Minggu, 20 Januari 2013

13. West Sumatera...I Come



13. West Sumatera...I Come
            Selain aku, juga banyak pihak yang  senang atas kemenangan yang baru saja aku raih. Aku ingat bahwa aku harus mengirim pesan singkat (SMS)  bahwa “Alhamdulillah aku  memperoleh nomor satu guru berprestasi tingkat Indonesia” kepada Kepala Sekolah SMAN 3 Batusangkar- Bapak Drs. Rosfairil, MM dan kepada keluarga/ istri di Batusangkar dan pada beberapa orang yang aku  sempat kirimi SMS. Kemudian secara serempak aku  memperoleh puluhan atau ratusan ucapan selamat lewat telepon dan SMS dan lebih lebih lagi lewat FaceBook.
            “Selamat atas prestasi yang Pak Marjohan peroleh sebagai guru berprestasi nomor satu Indonesia...!!!”
            Masih ada hari tersisa 3 hari menurut agenda kegiatan. Pihak Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat mengajurkan agar aku  segera pulang karena akan ada upaca penyambutan buatku  dan juga buat Suyetmi- juara 2 guru berprrestasi Indonesia kategori Guru SMP.
“Kegiatan kecil yang masih tersisa adalah seperti wisata budaya ke Taman Mini, penutupan dan ramah tamah dengan Dirjen Dikmen yaitu Bapak Surya Dharma”.
Malam itu malam penutup dan aku  juga ikut memaksa diri berdansa sesuai dengan kemampuan. Kami semua  berdansa dan bernyanyi, termasuk lagu dari masing- masing daerah. Istimewanya lagi malam itu (Sabtu, 8 September 2012) semua peserta yang meraih nomor satu memperoleh bingkisa sebuah laptop dari perusahaan Intel- komputer Jakarta. Laptop tersebut sangat diidamkan oleh istriku  untuk mengganti laptopnya yang sedang rusak.
Besoknya adalah acara bebas- aku  meluangkan waktu untuk mengunjungi famili dan setelah itu aku  kembali ke Hotel Millenium buat menyelesaikan urusan administrasi, sertifikat dan penyerahan dokumen-dokumen dan termasuk menerima uang hadiah dalam bentuk uang tunai.
“Satu malam yang tersisa aku gunakan buat membalas semua ucapan selamat lewat phonecell dan juga lewat facebook. Aku membalas ucapan selamat hingga larut malam, itupun dalam bentuk ungkapan : terimakasih...thank you, merci beaucoup”.
Senin- 10 September, aku  dijemput dan  aku  memperoleh perlakuan istimewa sejak dari hotel, ke bandara Sukarno Hatta hingga terbang lagi dengan pesawat Garuda. Aku  tahu bahwa bakal ada penyambutan  buatku dengan kalungan bunga di Bandara Internasional Minang Kabau- Padang.
Ternyata benar, aku  disambut seperti sang superstar, alasannya karena aku  memperoleh juara satu guru berprestasi tingkat Indonesia, yang telah mengangkat citra dan nama baik Propinsi Sumatera Barat dan juga Kabupaten Tanah Datar. Dalam sambutan itu  aku  diberi reward yaitu:
“Kesempatan untuk pergi Hajji ke Makkah untuk tahun 2013 atau 2014. Alhamdulillah...wayukurillah, dan juga ada penghargaan atau reward oleh Pemda Kab. Tanah Datar”.
Hari berikutnya aku  kembali berada di sekolah SMAN 3 Batusangkar dan teman-teman guru melaksanakan beberapa kegiatan seperti acara syukuran buat prestasi siswa dan prestasi yang baru saja aku raih. Aku  meluangkan waktu buat wawancara dan liputan berita dengan berbagai wartawan.
“Aku merenung bahwa aku   bisa begini...bukan karena usaha pribadiku, namun itu karena ridho Allah Swt, dukungan dan doa dari teman-teman, famili dan juga semua anak didikku. Moga moga aku memperoleh berkah dan berkahnya bermanfaat bagi orang lain  amiiin ya rabbal  ‘alamin”.

11. Pembelajaran abad 21



11. Pembelajaran abad 21
Pada saat itu juga disampaikan tentang bagaimana konten pembelajaran abad 21. Ciri-ciri pembelajaran dalam abad 21 adalah sebagai berikut:
- Critical thingking dan problem solving
- Creativity dan innovation
- Communication
- Collaboration
- Global awareness (peduli terhadap keadaan financial, economy, bisnis dan
   kewirausahaan, civic literacy, healthy dan wealthiness).
Pembelajaran untuk abad 21 tentu memerlukan konsep untuk kelas masa depan atau future classroom.  Bagaimana  bentuk sekolah/  kelas di masa depan ? ya kelas tersebut tidak membutuhkan  guru- guru yang galak dan otoriter. Dan ruang kelas tidak sepreti pabrik lagi. Maka apa yang harus diketahui guru buat pendidikan abad 21, ya mereka harus tahu tentang beberapa hal seperti:
- Mengajar siswa lewat google
- Menguasai/ mengetahui bahasa dunia
-  Membangun virtual technology (pendekatan pada tekhnologi) untuk membangun
   kualitas kognitif dan adaptive.
- Guru musti mengajar tentang topik yang lebih spesifik.
- Mampu memunculkan kesadaran siswa.
- Sistem mengajar bersifat personal, jadi memang butuh kesabaran guru.
- Guru butuh  media untuk menghadapi keterbatasan di luar dan di dalam sekolah.
- Belajar bisa terjadi di dalam dan di luar kelas. Guru perlu tahu dan mampu
   menggunakan ICT (internet dan laptop).
- Karir guru tentu dihargai sesuai dengan kualitas  kompetensi dan guru direkrut
   sesuai dengan keahlian mereka, misal ahli musik untuk mengajar kesenian.
- Pemberdayaan dan pemberian reward pada guru yang punya inovasi dan keahlian. “ adalah juga penting untuk menghargai guru atau orang yang accomplish- punya peran dalam masyarakat”.
Kemudian juga ada ceramah dari tokoh pendidikan yang lain.  Pencerahan (ceramah) tersebut disampaikan oleh  Prof. Alcaff  (staff ahli Dikbud), tema pembicaraan adalah tentang kompetensi TIK untuk tenaga pendidik dan kependidikan dalam mendukung pendidikan abad 21. Pendidikan berbasis TIK sangat dibutuhkan oleh siswa-siswa kita. Tema kompetensi pendidikan abad 21 adalah seputar kepedulian global, keuangan, kewirausahaan, civic literacy dan health literacy.
Sementara inovasi belajar difokuskan pada kreatifitas yaitu bagaimana menemukan ide-ide baru (melalui observasi, melihat, mendengar, dan membaca). Kemudian penekanan pada kritical thingking dan problem solving, selanjutnya pada komunikasi dan kollaborasi.
Guru masa depan musti memiliki information, media dan ICT literacy. Kemudian tentang bentuk model kehidupan dan pencarian karir, diharapkan siswa atau orang- orang yang pro-masa depan  bersikap fleksibel dan mudah beradaptasi, mampu mengambil inisisatif dan self direction, memahami sosial dan lintas budaya. Orang untuk masa depan musti bersikap produktif dan akkuntabilitas, memiliki leadership dan bertanggung jawab.
“Tentu saja anak tidak bisa mempelajari semuanya dari sekolah, untuk itu mereka perlu belajar sendiri, punya self directing, melakukan eksplorasi pada sumber-sumber belajar.  Sementara untuk kompetensi guru abad 21 meliputi kompetensi pedagogi, sosial, profesional, kepribadian dan plus dengan kompetensi ICT (mampu mengoperasikan ICT)”.

12. Pengumuman Pemenang Guru Berprestasi
            Usai sholat Jum’at yang  kami  ikuti pada sebuah mesjid di samping komplek gedung kementrian, semua peserta guru berprestasi menyempatkan diri untuk makan siang. Kemudian tibalah moment yang ditunggu-tunggu- yaitu pengumuman pemenang guru berprestasi dan berdedikasi. Semua peserta berkumpul di aula pada plaza kemendikbud gedung A di Senayan.
Sesuai arahan  dari panitia bahwa semua peserta harus duduk sesuai grup mereka, mulai dari grup Guru TK, Kepala TK, Pengawas TK, hingga grup Guru SMA, Kepala SMA dan Pengawas SMA. Berarti total peserta ada sekitar 700 orang. Para eselon dan menteri Pendidikan sudah hadir dan tentu pengumuman pemenang segera digulirkan.
Sejak semula aku  membuat patokan bahwa untuk tingkat Guru SMA, aku termasuk orang yang biasa-biasa saja karena aku berasal dari daerah kecil. Aku berfikir buat sementara bahwa guru-guru  yang terbaik itu tentu berasal dari propinsi di Pulau Jawa. Sesuai dengan keberdaan Universitas dan Perguruan Tinggi yang populer, seperti: ITB, UI, UGM, UNDIP, UNIBRAW...maka guru guru hebat juga  bakal datang dari Jawa Barat, DKI-Jakarta, Jogjakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kalaupun aku bisa juara mungkin aku memperoleh  peringkat 6 atau juara harapan 3, dengan alasan bahwa aku berasal dari Padang/ Batusangkar”.
Ternyata saat itu tidak ada pengumuman untuk harapan 1, 2 dan 3 (juara 4, 5 dan 6), maka hilanglah harapan aku  untuk memperoleh juara harapan. Namun sekali-sekali terlintas juga  dalam fikiran bahwa “jangan jangan yang juara satu guru berprestasi tingkat nasional  itu adalah aku  sendiri. Namun fikiran itu harus diusir, agar.... kalau tidak terbukti aku  tidak bakalan kecewa.
Maka juri/ panitia mengumumkan peringkat 1,2 dan 3 guru terbaik/ berprestasi tingkat nasional. Pemanggilan dimulai dari nomor 3....wah nama Sumatera Barat terlewatkan, untuk nomor 2.
 “Wah untung ada nama Sumatera Barat tersenggol lewat  Suyetmi untuk kategori guru berprestasi  tingkat SMP, ia berasal  dari  SMP Sijunjung”.
Dan untuk tingkat 2 buat kategori guru SMA, nama Sumbar masih lewat. Tinggal lagi untuk menunggu pengumuman pemuncak juara 1 Tingkat Nasional “Siapa gerangan..??”.
Aku  juga memperhatikan nama-nama  calon pemenang yang lain. Dalam hati aku  juga berharap untuk bisa jadi juara 1, namun aku  tetap berprinsip bahwa yang the best teacher of Indonesia  datangnya dari Pulau Jawa. Aku  jadi terperanjat dan kaget...mungkin itu namanya surprised, begitu nama yang dipanggil adalah namaku:
“ Guru berprestasi peringkat 1 (satu) Indonesia adalah Drs. Marjohan, M.Pd guru SMA Negeri 3 Batusangkar Sumatera Barat”.
Penulis merasa senaaaang, terharuuuuu, tak terbayangkan, semua orang sekitar memberi ucapan selamat. Mereka yang merasa punya hubungan darah dengan ranah Minang juga datang menyodorkan tangan dan berucap: “Bapak saya orang Padang...Selamat ya Bapak atas Prestasi nomor satu”.
“Terima kasih...terima kasih, alhamdulillah ” Aku  melontarkan dan mengucapkan rasa syukur tanpa tiada henti. Hari itu hari Jum’at dan aku  merasa terlahir kembali sebagai orang baru yaitu sebagai seorang pemenang. Seorang pemenang dengan rasa percaya diri sangat tinggi. Aku  pun meluangkan waktu untuk mengambil moment dan mengabadikan diri sebagai dokumen buat sejarah. Aku  kemudian mencari tahu nama- nama para juara 1 guru berprestasi tingkat nasional, mereka adalah sebagai berikut:
Daftar Pemenang I  Guru dan Tenaga Pendidik Berprestasi tahun 2012
1. Guru TK Berprestasi: Iis Sumyati Shalihat (TK Darul Hikam Bandung/Jabar)
2. Kepala TK Beprestasi: Zahra (TK Raudhah Pasuruan/Jatim)
3. Guru SD Beprestasi: Dhebora Krisnowati Sumarahingsih (SDN Kepahitan 06 Jember
     Kaliwates/Jatim)
4. Kepala SD Berprestasi Slamet (SDN Kalisari Sayung Demak/Jateng)
5. Pengawas SD Beprestasi: Dyah Budiarsih (UPK Purwekerto Utara/Jateng
6. Guru SMP Berprestasi: Subhan (SMPN 9 Pontianak/Kalbar)
7. Kepala SMP Beprestasi: Suyoso (SMP Meranti Mustika Seranau/Kalteng)
8. Pengawas SMP Berprestasi: Ganif Rojikin (Dinas Pendidikan Kab Probolinggo/Jatim)
9. Guru Sekolah Pendidikan Khusus Berdedikasi: Dedeh Kurniasih (SLB Negeri 7     
     Jakarta/DKI Jakarta)
10. Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Berdedikasi: Ratmartini (SLB Ulaka Penca/DKI
      Jakarta
11. Guru SMA Beprestasi: Marjohan (SMAN 3 Batusangkar/Sumbar)
12. Kepala SMA Berprestasi: Isdarmoko (SMA 1 Bantul/DIY)
13. Pengawas SMA Berprestasi: Budihardjo (Dinas Pendidikan Semarang/Jateng)
14. Guuru SMK Berprestasi: Ejon Sujana (SMKN 1 Cimahi/Jabar)
15. Kepala SMK Berprestasi: Ahmad Ishom (SMK Negeri 6 Semarang/Jateng)
16. Pengawas SMK Berprestasi: Riadi Nugroho (Dinas Pendidikan Pati/Jateng)
17. Tutor Paket C Berprestasi: Alif Rokhana Mukhromah (UPTD SKB Kota
      Salatiga/Jateng)
18. Lomba Kreativitas Pembelajaran Guru SMALB: Endang Sri Lestari (SLB A
      Yaketunis/DIY)
19. Lomba Guru Berdedikasi Pendidikan Menengah: Elmapida (SMA Mesuji
      Timur/Lampung) 
            Hari itu terasa amat indah dan menjelang maghrib kami semua naik mobil untuk menuju Hotel Millenium. Habis makan malam masih ada ceramah atau kuliah umu yang disampaikan  Prof. Indrajati Sidi- dosen senior ITB dan juga dari Dirjen Dikdasmen. Pencerahan itu setelah pengumuman pemenang, dimana penulis memperoleh peringkat 1 guru berprestasi untuk kategori guru SMA. Topik yang dibahas oleh Bapak Indrajati Sidi adalah seputar profesionalisme.
            Ia mengatakan bahwa kalau orang tidak bisa dipegang profesionalismenya maka ia bukan orang yang teladan. Hidup ini juga butuh proses, tidak mungkin seseorang bisa jadi hebat secara tiba-tiba, pasti itu semua lewat proses yang panjang.  Dia menambahkan bahwa secara makro negara kita belum begitu maju pada pendidikan, namun secara mikro sudah banyak orang-orang yang profesionalisme.
            Kalau bangsa mau maju  maka diperlukan banyak para teladan atau profesionalisme. Mereka semua harus menjadi panutan, acuan (reference), ditiru, dikagumi dan dibanggakan.  Seorang teladan atau profesionalisme perlu menguasai substansi bidang profesinya, bersikap jujur, pekerja keras, mempunyai cita-cita yang tinggi, punya target/ tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan dan menikmati goal setting (tujuan hidup mereka). Profesionalisme adalah bagaimana kualitas sikap para anggota suatu profesi serta bagaimana derajat pengetahuannya.
            Profesional itu terlihat dalam tindakan atau action. Segita dari profesionalime itu adalah seperti:
- Profesionalisme value and profesional commitmen- kommitmentnya adalah agar
   terus menerus belajar.
- Profesional skill and abilities- punya kemampuan dalam mengatasi problem.
- Profesionalism knowledge and understanding- memiliki kompetensi
   profesionalisme.
Prof. Indra Jati Sidi juga mengatakan bahwa orang yang teladan perlu menerapkan karakter hidup, yaitu sesuai antara perkataan dan perbuatan.           Seorang profesionalisme (teladan) – sekali lagi- perlu menguasai profesi. Seorang guru yang profesionalisme ia harus jago dalam mendidik. Ia tahu dengan substansi (bidang studi), tahu dengan psikologi, tahu cara memotivasi diri dan anak didik, tahu cara menilai, dll.  Orang yang suka mencontek, korupsi, dll, maka tak patut dikatakan sebagai orang yang profesionalisme.   
Masalah bangsa kita yang lain adalah dari segi kualitas dan kuantitas, untuk itu memang diperlukan para teladan.           Kita para pendidik bertanggung jawab dalam menyiapkan SDM bangsa ini.
“Prinsip dalam belajar dan berlatih bahwa- exercise makes perfect- atau latihan membuat sesuatu bisa sempurna. Tidak ada sustu kompetensi yang akan bisa diperoleh tanpa ada latihan. Karakter bagi para profesionalisme – guru berprestasi adalah seperti:
- Berkarakter gembira, berenergi, antusias, optimis, suka diajak kerja sama dan
   bekerja lebih lama.
- Rendah hati, yakni tidak sombong, mau mendengar dan mau belajar.
- Selalu berfikir dan berfikir untuk meningkatkan kemampuannya. Ia juga bersikap
   proaktif, manusiawi, pembelajar, pantang menyerah dan tidak mudah puas.
Dalam pertemuan/ kuliah itu juga dibahas tentang  trend kepemimpinan di dunia, yaitu dalam bentuk participative leadership. Gaya  kepemimpinan  ini kurang ada di Timur Tengah. Lihat apa sekarang yang terjadi- Suria, Mesir-  yang mudah bergejolak. Pesannya  bahwa profesionaliosme- para teladan- jangan lari dari medan tempur. Guru- guru jangan lari dari profesi.
Carilah lingkungan atau tempat yang hebat heterogennya atau hebat kebinekaanya. Contoh kekuatan ITB a adalah   memiliki intake yang bagus- anak- anak hebat se-Indonesia bergabung, dosen- dosen hebat juga bergabung. Musuh terbesar dalam upaya peningkatan mutu sendiri adalah diri sendiri, yaitu tidak ada kemampuan pada diri.
“Use your head and you will be teacher, guru berkualitas akan menjadi lebih terhormat”.
Dunia memang juga telah berubah dari berbasis SDA (Sumber Daya Alam) menjadi berbasis pada ilmun pengetahuan. Cara mencari ekonomi berbeda, keterampilan juga berbeda dan cara belajar juga berbeda. Maka pembelajaran harus mampu beradaptasi pada perubahan.

Menjalani Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional



8. Menjalani Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional
            Pelaksanaan seleksi guru berprestasi tingkat nasional tidak seberat seleksi di tingkat propinsi. Namun yang terasa berat adalah perasaan atau beban mental. Saat itu bullying  aku harus berhadapan dengan  utusan-utusan terbaik dari setiap propinsi dan jumlah mereka lebih besar dibanding saingan saat di Propinsi.
“Aku  ibarat berada di antara bintang-bintang dan aku  tidak bisa lagi melihat dan merasakan cahaya diri sendiri, karena bisa jadi kemilau diri  kalah  bersaing dari kemilau atau pesona teman-teman lain”.
            Meskipun kami ditempatkan di Hotel Millenium dengan iklim yang nyaman namun fikiran tidak senyaman suasana, karena dalam fikiran terjadi psy-war-  perang syaraf atau perang dalam fikiran. Ya  bagaimana aku bisa menaklukan soal-soal ujian test tulis yang jumlah soalnya tidak sebanding dengan alokasi waktu.
 “Karena anda adalah orang-orang pilihan maka tidak mungkin kami memberikan anda soal-soal yang mudah”. Kata salah seorang dewan juri.
            Selama dua hari kami dihujani oleh test tulis sepanjang hari, otak terasa lelah dan panitia ujian  juga terlihat  lelah. Dua hari berikutnya kami harus mempresentasikan karya ilmiah, dengan kuota 1 (satu) jam perorang. Ini adalah saat yang menegangkan menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari dewan juri dan bagaimana kita bisa merespon dan meyakinkan dewan juri dengan logika dan dengan penuh sopan santun.
            Aku  juga harus antri, menunggu giliran dan  memang cukup  membosankan. Jadwal tampilku ternyata  jam 09.00 atau 10.00 malam. Namun saat itu aku  tidak berada di tempat karena harus menunaikan sholat Isya. Jadwal tampilku  ditunda pada pagi berikutnya.
            Habis sarapan pagi maka semua  peserta memakai pakaian PSL- baju putih lengan panjang, memakai jas dan juga dasi. Setiap peserta mencari informasi tentang apa jenis pertanyaan dan bagaimana karakter dewan juri.
 “Woww  jurinya ada yang rada-rada galak. Suasana presentasi  seperti mengikuti kompre untuk tesis pada kuliah pascasarjana”.
 Akhirnya tibalah jadwal bagiku  untuk mempresentasikan karya ilmiah  dengan media power point. Yang kita perlukan adalah sikap tenang, santai dan penuh percaya diri. Setelah melalui presentasi ternyata suasana presentasi tidak menakutkan seperti yang aku bayangkan. Alhamdulillah aku  aku tampil cukup prima karena semalaman tidurku pulas dan aku merasa bugar, hingga  bisa merespon semua pertanyaan dewan juri, malah aku  menerima ucapan selamat dari dewan juri - mogas-moga anda sukses.
“Aku yakin itu hanya ucapan selamat untuk membesarkan hati setiap peserta”
 Selesai presentasi,  sebetulnya  suasana  fikranku  sedikit lega, kecuali aku  harus menyiapkan mental untuk mendengar hasil pengumuman pada hari berikutnya.
            Acara setelah kegiatan  presentasi adalah kegiatan  di luar Hotel Millenium. Kami semua  menuju Hotel Sahid untuk acara makan malam, acara ramah tamah dan pemberian hadiah dari Bank Mandiri oleh Direktur Bank Mandiri dan juga oleh Menteri Pendidikan Nasional.

9. Pencerahan dari Bank Mandiri dan Menteri
            Seperti biasa, aku  mengikuti uraian pencerahan yang diberikan para tokoh dengan seksama (tekun), aku  tidak lupa untuk menulis/ menyalin  ide-ide yang bermanfaat pada buku catatan. Ada ide-ide pencerahan dari Bapak  Anis Baswedan (Direktur Bank Mandiri).
Bapak Direktur  juga memberi wejangan yang sangat menginspirasi.  Ia berpesan agar kita  menyiapkan anak-anak menjadi pemenang di era baru dan bukan menjadi orang yang kalah dengan ilmu, bahasa, agama, pergaulan, etika,  dan lain-lain.  Ia bertanya:
“Mengapa sih orang orang Indonesia cukup banyak bisa diterima di internasional ? Ya itu karena karakter dan integritas mereka yang baik, dan juga oleh kualitas kompetensi yang mereka milki”.
Usai pencerahan dari direktur Bank Mandiri diteruskan dengan pencerahan (ceramah)  dari Menteri Pendidikan nasional.  Menteri pendidikan (Prof. Dr. Mohammad Nuh)  telah hadir sebanyak dua kali. Ceramahnya sangat aku senangi. Bpk menteri mengawali ceramahnya dengan memaparkan defenisi kata “guru”.
“Guru , yang berasal dari  bahasa Sangskerta- gu= darkness (kegelapan) dan  ru= light (cahaya). Jadi guru adalah cahaya yang menerobos kegelapan, guru adalah orang yang memberi pencerahan”.
            Guru itu seharusnya adalah orang-orang hebat maka untuk itu mereka perlu menyandang prestasi dan dedikasi. Seorang guru perlu memiliki cahaya (kecerdasan) dan energi (kompetensi) untuk menerobos kebodohan. Guru- guru adalah orang yang selalu menjaga kualitas bangsa, yaitu selalu membangun peradaban. Guru juga punya peran yaitu sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan generasi muda.
            Prestasi seseorang harus diapresiasi (dihargai). Namun yang bisa memberi appresiasi adalah orang orang yang juga pernah berprestasi (yang yang punya pengalaman sukses). Sorang yang tidak punya prestasi- tidak memilki pengalaman sukses- ya susah untuk menghargai prestasi orang.       
“Guru itu adalah ibarat mata air (sumur/ sungai) yang tidak pernah kering. Kehadirannya diperlukan untuk menyuburkan bangsa ini. Agar guru bisa selalu menjadi sumber air bagi kehidupan, maka guru harus selalu belajar dan belajar”.
            Kadang kadang ada guru yang mudah menjadi inferiority complex (rendah diri), karena merasa diri kurang- kurang ilmu, kurang kompeten. Untuk mengatasinya ya dengan menumbuhkanlah sikap optimis.   Peran guru adalah untuk memberi sentuhan demi sentuhan buat generasi emas Indonesia.
            Dunia guru adalah dunia ilmu, maka ilmu itu punya induk yaitu kesabaran dan kebijakan. Orang yang berilmu musti penyabar- guru yang berilmu adalah bukan guru yang killer dan guru pemarah. Tidak mungkin orang yang berilmu  itu seorang yang pemarah. 
“Maka aneh  ya....sekali lagi, kalau ada guru yang berilmu terkenal sebagai guru yang pemarah”.
            “Perempuan berilmu sangat dicari-cari dan dicintai oleh orang kaya. Mau tahu ciri-ciri menantu orang kaya ? Yaitu cantik/ ganteng, pintar (berilmu) dan jelas turunannya (orang tuanya).  Masa orang kaya punya menantu jelek dan bodoh”. Kata Pak Menteri bercanda.         
            Usai  berceramah  menteri  pun pamit dan hari sudah beranjak larut malam. Kami semua bergegas menuju mobil untuk bisa kembali  ke Hotel millenium.

10. Jum’at Yang Mendebarkan
            Aku  rasa bahwa hari Jum’at tanggal 7 september 2012 adalah hari yang mendebarkan karena hari itu akan ada pengumuman pemenang guru berprestasi. Walau semua peserta terlihat ceria, namun satu atau dua orang terlihat sedikit gugup. Ada yang berzikir agar diberi Allah rasa tenang dalam hati.
Pagi-pagi setelah sarapan kami kembali bergegas menuju mobil untuk menuju Hotel Century. Hari itu kami  punya kegiatan yaitu  mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Bapak Surya Dharma, M.A, Ph.D, dengan topik “tantangan guru tahun 2030”. 
Bapak Surya Dharma. Ph.D adalah Direktur pembina pendidik dan tenaga kependidikan Dikmen. Beliau terinspirasi oleh buku “Education for 21st  Century”.
Ia menyatakan bahwa kualitas pendidikan kita tergantung pada kualitas dan kepedulian guru, kepala sekolah dan pengawas. Kalau ke tiga orang ini memiliki kompeten- meskipun gedung jelek- ya akan bisa diperoleh generasi yang bernas. Apalagi kalau sang anak juga berasal dari rumah/ orang tua yang juga peduli- memotivasi dan menyediakan fasilitas.
Guru musti bertekad dan berprinsip bahwa “cara mengajar kita  musti berbeda dari cara mengajar guru dalam generasi sebelumnya”. Kalau guru kita  killer, pemarah, membuat siswa stress, ya kita  tidak harus demikin. Kalau guru kita  mengajar selalu monoton maka kita harus mengajar dengan model yang bervariasi”.
            Beliau menambahkan bahwa dunia sudah berubah dan cara kita bersikap juga berubah. Bagaimana implikasi dari perubahan dunia ini. Coba lihat bentuk hiburan- sudah berubah, cara dan alat komunikasi- sudah berubah, cara membayar dengan transaksi kartu ATM- sudah berubah, maka metode dalam mendidik- juga harus berubah. Jadi dunia memang berubah.
Dalam berkomunikasi dan mengakses informasi sekarang anak-anak muda banyak bersandar pada google (ada 620 juta orang), blogger (126 juta orang), you tube (2 juta orang) dan facebook (260 juta orang). Malah siswa sekarang tidak perlu banyak  tanya pada guru mereka  lagi. Mereka bisa berkonsultasi dengan “mbah google”. Kalau mereka ingin belajar bahasa, fisika, itu bisa lewat you tube.
Jadi paradigma- cara memandang kita- juga harus berubah. Maka guru, kepala sekolah dan pengawas perlu tahu dan menguasai  internet: google, blogger, you tube, facebook dan fitur yang lain.  Dahulu siswa amat percaya pada ucapan guru mereka. Namun sekarang mereka bisa cari tahu ke internet.
Siswa-siswa  kita bisa jadi sudah kaya dengan akses informasi, namun mayoritas mereka masih lemah dalam “problem solving dan critical thinking’. Sementara pendidikan di negara maju yang membuat negara tersebut bisa jadi maju adalah karena penduduknya sudah berorientasi pada problem solving dan critical thingking. Maka ini  juga menjadi tantangan bagi individu guru dan orang tua di rumah.
Beliau menambahkan bahwa dalam zamat teknologi dan informatika ini, kehadiran internet juga telah mengubah cara kita belajar, bermain dan bekerja. Di Amerika Serikat kalau ada rapat dinas, maka mereka tidak memakai undangan lagi, namun sudah dalam bentuk online. Orang- orang di sana selalu perlu membuka/ mengakses situs (web) on line.
            “Tanpa kita sadari bahwa belajar dan memesan tiket sekarang juga sudah serba online. Maka kalau boleh Kepala Sekolah jangan hanya terlalu rajin mengurus administrasi sekolah, namun mereka harus menjadi instructional leadership- ya fokus pada learning”.    
            Kepala sekolah sangat urgen untuk rajin mengunjungi kelas- bukan untuk bikin stress guru dan siswa- namun mereka perlu tahu bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan warga sekolah. Jadi pembelajaran itu sangat utama.             Jangan mengajar berharap anak banyak memorizing (menghafal) tetapi dorong mereka untuk melakukan critical thingking- untuk itu bentuk ujiannya harus essay, bukan multiple choice (pilihan berganda). Guru sendiri juga perlu tahu bentuk mengajar dengan critical thingking dan problem solving.
Pokok pembelajaran dalam abad 21 adalah tentang life-skill, content, mata pelajaran utama/ pokok, learning and thingking skill serta ICT dan literacy. Mari kita didik anak dan siswa kita sesuai zaman. Kalau kita mengajar anak atau siswa seperti pada zaman kita dahulu, berarti kita merampas masa depan mereka. Guru tidak hanya mengajar kognitif anak, namun juga mendidik (membentuk) karakter mereka melalui pemberian model dan menyebarkan pesan-pesan tentang betapa pentingnya menjadi orang yang baik (orang yang bijak).
Guru perlu selalu upgrade ilmunya. Upgrade itu berarti charging. Phone-cell saja juga perlu charging, Hp yang tidak dicharge bisa low battery.  Hidup kita ini unpredictable- kadang- kadang tidak bisa diprediksi, untuk itu kita selalu berubah melalui learning dan kalau boleh learning based society.
Sebagai guru- kita mengajar orang-orang baru, bukan generasi lama. Maka kita juga perlu mengubah cara mengajar kita. Dahulu menempeleng siswa bisa jadi sah-sah saja, namun sekarang menempeleng siswa bisa berurusan dengan hukum dan melanggar undang-undang perlindungan anak. Selanjutnya juga dikatakan bahwa      Kepala Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang effektif bagi sekolah. 
“If you don’t learn- you don’t change, if you don’t change- you die, so never stop learning. Jangan seperti dinosaurus yang malas bergerak dan akhirnya mati”.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...