah masih menuntut serba keseragaman, aktivitas siswa diawasi secara berlebihan.
Kebiasaan banyak melarang- dan terlalu mengekang kebebasan berekspresi bagi siswa- malah akhirnya berpotensi membuat mereka sulit untuk mengambil inisiatif atau prakarsa. Akibatnya para siswa jadi miskin untuk berinovasi dan berkreatifitas. Bila siswa suka gagap untuk melakukan sebuah prakarsa (inisiatif) dalam suatu aktifitas dan mengambil keputusan, dimana mereka terbiasa suka menunggu perintah dan senang untuk serba diatur oleh orang lain, maka ini adalah buah dari atmosfir sekolah yang juga sarat dengan budaya “banyak melarang dan serba mengatur”. Untuk merespon fenomena ini maka kini saatnya kita-dunia pendidikan- untuk segera melakukan perubahan. Karena tidak zamannya lagi institusi pendidikan terlalu banyak melarang dan mengatur. Namun yang tepat adalah memberi kebebasan positif dan bertanggung jawab.
Kira-kira bagaimana praktek dan iklim dari suatu proses pembelajaran yang ideal tersebut ? Tulisan ini terinspirasi oleh pengalaman teman saya, Arjus Putra, yang mengikuti training pendidikan di salah satu sekolah di Amerika Serikat. Dia juga punya kesempatan mengunjungi beberapa sekolah menengah atas (SMA) di sana. Dia mengatakan bahwa pendidikan Amerika Serikat sudah dapat dikategorikan sangat berkualitas, karena semua sekolah telah memberikan pelayanan  keunggulan- excellent service- buat masyarakat. Meskipun mereka sendiri tidak memajang label yang kentara dengan sebutan sekolah unggulan atau “school plus” dan “excellent school”. Gebrakan pendidikan di Amerika Serikat selalu menjadi kiblat bagi pendidikan di negara-negara berkembang, dan termasuk bagi negara kita sendiri.
Salah satu pusat belajar unggulan di Amerika Serikat, yaitu di Metropolitan Learning Center Interdistrict Magnet School for Global and International Studies yang kebijakan pendidikannya membuat sekolah tersebut memang punya magnet (daya tarik) untuk belajar.  Para Stakeholder pendidikan menjanjikan kecerdasan pada siswa untuk menghadapi masa depan yang maju. Prinsip pengajaran yang dianut oleh pusat belajar ini adalah sebagai berikut:
let them talk, let them lead, let them learn, let them join, let them play, let them live, let them dance/ move, in the break time- let them eat”.
Dari semua frase tadi, yang perlu kita perhatikan bahwa ada kata “let” atau “biarkan”. Kata “let” atau “biarkan” berarti sebuah kata untuk pembebasan dan memberi dorongan pada siswa untuk menjadi kreatif dan inovatif. Ciri-ciri keunggulan pertama dalam pembelajaran di sekolah MLC (Metropolitan Learning Center) yang berlokasi di 1551 Blue Hills Avenue Bloomfield, adalah kebebasan dalam berekspresi atau let them talk.
Di negara- negara berkembang atau di sekolah yang kualitas pendidikannya rendah, kebebasan dalam berekspresi kurang terwujud. Ekspresi para siswa cenderung terbelenggu, minim saluran untuk mengekspresikan opini mereka. Proses pembelajaran dalam kelas hanya bercirikan seorang guru berdiri di depan kelas dan sibuk berbicara- teacher centered. Dalam event-event sekolah para siswa hanya pandai berekspresi berdasarkan hafalan, dan mereka melupakan apa yang telah dihafal setelah itu.
Kepemimpinan di sekolah unggulan MLC ini bukan bercirikan “one man show” dalam arti hanya monopoli atau otoriter seorang kepala sekolah. Namun kesuksesan kepemimpinan sekolah unggulan ini adalah karena adanya team work antara Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Eksistensi Staf sekolah, juga eksistensi dari ketua jurusan untuk mata pelajaran . Team work kepemimpinan dan manajemen sekolah selalu memotivasi, memberi model dan menemani warga sekolah (terutama para siswa) untuk merencanakan masa depan. Mereka tahu bahwa hidup ini perlu cita-cita (ambisi) maka setiap siswa harus punya cita-cita.
Cinta belajar dalam wujud kemandirian belajar (learning independent) merupakan ciri khas dari sekolah MLC ini. Ini pulalah yang telah membuat sekolah MLC memiliki daya tarik ibarat magnet. Sehingga MLC juga dijuluki dengan the magnet school.
Di sekolah sekolah yang kualitas pendidikannya rendah, di sana dijumpai para siswa mereka yang gemar berhura-hura atau kongkow. Mereka duduk bareng-bareng, tertawa terbahak-bahak, saling meledek- membully, dan juga saling meremehkan. Karakter ini semua berpotensi membuat para siswa sendiri jadi malas untuk menuntut ilmu.
Sementara para siswa yang telah membudayakan gemar belajar (independent learning) mereka akan selalu berpikir dan berusaha bagaimana untuk bisa meraih sukses. Mereka sangat yakin dengan ungkapan bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah berkah yang bisa datang kalau digapai dan dikejar.”Belajar ketika belajar dan bermainlah ketika bermain”. Para siswa di sekolah MLC tampak cukup profesional dalam belajar- karena mereka adalah siswa yang profesional, maksunya mereka tahu cara belajar yang lebih bertanggung jawab. Begitu waktu untuk belajar datang maka mereka segera serius dan berkonsentrasi dan berharap tidak ada yang mengganggu:
“Maaf teman saat saya lagi belajar mohon jangan datang dulu”.
Sekolah SMA di negeri kita mengenal ada tiga jurusan yaitu jurusan IPA (sains), jurusan IPS (Ilmu Sosial) dan jurusan Bahasa. Namun para orang tua siswa dan siswa sepakat dalam menjagokan jurusan IPA dan memandang jurusan bahasa, dan jurusan IPS sebagai jurusan kelas dua. Di sekolah MLC juga ada penjurusan, jurusannya seperti:
- Core class (Kelas Inti)
- Elective class (kelas elektif)
- Essential class (kelas Esensial)
Tidak ada jurusan yang dianggap istimewa karena semua jurusan terisi oleh para siswa. Ini berarti tidak ada kelas primadona atau jurusan favorit seperti di SMA- SMA yang ada di negeri kita. Mata pelajaran pokok adalah sebagai berikut:
- Pada core class adalah matematika, ilmu sosial, bahasa Inggris, bahasa asing dan
   sains.
- Pada kelas elektif atau elective class, siswa mempelajari mata pelajaran “seni,
  sejarah dunia, geografi manusia, bahasa Spanyol, sastra dan kalkulus, akuntasi,
  anatomi dan ilmu jaringan, fitness dan ilmu gizi.
- Pada kelas essensial (essential class), para siswa mempelajari seni, kesejahteraan
  personal, literatur keuangan, musik, latihan sains, bahasa dunia, dan seminar.
Setiap siswa memahami bagaimana menjadi orang yang well-rounded (orang berguna), yaitu dengan menjadi orang yang well-educated (orang yang kaya ilmu dan wawasan). Mata pelajaran yang diajarkan pada ketiga jurusan tadi ibarat lingkaran yang saling bersinggungan. Mata pelajaran pokok yang ada pada core class juga dipelajari di jurusan lain.
Selanjutnya coba kita lihat juruan yang di SMA di negeri kita, ya ada IPA, IPS dan Bahasa dan perhatikan mata pelajaran pada masing-masing jurusan ini. Ya, ibarat tiga lingkaran yang hampir tidak bersinggungan.
Seorang siswa gara gara dilemparkan ke dalam jurusan ilmu sosial, maka dia bermohon agar nilai mata pelajaran IPS nya diturunkan saja agar tidak melampaui nilai mata pelajaran sains. Para siswa yang lulusan dari jurusan IPA saat di SMA, maka saat masuk perguruan tinggi dia boleh melahap semua jurusan yang semestinya disediakan untuk jurusan ilmu sosial atau ilmu bahasa. Penjurusan di SMA telah menciptakan siswa yang berkarakter arogan, atau arogan berjamaah- mass arrogant, mereka sangat membanggakan jurusan IPA dan secara tidak langsung jurusan sosial dan bahasa menjadi inferior.
Ciri-ciri lain dari sekolah yang berkualitas adalah para siswa yang sangat bangga dan menghargai guru-guru mereka. Tentu saja ini terjadi karena guru-guru di sana sangat professional. Karena mereka menguasai mata pelajaran dan hangat dalam berkomunikasi. Hubungan guru dan siswa di sana bercirikan kekeluargaan. Siswa boleh dengan leluasa mengekspresikan isi hati dan pikiran pada guru. Para guru akan memberikan respon positif, appresiati atau penghargaan dalam berinteraksi. Dengan demikian tidak ada di sana guru-guru yang kualitasnya bersifat karbitan atau guru-guru yang ilmunya tua semalam dari siswa. Guru guru di sana telah memandang karir guru sebagai profesi yang serius. Mereka tidak mengenal budaya minta dilayani:
”Tolong hapuskan papan tulis, tolong isikan tinta board maker ini, tolong pasangkan kabel OHP (overheard projektor), tolong ambilkan ambilkan air minum di kantin”. Jarang atau tidak pernah guru memerintah siswa untuk membatu profesinya. Apalagi sampai menyuruh siswa membelikan rokok. Guru di sana penuh persiapan dan menguasai apa saja yang berhubungan dengan pembelajaran dan mata pelajaran. Mereka tentu malu kalau ternyata tampil di depan siswa sebagai guru yang goblok (miskin kualitas).
Selain memperhatikan kompetensi, punya wawasan keilmuan, pedagogi, sosial dan komunikasi, mereka juga memperhatikan performance atau penampilan. Pakaian mereka necis dan rapi, kalau begitu guru guru juga perlu well-groomed, berdandan rapi dan baik, tapi tidak perlu seperti model, bintang sinetron atau toko-mas berjalan.
Ciri lain dalam pembelajaran di sekolah yang maju adalah let them teach, yaitu guru- guru yang bebas berinovasi dan berkreasi dalam mengajar. Mereka tak perlu takut bakal disupervisi, karena supervisi di sana tidak mencari kesalahan apalagi sampai menggurui dan mendikte. Di sana tidak berlaku istilah juara kelas, yang ada adalah juara mata pelajaran. Bagi siswa yang jago dalam satu mata pelajaran maka guru dan sekolah segera bereaksi untuk memberikan penghagaan dan merayakan kemenangan dan sekaligus memotivasi siwa yang lain agar juga bisa meraih penghargaan.
Budaya kuper atau ”kurang pergaulan” ternyata bukan budaya siswa di sekolah unggulan atau di negara maju. Untuk itu mereka mengenal istilah ”let them join” atau ayo bergabung. Mereka mungkin bergabung ke dalam paduan suara, musik, olah raga, teknologi dan kegiatan ekstra sekolah yang lain. Tentu saja ada guru pendamping untuk memberi motivasi dan mendukung spirit mereka.
Experience is the best teacher– pengalaman adalah guru yang terbaik. Sekolah MLC juga menyediakan kegiatan ekstra seperti kelompok olahraga catur, kelompok pencinta alam, music production, penggunaan ICT, essay writing, basket ball dan football, sewing atau menjahit, kegiatan koran sekolah, kelompok dansa atau tari, pelatihan kepemimpinan. Ternyata jenis ektra sekolah hanya berlaku untuk satu semester dalam setahun. Untuk semester berikutnya ada lagi kegiatan ekskul (ekstra kurikuler) seperti pembahasan atau kritik film, klub bahasa Perancis, kritik film asing, basketball dan softball, musik, drama, tari, belajar bahasa Cina dan Jepang, kepemimpinan, dan pencinta alam.
Ternyata para siswa di negara maju tidak membudayakan menjadi “anak rumahan”, yaitu bila libur mereka hanya di rumah, karena ini berpotensi membat diri kurang kreatif dan pendidikan kecakapan hidup (life skill) kurang optimal. Saat waktu senggang dari sekolah, mereka tidak kongkow-kongkow, main domino, atau bengong dan bermenung sampai berjam-jam. Mereka akan ikut aktif dalam pengembangan bakat seperti masuk grup seni, klub- olahraga ski atau klub robot, pokoknya ikut beraktifitas. Dalam melakukan aktifitas dan belajar, mereka memperlihatkan keseriusan dan tanggung jawab serta datang tepat waktu.
Hal-hal yang dilakukan siswa di sekolah MLC tiap hari, sebagai komitmen mereka, adalah mematikan bunyi-bunyian (HP dan MP3) saat belajar, akrab dalam bersahabat, berhenti ngobrol saat belajar, tidak bercanda saat belajar, mendengar pembelajaran dengan sepenuh hati, sign in dan sign out, atau ada absen masuk dan absen mengakhiri kegiatan, membuat tekad atau pledge“untuk menjadi yang terbaik” dan ikut aktif atau berpatisipasi dalam belajar/ kegiatan.
Kegiatan atau event yang ada di sekolah unggulan adalah bahwa siswa harus peduli pada karir di masa depan. Maka bila ada pekan raya karir, career fair, mereka ikut hadir. Mereka memandang penting untuk bergabung dalam kegiatan kepemimpinan, kegiatan, amal sosial, seni dan olahraga. Hal yang paling mereka tunggu adalah memperoleh pengalaman dari global travel, mengunjungi negara lain seperti, Mesir, Jepang, China, dan negara lain. Tentu saja hal ini terasa sangat mahal dan eksklusif bagi kondisi siswa kita. Namun kita kan juga sudah membudayakan acara jalan-jalan- study tour, walau kesannya baru sebatas mengunjungi shopping center dan pusat keramaian.
Terakhir bahwa yang juga dibudayakan di sekolah unggulan adalah membuat album dan memori. Sungguh para siswa di sekolah yang berbudaya maju menyebut diri sebagai “realtor”, orang yang berpikiran nyata dan bukan selalu menjadi dreamer atau pemimpi. Maka sejak di bangku SMP dan SMA mereka sudah punya rencana, bukan seperti kita yang banyak bingung memandang masa depan, dan ikut terjebak mengidolakan satu karir, dan satu universitas, tanpa memahami dan mengenal potensi diri. Sering banyak ditanya ”Tamat SMA kamu kuliah dimana ? Dan kalau udah gede apa yang dapat kamu kerjakan ?”. Maka jawaban yang diperoleh adalah jawaban klasik ”I don’t know”. Kini saatnya siswa kita tidak menjadi suka banyak impi namun perlu berubah menjadi orang yang melihat hidup yang nyata.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture