Selasa, 23 Januari 2018

Cerdas Bermental Sopir Atau Bermental Penumpang?

Cerdas Bermental Sopir Atau Bermental Penumpang?

Buku Pemberi Inspirasi
Salah satu program unggulan Metro TV adalah “Big Cicle.” Host acaranya sering mengundang Prof. Rhenald Kasali Ph.D untuk mengomentari inovasi-inovasi dalam bidang perekonomian. Saya mendengar namanya saat saya mengikuti kegiatan seleksi guru berprestasi tingkat nasional di Jakarta tahun 2012. Rhenald Kasali ikut memberikan kuliah umum buat kami, para guru berprstasi. Setelah itu kami semua memperoleh buku “Wirausaha Muda Mandiri, tentang kisah inspiratif anak-anak muda menemukan masa depan dari hal-hal yang diabaikan banyak orang” (Rhenald Kasali, 2011).
Rhenald Kasali adalah seorang Guru Besar dari Universitas Indonesia, khususnya dari bidang ekonomi. Ternyata dia juga sangat peduli pada dunia pendidikan. Saat itu kami- para peserta mendengar kuliah umum yang disampaikannya. Saya merasa lebih dekat dengan pemikirannya dan saya sengaja mencari semua buku-buku yang ditulisnya pada sebuah toko buku di Padang. Saya pun menemukan buku-buku karangannya seperti: Let’s Change, Change leadership Non-Finito, Disruption, Curse Blessing, dll. Salah satu bukunya yang Self Driving Menjadi Driver atau Passenger? Menjadi best seller dan sangat mengagumkan dan menginspirasi banyak orang. Memang membaca buku bisa memberi banyak inspirasi bagi kita.
Saya membaca buku-buku Rhenald Kasali dan saya merasa berenang-renang dalam pemikirannya. Salah satu bukuya memberi saya pemahaman tentang apa yang ditulisnya, adalah pada buku Self Driving Menjadi Driver atau Passenger?(Rhenald Kasali, 2016).
Saya ingin berbagi tentang bukunya- memaparkan lagi pemikiran Rhenald Kasali atas fenomena pendidikan yang telah membentuk kita menjadi orang yang cerdas namun susah untuk bergerak- untuk maju. Sengaja saya paparkan agar para pembaca yang berusia remaja bisa memahami dan setelah itu bisa mengambil sikap untuk melakukan update atau revolusi mental demi untuk melakukan perubahan dan perbaikan.
Rhenald Kasali megatakan bahwa dunia usaha menghendaki manusia-manusia yang berkarakter driver (bermental sopir atau bermental penggerak) yang senang untuk berkompetensi, namun juga cekatan, gesit, berinisiatif, dan kreatif. Namun di berbagai kampus (juga di SLTA), tanpa disadari, yang terjadi justru pembentukan manusia-manusia (mahasiswa dan siswa) bermental passenger (bermental sopir atau bermental passif).
Dikatakan bahwa generasi muda sekarang cenderung banyak yang pandai, namun outputnya adalah menjadi manusia-manusia bermental penumpang. Setelah menjadi cerdas, mereka tidak tahu mau berbuat apa. Ilmu pengetahuan atau kecerdasannya tidak mampu menggerakkan dirinya apalagi untuk menggerakan orang lain.
Orang-orang demikian kalau belajar fokusnya adalah sebatas bisa menaklukan isi buku teks, yaitu memindahkan pengetahuan dari buku teks ke kertas ujian- sebatas jago berteori. Jadi pintar mereka hanya sebatas pintar di atas kertas.
Kalau mereka kuliah dan menjadi sarjana maka kualitas sarjananya sangat mungkin menjadi sarjana cerdas di atas kertas. Sementara itu dalam praktek pendidikan, banyak anak sekolah yang terisolasi dari lingkungan yang dinamis. Mereka kurang mengenal bagaimana realita kehidupan ini terjadi. .   
            Ditambah lagi bahwa model pendidikan pada tingkat pendidikan dasar (di tingkat SD dan SMP)- yang mana model pembelajaran yang sering terjadi bercorak konvensional. Yaitu sebatas membiasakan para siswa hanya pandai menghafal pelajaran (sambil melipat tangan dan duduk manis saat belajar). Maka setelah itu terbentuklah orang-orang muda menjadi generasi yang pasif.

Buruh Migran Bisa Jadi Lebih Cerdas Dari Mahasiswa
Dalam realita kehidupan bahwa para mahasiswa dan juga siswa bisa dikalahkan oleh orang-orang yang bukan bersekolah tinggi namun- eksis dalam realita hidup. Misalnya bagi orang-orang yang memilih merantau ke luar negeri menjadi buruh migran (TKI). Mereka itu tidak bersekolah tinggi. Mereka dipaksa oleh lingkungan (oleh takdir atau nasib) untuk berpikir kritis menghadapi dunia baru yang sangat menuntut. Buruh migran bisa jadi lebih cerdas dari mahasiswa atau dari sebahagian sarjana(?) 
            Para buruh migran Indonesia yang bekerja di Hongkong, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan, misalnya, banyak yang memiliki pikiran yang lebih hebat dibanding sarjana yang dari kecil tumbuh cerdas karena serba diservis- dimudahkan jalan hidupnya. Pada akhirya mereka menjadi pemuda dan sarjana yang tumbuh menjadi orang dengan karakter penumpang, bukan bermental driver.
            Rhenald Kasali dan juga para tokoh pendidik yang pro kemajuan sudah lama komplain terhadap praktek pembelajaran di dunia pendidikan. Mengapa?
Karena metode pembelajaran di sekolah-sekolah yang terlalu berorientasi pada kognitif. Guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata di atas 80. Dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid yang aktif, namun tidak menguasai semua subjek (mata pelajaran).
Potensi para siswa hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah dimana pedagogi atau ilmu keguruan itu muncul kalau sekolah tidak mendorong munculnya (tumbuhnya) critical thingking. Mereka mengkritik lulusan yang bisa membebek (menganggur dan pasif), tetapi mereka sendiri tak berhenti menciptakan (mendidik) generasi yang bersifat bebek-bebek dogmatik.
            Sementara itu di perguruan tinggi, juga banyak akademisi yang mengukur kecerdasan mahasiswa hanya dari ujian tertulis, yaitu dari buku test dan kertas test. Rhenald Kasali- sebagai Profesor ekonomi- sering memergoki mahasiswa yang mendapat nilai A dalam kelas marketing (mendapat nilai A dengan sangat mudah) namun mereka memiliki pribadi yang tidak mencerminkan seorang marketing (marketer) dengan nilai A. Mengapa?
Ya karena cara bicaranya yang ketus pada teman, berpakaian sembarangan, pribadi mereka membosankan temannya. Pada hal seorang marketing (marketer) itu seharusnya punya pribadi yang  menarik dan menyenangkan.
            Akhirnya orang-orang seperti itu (mahasiswa tadi) kelak akan kesulitan dalam mencari pekerjaan atau berwirausaha. Mereka juga akan kesulitan dalam memasarkan dirinya dan kelak jadilah mereka sebagai mahasiswa atau sarjana yang frustasi (depresi).  
            Juga merupakan fenomena bahwa sekarang banyak calon mahasiswa berebut untuk bisa kuliah di tempat- di universitas yang bergengsi dan berlabel di pulau Jawa. Ini tidak salah kalau mereka bisa berproses dengan ideal. Namun cukup banyak dari mereka yang berprinsip bahwa label-label universitas tersebut akan menjamin mereka untuk bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah di perusahaan ternama di tanah air ini. 
Pemikiran yang cerdas adalah “jangan pernah menjual label-label universitas. “Wah aku ini lulusan universitas X pasti perusahaan besar yang hebat akan mudah menggaetku,” namun jual-lah apa potensi dirimu- kelebihan unggul yang engkau miliki !.
Agaknya banyak generasi muda termasuk bagi mereka yang baru jadi sarjana, juga setuju dengan pendapat bahwa label universitas belum bisa menjamin kita untuk sukses. Kecuali kualitas pribadi kita sangat ditentukan oleh cara kita berproses dan komitmen kita sendiri.

Self Sebagai Kendaraan Kita
            Sesungguhnya Allah Swt telah memberi kita “diri” yang bisa kita sebut dengan kata “self”. Self ini adalah sebagai kendaraan- maka sekarang kita bisa memilih arah, mau dibawa kemana self tersebut. Apa mau diarahkan untuk menjadi orang yang bermental penumpang (self-passenger) atau menjadi orang yang bermental pengemudi (self-driver) nya. Sekali lagi, mau pilih yang mana, mau menjadi self passenger atau self driver?
            Pilihan yang kita rekomendasikan adalah “jadilah manusia self driver- yaitu manusia yang bisa mengendalikan diri”. Sangat benar bahwa kita harus mampu untuk:
Drive yourself, drive your friend, drive your people, and drive your nation- gerakan dirimu, gerakan temanmu, gerakan orang lain, dan gerakan bangsamu menuju kemajuan dan bangsa yang bermartabat di dunia”.
            Namun kenyataannya adalah banyak orang dalam bangsa kita, di lingkungan kita, atau juga mungkin kita sendiri yang “bermental passenger- yaitu bermental penumpang”. Bagaimana dengan karakter seorang penumpang?
Amatilah sebuah mobil yang sedang lewat. Di dalamnya banyak penumpang dan seorang sopir. Maka seorang penumpang, dia boleh duduk dengan manis di belakang sopir (driver). Dia tidak mau ambil resiko, dia boleh duduk sambil ngantuk atau ngobrol. Sementara seorang driver harus duduk di depan, tidak boleh mengantuk. Dia harus bertanggung jawab atas resiko, dan dia harus tahu jalan. Dia juga perlu memikirkan keadaan lalu lintas dan harus bisa merawat kendaraan.
            Seseorang yang menjadi passenger, dia akan punya diri dengan kualitas sebagai pengikut. Dia punya mental yang kerdil- itu terjadi karena dia terbelenggu oleh settingan otak yang kondisinya tetap (statis) atau kurang bergerak.
Sebaliknya seseorang yang menjadi driver- dia akan mampu mendorong- karena memiliki settingan otaknya  (mindsetnya) yang selalu tumbuh (dinamis). Mereka mengajak orang- orang lain untuk ikut berkembang dan bisa keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka berinisiatif memulai terjadinya perubahan tanpa ada yang memerintah namun tetap bersikap rendah hati dan kaya empati.   
            Telah banyak orang yang didik begitu lama, dari bangku SD hingga menjadi sarjana. Namun setelah jadi sarjana, mereka tidak tahu mau pergi kemana. Ya banyak orang yang berpendidikan tinggi namun belum mampu menggerakan (self-drive in) dirinya sendiri, apalagi menggerakan orang lain. Sebaliknya banyak orang yang hanya berpendidikan rendah, namun tidak mau meratapi diri mereka, malah mereka bertarung habis-habisan agar bisa mengatasi masalah hidupnya sendiri dan tidak mau menjadi beban bagi orang lain.
            Pendidikan hidup yang mereka jalani adalah melalui proses belajar, yaitu bagaimana memperbaiki cara berpikirnya dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya banyak orang yang berpendidikan tinggi, menjadi sarjana, tetapi tidak mengalami proses belajar tentang bagaimana dengan realita kehidupan ini. Mereka tahunya hanya belajar dengan cara menghafal-dan meghafal saja- sekalipun mampu menjadi juara- namun ternyata bahwa itu belum lagi menjadikan mereka sarjana yang terbiasa berpikir.

Belajar Berpikir Atau Sebatas Pandai Menghafal
Belajar artinya adalah berpikir, ibarat seorang driver yang harus cepat mengambil keputusan di jalan raya yang padat. Ia bisa mengambil jalan-jalan yang lain yang baru sama sekali. Sedangkan menghafal dapat diibaratkan menjadi seorang penumpang yang mana dia boleh mengantuk, tertidur dan tanpa perlu mengambil resiko di jalan.
Rhenald Kasali (2016) menambahkan bahwa masalah yang kini kita saksikan di panggung dunia kerja dan dunia politik, juga di dunia birokrasi dan akademik. Semua tidak lepas dari pengalaman bagaimana manusia-manusia Indonesia dididik dalam keluarga sejak dari kecil. Melalui tangan orangtua, bayi-bayi mungil yang tak berdaya itu diberi kehangatan, kasih sayang, kelembutan, asupan gizi, ASI dan seterusnya menjadi seorang anak.
Cukup banyak anak-anak yang dibentuk sesuai dengan keinginan orangtua, bukan berdasarkan potensi atau pemikiran anak. Sehingga dalam mengambil keputusan dan berargumen juga tidak mandiri, masih minta pertimbangan pada orangtua. Jadinya anak sering bertanya:
“Mama, ..papa..ini boleh nggak aku kerjain?, ...apa ini sudah boleh aku kerjakan?,...apa sudah waktunya atau belum aku boleh main game?,....pakaian yang aku pakai ini cocok atau tidak??”
Demikian seterusnya hingga mereka tumbuh dewasa. Saat mereka tumbuh dan bisa berjalan. Orangtua masih membelenggu pikiran mereka dengan hubungan batin pada pikirannya. Saat mereka ingin ikut berkemah dengan teman-temannya, orangtua mengatakan:
“Jangan ikut berkemah nak ..nanti kau sakit.”
Atau saat mereka ingin melakukan eksplorasi, travelling, orangtua juga merasa keberatan. Bahkan saat mereka memilih jodoh, orangtua juga menetapkan syarat-syarat yang ketat. Malah sudah menikah, bahkan tak sedikit orangtua yang mengatur kehidupan anak-cucunya. Tempat tinggal, karier, gaji dan sebagainya masih banyak diurus orangtua.
Rasa ketergantungan pemuda yang besar semakin hari semakin banyak kita saksikan. Yang orangtua lupa bahwa mereka telah tumbuh menjadi manusia dewasa, yang kurang mampu berpikir secara mandiri karena orangtua yang melatihnya dari kecil hingga dewasa. Seolah-olah orangtua tak rela menjadikan mereka menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir sendiri- jadinya mereka hanya menjadi manusia yang bisa mengeluh yang selalu ingin dibimbing orangtua.
Akhirnya mereka menjadi manusia passenger dalam kendaraan keluarga. Sudah seharusnya para remaja juga bisa melatih diri  untuk mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan.
Hewan saja tidak selalu melindungi anaknya secara bulat-bulat, sesuai masanya dia melatih anaknya untuk punya keterampilan, untuk mandiri. Setelah itu anaknya terbang dan hidup mandiri.
Maka kita sebagai anak-anak muda, para remaja, apalagi para mahasiswa jangan biarkan diri ini selalu terpasung oleh sesuatu yang kita bawa dari masa lalu. Untuk itu mari kita lakukan perubahan !!!

Cerdas Sebatas Memindahkan Isi Buku Ke Otak
Kita tidak bermaksud menjelekan praktek pendidikan di Indonesia. Namun hanya sebatas memberi tahu tentang kenyataanya- atau sebuah otokritik. Bahwa para pendidik dan juga para dosen merasa puas mengajarkan dengan cara memindahkan isi text book ke kepala kita (siswa dan mahasiswa), itu namanya kita belum menuntut ilmu, tetapi baru sebatas  memindahkan isi buku ke memory dalam kepala ini.
Rhenald Kasali mengatakan tentang perbedaan kontras dari eksistensi belajar di Indonesia dengan di Amerika Serikat. Bahwa kita di Indonesia terlihat banyak yang ketakutan dalam megungkapkan isi pikiran dan analisis kita kendati kita sudah dewasa. Sebaliknya di Amerika Serikat Rhenald Kasali bertemu dengan ribuan pemuda (mahasiswa) dari berbagai bangsa dan mereka berbagai cerita.
Ketika kita (dan banyak anak Indonesia) begitu manja hidup dari beasiswa atau tunjangan dari orangtua, Rhenald Kasali justru berjumpa dengan banyak orang muda dari berbagai negara- Tiongkok, Vietnam, Kamboja, Aljazair, Mesir, dll- yang dibiarkan orangtua untuk belajar hidup. Mereka bekerja keras untuk membayar sewa apartemen, makan sehari-hari dan membayar uang kuliah, dan mereka mendapatkan kemandirian. Ada yang menjadi petugas pembersih toilet yang kerjanya malam hari, memupuk kebun jagung, operator mesin pemotong rumput, mengantar koran, dan mencuci piring di restoran, dll.   
Para mahasiswa yang dulu hidupnya serba mudah, serba diservis hingga bisa memperoleh nilai akademik yang tinggi, namun dalam realita mereka sangat miskin dengan pengalaman hidup di dunia yang nyata. Setelah itu hidup akan terasa terbalik 180 derajad.
Jadinya yang perlu kita kasihan, bahwa kita menyaksikan orang-orang yang dulu hidup begitu dimanjakan (akibat berada dalam comfort-zone). Namun tak sedikit di antara mereka yang kemudian keadaanya serba terbalik. Tak sedikit di antara mereka yang kemudian kesulitan untuk berselancar dalam dinamika kehidupan yang berubah-ubah dan penuh ketidakpastian. Sementara bagi mereka yang terlatih dengan kesulitan hidup (keluar dari uncomfort-zone) mampu menjalani ketidakpastian.
 Oleh sebab itu mari kita biasakan belajar untuk keluar dari comfort zone (zona aman)- dari kebiasaan banyak diservis, serba dilayani dan merengek pada orangtua melulu. Keluar dari comfort zone- dan keluarlah dari sangkar emas.
Diakui bahwa memang banyak jumlah para mahasiswa sekarang, yang mana  kalau di atas kertas cukup banyak yang telah memperoleh prestasi, namun dalam kenyataanya bahwa mereka yang hanya sebatas mampu meraih nilai atau skor akademik yang tinggi setelah itu tidak tahu mau berbuat apa untuk hidup dan apa bentuk karir mereka.
Ya generasi kita- generasi baru Indonesia banyak dalam bentuk generasi servis. Mereka dibesarkan dengan servis yang dibeli oleh orangtuanya yang bekerja. Yang punya uang berlebih tentu bisa menyewa asisten rumah tangga untuk membereskan tugas-tugas rumah. Semua anak-anak akan bebas dari tanggung jawab untuk ikut beres-beresin rumah. Secara langsung maka para orangtualah yang mendidik anak jauh dari tanggung jawab:
“Anak- anak tidak diajar bertanggung jawab, mengurus diri dan ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Namun semua semua diserahkan pada pembantu/ assisten rumah tangga”.
Bagi orangtua yang lebih sejahtera ekonominya juga bisa membeli jasa baby sitter. Bahkan untuk belajar pun, mereka didampingi guru-guru les yang bisa disewa orangtua. Akibatnya anak-anak jadi kurang inisiatif.
Apa jadinya sekarang, ya telah bermunculan generasi yang lebih banyak servis. Artinya anak-anak dibuat dengan kemampuan berpikirnya hanya sebatas bisa menghafal- hingga mereka menjadi generasi yang memiliki kesulitan berpikir dalam menghadapi tantangan-tantangan baru.
“Pergi sekolah untuk apa dan kuliah buat mencari apa?”
Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima ternyata juga banyak yang salah kamar. Kalaupun mereka sudah masuk universitas atau sekolah yang bergengsi, yang dilatih hanya otaknya saja. Sementara mental dan fisiknya miskin dengan sentuhan. Seharusnya selain otak, fisik mereka juga harus dikuliahkan (disekolahkan). Sesungguhnya sekolah dan kuliah itu sendiri bukan harus di atas bangku atau dalam kelas melulu, namun harus ada di alam semesta, bertemu debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.
Mengapa sudah jadi fenomena bahwa para sarjana sulit memperoleh pekerjaan? Pada mulanya banyak orang berpikiran bahwa dengan kuliah di universitas, khususnya universitas yang bergengsi dan punya label maka setelah wisuda pekerjaan bisa datang dengan mudah, banyak perusahaan akan ngiler melihak sosok pribadinya. Ternyata itu hanya isapan jempol dan tidak terbukti.
Perusahaan tidak mau mencari pegawai yang bertipe pemegang ijazah. Memang juga benar bahwa orang-orang yang berijazah dari universitas bagus- bergengsi dan berlabel unggul- menunjukan sinyal bahwa mereka adalah pekerja keras yang telah terseleksi dengan baik. Namun para pengusaha juga menyadari bahwa kegiatan di kampus-kampus baru sebatas mengisi para mahasiswa dengan ilmu pengetahuan dan teori, sedangkan untuk menghasilkan “manusia yang berpikir” dibutuhkan lebih dari sebatas  teori dan ilmu pengetahuan. Yang dibutuhkan adalah seseorang dengan “total pribadi” yang sangat berkualitas. Dan itu semua bisa ditempa oleh serangkaian pengalaman- yang penuh ketabahan, kesusahan, penderitaan, kesabaran dan keberaian.
Lebih lanjut juga dikatakan oleh Rhenald Kasali bahwa Vicki Abeles mengumpamakan pendidikan di sekolah kita dengan istilah “Race To Nowhere” – yaitu perlombaan besar yang muaranya tak jadi apa-apa. Dimana banyak anak anak yang pada mulanya belajar dengan sangat serius dan bersemangat namun bertahun kemudian mereka tidak jadi apa-apa.

Fenomena Kehidupan Yang Terbalik
Fenomena memperlihtkan bahwa hidup ini sering situasinya jadi terbalik. Ada orang yang sekolahnya dilalui dengan “penuh kesungguhan”, namun hasilnya bisa jadi nothing- tak jadi apa-apa. Sedangkan orang yang sekolahnya “main-main” malah bisa menjadi pejabat, politisi terkenal, atau bahkan pengusaha besar. Mungkin orang yang terkesan bermalas-malas mereka malah memiliki mindset (pola berpikir) sebagai seorang driver, sementara orang yang tekun memiliki mindset (pola beripikir) sebagai seorang passenger -ya sebatas  berharap jadi penumpang.
Namun kita berharap mereka yang bekerja dan belajar dengan bersungguh-sungguh agar bisa bermental driver. Untuk itu kepada mereka yang sedang belajar bersungguh-sungguh kita bisa ajukan sejumlah indikator atau pertanyaan untuk melihat apakah kelak mereka menjadi orang bermental driver atau passenger. Indikator atau pertanyaanya sebagai berikut:
- Coba jelaskan mengapa hidup musti berubah, dan mengapa perubahan
   menuntut manusia untuk berpikir?
- Apakah orangtua/ lingkungan anda membelenggu perkembanganmu?
- Apakah anda tertantang untuk mengenal linkungan baru yang lebih
   banyak? Apa anda bertipe orang rumahan?
- Apa anda senang diservis, generasi anak mampi atau anak yang lebih
   mandiri?
- Apa anda tergila gila dengan gadget dan membuat anda sangat individualis
   dan kurang membuka diri?
- Apa anda suka melayani, dan punya inisiatif, juga punya navigasi atau
   kendali diri, serta juga punya tanggung jawab?
-  Ananda memiliki kemampan drive (mengendalikan)- untuk bisa
   mengendalikan diri, teman- teman, lingkungan dan kedepannya untuk
   mengendalikan bangsa ini?
- Anda senang menonton orang bekerja? Atau terpanggil untuk ikut
   berpartisipasi?
- Anda mudah gelisah dengan perobahan, dengan hal-hal baru dan juga
  dengan orang baru? Anda mampu beradaptasi dengan mudah?
- Dalam bergaul dan berkomunikasi anda suka memonopoli, terlalu banyak
  berbicara, dan kurang bisa mendengar pendapat orang?
- Apa anda memiliki disiplin diri yang tinggi dan manajemen waktu yang
  baik?
- Apa anda punya ketertarikan atau hobby dan suka memenjaganya?
- Anda mampu berkonsentrasi? Juga mampu mengendalikan emosi/
  amarah?
- Anda senang beraktivitas?
- Apa anda suka membuat-buat alasan? Suka mnunda nunda waktu,
  menunda pekerjaan, bekerja tanpa prioritas?
- Apa anda suka menghindari tanggungjawab, kurang berani, dan suka
  membuang waktu?
- Apa anda bisa mengukur kemampuan diri?
- Apa anda orangnya sangat gigih? Sangat tekun? Sangat Pede? Tidak suka
  pasrah dan menyerah?
- Apa anda orang nya sederhana ada gaya hidup yang ribet?
Dari pertanyaan-pertanyaan di atas maka akan terjawan bagaimana arah pribadi mereka, dan juga arah pribadi kita. Apakah bermental penumpang atau bermental driver- pengemudi. Namun tentu saja arah pribadi yang didambakan adalah yang bermental driver.
Adapun praktek pendidikan yang cenderung mengantarkan kita menjadi orang yang bermental penumpang maka harus segera kita perbaiki. Yaitu metode pengajarannya harus dibongkar habis. Sekolah-sekolah yang terlalu mengedepankan hafalan harus merombak diri dengan memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk berpikir mandiri.
Mata pelajaran sains seperti biologi, kimia, fisika harus diubah menjadi mata pelajaran lab yang lebih fun. Dimana para siswa dibuat belajar seperti seorang saintis yang berpikir, dan bukan menghafal.
Karena pengalaman di lapangan pendidikan sering ditemukan para siswa yang pintar di sekolah, namun belum tentu pintar di masyarakat. Dan kegagalan terbesar justru terjadi pada para siswa yang dibesarkan dalam persekolahan yang siswanya cenderung suka menghafal.
Memorizing is not the good way in thingking dan menghafal bukanlah cara berpikir yang baik”.  
Maka para remaja (para siswa) dan juga kita perlu latihan berpikir. Mata pelajaran yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan kembali bagaimana model PBM yang bisa membuat siswa aktif dan kreatif. Guru-guru juga harus dilatih ulang. Sebab mereka sendiri sebelumnya telah dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Jadinya guru dan para siswa harus berubah dari kebiasaan menghafal menjadi berpikir- thingking oriented.
Karena dengan kemampuan berpikir yang baik akan bisa menghasilkan karya-karya yang besar. Jadi model pembelajaran/pendidikan kita perlu disempurnakan, diperbaiki, termasuk cara berpikir guru dan orangtua kita. Dengan demikian kita semua tumbuh dan berkembang menjadi pribadi driver- yang mampu menggerakan dan mengendalikan diri dan memajukan bangsa ini. Ya untuk menjadi nation driver atau penggerak bangsa.

Membangun Pengalaman Sambil Menuntut Ilmu

Membangun Pengalaman Sambil Menuntut Ilmu

Siswa dan Literasi
            Mau tahu tentang populasi pelajar di Indonesia? Fasli Jalal (2010), seorang tokoh pendidikan Indonesia, menjelaskan perincian tersebut. Untuk SD populasinya ada sekitar 26 juta orang, SMP 7,5 juta orang, SMA 5 juta orang dan populasi mahasiswa Perguruan Tinggi sekitar 3 juta orang. Proporsi populasi pelajar tersebut dari SD hingga Perguruan Tinggi menyerupai bangunan piramida. Itu berarti bahwa tidak semua anak SD yang melanjutkan pendidikan ke SMP, tidak semua anak SMP yang melanjutkan pendidikan ke SMA dan tidak semua anak SMA yang kuliah ke Perguruan Tinggi, juga tidak semua lulusan Perguruan Tinggi yang memperoleh pekerjaan.
            Andai kita gunting peta Indonesia dan kita tempelkan ke wilayah daerah lain, maka luas wilayah negara kita bisa menutupi wilayah geografi Eropa, juga wilayah geografi Amerika Serikat dan wilayah geografi benua Australia. Jadi terlihat bahwa negara kita termasuk negara yang besar di dunia, dan penduduknya juga termasuk terbanyak di dunia. Dengan demikian SDM negara kita juga harus termasuk yang terbaik di dunia. 
Sebagaimana dinyatakan di atas bahwa ada 26 juta orang pelajar SD dan berarti ada 4,3 juta siswa pertingkat. Namun hanya 2,6 juta orang yang melanjutkan ke SMP dan 1,7 juta pada pergi kemana? Begitu juga siswa saat di SMP jumlahnya 2,6 juta menciut populasi menjadi 2 juta orang saat berada di SMA. Mengapa ini terjadi dan mengapa angka drop-out termasuk tinggi di negara kita? Tentu ada banyak penyebabnya, salah satunya karena rendahnya minat dan motivasi belajar siswa. 
            Rendahnya minat dan motivasi belajar terjadi karena daya serap belajar mereka cukup rendah. Utamanya daya serap membaca, yakni kemampuan membaca pemahaman mereka yang masih rendah.
Sebuah badan perekonomian dunia, yaitu OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, dan bekerjasama dengan ADB (Asian Development Bank) bekerjasama dalam mendukung pendidikan dunia. Kedua badan ini secara berkala memonitor tentang kualitas pendidikan global. Kedua badan ini (OECD dan ADB, 2015) memaparkan tentang laporan PISA. PISA merupakan sistem penilaian secara internasional yang menitikberatkan pada kemampuan anak usia 15 tahun dalam bidang literasi membaca, literasi matematika dan literasi di bidang sains .
Hasil tes dan survey PISA, yang pada tahun 2015 melibatkan para siswa di 70 negara, dianalisa dengan hati-hati dan lengkap sehingga survey yang dirilis pada bulan Desember 2016. Diperoleh data bahwa Singapura adalah negara yang menduduki peringkat 1 untuk ketiga materi sains, membaca, dan matematika. Sementara performa siswa-siswi Indonesia masih tergolong rendah. Berturut-turut rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara yang dievaluasi (Hazrul Iswadi, 2017).
Jadi ada 69 negara yang diobservasi tentang kemampuan literasinya. Namun ada 60 negara yang skor membaca literasinya lebih baik dari Indonesia dan ada 8 negara yang mutu membaca literasinya dibawah. Dengan demikian secara tidak langsung telah menggambarkan bahwa kualitas kemampuan membaca anak-anak Indonesia, terutama untuk tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) sangat rendah di dunia. Apa faktor penyebabnya?
Faktor penyebab adalah lemahnya kemampuan membaca. Akibat kemampuan membaca mereka yang rendah (lemah) membuat mereka belum merasakan kepuasan dalam menuntut ilmu hingga terindikasi banyak yang hengkang setelah tamat SD. Karena tidak merasakan indahnya membaca dan puasnya menuntut ilmu membuat banyak lulusan SMP tidak melanjutkan pendidikan ke SMA, begitu pula tidak bayak pula yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.
Ada beberapa hal yang membuat skor reading siswa Indonesia rendah, diantaranya: Poor learning condition-kondisi belajar yang rendah kualitasnya, Low teacher ability - kemampuan mengajar guru yang rendah, dan Unmotivated environment for learning- lingkungan belajar yang kurang memotivasi anak didik (Mochamad Basuki, Yanti Muchtar, dan Theresia, 2012).
Seharusnya kita di Indonesia perlu belajar dan meniru pengalaman terbaik (best practice) beberapa negara tetangga dalam praktek pengajaran sehingga score reading literacy mereka sangat baik. Dari negara-negara yang terbaik score membacanya, 3 diantaranya adalah negara: Singapura, Australia dan Selandia Baru. Ke tiga negara ini dalah tetangga Indonesia. Pada hal dalm pribahasa internasional mengatakan: “ Good neighbour makes good friend- tetangga yang baik akan menjadi sahabat yag baik”.
Tentang populasi mahasiswa Indonesia, yaitu ada sekitar 3 juta orang. Dengan demikian jumlah mahasiswa yang 3 juta tersebut diasumsikan sebagai pembaca yang bagus score reading-nya. Mereka adalah orang yang menyukai membaca hingga mampu menyelesaikan program perkuliahan mereka.
Namun setelah mereka diwisuda menjadi seorang sarjana, mereka menjadi pelamar kerja dan pencari kerja. Bagaimana strategi mereka merebut karir- karir yang ada? Begitu banyak tamatan perguruan tinggi di negeri kita yang sangat ingin bekerja di sektor pemerintahan atau di sektor pertahanan, atau berkompetisi untuk bisa masuk BUMN saja.

Bukan Sebatas Nilai Yang Tinggi
Umumya orang masih meyakini bahwa kalau mereka mampu memperoleh nilai atau IPK yang tinggi, mereka dengan mudah akan memenangkan kompetisi untuk meraih pekerjaan. Apalagi kalau mereka mampu memperoleh nilai cum-laude. Mereka semakin yakin bahwa dunia kerja (perusahaan) akan segera menyambutnya.
Fenomena begini tidak ada lagi, semuanya nonsense. Untuk itu dari sekarang kita informasikan kepada pada remaja bahwa semua dunia kerja punya strategi sendiri untuk menilai- menseleksi para pelamar. Perusahaan akan mencari pelamar yang punya kualitas dan yang bisa menumbuh-kembangkan perusahaan mereka.
Ada kasus, bahwa ada seorang lulusan universitas degan IPK cum-laude, namun kemampuan sosialnya biasa-biasa saja, maka dia tidak akan tidak bisa lolos dalam rekruitmen. Beda dengan lulusan yang memiliki skor standard namun mereka memiliki kemampuan sosial (soft skill) yang lebih. Mereka punya kemampuan dalam bidang  kepemimpinan, keterampilan dalam berkomunikasi, pemecahan masalah dan mampu dalam pelayanan pelanggan, mereka adalah sebagai pelamar yang lebih diminati oleh dunia perusahaan.
Ruth Callaghan (2016) menjelaskan bahwa untuk bisa lolos dalam rekruitmen maka ada 3 hal yang perlu diketahui dan dimiliki oleh para pelamar kerja yaitu- cultural fit, experience dan vocal graduates. Penjelasannya sebagai berikut:
a). Cultural fit
Cultural fit atau kesesuaian dengan budaya perusahaan. Dalam menseleksi para pelamar yang sesuai dengan kultur perusahaan maka para pelamar diseleksi melalui proses yang cukup komplek yang meliputi tahap sebagai berikut:
- Telephone interviewing (wawancara lewat telepon).
Video interviewing (wawancara lewat video).
- Aptitude test (test kecakapan)
- Profile personality (wawancara tentang profil pribadi)
- Group discussion (kemampuan diskusi kelompok)
- Presentation (kemampuan presentasi)
            Melalui 6 tahapan seleksi ini akan ditelusuri potensi-potensi yang dimiliki para pelamar atas: kemampuan leadership mereka, karakter mereka untuk mampu bertanggungjawab dan bekerja sama, dan kemudian apakah mereka mampu melaksanakan peran-peran yang diberikan serta mampu memberi kontribusi pada perusahaan. 
            b). Experience
Experience atau pengalaman. Maka disarankan kepada para pelamar yang kelak akan memasuki dunia kerja agar tahu bahwa dunia pekerjaan selalu mencari calon pelamar yang punya pengalaman yang luas. Maka calon pelamar jangan hanya terfokus pada urusan-urusan akademik semata dan kurang peduli dalam pengembangan potensi yang lain.
            Dunia perusahaan juga ingin tahu tentang alasan calon pelamar dan bagaimana bentuk motivasi mereka. Juga apa alasan mereka ingin bergabung dengan perusahaan. Selanjutnya apakah saat menjadi mahasiswa mereka punya pengalaman yang lain seperti:
            - Ekskul dalam bidang olahraga
            - Ekskul dalam bidang musik
            - Kegiatan volunteering dan juga bidang yang lain
            Karena semua catatan pengalaman tentang ekskul juga akan diperhitungkan dalam rekruitmen oleh perusahaan. Perusahaan sangat tetarik dengan pelamar yang berpenampilan happy dan punya pengalaman yang berimbang yaitu:
            - Extracuricular activities (kegiatan ekstrakurikuler)
            - Achievement motivation to join with the firms (motivasi berperstasi untuk
              bergabung dengan firma).
            - Work experiences (pengalaman kerja)
            - Problem solving (kemampuan memecahkan masalah) 
            Tim assessmen perusahan akan mengakses (menilai) poin-poin di atas melalui dokumen otentik dan wawancara dan sekaligus team assessment/ perekrut tenaga kerja juga memperhatikan beberapa hal tentang:
            - Action oriented (berorientasi pada tindakan)
            - Willing to speak (kesediaan untuk berbicara)
            - Willing to brainstorming (kesediaan untuk brainstorming)
            - Willing to have opinion (kesediaan untuk punya opini sendiri).
            Dan tentu para pelamar juga harus mencaritahu tentang apa dan bagaimana profil perusahaan yang juga sedang diincar agar bisa memiliki perasaan yang mantap kelak.
            c). Vocal graduate
Vocal graduate  maksudnya adalah berbagai opini-opini yang berkaitan dengan calon pelamar. Ada beberapa poin (item) yang perlu diperhatikan oleh pelamar untuk menjadi pelamar yang ideal. Hal-hal ini akan terpantau saat melalui wawancara, yaitu: para pelamar opini perlu memiliki opini sendiri, latarbelakang yang harus bervariasi, bagaimana titik pandang yang baru.
            Kemudian juga ada beberapa kompetensi yang tidak bisa ditawar-tawar, yaitu seperti kemampuan mendemonstrasikan kecerdasan dalam bekerja, dan kemampuan dalam berkomunikasi, yang meliputi assessment secara online atas kompetensi numerical, logika dan beralasan secara verbal, juga angket tentang kepribadian dan wawancara tentang kepribadian.
            Jadi kita rekomendasikan kepada para remaja yang sedang bersekolah di tingkat SLTA dan bagi mereka yang sudah menjadi mahasiswa, agar sedini mungkin bisa membangun pengalaman sambil menuntut ilmu. Mereka diharapkan juga melibatkan diri dalam kegiatan sosial di kampus dan juga di luar kampus. Karena pribadi yang laku adalah mereka yang jago dalam menuntut ilmu dan juga luas pengalaman vokasionalnya.



Kriteria Memilih Profesi

Kriteria Memilih Profesi

Memilih Profesi
            Memilih profesi merupakan salah satu topik pembicaraan yang hangat di kalangan remaja. Kata lain dari profesi adalah “pekerjaan atau karir”. Selanjutnya mencari profesi juga telah terjadi sejak masa anak-anak. Bila diajukan sebuah pertanyaan pada sekelompok anak-anak:
“Bila tumbuh dewasa kelak, kalian mau jadi apa?” Maka pasti dengan berebutan dan suara lantang akan menyebutkan lusinan profesi yang bakal mereka raih bila dewasa kelak. Ada yang menjawab ingin menjadi presiden, menteri, pilot, dokter, polisi, perawat, tentara, dan beberapa profesi yang klasik lainnya yang terlintas di depan mata mereka.
            Saya juga punya profesi klasik. Saya dan saudara saya sewaktu kecil ingin menjadi “penjual ayam” dan abang saya ingin menjadi “penjual jeruk”. Kalau dijadikan dengan istilah kerennya bahwa kami berdua ingin menjadi “enterpreneur dalam bidang peternakan dan pertanian”. Kenapa demikian?
            Sewaktu kecil ayah saya sering mengajak kami pergi eksplorasi (rekreasi) ke luar kota Payakumbuh- mengunjungi temannya. Beberapa orang teman ayah begitu baik pada kami. Kami diajak ngobrol dan melihat-lihat ternak ayam dan juga memetik jeruk di kebun mereka. Ketika mau pulang teman ayah menyelipkan oleh-oleh (bingkisan) ke dalam kantong kami. Betapa baiknya teman ayah itu kepada anak kecil, sehingga kami berdua mengidolakan mereka dan kami ingin memilih profesi kelak seperti profesi yang mereka geluti.
            Seiring bergulirnya waktu saya mencari profesi buat masa depan saya. Saya ingin menjadi dokter karena saya terkesan dengan penampilan dokter yang menangani saya saat dianatar berobat ke rumah sakit oleh ibu. Sementara abang saya yang yang mengagumi profesi ABRI dan Polisi ingin menjadi polisi atau tentara. Ya dia mungkin mengikuti profesi ayah saya sebagai seorang polisi.
Setelah tamat dari bangku SMA profesi kami jadi tidak jelas. Namun saya ingin melanjutkan studi ke IPB karena ingin menjadi ahli dalam bidang pertanian, sementara abang saya ingin masuk pendidikan taruna AKABRI. Namun cita-cita kami tidak bisa kami wujudkan. Akhirnya saya memilih studi pada jurusan Bahasa Inggris dan abang saya pada teknik bangunan. Kami berdua sama-sama kuliah di IKIP Padang dan sekarang berganti nama menjadi UNP (Universitas Negeri Padang). Ya demikianlah proses pencarian profesi bagi kami berdua.
Setiap awal tahun, saya sering ikut menjadi tim rekruitmen untul menseleksi siswa baru di sekolah tempat saya berkarir (SMAN 3 Batusangkar). Ada serangkaian kegiatan yang harus dilalui para siswa baru agar bisa diterima di sekolah ini, seperti test tertulis, test pskilogi dan kegiatan wawancaa. Saya ikut mewawancarai mereka dan mengajukan sejumlah pertanyaan, seperti:
“Coba sebutkan dan jelaskan tentang cita-cita anda? Atau kelak bila sudah dewasa, anda mau jadi apa?”
Mereka memberi jawaban yang beragam. Mayoritas calon siswa menjawab bahwa mereka  ingin menjadi dokter, guru, perawat, dan lusinan profesi lain, serta sangat banyak yang ingin jadi pegawai (PNS).
“Mengapa begitu banyak yang ingin jadi PNS?”.
Setelah membalik-balik dokumen ternyata ayah dan ibu mereka mayoritas berprofesi sebagai PNS. Ada PNS sebagai guru, PNS di bidang kesehatan, perdagangan, dll. Ya beginilah jadinya kalau banyak orangtua murid yang berprofesi sebagai PNS. Sehingga anak-anak mereka juga ketularan ingin menjadi PN. Memang sebelumnya populasi PNS di negeri ini begitu berlimpah ruah, sehingga anak-anak  dan cucu mereka juga ingin menjadi PNS atau bekerja sebagai orang kantoran.
            Cita-cita ingin menjadi pegawai atau PNS lebih banyak diungkapkan oleh anak perempuan. Sementara calon siswa pria memberikan jawaban sedikit lebih bervariasi. Ada juga yang ingin menjadi dokter, juga ada yang ingin berprofesi dalam bidang teknik. Ada yang ingin berprofesi di teknik perminyakan. Dalam imajinasi mereka bahwa kalau bekerja di perusahaan perminyakan maka akan menyembur sangat banyak uang. Disamping itu juga ada yang ingin berprofesi sebagai pengusaha.
“Pengusaha di bidang apa? Namun kata pengusaha itu sendiri masih luas dan cukup abstrak.”
Mereka protes saat saya klarifikasi apakah mereka ingin berprofesi sebagai pengusaha tempe, pengusaha ayam potong, atau pengusaha bahan bangunan. Semua klarifikasi tersebut memperoleh bantahan, karena itu semua adalah pengusaha rendahan dan murahan dalam  pandangan mereka.
Terkesan dari wajah mereka bahwa pekerjaan yang hebat itu adalah pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan mata pelajaran yang mereka anggap sangat bergengsi, mata pelajaran yang disangkut-pautkan dengan UN. Beberapa mata pelajaran yang masuk ke dalam UN adalah seperti: Kimia, fisika, matematik, biologi, akutansi, dan ekonomi.
Bahwa pilihan profesi siswa yang saya wawancarai cenderung bersifat klasik atau konvensional dan berorientasi pada akademik. Atau kalau ditanya lebih detail, maka mereka sendiri juga kebingungan untuk mendeskripsikan profesi  yang lebih spesifik (cita-cita yang lebih jelas).
Saat saya melakukan konfirmasi ulang maka lagi-lagi mereka menyebutkan profesi (cita-cita) yang masih konvensional:
“Saya ingin menjadi dokter, spesialis anak, spesialis jantung, dosen, insinyur, direktur bank,” ya.....ya.... yang ujung-ujungnya ingin menjadi  PNS, pegawai BUMN atau orang bekerja di kantoran.
Pada hal dalam kebijakan pemerintah sekarang, yaitu menghentikan buat sementara penerimaan PNS. Terhitung mulai tahun 2015 (Merdeka.com, 31 Oktober 2014). Untuk itu diharapkan para remaja untuk mencari tahu tentang bimbingan karir. Mereka musti punya self determination- ketetapan karir untuk masa depan. Buat para mahasiswa bila telah wisuda kelak harus mencari profesi selain PNS. Sangat bagus kalau mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Penerimaan (rekruitmen) pegawai PNS beberapa tahun-tahun sebelumnya (sekitar 20 tahun lalu) masih mudah, mahasiswa yang punya IPK tinggi akan punya kesempatan yang kuat  buat jadi PNS. Sehingga banyak mereka yang punya IPK tinggi bermimpi buat menjadi dosen. Namun sekarang tidak lagi, kalau ada yang menjadi dosen, ya tentu menjadi dosen honorer.
Maka sekarang bahwa  IPK- Indeks Prestasi Kumulatif- yang tinggi atau biasa-biasa saja hanya sebagai hiasan pada ijazah. Secara berseloroh ada yang berkomentar bahwa bahwa  IPK hanya berguna sebagai persyaratan untuk  wisuda. Jadinya semangat berwirausaha dan leadership jauh lebih berharga, namun belajar keras agar bisa memperoleh IPK yang tinggi tetap sangat mulia.

Memiliki Self Determination
            Suatu ketika saya berjumpa dengan wisatawan Malaysia- satu keluarga. Dimana salah seorang dari mereka punya ayah yang masih keturunan Indonesia, yaitu dari Kabupaten Tanah Datar (kota Batusangkar), Sumatera Barat. Ia memiliki anak laki-laki yang sangat ekspresif. Saya tertarik ngobrol dengan anak lelakinya bernama Raihan. Ia tergolong anak cerdas dan masih sekolah di Primary School di Kuala Lumpur.
Saya ingin mencari tahu tentang self determination-nya, cita-citanya di masa depan. Ternyata dia sudah punya cita-cita yang lebih spesifik tentang apa yang akan dia lakukan kelak bila sudah dewasa. Berarti dia sudah punya self determination- atau ketetapan karir. Ya karirnya tidak begitu muluk-muluk, atau sebatas  ikut-ikutan orang lain.
I want to do bussiness in culinary and I want to have my own restaurant”
“Why....???”
“Because I like to help my mom cooking and I like cooking.
 Pada mulanya saya berpikir mungkin ia bakal tertarik menjadi seorang dokter, apoteker, seorang pilot. Ya sebagaimana cita-cita anak-anak Indonesia, menyebutkan lusinan cita-cita yang klasik.
Ternyata Raihan ingin bercita-cita dalam bidang kuliner. Ia ingin memiliki restoran yang besar di kota Kuala Lumpur dan menyediakan kebutuhan kuliner berbasis masakan Asia, seperti masakan Jepang, Korea, Indonesia dan India. Restoran yang bakal dia punya juga memiliki rest area.
Mengapa ia tertarik berprofesi dalam bidang resto dengan kuliner internasional? karena Raihan suka membantu ibunya memasak masakan lezat di rumahnya di Kuala Lumpur. Cukup beda dengan cita-cita yang diungkapkan oleh para siswa negeri kita, hanya mampu menyebutkan profesi yang konvensional, atau profesi yang muluk-muluk yang mereka pungut dari sana-sini, yang mungkin jauh dari jangkauan mereka.
Memang benar, bahwa cukup banyak remaja di Indonesia, hanya mampu bercita-cita dalam illusi, yang tidak jelas, kurang spesifik dan terkesan di luar jangkauan. Satu atau dua semester setelah mereka bersekolah sebagai siswa di SMA Unggulan, saya kembali mencari tahu tentang profesi mereka.
Dan kali ini dari jawaban mereka mayoritas ingin kuliah di perguruan tinggi favorit. Dan mereka hanya mampu menyebutkan perguruan tinggi yang bertengger di pulau Jawa. Kalau ditanya mau mengapa setelah tamat dari perguruan tinggi favorit tersebut(?). Umumnya mereka terdiam, tidak tahu apa pekerjaan yang spesifik setelah itu.
Meskipun mereka termasuk  para siswa dari sekolah unggulan, namun hanya sebatas tahu untuk memburu tempat kuiah di perguruan tinggi favorit saja. Dalam pikiran mereka bahwa dibalik perguruan tinggi tersebut akan terbentang sukses dan perguruan tinggi akan memberi mereka sebuah pekerjaan yang mudah. Sehingga ada yang bercita-cita kuliah hebat dengan deretan gelar yang panjang dan gaji yang berlipat. Ya demikian pencarian cita-cita atau profesi dari banyak siswa yang selalu nggak jelas.
Suatu ketika saya berjumpa dengan grup student-exchange, ada rombongan siswa dari Jerman datang ke Batusangkar. Saya sempat bertukar cerita yang panjang dengan salah seorang siswa yang bernama Lewin Gastrich. Lewin menjelaskan tentang profesinya di masa depan. Ternyata dia sudah punya self determination atau pilihan karir di masa depan.
Ia memberi perincian atau strategi karir yang bakal dia kejar sejak dini hingga dewasa kelak. Bahwa selepas dari Secondary School di Jerman ia akan mendaftarkan diri di Akademi Penerbangan, karena ia suka terbang dan senang dengan tantangan ketinggian. Dan lebih ke depan ia akan bekerja di Badan Penerbangan Luar Angkasa.
Teknologi penerbangan luar angkasa yang sudah ia baca adalah seperti di Jerman, Perancis, NASA- di Amerika Serikat,Rusia, dan China. Ia memperkirakan bahwa yang lebih mudah untuk ia akses kelak adalah Badan Luar Angkasa dari Rusia. Namun ia terkendala dengan bahasa. Maka dari sekarang ia sangat rajin belajar Bahasa Rusia secara otodidak dengan memanfaatkan Google Rusia dan situs belajar bahasa Rusia di internet. Saya memahami bahwa cita-cita yang dipaparkan oleh Lewin Gastrich lebih jelas dan lebih terperinci untuk menggapainya.
Saya tidak bermaksud menyanjung dan memuji siswa dari Malaysia, Jerman dan dari negara lain, yang ternyata memiliki self determination. Self Determination adalah  rasa percaya bahwa individu itu bisa atau dapat mengendalikan nasibnya sendiri. Self Determination atau Penentuan Nasib sendiri adalah kombinasi dari sikap dan kemampuan yang memimpin orang – orang untuk menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri, dan untuk mengambil inisiatif untuk mencapai tujuan tersebut. Self Determination juga tentang bagaimana seseorang bisa menjadi lebih berwenang atau bertanggungjawab atas masa depannya (Dian Wirawan Noeraziz, 2013).
Kita berharap agar para remaja di Indonesia, apalagi dari sekolah berlabel unggul, mampu untuk mendesain cita-cita mereka. Cita-cita itu adalah tujuan dan perlu perencanaan yang lebih jelas dan lebih terarah. Mengapa siswa luar negeri memiliki cita-cita yang jelas dan para siswa di sekitar kita bingung dalam mencari profesi masa depan mereka?
            Faktor wawasan, informasi atau ilmu pengetahuan adalah sebagai faktor penentu seorang siswa bisa memiliki cita-cita atau memiliki visi dan misi di masa depan. Adalah fenomena bahwa membaca yang intensif belum menjadi budaya di kalangan masyarakat kita. Coba lihat berapa betul orang yang terbiasa membaca- berlangganan koran dan majalah. Ya betul berlangganan koran adalah sesuatu yang amat langka dalam masyarakat kita, apalagi buat berlangganan majalah.
Selanjutnya bahwa tidak begitu banyak masyarakat kita yang terbiasa membaca buku. Buku yang berkualitas menjadi hal yang langka buat kita temui di rumah-rumah masyarakat. Jadinya masyarakat kita adalah masyarakat yang minim ilmunya. Kalau kita cari tahu tentang peringkat SDM negara kita di dunia, ternyata belum begitu menggembirakan.
Sudah jadi fenomena, karena lemahnya konsep literasi. Banyak anak-anak sekolah  sejak dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi juga tidak terbiasa membaca, mereka belum merasakan betapa indahnya bersahabat dengan buku.
Kalau di Sekolah Dasar, seorang anak harus menguasai kemampuan tiga R, yaitu Reading, wRiting dan aRismetic. Untuk reading atau membaca, para siswa hanya sebatas mampu membaca satu huruf, satu kalimat, atau sebatas tahu A-Be-Ce dan De. Belum lagi sebatas mampu membaca dan menamatkan lusinan buku. Itulah jadinya anak didik tidak banyak yang memahami tokoh-tokoh kehidupan lagi. Karena mereka tidak terbiasa membaca, mereka tidak memiliki majalah lagi. Dalam zaman cyber, anak-anak tenggelam dalam permainan game on-line. Atau membaca status pada media sosial FaceBook, Twitter, BBM, dll.
“Bahwa siswa perlu memiliki cita-cita yang lebih jelas”, dalam kenyataan banyak mereka yang belum memiliki self determination. Cita-cita mereka masih ngambang, kalau kuliah, hanya sebatas memburu universitas bergengsi, setelah wisuda malah jadi bengong. Ini adalah problema bagi kita- para remaja. Suatu problema dapat disorot dari sudut “sebab dan akibat.”
Penyebab mengapa anak sekolah belum memiliki cita-cita yang jelas, adalah karena mereka memilki ekplorasi yang minim. Ekplorasi diperoleh lewat menjelajah atau mengenal lingkungan secara langsung. Namun mereka mungkin lebih suka mengurung diri di seputar rumah, kurang mengenal lingkungan yang dekat hingga lingkungan yang jauh. Program rekreasi dan eksplorasi belum menjadi agenda ke luarga. Kemudian, ekplorasi juga bisa bisa diperoleh lewat membaca, sesuai dengan pernyataan sebuah ungkah “dengan membaca buku kita bisa menjelah dunia”. Nah banyak siswa yang belum terbiasa membaca hingga jelajah mereka juga terbatas.
Karena guru dan orangtua juga terbatas wawasannya, maka mereka juga kurang mampu menjawab tantangan cita-cita buat remaja. Jadinya setiap kali seorang remaja ditanya tentang profesi:
“Apa cita-cita anda kelak?”. Maka jawabnya selalu:
“Saya mau menjadi PNS, guru, dokter, bidan, perawar, insinyur, kerja di bank.” Demikian ungkapannya, pokoknya bekerja menjadi anak buah terus. Hingga mereka belajar dan kuliah, memperoleh IPK yang tinggi tetapi selalu tertarik sebagai “Job Seeker”- pencari kerja, menjadi kerja kantoran, menjadi bawahan anak buah.
“Jadi apa yang diperlukan?”
Para siswa membutuhkan bimbingan karir atau profesi. Itulah sedikit ketinggalan dalam pendidikan kita. Di sekolah luar negeri, guru-guru dan terutama guru counseling membantu anak dalam membimbing profesi mereka. Hanya sebatas menjadi guru yang mengurus para siswa yang  bermasalah hingga selalu memasang wajah angker dan suara killer.
Di sebuah sekolah di Melbourne, yaitu Secondary College di Norwood- Melbourne, sebuah sekolah yang sempat saya kunjungi beberapa tahun lalu, di sana guru counseling adalah guru tempat curhat tentang profesi (karir) dan kehidupan bagi para siswa. Menjadi guru yang dicari, disenangi, bukan guru yang ditakuti. Guru-guru yang demikian juga banyak di Indonesia. 
Ya para siswa memang membutuhkan bimbingan karir, agar mereka punya self determination, memiliki rencana profesi yang lebih jelas. Para remaja di sekitar kita banyak yang sudah sukses dalam mengejar skor- skor yang tinggi. Mereka cukup pintar dalam belajar, mampu menjadi sang juara di kelas- menjadi juara umum. Mereka belajar serius di sekolah, rumah dan malah juga ikut kursus atau bimbel (bimbingan belajar). Namun bingung dalam mencari cita-cita.
Cita-cita klasik mereka yaitu ingin jadi presiden, jadi menteri, jadi dubes, jadi gubernur, jadi dokter, jadi tentara/ polisi, dll. Ya sebuah cita-cita dari yang tertinggi sampai yang terendah. Atau cukup banyak yang bengong dengan cita-cita. Kalau ditanya dan jawaban mereka biasanya:
“Bingung dengan masa depan, tergantung papa dan mama. Tergantung nilai raport, tergantung wali kelas, tergantung hasil ujian atau hasil Try-Out (T.O). Atau itu belum kepikir sekarang…yang penting saya harus belajar dulu”.
Karena cita-cita mereka mengambang dan kurang jelas jadinya cita-cita mereka jadi berubah-ubah. Apa efek dari cita-cita yang berubah?. Ya tentu saja pilihan jurusan berubah, pilihan gaya belajar berubah, pilihan tempat kuliah berubah. –Visi hidup juga bisa berubah.
Mereka perlu memahami pemilihan profesi. Paling kurang pemilihan profesi ala Box-Hill Institute (yang sempat saya kunjungi di Melbourne ) atau menurut  teori yang dikembangkan oleh John L. Holland. Holland dikenal sebagai pencipta model pengembangan karir ((Robert Reardon,2016). Yaitu pemilihan pekerjaan (profesi) yang merupakan hasil dari interaksi antara faktor, seperti hereditas (keturunan), pengaruh budaya, teman bergaul, orangtua, mentor atau orang dewasa yang dianggap memiliki peranan yang penting.

Tipe Pekerjaan Berdasarkan Bentuk Kepribadian
John Lewis Holland merupakan seorang Professor Sosiolog dan Psikolog di Universitas John Hopkin, Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai pencipta model pengembangan profesi.  Setiap siswa perlu tahu bahwa ada enam tipe pribadi berdasarkan pilihan kerja (yang telah diciptakan Holland), yaitu tipe realistis, intelektual, sosial, konvensional, usaha, dan artistik (Robert Reardon,2016).
1) Tipe realistis
Ciri-cirinya yaitu; mengutamakan kejantanan, kekuatan otot, ketrampilan fisik, mempunyai kecakapan, dan koordinasi motorik yang kuat, kurang memiliki kecakapan verbal, konkrit, bekerja praktis, kurang memiliki ketrampilan sosial, serta kurang peka dalam hubungan dengan orang lain. Orang yang bertipe ini sukanya tugas-tugas yang konkrit, fisik, eksplisit/ memberikan tantangan. Untuk memecahkan masalah memerlukan gerakan, kecakapan mekanik, seringkali suka berada di luar gedung. Contoh pekerjaan: operator mesin/radio, sopir truk, petani, penerbang, supervisor bangunan, ahli listrik, dan pekerjaan lain yang sejenis.
2) Tipe intelektual
Kesukaanya adalah model pekerjaan yang bersifat akademik, kecenderungan untuk merenungk, berorientasi pada tugas, kurang suka terlibat dalam bersosial. Membutuhkan pemahaman, menyenangi tugas-tugas yang bersifat abstrak, dan kegiatan bersifat intraseptif  (keras/tegas). Sukanya tugas dengan kemampuan abstark, dan juga bersifat kreatif. Ia suka memecahkan masalah yang memerlukan intelejensi, imajinasi, peka terhadap masalah intelektual. Kriteria keberhasilan bersifat objektif dan bisa diukur, tetapi perlu waktu yang cukup lama dan bertahap. Ia tertarik pada kecakapan intelektual dari pada manual. Kecakapan menulis juga mutlak untuk dimiliki. Contoh pekerjaan: ahli fisika, ahli biologi, kimia, antropologi, matematika, pekerjaan penelitian, dan pekerjaan yang sejenis.
3) Tipe sosial
Ciri-cirinya: suka membantu orang lain, pandai bergaul dan berbicara, bersifat responsive, bertanggung jawab, punya rasa kemanusiaan, bersifat religious membutuhkan perhatian, memiliki kecakapan verbal, punya hubungan antar pribadi yang baik, menyukai kegiatan-kegiatan yang rapi dan teratur, menjauhkan bentuk pemecahan masalah secara intelektual, lebih berorientasi pada perasaan. Sukanya menginterpretasi dan mengubah perilaku manusia, serta berminat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Contoh pekerjaan: menjadi guru, pekerja sosial, konselor, misionari, ulama, psikolog klinik, terapis, dan pekerjaan lain yang sejenis.
4) Tipe konvensional
Ciri-cirinya: kecenderungan terhadap kegiatan verbal, ia menyenangi bahasa yang tersusun dengan baik, senang dengan numerical (angka) yang teratur, menghindari situasi yang kabur atau abstrak, senang mengabdi, mengidentifikasikan diri dengan kekuasaaan, memberi nilai yang tinggi terhadap status dan materi, ketergantungan pada atasan. Sukanya proses informasi verbal dan menyukai matematik secara kontinu, suka kegiatan rutin, konkrit, dan bersifat sistematis. Contoh pekerjaan: sebagai kasir, statistika, pemegang buku, pegawai arsip, pegawai bank, dan pekerjaan lain yang sejenis.
5) Tipe usaha
Ciri-cirinya:  menggunakan ketrampilan berbicara dalam situasi dan kesempatan untuk menguasai orang atau mempengaruhi orang lain, menganggap diri paling kuat, jantan, mudah beradaptasi dengan orang lain, menyenangi tugas-tugas sosial. Menyenangi kekuasaan, status dan kepemimpinan, bersifat agresif dalam kegiatan lisan. Sukanya tugas dengan kemampuan verbal untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain. Contoh pekerjaan: sebagai pedagang, politikus, manajer, pimpinan,  eksekutif perusahaan, perwakilan dagang, danpekerjaan lain yang sejenis.

6) Tipe artistik
Ciri-cirinya: senang berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung, bersifat sosial dan suka rmenyesuaikan diri. Sukanya adalah artistik, memerlukan interpretasi atau kreasi bentuk artistik melalui cita-rasa, perasaan dan imajinai. Suka mengekspresikan diri dan menghindari keadaan yang bersifat intra-personal, suka keteraturan, atau keadaan yang menuntut ketrampilan fisik. Contoh pekerjaan: menjadi ahli musik, ahli main drama, pencipta lagu, penyair, dan pekerjaan lain yang sejenis.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa para remaja/ siswa perlu memiliki cita-cita yang lebih jelas. Untuk itu dari usia dini, mereka sudah terbiasa bereksplorasi, budaya membaca untuk menambah wawasan sangat penting bagi orangtua, guru dan siswa sendiri. Kemudian mentor, guru dan orangtua perlu memberikan bimbingan karir bagi siswa. 

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...