Sabtu, 19 Maret 2016

Facebook dan Twitter Bisa Membuat Kita Sakit Hati

Wah akhir akhir ini saya senang mencari artikel seputar efek positif dan juga eek negatif dari medsos. Seperti sekarang saya share artikel tentang "Facebook dan Twitter Bisa Membuat Kita Sakit Hati" yang ditulis oleh:


Penulis: Lusia Kus Anna
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: The Huffingtonpost

Kompas.com - Dalam hidup, kita memang sering mengalami penolakan. Teman di kantor tak mengajak kita makan siang, kakak atau adik lupa ulang tahun kita, pasangan menolak bercinta, dan tetangga tak mengundang kita di acara syukuran yang diadakannya.

Ternyata di zaman modern ini penolakan bukan hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga dunia maya. Kini kita punya Facebook, Twitter, LinkedIn, Path, Instagram, dan berbagai bentuk media sosial lainnya. Meski media sosial itu memberi warna baru pada hidup kita, tapi kita juga jadi lebih sering mengalami penolakan.

Seperti halnya di dunia nyata, penolakan ringan yang kita alami di media sosial seperti teman yang tak mau memberi "like" atau "me-retweet" postingan kita, bisa membuat kita kesal.

Salah satu bentuk penolakan yang paling sering terjadi di dunia maya adalah saat undangan kita untuk menjadi "teman" di LInkedIn atau Facebook diacuhkan, atau saat teman yang kita kenal baik tidak mau menjadi "follower" di Twitter. Hal-hal semacam itu bisa membuat kita sakit hati.

Lebih jauh, penolakan di media sosial juga bisa meninggalkan rasa sakit yang lebih dalam. Misalnya saja saat mantan kekasih mengubah statusnya menjadi "single" di Facebook. Hal tersebut bukan cuma menunjukkan ia secara resmi meminta berpisah, tetapi dengan melakukannya di depan publik, kita akan merasa dipermalukan. Tentu saja rasa sakit hatinya lebih dalam lagi.

Para remaja juga kerap kali di-bully di media sosial oleh teman-temannya yang menjelek-jelekkan dirinya. Bullying semacam ini bisa berdampak sangat menyakitkan pada remaja karena mereka cenderung masih melihat dunia secara hitam putih dan belum bisa menoleransi sakit emosional semacam ini.

Alasan utama mengapa sebuah penolakan bisa menyakitkan adalah karena area tertentu di otak diaktifkan seperti halnya saat kita mengalami sakit fisik.

Inilah mengapa kita kerap merasa kecewa dan sakit hati saat teman yang selalu kita beri tanda "like" di Facebook" atau Path, tidak membalasnya dengan perlakuan serupa.

Area otak yang aktif tersebut membuat kita merasa tidak berdaya dan sangat sensitif sehingga kita merasa seolah-olah menjadi pecundang. Sebenarnya ini bukan karena kita orang yang emosinya lemah, tetapi otak kita memang didesain seperti itu saat menerima penolakan.

Untuk mencegah timbulnya rasa sakit hati yang sebenarnya tidak perlu, mungkin kita perlu mulai melihat sesuatu secara lebih luas. Misalnya, saat undangan pertemanan kita di Facebook ditolak, jangan langsung sedih. Barangkali ia memang sudah lama tidak masuk ke akun-nya karena sedang sibuk.

Demikian pula halnya dengan Twitter. Dalam satu jam ada ribuan "kicauan" yang akan membanjiri lini masa. Karena itu jangan heran jika kicauan Anda langsung terdorong sehingga tak sempat dibaca teman.

Dengan kata lain, meski ada seribu alasan untuk merasa kita ditolak di media sosial, 99 persennya bukan disebabkan oleh hal yang personal. Mengira-ngira mengapa Anda ditolak bukan hanya membuat Anda sakit hati tapi juga membuat Anda menyimpulkan sesuatu yang salah tentang seseorang. Pada akhirnya hal ini justru membuat pertemanan di dunia nyata yang sudah terbangun malah rusak.

Hal penting yang perlu diingat mengenai interaksi di media sosial adalah mungkin kita tidak mengetahui semua informasi apa yang sedang terjadi pada teman kita tersebut. Jadi, daripada berburuk sangka, cobalah kirim email atau telepon langsung padanya untuk bertanya kabar.

Hanya Lulus SMP, Menteri Susi Kuliahi Mahasiswa Harvard Soal Pencurian Ikan



Hanya Lulus SMP, Menteri Susi Kuliahi Mahasiswa Harvard Soal Pencurian Ikan


Para mahasiswa dan pengajar di universitas tersebut menghargai Bu Susi atas kemampuannya memberantas pencurian ikan di Indonesia.Ini dia gedung kampusnya


WowKeren.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dikenal dengan keberaniannya memberantas kapal-kapal pencurian ikan di Indonesia. Keberaniannya ini rupanya terdengar hingga Negeri Paman Sam. Baru-baru ini, menteri yang akrab disapa Bu Susi itu diminta untuk memberikan kuliah di Harvard University.

Ia memberikan kuliah berjudul "Indonesia as A Maritime Axis: Challenges and Opportunities" di John F. Kennedy School for Governance (JFKSG), Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Senin (7/3/2016) waktu setempat. Dalam kuliahnya Susi menjelaskan soal kasus pencurian ikan di Indonesia. Susi juga menerangkan soal ketegasan pemerintah Indonesia yang tak ragu meledakkan kapal pencuri ikan.

"Pencurian ikan merugikan kami hingga Rp 260 triliun per tahun," ujar Susi dalam kuliahnya. "Pemerintah kami akan tegas kepada para pencuri ikan."

Kuliah yang diberikan Susi ini tentu cukup menarik perhatian. Apalagi ia hanyalah lulusan SMP dan harus memberikan kuliah pada mahasiswa salah satu universitas ternama di dunia.

Namun Direktur Akademi ASH Center, Harvard Kennedy School, Jay K. Rosengard, mengaku tak ambil pusing dengan latar belakang pendidikan Bu Susi. Menurutnya semua mahasiswa dan pengajar lainnya memang tahu soal pendidikan Bu Susi tapi tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya, seseorang tak dinilai dari panjang atau tidaknya gelar di belakang namanya namun lebih kepada kemampuan orang tersebut.

"Bukan seberapa panjang nama (deretan gelar sarjana) yang Anda punya," ujar Jay. "Tapi seberapa banyak yang bisa Anda lakukan."

Bu Susi memberikan kuliah tersebut sebagai bagian dari kunjungannya ke Amerika Serikat pada 6-11 Maret 2016. Ia juga sempat menghadiri Seafood Expo North America, Boston Convention and Exhibition Center, Massachusetts, yang merupakan pameran kelautan terbesar di Amerika.

Pameran tersebut dihadiri ribuan peserta dari 46 negara di dunia. Sepak terjang Bu Susi ini tentu membuat bangga masyarakat di Tanah Air. (wk/rs)
http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00104949.html?ref=yfp

Selasa, 15 Maret 2016

Rumah Tangga Hancur Gara Gara Tergoda "Cowok Ganteng" di FB

Rumah Tangga Hancur Gara Gara Tergoda "Cowok Ganteng" di FB 

Tulisan ini ditulis oleh ibu Fey Down, dari tulisannya di : 
http://www.kompasiana.com/feyfey/rumah-tangga-hancur-gara-gara-tergoda-cowok-ganteng-di-fb_56951d678f7e61c70a809be2

Ini foto cowok ganteng sebagai pembuka tulisannya


Sudah sering saya mendengar curhatan seorang suami tentang istrinya yang sedang tergoda "cowok ganteng" yang   ternyata scammer. Ada yang sadar setelah habis habisan di porotin uangnya, lalu  kembali pada suaminya. Ada juga yang ketakutan diancam karena sudah kirim photo tanpa busana. Merasa diatas angin, sipenipu terus minta uang. Tak tahan mengalami tekanan, akhirnya si istri berterus terang pada suaminya. 

Entah  bagaimana akhir kisah mereka  saya tak lagi mendapat kabar.  Kisah lain curhat seorang suami : Dua hari lalu seorang pria bernama A dengan nada sedih curhat pada saya :

 " Assalamualaikum bunda, saya ingin tanya tentang akun FB bernama Rangga Styawan. No HP081280169272. Mengaku lulusan Universitas Brawijaya, Palembanng, (Mungkin Universitas Sriwijaya)

bekerja di PT. Indo Cemerlang  dan menetap di Bandunh. Dia telah menghancurkan rumah tangga kami. Istri saya  mengenalnya bulan September 2015 dan sejak itu dia berubah. Saya sudah berusaha mempertahankan rumah tangga kami. Saya juga meyakinkan istri bahwa itu penipuan, tapi dia tidak percaya. 

 Istri tetap berhubungan dengan cowok ini dan  beberapa kali  kirim uang ke seseorang,  katanya adik Rangga yang punya bisnis pakaian. Disini saya merasa aneh, dia mengaku orang kaya tapi koq minta uang. Bulan Oktober 2015,, istri maksa minta cerai. 

Akhirnya saya jatuhkan talak satu karena  saya pusing melihat perubahan nya yang begitu drastis sejak kenal si Rangga.  Saya kasihan pada putri kami yang baru berusia 4 th, dia tak tahu apa apa jadi korban begini. Mantan saya senang sekali karena sudah tak ada penghalang lagi berhubungan  dengan Rangga yang janji akan datang menemuinya. 

Janji tinggalah janji,  si cowok beralasan omanya koma di rumah sakit dan berani sumpah demi Allah. Ia juga bilang semua uang yang dipinjam dari mantan istri saya akan dikembalikan setelah dua rumah senilai 5 milyard rupiah  di Lampung dan Jakarta terjual.  Disini saya sudah sangat curiga tapi mantan tetap membelanya. Untuk itu saya minta tolong pada bunda,  apakah akun dan photo Rangga ini asli atau palsu?

 " Sedih saya setiap kali ada seorang laki laki  curhat kayak gini. Suami di khianati istri di dunia maya bukan hanya sekali tapi sering. Pernah saya tanya pada seorang istri , apa yang membuatnya selingkuh di sosmed. Jawabannya suami kurang ini itu lalu ketemu cowok ganteng di FB. Setelah tertipu , malah suaminya yang merangkul. Disini barulah ia sadar bahwa suaminya yang terbaik. 

TINDAKAN SAYA : 

Saya lihat dan teliti photo yang ada di akun  palsu "Rangga Styawan" lalu saya cari lewat Google Image dan Tineye, tapi tidak ketemu. Saya coba photo photo yang lain, alhamdulilah terlacak juga. Pemilik photo adalah model Thailand bernama Thara Smithaksorn Kaeserarmz, sudah menikah. Istrinya cantik sekali dan mereka telah dikaruniai seorang  anak laki laki.Langsung saya kirim bukti photo photo Thara bersama istri dan anaknya. Sudah pasti mantan istri A shock dan malu setengah mati.


 "Alhamdulilah,  

terima kasih banyak bunda. Disatu sisi saya senang bisa membuktikan pada mantan bahwa cowok itu penipu dan palsu.Di sisi lain, saya sangat sedih karena rumah tangga saya terlanjur hancur. Tolong bunda tulis kisah saya ini dan pajang sekalian photo si penipu agar tak terulang pada wanita wanita  lain. Cukup keluarga kami saja yang jadi korban.

" Saya dengar kabar dari A bahwa mantan istrinya ingin chat dengan saya tapi saat ini sedang sakit. Mungkin malu sudah mengorbankan rumah tangga gara gara photo cowok ganteng di FB dan termakan rayuan gombal. Saya sarankan agar A mau memaafkan  dan    terus   memberikan  semangat pada mantannya. Saya juga menganjurkan untuk  rujuk saja, kasihan anak mereka yang tak tahu apa apa. Jaman sekarang scammer cinta tak peduli wanita bersuami karena diotak mereka hanya mikirin uang.

 Hati hatilah wahai wanita Indonesia dimana saja, jangan mudah percaya pada photo.  Kuncinya 2J : Jangan lupa video call dan jangan kirim apapun dengan alasan apapun. Terima kasih untuk  A yang sudah mengizinkan saya menulis kisah ini. Semoga mantannya mau  rujuk kembali dengan A. Insya Allah amin. Sumber photo : IG Thara dan Akun palsu Anggara di FB.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/feyfey/rumah-tangga-hancur-gara-gara-tergoda-cowok-ganteng-di-fb_56951d678f7e61c70a809be2

Komentar/ Simpati pembaca:
begitu mudahnya tertipu tampilan luar, hadeh. Prihatin sekali Bunda Fey. Smoga tidak akan menimpa perempuan lain. Salam dari Solo

Sangat sedih dan disayangkan.. Saya mengenal beberapa orang yang mengalami masalah seperti ini walau tidak semuanya karena scammer. Ini pendapat saya dan mungkin jauh dari benar.. peran facebook untuk menampilkan keresahan menjadikan sebuah ide kejahilan atau modus bagi sebagian orang yang mencari keuntungan. seringkali interaksi tersebut berupa perselingkuhan murni dan terkadang ada bumbu scammernya.. apapun itu terima kasih telah sharing dan semoga lebih banyak yang peduli dan saling menjaga agar terhindar dari perselingkuhan.

Intinya kalo ada masalah dlm pernikahan gak usah gatel lari ke laki lain. Jadinya malah isi saku kita digaruk2 sama pria bodong.... semoga wanita kita tambah pinter kl ngadepin scammer2 begini

Home Stay SMAN 3 Batusangkar di Danau Kembar

 Siswa dan siswi lagi perform sebuah babak English drama di Aula Danau Kembar
 Muhammad Irfan sangat suka buah strawbery...untuk mencukupi kebutuhan vitamin C selama di sana
 3 orang guru beda usia...
 Guru muda dengan wajah gagah lagi bergaya dengan gedget barunya
mr arjus putra penanggung jawab home stay activity

Rabu, 09 Maret 2016

Drama Jebolan UI dan ITB.... Berusaha Untuk Tidak Menganggur

Mencari pekerjaan di Indonesia sangatlah sulit,fakta itu tidak terbantahkan dengan banyaknya pengangguran seperti menurut data dari BPS ada kisah/sindiran lucu yang saya dapat dari seorang teman,ini ceritanya: Karena setelah sekian lama menjadi pengangguran, akhirnya seorang lulusan UI terpaksa menerima tawaran untuk bekerja di Kebun Binatang Ragunan Jakarta

 “Apa boleh buat daripada nganggur kerja beginian juga bolehlah, yang penting halal!” begitu tekadnya. Maka sejak hari itu sang insinyur muda mulai bekerja sebagai “monyet-monyetan” Sepanjang hari harus betah mengenakan baju monyet, pakai topeng monyet sambil mengunyah pisang atau kacang rebus terus-terusan. Dan harus jempalitan selincah mungkin untuk menarik perhatian pengunjung.

 Pokoknya tak beda dengan monyet asli yang sudah mulai punah. Tak ayal lagi pengunjung Kebon Binatang Ragunan membludak lantaran mau ‘ngeliat si monyet super yang konon tidak hanya lincah dan gesit tetapi juga cerdas! Wong UI kok.. Sayang sekali yang namanya sial itu sulit dielakkan ….dan akhirnya bisa datang juga. Sedang enak-enaknya jumpalitan, tiba-tiba: “gedebuk…..byurrrrrrrrrrr” Sang monyet terjatuh ke dalam kandang buaya. “Waduh, mati aku!” pikirnya sebelum dimangsa oleh buaya-buaya ganas itu. 

Tapi ketika mulut buaya terbuka lebar siap menggigit, dari dalam terdengar suara berbisik “jangan takut mas….kami dari ITB"*******************************************************

itulah potret Hidup Bangsa Indonesia pengangguran merajalela yang cari duit di luar negeri sudah mencapai angka 4,3 juta jiwa MAU KEMANAKAH ARAH BANGSA INDONESIA ? Kehancuran seolah hanya menunggu waktu saja.. Bangsa Indonesia butuh Persatuan,namum apakah Kita bisa bersatu? UNTUK SEMUA BANGSA INDONESIA Saya sudah bekerja di Korsel genap 7 tahun pada bulan juli nanti, dan selama itu telah menjadikan Saya mengerti kenapa Indonesia, Negeri Kita tercinta tidak bisa sejahtera Rakyatnya. 

Di sini juga memang ada pengemis tapi hanya sedikit saja, sedangkan Indonesia pengemis berserakan dimana-mana. Dan kenapa sulit sekali mencari kerja di negeri sendiri, pengangguran merajalela. Dan tahukah Anda, sekarang jumlah Warga Negara Indonesia yang mencari makan di Negara Orang (TKI) sudah lebih dari 4,2 juta jiwa. SOLUSI UNTUK BANGSA INDONESIA 

Setelah Saya melalui perjalanan Hidup di sini, saya tahu bagaimana kita seharusnya Bangsa Indonesia. Saya tahu bagaimana caranya agar Indonesia makmur dan sejahter kehidupan rakyatnya. Ada syarat utama jika Bangsa Indonesia ingin makmur sejahtera, yaitu: Persatuan, Bangsa Indonesia  harus bersatu, satu visi, membangun Bangsa yang Jaya. Bagaimana agar Indonesia bisa menciptakan jutaan bahkan puluhan juta lapangan Pekerjaan untuk Rakyatnya? Rakyat Indonesia harus pintar dalam membeli barang-barang yang mereka butuhkan, misalnya rakyat Indonesia harus beli makanan produk dalam negeri, kenapa ?..karena petani/pabrik yang mengolah makanan tersebut usahanya akan terus bertahan dan berkembang yang tentu akan menjadi/membuka peluang pekerjaan bagi Bangsa Indonesia, kemudian Rakyat Indonesia jika mau beli Sabun, sampo, pasta gigi dan keperluan lainnya harus produk Bangsa Indonesia, maksudnya walaupun pemilik Pabrik tersebut 

Orang asing namun pabriknya harus ada di Indonesia agar memberi peluang kerja untuk Rakyat Indonesia. Juga jika rakyat Indonesia beli handphone, belilah yang produksinya di pabrik di Indonesia, alasannya selalu agar membuka lapangan kerja untuk rakyat Indonesia. Belilah mobil, motor, televisi, komputer, laptop dan lain-lain yang pabriknya ada di Indonesia agar pabrik-pabrik tersebut terus berkembang dan semakin banyak membutuhkan karyawan, yang imbasnya rakyat Indonesia akan menjadi makmur sejahtera karena lapangan kerja tersedia semakin banyak.

INTINYA: Rakyat Indonesia Beli produk-produk yang diolah di negeri sendiri agar peluang pekerjaan semakin berlimpah untuk rakyat Indonesia, maka jika seluruh Rakyat Indonesia bersatu membeli produk produk/kebutuhan-kebutuhan yang pabriknya ada di Indonesia maka investor-investor pun akan berdatangan dengan sendirinya. Pemerintah dan Rakyat harus bersatu, jika tidak segera berubah maka keadaan bisa bertambah parah. Siapa yang bisa merubah nasib Bangsa Indonesia? Hanya kita sendiri, rakyat Indonesia. Apapun suku Anda,apapun bahasa Ibu Anda,apapun Agama Anda,Apapun Ras Anda,apapun Partai Anda,apapun jenis kelamin Anda dan apapun-apapun lainnya....selagi Anda adalah Bangsa Indonesia maka Anda wajib membeli barang-barang yang diproduksi di Indonesia agar Indonesia dap[at menjadi Negeri Sejahtera dengan terciptanya jutaan dan puluhan juta atau ratusan juta lapangan kerja.....Apa Indonesia mampu bersatu? Kita sendiri yang bisa menjawabnya,Bangsa Indonesia.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sidikgumelar.sandhika/drama-jebolan-ui-dan-itb_5500d3f6a3331118705120c5

Alumni ITB Jadi Tukang Becak

Alumni ITB Jadi Tukang Becak

Begitu sulitnya kehidupan saat ini, segala cara yang penting halal, akan dilakukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Sekolah tinggi-tinggi ternyata tidak menjadi jaminan hidup akan sukses apalagi kalau hanya sekedar tamatan sekolah menengah. Saat ini yang dibutuhkan adalah keterampilan dan kemauan yang kuat untuk bisa lepas dari kesulitan hidup.


Mungkin kita tidak heran ketika mendengar berita seorang keluarga miskin yang mampu menyekolahkan anaknya sampai sarjana atau berita seorang tukang beca yang berhasil menjadi alumni ITB atau UGM. Namun ketika kita mendengar ada seorang alumni ITB menjadi tukang beca, tentu kita akan mengurut dada antara percaya dan tidak percaya. Padahal ketika pertama kali menginjakkan kaki dikampus, akan terlihat sebuah spanduk untuk menyambut mahasiswa dan mahasiswi baru dengan slogan “SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI INDONESIA TERBAIK”

Fakta adanya alumni ITB menjadi tukang beca bukan hanya sekedar isu saja tapi terbukti benar adanya. Dimana disaat Ikatan Alumni ITB Sumatera Utara sedang mengadakan acara Silaturahmi dan Perkenalan Calon Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB periode 2011-2015 yang diselenggarakan di Hotel J W Marriot Medan. Ketika acara makan malam tiba-tiba ada seseorang menghampiri ketua umum Hermanto Dardak MSc, orang itu mengaku bernama Suhunan Napitupulu mengaku pernah satu angkatan dengan Hermanto Dardak. Suhunan Napitupulu, dengan serius berbincang dengan Hermanto hingga akhirnya terungkap, bahwa benar Suhunan Napitupulu adalah Alumni ITB yang berprofesi sebagai Tukang beca.

Pengakuan polos dari Suhunan bahwa dia berprofesi sebagai tukang beca jelas membuat semua yang hadir terkejut, antara percaya dan tidak percaya bahwa ternyata mungkin masih ada banyak lagi teman-teman yang bernasib seperti Suhunan Napitupulu. Pertemuan Silaturahmi dan Perkenalan ini setidaknya bisa menjadi Momentum yang tepat agar Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB harus tetap memperhatikan nasib teman-teman mereka yang kebetulan tidak seberuntung nasib sebagian besar alumni lainnya.

Kisah Suhunan alumni ITB yang menjadi tukang beca adalah cermin kondisi nyata, begitu sulitnya orang saat ini untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga segala cara dilakukan yang penting halal walaupun hanya menjadi tukang beca, yang sebenarnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya itu. apalagi saat ini Jumlah Pengangguran di Indonesia sudah mencapai angka 8,12 Juta Orang, Pengangguran ini terjadi di sebabkan adanya kesenjangan antara penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan. Minimnya Sektor Penerima Tenaga Kerja serta semakin tumbuhnya Angkatan kerja baru, sudah barang tentu berdampak banyaknya Jumlah Pengangguran di Indonesia.

Ada kisah baru selain cerita Suhunan Napitupulu berikut kisahnya:

Karena sulitnya mencari pekerjaan, ada seorang lulusan Universitas Indonesia akhirnya menerima kerja dikebun binatang ragunan pasar minggu, Tiap hari kerjanya memakai Kostum Gorila, mungkin dia pikir gak ada yang melihat, toh, pake topeng.
Kerjanya mengunyah kacang dan pisang terus menerus, dia berlompat-lompatan setiap hari dengan lincahnya, dan juga dapat berhitung !! Semenjak itu Pengunjung Kebun Binatang bertambah banyak untuk menyaksikan Gorila yang lincah dan juga pintar, maklum lulusan Universitas Indonesia.

Akhirnya pada suatu hari, Tibalah saat yang na’as itu !!! Waktu dia melompat-lompat, dia tergelincir dan terjatuh kekolam Buaya, matilah aku kali ini, katanya dalam hati, dia berusaha memanjat secepat-cepatnya kepinggir kolam, Namun Buaya lebih cepat mendekati dengan mulut menganga lebar dan gigi-gigi yang runcing siap merobek-robek tubuhnya.

Para Pengunjung berteriak ngeri ketika moncong Buaya menyergapnya, antara sadar dan pingsan, dia mendengar bisikan dari dalam mulut Buaya, jangan takut mas, saya juga lulusan dari ITB, he he he.

Maaf ya, cerita buaya tadi cuma cerita humor yang didapat dari beberapa cerita humor di internet, cerita Suhunan dan Humor buaya ini adalah cermin kehidupan terhadap kondisi Bangsa Indonesia yang para pemimpinnya cenderung lebih mengutamakan nafsu keserakahan untuk pribadi, keluarga dan konco-konconya daripada mementingkan nasib rakyat yang memang sedang kesulitan ekonomi, di tambah begitu sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini ? Jangankan lulusan SMA atau sederajat, Sarjana pun di Republik ini masih banyak yang menganggur ?

sumber: http://agussutondomediacenter.blogspot.co.id/2012/03/alumni-itb-jadi-tukang-becak_9169.html

jurusan bergengsi tapi setelah itu nganggur

Halo Guys, happy new year 2015 semuanya! Biasanya awal tahun itu ditandai dengan semangat baru, ada yang mulai pada bikin resolusi tahun baru, ditandai dengan tempat-tempat gym yang tiba-tiba penuh sama orang yang bertekad buat mulai hidup sehat, begitu pula dengan traffic zenius.net yang mendadak meningkat drastis menandakan semangat belajar zenius-user lagi tinggi-tingginya. Kalo kata orang sih "Tahun baru saatnya membuka lembaran baru!" Hehehe.. mungkin kedengerannya klise yah? Padahal tahun baru itu kan cuma kembalinya titik poros bumi terhadap posisi matahari, ngapain perlu dirayain segala, tahun baru cuma ilusi doang sebetulnya ga ada moment apa-apa yang perlu dirayakan.
Yah, emang bener sih, tapi walau sebetulnya cuma "ilusi", buat sebagian orang (dan mungkin juga diri kita sendiri) butuh sebuah moment untuk sekedar berhenti sejenak dari rutinitas, melihat kebelakang sebentar, untuk kemudian melangkah dengan pertimbangan yang lebih matang. Yup! terlepas dari hingar-bingar pesta merayakan pergantian tahun, biasanya moment tahun baru itu juga dijadikan moment untuk berkontemplasi.
Kontemplasi dalam arti kita mencoba untuk merenungkan apa aja udah kita lewati di tahun sebelumnya, mengevaluasi kesalahan dan kekeliruan kita, mempertimbangkan mana keputusan kita yang tepat dan mana yang keliru, juga menyusun ulang strategi serta membuat keputusan untuk memperbaiki hidup kita di tahun yang baru.
Nah, artikel kali ini gua bikin khusus buat lo yang udah melewati setengah tahun pertama (semester satu) kuliah dengan perasaan yang kurang sreg, gerah, gusar, gundah, atau apa pun lah istilahnya. Mungkin beberapa di antara lo ada yang ngerasa kuliahnya gak enjoy, ngerasa kok jadi banyak ngeluh ampir tiap hari, bawaannya pingin bolos kelas terus, gak niat ngerjain tugas, males belajar buat ujian... atau mungkin singkatnya : Lo udah mulai ngerasa terjerumus masuk ke Genk Mahasiswa Galaw Karena Salah Masuk Jurusan!

"Iyaa-iyaaa... ini gua bangeeet...!! Gimana dong yaahDuh gua bingung nih, apakah gua tetep ngelanjutin kuliah aja atau ngulang ambil kuliah jurusan lain di tahun ajaran berikutnya?? :("

Okay, kalo saat ini lo ngerasa ciri-ciri yang gua tulis di atas rada nyambung sama apa yang lo rasain selama kuliah ini, berarti lo wajib baca artikel ini sampai beres. Di artikel ini, gua akan sharing tentang pengalaman gue sekaligus ngebahas dikit tentang dilema klasik buat mereka yang mulai ngerasa salah jurusan di awal-awal masa perkuliahannya. Nah, sebelum gua bahas lebih lanjut, hal pertama yang perlu lo semua ketahui dan renungkan masing-masing adalah satu pertanyaan dari gue ini :

Apakah lo betul-betul salah masuk jurusan kuliah?

Beneran nggak sih lo salah masuk jurusan? Atau mungkin sebetulnya lo lagi galaw sama masalah yang lain aja? Mungkin sebetulnya lo lagi sebel aja sama lingkungan kampus yang beda banget sama kehidupan SMA, mungkin lo lagi kekih karena senior lo yang galak dan sok kuasa, atau bisa jadi masalahnya lo cuma lagi kesulitan beradaptasi aja di lingkungan yang baru... Yah, apapun itu, gue ngerti kok kalo emang ada segudang kesulitan yang dialami oleh maba (mahasiswa baru) sebagaimana dulu gua juga (dan hampir semua mahasiswa) pernah mengalami kesulitan yang sama.
Nah, cuma khususnya dalam artikel ini gua akan ngebahas satu topik yang spesifik, yaitu tentang salah jurusan. Jadi sebelum lo mendeklarasikan dalem hati "Iya deh gue ngaku, gue emang salah masuk jurusan", pastiin dulu sebetulnya apa akar dari permasalahan lo. Cara paling simpel untuk mengetahui apakah lo beneran salah jurusan atau cuma lagi ada masalah adaptasi doang, ada di rumus yang dulu pernah gua sebutin di artikel SERIOUS WARNING: Jangan Sampai Lo Salah Milih Jurusan!. Gua sebutin rumus gua di artikel itu yah:

"Pilih bidang yang membuat lo tertantang... Pilih bidang yang bikin lo penasaran sampai lo rela buat ngulik itu siang-malem tanpa kenal waktu biar gak dibayar sekalipun. Pilih bidang yang tanpa disuruh pun lo curi-curi waktu buat belajar sendiri, atau tanpa sadar suka cari-cari info di internet atau lewat google.. Pilih jurusan memicu 'sense of wonder' dalam diri lo. Pilih jurusan yang bener-bener jadi muara ilmu pengetahuan yang ingin lo tekuni sampai akhir hayat lo..."

Okay, di atas adalah rumus yang (menurut gue sih) paling tepat dalam menentukan jurusan kuliah. Sekarang coba lo renungkan baik-baik, apakah jurusan sekarang yang lo ambil itu membuat lo tertantang dan penasaran? Apakah jurusan yang lo jalani sekarang ini memicu "sense of wonder" dalam diri lo? dan apakah lo bener-bener yakin jurusan yang lagi lo tekuni sekarang ini mau lo jadiin muara ilmu pengetahuan sampai akhir hayat lo? Kalo jawabannya IYA, berarti lo sebetulnya gak salah jurusan tapi cuma lagi ada masalah adaptasi aja, tapi kalo jawabannya NGGAK, berarti mau gak mau lo harus akui kalo emang sekarang ini lo lagi salah masuk jurusan.

Okay deh... gue akui kalo gue emang bener salah masuk jurusan, terus gimana dong? Apakah gue harus ngulang atau paksa terusin aja?

Salah jurusan itu ibarat salah naik angkot, makin lama lo nunda buat berhenti dan segera berbalik arah, makin jauh lo tersesat dari tujuan lo semula. Terus, apakah satu-satunya solusi itu emang harus berhenti dan berbalik arah? Sebetulnya nggak juga, sederhananya sih ada 2 pilihan: pertama cepatlah berbalik arah terus naik angkot yang bener sesuai tujuan semula, atau kompromi sama keadaan untuk ngejalanin jalur lain ini dan bikin tujuan baru dalam hidup lo. Mana tujuan yang paling bener di antara kedua pilihan itu, balik lagi sih semua TERSERAH sama pilihan lo sendiri.
Di sini, gua nggak mau ambil alih buat nentuin keputusan mana yang harus lo ambil dalam hidup lo, sebab biar gimana pun juga, lo sendiri yang akan menjalani semua itu, jadi  pada akhirnya lo sendirilah yang harus ambil keputusan dan bertanggung jawab sama keputusan itu. Nah, apa pun keputusan lo itu, yang pasti harus diiringi dengan pertimbangan yang matang. So, melalui tulisan ini gua mau sharingpengalaman gua yang udah melewati masa-masa galaw yang lo jalanin sekarang, moga-moga tulisan ini bisa jadi bahan pertimbangan lo buat nentuin keputusan yang tepat.
Pertama, yang perlu lo sadari di antara dua keputusan itu adalah KONSEKUENSI-nya dulu. Apapun keputusan lo itu, konsekuensi yang akan lo hadapi mencakup 3 hal, yaitu (1) waktu yang terbuang, (2) biaya yang dikeluarkan, dan yang paling penting (3) masa depan lo sendiri. Dari ketiga point inilah, nantinya lo menimbang-nimbang mana bobot yang perlu lo jadiin prioritas. Tentunya setiap orang menghargai setiap point secara berbeda, makanya keputusan pada akhirnya harus kembali pada pertimbangan lo masing-masing. Nah, berdasarkan pengalaman gue yang selama ini, biasanya ada 5 pertanyaan yang paling sering ditanyain seputar dilema "pindah jurusan atau tetep lanjut" ini, berikut adalah kelima pertanyaan itu - yuk kita bahas satu per satu!

1. Orang tua gue nggak ngijinin gue pindah kuliah, gimana dong?

Masa SMA menuju kuliah kalo boleh gua bilang adalah sebuah masa transisi. Masa transisi apaan nih? Masa transisi ketika secara perlahan orangtua gak perlu lagi ambil banyak peran dalam hidup lo. Kalo waktu SMA, mungkin tanggung-jawab akademis lo masih banyak melibatkan orangtua, dari mulai pengambilan rapor sama orangtua, sampai ada pemanggilan orangtua kalo lo bikin ulah di sekolah. Di dunia kampus gak ada lagi tuh ceritanya pengambilan nilai semester diambil orangtua, nggak akan ada lagi juga sesi pemanggilan orangtua kalo lo bikin ulah di kampus, yang ada juga lo langsung diamankan satpam atau bahkan langsung berurusan sama polisi. Apa maksud point gua di sini? Point gua adalah: setelah lo lulus SMA, lo (seharusnya) udah bisa bersikap dewasa untuk bisa bertanggung jawab terhadap semua tindakan dan keputusan lo sendiri, tanpa perlu lagi melibatkan orang lain, termasuk orangtua.
Dari pengalaman gue kuliah dan ketemu sama begitu banyak temen-temen gue (dan juga murid zenius)yang ngaku salah jurusan, bisa dibilang HAMPIR SEMUANYA ngaku kalo dia ngambil kuliah tersebut karena dorongan dari orangtua atau karena disuruh sama orangtua. Nah ini dia nih fenomena klise yang seringnya berakibat fatal. Kenapa gua bilang fatal? karena tanpa lo sadari, lo lagi gak menjalani hidup yang sesuai sama keinginan dan keputusan lo sendiri.
Gua yakin pada awalnya maksud orangtua kita milihin jurusan buat kita itu baik, dengan pengalaman dan pertimbangan mereka, orangtua tentu mau yang terbaik buat anak-anaknya. Tapi terkadang mereka lupa, kalo anak-anaknya ini gak kerasa udah pada gede, udah umur 18 tahun ke atas, dan udah saatnya mereka untuk "melepaskan" anak-anaknya untuk hidup sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Karena pada dasarnya yang akhirnya ngejalanin kuliah, ngerasain jerih-payahnya bikin tugas, sidang, skripsi, dlsb itu kan elo, bukan orangtua lo, bukan siapa-siapa.
Mungkin bagi orangtua itu, anak-anaknya masih pada polos dan gak ngerti dunia luar, tapi (menurut gua sih ya) yang namanya milih jurusan itu bukan perihal memahami dunia luar, tapi memahami diri sendiri! Sekarang siapa sih sebetulnya yang paling ngerti sama diri kita? Di dunia ini gak ada satu orang pun yang lebih mengerti diri kita ketimbang diri kita sendiri, jadi siap-gak-siap kita harus nerima bahwa orang yang paling tepat buat nentuin masa depan kita ya diri kita sendiri juga, dari mulai milih jurusan sampai keputusan buat berhenti kuliah dan ganti ke jurusan lain, itu diri kitalah yang paling tau.

"Terus, gimana dong cara ngebujuk orangtua kita supaya mereka mau merestui keputusan kita?"

Nah, ini juga pertanyaan yang sering banget ditanyain ke gue. Terus terang gua sendiri rada serba-salah jawabnya, di satu sisi gua gak mungkin bisa ngasih saran yang tepat karena gua gak tau kondisi keluarga lo dan gimana hubungan lo sama orangtua. Cuma pada prinsipnya, kalo lo mau didengerin sama orangtua, mau supaya orangtua bisa yakin sama keputusan lo, kuncinya menurut gua cuma satu:Lo harus bisa tunjukin ke orangtua bahwa sekarang lo udah dewasa. Lo harus bisa tunjukin kalo lo bisa dipercaya, bisa bertanggung-jawab sama keputusan lo sendiri dan bener-bener punya rencana yang matang sama masa depan lo. Kalo lo udah bisa nunjukin hal itu, gua yakin kalo lo bisa ngomong baik-baik sama orangtua lo, mereka pasti ngerti dan menghargai keputusan anaknya yang dia yakini udah dewasa, punya rencana yang mateng, dan bertanggung-jawab.

2. Kondisi finansial nggak mendukung buat kuliah lagi.

Gue ngerti, kalo bagi sebagian masyarakat, biaya masuk kuliah itu nggak murah, berarti kalo lo ngulang, ya berarti biayanya dobel. Urusan duit ini bisa jadi pertimbangan yang krusial juga, apalagi mungkin sebagian besar dari lo biaya kuliah masih ditanggung sama orangtua, mungkin lo juga gak enak ngebebanin orangtua lagi dengan keputusan lo.
Untungnya sih peraturan dari pemerintah sekarang ini (untuk PTN) penerapan biaya kuliah didasarkan pada Permendikbud no 55 tahun 2013, yang mewajibkan seluruh Perguruan Tinggi Negeri menerapkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ditanggung setiap mahasiswa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarganya. Selain biaya yang disesuaikan dengan kemampuan orang tua / wali, sistem UKT juga tidak akan terlalu membebani ekonomi orang tua / wali di awal masuk kuliah karena biaya UKT dipukul rata setiap semester dan tidak ada uang pangkal. Buat lo yang keadaan ekonominya masih belum berlebihan, harusnya sistem UKT ini udah lumayan banyak bisa ngebantu kendala yang berhubungan sama duit.
Ngomong-ngomong soal hitungan duit, ada satu hal lagi yang perlu lo pertimbangin terkait faktor biaya. Mungkin buat sebagian dari lo yang ngerasa salah jurusan ngerasa sayang banget kalo harus ngeluarin duit lagi buat ngulang ambil kuliah di jurusan yang lain, tapi kalo dari pengalaman gua sih... di antara temen-temen gua yang ngerasa salah jurusan tapi maksa terus lanjutin kuliah, HAMPIR GAK ADA satu pun yang akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah mereka sampai selesai.
Inilah yang perlu lo camkan baik-baik, yang namanya menjalani kuliah di Indonesia itu bisa gua bilang tantangan yang cukup BERAT, dari mulai banyaknya jumlah sks yang harus dijalani, tugas-tugas yang menumpuk, kerjaan di laboratorium, ujian semester, kerja praktek lapangan, seminar, sidang, skripsi, dsb. Jelas, kalo itu semua nggak lo jalanin dengan penuh ketekunan karena lo bener-bener menyukai bidangnya, bisa gua bilang sulit banget buat lo untuk bisa bertahan sampai lulus. Berdasarkan pengalaman gua, mereka-mereka yang maksain kuliah walau udah nggak niat tuh biasanya ujung-ujungnya Drop Out juga.
Jadi, sekarang coba pertanyaannya dibalik dari yang...

"Berapa sih duit yang dikeluarin buat ngulang kuliah (yang notabene disesuaikan juga sama keadaan ekonomi ortu) dibandingin sama biaya yang keluar kalo lo maksa nerusin kuliah sampai 5-7 tahun tapi ujung-ujungnya D.O juga?"

Nah, moga-moga refleksi dari gua ini bisa sedikit jadi bahan pertimbangan buat lo dalam mutusin lanjut kuliah atau ngulang sesuai dengan pilihan lo sendiri.

3. Kalo belajar SBMPTN sambil kuliah, bisa gitu?

Kalo ditanya "bisa" atau "nggak" ya jawabannya sih bisa-bisa aja. Tapi, apakah belajar SBMPTN sambil kuliah itu pilihan yang bijak, ya belum tentu juga. Itu semua sebetulnya tergantung jawaban lo dari dua pertanyaan gue di bawah ini:
  1. Udah seberapa muak lo sama jurusan yang lo jalanin sekarang?
  2. Sampai sejauh mana lo mau keluar dari zona nyaman lo, buat kembali mengejar apa yang betul-betul mau lo tekuni?
Bagi lo yang nggak mau ambil risiko, mungkin mikir kalo lo bisa belajar buat SBMPTN sambil nerusin kuliah yang lagi lo jalanin sekarang ini, tentu dari satu sisi ini adalah pilihan yang aman. Tapi harus lo sadari juga, bahwa pada saat yang sama, ada ribuan dari saingan lo yang betul-betul mendedikasikan waktunya buat persiapan belajar SBMPTN, bahkan ada yang memutuskan untuk nganggur setahun buat ngambil persiapan belajar yang mateng. Di sini, faktor persaingan harus jadi bahan pertimbangan lo yang mateng juga.
Jadi, pada prinsipnya sih, untuk bisa menjawab pertanyaan ini dengan bijak, lo sebaiknya merenungkan kembali 2 point pertanyaan yang udah gua sebutin di atas. Kalo emang pada dasarnya lo udah bener-bener muak sama kuliah lo sekarang, ya ngapain juga lo nyiksa diri buat nerusin? Yang jelas, kalo keputusan lo setengah-setengah gitu, hasil yang didapet juga susah buat maksimal, bisa jadi lo malah gak lolos SBMPTN plus nilai kuliah semester 2 lo juga ancur.
Selain itu, tergantung juga sama seberapa besar penghargaan lo terhadap bidang yang betul-betul mau lo tekuni? Kalo lo cuma ngerasa nggak sreg sama jurusan lo yang sekarang tapi di sisi lain lo juga belum bisa nentuin jurusan mana yang lo mau tekuni ya sama juga bohong, hehe.. (Baca nih: tips cara milih jurusan yang tepat)

4. Emangnya masih sempet gitu kalo baru mulai belajar SBMPTN mulai dari sekarang?

Nah, ini juga pertanyaan yang seriing banget ditanyain, dan terus terang gua bingung jawabnya gimana, haha... Coba deh kalo lo di posisi gua terus ditanyain kayak gini di twitter atau ask.fm, serba-salah nggak tuh jawabnya? Di satu sisi, gua bukan tipe motivator yang bisa sekedar jawab "Masih sempet kok, makanya belajar yang rajin dari sekarang pake zenius yah". Sebaliknya di sisi lain gua juga gak mungkin jawab "Ya udah gak sempet lah kalo baru mulai dari sekarang, mampus aja lo!" Hahaha...
Sebetulnya masalah "sempet" atau "gak sempet" itu yah relatif tergantung sama 2 hal ini aja:
  1. Pertama, sejauh mana lo kesiapan lo sampai dengan saat ini? Kalo emang lo orang yang udah punya basic yang kuat, mungkin belajar 1-2 bulan aja udah cukup. Tapi buat lo yang selama ini gak bener-bener paham konsep dari bahan materi SBMPTN, ya mungkin lo perlu seenggaknya 3-6 bulan buat bener-bener siap buat bersaing.
  2. Kedua, tergantung juga sama kondisi persaingan dari jurusan yang mau lo tuju. Jelas faktor waktu juga berkolerasi dengan peluang jurusan favorit/non-favorit. Bagi lo yang mau masuk FKUI yang peluang lolosnya di bawah 2%, ya pasti lo perlu persiapan yang lebih panjang untuk siap bersaing. Sebaliknya kalo jurusan inceran lo persaingannya relatif gak terlalu ketat, mungkin waktu persiapannya juga gak butuh waktu terlalu lama. Jadi, coba deh lo mulai sekarang, cari tau dikit-dikit tentang tingkat peluang kelolosan dari jurusan yang lo incer, pasti banyak kok informasinya di google.
Terlepas dari kedua hal di atas, menurut gua sih lo gak perlu terlalu larut dengan kekhawatiran "Masih sempet nggak yah kalo belajar mulai sekarang?" Karena toh itu nggak akan membawa lo kemana-mana. Realitanya biar bagaimana pun juga kita gak mungkin bisa menambahkan waktu yang tersisa.Waktu akan selalu berjalan maju tanpa memperdulikan kita siap/gak siap, atau sempet/gak sempet. Lo harus terima bahwa saat dimana lo membaca artikel ini adalah moment yang tersisa buat lo, jadi satu-satunya cara ya manfaatkanlah waktu yang tersisa ini sebaik-baiknya,
Nah, daripada lo terus larut dan galau mikirin masih/sempet atau nggak kalo belajar dari sekarang. Gua mau kasih tau satu kabar baiknya nih. Buat lo semua yang bener-bener mau serius ngejar SBMPTN atau ujian mandiri, di website zenius.net kita udah siapin semua fasilitas belajar yang lengkap banget buat ngebantu semua persiapan lo untuk menghadapi SBMPTN. Dari mulai video pembahasan teori setiap mata pelajaran, yang terdiri dari TKPA, Saintek, maupun Soshum... sampai video pembahasan soal-soal SBMPTN tahun-tahun lalu (lengkap dari tahun 2002-2014), latihan soal per bab untuk semua mata pelajaran, tips-tips cara belajar sbmptn yang bikin lo enjoy, dan masih banyak lagi
sumber: https://www.zenius.net/blog/6519/salah-milih-jurusan-kuliah


Pilih Jurusan yang Spesifik, Jangan Ikut Ikutan

Tahun terakhir SMA (saat-saat akan masuk kuliah S1) adalah waktu yang sibuk dan cukup menekan untuk saya. Di samping harus mempersiapkan Ujian Nasional dari Pemerintah, Ujian Sekolah – baik dengan belajar di rumah, di sekolah serta di bimbingan belajar yang rasanya tidak selesai-selesai (setiap hari saya bisa les 2-3 mata pelajaran berturut-turut) – saya juga harus memilih jurusan dan universitas. Rasanya bisa lulus SMA saja sudah merupakan suatu prestasi luar biasa dan cukup membuat deg-degan apakah saya bisa lulus atau tidak.
Betapa tidak, saat itu saya termasuk di daftar siswa yang pernah dipanggil kepala sekolah karena nilai Fisika dan Kimia saya yang kurang memuaskan dan karena saya ada di jurusan IPA, ini merupakan suatu hal yang penting. Untungnya setelah bergulat dengan soal-soal IPA yang rasanya tidak ada habisnya, saya lulus SMA dengan nilai cukup memuaskan. Merdeka!
Nah, saya tentu saja harus memilih jurusan sebelum lulus karena saat itu (dan saya yakin saat-saat sekarang trennya juga begitu) para institusi pendidikan tinggi sudah berlomba-lomba membuka pendaftaran lebih awal, bahkan dengan diskon early bird, di mana kalau kita mendaftar lebih awal, kita dapat potongan harga.
Memilih Jurusan dan Universitas
Pertanyaan paling penting: apa yang ingin saya pelajari? Apa jurusan yang mau saya geluti selama 3-4 tahun ke depan?
Saat SMP dan SMA, saya sudah bingung memikirkan hal ini, sudah tidak sabar ingin cepat-cepat kuliah, menjadi dewasa dan mandiri. Saya sering ikut tes minat dan bakat serta tes IQ walaupun kadang-kadang hasilnya (rasanya) kurang akurat karena salah satu jurusan yang dianjurkan adalah matematika (salah satu mata pelajaran momok).
Di dalam hati, saya menyimpan impian, saya sangat ingin menjadi seorang perancang busana sukses. Dari kecil, saya juga hobi menggambar dan membaca majalah-majalah wanita seperti Femina, DewiElle, dan Vogue.
Saya sudah mencari informasi tentang program desain busana dan hampir mengikuti tes masuk untuk kuliah di sebuah institut di Singapura ketika orangtua menyatakan keberatan mereka. Mereka ingin saya kuliah di Indonesia. Alasannya, mereka mengganggap saya belum bisa dilepas sendiri. Mereka takut saya tidak betah dan minta pulang. Saat itu saya mendengar pendapat mereka dan menyetujuinya; saya memang merasa belum siap secara mental untuk tinggal sendiri di negara asing. Kedengarannya cengeng, tetapi persiapan mental memang merupakan sesuatu yang harus dimiliki seseorang untuk dapat sukses kuliah dan tinggal di luar negeri.
Pada saat itu, saya tidak menemukan program S1 di bidang desain busana di Indonesia yang kelihatannya cocok. Maka, saya memilih secara acak program S1 lain yang kelihatannya menarik dan tersedia di universitas yang saya mau. Saat itu merupakan saat-saat yang cukup kacau, satu keluarga saya berkumpul membantu saya memilih jurusan. Mereka menyarankan program Bahasa dan Sastra Inggris, alasannya karena saya selalu dapat nilai bagus di pelajaran Bahasa Inggris, jomplangjika dibandingkan dengan nilai di pelajaran MaFiA (Matematika, Fisika, Kimia). Saya juga hobi membaca novel dalam bahasa Inggris. Di brosur, pilihan karirnya juga cukup beragam: menjadi guru, penerjemah, dosen, sekretaris, entrepreneur, kerja di industri pariwisata, dll. Akhirnya saya memilih Sastra Inggris sebagai pilihan pertama karena berpikir mungkin bisa kerja di perusahaan apapun dengan jurusan fleksibel seperti Sastra Inggris ini. Selamat tinggal, MaFiA! Saya tidak punya ekspektasi apa-apa. Saya cuma ingin kuliah dan dapat gelar S1.
Kuliah Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Sangat mengejutkan bagi saya ketika saya menjalani kuliah di program Bahasa dan Sastra Inggris ini. Saya sangat amat menikmatinya! Saya dapat dengan lancar berpartisipasi dalam semua diskusi kelas. Saya merasa menemukan dunia baru yang mengasyikkan dalam diskusi-diskusi kelas, khususnya dalam diskusi sastra. Ketika ada pembagian konsentrasi dalam jurusan ini (antara sastra, linguistik, dan pendidikan guru), tanpa ragu saya memilih sastra dengan satu tujuan: menjadi editor buku saat lulus nanti karena saya tahu sangat sedikit opsi karir untuk sastra. Naifnya, saya tidak punya cadangan karir lain. Saya cuma ingin menjadi editor buku fiksi, kalau bisa bahkan buku dalam bahasa Inggris, titik. Saya merasa jika saya sungguh-sungguh menginginkan sesuatu dan mau bekerja sekeras mungkin, peluang pasti muncul.
Pengalaman kuliah S1 ini sangat berkesan. Dari bukan siapa-siapa di SMA, saya menjadi lulusan terbaik dari fakultas saya dan berpengalaman menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan di jurusan saya, serta berpidato dalam upacara kelulusan universitas waktu itu. Saya sangat bersyukur atas lingkungan belajar yang suportif dan stimulatif, yang membuat rasa percaya diri saya yang lemah dapat meningkat.
Mencari Pekerjaan!
Saat sidang akhir selesai, saya tahu saat mencari pekerjaan tiba. Saya kurang berpengalaman saat itu, saya hanya pernah sekali kerja paruh waktu menjadi guru les Inggris saat semester terakhir. Kalau saya tahu sejak dulu, saya akan lebih aktif mencari kerja sambil kuliah untuk mempersiapkan karir lebih dini, sekaligus mencoba-coba pekerjaan di berbagai bidang. Perjuangan masih panjang setelah lulus S1. Sesungguhnya, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai karena menurut pengalaman saya, jurusan di S1 tidak selalu berbanding lurus dengan karir.
Setelah menamatkan S1, di ijazah saya, yang tercetak adalah S.Pd (Sarjana Pendidikan) dan resume saya menunjukkan saya lulusan terbaik Fakultas Pendidikan walaupun saya tidak pernah mempelajari cara menjadi guru barang sedikitpun di kuliah (Sastra dan Bahasa Inggris berganti nama menjadi Pendidikan Bahasa Inggris). Alhasil, setiap kali saya melamar kerja menjadi guru bahasa Inggris, saya selalu dipanggil wawancara atau tes mengajar. Memang, IPK dan gelar yang bagus selalu membuka jalan ke tahap paling pertama.
Walaupun terlambat, saya menyadari situasi bursa kerja yang nyata. Profesi pendidik sedang amat dibutuhkan. Banyak anak masuk sekolah, sekolah-sekolah dibuka, bertebaran dan berkompetisi menarik murid di mana-mana. Sekolah nasional plus juga memberikan gaji yang lumayan besar untuk guru-guru. Guru juga merupakan suatu profesi yang cukup terhormat. Dibandingkan dengan industri penerbitan buku di Indonesia yang didominasi sebuah penerbit besar, industri pendidikan tentu saja menawarkan peluang kerja yang lebih banyak dan lebih baik.
Saya sangat mencintai buku dan dunianya, tetapi karena setelah beberapa bulan terkatung-katung melamar kerja dan selalu tidak berhasil melamar kerja di bidang penerbitan buku (entah karena lokasi yang jauh menurut saya, keberatan dari pihak penerbit, atau apapun itu), saya menyerah dan mau mencoba menjadi guru. Guru kan juga harus banyak membaca, saya pikir. Tiga bulan pertama dari program pelatihan guru di sebuah sekolah nasional plus, saya keluar. Tidak sanggup, rasanya ada beban mental dalam mengajar murid-murid SD, jika saya salah mengajar mereka menambah-mengurangi-mengali-membagi, bagaimana nasib mereka nanti saya pikir.
Sebuah kesempatan menjadi penerjemah datang dari kenalan saya. Saya ingat sekali, waktu itu sambil mengobrol, ia bertanya saya ingin jadi apa. Saya jawab menjadi penerjemah mungkin. Kebetulan, ia butuh seseorang untuk menerjemahkan sesuatu katanya. Saya langsung menyanggupi. Akhirnya sambil mencari kerja lain, saya menjadi penerjemah.
Pekerjaan Kedua
Bisa tebak pekerjaan kedua saya? Rupanya saya tidak kapok juga, saya kembali menjadi guru. Tetapi ini profesi guru yang berbeda, karena saya menjadi guru sastra Inggris untuk SMA! Saya mengambil peluang ini karena saya punya guru-guru sastra Inggris yang hebat saat kuliah. Saya sangat suka mereka karena mereka dapat menerangkan sastra dengan sangat mengasyikkan dan jelas. Mungkin ini akan lain, saya pikir. Pada akhirnya memang lain karena saya cukup menikmati mengajar sastra kepada murid-murid SMA. Banyak dari antara mereka kritis dan sudah memiliki fondasi bahasa Inggris yang baik. Mengajar juga jadi menantang untuk saya. Saya jadi belajar menjadi guru yang baik dan bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dan kelas yang berbeda.
Sumber: http://indonesiamengglobal.com/2015/02/memilih-jurusan-dan-karir-yang-tepat-bagian-1/

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...