Senin, 13 Februari 2017

Pola Makan “Empat Sehat- Lima Sempurna” Apa Sudah Dilupakan ?



Pola Makan “Empat Sehat- Lima Sempurna” Apa  Sudah Dilupakan ?
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

            Setiap kali saya ikut makan bersama teman atau saya lagi berada di sebuah restoran dengan sajian aneka bentuk kuliner, mata saya sering tertuju pada piring- piring dan memperhatikan tentang kualitas menu yang disantap oleh pengunjung restoran. Entahlah kenapa kebiasaan saya ini bisa terjadi dan saya sendiri juga bukan orang yang tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga- ayah dan ibu- yang begitu peduli dan mengerti dengan nilai gizi dan gaya makan yang sehat.
            Saya malu mengungkapkan tentang siapa saya, namun tidak mengapa selagi pembaca artikel ini bisa mengambil manfaat atas pengalaman yang kurang enak. Bahwa sewaktu kecil saya dan juga saudara- saudara saya tubuh dalam kondisi gizi buruk. Masih terngiang dalam pendengaran saya tentang suara ibu yang mendeskripsikan “saya sebagai anak kecil dengan perut buncit, dengan kulit kering dan tulang-tulang tubuh yang menonjol”.
Saudara saya yang lebih tua baru mau menyantap nasi yang diberi lauk terbuat dari jengkol bakar- sebuah hidang yang jauh dari standar sehat buat pertumbuhan seorang balita. Untunglah beberapa waktu kemudian ayah saya memboyong kami pindah ke kota Payakumbuh dan dia telah memperoleh pekerjaan yang lebih baik hingga mampu membeli lauk- pauk sekedarnya untuk memperbaiki pola nutrisi kami.
            Untuk tumbuh sehat sangat diperlukan ilmu pegetahuan (kecerdasan). Namun saya merasa aneh setiap kali makan bareng teman yang walaupun lulusan perguruan tinggi namun tetap “tidak mau menjamah sayuran untuk makan siangnya”. Mereka tidak mengenal bagaimana mengkonsumsi pola makanan sehat. Piringnya hanya penuh dengan taburan bumbu-bumbu pedas dan lauk pauk yang kaya dengan kolestrol. Sekali lagi bahwa mereka tidak pernah tertarik untuk menyentuh sayur-mayur dan mengkonsumsi buah untuk sekedar cuci mulut- seperti sepotong pepaya, salak, pisang, jeruk atau buah tropis yang kaya vitamin lainnya sebelum atau setelah selesai makan.
            “Mengapa anda makannya tidak pake sayur ?”, sapaan saya pada seorang teman untuk mencari tahu.
            “Maaf saya tidak suka sayur”. Jawabnya. Dan jawaban yang sama juga sudah saya peroleh dari banyak orang setiap kali saya mengajukan pertanyaan yang sama. Saya bisa membuat generalisasi bahwa begitu banyak orang-orang yang hidup di sekitar kita- sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang terdidik- namun kurang tertarik buat mengkonsumsi sayuran dan juga amat jarang makan buah-buahan yang kaya dengan vitamin dan berguna sebagai pelindung tubuh mereka.
            Parenting di negara Australia, Singapura, Jepang, Amerika, dll sudah sangat bagus sehingga mampu mengatarkan negara mereka menjadi negara berkualitas tinggi. Namun parenting di Indonesia punya banyak kekurangan. Banyak orang tua yang berusia masih muda yang kurang memahami pola makanan sehat buat balita mereka.
Sebuah LSM internasional “Humanium” yang berdiri di Jenewa- ibu kota negara Swiss tahun 2008, yang punya visi “Together For Children’s Right- bersama memperjuangkan hak azazi anak-anak” menulis: Bahwa Indonesia kaya dengan sumber daya alam dan terbentang luas pada lebih dari 13.000 pulau, Indonesia saat ini sedang giat-giatnya pada periode pembangunan besar. Sayangnya, keunggulan ekonomi negara belum bermanfaat bagi banyak penduduknya. Karena banyak anak-anak yang masih  hidup dalam kondisi tubuh yang kurang  sehat, sehingga anak-anak tersebut tidak bisa menikmati hak azazi untuk menjadi sehat.
            Ditambahkan bahwa  Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Misalnya, data pada tingkat kematian anak-anak yang merupakan suatu bencana adalah sekitar 40% dari anak-anak Indonesia yang meninggal sebelum usia 5. Bayi yang baru lahir sering menjadi korban dari beberapa penyakit seperti berat badan rendah atau kurang gizi (http://www.humanium.org/en/asia-pacific/indonesia).
            Saat melewati perkampungan penduduk, saya sering menjumpai ibu-ibu muda yang kurang peduli dan mungkin kurang tahu tentang makna hidup sehat. Mereka dengan entengnya menyuguhkan makanan-makanan yang miskin gizi dan kaya dengan zat-zat kimia dalam bentuk bumbu penyedap dan bahan pengawet untuk anak mereka yang masih berusia bayi hingga berumur lima tahun. Mereka membiarkan balita mereka untuk menjangkau jajanan yang bergelantungan di etalase warung- warung penduduk. Bagi mereka yang penting asal perut balita bisa kenyang atau asal anak- anak mereka bisa tidak rewel dan berhenti menangis.
            Kalau anak- anak hingga remaja yang punya daya tahan tubuh yang lemah adalah produk dari parenting rumah mereka yang kurang mengenal dengan pola hidup sehat yang tecermin melalui pola makan. Kemudian diperparah lagi kepada pedagang kaki lima- pedagang keliling yang telah meracik makanan murah meriah dan bernilai gizi rendah yang berjejer di sekeliling pagar sekolah untuk disuguhi buat murid-murid sebagai jajanan penyumpal perut- perut mereka yang selalu lapar. Lengkap sudah bunga- bunga bangsa ini diracuni oleh makanan rongsokan buat memangkas kesehatan mereka.
            Bila kita berkunjung ke bangsal anak-anak di ruah sakit maka akan terlihat tiap sebentar kita arus masuk pasien berusia muda belia yang jatuh sakit gara-gara salah mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Mereka berasal dari rumah yang orang tua mereka rajin menyediakan makanan cepat saji, seperti: mie instan, dan aneka makanan yang bertabur bumbu-bumbu penyedap rasa. Dibalik itu cukup banyak orang tua yang juga malas menghidangkan sayuran dan buahan. Sebuah artikel dalam portal tempo online menulis tentang “Serious Risks When Parents Don`t Cut Small Fruits for Children” – adalah cukup beresiko buat kesehatan anak-anak mereka bila orang orang tua malas menghidangkan potongan-potongan kecil buah-buahan buat anak mereka. Judul ini perlu diingat bagi orang tua yang mendambakan kesehatan anak mereka (https://en.tempo.co/read/news/201).
            Cukup fenomena bahwa masyarakat kita lebih peduli dengan rasa ketimbang nilai gizi makanan. Pergilah ke pasar dan mampirlah ke warung kuliner. Maka kita akan menyaksikan tumpukan orang-orang yang tengah menikmati aneka makanan yang belum tentu menyehatkan. Ada yang lagi menikmati makanan yang serba dibakar, dengan warna coklat hingga kehitaman. Warna hitam terjadi oleh tumpukan belerang pada makanan. Mengkonsumsi makanan yang serba dibakar dan banyak arangnya, juga kuliner yang pegolahannya serba digoreng hingga mengandung kolesterol tinggi, telah memicu cukup banyak populasi penderita pasien kanker yang rajin mengunjungi rumah sakit dan juga tempat prakter dokter.
            Bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki usia rata- rata lebih panjang di dunia. Itu semua berasal dari kualitas dan pola makan mereka. Memang diakui bahwa cita rasa santapan orang Jepang kalah lezat dibandingkan dengan cita rasa kuliner orang kita. Itu karena mereka telah membudayakan menghindari pengolahan kuliner yang banyak mengandung minyak, gula dan zat-zat kimia sebagai penyedap. Kuliner dan santapan orang Jepang lebih banyak yang bercorak serba “direbus” dan dan banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Maka inilah pola makanan yang lebih sehat itu.
            Apakah kita sebagai orang Indonesia kurang mengenal gaya dan pola makanan sehat ? Ternyata ketika masih kecil- duduk di bangku sekolah dasar, kita telah tahu bahwa pola makanan sehat bangsa Indonesia adalah “Empat Sehat- Lima Sempurna”. Namun pola hidup sehat ini hanya sebatas hafalan buat diujikan saat ujian bagi anak-anak SD. Seharusnya pola makan “Empat Sehat-Lima Sempurna” lebih dipahami, diketahu dan diamalkan oleh orang tua mereka di rumah. 
            Saat masih di SD, saya dan hampir semua murid (teman-teman saya) sangat memahami komposisi pola makan “empat sehat lima sempurna” yaitu musti ada “karbohidrat, protein, sayuran, vitamin atau buah-buahan. Dan itupun baru dikatakan dengan sebutan “empat sehat”, kemudian ditambah dengan meminum “satu gelas susu” agar bisa menjadi “lima sempurna”.
            Nah setelah tahu dengan pola makanan sehat ala Indonesia, apalagi yang bisa saya perbuat ? Tidak begitu banyak, paling hanya sekedar menjawab ujian dalam kelas. Sementara di rumah ibu saya yang hanya sempat belajar hingga kelas 3 Sekolah Rakyat (atau Sekolah Dasar) tidak pernah tahu dengan istilah “empat sehat lima sempurna, apa itu karbohidrat dan protein”. Dia hanya menyajikan pola makanan sebagamana yang ia tiru dari nenek saya atau generasi sebelumnya.
            Bila waktu untuk makan tiba, ibu sering menitip pesan “makanlah nasinya tetapi berhemat untuk makan lauk-pauk”. Ya kami harus makan lauk- pauk dengan gigitan yang kecil-kecil, karena harganya mahal dan gaji ayah yang terbatas. Keluarga lain juga mengalami hal yang sama. Jadinya banyak anak-anak saat itu yang menderita kurang gizi, karena lauk pauk adalah sumber gizi yang kaya dengan protein.
Selain itu kalau ibu sempat menghidangkan “buahan dan juga segelas susu” maka itu adalah sebuah keajaiban dan suprised bagi pertumbuhan kami. Dan keajaiban ini- menghidangkan buahan dan susu hampir-hampir tidak pernah terjadi. Kalau ibu pulang dari pasar, kadang-kadang buah tangan yang ibu beli adalah dalam bentuk salak, duku, rambutan, dan rebus kacang. Ibu mungkin membeli materi tersebut sebanyak satu kilo maka begitu sampai di rumah langsung dibagi rata menurut jumlah anggota keluarga. Buah-buahan yang dibagi rata buat kami langsung ludes kami saat pada saat itu juga.
            Melihat foto-foto kami saat masih kecil, wow sungguh  tidak begitu membahagiakan. Terlihat fisik kami tidak terawat, model pakaian yang terkesan tertinggal, kulit kami kering dan bersisik dan juga berat badan yang kurang dari ukuran standar, sebagai pertanda bahwa kami mengalami kekurangan gizi di saat kami membutuhkan gizi buat pertumbuhan.
            Pola makan yang kurang sehat dan kondisi orang tua yang juga miskin dengan ilmu parenting bukan hanya terjadi pada keluarga saya. Hampir merata pada banyak teman-teman saya, mereka juga berasal dari keluarga yang buta dengan nilai gizi makanan dan kondisi orang tua mereka juga minus ilmu pengetahuannya.
Tulisan yang berjudul: Pola Makan “Empat Sehat- Lima Sempurna” Apa  Sudah Dilupakan ? Saya tulis karena saya sedang bersimpati dengan seorang anak kecil, anak dari teman saya. Dia sedang dirawat di rumah sakit karena menderita bentuk penyakit yang tidak jelas namanya. Namun gejala yang terpantau sebelum sakitnya datang adalah pengalaman pola makannya yang juga kurang sehat: tidak mengenal konsumsi sayuran dalam pola makannya, juga tidak terbiasa memperoleh potongan buahan segar yang kaya vitamin untuk melindungi tubuhnya. Yang banyak saya lihat adalah dia sering mengkonsumsi jajanan yang kaya zat kimia yang bergelantungan di kedai- kedai- dimana jajanan tersebut tidak layak dikonsumsi oleh balita, apalagi oleh seorang bayi. Tumpukan residu bahan kimia yang dikonsumsinya selama berbulan-bulan dari rentang usia kehidupannya telah mengotori (merancuni) organ percernaakannya, dari mulut hingga usus, juga ginjal dan empedunya.
Sudah berhari-hari dan malah juga berminggu-minggu balita ganteng ini terbaring di rumah sakit. Tubuhnya dijejali oleh pipa-pipa kecil untuk memasukan bahan infus, penyedot cairan tubuh dan buat pernafasan. Moga- moga Tuhan (Allah Swt) mengulurkan tanganNya untuk kesembuhan dan juga memberi ketabahan serta kesabaran terhadap ayah dan bundanya yang sepanjang hari- selama 24 jam- telah menjadi malaikatnya penjaganya.
Namun untuk mencegah bertambahnya populasi pasien balita- yang terbaring bergelimpangan di rumah sakit maka marilah kita raih kembali dan kita praktikan bagaimana bentuk pola makan sehat ala bangsa Indonesia, yaitu “Empat Sehat Lima Sempurna”. Mohon frase “Empat Sehat Lima Sempurna” tidak lagi sekedar hafalan bagi anak-anak kita, namun sangat perlu ditindak lanjut oleh orang tua mereka di rumah. Tulislah frase “Empat Sehat Lima Sempura ini” pada dinding ruang makan kita dan betul-betul hidangkanlah sajian “Empat Sehat Lima Sempurna” buat anak-anak dan semua anggota keluarga. Janganlah ini hanya sekedar semboyan untuk dihafal, namun semboyan ini harus diwujudkan untuk perbaikan kesehatan kita.

Orang Tua Yang Ambisius Berpotensi Menciptakan Anak-anak Yang Penggugup



Orang Tua Yang Ambisius Berpotensi Menciptakan Anak-anak Yang Penggugup
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


            Berkompetisi atau perlombaan dan persaingan terjadi pada semua lini, termasuk pada dunia pendidikan. Setiap awal tahun akademik banyak anak-anak dan memperoleh dorongan dari papa dan mama agar bisa memasuki sekolah yang bergengsi. Cukup mudah untuk mengenali sekolah yang punya nama, biasanya punya label ekstra seperti “sekolah model, sekolah percontohan, sekolah excellent, sekolah unggulan, sekolah perintisan, dll”. Mayarakat sangat mencatat nama-nama sekolah tersebut.
            Sejak level Sekolah Dasar, para guru, kepala sekolah untuh mewanti-wanti dan mempersiapkan anak didik mereka buat meneruskan pendidikan ke SMP dan ke Madrasah yang bergengsi. Begitu juga buat tamatan SMP/ MTsN juga memompa motivasi siswa mereka untuk berlomba sebanyak mungkin untuk memasuki SMA favorite. Itu sangat bagus karena di sekolah tersebut terjadi percepatan proses pembelajaran. Lingkungan belajar terkondisi agar anak-anak bisa belajar lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab.
            Apa keuntungan bagi suatu sekolah mendorong para siswa untuk memasuki sekolah favorite ? Tentu saja buat mendongkrak nama sekolah dengan sebutan sebagai “sekolah yang berprestasi, sekolah yang sukses, sekolah berkualitas, sekolah unggulan, dll” agar sekolah tersebut menjadi lebih laris dan selalu diincar oleh para calon siswa dan para orang tua mereka.
            Bagi para siswa di tingkat SLTA (terutama di SMA, Madrasah) mereka berlomba-lomba mempersiapkan diri buat melanjutkan ke Perguruan Tinggi favorite yang mana utamanya berjejer di pulau Jawa. Semua siswa sudah hafal nama PT favorite seperti ITB, UI, IPB, UNPAD, UNDIP, UGM, UB, ITS, UPI dan untuk di luar pulau Jawa mereka menyerbu Jurusan Kedokteran, karena dianggap masa depannya lebih cerah.
            “Pucuk dicinta ulam pun tiba- harapan bersambut”, maka para CEO industri pendidikan berlomba mendirikan pelayanan bimbingan belajar (Bimbel) agar para siswa yang berbakat bisa meraih skor yang tinggi. Pada mulanya tempat tempat bimbel hanya berada di ibukota propinsi, seperti di Padang buat Propinsi Sumatra Barat. Namun akses bimbel yang berkualitas sejak beberapa tahun terakhir telah hadir dan menjamur hingga ibukota kabupaten. Malah bagi sekolah yang ingin selalu menjaga gengsi sekolah sebagai sekolah peraih skor akademik tertinggi telah berlapang dada dan membuka tangan untuk mendatangkan “Program Bimbel” di lingkungan sekolah, dengan harapan anak didik mereka bisa megisi bangku-bangku di PT favorite di pulau Jawa.
            Memang keberadaan program pencerdasan siswa fokusnya adalah pada bidang akademik. Anak atau siswa yang dianggap hebat adalah kalau dia mampu meraih rata-rata skor 100, khususnya untuk bidang studi yang terlibat dalam UN (Ujian Nasional). Untuk memotivasi agar semua siswa mampu meraih skor sempurna maka “nama siswa yang jagoan bimbel”  dengan skor tinggi, fotonya dan pujiannya dipajang pada baliho dengan ukuran besar di sepan sekolah dan di depan gedung bimbel.
            Para orang tua juga diundang agar terlibat untuk menggiring siswa buat menjangkau skor setinggi mungkin, sebab bila skornya tinggi maka PT yang favorite juga jurusan yang favorite sudah menunggu siswa cerdas di depan mata. Lagi pula bila mampu kuiah di PT favorite maka lulusan dari sana bakal mampu berkarir di perusahan hebat dengan gaji yang sangat menjanjikan.
Tentu saja para orang tua menjaga baik-baik akan statement ini. Jadi sejak awal sekolah, mungkin di semester satu, para orang tua sudah memprogram agar anak mereka harus ikut bimbel di luar jam sekolah. Tentu saja biaya bimbel cukup mahal, karena program pengayaannya memang bagus dan ruang kelas dibikin sejuk- full AC- dan terang benderang. Bagi orang tua harga bimbel memang terasa namun “Indak kayu janjang dikapiang- nggak ada uang tetap akan diusahakan” buat membiayai bimbel putra-putri mereka.        
Setelah putra-puti mereka ikut bimbel yang berharga mahal, maka para orang tua memotivasi, menagih hingga memaksa mereka ikut program bimbel hingga tuntas. Kalau malas berarti mengecewakan orang tua. Kini semua anak peserta bimbel harus bisa membuktikan dan memberikan skor yang tinggi.
“Wah sebagian merasa senang dan cukup banyak merasa terpaksa dan stress. Apalagi mereka dipaksa bisa menjadi perfek: hebat dengan angka, hebat dengan huruf dan hebat pengetahuan umum. Ibarat seekor hewan ajaib dimana dia harus hebat berenang, hebat terbang, hebat memanjat dan dan hebat merayap”. Inilah hakikat dari pengejaran untuk pencerdasan secara kognitif.
Dari jatah waktu anak yang berjumlah 24 jam, mayoritas hanya tersedia buat tidur dan amat banyak untuk urusan akademik. Al-hasil mereka kesulitan mencari waktu buat ikut kegiatan sosial, utuk bisa berbagi dengan sesama, untuk melatih otot dan kesenian mereka. Memang cukup banyak peserta bimbel yang saat mengakhiri bangku SLTA mereka menorehkan skor akademik yang tinggi dan akhirnya disambut oleh PT favorite.
Setelah melalui proses pembelajaran di PT selama 8 semester, tentumereka juga terbiasa dengan pola tumbuh dan berkembang yang kurang luwes, sekedar cerdas akademik namun miskin dengan keterampilan hidup. Akhirnya bisa wisuda, namun mereka terlahir sebagai orang cerdas namun hanya sebagai penumpang kendaraan atau “pencaker- pencari kerja”. Buka sebagai driver/ pengemudi atau seorang yang punya naluri untuk mendirikan lapangan pekerjaan.
Headline pada koran Singgalang (13 Januri 2017), sebuah koran terbitan Padang, dengan yaitu: Lowongan di PT Seen Padang, Kuota kurang dari 100, namun pelamar 40 ribu orang” Apa maksudnya ? Bahwa 40 ribu pelamar termasuk bagi mereka yang sangat yakin bahwa kalau IPK Tinggi, kalau Juara Satu sejak dari bangku sekolah maka hidup akan muda. Pernyataan ini sangat diyakini oleh para guru, kepala sekolah, para siswa dan banyak orang tua.
Tidak ada ruginya bagi kita- para orang tua yang mampu secara finansial- untuk mendaftarkan anak untuk ikut belajar di lembaga bimbel. Karena bisa memperkaya wawasan kognitif anak dan juga membantu anak buat memahami pelajaran yang kurang dia pahami. Yang kurang bijak adalah “mendaftarkan anak ke bimbel kemudian memberi tekanan padanya agar mampu menjadi orang yang “the best” untuk semua bidang studi. Bila sang anak mampu meraih skor setinggi mungkin maka kelak jalan mudah menuju PTN favorite terbuka lebar dan pada akhirnya kehidupannya, lewat kemampuan kognitif yang hebat, hidupnya akan indah dan mudah. Apakah memang benar ?
Cerdas hanya sebatas kemampuan “kognitif atau teori yang diperoleh dari sekolah saja”  tidak cukup buat sukses dalam kehidupan. Namun juga harus punya multi-intelegensia, terutama cerdas afeksi dan soft-skill (keterampilan sosialnya).
Tony Wagner, dalam bukunya The Global Achievement Gap (2008) menulis tentang cerdas afeksi. Kalau anak mau survive di abad 21, maka dia perlu memiliki tujuh skill, yaitu:
1)      Critical Thinking and Problem Solving
2)      Collaboration across network and leading by influence.
3)      Agility and adaptability
4)      Initiative and entrpreneurealism
5)      Effective oral and written communication
6)      Accessing and analyzing information
7)      Curiosity and imagination.
Nah telah banyak putra-putri kita yang kuliah di PT dan wisuda menjadi sarjana, tetapi mengapa ? Dari 100 % yang lulus, yang mampu mencari kerja sebanyak 20 % dan yang menjadi pengangguran cukup banyak, yaitu 80 %. Kenapa demikian...?? Ya karena mayoritas hanya sekedar menonjol untuk cerdas dalam berteori- sekedar jago dengan kognitif. Dan teori- teori yang dipelajari dalam ruangan kelas tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Apa yang harus mereka miliki ?
Wagner melakukan survey ke berbagai perusahaan. CEO perusahaan-perusahaan besar seperti Apple mengaku tidak tertarik dengan score test- seperti Score IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) atau nilai Ujian Nasional. Kalau mereka merekrut tenaga atau SDM, yang mereka perhatikan bukan hasil ujian tulis, tetapi adalah mereka yang “Pandai Bertanya” dalam berdiskusi. Assumsinya adalah bahwa orang yang pandai bertanyaberarti orang yang punya critical thingking dan tahu masalah. Maka tinggal lagi buat encari solusinya.
Tujuan utama pendidikan adalah bukan untuk anak punya skor UN yang tinggi dan lulus ujian sekolah. Tetapi mengantarkan siswa menjadi manusia yang punya pikiran kritis dan dan bisa memecahkan masalah. Selanjutnya cerdas membangun kerjasama serta jiwa kepemimpinan. Ini tidak mungkin dimiliki oleh siswa yang banyak mengurung diri, kurang bergaul dan tidak terbiasa dengan tanggung jawab.
Siswa yang punya waktu buat aktif dalam peran sosial tentu akan memiliki kecerdasan adaptif, punya inisiatif, juga cerdas mengakses dan menganalisis informasi. Melalui pergaulan yang berkualitas mereka akan memiliki kecerdasan berkomunikasi lisan dan tulisan dengan baik.
Prof. Dr Zainudin Maliki, Guru Besar UNAIR, yang tulisannya saya peroleh lewat grup WhatsUP, menulis bahwa hanya perusahaan yang enggan untuk maju yang terbiasa merekrut SDM berdasarkan skor UN dan nilai yang tinggi. Sementara itu banyak maju lebih tertarik mencari SDM yang cerdas affektif nya, mau kerja keras- ini bagi mereka yang suka berolah raga, inovatif, imajinatif, kreatif, pandai berteman dan membuka jaringan, serta berani mengambil resiko.
Orangtua bukan guru (a teacher) yang bertugas untuk bidang kognitif (proses berfikir) namun ia adalah seorang “educator” yang punya peran dalam membentuk karakter- seperti keberanian, disiplin, kerajinan, tanggung jawab, dll. Namun selama ini orang tua hampir-hampir melepaskan peran sebagai pembentuk karakter dan akhlak. Dia telah berperan pula dalam membentuk kognitif anak, dan ini tidak salah, yang salah adalah dia memaksa anak untuk menjadi jago pada semua bidang studi.
Anak-anak lewat, senyumnya, dipaksa-paksa untuk menjadi jago matematika, jago fisika, jago kimia, jago baha inggris, jago akuntansi, dan semua bidang studi. Anaknya lelah dan tumbuh menjadi orang pencemas dan penggugup. Mengapa ? Karena mereka punya orang tua yang “ambisius”.
Bagaimana seharusnya ? Apa orang tua dari negara maju juga ambisius sehingga memaksa-maksa untuk jago pada semua bidang studi ? Meggy Tandjaja- seorang Hotelier di ‎Beringin Dua Hotel- Provinsi Maluku (https://www.linkedin.com/pub/meggy-tandjaja) berbagi opini tentang bagaimana menumbuhkan (mendidik) anak-anak agar menjadi maju, dengan meniru prinsip positif para orang tua di negara maju, seperti di Jepang dan Amerika. Apa yang membuat suatu negara maju? Berdasarkan pengamatannya selama berinteraksi dengan orang-orang dari negara maju seperti Jepang dan Amerika, ada beberapa hal yang sama yang membuat mereka tampak lebih "tua" dari pada kita orang Indonesia.
Inilah prinsip dan nilai yang lebih ditekankan oleh orang tua pada anak- anak mereka;
- Mandiri, Sejak dini, mereka sudah diajarkan untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri, seperti membereskan piring setelah makan dan mencucinya, hingga mereka remaja.
- Tidak Mudah Menyerah, Secara finansial, tidak semua orang asing berasal dari keluarga berada. Secara psikologis, rata-rata dari mereka akan tetap mencoba melakukan sesuatu sendiri, tidak merengek atau meminta tolong orang lain kecuali terpaksa. Contoh sederhana saja, si A yang masih mendapat uang jajan dari orang tuanya. Ternyata uang tersebut tidak cukup untuk biaya hidupnya, jadi ia putuskan mencari pekerjaan untuk menambah uang sakunya daripada meminta kepada orang tua.
- Berani Keluar dari Zona Nyaman, Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka berani mengeksplorasi sesuatu. Meskipun itu berarti harus meninggalkan negerinya selama beberapa waktu. Mereka percaya bahwa eksplorasi membuka lebih banyak wawasan dari sekedar teori buku atau cerita pembawa acara di TV. Mereka cenderung lebih suka beraktifitas di luar ruangan dan pergi ke tempat-tempat yang belum mereka kunjungi sebelumnya, sekalipun hal tersebut dilakukan seorang diri.
- Menghargai Privasi, atau yang lebih dikenal dengan kata "cuek". Mungkin sikap yang satu ini agak bertentangan dengan kebiasaan kita yang senantiasa peduli dengan lingkungan sekitar kita. Saking pedulinya kita, terkadang sampai masalah pribadi orang lain juga ingin tahu.  
- Sederhana, karena sejak muda sudah terbiasa hidup mandiri, biasanya mereka cenderung berpikir praktis, tidak berbelit-belit. Yang paling nampak adalah dari segi penampilan. Mereka cenderung tampil apa adanya dalam keseharian mereka. Yang wanitanya pun hanya memakai makeup yang menonjolkan sedikit saja kelebihan wajah. Aksesoris yang dikenakan pun tidak mencolok.
- Peduli Lingkungan, masalah kesehatan dan kebersihan adalah keluhan umum yang sering didengar. Sehat tidaknya makan pagi hari itu, bersih tidaknya toilet umum, sampai polusi udara yang membuat mereka menggunakan masker saat keluar gedung. Meskipun bukan aktifis lingkungan yang sering terjun ke lapangan, mereka mengupayakan setidaknya di tempat tinggalnya memenuhi kriteria kebersihan dan kesehatan yang mereka harapkan, atau paling tidak mendekati.
- Menghargai Waktu, ini hal klise yang akan terus diulang sampai seluruh masyarakat Indonesia sendiri disiplin waktu. Orang asing dikenal sangat disiplin waktu. Untuk hal janji bertemu, rata-rata mereka biasanya sudah siap di tempat yang dijanjikan 5 menit sebelumnya. Dalam hal keseharian mereka, meskipun hanya pelajar, mereka punya segudang kegiatan layaknya orang-orang pada tahap usia orang bekerja Indonesia misalnya seperti bertemu teman baru, bekerja paruh waktu, atau membaca buku. Penggunaan telepon genggam atau smartphone sangat minim bila bersama teman-teman karena waktu bersama teman-teman pun sangat berharga.
- Sikap Baik, baik dan sopan pada siapa saja bahkan kepada orang yang paling menyebalkan sekalipun. "Selama orang itu tidak mengusik hidupku, aku akan baik-baik saja padanya." Bahkan bagi orang Jepang, mengajak orang seperti itu pergi makan bersama lebih baik. "Ia sudah berusaha keras (menjadi orang baik), hanya belum berhasil. Kita harus menyemangatinya (dengan mengajaknya pergi makan bersama)."
- Hidup Selayaknya Makhluk Sosial, meskipun dari negara maju yang teknologinya serba canggih, mereka masih memilih berkomunikasi secara riil dengan orang lain. Bahkan mereka lebih suka dikirimkan kartu pos atau surat daripada surel. Menurut mereka, komunikasi langsung sangat penting, bisa mempererat hubungan sosial satu dengan yang lain.
            Itulah beberapa sikap positif yang tumbuh dan berkembang, dimana para orang tua sangat punya peran untuk menumbuhkannya. Jadinya orang tua di negara kita tidak perlu terlalu ambisius hanya membentuk anak untuk cerdas secara kognitif, namun ia tumbuh tanpa memiliki nilai disiplin, kemandirian, keberanian, tanggung jawab, kreativitas, dll.
Jadi yang perlu dikembangkan pada anak kita adalah nilai nilai seperti: mandiri, tidak mudah menyerah, berani keluar dari zona nyaman, menghargai privasi, sederhana, peduli lingkungan, menghargai waktu, sikap baik, dan hidup selayaknya makhluk sosial.
(Catatan: Tony Wagner (2008). The Global Achievement Gap: Why Even Our Best Schools Don't Teach the New Survival Skills Our Children Need--And What We Can Do About It. New York: Basic Books.)

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture