Rabu, 31 Juli 2013

Kuliah Gratis ke Prancis: Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri Prancis

Kuliah Gratis ke Prancis

Judul Buku     : Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri Prancis
Penulis           : Marjohan Usman dan Ranti Komala Dewi
Penerbit          : Diva Press
Cetakan          : I, Oktober 2012
Tebal               : 254 Halaman
Peresensi     : Masduri*)

Membaca judul buku di atas, saya langsung teringat hadis Nabi  Muhammad tentang motiviasi belajar, yakni “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Jika dalam hadis ini disebutkan tuntutlah ilmu walau ke Negeri Cina, sedangkan dalam buku tersebut tuntutlah ilmu sampai Negeri Prancis. Sebenarnya hadis Nabi tersebut merupakan bentuk motivasi bagi umat Islam agar ia senantiasa menuntut ilmu untuk kemajuan pradaban Islam dan dunia. Sebagian Ulama berpendapat, jika hadis itu sebenarnya hanya motivasi belajar kepada umat Islam agar ia meuntut ilmu walaupun ke tempat yang jauh.
Cina hanya ilustrasi tentang tempat yang jauh. Ada juga yang berpandangan, jika Cina waktu itu adalah negeri yang maju. Maka makna Cina bisa juga dipersonifikasikan sebagai negara yang maju. Dengan demikian, Islam sangat mendorong umatnya menuntut ilmu ke tempat yang jauh dan negara maju. Dorongan ini secara tidak langsung, mempertegas jika Nabi menginginkan umat Islam berperadaban tinggi, tidak jumut, dan tertutup dari modernitas.
Maka buku “Tuntutlah Ilmu Sampai Negeri Prancis” yang ditulis oleh Marjohan Usman dan Ranti Komala Dewi tersebut penting menjadi bacaan anak-anak muda sebagai motivasi diri agar terus menggelorakan semangatnya untuk menungut Ilmu. Buku tersebut berisi pengalaman langsung dari seorang anak desa dari pedalaman Padang Genting, Batu Sangkar, Sumatera Barat.
Anak tersebut tidak lain salah satu penulis dalam buku ini, yakni Ranti Komala Dewi. Anak perempuan dari pedalaman Sumatera Barat ini penting menjadi sosok yang diteladani para pelajar dan mahasiswa. Kesungguhannya dalam belajar telah mampu menembus batas-batas ketidak mungkinan yang mengekang dirinya. Meski seorang perempuan yang selama ini dianggap lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa, Dewi mampu membalik stereotip tersebut. Ia bisa kuliah ke Universitas Sorbonne Paris, Prancis.
Keberuntungan kuliah ke Prancis berawal saat ia mendaftarkan diri sebagai peserta beasiswa double degree  S2 jurusan Pariwisata Universitas Udayana Bali. Perjuangannya untuk bisa kuliah di Bali terwujud, bahkan ia langsung mendapat jatah untuk bisa belajar di Prancis. Luar biasa bukan? Mendaftar satu kali, tapi berkesempatan kuliah di dua kampus dan juga mendapatkan dua gelar.
Satu hal yang membuatku excited dalam menjalani hari-hari kuliahku adalah program double degree ini masih mensyarakatkan kuliah lanjutan di Sarbonne atau Universitas Angers di Paris, Pramcis. Ah, Prancis. Sejak dulu aku memimpikan bisa pergi ke negeri yang sangat indah itu. Karena itu, selain sibuk kuliah aku juga menyempatkan diri untuk ikut kegiatan belajar di Alliance Prancaise untuk belajar bahasa Prancis. Program kuliah double degree yang merupakan kerja sama antara Universitas Udayana dan Pemerintah Prancis mensyaratkan mahasiswanya harus menguasai Bahasa Prancis dan ikut belajar Bahasa Prancis.  Kemampuan ini sangat menentukan bisa tidaknya seorang mahasiswa melanjutkan studi ke Paris (hal 96).
Tentu, buku ini penting menjadi bacaan para pelajar dan mahasiswa sebagai motivasi diri untuk mendongkrak dirinya tetap menjaga semangat dan kerja keras dalam memperjuagkan mimpinya kuliah ke luar negeri. Kisah perjalanan dalam buku ini sangat mengharukan dan membuat semangat akan membeludak.

*)Masduri, Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Bidik Misi (AMBISI) dan Pustakawan Pesantren Mahasiswa (PesMa) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Inspirasi Sukses Guru Berprestasi

Inspirasi Sukses Guru Berprestasi

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Buku KORAN SINDO, Minggu, 2 Juni 2013

Judul Buku: Kisah Dahsyat Guru Berprestasi Selangit Penulis: Marjohan, M.Pd. Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, April 2013 Tebal: 187 halaman ISBN: 978-602-255-117-1 
 
Guru adalah kunci sukses pendidikan. Dalam setiap kebijakan pendidikan, guru adalah ujung tombaknya. Keberadaan guru tak mungkin diabaikan terkait maju mundurnya kualitas pendidikan. Sesungguhnya negeri ini menantikan lahirnya guru berkualitas dan berprestasi dalam profesinya.  
Lewat buku ini, inspirasi itu bisa didapatkan dari pengalaman langsung guru berprestasi nasional tingkat SMA versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada tahun 2012. Marjohan, kini guru SMAN 3 Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menyuntik semangat dan tekad bagi calon guru/guru untuk tak menjadi guru biasa-biasa saja. Atas permintaan berbagai pihak, buku ini dituliskan guna dipetik pelajaran dan motivasi. 
Marjohan, sejak kuliah di Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang), berusaha mengembangkan diri dan karakter. Ia bekerja part time dengan menjadi pemandu wisata dan memberi les privat bagi anak-anak (hlm. 32). Selain itu, ia rajin membaca dan melatih keterampilan menulis. Perlahan, ia memberi target kepada diri sendiri agar membaca minimal 100 halaman setiap hari. Bila liburan, targetnya menamatkan 4-5 judul buku. Dengan banyak membaca, mengayakan wawasan dan informasi. 
Ketika menjadi guru, ia berprinsip menjadi guru plus. Tak menjadi guru yang aktivitasnya hanya monoton.  Prinsip belajar sepanjang hayat diresapi. Meskipun bidang studi mengajarnya bahasa Inggris, ia juga belajar secara otodidak guna menguasai bahasa Prancis, Arab, dan Spanyol. Bidang sosial dan kemanusiaan digelutinya. Ia ingin menjadi guru yang memiliki kepintaran berganda, yang menguasai bidang studi, seni berkomunikasi, bahasa asing, serta terampil dalam menulis. Tentu tak lupa menguasai kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Di tengah kesibukan mengajar, ia tak alpa membaca buku tentang pedagogik, psikologi, filsafat, biografi, dan kisah-kisah pencerahan. Ia pun produktif menulis di media massa dan menulis buku (hlm. 37-42). 
Kebiasaan membaca dan menulis tentu bermanfaat bagi guru. Diakui atau tidak, guru di negeri ini masih lemah terkait hal tersebut. Hal ini terbukti salah satunya dari mandeknya kenaikan golongan guru yang mensyaratkan karya tulis ilmiah yang berupa artikel ilmiah populer, makalah, buku, diktat, modul maupun karya penelitian. Membuat karya tulis kerapkali menjadi sandungan. Karena tak mampu dan kurang mau menulis, guru mentok di golongan IV/a. Terlalu sedikit guru yang menembus golongan IV/b, apalagi golongan IV/d. Selain itu, dengan tekun membaca dan menulis, guru akan mampu memperkaya dan mengembangkan keilmuannya.  
Untuk dapat menjadi guru berprestasi, pembelajaran kepada siswa tak bisa dialpakan. Bagi Marjohan, menjadi guru dengan hati adalah prinsip. Rasa simpati secara tulus kepada siswa perlu diberikan. Menurutnya, pendekatan humanisme penting bagi guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, aktivitas fun learning perlu diciptakan, yaitu suasana belajar yang membuat siswa selalu bersemangat dalam melakukan eksplorasi intelektual (hlm. 48). Di matanya, tak ada siswa yang nakal, bandel, atau suka mengganggu. Yang ada hanyalah siswa yang mengalami skin hunger atau yang rindu akan belaian kasih sayang, Bila guru melihat seorang siswa dianggap mengganggu, maka jangan dimarahi, dicerca, dihardik, apalagi diusir. Guru harus bersahabat dengan siswa, mencintai siswa secara utuh, dan menerima karakter mereka apa adanya (hlm. 50). 
Baginya, kesuksesan  perlu  diperoleh melalui proses panjang yang diperkuat dengan motivasi diri secara total, bukan setengah-setengah. Aktifkan motivasi dalam diri. Banyak orang lebih mudah dimotivasi orang lain ketimbang memotivasi dirinya sendiri. Terlalu tergantung pada lingkungan untuk memotivasi tentu hal yang tidak baik. Sebab, bila tak ada orang yang memberikan motivasi, maka kita akan stagnan dan tak berdaya. Apalagi, banyak orang yang kita jumpai malah mematikan karakter dan semangat (hlm. 147-149).
Ia juga menekankan kepemilikan karakter untuk berprestasi yang hebat. Karakter tersebut antara lain bertekad baja, memiliki visi dalam berkarya, tekun dan tabah, selalu berpikir positif, bersemangat dan antusias, memiliki kemampuan relasi antarmanusia, bersikap kreatif, bersikap jujur, pandai berkomunikasi, dan selalu bersikap konsisten. Dalam pesannya, ia mengajak segenap warga sekolah untuk menghargai waktu. Saat semangat kerja keras dan menghargai waktu mulai langka di sekolah, marilah kita menjadi pionir dengan harapan mampu meningkatkan kualitas diri dan bangsa ini (hlm. 156-169).
Buku ini perlu dibaca sebagai inspirasi calon guru/guru untuk tak sekadar puas menjadi guru biasa-biasa saja. Jadilah guru berprestasi dan tak letih belajar mengembangkan diri. Begitu. (HENDRA SUGIANTORO).

Catatan Harian Guru Inspiratif di Negeri Kanguru

Catatan Harian Guru Inspiratif di Negeri Kanguru

Buku ini ditulis oleh Marjohan, M.Pd., seorang guru berprestasi tingkat nasional sekaligus penerima anugerah Satyalencana yang berasal dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sejak kecil ia bermimpi ingin berkunjung ke Benua “kecil” yang indah, sebuah Benua dimana hewan Kanguru itu berasal. Mimpi itu menjadi sempurna saat ia meraih predikat guru berprestasi tingkat nasional dan mendapat reward dari pemerintah untuk mengikuti studi banding pendidikan ke Australia.
Dalam buku ini, Marjohan menuliskan sejengkal demi jengkal kisah perjalanannya selama berada di Negeri Kanguru. Banyak kisah menarik dan inspiratif yang dituangkan penulis dalam buku ini. Secara umum Australia memang jauh lebih maju dan lebih disiplin dari pada Indonesia. Tanpa bermaksud untuk memuji negara lain dan merendahkan negara sendiri, tetapi Marjohan mencoba melihat Australia dengan objektif.
Sebut saja dari sistem pendidikan, Australia merupakan salah satu negara yang sangat memperhatikan kualitas pendidikan, mulai dari kualitas guru hingga tingkat kedisiplinan siswa. Guru di Australia diwajibkan mampu mendorong siswa guna mengasah ketrampilan yang dimiliki, misalnya berpikir kritis, belajar mandiri, mengetahui potensi diri serta belajar seumur hidup. Di Australia juga lebih mengedepankan nilai-nilai pendidikan karakter yang menjadi aspek kunci dari kebijakan pemerintah. (hal.116)
Sedangkan untuk meningkatkan tingkat kedisiplinan siswa, Pemerintah Federal Australia memberikan dana tambahan kepada sekolah-sekolah guna meningkatkan kehadiran murid-muridnya. Selain itu, orang tua siswa juga diancam terkena denda bila mereka terbukti mengizinkan atau membantu anak mereka bolos dari sekolah, dendanya bisa mencapai 11.000 dolar Australia (sekitar 110 juta rupiah). (hal.151) Sama halnya dengan di Indonesia, membolos juga merupakan masalah dalam dunia pendidikan di Australia. Namun bedanya, Pemerintah Australia lebih serius dalam mengatasi masalah siswa yang suka membolos sekolah.
Tidak hanya disiplin dalam bidang pendidikan, warga Australia juga terkenal disiplin ketika berkendara di jalan raya. Pengguna sepeda di Australia harus mematuhi trafffic light, mereka juga harus berhenti bila lampu merah menyala. Berbeda dengan di Indonesia, traffic light hanya dipatuhi oleh pengemudi sepeda motor dan mobil saja. Sementara pengendara sepeda boleh menerobos jalan raya kapan saja. (hal.108)
Melalui tulisan ini, Marjohan seolah menegaskan perannya sebagai seorang guru yang selalu mendidik dan menginspirasi. Selain beberapa hal yang telah dijelaskan di atas, banyak hal yang ditulis Marjohan dalam buku ini. Ia mencoba mengajak para pembaca belajar dari keadaan warga Australia yang terkenal disiplin. Dan semua hal tersebut tentunya sangat bermanfaat bagi pembaca untuk terus introspeksi diri menjadi seorang pribadi yang lebih baik.
Inilah buku inspiratif dan edukatif yang wajib dibaca oleh para guru, pelajar, mahasiswa atau siapapun yang hendak meraih sukses dengan mengawali dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat membaca!
Judul Buku : Melbourne Memang Dahsyat
Penulis : Marjohan, M.Pd
Penerbit : DIVA Press
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7933-57-6
* Peresensi : Muhammad Shobaruddin, pengelola Rumah Baca “Masa Depan” PesMa al-Firdaus Semarang dan Pengurus CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

http://esq-news.com/2013/berita/07/03/catatan-harian-guru-inspiratif-di-negeri-kanguru.html

Senin, 08 Juli 2013

Mari Ciptakan Jembatan Ampera Yang Bebas Dari Kriminal



Mampir Ke Palembang

1. Study- Tour
            Siapa saja yang ingin berpergian ke luar negeri tentu harus menyiapkan dokumen seperti visa dan passport. Demikian juga halnya dengan aku. Aku menerima surat pemberitahuan untuk mengikuti program benchmarking ke negara kangguru ini. Ada dua lembar formulir yang disisipkan dalam amplop yang harus aku isi, yaitu formulir permohonan passport baru dan formulir perpanjangan passport.
            “Aku sudah punya passport dan masih berlaku untuk 3 tahun lagi, apa musti mengurus passport baru  atau perpanjangan passport lagi ?”. Aku bertanya pada istri atau juga pada beberapa teman, namun jawaban mereka tidak begitu memuaskan.
            Aku menelpon ibu Aat Rachminawati untuk memperoleh penjelasan tentang itu, ia bekerja di Dirjen pPendidikan Menengah. Aku tanya tentang apa beda passport biru dengan passport hijau ? Lebih baik bertanya daripada pura-pura sudah tahu. Katanya bahwa passport biru adalah passport dinas dan keberangkatan dibiayai negara, sementara passport hijau adalah passport umum dan biaya tanggung sendiri. O…begitu jadi aku harus juga ngurus passport biru.
            Sambil menunggu kelanjutan perkembangan dokumen aku mengikuti kegiatan harian di sekolah, meski dalam suasana libur. Aku mampir ke sekolah paling kurang untuk mengupdate informasi lewat layanan WiFi sekolah.
            Bulan Juni merupakan bulan terakhir untuk tahun akademik. Biasanya untuk menyambut kedatangan tahun akademik baru semua sekolah dan juga sekolah kami melaksanakan kegiatan lokakarya. Guru guru SMAN 3 Batusangkar- sekolahku- melakukan lokakarya separoh waktu di sekolah dan sisanya di luar sekolah.
            Ada 4 lokasi yang diusulkan untuk lokasi lokakarya yaitu di Bukittinggi, Medan, Pekan Baru atau Palembang. Keinginan teman teman sangat beragam menurut logika dan alasan masing- masing. Aku dalam hati lebih tertarik untuk memilih kota Palembang, karena pada tahun- tahun sebelumnya kami pernah berada di tiga kota sebelumnya.
            Untuk mengambil keputusan maka dilakukanlah voting. Maka mayoritas memilih lokasi lokakarya di Palembang. Akhirnya semua guru setuju dan amat senang untuk melakukan lokakarya dan sekaligus study banding, juga rekreasi di kota Palembang. Kami malah mengusulkan agar keluarga (istri/suami dan anak) bisa ikut.
            Semua setuju. Arjus Putra- sebagai ketua lokakarya- menjadi lebih sibuk mengurus rencana perjalanan dan juga akomodasi selama di Palembang. Kebetulan 4 minggu lalu aku berada di Palembang untuk tujuan memberi seminar- menjadi nara sumber- seminar guru menulis di IAIN Raden Fatah Palembang.
            Saat itu ketua acara seminar adalah Rini Wahyu Asih, maka aku juga menelpon tentang akomodasi. Namun akhirnya teman Arjus Putra bisa membantu segala sesuatu dengan baik. Kami diberitahu tentang dimana hotel kami dan sekolah mana yang bakal dikunjungi.    

2. Bertolak ke Palembang
            Kami sepakat untuk berangkat ke Palembang hari Sabtu, namun Emi Surya (istriku) batal untuk ikut karena ia harus mengikuti pelatihan manajemen laboratorium. Jadi hanya Fachru dan Nadhilla (ke dua anakku) yang ikut. Aku menyuruh mereka untuk menyiapkan pakaian dan kebutuhan lain- seperti sampo, sabun, buku cerita dan game buat mereka.
Yang aku tidak lupa adalah aku harus menyiapkan obat anti mabuk, makanan dan minuman ringan buat antisipasi selama perjalanan. Aku juga membeli 2 kg apple buat bertiga selama 5 hari.  Aku merasa bahwa mengkonsumsi buah seperti apple, jeruk dan buat yang kaya serat serta vitamin sangat bagus untuk menjaga kesegaran dan kesehatan pencernaan kita.
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh dan terlama buat anak-anakku dan mereka hampir tidak sabar menunggu datangnya hari Sabtu. Tidak sabar tentu saja merupakan cirri khas anak-anak dan juga para remaja.
Akhirnya hari keberangkatan pun datang. Hari Sabtu jam 01.30 siang, semua peserta lokakarya dan juga keluarga telah berkumpul di depan gedung Indo Jolito(rumah dinas Bupati Tanah Datar). Saat itu mobil belum bisa berangkat kecuali kalau 2 orang yang kami tunggu sudah datang. Mereka adalah Muscandra dan Dian Hastuti. Keduanya adalah teman kami yang paginya harus ikut acara wisuda sebagai sarjana baru pada STIE Batusangkar.  
Setelah anggota rombongan lengkap akhirnya mobil kami berangkat menuju Palembang. Dari Batusangkar mobil mengambil arah ke Setangkai- Lintau, dan terus meluncur ke Sijunjung dan Dharmasraya. Suasana mobil cukup nyaman dengan AC dan bangku yang cukup luas. Namun kadang- kadang timbul juga rasa bosan, apalagi untuk menempuh jarak sekitar 700 km atau selama 18 jam. Sehingga anakkusering bertanya:
 “Apakah Palembang sudah dekat……berapa jam lagi mibilnya sampai ?”
Itulah enaknya kalau mobil bisa kami request untuk berhenti. Ada beberapa kali mobil berhenti. Setiap kali berhenti anak- anak bisa memulihkan mood (suasana hati) mereka dengan menikmati jajan- minuman dan makanan ringan. Kami juga berhenti pada tempat lain untuk melakukan sholat. Aku mengajak anak- anak untuk sholat, melakukan jamak dan qashar, karena ini biasa dilaksanakan oleh para musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh.
Menjamak sholat berarti…… Meng-qashor sholat berarti……. Dengan cara demikian anak- anak juga memperoleh pengalaman langsung dalam menunaikan agama dalam hidup mereka.
Itulah harapan orang tua, yakni bagaimana anak juga memahami bahwa sholat itu sangat penting. Sholat sebagai media bagi kita untuk mendekatkan hati dan diri pada Allah SWT, Sang Pencipta jagad raya ini.        
Aku perhatikan bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang bisa tertidur lelap dalam mobil- kecuali beberapa orang anak kecil. Untuk membuat anak-anak bisa betah, aku melihat mereka cukup pintar, mereka membawa makanan, minuman, game/ sarana hiburan dan bacaan. Benda- benda tersebut mampu mengusir kebosanan mereka.
Demikian pula dengan anakku, Fachrul sibuk bercanda dengan temannya anak Arjus Putra, sementara Nadhilla sibuk membaca atau menonton atau dengar musik lewat androitnya yang telah dibawa sejak dari rumah. Sekali- sekali ia ngobrol dengan Pak Alfian Jamrah. Anakku merasa kagum bisa ngobrol dengannya sehingga ia sempat bertanya:
“Ayah…, mengapa Pak Alfian luas wawasannya ?” Tanya Nadhilla dengan lugu- ya pertanyaan seorang anak SD.
“ Tentu…karena Pak Alfian adalah seorang mahasiswa program Doktor, sebelumnya sebagai Kepala Dinas Pariwisata, seorang penulis untuk koran-koran Sumatera Barat dan juga seorang pembaca”. Kataku menimpali. Suaraku sampai terdengar oleh Alfian Jamrah sehingga ia merasa geli mendengar percakapan kami.
Setelah menempuh jarak Batusangkar- Palembang selama 18 jam, akhirnya mobil kami berhenti di depan sebuah resto. Semua penumpang turun mencari makanan untuk mengisi perut yang sudah kelaparan. Beberapa saat kemudian Harpen Namaidi- adikku- menelpon ke hapeku. Aku segera merespon bahwa kira- kira 2 jam lagi kami sudah berada dalam kota Palembang dan kami semua menginap di Budi Hotel, yang lokasinya persis dalam kota metro Palembang.     

3. Kecopetan Hape di Palembang
            Tidak lama berselang setelah kami cek-in hi Hotel Budi, hapeku bordering. Rupanyan Harpen Namaidi dan Fitria (istrinya) mau datang segera ke hotel. Mereka telah berjanji buat mengajak kami buat ke resto- makan siang yang enak. Aku tahu resto atau rumah makan tersebut milik orang Padang. Kita akui bahwa naluri bisnis kuliner orang Padang terkenal sangat bagus.
            Usai makan siang di resto, Harpen membawa kami ke Kenten Laut buat berjumpa dengan Suwirman- kakak kami yang paling tua yang bertugas sebagai guru SMK di Metro Palembang ini. Pertjumpaan tersebut sangat berguna untuk mengakrapkan anak- anakku dengan paman mereka. Orang tua perlu mengajarkan pada anak bahwa silaturahmi perlu untuk dipelihara.
            Kami tidak bisa berlama- lama di Kenten Laut dan aku minta Harpen mengantarkan aku sekitar jam 04.00 sore ke pinggir jembatan Ampera karena rombongan kami bakal rekreasi di sana, jadi di sanalah rendezvousnya (tempat janjiannya). Harpen segera mengantarkan aku ke sana dan sebelum turun ia menitip pesan agar aku berhati hati karena kawasan seputar Jembatan Ampera rawan dengan copet atau pencurian.
            “Waspada dengan dompet, uang, hape, kartu kredit dan peralatan elektronik. Hindari memakai perhiasan di sana”. Demikian nasehat Harpen padaku. Aku mendengar nasehat tersebut sebagai sesuatu hal yang wajar saja dari seorang adik ke kakaknya.
            Nadhilla ikut denganku dan Fachrul ikut lagi dengan Pak De nya (harpen) untuk mengitari kota. Aku bergabung dengan grup/ rombongan kami yang sudah duluan melangkah ke pinggir jembatan Ampera. Dari kejauhan terlihat jembatan Ampera menjulang dengan anggunnya. Aku ingin agar pinggir jembatan Ampera bisa menjadi tempat turis yang menarik ibarat pinggir sungai di mana patung Merlion bertengger di negara Singapura.
            Aku juga melangkah melalui sebuah gang sempit dan ramai. Aku menjadi sadar saat ada tangan asing menyeret sisi celanaku. Ya ampun hapeku raib……!!! Aku segera menoleh kebelakang dengan secepat kilat dan aku jumpai Hendra Zuher (temanku) tengah memegang lengan seorang pemuda bertubuh ceking dan rambut dicat coklat. Kami segera memegang tangannya lebih kuat dan mengintoregasinya.
            “Kamu pencopet…, telah menyambar hapeku. Mohon serahkan…..???” Pintaku memaksa. Orang- orang datang berkerumun menyaksikan. Ada yang bersimpati padaku dan mereka juga memaksa pemuda pencopet itu untuk menyerahkan hapeku. Hape itu diperkirakan telah dioper ke temannya yang sempat melarikan diri.
            Pemuda pencopet itu bersumpah- sumpah bahwa ia bukan pencopet. Dia mengatakan bahwa ia adalah orang baik-baik, iahanya tukang ojek, kemudian pernyataannya berubah bahwa ia tukang parkir. Beberapa saat kemudia ada yang datang membelannya yang penampilannya serupa. Mereka juga meminta kami untuk membebaskan temannya, karena temannya bukan pencopet….temannya orang baik- baik… hanya sebagai tukang parkir.
Mood kami dan juga suasanahati teman- temanku yang lain juga jadi tidak enak. Karena pinggir Jembatan Ampera yang cantik itu adalah sarang pencopet. Dan aku berfikir bahwa aku bukan orang sana, kampungku jauh di Batusangkar. Aku khwatir kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi maka kami semua bubar dari wilayah itu. Wilayah dimana aku jumpai banyak pemuda berwajah sangar.
Jembatan Ampera yang megah terlihat tidak megah lagi. Pantesan tidak banyak wisatawan manca negara yang berkunjung ke kawasn tersebut karena terdeteksi sebagai wilayah yang tidak aman. Temanku mengatakan bahwa daerah tersebut menjadi daerah empat besar di Indonesia sebagai daerah tidak aman.
“Aku tidak sedih kehilangan hape. Yang aku sedihkan bahwa aku kehilangan banyak dokumen dalamnya- ada catatan, ada nomor telepon penting, foto dan rekaman film yang bersejarah menurutku. Ambilah hape itu namun mohon kembalikan kartu simnya”. Demikian aku sempat bermohon pada sang pencopet. Namun sang pencopet membersihkan diri sebagai orang baik- baik.
Meskipun hapeku hilang di Palembang namun aku tetap mencintai kota Palembang, aku tetap mencintai Jembatan Ampera. Palembang adalah kotaku di negaraku tercinta. JembatanAmpera adalan Icon buat bangsaku. Namun aku bermohon kepada stakeholder dan masyarakat Palembang untuk membuat kota Palembang menjadi daerah yang palling aman di dunia, paling kurang daerah yang paling aman di Pulau Sumatra agar wisatawan mancanegara kangen buat bertandang ke sana.        
Menciptakan Jembatan Ampera bebas dari kriminal…….
 


Back To Australia
A. Sebuah Kesempatan

1. Sepucuk Surat
            Dalam anganku ada keinginan untuk bisa menginjakan kaki  ke benua Eropa. Sejak zaman dulu hingga sekarang benua Eropa merupakan daerah yang sangat fenomena. Banyak kisah inspirasi dari tokoh dunia berasal dari daerah ini. Aku juga bisa menyatakan bahwa benua Eropa merupakan ibu dari 4 benua lainnya. Juga banyak bahasa dari bangsa- bangsa di Eropa- seperti bahasa Inggris, bahasa Portugis, bahasa Spanyol dan bahasa Perancis- dipakai oleh banyak orang di seluruh dunia. Itulah alasanku mengapa aku sangat mendambakan untuk bisa berkunjung ke benua ini.  
            Tiba-tiba Rani, salah seorang staf TU SMAN 3 Batusangkar- menyodorkan sepucuk surat yang baru diantarkan oleh petugas Pos. Ada tulisan “amat segera” tertera pada amplop surat. Rasa ingin tahuku hampir tidak bisa dibendung. Apa kabar baik yang bakal segera datang ?
            “Mungkin ada kabar untuk kunjungan ke Jepang, Korea atau salah satu negara di Eropa. Wah aku pengen bisa terbang ke Eropa, mungkin ke Findlandia yang terkenal dengan kualitas pendidikannya, atau ke Spanyol, atau mungkin ke Perancis agar aku bisa menaklukan puncak menara Eiffel (?). Ya aku pengen bisa ke Perancis aku bisa menggunakan bahasa negara ini- bahasa yang sudah aku pelajari sejak 15 tahun yang lalu. Sekalian aku bisa singgah di Notre Dame atau museum Tusseau”.
            Namun setelah amplop aku buka aku jumpai bahwa ternyata aku dapat undangan buat “benchmarking program ke Australia”. Aku tidak kecewa, meskipun aku sudah terbang ke sana 4 bulan lalu, namun aku juga belum puas karena benua kecil ini juga indah dan negaranya sangat bermutu di dunia. Dalam surat aku lihat ada 10 orang peserta program ini yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mereka adalah seperti:
1.      Abdul Hajar (Makasar)
2.      Herfen Suryanti (Bontang)
3.      Euis Andriani (Sukabumi)
4.      Marjohan (batusangkar)
5.      Nurhadi (jayapura)
6.      Andi Robbi (Deli Serdang)
7.      Alfi Rokhana (Salatiga)
8.      H. Imron (Pasuruan)
9.      Suryanto (Temanggung)
10.  Nikmah Nurbaiti (Purworejo)
Benchmarking program berarti kegiatan belajar pada orang atau lembaga lain- kita akan mencari kelebihan dan kekurangannya, selanjutnya kita akan menyadur keunggulan/ kelebihan dari program yang mereka laksanakan. Lebih lanjut aku cari defenisi tentang benchmarking.
“Benchmarking adalah suatu aktivitas suatu organisasi (misal: sekolah)mengadakan evalusi diri secara kontinyu dengan membandingkan dirinya dengan organisasi (sekolah) yang kualitasnya dianggap lebih baik sehingga kelebihan yang ditemukan dapat diadopsi atau diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas diri[1]”.
 Sebelum berjumpa dengan teman- teman peserta benchmarking program, aku juga mencari tahu atas profil mereka. Tiga dari peserta bukan dari PNS, karena tidak tertera NIP-nya (Nomor Induk Pegawai), dengan demikian aku tahu bahwa non PNS juga bisa meraih prestasi dalam bidang pendidikan dan karya mereka diberi reward oleh pemerintah.

2. Belajar dari Profil Teman
a) Cyber Classroom
            Aku menemui profil Nikmah Nurbaiti dalam buku Penjaga Mutu Sekolah (2012). Ia punya prestasi dalam memberdayakan melalui partisipasi dan potensi. Ia terlahir dari keluarga guru, mengakrapi dunia pendidikan sejak kecil. Kini ia menjadi kepala SMAN 5 Purworejo dan melakukan banyak pengembangan di sekolahnya.
Sebelum menjadi kepala sekolah, ia adalah seorang guru Bahasa Inggris. Ia pernah mewakili Indonesia ke Konferensi Guru Sedunia di Findlandia dan menjadi wakil Indonesia untuk cyber classroom. Saat itu ia ke Findlandia sendirian pada hal ke Jakarta saja sendiri belum pernah.
Ia terpilih ke ajang dunia bermula dari aktivitas Nikmah di berbagai forum di Purworejo. Ia dikenal lancar dan bagus saat mengutarakan pendapat dalam bahasa Inggris. Ia pernah mengikuti Konferensi Bahasa Inggris Nasional di Bogor tahun 2002, juga mendapat tugas ke Australia pada tahun yang sama, namun batal menimbang ia masih punya bayi yang sayang untuk ditinggalkan. Namun pada lain waktu ia punya kesempatan untuk terbang ke Findlandia.
Ada serangkaian tes yang ia lalui sebelum pergi ke Findlandia yaitu tes wawancara menggunakan bahasa Inggris. Dalam wawancara yang dibahas seputar penggunaan dan manfaat internet. Selain itu, bila nanti terpilih ia harus membuat suatu proyek.
Ia menjadi cemas atau entah socked atau surprised pergi ke Findlandia sendirian. Bila tidak bersedia berangkat ya akan digantikan oleh finalis lain. Ia berfikir bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali maka ia pun dengan percaya diri berangkat ke Tampere, Findlandia.
Konferensi di Findlandia dihadiri 55 guru dari sekitar 17-18 negara Asia- Eropa, seperti Jepang, Swedia, Findlandia, Jerman, Belanda, Singapura dan lain-lain. Hasilnya adalah pembentukan cyber classroom (CC), yaitu wadah bagi siswa Asia- Eropa untuk bertukar segala sesuatu melalui internet. Dari hasil konferensi tersebut Nikmah dan kawan-kawan membentuk kelompok dan merancang suatu proyek, dengan ketentuan setiap kelompok terdiri dari campuran antar negara Asia dan Eropa. Ia satu kelompok dengan Ulla Dahlstorm, wakil dari Swedia dan mereka membuat proyek.
Pada proyek tersebut ia dan rekannya bertukar informasi kebudayaan, tata kehidupan, agama, dan lain- lain. Prpyek mereka dalam bentuk situs cyber classroom. Dalam situs itu ia bercerita tentang beberapa elemen penting seperti everyday life, berisi cerita siswa kedua negara- termasuk dalamnya tentang teenager life.
Kita ada melihat perbedaan cara hidup seperti kebiasaan ke night club, makanan dan sekolah. Ada juga tentang pendidikan, olahraga, dan pelajaran favorit. Juga ada pertukaran cerita rakyat, tempat wisata dan cerita tentang agama. Inti dari cyber classroom adalah pertukaran pelajar via internet yang menekankan pada bidang seni, budaya, pendidikan dan tata kehidupan sehari-hari dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.
Nikmah juga mengajak para guru untuk bisa mengajak guru bahasa Inggris bisa mengembangkan “dialog imajiner”, sebab selama ini murid kalau diminta berkomunikasi dengan bahasa Inggris sulit apa yang akan dibicarakan. Maka murid perlu diberi rangsangan kondisi yang diciptakan dengan sengaja untuk membuat anak didik dalam suatu situasi lain yang dibayangkan (imajiner).
Misalnya model belajar “role play- atau bermain peran. Tentu saja di sini  ada siswa yang dijadikan model sebagai siswa teladan, penyanyi dangdut, presiden Amerika Serikat dan lain-lain, sementara berperan menjadi wartawan. Murid yang berperan sebagai wartawan mengajukan pertanyaan kepada tokoh imajiner tersebut. Dengan cara demikian maka pelajaran speaking bahasa Inggris dapat berlangsung dengan lancar selama dua jam dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri.
Contoh lain percakapan imajiner adalah berdasarkan karya sastra seperti bermain drama. Ada siswa yang berperan sebagai Cinderella, pangeran, ibu tiri, maupun saudara tiri Cinderella. Maka percakapannya akan berkisar seputar kehidupan Cinderella dan kisah Cinderella. Denga metode seperti ini maka kreativitas dan inovasi murid akan berkembang.


b) Suasana Belajar Yang Kontekstual
            Aku juga memperoleh pengalaman saat membaca profil Abdul Hajar (2012) dalam buku “Menebar Ispirasi Melalui Prestasi: Pengalaman Terbaik Guru SMA dan SMK Berprestasi Nasional”. Ia dikenal sebagai guru yang kreatif. Sikapnya ramah dan akrab dengan para siswa. Supaya para siswa lebih mudah memahami materi yang akan diberikan, sebelum memulai pembelajaran, maka kita harus mengajak siswa untuk membahas mengenai hal-hal yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Abdul Hajar mengatakan bahwa gambaran yang kita berikan haruslah kontektual. Artinya harus sesuai dengan kondisi dan keadaan yang terjadi di sekitar siswa. Jika pra-pembelajaran sudah dirasa menarik maka tentu siswa akan tertarik untuk mengetahui lebih dalam.  
            Ia berprinsip dalam hidup untuk “berusaha dahulu berprestasi kemudian”. Kemampuan untuk mandiri dan beradaptasi mutlak untuk dimiliki oleh orang modern. Ia sangat bersyukur memiliki karakter bisa mandiri dan kuat di lingkungan yang baru, demikian pula kemampuan beradaptasi dengan teman yang ada di lapangan.
            Sebagai seorang guru maka ia harus kreatif dalam menyampaikan materi. Ketika memberikan materi mengenai suksesi dalam pelajaran Biologi, ia meletakkan beberapa akuarium di kelas dan mengisinya dengan berbagai macam makhluk air. Akuarium kemudian diberi aerator sebagai penyuplai udara, dan dibiarkan tanpa diberi makanan, juga tanpa dibersihkan. Semua makhluk hidup dalamnya dibiarkan hidup apa adanya. Lalu ia menjelaskan kepada para siswa bahwa secara alami, makhluk- makhluk hidup dalam akuarium itu akan berusaha berjuang mempertahankan hidup dalam ekosistem barunya.    Para siswa bisa melihatnya, sehingga mereka bisa melihat proses kehidupan yang terjadi dalam akuarium, seperti persaingan mencari makanan, menguasai wilayah dan yang lainnya.    

c) Memacu Diri Untuk Berprestasi
            Orang yang ketiga yang aku temui profilnya adalah Herfen Suryati juga dalam buku “Menebar Ispirasi Melalui Prestasi: Pengalaman Terbaik Guru SMA dan SMK Berprestasi Nasional”. Ia sangat tekun dalam belajar dan terbiasa berdisiplin.
            Dalam menjalankan profesinya sebagai guru, Herfen selalu memacu dirinya untuk berbuat lebih baik dengan memegang filosofi bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin. Ia mengatakan bahwa seharusnya kita harus bisa berbuat lebih baik lagi di masa yang akan datang.
            Herfen mengabdikan seluruh potensi dirinya sebagai pengajar. Pada tahun 2009 ia mendapat penghargaan the best innovative teacher dalam event regional innovative teacher competition tingkat Asia Pasifik di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk memudahkan proses pembelajaran ia juga aktif menciptakan multi media pembelajaran.
            Ia mengatakan bahwa guru perlu selalu memanfaatkan tekhnologi TIK (Teknologi Informasi Komputer). Dalam pembelajarannya ia  selalu mencoba menciptakan media, termasuk  multimedia interaktif sebagai media pembelajaran. Ia juga menggunakan jaringan internet sebagai salah satu satana pembelajaran.    

d) Memajukan Pendidikan Anak- Anak Papua
            Profil menarik tentang Nurhadi (2012) diperoleh dari majalah “PTK Dikmen- Media Informasi  dan Komunikasi Pendidikan Menengah”. Mengikuti perlombaan menurut Nurhadi adalah sangat penting karena sangat berguna untuk mengukur kemampuan diri. Pelaksanaan perlombaan juga senada dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran: fastabiq al-khoirat yang artinya bersainglah dalam hal kebaikan. Tentu saja berlomba atau berkompetisi bukan untuk kemasyuran atau kebanggaan diri,namun lebih mengarah kepada upaya saling mengasah, saling memberi, dan saling memotivasi demi pemerataan kualitas.
            Perjalan karir Nurhadi sebagai guru dimulai di daerah khusus (daerah terpencil), tepatnya di perbatasan Indonesia- Papua Nugini, yaitu di SLTP Negeri Web. Perjalanan ke tempat tugas tidaklah mudah, untuk menuju daerah tersebut kita harus menyewa mobil kecil double garden untuk menempuh perjalanan berlumpur dari kota Jayapura ke desa Senggi sejauh 180 km. perjalanan ditempuh selama 8-9 jam dengan kondisi jalan rusak, berlumpur, longsor sepanjang hutan hujan tropis Papua.
            Setelah bermalam di SMPN Senggi, kita musti berjalan kaki menelusuri jalan setapak, melintasi hutan, gunung, sungai atau lembah menuju desa Web selama 2 hari. Rombongan harus bermalam di tepi Sungai Web, atau jika perjalanan kaki lebih cepat bisa sampai di kampung Yabanda. Perjalanan dilanjutkan pagi hari menuju kampung Yuruf dan tiba di SMPN Web sudah menjelang magrib pada hari ke dua.
            Sebagaimana kiprah guru lain ketika membuka sekolah baru di daerah terpencil, pada awalnya tentu dilalui dengan mencari dan menjemput calon siswa. Nurhadi juga demikian, ia mengunjungi keluarga- keluarga yang tersebar di kampung- kampung tua di wilayah Kecamatan Web radius jarak antara sekolah dengan kampung- kampung itu sekitar 15 km.
            Tahun pertama merupakan tahun ujian yang amat berat. Sebab hampir semua orang tua seperti tidak memiliki harapan masa depan yang cerah bagi anak- anak mereka. Hidup mereka hanya bersifat rutinitas seperti membuka lading, menanm ubi, pisang atau sayuran di kebun untuk kebutuhan sehari-hari.
            Lama usia sekolah bagi anak perempuan rata-rata hingga kelas IV SD (tentu saja usia mereka lebih tua dari usia anak SD rata-rata di metropolitan Indonesia), setelah itu dikawinkan dengan pria pilihan orang tuanya. Sedangkan anak laki-laki pada umumnya tamat SD kemudian kawin. Hanya anak-anak yang punya semangatlah yang tetap melanjutkan sekolah hingga ke SLTP dan SLTA di Sentani Jayapura.
            Nurhadi pernah menjumpai orang tua atau masyarakat yang menolak keras anaknya dibawa ke sekolah. Mereka berkata dengan nada keras bahwa pemerintah selama ini tidak mempedulikan mereka. Nurhadi memahami kalau mereka pesimis karena ia melihat langsung keadaan mereka yang sangat terbelakang dan kehidupan yang jauh dari kata layak.
            Nurhadi memberikan respon pada mereka: “Bahwa kondisi orang-orang tua saat ini memang sangat sulit. Tetapi kami adalah wakil pemerintah yang diutus untuk menolong masyarakat di kampung ini. Jika anak-anak diizinkan sekolah maka dalam 10 hingga 20 tahun ke depan mereka akan merubah kampung terisolir ini menjadi maju. Ada yang menjadi kepala distrik, mantri untuk melayani kesehatan, dan guru pendidikan”. Ada orangtua yang memahaminya dan mengizinkan anaknya dibawa ke sekolah.
            Tahun 2001 Nurhadi dimutasikan ke SLTP Negeri 6 Jayapura. Di sekolah ini permasalahan beda lagi- lagi, banyak siswa yang punya motivasi belajar rendah. Ada siswa yang melompat dari jendelahingga guru menangis karena merasa tidak dihormati. Terkadang ada kotoran manusia di dalam kelas. Guru guru merasa sudah maksimal dalam membina meskipun pada umumnya menggunakan metoda/ pendekatan punishment (hukuman).
            Namun Nurhadi mempunyai pendekatan lain. Ia mendekati siswa melalui olahraga favoritnya yaitu sepak bola dan mereka latihan sepak bola setiap Sabtu sore. Melalui cara tersebut iamengajak mereka berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati tentang untung ruginya jika tidak serius dalam belajar dan mengikuti pembelajaran. Pentingnya menghormati orang yang  lebih tua, dan menjaga kebersihan dan keindahan sekolah demi kenyamanan belajar. Berkat usaha yang dikemas dengan olahraga favorit sepak bola tersebut, para siswa perlahan menjadi berubah baik.       
            Belum banya yang ia perbuat di sana, ia kemudian dimutasikan lagi ke SMU Negeri 5 Jayapura. Yaitu ke sebuah sekolah khusus didirikan untuk putera-puteri yang berbakat. Walikota mendirikan sekolah khusus tersebut untuk memproteksi anak-anak Papua berbakat agar mampu berprestasi secara nasional dan internasional. Harapannya agar 80 % anak Papua dapat diterima di perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri.
Tenaga guru yang dipilih dari berbagai sekolah tersebut memiliki semangat dan kebersamaan  yang kuat untuk kemajuan SMUN 5 Jayapura. Mereka menyumbangkan apa yang menjadi kelebihannya masing- masing. Misalnya dalam bidang olahraga, debat Bahasa Inggris, olimpiade sains, matematika, karya ilmiah remaja, cerdas cermat dan sebagainya. Semua menyayangi anak-anak Papua seperti terhadap anak sendiri yang harus diberdayakan.


[1] Amat Jaedun (2011). Benchmarking Standard Mutu Pendidikan- Makalah Seminar Nasional. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture