Minggu, 20 Januari 2013

Bersikap Hospitality (Ramah Tamah)



Bersikap Hospitality (Ramah Tamah)

Kira-kira apa kelebihanku ? Hingga suatu hari ada sekelompok wisatawan asal Amerika salah jalan di Payakumbuh. Mereka ingin pergi  menuju kota Pakan Baru. Aku segera mendatangi mereka dan menuntun mereka hingga sampai ke jalan utama agar memperoleh kendaraan menuju kota Pakan Baru. Mereka mengatakan bahwa aku orang yang sangat  “hospitality”.
Beberapa waktu kemudian juga ada dua orang wisatawan asal Australia “Craig dan John” yang juga salah  memilih tempat wisata. Aku mendekati mereka dan  mengatakan bahwa mereka lebih baik memilih tempat wisata yang tepat.  Aku juga memberi alternative kalau mau berlibur ke daerah ku- Batusangkar, hingga ke duanya memilih untuk berlibur ke desa-ku pada hari berikutnya.
Keesok harinya mereka sampai ke alamat ku. “ Why you trust me and decide to visit, don’t you feel worried with me-  Kok kamu berani memutuskan berlibur di desa saya, apa tidak takut kalau ternyata saya orang yang kurang baiks ?”. Tanyaku.
 “Tidak, saya membaca dari wajahmu bahwa kamu adalah orang baik dan hospitality Jawab Craig dalam bahasa Inggris beraksen Australia.
Oke,  baiklah kalau begitu. Dan keduanya aku antarka ke homestay, dekat rumahku. Dan selanjutnya aku ajak mereka jalan jalan dan memperkenalkan budaya serta geografi seputar rumahku.  Mereka juga pergi berlibur berdua ke daerah Danau Singkarak dan Danau Maninjau atas petunjukku. Agar tidak repot dalam perjalanan, mereka menitipkan beberapa barang berharga bersamaku.
 “Wah mengapa anda percaya saja menitipkan barang-barang pada saya ?”. Tanyaku.
“I can read your mind that you are good person”, jawab mereka spontan.
Mereka hanya berlibur beberapa hari saja dan kembali memutuskan pergi ke Australia. Saat berangkat mereka  menyerahkan  oleh-oleh buatku, dan aku yakin isinya pasti dollar Australia. Aku tidak menerimanya:
 “No thanks, don’t submit it to me, as you are away of your country and you need financial”.
 Aku tolak hadiah yang ia berikan dengan halus karena aku tahu bahwa  mereka harus menghemat uang.  Namun mereka berdua kaget karena katanya akulah orang yang ia temukan “menolak” dollar yang diberikannya. Ya aku tahu bahwa mereka masih mahasiswa, jauh dari negaranya dan mereka butuh uang. Lagi-lagi mereka mengatakan bahwa aku orang nya “hospitality”.
Untuk selanjutnya Craig Pentland telah menjadi teman ku, malah sudah aku anggap keluarga sendiri. Ia pun sering datang pada tahun-tahun berikutnya. Ia bercerita banyak tentang aku, sumatera dan Indonesia pada orang tuanya. Sehingga kedua orang tuanya “Joan dan John Senior” juga datang berlibur ke Sumatra ke tempatku. Keduanya aku tunggu di bandara Internasional Padang dan kami naik taxi menuju Batusangkar.
Keluarga John Pendland ini juga senang dengan perlakuanku. Aku tahu bahwa orang-orang asing menghargai hospitality ini. Hospitality tentu tidak bisa diukur dengan materi. Namun ketika mereka bertanya apa yang aku butuhkan, maka aku menjawab bahwa keluargaku butuh peningkatan bahasa Inggris. Sehingga Craig dan orangtuanya, John Pentland, selanjutnya sering mengirimi aku oleh-oleh sampai seberat 5 Kg, yang mayoritas isinya adalah buku-buku bagus.
Tahun berikutnya Craig datang dengan girl-friendnya. Aku mengusulkan bahwa mereka lebih baik menikah kelak. Aku tidak berfikir tentang usulanku itu diterima, hingga mereka memutuskan menikah dengan dengan girl friendnya yang bernama Norjana Binti Ibrahim- gadis Melayu Singapore. Mereka menikah di Singapore dan aku juga diberi undangan untuk hadir ke sana.
Selain warga Australia, aku juga punya teman dari  negara lain yang sering berlibur bersama ku. Mereka adalah Louis Deharveng, Anne Bedos, Francois Brouquisse, Francois Beluche, Alexandra dan ada beberapa orang lagi dari Eropa dan USA.  Buat apa mereka datang berulang-ulang untuk berlibur.
 “Ya karena alam Sumatera indah dan hospitality yang menjadi karakter ku”.
Hospitality itu tidak saja merupakan karakterku namun juga telah menjadi karakter banyak orang Indonesia. Aku sendiri merasakan bahwa hospitality yang aku miliki adalah dalam bentuk kemampuan “bersimpati”. Ya memang bahwa aku suka bersimpati pada semua orang.
“Bersimpati itu maksudnya adalah memahami fikiran dan perasaan seseorang sebagaimana adanya”.
 Kemampuan bersimpati membuat aku jarang bermasalah dengan orang lain. Sejak karir  mengajar atau menjadi guru, aku rasanya tidak pernah punya masalah dengan semua anak didik. Apakah mereka pintar, nakal, cerewet, suka ngambek... semuanya bisa beradaptasi denganku. Aku pernah ditanya oleh Aulizul Suib (wakil Bupati Tanah Datar) saat launching buku ku yang berjudul “School Healing Menyembuhkan Problem Pendidikan” tentang siswa yang nakal. Dan aku jawab:
“Menurutku tidak ada siswa yang nakal. Yang ada adalah anak yang mengalami skin hunger- kulit yang butuh sentuhan dan kehangatan hati seorang guru”. Dan semua hadirin bertepuk tangan mendengar responku.
Kemampuan bersimpati yang berlebihan terbentuk oleh pengalaman hidupku. Sebagaimana aku terlahir dari keluarga yang sangat besar. Sebelum menikah dengan ibuku, ayahku juga pernah   menikah dengan dua orang wanita sebelumnya dan mereka memperoleh 3 orang anak. Dan ibu ku juga demikian, sebelum dia menikah dengan ayah, ibu juga pernah menikah dua kali dan juga memiliki tiga orang anak. Dalam perkawinan barunya, ayah dan ibu ku, aku adalah anak yang kedua dan dalam  perkawinan mereka memiliki 6 orang anak.
Ayahku seorang  prajurit polisi dan  karena punya banyak anak, ia sibuk berbisnis di luar dan ibu ku sibuk pula mengurus anak-anak yang banyak. Sejak aku kecil, aku jarang sekali diajak ayahku jalan-jalan, kecuali diakhir tahun. Aku pernah keliling Sumatera Barat dan juga pergi ke kota Pekan Baru saat ayah memiliki mobil Chevrolet. Namun aku merasa ada yang hilang.
“Aku kehilangan kasih sayang dari ayah dan ibuku”.
 Ayahku hanya mampu memberi  aku uang jajan yang jumlah agak lebih, namun yang aku butuh adalah aku bisa bermain-main bersama ayahku. Dan ibuku juga tidak pernah mengatakan “I love you” pada ku dan anak-anak yang lain. Itu karena ia capek mengurus rumah dan anak-anak yang jumlahnya banyak. Sebagai anak kecil, aku sering menangis dan meratap sambil menjauhkan diri dan bermohon agar aku memperoleh rasa cinta.
Karena masa kecilku terasa kurang bahagia, aku menjadi orang yang mudah rapuh dalam perasaan. Aku beruntung punya pengalaman indah di luar rumah. Tetangga dan familiku yang lain berkata bahwa aku adalah anak yang santun dan baik. Hingga kemana aku pergi aku diterima oleh banyak orang.
 Aku masih ingat saat masih kecil aku diajak oleh keluarga lain (tetangga) untuk ikut kekampung mereka. Aku  senang sekali, rumahnya dekat kaki bukit, di sana ada kincir dan ada sawah. Aku diberi kebebasan untuk bereksplorasi dan suatu ketika aku terjatuh ke dalam sawah dan mereka segera memberiku perhatian .
“Oh tidak apa-apa sayangku, ayo mari pulang dan kita ganti pakaian kotor ini”.
Kalbu ku terasa sejuk mendengar kata kata cinta dari keluarga itu. Sampai sekarang akupengalaman indah tersebut masih berbekas dan  aku sering berfikir tentang “Siapa orang baik tersebut, apa ia masih hidup dan dimana negeri itu kini ?”
Karena aku sempat menderita skin hunger- yaitu kulitku yang rindu dengan belaian kasih sayang dari orang tua, maka aku tumbuh menjadi orang yang suka bersimpati. Aku tidak ingin orang-orang merasa kesepian karena hampa dari rasa kasih sayang. Suatu ketika aku punya tetangga baru yang bekerja di kantor pos dan giro. Mereka adalah keluarga Khatolik dari Lampung. Aku senang untuk bermain-main ke sana. Hingga aku sudah menjadi bagian dari keluarganya, di sana mereka memberi aku rasa cinta dan rasa damai. Namun aku sangat sedih dan kehilangan yang mendalam saat keluarga tersebut pindah lagi ke Lampung.
Perasaan sedih dan kehilangan yang mendalam inilah yang kerap datang dan membuat aku sengsara. Saat aku bersekolah di Sekolah Dasar dan di SMP, aku juga memiliki banyak teman-teman yang amat baik. Aku sendiri pernah membawakan coklat buat mereka dari rumah. Aku ingin selalu bermain dan dekat dengan mereka setiap saat, karena di sana ada rasa tenang dan damai. Namun tiap kali aku dan mereka harus berpisah maka inilah yang membuat aku menjadi sangat sengsara dan menderita. Aku takut berpisah dan jauh dari mereka.
Saat aku duduk di bangku SMA, rasa kesepian ku makin mudah kambuh- aku jadi ciut lagi. Dari luar aku memang tampak selalu ceria dan tertawa namun hatiku sering menderita. Orang tuaku memang  selalu  memberi  aku kebutuhan sandang – pangan dan uang jajan yang bisa lebih dari cukup. Namun ada yang selalu hilang dari mereka yaitu aku tidak pernah merasa memperoleh “kasih sayang”. Aku rindu mereka mengatakan “I love you” padaku.
Mereka juga tidak bersalah karena ayah dan  ibu ku juga tidak tahu cara mengatakan  “I love you”  satu sama lain. Mereka pun sering bertengkar dan perkawinan mereka sempat terancam bubar hingga aku menjadi remaja yang sangat gelisah dan aku menjadi pendiam. Itupun terbaca oleh guru dan teman-temanku di sekolah “Kenapa Joe sekarang kok jadi pendiam”. Dan aku tidak mungkin mengekspose problem yang aku alami pada mereka.
Cita-citaku pada mulanya sangat tinggi, namun cita cita aku obah. Tidak mungkin aku harus kuliah ditempat yang lebih favourite di Pulau Jawa. Aku takut kalau kuliahku patah di tengah jalan, karena masalah broken home yang mulai mengintai keluarku. Maka aku memutuskan saja kuliah di Padang. Selama empat semester pertama, aku kuliah asal-asalan saja. Namun aku sadar bahwa aku harus serius.
Sambil belajar aku mengembangkan diri dan karakter berani ku. Aku bekerja part time, menjadi pemandu wisata dan juga member privat bagi ana-anak yang orang tuanya berduit. Selama kuliah aku dengan mudah memperoleh pengalaman indah dan banyak teman-teman yang baik, ganteng dan cantik. Namun aku selalu merasa terhempas bila perpisahan itu harus datang. Rasa sepi dan rasa kehilangan dari orang orang yang pernah dekat di hati membuat hatiku teriris-iris, aku menjadi susah tidur dan konsentrasi jadi buyar.
Baru satu semester aku juga harus berpisah dengan orang yang amat Aku cintai. Walau ibu ku termasuk wanita yang pemarah, namun ia jarang marah padaku. Kalau mau marah ia memilih kata-kata yang lembut sekali. Ibuku sendiri mengatakan bahwa ia tidak tahu apa yang harus dimarahkan padaku karena “joe adalah anak cam jempol”.
Memang aku sendiri selama hidup hamper tidak pernah bersuara kasar dan bernada tinggi pada ibuku. Semester lalu ibuku dapat musibah, saat mau ke belakang, beliau terhempas dan terjatuh ke air panas dan segera kami larikan ke Rumah Sakit Umum Payakumbuh. Aku ikut menemani di rumah sakit. Saat kami merasa ia sudah sembuh, diam-dian ia berangkat menuju Sang Pencipta. Aku ikut menyusul Jenazah ibuku Ke Lubuk Alung.
Habis memberikan ciumanku yang terakhir pada wajah ibu dari balik kain kafannya, aku ikut mengankat tandu ibu menuju tempat perisirahatanya yang terakhir. Makin turun duluan lebih dulu dan menunggu jasad ibu dari dalam kubur. Aku ikut meletakkan ibu ke dalam lahatnya. Aku merasa damai sekali saat bisa mengusap pipi dan bahu ibu buat yang terakhir kali. Namun aku hamper-hampir tidak rela kalau segera berpisah dari ubuku. Akhirnya tanah mulai turun memenuhi kuburan ibu. Sebanyak tanah turun- sebanyak itu pula air mata mengalir pada pipiku. Aku tidak berani memperlihatkan bahwa air mataku keluar pada orang, namun orang-orang juga pada tahu. Hatiku juga berkeping-keping saat itu.
Akhirnya aku memilih karir sebagai guru- karir yang amat mudah aku peroleh. Padahal cita-citaku waktu kecil adalah ingin menjadi saintis atau dokter dan bekerja di luar negeri. Itulah yang memotivasiku dalam mempelajari banyak bahasa “Inggris, Perancis, Arab dan Spanyol”.
 Aku menjadi guru dan aku dengan tulus memberikan rasa simpati pada murid-muridku. Selama aku jadi guru aku tidak pernah marah-marah dan memang aku tidak bisa marah-marah. Aku punya filosofi “Terimalah  karakter siswa apa adanya”. Akhirnya aku menjadi  dekat sekali dengan mereka.
Lagi-lagi yang membuat aku sangat kehilangan adalah bila mereka tamat dan pergi jauh dariku. Tapi juga sama, aku pernah pindah sekolah dua kali. Dari sekolah ku yang pertama ke sekolah ku yang ke dua. Dan dari sekolahku yang ke dua ke sekolah ku yang baru “SMA Negeri 3 Batusangkar:. Saat aku pindah murid-murid ternyata juga kehilanganku dan aku juga. Aku sendiri saat menulis artikel ini juga sedang menderita merasa kehilangan dari orang-orang yang pernah dekat di hatiku. Maka aku sering berucap “I miss you ”.

Jangan Menyalahkan Masa Lalu



Jangan Menyalahkan Masa Lalu

1.Makna Figur Ayah bagiku
Cukup lama aku merasa surprised atas diriku. Surprised karena aku mampu meraih guru berprestasi  peringkat 1 kategori guru SMA tingkat nasional,. Pengumumannya tanggal 12 September  bulan lalu (1012). Surprised ini makin hebat saat mengingat bahwa aku sendiri bukan berasal dari keluarga utuh, dan bukan pula dari keluarga yang kurang mengenal akan makna dari pendidikan.  Jangankan  memperoleh  kehangatan perhatian dari orang tua, malah yang aku alami adalah minusnya perhatian dari ayah dan ibuku.
Aku sempat  8 tahun  tidak berjumpa dengan ayah. Setelah 8 tahun  aku ditelpon agar segera menuju rumah sakit M.Jamil Padang. Sebelumnya aku juga telah lama tidak berjumpa dengan ayah yaitu ada selama sepuluh tahun pula. Itu berarti bahwa aku kehilangan figure ayah selama belasan tahun dan berarti masa anak-anak dan masa remajaku hampa dari sentuhan dan kasih sayang seorang ayah.
“Apakah ayahku seorang pria yang sibuk ? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya”.
Ternyata aku masih punya memori dengan ayah. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, sekitar tahun 1970-an, aku dibawa ke Padang, ke kampung ayah, di  Nagari Koto tangah Lubuk Minturun- Padang. Saat itu transportasi publik belum begitu lancar, aku dan ayah berjalan kaki dari pasar Lubuk Buaya menuju Ikur Koto, terus ke rumah nenek.
“Wah... jauh sekali rasanya…dibalik hamparan perkampungan orang dan sawah”. Yang aku ingat adalah kebahagiaan bersama ayah pada di awaln masa remajaku  saja. Aku ingat dengan  perjalanan yang terasa  merasa tersiksa karena kakiku merasa capek dan pegal-pegal. Namun aku bangga dan senang karena bisa  jalan bareng dengan ayah. Meskipun aku harus berpacu untuk mengikuti langkah ayah yang panjang.
Aku hampir menangis dan hampir rubuh karena harus berjalan menuju ujung jalan yang amat jauh. Aku ingin saat itu bisa naik sepeda atau bisa digendong oleh ayah. Namun aku tidak terbiasa bermanja- manja. Akhirnya aku (kami) sampai juga di rumah nenek. Di sana aku jadi tahu tentang cerita ayah dan saudara- saudaranya.
Ayah adalah anak laki-laki satu-sarunya dari ia memiliki 3 orang saudara perempuan. Diperkirakan ayah termasuk anak yang manja. Namun ternyata tidak, malah waktu kecil ayah termasuk anak paling bandel, tetapi berani. Hingga ia pernah diusir atau lari dari rumah.
Aku amat senang mendengar ayah bercerita tentang masa kecilnya. Suatu hari ayah pulang sekolah dengan perasaan lapar. Namun nenek mengatakan bahwa tidak ada makanan buat dimakan. Dalam hati ayah merasa kurang yakin. Maka diam-diam ia mencari-cari dan ternyata ia  menjumpai ada makanan dan gulai rendang tersembunyi.
 Merasa dibohongi, maka ayah menghabiskan semua gulai rendang  tadi. Namun karena merasa jengkel  ayah melumuri sprei kasur dengan saus/ cabe dan sisa makanan. Melihat  kelakuan  ayah yang brandal demikian maka  nenek menjadi marah besar. Ayah dikejar dan mau dipukul. Ayah juga merasa sangat ketakutan yang hebat hingga ia melarikan diri menuju rumah keluarga yang lain yang berlokasi di sebuah desa dekat kota Padang Panjang.

2. Tidak Guna Menyesal
Ayahku  tumbuh jauh dari orang tuanya. Dalam pelariannya, ayah memperoleh banyak pengalaman. Ia pernah belajar sebagai pandai emas atau tukang emas di kota Padang Panjang. Diceritakan bahwa saat muda, ayah juga pernah ikut pergi berdagang ke Tanjung Pinang- Kepulauan Riau. Tentu saja ayahku harus berperilaku baik selama tinggal dengan orang lain.
Dalam masa remaja, ayah mencoba untuk pulang ke kampungnya ke Padang, saat itu ia masih memendam rasa takut. Ternyata orang tua dan semua familinya sudah kangen dengannya. Kedatangan ayah, sebagai anak yang hilang, disambut dengan penuh suka cita. Selama tinggal di kampungnya lagi - dengan nenek dan kakek, tentu ayahku tidak perlu bekerja keras, karena kebutuhan makan dan minum bisa diperoleh dari orang tuanya.
Dalam masa remaja, tentu saja ayahku memiliki teman khususnya. Dan yang aku masih ingat bahwa  dia jatuh cinta dengan gadis satu kampungnya. Ayah menikah dalam usia yang sangat muda- pernikahan dini.  Dari perkawinannya, ayah memperoleh seorang anak perempuan. Dari sejarah hidup ayah, aku tangkap kisahnya bahwa ayah kurang memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga sebagai suami.
Barangkali itu adalah gara-gara factor ekonomi atau keuangan. Ya akhirnya ayah ku bercerai dari istri pertamanya dan ia segera menjadi duda dalam usia remajanya. Dan ayahku termasuk orang yang  gampang jatuh cinta. Ia  jatuh cinta lagi dengan seorang perempuan. Perempuan kedua yang hadir dalam hati ayah juga berasal dari Padang. Perkawinan ayah yang kedua tidak berlangsung lama, hanya seumur jagung. Namun sedikit lebih lama dari pernikahannya yang pertama.
Lagi-lagi  seorang suami, ayah belum bisa mencukupi kebutuhan buat rumah tangganya dan pasti mereka sering cekcok dengan antara ayah dan istri keduanya. Ayah orangnya bersifat keras kepala dan sensitive. Dalam hidupnya ia sempat tumbuh dalam pemanjaan, namun  ayah  kurang  dilatih/ diajari tanggung jawab.
Satu hari ayahku dan istri keduanya naik kereta api menuju Bukittinggi. Selama dalam perjalanan telah terjadi perbedaan pendapat dan mereka terlibat cekcok. Klimaks pertengkarannya terjadi di Kayutanam, sebuah kota kecil tidak jauh dari Padang Panjang. Di stasiun persinggahan, kereta api berhenti dan ayahku ngambek dan  “mengatakan good bye” selamat tinggal selamanya untuk perkawinannya yang kedua. Begitu mudah bagi ayahku menikah, begitu muda bercerai dan meninggalkan/ melupakan anak-anaknya.
“Wah aku tidak perlu menyalahkan siapa- siapa dalam kisah nyata ayah itu, itu bisa menjadi guru bagiku dan agar aku tidak mengulang kegagalan perkawinan ayah buat perkawinanku kelak”.
Ya kembali ayahku bertualang dalam hidupnya. Akhirnya ayahku pun  ikut-ikutan masuk kelompok militer liar. Ayah kemudian tercatat  sebagai tentara pemberontak melawan pemerintahan pusat, ia pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen untuk membentuk negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ayahku bergerilya untuk melawan pemerintahan yang syah, ia dan grupnya bergerak  hingga sampai ke Lubuk Alung. Di sana ia jatuh cinta lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah ibuku sendiri.
Saat itu ibuku  berstatus masih punya suami, seorang tentara resmi pemerintah Indonesia. Namun suami ibuku  sudah satu tahun tidak pulang-pulang karena ia pergi bertugas ke daerah Jambi.
“Wah…ibuku terlibat cinta dengan seorang pria. Kelak pria tersebut  adalah sebagai ayahku. Mereka jatuh cinta dan tentu saja semua family tidak setuju- karena status ibu masih sedang bersuami- hingga akhirnya berita cinta segitiga ibu tercium oleh suaminya. Akhirnya ibu diberi surat cerai- diberi talak tiga. Ibu sangat bersedih dan ibarat berjalan di awang-awang, namun ibu juga sangat gembira dengan kekasih barunya- yaitu calon ayahku”.
Tampaknya ibu dan ayah tidak bisa dipisahkan, ya ada gula ada semut rupanya. Mereka menikah dan selanjutnya hidup sebagai suami istri. Saat itu ibuku juga telah punya 3 anak dari perkawinan sebelumnya- namun ibu juga menikah dalam usia yang amat muda. Anaknya yang tua saja memanggil “kakak” padanya. Saat itu ayah berhenti sebagai tentara pemberontak, karena tidak ada jaminan financial dan ayah juga sebagai pria pengangguran. Namun ibuku termasuk wanita yang kreatif dan mandiri. Ia mengajak ayah untuk berdagang makanan dan pada hari-hari senggang menjadi nelayan di sepanjang aliran sungai Batang Anai yang mengalir melintasi Lubuk Alung.

3. Saat Kelahiranku Ke Dunia
Kata ibu bahwa saat aku lahir, rezki mereka melimpah. Kalau berdagang ya…laris, kalau menangkap ikan…hasilnya berlimpah. Kata ibu bahwa saat aku lahir ..ayahku memperoleh nasib baik. Karena isengiseng ia mendaftarkan diri untuk masuk ke dalam rekruitmen Kepolisian RI, seputar tahun 1965 atau 1966 dan ia  lulus menjadi polisi. Itulah maka aku memperoleh perlakuan sedikit ekstra baik oleh ibu. Aku tidak boleh dimarahi terlalu kasar oleh ayah.
Ayah mengikuti  program pendidikan Kepolisian di daerah Padang Besi dekat kota Padang. Akhirnya ayah diangkat menjadi polisi di Resor Kepolisian 303 Kota Payakumbuh.  Hidup kami terasa berubah dan kami semua diboyong pindah  ke sana. Kehidupan pun berobah. Ibuku menjadi  istri prajurid Polisi dan juga tetap menjadi wanita yang mandiri. Ia mengasuh kami dan juga membantu karir ayah sebagai polisi.
Ibu cukup pintar mengelola keuangan, walau pangkat ayah kecil, kami tidak pernah kekurangan uang. Ibu punya ternak unggas- itik dan juga ternak ayam. Kalau ada uang, ibu paling senang menabung dalam bentuk emas. Kalau berpergian, aku sering melihat tubuh ibu dihiasi oleh banyak perhiasan emas.
Dalam hidupnya, sebagai polisi berpangkat rendah, ayahku cukup pintar. Ia juga membuat usaha bisnis dengan teman-temannya. Sambil bertugas sebagai polisi, ayah juga berbisnis ternak ayam, bisnis daging sapi, bisnis penebangan kayu untuk diekspor- kegiatan ini kemudian disebut sebagai kegiatan “illegal loging atau penebangan liar”.
Aku rasa bahwa ayahku cukup hebat. Meski berpangkat sebagai prajurid Polisi namun  waktu aku kecil aku melihat bahwa ayahku juga memiliki sebuah truck, mobil Chevrolet dan rice milling. Namun aku tidak pernah tahu bagaimana caranya ayah memperolehnya.
Saat aku kecil hingga remaja, aku jarang melihat ayah berada  di rumah. Kalau aku tanya “Ayah pergi kemana”. Maka jawabnya adalah bahwa ayah pergi mencari rezeki/ mencari uang.
 Ya kalau di rumah ia cuma banyak tidur. Seharusnya ayah mengajak kami atau menemani kami dalam belajar. “Ah lagi lagi aku tidak suka menyalahkan masa lalu itu”.
Suatu ketika  aku ingat, aku diajak ayah naik sepeda motor sejauh 120 km, dari kotya Payakumbuh menuju Padang. Aku berbonceng dibelakang ayah dan berusaha untuk tidak mengantuk dan khawatir bisa terjatuh dari sepeda motor. Saat itu merupakan sebuah perjalanan yang eksotik bagiku. Namun aku paling bosan menunggu ayah yang ngobrolnya dengan temannya kelewat lama. Aku juga senang kalau diajak ayah ke tempat teman-temannya karena aku pasti bakal dikasih oleh-oleh dan uang yang banyak.
Ada satu hal yang aku suka protes. Yaitu bahwa ayah kurang mendukung proses pembelajaranku di rumah.Padahal aku sendiri anak yang sangat rajin dalam belajar Suatu hari aku tengah asyik belajar di rumah dan ayah dengan grupnya datang hendak bermain domino. Aku pasti terganggu dengan suara dan suasana yang bukan  budaya yang aku, lantas aku protes, aku lempari atap rumah dengan batu bata, agar mereka berhenti mengganggu ku. Sebagai protesku yang lain adalah aku mengempeskan motor- motor teman ayahku, agar mereka jera datang dan menggangguku dalam belajar. Untung  ayahku tidak pernah marah pada ku hingga ia pindah tempat ke tempat lain. Atau ia paham bahwa aku butuh ketenangan dalam belajar.

4. Prahara Dalam Rumah Tangga
Ternyata ibuku lebih tua usianya beberapa tahun dari ayahku dan api cinta mereka mulai meredup dan rumah tangga mereka sering cekcok. Hari-hari yang ku lihat dan ku dengar adalah percekcokan ayah dan ibu. Pernah ayahku marah sambil mengacungkan revolver (pistol) pada ibu. Dan aku pun juga pernah main main pistol dan secara tidak sengaja meletus….dor… dan untung aku tidak menembak kakakku. Sejak itu, pistol dijauhkan dari jangkauanku.
Maka aku dan saudaraku yang lain dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cekcok- broken home- sepanjang hari. Aku masih ingat bahwa saat aku duduk di bangku SMP di kota Payakumbu bahwa aku sendiri selama dua tahun lari dari rumah. Aku  memilih tinggal jauh dari rumah dan begitu juga dengan kakakku.
“Aku tinggal di rumah temanku dan orang tua temanku bisa menerimaku”
Untung saja nilai pelajaran ku tidak begitu jelek dan tidak terjebak dalam menghisap obat terlarang. Malah walau aku berasal dari rumah yang broken home, aku pernah beberapa kali juara di kelas dan selebihnya masuk nilai tujuh besar dalam kelas.
Hubungan cinta ayah dan ibu makin genting, karena ada wanita lain hadir dalam hidup ayah. Pernah suatu kali ibuku lari ke Jakarta dan menelantarkan kami anak-anaknya. Namun family yang di Jakarta memberi ibu nasehat agar bersabar dan itu juga demi anak-anak- biarlah ayah berkarakter demikian asal keuangan tetap lancar. Lagi-lagi aku tidak akan menyalahkan ayahku.
Masa depan dan studiku ku saat itu merasa terancam, namun untung ibu bisa bersabar dan mencari mkesibukan hingga bisa melupakan problem hidupnya. Ibuku juga pintar menabung dan ia memiliki cadangan emas untuk membiayai kuliahku. Aku takut memilih jurusan dan universitas yang bakal menghabiskan banyak dana dan waktu yang lama. Aku memilih kuliah di Padang saja, dan batal untuk kuliah ke pulau Jawa.
“Aku masih ingat  bahwa andai suatu hari ibu dan ayah nyaris bakal bercerai dan kami bakal berpisah-pisah dalam pengasuhan berbagai family. Hubungan cinta ayah dengan wanita lain makin menggila. Ia malah pergi jauh dari rumah dan hidup bersama wanita yang baru. Demi keselamatan pendidikan aku, maka aku  menjadi masa bodoh dengan urusan pertengkaran ayah dan ibu”.
Akhirnya aku bisa kuliah di Universitas. Aku  juga harus bisa  mengembangkan diri. Ini berguna  agar aku bisa tumbuh menjadi pria  mandiri kelak bila selesai kuliah. Aku bekerja sambil kuliah. Aku mendaftar untuk  menjadi pemandu wisata Sumatera Barat. Aku juga  memberi lest privat bahasa Inggris untuk anak-anak orang yang berduit. Untuk keuangan aku tidak memperoleh kesulitan. Aku memperoleh uang yang cukup dari orang tua dan aku juga dapat uang sendiri, aku bisa menabung dan aku suka membeli cincin emas sebagai tabungan karena harga emas sangat standar.
Perkawinan ayah dan ibuku kandas sudah, ibuku sering sakit dan terlihat sangat sengsara. Aku menemui bahwa  ibu sering   menangis dan meratap sebagai istri yang dibuang oleh suaminya. Namun itu sudah menjadi pemandangan biasa bagiku- kadang kadang aku juga membujuk ibu bahwa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan.

5. Aku Sempat Kehilangan Sosok Idola
Aku bisa melepaskan diri dari keruwetan rumah tangga- broken home. Sejak ayahku punya wanita simpanan dan suka cekcok dengan ibu maka aku merasa kehilangan idola/ figure ayah. Ada pengaruhnya terhadap jiwaku, pada mulanya aku sedikit jadi sulit jatuh cinta. Namun aku menguasai emosiku hingga aku bisa memperoleh cinta lagi dari seorang gadis yang cantik menurutku namun punya karakter yang sederhana.
Akhirnya bantuan keuangan ayah untuk ibu nyaris putus. Sehingga ibuku pernah menjadi buruh pada rumah tetangga. Untung aku segera lulus dari Perguruan Tinggi dan segera punya pekerjaan. Gajiku aku tabung dan juga aku gunakan untuk membantu ibu. Ibu akhirnya ditinggal pergi oleh ayah. Aku melarang ibu untuk berduka dan menangis.
“Tidak ada gunanya mak banyak menangis dan meratapi nasib karena mak  masih punya anak- anak yang baik dan bisa mengabdi ke orang tuanya”.
Ibuku akhirnya bosan untuk bersedih namun ia terlihat  menjadi wanita yang nestapa> Ia  memutuskan untuk kembali ke kampung ke Lubuk Alung. Ia berniat untuk mengisi hari-hari berikutnya dengan hal-hal yang berarti – pergi ke mesjid dan berbagi cerita dengan teman-teman seusianya. Dengan cara tersebut ibu bisa  mengobat hatinya yang terluka gara-gara cinta ayah yang lenyap dari kalbu ibu. Ibupun bisa menjadi tegar sekali dalam hidupnya,
“Aku sendiri tiap bulan datang berkunjung dan juga ikut berbagi rezki dengan ibu. Ibu bersyukur, walau cintanya hancur namun lima orang anak anaknya bisa memperoleh masa depan, bisa bekerja dan juga lulus dari perguruan tinggi atau juga tamatan SLTA”.
Kami semuanya patungan untuk menghidupi ibu dan membiarkan ayah dan gajinya untuk bersenang- senang di tempat kerajaan cintanya. Sejak masa remajaku hingga aku menginjak dewasa aku tidak lagi berjumpa dengan ayahku selama belasan tahun- kami tidak ingin mencari ayah dan sudah mengikhlaskan ayah untuk hidup senang pada istana cintanya yang baru. Dari dalam hati bahwa ternyata aku cukup rindu dengan cerita- cerita ayah. Namun suatu hari aku memperoleh berita/ telepon:
 “Harap segera datang” sangat penting. Bahwa ayah tersungkur dan koma, dilarikan ke rumah sakit M.Jamil Padang”.
Kami segera berkumpul menuju rumah sakit di Padang. Perjalananku dan saudaraku yang lain dengan mobil travel terasa lambat dan sunyi menuju rumah sakit. Setelah dua jam kami tiba di gerbang rumah sakit setelah maghrib. Aku mencari tahu di mana posisi ayahku “Kamaruddin Usman”. Akhirnya aku menemui ayah pada pada sebuah ruangan ICU, aku diizinkan masuk. Aku mendapati ayahku dalam keadaan koma. Ajaib bahwa saat kami datang/ masuk ayah sempat membuka matanya melihat kami dan menangis namun setelah itu mata ayah terpejam. Malah mata ayah terpejam buat selamanya.
 Ayah masih bernafah, namun agak  susah payah. Perlu  dibantu oleh oksigen luar. Kadang-kadang air matanya bercucuran- barangkali ayah menyesal yang mendalam namun sudah tidak bisa berucap. Kami harus memafkan dan kami tidak marah dan dendam pada ayah. Buktinya kami masih datang dan memberi ayah ciuman.
‘Tidak perlu menyalahkan masa lalu, tidak ada gunanya berjiwa kerdil. Kisahnya nyata ini aku ungkapkan untuk memberi hikmah- yaitu jangan pernah manyalahkan masa lalu”.
Aku berada di rumah sakit hampir sepuluh hari. Itu berarti ayahku dalam keadaan koma juga sudah sepuluh hari. Kami yakin bahwa ayah tidak bakal sembuh lagi maka kami memberi khabar kepada family di kampung ayah bahwa kalau tiba khabar jelek “ayah meninggal” maka harap segera dipersiapkan kuburan buat ayah disebelah kuburan nenek.
Akhirnya ayah dinyakan meninggal dunia. Aku bingung apalagi saat itu juga ada anak kecil usia  5  tahun menangis mendekati mayat ayahku, aku berfikir “Siapa sih bocah kecil yang juga ikut menangis”. Ternyata ia adalah bocah kecil hasil cinta ayah dengan wanita simpanannya. Aku akhirnya memeluk bocah kecil tersebut dan ikut menghiburnnya bahwa aku adalah kakak satu ayah dengannya. Aku usap air matanya dan kami bawa jasad ayah ke kampungnya.
Hari-hari terasa sunyi. Setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan ayah dan bercanda dengan ayah maka aku jumpai ayah saat sudah mau sekarat terbujur jadi mayat. Sore itu langit mendung, aku ikut mengantarkan jasad ayah ke dalam kuburannya di Desa Lubuk Minturun dekat Padang. Aku amat sedih dengan kepergian ayah. Aku juga ikut mengakat dan meletakan jasad ayah ke dalam liang lahatnya. Tubuh ayah masih berisi kekar dan gagah. Aku mengingat- ingat hari indah bersama ayah dan melantunkan doa pada Sang Khalik buat memafkan ayahku.
 “Tuhanku…maafkanlah ayahku….sayangilah ayahku…” Aku ikhlas sekali melepas ayah hingga airmataku dengan mudah meluncur membasahi pipiku. Saat itu dalam mpenghujan dan tiba-tiba hujan turun lebat, membasahi bumi dan airnya tumpah ke dalam kuburanm ayahku. Aku dan saudaraku yang lain tetap menyelesaikan penimbunan tanah kuburan ayahku- air mataku lenyap bersama derasnya air hujan.
Malam itu aku tidak bias tertidur. Fikiranku melayang jauh bersama memoriku, pengalaman indah tentangku dan ayahku bergulir lagi. Walaupun bagaimana karakter ayahku, ia adalah tetap pahlawan terbaik bukan aku dan saudara- saudaraku. Aku ajak ibu untuk memaafkan ayah.
“Ibuku maafkanlah ayah karena aku dan saudaraku yang lahir adalah karena adanya engkau dan ayahku”. Aku tidak pernah tahu bahwa apakah ibu memaafkan ayah atau tidak namun buatku ayah adalah pahlawan ku dan aku tetap mencintai ayahku.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...