Selasa, 28 September 2010

Orang Lintau Juga Bisa Jadi Doktor (Inspirasi dari profil Oki Murasa dan Revalin Herdianto)

                                                  Orang Lintau Juga Bisa Jadi Doktor
                                    (Inspirasi dari profil Oki Murasa dan Revalin Herdianto)
Oki Muraza et Famille
Revalin et Famille

                                                               Oleh: Marjohan, M.Pd
                                                             Guru SMAN 3 Batusangkar


Suatu hari penulis berjumpa dengan seorang teman baru yang diperkirakan bahwa ia adalah lulusan dari Universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITP, UGM, atau Universitas di Pulau Jawa yang sudah dikenal luas. Universitas tersebut pada umumnya terkenal dengan lulusan atau alumni yang cukup cerdas, punya wawasan, punya motivasi dan semangat kompetisi yang tinggi. Penulis bertanya apakah ia juga lulusan dari salah satu perguruan tinggi tersebut. “Saya cuma lulusan Perguruan Tinggi di daerah dan sukses itu ada di mana-mana. Di desa pun orang juga bisa sukses”, jawab teman baru tersebut. Pernyataan tadi telah memberi inspirasi atas judul artikel ini bahwa siswa dari daerah kampung/ desa- seperti daerah Lintau di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat- juga bisa jadi Doktor.

Pengalaman menjadi guru (walau bukan di sekolah perkotaan) di daerah atau desa. Bahwa Kecamatan Lintau Buo- Kabupaten Tanah Datar seputar tahun 1990-an mungkin masih dianggap sebagai daerah yang bersuasana desa atau kampung. Itu karena pada masa itu fasilitas transport masih terbatas. Banyak siswa yang cerdas dan berbakat belum banyak yang terprovokasi untuk memilih sekolah di luar kecamatan- yang mereka anggap unggul atau berkualitas. Ternyata bahwa mereka merasa sangat senang belajar di sekolah daerah ini. Setelah lebih dari lima belas tahun penulis juga mendengar bahwa cukup banyak alumni (siswa yang belajar dari sekolah di daerah ini) yang menjadi orang- memperoleh posisi kerja yang sangat bagus.

Face Book pernah jadi fenomena unik dan sangat membantu. Meski pernah muncul pros and cons bagi santri pesantren- facebook itu dinyatakan haram. Ini tentu tergantung pada cara memandang dan menggunakan kacamata warna apa ? Dalam kenyataan bahwa Facebook malah memberi manfaat positif sebagai jejaring sosial- menemukan teman yang hilang atau yang terputus komunikasi. Lewat Facebook penulis sendiri berjumpa kembali dengan banyak teman lama dan bekas murid di tahun 1990-an. Memang ternyata mereka banyak yang menjadi orang- berhasil dalam karir. Ada dua bekas murid yang paling berkesan dalam memori penulis, nama mereka adalah “Revalin Herdianto dan Oki Murasa”. Dahulu kedua-duanya juga belajar di sekolah desa (Kecamatan Lintau Buo yang saat itu masih terasa seperti kampong yang damai dan terisolir- karena transpor mobil umum terbatas sampai jam 14.00 siang), namun murid murid ku yang istimewa tersebut sekarang mampu meraih gelar Doktor. Profil mereka pun memberi inspirasi atas tulisan ini.

Revalin Herdianto (nama kecilnya adalah DEDI), ia dapat dikatakan sebagai figure yang berhasil dalam menggapai mimpinya dalam bidang akademik. Di awal tahun 1990-an ia hanya belajar di SMAN 1 Lintau, sekolah yang masih bersuasana kampong saat itu. Ia tidak pernah mengikuti bimbel (bimbingan belajar) seperti lazimnya anak-anak sekarang. Ia hanya banyak belajar sendirian dan telah menjadi siswa yang mandiri dalam belajar.

Kelas 2 SMA jurusan fisika, ia pernah sakit campak- dan tidak bisa ujian. Penulis sebagai guru bahasa Inggris berdoa atas kesembuhannya, ia adalah yang super/ cemerlang dalam mata pelajaran bahasa Inggris dan ia berhak memperoleh nilai paling tinggi. Meski ia tidak bisa ikut ujian, nilai angka 90 buatnua sudah penulis serahkan pada wali kelas. meski ia datang ke penulis (guru bhs Inggrisnya) dan ia hanya ikut ujian sebagai formalitas saja.

Penulis menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya dan mengenal sosok ibunya yang sangat mandiri dan penyabar. Penulis punya catatan tentang karakter/ pribadi revalin bahwa aOkigaknya ia tidak membutuh komando orang tua dan guru dalam belajar. Orang tuanya tidak akan berteriak teriak menganjurkanya dalam belajar. Ia dan teman-teman (kelompok belajarnya) sudah punya kebiasaan belajar sebagai kebutuhan.

Bukan berarti ia harus terpaku pada meja belajar sepanjang hari dan membenamkan kepala di atas tumpukan buku-buku sepanjang hari. Sebagai warga sosial, Revalin juga melibatkan diri dalam berbagai aktifitas masyarakat di kampong. Ia ikut ke ladang, ikut gotong royong membangun jalan desa, dan juga ikut menjelajah alam bersama teman-teman. Saat di SMA, kemampuan belajar Revalin biasa-biasa saja- namun ia duduk di kelas unggulan. Pada saat duduk di perguruan tinggi ia memperoleh strategi belajar yang tepat dan kemampuan akademiknya melejit.

Ada prinsip belajar yang ia jalani yaitu “study while studying and play while playing- belajarlah saat belajar dan bermainlah saat bermain. Banyak siswa sekarang kurang menerapkan prinsip belajar yang begini. Mereka malah mengadopsinya menjadi prinsip belajar yang berbalik arah yaitu “play while studying dan study while playing- bermainlah saat belajar dan di sini bearti kurang ada keseriusan dan konsentrasi dalam belajar.

Belajar di sekolah berarti harus terjadi komunikasi dua arah antara guru dan murid. Anak-anak yang berasal dari rumah yang punya komunikasi dua arah maka di sekolah akan terbiasa juga dengan komunikasi dua arah. Di rumah, Revalin juga terbiasa dengan suasana komunikasi dua arah. Orang tuanya tidak sekedar menyuruh dan melarang. namun orang tua/ keluarganya juga melibatkan fikiran dan tenaga Revalin dalam menjalankan kegiatan harian di rumah.

Ia memperoleh beasiswa penuh untuk mengikuti program master ke Australia. Pelamar beasiswa ke luar negeri harus bisa memperoleh standar TOEFl- Test Of English as Foreign Language yang disaratkan oleh program, mungkin skornya 500 atau lebih. “Apa rahasia agar kita bisa memperoleh TOEFl yang tinggi ?”

Ada tiga hal yang diuji dalam TOEFL yaitu kemampuan membaca, mendengar dan tata bahasa (structure). Cara yang terbaik untuk meraih TOEFL tinggi adalah dengan berlatih dalam mengerjakan soal-soal. Kemudian membiasakan diri dalam membaca teks bacaan yang agak panjang. Sementara untuk meningkatkan kemampuan listening kita harus tahu strateginya- apakah pertanyaan dalam listening menanyakan tentang informasi umum, informasi tersirat, informasi rinci, menanyakan tujuan dari reading dan yang paling penting adalah banyak latihan mendengar.

Ia bisa menyelesaikan program master tepat waktu dan sekarang juga sedang menyelesaikan program post-graduatenya (program Doktoral). Setiap orang, termasuk siswa yang bearasal dari kampung bisa mencari beasiswa untuk program master dan program doctoral dalam negeri, maupun dari luar negeri. Revalin Herdianto sendiri merampungkan program graduate melalui beasiswa IALF- Indonesia Australia Language Foundation yang punya kantor di Bali dan Surabaya.

Di awal tahun 1990-an penulis juga sempat berbincang-bincang dengan seorang pelajar cerdas yang bernama Oki Murasa- seorang siswa SMP yang punya fenomenal dengan peringkat NEM (Nilai Ebtanas Murni ) paling tinggi di Kabupaten Tanah Datar saat itu. Daya serap belajar Oki Muraza sangat bagus- daya rekamnya ibarat mesin fotokopi. Ternyata Oki bisa menjadi siswa yang fenomenal dengan peringat nilai tertinggi bukan lewat pemanjaan. Karena orang tuanya tidak memberikan pemanjaan, namun ia memberikan kasih sayang, perhatian, tanggung jawab dan penghargaan kepada Oki. Pemanjaan berarti mengikuti semua kemauan anak tanpa pengontrolan. .

Oki Muraza- Oki Muraza adalah murid seorang guru Fisika yang bernama Emi Surya (Istri Penulis). Di rumah Emi Surya selalu memberi good news: "Uda...aku punya murid...anaknya bersih...ganteng...cakep...alim....baik...rajin....cerdas...dan memorinya ibarat mesin fotokopi". Kalimat ini kami bahas terus dan penulis jadi penasaran hingga akhirnya bisa berjumpa dengan seorang siswa yang amat cakep...pintar...baik...dan alim.

Ketika itu ia belajar di SMP (di Lintau Buo) malah tinggal hanya dengan orang tua tunggal- ibu kandung yang memperoleh pendidikan sarjana di Universitas Sriwijaya. Ibunya juga memberi Oki tanggung jawab untuk mandiri dalam belajar, namun juga ikut meringankan pekerjaan ibunya- mengupas kelapa, mencat pagar, mencuci piring atau mungkin pekerjaan lain. Aktifitas ini penting untuk memperkaya anak dengan pengalaman hidup- life skill. Sukses dalam bidang akademik di bangku SMP/ SMA tentu akan memberikan kemudahan bagi siswa untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi melalui jalur bea-siswa. Bagi Oki sendiri ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah SMA Taruna Nusantara, sekolah unggulan yang paling diminati oleh lulusan SMP se Indonesia, dan sejak tahun 1993 penulis tidak mendengar banyak tentang Oki Muraza.

Setelah 17 tahun tidak mendengarnya maka Penulis di tahun 2010 ini mengetahuinya sebagai Doktor Oki Murasa. Lagi-lagi ia menjadi inspirasi bagi penulis untuk menulis tentang siswa kampung juga berhak jadi Doktor. Facebook lagi-lagi memberi kemudahan bagi penulis untuk tahu banyak tentang dia secara langsung. Oki juga memiliki blogger.

Melalui blognya (http://murazza.multiply.com) penulis juga bisa mengetahui tentang kisah sukses dan perjalanan hidupnya. Dalam usia muda (30 tahun) Oki bisa menjadi Doktor dan bekerja sebagai tenaga peneliti di Abu Dhabi, United Arab Emirates. Dan sebelumnya ia bekerja di beberapa institute di Eropa. Meski berada jauh dari kampung (Indonesia), namun kecintaannya terhadap tanah air masih tergores.

Pendidikan Oki dalam menggapai mimpi menjadi Doktor adalah, setelah menyelesaikan pendidikan SMP Negeri 1 Lintau, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna Nusantara di Magelang. Selanjutnya ia memilih studi di ITB Bandung, kemudian program masternya pada Chemical Engineering, Technische Universiteit Delft, Delft, the Netherlands dan selanjutnya untuk doctoral (PhD) pada Chemical Engineering, Technische Universiteit Eindhoven, Eindhoven, the Netherlands. Ia mengatakan bahwa penguasaan bahasa asing mutlak diperlukan untuk studi yang lebih tinggi, apalagi kalau di luar negeri.

Oki Muraza juga memperoleh “honor and award” dalam menggapai mimpi menuju Doktoral, yaitu seperti dari NIOK (Netherlands Institute for Catalysis Research- Institut Belanda untuk Riset Catalysys). Oki memperoleh nilai tertinggi saat menyelesaikan program Doktoralnya. Ia memperoleh berbagai beasiswa dan termasuk beasiswa yang disponsori oleh Unesco- Belanda.

Anak anak yang sekarang sedang belajar di SMP dan SLTA (SMK dan SMA) di kampung atau di pedesaann juga bisa sukses, menjadi Doktor seperti halnya Revalin Herdianto dan Oki Muraza. Yang suka bersantai saja tentu saja tidak akan berhasil, namun yang bisa banting stir- paling kurang seperti pola dan gaya hidup Revalin dan Oki kemungkinan bisa juga menjadi Doktor. “Bagaima karakter anak-anak desa/ kampung yang diperkirakan bakal sukses kelak ?”

Ya mereka harus menjadi siswa yang mandiri dalam belajar. Jangan pernah butuh komando/ diperintah orang tua dan guru untuk memulai belajar, “Belajar lagi nak….buat Pe-er nya segera….!” Orang-orang yang telah sukses dalam profesi mereka, saat belajar di bangku SMP dan SMA bukan berarti mereka harus terpaku pada meja belajar sepanjang hari. Namun mereka juga melibatkan diri dalam berbagai aktifitas masyarakat. Mereka serius dalam belajar, belajarlah saat belajar dan bermainlah saat bermain. Mereka memiliki komunikasi dua arah di rumah (yaitu antara anak dan orang tua) dan di sekolah (antara siswa dan guru). Mereka juga ikut serta/ berpartisipasi dalam mengurus diri dan mengurus rumah. Mereka bisa sukses (karena rido dari Allah Swt). Kemudian juga memiliki kemampuan bahasa Inggris dan meraih skor TOEFl- Test Of English as Foreign Language yang disaratkan oleh program mungkin seputar 500 atau lebih. Selanjutnya mereka juga memiliki mental yang tangguh, tidak cengeng, tidak gemar minta bantuan- tapi mereka terbiasa dengan “help your self terlebih dahulu, gampang beradaptasi dan bergaul dengan berbagai macam karakter dan pola fikir orang.

Akhir kata bahwa mereka juga terbiasa punya tanggung jawab atas diri sendiri dan dalam membantu orang lain. Revalin Herdianto dan Oki Muraza telah menjadi inspirasi bagi penulis dan juga pembaca blog ini dimana saja berada.

Selasa, 21 September 2010

Timbang Rasa Penting Dalam Mendidik

Timbang Rasa Penting Dalam Mendidik
Oleh; Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Sebahagian orang mungkin sudah lama tidak mendengar kata kata “timbang rasa” lagi. Seharusnya kata-kata ini masih diucapkan oleh teman-teman, anak-anak muda dan malah juga generasi tua sebagai tanda bahwa mereka masih peduli dengan “bertimbang rasa” dalam menjaga kualitas kounikasi. Kalau dulu orang tua sering berpesan, member pituah, pada anak-anak mereka “Anak ku…jagalah perasaan orang apabila kamu bergaul, mengangalah dulu sebelum berbicara”. Hingga suatu hari ternyata penulis masih menemukan kata-kata “timbang rasa’ tertera sebagai merek sebuah home industry di kawasan kota Payakumbuh.

Timbang rasa berarti menimbang perasaan orang dalam berkomunikasai. Timbang rasa sangat penting, karena ia adalah bumbu yang membuat pergaulan dan komunikasi terasa enak. Orang yang punya timbang rasa dalam berkomunikasi jadi menarik dan pergaulannya sangat disenangi. Timbang rasa , kalau begitu sangat perlu untuk dimiliki oleh siapa saja- tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin dan apa saja bangsa dan agamanya.

Berkumpul bersama anggota keluarga sambil menonton TV atau acara-acara kekeluargaan- makan bersama, traktiran dan sampai pesta kecil kecilan sekedar melepas kangen, sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Apalagi bagi mereka yang jauh dari kampung halaman. Kadang kala dalam suasana kebersamaan ini terjadi guyon dan ledek meledek. Pada mulanya memang bisa untuk menambah keakrapan, namun salah guyon dan salah membuat ledekan malah bisa menjadi bisul untuk menebar rasa sakit hati dan perpecahan.

Banyak orang (kakek, nenek dan ayah- ibu) berfikir bahwa anak-anak kecil belum punya pikiran, hingga mereka butuh arahan dan didikan. Sebagian dalam bertindak dan berkata kepada mereka juga kurang memperhatikan hati (emosi) mereka. “Wah kamu ini bloon, udah berkali kali diberi peringatan namun tidak juga mengerti, dasar bebal atau muka tembok”. Bagaimana kira kira perasaan anak atas komentar tadi ?

Banyak orang yang kurang mempertimbangkan perasaan anak. Sebagian orang tua rata-rata hanya bersikap lembut terhadap bayi, balita dan anak-anak yang berusia hingga masuk SD, ya saat mereka masih terlihat lucu dan patuh. Namun begitu anak terlihak mulai agresif, sudah punya banyak kawan dan sibuk mengembangkan gerak dan melakukan eksplorasi. Mereka telah diberi label sebagai anak bandel oleh karena itu mereka (anak-anak) mulai berhubungan dengan sejuta suruhan dan larangan dari orang tua.

Menghargai perasaan anak sangat pentig dalam mendidik.Namun dalam kenyataan jarang terealisasi. Ini juga menjadi kebiasan dari pasanagn kakek- nenek yang tinggal di rumah kecil, di sebuah kota di Pulau Sumatera. Mereka tidak ada pekerjaan, kecuali hanya sekedar mengurus kebun kecil dan kucing piaraan. Selebihnya hari-hari mereka terisi dengan kegiatan nonton TV dan rebutan untuk mengomentari hal hal kecil. Kebiasaan gemar mengomentari hal-hal kecil terbawa-bawa terhadap cucunya yang hanya datang sekali setahun untuk berlibur.

Punya kakek dan nenek itu sangat indah. Anak-anak biasanya membayangkan tokoh kakek-nenek ibarat tokoh dalam buku cerita dan tokoh dalam kartun. Orangnya sangat baik dan penyayang. Namun dalam kenyataan tidak demikian dalam ilusi Rido dan Anita. Sebagai anak-anak yang masih duduk di bangku SD dan SLTP, mereka tentu punya segudang kegiatan, yang sering dianggap sebagai kenakalan bagi orang tua/ kakek dan nenek.

Mereka melompat, berlari, mendorong perabot dan berteriak-teriak dalam rumah. Kakek- nenek yang tidak terbiasa dengan suasana ini pasti akan menjadi jengkel. Tiba-tiba tertumpah air ke lantai. Ini hal biasa namun komentar dan kemarahan kakek-nenek meledak melebihi hal yang sebenarnya. “Kamu sangat usil dan nakal ya.., membuat keributan…, mendorong dorong…, ibumu sudah salah didik…!”. Suasana begini sering terjadi dan bagi orangtua muda yang tidak sabaran terhadap omelan kakek-nenek akan segera berkemas kemas. Memutuskan kembali untuk , berangkat pulang. “Good bye…kakek…., good bye nenek…..lebih aku pulang kembali, karena rumah ini bukan sweethome bagi cucu cucumu.”. Hal seperti ini juga tidak harus terjadi.

Perubahan gaya mengasuh berpotensi menimbulkan gap (jurang pemisah) antara generasi sekarang- orang tua dengan kakek-nenek. Seharusnya kakek- nenek zaman sekarang harus menjadi generasi tua yang lebih terdidik dan makin bijak sana. Ibu dan ayah muda juga perlu mengenal karakter yang tidak disukai oleh generasi tua. Dalam berbagaimsuasana, timbang rasa sangat dibutuhkan. Kakek-nenek yang punya timbang tasa akan menjadi figure yang disayangi oleh cucu dan anak anaknya.

Timbang rasa perlu dibawa terus, kapan saja dan di mana saja termasuk saat pulang lebaran. Sebagaimana berlebaran , dengan fenomena exodus lebaran, sudah menjadi fenomena dalam masyarakat kita. Coba lihat suasana bila lebaran mau datang- arus transportasi menjadi super sibuk.. Di sana terjadi arus migrasi masal menuju kampung. Sekali lagi bahwa orang luar negeri akan melihat fenomena ini sebagai exodus besar-besar. “Ini memang exodus, ya happy exodus”.

“Apa yang diharapkan dari kedatangan orang orang dan family yang datang dari rantau ?”. Sebahagian berharap untuk silaturahmi dan melepas rasa kangen, namun dibalik itu ada juga mengharapkan “ oleh oleh atau yang dikenal dengan THR- tunjangan Hari Raya” dari mereka. THR biasanya dibagi-bagikan tiap lebaran datang, di hari lain mungkin namanya traktiran ‘traktir dong om….traktir dong tante”.Cukup banyak orang memprovokasi anak-anak kecil untuk minta oleh oleh- atau namanya uang tip, uang traktiran atau parsel (bingkisan) yang datang dari om, tante, abang, kakak sampai kepada opa-oma, “Hei itu om mu….ayo minta uang untuk beli sepeda”. Sehingga dari kebiasaan, akan tumbuh anak-anak dan generasi muda yang gemar minta traktiran. Asal ada orang baru datang maka yang mereka harapkan cuma oleh-oleh, dan uang traktiran, atau cendera mata.

Kebiasan mengharap cedera mata dan oleh-oleh atau traktiran dari karib kerabat dan family yang datang telah membuat cukup banyak dari mereka yang enggan untuk pulang kampong atau bersilaturahmi. Soalnya takut diserbu dengan uang traktiran. “Kampungnya kan dekat, kenapa jarang pulang kampung, apa tidak kangen dengan orang tua..?”. Rasa kangen kepada orang tua dan adik kakak selalu memang selalu ada. Namun yang membuat kaki berat untuk melangkah ke sana adalah kebisaan orang-orang sekeliling, mulai dari yang kecil sampai ke yang besar mengharapkan traktiran - sekeping uang untuk dibagi-bagikan. Kalau jumlah mereka satu atau dua orang tdak msalah, namun bila jumlah mereka cukup besar bisa-bisa mengganggu keuangan. Ya solusinya adalah tidak usah pulang kampung atau hentikan budaya berharap uang traktiran dari siapa saja yang datang.

Hal lain yang membuat seseorang menjadi enggan untuk menemui family/ kerabat atau kenalan yang lain juga karena kurangya timbang rasa dalam bentuk lain. Hidup ini penuh dengan orang-orang berkarakter unik. Ada orang punya karakter yang suka ngobrol tentang dirinya melulu, yang lain cuma jadi pendengar. “Aku kemaren dapat ini… aku kemaren buat ini rasanya enak…, anakku kemaren jadi hebat….suamiku kemaren ganti mobil….rumah ku kemaren direnovasi…”.

Pembicaraan yang terlalu banyak “aku” atau terfokus pada pembicaraan tentang diri akan membuat orang jadi males datang bersilaturahmi untuk kali berikutnya. Sudah jelas jumlah telinga itu “dua” melebihi jumlah mulut (satu mulut) namun kita kadang-kadang terlalu doyan banyak bicara yang tidak terlalu penting daripada mendengar pembicaraan teman dengan sepenuh hati.

Kemampuan dalam bertimbang rasa jauh lebih penting dari pada kebiasaan pamer kekayaan, pamer kehebatan anggota keluarga dan kebiasaan monopoli dalam ngobrol. Ini pulalah yang dialami Upik (bukan nama sebenanya) yang diajak oleh salah seorang paman untuk datang ke rumahnya. “Ayolah Upik datang ke rumah paman, penting banget buat mu”. Setelah tiba di sana ternyata Upik tidak menjumpai hal yang penting. Kecualinya Sang Paman sibuk mempromosikan rumahnya yang berharga mahal, tipe minimalis dan dilengkapi dengan perabot pilihan yang harganya cukup mahal. “Lemari ini kemaren Paman beli di Bukittinggi harganya hampir sepuluh juta, loteng rumah ini mirip dengan rumah dokter di Kebayoran Baru, besok Paman akan merenovasi garasi untuk tiga mobil”. Dalam kenyataan apa sih yang dirasakan Upik saat itu ?

Selanjutnya bahwa timbang rasa juga perlu hadir di sekolah, mulai dari bangku SD, SMP, SMA dan malah sampai ke Perguruan Tinggi. Murid kelas satu SD, seperti yang dikatakan oleh salah seorang teman penulis, akan menjerit ketakutan terhadap guru yang mereka anggap tidak punya timbang rasa. “Tukar gurunya….aku takut dengan guru itu, dia galak” Atau malah ada murid yang sampai ngompol dalam celana dan menggigau dalam tidur gara gara pengalaman seram mereka di siang hari- harus belajar bersama guru yang mereka anggap tidak tahu tentang bertimbang rasa dengan bocah-bocah kecil.

Begitu pula untuk siswa tingkat SLTA, ternyata ada siswa yang melarikan diri dari kelas, dari sekolah setelah punya pengalaman buruk belajar bareng dengan guru yang kurang memiliki timbang rasa. “Tiap kali belajar dengan saya, kok kamu ngelamun melulu” Timbang rasa bukan berarti harus tidak punya disiplin, harus mengikuti kehendak siswa. Namun timbang rasa disini adalah kemampuan guru untuk menimbang perasaan siswa- bersimpati dan berempati. Tidak melecehkan potensi, apalagi harga diri siswa. “Ah percuma saja kamu juara kelas, tapi kok egois sama kawan-kawan”.

Saatnya kata-kata timbang rasa musti dipopulerkan lagi dan saatnya timbang rasa diaplikasikan dalam hidup. Pedagang yang punya timbang rasa, banyak bersabar dan tidak suka mengomel terhadap pembeli yang gemar menawar, bakal menjadi pedagang yang laris manis. Rumah sakit dengn dokter dan perawatnya yang mengutamakan timbang rasa atau pelayanan prima terhadap pasien, akan membuat pasien bisa sembuh lebih awal. Rumah sakit yang yang mengutamakan timbang rasa akan membuat pasien betah berobat ke sana dan tentu tidak perlu berfikir untuk pergi berobat sampai ke negeri jiran segala.

Timbang rasa juga penting hadir di rumah. Suami yang punya timbang rasa terhadap istri akan memperoleh panen cinta dari istri dan sebaliknya. Istri penting mengutamakan timbang rasa pada suami agar perkawinan langgeng terus. Kemudian ada sebuah umah yang selalu dikunjungi banyak anak anak dan remaja. Semua anggota keluarga betah berada di rumah. “Itu karena anggota keluarga, terutama anak-anak, memperoleh kasih sayang dan juga diberi pembagian kerja. Di rumah mereka dihujani dengan banyak kata maaf dan rasa aman- bebas berekspresi. Akhirnya mereka tidak perlu lagi pergi ke luar rumah untuk mencari kasih sayang”. Kesimpulanya adalah hadirkanlah selalu rasa timbang rasa setiap saat di mana saja berada.

Jumat, 17 September 2010

Pola Asuh Yang Kaku Menciptakan Pribadi Yang Kacau Balau

Pola Asuh Yang Kaku Menciptakan Pribadi Yang Kacau Balau
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Banyak orang merasa hidup kurang beruntung. Mereka merasakan dunia ini tidak indah- terasa suram, sempit dan kurang berpihak kepada mereka. Hal ini terjadi gara-gara mereka dibesarkan di rumah- di lingkungan- dengan orang tua (keluarga) yang mengasuh anak tanpa memberikan rasa aman dan rasa tenang. Suasana ramah tamah dan komunikasi yang penuh dengan kelembutan menjadi sesuatu yang mahal untuk diperoleh.

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua (juga pengganti orang tua) yang bersifat kaku- banyak menonjolkan unsur kekerasan dan amarah- sangat berpotensi menjadikan anak sebagai manusia yang pribadi kacau balau. Karakter mereka juga bisa jadi kasar, emosional, beringas, mahal senyum- hingga juga cenderung menjadi skizoprenia (pribadi yang terbelah) atau juga disebut dengan gila.

Perubahan pola asuh yang dilalui seseorang dalam hidupnya, terutama selama masa anak-anak dan remaja- yang begitu kontra sangat berpotensi melahirkan mentality-shocked (kejutan mental) pada diri seseorang. Hendro mengalami mentality shocked saat masih berusia muda. Itu gara-gara perobahan pola asuh. Betapa sebelumnya ia merasa bahagia karena dibesarkan oleh ibunya sendiri yang penyabar dan lembut. Ibunya sendiri punya karakter sangat pencemas dan berprasangka bahwa lingkungan bisa menjadi sumber kerusakan moral bagi anaknya.

Sang ibu khawatir kalau Hendro menjadi anak nakal/ bandel. Maka mulailah ia memberikan sejumlah larangan. “Tidak boleh menonton film sembarangan dan acara TV yang dipandang jorok, tidak boleh bergaul dengan anak tetangga, tidak boleh pulang terlambat, tidak boleh berbohong”. Jadinya aktivitas Hendro hanya terfokus di dalam rumah semata.

Suatu ketika musibah datang. Ibu tercintanya terkena serangan jantung dan meninggal. Untuk selanjutnya, Hendro pindah ke dalam asuhan Bude (kakak mama), seorang janda dengan enam orang anak. Ia berkarakter tegas. Apakah si kecil Hendro bisa beradaptasi dengan pola asuh bude yang sangat kontra dengan ibunya sendiri ?

Selama tinggal bersama Bude, Hendra hampir tidak pernah memperoleh senyuman, kelembutan kata-kata dan juga kesempatan bertutur kata- berbagi cerita dengan siapa saja dalam rumah. Barangkali karena beban hidup yang pelik dan anak-anak yang banyak membuat Budenya juga sulit untuk tersenyum dan beramah tamah. Lengkap sudah Bude menjadi figur ibu pengganti yang kaku dan dingin.

Gaya komunikasi (gaya bahasa) Bude dengan Hendro cukup kaku, hanya sebatas memberi perintah dan larangan. “Selama tinggal di rumah ini, tugas kamu adalah ini…, ini… dan ini…,(membersihkan kamar mandi, menjaga air bak mandi tetap penuh dan juga menjaga pekarangan rumah bebas sampah sepanjang hari), kemudian kamu dilarang melakukan ini ….dan itu…” Usai melaksanakan tugas yang diberikan Bude, maka Hendro mengurung diri dalam kamar. Ia tidak berani untuk banyak ngobrol dengan Bude yang mudah galak (pemarah). Sementara itu ia kurang punya pengalaman dalam pergaulan.

Hari-hari terasa panjang. Hendro menyibukan diri dengan membaca dan dengan fikirannya sendiri. Di sekolah, ia juga tidak punya teman akrab. Ia malah cenderung menyendiri, ini disebabkan karena kurang mengenal seni bergaul yang baik.

Hendro hanya mampu bertahan hidup bersama budenya dengan fikiran normal selama tiga tahun. Tahun keempat ia terlihat depresi. Ia tidak mampu lagi menatap wajah orang, kalau dilihat maka ia mengalihkan pandangannya atau berjalan merunduk. Selanjutnya ia menjadi acuh terhadap penampilannya, rambut awut-awutan, muka jerawatan dan gigi tidak terurus. Barangkali itulah awal gejala skizoprenia- alias pribadi yang terbelah.

Kemudian ada figur yang bernama Garin. Ia lebih beruntung karena tinggal bersama kakak-adik dan ke-dua orang tuanya. Ia dibesarkan oleh orang tua sendiri, namun mengapa ia bisa jadi depressi ?

Sejak kecil hingga akhir masa remaja, Garin terlihat normal seperti halnya anak-anak lain. Ia bisa bergaul secara normal di sekolah dan di rumah. Ia mengikuti kegiatan sepak bola dan ikut bergabung dengan klub sepak bola. Namun dalam hal berkomunikasi, Garin cuma bertutur kata/ berbagi cerita dengan teman-teman sebaya. Di rumah sendiri ia memilih banyak diam. Itu karena kakak dan kedua orang tuanya tidak mengembangkan pola kebersamaan. Di rumah jarang terjadi canda dan tawa. Yang ada malah suasana marah dan bahasa yang bernada memerintah dan melarang. Kakak-kakak cuek dan ibu bapa berkarakter masa bodoh. Pola komunikasi di rumah memang terasa kaku dan dingin.

Garin tidak memiliki cita-cita di masa depan. Tamat dari SMA ia mengalami kebingungan dan tidak tahu dengan siapa harus berbagi rasa- curhat. “Dengan kakak, takut diejek dan dengan orang tua juga tidak ada respon”. Mereka juga tidak mengerti dengan hakekat masa depan. Jadilah Garin beranjak dewasa tanpa cita-cita, selanjutnya ia membenamkan diri dalam kamar. Masa depannya suram, diri terasa tidak berguna dan emosinya mudah meledak. Garin mengalami putus asa, stressed dan depresi dan butuh pil penenang setiap saat. .

Zamri dan Eriko, dua orang anak muda yang tumbuh dengan kondisi mental porak pranda sebelum dijemput oleh kematian dalam usia sangat muda. Derita kemiskinan yang dialami oleh orang tua mendorong Zamri untuk memilih sekolah SMK sebagai jalan pintas, dengan harapan pendidikan bisa cepat selesai dan cepat pula dalam memperoleh pekerjaan. Itu berarti cepat pula ia untuk bisa berbakti kepada orang tua.

Zamri menjadi anak yang sangat diharapkan orang tua agar bisa mengubah hidup. Ternyata Zamri yang miskin dengan pengalaman hidup dan pengetahuan yang tidak memadai merasa terbebani oleh harapan orang tua yang sangat berlebihan. Zamri hanya mampu bermimpi dan berandai-andai. Sekali lagi bahwa ia sendiri tidak punya banyak pengalaman hidup- life skill- untuk mewarnai kehidupan ini. Zamri merasa bahwa sekolah hanya bisa memberi mimpi dengan segudang teori dan bukan solusi.

Tamat dari SMK, Zamri mencoba untuk mengadu untung di metropolitan. Dengan modal nekad dan selembar ijazah, ia berangkat menuju ibu kota. Ia terdampar dan tidak tahu untuk berbuat apa maka ia dipulangkan oleh Dinas Sosial ke kampung halaman. Merasa hidup gagal dan juga kepribadian yang lemah membuat zamri jadi depresi, kesehatan yang memburuk terus membuatnya menutup mata di usia muda.

Hal yang sama juga dialami oleh Eriko. Ia anak yang tumbuh ibarat rumput liar- tumbuh sendiri dan tidak banyak memperoleh sentuhan lembut orang tua dan sanak saudara. Peran orang tua hanya sebagai pemberi makan, minuman dan pakaian. Tidak begitu peduli tentang urusan pendidikan. Bila ia melakukan kesalah sebagai seorang anak kecil- berkata jorok dan mencuri hal hal kecil milik saudaranya, maka Eriko segera memperoleh corporal punishment- hukuman fisik- seperti tendangan, pukulan dan cambukan.

Bisa jadi ayahnya salah memahami pribahasa yang berbunyi ”saya dengan kampung ditinggalkan dan sayang dengan anak dilecuti”. Atau orang tuanya pernah berteori bahwa supaya karakter anak tidak menjadi-jadi maka ia perlu disakiti. Cara mendidik/ pola pengasuhan yang demikian membuat Eriko merasa “tidak ada rasa aman dan rasa damai di rumah lagi”.

Pola asuh yang keras dan kasar terjadi karena gaya kepemimpinan orang tua yang otoriter, berpotensi membuat anak berkarakter keras dan jahat, Eriko agaknya juga berkarakter agresif terhadap teman-teman. Pada akhir masa remaja, ia merasa kesepian. Teman-teman sebaya sudah pergi merantau atau mencari jodoh dan pekerjaan. Ia kurang mampu beradaptasi dan bergaul dengan banyak orang. Dalam keluarga ia merasa ditolak dan dengan teman teman juga merasa tidak diterima. Ia merasakan dunia begitu kelabu, sempit dan tidak bersahabat. Ia banyak mengurung diri dan sibuk membenamkan diri dalam illusi, jadi depresi dan berakhir dengan kematian juga di usia dua puluhan.

Pola asuh yang kaku berpotensi membuat seseorang berkarakter kaku pula. Pola asuh ini membuat seseorang menjadi miskin dengan pengalaman emosional dan bersosial sehingga susah untuk mengekspresikan perasaan. Gejala ini dialami oleh Miss.Eti dan Bernard.

Miss Eti terlahir sebagai putri- anak kedua- dari tujuh orang bersaudara. Kematian sang ayah membuat ibu menjadi janda, tanpa keterampilan hidup yang memadai. Maka anak-anak terpencar-pencar berpindah ke dalam pengasuhan orang lain. Miss Eti jatuh ke dalam pengasuhan sebuah keluarga tanpa nak dan kurang memiliki pengalaman tentang membesarkan anak.

Agar Miss Eti tidak menjadi gadis yang berandal menurut versi fikiran ibu asuh, maka ia memberikan sejumlah aturan dan sejumlah larangan. “Dilarang bergaul dengan anak-anak tetangga yang diperkirakan nakal, dilarang mengenal laki-laki, dilarang pulang terlambat, dilarang bersenang-senang agar tidak jadi pemalas”. Maka Miss Eti diperlakukan mirip sebagai pembantu oleh ibu asuhnya.

Miss Eti memang bisa beradaptasi dan ia tumbuh menjadi gadis yang patuh dan tidak suka protes. Hidupnya terlihat sunyi, mungkin ia tidak mengenal betapa indahnya jatuh cinta. Over protektif dan banyak larangan membuat Miss Eti susah untuk bisa tersenyum apalagi untuk beramah tamah. Ia sempat menikah, namun karena tidak belajar mengenal pria membuatnya ketakutan dalam perkawinan. Untung sang suami bisa menerimanya sebagai istri apa adanya- kehilangan percaya diri. Ia sendiri sering menjadi bad mood dan berucap “Apakah aku masih cantik ?”

Kesulitan hidup dan perceraian dengan suaminya membuat Ibunya Bernard menyerahkan pola pengasuhan Bernard kepada pamannya. Namun Bernard dalam pengasuhan tidak memperoleh banyak sentuhan emosi- ungkapan kasih sayang. Ia hanya diberi tugas memelihara ternak, bila ada kesalahan “ya dibentak dan dimarahi”. Ia melalui hari-hari yang juga tidak indah, namun mampu beradaptasi dengan kehidupan yang keras ini melebihi dua puluh tahun. Hingga akhir usianya sudah di atas kepala tiga (usia 35 tahun). Pihak keluarga segera memintanya untuk mengakhiri masa lajang, namun ia berkata “Bagaimana aku bisa menikah karena aku tidak bisa mencintai wanita dan mengatakan I Love You”.

Di saat persoalan hidup makin sulit dan makin rumit. Tekanan hidup dari luar makin bertambah, maka apakah masih layak bagi kita yang hidup di zaman moderen ini mengadopsi pola pengasuhan yang kaku terhadap orang-orang dan anak-anak yang berada dalam pengasuhan kita. Sangat bijak bagi kita menyingkirkan karakter kaku tersebut. Yang tepat untuk kita terapkan adalah memberikan suasana aman, damai dan penuh kasih sayang. Kita perlu menjauhan orang yang berada dalam pengasuhan dari kata-kata kasar. Karena manusia itu unik, setiap orang tentu punya karakter tersendiri. Kita perlu beradaptasi dengan semua karakter yang berada dalam pengasuhan kita. Bila kita ingin merubah karakter mereka, mari pakai cara-cara yang sejuk tanpa pemaksaan dan yang persuasive. Tokoh-tokoh di atas nyata, namun nama dan settingnya sudah dimodifikasi.

Selasa, 14 September 2010

Sarjana Rendah Hati Lebih Laris

                                     Sarjana Rendah Hati Lebih Laris
                                       (Gie Wahyudi atau Sriwahyudi)
                                                                                Oleh: Marjohan, M.Pd
                                                                             Guru SMAN 3 Batusangkar

Tulisan beikut juga terinspirasi oleh pribadi muridku Gie Wahyudi yang sangat terpuji, ia baik hati dan amat santun dalam bekomunikasi. Ia sempat menjadi muridku terbaik dan belajar denganku selama tiga tahun dan dia punya banyak teman akrab seperti Viko, Hani, Harum cempaka, dan lain-lain, namun tulisan ku ini adalah tentang dia, seorang sarjana yang rendah hati.
             
Dunia usaha selalu membutuhkan orang-orang yang cerdas. Orang-orang cerdas bisa jadi berasal dari keluarga cerdas dan sekolah yang hebat. Seseorang mungkin berfikir bahwa sekolah yang hebat mampu menghasilkan siswa yang hebat atau cerdas karena sekolah tersebut memiliki standard disiplin yang tinggi, guru yang tegas, berwibawa dan mahal senyum, sementara fokus aktivitas siswanya adalah selalu belajar dan berlatih. Namun dalam kenyataan bahwa kondisi pembelajaran di sekolah yang hebat, bukanlah demikian (?).

Pengalaman saat mengunjungi sekolah- sekolah berkualitas- sekolah unggulan, dengan uang sekolahnya sangat mahal- dijumpai kondisi sekolahnya yang begitu harmonis dan damai, hubungan antara guru-siswa yang rileks, berinteraksi melalui bahasa yang lembut dan santun. Sementara staff dan kepala sekolah tidak pernah memperlihatkan karakter yang berlebihan- dingin dan arrogant. Sebaliknya ada sekolah yang dipromosikan sebagai sekolah- lembaga pendidikan yang berkualitas- menerapkan disiplin yang hebat- ketat dan kaku- dalam kenyataan populasi siswanya merosot terus.

Pemilihan ketua osis (organisasi intra sekolah) yang dicampuri oleh kekuasaan sekolah biasanya akan memilih ketua osis yang yang cerdas namun dipandang berkarakter arrogant dan suka mengatur oleh sebahagian anggotanya. Demilkian pula dalam pemilihan Kepala Desa, Wali Nagari, Bupati/ Wali Kota dan pemilihan Gubernur yang dipengaruhi oleh kekuatan dari atas biasanya juga akan memilih tokoh yang hebat dalam berpidato, namun berkarakter otoriter, arrogant dan suka mengatur. Sebaliknya pemilihan tokoh (ketua osis, Kepala Desa, Wali Nagari, Bupati/ Wali Kota dan Gubernur) yang dipilih oleh anggota/ rakyat, mereka akan memilih tokoh/ figure yang cerdas atau hebat namun rendah hati.

“Pilihlah orang yang cerdas dan rendah hati..!” Fenomena ini juga terjadi dalam dunia usaha/ dunia kerja: perusahaan swasta, dan BUMN. Ada salah seorang sarjana lulusan Universitas di daerah bisa memperoleh posisi pekerjaan di perusahaan yang bergengsi di ibu kota ( Jakarta ). “Mengapa anda bisa memperoleh pekerjaan dengan posisi yang bagus di metro politan dan mampu bersaing dengan lulusan dari perguruan hebat seperti UI, ITB, IPB, UNPAD, Gajah Mada, dan lain-lain ?” Dia menjawabnya bahwa keunggulannya yang dinyatakan selama wawancara- ia dinyatakan sebagai sarjana berkualitas yang rendah hati. Kalau ini menjadi fenomena maka sarjana cerdas namun berkarakter angkuh, arrogant, otoriter dan egoist akan tidak laku dalam dunia kerja. Namun apakah banyak mahasiswa dan para sarjana yang tahu dengan fenomena ini ? Bisa jadi “ya” dan bisa jadi “tidak”.

Sampai detik ini, cukup banyak orang tua yang memasung anak di rumah atas nama pendidikan atau kasih sayang. Mereka hanya memaksa dan memotivasi anak sekedar belajar dan mengikuti berbagai macam kursus mata pelajaran. Namun mereka tidak diberi pengalaman tentang kecakapan hidup- mengikuti kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan di luar rumah lainnya, karena dianggap sebagai buang-buang waktu dan mengganggu pelajaran. Pada akhirnya anak memang tumbuh jadi cerdas secara akademik namun mereka kurang memilki kepekaan sosial- cuek, acuh dan masa bodoh terhadap sesama.

Begitu pula dengan kodisi pembelajaran di banyak sekolah. Para guru mungkin sekedar mengejar pencapaian kurikulum. Menghardik, membentak dan mengancam agar siswa bisa tertib dan mengikuti disiplin. Ini merupakan suasana belajar dengan guru-guru yang bergaya otoriter. Dalam kenyataan bahwa gaya belajar yang memaksa, menggertak, mendikte, mengejek bisa berpotensi dalam mematikan motivasi dan semangat belajar anak didik.

Namun, saat sarjana cerdas yang rendah hati, menjadi fenomena di dunia. Orang cerdas yang rendah hati lebih disukai dari pada mereka yang cerdas namun sombong, arrogant, dan tinggi hati. Maka kini masyarakat- guru dan orang tua perlu untuk meresponnya dalam praktek edukasi di rumah dan di sekolah.

Program belajar yang diyakini bisa membuat anak bisa jadi cerdas namun rendah hati selalu diminati. Learning center yang bisa membantu anak jadi cerdas dan rendah hati juga menjadi ngetrend, walau biaya belajarnya mahal- selalu diserbu.

Ada learning center sebagai tempat belajar dan bermain, yang merancang program belajar dan bermain agar anak tumbuh cerdas dan peka terhadap sosial (www.playhousedisney-asia.com) menawarkan aktivitas seperti :let your preschooler get a headstart through fun learning in the world filled with discovery and imagination on play house, designed for kids- fun learning in a world. Tentu saja aktivitas ini berada di tempat belajar yang menyenangkan- membuat anak cerdas namun rendah hati- adalah dengan menyediakan sarana belajar dan bermain dalam kelompok teman sebaya. Di sana mereka ditemani oleh guru yang berkarakter penyayang- menyayangi dan membimbing anak-anak untuk melakukan discovery (penemuan).

Sarana belajar yang berorientasi discovery tidak perlu serba mahal. Sarana belajarnya bisa jadi berupa tanah, pasir, kerikil, rumput, serangga, hewan kecil, balok-balok, cangkul kecil, bangku kecil, pisau tumpul, dan lain-lain yang bisa digenggam oleh tangan kecil dan mengoperasikannya. Yang penting di sana tidak ada suasana menakutkan- gertakan, kemarahan guru/ orang tua, penekanan dan permusuhan. Namun yang ada musti suasana pencarian, kebersamaan, semangat eksplorasi yang diperkaya dengan pujian dan pompa semangat.

Mushola dan surau juga bisa menjadi learning center di daerah perumahaan- untuk menciptakan anak-anak yang cerdas dan rendah hati. Kegiatan didikan subuh, dimana ada anak yang bertanggung jawab sebagai protokol, pembaca do’a, pembaca ayat/ bacaan sholat, juz amma, zikir dan kultum (kuliah tujuh menit) yang mengkondisikan mereka tampil di depan sesamanya. Ini cukup ampuh untuk membuat mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi. Selanjutnya bahwa musholla dan surau juga bisa efektif sebagai learning centre untuk daerah perumahan apabila di sana juga ada kegiatan reading society, kesenian dan olah raga.

Kini apalagi ? Ya, orang tua yang berkarakter cerewet, pemarah, dan suka menekan dalam mendidik sudah tidak zamannya lagi. Juga sudah tidak zamannya lagi bagi guru yang cuma mendidik sekedar membayar tugas. Lebih peduli terhadap kerapian dan kelengkapan administrasi/ RPP namun tidak berkarakter kreatif dan inovatif sebagai seorang guru. Apalagi bila mereka miskin dengan pengalaman paedagogi, wawasan dan informasi, serta lfe skill.

How to do and what to do ? Sri wahyudi- sekarang nama barunya "Gie Wahyudi" , salah seorang murid penulis ketika belajar di SMA, adalah cuma seorang anak pedagang es keliling yang selalu meningkatkan kualitas percaya diri. Ia ikut tampil dan ikut berbicara di depan teman-teman. Kesempatan seperti itu bisa meningkatkan rasa percaya diri. Di rumah ia juga ikut meringankan kerja orang tua. Ia juga ikut bergaul dan berinteraksi dengan anak-anak tetangga- berendam air, main lumpur, mencari serangga, mengembara di sawah, namun juga serius dalam belajar dan membaca. Ia mencoba untuk berdialog dengan banyak orang dan mengunjungi banyak tempat. Setelah tamat kuliah, maka ia menjadi sarjana yang rendah rendah hati, mengikuti kompetisi bursa kerja dan segera mrmperoleh posisi kerja yang cukup punya gengsi di ibu kota.

Dari pengalaman hidup kita ketahui bahwa orang-orang cerdas yang rendah hati bukanlah orang yang memperoleh pendidikan secara karbitan. Namun mereka adalah orang yang tumbuh dari tempaan pengalaman hidup yang kaya variasinya. Mereka ikut bersosial, beribadah, meringankan beban hidup orang tua, peduli dengan aktivitas tetangga dan tidak gengsi gengsian dalam bekerja. Sarjana- orang cerdas- yang rendah hati adalah orang yang pas dengan karakter bangsa ini. Moga moga bermunculan ribuan sarjana rendah hati seperti Gie Wahyudi (https://www.facebook.com/giewahyudi)

Senin, 13 September 2010

Musibah Dalam Rumah Bisa Berakibat Fatal

Musibah Dalam Rumah Bisa Berakibat Fatal
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar



“Mujur tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak”, adalah ungkapan yang sering kita dengar, ini berlaku pada semua orang dan termasuk bagi orang tua penulis sendiri. Sejak kematian ayah penulis karena stroke tujuh tahun lalu, ibu penulis sering berucap “apakah aku masih bisa hidup dalam waktu setahun atau dua tahun ini ?”


Kematian dan kelahiran memang suatu hal yang ghaib. Tidak ada orang yang tahu “kapan dan dimana” ia akan mati. Bagi ibu penulis, dalam kenyataan, malah ia meninggal tujuh tahun setelah kematian sang ayah. Semua orang mungkin bisa kaget dalam menyambut kematian anggota keluarga, apalagi bila mereka tidak terbiasa dalam menyiapkan mental.


Pendidikan umum yang kita peroleh (kecuali bagi mereka yang sekolah di pendidikan jalur agama) mulai dari bangku SD, SMP, SMA dan terus ke tingkat Sarjana, Pascasarjana dan Doktoral, hanya membuat kita tahu banyak tentang ilmu duniawi semata. Kebanyakan pemahaman ilmu agama kita hanya gara-gara bekal ilmu yang kita peroleh pada saat duduk di bangku SD dan SMP saja. Beruntunglah bagi mereka yang melakukan otodidak, sehingga setelah dewasa kualitas pemahaman agama mereka tidak setara dengan anak kecil lagi.


Penulis bisa sedikit menghibur diri, karena pernah menjadi remaja mesjid/ remaja surau, sehingga sempat menambah ilmu agama- menghafal banyak do’a, ayat pendek/ juz amma, dan tata cara menyelenggarakan jenazah. Saat mobil ambulance meraung-raung menuju rumah sakit, penulis ikut di dalamnya dan berkosentrasi mengulang-ulang hafalan do’a dan shalat jenazah.


Penulis berfikir bahwa mungkin tahun ini (2010) adalah tahun kematian buat ibu. Setiap kali pulang kampung/ mengunjungi ibu, beliau selalu menyampaikan tentang kemunduran fisiknya- mata yang susah untuk melihat, fikiran yang sangat pelupa dan perasaan tubuh yang sering kurang stabil. Penulis memang melihat sorot matanya yang sering kosong dan kulit pipi yang agak gembul.


Jam satu dini hari, minggu pertama bulan puasa, ada telepon dari kampung mengatakan bahwa ibu jatuh terpeleset dan tertimpa air mendidih, “Ya Allah, mengapa ini bisa terjadi ?”. Menjaga keselamatan orang tua lanjut usia (lansia) seharusnya ibarat menjaga keselamatan anak-anak balita- jauhkanlah hal hal yang membahayakan dari keselamatan jiwanya. Sebuah petaka terjadi pada ibu penulis, saat ia ingin pergi ke kamar kecil, ia terpeleset dan terhenyak (terduduk) ke dalam wadah yang berisi air mendidih.


Malam itu adik penulis menjemput ibu dan melemparkan amarahnya atas kecerobohan family dalam menjaga ibu. “Jangan begitu…., marah-marah tidak akan mengatasi masalah dan tidak mungkin kami punya maksud jelek untuk mencederai orang tua kami sendiri”, kata salah seorang family. Itu namanya taqdir. Taqdir yaitu peristiwa buruk dan peristiwa baik yang bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang.

Malam itu ibu penulis dijemput dan dibawa dengan mobil carteran ke rumah sakit Adnaan WD di Payakumbuh. Perawat segera memasang infuse dan pipa cateter untuk menyalurkan urine ke kantong urine. Kulit yang sudah tua terlihat lebih parah bila melepuh. Kemudian penulis dan beberapa anggota keluarga bergantian menjaga dan menemani ibu yang terbaring di dalam kamar bedah.


Terus terang penulis separoh berani melihat luka bakar yang terlihat begitu parah. Wilayah bakarnya cukup luas, mulai dari punggung terus ke panggul dan (maaf) terus ke wilayah kemaluan- perih bukan. Kadang-kadang kulitnya melengket ke kain dan berdarah bila terkelupas. Posisi ibu untuk tidur jadi serba susah, miring susah, telentang susah dan tengkurap susah, karena luka bakar melingkari bagian bawah tubuh. “Ya, ampun lebih aku wafat saja saat itu”, keluh ibu agak putus asa.


Hari itu ibu tampak bosan tidur dengan posisi tengkurap dan ia ingin berubah posisi. “Bismillahirrahmanirrahim…, one-two-three”. Kami mengangkat tubuh ibu dan ibu meraung ibarat anak kecil. Ya memang sakit karena ada lagi kulit yang melengket terkelupas dan kembali berdarah. Luka bakar lansia memang lama sembuhnya.


Aroma luka bakar ibu agak menyengat penciuman, kami menyewa orang yang terampil membersihkan, karena kami sebagai anak laki-laki (penulis) tidak tahu banyak apa yang harus dibersihkan- namun kami juga ikut membersihkan bab (buang air besarnya) nya. Setelah aroma amis ibu hilang, orang-orang tidak enggan lagi untuk mendekat.


Setelah terbaring hampir dua minggu tanpa banyak bergerak, akibatnya ibu menjadi resah dan stress. Ibu terbiasa jarang mengeluh, namun beliau terdengar ngomong sendiri- barangkali itu adalah sebagai kompensasi untuk mengatasi rasa sakit, bosan dan stress. Penulis dan family yang lain, memegang jari jemari atau mengusap dahi ibu dan mengajaknya ngobrol tentang masa lalu yang indah dan mengungkapkan betapa rasa sakit ibu juga kami rasakan bersama sama. Ibu bisa tersenyum dan jadi lega.


Akhirnya luka bakar ibu mulai mongering dan tinggal lagi masa-masa penyembuhan untuk beberapa hari lagi. Ibu sudah banyak tersenyum, dan bisa bercanda. Perawat pun melepaskan pipa infuse dari tangan ibu. Saat itu penulis memutuskan untuk pulang sebentar untuk mengontrol anak-anak yang sedang berpuasa ke Batusangkar.


Lagi-lagi telpon (Hape) bordering, “Ibu sudah meninggal dunia…!”. Mulut penulis spontan berkomat-kamit melantunkan do’a untuk menenangkan hati, sambil members-bereskan rumah dan anak-anak dan menunggu keputusan.


Keputusannya adalah bahwa jenazah ibu dimandikan dan dikafankan, juga disholatkan, saja di rumah sakit. “mengapa begitu..?’. Setelah gempa melanda daerah Padang dan Pariaman tanggal 31 September tahun lalu, itu membuat rumah-rumah kami yang di Lubuk Alung separoh hancur dan merusak dapur serta sumur. Akhirnya dari rumah sakit Adnaan WD Payakumbuh, jenazah ibu dilarikan lagi dengan ambulan dan penulis menyusul dari batusangkar. Arus mudik orang yang pulang kampung untuk berlebaran sedikit mengganggu kelancaran transportasi.


Jenazah ibu disholatkan lagi di Lubuk Alung. Sanak family semuanya hening dan mereka menunggu penulis yang terlambat datang selama satu jam. Penulis tidak sempat ikut sholat jenazah, namun penulis akan melakukan sholat ghaib sore itu atas mayat ibu tercinta.

Penulis mewakili adik-kakak dan keluarga lain dalam menyampaikan kata-kata maaf dan bela sungkawa. Penulis tidak bisa melihat siapa yang hadir, kecuali menatap tubuh ibu yang terbungkus dengan kain kafan. Penulis sempat meraba wajah ibu dari balik kafan, dengan perasan lirih. Kemudian penulis ikut menggotong ibu menuju kuburan, saat itu suasana terasa begitu sunyi.


Adik, keponakan dan bertiga dengan penulis meluncur ke dalam kuburan untuk menyambut jazad ibu yang diturunkan dari tandu. “satu…dua…tiga”, Alhamdulillah jazad ibu cukup ringan. Mungkin karena di hari hari tuanya ibu cukup rajin sholat sunat dan berzikir. Penulis ikut meletakkan jasad ibu dengan rasa hati yang pilu. Sekali-sekali penulis meraba tangan ibu terus ke pundak dan kepala ibu. Secara spontan bibir penulis bergetar dan berbisik, “ibu…..aku mencintai, menghormati dan menyayangimu sepenuh hati. Ibu…., Bila anakmu banyak khilaf dalam bertindak dan bertutur kata sehingga melukai hatimu, maka maafkanlah anakmu ini…., Ibu…ini sentuhan ku yang terakhir atas jasad mu,…selamat jalan dan maafkanlah aku ibu…!”. Tidak terasa air mata penulis pun jatuh berderai. Kuburan ibu makin padat dan penulis ke luar dengan berat hati.


Enam September itu penulis ikhlas sekali melepas kepergian ibu menuju Sang Pencipta, dari pada ibu menderita lebih lama di kamar bedah. Ternyata luka bakar ibu belum begitu sembuh, karena masih ada sedikit noda darah terpercik dari berkas lukanya yang terlihat dari kafannya. Malam itu penulis tidak bisa tidur, rasanya ingin lagi bisa bersama ibu di dunia, tetapi itu tidak mungkin. Penulis membayangkan hari hari indah- saat ibu datang ke sekolah, saat ibu memberi penulis semangat hidup jikalau sedang stress, saat penulis telah mendapatkan gadis pilihan dan minta pendapatnya, dan masih ada sejuta kenangan bersama ibu.


Memiliki ibu dan ayah yang masih hidup itu begitu indah. Andai kematian mereka masih bisa ditunda karena kita mampu merawatnya maka lebih tepat kita rawat orang tua yang telah lansia dengan penuh bijaksana. Kepada mereka yang masih punya ibu dan bapa, berbuat baik dan bermanja-manjalah selagi beliau masih hidup. Namun jauhi hal hal yang membahayakan beliau agar musibah tidak segera merenggut nyawanya.

Senin, 09 Agustus 2010

THE ROAD TO SUCCESS: Menjadi Orang Terdepan

Naskah Buku
The Road To Success: Menjadi Orang Terdepan
Ditulis oleh : MARJOHAN M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Kab. Tanah Datar, SUMBAR

Kata Pengantar

Buku kecil ini adalah kompilasi artikel penulis yang pernah terbit pada media massa, koran- koran di Sumatra Barat (Haluan, Singgalang dan Serambi Pos) dan Sumatera Selatan (Sripo) dan situs pendidikan di internet, yang merupakan tulisan pencerahan dan ispiratif yang sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama siswa, guru dan dunia pendidikan. Kompilasi tulisan tersebut dikumpulkan menjadi sebuah buku dan diberi judul “The Road To Success: Menjadi Orang Terdepan”. Tulisan ini terinspirasi oleh kehidupan guru, murid dan para tokoh hebat di Indonesia dan di dunia.
Buku kecil ini sebaiknya dibaca oleh para guru, orangtua, pelajar, mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk mencari inspirasi menuju sukses. Tentu saja dalam penulisan buku ini terdapat kesalahan di sana-sini dan penulis dengan senang hati menerima masukan serta kritik yang membangun. Penulis menunggu saran dan masukan itu semua pada marjohanusman@yahoo.com Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dari berbagai pihak.

Batusangkar, 17 Agustus 2010
Marjohan M.Pd



Daftar Isi

1. Menghargai Waktu
2. Mengoptimalkan Potensi Otak
3. Pendidikan Karakter Sejak Dini
4. Belajar Dengan Suasana Menyenangkan
5. Membudayakan Penghargaan
6. Peduli Pendidikan Gaya Orang Cina
7. Semangat Kerja Yang Hebat
8. Harga Kesehatan Tubuh
9. Semangat Eksplorasi
10. Menumbuhkan Karakter Ceria
11. Merajut Pendidikan Berkualitas
12. Menjemput Medali Ke Azerbaijan
13. Menuju Negara Paman Sam
14. Belajar Secara Otodidak
15. Inspirasi Sukses
16. Proses Belajar Kreatif Ilmuwan
17. Mengapa Nama Kartini Jadi Besar
18. Gaya Belajar Bung Karno
19. Inspirasi Dari Barrack Obama
20. Menjadi Pengusaha
21. Ilmuwan Hebat Pembangun Pilar Peradaban Dunia
22. Jasa Para Penulis
23. Penemu Profil Internet Kaliber Dunia
24. Pengalaman Menjadi Penulis
25. Kreatif Melalui Blogger
26. Sukses Lewat Olah Raga

1. Menghargai Waktu

Apakah ungkapan time is money masih ada di sekolah-sekolah dan apakah warga sekolah masih ada yang memahaminya ?Tentu saja ada. Kalau ada kenapa kok begitu banyak siswa yang keluyuran saat jam belajar. Ibu dan bapak guru melangkah dengan penuh enggan ke dalam kelas ?. Kenapa siswa dan warga sekolah yang lain ( yang menyebut diri sebagai orang moderen dan peduli dengan teknologi, namun membenamkan kepala sampai berjam-jam hingga lupa untuk pulang, beribadah dan lupa dengan tanggung jawab lainnya di rumah, gara-gara kecanduan dengan game online pada internet. Tampaknya anak-anak sekarang tidak takut apalagi sedih bila rapor mereka penuh dengan tinta merah. Namun yang lebih cemas adalah orang tua mereka. Kalau begitu terpantau fenomena bahwa yang sekolah itu bukan lah siswa itu sendiri tapi yang kuat untuk menyuruh mereka bersekolah adalah orang tua mereka. Ya itulah zaman yang tumbuh makin gila.
Memotivasi dan mengajak anak dengan seruan “time is money” dan “assa’ah kas syaif- waktu itu laksana pedang” mungkin terasa sudah sangat klasik bagi mereka. Namun bagi orang yang senantiasa menghayati dan mengaplikasikannya dalam kehidupan akan menjadi sukses. Yang kurang menggubrisnya,tentu akan menjadi the losser- orang yang kalah di dunia ini, karena mereka benar- benar terbunuh oleh waktu.
Orang yang sukses dalam karir dan dalam cita-cita dapat dijumpai dimana-mana. Mengapa mereka bisa sukses ? Jawaban secara klasik adalah karena mereka bersahabat dengan waktu. Implikasi dari ungkapan “time is money” adalah bahwa kita musti membiasakan hidup dengan disiplin tinggi, penuh semangat, suka bekerja keras dan senang melakukan eksplorasi- melakukan penjelajahan. Orang-orang sukses di negara maju seperti di Jerman, Prancis, Singapura, Jepang dan Amerika, atau juga di negara kita sendiri, adalah karena mereka memiliki karakter endeavour atau semangat suka bekerja keras dan menggunakan waktu secara efektif dan effisien.
Menjamurnya produk ICT (information communicative technology) di pasaran seperti cellular phone, TV, note book, LCD, MP3, internet, facsimile, dan lain-lain adalah hasil dari kerja keras para inventor (penemu) dalam bidang ICT ini. Karena produk-produk tersebut diciptakan secara massal dan biaya atau harganya juga reasonable telah membuat masyarakat luas mampu memiliki, mengakses atau mengkonsumsi nya secara massal pula. Cara dan pola mengkonsumsi produk ICT tersebut menentukan gaya hidup mereka, apakah mereka menjadi pengguna teknologi yang passif atau menjadi pengguna teknologi yang cerdas sehingga mampu melejitkan potensi diri mereka.
Kelompok usia remaja remaja (mulai dari siswa SMP, SLTA sampai kepada mahasiswa) tercatat sebagai pemakai produk ICT yang terbanyak di dunia. Coba perhatikan siapa yang banyak lalu lalang di keramaian kota, di mall/ plaza sampai kepada sambil mengotak atik HP atau MP3 dan yang duduk di dalam boxnya warnet atau café net, maka pastilah kelompok usia remaja. Kualitas para remaja yang hidup pasa zaman sekarang akan menentukan kualitas bangsa di masa depan. Namun bagaimana semangat hidup remaja sekarang secara umum, masihkah mereka memiliki endeavour- suka bekerja keras- dan senang menghargai waktu seperti ayah dan kakek mereka ?
Karakter remaja sekarang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu mereka mereka yang cenderung bergaya hidup endeavour dan bergaya hidup hedonis. Endeavour yaitu, sekali lagi, senang bekerja keras, memanfaatkan waktu secara efektif, effisien, memiliki motivasi dan memiliki semangat hidup yang hebat. Sementara gaya hedonis adalah gemar mencari kesenangan hidup dengan sedikit usaha. Prilaku ini terpantul dari kebiasaan suka kongkow, bermalas-malas, dan tidak mau tahu dengan urusan waktu.
Kemungkinan jumlah kelompok remaja yang berkarakter endeavour tidak sebanyak mereka yang berkarakter hedonis. Bisa jadi jumlah mereka yang bergaya hidup hedonis cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Mereka yang berprilaku hedonis punya semboyan hidup “hidup santai dan masa depan cerah”. Ini terpantau pada kelompok remaja yang gemar kongkow-kongkow, dan hura-hura secara berlebihan di mall, di plaza, di café, di keramaian jalan raya, dan sampai kepada remaja dalam bis kota. Gaya hidup yang begini perlu untuk diobah. Bila tidak bahwa suatu waktu akan muncul ledakan patologi social, dimana sejumlah besar orang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak berdaya, suka memelas, tidak bersemangat dan miskin dengan motivasi hidup. Akhirnya mereka menjadi beban bagi kehidupan orang- family, teman atau pemerintah.
Dari mulut ke mulut dikatakan bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang pekerja keras. Mereka adalah pelaut ulung, pedagang dan pekerja yang rajin. Bila mengalami kesusahan maka mereka segera pergi merantau untuk mencari sumber penghidupan baru. Mereka sangat menghargai waktu. Namun bagaimana eksistensi kita sebagai cucu mereka, apakah kita sama dengan mereka- suka kerja keras, dan mengharai dan bersahabat dengan waktu ?
Prilaku remaja yang menjadi fenomena umum saat ini adalah kita (sebahagian remaja) suka mengeluh, mengeluh kalau diberi tugas rumah dan tugas sekolah. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu hanya untuk urusan hiburan, mendengar dan melahap program hiburan dan musik hampir sepanjang waktu. Kita mengkonsumsi acara televise hingga berjam-jam. Kita menjadi untuk malas bergerak dan berolah raga, suka menunda pekerjaan, dan juga menjadi maniakdengan permainan digital dan sebagainya. Karakter-karakter ini berpotensi menjadi batu penyandung dalam meraih kesuksesan kita di masa depan, Maka untuk itu kita perlu menendang karakter yang kurang terpuji ini secepatnya.
Menikmati hiburan (entertainment) sangat kita perlukan untuk mengendorkan saraf menenangkan jiwa dan fikiran yang tegan. Secara umum orang mendengarmusik/ lagu, tidur atau menonton film atau sinetron untuk mengendorkan ketegangan jiwa. Orang yang peduli dengan waktu dan kualitas hidup, mereka melakukan hal ini hanya sekedar pelepas lelah saja. Namun banyak yang menjadi maniak: gila hiburan, melahap semua program televisi dari saat bangun tidur hingga malam tiba. Mereka melahap lagu album demi album dan melahap semua kepingan VCD film dari sinetron.
Fenomena miring sebagaimana disebutkan di atas bisa jadi kita lakukan dan juga dilakukan oleh banyak rumah tangga lain. Sementara itu bagaimana dengan fenomena prilaku remaja pada banyak sekolah ? Banyak pelajar atau remaja yang kurang peduli dengan waktu. Ini terlihat dari kebiasaan mereka yang suka begadang, suka hura-hura, suka menunda waktu, suka mejeng di mall/ plaza, dan jalan-jalan tidak karuan atau kecanduan dengan game online hingga menghabiskan iuran sekolah atau uang jajan hingga berjam-jam. Campur tangan dari orang tua dan nasihat dan bimbingan dari guru tetap sangat dibutuhkan untuk memotivasi mereka tentang cara penggunaan waktu yang tepat untuk belajar, istirahat, dan melakukan aktivitas lain di rmah.
Umumnya orang orang sukses di dunia ini seperti pebisnis, pedagang, pemikir dan tokoh tokoh sukses lainnya adalah orang orang yang tidak suka begadang, hura-hura, mejeng di mall/ plaza, dan jalan-jalan tidak karuan hingga kecanduan dengan game online. Mereka adalah orang orang yang suka bersahabat dengan waktu dan memiliki semangat kerja keras yang hebat. Tidak mungkin para remaja yang tercatat sebagai peraih medali emas dalam ajang olimpide sains (kimia, fisika, biologi dan matematika) adalah orang-orang yang gemar hura-hura dan mejeng di mall dan plaza.
Remaja- remaja yang hafal dengan al-Qur’an, jago dalam lomba akademik tentu saja tidak suka kongkow- bermalas malas di kafe, di warung kopi sampai berjam jam atau bersikap suka menunggu-nunggu. Kalau demikian halnya, maka untuk mengejar kesuksesan, setiap orang musti mampu menendang karakter negatif tadi jauh-jauh. Sebagai gantinya mereka musti memiliki karakter menghargai waktu, bersahabat dengan waktu, dan bersikap penuh semangat. Sikap ulet (penuh semangat) tidak akan tumbuh dengan sendirian. Sikap ini perlu pengkondisian, tekad dan komitment, serta dukungan lingkungan.
Sikap dan semangat hidup seseorang ternyata bisa menular pada orang lain ibarat virus. Bila seseorang banyak dikelilingi oleh orang yang pesimis, passif, tak berdaya,suka mengejek dan kurang pandai menghargai orang lain maka dipastikan bahwa pribadi mereka akan jadi hancur lebur.Untuk menumbuh sikap endeavour (semangat kerja keras) dan sikap bersahabat dengan waktu, sangat membutuhkan pemodelan dari orang tua, guru-guru, teman-teman dan tokoh yang dipilih. Adalah suatu hal yang positif bila banyak kaum remaja yang membiasakan diri untuk melakukan brbagai kesibukan- mengerjakan hobi posititif, membantu orang tua, aktif dalam organisasi dan aktif dalam mengerjakan tugas sekolah. Ini adalah langkah awal untuk menjadi orang yang memiliki sikap endeavour.
Strategi untuk menghargai waktu adalah dengan cara, sekali lagi, menjauhi kebiasaan hura-hura, kongkow, menunda pekerjaan, maniak dengan game dan hiburan dan seterusnya musti mempunyai agendakehidupan. Orang sukses mempunyai sejumlah aktifitas harian, dari pagi hingga sore/ malam, kemudian juga [unya sejumlah kegitan mingguan- seperti mendalami agama, olah raga, menguasai bahasa asing lainnya atau menyelesaikan proyek dalam membantu ekonomi orang tua. Saat semangat kerja keras dan menghargai waktu mulai langka di sekolah , maka marilah kita menjadi orang pertama sebagai pionir untuk mengajak teman, keluarga dan orang lain, dengan harapan untuk menngkatkan kualitas diri dan kualitas angsa ini.

2. Mengoptimalkan Potensi Otak

Salah satu bagian tubuh yang paling penting dan sangat berharga dan bisa mengubah dunia adalah otak. Yahya Muhaimin (dalam Taufik Pasiak, 2004) mengatakan bahwa kemapuan otak merupakan potensi yang memungkinkan seseorang dalam mengembangkan diri untuk menjadi makhluk menuju eksistensi (wujud) yang sempurna di dunia ini. Dengan memggunakan otak maka seseorang akan mampu menghasilkan tiga macam bentuk fikiran, yaitu rasio-intuitif, emosional, dan fikiran spiritual.
Namun untuk membuat pemilik otak itu sebagai manusia yang berarti/berguna atau sebagai manusia yang kurang berguna bagi manusia lain adalah bagaimana ia memanfaatkan otaknya. Konsep manusia yang berguna menurut agama adalah “khairunnas anfahum linnas”, manusia yang baik adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Agar bisa berguna bagi manusia lain, maka seharusnya kita mengoptimalkan penggunaan fungsi otak. Otak yang tidak dirangsang secara optimal tentu tidak akan membuat pemilik otak tersebut menjadi makhluk yang sempurna.
Namun ada kecendrungan sebagian masyarakat dan orang tua yang terlalu menganggungkan kecerdasan otak semata. Banyak orangtua yang tidak henti-hentinya memuji anak kalau kebetulan mempunyai anak yang cerdas, namun emosional dan spiritualnya kurang cerdas- kurang pergaulan dan kurang pula pengamalan agamanya, “wah percuma si Abton itu cerdas, tapi kuper- kurang pergaulan- dan sholat serta puasanya bolong- bolong”. Kita tidak akan menjadi manusia yang beradab kalau hanya menggunakan rasional- kecerdasan otak- dan mengabaikan unsur emosional dan spiritual.
Hampir semua orangtua tahu bahwa anak dengan otak yang terlatih dan terdidik, tanpa mengabaikan kualitas emosional dan spiritual, akan mampu membuat mereka menjadi bahagia, cerdas dan berakhlak. Tentu saja ini diperoleh oleh anak yang memiliki otak yang berkualitas dan pengembangan emosional dan spiritual yang mantap. Untuk mendapatkan generasi yang demikian maka orangtua, sekali lagi, perlu untuk membantu pengoptimalan penggunaan dan pertumbuhan otak anak sejak dini dan sampai remaja seperti memberi mereka makanan yang bergizi, memberi latihan dan pendidikan, memperkaya anak dengan informasi dan memperkaya pengalaman mereka.
Agar anak bisa menjadi cerdas maka orang tua, guru, baby sitter dan para pengasuh anak memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi otak mereka. Cara-cara pengembangan potensi otak yang dapat dilakukan adalah melalui pembinaan bahasa anak, memberikan mereka kesempatan untuk memiliki kegiatan dan melibatkan mereka dalam kegiatan sosial. Taufik Pasiak (2004) mengatakan bahwa bahasa, latihan, pendidikan, pergaulan/sosial merupakan sarana untuk mengoptimalkan potensi otak kita.
Bahasa memungkinkan kita dalam merumuskan pengalaman mental. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan , atau apa yang diserap oleh indera, dialami oleh pengalaman hidup akan dapat diekspresikan melalui bahasa. Orang tua yang terbiasa membelenggu perkembangan dan pertumbuhan anak dengan cara banyak melarang untuk berbuat “anak tidak boleh melompat-lompat, tidak boleh memajat, mendorong, berlari, tidak boleh main air, tidak boleh main api, dan perbuatan serba melarang lainnya” berpotensi menciptakan anak menjadi manja dan miskin dengan pengalaman hidup. Sejak kecil otak mereka tidak berkembang secara optimal.
Mengisolasi seseorang untuk berbicara sejak bayi bisa membuat dia mengalami gangguan jiwa. Namun secara tidak sengaja ditemukan bahwa cukup banyak orang tua yang enggan mengajak bayi untuk ngobrol. Apa yang mereka lakukan adalah cuma menggendong tanpa berkata-kata. Kemudian cukup banyak orang tua yang juga egois dan malas untuk mengajak anggota keluarga/ anak-anak untuk bercengkerama. Mereka cuma sibuk dan tenggelam dalam urusan pribadi dan bisnis. Orang tua yang demikian juga berpotensi dalam menghancurkan perkembangan otak anak mereka sendiri.
Orang tua dan guru perlu tahu bahwa anak belajar bahasa lewat bermain. Proses belajar dalam bentuk “learning by doing, learning by playing, dan learning by using game” sangat bermanfaat dalam mengembangkan kecerdasan anak. Selanjutnya bahwa dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak, maka anak dan juga pelajar sangat membutuhkan sentuhan kasih sayang dari guru dan orang tua, makanan bergizi, dan lingkungan yang kaya dengan rangsangan (aktifitas yang edukatif).
Lingkungan belajar yang kaya dengan rangsangan atau suasana yang penuh emosional/ kehangatan dan aktifitas yang edukatif adalah kunci bagi perkembangan otak anak. Pelajaran akan mudah diingat jika melibatkan kehangatan emosional. Orang bijak mengatakan bahwa otak dan otot bersandar dekat orang yang banyak gerak (banyak aktifitas) dan pengalaman hidup. Maka betapa pengaruh pengalaman hidup (melalui banyak aktifitas) akan membuat seseorang menjadi lebih cerdas. Dengan kata lain bahwa orang yang miskin dengan pengalaman positif adalah orang yang paling miskin dalam hidupnya.
Kegiatan bersosialisasi juga mampu untuk membuat anak/ seseorang mejadi cerdas. Ada beberapa bentuk kegiatan bersosial seperti melakukan ngobrol, membuat catatan harian, mengikuti organisasi, bermain dan melakukan plesiran atau rekreasi.
Mengobrol dilakukan untuk menguatkan silaturrahmi atau human relation. Menulis catatan harian bermanfaat untuk introspeksi diri. Mengikuti kegiatan organisasi berguna dalam mencari teman, melatih manajerial, dan mengelola konflik. Aktifitas bermain juga berguna untuk membuat dunia ini ceria, maka pilihlah permainan untuk anak yang memiliki dimensi motorik, sensorik, kognitif dan kehangatan emosional. Kemudian, mengikuti kegiatan rekreasi seperti outbond training yaitu kegitan yang memadukan olah raga dan bersantai di alam bebas sangat berguna untuk kesehatan rohani, jasmani dan mempererat hubungan sosial.
Untuk meningkatkan potensi otak agar anak bisa menjadi cerdas, ditentukan pula oleh kapasitas ingatan, jumlah informasi dan kualitas pendidikan anak. Markowitz (2002) dalam bukunya “otak sejuta gigabyte: buku pintar membangun ingatan super” juga membahas tentang proses ingatan, mengelola informasi, dan strategi untuk sukses di sekolah.
Proses berkomunikasi orangtua dan anak di rumah dan proses belajar mengajar (PBM) oleh guru dan murid di sekolah seharusnya bersifat interaktif atau hubungan timbal balik- komunikasi dua arah. Pola pembelajaran yang interaktif adalah juga cara yang tepat untuk meningkatkan system ingatan. Orang tua dan guru seharusnya juga sering berbagi cerita atau kisah nyata, karena kisah nyata juga bisa membantu anak dalam mengelola emosi dan untuk meningkatkan proses ingatan mereka.
Ingatan seseorang memberikan rujukan pada masa lalu dan prediksi untuk masa yang akan datang. Ingatan yang menyentuh emosi, penuh kehangatan atau penuh trauma, umumnya tersimpan untuk waktu yang lama. Semua pengalaman yang dilalui dan dimiliki oleh seseorang akan tersimpan dalam otak dan dengan pengulangan, pengistirahatan serta sentuhan emosi, maka ingatan yang kuat akan terbentuk.
Ingatan anak akan tumbuh karena seringnya pemakaian dan semakin banyaknya anak belajar. Untuk itu anak perlu dikondisikan agar terbiasa belajar dengan teratur dan frekuensi yang tinggi, menjadikan belajar sebagai kebutuhan hidup anak. Ada beberapa strategi untuk mengingat informasi yang penting yaitu seperti menumbuhkan skap ingin tahu, pengamatan yang cermat seperti banyak mengamati, banyak mendengar, dan banyak memikirkan. Maka dengan melakukan cara-cara yang demikian ingatan anak/ kita bisa makin kuat.
Guru dan siswa, demikian pula orang tua dan anak, perlu tahu bahwa pertumbuhan kecerdasan otak akan lebih optimal bila tahu cara mengelolanya. Pengelolaan atau manajemen intelektual yang perlu untuk dilakukan adalah seperti:
1). Jangan suka menunda waktu, lakukan sekarang juga. Seperti ungkapan
yang mengatakan bahwa “don’t wait till tomorrow, do what you can do”,
jangan tunggu sampai besok, kerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini.
2). Bersikap rileks, hindari stress, dan lakukan cukup istirahat tapi jangan
terlalu banyak istirahat atau kurang istirahat.
3). Kita perlu mengembangan keterampilan mengamati atau observational
skill.
4). Biasakan melakukan kegiatan menulis dan mencatat.
5). Banyak minum air putih, mengkonsmsi buah segar dan sayur dan
melakukan olah raga. Kegiatan ini demi untuk mensuplai oksigen (O2) dan
kelancaran sirkulasi darah dalam tubuh.
6). Kita juga harus sering mencari perubahan suasana, seperti pergi ke tempat
baru, menambah teman baru, mencari hobi positif yang baru, membaca hal-
hal yang baru, dan lain-lain.
Potensi otak juga bisa meningkat melalui cara kita belajar. Kita dan anak harus mengenal cara-cara belajar yang tepat. Beberapa strategi agar sukses dalam belajar adalah sebagai berikut:
1) Belajar secara rileks
2) Cukup tidur
3) Banyak minum air, agar darah dan otak kaya dengan oksigen.
4) Cukup olah raga, agar darah lancer beredar.
5) Menjaga kosentrasi dan meningkatkan pengamatan
6) Belajar dan selang selingi dengan istirahat, ibarat berlari sejauh 15 km tentu musti ada lari, istirahat dan lari. Istirahat diperlukan untuk mengembalikan stamina tubuh.
7) Gunakan catatan dan tempelan-tempelan pada dinding
8) Belajarlah di ruangan yang nyaman dan segar.
Sekali lagi bahwa dalam mengoptimalkan potensi otak demi untuk pendidikan, maka pemilik otak itu harus memperhatikan pertumbuhan dan pengembangan otak mereka. Namun yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan dan perkembangan otak mereka dalah orang tua, guru, pengasuh, masyarakat dan pemerintah. Yang diperlukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak mereka adalah, memperkaya pengalaman hidup mereka (anak), memberi pendidikan dan pengalaman hidup, memberi makanan dan minumab yang bergizi, cukup gerak badan dan istirahat. Dan hal lain yang juga penting adalah memberi model dan sentuhan kasih sayang. Kemudian yang perlu dihindari karena bisa membelenggu pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak/ siswa adalah kebiasaan yang asal serba melarang, terlalu suka campur tangan dan serba membatu. Akhirul kalam bahwa untuk mendapatkan generasi yang cerdas dan punya akhlak memang ditentukan oleh sentuhan dan peran orangtua, guru, masyarakat dan pemerintah.


3. Pendidikan Karakter Sejak Dini

Bagaimana karakter bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa di dunia ? Pasti umumnya mereka mengatakan bahwa bangsa Indonesia ramah-tamah dan suka tolong -menolong, gotong royong. Sekaligus bahwa adalah ciri khasnya. Namun coba baca dan ikuti berita yang ada pada elektronik dan media massa cetak dewasa ini. Ternyata banyak orang kita yang suka berkelahi, korupsi dan saling memaki. Malah kadang-kadang ada siswa dan mahasiswa yang senang tawuran. Ini menandakan pendidikan dan pembinaan karakter di rumah dan di sekolah, prosesnya, kurang memperoleh perhatian penuh. Sebelum deteriorasi- pemburukan- karakter terjadi, maka guru dan orang tua musti peduli untuk mendidik dan membina karakter anak.
Membina dan mendidik karakter, dalam arti untuk membentuk “positive character” generasi muda bangsa ini. Agar positive character terbentuk, maka anak perlu dilatih melalui pembiasaan “mandiri, sopan santun, kreatif dan tangkas, rajin bekerja, dan punya tanggung jawab”.
Melatih anak mandiri perlu pembiasaan sejak usia dini. Ada anak yang sudah menunjukan tanda-tanda kemandirian saat usia kecil, misalnya mereka menolak untuk disuapi dan ingin makan sendiri. Tanda kemandirian yang lain adalah seperti mencuci tangan, makan, dan memakai sepatu sendiri, sekali lagi bahwa ini adalah awal untuk mandiri dan itu perlu dipupuk. Namun karena orang tua ingin buru-buru dan ingin serba cepat, maka mereka cendrung mengambil alih aktivitas kemandirian anak tersebut.
Seharusnya, demi pendidikan masa depan anak, maka mereka musti melatih kemandirian. Untuk itu biarkan anak berbuat dan biarkanlah salah sampai batas tertentu. Kontrol yang berlebihan dari orang tua dan sikap yang membesar-besarkan kesalahan akan membuat anak jadi ragu dan malu. “Hei jangan begitu…., sandal terbalik terus….!”, Teriakan-teriakan begini berpotensi mematikan kemandirian mereka.
Bagaimana melatih anak agar tahu tentang sopan santun ? Guna mendorong anak supaya bertingkah laku yang penuh dengan kesopanan, maka orang tua memberi model- uswathun hasanah terlebih dulu. Misalnya orang tua mulai dengan mengucapkan terima kasih dan mengekspresikan pujian dan berterima kasih pada siapa saja, “Terima kasih atas batuan mu telah memasukan sandal papa ke dalam rumah, ……kamu anak yang bagus….!”. Yang harus diingat dalam melatih anak adalah bahwa jangan berharap anak berusia empat tahun bertinggah seperti anak usia tujuh tahun.
Kreatifas dan ketangkasan anak juga perlu dipupuk- dimotivasi terus. Kreatifitas yang dimiliki seseorang/ anak sebenarnya berasal dari imajinasi, sebagai kumpulan dari ide-ide mereka. Imajinasi dapat memuat mereka menjadi kreatif. Kreatifitas anak sangat tergantung pada kesempatan yang diberikan lingkungan. Kreatifitas harus dirangsang sedini mungkin- sejak usia kecil- usia dua atau tiga tahun dalam suasana bermain. Orang tua perlu merangsang kreatifitas mereka lewat proses interaksi dan menyediakan fasilitas bermain. Untuk membuat anak kreatif, pendidik (guru dan orang tua) harus menerima eksistensi anak apa adanya dan tidak cepat memberikan kritik pada tingkah laku dan kebebasan mengungkapkan perasaan.
Membiasakan anak untuk rajin bekerja adalah cara lain untuk mendapatkan anak yang berkarakter positif. Untuk itu orang tua musti membolehkan anak untuk memilih pekerjaan atau tugas rumah yang paling disukainya dan jangan berharap agar ia bekerja sempurna. Agar pekerjaan anak meningkat kualitasnya, maka orang tua perlu memotivasi dan sering memberi penghargaan atas keberhasilan kerja yang mereka lakukan.
Tampaknya anak yang ideal, karena memiliki karakter positif, juga perlu menyukai olah raga. Mereka perlu diajar untuk berolah raga agar otot-otot, paru-paru dan jantungnya kuat. Anak-anak yang gemar berolah raga, tubuh mereka tampak tegap dan kekar- tidak lemah atau lunglai.
Selanjutnya tentang melatih tanggung jawab pada anak. Perlu kita ketahui bahwa tanggung jawab tidak terpasang sejak lahir. Ia perlu dilatih setiap hari, dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan di rumah. Bentuk pelaksanaanya adalah dengan memberi mereka pekerjaan yang tetap. “menyiram bunga dan menyapu teras adalah tanggung jawab Nadilla, menyapu rumah dan membuang sampah adalah tanggung jawab Fakhrul, memasak nasi, membersihkan dapur dan kamar mandi adalah tugas Ibu Emi Surya ……!”. Demikian cara orang tua menanamkan tanggung jawab melalui pembagian tugas. Barangkali pada mula memperkenalkan pembagian tugas atau tanggung jawab ini, sebagai disiplin kerja, mungkin terlihat sedikit dalam sikap yang agak otoriter (agak tegas) agar anak bisa menurutinya.
Tiap anak berpotensi terjebak ke dalam karakter negative, maka orang tua pun perlu untuk memahaminya. Beberapa bentuk karakter negative seperti anak suka berbohong , pemalu, anak merasa minder, bersifat agresif, suka membangkang, dan kebiasaan bertengkar. Karakter negative tentu ada pemicunya dan orang tua tentu perlu bersikap bijak dalam menghdapinya..
Mengapa anak suka berbohong ? Penyebabnya adalah karena orang tua yang terlalu gemar memberikan hukuman, membentak anak, sehingga jadi berbohong. Berbohong karena mereka takut diberi hukuman atau sebagai strategi untuk menutupi rasa malu. Adalah sangat bijak bila orang tua lebih gemar memberi pujian- penghargaan- dari pada gemar menghukum dan membentak sang anak- kecuali memberikan hukuman yang lebih menyentuh/ bersifat educatif.
Bagaimana strategi orang tua dalam menghadapi anak yang penakut ? Maka terlebih dahulu orang tua musti memahami penyebab timbulnya rasa takut pada anak. Jangan remehkan perasaan takut anak kecil. Terimalah ungkapan takut anak, tetapi jangan membesar-besarkan ketakutan itu. Menghilangkan rasa takut dengan membujuk dan mendekatkan anak pada objek yang ditakuti perlahan-lahan. Orang tua perlu tahu bahwa rrasa takut dapat hilang berangsur-angsur, bukan dalam sekejap mata.
Dalam hidup ini selalu ada anak yang berani dan anak yang pemalu. Sifat pemalu timbul karena anak yang kurang suka bergaul dengan orang lain, tidak mudah mencari teman, pendiam dan dicap sebagai anak pemalu. Perlu untuk dipahami bahwa anak pemalu biasanya juga bersifat pendiam dan suka memilih-milih teman. Namun bila ia sudah terbiasa dengan teman atau lingkungan sosial tertentu maka karakter malunya akan tanggal/ lepas.
Rasa malu dapat diakibakan oleh kurangnya rasa Pe-de (percaya diri). Percaya diri terganggu karena kebiasaan orang tua yang suka membanding-bandingkan anak, anak kurang bergaul, atau orang tua terlalu melindungi anak sehingga anak jadi kurang mandiri dlam bergaul- mencari teman. Untuk mengatasi sikap malu- maka orang tua jangan menggelari anak-anak sebagai “pemalu” dan biasakan untuk menghargai anak, rangsang anak untuk mengekspresikan perasaan serta pendapatnya di rumah.
Ada anak yang suka minder- atau merasa rendah diri atau inferior complex. Perlu untuk diingat bahwa orang minder sulit untuk maju dan tidak suka untuk berbuat. Rasa minder timbuk setelah memasuki masyarakat. Minder penyebabnya karena faktor biologis- cacat fisik- dan gangguan psikis. Faktor lain adalah karena kebiasaan orang tua dalam membandingkan anak yang inferior dengan anak yang superior, “lihat kakak mu cerdas, kamu kok blooon, terus”. Kebiasan seperti ini, sekali, dapat menyebabkan anak menjadi minder. Untuk mengatasinya maka terimalah eksistensi anak apa adanya. Kalau anak belum berhasil, jangan dikritik, tetapi besarkanlah hatinya dan sekali lagi- jangan membandingkan anak.
Cukup banyak anak yang berprilaku agresif. Karakter agresif bisa merugikan eksistensi mereka dalam bergaul, karena banyak orang kurang menyukai karakter agresif. Dalam bahasa Minang anak agresif juga disebut sebagai “anak yang lasak”, atau terkesan suka mengganggu atau usil. Karakter agresif terbentuk pada mulanya karena anak dalam keadaan lelah atau sakit, dan mereka mudah jadi agresif.
Anak yang sedang bersedih atau sedang takut juga mudah agresif. Anak yang tidak punya permainan bisa menjadi bersedih dan selanjutnya menjadi agresif. Sebaiknya orang tua memberikan kesan yang tenang dan tidak emosi terhadap anak yang agresif. Untuk menyalurkan agresif anak, ya dengan melakukan olah raga dan olah otot.
Karakter suka membangkang, ini terbentuk karena orang tua suka bersikap keras dan mendikte. Untuk itu orang tua seharusnya menghadapi anak-anak yang pembangkang dengan tenang dan wajar saja. Agar anak tidak membangkan maka tidak usah terlampau sering menyuruh anak mengerjakan ini dan itu. Biarkan ia mengenakan dan memakai baju dengan cara sendiri.
Bertengkar kadang kadang atau malah sering mewarnai kehidupan rumah, sekolah dan sosial. Kalau pertengkaran antar anak terjadi di rumah maka orang tua tidak perlu mengusut siapa yang salah atau benar. Lebh baik anjurkan anak supaya berdamai dan alihkan perhatikan mereka.
Bagaimana kalau yang bertengkar bukan anak, tetapi malah adaltah dan ibu itu sendiri ? Bila ada beda pendapat, pertengkaran, antara ayah dan ibu maka tidak dibenarkan ayah dan ibu untuk menyalahkan pasangan di depan anak anak dan mereka harus menahan emosi. Membesar besarkan kekurangan anak, atau kekurangan seseorang hanya menimbulkan perselisihan belaka.
Pertengkaran juga bias disebabkan dari cara berkomunikasi yang tidak cocok, terlalu suka meledek, suka bercanda yang menyinggung pribadi, tidak menghiraukan pembicaraan orang. Pertengkaran ayah dan ibu di depan anak dapat mengganggu psikoseksuil dan watak anak. Ibu yang sering menjelek-jelekan ayah didepan anak laki-laki, berpotensi membuat anak laki laki kurang maskulin, dan sukar jatuh cinta dengan lawan jenis.
Some do’s dan some don’t’s untuk orang tua, some do-s, berarti beberapa anjuran, dan some don’t’s, berarti beberapa larangan bagi orang tua terhadap anak dan berpotensi dalam menumbuh-kembangkan karakter positif mereka. Beberapa anjuran terhadap orang tua dalam membina karakter anak adalah seperti melowongkan waktu untuk melakukan traveling, berkomunikasi, menumbuhkan sikap ingin tahu dan meningkatkan aktivitas untuk menumbuhkan potensi kognitif anak. Sementara orang tua disarankan agar tidak terlalu memanjakan anak dan jangan terjebak dengan kebiasaan “asal serba melarang”.
Aktivitas traveling sangat bermanfaat untuk menumbuhkan kecerdasan anak dalam memahami alam dan lingkungan. Seharusnya bila keluarga melakukan kegiatan traveling maka jadikanlah anak bagian dari rencana traveling orang tua. Kalau melakukan traveling maka sediakan kesibukan untuk anak supaya mereka tidak rewel atau bosan; dengan menyediakan mainan, bacaan, makanan dan minuman.
Komunikasi adalah sarana untuk menyatukan hati atau emosi semua anggota keluarga. Komunikasi harus dipelihara sejak anak-anak masih kecil, sampai mereka remaja dan dewasa. Disamping berkomunikasi, orang tua juga perlu untuk bekerja sama dengan anak. Komunikasi yang baik dimulai dengan menjadi pendengar yang baik. Orang akan terbuka kalau fikiran dan ide-ide mereka diperhatikan.
Agar memiliki anak yang cerdas dan punya karakter positif maka orang tua perlu untuk menumbuhkan sikap ingin tahu. Sikap tidak buru buru dalam mencampuri privacy- hak pribadi anak- adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Dalam menanamkan pengaruh pada anak, orang tua lebih efektif lewat contoh atau model langsung, daripada melalui ceramah, khotbah atau penjelasan secara lisan. Karena penjelasan secara lisan akan mudah dilupakan. Namun pengalaman yang nyata cendrung akan diingat sepanjang hayat.
Bermain juga bisa merangsang rasa ingin tahu anak. Oleh sebab itu tidak ada gunanya memarahi anak kecil yang tengah asyik bermain. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk mengamankan benda kesayangan atau benda yang membahayakan dari jangkauan anak. Jika orangtua merangsang sifat ingin tahu anak, kemungkinan besar inteligensinya dan daya cipta mereka akan meningkat.
Rasa ingin tahu anak juga tumbuh melalui pergaulan. Pengalaman bergaul sangat besar pengaruhnya bagi proses perkembangan anak, baik pengalaman pahit maupun pengalaman yang manis, dan kedua-dua bentuk penglaman tersebut sama pentingnya.
Orang tua juga perlu untuk menumbuh kembangkan kognitif, otak, anak. Kecerdasan kognitif bisa memberi dampak pada pembentukan karakter positif Aktifitas yng lain untuk kognitif seperti menggambar, musik, dan menyediakan buku bacaan.
Sejak usia kecil anak-anak suka coret coretan- namun orang tua yang gemar melarang, berpotensi membunuh kreatifitas anak. Beruntunglah anak yang punya orang tua menyalurkan aktifitas ini. Aktifitas lain yang disenangi anak adalah menggambar. Kegiatan menggambar dapat mebantu anak untuk memahami dunia sekitar mereka.
Musik merupakan konsumsi jiwa. Ia dapat memberikan perasaan tenang, rasa sedih, senang dan gembira. Bagi kehidupan anak dan remaja, tidak ada instrument yang lebih baik daripada musik. Akhirnya, anjuran yang patut untuk dilakukan orang tua pada anak adalah menyediakan buku bacaan untuk anak.
Betapa besarnya peran buku dalam kehidupan anak. Banyaknya seorang anak dibacakan buku atau diberi dongeng dalam usia dini/ atau usia muda sangat menentukan suksesnya kelak mereka di sekolah. Anak yang kurang suka buku karena buku tidak menarik, atau orng ua agak terlambat memperkenalkan buku, atau juga kurang memberi rangsangan untuk membaca pada anak. Bila kemampuan membaca anak sudah bagus, maka selipkanlah buku non fiksi. Buku adalah karcis untuk pergi ke mana-mana dan membaca adalah cara terbaik untuk mengisi jiwa dan otak.
Akhir kata ada dua hal yang perlu untuk ditinggalkan oleh orang tua, yaitu terlalu memanjakan anak dan kegemaran serba melarang. Anak terlalu manja- memenuhi segala keinginan anak dan serba dilindungi- akan sulit untuk melepaskan diri dari orang tua. Ia sudah merasa aman dalam perlindungan orang tua dan takut menghadapi dunia luar. Tidak perlu terlalu memenuhi perhatian anak yang butuh perhatian, cuekan saja. Ini berguna agar ia dapat mandiri dalam hal emosi. Sebab rasa sayang tidak berarti menuruti semua keinginan anak. Berjuta anak di dunia menjadi rusak karena dimanja dan terlalu dilindungi.
Jangan asal melarang, orang tua tidak perlu asal melarang anak. Tetapi tanpa melarang seorang anak mungkin kehilangan arah dan keseimbangan jiwa. Jangan melarang kegiatan yang dibutuhkan anak untuk perkembangan dan pertumbuhannya. Dalam melarang orang tua tidak perlu mengomel atau memaki yang tidak karuan . Ini dapat membuat anak merasa benci pada orang tua. Maka kini agar bangsa Indonesia dan generasi muda Indonesia tetap memiliki karakter terpunyi maka guru dan orang tua perlu mendidik dan membina karakter mereka secara total,

4. Belajar Dengan Suasana Menyenangkan

Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dibangun sebagai tempat untuk untuk mendidik generasi muda agar mereka bisa menjadi bangsa yang bermartabat. Sekolah itu sendiri coraknya ada tiga, yaitu sekolah formal, informal dan non formal. Sementara rumah itu dengan eksistensi ayah dan ibu juga dapat dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dalam memahami kehidupan dan menguasai life skill (keterampilan hidup). .
Kemudian bagaimana cara pandang anak-anak yang belajar di sekolah tersebut ?, Tentu saja juga bervariasi. Ada anak yang memandang sekolah sebagai tempat penyiksaan, karena mereka dipaksa melakukan latihan demi latihan dengan ancaman dan tekanan dari bapak dan ibu guru di sekolah. Ada yang memandang sekolah sebagai penjara, karena terpenjara dari pagi hingga sore sehingga kehilangan waktu untuk menjelajah di sawah dan dimkebun. Kemudian juga ada yang memandang sekolah sebagai pabrik otak. Karena disana ada unsur input/ masukan, proses dan output atau produk, dan anak anak didik dipandang sebagai benda dan siap untuk dilatih dan dilatih melulu tanpa memahami apa dan bagaimana hakekat belajar itu sendiri. Idealnya semua anak musti memandang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk transfer ilmu agar berubah menjadi manusia yang lebih beradab. .
Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati. Ini diperoleh melalui perlakukan guru dan orang tua melalui dorongan dan motivasi mereka. Sebenarnya yang diperlukan oleh anak-anak dalam belajar adalah rasa percaya diri. Maka tugas orang tua dan guru tentu saja menumbuhkan rasa percaya diri mereka.. Dari pengalaman hidup, kita sering menemukan begitu banyak anak yang ragu-ragu atas apa yang mereka pelajari, sehingga mereka perlu didorong dan diberi semangat lewat kata- kata dan perlakuan.
Agar setiap anak bisa belajar dengan senang dan memperoleh hasil yang optimal, maka orang tua sebagai pengasuh di rumah dan guru dari balik dinding sekolah perlu memperkenakan tentang keterampilan belajar, kemampuan dalam berkomunikasi dan memperoleh lingkungan yang menyenangkan. Ternyata belajar juga memerlukan keterampilan. Agar seorang siswa tidak terjebak dalam kebosanan gaya belajar yang monoton (belajar cuma sekedar mencatat perkataan guru dan menghafal melulu) maka mereka perlu tahu bagaimana cara membaca , cara mencatat, cara mengolah suasana hati yang jitu, cara mengolah lingkungan dan cara berkomunikasi dengan guru dan teman teman selama pembelajaran.
Kemampuan dalam berkomunikasi juga menentukan apakah suasana belajar menyenangkan atau tidak. “Bukankan hidup kita juga ditentukan oleh suasana komunikasi atau seni berbahasa”. Berbahasa ? Tentu saja cara berbahasa itu ada 2 macam yaitu: yang menyenangkan atau cara berbahasa yang mengecewakan. Guru maupun orang tua, walaupun katanya selalu mendorong anak agar jadi pintar dalam belajar namun kadang kala cara berbahasa kurang pas menurut pribadi sang anak. “Aku tidak senang belajar dengan guru itu…. Atau tidak suka dengan suasana di rumah ?”. Tentu saja karena gaya berbahasa yang kasar, cerewet, banyak mengomel, suka membentak, banyak memperolok-olokan sang anak, meremehkan harga diri dan ada belasan cara berbahasa negatif lainnya.
Dua orang yang sedang jatuh cinta bisa hubungan mereka bisa segera putus gara-gara berbahasa yang tidak simpatik menurut pandangan partnernya. Sebaliknya cinta mereka bisa langgeng karena “cara berbahasa yang menarik” selalu mempertahan cara berbahasa yang sopan, santun dan lembut. Suasana berbahasa yang menyenangkan (bernuansa positif: bahasa yang penuh pujian, dorongan/ motivasi dan penghargaan) dan diikuti oleh lingkungan yang menyenangkan tentulah akan membuat potensi belajar anak akan meningkat.. Suasana lingkungan rumah yang kerap membuat anak tidak nyaman adalah kondisi rumah yang sempit, pengap, sembrawut dan ruangan rumah yang hiruk pikuk oleh suara elektronik (lagu dan tayangan televise) yang cedrung membuat kita sendiri susah berkomunikasi apalagi berkonsentrasi dalam belajar.
Secara umum mengapa pembelajaran anak kecil lebih sukses dibandingkan pembelajaran yang dilakukan oleh orang dewasa ? Sehingga ada pribahasa yang mengatakan bahwa “Belajar diwaktu kecil ibarat menulis di atas batu (akan selalu berbekas) dan belajar di waktu dewasa ibarat melukis di atas air (apa yang dipelajari akan cepat jadi sirna)”. Penyebabnya adalah selain faktor pertumbuhan otak, masa anak-anak dan remaja disebut sebagai the golden age- masa pertumbuhan otak yang pesat, adalah juga karena anak kecil cenderung melalui instink belajar secara global. Global learning atau belajar secara menyeluruh, ya ibarat bayi atau anak kecil yang meneliti lingkungan lewat mulut, tangan, dan mata untuk mengeksplorasi apa saja apa yang dapat dijangkau.
Beruntunglah bayi dan anak kecil yang memiliki orang tua yang peduli dalam merangsang mereka dalam global learning- menyediakan sarana bermain dan belajar, kertas untuk dicoret atau untuk digunting, bunyi-bunyian, dan benda-benda lain untuk digengagam dan dilempar. Tanpa diikuti oleh kebiasaan orang tua yang terlalu banyak menolong, mengeritik dan serba banyak melarang. Selanjutnya bahwa untuk membuat suasana belajar bisa menjadi nyaman, sangat dipengaruhi oleh respond dan rangsangan (stimulus) lingkungan serta bagaimana tekhnik belajar/ mencatat dan pengalaman pribadi anak atau kita sendiri.
Respon dan stimulus lingkungan
Tiap hari anak memperoleh dua macam komentar dari teman, orang tua, dan lingkungan yaitu komentar positif dan komentar negatif. Komentar yang sering terucap berhubungan dengan belajar bisa jadi berupa serangkaian kata-kata pujian atau cacian. “Kamu memang hebat, kamu memang pintar, kamu memang jenius, kamu memang disiplin atau yang negatif: kamu sungguh kurang ajar, kamu betul-betul bodoh, otak mu mungkin sudah penuh dengan pasir, kamu memang idiot, dan ada lagi sejuta kalimat negatif lain yang sangat ampuh dalam menyayat perasaan sang anak”.
Sangat berbahaya bila sang anak atau sang siswa terlalu banyak memperoleh komentar negatif. Sebab semangatnya bisa jadi melorot. “Percuma saja aku rajin belajar atau rajin bekerja karena toh aku tidak akan pernah dihargai sebagai manusia”. Kalau begitu mengapa kita terbiasa gencar membombardir anak-anak atau orang- orang yang posisinya berada di bawah kekuasan kita dengan stimulus negatif. Mungkin gara-gara merasa sok berkuasa atau sok punya power yang membuat orang merasa mudah melemparkan kritikan dan komentar negatif.
Ada anak yang secara sekilas dipandang sangat beruntung karena tinggal dengan orang tua yang berpenampilan sangat gagah dan fasilitas hidup cukup mewah- punya mobil, disuruh ikut les ini dan les itu. Namun sang anak malah bermimpi bahwa alangkah indahnya kalau bisa pindah rumah. Ada apa gerangan ? ternyata Ia (anak) sering kena ancam atau tidak ada contoh,, “Kamu sudah aku masukan les privat sains dan les privat matematik, kalau masih rendah nilai mu, kau pindah saja sekolah ke kampung”. Itulah karena kebiasaan mengancam dan kritikan negatif, maka kecerdasan anak pada akhirnya akan mandek pada usia sekolah.
Sebaliknya, sekali lagi, beruntunglah anak yang memperoleh rangsangan dan respon positif. Anak anak yang memperoleh kaya rangsangan akan bisa menjadi pelajar yang sukses. Dengan kata lain bahwa lingkungan yang miskin rangsangan dan dan dibombardir dengan respon negatif berpotensi menciptakan anak menjadi pelajar yang lamban.
Mengapa guru dan orang tua kok senang dengan misbehave atau salah bersikap ? Jika anak merasa kurang percaya diri, maka bantulah dia. Coba menemukan hal hal positif pada dirinya dan pujilah dia agar rasa percaya dirinya bisa datang. Komentar-komentar positif dapat membangkitkan percaya diri mereka.
Orang belajar memang tergantung pada faktor fisik (suasana lingkungan), faktor emosional (suasana hati) dan faktor sosiologi atau lingkungan teman, guru, orang tua dan budaya sekitar. Maka berilah suasana pencerahan pada lingkungan, suasana hati dan suasana sosiologi anak.
Tekhnik menctat dan pengalaman pribadi
Cara belajar dan pengalaman pribadi juga menentuka apakah belajar itu nyaman dan menyenangkan atau tidak. Karakter orang belajar memang sangat bervariasi. Ada yang senang belajar dengan cahaya terang atau agak redup, ada yang belajar dengan berkelompok atau sendiri, ada yang senang belajar pakai musik atau suasana sepi, dan ada yang senang belajar dengan suasana berantakan atau rapi. Maka guru, juga para orang tua, perlu memahami variasi mereka dalam belajar dan jangan pernah terlalu mencampuri variasi belajar mereka - kalau akibatnya membuat anak kurang nyaman dan kurang senang dalam belajar.
Bobbi De Porter dan Hernacki (2002) mengatakan bahwa variasi belajar atau modalitas (cara menyerap informasi) juga bervariasi pada setiap orang. Ada orang atau anak yang mengandalkan kekuatan visual yaitu membaca, karakter orangnya adalah cara berbicara cepat. Ada yang bersifat auditorial atau mendengar, karakter orangnya adalah suka bicara sendiri dan kecepatan berbicara sedang, Kemudian ada orang berkarakter kinestetik atau banyak gerakan. Orangnya susah untuk tenang atau duduk diam dan berbicaranya lambat.
Perlu diingat bahwa dalam belajar, supaya anak juga perlu aktif dalam mencatat. Mencatat dalam belajar bermanfaat untuk meningkatkan daya fakir mereka. Ada dua macam cara mencatat: mencatat dengan membuat peta konsep (menulis poin-poin penting dan membuat hubunganya) dan mencatat tulis susun, atau menulis poin poin penting secara bersusun saja. Kiat tambahan dalam mencatat adalah mencatat untuk mendengar secara aktif, misal dalam seminar, pidato, ceramah.. Usahakan duduk paling depan.
Percaya atau tidak bahwa kita semua adalah penulis. Dorongan untuk menulis itu sama besar dengan dorongan untuk berbicara yaitu untuk mengkomunikasikan fikiran dan pengalaman kita. Selanjutnya milikilah dan perkayalah pengalaman hidup. Milikilah pengalaman pribadi yang banyak dan beragam dengan cara banyak bergaul dan melakukan perjalanan . Sebab orang yang mempunyai koleksi pengalaman pribadi yang banyak akan lebih kreatif dalam belajar dari pada orang yang kurang pengalamannya.
Selain membiasakan mencatat selama belajar maka anak juga perlu mempunyai minat membaca dan mengetahui cara-cara membaca yang tepat. Perlu untuk diketahui tentang kecepatan membaca. Ada kecepatan membaca yang regular atau kecepatan biasa-biasa saja. Skimming atau membaca dengan melihat cepat, misal membaca buku telepon dan mencari kata dalam kamus. Scanning yaitu membaca sekilas, misalnya membaca headline pada Koran atau melihat daftar.
Agar kita, anak, siswa dan siapa saja bisa merasakan suasana belajar yang menyenangkan maka musti membiasakan untuk berfikir kreatif. Hidup ini indah atau susah memang ditentukan oleh suasana hati dan fikiran. Berfikir kreatif, bukanlah masalah kerja lebih keras, tetapi berfikir dengan banyak alternatif. Orang yang kreatif senang selalu mencoba, melakukan petualangan dan bermain-main dengan tantangan. Salah satu latihan kreatif adalah bercerita tentang kejadian sehari-hari. “Ibu guru, bapak guru dan ayah-ibu di rumah perlu untuk menyisihkan sedikit waktu agar bisa sharing dan berbagi cerita tentang indah dan mudahnya hidupm ini dengan anak”. Last but not least (akhir kata) bahwa siswa/ anak perlu untuk mengulang materi pelajaran akan meningkatkan daya ingat dan pemahaman, sehingga belajar itu akhirnya memang bias jadi asyik, nyaman dan menyenangkan. .

5. Membudayakan Penghargaan

Dalam buku L’etat du monde annuaire, annuaire economique geopolitique mondial, diedit oleh Didiot Beatrice (2001) dilaporkan bahwa menjelang tahun 2000 posisi human indicator index atau tingkat Sumber Daya Manusia Indonesia menempati peringkat 102, negara Vietnam yang merdeka lebih akhir dibanding Indonesia satu digit lebih baik dari Indonesia, yaitu 101. Kemudian dalam buku The State of The World Atlas, ditulis oleh Dan Smith (1999) memaparkan bahwa posisi SDM Indonesia menempati peringkat 88 di dunia dan Negara Turkmenistan yang baru merdeka tahun 1991, lepas dari Uni Soviet, posisi SDM nya juga lebih baik satu digit dibandingkan Indonesia, yaitu posisi 87. Dibandingkan level SDM pada laporan terdahulu, maka laporan dalam buku terakhir tampaknya ada perbedaan, namun sebagai bangsa Indonesia kita belum bisa berbahagia karena angka dalam laporan terakhir tetap sangat jauh dari yang kita harapkan, apalagi mengingat ukuran negara Indonesia sebagai Negara yang luas wilayahnya dan banyak penduduknya cukup membuat mata kita perih. Malah dapat dibuat pertanyaan “apakah begini kualitas bangsa ku yang jumlahnya 200 juta orang lebih itu, jumlahnya banyak namun ibarat buih di pantai- banyak tapi isinya hampa?”
Bangsa Indonesia (kita, pemerintah dan rakyat) harus merespon laporan peringkat SDM tadi dengan rasa malu karena peringkat kualitasnya sangat mengecewakan. Namun kita harus optimis dan bertanggungjawab untuk peningkatannya. Maka dalam rentang waktu sejak seputar tahun 2000 atau setelah keluarnya laporan tingkat SDM negara-negara se dunia sampai sekarang sudah ada beberapa kebijakan pemerintah terbit untuk meningkatkan mutu SDM. Diantaranya adalah dalam bentuk merevisi kurikulum, menerbitkan kebijakan baru dalam pendidikan, membentuk undang-undang pendidikan yang lebih merespon perkembangan dan pro aktif pada kemajuan zaman.
Dari semua elemen pendidikan di negara kita, mulai dari tingkat Tk sampai ke Perguruan Tinggi, merasa bertanggung jawab untuk menuntaskan dan memparbaiki kualitas SDM bangsa. Maka sebagai imlementasinya dan kebijakan untuk meningkatkan mutu, dibentuklah berbagai program peningkatan mutu guru, peningkatan mutu sekolah, peningkatan mutu bahan ajar, dan lain-lain. Namun kualitas SDM untuk dunia pendidikan tersangkut pada kualitas murid-murid/ para pelajar.
Selanjutnya bahwa kualitas murid, juga pelajar dan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh eksistensi sekolah atau kampus belaka terhadap mereka karena lebih dari separoh waktu kehidupan mereka di habiskan di rumah bersama orang tua. Ini berarti bahwa kualitas SDM mereka juga ditentukan oleh eksistensi rumah, yaitu bagaimana campur tangan dan perhatian orang tua dalam mendidik dan membangkitkan motivasi belajar mereka. Dapat dikatakan bahwa kualitas SDM mereka menjadi naik atau turun sangat ditentukan oleh kualitas motivasi belajar mereka terutama di rumah.
Pada umumnya semua sekolah favorite, apakah namanya Sekolah Unggul, Sekolah Akselerasi, Sekolas Plus, Sekolah Percontohan, dan lain-lain, menjadi sekolah berkualitas karena di sana berkumpul anak-anak yang berkualitas, yaitu anak-anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi. Mereka menjadi berkualitas bukan karena sekolah tersebut, tetapi karena factor rumah- mereka berasal dari rumah dengan orang tua, kondisi dan lingkungan yang selalu mendukung dan memotivasi mereka, sehingga bisa memiliki motivasi belajar yang tinggi.
Sementara itu sekolah-sekolah yang tidak berlabel favorite- tidak memiliki kualitas unggul- dan mungkin kualitasnya amburadul, terjadi karena di sana berkumpul siswa-siswa yang sama-sama miskin dengan motivasi belajar. Mereka memiliki motivasi belajar yang rendah karena berasal dari rumah dengan orang tua, kondisi dan lingkungan yang juga amat jarang mencikaraui atau merasa peduli dengan urusan motivasi belajar anak, “bagaimana aku bisa mengurus anak sekolah, hidup saja susah”, demikian yang sering diucapkan oleh orang tua yang pesimis. Orang tua yang pesimis ini berpotensi menghancurkan motivasi belajar anak. Populasi mereka sangat banyak, mungkin jutaan, di Indonesia. Merekalah yang perlu didekati dan dibina, kalau tidak maka kualitas SDM Indonesia.
Bila posisi SDM Indonesia di dunia termasuk ke dalam kategori rendah maka dapat dikatakan bahwa tentu ada jutaan orang tua di rumah yang belum berbuat banyak dalam meningkatkan motivasi belajar anak. Kalau begitu bagaimana eksistensi motivasi itu dan bagaimana menimbulkan motivasi belajar anak yang baik, dan siapa saja yang lebih bertanggung jawab dalam membangkitkan motivasi belajar mereka ?
Tentu saja orang tua dan guru berperan amat penting dalam membangkitkan dan meningkatkan motivasi anak. Ada beberapa cara yang dapat kita- sebagai orang tua dan guru- lakukan untuk merangsang minat anak dalam belajar- yang merupakan dorongan ekstrinsik (dorongan yang datang dari luar). Di antara yang dapat kita lakukan adalah dengan cara memberii hadiah, penghargaan, pemberi tahuan tentang kemajuan dan belajar mereka.
Sementara itu yang banyak dilakukan oleh orang tua, yang katanya adalah untuk mendorong anak belajar, tetapi mereka mencela anak “hei kemana otak lu, sudah gede tapi tidak pernah tahu dengan huruf Pe”, dan dengan cara membentak anak “ Hengki….kamu nonton melulu, ayo buat Pe Er !”. Idealnya dan seharusnya orang tua dan guru perlu tahu bagaimana cara yang terbaik dalam memotivasi mereka.
“Papa…,mama…, aku memperoleh angka 100 dalam ujian Sains !” seru anak dengan penuh kegirangan begitu sampai di pintu rumah. Maka respon orang tua bisa saja bervariasi. Orang tua yang lupa cara memotivasi anak mungkin berkata “tapi kertas ujian kemaren kok kamu robek” atau “kamu dapat seratus mungkin saja kamu dapat contekan”. Respon seperti ini cendrung tidak bersahabat di hati anak, maka jangan harap lagi anak untuk termotivasi dalam belajar, namun aneh bila nanti anak kehilangan semangat belajar, yang kena tumbal- sebagai scapegoat/kambing hitam- sebagai penyebab anak malas adalah lingkungan, teman, sekolah, teknologi atau zaman global. Padahal penyebabnya adalah cara respon orang tua terhadap harapan anak.
“Mama …aku sudah hafal surat alfatihah dan tadi ulangan ku dapat angka 95 !”, Respon orang tua atas harapan anak adalah mungkin dengan memberii penghargaan. “Alhamdulillah, senang sekali hati mama…”, atau “Karena kamu pintar, papa kamu kasih kamu hadiah “. Respon positif dan memberi penghargaan tentu akan menambah motivasi belajar anak. Orang tua atau keluarga- keluarga yang sudah membudayakan penghargaan dan/ atau hadiah pada anak atas prestasi belajar dan bekerja mereka, akan mampu melahirkan mereka sebagai generasi yang memiliki harga diri dan motivasi belajar yang tinggi. Kebutuhan dan fasilitas belajar mereka juga harus disediakan dan dipenuhi.
Karakter orang tua dan lingkungan yang berpotensi dalam menghancurkan motivasi belajar anak adalah seperti kurang peduli dalam memenuhi fasilitas belajar mereka (rokok atau kaset VCD player terbeli tetapi bahan bacaan buat anak tak peduli), karakter terlalu kaku, keras dan berbahasa kasar selama mendidik anak “orang tua ku ramah, tetapi kalau menemani aku belajar jadi judes, minta ampun, sehingga otak ku buntu kalau belajar”. Karakter yang lain adalah seperti suka memaksanakan kehendak pada anak, terlalu berharap banyak, dan serba banyak melarang atau memerintah. Perilaku atau karakter orangtua yang demikian membuat anak akan merasa tertekan, anak belajar dalam kondisi tidak aman dan hati yang mendongkol.
Kemudian ada strategi lain yang diterapkan oleh guru dan orang tua untuk memotivasi belajar anak, yaitu membuat anak bersaing dalam belajar. “Besok kalian mau ujian, ayo siapa kelak yang jago nya, bisa nggak kamu mengalahkan Asrul?” Dapat dikatakan bahwa memotivasi anak dengan persaingan di antara mereka berarti “mengadu anak/ siswa dengan jalan menimbulkan pertentangan”. Kompetisi atau persaingan antara mereka berpotensi untuk memupuk perasaan marah, iri hati, cemburu, dan perasaan ingin mengalahkan orang lain. Sehingga bagi anak bahwa mengalahkan orang lain lebih penting dari pada belajar dengan tekun dan sebaik-baiknya.
Prayitno (1989) mengatakan bahwa kompetisi, termasuk kompetisi dalam belajar, menimbulkan konflik dalam diri sebahagian anak. Mereka merasa terancam karena takut kalah, atau di antara mereka timbul ketegangan yang disebabkan oleh ambisi untuk mengalahkan orang lain. Belajar dengan cara berkompetisi membuat anak mengejar nilai lebih tinggi dan lupa dengan tujuan belajar yang sebenarnya. Sehingga ini dapat mendorong mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai tinggi, termasuk dengan cara mencontek.
Memotivasi anak untuk belajar dengan cara berkompetisi hanya merangsang siswa-siswa yang pandai. Dengan adanya kompetisi dalam belajar akan menimbulkan sifat egois atau lebih mementingkan diri sendiri. Siswa yang pandai tidak mau membantu teman-teman mereka yang berkemampuan sedang dan kurang. Oleh karena itu kompetisi akan menghilangkan atau paling tidak menghalangi berkembangnya sikap sosial dalam diri siswa atau anak. Dapat dikatakan bahwa membuat anak bersaing/ berkompetisi dalam belajar bisa mendatangkan pengaruh buruk terhadap perkembangan pribadinya- mereka mudah jadi sombong dan dengki. Akan lebih baik jika dibentuk persaingan dengan prestasinya atau persaingan dengan diri sendiri.
Cara lain yang juga dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar anak adalah, seperti yang telah disinggung di atas, yaitu pemberian hadiah dan hukuman. Hadiah dan hukuman bentuknya lebih kongkrit dari pada penghargaan dan pemberiaan celaan. Pemberian hadiah sebagai cara untuk memotivasi anak/siswa dapat menjadi penguat tingkah laku– reinforcement. Anak-anak yang telah melakukan pekerjaan/ belajar dengan baik diberi hadiah oleh guru atau orang tua. Hadiah atau penghargaan ada yang bersifat verbal maupun yang bersifat material. Yang penting untuk diperhatikan dalam membangun motivasi belajar adalah bentuk hadiah itu sendiri.
Hadiah dalam bentuk verbal lebih baik daripada dalam bentuk benda atau angka. Namun bagi orang tua yang bisa menyisakan sedikit uang, tidak ada masalah kalau sekali-sekali memberi anak anak hadiah dalam bentuk materi atas prestasi nya- mungkin membelikan sebuah kotak pensil, buku cerita, kamus elektronik sampai kepada menghadiahkan mereka satu set laptop, bagi yang mampu membelikan. Tidak semua hadiah verbal (dalam bentuk ucapan atau tulisan) dapat menimbulkan motivasi di dalam diri untuk belajar secara efektif. Tetapi hadiah verbal yang memberikan informasi bisa membangkitkan minat anak untuk berhasil dalam belajar. Oleh karena itu dalam memeriksa tugas-tugas siswa, informasi atau komentar (hadiah verbal) harus diberikan disamping pemberian nilai.
Hukuman sebagai alat untuk memotivasi belajar siswa lebih banyak memberikan pengaruh psikologis yang negative dibandingkan motivasi yang ditimbulkannya. Memang hukuman ada kemungkinan untuk meningkatkan proses belajar siswa/ anak. Namun mereka akan berhenti belajar jika hukuman ditiadakan lagi. Hukuman dapat menimbulkan kecemasan, gangguan emosi dan perasaan bersalah di dalam diri mereka. Di dalam belajar siswa dibayangi oleh ketakutan untuk berbuat salah.
Perbuatan menghukum, mengancam, dan mencela adalah cirri-ciri guru dan orang tua yang otoriter- terlalu suka berkuasa. Akibat buruk yang terjadi dalam diri siswa akibat karakter otoriter mereka adalah anak/siswa menjadi apatis, kehilangan minat belajar, mengerjakan kegiatan sesuai dengan apa yang disuruh saja, anak kurang memiliki inisiatif, kemandirian dalam belajar mereka rendah, bersifat patuh saja, dan tidak berkembang rasa percaya diri mereka. Selanjutnya sikap otoriter yang diterapkan oleh guru dan orang tua berpotensi dalam mematikan kreatifitas dan daya spontanitas anak, sehingga mereka tidak mampu dalam mengambil keputusan- padahal kemampuan ini amat penting kelak bila mereka tumbuh dewasa.
Anak yang besar dalam suasana otoriter akan tumbuh menjadi orang yang agresif, berkarakter kasar dan kurang ramah dan kurang mampu bertegur sapa. Saatnya kini kita harus punya pradigma baru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dan siswa kita. Kita tidak sudi lagi bila mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas hampa. Menumbuh-kembangkan motivasi belajar mereka adalah tugas kita sebagai orang tua atau guru. Saatnya kita harus membuang cara banyak mencela, mengancam dan kekerasan- menerapkan karakter otoriter. Salah satu cara yang tepat adalah dengan memberi mereka penghargaan atas karya dan prestasi kerja/ belajar mereka. Dengan cara ini motivasi belajar mereka akan tetap tumbuh dan terpelihara.


6. Peduli Pendidikan Gaya Orang Cina

Dari pengalaman hidup diketahui bahwa siswa-siswa yang berasal dari keturunan Cina lebih sukses dalam pendidikan. Juga sering didengar bahwa sekolah-sekolah milik keturunan Cina juga lebih berkualitas dan diminati oleh banyak orang. Sekolah- sekolah mereka ada pada setiap kota besar di dunia dan juga di Indonesia. Sekolah mereka dapat dikatakan menempati peringkat kualitas papan atas.
Orang yang peduli dalam urusan pendidikan tentu segera bertanya-tanya dan ingin tahu tentang mengapa ini bisa terjadi. Apa yang membuat siswa mereka unggul dan bagaimana peran orangtua warga Cina tersebut dalam mendidik mereka.
Tentu saja ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi anak-anak mereka di sekolah., yaitu seperti harapan orang tua pada anak, tidak hanya sekedar berharap dan menyuruh namun juga diikuti oleh aksi mereka menyediakan sarana belajar atau mencarikan tempat belajar yang unggul agar anak mereka bisa berprestasi. Tingkat pendidikan orangtua warga keturunan Cina (di negara maju seperti di Amerika dan Eropa) dan harapan mereka pada pendidikan anak menentukan tingkat kesuksesan pendidikan anak-anak mereka.
Fenomena yang kontra adalah bahwa banyak siswa asli pribumi yang pendidikan mereka agak rendah. Ini mungkin akibat orangtua mereka kurang memperlihatkan peran dalam mendidik mereka. Bisa jadi terkesan bahwa mereka terlalu menyerahkan urusan pendidikan anak anak pada guru di sekolah. Ini terjadi karena tingkat pendidikan orangtua yang redah, dan harapan yang rendah atas keberhasilan pendidikan anak.
Ada ungkapan yang berbunyi “experience is the best teacher- penglaman adalah guru yang terbaik”. Maka pengalaman orang tua keturunan Cina dalam mendidik anak bisa jadi pengalaman warga Indonesia yang lain. Mereka perlu berfikir dan bertanya tentang bagaimana orangtua dari keturunan Cina membangun harapan pendidikan pada anak dan sekaligus menjadi model bagi mereka.
Pada sebuah artikel “success story” di internet dikatakan bahwa keberhasilan pendidikan dan ekonomi Cina dan Jepang sebagai bangsa yang suka bekerja keras dan jarang mengeluh, kemudian di rumah, orang tua, menjadi model atau uswatun hasanah bagi anak- anak mereka. Menjadi model atau figure bagi anggota keluarga maka mereka harus rajin dan berprestasi.
Ketidak berhasilan sebahagian anak-anak Indonesia yang lain dalam pendidikan ketika di SMP dan di SMA atau mahasiswa dapat diperkirakan karena mereka belum punya karakter- seperti suka bekerja keras, bekerja keras, dan mereka suka mengeluh, serta tidak memiliki semangat juang yang tinggi- berpribadi rapuh dan tidak tahan banting. Orangtua tentu tidak perlu menuduh mereka sebagai generasi yang santai dan pemalas, karena penyebab mereka demikian adalah akibat miskin model dan dukungan moral dari orang tua dan guru-guru mereka, yang mungkin juga kurang suka belajar dan bekerja keras dan senang mengeluh, kemudian bekerja tanpa orientasi untuk berhasil.
Juga dikatakan bahwa anak- anak Cina mampu menjadi siswa yang terbaik dengan bakat khusus- memenangkan kompetisi olimpiade, computer, robot, juara bulu tangkis tingkat dunia, atau menonjol dalam bidang sains dan tekhnologi. Keberhasilan mereka dalam bidang tersebut tentu karena dukungan budaya dan keluarga. Budaya yang mereka miliki adalah budaya senang bekerja keras dan belajar penuh semangat. Dalam mencari rezki, orang Cina punya moto- jangan biarkan reski dimakan oleh ayam terlebih dahulu (maksudnya jangan suka bangun kesiangan) dan “beri aku ikan maka aku makan satu kali, tapi beri aku kail- ajari aku memancing- maka aku makan ikan selamanya”. Dalam konteks ini keturunan Cina mengajar anak-anak mereka agar memiliki keterampilan hidup dan tidak meminta rezki atau belas kasih dari pihak family atau orang lain.
Sementara itu budaya warga Indonesia yang lain, sebahagian, suka hidup santai, membiarkan fikiran, tangan dan kalbu mereka menganggur. Pada hal orang yang sehat jiwanya adalah orang yang berdiri di atas kaki dan tangan kreatif.
Dukungan orangtua, ayah dan ibu, di rumah sangat menentukan keberhasilan anak dalam bidang akademik. Rata- rata anak yang cerdas atau terampil berasal dari keluarga yang sangat mendukung dan mempersiapkan anggota kelouarganya untuk berhasil. Kalau begitu siswa atau yang cerdas bukanlah semata-mata dicetak oleh sekolah, seperti anggapan banyak orang. Peran sekolah hanyalah untuk pemantapan. Atau paling kurang perimbangan rumah dan sekolah dalam mensukseskan pendidikan anak adalah fifty-fifty percent.
Tidak hanya keturunan Cina di Indonesia, keturunan Cina di berbagai belahan dunia seperti di Amerika, Kanada dan Australia juga banyak yang sukses dalam bidang akademik dan pekerjaan. Anak- anak mereka sangat berhasil dalam bidang akademik, teknologi dan sains. Bisa kita pertanyakan bahwa bagaimana orang-orang Cina bisa membentuk success-expectation walau mereka hidup sebagai kaum minoritas.
Seorang teman beragumen bahwa orientasi anak- anak Cina pada sains dan tekhnologi bukan merupakan refleksi. Banyak orang beranggapan bahwa anak-anak keturunan Cina bisa sukses di sekolah dan dalam dunia bisnis karena mereka memiliki otak yang cerdas. Anggapan atau steretipe yang demikian tidak benar, karena sesungguhnya keberhasilan itu adalah karena hasil dari kerajinan, disiplin diri, dan pengaturan diri mereka. Kalau hanya kecerdasan, cukup banyak manusia yang cerdas namun kurang beruntung karena tidak memiliki sikap kerajinan, disiplin diri, dan pengaturan diri. keturunan Cina rata-rata sudah punya standar hidup yang harus dicapai yaitu mereka harus menjadi orang yang berhasil. Alasan lain yang membuat mereka berhasil dalam bidang akademik dan bidang pekerjaan adalah agar bisa bertahan dalam hidup sebagai warga minoritas. Mereka memutuskan harus menjadi orang yang well-educated , mandiri dan bertanggung jawab.
Untuk menjadi orang yang berpendidikan baik, anak- anak mereka didik dengan serius, penuh rencana di rumah dan dikirim kemudian ke sekolah yang berkualitas. Kemandirian anak dilatih tanpa mendikte yang banyak atau terlalu mencampuri keputusan anak dan rasa tanggungjawab terbentuk melalui pemberian tugas sesuai dengan usia dan kesanggupan anak- seperti ikut membantu orang tua dalam menjalankan bisnis.
Dalam belajar orangtua selalu menyampaikan pesan bahwa kalau anak-anak tidak rajin dalam belajar dan bekerja maka mereka tidak mungkin menjadi bintang kelas dan sukses dalam bekerja. Maka mereka sangat peduli terhadap PR atau pekerjaan rumah anak dan mengikuti kursus ekstra yang lain agar bisa memperkaya wawasan anak.

7. Semangat Kerja Yang Hebat

Empat puluh tahun lalu atau lebih kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia masih sejajar dengan Negara Korea (Korea Selatan), Thailand, Taiwan dan Malaysia. Namun kini setelah empat puluh tahun (di tahun 2000-an ini) pertumbuhan SDM bangsa tercinta ini terkesan amat lambat. Pada hal penduduk di negara itu sejak dulu sama karakternya dengan bangsa kita, sama-sama suka makan nasi. Dulu semangat kerja bangsa kita (para pemuda 40 tahun yang lalu) masih sama dengan semangat kerja pemuda mereka.
Dalam tahun 1950-an dan 1960-an semangat kerja keras bangsa Indonesia cukup bagus dan menonjol. Dapat dikatakan bahwa semangat berdagang atau berwirausaha pemuda Minang, sebagai contoh, menyamai semangat saudara kita dari etnis Cina. Zoelverdi (1995) menulis tentang beberapa orang yang sejak muda memiliki etos wirausaha yang sangat bagus. Mereka adalah seperti Hasyim Ning, Fahmi Idris, Darnis Habib, Baihaki Hakim, Abdul Latif, A.S Datoek Bagindo, A.R Soehoed, Aminuzal Amin dan masih sejumlah nama lain.
Hasyim Ning di tahun 1950-an terkenal sebagai Raja mobil di Indonesia walau ia sendiri tidak pernah belajar bisnis secara formal. Namun ia tahu bahwa prinsip semua bisnis adalah kepercayaan. Ayahnya adalah pedagang kecil dan Hasyim Ning tidak cengeng, ia sejak kecil sudah terjun dalam bisnis keluarga dan bisnis Belanda (dalam zaman penjajahan Belanda). Dari sana ia memperoleh pengalaman dan budaya kerja sebagai importir mobil. Hasyim Merantau ke Jakarta (Batavia), “ya sempat nganggur tapi cari kerja sebagai pencuci mobil dan pandai-pandai bergaul, kalau sebagian pemuda sekarang kan suka jaga gengsi dan pilih-pilih kerja”.
Hasyim Ning bekerja di usaha importir mobil Veladome, karena karakternya baik, ia dipercaya menjadi wakil di Tanjung Karang. Ia meluaskan pola berfikir, ia juga bekerja sebagai pemborong tambang batubara di Sumatera Selatan dan bekerja sebagai administrator kebun teh dan kina di Cianjur. Ia sempat memperoleh latihan militer dan itu membuat disiplinnya lebih bagus. Disiplin yang mantap menjadi modal baginya dalam mengelola pabrik dan perusahaan. Kalau ia mencari buruh, ia tidak suka orang yang cara kerjanya serampangan, harus yang professional, “tidak ada istilah hiba-hiba dalam hal keuangan, kalau membeir kawan uang ya pakailah uang kantong sendiri, jangan pakai uang pabrik”.
Fahmi Idris, ayahnya berdagang sepatu dan ia mendidik anaknya agar menghargai waktu, maka Fahmi diberi tanggung jawab untuk menjaga toko. Waktu kecil Fahmi juga nakal, ia bisa pecak silat dan pandai bergaul. Ketika di SMP ia dagang kaos. Ayahnya juga membaca Koran dan Fahmi juga suka membaca. Ia memperoleh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Ia cukup aktif di kampus, ia mendirikan bursa buku dengan teman-teman dan sempat menjadi ketua senat FEUI. Ia merintis usaha dengan teman dan mendirikan firma.
Darnis Habib waktu kecil berkarakter pemberani karena benar dan jago (cerdas) di kelas. Saat di SD ia paling senang matematika dan saat di SMP ia senang dengan aljabar. Ia tidak punya cita-cita karena anak pertama namun tamat dari SMA ia cabut ke Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sambil kuliah ia part time atau kerja sambilan di perusahaan. Tamat kuliah ia menjadi importir vespa, inspirasi ini terjadi akibat banyak belajar dan diskusi ketika karir saat aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).
Baihaki Hakim, ketika kecil ia bersekolah di SD yang disiplin, gurunya baik-baik dan lingkungan yang agamis. “Soalnya ada juga sekolah karena mengatas namakan disiplin wajah gurunya banyak yang angker dan bahasanya menakuti murid-murid”. Karena ia (dan orang tuanya) sering pindah-pindah ia merasa tidak punya kampung tetapi punya banyak pengalaman. Mobilitas yang tinggi bagus untuk membangun karakter anak-anak dan cara berfikir mereka, karena bisa mengenal banyak orang, mengenal banyak latar belakang dan cara berfikir mereka. “orang yang tinggi bobilitasnya, mereka tidak menjdi makhluk kuper, kurang pergaulan, dan statis yang senang mengurung diri di pojok kamar”.
Baihaki, ayahnya juga senang otodidak dan menjadi koresponden. Untuk menggenjot kualitas nya, ayahnya mencarikan guru Bahasa Inggris orang Singapura dan mendorongnya untuk banyak membaca. Sejak kecil orang tua nya ingin anaknya jadi dokter. Namun Baihaki memilih kuliah di ITB dan memilih berkarir di perusahaan, Caltex.
Abdul Latih, ayahnya merantau dan berdagang tekstil dan ibunya aktivis di Aisyisiah Muhammaddiyah. Sejak kecil ia suka membaca dan suka bergaul. Ia mengenal semua famili dan juga mengenal banyak orang. Dalam masa remaja ia juga suka menonton, namun juga banyak belajar dan banyak bergaul. Saat kuliah, ia kerja sambilan, pengalaman kerja ini penting untuk merintis kearah kerja atau wirausaha “namun mahasiswa sekarang senang pergi mejeng ke Plaza dan Mall, untuk menghamburkan duit kiriman orang tua dan memupuk nilai konsumerisme”. Setelah tamat kuliah Abdul Latif membuat usaha seperti tempat ia magang kerja dulu, kemudian ia membuat ruko (rumah toko) dan gedung di daerah perkotaan, dijadikan toko atau dikontrakan. Ia mengembangkan usaha ke Singapura dalam bidang agrobisnis, buku, periklanan, developer, konstruksi dan dagang eceran. Ia sangat anti dengan gaya hidup santai dan banyak mengelaso- berleha leha.
A.S Datoek Bagindo, ayahnya adalah seorang petani dan ia ikut terjun mencangkul dan kadang-kadang menerima upah dari ayah “ya dari pada member upah pada orang lain, lebih baik mengupah anak sambil melatihnya mengenal arti hidup dan agar tidak bermental cengeng”. Saat remaja ia hidup mandiri guna bisa meringankan beban hidup orang tua. Sekolahnya jauh dari rumah dan ia mencari orang tua angkat. Ia membantu teman , berdagang di kaki lima sambil kuliah. Ia juga mengembangkan human work dan banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh besar seperti Hatta, Syahrir, Natsir dan Chairul Shaleh dan memetik pengalaman hidup mereka untuk sukses dan untuk cermin diri.
Banyak pengalaman hidup yang ia tulis dan ini sangat berguna untuk bahan-bahan ceramahnya, ia diundang untuk memberi ceramah di SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Ia mengatakan bahwa pola merantau orang Minang harus dikaji ulang, bukan lagi merantau untuk membuka warung nasi, menjahit, berdagang kaki lima, karena orang lain juga bisa melakukan hal ini. Apalagi sekarang sudah banyak usaha garment. Maka merantaulah sebagai orang intelektual yang bisa merintis karir dan pencipta lapangan kerja, bukan jadi buruh di sana.
A.R Soehoed sejak muda terbiasa senang bekerja keras sampai dini hari. Ia menjaga stamina dengan senam. Ia punya banyak pengalaman. Zaman dahulu di tahun 1940-an transportasi sangat sulit dan mahal. Untuk perhubungan pulau Sumatra dan Jawa tidak ada bus dan pesawat, kecuali menggunakan kapal yang berlayar cukup lama namun Soehoed dalam usia 19 tahun punya pengalaman berpergian dari pulau Jawa ke Sumatra, mengunjungi keluarga ayahnya di Maninjau (Sumbar) dan Painan. Selama di kampung ayahnya ia punya pengalaman menghela pukat dan membagi-bagi ikan.
Ia mengatakan bahwa untuk berhasil dalam hidup maka setiap orang harus punya mental yang kuat. Ini diperlukan untuk bisa menjadi pioneer atau perintis. Ia mampu punya perusahaan dan mengelola proyek-proyek besar.
Aminuzal Amin waktu kecil mampu berbicara dan sering menjadi pembawa acara atau MC (master ceremony). Ia dikenal sebagai pemuda yang panjang akal. Walau ayahnya Cuma seorang pegawai kecil, ia panjang akal untuk sukses. Ia Kuliah di Universitas Indonesia dan malam cari duit menjadi sopir oplet. Ia aktif berorganisasi di kampus, bukan menjadi anggota yang pasif. Ia pun mengembangkan hobi dalam bidang musik dan nyanyi.
Sambil kuliah ia juga belajar hidup sebagai penjual pupuk dan arloji. Kemudian ia juga menjadi tukang pakang sebagai pedagang mobil bekas, ini digunakan untuk mencari modal untuk membuka usaha. Puncaknya dagangnya adalah menjual pakaian yang ia cari langsung ke Eropa. Ia juga pengusaha di bidang perminyakan. Aminuzal adalah penguasa nasional yang berada dalam level internasional.
Dari jalan hidup tokoh-tokoh di atas menunjukan bahwa mereka waktu muda bukanlah orang-orang yang suka santai dan membuang-buang waktu. Mereka suka bekerja keras dan belajar serius. Mereka juga orang yang senang mandiri, suka membantu , bukan dibantu. Sukses bukan jatuh dari langit, namun sukses harus dirintis dengan semangat menjadi pioneer (perintis) dan memiliki semangat kerja keras.
Namun bagaimana suasana sekarang. Bagaimana etos pemuda pemudi sekarang dalam mencari hidup ? laporan Afdal, dkk (dalam Gatra, Januari 2009) mengatakan bahwa semangat berwirausaha dianggap penting untuk mengurangi tingkat pengangguran. Barbagai pihak harus berpartisipasi mewujudkannya. Pemuda Minang, sebagai contoh, sekarang pandangan jiwa wirausaha mereka sudah mulai pudar. Fahira Fami (dalam Gatra, Januari 2009:5) mengatakan bahwa jiwa wirausaha orang Minang sekarang sudah mulai pudar. Darah saudagar yang dulunya mengalir dalam tubuh generasi terdahulu perlahan menghilang. Sementara semangat wirausaha saudara kita dari warga etnis Cina masih sangat kuat sehingga mereka dapat membangun kekuatan bisnis yang luar biasa. Namun, sekali lagi, generasi muda Minang banyak yang enggan berwirausaha dan cenderung berharap untuk menjadi pegawai pemerintah (PNS) dibanding membuka usaha sendiri.
Gamawan Fauzi (http://kalipaksi.multiply.com/journal) mengatakan bahwa dalam survey yang dilakukan pemerintah daerah Sumatera Barat 2006, bahwa warga Sumatera Barat 74 persen berkeinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ini sebuah indikasi yang menurutnya sebagai turunnya nilai-nilai kemandirian dan spirit. Pegawai Negeri baginya bukan pekerjaan yang penuh tantangan. Terutama bagi masyarakat Minang yang punya akar budaya sebagai entrepreneur sejati.
Penyebab memudarnya semangat entreprenursip (berwirausaha) pemuda kita disebabkan oleh kesalahan memberi motivasi, misgiving motivation, oleh guru-guru, orang tua, lingkungan dan pemuda itu sendiri, yang menganggap berwirausaha itu sebagai hal yang sangat susah dan menjadi PNS suatu hal yang enak “motivasi untuk membuat pemuda menjadi prkerja malas, suka hidup santai dan takut bersaing”. Orang-orang atau motivator yang telah menyebabkan hilangnya semangat berwirausaha pemuda tersebut perlu untuk beristigfar dan harus mendorong pemuda untuk bangkit lagi dan belajar dari pengalaman orang-orang sukses atau pengalaman negara-negara yang empat puluh tahun lalu kualitas SDM mereka sama dengan kualitas SDM negara kita, misalnya belajar dari Korea.
Pada tahun 1960, pendapatan perkapita Indonesia sama dengan Korea. Kini pendapatan bangsa ini melompat amat jauh dari negara kita. Sebelum perang dunia kedua, Korea tidak dikenal dalam pentas dunia. Korea hanyalah sebuah negara pertanian yang miskin. Perang saudara juga telah meremukan semua sendi kehidupan warga Korea, sampai terbelah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Miskin dan sengsara menjadi titik nadir ekonomi mereka. Tetapi bangsa Korea Selatan bukanlah negara yang dihuni oleh masyarakat yang banyak perangai- banyak tingkah. Mereka adalah bangsa yang padu dalam memompa tekad dan semangat untuk bangkit menuju victory atau kejayaan. Tidak sekedar slogan tetapi diterapkan dalam nafas kehidupan seari-hari. Bangsa Korea pada umumnya adalah bangsa yang rajin. Mereka setiap hari bekerja keras. Mereka malu pulang terlalu cepat karena tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak berguna.
Aswin Indra (http://aswinindraprastha.wordpress.com) mengatakan bahwa Prof. Young Hun, dari Program Studi of Foreign Studies, Seoul, menulis tentang kesamaan antara tradisi Indonesia dan Korea. Jika orang Korea bisa menjadi bangsa yang maju, mengapa tidak dengan orang Indonesia. Korea dalam kurun waktu relative singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarskat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.
Pemuda kita, pelajar dan mahasiswa, perlu tahu empat karakter orang Korea yang harus dicontoh untuk memacu semangat hidup, yaitu seperti; 1) Sikap rajin bekerja, lebih menghargai bekarja secara tuntas betapapun kecil pekerjaan itu ketimbang berpidato yang muluk-muluk tetapi tidak pernah terlaksana. 2) Sikap hemat yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja. 3) sikap self help yang didefenisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dan rasa percaya diri. 4) Kooperatif atau suka bekerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, mempersatukan individu serta masyarakat.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis, beragama. Untuk maju agama Islam menganjurkan kita untuk selalu belajar. Berikut ungkapan agama Islam yang mengajak untuk belajar; “ tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat. Menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. UNESCO juga mengajak warga dunia untuk long life education, pendidikan seumur hidup. Sekarang artikel ini mengajak pemuda dan pemudi bangsa ini untuk tumbuh bersemangat dan suka bersaing, banyak pengalaman, banyak belajar dan banyak bekerja.

8. Harga Kesehatan Tubuh

Saya termasuk orang yang tidak suka melahap semua acara televisi. Bila acara terasa tidak berguna maka televisi cenderung dimatikan. Namun rasa ingin tahu saya tergelitik saat melihat sekilas acara Kick Andy di Metro TV. “Wah acara apa ini , kok pakai kata kick segala, mungkin acara sepak bola atau acara olah raga yang lain ?”.
Kick Andy bukanlah acara olahraga walau di sana ada kata “kick”, namun ia adalah acara olah rasa atau olah emosi. Acara ini menjadi menarik karena memuat atau melibatkan unsur emosional. Berisi informasi, pengalaman, liku-liku kehidupan manusia yang penuh dengan ketegaran dan pencerahan. Jadi acara tersebut terkesan punya nilai pendidikan dan juga nilai hiburan.
Selanjutnya, bahwa saya bukanlah orang yang cengeng yang mudah menangis, meneteskan air mata, dan saya sendiri sudah lama tidak menangis lagi. Namun saat mengikuti alur cerita dalam acara kick andy, tiba-tiba air mata saya meleleh, dan terasa panah di pipi. Emosi saya terasa diaduk aduk oleh plot-plot dialog oleh presenter dan tokoh tokoh hebat yang langsung terlibat dalam acara “Kick Andy Hero” di awal bulan Maret (2010) tersebut.
Penyerahan anugerah pada seorang tokoh, pemuda buntung total, jalanya seperti merangkak, namun sangat kreatif, inspiratif dan inovatif bagi saya dan banyak penonton. Ia adalah pemuda hebat, walau kedua kaki buntung total ternyata mampu menghidupi banyak karyawan dari usaha yang ia rintis. Begitu pula dengan tokoh lain, juga seorang pemuda, namun buta total, jalanya hampir meraba-raba, mampu menciptakan sound track untuk produk ICT (information communicative technology) dengan menggunakan komputer, bagaimana ia melihat dan menciptakan dengan ketajaman syaraf jari dan ketajaman mata hatinya. Kedua tokoh cacat yang sangat hebat tadi pasti telah menjadi motivator dan inspirator yang luar biasa bagi jutaan penonton metro TV yang memiliki kondisi tubuh yang normal. Kita dan mereka harus malu dengan dua kaki dan dua mata yang mereka miliki bila ternyata tidak berdaya dalam hidup ini.
Acara kick Andy berikutnya, masih dalam bulan Maret ini, adalah tentang transplantasi ginjal atau cangkok ginjal. Betapa amat berharganya sekeping ginjal apalagi dua keping ginjal dalam rongga tubuh kita yang berguna dalam menyangga kelangsungan hidup kita, namun banyak orang (kita) kurang menyadari tentang harkat dan harga sekeping ginjal tersebut bagi kehidupan. Sementara itu betapa orang yang menderita gangguan ginjal mendambakan kesehatan ginjal, berharap agar mampu memperoleh tubuh yang segar bugar (fit and fresh) dan ingin merasakan “betapa indahnya dan nikmatnya kalau bisa kencing (maaf) secara normal lagi”.
Betapa gangguan ginjal telah membuat dunia ini terasa dan terlihat tidak indah dan menarik lagi bagi sang penderita gangguan ginjal. Kemudian betapa mulianya jiwa seorang bapak yang amat rela untuk mendonorkan sekeping ginjalnya untuk kelangsungan hidup anak kandungnya dan ia pun ikhlas atas resiko sebagai pendonor ginjal. Atau betapa tulusnya hati seorang kakak yang telah menyerahkan sekeping ginjalnya pada adiknya, walau akhirnya tidak lama bisa bertahan hidup dan ia pun meninggal dunia (setelah bertahan hidup selama lima tahun). “Sedikitpun aku tidak menyesal, telah menyerahkankan ginjal saya pada adik sya walau akhirnya ia pun meninggal, namun ia kan mampu bertahan hidup selama lima tahun dan sekarang ginjal ku pun ikut pergi bersamanya”.
Kini bagaimana halnya dengan saya dan kita semua. Kita sering kali tergila gila mengejar kepuasan dunia dan kepuasan hidup belaka. Kita hanya puas dan bangga dengan karir yang meningkat, mobil mengkilat dan rumah yang begitu megah. Pergi jalan-jalan keluar negeri yang memberikan kebahagian, sekali lagi, kepuasan yang semu. Betapa mulianya tokoh tadi yang begitu ikhlas menyerahkan sekeping organnya (ginjal) pada orang yang sangat mendambakanya demi menyambung kelangsungan hidupnya. Juga betapa kaya dan bahagianya jiwa tokoh buta dan tokoh buntung yang bisa hidup dengan penuh arti, sekaligus telah menjadi motivator dan inspirator bagi jutaan orang dengan tubuh lengkap untuk mempedayakan diri mereka.
Ada pelajaran tersirat dari tayangan televisi tadi, yaitu bagaimana agar kita bisa berbagi dengan sesame, menyayangi dan mencintai organ tubuh kita. Mengajak banyak orang untuk bisa memelihara tubuh dan oragan tubuh mereka, seperti mata, paru-paru, jantung, rambut, ginjal dan kulit. Betapa banyak orang kurang peduli dalam memelihara dan menyayangi mata. Lihatlah bahwa banyak buruh las karbit di bengkel yang bekerja tanpa menggunakan masker mata.
Atas nama gaya hidup moderen, banyak orang yang tergiur oleh tipuan iklan bahwa yang hebat dan moderen itu adalah kalau seseorang selalu mengkonsumsi rokok, minuman bir/ minuman keras, sampai kepada minuman dan makanan yang kaya dengan zat pewarna dan penyedap rasa (sebagaimana dianjurkan iklan oleh belasan stasiun televisi di Indonesia ini). Kurikulum di berbagai sekolah tidak pernah mengajarkan tentang tekhnik merokok yang hebat. Namun konser dan ivent olah raga yang disponsori oleh industry rokok sangat sukses dalam membujuk dan menciptakan ribuan pelajar untuk menjadi pencandu rokok. Coba lihat sekarang bahwa dimana ada keramaian- konser music atau acara olah raga, maga disana spanduk iklan rokok menyambut mereka dengan semarak. .
Percuma saja pada beberapa tempat mangklnya para remaja dibuat semboyan dan ajakan seindah mungkin “jauhi narkoba dan say no to drug”, kalau pintu untuk mengkunsi rokok dibuka lebar-lebar. Karena merokok itu sendiri adalah pintu untuk memasuki dunia narkoba. Omong kosong kalau tiba-tiba saja seorang siswa bisa menjadi pengguna narkoba. Hampir dipastikan bahwa mereka menyentuh benda haram (narkba) ini setelah terlebih dahulu sukses sebagai perok- pelajar pria atau pelajar wanita. Merokok, apalagi mengkonsumsi narkoba, sungguh membahayakan paru-paru, otak, dan jantung.
Media massa- cetak dan elektronik- sangat efektif dalam membius dan mengobah pola fikir bangsa Indonesia. “wah kamu kuno kalau tidak mencoba fast food ini, wah kamu kampungan kalau tidak mengkonsumsi makanan bermerek ini”. Kini bangsa kita telah menjadi bangsa yang paling gemar menonton dan hampir malas untuk berolah raga. Bagi yang memiliki sarana transport- sepeda motor dan mobil- telah menjadi pemalas untuk bergerak dan berjalan kaki. Yang lain mungkin juga kurang tahu bagaimana kiat hidup segar dan bugar- fit and fresh- itu.
Di suatu tempat ada pemuda yang maniak dalam mengkonsumsi minuman berlabel, cuci muka dengan air mineral, dan selanjutnya untuk minuman saat sarapan pagi, makan siang dan makan malam adalah minuman berlabel (mengandung zat pengawet, penyedap dan pewarna) yang dikemas dalam botol atau kaleng. Setelah mengkonsumsinya dalam rentang waktu agak lama maka ia mengalami gangguan empedu dan ginjal. Gaya hidup dan pola makan dan minum yang salah telah mendatangkan resiko bagi kesehatan tubuh dan jiwa mereka. Badan yang sakit telah membuat dunia ini tidak indah lagi untuk di jalani. “Sayangilah tubuh, lakukan pola makan dan hidup yang sehat dan cintailah organ tubuh mu”. Mungkin demikianlah anjuran dan nasehat orang yang sedang dilanda penyakit serta gangguan organ tubuh terhadap orang lain.
Untuk hidup sehat, kita pemeluk Islam sangat tepat bila mengikuti anjuran dan cara hidup Rasullullah SAW. Dalam sejarah nbi diketahui bahwa Nabi selalu tidur lebih awal, tidak menyukai aktifitas begadang. Dan bangun malam untuk beribadah pada Sang Pencipta langit dan bumi- shalat tahajjud dan inipun dilaksanakan untuk mencapai kesucian dan kebersihan jiwa. Rasullulah, para ahabat dan banyak orang sholeh menghindari (mengharamkan) khamar- minuman keras- menjauhi rokok, melaksanakan puasa sunat dan kalau makan maka berhenti sebelum kenyang.
Banyak minum air putih, mengkonsumsi makanan berserat, kaya vitamin dan protein bisa membuat tubuh sehat. Cukup olah raga, cukup istirahat dan cukup tidur adalah anjuran cara hidup sehat dari dunia kesehatan yang selalu up to date. Bila kita telah melaksanakan pola dan cara hidup sehat yang demikian, namun tiba-tiba kita sakit- mengalami gangguan organ, barangkali inilah yang dikatakan sebagai takdir yang harus kita terima dengan sabar dan tawakal. Namun secara umum bahwa pola hidup yang sehat akan mendatangkan berkah kesehatan bagi kita, merasa bugar dan sehat selalu. Kini lakukanlah pola hidup sehat karena harga kesehatan tubuh itu sangat mahal.

9. Semangat Eksplorasi

Kata lain dari “eksplorasi” adalah menjelajah. Kegiatan eksplorasi tentu saja banyak dilakukan oleh petualang dan pengembara. Kisah –kisah mereka sangat menarik untuk dibaca dan didengar. Dalam pelajaran sejarah dan pelajaran ilmu sosial lain, kita telah mengenal berbagai “eksplorator hebat” melakukan petualangan atau pengembaraan keliling dunia. Vasco Da Gama, Magelhein dan Ferdinan De Lessep menjelajah lautan luas untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang kemudian sangat bermanfaat bagi pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Yang lain seperti Ibnu Batutah menjelajah dan menemui negeri-negeri di benua Asia lewat jalan sutera. Imam Al Gazali juga melakukan penjelajahan, penjelajahan spiritual. Saat senggang ia melakukan perenungan dan menulis hingga melahirkan buku-buku, yang paling terkenal adalah seperti buku “Ihya Ulummiddin, Alcemy of Happiness, Ketajaman Mata Hati”, dan lain-lain. Kemudian Arkeolog Belanda, Dubois, juga melakukan penjelajahan hingga menemukan fossil-fossil manusia purba Indonesia di desa Trinil, Jawa Timur.
Bagaimana kira-kira karakter dan pribadi dari penjelajah ulung seperti “Vasco Da Gamma, Ferdinan De Lessep, Magelhein, Ibnu Batutah, Imam Al Gazali dan Dubois ? Apakah mereka mempunyai karakter yang cengeng, manja, mudah putus asa, suka mengeluh, suka membuang-buang waktu dan suka hidup dengan jalan pintas dengan motto “hidup santai masa depan cerah”?. Tentu saja tidak, karena pasti mereka mempunyai karakter yang positif, seperti suka bekerja keras, mempunyai pendirian yang teguh, percaya diri yang mantap, banyak wawasan dan pergaulan, serta semangat pantang mundur dan berjiwa besar.
Kemudian bagaimana dengan karakter orang tua mereka sendiri ? Mereka pasti mempunyai orang tua yang juga mempunyai peran dan pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi mereka- mengembangkan semangat percaya diri dan berjiwa besar. Karakter penjelajah yang telah menjadikannya sebagai orang hebat adalah karena karakternya yang kontras dengan karakter sebahagian anak-anak muda yang hidup di seputar kita, atau mungkin karakter kita sendiri. Bagaimana karakter tersebut ? Karakter seperti senang memanjakan diri dan menghibur diri.
Misalnya, kita sering malas berjalan kaki. Menempuh jarak setengah kilometer saja untuk pergi ke sekolah, ke kampus dan ke pasar, kita selalu mengandalkan sarana transport umum, seperti ojek. “wah aku letih kalau jalan kaki sendirian…, wah aku malu dilihat orang kalau berjalan sendirian..!” Kalau makan dalam suatu pesta, sebahagian masyarakat kita cenderung memperlihatkan karakter boros, mengambil semua hidangan dan kemudian separoh jalan, berhenti makan dan membiarkan makanan yang dipersiapkan oleh tuan rumah dengan harga mahal terbuang sia-sia, pada hal mereka mengaku sebagai orang Islam dan sangat tahu bahwa “almubazirun ikhwanusy syaitan- sikap hidup mubazir adalah sahabat syeitan”. Lagi lagi mereka merasa malu kalau dalam pesta menghabiskan hidangan yang ada dalam piring.
Karakter negative sebahagian masyarakat kita yang lain adalah merasa takut kalau berbeda dengan kebiasaan orang lain. Misal, risih dan malu kalau membaca di tempat umum, malu kalau disebut sebagai orang yang sok rajin- pokoknya malu kalau tampil berbeda dari yang lain. Karakter malu yang begini adalah sebagai karakter yang salah tempat. Yaitu rasa malu yang menghalangi diri untuk maju.
Kemudian , karakter-karakter negative lain yang juga berkembang dalam masyarakat kita adalah seperti karakter terlalu betah banyak menonton hingga menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan layar kaca untuk menonton sinetron, iklan sampai kepada hiburan musik. Juga karakter yang mudah puas menjadi konsumen dan karakter terlalu suka membalut diri dengan penuh kepalsuan. Sebagian orang suka pamer kemewahan lewat property yang disewa atau dipinjam dari orang lain “hidup susah tetapi penampilan seperti toko mas berjalan”..
Diperkirakan bahwa karakter negative yang berkembang dalam masyarakat kita bisa jadi tumbuh sebagai dampak dari cara mendidik orang tua kita. Misalnya akibat dari kebiasaan orang tua yang miskin dengan nilai pendidikan. Tidak mengkondisikan anak untuk banyak melakukan hal-hal positif- pengalaman berkarya dan berorganisasi/ bersosial di rumah hingga akibatnya anak miskin dengan life skill. Begitu pula dengan pola mendidik orang tua yang tidak menumbuhkan budaya berdialog atau berkomunikasi di rumah. Dimana orang tua cuma pintar menyuruh dan memerintah sang anak semata. Karakter orang tua yang lain adalah sikap masa bodoh- laizzes faire- atas perkembangan kognitif, sikap dan keterampilan anak-anak mereka, dan tidak mewariskan semangat gemar bekerja keras dan sabar dalam menghadapi lika-liku kehidupan ini.
Suatu ketika dalam tahun 1990-an, penulis berkenalan dengan teman-teman dari Perancis (Francoise Brouquisse, Louis Deharven, dan Anne Bedos). Buat apa mereka susah payah, berjalan jauh, menghabiskan waktu dan dana yang banyak ?. Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan eksplorasi sambil holiday untuk tujuan sains dan ilmu pengetahuan. Untuk melakukan perjalanan jauh dari Perancis menuju pedalaman Sumatera (Sijunjung, Lintau dan Halaban) mereka melengkapi diri dengan peta topografi yang diperoleh dari museum Belanda tentang Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia- mereka juga mengenal dasar-dasar bahasa Cina dan bahasa negara lain yang berguna saat mengunjungi negara-negara tersebut. Juga mempersiapkan diri dalam bentuk menjaga kesehatan badan dan keuangan yang cukup.
Di sela-sela waktu istirahat mereka melakukan dialog, membaca dan menulis tentang informasi dan pengalaman yang mereka peroleh dalam perjalanan. Waktu mereka sangat teragenda- terjadwal. Walau berasal dari negara moderen dan dari pusat fashion di dunia, Perancis, namun mereka tampil sangat sederhana dan sangat alami. Cara makan sangat Islami (walau mereka bukan beragama Islam)- makan tidak mubazir (menyisakan makanan). Mereka menyukai kulit orang Indonesia sementara sebagian orang Indonesia merasa minder dengan warna kulit sendiri dan sengaja mekai whitening untuk memutihkan kulit “pour quoi les gens ici aimerent a blanchir leur peau ?- mengapa orang orang disini suka memutihkan kulit ?”
Tentu saja juga banyak orang-orang Indonesia yang memiliki pribadi kuat dan semangat eksplorasi yang tinggi dalam berbagai bidang kehidupan- seni, ekonomi, social, budaya, dan agama. Kisah kisah sukses eksplorasi mereka- para tokoh- tentu dapat kita baca lewat autobiografi mereka atau cerita dari mulut ke mulut. Lantas bagaimana implikasi eksplorasi terhadap pendidikan ? Eksplorasi membuat seseorang lebih cerdas, berwawasan luas dan bermental tangguh. Ekslorasi tidak harus dengan melakukan perjalanan jauh, melintasi bukit dan gunung, menyeberangi lembah dan lautan.
Bayi kecil yang merangkak dan mencari sesuatu tanpa henti-hentinya adalah juga sedang melakukan eksplorasi. Seorang siswa Sekolah Dasar yang asyik membaca kisah pertualangan tak pernah merasa terusik oleh kehadiran orang sekitar juga sedang melakukan tamasya jiwa. Seorang remaja yang duduk dan menuliskan buah fikiran dan pengalaman berarti mencurahkan pengalaman eksplorasinya. Ibu rumah tangga senang menawar harga di berbagai toko juga berarti sedang melakukan eksplorasi harga, agar tidak terjebak dalam permainan harga oleh pemilik toko. Begitu pula dengan seorang calon sarjana (magister dan doctoral) yang bergerak dari satu pustaka ke pustaka yang lain dan mengunjungi berbagai lokasi juga melakukan eksplorasi atau melakukan pencarian. Bangun di tengah malam- bertahajut dan bertanya jawab dalam hati tentang bagaimana seorang hamba menjalani waktu dan mengadukannya pada Ilahi berarti sedang melakukan eksplorasi spiritual.
Pendidikan kita mungkin miskin dengan semangat eksplorasi. Di beberapa sekolah Dasar ada kalanya para siswa seolah-olah di sekap dari pagi hingga siang dan disuguhi hafalan- hafalan, tugas-tugas dan larangan-larangan (mengebiri rasa ingin tahu anak) tanpa mengoptimalkan pengenalan dunia buku. Coba lihat begitu banyak Sekolah Perpustakaan tanpa Perpustakaan dan sebahagian mereka menganggap membaca sebagai sesuatu yang membosankan. Di bangku SMP. SMA, MA dan SMK banyak siswa yang terbelenggu dengan latihan-latihan dan PR-PR, mengolah soal-soal ujian agar nilai UN (Ujian Nasional) tinggi, tanpa diperkenalkan tentang pengalaman hidup- bagaimana cara berdagang, bertani, belayar, beternak, memasak makanan, menjadi pemimpin dalam masyarakat sehingga membuat mereka miskin dalam life skill (keterampilan nilai hidup).
Kemudian saat studi di universitas para dosen cuma menyuguhi dengan ratusan teori, tugas-tugas akademik dan hafalan. Malah banyak gaya belajar mahasiswa ibarat siswa Sekolah dasar dan pelajar yang cuma tahu mencatat dan menghafal. Hingga mereka mencadi penghafal ulung namun miskin pengalaman langsung. Begitu tamat dari perguruan tinggi telah menjadikan mereka sebagai pemimpi ulung yang cuma pintar menunggu seleksi masuk PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau menjadi pegawai rendahan di kantor swasta dan BUMN lain.
Idealnya pendidikan kita tidak harus menghafal, menyelesakan soal soal ujian dan mengharapkan selembar ijazah atau sertifikat buat mencari kerja. Namun fenoma adalah banyak orang belajar dan kuliah cuma mengharapkan selembar ijazah. Banyak orang saat kuliah rajin ke perpustakaan, rajin baca buku, pergi kuliah dengan tas yang penuh berisi buku-buku. Namun begitu wisuda dan selesai kuliah maka semua buku disingkirkan dan memilih kesibukan dalam mencari gaya hidup yang lain- fashion, otomotif walau pun otomotif seken. Sehingga banyak yang mengaku sudah sarjana kembali menjadi melek huruf, melek ilmu pengetahuan dan gagap teknologi (gatek). Pembodohan diri dan kristalisasi (membekunya) ilmu pengetahuan bisa menjadi pemandangan.
Para pendidik (guru dan dosen) punya posisi penting untuk mendorong semangat eksplorasi anak didik mereka. Tentu saja para pendidik harus lebih cerdas-memiliki kepintaran berganda- lebih dahulu. Mereka harus melowongkan waktu di luar jam tatap muka untuk melakukan dialog yang berkualitas, mempunyai wawasan yang luas dan menerapkan metode belajar learning by doing, students centered, metode inkuiri, metode debat dan metode diskusi. Bukan metode ceramah melulu, menyuguhi materi hafalan dan menjawab soal soal UN melulu. Pendidik sangat patut menjadi model (berbuat untuk cerdas terlebih dahulu) dan menjadi fasilitator dan motivator.
Orang tua harus pula cerdas karena mereka punya peran dalam mendidik anak- bukan orang tua ideal kalau cuma terlalu menyerahkan pendidikan anak pada sekolah. Orang tua punya peran strategis dalam mendidik anak dalam memanfaatkan waktu. Anak harus pintar belanjar dan pintar mengurus sendiri. Anak punya waktu untuk belajar dan menikmati hiburan dan ikut melakukan aktivitas social di rumah dan di lingkungan agar tidak kuper (kurang pergaulan) dan miskin pengalaman dan wawasan.
Bagi mahasiswa, IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi tidak punya arti kalau sikap mental tidak mendukung (susah berkomunikasi, takut mengambil resiko, takut mencoba) karena miskin eksplorasi (hingga miskin dengan pengalaman) maka ijazah sarjana yang diperoleh sangat bagus untuk di pajang saja di dinding rumah.
Semangat eksplorasi untuk hal- hal yang positif sangat perlu dipertahankan. Eksplorasi telah membuat orang kaya dengan pengalaman langsung. Eksplorasi dapat dilakukan lewat menjelajah alam, kota, menjelajah berbagai tempat- mengenal dan berhubungan dengan orang baru, tempat baru dan suasana baru. Orang orang yang gemar melakukan eksplorasi akan memiliki mental yang kuat dan pengalaman yang banyak. Pendidikan juga membutuhkan eksplorasi untuk membuat kualitas pendidikan yang dimiliki seseorang juga meningkat.











10. Menumbuhkan Karakter Ceria

Semua orang tua berharap bisa memperoleh anak yang cerdas. Sejak anak berusia dini mereka ikhlas berkorban secara moril dan materi untuk mendidik mereka. Dalam hal ini orng tua terlihat begitu ringan untuk mengeluarkan dana untuk pendidikan dan memilihkan tempat belajar yang berkualitas. Juga membelikan fasilitas permainan dan pendidikan buat mereka. Kadang kala mempunyai anak yang cerdas namun karakternya menyebalkan- suka berbicara kasar dan kurang sopan- telah membuat orang tua menjadi stress dan mengurut dada sepanjang hari. Maka orang tua berharap sangat “Bagaimana ya supaya aku punya anak yang cerdas dan pribadi yang hangat” , seperti kata orang Minang, mulut manis kucindan murah (anak yang berbudi dan berbahasa yang santun).
Apa mungkin kita bisa memperoleh dan mendidik anak yang cerdas dengan pribadi hangat seperti membalik telapak tangan ? Tentu saja tidak dan orang tua, dengan dukungan lingkungan, perlu berusaha memberi model terlebih dhulu. Adalah isapan jempol untuk memperoleh anak yang lembut dalam berbicara sementara ayah dan ibu membuadayak cara berbahasa yang keras, kaku dan ksar. Dalam mendidik dan membimbing anak orang tua modern selalu mencari rujukan pada buku dan literatur lain. Imam Suprayoga (dalam Karim, 1982:128) mengatakan ada 3 teori tentang mendidik anak yaitu: teori pendidikan tabularasa, teori nativis dan teori konvergensi (gabungan dari dua teori sebelumnya).
Dalam teori tabularasa dinyatakan bahwa setiap anak terlahir seperti kertas putih, orang tua dan lingkunganlah yang akan menentukan warna atau karakter pada mereka. Dalam teori nativist dinyatakan bahwa setiap anak lahir membawa bakat dan potensi masing-masing. Kemudian dalam teori konvergensi dinyatakan bahwa setiap anak terlahir membawa bakat dan potensinya masing-masing, sedangkan orang tua dan lingkungan turut mempengaruhinya.
Jika semua anak ketika lahir hanya pandai menangis, namun setelah beberapa tahun kemudian karakter mereka terlihat berbeda satu sama lain terlihat jelas. Perbedaan mereka terjadi karena perbedaan pada fisik, pengetahuan, pengalaman dan inteligensi atau IQ. Untuk hal ini teori konvergensi lebih mendukung pernyataan ini. Agar orang tua bisa sebagai pendamping dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, maka mereka seharusnya memiliki pengetahuan tentang pendidikan anak. Untuk bisa mengoperasikan mesin cuci saja juga dibutuhkan pengetahuan. Orang tua misalnya bisa membaca berbagai artikel dan literature. Adams (1988) menulis buku tentang “ your child can be a genius and happy, a practical guide for parents”. Buku tersebut cukup praktis untuk dipahami dan pokok pembahasannya adalah seputar peran orang tua sebagai guru pertama dalam hidup anak, bagaimana mengkondisikan anak untuk melakukan eksplorasi atau penjelajahan edukatif , dan bagaimana membantu anak untuk mengenal pendidikan sejak usia dini.
1) Orang tua Sebagai Guru Pertama Dalam Hidup
“Siapakah guru pertama kamu dalam hidup, yang mengajar kamu dalam bersopan santun, yang mengajarkan kamu cara berkomunikasi, dan yang mengajarkan kamu bagaimana cara hidup sehat ?” Maka semua anak akan menjawab serentak “ayaaaah dan ibuuu !!” Tentu saja para orang tua. Memang benar bahwa itulah bahagian dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan merawat pertumbuhan anak.
Orang tua sebagai pendidik anak idealnya harus merencanakan dan menyusun kegiatan anak di siang hari untuk bermain, sejak mereka berusia bayi kapan perlu hingga mereka berusia remaja. Tentu saja mereka perlu menyediakan sarana untuk berbagai aktivitas dalam rangka mengembangkan intelegensi mereka. Apakah musti sarana yang serba mahal dan serba elektronik dan serba digital ? Tentu saja tidak, karena tidak semua orang tua yang memiliki uang yang berlebih. Maka benda-benda sederhana seperti balok-balok, majalah bekas, crayon, peralatan yang ada di rumah juga bisa memberi nilai edukatif bagi anak.
Untuk menumbuhkan anak cerdas, maka mereka tidak hanya butuh benda dan permainan, namun juga membutuh orang lain. Ini berarti bahwa mereka harus mempunyai teman yang banyak. Teman ereka tidak musti semua anak-anak yang cerdas. Dari sana kelak mereka bisa kenal dengan watak dan kualitas teman. “Si Jeki jadi bodoh karena suka buang-buang waktu dan menunda ninda pekerjaan”. Keadaan teman yang lain adalah ada yang bodoh, pintar, pemalas, sportif, dan lain-lain.
Agaknya orang tua juga perlu mengenal teknik pengajaran di rumah, mungkin dalam bentuk menceramahi anak, memberi contoh, menyuruh, mendikte dan sebagainya. Namun cara mendidik ang lebih baik adalah dengan membiarkan anak untuk berbuat dan mencobanya langsung. Sejak usia 0-5 tahun, anak memang paling baik belajar lewat bermain dan menggunakan objek. Mengapa demikian ? Ya karena mereka butuh pengalaman nyata.
Waktu adalah faktor pertama dalam pendidikan. Disini bukan bearti yang dibutuhkan adalah waktu yang lama. Apa gunanya bermain dan belajar begitu lama kalau anak merasa bosan. Bagi orang tua yang punya karir padat, lebih baik melowongkan sedikit waktu untuk mlakukan kebersamaan yang menyenangkan bersama anak lewat bermain, bercakap, dan belajar bareng. Waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak untuk mengobrol akan menguatkan ikatan antara orang tua dan anak.
Sebagaimana dikatakan bahwa orang tua adalah guru pertama anak, musti menjadi guru yang terhebat bagi mereka. Orang tua yang punya prinsip masa bodoh, akan berpotensi menghancurkan masa depan anaknya sendiri. Orang tua adalah juga psikolog terbaik bagi anak, karena dialah orang yang selalu mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak. Mereka akan melihat bakat dan minat anak sejak usia dini. Sebahagian anak, misalnya, memperlihatkan bakat khusus pada musik dan seni saat usia dini. Namun bakat matematika dan bahasa bisaanya terlihat agak terlambat. Albert Einstein, sebagai contoh, yang dianggap sebagai anak bodoh karena perkembangannya terlambat saat di sekolah.
Orang tua bisaanya menemukan karakter khusus anak melalui observasi harian. Kadang-kadang juga menemui hal hal yang cukup kontra dan serba aneh. Juga, kadang kala anak yang punya bakat/ cerdas melakukan pekerjaanya tidak rapi dan tidak tertarik terhadap pekerjaan yang berulang-ulang. Selanjutnya bahwa sekolah tidak dapat diharapkan begitu banyak dalam menyediakan fasilitas buat anak berbakat. Orang tua sendirilah yang musti menyediakan buku dan perlengkapan khusus mereka.
2) Melakukan Eksplorasi Bersama Anak
Kata lain dari eksplorasi adalah “penjelajahan”. Eksplorasi adalah kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan manusia. Melalui eksplorasi Columbus menemui benua Amerika, melalui eksplorasi Neil Amstrong mendaratkan kaki di bulan. Kegiatan intelektual dan usaha kreatif yang dilakukan oleh tokoh sejarah adalah melalui eksplorasi. Sebelum mendirikan restoran atau rumah makan Padang, sebagai contoh, orang Minang terlebih dahulu melakukan eksplorasi- melakukan penjelajahan, menilai dan melakukan perenungan. Sampai akhirnya diperoleh kata sepakat “Uda di dekat terminal ini sangat cocok kita bangun restoran Padang”. Al-Gazalli juga melakukan eksplorasi, dalam bentuk penjelajahan dan kontemplasi jiwa, hingga menghasilkan tulisan yang berjudul “Ihya u’lumiddin” yang berarti menghidupkan ilmu agama.
Untuk membuat anak menjadi cemerlang maka mereka perlu melakukan eksplorasi, dalam bentuk kegiatan bermain, penjelajahan dan aktifitas kecil-kecilan. Tentu saja orang tua tidak perlu memaksakan sesuatu aktifitas pada anak kalau akan membuatnya bosan. Anak-anak yang asyik tenggelam dengan aktifitasnya dalam sebuah mobil rongsokan, anak yang lagi asyik memanjat pohon kecil (pohon cherry), menangkap capung dan belalang atau memilih-milih kerikil yang aneh di pinggir sungai adalah beberapa contoh bentuk eksplorasi yang lazim mereka lakukan.
Eksplorasi anak-anak yang berusia lebih kecil bisaanya dilakukan di rumah. Aktifitas eksplorasi mereka disebut denga “exploring play” atau bermain eksplorasi. Exploring play dilakukan dengan air, pasir basah dan plasticine. Tentu saja mereka kadang-kadang perlu ditemani demi kenyamanan. Bisaanya selama exploring play anak-anak bertanya tidak henti-hentinya. “Wah menyebalkan ini anak, bicara dan bertanya melulu” gerutu orang tua. Namun demi pertumbuhan bahasa dan kecerdasan mental atau kognitif mereka, maka orang tua musti menjauhkan rasa bosan atas pertanyaan demi pertanyaan sang anak.
Permainan menjelajah sangat penting bagi anak dalam rangka mengembangkan majinasi mereka. Anak-anak yang berada di daerah pedesaan dan di daerah yang lebih luas untuk akses ke luar rumah lebih beruntung dalam melakukan eksplorasi yang bersifat alami: menangkap burung pipit yang memangsa padi di sawah, menangkap belut dan ikat dalam aliran air dan sampai kepada aktifitas membongkar pasang alat permainan.
Sejak menjamurnya kemajuan teknologi digital maka banyak anak yng menyenangi eksplorasi digital dalam dunia maya lewat game PS (play station) dan game lain yang berbasis teknologi komputer. Gara-gara orang tua kurang mencampuri pembagian waktu mereka, maka banyak anak yang menjadi pencandu digital-game, dimana mereka menjadi game maniak- kerajingan berada pada Play Station, di depan layar komputer atau dalam boks warnet (warung internet) selama berjam-jam sampai melupakan tanggug jawab belajar, beribadah dan membantu pekerjaan di rumah. Kepedulian orang tua untuk mengajak anak untuk melakukan aktifitas yng berimbang antara bermain, belajar dan membantu orang tua sungguh sangat diperlukan.
Disamping mendorong anak untuk melakukan eksplorasi, orang tua juga perlu menumbuhkan kemampuan berkomunikasi mereka. Dalam hal ini orang tua lebih baik memulainya dengan mengajak anak untuk ngobrol (berbicara) sejak usia bayi tentang aktifitas yang dijalankan , agar kemampuan berbicaranya juga meningkat terus. Selanjutnya orang tua juga bisa memperkenalkan alat-alat tulis seperti pensil, pena, crayon dan majalah majalah tua buat balita mereka. Kegiatan ini sangat baik diikuti oleh orang tua yang lain, karena dasar untuk belajar menulis dan membaca dalam usia dini memang terletak di rumah. Oleh sebab itu rumah, orang tua, musti meyediakan sarana belajar, bermain dan hiburan seperti lagu-lagu, irama, koleksi buku cerita serta buku-buku jenis lainnya.
3) Memperkenalkan Pendidikan Sedini Mungkin
Anak yang mengenal dunia sekolah lebih awal, mental belajarnya lebih siap dari pada anak yang belum mengenal sekolah sama sekali. Pendidikan paling rendah seperti TK dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah bentuk pengenalan terhadap dunia pendidikan (pra sekolah) sebelum mengenal dunia pendidikan yang sebenarnya kelak. Pendidikan pra-sekolah, juga, merupakan tempat dimana mereka bisa belajar untuk bersosial dengan anak-anak seusianya. Mereka juga perlu belajar bagaimana berada jauh dari rumah dan bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang lain.
Anak anak yang belajar pada TK juga sudah punya kurikulum dalam kegiatan belajar membaca- mengenal huruf dan kata, yang mana kegiatan ini bisa jadi sebagai “pre-reaing activity” untuk masa-masa selanjutnya. Praktek yang terbaik (best practice) untuk membaca bagi mereka adalah melalui aktivitas membaca itu sendiri. Disamping kegiatan membaca yang dipandu oleh guru TK di sekolah, orang tua juga perlu memberi penguatan atas kemampuan “pre-reading activity anak”. Memberiikan pujian atau reward bila anak sudah menunjukan kemajukan atau reward juga berguna untuk mendorong minat dan motivasi belajar mereka. Orang tua perlu membuat session membaca bagi anak, namun tidak perlu terlalu lama, cukup hanya sekitar 20 menit, kecuali kalau sang anak menyukainya.
Sejak anak berusia 5 atau 6 tahun sampai mereka berusia remaja, mereka menyukai cerita humor. Maka sangat bijak bila orang tua juga menyediakan cerita humor dan komik yang lucu buat mereka. Namun apa yang musti dilakukan untuk mendukung kegiatan “reading society”- masyarakat yang gemar membaca yang dimulai dari tingkat keluarga ? Pada berbagai rumah tangga, yang banyak disediakan orang tua adalah “home theatre” kecil-kecilan untukmenghibur anak/ keluarga sepanjang hari. Kalau mengkonsumsi hiburan yang ber nilai pendidikan, itu tentu saja cukup bagus, asal tidak menyita waktu anak sampai berjam-jam, apalagi sampai membuat mereka malas dan lalai untuk melakukan aktifitas lain.
Ternyata kunci rahasia keberhasilan sebahagian keluarga dalam bidang akademis adalah karena mereka sangat peduli dengan kegiatan akademis itu sendiri exist dalam keluarga. Di rumah terdapat koleksi bahan bacaan, komik, buku cerita, buku agama, novel, buku-buku pencerahan diri dan sampai kepada majalah dan koran yang mereka konsumsi secara teratur. Kalau pun ada unsur hiburan seperti VCD Player, karaoke, tape recorder, dan TV dengan antene satellite, namun penggunaan ini mereka atur agar keluarga tidak menjadi penonton yang maniac. Mereka mengenal waktu bermain, belajar, beribadah, waktu untuk kebersamaan , dan sebagainya.
Keluarga yang sudah peduli dengan arti pendidikan juga mendukung aktifitas anak untuk kegiatan di luar rumah. Aktivitas- aktivitas di luar rumah yang dapat meningkatkan pengalaman serta wawasan anak adalah seperti: menanam biji, merebus air, membuat layang-layang, mencari dan mengamati serangga, bermain magnet, memasak, melakukan perjalanan, dan main gelembung sabun (main air), dan lain lain. Kegiatan seperti ini tentu tidak butuh biaya besar.
Mendambakan anak-anak cerdas, santun, sholeh dan memiliki pribadi yang hangat tentu saja adalah harapan semua keluarga. Namun anak anak yang demikian tidak langsung ada ketika terlahir ke dunia. Mereka tumbuh lewat proses lewat bimbingan, arahan, diberi pengalaman, kesempatan dan fasilitas, tentu saja semampu orangtua. Hal lain yang perlu dilakukan orang tua adalah seperti orang tua menyiapkan dirinya terlebih dahulu sebagai pendidik anak terbaik di rumah, mengajak dan mendorong anak untuk melakukan ekplorasi edukatif dan memperkenalkan pendidikan sejak sedini mungkin. (Marjohan, M.Pd juga penulis buku “School Healing Menyembuhkan Problem Sekolah”).








11. Merajut Pendidikan Berkualitas

Kosa kata “Gap” yang berarti celah atau ketimpangan telah menjadi gangguan hubungan antar individu. Contohnya ada kata gap-communication atau gap- social , kita mengenalnya sebagai ketimpangan hubungan antara golongan yang kaya dengan golongan yang miskin, yang terdidik dan yang tidak terdidik. Kemudian ketimpangan antara orang yang berada di kota dengan orang yang berada di pedesaan.
Ketimpangan atau gap untuk pendidikan di negeri ini adalah dalam bentuk hubungan antara out put sekolah dengan kualifikasi tenaga kerja. Kualitas pendidikan di desa dengan yang di kota, kualitas pendidikan penduduk kaya dengan kualitas penduduk miskin, serta kualitas pendidikan di pulau Jawa dengan kualitas pendidikan di luar Jawa. Gap social tidak perlu kita lestarikan namun harus dicari solusinya.
Banyak orang sependapat bahwa pendidikan bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi ketimpangan yang ada diantara kita. Dewasa ini banyak masyarakat yang telah menyadari akan pentingnya arti membangun diri dan melengkapi diri dengan pendidikan. Dengan cara demikian maka pendidikan bisa menjadi engine of growth- sebagai penggerak dan lokomotif bagi pembangunan diri dan pembangunan bangsa ini.
Idealnya pendidikan yang kita peroleh harus mampu untuk mendorong semangat invention (penemuah hal-hal baru) dan semangat innovasi (melakukan perubahan yang positif). Namun pendidikan yang bagaimana ? Tentu saja pendidikan yang memberikan kreatifitas, kebebasan dan rasa aman dengan menyediakan banyak sarana/ fasilitas- melakukan identifikasi dan eksplorasi atau penjelajahan terhadap peserta didik (siswa-siswi).
Paradigm pendidikan sekarang ini musti memberi penekanan pada proses learning (belajar) daripada teaching (mengajar) dan murid yang mandiri dalam belajar. Pendidikan yang berfokus pada learning (belajar) tentu bisa membuat anak didik lebih kreatif, apalagi bila mereka dikondisikan untuk melakukan eksplorasi yang banyak. Sementara peran guru sebagai fasilitator musti mampu memberi rasa aman dan kebebasan- tanpa banyak mendikte, mencela dan terlalu mengontrol mereka.
Karena dinamika pendidikan maka sekarang telah ada sekolah yang memberikan pelayanan berkualitas dalam mendidik: memberikan rasa aman dan kebebasan bagi anak didik mereka. Praktek ini tentu saja memuat murid semakin kreatif dan senang melakukan educational exploration. Namun bagi sebahagian sekolah yang lain adakalanya hal ini belum terwujud. Dari pengalaman di lapangan coba lihat tentang prilaku dan tujuan belajar sebahagian siswa-siswinya. Adalah fenomena bahwa banyak mereka yang tujuannya bersekolah adalah untuk memperoleh ijazah, sehingga proses belajar cenderung mereka abaikan karena ijazah lebih penting daripada learning. Ini bearti kerusakan mental bagi mereka. Untuk mencegah banyaknya anak didik yang bermental demikian, belajar hanya demi berharap selembar ijazah, maka diperlukan peran guru, peran sekolah dan peran rumah yang solid. Ini berarti bahwa guru musti berkualitas, kemudian sekolah dan rumah punya kultur dalam mendidik.
Anak yang bagus prestasi belajarnya adalah anak yang berasal dari rumah yang memelihara kultur belajar, maka sebagai konsekuensinya bahwa orang tua perlu membimbing anak. Mereka harus punya kegiatan yang terstruktur di rumah- anak tahu kapan waktu untuk belajar, bermain, dan membantu orang tua. Kemudian mereka suka berdiskusi dengan orang tua, atau orang tua mengajak mereka berdiskusi. Orang tua juga harus punya informasi tentang belajar anak di sekolah, mengetahui bagaimana plus dan minus belajar anak. Anak yang tidak terlatih dan terbimbing seperti kondisi hal di atas tentu akan gagal. Kegagalan juga bisa disebabkan oleh waktu atau kegiatan yang tidak terstrukur, tidak ada dialog tentang pendidikan di rumah atau orang tua yang masa bodoh tentang belajar anak.
Seberapa pentingkah kultur edukasi di sekolah ? Untuk memajukan pendidikan maka diperlukan peran guru yang punya kemampuan pada mastery learning, critical thinking, decision making dan communication. Kemudian juga diperlukan guru yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menghadapi perubahan kurikulum. Untuk menjadi guru yang cerdas dengan mastery learning, maka kita perlu pembisaaaan otodidak- membisaakan diri dengan konsep long life education. Untuk menjadi kritis maka guru perlu berkomunikasi dan membuka diri.
Kadangkala sekolah bisa ibarat sebuah department store (took serba ada) yang menyuguhkan barang dagangannya dalam bentuk variasi mata pelajaran- matematika, KWN, olah raga, agama, bahasa, dan lain-lain. Semua mata pelajaran tersebut dapat dikelompokan kedalam mata peajaran numerasi dan mata pelajaran literasi. Numerasi berarti mata pelajaran yang berkaitan dengan angka-angka , sementara literasi adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan literatur atau bahasa. Memang bahwa pendidikan lama berfokus pada kemampuan verbal (bahasa) dan logika (matematik). Namun sekarang, teori pendidikan yang baru, yang fokusnya adalah untuk peengembangkan kemampuan berganda dalam mendidikan anak- multiplied ability dengan penekanan pada pemahaman space, kinestetik, music, intrapersonal, interpersonal, alam, logika dan verbal.
Adalah lazim kalau dahulu orang tua menuntut agar jago dengan pelajaran berhitung (matematika) dan menganggap anak sebagai siswa pemalas kalau ternyata lebih suka dengan bola dan kegiatan olah raga. Padahal lewat kegiatan olah raga tersebut sang anak bisa menjadi olahragawan handal, seperti Diego Maradona, Ronaldo, dan lain-lain. Atau sang orang tua mencela anak yang kerjanya menyanyi melulu dan memaksanya untuk mengikuti kursus bahasa Inngris, pada hal kemampuan menyanyi itu bisa mengantarkan anak menjadi presenter dan entertainer yang jitu. Maka untunglah bahwa sekarang pendidikan berpihak pada pengembangan kepintaran berganda anak didik.
Selanjutnya bahwa untuk implikasi pendidikan jangka panjang maka kita perlo mendorong anak untuk mengembangkan basic skil, thinking skill dan personal skill. Basic skill meliputi kemampuan berhitung, berbicara, menulis, mendengar dan kemampuan membaca yang tinggi -counting, speaking, writing, listening, dan reading yang tinggi. Sebagai interprestasi bahwa betapa penting bagi setiap orang tua sejak dini mengajak anak agar bermain-main dengan angka, (Upik …kalau di rumah ini ada lima orang, maka berapa jumlah tangan…?), kemudian juga membudayakan acara kebersamaan untuk membaca dan melakukan bincang-bincang keluarga. Demikian pula halnya bagi sekolah agar bisa menyusun agenda ekskul (ekstra-kurikuler), mungkin merancang kegiatan lomba cerdas cermat, lomba debat dan pidato, serta mengaktifkan koran sekolah dan perpustakaan sekolah.
Untuk thinking skill meliputi kreatifitas, problem solving (Pemecahan masalah), dan visualizing (Kemampuan memandang masalah), kemudian personal skill meliputi self management atau mengendalikan diri, tanggung jawab, jujur dan socialibility. Implikasinya adalah bahwa guru dan orang tua harus menghargai bentuk fikiran anak. Mereka harus mendengar ekspressi anak sejak usia dini. Tidak tepat lagi dalam acara kebersamaan ayah dan ibu menganggap anak selalu sebagai anak bawang- kehadiran mereka hanya sebagai pelengkap, suara mereka tidak begitu digubris. Juga sangat tepat bila orang tua dan guru menghargai sosial anak, menghargai nilai pergaulan dan kebersamaan mereka. Disini sangat diharapkan pengembangan emosi- emosional quotient atau kecerdasan bergaul anak.
Tentu saja orang tua dan guru mempunyai peran strategis dalam mengembangkan emosi siswa mereka. Dari gaya kepemimpinan, maka kepemimpinan demokrasi adalah sangat pas dan berkontribusi dalam meningkatkan kehangatan emosi anak. Cara lain untuk meningkatkan EQ (emotional quotient) anak adalah dengan mengkondisikan mereka banyak bergaul. Tentunya pergaulan yang terkontrol (bukan hura-hura dan kongkow-kongkow melulu) dan melakukan aktifitas sosial. Kemudian anak juga perlu melakukan kegiatan dalam bidang olah raga dan kesenian agar bersikap lincah dan energik.
Menjadi siswa yang hebat dalam pandangan pendidikan pada zaman sekarang bukan berarti seorang siswa harus membenamkan kepalanya dalam buku melulu, menghafal rumus-rumus, kalimat per kalimat tanpa melupakan titik dan komanya. Mengajar tidak lagi berarti meringkaskan buku buat anak didik dan mendiktekanya bila sang guru letih dalam mencatatkanya. Selanjutnya dalam proses pembelajaran siswa tidak tepat lagi kalau menjadi penonton dan pendengar melulu.
Namun disinyalir dalam praktek pendidikan masih banyak gaya mengajar si pendidik yang bersifat “CMGA” atau cara mengajar guru aktif dengan gaya murid yang “DDCH” atau duduk, diam, catat dan hafal (Zamroni, 2000:31-32). Seharusnya siswa musti diusahakan dan dikondisikan agar menjadi aktif, karena mereka adalah sebagai pelaku dan pemain dalam pendidikan. Guru sebagai fasilitator dan bukan berarti sebagai sumber ilmu lagi. Sekolah harus sebagai tempat yang menyenangkan dan bukan sebagai tempat yang membosankan. Guru juga musti aktif dan memberikan model dalam kultur edukasi sekolah, anak didik diusahakan berani untuk berbicara- menyampakan gagasan. Motivasi belajar di sekolah tidak tepat lagi sekedar untuk ujian saja, namun musti berfokus pada proses learning.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencerca dan menjelekan pendidikan negeri sendiri, namun adalah sebagai otokritik. Bahwa sampai detik ini kondisi pendidikan kita apakah di tingkat SLTP, SLTA maupun di tingkat perguruan tinggi masih banyak yang bersifat one way direction, sang dosen paling getol dengan system ceramah. Guru-guru di tingkat SLTP dan SLTA dituntut untuk menggunakan berbagai metode pembelajaran. Sementara mereka (para dosen) terkesan bebas dari tuntutan dan bersikap arogan dalam menerapkan model pembelajaran (perkuliahan)yang bercirikan student-centered. Mereka member kuliah sesuka mereka tanpa ada yang melakukan supervisi. Pendekatan ini di tingkat SD, SLTP dan SLTA tak dapat merangsang murid untuk belajar keras sehingga daya serap jadi rendah.
Dalam praktek edukasi masih ada yang musti diobah, missal tentang gaya pelayanan. Coba lihat gaya kepemimpinan di sekolah, masih ada kepemimpinan kepala sekolah dengan gaya komando, guru yang terlalu dominan dan siswa yang kurang aktif. Fokus sekolah selalu nilai/ NEM dan sedikit agak mengabaikan aspek proses. Maka ini harus diubah menjadi gaya kepala sekolah dengan managemen berbasis sekolah, menghargai kreatifitas guru tidak perlu lagi dominan, karena mereka bukanlah sumber belajar, kecuali hanya sebagai fasilitator dan motivator. Eksistensi NEM dan nilai tidak perlu dibesar-besarkan kalau itu hanya bersifat instan dan rekayasa. Proses pembelajaran atau learning musti dipandang sebagai pokok dari edukasi. Individual learning telah menghasilkan siswa yang berotak, namun yang lebih tepat sekarang adalah cooperative learning yang menghasilkan siswa yang berotak dan berhati, bagus IQ nya dan mantap EQ nya. Untuk menyonsong pendidikan yang berkualitas maka kuncinya adalah tentu kultur edukasi dengan merajut pendidikan yang juga berkualitas.















12. Menjemput Medali Ke Azerbaijan

Dalam tahun 2009 Kota Batusangkar sempat menjadi kota yang terkenal di kalangan akademis guru dan pelajar Sumatera Barat. Itu bukan karena di sana ada Istano Pagaruyung atau karena alamnya indah, tetapi karena prestasi yang sempat diukir oleh Elza Firdiyani, pelajar SMP Negeri 5 Batusangkar dalam memperoleh medali IJSO (International Junior Science Olimpide). Elza Firdiani bisa menjadi gadis yang fenomenal, di saat sebagian remaja lain menghabiskan waktu dengan berhura-hura, bermanja-manja, maka Elza melakukan terobosan-bekerja dan belajar dengan bersungguh-sungguh untuk menyonsong masa depan, memajukan diri dan sekaligus memajukan bangsa ini.
Elza lahir dari pasangan Laili Syofiaturahmah dan Edi Purwanto, karyawan dari perusahaan Global Mapindo di Pakan Baru. Ia anak pertama. Sebagaimana lazimnya anak pertama, diharapkan menjadi anak teladan buat adik-adiknya. Elza beruntung dibesarkan oleh orang tua yang terdidik dan punya wawasan ke depan. Ibunya adalah sarjana lulusan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan ayahnya sarjana lulusan Universitas Malang.
“Bagaimana masa kecilmu, Elza ?”. Ia dilahirkan tanggal 16 Desember 1995, di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Kemudian karena tuntutan karir, orang tuanya hijrah ke Batusangkar dan Elza kecil belajar di TK Aisyiyah Batusangkar dan setelah itu di SD Negeri 06 Kampung Baru, Batusangkar. Pendidikan lanjutannya adalah di SMPN 5 Batusangkar, prestasi yang ia peroleh pada IJSO memberi berkah beasiswa baginya untuk melanjutkan studi ke SMA Kharisma Bangsa internasional, boarding school dengan program bilingual, yang berlokasi di Tanggerang. .
“Bagaimana karaktermu saat masih kecil ?”. Saat masih kecil, Elza adalah anak yang baik dan suka membaca. Minat membaca tumbuh karena ibu dan ayahnya sendiri juga suka membaca majalah dan buku-buku untuk menambah wawasan. Elza membaca majalah Gatra dan Femina, dan juga membaca buku cerita anak-anak. Orang tua kalau menginginkan keluarga yang cerdas juga harus memiliki perpustakaan keluarga, membaca majalah dan buku bersama dengan anak-anak.
Sukses Elza dalam memperoleh prestasi akademik di sekolah adalah karena peran mama, karena papanya bekerja jauh di Provinsi Riau. Peran mamanya adalah dalam bentuk pemberian motivasi, menemaninya dalam belajar, mencari bahan literature dan jadi teman berdiskusi. Mamanya adalah wanita penyabar, jarang marah dan tidak cerewet. Orang tua yang cerewet, mengomel tiap saat, membuat anak bosan dan menutup telinganya setiap kali mengomel.
“Bagaimana pengalaman mu saat di Sekolah Dasar ?”. Ketika di SD Elza jadi anak yang biasa-biasa saja, ia juga nakal, suka berantem atau menganggu adiknya. ia juga menyukai permainan PS (play station) di rumah. Saat bersekolah di SD, Elza mulai menunjukan minat belajar yang tinggi. Sekolahnya pernah mengutusnya untuk mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) untuk tingkat Kabupaten, namun gagal untuk tingkat propinsi, “wah Elza sempat sedih dan menangis, namun bangkit lagi”.
Mata pelajaran sains meliputi “kimia, fisika dan biologi”. Elza belum mengerti cabang ilmu mana yang ia sukai lebih banyak. Ketika kelas 7, di SMP, tidak sengaja Elza mengikuti lomba bidang studi Biologi di Universitas Negeri Padang (UNP). Namun ia hanya bisa masuk ke peringkat semi final, “mungkit saat itu saya masih kecil dan masih kelas 7”, kata Elza membela diri. Elza juga pernah mengikuti lomba bidang studi Fisika dan Matematika di UNP, malah hasilnya lebih jelek lagi. Sehingga Elza tahu bahwa bakatnya adalah pada bidang Biologi, dan memutuskan untuk lebih menekuni Biologi.
“Bagaimana kiat belajarmu, Elza ?”. Elza belajar seperti anak anak lain, belajar jadi enak kalau suasana hati (mood) cukup bagus dan ia juga suka menonton TV. Namun kemudian TV rusak dan tidak diperbaiki, “kita tidak usah pakai TV lagi”, kata mama Elza, sehingga Elza punya waktu lebih banyak untuk belajar. Ia juga menyukai internet untuk chatting atau mengontak teman lewat friendster, facebook atau membaca kartun. Internetannya hanya di rumah saja lewat modem pada laptop.
“Jadi bidang studi favoritmu adalah Biologi..!”. Elza semakin menekuni Biologi. Ia memperoleh respond dan dukungan dari orang-orang seputar hidupnya. Mamanya memberi motivasi, menemani saat belajar dan menyediakan fasilitas buku yang dibutuhkan. Guru-gurunya di SMPN 5 Batusangkar memberi dukungan (motivasi) dan melatihnya dalam menguasai materi. Juga dosen UNP dan UNAND dalam melatih materi sekama training.
Perjalanan prestasi dalam bidang studi Biologi, saat kelas 7 di SMP, Elza mengikuti lomba Biologi di UNP dan ia masuk peringkat semi final. Ia juga mengikutim lomba OSN tingkat Kabupaten Tanah Datar. Selanjutnya Elza mengikuti OSN tingkat propinsi dan ia mengetahui peringkat passing grade- nya, yaitu peringkat 17 untuk propinsi Sumatra Barat dan peringkat 52 untuk tingkat nasional. Ada satu peningkatan, saat Elza di kelas 8 SMP, ia mengikuti OSN di Makasar dan Elza memperoleh peringkat 4 secara nasional.
Tip dan trick Elza sehingga bisa memperoleh peringkat OSN yang bagus yaitu “memiliki motivasi yang tinggi dan memahami materi pelajaran”. Kemudian strategi Elza agar tidak menjadi orang yang sombong atas prestasi yang diraih “lupakan prestasi yang sudah diraih”.
Ternyata dalam menguasai ilmu dan meraih sukses maka bahasa Inggris sangat membantu. “Bagaimana strategi kamu dalam belajar Bahasa Inggris ?”. Elza mengenal kata-kata Bahasa Inggris sejak usia 4 tahun. Papanya memperkenalkan bahasa Inggris dan membelikan kamus dan buku bahasa Inggris untuk anak-anak. Mereka juga menonton bareng film kartun dan film lain dalam bahasa Inggris lewat TV atau VCD player.
Setelah mengenal banyak kata-kata dan tata bahasa Inggris di SD dan SMP, maka Elza membaca novel atau cerita ringan dalam bahasa Inggris, ia menggunakan kamus untuk memahami kata-kata yang sulit. Sementara untuk meningkatkan listening bahasa Inggris, ia mendengar lagu-lagu / kaset bahasa Inggris.
“Bagaimana karaktermu dalam belajar di sekolah ?”. Elza terbiasa belajar serius tapi juga agak santai, maksudnya ia belajar dengan suasana rileks namun selalu menjaga perhatian pada guru. Ia mengulang-ulang pelajaran/ latihan agar selalu ingat dengan konsep. Resep dalam berteman, Elza lebih dulu memulai persahabatan (tidak menunggu) dan suka beradaptasi lebih dulu dari pada menunggu.
Untuk bacaan, ia menyukai novel detektif, komik dan buku agama/filsafat. Untuk game, ia menyukai game strategi seperti emperor, dan petualangan. Ia juga belajar gitar, menguasai kunci dasar dengan ayahnya. Lagu dasar untuk belajar gitar adalah seperti naik-naik kepuncak gunung, juga “welcome to my life” dari album Zombie.
Berprestasi dalam bidang akademi bukan berarti harus kuper atau kurang pergaulan dan tidak bisa mengurus rumah. Ternyata Elza punya banyak teman, teman perempuan dan teman laki-laki. Dari teman laki-laki ia cenderung memperoleh solusi dan dari teman perempuan ia memperoleh simpati, ia curhat (sharing) dengan orang tua. Ia juga jago dalam memasak. Ia bisa mencuci pakaian, merapikan rumah dan memasak hal-hal sederhana: seperti memasak nasi goreng, menggoreng telur dan memasak sayur. Keterampilan ini cukup membantu bila ada aktifitas berkemah atau camping.
Saat Elza mengikuti OSN di Makasar dan memperoleh peringkat 4 untuk tingkat Indonesia, ia melihat bahwa pendidikan di Sumatra Barat sedikit tertinggal dari Propinsi yang lebih maju di pulau Jawa yaitu dari segi semangat, dan motivasi belajar siswanya, juga pelatihan yang kurang intensive.
Elza juga menceritakan perjalanan akademis menuju IJSO (Internastional Junior Science Olimpiade) di Azerbaijan. Mula-mula ia mengikuti seleksi IJSO tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten. Kemudian ia terus mengikuti seleksi tingkat nasional, utusan dari propinsi Sumatra Barat.
Untuk seleksi tahap pertama di Bandung yang diikuti oleh 45 orang , ia terpilih satu dari 6 orang untuk tingkat nasional. Ia (Elza Firdiani, dari Batusangkar), Dewi Surya (Pontianak), Yahya (Malang), Maria (Malang), Pertina (Wonogiri) dan Ivan (purwokerto). Untuk tahap dua, seleksi atau pemantapan penguasaan materi dilakukan di ruko Alamanda (Bandung). Di sana ada enam orang siswa yang terpilih, mereka diberi pelatihan intensive tentang IJSO yang materinya tidak hanya biologi, tetapi juga materi fisika, kimia dan biologi. Mereka dilatih selama 6 bulan, mereka berteman dan sekaligus juga berkompetisi. Dan setelah mengikuti pelatihan selama 6 bulan maka mereka bersiap-siap menuju IJSO di Azerbaijan. Selama di base-camp (Alamanda) mereka juga mendalami Bahasa Inggris, khusus untuk percakapan bahasa In ggris, setiap hari Minggu. Mereka bersiap-siap menuju kota Baku, ibu kota, Azerbaijan. Menyiapkan passport, visa, baju winter, dan souvenir yang praktis untuk dibawa termasuk coin dan uang Indonesia.
Azerbaijan adalah Negara yang baru merdeka (1995). Ibu kotanya Baku, kotanya kecil seperti Bukittinggi. Kotanya sejuk, bersih dan terawatt. Untuk kompetisi IJSO tingkat dunia, Elza sangat waspada dengan peserta dari Taiwan, Hongkong, Rusia, Thailand, Korea Selatan dan Jerman, karena siswanya lebih semangat dan cerdas. Elza terbang dengan pesawat Lufthansa dari Jakarta, transit di Singapura dan terus menuju Frankfurt, terbang selama 10 jam. Transit lagi di Frankfurt dan bergabung dengan tim dari Brazil, Argentina dan Zimbabwe, kemudian terbang lagi menuju Azerbaijan.
Di hotel Crescence, Elza bertemu dengan utusan dari berbagai Negara dengan berbagai karakter. Karakter anak Indonesia di mata Elza adalah ceria dan anak dari negara lain berkarakter serius. Anak-anak dari negara maju punya hobi membaca, tas mereka penuh dengan buku dan kemana-mana selalu membawa buku. Di akhir seleksi IJSO di Azerbaijan, Elza pun ikut memperoleh medali.
Liku-liku perjalanan Elza menuju Azerbaijan untuk memperoleh medali perlu diteladani (ditiru). Setiap remaja yang ingin meraih sukses, tidak hanya dalam bidang OSN atau IJSO, tapi juga dalam bidang lain perlu memiliki kepintaran berganda, mereka harus senang belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Gemar membaca dan mendalami materi pelajaran. Memiliki banyak teman dan bisa membantu diri- pintar mengurus rumah. Mereka juga senang olah raga, beribadah dan senang dengan musik. Belajar dan bekerja dengan tekun adalah strategi yang tepat untuk menghadapi masa depan. Sungguh pengalaman adalah guru yang terbaik dan pengalaman orang pun bisa jadi guru bagi kita.

13. Menuju Negara Paman Sam

Mengikuti proram pertukar pelajar ke manca negara adalah program yang banyak diminati oleh pelajar dari seluruh pelosok Indonesia. Program tersebut adalah AFS (American Field Service), Yes (Youth Exchange Studies), dan Jenesys (program ke Jepang) masing-masing untuk satu tahun, namun juga ada program Jenesys untuk dua minggu. Karena program ini terbatas untuk beberapa orang saja dan juga cukup bergengsi maka tentu saja setiap peminat harus punya persiapan yang matang untuk memenangkan seleksi penyisihan.
Miftahul Khairi (17 tahun), siswa SMAN 1 Bukittinggi, putra dari Bakri Harun (Kepsek SD 15 Matur, Agam) dan Rasmiati (Hakim Pengadilan Agama di Maninjau), dan juga sebagai keponakan Penulis, telah beruntung bisa mengitu program pertukaran pelajar Yes (Youth Exchange Studies) di Amerika Serikat yang juga disebut dengan Negara “Uncle Sam” atau “Paman Sam”. Tentu saja Miftahul (Ari) terlebih dahulu melakukan persiapan yang cukup matang sehingga bisa mengikuti program Program Yes ini dan tinggal serta belajar di Amerika Serikat dengan orangtua angkat selama satu tahun.
Seperti remaja pada umumnya, Ari biasa-biasa saja, rajin tapi kadang-kadang juga malas. Suka membantu orang tua, suka belajar dan juga suka main game online.”Namun kenapa kamu tertarik mengikuti program pertukaran pelajar ?”. Itulah pentingnya bergaul dan bertukar cerita dengan banyak orang. Suatu hari kakak teman yang baru saja kembali mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri berbagi cerita dengan Ari sehingga rasa ingin tahu dan motivasi Ari juga muncul. Faktor lain yang mendorong Ari ingin mengikuti program ini adalah karena ingin melihat dan merasakan tentang bagaimana budaya orang lain dan juga ingin merasakan pengalaman baru tinggal di Amerika.
Ia memperoleh informasi bahwa peserta yang kemungkinan akan lulus dalam program American Field Service ini adalah mereka yang selain mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris juga memiliki pengalaman leadership dan aktif dalam organisasi. Ia pun juga aktif dalam organisasi di sekolah dan organisasi di sekitar rumah. Ia harus memiliki banyak wawasan, setiap hari mengikuti berita-berita dan mencatat semua issue berita pada buku catatan khusus. Kadang-kadang Ari juga pergi ke internet untuk melakukan browsing tentang berita terkini dari seluruh pelosok Indonesia dan dari seantaro dunia- tentang global warming, tentang proliferasi nuklir, tentang cloning, tentang kematian Michael Jackson, tentang perkawinan kaum homo seks, dan lain-lain.
Ari melompat hampir setinggi langit, riang gembira karena dinyatakan lulus dalam mengikuti seleksi pertukaran pelajar tersebut. Ia mengatakan bahwa “preparation is mother of successfulness”. Tentu saja persiapan Ari yang lain, selain kemahiran dalam bahasa Inggris, adalah juga dalam hal berdebat, menguasai kesenian dan life skill lain- ia belajar memasak gulai dan rendang Padang. Ari juga belajar tari minang, silat minang, masakan minang, dan juga membaca buku-buku tetang budaya Indonesia secara keseluruhan karena Ari kelak adalah menjadi duta bangsa. Kebiasaaan berdebat sangat penting dalam membentuk mental yang kuat dan berani dan sebab program pertukaran pelajar tidak perlu menjadi anak manis yang serba penurut, patuh tapi susah dalam berkomunikasi.
Ari bebagi cerita bahwa saat itu ada sekitar 600-an peminat program pertukaran pelajar dari seluruh Sumatera Barat dan juga mungkin dari Riau. Yang ia ambil adalah program YES (Youth Exchange Studies) dan yang diambil dari seluruh pelamar hanya 5 orang. Ari termasuk satu dari lima orang yang beruntung. Seleksi program ini meliputi test tertulis, wawancara dalam bahasa Inggris, wawancara non Bahasa Inggris tentang pengetahuan umum, wawasan lain, kepribadian, penilaian individu tentang kerja kelompok atau team-work.
Tip dan trick agar menang dalam seleksi program pertukaran pelajar tersebut adalah “be your self”. Penilaian dengan skor rendah selama aktifitas team work adalah kalau seseorang memperlihatkan sikap hiperaktif, suka memonopoli, egois dan adanya kesan arrogant atau angkuh. Selanjutnya karakter yang tinggi skor penilaiannya adalah untuk karakter cooperative, leadership, dan kreatif. Tipe “be yourself” yang disenangi oleh program pertukaran pelajar adalah untuk semua karakter orang- ada yang agak pendiam, suka usil, humoris. Yang dinilai tidak hanya cerdas, ramah, cooperative, leadership dan kreatif, tetapi juga harus bersifat “out going, easy going dan humoris”.
“Apa yang kamu rasakan begitu kamu dinyatakan lulus dalam seleksi ?”. kelima peserta yang lulus kemungkinan “feeling between belive or not believe” kalau mereka lulus, kemudian merasa excited dan mulai membuat seribu impian dan sejuta andai, “Kalau…. Kalau….kalau…., saya akan…..”. Mereka juga ingin tahu tentang seperti apa sih USA itu. Pokoknya ada harapan yang begitu tinggi dengan sejuta mimpi. Namun kemudian bercampur dengan emosi kesedihan. Sedih karena harus berpisah dengan keluarga, sedih berpisah dengan teman dan sedih kehilangan waktu- tertunda belajar di sekolah selama satu tahun.
“Apa persiapan kamu menuju negara Paman Sam ?”. Selain faktor bahasa dan pengeahuan budaya juga harus menyiapkan logistik. Menyiapkan pakaian yang digunakan seperlunya, buku-buku yang diperlukan , paspor, visa dan souvenir. Sekali lagi karena pertukaran pelajar adalah juga berarti pertukaran budaya, maka peserta juga harus punya persiapan budaya- belajar tari, belajar seruling, belajar gitar dan lagu daerah.
Sebelum keberangkatan ke negara tujuan maka semua peserta yang lolos seleksi dari seluruh Indonesia berkumpul di Jakarrta, tentu saja diantarkan oleh orang tua. Mereka diberi program orientasi- pembekalan untuk mengenal negeri orang dan mengenal negeri sendiri. Mereka memperoleh materi pelajaran CCU atau “Cross Culture Understanding- pemahaman lintas budaya”. Dan setelah itu acara Talent Show- penampilan bakat- yang disuguhkan buat orang tua peserta yang baru saja mengantarkan anak-anak mereka untuk program pertukaran pelajar.
“Bagaimana perasaan kamu saat terbang melintasi samudra pasifik ?”. Peserta program AFS dan Yes tidak terbang melintasi samudra Pasifik. Itulah kondisi pesawat GIA (Garuda Indonesia Airways) tidak memperoleh izin untuk mendarat di bandara Eropa, karena diangap kurang memenuhi standard keselamatan dan mungkin karena pesawat sudah agak tua (maaf), maka peserta terbang dengan MAS (Malaysia Airline System) dari Jakarta ke Kuala Lumpur selama dua jam. Dari Kuala Lumpur terbang lama selama 12 jam dengan pesawat menuju Frankfurt. Hari terasa selalu siang selama 12 jam karena pesawat terbang menyonsong matahari. Agar bisa tidur maka pilot menyarankan agar menutup semua jendela pesawat dan sebagian penumpang bisa tidur.
Peserta transit di Frankfurt. Bandaranya sangat rapi, bersih dan udaranya bearoma harum sehingga setiap pengunjung merasa dimanja. Kemuian peserta terbang dengan pesawat United Airline menuju Washington, DC selama 7 jam melintasi samudra Atlantik. Peserta menjadi too excited karena sudah begitu dekat dengan negara Paman Sam, tetapi bercampur degan emosi kesedihan “ada yang menangis” karena sudah terasa begitu jauh dari tanah air dan dari mama dan papa tercinta.
“Apa kesan kamu melihat orang-orang dalam pesawat terbang moderen ?”. Bule-bule dalam pesawat umumnya tampak sibuk dengan diri sendiri, sibuk dengan laptop, sibuk dengan phone cell, sibuk membaca, atau tidur. Sementara orang-orang kita- peserta yang dinyataan menang dan lulus selesi pertukaran pelajar- terlihat sibuk dengan orang lain. Mengurus orang lain, sibuk ngobrol, sibuk tersenyum. Di sinilah beda kepribadian individualitas dan masyarakat social. Dalam masyarakat barat atau budaya individu terkesan bahwa “no personal space”.
Akhirnya pesawat United Airline mendarat di bandara Washington DC. Sebelum menyebar maka peserta YES diberi orientasi tentang way of life di USA. Program Yes adalah program scholarship penuh dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang disediakan buat pelajar atau pemuda dari negara muslim. Makanya kegiatan orientasi di Washington juga ada pelajar dari Malaysia, Arab, Mesir, Turki, dan negara-negara muslim lainnya. Program Yes didirikan setelah adanya tragedi peledakan gedung WTC (World Trade Centre) oleh teroris, dan rakyat USA saat ini memendam rasa marah pada masyarakat muslim dunia. Maka untuk mengenal agama Islam masyarakat muslim, USA mengundang para pelajar muslim melalui program Yes tersebut.
Semua peserta Yes disebar ke 50 negara bagian Amerika Serikat dan tidak ada pelajar yang sebangsa tinggal bersama dalam satu tempat. Ari ditempatkan di kota Mineappolis, negara bagian Minnessota. Minneapolis adalah juga termasuk kota pelajar, ibarat Yogyakarta. Kota ini termasuk kota menengah dan di sana ada Universitas St. Cloud dan di kota ini Ari tinggal dengan Host Family.
“Apa yang kamu lakukan Ari, pertama kali tinggal dengan host famiyy ?”. Semua peserta pasti melakukan adaptasi. Adaptasi dengan bahasa, budaya, makanan, pendidikan dan bagaimana supaya bisa “fit with new famiy and new culture”. Walaupun peserta sudah yakin memiliki bahasa Inggris yang baik namun kadang kala kurang mengerti dengan bahasa Inggris penduduk setempat, karena mereka berbicara cepat dan accent berbeda. Untuk memahami komunikasi maka peserta mengandalkan (memahami) eye contact dan body laguage. Tentang akanan, masakan Indonesia lebih mengutamakan taste and flavour, sementara masakan Amerika lebih mengutamakan nilai gizi, walau sering kurang pas menurut lidah orang Indonesia.
Sistem sekolah di sana juga berbeda dengan Indonesia. Di sana pelajar choose own class dan untuk tingkat SMA mereka tidak memakai seragam, tetapi free clothes. Dalam kelas terdapat banyak tempelan-tempelan yang memberi info kepada siswa/pelajar. Kertas yang ditempel selalu di-update, tidak dibiarkan terpajang selama berbulan-bulan, apa lagi tempelan selama bertahun-tahun. Pendidikan di sekolah kita “guru-guru terlalu banyak ngomong”, namun di USA gaya pembelajaran bersifat memberi “explanation, practicing, dan pemahaman concept”. Maka pembelajaran di Amerika bercirikan banyak simulasi, game dan pemberian reward pada siswa seperi permen dan coklat- walau materi sedikit. Di Indonesia materi terlalu padat dan siswa disuguhi dan harus menghafal banyak materi. Namun tugas-tugas sekolah di sana juga banyak.
Ari secara langsung melihat dan merasakan pebedaan pembelajaran di sana dengan di kampungnya sendiri (Sumatera Barat). Di kelas Amerika, guru-guru memajang nilai yang diperoleh siswa dan selalu mengupdatenya, tiap kali ada penilaian. Suasana pembelajaran kadang-kadang juga lewat menonton dan membahasnya, misalnya dalam kelas poloitik (atau KWN- kewarga negaraan). Dalam pembelajaran ini ada kalanya juga dengan bermain peran, sebagai presiden, anggota partlemen, sebagai pengacara, sebagai narapidana.
Pelajaran seni di Indonesia sudah berciri “praktek” dan di Amerika malah lebih banyak praktek, misal kelas memahat, kelas menjahit, kelas membuat keramik. Ada kesan dari kebisaaan pelajar di Indonesia, kalau pulang sekolah buru-buru pergi les, les matematik, les bahasa Inggris, kimia, fisika dan les komputer. Namun para pelajar Amerika pulang sekolah cenderung pergi berolah raga- mengikuti team basket, team bola kaki, atletik. Makanya tubuh pelajar di sana terbentuk lebih sehat dan kuat. Penduduk di sana sangat mencintai kegiatan olah raga, oleh karena itu mereka terkesan berani dan agresif dalam bekerja dan bersosial. Inilah dampak positif dari kebisaaan berolah raga bagi masyarakat Amerika.
Kemudian masih dalam hal olah raga, bahwa selalu ada kompetisi antara sekolah. Tingginya semangat berolah raga dalam sekolah dan dalam masyarakat membuat self-believe, life skill, team work, hard work, dan self determination mereka sangat tinggi dan sudah menjadi karakter mereka. Di USA, orang tidak melihat status atau “kamu anak siapa”, semua orang sama-sama punya kesempatan untuk maju, seorang guru tidak membandingkan latar belakang siswanya apakah dari orang tua miskin, kaya, kulit putih, kulit berwarna, katolik atau non katolik dalam peniaian dan dalam pelayanan (tentu ini juga bergantung pada karakter seseorang). Umumnya siswa di sana memiliki “self determination” menentukan sikap untuk masa depan mereka, makanya pelajar di sana sudah membayangkan apa yang akan mereka kerjakan kelak bila sudah dewasa. Kalau mereka tidak memiliki self determination- menentukan arah diri sendiri, maka itu berarti mereka “gagal dalam hidup”.
“Di negeri kita anak yang dipandang baik adalah sweet kid (anak manis) yaitu patuh, penurut dan rajin”. Di negara Paman Sam, jarang sekali karakter “sweet kid”, semua orang berkarakter “assertive” yaitu say what you feel dan tidak ada istilah bahasa yang berbelit-belit atau berbasa basi. Tentang hal ini antara Indonesia dan Amerika tentu berlaku istilah “different fish different pond- lain lubuk lain ikannya”. Jadi pola berkomunikasi di Amerika adalah berkarakter clear, direct communication dan tidak berbelit-belit”.
Tentang appellation atau panggilan, Ari cukup memanggil nama saja untuk host family (orang tua angkat) dan pada gurunya. Bagi mereka ini menandakan closeness- kedekatan. Sementara di Sumatera Barat “Panggilan” disesuaikan dengan empat tingkat kata: kata mendaki, kata menurun, kata mendatar, dan kata melereng. Ada yang panggil adik, uni, uda, ibu, etek, sumando, menantu, dan lain-lain”.
Keluarga Amerika menerapkan berbagi kerja dalam mengurus tugas rumah. Walaupun di sana sudah serba mesin. Dan hukuman buat pelanggaran yang dilakukan oleh seorang anak yang diterapkan oleh host family atau orang-orang lain adalah “grounded punishment”. Misalnya seorang anak melanggar peraturan rumah maka selama seminggu Phone Cellnya, Lap topnya, MP 3 nya disita, fasilitas buat dia dicabut, dan tidak boleh keluar rumah sehingga mendatangkan efek bosan dan jera. Sementara hukum spangking “melampang” pantat anak, apalagi sampai menempeleng kepala, mencambuk kaki anak, mencewer telinga dan hukuman fisik lain. sudah lama ditinggalkan karena bisa dipandang bertetangan dengan hak azazi manusia. Pelaksanaan hukum tergantung pada karakter pribadi, karena juga ada orang tua yang menganiaya dan sampai menelantarkan anak mereka.
“Bagaimana teman-teman mu di Sekolah Amerika dalam memandang negerimu- Indonesia ?”. Ternyata banyak pelajar di sana yang buta dengan informasi budaya dan informasi geografi tentang negara lain, termasuk tentang Indonesia. Mereka masih memandang Indonesia sebagai negara yang jauh tertinggal atau primitive, sehingga muncul pertanyaan yang lucu-lucu. “Apa kamu pernah makan daging orang utan…? Apa kamu tinggal dalam goa atau di atas pohon kayu besar ?”
Orang di negara Paman Sam memandang Indonesia sebagai negara yang indah apalagi orang di sana menyukai derah tropis, menyukai warna kulit yang terbakar matahari sebagai “sun tanned skin” sebagai lambang kulit yang sehat makanya orang di sana gemar berjemur saat musim panas. Orang di sana juga menyukai budaya Indonesia seperti tari dan kreasi seni, karena di sana tidak ada tari atau seni yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mereka juga memandang orang Indonesia sebagai bangsa yang hospitality- ramah tamah.
Host family memandang Ari sebagai remaja yang riang, lucu, smart. Di sekolah Ari sangat jago dengan pelajaran matematika dan umumnya anak-anak Asia jago di sekolah. Ternyata pelajaran Indonesia lebih tinggi- Ari sering sering tampil dalam mata pelajaran matematika, namun kita cuma kaya dengan hafalan dan mereka kaya dengan praktek. Di mata mereka bahwa Ari adalah anak yang suka membantu, suka memotret-motret, hospitality dan clever. Walau Bahasa Inggris Ari terasa sudah bagus tetapi di telinga mereka bahasa Inggrisnya terkesan lucu dan enak untuk didengar, ibarat kita mendengar mereka berbahasa Indonesia dengan aksen yang cadel.
Suasana kehidupan sosial di daerah perkotaan terasa sangat individu, mungkin sama juga dengan kondisi di kota besar Indonesia. Namun di country side- di pedesaan agak sama dengan di desa Indonesia- juga ada suasana bersosial yang tinggi. Beda tentang berteman, kalau di Indonesia seorang remaja mengenal “a lot of close friend”, namun di sana remaja mengenal “few close friends”. Di mata mereka bahwa keramah tamahan itu hanya sekedar memperlihatkan kebaikan saja. Di sana remaja active mencari teman yag memiliki minat yang sama, misal dalam bidang olah raga dan musik. .
“Bagaimana tentang hubungan orang tua dan anak di Amrik ?”. Hubungan orang tua dan anak di sana, ya sama dengan kondisi keluarga demokrasi di Indonesia. Mereka memberi anak “freedom to choose” tetapi tetap selalu ada nasehat-nasehat. Anak-anak di sana diajar untuk mandiri dan banyak remaja melakukan kerja “part time”- kerja paroh waktu di swalayan, street construction, di restorant fast food. UMR (Upah Minimum Regional) di sana adalah 7.25 Dollar Amerika per jam, atau setara dengan Rp. 72.000. Namun mereka dibatasi kerja perminggu oleh undang-undang. Untuk memperoleh kerja part time, mereka menulis resume atau lamaran. Hasil pendapatan part time mereka tabung untuk kepentingan berlibur, jalan-jalan ke luar negeri, untuk beli mobil, untuk membantu uang kuliah dan membeli barang yang mereka butuhkan. Part time diberikan untuk remaja minimal usia 16 tahun.
“Setelah kamu berada di Amerika, bagaimana kamu melihat Indonesia dari arah luar ?”. Ari merasa bangga sebagai bangsa Indonesia karena alamnya cantik apalagi Ari juga dipandang oleh orang sana termasuk remaja yang creative, dan kulitnya dianggap bagus. Apalagi ada persaan emosional, bangga atas nilai kebersamaan yang ada di Indonesia, kemudian Indonesia juga sangat kaya dengan budaya dan seni.
Orang Amerika kagum dengan anak-anak Indonesia karena kecil kecil sudah mahir berbahasa Inggris, mereka saja hanya bisa berbahasa Inggris (bahasa Ibu) dan mempelajari bahasa asing seperti bahasa Perancis, bahasa Spanyol dan bahasa Jerman hanya saat duduk di bangku SMA saja. Tentang jurusan favorite di universitas ya sama fenomenanya dengan di Indonesia, mereka menyukai jurusan ekonomi, jurusan kedokteran, bisnis, hukum dan tekhnik atau engineering.
Mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri, walau kehilagnan waktu belajar selama satu tahun, namun di sana Ari juga belajar di SMA Amerika dan juga memperoleh ijazah atau sertifikat tanda tamat belajar yang nilainya sama dengan diploma satu untuk Indonesia, dengan diploma tersebut Ari pun bisa melamar kuliah di jurusan yag menggunakan bahasa Inggris di universitas Indonesia. Saat sebelum mengikuti pertukaran pelajar, Ari terlihat sebagai anak yang manis- baik dan patuh. Namun setelah mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun, rasa nasionalismenya bertambah, semangat bekerja dan belajar lebih progresif seperti anak anak di Amerika dan kemandirian dan self determinasi Ari juga lebih meningkat.

14. Belajar Secara Otodidak
Pendahuluan
Otodidak berasal dari kata ”auto” dan ”Didak” yang berarti “belajar sendiri. Kata otodidak berkaitan erat dengan pendidikan. Dan pendidikan adalah usaha manusia atau diri sendiri untuk berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi pintar, dari miskin informasi menjadi kaya dengan informasi. Tentu saja maíh banyak ekspressi lain yang dapat kita tambahkan disini.
Pendidikan ádalah sarana untuk menjadi pintar dan kaya dengan informasi. Bangsa kita sudah beruntung karena banyak orang yang sudah peduli dengan pendidikan. Masyarakat dan orang tua sudah mulai selektif dalam memilih pendidikan dan mereka telah ikhlas ikut berpartisipasi secara moril dan materil.
Kini yang dituntut adalah pendidikan yang bermutu. De Porter (2002) mengatakan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang meliputi dan mengembangkan kecerdasan berganda, menghargai unsur modalitas visual, audiotorial dan kinestetik. Hasri (2004) mengatakan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dilasanakan oleh sekolah efektif dan guru yang efektif.
Pendidikan yang berkualitas adalah dambaan semua orang. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang berimbang antara unsur kognitif (otak), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (atau afektif). Namun fenomena sekarang adalah bahwa pendidikan yang membuat anak didik untuk pintar mencari kerja. Fenomena yang dideskripsian oleh media cetak dan media elektronik bahwa orang sekarang sekolah setinggi mungkin hanya untuk menjadi kaya dan mengejar posisi. Begitu posisi susah untuk diperoleh maka mereka bermimpi menjadi PNS- atau Pegawai Negeri Sipil. Karena kuota untuk menjadi PNS juga terbatas, maka orang cenderung setelah menempuh pendidikan yang lama dan panjang hanya mampu menulis surat lamaran, gagal dan menjadi pengangguran.
Fenomena pengangguran sudah menjadi beban pemerintah, karena lapangan kerja mereka harus dicarikan dan mereka masih menjadi beban bagi masyarakat atau orang tua yang punya anak yang masih luntang- lantung. Sebelum deretan pengangguran makin lama makin panjang, maka lebih baik fenomena penyakit pengangguran (sebagai penyakit masyarakat) dipenggal saja, misalnya dengan meningkatkan kepintaran berganda- multiplied intelligent lewat otodidak. Untuk itu kita perlu bercermin kepada figur- figur atau tokoh besar, mereka itu bisa jadi tokoh intelektual dan tokoh ulama. Mereka itu bisa jadi Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Cokroaminoto, Buya Hamka, dan lain- lain. Tulisan ini akan membahas tokoh yang bernama ”Buya Hamka” dengan judul tulisan adalah: Buya Hamka Sang Otodidak Sejati.

Buya Hamka Melakuan Otodidak Tanpa Mengenal istilah Pengangguran
Kata lain dari “pengangguran” adalah tunakarya. Tetapi kata pengangguran lebih lazim diucapkan oleh banyak orang. Terutama dikalangan orang- orang yang sedang mencari kerja atau merasa telah gagal dalam mencari kerja. Saat Buya Hamka kecil, orang-orang dan Buya Hamka sendiri belum mengenal kata atau istilah pengangguran, karena pada masa itu semua orang punya pekerjaan. Pekerjaan yang populer saat itu adalah seperti bertani, nelayan, beternak, bertukang, berdagang atau sebagai buruh dan satu dua orang ada yang menjadi guru di surau (Ulama) dan guru di sekolah pemerintah (penjajah). Saat itu pekerjaan diwariskan dari orangtua secara turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari, dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.
Pada masa itu, dalam suasana masyarakat tradisional,seperti yang telah diungkapkan, generasi tua sangat peduli terhadap kelangsungan kerja generasi muda. Seorang ayah akan melatih anak laki- laki yang sudah besar untuk mengikuti dan menekuni profesi sang ayah. Dan kelak bila sudah dewasa ia boleh bekerja berdikari- berdiri di atas kaki sendiri. Itu berarti bahwa aktivitas on job training – atau magang- sudah berjalan dan malah telah mengakar dan membudaya dalam keluarga. Begitu juga dengan kaum wanita, ibu- ibu juga melatih dan mempersiapkan masa depan anak wanita dengan memberi peran-peran sosial sebagai kaum wanita, sebagai calon ibu dan calon istri. Kegiatan menjahit, merenda, memasak, merawat adik- adik dan merawat rumah adalah bentuk kegiatan yang umum. Ini berarti nilai-nilai keterampilan dan sikap bertanggung jawab diajarkan dan diwariskan secara turun temurun. Orang sekarang memberi istilah bahwa telah terjadi pewarisan nilai psikomotorik dan afektif dari orang tua ke anak.
Hamka adalah akronim dari ”Haji Abdul Malik bin Abdul karim Amrullah”- lahir pada tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau Sumatra Barat dan meninggal di Jakarta tahun 1981- beruntung karena juga mempunyai ayah yang juga tokoh masyarakat pada saat itu. Ayah beliau adalah Syekh Abdul karim Amrullah, nama lainnya adalah Haji Rasul. Ia dikenal sebagai pelopor gerakan pembaharuan Islam atau Tajdid di Minangkabau setelah ia kembali dari Makkah- kota suci pusat umat Islam dan pusat pendidikan Islam di dunia dan saat itu orang Islam di Minangkabau bersikap fanatik buta, percaya hanya terhadap apa yang dikatakan oleh pemuka masyarakat tanpa menganalisa benar atau salah .
Saat Buya Hamka kecil, nilai otak (nilai kecerdasan otak) sangat dijunjung tinggi oleh banyak orang. Namun tidak banyak orang tua yang tahu bagaimana agar anak mereka bisa menuntut ilmu setinggi mungkin, dan sikecil Hamka tentu merasa beruntung mempunyai ayah seorang ”Haji Rasul” sebagai orang yang terpandang dan tokoh masyarakat pada saat itu.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ia tidak pernah memperoleh pendidikan formal seperti SLTP, SLTA apalagi pendidikan di Perguruan Tinggi. Untuk memperoleh ilmu ia hanya melakukan proses belajar secara otodidak. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Buya Hamka melalui kebiasaannya melakukan otodidiak- belajar mandiri- mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. Seperti yang dapat kita baca pada situs berikut: (http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullahs)
Kegiatan otodidak Buya Hamka, yaitu membaca dan menulis dalam berbagai bidang disiplin ilmu- filsafat, pendidikan, agama, kebudayaan, politik dan lain-lain- membuat Hamka mampu memahami permasalah dalam banyak bidang dikehidupan ini. Dalam hidupnya Hamka dengan tanpa ia sadari telah menjalani banyak bidang kehidupan.
Sebagai politikus, kegiatan politik Hamka berawal pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia tanpa pernah diadili. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis dan menyelesaikan Tafsir al Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia (Aning, 2005).
Dalam hidupnya Buya Hamka sempat melalui multi karir atau multi kegiatan. Ia aktif dalam bidang keagamaan dan politik, dan selain itu Hamka juga sebagai seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat.. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga dikenal sebagai Tokoh Budaya atau Budayawan karena beliau mampu menghasilkan banyak karya ilmiah dalam bidang agama Islam, dalam bidang kebudayaan dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura termasuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Kegiatan otodidak Buya Hamka dalam bidang menulis membuat beliau mampu melahirkan puluhan buku yang dibaca orang di seluruh pelosok nusantara- malah juga di baca oleh bangsa – bangsa Melayu. Tokoh- tokoh pendidik di Universitas terkemuka memonitor dan menilai hasil- hasil karya tulisnya. Untuk itu Buya Hama menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan dari negara Mesir, Universitas Kebangsaan Malaysia dan juga dari dalam negeri kita, Indonesia. Maka Universitas al-Azhar, juga menganugerahinya gelar Doctor Honoris Causa pada tahun 1958, Doktor Honoris Causa juga diperoleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974, kemudian gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. (http://www.mail-archive.com/rantau-net)
Buya Hamka Sebagai Inspirator
Kini Buya Hamka sudah tiada, karena beliau sudah berpulang ke haribaan Allah. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan bangsa, negara dan agama.
Namun sekarang ada fenomena dalam kehidupan yaitu populasi generasi muda yang menempati posisi sangat mayoritas dalam piramida demografi kependudukan di Indonesia. Mereka adalah anak- anak muda, remaja dan pelajar yang sangat sibuk menumbuh kembangkan potensi diri. Setiap saat selalu mencoba dan mencoba untuk mencari identifikasi diri, mereka selalu merenung dan berfikir untuk menemui figur yang sangat pas untuk diadopsi dan ditiru dalam rangka membentuk karakter diri sendiri.
Generasi muda yang jumlahnya jutaan jiwa itu dapat kita umpamakan sebagai koloni serangga yang beterbangan di malam hari mengejar sinar yang dipancarkan oleh figur- figur orang orang besar dan orang orang ternama di Indonesia (malah bisa jadi juga orang terkenal di level dunia). Figur atau tokoh yang memancarkan sinar popularitas yang kuat pastilah mampu menarik banyak anak- anak muda untuk menjadikan mereka sebagai idola atau sebagai panutan (model) bagi hidup.
Dalam satu generasi yang lalu sampai kepada dua puluh tahun yang silam, yaitu tahun 1970-an dan 1980-an, agaknya cahaya tokoh intelektual, juga tokoh agama, masih memiliki sinar yang terang untuk menyinari generasi muda di Indonesia. Begitu juga bagi generasi pada zaman sebelumnya. Sebut saja generasi di tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, saat anak- anak muda dan para pelajar Minangkabau masih tidur di surau, mereka sebelum tidur selalu bermimpi ingin menjadi orang hebat- menjadi tokoh intelektual- seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Buya Hamka, Haji Agus salim, dan lain- lain. Di saat senggang mereka bercengkrama dan berdialog sampai separoh bertengkar mempertahankan reputasi figur idola mereka kalau di rendahkan oleh lawan bicara. Tentu saja mereka juga rajin untuk mengumpulkan kliping tulisan yang mempublikasikan figur tersebut dari majalah dan koran- koran, atau mereka mencari buku biografi tentang orang ternama lain untuk perbendaharaan wawasan mereka lewat meminjam, dari pustaka atau membelinya di toko buku. .
Rata- rata generasi muda (baca: anak sekolah) pada masa itu yang menjadikan tokoh intelektual sebagai panutan mampu membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang berkualitas. Tidak saja kualitas untuk kognitif, tetapi juga kualitas untuk sikap, prilaku, akhlak sampai kepada kualitas kecakapan hidup lainnya. Walau istilah quantum quotient- kepintaran berganda, belum dikenal saat itu namun dalam kenyataan mereka telah memiliki pribadi dengan kecerdasan berganda secara tak langsung. Maka tidak heran kalau rata- rata remaja- sebagai calon intelektuak saat itu mampu tumbuh menjadi orang yang sukses dan terpandang dalam masyarskat. Bukti itu masih terlihat bagi mereka yang berkarir pada tahun 1970 an dan 1980 an.
Dapat dikatakan bahwa figur tokoh intelektual dan juga tokoh agama yang ada di Indonesia pada saat itu betul- betul memiliki kekuatan dan mampu memberikan model atau panutan bagi generasi muda pada masa itu. Suara, tulisan dan kehadiran mereka selalu ditunggu tunggu setiap saat. Dan juga menjadi tradisi bagi tokoh intelektual pada masa itu untuk banyak meleburkan diri dengan anak- anak muda. Mereka turun ke bawah, ke surau, ke langgar dan ke sekolah untuk menemui generasi muda atau orang- orang yang mengidolakan mereka. Mereka tidak sibuk meleburkan diri dengan proyek yang ujung- ujungnya untuk menebalkan dompet. Karena pada masa itu yang bernama proyek demi proyek memang juga jarang.
Tokoh- tokoh intelektual ukuran lokal pun juga mempunyai arti bagi anak- anak muda pada masa itu. Mereka juga mempunyai andil atau peran lewat model atau figur yang mereka miliki untuk menggerakkan semangat, dan motivasi mereka untuk maju dan berkembang. Kultur yang tinggi dan karakter yang baik pada diri mereka mampu menular kepada generasi muda pada masa itu. Sehingga saat itu mungkin istilah tawuran masal dan istilah kenakalan remaja belum terdengar segenjar sekarang.
Pada masa itu tokoh intelektual masih punya agenda rutin untuk melakukan turba atau turun ke bawah. Sebutlah Buya Hamka, sebagai contoh, sebelum meninggalnya di tahun 1980, dalam tahun- tahun sebelumnya selalu punya agenda untuk turun dan berbagi fikiran dan pengalaman (berdakwah), tanpa protokoler seperti intelektual sekarang, kepada masyarakat yang berada di lapis bawah yang sudah menunggu di mesjid di daerah tingkat dua. Tokoh agama dan tokoh intelektual dirasakan sebagai milik masyarakat, bukan sebagai miliki kampus, milik perkumpulan atau kaum elit.
Adalah fenomena pada saat itu bahwa tokoh intelektual membuka pintu rumahnya lebar- lebar untuk banyak orang, tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Mereka berbicara hati ke hati secara langsung dan bukan dari jauh lewat seminar atau workshop. Karena pada masa itu kegiatan seminar dan workshop belum segencar sekarang. Sekarang hanya kalangan tertentu saja yang bisa berbagi pengalaman dengan tokoh intelektual, dan tempatnya pun harus di lokasi seminar yang ujung- ujungnya hanya untuk orang yang berduit dan orang yang mengharapkan selembar sertifikat untuk sertifikasi atau keperluan naik pangkat.
Awal tahun 1980-an adalah era televisi mulai merangkak dan hadir ke tengah masyarakat Indonesia. Televisi pada mulanya punya visi dan misi suci yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan juga sebagai corong komunikasi dari pemerintah untuk rakyat. Lambat laut peranan televisi- si kotak ajaib, tadi memberikan fungsi dan peranan ganda. Yaitu sebagai media pendidikan dan hiburan. Bila porsi fungsi ini masih berimbang- fifty- fifty antara hiburan dan pendidikan- maka tentu ini tidak lah menjadi masalah. Yakni selagi masih berada dalam koridor kebudayaan Indonesia. Namun entah mengapa, entah siapa yang memulai (tentu saja orang yang mempunysi duit dan mengusai dunia komunikasi) maka porsi televisi sebagai hiburan sudah semakin menciut. Malah sekarang di tahun 2000 an ini, dapat dikatakan bahwa fungsi televisi adalah banyak sebagai benda penghibur untuk anggota masyarakat.
Kalau dahulu televisi dipandang sebagai benda lux atau kebutuhan mewah, maka sekarang ia telah menjadi kebutuhan primer, seperti hal-nya kebutuhan terhadap sandang, pangan dan papan. Dan sering ditemui rumah- rumah kumuh atau gubuk yang agak reot tetapi pemiliknya mampu mempunyai televisi berwarna- walau itu adalah pemberian kaum kerabat mereka. Karena kini televisi telah berubah fungsi menjadi teman untuk memecah kesepian dan sebagai babby sitter untuk menemani anak selama berjam- jam walau dengan seribu satu dampak yang ia berikan.
Sekarang para pebisnis tahu betul bahwa untuk bisa berdagang dan meraup laba sebanyak mungkin dari lapisan masyarakat maka televisi bisa menjadi media massa yang andal. Maka dalam masa satu atau dua dekade saja, belasan stasiun televisi pun bisa bermunculan di bumi Indonesia. Kehadiran televisi sekarang bukan punya niat untuk mendidik tetapi banyak punyas niat untuk menghibur (sambil menyuguhkan budaya baru sebagai pilihan).
Kehadiran televisi dalam keluarga, tidak memupuk budaya belajar, malah menyuburkan budaya menonton. Anak anak muda menjadi lebih suka menonton dari pada membaca. Selama ini pribadi tokoh intelektual hanya bisa ditemui lewat kebiasaan membaca. Budaya menonton membuat mereka tidak bisa kenal dan malah makin jauh dari figur intelektual, karena mereka sendiri membenci hobi membaca.
Agar program komersial dan hiburan televisi makin laku dan makin mampu bersaing sesama mereka- stasiun televisi- dan mampu merebut hati remaja dan generasi muda (yang tidak suka atau separoh suka membaca) maka pemilik stasiun televisi yang jumlahnya belasan menghadirkan sosok figur yang ramah tamah, cantik, menarik dan penampilan nyentrik. Mereka ini belakangan akrab disebut atau disapa sebagai kaum selebriti. Mereka terdiri dari bintang film, bintang sinetron , artis, penyanyi, presenter atau bintang iklan, atau mungkin ada dari grup lain dengan istilah lain pula.
Para selebriti, kehadiran mereka sungguh sangat mempesona dan kelincahan mereka dalam menjual pribadi yang dipoles oleh hal- hal yang bersifat imitasi- tiruan dan penuh kepalsuan mampu membuat mereka menjadi kaya dalam sekejam mata. Sehingga ini menjadi inspirasi bagi penonton televisi. Pada mulanya pribadi atau pesona selebriti ini hanya memberi inspirasi kepada kaum remaja yang memang sedang demam mencari figur atau identifikasi diri. Lambat laun pesona penampilan selebriti ini merebak kesemua lapisan masyarakat.
Pada mulanya hanya kaum remaja sajalah yang tampil dan berperilaku mirip artis atau selebriti yang mereka tonton di laya kaca, cara berpakaian, cara ber make-up, cara berbicara, cara bersopan santun. Namun sekarang pria dan wanita setengah baya pun banyak yang tampil lebih glamour dari pada selebriti itu sendiri memakai rambut berwarna, celana ketat, lensa kontak, muka dipermak, atau bagi pria memakai celana model melorot, merek pakaian mesti trendy dan sampai mereka melangkah menjauhi mode dari kebudayaan sendiri.
Maka inilah fenomena yang kini terjadi, saat pesona selebriti mengalahkan popularitas dan pengaruh tokoh inteletual, telah mengakibatkan generasi muda tumbuh menjadi generasi kebingungan, generasi yang tercabut dari akar budayanya. Fenomena kebingungan generasi muda ini bisa diatasi apabila tokoh intelektual mempopulerkan lagi reputasi mereka. Kini kita- pelajar dan peserta lomba dalam rangka ”Hamka Sebagai Sang Inspirator” bermohon sangat kepada pihak pengelola media massa, media eletronik dan media cetak, para pendidik, educational stakeholder untuk membimbing kami memahami dan mengenal figur Buya Hamka (dan juga Tokoh tokoh bangsa yang lain) agar kami (kita) menjadi bangsa yang cerdas, beragama dan bermatabat.
Kesimpulan
Mengikuti kegiatan lomba ’Hamka sang Inspirator memberikan manfaat yang sangat banyak. Generasi muda (siswa atau pelajar) tentu akan mencari tulisan dan uraian tentang Buya Hamka. Membaca dan memahami buah fikiran beliau akan memberi kita inspirasi, inspirasi dalam berbuat, berfikir dan bertindak. Untuk memperoleh bagaimana inspirasi Buya Hamka maka kita sebagai generasi muda perlu banyak membaca dan membuayakan untuk gemar membaca. Harapan kepada pemerintah, pendidik, masyarakat dan orangtua kita untuk menyediakan sumber belajar atau sarana belajar bagi kita semua.

15. Inspirasi Sukses

Sekolah dan pendidikan itu sangat penting. Umumnya orang telah menyadari perananan dan manfaat pendidikan. Sehingga tiap tahun orang tua memilihkan pendidikan dan sekolah yang terbaik buat anak mereka. Namun sikap sebahagian orang tua, begitu anak memperoleh sekolah idaman mereka berlepas tangan dan menyerahkan urusan pendidikan pada sekolah. Paradigma ini tentu saja tidak tepat dan harus segera diobah.
Karena sikap sebahagian orang tua yang menyerahkan urusan pendidikan anak pada guru dan mereka hanya mendorong anak untuk belajar keras. Begitu anak bekerja dan belajar keras hanya untuk meraih keberhasilan akademik namun lupa untuk memupuk semangat entrepreneurship (kewirausahaan) maka sering kekecewaanlah yang mereka peroleh. Sering dijumpai bahwa anak-anak yang cuma hanya rajin dalam belajar, tetapi memiliki wawasan dan keterampilan hidup (life skill) yang terbatas, maka setelah belajar selama bertahun-tahun di SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi maka pintar mereka cuma sebatas menulis lamaran pekerjaan kalau gagal, ya harus menjadi penganggur.
Memang itulah realita kehidupan sekarang. Menanamkan semangat entrepreneurship (melakukan kegiatan berwirausaha) untuk anak didik belum begitu jadi prioritas, yang jadi prioritas adalah melatih anak didik agar lulus Ujian Nasional dengan skor yang tinggi. Namun orang orang yang sukses pada mulanya juga merasakan hal yang demikian. Pekerjaan (cita-cita) yang diperkenalkan di sekolah cuma pekerjaan yang bersifat formal seperti menjadi dokter, polisi, PNS, BUMN, pegawai swasta, tetapi jarang yang mengajak anak didik untuk menjadi pionir sebuah wirausaha baru.
Anak didik umumnya sangat percaya tentang karir (cita-cita) yang dipilihkan oleh guru di sekolah atau karir yang disodorkan oleh instruktur lembaga bimbel (Bimbingan Belajar). “Wah passing grademu belum cukup, masuk sajalah ke fakultas hukum”, demikian anjuran instruktur Bimbel. Ini bisa jadi suatu salah kaprah.
Seorang teman penulis yang telah bersusah payah merintis usaha “optikal” di Payakumbuh berharap anak tertuanya bisa meneruskan usaha yang telah dirintisnya. Namun apa yang bisa dikatakan, sang anak malah bermimpi untuk memilih karir yang dikenal lewat majalah. Sedangkan dia sendiri bingung untuk meraihnya. Ia tertarik untuk menjadi diplomat. Sementara faktor penguasaan bahasa Asing, keberanian dan leadership yang besar untuk menjadi diplomat belum dimiliki.
“Apa mimpi mu tamat SMA ?”. Umumnya siswa bingung terhadap cita-cita masa depan mereka. Guru di sekolah cuma melihat referensi berdasarkan nilai rapor. Begitu nilai sains anak bagus maka mereka akan memberi komentar “Oh lebih baik kamu pilih kedokteran atau tekhnik”. Bila nilai sosial anak yang bagus maka sang guru menganjurkan agar mereka mengambil perbankan saja. Pada hal bertahun-tahun setelah itu sang anak “luntang lantung” menenteng ijazah dan surat lamaran. Sementara mereka sendiri berasal dari keluarga yang cukup mapan perekonomian ,orangtua mereka sebagai “pedagang besar di kota, pemilik bisnis restoran, pemilik optic, pemilik usaha perikanan, pemilik usaha rice milling, pemilik usaha home industry”. Namun mengapa tidak tertarik dalam melanjutkan karir tersebut.
Penyebabya adalah karena orang tua sendiri kurang melibatkan anak dalam usaha bisnis yang telah mereka rintis. Kemudian, guru di sekolah juga kurang punya referensi tentang profil dan profesi orang. Selanjutnya lembaga Bimbel (Bimbingan Belajar) yang telah dibayar mahal memberikan test, kemudian memberi tahu tentang passing grade. “Passing grade kamu cukup bagus dan cocok untuk kuliah di universitas terkenal di pulau Jawa dan setelah itu berkarir di bidang perminyakan atau Industry”. Pada hal di belakang itu sang anak sudah memiliki orang tua yang memiliki usaha yang cukup mapan, memiliki toko elektronik atau industry meubel, sebagai contoh, tetapi malah tidak peduli dengan karir ayah dan ibunya.
Ada harapan kepada pihak sekolah dan pengelola bimbel agar tidak buru buru memberi pilihan karir yang salah buat siswa. Apalagi umumnya siswa kelas 12 SMA/ SLTA rata-rata diliputim oleh penuh kebimbangan dan kebingungan. Lihatlah dulu profil orang tua mereka. Manakala orang tua mereka memiliki karir dan wirausaha yang cukup mapan (punya restoran, toko elektronik, toko bangunan, usaha poultry, rice milling, dlll), maka doronglah mereka untuk menekuni wirausaha yang telah dirintis oleh ayah dan ibu mereka.
Berbicara tentang wirausaha (magi mereka yang belum kenal dengan spirit wirausaha) maka lebih baik belajar dari alam, yaitu dari tokoh-tokoh sukses yang ada di seputar kita dan tokoh sukses yang juga bisa kita akses lewat internet atau dari bacan lain- buku biografi, surat kabar dan majalah. Berikut ini adalah beberapa kisah-kisah bagaimana seseorang bisa meraih sukses.
1. Sudono Salim
Siapa yang tidak kenal dengan Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, Bogasari, Bank Central Asia. Ini semua adalah perusahaan besar milik Sudono Salim atau Liem Soei Liong. Ia adalah usahawan sukses orang Indonesia berkaliber kelas dunia. Apa rahasianya, hingga bisa jadi pengusaha besar?
Pertama, Sudono Salim punya bakat dan naluri bisnis yang kuat. Ia punya karakter seperti “tidak suka berpangku tangan saja, suka bekerja habis-habisan, efektif dalam menggunakan waktu, tidak suka menyerah pada kesulitan. “Kalau Anda mudah putus asa, sebaiknya jadi pekerja saja, jangan jadi usahawan. Menjadi pengusaha harus banyak akal, tapi, jangan curang, dan tidak mengambil milik orang lain”.
2. Li Ka Shing
Hongkong adalah Negara kecil dan penduduknya padat, hampir dipastikan bahwa tidak ada orang Hongkong yang memiliki sawah dan lading yang begitu luas, sebagaimana petani di Indonesia. Lantas mengapa orang Hongkong bisa maju dan mengapa Li Ka Shing bisa menjadi penguasa sukses.
Li Ka Shing mempunyai karakter yang suka melakukan akfitas dengan penuh ketekunan dan kesabaran, plus daya juang luar biasa. Ia memulai bisnis dengan menjual bunga plastik dengan penuh "keterpaksaan". Ia berasal dari sebuah keluarga miskin yang oleh karena perang, harus pindah dari China ke Hong Kong. Saat itu, ia tinggal di rumah pamannya yang lebih kaya. Karena dianggap remeh oleh keluarga pamannya bertekad kuat untuk bisa mandiri.
Mula-mula ia menjadi buruh di sebuah pabrik plastik. Kemudian ia membuka usaha sendiri lewat pinjaman modal dari relasi-di bisnis plastik. Ia berhasil mendapat banyak keuntungan di bisnis bunga plastik yang diekspor ke negara barat. Kemudian bisnisnya berkembang ke bidang real estat hingga mencakup bisnis telekomunikasi.
Sukses berbisnis tidak hanya bisa dilakukan di Singapura, Amerika, Jepang atau Eropa, namun juga bisa dilakukan di daerah yang dianggap orang daerah miskin seperti India. Ini dialami oleh Azim Premji dari India. Azim Premji adalah orang yang rendah hati. Ia kadang-kadang juga berjalan kaki seperti orang kebanyakan dan tidak merasa malu atau gengsian kalau pun naik kendaraan umum atau taksi saat hendak bepergian. Ketika datang ke dari bandara, ia juga tak harus dijemput oleh pegawai atau karyawannya, pada hal ia sendiri adalah seorang multimilioner dari India.
Ia menjadi pengusaha karena sebuah faktor keterdesakan. Sang ayah yang memiliki usaha minyak goreng meninggal saat Azim masih berusia 21 tahun dan ia . Ketika itu, ia yang baru lulus dari Universitas Stanford Amerika segera dipanggil pulang ke India untuk menggantikan posisi ayahnya. Azim meneruskan usaha keluarga yang sudah cukup berkembang kala itu. Kemudian, ia juga memutar haluan core business usahanya dari usaha minyak goreng menjadi usaha berbasis teknologi informasi (TI). Sebab, dari pengalamannya menimba ilmu di Amerika, Azim menemukan bahwa TI akan menjadi unit usaha yang sangat menguntungkan di masa depan.
Semua itu, menurut Azim bisa dicapai karena kerja tim. Karena itu, Azim sangat peduli pada pengembangan SDM bagi karyawannya. Meski memiliki kekayaan mencapai USD18.5 miliar atau sekitar Rp170 triliun, Azim tetap bersikap sederhana dan rendah hati. Ia bahkan tak pernah meminta diistimewakan, meski di perusahaannya sendiri.
3. Tokoh Sukses di Seputar Kita
Tokoh sukses juga cukup berlimpah di seputar kita. Berbagi pengalaman tentang kisah sukses mereka sangat berharga untuk kita dengar. Kalau sebuah sekolah tiap tahun selalu meluluskan puluhan atau ratusan generasi yang frustasi, bingung memikirkan karir masa depan mereka, maka sebelum karakter ini berkembang biak maka undanglah para tokoh sukses di seputar kita untuk berbagi kisah sukses dengan siswa yang lagi kebingungan.
Naluri bisnis Rita (bukan nama sebenarnya) seorang kenalan penulis membuat dia memutuskan untuk berhenti sebagai PNS dan berkolaborasi dengan suaminya untuk mengelola bisnis propesrti. Mereka mencari tahu tanah tanah yang tidak produktif dalam kota dan menggodoknya menjadi tanah untuk bisnis perumahan. Tanah tersebut dibeli lebih murah, setelah ditata, dikavling, dan diberi jalan (akses) maka harga jual melambung tinggi hingga memperoleh keuntungan milyaran rupiah. Bisnis tanah juga digeluti oleh teman penulis yang lain. “Harga tanah makin lama makin tinggi”, demikian komentar teman penulis yang sempat mempunyai tanah legal pada beberapa titik dan selalu memperoleh keuntungan saaat transaksi.
Seorang pemuda yang mempunyai nama samaran “Abdul”. Setelah lulus SLTA sempat kebingungan hendak mau kuliah kemana, itu karena ia berasal dari keluarga dengan ekonomi sulit. Maka ia memberanikan diri untuk menyewa sebidang tanah yang dialiri irigasi di desanya. Dengan mencari dukungan modal kecil-kecilan ia membuka usaha perikanan dan ayam telur, mula-mula secara kecil-kecilan. Kemudian usahanya bisa berkembang. Ia kemudian membutuhkan karyawan untuk pemeliharaan kebersihan dan mengelola usahanya.
Keuntungan bisa ditabung dan lewat pinjaman ringan ia kemudian membeli lahan dan memperbesar usaha perikanan dan peternakan ayam. Ia mampu menghidupi beberapa orang remaja pengangguran menjadi produktif. Kisah kisah seperti ini dapat di jumpai di daerah pedesaan yang memiliki persediaan air tawar yang bagus di daerah dekat Payakumbuh.
Kisah sukses lain adalah dari Arief, sebagai pebisnis bahan bangunan. Diawali dengan tekad untuk mengubah nasib. Ternyata untuk sukses juga bisa dengan modal semangat alias modal dengkul.
Berbekal naluri bisnis dan sebidang tanah yang agak luas di pinggir jalan, ia mengontak berbagai pembuat batu bata, penggali pasir dan kerikil yang selalu dibutuhkan orang dalam membuat sebuah rumah. Kemudian ia mencari tahu bagaimana bisa untuk mendatangkan kayu, semen, besi, cat, dan bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat gedung atau rumah. Ia kemudian mengurus izin dan berdirilah sebuah usaha dagang kebutuhan rumah, yang nyaris dimulai dengan modal dengkul dan berkembang pesat di sebuah kota di Sumatera Barat.
Lantas mengapa orang menyerbu kota dan meninggalkan kampong halaman yang subur. Atau mengapa musti seorang yang mengaku sarjana Cuma pintar mengirim lamaran demi lamaran dan selalu ditolak. Mengapa musti harus patah hati atau juga berfikir bunuh diri. Apa yang salah ?. Kalau seseorang sudi untuk membuka hati dan membuka diri dan menumbuhkan keberanian untuk mencoba maka tidak ada yang perlu disalahkan. Solusi yang terbaik untuk mengatasi kesulitan hidup atau mengantusipasi keslitan hidup adalah- tumbuhkan jiwa wirausaha.
Sesuai dengan judul artikel ini “guru-guru dan instruktur bimbingan belajar jangan memberikan cita-cita yang salah pada siswa”, maka mereka perlu untuk mengenal latar belakang perekonomian orang tua anak. Kemudian karena fenomena pengangguran dan lemah jiwa mandiri, maka mereka/kita perlu memperkenalkan kisah-kisah sukses pada anak didik. Umumnya orang bisa sukses adalah karena punya karakter seperti “tidak suka berpangku tangan, suka bekerja habis-habisan, efektif dalam menggunakan waktu, tidak suka menyerah pada kesulitan. Kemudian memiliki karakter yang suka melakukan akfitas dengan penuh ketekunan dan kesabaran, plus daya juang luar biasa. Juga perlu memiliki karakter rendah hati- tidak merasa malu atau gengsian dengan aktivitas dalam menyinsing lengan baju (ikut terlibat bekerja), dan juga perlu membuka mata hati untuk melihat cerita sukses orang-orang sekitar, menjadikan pengalaman sukses mereka sebagai pengalaman kita sendiri.

16. Proses Belajar Kreatif Ilmuwan

SMA (Sekolah Menengah Atas) adalah sekolah yang sangat banyak dipilih untuk sekolah tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Di sekolah ini (SMA) dan juga di Madrasah Aliyah, jurusan sains dianggap jurusan paling favorit. Mula-mula jurusan ini bernama jurusan paspal, kemudian menjadi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), kemudian jurusan ini pecah dua menjadi jurusan fisika dan jurusan biologi, kemudian menjadi jurusan IA (Ilmu Alam), ada lagi yang menyebutnya dengan jurusan sains. Bidang studi yang meliputi jurusan ini adalah matematika, biologi, fisika, kimia, dan matematika. Sekarang ke empat bidang studi ini tercakup ke dalam bidang studi yang diuji dalam UN (Ujian Nasional).
Alasan mengapa jurusan IPA banyak dipilih (menurut anggapan siswa) karena kemungkinan untuk meraih sukses kuliah di universitas dengan jurusan bergengsi lebih luas. Kemudian, kesempatan untuk merair sukses dalam karir juga lebih besar. Namun apakah hal ini benar dan apakah mereka telah belajar secara kreatif ?
Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Suaru negara tentu akan menghadapi banyak masalah jika negara tersebut kurang memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknannya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah.
Dalam belajar sains atau IPA, guru dan siswa seharusnya perlu mengenal background dari ilmuwan dan bagaimana mereka bisa menciptakan konsep ilmu/ suatu rumus. Dalam realita bahwa umumnya guru dan siswa juga mengenal konsep dan rumus dan proses pembelajaran kerap kali bercorak membahas rumus dan soal-soal saja. Sangat tepat rasanya kalau guru dan siswa juga mengenal proses kreatif para ilmuwan (seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Charles Darwin dan lain-lain) dalam menemukan suatu fenomena lewat membaca buku biografi mereka.
1) Einstein, cara berbicaranya pada masa kecil tidak begitu menarik. Kemampuan berbahasa atau berbicaranya sangat lambat. Melihat kondisi itu orang tuanya sangat prihatin sehingga ia berkonsultasi dengan dokter. Karena kemampuan berbicaranya yang lambat membuatnya pernah gagal di sekolah dan kepala sekolah menyarankan agar ia keluar dari sekolah. Tentu saja ia memberontak kepada sekolah yang mengusirnya dan menganggapnya sebagai anak yang sangat bodoh.
Pada masa kecil, Einstein adalah anak yang baik dan ia punya karakter suka menolong, karakter ini membuatnya makin cerdas. Kemampuan berbahasanya memang lebih rendah dibandingkan kemampuan numerika atau matematika. Ia tidak pernah gagal dalam mata pelajaran matematika. Sebelum ia berumur lima belas tahun ia telah menguasai kalkulus diferensial dan integral yang dipelajarinya secara mandiri/ otodidak. Saat di sekolah dasar, dia berada di atas kemampuan rata-rata kelas, namun ia memiliki kegemaran untuk memecahkan masalah rumit dalam aritmatika terapan. Orang tuanya ikut mendukung minat Einstein dalam matematika. Ia membelikan buku-buku teks sehingga ia bisa menguasai pelajaran angka-angka selama liburan musim panas.
2) Thomas Alfa Edison, ia belajar bagaimana cara menemukan lampu. Sebelum lampu pertamanya menyala ia melakukan 5000 eksperimen yang selalu berakhir dengan kegagalan. Namun cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah positive dan tahan banting, ini membawanya kepada kreativitas tingkat tinggi.
3) Isaac Newton, lahir di Woolsthorpe- Lincolnshire,Inggris. Ia adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi, filsuf alam, alkimiwan, dan teolog yang berasal dari Inggris. Ayahnya yang juga bernama Isaac Newton meninggal tiga bulan sebelum kelahiran Newton. Newton dilahirkan secara prematur; Ketika Newton berumur tiga tahun, ibunya menikah kembali dan meninggalkan Newton di bawah asuhan neneknya.
Newton memulai sekolah saat tinggal bersama neneknya di desa dan kemudian dikirimkan ke sekolah bahasa di daerah Grantham dimana dia akhirnya menjadi anak terpandai di sekolahnya. Saat bersekolah di Grantham dia tinggal di-kost milik apoteker lokal (William Clarke). Sebelum meneruskan kuliah di Universitas Cambridge (usia 19), Newton sempat menjalin kasih dengan adik angkat William Clarke, Anne Storer. Namun Newton memfokuskan dirinya pada pelajaran dan kisah cintanya menjadi semakin tidak menentu/ putus.
Keluarganya mengeluarkan Newton dari sekolah dengan alasan agar dia menjadi petani saja, bagaimanapun Newton tidak menyukai pekerjaan barunya. Kepala sekolah King's School kemudian meyakinkan ibunya untuk mengirim Newton kembali ke sekolah sehingga ia dapat menamatkan pendidikannya. Newton dapat menamatkan sekolah pada usia 18 tahun dengan nilai yang memuaskan.
Newton diterima di Trinity College Universitas Cambridge (sebagai mahasiswa yang belajar sambil bekerja untuk mengatasi masalah keuangannya). Pada saat itu, kurikulum universitas didasarkan pada ajaran Aristoteles, namun Newton lebih memilih untuk membaca gagasan-gagasan filsuf modern yang lebih maju seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Ia kemudian menemukan teorema binomial umum dan mulai mengembangkan teori matematika yang pada akhirnya berkembang menjadi kalkulus.
4) Charles Darwin lahir tanggal 12 Februari 1809 di Shropshire, Inggris. Ia anak ke lima Robert Waring Darwin. Ia belajar sesuai dengan kurikulum berbahasa Yunani Klasik. Ia tidak memperlihatkan prestasi yang banyak secara akademik. Kemudian ia mengambil jurusan kedokteran tetapi tidak banyak memperoleh kemajuan. Untuk itu ia melakukan usaha lain agar bisa maju. Ayahnya menyarahkan Darwin untuk menjadi pendeta dan belajar di Christ's College untuk belajar teologi. Tetapi ia juga tidak memperoleh kemajuan, ia malah senang berburu dan permainan menembak.
Ternyata Darwin mempunyai minat dalam mengkoleksi tanaman, serangga, dan benda-benda geologi. Ia tertarik dengan bakat berburu sepupunya William Darwin. Darwin mengembangkan minatnya dalam serangga dan spesies langka. Naluri ilmiah Darwin didorong oleh Alan Sedgewick, seorang ahli bumi, dan juga didorong oleh John Stevens Henslow, seorang professor botany. Darwin kemudian menjadi naturalist (pencinta alam) dan ikut melakukan ekspedisi dengan HMS Beagle. Tim ekspedisi HMS Beagle berlayar dan mengunjungi banyak negeri di lautan Pasifik Selatan sebelum kembali ke Inggris melalui Tanjung Harapan Baik di Afrika Selatan, dalam rangka mengelilingi dunia.
Darwin juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Thomas Malthus, dengan bukunya “Essay on the Principle of PopulationI”. Buku tersebut mengatakan bahwa populasi seharusnya bertambah sesuai dengan batas persediaan makanan, kalau tidak maka akan terjadi persaingan untuk memperebutkan makanan. Setelah membaca buku ini, Darwin memfokuskan teorinya bahwa “the diversity of species centered on the gaining of food - food being necessary both to survive and to breed”- semua jenis spesies terfokus dalam memenuhi kebutuhan makanan dan makanan berguna untuk kelangsungan hidup dan untuk berkembang biak.
Dari paparan di atas terlihat bahwa sukses seorang ilmuwan berskala dunia tidak jatuh dari langit, atau diperoleh saat kelahirannya. Kesukses sebagai ilmuwan diperoleh melalui proses kreatif (belajar kreatif) selama hidupnya.
Tidak semua orang memiliki kemampuan berganda yang hebat, Einstein misalnya pada masa kecil tidak beruntung dengan kemampuan bahasanya, namun ia mengembangkan kemampuan yang lain. Einstein bisa melejit pada bidang matematika. Bagi kita, mungkin bisa melejit pada bidang olah raga, musik, organisasi atau pada bidang lain.
Kesuksesan seorang anak juga akan terbentuk dengan dukungan orang tua seperti yang dialami Einstein, atau dukungan tokoh lain seperti yang dialami oleh Darwin. tidak mungkin seseorang bisa sukses untuk skala nasional, apalagi untuk skala internasional kalau mereka tidak betah membaca. Newton membaca gagasan-gagasan filsuf seperti Descartes dan astronom seperti Copernicus, Galileo, dan Kepler. Darwin dipengaruhi oleh pemikiran (buku) Thomas Malthus, nah bagaimana dengan anda ? Orang bisa sukses karena memiliki karakter tidak mudah putus asa, Thomas Alfa Edison, misalnya, sangat tahan banting dan tidak suka mengeluh. Sebelum menemui sebuah lampu pijar yang bisa menyala, ia harus melakukn 5 000 kali eksperimen di bengkel milik ayahnya.
Bagaimana proses belajar kreatif para ilmuwan berskala internasional ? Cukup simple yaitu miliki suatu bakat atau minat dalam bidang ilmu (misal dalam seni, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, dll), kemudian kembangkan minat tersebut dengan belajar keras dan lakukan otodidak. Mintalah dukungan dari orang terdekat, termasuk guru. Miliki karakter yang tahan banting (tidak suka putus asa dan mengeluh), miliki minat dan kesenangan membaca yang mendalam untuk mnambah wawasan. Untuk sukses maka diperlukan puluhan, ratusan atau ribuan kali latihan.

17. Mengapa Nama Kartini Jadi Besar

Sejak dulu sampai sekarang gaya kepemimpinan orang tua di rumah sangat mempengaruhi kualitas SDM sang anak. Secara umum ada gaya orang tua yang demokrasi (selalu bertukar pikiran dengan take and give). Ada orang tua yang laizess faire atau berkarakter masa bodoh, dan orang tua yang otoriter- yang selalu merasa menang sendiri.
Pembelajaran di zaman kuno yang miskin dengan fasilitas, lingkungan yang otoriter sangat lumrah membuat banyak orang jadi tertindas. Bila ada yang mampu dan maju pribadinya, maka ia perlu dijadikan sebagai model dalam kehidupan. Memang ada, dia adalah Raden Ajeng Kartini. Ia hidup dalam zaman pembelengguan/ pingitan atas kaum perempuan. Perempuan hanya layak sebagai tukang jaga dapur. Namun Kartini berjuang untuk bangkit, maju dan berusaha agar kaum perempuan juga jadi maju dan tidak dilecehkan oleh kaum pria sepanjang masa.
Kisah perjuangan Kartini menginspirasi kaum perempuan agar bangkit menjadi cerdas- punya emansipasi/ hal azazi yang layak - dapat dibaca dalam kumpulan tulisannya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang- Door Duisternis Tot Licht”. Untuk mengingat jasanya maka Komposer menciptakan lagu “Ibu Kita Kartini”. Sejak lagu ini diciptakan sampai sekarang lagu ini dinyanyikan oleh banyak siswa di berbagai sekolah, lebih lebih dalam bulan April, karena hari lahir Kartini tanggal 21 April, maka lagu “Ibu Kita Kartini” makin bergema.
Juga untuk merayakan hari Kartni sebagai lambang perjuangan kaum perempuan untuk memperoleh hak azazi, nuansa lomba berkebaya dan bersanggul ala Kartini digelar di mana-mana. Sebuah refleksi untuk direnungkan bahwa “apakah Ibu Kartini memang butuh nyanyian dan butuh lomba bersanggul dan berkebaya seperti itu? Apakah kartini memang hanya mengajarkan kaumnya untuk pintar bersanggul, berkebaya dan bernyanyi, atau apakah ini yang dinamakan sebagai pemodelan atas karakter Kartini ?. Yang anggun jalannya, elok wajah, sanggul dan kebayanya adalah pemenang. Apakah yang begini yang patut diberi “Kartini Award” ?. Ada baiknya kaum perempuan kembali melakukan flash back (kilas balik) atas kehidupan Kartini.
Raden Ajeng Kartini lahir pada tahun 1879 di kota Rembang. Ia anak salah seorang bangsawan, masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk menikah. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah yang ditemani Simbok (pembantunya).
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan Indonesia. Perempuan tidak hanya di dapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman perempuannya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tidak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkan Kartini tidak sempat dimanfaatkannya karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah perempuan. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Perempuan di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “Door Duisternis Tot Licht” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Raden Ajeng Kartini sudah lama meninggalkan kaumnya namun ide, fikiran dan cita-citanya tentu selalu relevan dengan zaman sekarang. Namun bagaimana realita perempuan sekarang kalau kita rujuk kepada pribadi Raden Ajeng Kartini ?.
Umumnya perempuan sekarang memang sudah banyak yang memperoleh pendidikan. Ada yang memperoleh emansipasi dan pendidikan tinggi. Namun sebahagian besar baru sebatas bisa membaca (melek huruf) dan sebatas bisa berhitung (melek angka) dengan cita-cita masih yang kerdil atau tidak memiliki cita-cita sama sekali, karena bingung dengan kondisi masa depan. Pribadi mereka pun banyak yang masih rapuh- mudah putus asa. Ada yang terlalu manja dan terlalu cengeng.
Beberapa karakter mereka yang lain yang perlu dikritik karena begitu kontra dengan karakter kartini. Yaitu gaya hidup hedonisme (terlalu memuja kemewahan dan kesenangan hidup) dan konsumerisme. Gejala-gejala ini sudah terlihat sejak kaum perempuan duduk di bangku SLTA, menjadi Mahasiswa dan setelah dewsa kelak. Agaknya Kartini tetap senang melihat kaumnnya menjadi cantik, namun ia akan gerah bila melihat para perempuan yang pemalas- malah bergerak, malas belajar, malas bekerja, banyak menggantungkan hidup pada orang tua, kakak atau terlalu menunggu komando dari suami. Karakter yang ideal dengan harapan Kartini- sesuai dengan kodrat perempuan timur/ perempuan Indonesia adalah seperti karakter yang terdapat dalam uraian singkat tentang Kartini tadi.
Bahwa Kartini tahu dengan adat istiadat dan tidak memungut adat/budaya luar tanpa filter- adat yang menjunjung tinggi etiket (tata krama berpakaian, berbicara, bersikap) tanpa harus memungut gaya hidup yang glamour hingga lupa diri. Kartini takut dianggap sebagai anak durhaka (maka ia tidak mau menentang orang tua) berarti ia bersikap bijaksana dalam mengangkat harga diri.
Meskipun Kartini menikah tapi ia tidak berhenti dalam belajar. Ia masih setia mengoleksi buku (mengumpulkan buku-buku yang berkualitas) dan melakukan otodidak- belajar mandiri atau belajar sepanjang hayat (long life education). Ia melakukan korespondensi untuk bertukar fikiran dengan orang yang juga punya wawasan dan malah membuka diri untuk menguasai bahasa Asing (Bahasa Belanda).
Cukup kontra dengan kebanyakan perempuan sekarang yang hanya belajar hingga universitas atau selagi masih bersekolah. Kemudian tidak pernah menyentuh buku lagi setelah dewasa atau setelah berkeluarga sehingga fikirannya membeku atau mengristal. Maka cukup berbanding lurus kalau ibu yang berhenti belajar menciptakan keluarga/anak-anak yang juga kurang berhasil dalam bidang akademik atau kehidupan, dan lantas kemudian menuduh sekolah sebagai biang kerok kegagalan.
Buku bacaan Kartini bisa jadi buku level orang orang yang hidup di Eropa (Belanda) pada masa itu. Sebab mayoritas kartini membaca buku terbitan Belanda dan menulis buat sahabatnya J.H Abendanon juga dalam Bahasa Belanda. Ini berarti bahwa dalam usia seputar 20 tahun, tanpa pergi Les Bahasa Inggris Kartini sudah menjadikan Bahasa Internasional (Bahasa Belanda) sebagai bahasa kedua dalam hidupnya. Sekali lagi bahwa cukup kontra dengan pemuda dan pemudi sekarang yang belajar bahasa asing yang hanya sekedar mampu bercakap dan mengatakan “hello, how are you….. what is your name”, namun tidak pernah membaca dan menamatkan buku-buku berskala internasional dalam bahasa Inggris/ Perancis, bahasa Jepang atau (juga) bahasa Arab- sesuai dengan bahasa yang mereka pelajari. Mereka menguasai bahasa asing cukup sederhana saja, hanya sekedar mencari muka dan mencar nilai buat rapor dan penyenang hati orang tua.
Karakter Kartini yang lain adalah bahwa ia tidak egois dan mengutamakan diri (self-fish). Walau ia cerdas namun ia dalam usianya yang muda sudah/ dan selalu mencerdaskan kaum perempuan dengan gratis/ penuh ikhlas dalam ruangan yang sederhana- hanya ada ruangan dengan bangku dan papan tulis- inilah disebut dengan sekolah kartini. Saat itu ia menjadi perempuan ternama karena usahanya, namun ia tetap rendah hati, dan tidak sombong.
Zaman begitu cepat berlalu, produk teknologi dan ICT saling berpacu. Tayangan program media cetak dan media elektronik dari berbagai stasiun televisi bukan membuat orang makin kenal dan akrab dengan Kartini. Apalagi nama, ide dan pemikiran Kartini jarang disinggung dan dikupas. Ini membuat sosok Kartini nyaris terlupakan kecuali hanya sekedar nyanyian “Ibu kita Kartini” yang dengan setia masih dilantun oleh anak-anak SD sambil berlarian atau hanya sekedar upacara seremonial tiap tanggal 21 April untuk memperebutkan kontes perempuan anggun dengan kebaya dan dan sanggul indah.
Terus terang pakaian kebaya dan sanggul yang besar tidak ada artinya apabila karakter hidup kontestan dan kaum perempuan yang lain sangat kontra dengan pribadi, prilaku atau karkter Kartini. Sebelum Kartini nyaris terlupakan maka buru burulah mencari biografi Kartini, temui hikmah darinya dan ikuti suri teladannya- jadikanlah gaya hidup Kartini sebagai gaya hidup kaum perempuan Indonesia kembali.





18. Gaya Belajar Bung Karno

Semua orang yakin bahwa belajar adalah cara yang jitu untuk mengubah hidup. Belajar mengubah seseorang menjadi lebih cerdas dan lebih berkualitas. Belajar bisa membuat seseorang menjadi kaya dalam pengalaman atau dalam finansial. Oleh karena itu banyak orang memandang belajar sebagai investasi untuk meraih masa depan.
Belajar dengan sarana lengkap dan moderen bisa membuat seseorang jadi sukses, itu adalah hal yang biasa. Namun belajar dengan suasana bersahaja, dukungan lingkungan juga bersahaja namun oleh prakarsa dan proses kreatifitas yang dilakukan hingga menghasilkan kesuksesan yang luar biasa. Ini baru namanya suatu hal yang hebat. Itulah yang dilakukan oleh tokoh tokoh hebat dalam sejarah dunia, seperti Abraham Lincoln (presiden pertama Amerika Serikat), Thomas Alfa Edison (penemu listrik), Albert Einstein (Ahli Fisika), Bung Karno (Presiden pertama Indonesia), dan beberapa tokoh besar lainnya. Mereka menjadi tokoh besar bukan diperoleh secara kebetulan, tetapi diperoleh melalui proses kreatif yang selalu mereka lakukan, dan proses kreatif yang sudah menjadi gaya hidup mereka.
Banyak pelajar sekarang yang belum mengenal bagaimana proses belajar yang hebat itu. Paling sering mereka hanya terbiasa belajar karena selalu diberi komando dalam belajar oleh orang tua dan guru. Atau mereka pergi ke pusat Bimbel (bimbingan belajar) atau pergi belajar ke rumah guru agar jadi pintar. Di pusat bimbinan belajar atau di rumah guru merekapun hanya sebatas mengolah soal soal ujian matematika, fisika, kimia, biologi, dan bahasa Inggris, pokoknya pelajaran yang menjadi acuan dalam ujian nasional. Namun apakah ini yang dinamakan sebagai proses belajar yang kreatif ?
Belajar sebagaimana yang digambarkan di atas baru hanya sebahagian kecil dari proses belajar, hanya sekedar menguasai konsep, dan belum lagi disebut sebagai belajar yang sejati. Untuk melakukan proses belajar yang hakiki atau belajar yang sejati maka kita bisa mengambil cermin diri dari tokoh sejarah, misal bagaimana Presiden Sukarno (Bung Karno) pada waktu kecil belajar dan melakukan proses kreatifitas yang lain (?).
Membaca adalah kebiasaan positif yang selalu dilakukan Bung Karno sejak kecil. Apa alasan mengapa Bung Karno harus gemar membaca, rajin belajar dan belajar tentang segala sesuatu ? Didorong oleh ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, maka Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius dalam belajar. Ketika belajar di HBS- Hoogere Burger School Surabaya, dari 300 murid yang ada dan hanya 20 murid saja yang pribumi (satu di antaranya adalah Bung Karno) yang sulit menarik simpati teman-teman sekelas. Mereka memandang rendah kepada anak pribumi sebagai anak kampungan. Namun Bung Karno adalah murid yang hebat sehingga satu atau dua guru menaruh rasa simpati padanya.
Rasa simpati gurunya, membuat Bung Karno bisa memperoleh fasilitas yang lebih untuk “mengacak-acak atau memanfaatkan” perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Umumnya buku ditulis dalam bahasa Belanda. Problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya (membaca buku yang ditulis dalam bahasa Belanda). Entah strategi apa yang ia peroleh secara kebetulan, namun Bung Karno punya jalan pintas (cara cepat) dalam menguasai bahasa Belanda. Bung karno menjadi akrab dengan noni Belanda sebagai kekasihnya. Berkomunikasi langsung dalam bahasa asing (Bahasa Belanda) adalah cara praktis untuk lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu kekasih Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.
Dalam usia 16 tahun, Bung Karno fasih berbahasa dan membaca dalam Bahasa Belanda. Ia sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya dalah Thomas Jefferson dengan bukunya Declaration of Independence. Bung Karno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln, mereka adalah tokoh hebat dari Amerika Serikat. Tokoh pemikir bangsa lain adalah seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Bung Karno juga mempelajari ‘Gerakan Buruh Inggris” dari tokoh-tokoh tadi. Bung Karno juga membaca tentang Tokoh Italia, dan ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Bung Karno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Bung Karno muda untuk menjadi maju dan smart.
Penelusuran atas dokumen barang-barang milik Bung Karno di Istana Negara, yang diinventarisasi oleh aparat Negara yang ditemukan setelah ia digulingkan. Dari ribuan item miliknya, hampir 70 persen adalah buku. Sisanya adalah pakaian, lukisan, mata uang receh, dan pernak-pernik lainnya. Harta Bung Karno yang terbesar memang buku.
Dari biografinya (Sukarno As retold to Cindy Adams) diketahui bahwa betapa dalam setiap pengasingan dirinya, baik dari Jakarta ke Ende, dari Ende ke Bengkulu, maupun dari Bengkulu kembali ke Jakarta, maka bagian terbesar dari barang-barang bawaannya adalah buku. Semua itu, belum termasuk buku-buku yang dirampas dan dimusnahkan penguasa penjajah. Apa muara dari proses belajar sepanjang hidup yang sangat kreatif adalah mengantarkan Bung Karno menjadi Presiden yang pernah memperoleh 26 gelar Doktor Honoris Causa. Jumlah gelar doktor yang ia terima dari seluruh penjuru dunia, 26 gelar doktor HC yang rinciannya, 19 dari luar negeri, 7 dari dalam negeri. Ia memperoleh gelar doctor HC dari Far Eastern University, Manila: Universias Gadjah Mada, Yogyakarta: Universitas Berlin: Universitas Budapest: Institut Teknologi Bandung: Universitas Al Azhar, Kairo: IAIN Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta: dan universitas dari negaralain seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman Barat, Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslovakia, Turki, Polandia, Brazil, Bulgaria, Rumania, Hongaria, RPA, Bolivia, Kamboja, dan Korea Utara.
Kemudian, bagaimana masa kecil dan proses kreatifitas Bung Karno yang lain? Agaknya Bung Karno telah memiliki jiwa leadership (kepemimpinan) sejak kecil, karena apa saja yang diperbuat Bung Karno kecil, maka teman-temannya akan mengikuti. Apa saja yang diceritakan Bung Karno kecil, maka teman-teman akan patuh mendengarkannya. Oleh teman-temannya, Bung Karno bahkan dijuluki “jago”. karena gayanya yang begitu “pe de”. Itu pula yang mengakibatkan ia sering berkelahi dengan anak anak Belanda.
Ada satu karakter yang tidak berubah selama enam dasawarsa kehidupannya. Salah satunya adalah karakter pemuja seni. Ekspresinya disalurkan dengan cara mengumpulkan gambar bintang-bintang terkenal. Karena kecerdasan dan keluasan wawasannya sejak kecil maka pada usia 12 tahun, Bung Karno sudah punya gang (pasukan pengikut yang setia). Kalau Bung Karno bermain jangkrik di tengah lapangan yang berdebu, segera teman temanya mengikuti. Kalau Karno diketahui mengumpulkan prangko, mereka juga mengumpulkannya. Kalau “gang” mereka bermain panjat pohon, maka Bung Karno akan memanjat ke dahan paling tinggi. Itu artinya, ketika jatuh Bung Karno pun jatuh paling keras daripada anak-anak yang lain. Dalam segala hal, Bung Karno selalu menjadi yang pertama mencoba. “Nasib Bung Karno adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan”.
Bung karno menganut ideologi ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Saat menjadi presiden Bung Karno dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu.
Ia mengajak negara-nega-ra sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar Revolusi ini juga berhasil mengge-lorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI. Bung Karno juga memiliki slogan yang kuat yaitu “gantungkan cita-cita setinggi bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur”.
Bung Karno adalah juga orator Ulung. Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya dan latihan latihan berpidato yang ia lakukan. Ketika masih belajar Bung Karno sering berlatih berpidato sendirian di depan kaca dan juga berbicara di depan gang nya. Bung Karno juga gemar menuliskan opini-opininya dalam bentuk artikel. Kumpulan tulisannya dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Tulisanya yang lain dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya.
Apa yang dapat kita jadikan I’tibar (pembelajaran) dari uraian di atas (dari kehidupan Bung Karno) dan kita hubungkan dengan cara belajar dan gaya hidupm kita ? Bahwa membaca adalah kebiasaan positif yang perlu selalu dilakukan. Sebagaimana halnya Bung Karno membaca buku-buku berbahasa asing (bahasa Belanda). Untuk membuat bahasa asingnya lancar adalah dengan mempraktekan/menggunakan bahasa tersebut dengan orang yang mahir (pribumi maupun orang asing). Setelah lancar berbahasa asing/ bahasa Belanda, ia tidak cepat merasa puas dan berhenti belajar. Ia malah membaca biografi tokoh tokoh besar di dunia dan juga buku buku berpengaruh di dunia sehingga ia memiliki wawasan dan cara pandang yang luas.
Untuk menjadi sukses maka juga perlu punya prinsip hidup “mandiri atau berdikari (berdiri pada kaki sendiri), jangan terlaku suka untuk mencari bantuan. Kemudian juga penting untuk mengembangkan pergaulan/ teman yang banyak untuk melakukan proses bertukar fikiran. Juga penting untuk melatih jiwa pemimpin- bukan jiwa penurut, pasif atau pendengar abadi.
Selanjutnya bahwa juga penting mengembang kemampuan berbicara/ berpidato lewat latihan sendiri dan berpidato didepan kelompok. Kemampuan berbicara/ berpito perlu didukung oleh kemampun menulis, karena membuat pidatio punya kharismatik an menarik. Ini dapat dikembankan melalui latihan demi lathan. Untuk menjadi maju maka kita perlu pula memiliki keterampilan berganda (menguasai seni, olah raga, dekat dengan Manusia dan dengan Sang pencipta (Allah Azza Wajalla) serta mencari inspirasi dari tokoh hebat. Maka salah satunya gaya belajar Bung Karno juga bisa menjadi inspirasi bagi kita.

19. Barrack Obama, Pemberi Inspirasi

Hampir semua anak-anak di seluruh dunia mengenal cerita Cinderella. Cerita tentang seorang gadis yang malang dan karena keajaiban ia bisa tinggal di istana sebagai istri pangeran. Kemudian bila ada tokoh anak laki laki yang biasa-biasa saja pada waktu kecil dan setelah dewasa menjadi presiden untuk negara super power (Amerika Serikat), maka ia dapat pula dijuluki sebagai “Cinderboy”. Dan ia adalah Barrack Obama. Kalau Cinderella adalah sebuah cerita dogeng dan Cindereboy adalah sebuah kisah nyata.
Nana Andoh Amankwando, teman penulis dalam face book, dari Ghana mengatakan bahwa figure Barrack Obama telah menjadi inspirator yang hebat bagi para remaja di kampong ayahnya Kenya dan di seantaro Afrika. Kedatangannya (sebagai Presiden USA) sangat ditunggu-tunggu, memotivasi dan membangkitkan semangat para pemuda di benua Africa untuk memacu semangat menjadi maju menuju pentas dunia. Dan penulis juga mengatakan kepada temana dari Ghana tersebut bahwa sosok Barrack Obama juga menjadi motivasi dan inspirasi bagi pemuda di kawasan Asia, terutama dari Indonesia, apalagi ia sempat hidup, dan belajar di Jakarta pada masa kecilnya. Tentu saja para remaja yang ingin menggapai mimpi-mimpi yang hebatnya perlu belajar dari pengalam hebat Barrack Obama.
Barack Hussein Obama lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961 (dari ayah orang Kenya) dan Ann Dunham (wanita Amerika Kansas), bertemu ketika bersekolah di Universitas Hawaii, ayahnya belajar dengan status sebagai murid asing. Keduanya berpisah ketika Obama berusia dua tahun dan akhirnya bercerai. Ayah Obama kembali ke Kenya dan melihat anaknya untuk terakhir kalinya sebelum meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tahun 1982. Setelah bercerai, Dunham menikahi Lolo Soetoro (manager suatu perusahaan minyak, berkebangsaan Indonesia) dan keluarganya pindah ke Jakarta (1967). Obama bersekolah di SD Santo Fransiskus Asisi di Tebet selama tiga tahun, lalu pindah ke SD Negeri Menteng 1 (atau SD Besuki) di Menteng hingga berusia 10 tahun. Obama diketahui masih dapat memahami dan berbicara bahasa Indonesia secara sederhana.
Ia kembali ke Honolulu, tinggal bersama kakek dan neneknya. Ia belajar di Sekolah Punahou sejak kelas lima (1971) hingga lulus SMA (1979). Ibu Obama kembali ke Hawaii tahun 1972 selama beberapa tahun dan kemudian ke Indonesia untuk menyelesaikan kerja lapangan untuk disertasi doktoral. Ia meninggal karena kanker rahim tahun 1995. Sebagai seorang dewasa, Obama mengakui bahwa ketika SMA ia menggunakan mariyuana, kokain, dan alcohol (karena merasa broken home), ia jelaskan itu sebagai kesalahan moralnya yang terbesar.Setelah SMA, Obama belajar di Perguruan Tinggi Occidental selama dua (di Los Angeles) kemudian dipindahkan ke Universitas Columbia (New York City) kemudian ia lulus dalam bidang politik- hubungan internasional (1983).
Ia pernah bekerja di Business International Corporation dan kemudian di New York Public Interest Research Group. Obama kemudian pindah ke Chicago dan bekerja sebagai direktur Developing Communities Project (DCP), sebuah perkumpulan masyarakat berbasis gereja. Selama menjabat sebagai direktur DCP, stafnya bertambah dari satu menjadi tiga belas dan pendapatan per tahunnya meningkat (ini terjadi karena ia berhasil dengan program pelatihan kerja- pelatihan persiapan perguruan tinggi), ia juga bekerja sebagai konsultan dan instruktur untuk Gamaliel Foundation, sebuah institut perkumpulan masyarakat. Di pertengahan 1988, ia untuk pertama kalinya mengunjungi Eropa, dan Kenya untuk bertemu bertemu saudara Kenya-nya untuk pertama kalinya.
Obama masuk kuliah Hukum lagi di Universitas Harvard pada 1988. Sambil kuliah ia menulis dan sebagai editor Harvard Law Review, kemudian menjadi pimpinan editor. (walau posisi sukarela penuh waktu). Pada libur musim panas, ia kembali ke Chicago untuk bekerja sebagai associate musim panas di firma hukum Sidley & Austin (1989) dan Hopkins & Sutter (1990). Ia menyelesaikan program doctoral melalui belajar keras dan bekerja keras dengan nilai magna cum laude.
Lulus dari Harvard (1991) kembali ke Chicago. Ia terpilih sebagai presiden (pimpinan redaksi) majalah Harvard Law Review berkulit hitam pertama, ini membuat kontrak penerbitan dan pembuatan buku mengenai hubungan ras. Ia memperoleh beasiswa dari Universitas Chicago untuk membuat bukunya. Ia juga menulis memoir pribadi dan buku dengan judul Dreams from My Father.
Awal tahun 1992, Obama menjadi dosen hokum di Universitas Chicago selama dua belas tahun. Ia juga menjadi kelompok Penceramah (1992 hingga 1996) dan kemudian sebagai Penceramah Senior (1996 hingga 2004). Ia juga bergabung dengan sebuah firma hukum dengan dua belas pengacara yang berpengalaman.
Di pertengahan tahun 2002, Obama mulai melakukan kampanye menuju Senat AS. Ia aktif melakukan kampanye, ceramah dan debat dengan kontra partai atau grupnya. Ia bisa meyakinkan banyak orang dengan fakta dan argumennya. Obama berbicara mengenai perubahan prioritas ekonomi dan sosial pemerintah AS. Ia mempertanyakan Perang Irak oleh administrasi Bush dan memberii penghargaan pada tentaranya. ia mengkritik pandangan partisan terhadap elektorat dan meminta Amerika bersatu dalam perbedaan, dengan mengatakan, “Tidak ada yang namanya Amerika liberal dan Amerika konservatif; yang ada hanyalah Amerika Serikat.”
Obama dan Richard Lugar mengunjungi sebuah fasilitas perombakan misil bergerak Rusia. Ia kemudia terpilih sebagai anggota Komite Senat untuk Hubungan Luar Negeri, Obama melakukan perjalanan ke luar negeri menuju Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Tengah dan Afrika. Ia bertemu dengan Mahmoud Abbas sebelum menjadi Presiden Palestina, dan menyampaikan pidato di Universitas Nairobi yang mengkritik korupsi dalam pemerintahan Kenya.
Tanggal 10 Februari 2007, Obama mengumumkan pencalonannya untuk Presiden Amerika Serikat. Obama mengangkat masalah pengakhiran Perang Irak, meningkatkan kebebasan energi, dan menyediakan perawatan kesehatan universal. Tanggal 19 Juni, Obama menjadi kandidat presiden partai besar pertama. Terdapat tiga debat presiden antara Obama dan McCain bulan September dan Oktober 2008. Setelah debat, Obama memenangi polling nasional. Dalam pidato kemenangannya yang disampaikan di depan ratusan ribu pendukungnya di Taman Grant di Chicago, Obama menyatakan bahwa “perubahan telah tiba di Amerika.” Lahir di Hawaii, Obama akan menjadi Presiden AS pertama yang lahir di luar Daratan Amerika Serikat.
Catatan lain tentang Obama bahwa ia menjalin komunikasi dan keakraban dengan semua familinya. Waktu kecil Obama bermain ditepi pantai bersama kakeknya, StanleyArmour Dunham. Kerika tinggal di Indonesia, seperti yang ia singgung “keluarga kami tidak berkecukupan pada tahun-tahun awal itu, karena angkata bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji besar. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana, di pinggiran kota, tanpa pendingin udara, kulkas atau toilet siram. Kami tidak punya mobil. Ayah tiri saya mengendarai sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum setiap pagi ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris.” Obama bergaul dengan anak-anak tetangga seperti biasa. Justru ia cepat sekali populer, lantaran bentuk fisiknya yang lain dari anak kebanyakan. “Mainnya sama anak-anak kampung di sini seperti biasa. Yang saya ingat, dia biasa bermain gundu dan sepak bola,”
Para remaja (pelajar dan mahasiswa) di Indonesia sekarang perlu bercermin dari pengalam hebat Barrack Obama. Mereka perlu membaca biografinya dan memahami gaya belajarnya hingga bisa bersinar terang. Sebagian mahasiswa kita juga ada yang melakukan pengalaman belajar yang hebat: punya pengalaman hidup yang bervariasi, belajar serius dan aktif berorganisasi. Namun jumlah mahasiswa yang begini tidak banyak. Yang ramai populasinya adalah mahasiswa dan pelajar yang santai, letoi, kuliah jauh-jauh dari rumah tanpa aktif menimba pengalaman.
Mereka pergi kuliah sebagai pendengar ceramah dosen yang pasif. Pulang kuliah duduk duduk/ kongkow atau pergi pulang untuk menyelesaikan gunjingan, main kartu sambil menghisap rokok, atau menghabiskan waktu hanya dengan menggoda lawan jenis ala anak SMA. Waktu-waktu senggang mereka isi dengan mai handphone, main facebook, pergi mejeng ke mall/ hypermarket dan jarang sekali mereka melakukan debat serius/ debat formal. Sampai akhirnya mereka bingung dalam menyeleaikan skripsi atau Tugas Akhir. Kelak bila selesai kuliah dan wisuda tiba tiba menjadi bingung hendak mau bekerja dimana. Fenomena mereka sangat kontra dengan gaya belajar Barrack Obama dan para pemuda/ mahasiswa di seberang sana (ngara maju).
Barrack Obama bisa berhasil bukan karena factor kebetulan, atau factor keberuntungan. Jauh-jauh hari sejak kecil ia telah memiliki pengalaman hidup yang bervariasi- telah melakukan perjalan antar Negara, Amerika dan Indonesia. (Remaja kita seharusnya jangan banyak mengurung diri dalam rumah, tetapi juga harus banyak melakukan penjelajahan). Ia melakukan interaksi dengan banyak manusia secara aktif/ secara langsung. Orang tuanya memberi kebebasan untuk melakukan banyak pengalaman positif bersama teman budaya. Ia adalah juga pelajar yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, seni dan olah raga. Liburan kuliah/ sekolah digunakan untuk mencari pengalaman kerja dan mobilitas sosialnya sangat tinggi.
Obama juga peka dengan masalah kemanusiaan dan opininya sering ditulis, disampaikan dalam ceramah yang ia lakukan. Ia juga senang melakukan debat untuk menguji kemampuan logikanya. Ia juga mengasah kemampuan menulis- ia menulis memoir dan bekerja di penerbitan majalah. Ia juga jeli membaca peluang kerja dan bergabung dengan assosiasi dan bekerja dengan professional. Kemapuan berbicara, berdebat dan berpidatonya dan ditambah dengan pengalaman bergaulnya yang sangat luas membuatnya menjadi figure simpatik bagi kalangan orang berkulit berwarna di Amerika Serikat. Karakternya tidak kaku dan wawasannya luas.
Hal di ataslah yang mengantarkannya bisa menjadi senator dan selanjutnya menjadi President of USA yang ke 44 yang berasal dari warga kulit hitam dan yang berasal dari luar daratan Amerika, yaitu Hawaii. Sekali lagi bahwa terpilihnya Barrack Obama menjadi presiden termuda dan berkulit hitam telah mengilhami (member inspirasi) banyak orang terutama para kaum muda/ remaja di tiga benua yaitu Africa (Dimana ayahnya bearsal dari Kenya), Asia atau Indonesia (tempat masa kecilnya bersama ibu dan bapak tirinya), dan Amerika sebagaimana ia menjadi inspirtor bagi orang amerika non kulit putih. Kini pungutlah pengalaman hebat Barrack Obama untuk menggapai mimpi di masa depan.

20. Menjadi Pengusaha

Orang Minang (di daerah lain disebut dengan orang Padang) sejak dahulu dikenal sebagai suku bangsa yang gemar merantau. Mereka meninggalkan sanak dan saudara serta sawah dan ladang, Fenomena merantau telah membuat kampung halaman menjadi sepi, rumah-rumah menjadi kosong, sebagian hanya dihuni oleh orang-orang tua saja. Motivasi merantau adalah untuk memperbaiki taraf hidup. Dan memang terbukti bahwa mereka yang hidup di rantau, setelah memutar kincir-kincir (mengolah fikiran) dan menambah semangat kerja (endeavour) bisa hidup lebih sukses daripada mereka yang tinggal di kampung.
Merantau karena melanjutkan pendidikan sudah menjadi hal yang lazim. Suku bangsa lain juga demikian. Namun merantau untuk mengubah nasib, dari susah menjadi sukses, patut diteladani oleh orang-orang dan generasi lain. Umumnya orang-orang dulu melirik profesi berdagang agar bisa mengubah nasib mereka, Malah juga banyak yang menjadi pengusaha sukses. “Se mati-mati aka mambuka lapau nasi- sehabis-habisnya akal atau peluang ya membuat warung nasi”, demikian prinsip hidup mereka, sehingga tidak heran bahwa di mana-mana bermunculan restoran Padang.
Menjadi PNS (pegawai negeri sipil) saat itu dipandang sebagai pekerjaan di bawah standard. Malah ada orang yang sudah terlanjur menjadi pegawai mengundurkan diri dan putar haluan untuk berdagang atau menjadi penguasaha. Namun bagaimana sekarang ? Nah itulah problemanya bahwa mental berdagang, menjadi penguasaha atau berwirausaha hampir-hampir sirna dari mental generasi ini. Semua seolah olah memiliki mental kurang berani dan hanya pandai bermimpi untuk menjadi pegawai- PNS, BUMN dan pegawai swasta. Padahal dari fenomena terlihat bahwa menjadi PNS, BUMN dan pegawai swasta pintunya tidak terbuka lebar lagi.
Menjadi pegawai tidak begitu berdampak signifikan membuat bangsa ini maju, dibanding menjadi seorang pengusaha. Bukankah sebahagian anggaran Negara dihabiskan untuk membiayai jumlah pegawai pemerintah yang sangat banyak. Bayangkan pegawai pemalas, pegawai yang kurang efektif juga digaji. Seharusnya generasi muda perlu menumbuhkan semangat wirausaha agar tidak hidup dari anggaran Negara. Mereka perlu membaca biografi penguasaha sukses untuk menambah motivasi hidup.
Siapa yang tidak kenal dengan nama Hilton. Di tiap-tiap kota besar, kita dapat menemui kata “Hilton”. Kata Hilton biasanya dihubungkan dengan dunia parawisata, tepatnya untuk nama jaringan atau assosiasi hotel berskala internasional. Sebenarnya ada apa dibalik nama Hilton tersebut ?
Hilton adalah tokoh bisnis terkemuka di dunia, ia berasal dari San Antonio, New Mexico. Ia anak kedua dari delapan bersaudara, dan anak lelaki pertama. Ayahnya, Augustus Hover, adalah pengusaha tambang dan mengerti dengan kebutuhan para penambang batu bara dan orang-orang yang bepergian pulang-balik melintasi perbatasan Mexico. Itu adalah peluang bisnis dan mendorong nya untuk membangun toko serba-ada (depatement store) untuk menyediakan kebutuhan masyarakat.
Ketika ia meninggal dalam usia 91, Hilton memimpin 185 hotel di Amerika Serikat dan 75 di seberang lautan. Hilton punya karakter bahwa sebelum mengambil keputusan-keputusan yang penting, maka ia perlu berhari-hari meneliti dan menimbang-nimbang segala implikasinya dan mempelajari segala sesuatu. Ia juga membangun rumah dengan banyak kamar untuk disewakan bagi orang-orang yang butuh tempat bermalam, ia menyebut tempat atau rumah tersebut dengan “hotel”. Jadi keluarga Hilton mempunyai toko dan hotel.
Usia anak-anak hingga remaja adalah masa kerja keras bagi Hilton. Ibu dan saudara-saudara perempuannya mengurusi hotelnya sendiri sedangkan dia dan ayahnya tetap bekerja di toko. Tetapi begitu toko tutup pada pukul 6 sore, Hilton makan malam sedikit, dan langsung tidur.
Orangtuanya dan keluarganya selalu bekerja keras. Yang membuat mereka berhasil (kaya) adalah karena mereka juga membuka usaha dalam bidang real estate, membeli tanah untuk membangun rumah. Prinsip hidup Hilton adalah seperti “tunjukkan sikap hormat kepada siapa saja yang anda hadapi dan dan member jawaban dengan keramahan”. Walaupun sibuk, Hilton masih mempunyai waktu untuk menikmati hidup dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya di rumahnya. Hilton juga menghormati tradisi masyarakat setempat. Hilton adalah salah satu tokoh usahawan internasional yang berhasil dan terkenal. Kemudian contoh tokoh wirausaha dari dalam negeri adalah seperti Yusuf Kalla.
Muhammad Jusuf Kalla lahir di Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 1942. Ia menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1967 dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977). Pengalamannya dalam bidang organisasi adalah seperti menjadi Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969 memberi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit tersebut.
Yusuf Kalla berasal dari keluarga wirausaha. Ayahnya dikenal luas oleh dunia usaha sebagai pengusaha sukses. Usaha-usaha yang dirintis ayahnya (NV. Hadji Kalla) diserahkan kepemimpinannya sesaat setelah ia diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar Akhir Tahun 1967. Di samping menjadi Managing Director NV. Hadji Kalla, juga menjadi Direktur Utama PT Bumi Karsa dan PT Bukaka Teknik Utama. Usaha yang digelutinya, di samping usaha lama,seperti ekspor hasil bumi, juga mengembangkan usaha yang penuh idealisme, yakni pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi. Usaha ini berguna untuk mendorong produktivitas masyarakat pertanian.
Anak perusahaan NV. Hadji Kalla antara lain; PT Bumi Karsa (bidang konstruksi) dikenal sebagai kontraktor pembangunan jalan raya trans Sulawesi, irigasi di Sulsel, dan Sultra, jembatan-jembatan, dan lain-lain. PT Bukaka Teknik Utama didirikan untuk rekayasa industri dan dikenal sebagai pelopor pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) dan gangway (garbarata) di Bandara, dan sejumlah anak perusahaan di bidang perumahan (real estate); transportasi, agrobisnis dan agroindustri.
Bob Sadino adalah contoh wirausahawan yang berhasil lainnya. Ia lahir di Lampung (1933). Bob adalah seorang pengusaha yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira banyak orang. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Di saat melakukan sesuatu maka pikiran seseorang bisa berkembang. Rencana tidak harus selalu baku dan kaku. Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting adalah bertindak.”
Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya. Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta.
Hilangnya semangat menjadi usawan membuat banyak generasi muda di negara kita bermimpi (berharap) untuk bekerja sebagai PNS, anggota polisi dan TNI, menjagi pegawai BUMN dan swasta, hingga menjadi pelayan toko. Walaun negara kita luas dan banyak laut, jarang sekali yang bermimpi untuk menjadi pengusaha kapal, ekspor-import atau wira usaha lainnya. Sekarang ada fenomena bahwa bila gagal menjadi PNS, pegawai BUMN dan swasta maka para lulusan perguruan tinggi rela menjadi sarjana penunggu perlombaan menjadi PNS atau pegawai lain pada tahun-tahun berikutnya. Ada pemikiran bahwa semangat wirausaha perlu dihidupkan kembali dalam keluarga dan juga bercermin dari kisah sukses pengusaha lain.
Sudah saatnya banyak orang kita yang menjadi tokoh bisnis yang sering disebut dengan “pebisnis atau wirausahawan”, dan kalau boleh menjadi pebisnis terkemuka. Untuk itu mereka musti mengerti dengan kebutuhan orang lain, seperti menyediakan kebutuhan masyarakat. Mereka perlu memiliki karakter wirausaha, seperti “membuat pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan”. Mereka perlu menanamkan karakter suka mengambil tanggung jawab/ bekerja keras sejak masa anak-anak / remaja.
Tentu saja orang tua (kalau boleh juga guru mereka) perlu menjadi model dari pekerja yang sungguh-sungguh. Calon wirausahawan tentu saja musti cerdas (banyak belajar) dan banyak wawasan (banyak pengalaman). Mereka musti mengikuti kegiatan berorganisasi, kalau boleh mengambil peran leadership- sebagai pemimpin,
Calon wirausahawan sebaiknya suka melakukan kegiatan/ tindakan dan bukan terlalu banyak berteori. Menjadi wirausahawan tidak boleh berkarakter gengsi-gengsian dalam bekerja, harus bisa menyinsing lengan baju dan harus bisa menyentuh benda-benda yang dipandang hina, seperti pasir, batu, lumpur,rumput, mencangkul, berlumuran debu. Mereka musti memiliki fikiran kreatif, gemar bekerja/berkarya, kemudian punya visi untuk pemasaran atau human relation. Calon wirausaha juga harus banyak menimba ilmu dan pengalaman bisnis dari orang/ usahawan (pebisnis) yang lain.
Di Singapura, Hongkong, Jepang dan negara-negara maju lainnya, di sana jumlah wirausahanya sangat banyak. Maka bila negeri ini memiliki wirausahawan yang lebih banyak seperti di negara tersebut maka insyaallah bangsa ini akan lebih jaya.

21. Ilmuwan Hebat Pembangun Peradaban Dunia

Dari zaman -500 sampai 1500 setelah masehi ada lebih kurang 26 ilmuwan hebat yang telah memberikan kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seperti filsafat, fisika, astronomi, matematika, biologi/ ilmu alam dan kedokteran. Mereka berasal dari Yunani, Roma, Cina, India, Turkey, Arab, Persia dan Inggris. Namun negara atau bangsa yang paling banyak menyumbang tokoh ilmuwan adalah Yunani (Greek) dan Islam (Arab, Persia dan Kordoba/Spanyol). Mereka semua adalah para ilmuwan yang hebat yang berjasa dalam membangun pilar ilmu dan peradaban dunia.
Ilmuwan dari Yunani adalah seperti Pythagoras, Hippocrates, Aristocrates, Euclid, Archimedes, Eratosthenes, Hipparchus, Ptolemy, Galen, dan Diophant. Sementara tokoh hebat dari Islam (Arab, Persia dan Spanyol) adalah seperti Al-Kindi, Al-Karismi, Al-Rasi, Al-Battani, Ibnu Sina, Al-Hassan, Abu Kasim, Al-Biruni, dan Al-Khayyami. Berikut profil mereka secara sekilas.
1. Ilmuwan dari Yunani
Pythagoras terkenal sebagai tokoh filsafat dan matematik. Ia menemukan teori matematik yang dikenal dengan “Teorema Pytagoras” yang menyatakan bahwa “kuadrat sisi miring pada segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kedua sisi lainnya”. Ia mengatakan bahwa susunan dunia ini dapat dipahami dengan bantuan matematika, fisika, akoustik dan astronomi.
Hippocrates dikenal sebagai “Bapak Kedokteran”. Ia mengatakan bahwa penyakit merupakan kasus dalam alam. Kemudian Aristocrates, ia adalah ahli astronomi pertama dan menyatakan bahwa bumi melakukan rotasi dan bumi bukanlah pusat jagat raya. Ia menulis buku tentang “jarak, ukuran bulan dan matahari”.
Euclid menulis buku klasik tentang “unsur”, yaitu kumpulan dari teorema geometri yang menjadi buku standar dan dipakai selama 2000 tahun atau 20 abad- luar biasa….!. Ia menemukan bilangan prima, yaitu bilangan yang tidak bisa dibagi kecuali dengan bilangan itu sendiri dan angka satu.
Archimedes adalah penemu matematik Yunani paling banyak menemukan teori atau ilmu. Ia menemukan kalkulus, hukum lever and of pulleys. Ia menemukan mesin perang, water screw, dan prinsip hukum Archimedes. Ia menemukan katapel dan cermin untuk memfokuskan sinar matahari.
Eratosthenes adalah sarjana sejarah alam, matematik dan geografi. Ia menghitung lingkaran bumi dengan tepat berdasarkan perbedaan sudut sinar matahari yang jatuh pada dua kota yang jaraknya 500 mil. Ia mengasumsikan bahwa jarak matahari menjadi begitu besar sehingga sinar praktis sejajar ketika mereka mencapai bumi.
Hipparchus adalah sarjana astronomi yang pertama kali melukis tentang katalog bintang. Ia juga menemukan trigonometri. Dia menemukan bahwa sementara bujur langit sedikit meningkat maka garis lintang tidak berubah.
Ptolemeus, ia melakukan observasi astronomi di Alexandria, Mesir. Dia mendirikan sistem astronomi matematika yang dipakai sampai abad ke-16. Ptolemeus menulis tentang geometri, sebuah risalah (lima-buku) tentang fenomena optik, sebuah risalah (tiga-buku) tentang musik, dan delapan buku teks geografis dan peta. Di dalamnya ia salah tafsir tentang ukuran laut, kesalahan ini yang kemudian mendorong Columbus melakukan pelayaran yang terkenal itu.
Galen, ia adalah seorang ahli anatomi dan fisiologi dan ahli medis yang paling berpengaruh sepanjang masa. Posisinya sebagai otoritas utama dalam teori medis dikenal selama seribu empat ratus tahun. Ia menemukan bahwa arteri berisi darah. Galen menulis lebih dari 400 buku dan pengaruhnya terhadap teori medis cukup dominan selama Abad Pertengahan.
Diophant, ia mengembangkan rumus-rumus matematika untuk perhitungan persamaan dan ia menulis buku pelajaran tentang aritmatika. Dari 13 buku karya utamanya “Arithemtica” hanya enam bertahan lama. Buku “Arithemtica” sebagian besar berbicara tentang aljabar. Diophantus adalah orang pertama yang memperkenalkan simbolisme dalam aljabar Yunani.
2. Ilmuwan dari dunia Islam
Al-Kindi berasal dari Iraq. Ia adalah seorang ahli filsafat sekaligus juga ahli matematika, astronomi, optik, kedokteran, musik dan psikologi. Selain itu ia bekerja sebagai ahli kimia, ahli kacamata, dan teori musik. Al-Kindi berpendapat bahwa logam dasar tidak dapat dikonversi menjadi logam mulia. Dia juga meneliti pada aspek ilmiah dari musik. Dia menyatakan bahwa saat suara dihasilkan maka gelombang di udara juga terbentuk. Dia membuat sumbangan penting bagi sistem angka Arab dan memberikan dasar bagi aritmatika modern.
Al-Karismi, juga sering disebut Al-Khwarizmi. Ia berasal dari Baghdad selama masa keemasan pertama dalam ilmu pengetahuan Islam. Al-Karismi mengembangkan sistem desimal dengan menggunakan gagasan India nol, dan ia menemukan istilah aljabar. Istilah algoritma '' berasal dari judul bukunya tentang angka Hindu-Arab. Karya-karyanya berperan penting dalam memperkenalkan mata pelajaran aljabar dan angka-angka Hindu ke dalam matematika Eropa.
Al-Rasi lahir di Teheran. Dia adalah ahli tak terbantahkan tentang obat hingga abad ketujuh belas. karya aslinya tentang cacar, campak dan penyakit menular masih dikutip oleh buku modern. Al-Rasi adalah orang pertama yang memperkenalkan penggunaan alkohol (Al-Kuhl) untuk tujuan medis. Dia juga seorang dokter bedah dan ahli pertama yang menggunakan opium untuk anestesi. Sebagai direktur rumah sakit dia menulis dalam bahasa Arab paling lengkap tentang ensiklopedi obat. Al-Rasi juga dikenal sebagai seorang filsuf dan ia mengembangkan teori atom dari filosof Yunani Democritus.
Al-Battani lahir di daerah Turki dan tinggal di Suriah, di mana ia melakukan pengamatan astronomi. Sebagai seorang ahli matematik. Dia juga menemukan perhitungan atas fungsi sinus..
Ibn Sina yang paling terkenal dari filsuf-ilmuwan Islam. Ibnu lahir di Bukhara sebuah kota terkemuka di Persia. Masa mudanya dihabiskan untuk belajar dan observasi sampai akhirnya ia memahami banyak ilmu pengetahuan dan seni. Ibnu Sina mengumpulkan lebih dari 100 buku tentang pengetahuan ilmiah, dan ia disebut sebagai "Prince of Science". Dia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Hamadan, di mana ia menyusun “Canon of Medicine", yang merupakan salah satu buku paling terkenal dalam sejarah obat-obatan.
Al-Hassan, dia lahir di Basra, Irak dan meninggal di Kairo. Dia adalah salah seorang fisikawan paling terkemuka dan ia membuat kontribusi penting dalam membuat teori optik sejak zaman Ptolemeus pada abad kedua Masehi. Dia membuat studi tentang optik, fisika dan astronomi, dan ia adalah orang pertama yang mengenali saraf optik di mata manusia.
Abu Kasim adalah seorang dokter di Cordoba, Spanyol, dan ia dianggap sebagai “Bapak Bedah Modern”. Abu Kasim adalah dokter paling terkenal pada masanya dan dia mengobat banyak pasien dari seluruh Eropa. Ia mengenal beberapa terobosan asli dalam bidang operasi, sebagai penemu beberapa instrumen bedah, dan terkenal karena menulis Ensiklopedia Medis. Dia bekerja dalam pembedahan dengan menggunakan makhluk hidup (binatang) untuk penelitiannya, dan menulis sebuah buku teks standar tentang operasi (bedah) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan banyak bahasa Eropa lainnya.
Al-Biruni, ia adalah salah satu ilmuwan yang paling terkenal dan ia juga berkorespondensi dengan Filosof besar, Ibnu Sina. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ghazni, Afghanistan. Pada tahun 1017 ia pergi ke India. Ia fasih dalam bahasa Turki, Persia, Sansekerta, Ibrani dan Arab. Al-Biruni menjadi penterjemah yang paling penting dari ilmu Islam di India. Dalam karya-karya tentang astronomi dia mendiskusikan tentang teori rotasi bumi pada porosnya. Dia sangat maju dalam bidang fisika yaitu hukum hidrostatik dan geografi. Ia memiliki pandangan visioner dan mengatakan bahwa lembah Indus pernah menjadi cekungan laut.
Al-Khayyami atau Omar Al-Khayyam adalah seorang astronom, matematikawan, dan filsuf dari Persia. Ia bekerja di istana Sultan Seljuk Turki. Berdasarkan pengamatan astronominya Al-Khayyam menciptakan kalender yang paling tepat sampai saat itu. Ia mengembangkan sebuah metode untuk solusi persamaan berdasarkan geometri dan ia memberikan kontribusi besar dalam bidang matematika, terutama di Aljabar. Di Barat, ia terkenal karena karya puitisnya “Rubaiyat” yang diterjemahkan oleh Edward Fitzgerald pada 1859. Meskipun seorang Muslim saleh, di kemudian hari, ia mengembangkan filsafat berpikir bebas.
3. Ilmuwan Hebat Lain
Ilmuwan hebat lain yang berjasa dalam membangun pilar ilmu adalah Pliny sebagai ahli ensiklopedi dari Rumania, Hua To (Ahli fisika berkebangsaan China), Arjabatta (Ahli astronomi India), Brahmagupta (Ahli matematika India), Bhaskara (ahli matematika India), Alexander (Ahli fisika dari Byzantium atau Turkey), dan Roger Bacon (Ahli filsafat Inggris).
Pliny adalah seorang penulis, naturalis, dan filsuf alam ahli kelautan dan komandan tentara Kekaisaran Romawi, juga teman pribadi kaisar Vespasianus. Menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk belajar, menulis atau menyelidiki fenomena alam dan geografis. Ia menulis sebuah karya ensiklopedis “Naturalis Historia”. Ensiklopedi ini disebut sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh yang pernah ditulis dalam bahasa Latin.
Hua-to adalah seorang dokter Cina dan ilmuwan yang menciptakan operasi (pembedahan) di bawah pembiusan melalui penggunaan teh hallucinegic yang disebut mafeisan (harfiah “ganja bubuk mendidih”) lebih dari 1600 tahun sebelum prakteknya diadopsi oleh Eropa. Dengan cara ini, Hua-To mampu melakukan operasi pada tengkorak dan usus.
Arjabatta, atau Aryabhata adalah matematikawan paling awal dari India. Dia tokoh yang pertama kali menggunakan aljabar. Dia membuat aturan dalam berhitung dan menulis tentang persamaan tak tentu dengan penerapan fraksi - metode yang digunakan hari ini. Sebagai astronom Arjabatta menemukan rotasi bumi dan menjelaskan alasan tentang matahari dan gerhana bulan.
Brahmagupta adalah astronom India kuno yang paling berhasil. Brahmagupta memperkenalkan aturan untuk perhitungan dengan nol, menulis persamaan tentang kuadrat, dan ia menulis sebuah tabel untuk perhitungan sinus. Dia juga menemukan teori tentang gerhana bulan, konjungsi planet, dan penentuan posisi planet-planet.
Bhaskara adalah matematikawan terkemuka abad ke-12 dari India. Dia menulis karya pertama tentang sistematis bilangan desimal. Bhaskara mengembangkan aturan tentang persamaan untuk menghitung trigonometri, dan ia menggunakan huruf untuk mewakili jumlah yang tidak diketahui, sama seperti dalam aljabar modern. Sebagai astronom ia mempopulerkan pengetahuan astronomi pada masanya.
Alexander lahir di Tralles (Turki). Dia berlatih dan mengajar di Roma, di mana ia menulis banyak buku tentang medis, sebuah karya besar tentang patologi dan terapi, sebuah risalah yang berfungsi sebagai dasar untuk akademi selama beberapa abad dalam bahasa Latin, Yunani, dan Arab.
Roger Bacon, seorang Fransiskan Oxford, dianggap sebagai runner-depan dalam ilmu pengetahuan eksperimental modern. Roger Bacon membuat daftar penemuan, ia menjelaskan tentang kacamata, mesin terbang, kapal motor dan proses untuk membuat bubuk pistol.
4. Mengapa Mereka Bisa Jadi Ilmuwan Yang Hebat ?
Tentu saja fasilitas untuk mendapatkan ilmu pengetahuan pada zaman dahulu, yaitu pada zaman sebelu masehi dan beberapa abat sesudah masehi, begitu sulit atau terbatas, seperti dalam mencari buku, sekolah yang memiliki budaya belajar dan guru/ dosen yang hebat. Namun bagaimana rahasia mereka dalam membuat sukses dan menjadi orang hebat ?
Pythagoras dilahirkan di pulau Samos dan bermigrasi (hijrah) ke Selatan Itali untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan. Ia mendirikan sebuah sekolah di kota Croton dan tentu saja sekaligus menjadi guru. Menjadi guru atau dosen pada masa itu merupakan profesi yang sangat terhormat dan sangat langka. ajaran mistis-nya menerima migrasi jiwa. Phytagoras menjadi hebat karena hijrah ke daerah yang maju dalam pendidikan dan melakukan proses kreatif pendidikan.
Untuk bisa menjadi hebat, para ilmuwan zaman dahulu melakukan observasi (pengamatan), kemudian melakukan renungan dan mencari solusi atas problem sosial pada masa itu, mereka kemudian menuliskan ide-ide atas renungan mereka. Maka para calon cendekia sekarang (para siswa dan mahasiswa) juga perlu mengikuti kebiasaan intelektual mereka.
Lingkungan dan tempat belajar juga sangat menentukan kualitas intelektual seseorang. Ketika Euclid berusia muda ia belajar di Alexandria (Mesir) dan and Athena sebagai kota pelajar pada masa itu, ia kemudian menjadi direktur perpustakaan dan tentu ia telah membaca ratusan atau ribuan buku hingga bisa jadi hebat. Kesadaran untuk belajar di daerah yang berbudaya belajar juga tinggi sudah menjadi fenomena sekarang ini, misalnya ratusan dan malah ribuan pelajar tiap tahun berjuang untuk meraih kesempatan kuliah di universitas favorit di pulau jawa. Selain itu kebiasaan/ kebutuhan membaca perlu ditingkatkan.
Pliny menjadi ilmuwan kuno yang hebat karena ia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk belajar, menulis atau menyelidiki alam. Belajar seumur hidup (life long education) sudah dibuktikan oleh Pliny hingga menjadi orang yang hebat. Prinsip belajar seumur hidup yang didukung dengan kebiasaan senang menulis dan melakukan penyelidikan atau investigasi bisa membuat seseorang jadi ilmuwan hebat. Sementara itu memberikan ceramah atau berpidato juga bisa membuat seseorang menjadi hebat. Ini dibuktikan oleh Galen. Ia lahir di Pergamum, belajar di Smyrna, dan Alexandria, ia pergi ke Roma di mana ia memberi kuliah di teater umum.
Al-Kindi adalah bangsawan Arab yang suka belajar. Kunci kehebatannya adalah karena ia senang melakukan investigasi, menulis dan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu. Ia mempelajari banyak ilmu seputar matematika, astronomi, optik, kedokteran, musik dan psikologi. Tokoh-tokoh hebat di masa lalu juga membaca dan mendalami buku orang orang hebat dari daerah asing. Ini sebagaimana dilakukan oleh Al-Rasi. Dia mengembangkan teori atom dari pemikiran filsuf Yunani Democritus.
Ibnu Sina, masa mudanya dihabiskan untuk belajar, menganalisa dan penyelidikan hingga ia menjadi hebat dalam banyak bidang ilmu pengetahuan dan seni. Seseorang bisa jadi hebat bukan karena belajar sendirian tetapi karena juga mencari inspirasi dan motivasi dari orang hebat lain. Al-Biruni menjadi hebat dan ia juga berkorespondensi dengan filsuf besar Ibnu Sina. Banyak orang menjadi hebat setelah melakukan banyak perjalanan/ penjelajahan (tidak menetap di rumah saja) dan menguasai banyak bahasa asing. Al-Biruni melakukan banyak perjalanan dan ia pergi ke India. Ia menguasai banyak bahasa seperti bahasa Turki, Persia, Sansekerta, Ibrani dan Arab. Al-Biruni menjadi penterjemah yang paling penting atas bahasa buku-buku atau ilmu pengetahuan dalam bahasa India. Moga-moga cara dan gaya hidup tokoh-tokoh hebat di atas dapat memberi kita semangat dalam belajar. Sejarah dan kisah mereka dapat dibaca pada: http://www.hyperhistory.com

22. Jasa Para Penulis

Jutaan anak-anak di dunia bisa bermimpi dan berbagi cerita tentang tokoh cerita yang telah mereka baca. Jutaan anak-anak di dunia bisa terhibur dan bisa berhenti menangis setelah ibu, ayah , nenek mereka menceritakan tokoh-tokoh hebat yang tidak cengeng dan jutaan anak-anak terdidik, berubah karakter jadi baik, gara-gara tokoh cerita yang mereka kagumi. Itulah berkah karena adanya penulis cerita anak anak yang bisa berjasa mendidik dan mendatangkan kedamaian ke hati mereka.
Anak-anak yang gemar dengan sastra (cerita anak-anak) lebih mengenal tokoh cerita daripada penulis cerita tersebut. Mereka lebih mengenal “kisah si kerudung merah dan Cinderella” dari pada penulisnya “Charles Perrault”, lebih mengenal cerita “Pinokio” dari pada penulisnya “Carlo Collodi”, cerita “Putri Salju” dari pada penulisnya “Hans Christian Andersen”, cerita “Harry Porter” dari penulisnya J.K Rowling, atau “Elisa di negeri ajaib” dari pada penulisnya Lewis Caroll. Pada umumnya cerita-cerita menarik tersebut banyak yang berasal dari daratan Eropa, seperti Ceko, Perancis, Jerman, Denmark, Italia, Swiss, Inggris, Irlandia, dan juga dari Amerika SErikat. Penyebabnya bisa jadi karena bahasa- bahasa Eropa menjadi bahasa Internasional seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol. Karya sastra anak anak pun menyebar melalui bahasa ini
Sekali lagi anak-anak sedunia begitu kagum dengan tokoh cerita-cerita yang telah disulap menjadi film film kartun yang lucu, menghibur dan mendidik. Kita juga perlu mengenal cerita tersebut namun juga perlu tahu siapa pengarangnya dan bagaimana latar belakang kehidupan mereka, agar kita juga bisa menimba pengalaman sukses mereka sebagai penulis hebat.
1) Putri Salju
Hans Christian Andersen lahir di Odense, Denmark (1805), ia penulis dan penyair yang paling terkenal berkat karya dongengnya. Ayah Andersen adalah tukang sepatu yang miskin dan buta huruf (namun rajin), dan ibunya adalah seorang binatu (buruh cuci). Walau dari keluarga miskin, namun sejak kecil Hans Christian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng, sang ibunya yang membuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita rakyat. Di kemudian hari, H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang ibu dalam berbagai novelnya.
Ayahnya juga seorang pencinta sastra, dan kerap mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara (atau theater). Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng untuk Andersen. Sikap dan pengalaman dari orang tua itulah yang membuat H.C. Andersen tertarik dengan dunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya sastra. Setelah ayahnya meninggal. H.C. Andersen yang belum lama mengenyam pendidikan formal, merasakan susahnya kehidupan. Akhirnya ia bekerja serabutan di antaranya pernah bekerja di sebuah pabrik, magang di sebuah penjahit dan bekerja sebagai penenun. Ia terpaksa memburuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Anderson mencoba menjadi seorang penulis sandiwara. tetapi sayang, semua karyanya ditolak dimana-mana. Hans Andersen beruntung bisa bertemu dengan Raja Denmark, Frederik VI, karena ia cerdas dan gagah, Raja tertarik dengan penampilan Hans muda dan mengirimkannya untuk bersekolah (memberinya bea-siswa). Andersen melanjutkan studi ke Universitas Kopenhagen. Sambil kuliah, pada tahun 1828 Hans Christian menulis kisah perjalanan yang berjudul Fodreise fra Holmens Kanal Til Ostpynten af Amager (Berjalan kaki dari Kanal Holmen ke Titik Timur Amager).
Hans Christian Andersen pergi berkelana ke luar negeri selain Jerman. ke Perancis, Swedia, Spanyol, Portugal, Italia bahkan hingga Timur Tengah. Dari berbagai kunjungan itu melahirkan setumpuk kisah perjalanan. Ketika melawat ke Paris, Andersen bertemu dengan Victor Hugo, Alexandre Dumas, Heinrich Heine dan Balzac. Di tengah perjalanan panjang ini pula, ia sempat menyelesaikan penulisan "Agnette and the Merman".
Pada awal 1835, novel pertama Andersen terbit dan meraih sukses besar. Sebagai novelis, ia membuat terobosan lewat The Imrpvisator, karya yang ditulisnya pada tahun yang sama. Cerita yang mengambil setting Italia inimencerminkan kisah hidupnya sendiri; melukiskan upaya seorang bocah miskin masuk ke dalam lingkungan pergaulan masyarakat. Malah sampai akhir hayatnya, buku The Improvisatore inilah yang paling banyak dibaca orang banyak dibandingkan dengan karya karya Andersen yang lain. Sejak buku ini terbit, masa masa sulit Andersen mulai berubah. Sepanjang 1835, ia meluncurkan tujuh cerita dongeng yang disusun jauh hari sebelumnya.
Kendati novel-novelnya mendapat sambutan besar, nama Hans Christian Andersen di dunia justru menjulang sebagai penulis dongeng anak-anak. Pada 1835, ia meluncurkan cerita anak-anak Tales for Children dalam bentuk buku saku berharga murah. Lalu kumpulan cerita bertajuk Fairy Tales and Story digarapnya dalam kurun 1836-1872.
Dua dari cerita dongengnya yang amat kesohor, The Little Mermaid dan The Emperor's New Clothes, diterbitkan dalam kumpulan cerita pada 1837. Tujuh dongengnya yang lain: Little Ugly Duckling, The Tinderbox, Little Claus and Big Claus, Princess and the Pea, The Snow Queen, The Nightingale dan The Steadfast Tin Soldier, juga dikenal di berbagai belahan dunia sebagai cerita yang kerap didongengkan pada anak-anak.
Bisa dilihat dari kisah dongeng The Emperor's new Clothes. Pesan bahwa keserakahan itu tidak baik disampaikan Andersen lewat parodi raja lalim yang cukup menggelikan itu. Salah satu ciri lain yang menonjol dalam cerita dongeng Andersen adalah hadirnya kaum papa dan mereka yang tidak beruntung dalam hidup, namun juga punya semangat juang untuk hidup.
2) Pinokio
Carlo Collodi (nama pena dari Carlo Lorenzini) adalah pengarang dari dongeng anak-anak yang sangat terkenal berjudul Pinokio. Dongeng Pinokia merupakan suatu cerita edukatif tentang boneka kayu yang berubah menjadi anak laki-laki bernama Pinokio karena bantuan peri. Pinokio memiliki petualangan yang merubahnya dari anak yang nakal dan suka berbohong menjadi anak yang baik dan patuh pada orang tua. Selain menjadi pengarang dongeng, dia juga dikenal sebagai penulis artikel di surat kabar, buku, dan novel.
Carlo Collodi merupakan anak pertama dari 10 bersaudara dengan orang tua bernama Domenico Lorenzini, seorang juru masak, dan Angela Orzali, seorang penjahit. Masa kecilnya dihabiskan di desa, menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan dikirim ke seminari selama 5 tahun. Setelah lulus dari seminari, dia bekerja menjadi penjual buku. Ketika pergerakan unifikasi atau persatuan Italia mulai penyebar, Collodi yang berusia 22 tahun menjadi jurnalis yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Italia.
Semasa hidupnya, Collodi menulis komedi, koran, dan juga berbagai ulasan. Ketika Italia menjadi negara persatuan, Collodi berhenti dari dunia jurnalisme dan setelah tahun 1870 menjadi editor naskah teater dan editor majalah. Kemudian Collodi beralih ke dunia fantasi anak-anak dan menerjemahkan dongeng karya penulis Perancis, Charles Perrault, ke dalam bahasa Italia. Sejak saat itu, Collodi banyak menghasilkan berbagai karya, terutama cerita anak-anak yang sukses dan disukai oleh masyarakat.
3) The Tale of Peter Rabbit
Helen Beatrix Potter adalah seorang pengarang dan ilustrator, botanis dan konservasionis berkebangsaan Inggris. Ia terkenal karena buku ceritanya, yang menampilkan tokoh hewan seperti Peter Rabbit. Ia dilahirkan di Kensington, London pada tanggal 28 Juli 1866. Ia dididik dan belajar di rumah, sehingga ia mempunyai sedikit kesempatan untuk berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Bahkan adik laki-laki Potter, Bertram, sangat jarang berada di rumah; dia disekolahkan di sekolah asrama, sehingga Beatrix hanya sendirian bersama hewan peliharaannya. Ia mempunyai katak dan kadal, dan bahkan kelelawar. Ia juga pernah memiliki dua ekor kelinci. Kelinci pertamanya adalah Benjamin, yang ia gambarkan sebagai "benda kecil yang bermuka tebal dan kurang ajar", sedangkan kelinci keduanya adalah Peter, yang selalu dibawanya ke manapun ia pergi bahkan di dalam kereta api. Potter sering memperhatikan hewan-hewan ini selama berjam-jam dan membuat sketsa mereka. Sedikit demi sedikit, sketsa yang dibuatnya semakin baik, membuat bakatnya berkembang sejak usia dini.
Ketika Potter beranjak dewasa, orang tuanya menunjuknya sebagai pengurus rumah dan mengurangi pengembangan intelektualnya, mengharuskannya untuk mengurusi rumah. Sejak umur 15 tahun sampai sekitar umur 30 tahun, ia mencatat kehidupan kesehariannya di sebuah jurnal, menggunakan kode rahasia (yang tidak terdekripsi sampai beberapa dekade setelah kematiannya).
Hal yang mendasari kebanyakan proyek dan ceritanya adalah hewan-hewan kecil yang menyelundup ke dalam rumah atau yang ia amati ketika liburan keluarga di Skotlandia dan Distrik Lake. Dia didorong untuk mempublikasi cerita The Tale of Peter Rabbit, dan ia pun berjuang untuk mencari penerbit sampai ia akhirnya diterima saat berumur 36 tahun pada 1902. Buku kecilnya dan karya-karyanya yang lain diterima masyarakat dengan baik dan ia memperoleh pendapatan dari penjualan karyanya tersebut.
4) Harry Porter
Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling dilahirkan tahun 1965 di Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Sebagai seorang ibu tunggal yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia, Rowling menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar New York Times best-seller setelah memperoleh kemenangan yang sama di Britania Raya.
Lulusan Universitas Exeter, Rowling berpindah ke Portugal pada tahun 1990 untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana dia berjumpa dan menikah dengan seorang wartawan Portugis. Anak perempuan mereka, Jessica dilahirkan pada tahun 1993. Selepas perkawinannya berakhir dengan perceraian, Rowling menghadapi masalah untuk menghidupi diri dan anaknya. Semasa hidup dalam kesusahan itu, Rowling mulai menulis sebuah buku. Dikatakan bahwa Rowling mendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990.
Menjadi penulis besar, apalagi penulis kaliber dunia, tidak mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk menjadi penulis besar butuh perjuangan dan persiapan diri. Mereka yang menjadi penulis besar selalu belajar dari pengalaman dan hasil karya pendahulu mereka. Tidak perlu mencari alas an, “wah bagaimana aku akan menjadi penulis besar, orang tua ku saja susah dan melarat”. Christian Andersen si penulis dongeng anak-anak yang hebat (Cinderella) juga punya orang tua yang melarat. Namun factor dukungan orang tua juga menentukan, bahwa sangat perlu setiap rumah juga menyediakan koleksi cerita dan sastra (novel dan biografi) untuk konsumsi anggota keluarga. Carlo Collodi, penulis Pinokio, juga berasal dari orang tua yang hidup susah-ayahnya cuma buruh masak (juru masak) dan ibunya buruh cuci (tukang cuci) dan ia sendiri juga tidak terbiasa bermalas-malas dan juga mencari kegiatan untuk menghidupi diri, maka jadi kayalah pengalaman emosionalnya.
Menjadi besar bukan berarti hidup cengeng (suka mengeluh) sebagaimana Andersen juga melakukan kerja serabutan dan sempat menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan hidup. Adalah isapan jempol bagi mereka yang cuma betah nongol di rumah untuk bisa menjadi hebat, untuk itu perlu melakukan penjelajahan- mengunjungi banyak tempat, berkenalan dan berdialog dengan banyak orang- mencari ribuan pengalaman hidup untuk menjadi bahan cerita.
Menjadi penulis juga perlu banyak berlatih. Sebelum menjadi hebat seorang penulis tentuh telah menulis (berlatih) ribuan helai kertas dan menghabiskan lusinan tinta. Begitu karyanya selesai- apakah puisi, cerpen, cerbung (cerita bersambung), biografi atau novel, dikirim ke penerbit bukan langsung diterima (diterbitkan). Seringkali karya-karya mereka buat pertama kalinya ditolak, namun mereka tentu tidak mengenal kata “patah hati” apalagi frustasi dan berhenti menulis.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis ingin pula memaparkan tentang rahasia pengajaran sastra yang menyenang seperti yang tertulis pada dinding Rumah Puisi- yang didirikan oleh Sastrawan Taufiq Ismail- berlokasi di Nagari Aie Angek, Kecamatan Sepuluh Koto, Padang Panjang. Bahwa cara pandang pengajaran sastra harus asyik, nikmat, gembira dan mencerahkan. Siswa harus membaca langsung karya sastra, dan perpustakaan sekolah musti punya koleksi buku-buku sastra yang menarik, kemudian kelas mengarang perlu menyenangkan dan selalu dikembangkan. Dan terakhir suasana belajar musti menyenangkan- bebas dari suasana mengkritik apalagi penuh tekanan.

23. Pengalaman Menjadi Penulis

Menulis adalah aktifitas yang sulit bagi sebagian orang. Banyak orang mengatakan bahwa menulis itu sungguh sulit. Ada yang mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, kalau menulis mata menjadi berair. Ada pula yang senang berlindung berlindung dibalik alas an dan kata “tapi”. Saya ingin menulis tapi sibuk, saya ingin menulis tapi anak sering mengganggu, saya ingin …”tapi”, dan masih ada belasan alas an dibalik kata “tapi”.
Bagi saya sendiri pada mulanya juga beranggapan bahwa menulis itu juga sulit. Beruntung saya berlangganan majalah Kawanku saat belajar di SMP Negeri 1 Payakumbuh di tahun 1980an. Ada profil Leila Chudori Budiman (yang kemudian sering menulis dalam Koran Kompas) pada majalah tersebut dan bercerita bagaimana ia bisa menjadi penulis. Saat itu saya berfikir “wah enak sekali ya menjadi penulis, bisa menjadi orang ngetop, punya banyak teman dan mendapat bonus”.
Rasa ingin tahu saya tentang bagaimana menjadi penulis terobati saat saya berkenalan dengan berbagai buku biografi para penulis. Ada tetangga saya, Bapak Maran mantap Camat di kota Payakumbuh yang bisa bermain biola dan memiliki koleksi buku-buku. Maka saya sangat suka membaca biografi Ernest Hemingway, Zakiah Daradjat, Buya Hamka dan beberapa biografi penulis novel dan saya menjadi tahu bahwa untuk.
Saat saya remaja, tidak banyak godaan untuk tumbuh dan berkembang. Tidak banyak stasium televise dan program yang mengganggu kosentrasi belajar, kecuali hanya tayangan televise. Tidak ada HP kamera untuk diotak atik dan juga tidak ada VCD player untuk home theatre, apalagi computer, laptop dan internet seperti zaman sekarang. Oleh karena itu saya bisa berlatih banyak dan saya mempunyai lusinan buku diari yang penuh dengan coretan-coretan mimpi dan pengalaman.
Pulang sekolah saya terbiasa menulis. Saya merasa sebagai siswa yang paling jago dalam segala hal. Saya jago dalam bidang olah raga, jago matematik dan beberapa mata pelajaran lain, jago dengan bahasa Inggris dan semua teman kagum pada saya. Saya juga jatuh cinta dengan teman sekelas. Mimpi dan ilusi saya sebagai orang yang paling jago saya paparkan dalam buku tulis. Apabila selesai menulis, maka saya serahkan pada teman yang gemar membaca namun tidak bisa menulis. Kadang-kadang saya juga mengundang adik-adik dan anak tetangga untuk mendengar kisah kisa cinta yang saya tulis.
Bertambah umur tentu bertambah pula pengalaman hidup. Saat kuliah di UNP (saat itu IKIP Padang) saya bekerja paroh waktu sebagai pemandu wisata. Ada pengalaman suka duka selama menjadi guide; dibentak oleh bule-bule, karena mereka tidak memakai bahasa Inggris, atau memperoleh uang tip dari perusahaaan. Pengalaman tersebut juga saya tulis pada buku diari.
Membaca banyak buku, artikel dan fikiran-fikiran orang lain tentu bisa membuat tulisan lebih berkualitas. Tahun 1997, saya memutuskan untuk menjadi pembaca yang baik. Saya berlatih, membuat target untuk membaca 100 halaman setiap hari. Banyak membaca tentu akan membuat tulisan lebih menarik, saya bisa memaparkan banyak ilustrasi dan contoh-contoh dalam kehidupan.
Tahun 1990-an, saya menajdi guru di SMAN 1 Lintau. Saya tidak ingin menjadi guru kebanyakan yang aktifitasnya sangat monoton dan tidak bervariasi- pulang ke sekolah, masuk kelas dan mengajar dengan metode konvensional. Saya ingin menjadi guru dengan kepintaran berganda- guru, menguasai bidang studi, menguasai seni berkomunikasi, menguasai bahasa asing yang lain dan trampil dalam menulis. Untuk itu saya membaca banyak buku seputar paedagogy, psikologi, filsafat, biografi dan kisah kisah pencerahan dari orang lain. Akhirnya kemampuan dan energi menulis saya makin meningkat.
Setiap minggu saya mampu menulis satu atau dua artikel per-minggu. Saya memutuskan untuk mempublikasikanya pada Koran-koran di Sumbar. Saat itu ada tiga Koran yaitu Canang, Haluan dan Singgalang. Tahun 1992 tulisan saya pertama terbit di Koran Singgalang engan judul “Melacak pergaulan remaja dan tidak perlu frustasi bila gagal masuk perguruan tinggi”. Saya sangat bahagia dan energi menulis semakin bertambah, saya terus mengirim artikel ke Koran-koran. Bila dipublikasi saya tentu senang dan kalau ditolak saya berusaha untuk idak kecewa apalagi sampai menjadi frustasi. Frustasi tentu bisa membunuh kreatifitas menulis dan energi untuk melakukan aktifitas lain.
Di awal tahun 1990-an ada beberapa orang asing dari Perancis- Francoise Brouquisse, Anne Bedos dan Louis Deharveng. Mereka bertugas di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta dan melakukan penelitian tentang hutan tradisionil di Lintau. Orang- orang Perancis tersebut kemudian menjadi temn baik saya dan mereka dating ke Sumatra dan berkunjung ke Rumah saya. Mereka membatu saya dalam mempelajari bahas Perancis dan meminta saya menulis untuk dipublikasi dalam. Dengan demikian tulisan saya tentang parawisata juga dipublikasi pada journal mereka, speleologie,di kota Tarbes, Perancis.
Ternyata ada manfaat menulis dalam pengembangan karir saya sebagai guru. Tahun 1998 ada seleksi guru teladan (sekarang guru berprestasi). Porto folio penuh dengan klipping artikel-artikel dan tulisan saya dalam bentuk lain, seperti resensi buku. Kemampuan menguasai dua bahasa asing, Inggris dan Perancis, dan skor ujin tulis membuat saya bisa mewakili kecamatan Lintau Buo dan selanjutnya untuk tingkat Kabupaten Tanah Datar untuk seleksi guru TEladan. Di tingkat Provinsi, saya masuk nominasi dan akhirnya tahun 1998 saya tercatat sebagai guru teladan Sumatera Barat dalam usia tiga puluh tahun.
Tahun 2005, saya mutasi ke kota Batusangkar dan bertugas di sekolah baru pada sekolah “Pelayan Unggul” satu atap SMP-SMA unggul, yang mana kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Batusangkar dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Berdomisili di kota batusangkar membuat saya mudah bersentuhan dengan tekhnologi- computer dan internet. Saya terus menulis dan menyalurkan tulisan lewat internet, mengirim artikel ke berbagai Koran lewat e-mail. Kemudian saya juga membuat situs gratisan lewat blogspot. Sebetulnya ada beberapa bentuk blog gratisan lain seperti wordpress dan multiply. Namun saya suka fitur blogspot. . Situs saya bernama http://penulisbatusangkar.blogspot.com/.
Tahun 2006, saya memperoleh beasiswa untuk mengikuti program pascasarjana di Universitas Negeri Padang. Kemampuan menulis membuat kuliah lancer dan saya bisa selesai pendidikan pada Pascasarjana. Kemampuan menulis membuat tesis saya bisa selesai lebih cepa, saya wisuda pada pertengahan tahun 2008.
Issue sertifikasi untuk guru professional pun bergulir dan segera menjadi realita. Bagi yang mampu memenuhi angka atau skor porto folio bisa lulus dan memperoleh sertifikasi sebagai guru professional. Saya mengetik ulang semua artikel yang pernah diterbitkan pada Koran-koran. Artikel yang telah diketik ulang saya kirim lagi ke Koran, tentu saja diedit lagi. Semuanya terbit lagi dan saya memperoleh honorarium lagi. Saya juga mempostingkan tulisan tadi dalam blogspot saya dan kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan membuat saya bisa lulus sertifikasi lewat portofolio. Betul-betul dana sertifikasi yang telah saya terima membuat saya dan keluarga menjadi lebih sejahtera, bisa membeli laptop dan memperbaiki bangunan rumah.
Saya inginmenjadi penulis buku dan tidak harus menulis buku tebal dari awal sampai akhir sebanyak 250 halaman. Saya menseleksi beberapa tulisa yang sama temanya menjadi satu buku. Temanya tentang pendidikan dan saya beri judul: SCHOOL HEALING MENYEMBUHKAN PROBLEM PENDIDIKAN. Bulan Februari 2009 ini saya punya rencana untuk menyerahkan pada teman untuk diterbitkan di Provinsi Riau, namun lebih dahulu ada telepon dari Jogjakarta ingin mencetak dan meberbit naskah buku atau tulisan saya. Saya menyetujui. Insyaallah, menurut pihak penerbit bahwa dalam bulan Agustus 2009 ini buku saya sudah siap cetak dan siap untuk diluncurkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Moga-moga bermanfaat oleh masyarakat.
Kemampuan menulis ternyata adalah sebuah keterampilan. Semua orang bisa menjadi penulis asal dia banyak berlatih dan menyenangi aktifitas menulis. Menulis bisa mendatangkan manfaat. Penulis bisa berbagi ide dan opini dengan pembaca, bisa memperoleh honor dan sangat membantu bagi guru untuk memperoleh skor portofolio untuk sertifikasi guru. Penulis artikel bisa mengembangkan diri menjadi penulis buku dan memperoleh royalty pada akhir tahun- walau tidak seberapa, yang penting berkah dan ada rasa kepuasan..

24. Penemu Profil Internet Kaliber Dunia

Ternyata kaum remaja sekarang lebih akrab dengan dunia maya dari pada dengan dunia nyata. Dapat dipastikan bahwa mereka kurang begitu mengenal kosa kata tentang benda-benda di sekitar mereka. Apakah mereka masih mengenal tanaman atau benda seperti “bunga ocor bebek, lumut, eceng gondok, putri malu, lumut banto, lintah, keong mas, berudu, kepik (lady bird), pakis, dan lain-lain”. Apa lagi bagi mereka yang berdomisili di daerah urban dan orang tua mereka jarang mengajak mereka untuk menjelajah di alam terbuka, ke sawah, kebun atau ke hutan.
Karena fasilitas internet yang berlimpah- ada di mana-mana- lewat warnet dan cafenet, lewat penggunaan phonecell dan modem pribadi yang diselipkan pada CPU atau Laptop agar dapat mengakes internet maka bermunculan kosa kata baru yang kemungkinan nenek mereka tidak kenal. Sekali lagi bahwa remaja sekarang sangat akrab dengan internet, sehingga mereka telah menjadikan internet sebagai kebutuhan utama. Malah ada yang merasa hidupnya tidak lengkap kalau dalam satu hari tidak mengakses internet.
Karena mereka lebih akrab dengan internet maka tambahan kosa kata mereka juga banyak yang berasal dari dunia cyber ini. Hampir semua pengguna internet kenal dengan “My space, you tube, face book, yahoo, blogging wordpress, skype, twitter”. Ada pengguna internet yang begitu kagum dan sudi untuk membenamkan diri dengan fitur fitur internet ini.
Dari puluhan juta remaja atau lebih dari 250 juta penduduk Indonesia seharusnya ada yang juga sukses dalam internet. Rasanya lebih tepat menganggumi penemu fitur internet dari pada hanya sekedar bangga sebagai pengguna internet. Mayoritas pengguna internet mengenal kata “yahoo dan google”, tetapi ada siapa dibalik kedua kata tersebut ?. Jangan terlalu mengagumi “google” sebagai mesin pencari, namun lebih baik kita kenal siapa penemu google.
Larry page dan dan Sergey Brin dapat dikatakan sebagai hero (pahlawan) dalam dunia ICT. Karena penemuannya atas Google telah membuat dunia menjadi semakin bersinar. Untuk penggunaan yang positif Google membuat dunia lebih cerdas. Larry page, yang nama lengkapnya adalah : Lawrence Edward "Larry" Page. Larrry lahir di Lansing, Michigan- Amerika Serikat. Di awal usia 30-an Larry bersama Sergey Brin menjadi pendiri mesin pencari internet Google dan kemudian menjadi presiden produk pada Google Inc.
Kemudian, Sergey Brin atau nama lengkapnya Sergey Mikhailovich Brin, lahir di Moscow, Soviet Union. Juga di awal usia 30-an (adalah seorang pengusaha Amerika) mempelajari ilmu komputer dan matematika sebelum mendirikan Google dengan Larry Page. Brin adalah presiden teknologi pada Google dan terkaya di dunia.
Duo pendiri ini, Larry Page dan Sergey Brin, awalnya menamakan perusahaan ini ‘Googol’ yang merujuk pada bilangan 10 pangkat 100. mereka adalah dua mahasiswa yang drop out dari program PhD di Stanford. Mereka menamakannya demikian, untuk menyimbolkan proyek algoritma pemeringkat website mereka, sebagai sebuah proyek yang akan melibatkan data yang sangat masif. Tapi saat mencari investor dan bertemu dengan salah satu pendiri Sun, Andy Bechtolsheim, nama ‘Googol’ ditulis menjadi ‘Google’ agar lebih punya nilai jual.
Di tahun 1995 mesin pencari (browsing) Yahoo menjadi saingan terdekat Google. Nama perusahaan ini dipilih oleh Jerry Yang dan David Filo, merupakan kependekan dari ‘Yet Another Hierarchical Officious Oracle’. Tak jelas apakah ‘Officious Oracle’ yang dimaksud adalah proyek Oracle terdahulu yang sempat dikerjakan oleh Larry Ellison dan Bob Oats. Yang pasti, dua mahasiswa Stanford itu juga menyukai arti kata ‘Yahoo’ di kamus, maupun di kisah fiksi besutan Jonathan Swift berjudul Gulliver’s Travel, yang maknanya adalah “kasar atau tak tahu adapt”. Ada lagi jejaring persahabatan yang sangat terkenal dan bermanfaat di internet, jejaring sosial ini adalah seperti: my space, face book, skype dan twitter. Berikut adalah tentang profil situs popular ini.
My space adalah jejaring sosial nomor satu di dunia dengan lebih dari 100 juta pengguna, Tom Anderson mendirikan MySpace di tahun 2004 ketika ia baru berusia 23 tahun (cukup muda kan?). “Yel-yel beken situs ini adalah Myspace a place for friends. Situs ini dirintis oleh dua orang yaitu “Chris DeWolfe dan Thomas Anderson”.
Chris DeWolfe (lahir 1966) adalah salah satu pencipta MySpace (bersama dengan Tom Anderson). Dia adalah mantan CEO dari MySpace. Ia lulus dari University of Washington pada tahun 1988, di mana ia menjadi anggota Beta Theta Pi Fraternity, & University of Southern California pada tahun 1997. Dia memiliki akun ke 6 yang pernah dibuat di website. Pada tanggal 22 April 2009, News Corp mengumumkan DeWolfe akan turun sebagai CEO & akan menjadi penasihat strategis untuk MySpace & melayani di dewan MySpace Cina. Mantan eksekutif Facebook Owen Van Natta menggantikannya. Chris DeWolfe telah diprofilkan dalam banyak publikasi besar seperti Fortune dan BusinessWeek.
Thomas "Tom" Anderson (November 8, 1970) adalah presiden, kepala produk dan co-pendiri situs jaringan sosial MySpace. Tom Anderson mendirikan MySpace di tahun 2003, bersama dgn Chris DeWolfe. Dia kemudian menjadi penasihat strategis untuk MySpace. Karena baru dibuat account MySpace termasuk Tom sebagai standar "teman," dia telah menjadi dikenal sebagai gambar default MySpace. Pada bulan November 2009, Profil Tom ini telah mendekati 270 juta teman-teman. Pada tahun 2003, ia bekerja untuk eUniverse di bawah pengawasan badan Brad Greenspan, ia dan beberapa karyawan di eUniverse mengatur halaman-halaman pertama MySpace, dan situsnya tumbuh dari sana. Dan menjadi salah satu situs yang paling populer di Amerika Serikat.
Mark dikenal sebagai penemu facebook yang sudah menjadi fenomena di negara kita- Indonesia. Ada kasus pro kontra tentang facebook. Ada yang mengatakan bahwa menggunakan facebook itu haram. Malah dalam sorotan berita media televisi yang mengungkapkan bahwa gara-gara face ada anak gadis yang melarikan diri dengan teman pria facebooknya, sehingga orang tuanya menjadi pusing. Penulis sendiri merasakan manfaat dari eksistensi media atau situs face book ini. Lewat facebook penulis bisa kembali berjumpa dengan teman-teman yang telah berpisah selama lebih dari dua puluh tahun.
Mark, yang nama lengkapnya adalah “Mark Zuckerberg”, sebelumnya adalah mahasiswa universitas Harvard. Ia sungguh kreatif karena ia menemukan / membuat situs ini ketika dia baru berusia 19 tahun. Nama lengkapnya adalah Mark Elliot Zuckerberg (lahir di White Plains, New York, 14 Mei 1984). Ia adalah seorang programer komputer dan pengusaha asal Amerika Serikat. Ia menjadi kaya di umurnya yg relatif muda karena berhasil mendirikan dan mengembangkan situs jaringan sosial Facebook di saat masih kuliah degnan bantuan temannya Harvardnya Andrew McCollum dan teman sekamarnya Dustin Moskovitz serta Crish Hughes. Ia kemudian menjadi CEO Facebook.
Salah satu kunci suksesnya ialah inovasi. Mark telah menciptakan berbagai aplikasi baru di facebook untuk memberikan kemudahan kepada setiap pengguna facebook di seluruh dunia dalam berkomunikasi. Bahkan, kini facebook telah menghadirkan aplikasi baru dengan wajah baru yang lebih interaktif bagi para penggunanya. Sebenarnya Mark Zuckerberg memulai Facebook pada Februari 2004 dari ruang kamarnya di Harvard. Setelah berhenti sekolah dan pindah ke Silicon Valley, penemu Facebook ini mulai memantapkan langkahnya di bisnis situs jejaring sosial.
Situs jejaring sosial yang lain adalah seperti “Skype”. Skype ditemukan oleh Niklas Zennström dan Janus Friss. Niklas Zennström (lahir 16 Februari 1966) adalah seorang pengusaha Swedia. Pada tahun 2001 Zennström, bersama degnan Janus Friis, salah satu pendiri Kazaa Media Desktop. Pada tahun 2002, Zennström dan Friis membuat Skype yang peer-to-peer jaringan telepon Internet. Ia juga merupakan pendiri perangkat lunak interaktif untuk mendistribusikan TV dan bentuk-bentuk video melalui web didirikan pada tahun 2006 dan Atomico, sebuah perusahaan modal ventura. Zennström memiliki gelar ganda di bidang Administrasi Bisnis (BSc) dan Teknik Fisika (MSc) dari Universitas Uppsala di Swedia.
Janus Friis (lahir 26 Juni 1976 di Kopenhagen) adalah seorang pengusaha Denmark terkenal mendirikan aplikasi file-sharing Kazaa, dan peer-to-peer sebagai aplikasi telephony Skype. Pada bulan September 2005, ia dan rekannya Niklas Zennström menjual Skype ke eBay dan mereka sedang mengerjakan Joost - aplikasi perangkat lunak interaktif untuk mendistribusikan TV dan bentuk lain konten video melalui Web. Sebelum memulai karir wirausaha dengan Zennström, Friis bekerja di meja bantuan CyberCity, penyedia layanan Internet Denmark. Dia tidak memiliki pendidikan tinggi formal sejak putus sekolah tinggi sebelum memulai pekerjaan di CyberCity. Dia bertemu Zennström pada tahun 1996. Pada waktu itu, Zennström menuju Tele2 di Denmark dan Friis dipekerjakan untuk menjalankan dukungan pelanggan.
Kemudian jejaring “Twitter”, ini ditemukan oleh Jack Dorsey. Jack Dorsey (lahir November 19, 1976) adalah seorang arsitek perangkat lunak dan pebisnis terkenal sebagai pencipta Twitter. BusinessWeek menyebutnya sebagai salah satu teknologi yang "best and brightest". Ia menjadi inovator yang menonjol di usia 35 tahun.
Mengapa internet semakin digemari di seluruh dunia ? Salah satunya adalah karena lewat internet kita bisa menonton. Salah satu situs yang berguna sebagai sarana untuk menonton atau sebagai “audio visual” adalah “You Tube”. Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim adalah orang-orang yang berjasa dalam menemukan You Tube.
Chad Hurley, yang nama lengkapnya adalah “Chad Meredith Hurley” (lahir 1976) adalah co-founder dan Chief Executive Officer populer San Bruno, California berbasis situs berbagi video YouTube. Dia menjual YouTube ke Google. Hurley bekerja di divisi PayPal eBay-salah satu tugas yang terlibat merancang logo YouTube dgn sesama rekan Steve Chen dan Jawed Karim.
Steve Chen, atau nama lengkapnya “Steven Shih Chen” (lahir Agustus 1978) adalah co-founder dan Chief Technology Officer dari situs berbagi video populer YouTube. Chen lahir di Taipei, Taiwan. Ketika ia berusia delapan tahun, ia dan keluarganya beremigrasi ke Amerika Serikat. Sebelum itu, ia melewati dua tahun masa kecilnya di Shin Ching SD, Taiwan. Dia adalah seorang karyawan di PayPal awal, di mana ia bertemu Chad Hurley dan Jawed Karim. Pada tahun 2005, tiga didirikan YouTube. Dia kemudian memegang posisi Chief Technology Officer di YouTube.
Jawed Karim, yang nama lengkapnya “Jawed Karim” (lahir 1979) adalah pendiri dari situs berbagi video populer YouTube. Karim lahir di Merseburg, Jerman Timur, pada tahun 1979 dan pindah ke Jerman Barat pada tahun 1980. Ayahnya, Naimul Karim, adalah seorang peneliti di 3M Bangladesh. Ibunya, Christine Karim, adalah seorang asisten peneliti profesor biokimia di University of Minnesota. Karim dibesarkan di Jerman, dan keluarganya pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1992. Dia lulus dari Sekolah Tinggi Tengah dan kuliah di University of Illinois di Urbana-Champaign. Dia meninggalkan kampus sebelum lulus untuk menjadi karyawan di PayPal awal, tetapi melanjutkan kuliah, mendapatkan gelar sarjana dlm ilmu komputer di tahun 2004.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, sudah selayaknya ada juga orang kita yang juga sukses berinovasi dalam menemukan situs situs yang bermanfaat bagi umat manusia dalam internet. Dari uraian pendek di atas tentu dapat kita peroleh info-info tentang proses kreatif penemu tersebut.
Untuk menjadi penemu situs kaliber dunia maka seseorang tentu perlu akrab dengan komputer dan sains, sebagaimana halnya Sergey Brin yang mempelajari ilmu komputer dan matematika. Kemudian jangan pernah patah hati dalam kegagalan. Larry Page dan Sergey Brin, dua mahasiswa yang “pernah gagal” atau drop out dari program PhD, tapi tidak patah hati dan selalu berkarya. Selanjutnya ungkapan yang perlu untuk dimiliki adalah “selalu melakukan inovasi”, sebagaimana yang dilakukan Mark Elliot Zuckerberg dalam menemukan Facebook.
Menjadi penemu suatu produk adalah hak warga semua benua, apakah dari Eropa, sebagiman halnya Niklas Zennström asal Eropa (Swedia, Denmark) penemu jejaring sosial”Skype”. Orang Asia juga bisa sukses sebagai penemu jejaring kaliber dunia sebagaimana halnya Steve Chen dari Taipei, Taiwan dan Jawed Karim (ayahnya, Naimul Karim Bangladesh) yang menemukan keduanya menemukan You Tube.
Kunci menjadi penemu dalam bidang internet dan bidang apa saja adalah “milikilah semangat inovasi, jangan pernah mengenal patah hati, kuasai tekhnologi dan sains”. Yang juga perlu untuk diketahui adalah agar memiliki semangat menemukan dan selalu belajar bersama teman atau tempat yang berbudaya/ semangat juang yang tinggi.


25. Kreatif Melalui Blogger

Posisi seseorang menjadi penulis, apalagi berkaliber propinsi, nasional atau berkaliber dunia, adalah cukup mulia. Lewat tulisannya, penulis bisa mengubah pola fikiran seseorang menjadi lebih berbudaya. Seorang penulis juga berjasa karena bisa memperkenalkan opininya, dirinya dan daerahnya kepada pembacanya di berbagai tempat. Pada zaman setelah kemerdekaan Indonesia, orang-orang di Negara tetangga bisa jadi mengenal daerah Minang, Danau Maninjau atau kota Padang melalui karya sastra Buya Hamka.
Menjadi penulis mempunyai arti tersendiri. Walau penulis sudah lama meninggal namun nama dan karyanya bisa selalu dikenang, misal seperti William Shakespeare dan Khalil Gibran, mereka telah lama tiada namun karya sastranya tetap menjadi kupasan orang di berbagai tempat di dunia. Selanjutnya bahwa profesi menulis tidaklah menjadi dominasi kaum pria, wanita pun bisa menjadi penulis hebat berkaliber dunia, seperti halnya Jk Rowling.
Sekali lagi bahwa banyak orang di dunia yang kenal dengan nama “ Shakespeare” atau William Shakespeare. Ia dilahirkan tahun 1564 di Stratford-on-Avon, Inggris. Ia sendiri tidak sempat kuliah di perguruan tinggi. Di usia muda ia sudah merasakan suka duka kehidupan. Ia menikah dalam usia muda dan punya tiga anak, namun ketiga anaknya meninggal dalam usia muda. William terbiasa menuliskan perasaan dan pengalaman hidupnya, termasuk pengalaman orang-orang yang dia temui. Kebiasaan melakukan proses kreatif dalam menulis membuat tulisannya makin tajam dan alur bahasanya makin menarik untuk dibaca. Menulis sudah menjadi kesukaanya dan dalam usia tiga puluh Shakespeare sudah menunjukkan keberhasilan dalam menulis.
Kahlil Gibran lahir di Beshari, Lebanon, 1883. Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya- cultural schock, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain. Namun proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Ia merasakan bagaimana tirani (kejamnya) perlakuan pemerintahan pada rakyat dan bagaimana munafiknya sebuah organisasi sosial , kemudian bagaimana peran kaum wanita Asia Barat yang cuma sekadar sebagai pengabdi- posisinya terpinggirkan selalu. Ini semua mengilhami cara pandangnya Gibran yang ia tuangkan ke dalam tulisannya. Ia kemudian pergi lagi ke Amerika dan saat jauh dari tanah kelahiran, ia dapat menulisnya dari jauh- yang ia paparkan adalah segala sesuatu yang kontra dari sudut sudut budaya. Ia menulis dengan tokoh/ orang-orang yang gemar melakukan korupsi dan juga tulisan tentang pembebasan orang-orang yang tertindas.
Suka duka yang ia lalui dan tragedy yang terjadi dalam keluarganya (kematian familinya oleh penyakit Tuberklosa) juga membuat pengalaman emosi dan rohaninya makin menumpuk. Ia pun menulis pengalaman- pengalaman bathinnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya- menulis dalam Bahasa Inggris. Diam-diam dalam hatinya, Gibran ternyata mengagumi kehebatan budaya positif dari Barat. Karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”.
Novel Harry Porter lebih terkenal dari nama pengarangnya. Joanne Kathleen Rowling atau J.K. Rowling lahir di Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris, 1965. Ia menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar "New York Times best-seller". Rowling lulusan Universitas Exeter, Rowling pindah ke Portugal pada tahun 1990 untuk mengajar Bahasa Inggris- menjadi guru. Di sana ia menikah dengan seorang wartawan Portugis. Anak perempuannya, Jessica dilahirkan pada tahun 1993. Setelah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian.
Tentu saja perceraian itu membuat perasaannya gundah dan Rowling pindah ke Edinburgh bersama dengan anaknya. Rowling menghadapi masalah untuk menghidupi keluarganya. Semasa hidup dalam kesulitan, membuat pengalaman batin Rowlin makin kaya. Sebagai guru Rowling selalu bersifat kreatif dan ia mulai menulis sebuah buku. Ia mendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London.
Di penghujung Desember 2001, Rowling menikah dengan Dr. Neil Murray di Skotlandia. Rowling adalah penulis yang produktif dan terhitung telah menulis tujuh novel Harry Poter. Novelnya yang lain adalah “Harry Potter and the Order of the Phoenix (2003), menyusul Harry Potter and the Half-Blood Prince (2005) dan Harry Potter and the Deathly Hallows (2007)”.
Kenapa tiga penulis di atas bisa produktif dalam menulis ? Jawabnya adalah karena mereka mampu memanfaatkan pengalaman hidupnya dan mengolahnya/ memaparkannya ke atas kertas secara kreatif. Jika berbicara tentang topik menulis kreatif maka, ternyata juga banyak penulis kreatif dari negara kita, seperti Andreas Hirata si penulis novel Laskar Pelangi. Dulu ada lagi penulis muda seperti Zara Zetira, Hilman penulis Lupus, La Rose dan lain-lain.
Naning Pranoto dengan bukunya yang berjudul “Creative Writing – 72 Jurus Seni Mengarang (Jakarta: PM Pustaka, 2004)” juga bisa disebut sebagai pakar penulis kreatif. Dia menekuni dunia creative writing, sekaligus secara formal belajar mengenai bidang menulis dan sebelumnya ia juga bekerja sebagai wartawan majalah Mutiara dan Kartini. Ia juga telah menulis sekitar 15 novel dan juga menulis buku non fiksi. Ia juga rajin sebagai salah satu pakar penulisan yang aktif membagikan ilmunya melalui berbagai workshop penulisan kreatif. Tampaknya, latar belakangnya sebagai jurnalis serta kekayaan imajinasinya memungkinkan untuk kreatif dalam menulis.
Proses kreatif menulis seseorang sebenarnya bisa menjadi pengalaman bagi penulis lain-penulis pemula. Pelatihan untuk menjadi penulis kreatif sangat berguna untuk meningkatkan kualitas tulisan para penulis muda. Karena siapa saja bisa menulis asalkan ia mau dan disiplin dalam menulis, serta tahu apa yang mau ditulisnya. Salah satu persyaratan untuk menjadi penulis yang berkualitas tentu saja harus banyak membaca. Namun untuk penulis pemula, cukup dulis menulis dari pengalaman-pengalamannya atau impian-impiannya dan sebagainya.
Menjadi penulis kreatif itu banyak manfaatnya. Menulis berguna untuk mengekspresikan butir-butir pemikiran, ide-ide atau gagasan untuk menjadi inspirasi pembacanya. Menulis juga sebagai terapi jiwa—semacam pelepasan. Banyak orang yang berbagi problem (curhat) dengan buku diary-nya dan akhirnya tulisannya bisa memberikan pencerahan.
Minat menulis masyarakat kta- terutama kaum remaja dan pelajar- dewasa ini sudah meningkat. Internet bisa digunakan sebagai sarana untuk berkarya, dan mereka meng-upload tulisan sendiri apakah fiksi dan non fiksi pada blogging mereka sendiri (lewat wordpress, blogspor, yahoo dan lain-lain). Tulisan mereka juga bertebaran dalam Koran dan majalah, tentu saja juga banyak tulisan mereka yang belum mereka publikasikan. Mempunyai teman untuk sharing (berbagi) dalam menulis bisa pula menjadi sumber inspirasi dan energi untuk terus menulis.
Memiliki blogging untuk tulisan pada internet sangat bermanfaat. Bahkan tidak sedikit yang meng-upload naskah pada blogging, bisa diterbitkan menjadi buku. Penulis sendiri juga mempunyai blogging pada blogspot dan sebuah penerbit dari Yogyakarta menjumpai naskah buku lewat blogging tersebut. Selanjutnya terjadi kontak perjanjian untuk menerbitkan buku penulis yang berjudul “School Healing Menyembuhkan Problem Sekolah”. Buku tersebut sangat tepat dibaca oleh masyarakat: orang tua, guru, masyarakat, pendidik di perguruan tinggi dan mahasiswa.
Tapi ada juga yang sekadar iseng-iseng dalam menulis. Mereka membuat blogging kemudian tidak menulis lagi dengan sejuta alas an: “tidak punya waktu atau tidak in the good mood”. Idealnya bahwa kalau memang mau menulis seharusnya tidak usah menunggu in the good mood. Soal waktu memang adalah alasan yang sudah klasik, “Wah saya sibuk, wah saya tidak punya waktu”. Pokoknya bisa dibuat seribu atau sejuta alasan dengan menggunakan kata kata “tetapi atau but”.
Dalam menulis ada juga yang menggunakan strategi “controversial”. Menulis itu tidak selalu membuat penulis jadi kaya. Buku penulis bisa jadi sangat menarik, namun saya sebahagian orang ingin memperolehnya secara “gratis”. Apakah ini sebagai efek dari fenomena gratis- Pendidikan Gratis, Biatya Obat Gratis, Kuliah gratis dan gratis…..gratis…..gratis yang lainnya. Penulis mungkin lebih mudah menjadi (agak) kaya dengan membuat kursus Bahasa Inggris, Kursus Bahasa Perancis atau bimbingan belajar, sehingga uangnya bisa diraup per minggu atau per bulan.
Menulis bagi penulis memberikan kepuasan batin tersendiri karena bisa berbagi opini dengan banyak teman dan punya banyak teman sedunia. Prospek menulis buka kadangkala kurang bagus . Sebab buku kadangkala kurang bagus promosi dan distribusinya. Kadang kala penerbit di Indonesia belum mau mengeluarkan dana untuk promosi, bahkan untuk meluncurkan atau launching saja tidak mau. Jadi, penulisnya mesti ikut aktif, kalau perlu membiayai peluncurannya. Namun jangan patah dalam menulis karena paparan pengalaman penulis ini.
Menulis kreatif dapat diawali dengan cara menulis apa saja. Menulis bisa ibarat membaca. Apa yang kita baca bisa menjadi sumber tulisan kita. Dan faktor yang berpengaruh pada produktivitas kita adalah karena penulis memang selalu terdorong untuk menulis, the strong will to do writing!.
Menulis butuh ide, bisa jadi datang dari berbagai hal. Ide-idenya bisa bersumber dari perjalanan hidup (misal menulis novel atau cerpen) saat kita bertemu dengan berbagai manusia dengan berbagai karakter, “Saya hanya menulis apa yang saya tahu, saya lihat dan saya pahami”. Seorang penulis idealnya juga harus membaca biografi atau karya penulis lain. Maka kita bisa mencari karya dari penulis pemenang nobel sastra, seperti pengarang dari barat “Garcia Marquez, Toni Morrison, Gunter Grass, Hemingway, Fulker”, juga bisa dari pengarang Timur seperti Buya Hamka, Nawal El Sadawi yang feminis, dan lain-lain. Tapi idealnya kita baca karya penulis kaliber dunia.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan tentang bagaimana melakukan aktivutas menulis yang kreatif itu. Penulis punya pengaruh yang hebat dalam membuat daerah dan oipininya dapat dikenal oleh masyarakat/ pembaca secara luas dan bertahan sampai bertahun-tahun. Menulis tidak hanya monopoli kaum pria namun wanita juga bisa menjadi penulis yang hebat. Pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain- tentang suka duka kehidupan - bisa menjadi bumbu atau inspirasi dalam menulis.
Tiap penulis tentu punya selera atau strategi sendiri dalam menulis, ada yang bercanda, bergurau, mengeritik atau menulis secara kontroversi. Ada orang yang produktif dalam menulis- melalui sudut pandang yang kontra- misal menulis tentang budaya sendiri saat berada jauh dari kampung halaman. Semua penulis idealnya banyak bertukar fikiran, membaca karya dan fikiran orang lain- kalau boleh karya atau buku berkaliber dunia.
Menulis tidak langsung membuat seseorang jadi kaya, tapi menulis bisa menjadikan seseorang populer, punya banyak teman dan mendatangkan rasa puas tersendiri. Dari sudut akademik, kemampuan menulis sangat membantu. Kenapa ada mahasiswa dan sarjana yang terjebak dengan karakter negatif “copy paste, membuat karya tulis aspal- asli tapi palsu, melakukan plagiat atau memalsukan karya tulis orang lain yang sangat memalukan ” ?. Kenapa cukup banyak mahasiswa setelah menyelesaikan semua mata kuliah terpaksa angkat kaki (drop out) dari universitas ? Salah satu penyebabnya adalah tidak mampu menulis proposal, menulis laporan skripsi, tugas akhir, tesis dan disertasi. Maka mereka yang menggeluti penulisan kreatif insyaallah akan terbebas dari masalah ini.
Dalam zaman ICT ini, dimana seseorang orang bisa menjadi lebih kreatif lagi- memanfaatkan account pada google, yahoo, hotmail, plasa, dan lain-lain, untuk menjadi bloggers. Mereka bisa membuat blogging melalui blogspot, wordpress, multiply, atau yang lain. Namun jangan melakukan proses kreatif setengah hati dengan alasan klasik “wah saya tidak punya waktu untuk menulis”. Menulis pada blogging bisa membuat kita jadi kreatif. Tulisan kita akan bermanfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri. Manfaat yang utama adalah adanya rasa puas dalam hati- punya banyak teman dan selalu memuat kita awet muda- muda pikiranya dan jauh dari kepikunan, karena otak atau fikirannya selalu bekerja dan bermanfaat bagi orang. Khairunnas anfahum linnas- manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

26. Sukses Lewat Olah Raga

Di zaman ICT (Information Communication Technology) setiap orang bisa melakukan pembelajaran buat diri sendiri (otodidak) tanpa harus pontang-panting mencari buku sumber, mencari guru atau pelatih, cukup dengan memasukan key word pada search engine internet dan klik saja subjek yang kita inginkan. Penulis sendiri menemukan salah satu situs yang cukup bagus untuk memotivasi diri, yaitu situs “Andriewongso.com”, sebuah situs tentang success story (http://www.andriewongso .com). Situs ini punya misi untuk membangun kekayaan mental manusia Indonesia demi kehidupan yang lebih bernilai. Punya slogan yang cukup menggelitik motivasi kita yaitu “bosan kita menderita, saatnya bersama, bangun Indonesia”.
Ada tiga ranah kecerdasan yang harus dikembangkan buat anak yaitu kognitif (otak), psikomotorik (keterampilan/ otot atau bakat) dan afektif (sikap). Banyak orang menjadi sukses lewat kemampuan kognitif, menjadi pemikir, ahli peneliti, teknokrat, dokter, dll. Namun juga ada orang menjadi sukses melalui psikomotorik, misalnya para olah ragawan, binaragawan dan para pekerja di lapangan.
Namun dewasa ini banyak siswa hanya berlomba untuk bisa jago dalam bidang sains. Sehingga ada fenomena bahwa siswa-siswa kita kalau pulang sekolah mereka buru buru untuk pergi bimbel (bimbingan belajar) atau pergi kursus. Sementara kalau di Amerika Serikat (menurut pengalaman teman penulis) bahwa siswa di sana kalau pulang sekolah, mereka buru-buru untuk pergi olah raga: basket, bola kaki, tenis, dan atletik. Pantaslah mereka memiliki tubuh yang lebih besar, lebih kuat dan lebih sehat. Maksud dari tulisan ini adalah agar remaja kita juga musti peduli untuk berolah raga.
Ada sejumlah olah raga yang sudah biasa kita lakukan, dan gampang untuk dilaksanakan, seperti catur, atletik, bulutangkis, renang, balap, basket-ball, sepal bola, dll. Olah raga ini seharusnya mendapat respond dan sentuhan khusus dari pelatih/ guru dan orang tua agar bisa mendatangkan hasil yang luar biasa pada anak mereka. Ternyata orang juga bisa sukses melalui jalur olah raga, dan bisa pula memilih olah raga sebagai karir mereka.
1. Catur.
Banyak orang yang menyukai permainan ini, walau hanya sekedar iseng-iseng saja. Namun berbeda dengan Magnus Carlsen. Ia menekuni main catur sehingga ia bisa sukses dan juga disebut sebagai “Raja Catur Baru”. Ceritanya adalah bahwa di awal tahun 2010 ini, Federasi Catur Internasional/FIDE mengeluarkan daftar terbaru dari 100 pecatur terbaik di dunia dan Magnus Carlsen, pemuda asal Norwegia, yang usianya baru 19 tahun mendapatkan "Si Anak Ajaib", karena bisa menempati peringkat pertama. Kesuksesannya tidak jatuh dengan mudah dari langit. Ia mulai catur sejak usia 8 tahun. Waktu itu ia bermain melawan kakak perempuannya. Mula-mula ia bisa mengalahkan kakaknya dan kemudia ia bisa mengalahkan bapaknya, yang sekaligus anggota club catur norwegia. Dalam usia 13 tahun, ia berhasil mengalahkan juara dunia Anatoly Karpov dalam turnamen catur cepat dan membuat Gary Kasparov bermain remis.
Yang membuat Carlsen jadi hebat adalah karena bakat atau “talentanya” dalam bentuk daya ingat yang juga hebat. Kemampuan daya ingat ini amat berguna untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan teori catur modern. Ke-dua adalah talenta berupa "kepekaan posisional", yakni sebuah naluri yang menuntunnya untuk menempatkan bidak-bidak catur pada posisi yang tepat dan bermanfaat. Selanjutnya adalah kerja keras. Ia berlatih catur 4-5 jam per hari untuk mengasah kemampuan dan intuisinya (Ia dibantu oleh computer). Kemudian, ia rajin bertanding. Mengikuti turnamen merupakan sarana utama untuk berlatih. Dan terakhir adalah kondisi mental bertanding yang tangguh. Banyak pecatur yang kalah saat bertanding karena merasa kelelahan dan putus asa. Carlsen tidak, ia menganggap pertandingan catur itu sebagai sebuah pertarungan.
2. Atletik
Olah raga ini juga mudah untuk dilakukan, namun hanya sekedar iseng-iseng. Tetapi Suryo Agung (orang kita, Indonesia) menekuni olah raga ini dengan serius sehingga ia bisa menjadi “Manusia Tercepat Asia Tenggara” setelah merebut medali emas nomor 200 meter dengan catatan waktu 20,85 detik di SEA Games di Laos (2009). Untuk lari 100 meter ia butuh waktu 10,17 detik. Apasih rahasianya ?
Pada waktu muda Suryo tak pernah bermimpi berkarir di dunia atletik (lari). Ia malah bercita-cita untuk menjadi pemain sepak bola. Saat duduk di bangku SD, ia ikut klub sepak bola. Kemudian, ia mencoba masuk seleksi dan bertanding. Sayang, semuanya hanya berbuah kegagalan. Suryo lantas pindah ke dunia atletik. Awalnya, ia mencoba nomor lompat tinggi dan berhasil menyabet juara pada kejuaraan pelajar di Kota Bengawan. Maka, ia ditarik masuk oleh Klub Atletik Pelajar Solo dan terpilih masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Atletik di Salatiga.
Setelah itu, sedikit demi sedikit, ia berhasil mengumpulkan prestasi. Ia mendapat medali emas pada Porda (Pekan Olah Raga Daerah) dan Popnas (Pekan Olah Raga Nasional) di nomor lari 100 meter. Kemudian pada pada Kejuaraan Asia Yunior di Bangkok, Oktober 2002 (lari 100 meter). Ia juga sukses meraih dua emas di SEA Games 2007 Thailand pada nomor 100 meter dan 200 meter. Kunci suksesnya adalah ia tetap optimis, serta fokus dan tekun berlatih.
3. Bulutangkis
Olah raga ini telah menjadi olah raga masyarakat. Lagi bahwa banyak orang melakukan hanya untuk iseng-iseng. Namun Markis Kido dan Hendra Setiawan (juga orang Indonesia) menekuninya dengan sungguh-sungguh. Prestasinya kian melambung di dunia olahraga bulutangkis. Segudang prestasi berhasil mereka torehkan di lapangan. Gelar juara dunia telah diraih mereka di Kuala Lumpur, Malaysia 2007 dan juara dunia, pasangan ganda putra peringkat satu pada Olimpiade Beijing 2008. Prestasi Kido dan Hendra kian gemilang di tahun 2008 dengan menciptakan hattrick menjadi juara di tiga turnamen super series, yakni di China Terbuka Super Series, Denmark Terbuka Super Series, dan Perancis Terbuka Super Series.
Menjadi juara dunia dan bahkan meraih emas olimpiade bukanlah hal mudah yang didapat begitu saja. Ini ia perjuangan dan latihan keras yang dilakukan sejak kecil. Ia masuk klub bulutangkis yang bermutu. Kido memiliki karakter yang tampil dengan penuh semangat dan meledak-ledak, dan Hendra bermain lebih santai dan jarang sekali mengumbar emosi. Dalam permainan, Hendra lebih sering berlaku sebagai pemain depan sedangkan Kido menjadi pemain belakang. Mereka sama-sama memiliki karakter menyerang menjadikan mereka pasangan yang solid. Mereka tidak akan berhenti berlati dan berjuang (berlomba) dan mereka pun masih memasang target untuk mempertahankan medali emas.
4. Renang
Olah raga ini apabila ditekuni, juga bisa membuat seseorang jadi popular dan sukses. Michael Phelps (berkebangsaan Amerika Serikat) telah membuktikannya. Ia menjadi idola bagi orang banyak, termasuk para perenang yang ingin mengikuti jejak kesuksesannya. Ia telah membuat rekor bersejarah dengan menjadi pengoleksi medali emas terbanyak di ajang Olimpiade Beijing 2008.
Phelps mengenal dunia renang sejak ia berusia tujuh tahun karena ia terinspirasi dengan dua saudara perempuannya, Whitney dan Hilary yang juga atlet renang. Bahkan, Whitney sempat menjadi anggota tim renang nasional Amerika Serikat pada Olimpiade 1996. Phelps pun menguatkan tekad memperbaiki performa. Phelps berlatih keras demi mewujudkan impiannya. Latihan kerasnya segera membuahkan hasil nyata. Lima bulan setelah Olimpiade Sydney, karier Phelps melambung dengan memecahkan rekor dunia 200 meter gaya kupu-kupu. Phelps merupakan perenang termuda yang memecahkan rekor dunia yang pernah ada. Tepatnya, ia mengukir rekor tersebut saat ia berusia 15 tahun 9 bulan.
Keberhasilan Phelps tidak lepas dari kegigihannya dalam berlatih. Selain itu, Phelps juga sangat menjaga asupan makanan ke tubuhnya. Phelps membutuhkan banyak kalori karena aktivitasnya yang sangat padat untuk berlatih maupun bertanding. Sejak usia 11 tahun, ternyata ia sudah dibiasakan latihan sangat keras oleh pelatihnya. Untuk anak seusia itu, Phelps sudah dibiasakan berlatih sekitar lima jam sehari dan tujuh hari seminggu, tanpa istirahat! Konon, menurut pelatihnya, itu perlu dilakukan karena pada usia itulah seorang anak pertumbuhannya masih berkembang dengan pesat. Sehingga, latihan keras itulah yang mampu membentuk tubuh Phelps laksana ikan. Tapi, tak hanya itu yang membuat Phelps berjaya. Rupanya, ia selalu menanamkan pikiran sebagai pemenang dalam setiap kejuaraan yang diikutinya. Latihan keras dan keyakinan kuat sungguh merupakan teladan yang bisa kita contoh dari kesuksesan seorang Michael Phelps.
5. Balap
Balap adalah olah raga dikenal banyak orang. Banyak orang tahu dengan Tour de France yaitu lomba balap sepeda paling bergensi di dunia. Lance Armstrong (dari Perancis) adalah salah satu juara Tour de France. Kiprah Lance Edward Gunderson di dunia balap sepeda penuh dengan liku-liku. Pada awal tahun 1990-an, Lance memasuki dunia balap profesional. Awal jadi pembalap profesional, ia tertinggal jauh di belakang sang juara. Lance terpaut hingga 27 menit di belakang sang juara pertama. Sungguh, permulaan yang kurang berkesan bagi Lance. Namun, karena kekalahan itulah, ia justru terpacu untuk memberi porsi latihan melebihi yang biasa dilakukannya. Ia bertekad untuk memperbaiki catatan waktunya. Satu-satunya yang ada di benak Lance adalah bagaimana bisa mencapai kemenangan. Dengan gigih ia berlatih untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Ia selalu kritis menganalisis setiap kegagalan yang dialaminya. Kegagalannya dijadikan pelajaran berharga bagi dirinya. Porsi latihan terus ditambahnya sendiri sehingga ia bisa terus meningkatkan kemampuannya. Usaha itu segera berbuah manis. Ia berhasil mencatat kemenangan di beberapa turnamen balap sepeda.
6. Basket
Salah seorang bintang basket yang terkenal adalah Michael Jordan (dari Amerika Serikat). Kemampuannya di dalam lapangan tidak diragukan lagi. Sosok Jordan memang fenomenal. Jika beberapa orang merasa kurang nyaman saat bertemu dengan halangan dan rintangan, ia justru mencarinya. Hal tersebut juga ditunjukkan ketika masa awal kuliah. Karena tak punya tinggi badan yang memadai untuk masuk tim utama, dirinya sempat disingkirkan. Namun, bukannya merasa putus asa, ia terus berlatih sendiri hingga tinggi badannya mencukupi. Meski masih dianggap kurang ideal, ia mampu mencetak skor meyakinkan sehingga akhirnya jadi pilihan utama. "Saya dapat menerima kegagalan, tapi saya tidak dapat menerima jika saya belum mencoba," kata sebut Jordan mengungkap rahasia suksesnya.
Prestasi fenomenal Michael Jordan tak diperoleh dalam sekali dua kali latihan. Ia juga sering gagal dalam kariernya. Namun, justru itulah yang menjadikan dia legenda hingga saat ini. Karena, ia tak pernah menyerah pada keterbatasan. Dan bahkan, ia mampu mengubahnya menjadi sebuah kekuatan. Keyakinan, kerja keras, dan ketekunan adalah contoh nyata dari seorang Michael Jordan.
7. Sepak Bola
Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo adalah dua tokoh yang sangat terkenal dalam cabang sepak bola. Zinedine Zidane adalah pria keturunan Algeria yang lahir di Perancis, merupakan seorang anak imigran yang mencoba mengubah nasib di Perancis. Layaknya imigran yang sangat minoritas, maka keluarga Zidane pun tumbuh dalam lingkungan yang keras dan jauh dari kecukupan. Ia sadar bahwa ia mungkin tak kan bisa menempuh pendidikan yang tinggi, karena keluarganya kurang berkecukupan. Karena itu, ia memilih untuk menekuni hobinya- sepakbola.
Zidane dikenal sebagai anak yang sangat berbakat menggocek bola. Bahkan, ia kadang menemukan tekniknya sendiri yang unik saat menguasai bola. Bakat bukanlah apa-apa tanpa latihan terus menerus. Ia bisa menggunakan tekniknya karena terus berusaha melatih kemampuan dengan menambah porsi bermain bola. Kemudian sebagai seorang imigran, ia harus bekerja lebih giat dari orang lain, dan immigrant pun tak boleh mudah menyerah.
Niatnya mengubah nasib melalui sepakbola menemui jalan terang saat bakatnya ditemukan oleh Jean Varraud yang membuatnya berlabuh ke sebuah klub, Cannes, saat ia baru berusia 16 tahun. Berkat latihan kerasnya, setahun kemudian ia sudah dipercaya masuk ke tim senior Cannes dan bermain di divisi pertama liga Perancis. Dari sana, kemampuannya makin meningkat. Dan, hal itu langsung menarik klub liga utama Perancis, Bordeaux untuk mengontraknya.
Karisma dan talenta Zidane akhirnya membuat tim besar Italia, Juventus, memutuskan memboyongnya ke tim tersebut. Tak butuh lama beradaptasi, ia pun langsung bisa bersinar saat menjadi skuad inti Juventus. Tak tanggung-tanggung, pada masa awal bergabungnya ke Juventus. Bersama rekan-rekan setimnya, Zidane membawa Juventus juara liga Italia dua tahun berturut-turut, yakni tahun 1997 dan 1998. Kegemilangannya di Juventus dan kesuksannya membawa Perancis juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 menarik banyak klub hebat dunia.
Lain Zidane, lain lagi Cristiano Ronaldo. Berkat kerja kerasnya, kemauan kuat untuk terus memperbaiki skill individu, latihan terus menerus, ia mampu mengatasi semua tekanan atas hidupnya. Bakat besar Ronaldo di sepakbola sebenarnya mulai diasah sejak usia delapan tahun. Kala itu, talenta luar biasanya terdeteksi oleh para pemilik klub di Portugal. Karena itu, tak lama ia langsung ditarik menjadi anggota klub yunior Andorinha, tempat ayahnya bekerja sebagai penyedia perlengkapan.
Kegigihannya berlatih membuat beberapa klub tertarik padanya. , diantaranya CD Nacional yang kemudian berhasil mengantarkannya menjadi juara sebuah kejuaraan nasional. Berkat prestasi itu, dua tahun kemudian ia langsung direkrut Sporting Lisbon, klub terkenal asal Portugal. Dari sana, jalannya untuk jadi pemain sepakbola kelas dunia makin terbuka.
Pengalaman membuktikan bahwa orang bisa meraih sukses, bisa lewat akademik dan juga bisa lewat bakat. Selama ini banyak orang berfikir bahwa sukses hanya bisa diraih lewat sekolah, maka berlombalah mereka untuk sekolah dan kuliah setinggi mungkin. Lalu tamat, sebagian kecil berhasil lewat jalur akademik, namun cukup banyak yang tertunda keberhasilan, atau tidak menemui keberhasilan mereka (Sekolah dan kuliah setinggi mungkin sangat bagus). Karena mereka kurang mengenal hakekat wirausaha maka akhirnya mereka jatuh pada kelompok pengangguran. Namun bagi yang sadar, bisa segera bangkit dan menemukan kenyataan bahwa sukses juga bisa diraih lewat jalan pekerjaan informal (membuka bengkel, warung, rental mobil, pekerja konstruksi bangunan)- mereka belajar dari alam, dari teman dan kenalan. Yang lain melihat bahwa berhasil juga bisa diraih lewat mengembangkat bakat apakah sebagai musisi, penyair, olahragawan dan lain-lain.
Menjadi sukses lewat olah raga juga bisa diraih dan juga perlu usaha keras dan ketekunan, seperti yang telah diuraikan dalam cuplikan kisah ringkas di atas. “Jangan melakukan aktifitas olah raga yang digemari secara iseng-iseng, namun lakukan dengan tekun sehingga bisa sukses. Orang orang sukses dalam cabang olah raga menekuninya sejak usia muda- usia anak-anak maupun usia remaja. Mereka perlu latihan dan memiliki partner berlatih yang lebih cerdas/ lebih hebat. Sebagaimana halnya Carlsen berlatih catur dengan cara mengalahkan ,mula-mula, kakaknya, kemudian mengalahkan ayahnya dan selanjutnya bermain remis dengan jago catur dunia, Gary Kasparov. Mereka juga perlu memiliki ilmu dan strategi untuk menang. melakukan latihan, bukan sekali seminggu malah kapan perlu 4 atau 5 jam per hari, dan mereka menghindari rasa putus asa.
Rahasia Suryo bisa menjadi jago atletik (lari) yang hebat adalah karena selalu bersikap optimis, serta fokus dan tekun berlatih. Demikian pula dengan Hendra dan Kido, bisa menjadi jago bulutangkis dunia karena mereka tidak akan berhenti berlatih dan berjuang (berlomba) dan selalu memasang target untuk mempertahankan medali emas. Lance Amstrong bisa jago dalam kejuaraan Tour de France karena memberi porsi latihan melebihi yang biasa. Porsi latihan terus ditambahnya sendiri sehingga ia bisa terus meningkatkan kemampuannya. Usaha itu segera berbuah manis. Ia berhasil mencatat kemenangan di beberapa turnamen balap sepeda. Begitu pula strategi yang diterapkan oleh Michael Jordan untuk menjadi jago basket dunia, dan Zinedine Zidane dan Rinaldo dengan bakatnya pada olah raga bola kaki.








Daftar Pustaka
Adams, Ken. (1988). Your Child Can be A Genius and Happy, A Practical Guide For
Parents. Wellingborough, England: Thorsons Publishing Group.

Aning S, Floriberta.(2005). 100 Tokoh Yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat
Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Yogyakarta : Narasi.

Bobbi De Porter dan Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
De Porter, Dkk.(2002). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa
Dan Smith (1999) The State of The World Atlas, The Unique Visual Survey of
Political, Economic and Social Trends.London: Penguin Reference.

Didiot, Beatrice. (2001) L’etat du monde annuaire, annuaire economique
geopolitique mondial. Paris: La Decouverte.

Ganto, Edisi no 148/ tahun XIX/ Desember 2008- Januari 2009, Padang:
Universitas Negeri Padang).

Hasri, Salfen.(2004). Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Makasar : Yayasan Pendidikan
Makassar

Karen Markowitz .(2002). Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan
Super. Bandung: Kaifa.

Karim, Mhd Rusli. (1982). Seluk Beluk Perubahan Sosial. Surabaya: Usaha Nasional.

Prayitno, Elida. (1989). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Depdikbud, Dirjen
Pendidikan Tinggi.

Taufiq Pasiak .(2004). Membangun Raksasa Tidur, Optimalkan Kemampuan Otak
Anda Dengan Metode Aliss. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama.

Zamroni (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing

Zoeverdi, Ed.(1995). Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang. Jakarta: BK3AM
Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).



Biografi
Marjohan, M.Pd, adalah Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar dan penulis freelance pada pada koran Singgalang, Haluan, Serambi Pos, Sriwijaya Pos, E-newsletter (Situs Departemen Pendidikan Sumatra Barat) dan Wikimu.com . Pernah menulis pada journal speleologie (Toulouse- Perancis). Menikah dengan Emi Surya, Memiliki dua orang anak, Muhammad Fachrul Anshar , dan Nadhilla Azzahra. Marjohan dapat dihubungi pada: marjohanusman@yahoo.com.


Marjohan, M.Pd
Hp. 085263537981
e-mail : marjohanusman@yahoo.com
http://penulisbatusangkar.blogspot.com
(Guru SMA Negeri 3 Pelayanan Keunggulan Batusangkar)

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...