Rabu, 08 Januari 2014

Sight-Seeing



Sight-Seeing

1. Kota dengan empat Musim dalam Satu Hari
            Matahari bersinar terang, tetapi suhunya bukan panas. Di luar bis suhunya amat dingin sekarang. Bis kami dilengkapi dengan AC untuk suhu hangat. Iklim Melbourne atau Victoria ditandai oleh beberapa zona iklim, dari daerah yang panas dan kering di barat laut hingga padang salju di pegunungan tinggi di timur laut. Melbourne terkenal dengan cuacanya yang berubah-ubah[1], yang sering disebut memiliki 'empat musim dalam satu hari'. Pada umumnya, kota ini memiliki iklim sedang dengan musim panas yang berkisar dari hangat ke terik; musim semi dan musim gugur yang ringan dengan suhu sedang; serta musim dingin yang sejuk. Suhu rata-rata 25°C pada musim panas dan 14°C pada musim salju. Curah hujan paling tinggi dari bulan Mei sampai Oktober. Di sini Anda akan menemukan informasi seputar suhu udara, curah hujan, dan aktivitas musiman untuk membantu Anda merencanakan liburan di Melbourne.
Dengan iklimnya yang beragam, Melbourne biasanya terasa panas dari Desember hingga Februari (musim panas), menyejuk dari Maret sampai Mei (musim gugur), lebih dingin di bulan Juni hingga Agustus (musim dingin), dan kembali menghangat dari September sampai November (musim semi). Suhu udara tertinggi Melbourne biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari, di mana cuaca umumnya kering dan panas dengan suhu rata-rata berkisar antara 15 – 26°C. Curah hujan rata-rata tahunan untuk Melbourne sekitar 600mm. Juni dan Juli adalah bulan-bulan paling dingin, dan Oktober bulan paling sering hujan. Saran yang dianjurkan adalah bersiaplah untuk segala cuaca – bawalah payung dan kenakan pakaian berlapis yang dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan.
Usaha ekonomi utama masyarakat Melbourne adalah pada bidang peternakan dan pertanian. Pemerintah Australia sangat melindungi produk pertanian dan peternakan negaranya. Apa saja produk pertanian dan peternakan dari luar Australia dilarang masuk. Makanya aku merasa cemas membawa apel. Apel tersebut sudah aku bagi- bagi pada teman-teman sebelum meninggalkan hotel (check out) saat masih berada di Jakarta.
Kami melewati jalan- jalan toll yang mulus dan dari balik tembok pembatas kami dapat melihat bentangan tanah pertanian dan juga ada usaha peternakan. Jalan toll di Australia semuanya gratis- tidak perlu dibayar. Karena semuanya sudah tercakup ke dalam bentuk pembayaran pajak. Jadinya pemilik mobil/ kendaraan di Australia membayar pajak lebih tinggi.

2. Pertanian Australia
Jika kita tidak ingin kelaparan pada saat populasi penduduk dunia meningkat nanti, hiduplah di Australia[2].  Saat ini Australia memproduksi hasil pangannya melebihi kebutuhan penduduknya. Hasil produksi pangan Australia dua pertiga dieksport ke luar negeri. Hasil produksi pangan yang melimpah tersebut bukan terjadi begitu saja mengingat jenis tanah Australia tidaklah sesubur tanah di Indonesia. Australia saat ini adalah termasuk negara pengeksport terbesar kebutuhan pangan di dunia.
Sejarah pertanian Australia telah menempuh perjalan panjang sejak tahun 1800 pada saat imigran pertama datang ke Australia.  Keadaan jenis tanah Australia tidak memungkinkan sepenuhnya untuk mengolahnya sebagai lahan produktif.  Langkanya sumber air merupakan halangan utama bagi petani Australia.  Belum lagi musim kering yang berkepanjangan karena curah hujan yang kurang perlu pengelolaan tersendiri.
Sistem irigasi secara perlahan dikenalkan di Australia semenjak akhir abab 18.  Petani yang sebelumnya lebih banyak memelihara domba daripada produk pertanian, mulai bisa menanam sayuran dan buah-buahan. Dan dengan dibangunnya jalur-jalur kereta api pada tahun 1850an, produk pertanian mulai bisa diproduksi dalam skala besar. Sekitar pada awal abab 19 industri perkebunan tebu, buah anggur mulai terdapat di Australia. Demikian juga produk-produk dari peternakan sapi. Sistem pengairan memungkinkan produk peternakan tidak saja dari domba.
Produk pertanian Australia mengalami kenaikan cukup pesat pada awal abad 20 dimana produknya telah melebihi kebutuhan dalam negeri sehingga dua pertiganya perlu dieksport ke negara lain. Kelebihan produk pertanian tersebut berkat dukungan pemerintah pada para petani.  Pemerintah juga mengenakan tarif import untuk mengurangi produk import.

3. Kuliah Gratis Dari Pemandu
            Aku merasa kagum pada pemandu dan sopir karena wawasan mereka yang serba tahu tentang Melbourne dan benua Australia. Kami mengajukan pertanyaan pada pemandu dan andai pemandu merasa jawabannya separoh benar maka kami mendengar penjelasan dari Michael- sang sopir.
            Suasana jalan di kota ini beda dengan di negara kita. Barangkali karena populasi di negara jauh lebih banyak dan jalan jalan raya jauh lebih ramai, maka terlihat disana-sini para polisi menjaga ketertiban jalan. Di kota ini jarang sekali kami melihat polisi. Polisi memonitor kondisi jalan raya melalui CCTV. Jadi polisi baru terlihat kalau sudah ada accident- maka turunlah polisi, ambulan dan pemadam kebakaran dalam bentuk satu paket.
            Charles membawa kami berkeliling Melbourne, ya sekedar mengisi acara sight-seeing. Kami belum menuju hotel, karena kami akan check-in di hotel pukul 13.00 siang. Ada bebrapa tempat yang bakal kami kunjungi yaitu Victoria market, Captain Cook Cottage dan Colline Street.
a). Pasar Victoria
            Mas Rachman mengatakan bahwa kami mau melewati jalan menuju Queen Victoria Market. Kami bakal punya kegiatan lihat-lihat pasar. Pasar Victoriadalah pasar tua dan harga barang tergolong murah di sana. Queen Victoria Market menyediakan barang apa saja yang bisa dipikirkan orang. Hampir 1.000 pedagang menjual barang-barangnya di pasar yang luasnya sekitar tujuh hektar.
Pasar yang buka selama lima hari dalam seminggu itu (tutup pada hari Senin dan Rabu) mencakup pasar yang antara lain menjual bahan makanan sehari-hari, seperti berbagai macam ikan, daging, buah-buahan dan sayur-sayuran, wine, roti tawar, jajanan seperti sandwich, hotdog, pizza, pakaian, aneka macam suvenir, compact disc dan kaset, mainan anak-anak, serta binatang peliharaan.
Pasar yang buka mulai pukul 06.00 itu tutup pada pukul 14.00 (Selasa dan Kamis), pukul 18.00 (Jumat), pukul 15.00 (Sabtu), dan pukul 16.00 (Minggu).  Dan, bisa dijangkau dengan menggunakan bus, trem, kereta api, atau menggunakan mobil, mengingat pelataran parkirnya cukup luas. Itu sebabnya di Queen Victoria Market dengan mudah ditemui peternak yang menjual binatang peliharaan, seperti ayam dan bebek, di sekitar truk bak terbuka yang diparkir di pelataran parkir Queen Victoria Market.
Aku tidak mau asal beli, khawatir nanti bagasiku jadi lebih berat dan akan bermasalah di immigrasi. Aku hanya membeli beberapa souvenir buat teman dan keluarga di Indonesia. Aku sempat membeli souvenir seperti kaus oblong dan juga peci. Selebihnya aku hanya jalan-jalan menelusuri keliling komplek pasar dan mengambil foto-foto buat memori.
Aku jadi tahu bahwa sumber air bersih di pasar Victoria adalah “reusable water” atau air daur ulang. Di sana tidak ada aliran sungai untuk memasok air. Jadi semua air hujan ditampung dalam bak di bawah permukaan pasar dan demikian juga air bekas. Kemudian diproses- disuling- dan dialirkan lagi.
Aku sempat berjumpa dengan beberapa pedagang berwajah melayu- barangkali mereka adalah orang Philipina, Malaysia atau Indonesia. Ohh juga orang Indonesia. Dan aku bertanya apakah mereka itu TKW (Tenaga Kerja Wanita).
“Bukan pak, kami bukan TKW..kami adalah mahasiswa S.2 yang lagi kerja samping untuk mencari tambahan uang dan kami dapat izin dari kampus untuk bekerja part-time”. Demikian kata salah seorang dari mereka.

B. Captain Cook Cottage
            Ini kunjunganku yang ke dua kali ke taman James Cook. Tahun lalu aku amat tidak mengenal lokasi ini. Sekarang aku sudah kenal malah masih terngiang bahwa dalam taman ini ada rumah kecil bersejarah, milik James Cook, yaitu penemu benua Australia. Rumahnya asli didatangkan dari England. Yaitu rumah James Cook yang di Inggris dilepaskan batu batanya dan semua material, kemudian dibawaka Australia dan dibangun kembali- mirip dengan bentuk semula di Inggris. Nah demikianlah cara orang Australia menghargai tokoh dan sejarah mereka.
            Enam bulan lalu aku cuma sekedar melihat lihat saja dan sangat hati hati agar aku tidak banyak menyentuh benda benda Australia- karena dikatakan oleh Pak Ismet bahwa itu termasuk salah satu larangan. Ternyata tidak pula sekaku hal tersebut.
            Kedatangan kali ini aku merasa lebih rileks. Kami mampir dari gerbang yang lain. Pada mulanya kami melihat lihat dari luar taman, termasuk melihat ritual falan-gong yaitu ritual milik keturunan China. Kemudian kami bergerak menuju museum conservatory dan mengabadikan segala sesuatu dengan kamera kami. Ternyata conservatory ini hanyalah sebuah rumah kaca dimana aneka warna bunga selalu dapat tumbuh sepanjang waktu, meski dalam musim dingin dan musim gugur.  


C. Colline Street
            Colline Street ini ibarat Jalan Sudirman buat kota Jakarta, yaitu jalan utama yang sangat sibuk dan tertata menarik. Kami sengaja ke jalan ini buat mencari restoran untuk makan siang- kami makan di restoran Thailand. Kebetulan restoran ini cukup dekat dengan penginapan kami di Rydges Hotel.
            Kami diantarkan dulu ke hotel dan setelah jam 6.00 sore kami diminta untuk berjalan ke restoran Thailand yang dimaksud. Aktu juga buru- buru turun dari lantai 16 di hotel itu dan akhirnya kami semua bisa menemui Restoran Thailand. Aku merasa nyaman dan cukup percaya bahwa makanan yang bakal kami santap adalah makanan halal, karena Reira Tour sudah memesan makanan halal buat kami di sana


[1] http://www.australia.com/id/about/key-facts/weather/melbourne-weather.aspx
[2] http://zonadamai.com/2013/04/19/peranan-australia-dalam-menghadapi-krisis-pangan-di-asia/

Sekilas Tentang Kota Melbourne



Sekilas Tentang Kota Melbourne

1. Geografi dan Sejarah
Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria di Australia. Melbourne merupakan kota terpenting kedua dari segi bisnis dan kedua terbesar di Australia serta kota terbesar di Victoria. Pada bulan Juni, 2011, Melbourne memiliki populasi 4.1 juta jiwa. Penduduk Melbourne biasanya disebut sebagai 'Melburnian'. Motto Melbourne adalah "Vires acquirit eundo" yang berarti "Kita bertambah kuat sejalan dengan kemajuan kita.
Melbourne terletak di dekat teluk besar alam, yaitu 'Port Philip Bay'. Pusatnya berada di muara sungai Yarra, dengan kawasan pinggiran di sekitar teluk ke arah timur dan barat. Ada 30 kotamadya di Melbourne, termasuk Melbourne City Council yang merupakan  daerah kecil terdiri dari kota dalam dan distrik bisnis terpenting.
Melbourne dirikan pada tahun 1835, setelah 47 tahun kolonisasi Inggris di Australia, dan merupakan ibu kota Australia tahun 1901-1927. Namanya diberikan oleh Gubernor NSW Sir Richard Bourke untuk menghormati mantan perdana menteri Inggris, William Lamb, yang Viscount Melbourne kedua. Melbourne dideklarasi sebagai kota oleh Ratu Britannia Raya Victoria pada tahun 1847, dan menjadi ibu kota jajahan Victoria pada tahun 1851. Pada masa 'Victorian gold rush' tahun 1850-an, Melbourne menjadi kota paling besar dan kaya di seluruh dunia.
Melbourne sering disebutkan sebagai ibukota budaya dan olahraga Australia. Pada tahun 1906, 'The Return of the Kelly Gang', film fitur pertama di dunia, diproduksi di Melbourne. Melbourne juga merupakan pusat Australian rules football, televisi, tarian, dan musik Australia.
Melbourne sudah empat kali mendapatkan predikat "The World's Most Liveable Cities" (kota paling nyaman untuk ditinggali) dari The Economist, yaitu pada 2002 dan 2004. Pada tahun 2011 dan 2012, Melbourne mendapatkan tingkat pertama dari The World's Most Liveable Cities. Daerah metropolis Melbourne juga memiliki jaringan trem listrik terbesar di dunia. Bandar udara utama untuk Melbourne adalah Bandar Udara Internasional Melbourne. Bandar Udara Avalon, yang terletak di daerah barat Melbourne, sedang dikembang sebagai bandar udara kedua.
Melbourne terletak di bagian tenggara benua Australia dan terletak di sekitar Port Phillip. Daerah pinggiran Melbourne berkembang mengikuti Yarra River ke arah Yarra dan Dandenong Ranges sedangkan di bagian selatan, perkembangannya terbagi ke dua arah disebabkan lokasi Melbourne sendiri. Ke arah barat terdapat Geelong yang terletak di Bellarine Peninsula sedangkan ke arah timur terdapat Frankston berbagai kota yang terletak di pinggir pantai seperti Rye dan Sorrento. Ujung Bellarine dan Mornington Peninsula hanya dipisahkan sebuah selat kecil dan di antara kedua tanjung ini tersedia layanan penyeberangan.

2. Penduduk, Olah raga dan Transport
Penduduk Melbourne umumnya adalah turunan dari pendatang dari Britania Raya, khususnya Inggris dan Irlandia yang sudah menetap sejak lama. Namun sejak puluhan dekade terakhir Melbourne mengalami peningkatan dalam jumlah pendatang. Tiga kelompok pendatang terbesar adalah dari Yunani, Italia dan Vietnam. Selain itu, ada pula komunitas Tionghoa yang cukup besar di kota ini.
Melbourne dikenal sebagai kota yang gila olahraga. Olahraga yang populer di Melbourne termasuk rugbi, kriket, tenis, sepak bola dan bola basket, namun yang paling populer adalah Australian Football atau yang akrab dipanggil footy oleh warga Melbourne. Olahraga footy memang identik dengan kota ini dan negara bagian Victoria secara umumnya; lebih dari setengah tim-tim yang bermain di AFL (Liga Australian Football) berasal dari Melbourne. Menyebut football di Melbourne berarti merujuk kepada olahraga ini, berbeda dari Sydney atau Canberra, di mana kata tersebut merujuk kepada rugbi.
Melbourne banyak menyelenggarakan kejuaraan olahraga internasional setiap tahunnya, mulai dari Formula 1, Australia Terbuka (tenis), Melbourne Cup (kejuaraan pacuan kuda handicap paling bergengsi di dunia) hingga pertandingan kriket pada bulan Desember yang terkenal. Pada tahun 2003, Melbourne merupakan salah satu kota yang menjadi tempat penyelenggaraan Piala Dunia Rugbi. Pada tahun 2006, Melbourne akan menyelenggarakan Pesta Olahraga Persemakmuran. Sebelumnya, kota ini pernah menyelenggarakan Olimpiade pada tahun 1956.
Setiap tahunnya kota ini menyelenggarakan beberapa festival yang cukup terkenal, di antaranya Festival Komedi Internasional Melbourne dan Festival Film Internasional Melbourne. Selain itu, Melbourne juga telah melahirkan beberapa artis ternama seperti AC/DC dan Kylie Minogue.
Kebanyakan warga Melbourne tergantung pada mobil sebagai mode transportasi utama, khususnya di kawasan luar yang memiliki kebanyakan mobil. Automobil pribadi semakin popular sejak abad ke-20, mengakibatkan pengembangan luas ke suluruh daerah metropolis Melbourne. Dewasa ini, Melbourne memiliki sistem jalan dan motorway yang luas, digunakan ooleh mobil pribadi, taksi, bis dan truk. Jalan raya terbesar ikut Eastern Freeway, Monash Freeway, West Gate Freeway, termasuk jembatan West Gate, dan Metropolitan Ring Road. Dua motorway, yaitu EastLink dan CityLink memungut tol.
Untuk ke kota lain di Australia dengan kendaraan, Melbourne memiliki jaringan jalan bebas hambatan yang sangat memadai. Antara Melbourne dan Sydney dapat melalui Hume Highway yang juga melalui kota lain seperti Goulburn dan Yass. Untuk ke Adelaide, tersedia Princes Highway.
Transportasi umum di Melbourne dilayani oleh kereta api, trem, dan bus. Layanan ini sudah terintegrasi dalam jaringan bernama PTV sehingga satu karcis Myki dapat digunakan untuk ketiga layanan tersebut. Stasiun utama kereta api Melbourne adalah Flinders St., dan kerata api antarnegara berangkat dari Stasiun Southern Cross. Jalur kereta api pertama dibangun antara kota Melbourne dan Sandhurst pada tahun 1853. Masa ini, jaringan daerah metropolis ikut 200 stasiun dan 16 jalur yang memusatkan di 'City Loop', bagian jalur bawah tanah yang mengelilingi pusat kota. Dari stasiun Southern Cross, ada jalur langsung ke kota Sydney dan Adelaide, serta Geelong, Ballarat, Bendigo, Bairnsdale dan Seymour dengan V/Line.
Melbourne juga memiliki jaringan trem listrik terbesar di dunia, dan satu-satunya di Australia yang terdiri dari beberapa jalur. Pada tahun 2010-11, ada 182.7 juta perjalan naik trem, sepanjang 250km ban, 28 jalur dan 1773 halte trem. Kebanyakan jaringan terletak di median atau tengah jalan, tapi ada bagian kecil yang memiliki jalur khusus. Trem Melbourne dianggap artifakt budaya yang daya tarik ikonis. Di lingkar kota, ada jalur trem gratis yang pakai kereta pusaka.

Mampir Lagi Ke Melbourne



Mampir Lagi Ke Melbourne

1. Bagai dalam mimpi
            Kami semua ikut boarding. Aku lihat juga ada pesawat lain yang rutenya menuju Darwin, Perth, Brisbane, Melbourne dan Sydney. Enam bulan lalu aku terbang dari Jakarta menuju Sydney dan kalau sekarang dari Bali menuju Melbourne dan baru ke Sydney.
Pesawat Garuda akhirnya meninggalkan langit pulau Bali selepas senja. Tidak banyak yang dapat aku kerjakan dalam pesawat, lebih enak tidur. Aku segera memejamkan mata meski telinga tidak seratur persen tertidur. Sekali- sekali aku membuka mata buat mencolek- colek monitor game di punggung kursi depan. Pramugari sudah mulai mengedarkan snack dan minuman.
Aku sengaja menahan selera, seolah-olah jadi malas buat minum juice sunripe, karena aku juga males sering sering pergi ke toilet. Suhu dingin ruang pesawat sudah mulai menusuk tulang dan untung aku membawa jaket, kalau tidak tentu aka bakal diterjang kedinginan.  Aku kapok dengan pengalaman enam bulan lalu, aku lupa bawa jaket dan aku jadi merasa sengsara.
Aku sempat terlelap, walau tidak lama namun lumayan untuk menyegarkan tenaga. Sehingga merasa fresh lagi. Pramugari mendorong kereta buat menyajikan makan dan mungkin ini buat sarapan, meski belum masuk waktu pagi. Aku juga merasa lapar dan hampir tidak sabar buat menunggu giliran sarapan. Kami tidak merasa ragu atas kehalalan makanan. Itulah enaknya kalau kita terbang dengan pesawat Garuda dan para awaknya juga orang Indonesia yang sangat mengerti betapa pentingnya menyajikan makanan halal buat penumpang beragama Islam.
Segera setelah sarapan kamipun disuguhi formulir yang musti kami isi. Formulir ini adalah dokumen yang harus diserahkan ke immigrasi nanti. Namun kami tidak perlu repot- repot karena Mas Rachman, sebagai tour leader, sudah menyediakan dan sekaligus mengisikan formulir buat kami. Kami tinggal lagi membubuhkan tanda tangan saja.
Aku memperkirakan masih tengah malam untuk ukuran waktu di Indonesia. Namun kami terbang menyonsong arah Timur sehingga siang datang lebih cepat. Ya waktu subuh sudah datang. Aku duduk disamping Nurhadi. Aku segera melakukan tayamum- menempelkan telapak tangan ke debu pada dinding bangku dan menyapukannya pada wajah dan kedua belah tangan. Itu sudah cukup buat isyarat untuk sholat subuh. Aku segera sholat subuh dan tidak peduli pada petugas yang lalu lalang dan juga bule- biule yang melihatku lewat sudut matanya. Di sebelahku, Nurhadi, juga melakukan sholat subuh.
Wah ada perasaan lega dan plong setelah sholat. Cahaya pagi menusuk lewat jendela. Beda waktu Melbourne dan Bali hanya 2 jam saja. Ya setelah terbang semalaman suntuk akhirnya pesawat telah berada di langit Melbourne. Aku melihat bumi Melbourne yang sangat datar. Tidak ada pegunungan kecuali hanya bukit bukit rendah saja.

2. Pemeriksaan Khusus
“Kota Melbourne memang sepi tetapi terlihat rapi”.
Kami turunan dalam rombongan dan semua menuju immigrasi. Aku sudah merasa familir dengan tempat ini karena 6 bulan juga lewat di sini. Wah petugas meminta kami berbaris dalam rombongan khusus dari penumpang lain. Tidak apa..apa, tentu saja kami patuhi peraturan mereka.
Kami sekarang dalam pemeriksa. Kami semua ada 16 orang- 10 orang para guru dan 6 orang dari kementrian. Semua berdiri dibelakang tas dan bagasi masing- masing. Berarti kami dalam pemeriksaan khusus. Setelah semuaberdiri, kemudian seorang petugas wanita menarik seekor anjing gede dan anjing tersebut mengendus kami dan juga setiap tas dan bagasi kami. Aku khawatir kalau kalau anjing tersebut salah cium- jangan jangan kulit beraroma narkotika atau bararoma bumbu ayam. Mana tahu anjingnya sedang lapar dan aku bisa diperlakukan jadi ribet.
Tiba tiba anjing mengendus tas tentengan milik Ibnu Hajar dan setelah itu anjing itu duduk, seolah olah memberi tahu bahwa tas Ibnu Hajar musti dicurigai. Betul tas tersebut dipisahkan dan termasuk Ibnu Hajar harus ke luar dari barisan. Ia diminta untuk membongkar semua isi tasnya. Semua tidak yang mencurigakan kecuali hanya ada sisa sisa abon daging sapi yang sempat terbawa dalam tas.
“Ohhh, Ibnu Hajar bawa abon tadi. “ Tasnya sudah steril dan Ibnu Hajar terlihat jadi lega dan bebas dari rasa tegang lagi. Kami selanjutnya bergerak ke proses pemeriksaan selanjutnya.  Setelah selesai memperoleh cap pada buku passport. Kami terus bergerak hingga kami melihat tulisan “Welcome in Melbourne Airport”.
Bandar Udara Internasional Melbourne, juga dikenal sebagai Bandar Udara Tullamarine[1], adalah badnara utama yang melayani kota Melbourne dan bandara tersibuk kedua di Australia. Bandara ini dibuka pada tahun 1970 untuk menggantikan Bandar Udara Essendon di dekatnya. Bandar Udara Melbourne adalah satu-satunya bandara internasional dari empat bandara yang melayani wilayah metropolitan Melbourne. Bandara ini berada di 23 kilometer (14 mil) dari pusat kota Melbourne. Bandara ini berada di dalam kota Tullamarine.
Rute penerbangan Melbourne—Sydney merupakan rute penerbangan yang paling banyak mengangkut penumpang keempat di dunia dan yang tersibuk kedua di wilayah Asia Pasifik. Bandara ini memiliki penerbangan langsung menuju 33 detinasi di seluruh negara bagian dan teritori di Australia ditambah dengan sejumlah destinasi di Oseania, Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Melbourne merupakan destinasi paling populer di antara lima bandara di tujuh ibukota negara bagian Australia. Melbourne menjadi hub utama bagi Qantas dan Virgin Australia, sedangkan Jetstar Airways dan Tiger Airways Australia menggunakan bandara ini sebagai basis utama. Melbourne merupakan bandara tersibuk untuk kargo ekspor internasional, dan bandara kedua tersibuk untuk impor internasional. Untuk penerbangan dmestik, Melbourne menjadi kantor pusat bagi Australian air Express dan Toll Priority dan menangani lebih banyak kargo domestik dibandingkan bandara lain di negaranya. Bandara ini memiliki empat terminal: Satu terminal internasional, dua terminal domestik, dan satu terminal domestik bertarif rendah.
Nama kota Tullamarine berasal dari bahasa aborogin. Aborigin sendiri adalah salah satu suku asli Australia dan berasal dari Polynesia. Kata lain dari Aborigine adalah juga Bushmen atau orang rimba. Kami segera masuk bis wisata dan kami disambut oleh pengemudi berwajah China, namanya Michael.
Segera Michael mengemudi mobil dan mengantarkan kami buat berwisata. Bis meluncur meninggalkan Bandara Tullamarine melalui jalan toll yang sangat bagus. Aku melihat semua sisi jalan toll di sini diberi pagar. Itu berguna buat mengurangi kebisingan agar penduduk yang bermukim dibalik jalan toll tidak terganggu oleh suara bising dari kendaraan yang lalu lalang.   



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Udara_Internasional_Melbourne

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...