Rabu, 06 Desember 2017

Budaya Membaca Untuk Melejitkan Potensi Diri



Budaya Membaca Untuk Melejitkan Potensi Diri

Membaca Di Mana-Mana
            Saat saya terbang dengan pesawat Qantas dari Jakarta menuju Melbourne, saya menemui pemandangan dan pengalaman baru di bandara Ngurah Rai- Bali, Bandara Sydney dan bandara Tullamarine Melbourne. Tiga bandara dengan banyak orang asing. Ada perbedaan yang saya  lihat, terutama tentang cara orang dalam memanfaatan waktu senggang. 
            Orang yang berkulit sawomatang, saya asumsikan sebagai orang kita dan non sawomatang sebagai orang Australia. Bukan bermaksud buat merendah warga negara sendiri, namun sebagai suatu otokritik dan juga tujuan memotivasi. Bahwa selama dalam pesawat orang kita lebih suka ngobrol dan para remajanya (orang muda) sibuk main game atau mendengar lagu pop. Sementara yang berkulit putih lebih memilih tidur, mendengar e-book atau membaca buku yang sengaja mereka persiapkan dari rumah.
            Saya jadi teringat dengan catatan tentang literasi-membaca para siswa di dunia, sebagaimana tertera pada pada salah satu dinding bagian dalam di rumah puisi Taufik Ismail di Aie Angek dekat Padang Panjang, Sumatra Barat. Sella Panduarsa Gareta (2014) menyelami sastra di rumah Taufik Ismail, menyatakan bahwa ada beberapa negara yang mewajibkan siswa mereka untuk membaca buku- novel, biografi, dan buku sastra lainnya, yakni:
            a). Siswa Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam diwajibkan oleh pihak sekolah membaca 5 sampai 7 buku dalam waktu sekitar dua             tahun.
b). Siswa Rusia, Kanada, Jepang, Swiss dan Jerman diwajibkan pihak sekolah membaca 12 hingga 22 judul buku.
c). Siswa Perancis, Belanda dan Amerika Serikat diwajibkan pihak sekolah membaca 30 judul buku dalam waktu dua tahun”.
            ”Bagaimana dengan siswa di Indonesia?”
Siswa SMA di Indonesia tahun 1929 hingga 1942 juga membaca sekitar 25 judul buku pertahun. Yaitu di saat nama sekolah AMS Hindia Belanda, AMS itu singkatan dari “Algemeene Middlebare School”. Saat di sekolah AMS Hindia Belanda dahulu siapa yang membaca 25 judul buku pertahun?
Itu yang namanya Soekarno, Mohammad Hatta, Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Natsir, Ali Sastromijoyo dan Muhammad Yamin. Namun dari tahun 1943- 2008, siswa wajib membaca nol buku pertahun.
            Di negara-negara maju yang saya tangkap pengertiannya bahwa betapa pendidikan di negara tersebut kegiatan membaca literasi telah melampaui target ketuntasan sehingga semua anak-anak sekolah sangat menyukai membaca dan membaca telah menjadi kebutuhan utama mereka. Sementara kemampuan membaca untuk pendidikan kita- dari kacamata dunia, kemungkinan belum mencapai target sempurna. Hanya baru sebatas kenal abjad dan mampu membaca penggalan dongeng ringan.

Kondisi Literasi Membaca Kita
            Bagaimana dengan kondisi literasi membaca bangsa kita? Membaca dalam pendidikan kita baru sebatas pemberian PR. Guru-guru menugaskan siswa buat membaca dan membuat ringkasan. Siswa membuat ringkasan dan membaca dengan perasaan enggan, bosan dan mendongkol.
            Saat membaca terasa sangat berat dan membosankan bagi kebanyakan siswa SD di negeri kita, sementara itu membaca di negara Skandinavia terasa sebagai kebutuhan primer. Begitu pulang sekolah para siswa dari kelas rendah membawa buku cerita atau novel anak-anak yag ukurannya cukup tebal. Membaca dengan antusias dengan bantuan orangtua di rumah. Membaca kemudian meningkatkan kualitas verbal dan komunikasi mereka, juga menggugah imajinasi mereka hingga mereka menjadi siswa terkemuka.
            Ngainun Naim (2013: 1-7) memaparkan tentang potret buram membaca literasi di negara kita. sebuah data paradoks menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang sukses menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Namun angka yang sedemikian menggembirakan ternyata tidak seiring dengan hasil survei UNESCO tentang minat membaca masyarakat Indonesia. Survei tersebut menunjukan bahwa minat membaca masyarakat Inonesia sangat redah. Tahun 2006, minat membaca masyarakat Indonesia berada pada posisi paling rendah di kawasan Asia. Sementara International Educational Achievement mencatat bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN.
            Apa yang menjadi penyebab membaca belum bisa menjadi budaya? Sesungguhnya siapapun orangnya, apa pun profesinya, memiliki tradisi membaca. Maka semua profesi punya kontribusi positif untuk membangun budaya membaca. Namun profesi yang paling menggalakan minat membaca adalah mereka yang berasal dari dunia pendidikan. Apalagi kegiatan sehari-hari mereka juga dekat dengan dunia pengembangan ilmu.
            Namun tampaknya dunia pendidikan juga belum terlalu dekat dengan tradisi membaca. Banyak dosen dan guru ternyata belum banyak yang membaca secara tekun. Pada hal bagi mereka membaca merupakan sarana yang paling efektif untuk memperkaya wawasan. Himbauan bahwa “dosen dan guru yang baik”  musti terbiasa membaca dan terus membaca untuk memperbarui dan menambah wawasan serta ilmu pengetahuannya hingga mereka layaknya mencari orang berlevel internasional.
Kesukaan terhadap membaca yang tinggi saya temui pada Craig Pentland, teman Australia saya, dimana kami sudah berteman sejak 22 tahun yang lalu. Setiap kali datang ke Sumatra untuk berlibur dia selalu membawa dua atau tiga buku yang dibaca selama berada di Sumatra. Tak jarang begitu liburannya berakhir dan ia telah menyelesaikan membaca 2 atau 3 buku. Begitu juga dengan teman-teman saya dari Eropa- Louis, Annes Bedos dan Francois, juga memanfaatkan waktu istirahat mereka buat membaca buku-buku. Saat membaca mereka terlihat sangat fokus dan sangat menikmatinya.
Desi Anwar (2015: 90-93) seorang wartawan yang produktif dan seorang host pada Metro TV juga berbagi pengalaman tentag betapa membaca itu sangat penting dan sangat menyenangkan. Dia sudah gemar membaca sejak masih kanak-kanak. Pengalaman membacanya dimulai dengan membaca novel pada usia 7 tahun. Dia masih ingat betapa asyik rasanya memegang buku, terasa berat dan serius.
Pada mulanya Desi membaca degan susah payah, halaman demi halaman, seperti mahasiswa yang bersemangat menghadapi ujian. Dia sudah bertekad menyelesaikannya dan ia mengharuskan dirinya menyelesaikannya. Akhirnya dia merasakan kesenangan dalam membaca. Membaca telah membawanya ke masa yang lain, membaca telah menjadi sumber kesenangan yang sejati. Ya benar bahwa membaca adalah keunikan sejati yang dapat kita miliki karena membaca berarti menyerahkan diri kita kepada semua indra.   

Bagaimana Memulai Kegemaran Membaca?
Saya ingin berbagi pengalaman nyata tentang bagaimana saya memulai menyukai membaca. Tentu saja setiap orang punya pengalaman yang berbeda. Pertama kali membaca buku saya memang merasakan kesulitan dan kejenuhan dalam menaklukan halaman demi halaman. Dan buku pertama yang taklukan adalah sebuah buku biografi milik teman satu kos saya. Judul bukunya “Pasang Surut Pengusaha Pejuang- Otobiografi Hasyim Ning (AA Navis, 1987)”. Buku tersebut hanya setebal 392 halaman, namun terasa sangat tebal, membosankan menaklukan halaman demi halaman dan sangat berat saat itu. 
Yang penting saat itu saya sudah punya motivasi untuk membaca keseluruhan isi buku tersebut. Maka mulailah saya menamatkan buku tersebut dengan cara memaksa diri. Pada mulanya saya coba membaca 10 halaman, kemudian istirahat dan membaca 10 halaman lagi. Saya buat target buat menamatkan keseluruhan halamannya. Saya biasakan membaca buku dengan menggunakan pensil.
Bila ada hal-hal yang penting menurut saya, maka akan saya garis bawahi. Nanti setelah saya menamatkan buku tersebut baru saya pindahkan ke buku catatan. Akhirnya dengan susah payah saya berhasil menamatkan membaca buku tersebut dalam waktu hampir 2 minggu. Saya kemudian membaca tiap, sekarang setelah hampir 30 tahun , membaca sudah terasa sebagai kebutuhan primer saya.
Setiap orang yang telah terbiasa dengan budaya membaca mereka akan sangat beruntung. Sementara itu membaca sangat direkomendasikan oleh Al-Quran (oleh Allah Swt): Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Surat 96:1).
Budaya membaca akan mampu buat melejitkan potensi diri. Ngainun Naim (2013:155-189) mengupas tentang membaca dalam rangka menangkap makna dan meraih prestasi. Ada banyak orang yang berubah karena membaca, misal lewat membaca biografi yang bisa mengantarkan menjadi penulis hebat.  
Salah seorang yang hidupnya berubah karena membaca, khususnya membaca biografi orang-orang terkenal, adalah Edward Bok. Pada masa kecilnya, Bok yang merupakan imigran Belanda di Amerika hidup dalam kubangan kemiskinan. Dalam sejarah hidupnya, Bok tidak pernah bersekolah lebih dari enam tahun.
Dia meninggalkan sekolah ketika berumur tiga belas tahun. Sebagai gantinya ia mulai mendidik dirinya sendiri. Dia menabung sampai dia mendapatkan cukup uang untuk membeli ensiklopedi biografi Amerika. Kemampuan membeli ensiklopedi ini membuatnya memperoleh banyak inspirasi dan membangun kreativitas dirinya. Pengaruh bacaan tersebut mendorongnya untuk melakukan hal yang luar biasa. Dalam perjalan selanjutnya, Bok menjadi penulis biografi yang ternama. Ia telah mewawancarai ratusan tokoh terkenal dan menulis biografi mereka. Semua itu bermula dari sebuah langkah mendasar, yaitu membeli dan kemudian membaca secara intensif biografi mereka (Maria Lauret, 2013).
Salah seorang pakar psikologi Indonesia adalah Prof. Dr. Ashar Sunyoto Munandar. Dalam perjalanan panjang hidupnya, Ashar mengaku bahwa ia begitu dipengaruhi oleh kata-kata yang tersusun rapi dalam aneka buku dongeng. Beberapa buku cerita dari masa kecilnya yang berkesan adalah Dik Trom, Piltje Bel, dan buku cerita karya Dr. Karl May. Bahkan, tanpa disadarinya, buku cerita itu pula yang memberikan rangsangan imajinasi dan wawasan luas tentang kehidupan.
Kesempatan meminjam buku bacaan di usia belia ini menjadi penanda signifikan bagi munculnya minat besar Prof. Ashar untuk membaca. Sejak itu, minatnya  membaca tumbuh pesat. Membaca dan terus membaca telah menjadikan Prof. Ashar sebagai pribadi penuh kualitas sehingga ia menjadi seorang pakar psikolog ternama di negeri ini. Bacaan cerita di masa kecilnya telah menjadikan dia sebagai pribadi yang terus tumbuh dan berkembang.
Besarnya pengaruh buku cerita juga dialami oleh penuis cerita yang cukup populer di dunia melalui bukunya Harry Potter, dia adalah J.K Rowling. Ia menulis novel legendaris tersebut dalam tujuh seri. Itu tentu saja merupakan hasil kerja keras dan perjuangan J.K Rowling yang sangat luar biasa. Orang mungkin hanya melihat dari sisi hasilnya saja. Padahal, kesuksesan yang diraihnya sesungguhnya dipegaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah pengaruh bacaan pada masa kecilnya.
J.K Rowling menuturkan tentang kenangannya yang paling jelas mengenai masa kanak- kanaknya. Adalah ayahnya yang duduk dan membacakan buku buatnya The Wind in the Willows. Bacaan demi bacaan yang terus digelontor orang tuanya pada masa kecil J.K Rowling secara tidak disadari telah membuat kesan hebat pada dirinya. Maka J.K Rowling mulai memimpikan cerita- cerita fantasis yang anehnya memiliki alur yang bagus dengan tokoh-tokoh yang begitu nyata.
Pengaruh bacaan kemudian mendorongnya untuk menjadi seorang penulis. Menulis baginya merupakan dorongan yang sangat hebat. Yang jelas membaca telah memberi kontribusi besar pada kemampuan J.K Rowling dalam menulis. Kesuksesan yang kini diraihnya merupakan akumulasi dari bacaan yang telah lengket dalam kehidupannya semenjak kecil. Begitulah, membaca kisah hidup para tokoh telah mengubah kehidupannya. Tentu saja ada banyak orang yang telah memperoleh manfaat positif dari kebiasaan membaca.



Daftar Pustaka

AA Navis (1987). Pasang Surut Pengusaha Pejuang. Jakarta: PT Pustaka Utama
Grafiti.

A.Bobby (2015). Ajik Cok- Lihat, Tiru, Kembangkan. Jakarta: Kompas

Agus Nggermanto (2003). Quantum Quotient, Kecerdasan Quantum- Cara
Melejitkan Iq, Eq dan Sq Secara Harmonis. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

Ahmad Faiz Zainuddin (2009). SEFT- Spiritual Emotional Freedom. Jakarta: Afzan
Publishing.

Ahmad Fatahillah (2014). 21 Tokoh Sukses Top Dunia Yang Ternyata Drop Out Dari
Sekolah. Mojokerto: NLP-NAC-ESQ (https://www.slideshare.net).

Annie Mueller (2015). Work Experiences VS Education- Which Lands You The Best
Job?”New York: Investopedia (www.investopedia.com).

Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002). Quantum Learning- Membiasakan
Belajar  Nyaman Dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Bonnie D. Singer (1999). You Are What You Say, To Yourself.  Newton, MA: American
Speech-Language-Hearing Association

Caroly Medel dan Anonuevo (2002). Integrating Life Long Learning Perspective.
Hamburg: Unesco Institute For Education (www.unesco.org/education/uie).

Cindy Adams (1965). Sukarno: An Autobiography. Indianapolis: Bobbs Merrill.  

Coline Rose dan Malcom.J. Nicholl (2003). Accelerated Learning For the 21st Century-
Cara Belajar Cepat Abad 21. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

Craig Pentland (2014). Behavioural Ecology of The Black-Flanked Rock-Wallaby,
Petrogale lateralis lateralis (Disertasi). Perth: Edith Cowan University, The Faculty of Health, Engineering and Sciences, School of Natural sciences (http://ro.ecu.edu.au/cgi/viewcontent.cgi).

Dario Maestripieri (2012). The truth about why beautiful people are more successful-
The truth about why beauty pays. Chicago: University Chicago (https://www.psychologytoday.com/blog/games-primates-play).

Dave Meier (2002). The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa

Deb Shapiro (2008). Your Body Speaks Your Mind: Decoding the Emotional,
Psychological, and Spiritual Messages That Underlie Illness. New York: ReadHowYouWant.com (https://books.google.co.id/books/about/Your_Body_Speaks_Your_Mind.htm).

Dewi Utama Faizah (2009). Anak- Anak Yang Digegas Menjadi Cepat Mekar Cepat
Matang Cepat Layu (artikel). Jakarta: Direktorat Pendidikan TK dan SD, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas (http://nurfika.blogdetik.com).

Desi Anwar (2015). Hidup Sederhana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Dian Wibowo Utomo (2009). Hambatan, Motivasi, dan Strategi Pemecahan Masalah
Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yang Sedang Mengerjakan Skripsi (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma (https://repository.usd.ac.id).

Dian Wirawan Noeraziz (2013). Self determination, Otentisitas,dan kebebasan
(Tugas Psikologi Humanistik). Surabaya: FakultasPsikologi, Universitas Airlangga.

Dominic O’Brien (2005). How To develop a Perfect Memory. Cambridge: Library Com

Fasli Jalal (2010). Education Decentralization In Indonesia, Lesson Learned And
Challenges. Jakarta: Ministry Education of Indonesia).

George D. Kuh (2015). The Chronicle of Higher Education. New York: Investopedia

Georgia Soares (2013). Attractiveness Leads To Success. Houston: Rice University

Grolier (1965). History- Our Worl In Colour. London: The Grolier Society Limited.

Harold S. Osborne (1943). Biographical Memoir of Alexander Graham Bell.
Washington: National Academy of Sciences

Hamermesh D.S (2011). Beauty Pays Why Attractive People Are More Successful.
Princeto- New Jersey: princeton Press

Hatch Robert A (1998). Sir Isaac Newton Footprints of  the Lion exhibit. Cambridge:
Cambridge University Library (https://www.perimeterinstitute.ca/files/articles).

Hazrul Iswadi (2017). Sekelumit Dari Hasil PISA 2015 Yang Baru Dirilis. Surabaya:

Ubaya- Iniversitas Surabaya (http://www.ubaya.ac.id/2014/content/article). 


Ibrahim Elfiky (2011). Terapi Berfikir Positif- Biarkan Mukjizat Dalam Diri Anda
Melesat Agar Hidup Lebih Sukses Dan Lebih Bahagia. Jakarta: Zaman.

Indra Djati Sidi (2001). Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru.
Jakarta: Logos.

Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat-
(https://id.wikipedia.org/wiki/Irwan_Prayitno).

Jalaluddin Rakhmat (1998). Komunikasi Antar Budaya, Paduan Berkomunikasi
Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Jesse Hicks (2012). Ray Tomlinson, the inventor of email: I see email being used, by

and large, exactly the way I envisioned. Peterborough-Canada: The Verge (https://www.theverge.com/2012/5/2/2991486/ray-tomlinson-email-inventor).


Jessica A. Jonikas dan Judith A. Cook (2004). This Is Your Live! Creating Your Self
Directed Life Plan. Chicago: University of Illinois, National Research & Training Center on Psychiatric Disability

Jyoti Ranjan M uduli (2014). Addiction to Technological Gadgets and Its Impact on
Health and Lifestyle: A Study on College Students (thesis).Rourkela: Department of Humanities and Social Sciences, National Institute of Technology (http://ethesis.nitrkl.ac.in/5544/1/e-thesis).

 

Kay Melchisedech Olson (2006). Johann Gutenberg and the Printing Press- Inventions

and Discovery. Mankato MN-USA: Graphic Library (https://www.amazon.com/Johann-Gutenberg-Printing-Inventions-Discover).


Lev Grossman (2010). Mark Zuckerberg (Biography). New York: Time

Louis Deharveng (2005). Expedition Sumatra 2002- Compte Rendu Speleologique.
Toulouse- France: Societe Speleologique de L’Ariege- Pays d’Olmes. 

Mahmood Khalil dan Zaher Accariyal (2016). Identifying Good Teacher For Gifted
Students. Sakhnin: The College of Sakhnin, Academy Colleg For Teacher Educatio (https://file.scrip.org).

Marjohan Usman dan Ranti Komala Dewi (2012). Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri
Prancis. Jogjakarta: Diva Press.

Maria Lauret (2013). When Is an Immigrant’s Autobiography Not an Immigrant
Autobiography? The Americanization of Edward Bok. Las Vegas: MELUS- Department of English,  University of Nevada (MELUS, Volume 38, Issue 3, 1 September 2013, Pages 7–24, https://doi.org/10.1093/melus/mlt033).

Marjohan Usman dan Syaiful Amin (2013). Akhirnya Kutaklukan Kampus Jerman.
Jogjakarta: Diva Press.

Maureen Cane (2015). Practical Lessons And Resources For Teachers From
Foundation To year 10. Heidelbeg, Victoria: Volunteering And Contact Act (https://www.volunteeringaustralia.org). 

Melissa Stanger (2012). Attractive People Are Simply More Successful (artikel). New
York: Business Insider  (http://www.businessinsider.com/attractive-people-are-more-successful).

Mochamad Basuki, Yanti Muchtar, dan Theresia (2012). The Power of Literacy:
Woman’s Journey in India, Indonesia, Philipine and New Guinea. Quezon: ASPBAE (http://www.campaignforeducation.org).

Mudji Sutrisno (1994). Getar-Getar Peradaban. Yogyakarta: Kanisius.

Murad Maulana (2014). 31 Hal Yang Harus Anda Ketahui Tentang Gayatri Wailisa.
Yogyakarta: Pustakawan Blogger, UGM (www.Muradmaulana.com ).

Ng Aik Kwang (2001). Why Asians Are Less Creative Than Westerners (article).
Brisbane: University of Queensland (http://shadibakri.uniba.ac.id/wp-content).

Ngainun Naim (2013). The Power of Reading- Menggali Kekuatan Membaca Untuk
Melejitkan Potensi Diri. Yogyakarta: Aura Pustaka.

Nurul Duariyati (2006). Makna Sukses Pencari Kerja Dan Motif Menjadi PNS
(Skripsi). Surabaya: Universitas Airlangga (http://repository.unair.ac.id). 

OECD/Asian Development Bank (2015). Education in Indonesia: Rising to the
Challenge. Paris: OECD Publishing. (http://dx.doi.org/10.1787/9789264230750-en).

Rhenald Kasali (2011). Wirausaha Muda Mandiri, tentang kisah inspiratif anak-anak
muda menemukan masa depan dari hal-hal yang diabaikan banyak orang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rhenald Kasali (2016). Self Driving Menjadi Driver atau Passenger? Jakarta: Mizan

Rhenald Kasali (2017). Disruption- Tak Ada Yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi
Motivasi Saja Tidak Cukup. Jakarta: Kompas Gramedia.   

Robert Reardon (2016). John L Holland: Perspectives on Theory, Research And
Practice. Florida: Society for Vocational Psychology, Florida State University (

Ruth Callaghan (2016). Graduate Recruitment: Academic Results No Longer Matter
As Much. Melbourne: KMG House (http://www.afr.com/leadership).

Sahar F Abu Jarour (2014). Person Demotivation In Organization Life (Journal). Amman:
College Of Business And Management, Amman Arab University (https://ijbssnet.com/journal).

Sean Maloney (2008). Oral History of Martin Cooper. Mountain View- California:
Computer History Museum

Sean N. Talamas, Kenneth I. Mavor, dan David I (2009). Blinded by Beauty:
Attractiveness Bias and Accurate Perceptions of Academic Performance. California: University Of Southern California

Sella Panduarsa Gareta (2014). Menyelami Sastra di Rumah Taufik Ismail. Jakarta:
Antara News (www.antaranews.com).

Setia Furqon Khalid (2010). Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses. Sumedang: Rumah
Karya.

Sri Owen (2008). Something About Myself. London:Journal dan Weblog

St. Sularto, Ed (2010). Guru-Guru Keluhuran, Rekaman Monumental Mimpi Anak
Tiga Zaman, Jakarta: Kompas.

Suherman (2012). Mereka Besar Karena Membaca. Bandung: Literate Publishing

Syahrial Syarbaini, Rusdiyanta (2009). Dasar-Dasar Sosiologi. Jakarta: Yogyakarta:

Tejvan Pettingen (2010). Biography Of Wright Brother. Oxford:

Tom Corley (2016). 16 Rich Habit: Your Auotopilot Can Make You Wealthy or Poor
(Article).Dallas- Texas: Success Magazine (https://www.success.com/article/16-rich-habits)

Torsten Husen (1995). Masyarakat Belajar. Jakarta: Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada. 

Travis Bradberry (2015). 10 Toxic People You Should Avoid At All Costs. Jersey

City:Forbes Magazine (https://www.forbes.com/sites/travisbradberry)


Victor Mc Elheny (1999). Edwin Herbert Land-A Biographical Memoir. Washington:
The National Academy Press
(http://www.nasonline.org/publications/biographical-memoirs)

Warni Tune. S dan Intan Abdul Razak (2016). Strategi Pembelajaran Dalam
Implementasi Kurikulum Berbasis Soft Skill. Yogyakarta: Deepublish.

Kamis, 10 Agustus 2017

Alumni ITB Jadi Tukang Becak

Alumni ITB Jadi Tukang Becak

Begitu sulitnya kehidupan saat ini, segala cara yang penting halal, akan dilakukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Sekolah tinggi-tinggi ternyata tidak menjadi jaminan hidup akan sukses apalagi kalau hanya sekedar tamatan sekolah menengah. Saat ini yang dibutuhkan adalah keterampilan dan kemauan yang kuat untuk bisa lepas dari kesulitan hidup.

Mungkin kita tidak heran ketika mendengar berita seorang keluarga miskin yang mampu menyekolahkan anaknya sampai sarjana atau berita seorang tukang beca yang berhasil menjadi alumni ITB atau UGM. Namun ketika kita mendengar ada seorang alumni ITB menjadi tukang beca, tentu kita akan mengurut dada antara percaya dan tidak percaya. Padahal ketika pertama kali menginjakkan kaki dikampus, akan terlihat sebuah spanduk untuk menyambut mahasiswa dan mahasiswi baru dengan slogan “SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI INDONESIA TERBAIK”

Fakta adanya alumni ITB menjadi tukang beca bukan hanya sekedar isu saja tapi terbukti benar adanya. Dimana disaat Ikatan Alumni ITB Sumatera Utara sedang mengadakan acara Silaturahmi dan Perkenalan Calon Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB periode 2011-2015 yang diselenggarakan di Hotel J W Marriot Medan. Ketika acara makan malam tiba-tiba ada seseorang menghampiri ketua umum Hermanto Dardak MSc, orang itu mengaku bernama Suhunan Napitupulu mengaku pernah satu angkatan dengan Hermanto Dardak. Suhunan Napitupulu, dengan serius berbincang dengan Hermanto hingga akhirnya terungkap, bahwa benar Suhunan Napitupulu adalah Alumni ITB yang berprofesi sebagai Tukang beca.

Pengakuan polos dari Suhunan bahwa dia berprofesi sebagai tukang beca jelas membuat semua yang hadir terkejut, antara percaya dan tidak percaya bahwa ternyata mungkin masih ada banyak lagi teman-teman yang bernasib seperti Suhunan Napitupulu. Pertemuan Silaturahmi dan Perkenalan ini setidaknya bisa menjadi Momentum yang tepat agar Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB harus tetap memperhatikan nasib teman-teman mereka yang kebetulan tidak seberuntung nasib sebagian besar alumni lainnya.

Kisah Suhunan alumni ITB yang menjadi tukang beca adalah cermin kondisi nyata, begitu sulitnya orang saat ini untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga segala cara dilakukan yang penting halal walaupun hanya menjadi tukang beca, yang sebenarnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya itu. apalagi saat ini Jumlah Pengangguran di Indonesia sudah mencapai angka 8,12 Juta Orang, Pengangguran ini terjadi di sebabkan adanya kesenjangan antara penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan. Minimnya Sektor Penerima Tenaga Kerja serta semakin tumbuhnya Angkatan kerja baru, sudah barang tentu berdampak banyaknya Jumlah Pengangguran di Indonesia.

Ada kisah baru selain cerita Suhunan Napitupulu berikut kisahnya:

Karena sulitnya mencari pekerjaan, ada seorang lulusan Universitas Indonesia akhirnya menerima kerja dikebun binatang ragunan pasar minggu, Tiap hari kerjanya memakai Kostum Gorila, mungkin dia pikir gak ada yang melihat, toh, pake topeng.
Kerjanya mengunyah kacang dan pisang terus menerus, dia berlompat-lompatan setiap hari dengan lincahnya, dan juga dapat berhitung !! Semenjak itu Pengunjung Kebun Binatang bertambah banyak untuk menyaksikan Gorila yang lincah dan juga pintar, maklum lulusan Universitas Indonesia.

Akhirnya pada suatu hari, Tibalah saat yang na’as itu !!! Waktu dia melompat-lompat, dia tergelincir dan terjatuh kekolam Buaya, matilah aku kali ini, katanya dalam hati, dia berusaha memanjat secepat-cepatnya kepinggir kolam, Namun Buaya lebih cepat mendekati dengan mulut menganga lebar dan gigi-gigi yang runcing siap merobek-robek tubuhnya.

Para Pengunjung berteriak ngeri ketika moncong Buaya menyergapnya, antara sadar dan pingsan, dia mendengar bisikan dari dalam mulut Buaya, jangan takut mas, saya juga lulusan dari ITB, he he he.

Maaf ya, cerita buaya tadi cuma cerita humor yang didapat dari beberapa cerita humor di internet, cerita Suhunan dan Humor buaya ini adalah cermin kehidupan terhadap kondisi Bangsa Indonesia yang para pemimpinnya cenderung lebih mengutamakan nafsu keserakahan untuk pribadi, keluarga dan konco-konconya daripada mementingkan nasib rakyat yang memang sedang kesulitan ekonomi, di tambah begitu sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini ? Jangankan lulusan SMA atau sederajat, Sarjana pun di Republik ini masih banyak yang menganggur ?
sumber: 

Letter From Ngainun Naim


Letter From Ngainun Naim
(https://www.facebook.com/ngainun.naim.7?hc_ref=ARQaENcOzPu5Ccjpm1fy1r5BhrHMi1IaP0Ax-_oT8V9r8nSmqFIDo5zHIoQU783Enkw&fref=nf)

Buku dan Persahabatan (2)
Pak Marjohan Usman membalas SMS saya dan meminta izin untuk menelepon. Karena sedang mengajar saya sampaikan kepada beliau untuk menelopon 40 menit lagi. Beliau mengiyakan.
Saat menelepon, Pak Marjohan menyatakan bahwa buku saya cukup bagus. Beliau juga bercerita tentang banyak hal, termasuk aktivitasnya. Dari perbincangan itu saya tahu bahwa beliau adalah guru teladan tingkat nasional tahun 2012. Tidak hanya itu, beliau juga menguasai 4 bahasa: Inggris, Prancis, Arab, dan Portugis.
Mendengar penuturannya, saya jadi malu. Saya tidak ada apa-apanya dibanding beliau. Pantas saja jika beliau menjadi guru teladan nasiona.
Books and friendship (2)

Sir Marjohan Usman replies to my texts and requested permission to call. ' cause I'm teaching him to menelopon in 40 minutes. He said yes.

When you called, Mr. Marjohan said that my book was pretty good. He also told me about a lot of things, including his activity. From that conversation I know that he is a 2012.-Year-old model teacher in 2012. Not only, he also mastered 4 Languages: English, French, Arabic, and Portuguese.

Keep your oaths, I'm so embarrassed. I'm nothing compared to him. It's worth it if he's an exemplary teacher.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...