Sabtu, 26 November 2011

True Story: Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis

 True Story:
Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis

By:
Marjohan Usman
Ranti Komala Dewi (Co-Writer)


Kata  Pengantar
          Membaca cerpen (cerita pendek), novel ataupun  kisah nyata merupakan hobbi  yang baik. Lewat kegiatan membaca akan diperoleh pengalaman  pencerahan  melalui  melalui alur-alur  kisah yang dipaparkan dari awal hingga akhir. Demikian pula dengan kisah nyata yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”.
            Kisah nyata ini agaknya juga tepat disebut sebagai  traveling book, karena juga mengisahkan tentang tokoh utama (single figure) yang bernama Ranti Komala Dewi dan sekaligus penulis  collaborator untuk kisah nyata ini. Kami  menceritakan bagaimana liku-liku kesulitannya  dalam menempuh pendidikan, merajut mimpinya menjadi kenyataan.
            Kisahnya diharapkan bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi pembaca berusia muda mengenai perjuangannya-  mulai dari desa kecil di kaki bukit, desa Padang Ganting, dekat kota Batusangkar dan juga dekat dari Pagaruyung- Sumatera Barat  hingga menyelesaikan pendidikannya  di Universitas Sorbonne, metropolitan Paris- Perancis. Kemudian, kami  juga mengisahkan bagaimana ia berjuangan untuk  berubah dari gadis desa yang pemalu dan kurang percaya diri hingga menjadi wanita yang mampu menggapai mimpi dan merayakan kemenangannya disamping  menara Eiffel Perancis, menara mimpinya saat kanak-kanak.
            Tidak ada gading yang tidak retak. Kisah nyata ini  agaknya ada  kekurangan dan butuh kritikan positif dari pembacanya. Kritikan positif dapat disampaikan melalui email marjohanusman@yahoo.com. Atas perhatian  dari pembaca kami ucapkan terima kasih.
Batusangkar, Desember  2011
Marjohan Usman
Ranti Komala Dewi (Co-Writer)

          DAFTAR ISI

BAB. 1            Sweet memory dari Perancis
BAB. II           Masa Kecil
BAB. III.        Aku Dalam Pandangan Orangtuaku
BAB.  IV         Menggapai Masa Depan
BAB. V           Menatap Dunia
BAB. VI          Bonjour Paris
BAB. VII        Kuliah di Universitas Sorbonne
BAB VIII.       Meneropong Istano Basa Pagaruyung Dari Paris
BAB. IX          Merayakan kemenangku di Eiffel
BAB X.           Catatan Ringkas Tentang Tinggal di Perancis

BAB. 1 Sweet memory dari Perancis

Welcome in Batusangkar
            Tidak terasa aku tiba lagi di tanah kelahiranku Padang Ganting- Batusangkar. Aku seharusnya dijemput oleh keluarga ku- ayah, dan uni. Namun dalam kenyataan bahwa aku tidak dijemput- tetapi aku menjemput. Aku menjemput mereka, ya karena aku yang menunggu mereka lebih duluan di bandara Internasional Soekarno- Hatta, Jakarta. Setelah mengurus beberapa hal, keesokan harinya  kami naik pesawat lagi menuju Padang, Sumatera Barat.
            Tentu saja memoriku tentang Perancis dan Paris masih hangat, karena kayaknya baru kemaren aku berada di sana. Aku masih ingat bahwa aku mengalami banyak pengalaman manis dan juga sejumlah keterbatasan hidup.
 “ Ada penglaman menyenangkan dan juga pengalaman susah, ya...banyak susahnya, apalagi aku termasuk warga baru di sana. Aku menemukan beberapa hal cukup kontra dengan  kondisi di kampungku  sendiri- di Batusangkar. Dalam  lingkungan keluarga aku bisa memperoleh banyak kemudahan dan  merasa hidup lebih nyaman. Di Perancis semua suka dan duka musti dihadapi dan diatasi sendiri”
            Kisah nyata ini berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”. Tentu saja kisah nyata ini berisi tentang ide-ide dan kisahku dari A sampai Z, dari Padang Ganting, sebuah desa kecil dekat Batusangkar, hingga ke Menara Eiffel di Perancis. Aku juga  akan  memaparkan eksistensi Istano Basa Pagaruyung dan Eiffel itu sendiri.
Eiffel dan Istano Basa Pagaruyung  adalah dua situs sejarah yang sangat terkenal di dunia yang berada di dua negara dan dua budaya yang amat berbeda. Eiffel dibangun oleh  ahli arsitektur beberapa abad silam dan Istano Basa Pagaruyung  dibangun oleh masyarakat melalui sistem adatnya. Dalam  membangun  Rumah  Gadang di nagari Pagaruyung  tidak hanyak sebatas masalah  duit, tetapi juga melibatkan unsur adat, dan ninik mamak (kaum kerabat dalam suku). Mereka melaksanakan  seremoni adat, musyawarah dan selanjutnya juga melibatkan sumbangan kaum kerabat.
            Dari Perancis aku memahami betapa besarnya sumbangan keluarga kerajaan Pagaruyung itu sendiri untuk lokasi pembangunan Istano Basa Pagaruyung itu sendiri. Sehingga akhirnya di sana bisa berdiri sebuah Rumah Gadang atau Istano Basa Pagaruyung yang melambangkan bangunan kebudayaan Minangkabau. Sekali lagi bahwa bangunan ini bisa berdiri berkat kerja sama pemerintah- kaum adat dan masyarakat Minangkabau dari berbagai daerah di negeri ini. Sementara itu Eiffel dibangun hanya atas nama ahli yang bernama Gustave Alexandre Eiffel tahun 1889.
            Aku berasal dari desa kecil dekat Batusangkar, yaitu Desa Padang Gantiang. Di sana aku tumbuh. Kata papa bahwa waktu kecil terlihat lugu dan amat pemalu. Papa dan mama selalu  memotivasiku untuk menjadi gadis yang berani, hingga aku bisa melepaskan  “topeng malu” itu sendiri.
Kalau aku runut kembali tentang perkembangan  pribadiku, dari orang pemalu hingga bisa jadi berani, aku  merasa hal itu sebagai hal yang incredible (suatu hal yang cukup luar biasa). Aku mulai dari zero dan bisa menjadi new hero, paling kurang untuk kaum perempuan atau orang-orang di daerah pinggir di negeriku- Padang Gantiang. Sebenarnya  kisah perjalan hidupku yach ..... biasa- biasa  saja.
            Jujur saja, kalau aku  renungkan  kembali perjalanan ini “until I get master” dalam bidang ilmu pengetahuan dari Universitas Sorbone- sebuah Universitas yang sangat terkemuka di Eropa dan malah juga terkemuka di dunia “Wow...I feel it very amazing”. Aku rasa bahwa perjalan hidupku dari awal hingga sekarang pastilah tidak mudah bagiku untuk mencapainya. Aku melakukan  banyak usaha dan pengorbanan.
 Aku memperoleh banyak dorongan dari keluarga. Setiap kali aku “down”- ya aku bisa ambruk” maka pasokan semangat dan energi motivasi dari mereka sungguh sangat berarti. Aku selalu memperoleh support dari mereka.
Support itu sendiri tidak diperoleh dengan serta merta, pasti  berawal dari kegagalanku dan baru  muncul support mereka. Ada stimulus maka ada pula response.
Master Degree yang aku peroleh di Sorbone Universite sekarang adalah kumpulan dari serangkaian jerih payah yang telah aku lakukan dan aku lewati. Aku sekarang sangat appreciate atas perjalanan hidupku sendiri.

Proses Panjang
            Sebelum mendapatkan degree of master di universitas Eropa ini, aku sebelumnya harus melewati proses pendidikan dari SD, SMP dan SMA di desa kecil di Pinggiran bukit dekat Batusangkar. Kemudian  aku melangkah menuju Universitas Andalas di Padang, terus ke Universitas Udayana, di Denpasar- Bali, dan selanjutnya aku terbang melintasi benua menuju Sorbone di Jantung Eropa.
Dalam tesis studiku  di Sorbone- aku menyatakan bahwa keberhasilan itu aku persembahkan  buat mereka:  kedua orangtua ku yang tercinta, juga keluarga dan kerabatku, serta tidak ketinggalan pula dukungan dari banyak orang dari kampung dan kampusku.
            Aku masih ingat bahwa saat aku baru saja selesai ujian mempertahankan tesis, aku merasa tidak sabaran  untuk  mengirim SMS ke berbagai orang yang  amat berjasa padaku “Hai....terimakasih...atas doa, dukungan kalian,  lewat  pertolonganmu...aku baru saja selesai memperoleh  master , Alhamdulillah”. Appresiasi ini aku lakukan bahwa aku  bisa begini ya karena dukungan dan dorongan dari mereka.
            “Aku bisa begini bukan karena usahaku semata tapi adalah berkata dukungan orangtuaku...sahabatku....familiku....orang orang yang begitu ikhlas pada ku”. Appresiasi ini tak mungkin aku wujudkan dengan uang, namun dengan rasa syukurku yang begitu mendalam  pada Tuhan dan rasa terimakasih yang tulus pada mereka-mereka yang amat aku cinta.
Ya pada hari H tersebut aku sibuk SMS-SMSan hingga larut malam “I finish my study...I finish my study, merci beaucoup pour tout”.
            Seminggu setelah berada lagi di kampungku, ya aku sempatkan untuk  berbagi cerita dan berbagi pengalaman dengan para siswa SMA Negeri 1 Padang Ganting dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Aku diberi kesempatan untuk mempresentasikan penglaman belajarku from Batusangkar hingga  Eiffel atau Perancis. Aku tetap bersemangat walau para siswa tengah berpuasa dan tampak sedikit mengantuk, karena aku bersemangat maka semangatku juga menular pada mereka. Aku ingin mereka juga bisa mengikuti jejak studiku dari Batusangkar hingga ke Sorbone.
            Sebenarnya bagi siswa yang belajar di kaki bukit dekat Batusangkar, untuk bisa menembus pendidikan di Universitas favorite di Indonesia- seperti di Universitas Indonesia, ITB, Unpad, UGM...sungguh sungguh amat sulit, apalagi untuk menuju Sorbone. Namun aku mengatakan pada mereka kalau dulu bagiku menuju Sorbone adalah amat mustahil...ya karena saat itu banyak keterbatasan. Maka kini dengan kemudahan berbagai tekhnologi informasi “Internet bisa diakses melalui  phonecell di tangan”. Maka aku yakinkan mereka bahwa hal-hal yang tidak bisa akan bisa menjadi  luar biasa. “Kuncinya adalah ketekunan , motivasi dan percaya diri”. 
            Aku juga berbagi motivasi kepada mereka, “Kalau sekarang infomasi buat sukses sudah cukup banyak, bisa diperoleh secara langsung dari orang orang yang datang sebagai pelaku sukses dari universitas. Juga bisa diperoleh lewat internet dengan akses yang begitu mudah. Nah sekarang mengapa tidak mencoba untuk menuju sukses..mengapa musti takut....mengapa musti ragu”.
            Aku mensupport para  junior tersebut “Ya coba lihat aku sekarang...kok aku bisa..!” Pada hal di zaman aku sekolah SMP dan SMA akses menuju ibukota kabupaten begitu sulit, aku harus menunggu mobil yang bermerek STS yang warnanya merah hampir satu atau dua jam, itupun untuk pergi les Bahasa Inggris yang berlokasi dalam kota kecil, Barusangkar.
“Namun kamu  sekarang  begitu mudah, kamu udah punya transpor sepeda motor..atau paling kurang naik ojek yang siap mengantarkan kamu kapan saja. Seharusnya kamu akan jauh lebih sukses dari saya”.
            Aku sebagai tokoh dalam kisah nyata yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”. Andai tokohnya  adalah seorang cowok maka itu hal yang biasa. Atau andai aku sebagai tokoh perempuan  yang berasal dari metropolis  bisa sukses dalam pendidikan sampai di Sorbone, maka itu juga hal  biasa. Namun aku adalah tokoh seorang perempuan kampung,  yang berasal dari pinggir bukit dekat kota kecil pula- kota Batusangkar, dan waktu kecil akupun sebagai perempuan kecil yang amat pemalu, namun kemudian melalui serangkaian perjalanan panjang yang penuh perjuang hingga bisa menyelesaikan pendidikan master pada Sorbone, lebih cepat dari target, maka aku sebagai tokoh akan menjadi luar biasa.
            Aku rasa bahwa kisah nyata “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis” ini akan sarat dengan pesan-pesan buat pembacanya. Intinya bahwa pembaca  peduli selalu dengan emansipasi perempuan’
 “Bahwa perempuan harus selalui  bangkit untuk pendidikan. Perempuan desa sekalipun- jangan kehilanghan semangat dan mudah putus asa, jangan terlalu banyak lagi mengkhawatirkan atas keterbatasan  diri sendiri”.
            Dulu orang memang banyak mengkhawatirkan anak perempuan untuk studi ke tempat yang jauh. Orang tua cemas  kalau anak perempuan  mereka tidak mampu hidup...cemas kalau   anak perempuan bakal ditimpa kesusahan dan bencana. Yang ditanamkan pada diri anak perempuan adalah rasa takut dan rasa cemas.
 “Wah mama takut kamu bakal diganggu orang....mama takut kamu bakal kelaparan dan sakit”,  dan akhirnya anak perempuan akan tumbuh jadi kerdil.
 Seharusnya anak perempuan  juga harus “Keep struggle- tetaplah berjuang hidup” sebagaimana halnya semangat anak laki-laki.
 “Mengapa anak laki-laki diizinkan dan diberi kepercayaan untuk belajar ke ibukota propinsi dan malah sampai ke universitas favorite di Pulai Jawa. Kalau begitu  anak- anak perempuan juga perlu memperoleh kesempatan dan hak seperti itu (?)”
            Sebenarnya perjalanan dan perjuanganku juga sarat dengan  keraguan yang datang dari famili dan kedua orang tuaku. Namun aku sudah memilihki pagar- pagar atau rambu-rambu  mengenai  kehidupan. Aku mengerti tentang “some do’s dan some dont’s (beberapa hal yang aku boleh lakukan dan beberapa hal yang musti aku hindari)”.
Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang gadis asal Minangkabau- atau wanita timur. Intinya aku tetap memakai aturan agama dan nilai sopan santun sebagai orang timur.
            “Aku harus berada dalam pagar  tersebut. Kalau aku lompat pagar maka aku khawatir kalau ada buaya- ada  celaan.  Maksudnya kalau di negeri ku hidup itu musti ada tata krama timur, sedangkar di Eropa mereka menganut kebebasan yang sangat bebas dalam bertindak”.
 Usahaku untuk bergerak dari perempuan kecil yang terbatas  dengan wawasan, memiliki rasa percaya diri yang rendah...ya melalui serangkaian usaha. Aku sering jatuh dan bagun. Ketika aku jatuh atau gagal maka aku tidak perlu meratapi kegagalan itu. Aku harus segera bangkit atau bangun. Jatuh  dan bangun dalam perjuang untuk meningkatkan kualitas diri  dengan melalui serangkaian “move on- selalu bergerak dan berusaha”.
Bukan menunggu dan berdiri dengan penuh ragu-ragu, apalagi tanpa percaya diri. “Kalau gagal ya jangan patah hati...ayo coba lagi  dan bangkit lagi !!!”.
            Larangan dan dorongan dari keluarga aku rangkum menjadi resep hidup buatku selama dalam perjalanan hidup di rantau orang. Ternyata sangat dahsyat bagiku dalam menuntun diri sendiri.
Aku menyedari bahwa kemampuan akademikku saat di SMP dan SMA masih sebatas rata-rata. Di SMA dulu aku bukan termasuk siswa yang memperoleh juara umum, aku malah tercatat sebagai siswa yang  cuma rangking empat besar di kelas. Namun kemudian aku sadar dan banting stir, bahwa aku harus hebat dalam bidang akademik namun tidak perlu terlalu kutu buku. Maka  aku juga  aktif dalam organisasi sekolah- juga aktif dalam kegiatan masyarakat di sekitar rumahku.
            Sekali lagi bahwa saat aku di SMA, prestasiku tidak begitu cemerlang, tidak seperti adik dan kakakku. Mereka pernah menjadi student teladan- atau sekarang dikenal dengan istilah “siswa berprestasi” di sekolah. Terus terang saat itu figurku adalah kakakku. Akhirnya melalui figur dari kakak, semangat suksesku bisa update lebih baik.
            Dengan  menyadari segala keterbatasanku- keterbatasan sebagai konsekuensi tinggal di kampung, yang notabenenya miskin dengan informasi dan ilmu pengetahuan, keterbatasanku dalam bidang akademi yang cuma rata-rata (sebagai siswa yang hanya biasa biasa saja). Sebagai anak kampung, aku cuma sibuk dengan eksplorasi namun miskin dengan outlook (pandangan keluar) hingga batu loncatan buat suksesku kurang bagus.
            Walau aku memiliki batu loncatan yang kurang bagus, namun dalam membidik sukses aku menggunakan strategi yang aku sebut sebagai “pandai-pandai dalam melihat peluang”.  Kita pengen ke sana tetapi kita tidak bisa, kita melihat rumput tetangga lebih hijau, dan kita berfikir bagai rumput di daerah mereka bisa hijau. Ya bagaimana aku bisa sukses kayak tetangga dan itu membutuhkan juga banyak peluang. Untuk memperoleh batu loncatan yang bagus ya perlu banyak trik trik yang hebat yang musti juga aku lakukan.
            Sekali lagi, kalau aku runut kebelakang, aku kagum sendirian bahwa ternyata  aku cukup hebat dalam mendisiplinkan waktu buat belajar dan buat melakukan serangkaian aktivitas. Hingga  sekarang aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki  gelar edukasi dari Perancis. Walaupun itu belum apa-apa  dibandingkan dengan  mereka yang sudah memperoleh Doktor dari sana. Namun bagiku sebagai perempuan yang tulen besar di kampung, gelar akademis yang demikian  maknanya sudah amat luar biasa.

Remaja Perlu Punya Mimpi
            Apa sih mimpiku buat masa depan ? Melalui  kisah nyata Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis ini aku ingin para  remaja untuk memiliki mimpi- yaitu memiliki cita-cita buat masa depan mereka.  Aku  juga ingin memaparkan beberapa mimpi atau keinginanku. Aku ingin berbagi cerita agar kaum perempuan, termasuk  yang berada di daerah pinggir, agar bisa melakukan move on. Sekali lagi bahwa mereka harus melakukan MOVE ON, yaitu bergerak, berusaha, berkarya dan belajar selalu. Jangan statis, beku apalagi serba pasif.
            Aku sebagai tokoh dapat dikatakan sebagai perempuan yang pada mulanya ultra kampung yang sering menemui banyak kekagetan atau  cultural- shocked.   Aku sudah memperoleh comparison (perbandingan) antara timur dan  barat melalui pengalaman hidup selama tinggal di Paris.
Aku jadi mengerti  bahwa “ternyata sistem pendidikan yang bagus seperti ini... tidak hanya membebek padas guru, tidak hanya nrimo saja”.
Aku juga memperoleh studi di bidang pariwista maka aku berani mengungkapkan bahwa “pariwisata kita jauh lebih bagus dari pariwisata Perancis itu sendiri”. Namun problemnya adalah pengelolaan pariwisata kita sangat kurang....jauh lebih kurang dibandingkan Perancis.
Pengembangan pariwisata kita tampaknya masih tergantung dari sistem proyek. “Kalau tidak ada proyek maka asset wisata yang begitu eksotik dibiarkan sia-sia saja hingga tidak berjalan lagi”.
            “Pembangunan dan pengelolaan wisata Perancis bersifat kontinue sepanjang waktu. Mereka telah membuat kalender event wisata begitu detail. Mengapa demikian....ya karena wisata mereka sudah bien organisee (well organized). Pengembangan pariwisatanya terlaksana secara desentralisasi yang profesional. Sekali lagi- kalau pengembangan pariwisata kita terkesan  berdasarkan proyek secara desentralisasi”.
            Aku juga ingin menyampaikan kepada para ABG- anak baru gede atau para remaja sebagai pembaca buku dan bacaan lain  yang terhebat di dunia. Para ABG adalah orang orang yang memiliki kemampuan dan semangat yang lebih besar di bandingkan kelompok generasi yang lain. Di mana- mana ada aktivitas pasti para ABG menempati porsi yang lebih banyak. Konsert musik dan event olah raga selalu penuh oleh dukungan  remaja (ABG).
 “Karena ABG memiliki semangat yang gede maka aku berharap agar mereka memanfaatkan semangat tersebut untuk hal-hal yang positif untuk menuju masa depan. Dengan memiliki  sebuah masa depan maka cobalah untuk move on bersama mimpi itu. Mimpi tersebut dapat diwujudkan melalui semangat”.
            Aku fikir bahwa para ABG  perlu  berfikir untuk  jangka panjang.....untuk masa depan. Arah visi mereka kemana ? Untuk pengembangan visi...ya perlu rencana jangka panjang. Visi jangka panjang perlu didukung oleh banyak ilmu pengetahuan. Untuk itu mereka perlu membaca  yang harus ekstra banyak. Mereka harus cari tahu tentang isue-isue tentang dunia 20 atau 30 tahun ke depan dan  jangan hanya bersikap apatis.
            Sebagian remaja  memang  ada yang  belum punya mimpi. Begitu ditanya tentang masa depan,  mereka banyak menjawab “I don’t know...I don’t know”.
Penyebanya adalah remaja sekarang hidupnya serba gampang. Mereka selalu merasa keenakan. Alam juga membuat mereka jadi manja. Akibatnya mereka cenderung berkata “wah esok itu akan ngampang aja”.
            Contohnya kalau mereka berhalangan untuk hadir, untuk menyampaikan problem juga gampang. Cukup telepon aja atau kirim SMS ...ya beres. Kalau dulu untuk memberi khabar harus kirim surat dan mencari orang untuk mengantarkan surat tersebut. Problemnya lagi bahwa teman itu sendiri jaraknya jauh, kita harus jalan. Sekali lagi kalau sekarang kita bisa naik ojek atau kasih telpon, jadi hidup begitu enak dan tantangan hidup jadi kurang.
Fasilitas yang serba mudah bisa membuat orang kehilangan motivasi untuk jadi maju. Aku melihat fenomena tersebut. Setelah itu yang membuat para ABG susah untuk move on adalah karena kurang  terbiasa untuk mandiri “semua serba di bantu, makan dihidang, pakaian disetrikakan, kebutuhan yang lain disediakan...mereka minim usaha dan minim pengalaman hidup”.
Karena aku sudah punya pengalaman hidup di Eropa, aku bisa membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita. “Jauh  sekali bedanya, kalau dari budaya kemandirian, mereka punya  budaya yang  lebih invidu. Individualism tentu tidak pas buat kita. Efek dari kemandirian juga ada bagusnya-  mereka lebih struggle..mereka lebih berjuang.
Umur 20 tahun mereka musti ke luar rumah, mereka harus hidup mandiri. Namun sistem pemerintahan memandang bahwa anak- anak yang usianya masih 25 tahun ke bawah dianggap masih kecil, sehingga mereka musti punya kartu khusus dan dalam menggunakan fasilitas umum, seperti naik bus, trem...mereka akan memperoleh banyak potongan harga. Walau pemerintah memberi mereka banyak kemudahan dalam memberikan potongan harga..itu semua punya tujuan untuk mengimprove mereka. Semenatara mereka harus ke luar rumah dan mandiri yang dilakukan oleh keluarga...juga untuk mengimprove mereka.
“Terlihat bahwa umur 20 tahu mereka harus dilepas...dan pemerintah menerima mereka dengan memberikan layanan kemudahan hidup sampai usia 25 tahun. Jadi ada sistem membina untuk kemandirian generasi muda mereka. Bukan terlalu memuji kalau aku berani menyatakan bahwa orang Perancis sangat kommitment dengan dirinya. Really they have self commitment”.
Aku berfikir bahwa para remaja kita yang bisa melakukan move on dan berhasil, itu terjadi karena mereka memiliki kommitment yang hebat.  Aku melihat bahwa ibunya anak-anak Perancis  tidak monopoli kekuasaan- tidak suka banyak memerintah, tetapi malah menghargai. Begitu anak  melakukan aktivitas positif, ya langsung diberi reward- pujian dan penghargaan.
“Anak-anak yang orang tuanya sangat otoriter, gemar bertengkar, gemar mengomel...ya akhirnya pendidikan anak juga tidak akan berjalan mulus”.
Remaja juga bakal tumbuh sukses andai mereka punya orang tua, sebagai figur, yang punya kesibukan. Sehingga mereka mengappreciate bahwa hidup memang butuh kesibukan atau akativitas.
Aku berasal dari keluarga, dimana orang tuaku memilkiki tiga orang anak perempuan. Namun walau kami semua perempuan kami semua harus keep struggle sebagaimana halnya anak-anak laki-laki. Papa sering berkata: “Kamu harus kuat, dan tidak boleh cengeng. Tidak zamannya lagi bagi perempuan untuk bersikap cengeng, karena cengeng melambangkan sebagai karakter yang lemah. Orang yang lemah  akan mudah diotak atik oleh orang lain”.
Papa juga  mengajarkan bahwa aku harus tahu dan menguasai hal hal yang baru, kalau tidak aku bakal ketinggalan. Lain halnya dengan mamaku, ia lebih suka memberitahu tentang batasan-batasan “kamu tidak boleh begini dan kamu harus melakukan ini”.  Dengan cara demikian  aku jadi tahu tentang berbagai rule of life (peraturan hidup). Ini aku peroleh lewat dialog.
“Dialog keluarga perlu selalu untuk dijaga/ dipelihara dan selalu dikembangkan. Apalah yang akan terjadi andai suatu keluarga jarang berdialog, maka pasti anggota keluarga akan jalan sendiri- sendiri dan mereka juga tidak akan akrab dan utuh”.
Melalui kisah nyata ini aku juga ingin, secara sekilas, membandingkan perempuan di pedesaan Perancis dan perempuan di desaku sendiri. Perempuan di desaku hidup  dibawah pengaruh keluarga, mereka belum punya kemerdekaan sepenuhnya...namun itu bagus menurut kulturku. Pasti intinya demi keamanan dan perlindungan terhadap perempuan itu sendiri.
“Namun jeleknya,  mereka menjadi kaku dalam membikin decision (keputusan) buat hidupnya”. Well.....!! Di kampungku terlalu banyak musyawarahnya dalam mengambil keputusan, sehingga seseorang  susah untuk menjadi dewasa. Di Perancis seseorang  merasa dewasa kalau sudah tamat kuliah atau kalau sudah bekerja.
Dalam kultur kita, selama kita masih kuliah maka kita masih belum dewasa dan belum ada kekuasan dalam membuast keputusan yang penuh. Namun   kadang- kadang, seperti halnya aku, meski udah bekerja dan tamat kuliah, mama dan papaku masih tetap mengurusku seperti mengurus anak kecil. “Akhirnya kita merasa terbuai dan termanja gara gara campur tangan orang tua yang kelewat banyak. Orang tua berfikir bahwa aku masih sebagai seorang gadis yang harus diayomi selalu”.
Di perancis, keluarga memperkenalkan budaya demokrasi dan setiap anak harus memiliki nilai struggle yang hebat. Orang tua akan berkata “kamu harus menjadi desicion maker untuk dirimu sendiri, hidup kamu tergantung pada- kamu mau susah atau kamu mau senang semua tergantung pada kamu ”.
Namun kalau di sini, musti bawa-bawa nama keluarga. Kalau menjadi orang sukses dan orang baik, maka nama keluarga juga jadi baik. Kalau kamu melakukan kesalahan atau sampai membuat hal yang kontra, maka nama keluarga akan ikut tercemar. Kalau di Perancis tidak begitu, “Kalau kamu gagal dalam hidup ya resikonya buat kamu sendiri. Sekali lagi bahwa kalau dalam budaya kita, keberhasilan dan kegagalan akan dikaitkan dengan keluarga besar kita.

Aku  Menggunakan Pola Fikir Gabungan
Bagaimana ya pola fikirku setelah pulang dari Perancis ? Aku kenal ada seorang teman yang sempat mengikuti program YES (Youth Exchange Student) di Amerika Serikat selama satu tahun. Sebelum pergi ke sana dia dikenal baik, karena suka serba mengikut pada pola fikiran orang tua. Namun begitu pulang dari Amerika serikat, ayahnya telah menganggap dia sebagai anak yang suka kontra dan keras kepala. Itu gara-gara ia suka memiliki pola fikiran yang kritis- dan mengungkapkan perasaan dan fikiran secara serta merta. Kalau tidak suka ya, ia bilang tidak suka, dengan resiko bahwa orang tua merasa ditentang.
Namun bagiku, aku akan menggunakan cara berfikir yang combine (gabungan) pola fikir asliku dan pola fikir Eropa. Aku berfikir bahwa pasti budaya kita itu bagus dari pada budaya fikir barat. Tetapi begitu aku pergi ke Eropa aku lihat budaya fikir mereka dengan semangat struggle (berjuang) juga sangat  bagus untuk disadur.
Aku pingin orang tua juga mempersiapkan anak anak untuk struggle dan bersikap terbuka pada anak-anak. Bila ada masalah keluarga maka ada baiknya untuk dibicarakan dengan melibatkan anak-anak.
Budaya Minang yang aku lihat ya bersifat “tarik ulur”. Seorang anak dilepas...mereka dilepas, bila ternyata ada kesalahan ya ditarik lagi. Budaya tarik ulur begini tidak ada di sana. Kalau salah ya salah kamu, kalau untung ya manfaatnya bagi kamu. “Kalau saya salah ya ini hidup saya, yang lain mengapa harus repot repot mengurusku”.
Aku masih ingat tentang bagaimana perlakuan orang tua Perancis pada anak-anak mereka. Pasti orang tua memahami tentang perkembangan dan prilaku anaknya dan mereka berusaha untuk mengembangkan anak anaknya buat menghadapi masa depan, jadi kesannya bahwa orang tua Perancis sangat bertanggung jawab buat masa depan anak.
Anak anak disuruh agar memiliki hobbi, namun jangan larut hanya dengan hobbi semata, karena itu itu tidak hanya untuk satu sisi, anak musti mampu hidup dalam banyak sisi. Sebagai target di Indonesia, bahwa setiap anak harus menguasai IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi), namun juga harus mantap IMTAQnya (Iman dan Taqwanya). Hidup itu ada sisi A, B, C nya. Jadi anak jangan hanya menguasai sisi A saja, tetapi juga bagus dalam menguasai sisi B dan C nya.
Aku merasa bahwa meskipun aku sudah menjadi decision maker (pengambil keputusan), namun aku masih memerlukan peran mama dan papaku. Bila aku tidak tahu satu hal maka aku akan melemparkan permasalahanku pada papa dan mamaku. Bagiku papa adalah ibarat  kamus berjalan, walau ia miskin dalam referensi pengetahuan, namun ia mampu memberi solusi berdasarkan pengalaman hidup yang ia miliki. Sementara mama berperan sebagai pemberi pertimbangan bagiku. Jadi begitu selesai pendidikan di Eropa bukan berarti aku sudah mandiri dalam menggunakan pemikiran, ternyata aku masih butuh pemikiran orang di sekitarku- sekali lagi mama dan papaku.
Ada yang bertanya bahwa apakah orang tua yang di Perancis semuanya memperoleh pendidikan Pascasarjana dan Doktoral. Aku  lihat  tidak semuanya, namun mereka semuanya cukup well educated. Mereka menjadi well educated karena sistem pendidikan mereka yang berkualitas. Umumnya tidak ada anak anak SD, SMP dan SMA yang berkeliaran saat jam belajar. Saat mengajar guru dan stakedholder sekolah bekerja dengan profesional dalam mendidik.
Kalau kedapatan ada anak yang berkeliaran pada saat jam belajar, maka orang tuanya dipanggil dan didenda oleh pemerintah. Umumnya sekolah di Perancis dari SD sampai SMA adalah gratis. Jadi orang tua sangat diminta untuk turut peduli dalam mendidik anak mereka, tolonglah ikut mengantarkan anak kesekolah dan genjotlah disiplin dan motivasi belajar mereka.
Televisi perancis juga tidak begitu banyak mempengaruhi karakter konsumtif anak anak sekolah. Iklan televisi sering menggoda anak anak untuk menjadi konsumtif, apalagi kalau materi iklan khusus untuk konsumsi mereka seperti iklan parfum, kosmetik, makanan. Aku perhatikan bahwa iklan di TV Perancis tidak begitu dominan. Dalam satu jam, tayangan televisinya cuma selama 15 atau 20 menit. Beda dengan TV di negara kita, yang mana tayangan iklan lebih panjang dari acara pokoknya. Iklan nyang panjang terkesan tidak banyak mendidik, tapi malah membuat masyarakat menjadi konsumerisme.
Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kualitas para guru. Guru-guru di TK, SD, SMP dan SMA semuanya menerapkan model pembelajaran fun learning. Fun learning juga dikenal dengan istilah PAKEM yaitu- pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan. Aku melihat selama musim dingin pembelajaran memang banyak berada dalam ruangan, namun dalam musim semi, para guru membawa anak anak untuk belajar ke luar kelas, malah sampai ke luar sekolah, mereka belajar di alam.
Dalam musim semi tersebut, aku pernah menemui guru TK menggiring murid mereka berjalan di taman, di jalan dan terus naik metro. Anak anak berjalan berbaris berpasangan, mengikuti alur alur. Guru guru amat terbuka pada siswa dan siswa lebih berani untuk berbicara dengan guru guru mereka. Namun kalau di negara kita, terlihat bahwa sebahagian siswa mendewakan guru dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh guru “semuanya betul”. Seolah olah guru adalah sumber ilmu dan sumber kebenaran secara mutlak.
Di Perancis saat mereka entre le metro (saat masuk metro) aku dengar pembicaraan guru dan murid sangat terbuka. Anak- anak bilang pada gurunya “Ibuk kenapa ini harus begini....ibuk kenapa harus begitu...?”
Anak anak sangat antusias bertanya pada guru mereka. Dan guru mereka menjawab, namun ada yang protes kenapa begitu mon pere dis moi nes pas comme ca (ayah ku bilang tidak begitu). Anak anak sangat berani dalam berbicara dan termasuk dalam memprotes, aku lihat bahwa sosok guru bukan sebagai sosok yang menakutkan bagi siswa siswi mereka. Guru guru look nice semua terhadap anak anaknya.
Di saat anak anak sibuk berbicara dan ruangan terkesan bruyant (ribut) gurunya terllihat senyum saja. Tidak menghardik hardik untuk mendiamkan anak anak didik mereka. Mereka mengatakan bahwa suasana ribut itu menandakan adanya  suasana yang kreatif. Guru Tk tersebut berkata padaku “Pardone si mes enfantes sont bruyantes”- maaf ya kalau anak-anakku semua berisik.
Sekali lagi bahwa aku lihat banyak guru guru di sana suka ngajak anak anak ke lapangan. Mereka semua adalah guru guru yang bersikap terbuka- membuka diri terhadap anak didik mereka. Berdebat dengan guru adalah hal yang biasa, dan kalau guru tidak tahu maka dengan enteng guru akan berkata “Je pas atau aku tidak tahu”. Kemudian hubungan guru dan orang tua adalah berbentuk partner. Apakah guru ataupun orang tua tidak satupun yang bersifat dominan. Itulah kira-kira isi kisah nyata ini yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”.


BAB. II    Masa Kecil
Desa Padang Ganting
            Tema kisah nyata ini adalah  tentang travelling experience. Aku akan memulainya  dari cerita masa kecil, yang dimulai dari Padang Ganting.
            Padang Ganting adalah sebuah desa kecil yang terletak cukup dekat dari Batusangkar. Jaraknya hanya 20 menit dari kota Batusangkar. Desa ini juga  dekat dengan kota Sawahlunto. Di sekitar daerah ini terdapat dua daerah atraksi wisata yaitu Pagaruyung dan Sawahlunto, sebuah kota tua. Atraksi menarik yang terdapat di Padang Ganting yaitu “air panas”. Tempat ini banyak dikunjungi orang dari dalam dan luar Kabupaten Tanah Datar.
            Desa Padang Ganting juga sangat bermakna bagiku, karena aku lahir disini. Aku menghabiskan masa anak-anakku di sana. Dari lahir, terus TK, SD, SMP dan terus SMA, aku tinggal di desa Padang Ganting.
            Aku dilahirkan oleh seorang ibu, yang bernama Warni. Ia berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Padang Ganting. Sementara ayahku, yang berprofesi sebagai guru olah raga  di SMP Negeri 3 Limo Kaum, Batusangkar. Aku punya seorang kakak perempuan, Yeyen Wulandari dan seorang adik perempuan, seorang mahasiswi Farmasi, Unand Padang. Jadi, aku tidak memiliki saudara laki-laki.
            Waktu  masih  kecil aku une petite (sedikit) pemalu. Namun aku memiliki dan memuja seorang kakak yang sangat pemberani dan sangat kreatif. Ia selalu mengarahkan aku sejak kecil dan selalu mengajakku untuk bermain.
“Kami melakukan banyak kreasi donc  J’ai une dirigeante (jadi aku punya seorang leader). Dari kecil aku selalu menjadi follower nya. Kakak tersebut memiliki peran penting dalam figur masa kecilku”.
            Aku pada mulanya termasuk anak yang sangat sangat pemalu. Bila ada orang baru atau tamu papa yang datang aku suka melihatnya dari balik gorden atau melihat-lihat saja dari jarak jauh. “Jangan malu-malu Ranti.., orang pemalu temannya sedikit..!!” Seru papa atau mama dari belakangku.
Mama mendaftakan aku untuk pendidikan dini ke  Taman Kanak-Kanak, namanya TK Al-Amin di Padang Ganting. Di sana aku belajar bersosialisasi dan belajar bermain. “Ternyata bermain juga butuh belajar, lho...!”
Aku juga belajar menari dan bernyanyi. Tentu saja saat belajar di TK aku mulai belajar mencintai seni, tari, dan lagu. Setelah itu aku melanjutkan ke SD. 
            Saat belajar di SD, aku juga belajar bersosialisasi. Teman teman ku jadi bertambah banyak. Waktu belajar di SD aku belum suka show up, jadi  aku masih timidite (pemalu). Aku beruntung karena selalu diajak ke mana-mana oleh kakak yang pemberani. Ia selalu mengajak ku melakukan eksplorasi- menjelajah ke sekitar rumah.
“Siapa ikut pergi memanjat pohon cherry....pohon rambutan....!!” Meskipun sebagai anak perempuan namun aku  sering  diajar memanjat pohon oleh kakak. Kadang kadang juga oleh papa.
“Kamu harus bisa memanjat pohon agar tulang dan badanmu kuat”. Memanjat pohon juga membuat aku lebih berani dan tidak mengalami  alto- phobie (takut dengan ketinggian). Aktivitas ini  sekaligus membuat otot tangan dan otot kaki jadi kuat.
            Aku diajak papa melakukan aktivitas yang demikian karena  papa (ayah) sebagai seorang guru olah raga. Meskipun aku perempuan, aku juga diajar main bola takraw. Barangkali  karena papa  pengen punya anak cowok. Namun bakat ku untuk main bola takraw tidak berkembang.
            Pengalamanku saat di bangku TK, ya masih sebatas bermain-main saja. Saat aku duduk di bangku SD, aku mulai punya pengalaman dalam bidang nyanyi dan baca puisi.
“Aku  masih belum punya pengalaman menarik  waktu belajar di SD. Berbeda  dengan kakak ku  yang selalu menjadi bintang kelas. Ia malah jagoan untuk tingkat sekolah yaitu untuk bidang akademik. Aku bersyukur karena masih bisa juara dalam lomba baca puisi- dan pelatihnya adalah mamaku sendiri.
           
Masa Remaja
            Memasuki tingkat SMP berarti memasuki masa remaja. Saat duduk di bangku SMP pengalalaman suksesku sudah mulai berkembang. Usia belajar di tingkat SMP dapat dikatakan sebagai  usia remaja awal. Setiap orang ingin menonjolkan dirinya- memperlihatkan bakatnya. Mereka ingin mewujudkan kemampuan diri, mengenal lingkungan.
Aku  juga demikian. Aku ikut  aktif dalam berorganisasi- organisasi sekolah, dan aku tetap melanjutkan hobiku dalam bidang baca puisi dan menari. Guru- guru sering melibatkan aku dalam lomba baca puisi. Alhamdulillah dari kelas dua dan kelas tiga, aku selalu memperoleh juara satu dalam lomba baca puisi.  Aku bisa menang karena aku selalu diayomi oleh seorang ibu,  yang kebetulan juga seorang guru Bahasa Indonesia. Jadi bisa melatih aku untuk baca puisi. 
            Saat duduk di SMA, pengalaman sukses ku tentu semakin berkembang dari segi kualitas dan kuatitas. Sebagai efek positif, aku menjadi sosok yang lebih berani dibanding saat aku belajar di SMP dulu.
Saat duduk di bangku SMA, bakat baca puisiku tetap berkembang dan aku juga selalu memperoleh juara pada setiap perlombaan. Aku semakin antusias dengan organisasi sekolah. Aku sempat dicalonkan menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan ini membuatku harus sering tampil di depan publik sekolah.
Saat pemilihan ketua osis, dilakukan penghitungan suara dan “Horee...hore...!! Pendukungku bersorak gembira. Aku memperoleh suara terbanyak dan ikut jadi team formatur, namun aku terpilih menjadi sekretaris OSIS. Karena aktif dalam Osis dan sering tampil akhirnya watak pemaluku yang menjadi topeng pada wajahku ternyata bisa lepas. Aku sudah jadi orang pemberani  saat aku duduk di bangku SMA.
            Berteman berarti bersosial. “Kalau pengalamanku dalam berteman  saat di bangku  TK dan SD belum begitu signifikan. Dalam usia itu aku hanya asyik bermain main dengan kakak. Aku belum begitu  populer hingga  aku sekolah di SMP. Orang-orang hanya mengenal kakakku. Namaku hanya dihubungkan dengan nama kakak.
 “Oh kamu adiknya Yeyen ya....!!” Aku protes dengan sikap mereka. Mengapa namaku tidak begitu dikenal, kecuali nama kakakku.
            Teman-temanku  hanya  masih sebatas teman sekolah. Mereka adalah teman sebangku, teman sekelas, dan teman sama-sama belajar. Hanya baru sebatas itu. Saat  duduk di bangku SMP  aku mulai mengenal arti persahabatan. Itu awalnya- dimulai dari teman sebangku. Dari dia aku mulai mengenal keluarganya: ibunya bagaimana, ayahnya bagaimana, serta kakaknya bagaimana (?).
Aku  punya teman sebangku yang sangat  pintar dan juga baik. Aku juga ingin sepintar dan sebaik dia. Kalau boleh, aku lebih baik dan lebih pintar dari dia lagi. Aku mulai mengerti dengan arti persahabatan saat duduk di bangku SMP. Namun persahabatan saat di bangku SMA lebih bercorak bentuk “gang”.
“Gang itu semacam pertemanan yang terasa lebih eksklusif dan lebih akrab. Aku punya gang dalam kelas, dan juga  gang untuk pergi les bahasa Inggris”.
            Gang yang aku punya adalah seperti petit club (grup kecil). Gang untuk pergi les (kursus) bahasa Inggris anggotanya adanya 5 orang. Kami pergi les bersama-sama. Gang dalam kelas ada lagi, begitu pula gang untuk berkumpul dalam  OSIS. Gang ini adalah tempat berbagi (sharing)  pengalaman dan perasaan. Juga tempat untuk berbagi suka dan duka. Dalam gang aku lebih banyak mengekspose kegembiraanku.
            Aku juga punya kesan yang banyak dengan guru.  Aku mengenal figur orang dewasa yang baik, di luar keluarga sendiri lewat pribadi mereka. Guru- guru  TK  memperkenalkan jenis jenis permainan padaku. Itu adalah saat-saat  yang sangat indah. Kemudian pengalaman bersama guru saat di SD mulai melebar, aku mulai tahu guru yang pemarah dan guru yang sangat baik. Yang selalu aku ingat adalah guru yang punya pengalaman emosi dengan ku- ya seperti guru yang baik dan berwajah cantik.
            Di bangku SMP aku mulai mengenal guru yang pintar dalam mengelompokan siswa.
“Ini kelompok siswa yang kreatif, ini kelompok siswa yang pintar, ini kelompok siswa yang nakal. Ow....aku  berfikir bahwa ternyata guru juga mengelompok-ngelompokan siswa. Kalau begitu aku sendiri dikelompokan ke mana oleh guru guru tersebut ?”
Saat di bangku SMA aku melihat gaya guru yang punya kemampuan dalam merangkul pribadi siswa. Karena saat itu para siswa sudah memiliki karakter tersendiri.     
            Pribadiku sendiri memperoleh pengaruh atau warna dari figur guru-guru di sekolah dan juga figur orang tua di rumah.  Figur yang memberiku  motivasi  tentu saja “figur mama dan papaku”.
Uni (kakak perempuanku) orangnya juga berpengaruh padaku. Ia memperlihatkan “beginilah perempuan yang punya motivasi dan struggle itu. Orang yang cengeng seperti ini....orang yang tidak cengeng adalah seperti ini”.
            Papaku lebih banyak mendorong ku, “kamu harus mandiri, orang perempuan sekarang harus mandiri dan kamu harus bisa mengurus kebutuhan diri sendiri”. Mama juga tempat diskusi yang baik dan menyenangkan bagiku, walaupun mama banyak memperlihatkan kekhawatirannya, dan banyak mengungkapkan kata “tidak boleh”.
            Sekarang rumah kami terlihat damai. Kalau aku dan adik-kakak  dahulu sering berantam, sekarang itu jadi sweet memory. Berantam itu ada gunanya, yaitu untuk mempertahankan ego masing-masing, pandangan, pendapat dan harga diri. Namun berantam tidak boleh mengarah ke kriminalitas.
“Habis berantem, kami ngambek dan setelah itu kami baikan kembali”.
            Beda usiaku dengan kakak hanya terpaut dua tahun, dengan demikian kami ibarat sahabat, ibarat temanan saja. Sebagai teman ya kami banyak bermain, belajar dan melakukan eksplorasi bersama. Sekali- sekali saling berantem lagi. Walaupun ada teman- teman tetangga namun kakak musti ikut bermain bareng.
            Ternyata juga ada figur luar yang ikut memperkaya fikiran ku. Untuk membaca puisi ya aku mengidolakan Khairil Anwar. Aku berfikir mengapa ia bisa jadi sastrawan. Untuk belajar bahasa Inggris, aku ingin bahasa Inggrisku seperti bahasa anak- anak dalam film-film berbahasa Inggris dalam Televisi. Tentu saja figur tersebut aku tahu dari tontonan dan juga dari bacaan.
“Untuk tokoh sastra, mama  yang banyak memperkenalkannya padaku, kemudian baru aku baca biografinya”.
            Saat aku duduk di Bangku SMP dan SMA. Aku mencari figur-figur yang lain. Aku ingin tahu figur-figur  dunia luar, dan  menjalar ke berbagai figur internasional. Mereka adalah figur  politikus, bangsawan, dan negarawan, juga olahragawan, ilmuwan dan seniman.
“Untuk tahu dengan berbagai figur maka  minat baca penting berkembang sejak di bangku SD, SMP dan SMA. Melalui bacaan aku bisa  membandingkan jenis jenis karakter figur  leader di Indonesia. Aku sempat, waktu di SMA, menjadikan B.J Habibie sebagai figur idola. Aku berfikir mengapa ia bisa menjadi keren dan hebat begitu”.

Melepas Topeng “Malu”
            Saat kecil aku termasuk anak yang pemalu. Tapi aku tidak merasakannya  sebagai suatu halangan karena aku selaku dilindungi. Namun karakter malu mulai terasa sebagai penghalang saat  aku harus tampil di SMP dan SMA. Aku berfikir bagaimana orang bisa speak up, mengapa aku takut untuk speak up.
“Rasanya mulutku seperti rasa dikunci. Papa dan mama selalu mendorongku untuk banyak tampil di depan publik, keberanian tampil tadi membuat aku mudah untuk speak up”.
            Ketika aku tampil di publik sekolah, waktu  MOS (masa orientasi sekolah), orang orang tidak mengenal ku sebagai Ranti. Orang hanya mengenalku sebagai adiknya Yeyen,  ya kakak perempuan. Namaku dan aku sendiri tidak dikenal oleh publik karena aku tidak banyak speak up, itu karena aku masih memelihara karakter maluku. Kalau begitu, karakter malu- menjadi masalah bagiku. Memang semua orang akhirnya tahu dengan ku, karena kakakku sebagai siswa yang ngetop, maka aku juga numpang ngetop.
“Aku tidak mau numpang ngetop lewat nama kakakku. Aku harus ngetop sebagai Ranti, maka aku harus speak up dan aku harus move on”.
            Usahaku melepaskan diri dari pengaruh ngetop  kakak dimulai saat masa MOS. Pada mulanya selama tiga hari  orang-orang masih mengenalku bukan sebagai aku.
 “Oooo ....kamu adiknya Yeyen !!” Namun kemudian  aku  sendiri mulai menonjolkan diri. Aku mulai berbicara dan memperkenalkan diri sendiri.
“Nama ku Ranti....!!”. Berbarengan dengan itu aku juga menampilkan bakatku sebagai jago puisi dan jago tari, maka namaku mulai eksis sebagai “Ranti si jago baca puisi, dan orang mengenalku sebagai Ranti”.
            Aku kemudian bergaul dan bergabung dengan semua teman di kelas dan teman-teman baru sebagai sosok “Ranti”. Seterusnya aku juga bergaul dengan teman teman dari Osis dan aku juga memperkenalkan diri sebagai Ranti.
“Namaku Ranti Komala Dewi, Panggil Aku Ranti..., ya..!!” Aku tidak membawa-bawa nama Yeyen, kakakku. Setelah beberapa hari, hasilnya aku terpilih menjadi ketua kelas. Malah aku  “ketua kelas satu satunya yang cewek waktu di SMP”. Menjadi ketua kelas berjenis kelamin cewek  membuat aku makin populer seantaro SMP, mungkin juga ke sekolah lain.
Fenomena sekarang adalah  anak-anak kalau tamat dari SD Padang Gantiang, sebagian pergi ke SMP-SMP di kota Batusangkar. Atau kalau tamat SMP ya mereka pergi ke SMA-SMA di Batusangkar. Kalau aku saat itu belum terpikir, yang jadi patokan bagiku adalah Uniku. Ia tamat dari SD Padang Ganting, dan terus ke SMP Padang Ganting dan SMA Padang Ganting. Walaupun ia hanya bersekolah di sekolah desa, namun aku lihat ia tetap sangat cerdas dan berprestasi.
“Ia bisa menjadi juara kelas dan juga menjadi juara umum. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, uni juga menjadi asistennya guru kursus Bahasa Inggris. Ia mengajar untuk kelas- kelas debuteur (pemula). Jadi aku melihatnya sebagai figur yang sangat asyik dan aku juga pengen seperti uni”. Jadi kalau begitu sukses itu bisa juga terjadi di desa. Ya aku masih dibayang-bayangi menurut cara belajar kakakku.
“Kami diperlakukan secara adil oleh orang tua. Kalau membeli pakaian, model dan warna baju kami juga sama. Kata orang bahwa pakaian kami ibarat pakaian anak panti asuhan- ya serba seragam”. 
            Sebenarnya aku pengen ikut pendidikan ke luar desa Padang Ganting. Itu waktu aku mau enter ke SMA. Walaupun uni melanjutkan ke SMA Padang Ganting, namun teman- teman lain ada yang melanjutkan ke daerah luar seperti ke sekolah SAA atau SMA-SMA  lain di Bukit Tinggi, di Padang dan di Padang Panjang. Ketiga kota ini sangat terkenal dengan kualitas pendidikannya.
“Wooow....ternyata  sekolah di luar kualitas bagus yaaa !!”
Mamaku bilang bahwa sekolah itu di mana mana bagus. “Kalian selagi masih di SD, SMP dan SMA harus sekolah di bawah asuhan dan pengawasan mama”.
Tinggal, bersekolah  dan menghabiskan di Padang Ganting ternyata sangat mengasyikaan bagiku. Di luar aktivitas belajar, aku berjuang untuk mengatasi problemku yaitu karakter pemalu dan rasa percaya diri yang rendah. Sekarang aku jadi tahu bahwa karakter pemalu bisa berkurang lewat banyak pergaulan dan banyak mengekspose diri. Nah itulah yang juga aku lakukan. Secara tidak langsung aku bermain dan meniru prilaku kakakku yang pemberani. Maka akhirnya aku juga bisa  menjadi pemberani dan aku bisa berkata “Goodbye my shy character”.
Dalam bergaul bersama teman, aku bukan asal bergaul saja. Kalau kita selalu menonjolkan sikap egois dan otoriter, maka pasti semua kawan akan avoid (menghindar) dari kita. Dalam bergaul kakak ku menjadi guide bagiku dan ia mengatakan beberapa karakter “some do’s dan some dont’s”.
Ia sering berkata “kamu tidak boleh berkelakukan menang sendiri, itu namanya egoist...kamu juga tidak boleh monopoli dalam berbicara dan dalam berperan  terus...nanti teman temanmu  jadi tak enak”.
Mama dan mama mengatakan bahwa waktu kecil aku juga termasuk anak yang susah makan dan suka pilih pilih jenis makanan. Ini tentu tidak bagus untuk pertumbuhan otak dan pertumbuhan badan.
Papa sering bilang “Kamu jangan pilih-pilih makanan terus...bagaimana badanmu  bisa  gede kalau malas makan. Semua jenis makanan itu harus dimakan...!!”
Aku juga melihat bahwa masalah makan juga dialami oleh banyak anak- anak. Untuk itu  maka para orangtua perlu mengatasi ini. Mereka perlu memberi persuasif,  sedikit memaksanya dan memperkenalkan makanan yang bergizi dan sehat pada anak. Kalau tidak demikian anak anak akan bisa memiliki gizi buruk.
Aku ingat bahwa dulu keluargaku juga suka musik. Dengan musik suasana rumah menjadi ceria. Namun suara musik tidak perlu hingar bingar sehingga membuat kita susah dalam berkomunikasi dan juga susah buat berkonsentrasi. Papaku sendiri menyukai musik dangdut, ia suka dengan suara Iis Darliah, seorang penyanyi dangdut yang ngetop saat itu.
“Kalau begitu, aku dulu “anak dangdut dan sekarang menjadi anak Celindion”. Celindione adalah salah seorang penyanyi dunia berbahasa Perancis, berasal dari Quebec- Canada.
Kata mamaku, aku punya style tersendiri pada waktu kecil. Kelebihanku adalah dari segi kerapian. Aku lebih rapi dibandingkan kakak dan adikku. Kerapianku juga terlihat dari cara berpakaian. Kamarku juga sangat rapi.
“siapa saja yang ingin masuk kamarku musti minta izin dan mereka tidak boleh membuat kamarku berantakan. So dari kecil aku sudah menyukai kerapian dan keteraturan”.



BAB. III. Aku Dalam Pandangan Orangtuaku

Bayi yang Baik
            Kata papa aku adalah bayi yang luar biasa.  Maksudnya proses kelahiranku begitu mudah. Kelahiran kakak dan adikku lebih sulit. Kakakku, Yeyen, saat lahir, tubuhnya terlilit oleh plasenta. Dokter perlu waktu yang lama untuk membantu proses persalinannya. Begitu pula dengan kelahiran anak yang ketiga (adikku yang bernama Putri). Namun tidak demikian dengan aku.
“Proses kelahiran Ranti sangat mudah dan  waktu kecil ia  tidak termasuk bayi yang suka rewel”. Kata papa dan mama.
            Ketika sekolah di TK, dalam pandangan papaku. Yang diingat oleh papa bahwa aku suka mengikuti schedule kakak. Kalau kakak suka nyanyi dan menari, maka aku juga suka menyanyi dan menari. Otomatis aku terbawa oleh kebiasaan kakak. Papa dan mama mendaftarkanku ke TK Al-Amin. TK nya termasuk pelayanan mendidik yang sangat bagus.
            Talenta-talenta yang dimiliki oleh murid bisa berkembang, termasuk pembinaan imtaqnya (imtaq= iman dan taqwa). Karena guru Tk tersebut memiliki kualitas pribadi yang bagus. Mereka menemani anak-anak ibarat menemani anak-anak mereka sendiri. Disana terlihat hubungan guru dan murid yang sangat harmonis.
            Karakterku terbentuk mungkin karena posisi kelahiranku.
“Biasanya anak  paling tua sangat banyak diharapkan sebagai model bagi adik-adiknya. Anak bungsu (anak ketiga) yang suka cengeng. Sementara aku adalah anak yang kedua yang tumbuh lebih mandiri”.
 Aku memiliki daerah kekuasaan dan milik yang sangat bersih, yaitu kamarku sendiri. Kamar tidur sekaligus kamar belajarku adalah tempat yang paling nyaman dan paling indah di dunia. Kamarku penuh dengan dekorasi, sehingga  tampak  lebih menarik dari kamar kakak dan adik. Saat adikku masih duduk di TK, bila ia mau masuk ke kamarku, maka ia harus cuci tangan dulu, aku khawatir apa saja yang ia sentuh akan menjadi kotor.
”Putri....., bila mau masuk kamarku kamu cuci tanganmu...cuci kakimu...baru kamu boleh main dalam kamarku. Kalau tidak kamarku bisa kotor”.
            Papaku juga masih ingat bahwa saat aku duduk di kelas satu SMP, aku sudah menjadi ketua kelas. Sehingga aku memilki wibawa, cara bicaraku tenang dan aku tidak banyak bercanda. Teman teman senang dan sekaligus menghormatiku. Karena karakterku sudah terupdate, aku suka bergaul dan ditambah dengan kepopuleran nama kakakku, maka guru-guru juga dekat denganku. 
            Aku mulai aktif di sekolah, diajak oleh guru-guru dan aku tidak suka menolak.
 “Ikut pramuka yuuk,....ikut LPIR...yuk, ikut lomba puisi yuk...”. semuanya aku welcome dan tidak aku tolak.
Karena itu adalah kesempatan untuk berkembang dan kata pepatah bahwa “Kesempatan itu tidak pernah datang dua kali”.
            “Kamu pilih mana puisi atau menyanyi ?” Maka aku lebih bagusan baca puisi dari menyanyi. Barangkali karena mama banyak mendorongku untuk baca puisi. Bakat-bakatku terhadap olahraga tidak kelihatan.
“Bakat Ranti hanya pada bidang sastra dan sains. Barangkali pengaruh talenta dari bakonya (keluarga ayah)”. Kata papa.
            Papaku juga ingat bahwa waktu duduk di SMA aku sudah senang berorganisasi di sekolah. Hari Minggu aku juga punya kegiatan di luar sekolah dan di luar rumah. Aku bergabung dengan kegiatan diskusi agama di Batusangkar. Aku mulai bersentuhan dengan pemikiran yang diberikan oleh tentorku yang datang dari STAIN Batusangkar. Di sana aku juga bersuara- aku mendengar dan aku juga berbicara, maka aktualisasiku makin bertambah.
            Waktu kecil aku juga suka menulis, aku tidak banyak ingat lagi. Tetapi papa lebih banyak ingat. Papa mengatakan bahwa kalau aku sedih maka aku menulis, kalau merasa gembira maka aku juga menulis. Itu berarti aku menulis dalam buku diari.
Pernah waktu aku pulang sekolah, papaku seorang perokok dan aku disuruh untuk beli rokok buat papa. Tapi saat itu aku separo enggan atau juga merasa capek, maka aku terlihat menolak. Tentu saja papa tersinggung.
“Wah Ranti, anakku sekarang sudah gede, sudah enggan membantu papa...!!”. Aku merasa bersalah dengan kalimat papa dan aku sangat bersedih. Aku tidak bisa ngobrol dengan siapa-siapa selama seminggu, perasaan dan fikiranku aku goreskan dalam bentuk tulisan.
            Kadang kadang orang melihat profesi guru olah raga lebih rendah dari profesi guru lain. Ada yang bertanya :”Mengapa bapak bisa punya anak anak cerdas, pada hal ayahnya hanya seorang guru olah raga”.
Papa menjelaskan bahwa kami tumbuh dan didik dengan melibatkan keluarga yang lain. Bila liburan sekolah tiba, maka aku sering dibawa libur ke kota lain- ke Medan, Pekan Baru dan Jambi. Kami juga memiliki beberapa famili yang bekerja sebagai dosen di Universitas, juga ada famili yang sudah memperoleh gelah Doktor. Aku sering berbagi cerita dengan mereka. Dan itu semua adalah salah satu cara untuk menanamkan motivasi untuk berhasil dalam diriku. 
            Sebagian orang tua , bila liburan datang mereka suka  membawa anak untuk ke mall, pergi mejeng atau shoping. Ini juga bagus, bamun efek dari gaya liburan satu warna saja akan membuat anak menjadi suka konsumtif. Mereka cuma senang shopping. Bisa jadi shopping hal hal yang tidak begitu essential.



Pasokan Motivasi
“Itulah aku beruntung, karena saat kecil, liburan kami cukup bervariasi- pergi ketempat famili, ke pantai, ke pabrik, ke pusat belanja, ke Universitas,  ke pelabuhan, sehingga aku mengenal bermacam-macam  profesi dalam hidup ini”.
            Tidak saja kami yang berkunjung ke tempat famili. Aku juga beruntung punya paman dan bibiku yang sukses. Mereka  juga sering pulang ke kampung. Habis makan siang atau makan malam, aku diajak untuk bertukar fikiran.
 “Ranti.....kalau kamu ingin berhasil..ini yang harus kamu lakukan. Orang yang gagal dalam studi bisa terjadi karena mereka tidak memiliki agenda dalam hidup”. Mereka sangat memberiku semangat untuk berhasil. Sering kalau aku terbentur aku juga minta pendapat mereka.
            Aku merasakan bahwa orang tua sebagai sumber kasih sayang dan juga sumber motivasi. Bila aku merasa sukses atau bila aku merasa gagal maka aku buru buru mengungkapkannya pada mama dan papa di rumah. Saat aku kelas 2 SMP aku bermasalah dengan karakter malu ku.
Papa berkata :”Wah mengapa kita harus selalu malu, karena malu akan menghalangi kita untuk maju. Papa rasa kamu pasti tampil seperti orang lain, untuk itu tumbuhkanlah rasa berani”.
Papa dan mama mendukungkku dalam menyalurkan hobbi. Hobbi itu punya manfaat bagi kita. Salah satu manfaat hobbi adalah untuk memupuk rasa percaya diri.
            Sekali papa mengatakan bahwa berkomunikasi dengan orang lain sangat bermanfaat dalam menambah percaya diri dan wawasan. Disamping itu, pengalaman ku pergi ke tempat lain  bersama orang tua, paman atau famili lain, juga sangat besar manfaatnya untuk membuka cakrawalaku. Aku  merasa sangat beruntung memiliki kakak dan paman yang selalu datang untuk memotivasiku.
“Kamu harus berhasil....kamu harus maju”, kata mereka setiap saat.
            Semua anak tentu mempunyai harapan. Harapan yang tidak dapat dicapai akan menimbulkan rasa stressed. Papaku berpendapat bahwa sumber terjadinya stressed adalah  oleh faktor dalam rumah dan faktor lingkungan. Orang tua punya peranan untuk ikut membantu anak untuk mengatasi stressed. Tidak bijaksana malah kalau orang tua ikut menambah stressed bagi anak.
“Berkomunikasi atau bertukar fikiran bisa menjadi sarana untuk mengurangi stressed bagi anak”. Kata papaku.
            Kata ibuku bahwa saat kecil dan remaja  aku memiliki rasa solidaritas dan rasa sosial yang tinggi. Semasa remaja, aku senang mengajak teman akrab ku pulang sekolah jalan kaki. Sebagai gantinya, uang untuk ongkos transportasinya  kami gunakan buat membeli ice cream.
“ Nah lagi lagi makan ice cream bareng bisa menjadi sarana menambah keakrapan kami. Atau uang untuk transportasi dari teman teman lain kami kumpulkan, dan kami serahkan buat teman yang kurang mampu. Ini salah satu wujud solidaritas kami untuk anggota gang kami”.
            Ibuku juga masih menyimpan memory atas pribadiku. Ibu berkata: “Ranti waktu remaja sangat menjaga harga diri. Suatu ketika pulang sekolah diledek oleh salah seorang anak laki laki yang tinggalnya sedikit jauh dari rumah. Esok pagi ia datangi anak laki laki tersebut agar tidak meledeknya lagi, karena ia juga punya harga diri. Itu dilakukan ranti dengan bahasa yang santun. Ini merupakan salah satu yang dilakukan Ranti untuk mengatasi masalah pribadinya”.

Lulus dari SMA
            Lulus dari SMA, papa dan mama menyarankan agar aku  melanjutkan pendidikan ke UNP (Universitas Negeri Padang), karena mereka berdua adalah guru dan lulusan dari UNP. Tetapi paman dan familiku yang lain menyarankan aku untuk memilih  UNAND (Universitas Andalas). Mereka memberi perbandingan pendidikan antara ke unuversitas tersebut. Menurutku kedua-duanya cukup bagus.
            Aku tahu bahwa kuliah ke UNP adalah untuk menjadi guru (tetapi sekarang ada jurusan untuk profesi guru dan profesi non guru). Aku pada mulanya ingin memilih  profesi yang lain, seperti ahli pada bidang tehnologi, maka aku mendaftar menjadi mahasiswa UNAND. Namun dalam perjalan, setelah lulus dari UNAND aku juga sempat menjadi guru dalam pendidikan sempoa. Lulus dari UNAND aku segera mencari kegiatan agar tidak menganggur.
            Aku juga sempat bergabung dalam kegiatan GO (Ganesa Operasion). Itu semacam bimbingan belajar, mempersiapkan pelajar SLTA untuk masuk universitas. Aku berfikir bahwa dengan bergabung dalam aktivitas sempoa dan ganesa operasion, itu berarti aku ternyata juga sebagai guru.
            Mama  masih punya memory tentang diriku. Bahwa aku termasuk yang cukup hemat.
“Ranti itu anaknya sangat hemat”, Kata mana. Betul bahwa kelebihan uang  aku tabungkan. Kemudian aku gunakan untuk membeli pakaian. Kata mama bahwa aku senang dengan life style. Aku yakini bahwa aku suka dengan performance, andaikata aku cuma peduli dengan kualias akademik namun mengabaikan penampilan, tentu aku menjadi pribadi yang kurang menarik.
 Ada seorang mahasiswa laki laki yang aku lupa namanya, ia pintar namun kurang peduli dengan penampilan maka teman-teman lain memberi ia gelar “Einstein”. Einstein kan seoran ilmuwan. Analogi untuk teman tersebut bahwa ia pintar, namun penampilan sedikit urakan alias kurang rapi.
Tabunganku tidak semata aku gunakan untuk beli baju dan pakaian lain. Suatu hari aku merasa bahasa Inggrisku masih berlepotan, aku ingin memolesnya dan aku punya separoh uang dan aku ingin mama membantuku separoh lagi buat biaya belajar Bahasa Inggris paket liburan selama 40 hari.
Ke dua orang tuaku memandang surprised untuk perkembangan hobiku pada seni tarik suara atau nyanyi. Karena selama duduk pada bangku SD, SMP dan SMA aku kurang mendalami hobbi nyanyi. Namun di perguruan tinggi secara iseng-iseng aku menekuni hobbi nyanyi. Ternyata aku juga bisa oke. Aku sempat menampilkan kebolehan menyanyi saat mengikuti kegiataan LPJ (Latihan Pra Jabatan) di Jakarta. Teman teman peserta LPJ dari seluruh Indonesia memberiku standing ovation – tepuk tangan sampai berdiri.
Saat menjadi mahasiswa aku memiliki banyak memori. Misalnya pengalaman saat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kami grup mahasiswa KKN ditempatkan di Solok Selatan, jaraknya cukup jauh dari Padang. Aku sangat menyenangi kegiatan KKN, aku belajar bersosialisasi (bergaul) dengan masyarakat dan sekaligus bersama teman teman mahasiswa lain.
Bersama rombongan kami juga ada seorang mahasiswa asal Amerika. Ia juga mampu beradaptasi bersama kami. Suatu ketika ia dan beberapa teman lain aku ajak ke kampung ke Padang Ganting. Mereka menyukai suasana dan pemandangan Padang Ganting. Rumah aku sendiri, di desa ini, terletak antara dua bukit yang cukup tinggi di depan dan di belakang rumahku. Pada hari-hari lain mereka aku ajak ke Sawah Lunto buat melihat tambang batu bara dan juga aku ke Danau Singkarak untuk menangkap ikan bilih.
Orang tua berprinsip bahwa sebaiknya aku tidak banyak bertandang ke rumah teman. Sebaliknya mereka berprinsip bahwa biarlah teman temanku yang mengunjungi rumahku, dengan demikian papa dan mama akan mengenal teman-temanku dan apa saja yang kami lakukan secara bersama. Sering kata mereka bahwa aktivitas remaja tidak akan terpantau oleh mata orang tua saat mereka diluar jangkauan pengawasan orang tua. Bukan atas nama orang tua yang otoriter namun atas menjaga budaya sebagai orang timur dan sebagai pemeluk agama Islam, yang mana aku tidak hanya tahu dengan berbagai aturan hidup tetapi juga harus mengamalkannya.
“Misalnya aku harus berpakaian sopan, bergaul secara sopan, punya teman orang baik baik”. Di Timur, apalagi untuk suku Minang (tentu juga untuk suku suku bangsa yang lain) bahwa perbuatan negative yang sempat dikerjakan oleh seorang anak akan bisa mencoreng nama orang tua, sekaligus memberi aib untuk keluarga besar. Jadi orang tua perlu punya kontrol atas prilaku dan pergaulan anak sepanjang masa.
“Kita harus tahu dimana anak kita berada. Dengan semua teman anak kita harus dekat. Kita beri mereka kebebasan beraktivitas...apa mereka mau bakar ubi...atau bakar ikan. Kegiatan tersebut pasti asyik dalam masya remaja,” kata mama.


BAB.  IV  Menggapai Masa Depan

Hidup Perlu Memilih
            Pour quoi moi tombe l’amour avec l’anglais. Kenapa aku jatuh cinta dengan bahasa Inggris, pada hal ketika di SMA aku menyukai mata pelajaran sains (?).
Familiku, termasuk uni, menginginkan aku menjadi dokter. Sehingga ujian SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) untuk masuk universitas pun aku kejar sampai ke UNRI Pekanbaru. Karena sejak dari bangku SMA kelas aku sudah  intens berbagi info dengan uni dan kami sering bincang-bincang.
 “Bahwa jurusan yang bagus buat mu  adalah farmasi dan juga kedokteran”. Kata Uni dan aku juga setuju.  Alasanku memilih dokter juga tidak begitu jelas, namun banyak siswa SMA bercita-cita pengen jadi dokter. Alasannya tenaga dokter selalu dibutuhkan, dokter penampilannya cukup anggun dan lapangan kerjanya masih mudah dan luas.
            Seolah-olah prospek masa depan dokter lebih bagus. Dokter pagi sampai siang bertugas di rumah sakit dan sore sampai malam bisa buka praktek di rumah buat ngumpulin duit.
“Kalau duit sudah punya, mimpikan bisa dibeli”. Selain pengen jadi dokter, aku juga ingin kuliah di psikologi. Aku menjadi tertarik setelah membaca buku-buku psikologi. Psikologi perlu untuk pengembangan diri dan untuk memotivasi orang lain.
            Semua siswa yang tamat SMA biasanya segera untuk mencari informasi: ingin kuliah kemana dan bagaimana lagi tamat SMA ?  Informasi ini mereka peroleh dari guru, orang tua, teman-teman, alumni dan juga dari media. Bagiku yang tinggal di desa, yang nota benenya memperoleh informasi serba terbatas saat itu. Aku  memperoleh informasi dari alumni dan juga dari uni, kakak ku sendiri.
Sebetulnya masalah yang dihadapi oleh ABG (anak anak SMA) adalah biasa-biasa saja. Namun saat itu kita menganggap masalah itu begitu besar.
“Kayaknya mereka butuh psikolog ya  !!” Jadi dari diskusi dengan para senior aku memperoleh bahwa dunia psikologi itu sangat asyik dan menyenangkan, sehingga itu yang membuat aku makin tertarik dengan psikologi. Sementara mama menyarankan agar aku menjadi guru, pada hal dalam keluarga kami profesi guru sudah banyak.
“Bagaimana kalau aku pilih karir yang lain, mungkin aku nanti kerja di bank, jadi dokter atau profesi lain”.
Mama tetap menyarankan aku  jadi guru, tapi kakak ku dan aku deny (menolak) untuk jadi guru. Namun aku akhirnya jadi guru juga, yaitu mengajar/ dosen  di Politeknik Negeri Padang.
“Memang banyak siswa dalam memilih kuliah tahunya cuma pilih UI, ITB, IPB, UGM, UNPAD dan lain-lain. Kalau aku memilih universitas patokannya cuma kakak ku. Ia kuliah di UNAND, maka aku juga bakal pilih UNAND”.
Uni kuliah di jurusan farmasi, UNAND. Dan ia selalu membanggakan almamaternya.
“Oh....UNAND itu hebat lho...., Farmasi ini juga bagus!!”. Uni membandingkan kuliah di farmasi dengan sistem belajar di SMA.
“Kalau di SMA..belajar kimia dan biologi itu cuma kulit-kulitnya aja. Namun kalau belajar di farmasi pelajaran kimia dan biologi sudah mendalam dan lebih detail, jadi lebih asyik.”
Uniku belajar di UNAND dan prestasi akademiknya tetap gemilang. Kalau begitu aku  juga bakalan gemilang seperti uni. Uni selalu memperkenalkan UNAND padaku. Akhirnya saat ada waktu yang agak panjang, aku diajak uni ke Padang, ke UNAND. Namun kesannya komplek kampus UNAND terlihat dari bawah, membuat aku tertawa, geli.
“Uni kok kampus UNAND mirip dengan markas Power Ranger, film idolaku, ...!!. Kok kuliahnya tempatnya sudah jauh ke pelosok..ke ujung !!
Dalam imageku kuliah itu, seperti yang aku lihat dalam televisi....ya gedung bertingkat, warna putih dengan gedung bertingkat. Atau seperti gedung perkuliahan di Singapura.
Lantas Uni membela dan menerangkan, “Arsitektur komplek UNAND itu nomor satu di Aia Tenggara”.
“Lantas kenapa dindingnya dibiarkan tidak dicat...jadi tetap seperti markas power ranger”.
Uni menjelaskan lagi bahwa komplek kampus UNAND adalah kampus terluas di Asia Tenggara. Dinding kampus bukan dibiarkan tanpa dicat. Bangunannya didesain sudah seperti itu jadi  ada kesan agar menyatu dengan alam, jadi back to nature”.
Lokasi UNAND yang jauh dari kota memberikan arti yang bagus, karena udara bersih dan tidak terkontaminasi oleh pengaruh kota atau pasar. Aku memang merasakan lingkungan UNAND terasa sejuk, kita bisa refresh dan terasa segar. Kita bisa lebih fokus untuk urusan kuliah, apalagi pusat perbelanjaan yang bisa memecah kosentrasi belajar mahasiswa yang mudah diganggu oleh karakter konsumerisme. Andaikata dekat UNAND ada mall, pasti mahasiswa habis kuliah pergi hang out, akibatnya tugas- tugas bisa terabaikan.
Akhirnya aku menjadi salah seorang member atau mahasiwa UNAND. Aku  harus punya mimpi buat menggapai masa depan. Aku mengambil jurusan bahasa Inggris.

Pilihan Pada Bahasa Inggris
“Mengapa pilihanku jatuh ke Bahasa Inggris, kenapa tidak pada psikologi ?”
Saat aku ikut ujian masuk perguruan tinggi, aku mengambil paket IPC, jadi ada 3 pilihan. Pilihan satu, dua dan tiga. Pilihan satu dan dua aku tak jebol, ya aku jebol hanya untuk pilihan ke tiga yaitu Bahasa Inggris.
“Bahasa Inggrisku pun juga belum pas, I am not sure with my English ability”. Aku belum yakin dengan kemampuan Bahasa Inggrisku. Kemampuan bahasa asingku masih jauh di bawah kemampuan kakak.
Sebetulnya psikologi termasuk pilihan favoritku. Aku ngambil psikologi di UI, walau mama memberi pandangan bahwa UI terlalu jauh untuk jarak geografi dan keuangan. Mungkin itu kekhwatiran mama sebagai seorang ibu terhadap anak perempuannya.
“Oh ya Universitas Indonesia terlalu jauh, namun di UNAND tidak ada jurusan psikologi, adanya hanya di USU (universitas Sumatra Utara). Jadi aku ambil psikologi USU saja, kemudian pilihan kedua adalah  manajemen, dan pilihan ketiga  Bahasa Inggris.
Pertama enter ke universitas, aku punya kesulitan dengan bahasa Inggris. Karena teman-teman bahasa Inggris mereka sudah sangat qualified. Karena banyak teman teman yang qualified datang dari Jakarta, dan kota-kota di Pulau Jawa, malah dari seluruh Indonesia. Temanku juga ada dari Papua.
“Pas mahasiswa angkatan ku, mahasiswanya cukup beragam dari seluruh Indonesia”. Maka aku pun terpacu juga untuk meningkatkan mutu bahasa Inggrisku dan wawasan lainnya.
Waktu duduk di bangku SMA aku senang berorganisasi. Maka begitu jadi mahasiswa aku juga enter organisasi. Tetapi papa menyarankan agar untuk semester satu dan semestar dua aku coba adaptasi dulu dengan sistem perkuliahan. Aku juga ingin tahu, seperti apa sistem perkuliahan itu (?). Pasti beda dengan sistem belajar di SMA.
“Jadi aku juga mengurungkan niat untuk masuk organisasi”.
Sebetulnya paduan untuk aktif dalam organisasi sudah ada buku petunjuknya.
“Kalau kamu kuliah  di  jurusan ini...di sini enaknya organisasi. Kalau kamu kuliah di jurusan sains...ke sini bagusnya organisasi, agar pribadi kamu bisa berkembang”. Demikian penjelasan yang sempat aku peroleh.
“Aku tidak menyesal tidak ikut organisasi pada dua semester pertama, namun aku sudah ada target untuk tahun-tahun selanjutnya”.
Aku mulai searching tentang sistem belajar di universitas. Aku juga cari info tentang organisasi yang aku senangi. Ternyata organisasi yang cocok untukku adalah “UKS” atau Unit Kegiatan Seni di UNAND.
“Dalam organisasi ini ada empat divisi yaitu: vokal, tari, teater, dan ...” Aku ikut dua divisi yaitu vokal dan tari.
Itupun ada sistem seleksinya. Kegiatan dalam divisi ini juga punya tahap. Misalnya untuk divisi vokal: ada pengenalan not lagu. Kalau tari waktunya perminggu
“Ya kamu coba tampilkan tari Minang, tari Bali, atau dari daerah lain. Kalau lulus...ya coba kuasai tari kontemporer”. Jadi kita diberi tantangan...sayang waktu tidak cukup. Hasil dari seleksi, aku dinyatakan  masuk divisi vokal, karena pengumuman divisi ini  keluar lebih dulu, sehingga aku batal untuk bergabung dengan divisi tari.
Aku beruntung bisa bergabung dengan divisi vokal. Karena grup vokal UNAND kan sering dipakai dan diundang oleh badan badan lain untuk pertunjukan. Sehingga aku juga ikut terpakai dalam kegiatan vokal. Akibatnya pengalaman hidupku jadi banyak. Acara vokal grup tidak hanya sering dipakai dilingkungan UNAND, tapi juga sering dipakai di hotel-hotel, seperti hotel Pangeran Beach dekat makam pahlawan Padang.
Bahasa Inggris di jurusan Sastra Inggris UNAND sampai semester lima, pelajarannya masih bersifat umum.
“Ya banyak  listening, reading, writing, grammar, vocabulary, translation”. Namun di semester lima itu juga ada pendalaman. Aku harus membuat keputusan,  apakah aku masuk ke literature atau ke linguistik.
“Nah berdasarkan pengalamanku belajar dari semester satu sampai lima, ternyata untuk ku- literatur sedikit membosankan. Bacaannya ya karya sastra...Shakespeare, ya notabenenya...harus baca kisah nyata yang tebal-tebal. Sementara itu aku kurang suka banyak membaca, sehingga kajiannya terasa berat”.
Masih tentang literatur. Aku mengalami sedikit kesulitan, aku mulai memahami point of view (titik pandang)- sastra ini mempunyai tujuannya begini, tetapi teman teman berpendapat lain. wah sedikit sulit untuk menginterprestasikannya. Kemudian aku lihat kuliah literatur.
“Kuliah literatur kan lebih fokus pada structure. Memahami  rumus TGG (transformer grammar generative) - satu kata dapat dirumuskan. Di sana ada pelajaran tentang semiotic dan pragmatic. Kajian bahasa itu bagaimana dan aku lihat sangat menyenangkan”.
Dalam kajian linguistic juga ada istilah saving face, yaitu dalam berkomunikasi kita harus memilih kata dan menggunakan kata agar wajah orang dan wajah kita bisa diselamatkan. Intinya kita harus menggunakan bahasa yang santun, dan seterusnya.
Benar benar menyenangkan. Jadi dalam kuliah ini kita dikasih satu gambar dan kita dikasih waktu untuk menginterprestasikan. Tentu saja harus berdasarkan teori dan harus terarah. Namun kalau kuliah literatur itu harus based on our opinion. Semuanya betul namun kita tidak tahu exactly meaning sesuai dengan pengarang kisah nyata.
Walau dosen bilang “semua pendapat anda itu betul!”. Tapi aku pikir wah bisa ngambang saja semua pembahasan.

Dosen Favorite
Setiap mahasiswa tentu punya dosen favorite, sebagaimana siswa SMA yang punya guru idola. Aku senang dengan dosen speech karena “il tojours parle l’anglais- selalu bicara bahasa Inggris”. Ia merasa upset begitu menemui mahasiswa sastra Inggris yang malah menggunakan Bahasa Minang dan Bahasa Indonesia dengan porsi berlebihan saat belajar Bahasa Inggris.
Dia bicara bahasa Inggris selalu “semuanya pake bahasa Inggris...semuanya pake bahasa Inggris”. Aku fikir tujuannya tentu memotivasi mahasiswa agar menjadi mahasiswa Bahasa Inggris yang profesional. Anehnya bahwa  sebahagian mahasiswa semester satu dan semester dua terlihat dislike him  karena dosen itu terlalu strict.  Kalau difikir-fikir, sekali lagi, bahwa  karakter dosen itu adalah  untuk membiasakan kita dalam menggunakan Bahasa Inggris. Ternyata benar bahwa mendalami bahasa asing sangan ampuh dengan selalu menggunakan dan membiasakannya.

Pengalaman Kost
            Tidak mungkin aku tinggal di Padang Ganting dan mondar mandir sejauh hampir 150 km tiap hari dari kampungku ke kampus. Maka mamaku sengaja memilih tempat kost dan memasukan aku ke tempat kost yang mahasiswinya beragam.
Aku memperoleh  tempat kost yang cukup besar dengan  enam kamar. Dan masing-masing kamar  ditempati oleh dua mahasiswi. Jadi totalnya  adalah  12 mahasiswi. Tempat kostku berlokasi di Andaleh.
“Kalau ada 12 orang teman satu kost, itu  berarti juga ada 12 karakter yang saling berbeda. Maka aku belajar memahami berbagai karakter teman.  Di tempat kostku sangat terbatas, semua  serba satu. Toilet satu...kamar mandi satu...dapur satu.., nah kami belajar memanage diri agar tidak tumpang tindih dalam penggunaanya”.
            Bayangkan kalau aku telat bangun, maka tentu antrian untuk masuk toilet dan kamar mandi bisa sangat panjang. Handuk dan sabun tentu sudah berjejer menunggu antrian.
“Oleh sebab itu aku berusaha mengatur waktu agar tidak terjebak antrian dan juga memahami kebiasaan teman yang nota-bene berbeda kebiasaanya, kampung dan keluarganya,...jurusan kuliahnya juga berbeda”.
Pada mulanya aku sempat komplaint. “Apakah aku pengen punya kamar sendiri atau menyewa paviliun. Ya agar aku tidak terganggu“.
“Tapi itu tidak bagus”, kata mama, karena kita harus bisa bersosialisasi dan juga bisa menyesuaikan diri. Kalau kita tidak bisa mengatasi complain maka sepanjang hidup, kita akan penuh dengan masalah.
Kalau di rumah sendiri, kita punya kamar sendiri. Kita sudah bisa memahami karakter orang tua dan kakak adik. Namun tinggal di tempat kost, nah saatnya kita mempraktekan cara hidup yang sebenarnya.
“Bagaimana  kita bisa hidup enjoy tanpa masalah dan mampu beradaptasi dengan masalah. Kalau aku tidak bergabung tinggal dengan teman-teman, maka.....kapan lagi  aku mengenal sosialisasi hidup, bahwa hidup memang seperti itu selalu (?).
Aku tidak pernah menyesal menjadi mahasiswa sastra Inggris. Di sana aku menyukai British Study dan American Study. Aku juga bisa belajar tentang Australia study.
“Kenapa orang Australia bisa berbeda dengan aborigine ?” Keingin-tahuanku tentang budaya luar juga bertambah, “wah ternyata budaya mereka juga menarik...!!” Rasa tertarik ku yang sudah timbul sejak kecil untuk mengenal dunia luar, ternyata menjadi terpenuhi lewat kuliah pada sastra Inggris.
Menjadi seorang mahasiswa harus mampu untuk memanaj keuangan. Inilah yang jadi problem sebagian mahasiswa. Gara gara tak memampu memanaj keuangan telah membuat mereka suka ngutang hingga  kuliah bisa terganggu.
“Kalau tinggal bareng orang tua...bila uang habis ya kita bisa merengek. Namun kalau begini terus ..kapan kita mau dewasa”.
Aku  memperoleh trik-trik  mengatur keuangan dari uniku. “Aku mencatat apa-apa saja  kebutuhan utama ku. Kalau  sesuatu itu tidak begitu penting ya jangan dibeli...dengan cara demikian uang ku bisa berlebih”. Kelebihan uang tentu bisa aku gunakan untuk mengikuti kegiatan lain. Selain mengatur keuangan, mahasiswa juga harus pintar dalam mengatur waktu.

Kuliah yang Mengasyikan
Kuliah di Bahasa Inggris itu asyik karena harus banyak presentasi setiap hari. Aku  tak perlu lagi menggunakan banyak angka- angka dan rumus. Ada presentasi dalam kelompok dan tidak besoin beaucoup de temps (need much time). Sehingga uni merasa cemburu “wah belajar santai tapi, kuliah lancar...!!”
IPK (indeks prestasi kiumulative) yang aku raih tinggi juga meskipun aku naik panggung buat pertunjukan tiap sebentar di UNAND dan di hotel.
Saat aku kuliah kakakku juga masih kuliah di jurusan farmasi. “Uni sering cemburu, uangnya sering kurang, karena uang nya banyak habis  untuk praktek. Sementara uangku selalu berlebih dan bisa nabung”.
Mahasiswa juga punya home work, malah home-worknya  jauh lebih banyak dibanding home-work saat di SMA. Namun aku punya cara tersendiri dalam mengatur waktu agar tidak teledor dengan home-work.
“Yang jelas aku tidak suka menunda nunda waktu dengan home work. Begitu ada home work, ya aku segera menyelesaikannya. Nah bila selesai aku kan bisa kerjakan yang lain. kalau kita ada homework- kita segera selesaikan dan kalau ada kendala kita bisa punya waktu untuk segera mengatasi, misalnya kita bisa konsultasi dengan para senior”.
Pernah aku merasa lagi males. Nah aku menunda membuat homework,yaaah  akhirnya aku teledor. “Wah aku jadi kelabakan, ternyata tugasnya harus dikumpulkan besok”.
Seperti yang telah aku ceritakan bahwa aku tinggal di tempat kost, yaitu menyewa kamar, untuk tempat tinggal. Disana juga ada beberapa mahasiswi lain yang tinggal diseputar kamarku. Aku tidak punya masalah dengan ibu kost. Komunikasi kami cukup lancar. Ibu kost usianya agak tua, jadi aku ibarat tinggal dengan nenek saja.
“Ibarat seorang  nenek tentua ia butuh didengar dan butuh bercerita- cerita”.
Tiap kali pulang ke tempat kost,  ibu kost selalu bertanya “bagaimana kuliahnya..?” Nah aku memutuskan duduk sebebtar bareng dengan ibu kost untuk beramah tamah. Aku juga menanyakan tentang dia.
“Apakah ibu ada sehat sehat? Ibu tadi sholat dimana ?”  dan seterusnya. Melihat hubunganku begitu dekat dengan ibu kost, maka semua teman-teman mengangkatku sebagai ketua kost.
Sebagai ketua kost maka aku kadang-kadang  punya peran sebagai perantara untuk menyampaikan aspirasi pada ibu kost.
“Kalau ada problem, biasanya problem tentang air....kenapa airnya lama hidup, kalau boleh hidup waktu subuh...” Setelah itu baru aku sampaikan ke ibu kost. Masalah lain juga tentang listrik “kalau boleh ganti dong lampu listriknya bu...yang lama agak gelap”.
Kenapa aku yang diutus jadi ketua ?, ya soalnya aku kan anak sastra dan cara berbicaraku lebih baik. Kalau teman jurusan yang lain kan jurusannya bukan sastra dan mereka mengatakan cara berkomunikasinya kurang bagus.
Di  tempat lain aku  dengar ada  beberapa anak yang bermasalah dengan ibu kost mereka. Penyebabnya bisa berasal dari mahasiswa itu sendiri yang kurang bisa beradaptasi. Tapi aku lihat bila ada masalah, ya penyebabnya karena sudah ada perbedaan masalah antara ibu kost dan sang mahasiswa.
 “Solusi yang ditawarkan ibu kost..beda dengan solusi yang dimiliki sang mahasiswa”.
Aku  kini bisa memahami  berbagai karakter orang secara luas. Itu dapat terjadi saat kuliah itu sendiri. “ Saat kuliah aku berjumpa dengan banyak orang. Kawan-kawan yang ada dalam satu rumah- di tempat kost- saja cukup beragam dan complicated karakter mereka”.
Mengapa sih ada sebahagian mahasiswa yang bermasalah dengan homework ? dan juga ada yang bermasalah dengan dosen sendiri ?
“Aku bisa tahu tentang itu berdasarkan pengalaman. Aku sendiri punya teman, ia dalam belajar suka tergantung pada teman lain. temannya pintar. Ia terlihat serba bergantung dalam membuat PR. Namun kalau teman pintar tidak  hadir maka ia jadi kebingungan, ia tidak mandiri dalam belajar. Akhirnya ia jadi bingung...diskusi belajar dengan siapa lagi”.
Money dan waktu kadang-kadang bisa jadi penyebab sebuah problem. Kalau aku tidak merasakan money dan waktu sebagai problem, ya karena aku sudah terlatih dalam mengaturnya. Uangku bukannya berlebih, tetapi cukup, namun aku bisa mengaturnya. Sebagian teman memang ada yang bermasalah dengan uang, itu karena mereka kurang mengerti membedakan antara mana yang penting dan mana yang kurang penting untuk dibeli.
Kalau aku dapat uang dari orang tua, maka aku membuat klasifikasi dalam penggunaanya. Aku musti menyisakan untuk hal-hal utama seperti biaya makan, sewa kamar, biaya trasportasi, biaya kebutuhan kuliah dan kalau ada sisa baru aku gunakan untuk kegiatan ekstra, buat shopping atau membeli novel. Jadi aku punya pembukuan tersendiri. Dari pembukuan aku bisa tahu sisa uangku setiap bulan.
“Nah kekurangan dan kelebihan uang ku itu dimana letaknya ?”
Nah saat aku mau  melakukan penelitian maka aku besoin beaucoup de l’argent (butuh banyak uang). Jadi aku tidak beli yang tidak penting dulu. Kalau ada kelebihan uang, oke kita bisa gunakan untuk leisure – untuk bersenang- senang.
Penting Memiliki Cita-cita
Setiap orang harus punya cita-cita, namun banyak siswa SMA dan juga mahasiswa yang masih bingung dengan masa depan. Mereka tidak punya cita-cita. Sehingga kalau ditanya “Kamu nanti ingin jadi apa ?” Banyak yang menjawab tidak tahu,....aku belum memikirkannya,....tergantung mama saja”. 
Teman- teman ku sebagian  juga bingung tentang masa depan. “kamu nanti mau kerja dimana..?”.
Dan ada yang menjawab, “I don’t think it,...what will be..will be..”. Aku berfikir bahwa keberadaan teman-teman juga berpengaruh terhadap pribadi kita. Kalau teman-teman tidak punya cita-cita, maka kita juga ikut kehilangan semangat.
Kawan-kawan yang sangat disiplin biasanya cepat suksesnya. Ada teman-teman yang malah santai. Kalau pulang kuliah kok mereka harus dulu hang out, tapi kalau aku pulang kuliah harus singgah dulu ke tempat kost.
“Aku merasa kamar kost ku sebagai tempat perhentian paling baik. Nah kalau sudah sampai di tempat kost aku bisa memulai suatu aktivitas baru. Aku pun kalau mau hang out ya harus pulang dulu. Rasanya fikiran terasa segar kalau bisa pulang dulu”.   
Bergaul itun sangat penting, apalagi kalau sampai ikut berorganisasi. Aku lihat ada teman saat di SD, SMP dan SMA penampilannya kalem. Ia hanya sibuk belajar saja, tidak peduli berteman dan berorganisasi.  Akibatnya ia menjadi siswa yang pasif. Namun ia berubah saat kuliah, itu bukan karena kuliahnya, tapi karena ia ikut enter organisasi.
“Orang kalau sudah masuk organisasi ia mau tidak mau harus  speak up,  jadi ia harus berani, ia harus speak up, dan percaya diri juga bertambah”.
Ikut berorganisasi apakah  di sekolah atau di luar sekolah, ya sangat penting bagi pembentukan karakter. Orang yang punya karakter pemberani, suka menolong dan gentlement pasti disenangi oleh banyak orang. Ada juga fenomena sebaliknya, teman yang saat di SD, SMP dan SMA prestasinya sangat bagus, namun setelah kuliah ia menjadi manusia “nasakom”. Nasakom maksudnya “nasib satu koma”, ya belajar namun IPK hanya satu koma, sangat mengecewakan.
Ada temanku mengatakan, tentang fenomena ini.
 “Ranti aku ketika di SMA, aku pintar lho, selalu juara umum, tapi sekarang aku kok merasa  bego ??”.
Kondisi seperti ini aku lihat juga terjadi pada teman laki-laki, dimana mereka tidak bisa mengatur waktu, cenderung menunda pekerjaan serta tugas dan kelewat banyak hang out. Seolah olah mereka berprinsip “kuliah..ah santai aja..!” kayaknya begitu menjadi mahasiswa mereka ingin merasakan style hidup yang baru.
Walau mereka sudah dewasa, sudah jadi mahasiswa, namun kuliah masih belum terarah, maka keluarga mereka juga perlu mengarahkan dan mengingatkan mereka.
“Kamu kan udah dewasa..kuliahnya kok kelewat santai...kurang bersemangat, semangat kan penting buat merebut masa depan”. Paling kurang seperti ini komplain dari keluarga. Bagiku ..walaupun ada teman yang santai, ya kita tidak perlu terpengaruh, kalau bisa kitalah yang memberi mereka pengaruh positif bagi perubahan karakter mereka.
Learning independent atau kemandirian dalam belajar sangat penting bagi setiap mahasiswa. Ini adalah salah satu  karakter yang perlu untuk dimiliki.  Tentang  kemandirian  ini, mama dan papaku sudah wanti-wanti dari semula.
Papa berkata “Kalian waktu sekolah di SD, SMP dan SMA banyak disuapi, banyak dibimbing. Namun begitu masuk universitas kalian  harus lebih kreatif,  coba untuk mencari informasi sendiri, cari solusi sendiri dan hidup juga lebih mandiri”.
That is absolutely true, saat belajar di bangku  SMP dan SMA, bila ada kegiatan apa-apa saja maka  kita selalu   dikasih tahu, bila ada bea siswa kita juga kita tahu, kalau perlu diumumkan lewat mikrofon. Namun ketika jadi mahasiswa, tidak begitu lagi. Malah dosen kesannya tidak mau tahu dengan problem kita. Kalasu kita ingin mengikuti kegiatan kampius, ingin beasiswa atau ingin ikut seminar...ya cari informasinya sendiri. Bila informasi ini tidak diburu ya rugi sendiri.
Ada istilah “some do’s dan some dont’s atau beberapa perintah dan beberapa larangan” yang perlu diketahui oleh mahasiswa. Ternyata mahasiswa harus punya rule (peraturan) yang harus dipatuhi. Terutama dalam menghargai waktu selama belajar. Keputusan untuk berbuat harus ada pada diri kita sendiri, mau gagal atau mau sukses.
Kalau saat belajar  di bangku SD sampai SMA, campur tangan orang tua untuk membuat anak sukses sangat gede. Kesalahan yang kita lakukan waktu kecil bisa dipandang sebagai hal yang wajar, namun kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa harus menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Sistem perkuliah di universitas membuat mahasiswa harus proaktif, tidak serba menunggu anjuran  sang  dosen melulu. Idealnya kita bisa berbuat jauh lebih banyak dari yang di harapkan dosen. Andaikata dosen menyuruh kita membaca satu chapter, ya kapan perlu kita baca hingga satu buku.
“Gunanya agar kaya dengan wawasan dan kaya informasi. Juga berfanfaat bagi kita dalam mengikuti perkuliahan yaitu kita  bisa bertukar pendapat dengan dosen”. Kalau belajar di tingkat SMA, semua terasa serba disuapin, disendokin dan akibatnya siswa pasif dan cengeng.

Self-Confident
“Seperti apa sih ciri-ciri mahasiswa yang bakal gagal dalam kuliah, sehingga mereka segera diberi warning sebelum kegagalan ini terjadi ?”
Aku mendeteksi bahwa mahasiswa yang bakal gagal atau sukses dalam kuliah sudah terlihat  berdasarkan spirit atau semangatnya. Walaupun seseorang itu pintar namun kalai ia ternyata  tidak bersemangat nah ujung –ujungnya ia bisa gagal.
Dalam diskusi misalnya, aku punya teman  yang memiliki ide-ide yang amat cemerlang,  namun ia tidak bersemangat maka ia juga tak sukses dalam diskusi.  Disuruh bikin artikel 10 lembar, ia mengeluh “aduh aku capek, aku malas”. Wah biar aku tulis aja 5 halaman.
“Orang seperti ini terbiasa bekerja di bawah target bukan di atas target. Seharusnya kalau disuruh menulis 10 halaman ya kita usahakan 15 halaman, nah itu baru namanya bekerja dan belajar di atas target dan  bersemangat”.
Semangat dan kemauan sangat menentukan  keberhasilan kita.  Meskipun kitas cerdas namun  kalau kemauan lemah ya juga sia-sia saja. Cerdas tanpa kemauan  serta  tanpa semangat ya tidak akan menjamin buat sukses.
Jadi ciri-ciri mahasiswa yang bakal gagal, sehingga dianjurkan untuk pergi cari konseling, adalah   mereka yang juga tidak punya self- confident (percaya diri). Sebetulnya ia mampu namun merasa tidak percaya diri, nah inilah yang menyebabkan tidak berhasil dalam kuliah.
Kalau kita tidak punya confident pada diri berarti kita tidak appreciate pada kemampuan diri. Nah kalau kita tidak appreciate pada diri bagaimana orang lain bisa appreciate pada diri kita. Ini penyebabnya  kita tidak move on.
“Kalau kita tidak move on atau memperlihatkan kemampuan pada orang lain, ya bagaimana orang akan mengenal kelebihan kita.....bagaimana orang akan percaya pada kita”.
Kepercayaan diri sangat penting. Kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas misalnya, “wah apa aku mampu atau tidak menyelesaikan tugas ini ?” karena kita tidak punya percaya diri, maka kita terkesan tidak berkemauan. Apa sih ya faktor pembangkit confident ini ?
Kalau aku merasa bahwa confident bisa gede ya sebagai pengaruh lingkungan...lingkungan teman-teman. Maka teman itu punya power, the power of friend in growing of self confident. The power of parent...the power of family...ya orang tua dan keluarga juga berpengaruh dalam menumbuhkan confident. Tentu teman, orang tua dan keluarga yang selalu memberi dukungan positif.
Perkuliahan ku dari semester pertama sampai semester delapan ya lancar- lancar saja. Kadang kalau ada waktu aku juga menyisip untuk memperbaiki nilai. Aku mulai merasa kendala saat menulis tesis. Karena aku memperoleh dosen pembimbing yang memiliki banyak anak bimbingan, jadi terasa antri untuk memperoleh bimbingan.
Namun aku tetap memiliki positif thinking aja terhadap dosen pembimbing. Karena ternyata aku bisa menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding senior satu tahun atau dua tahun di atasku.
Malah pembimbingku bilang “wah kamu kamu masih baru..bisa cepat ya selesai ?”. pada mulanya mungkin ia menanggap aku mahasiswa dengan BP yang lebih tua ternyata tidak.  
Mahasiswa yang sedang kuliah harus jeli melihat masa depan. Mulai kuliah aku mulai melihat masa depan lebih mendunia. Untuk itu aku ikut aktifitas untuk menuju dunia. Aku ikut menari..menyanyi..yang scopenya UNAND. Aku diberitahu oleh dosen pembimbing bahwa kalau berhasil maka ikut panggung di Sydney, Australia..woww hebat bisa menuju dunia. Aku berfikir bahwa dunia luar semakin dekat. Aku dulu memimpikan “ternyata Eropa sangat memukau...Eropa itu sangat inspiratif”.


Thesis
Ketika kuliah banyak orang melihat tesis sebagai sebuah hantu. Mengapa ? Karena mereka tidak terbiasa dengan sistem penulisan. Apalagi aktivitas mengarang sejak bangku SD, SMP dan SMA kegiatan mengarang jarang digubris. Mereka melihat  rulenya tesis itu cukup berat, kajian pustakanya..,kendala mereka di sana.
“Benar bahwa penyebabnya sulit menulis dimulai sejak di SD, di SMP, dan di SMA..di mana projek mengarang kurang memperoleh tempat”.
Mengapa kultur mengarang kurang  tumbuh saat di sekolah rendah dulu ? Pada hal latihan mengarang waktu kecil sangat penting terhadap kemampuan menulis pada taraf pendidikan selanjutnya.
Nah saat aku duduk di bangku SMP dulu, hari pertama sekolah guru bahasa Indonesia udah memberi writing project  “Ayo kamu bikin pengalaman selama liburan...!”
Pertama kali menulis memang  susah, sehingga aku mengeluh pada mama.
“Mama aku nggak bisa mengarang...!” aku bertanya tentang bagaimana cara mengarang yang bagus. Namun saat di SMA aku menjadi pengurus mading (majalah dinding..dan aku bertanggung jawab untuk menulis. Maka aku rajin bikin cerpen untuk ditempel pada mading dan setelah itu aku juga rajin bikin puisi.
Menullis cerpen kan butuh tema. “oh sekarang hari ibu kartini dan temanya tentang wanita,...sekarang hari kemerdekaan..temanya tentang nasionalisme”. Karena aku pengurus mading maka aku dengan leluasa menempatkan cerpen-cerpenku. Karena aku senang menulis cerpen maka aku punya kemudahan dalam menulis dan memajangnya pada mading. Sementara teman-teman yang jarang menulis waktu dulu, ya mengalami  kesulitan untuk mengekspresikan ide-ide mereka.
Aku sempat membantu teman yang kuliah di peternakan, yang mengalami kesulitan dfalam menulis tesis. Sebenarnya ia pintar, tapi ia susah untuk memulai. Ia tidak mengerti tentang step-step dalam penulisan. “Penyebabnya ya karena tidak terbiasa dalam menulis”.

Final Project- Skripsi
            Bagaimana ya aku merampungkan skripsiku sebagai final project ku, dan juga trik-trik  yang  juga harus diketahui oleh banyak mahasiswa ?
“Pertama  aku perlu membaca banyak literatur di perpustakaan. Aku menjadi orang paling rajin mengunjungi perpustakaan, membaca berbagai jenis skripsi dan tesis yang telah diselesaikan oleh para senior. Dengan demikian aku bisa memperoleh inspirasi untuk memperoleh  judul skripsiku”.
            Mahasiswa sastra Bahasa Inggris yang mendalami linguistrik, skripsi mereka banyak yang membahas tentang semiotik, prakmatik, psikolinguistik, sosiolinguistik..dn “tik...tik” lainnya. Tema-tema  seperti  itu sudah banyak dibahas dijurusan dan pembimbing ingin kita untuk  mencari dan membahas subjek yang lain. Akhirnya aku melakukan studi literatur.
“Aku  membaca banyak judul-judul tesis yang sudah ada di perpustakaan. Sehingga aku mencari judul yang sedikit dikaji untuk menambah khazanah ilmu di sastra Inggris”.
Aku lebih memilih ke dalam bidang sosilogi dalam bahasa  atau sosiolinguistik. Aku harus mencari masalah dalam sosiologi.
“Repot juga ya mencari masalah dalam sosiologi...!!”. Aku berfikir dan kembali ke lingkungan. Apa yang jadi masalah dalam lingkungan ? Ternyata aku lebih tertarik mengangkat masalah “swear word” yaitu kata kata bersumpah.
“Swear Words adalah  kata carut marut atau kata-kata yang mengungkap emosi kesal, seperti sumpah mati...., biar aku disambar gledek. Nah ini contoh dari swear word tersebut”. 
Aku kurang mengenal swear word dalam kehidupan  karena mamaku jaraaaang atau hampir tak pernah menggunakan swear word dalam marahnya. Namun dalam pergaulan, aku tahu banyak swear word. Teman-teman menggunakan swear word untuk keakraban. Swear word yang lain seperti “Oh my god,....very awesome......bullshit” Ada banyak lagi bentuk dan jenis swear word tersebut.
Aku berfikir, kenapa teman-teman menggunakan kata kata kotor, kata kata emosi, swear word untuk untuk mengungkapkan bahwa  hubungan emosi mereka cukup dekat (?). Tapi aku mengambil kasus swear word dalam bahasa Inggris.
Kendala lagi bahwa untuk melakukan penelitian tentu  aku nggak mungkin pergi ke Inggris atau ke komunitas orang orang Inggris, apalagi ke Australia, Amerika atau London. Sehingga aku memilih media televisi yang ada swear wordnya..
Menurut teori bahwa film-film yang ada dalam cinema itu juga mengaju pada kehidupan harian dan kebenaran masyarakat Inggris. Meskipun ada suatu kelebaian (melebihkan) dalam film tetapi itu untuk membuat daya tarik bagi film. Aku akhirnya mengambil film latar berlakang orang Inggris.
Lagi-lagi aku mencari teori tentang menggunakan film sebagai sumber data. Aku menemukan teori bahwa film ada yang mengacu pada peristiwa kehidupan sehari-hari. Aku mencari film yang banyak menggunakan swear word.
Aku memilih tiga film. Satu film bersifat “true story”, nah itu memperkuat penelitianku. Filmnya adalah “Mr and Mrs Smith”, aku menemukan film dari cinema berbagai DVD yang aku beli available in the market.
Film Mr and Mrs Smith adalah film yang mewakili upper and middle class. Aku mendengar bagaimana mereka mengeksplorasikan swear word dalam hidup mereka, yaitu kata sumpah serapah. Kemudian film Domino. Domino is also a true story.
Voila, quelle tittre de ton thesis ? (apa judul tesis mu ?). Oh it is “ swear word in three movies” (oh kata kata sumpah dalam tiga sinema). Attend je regarder mon ordinateur (tunggu sebentar aku lihat judulnya dalam laptop dulu..!).
“Setelah kamu punya judul buat thesis, nah bagaimana kiat- kita supaya cepat menyelesaikan thesis tersebut ?”   
Waktu tiba saatnya menulis thesis, aku tidak menunda-nunda kesempatan. Di saat judulku sudah di-acc (disetujui oleh pembimbing) aku langsung menjalankan penulisan. Searching literatur (cari cari literatur lagi) di perpurstakaan. Untuk sistematika penulisan, walau aku sudah tahu dari dosen dan juga dari buku buku, namun juga lebih bagus melihat contoh langsung. Aku menemukan banyak bentuk  dan aku comparison (bandingkan) mana yang lebih bagus dan lebih aku pahami, aku pakai.
Saat judul thesisku sudah  OK pada siang hari dan ada revisi, ya aku langsung perbaiki malam nya, tanpa menunda waktu yang lebih lama. Aku  takut lupa atau ide ide juga bisa tidak cemerlang lagi kalau ditunda sehari- dua hari sesudah itu. Kebiasaan positif ini menguntungkan aku.
Mahasiswa lain mungkin bisa punya problem dalam menulis thesis. Problem mereka mungkin dalam keterbatasan menemui buku, atau theory yang baru untuk mendukung thesis kita.
“Maka kita juga harus gigih bertanya pada dosen dan juga kepada para senior,  mana tahu mereka  punya info tentang buku yang dicari. Aku sendiri sampai mencari buku sumber thesis ke universitas lain, seperi ke UPI, Universitas Bung Hatta, ke UNP, dan ke perpustakaan daerah”.
Akhirnya setelah thesis atau skripsi selesai maka pintu terbuka menuju dunia, namun ada lagi pintu pintu lain yang tertutup. I open one door, enter another door and open several doors”. Waktu selesai aku merasakan hampir nganggur dan jadi pengangguran.

BAB. V Menatap Dunia

Mencari Pekerjaan
Kerja dan belajar serius merupakan kunci sukses dalam studi. Aku akhirnya mampu menyelesaikan skripsi dan terus ujian kompre. Aku dinyatakan sebagai sarjana baru pada sastra bahasa Inggris di Universitas Andalas Padang.
Namun setelah  ujian kompre, kebetulan kakakku menikah. Aku juga ikut merasa sibuk atas persiapan pernikahan kakak tersebut. Aku merasa bahagia karena  bisa memberikan tenaga bagi suksesnya pernikahan kakak.
Setelah itu  aku sempat diskusi dengan famili, “setelah kamu selesai kuliah apasih projek kamu ?”
“Ya....tentu aku pengerja dan aku takut  jadi pengangguran”, jawabku.
“ Kamu sudah cari info...?”
“ Ya....kebetulan juga ada info pekerjaan  dari saudara papa bahwa di UNP ada lowongan untuk menjadi dosen. Passing gradenya tidak begitu tinggi yaitu untuk lulusan S.2 dan lulusan S.1”.
Aku juga mendengar bahwa juga ada kesempatan jadi tenaga pendidik atau dosen di UNAND.  Aku  mencari info lebih lanjut dari UNAND dan bagaimana passing grade nya.
“Besoknya aku ke Padang ....!!”
“Buat apa....?” Tanya mama.
“ Ada lowongan untuk jadi dosen di UNAND”. Aku menjelaskannya pada mama.
Ternyata informasinya benar bahwa disana juga dibutuhkan dosen dengan pendidikan S.2 dan S.1. Sayang saat itu  aku belum mendapatkan transkrip nilai, namun  ijazah sudah ada.
“Aku harus fighting (berjuang) untuk mendapatkan transkripsi nilai, kalau ditunggu bisa-bisa ..peluang emas jadi hilang. Karena transkrip nilai kelarnya 2 bulan lagi. Aku menemui petugas di kantor jurusan dan mengikuti berbagai petujuk demi kemudahanku”.
Aku kemudian ikut mendaftar menjadi dosen di UNAND walau hanya dengan menggunakan keterangan  transkrip nilai saja. Bagiku Ini  merupakan  langkah berikutnya untuk move on  from being a girl to be a woman, berpindah dari seorang bocah perempuan menjadi perempuan dewasa.  Tentu saja  banyak orang  yang menginginkan  jadi dosen, mendapat pekerjaan dan aku termasuk salah seorang  fighter di sana.  Aku berusaha keras dan belajar untuk menang.
Namun jauh sebelumnya aku juga sudah fighting atau bersaing dengan para senior untuk mencari posisi dosen di UNAND dan politeknik yang ada di Payakumbuh. Dua-duanya politeknik “Polikteknik Unand di Padang dan yang di Payakumbuh”. Sebetulnya juga ada formasi butuh dosen untuk sastra Inggris. Karena aku tahu suasana Sastra Inggris, kalau aku ikut formasi dosen sastra, aku pikir aku tidak bakal berkembang karena aku dibayang-bayangi oleh sosok dosenku, mereka sudah sangat pintar dan senior dan aku belum, gap akan besar.
Kalau aku ambil  posisi dosen Politani- UNAND  yang di Payakumbuh  ya agak jauh dari  Padang. “Menurutku bahwa Padang tetap menjadi kota yang bagus buat  menimba  ilmu. Ya aku ikut saja formasi  Politeknik yang di Padang saja. Disini  formasi yang ada cuma untuk satu orang dosen. Agaknya aku harus bersaing untuk mengisi satu formasi ini”.
Mama sempat komplain. “Mengapa kamu  ambil yang formasi ini, karena hanya untuk satu orang, sementara itu kamu masih  fresh graduate- baru lulus kemaren.  Saingan kamu yang lain sudah banyak yang  senior”.
Aku menjelaskan argument ku pada mama.  “Mama... itu bukan final choice bagiku, kalau gagal ya aku cari peluang yang lain. That’s the first time for me to use my degree. Finally mama oke with my choice.”
Persyaratan test untuk menjadi dosen meliputi TPA (test potensi akademik), test akademik, dan wawancara. Jadi ada tiga unsur. Untuk mengantisipasi  agar lulus dalam test TPA  aku perlu belajar dan  berjuang. Untuk lulus dalam test TPA aku  harus tahu banyak dengan pengetahuan umum. Saat aku di SMA, aku jurusan sains dan itu berarti pemahaman sejarah dan hukum agak kurang. Jadi aku mungkin lebih kuat  pada bidang numerikal dibandingkan  bidang  verbal.
Sejak kecil orang tua sudah  menanamkan  padaku kesadaran untuk menjadi orang yang mandiri.
“Ya aku sudah ditanamkan untuk mandiri, sehingga aku harus menjalankan prinsip mandiri, termasuk dalam belajar”.
Kemandirian ku sudah aku buktikan saat menyelesaikan thesis.  Saat itu aku punya banyak waktu kosong. Kasihan  waktu terbuang percuma. Maka aku berusaha untuk mencari kegiatan part-time pada bimbingan belajar sempoa. Aku mencari informasi dan  mendaftar ke sana. Aku diterima dan aku bekerja untuk  membimbing siswa sekolah dasar untuk bahasa Inggris.
“Aku juga mendaftar ke GO (Ganesya Operation). Ada empat tahapan seleksi yang harus aku lalui dan  ternyata melalui empat tahapan aku lulus juga”.

Kamis, 07 Juli 2011

Tuhan.....,Berilah Aku Kedamaian Fikiran

Tuhan.....,Berilah Aku Kedamaian Fikiran

Oleh: Marjohan Usman

http://penulisbatusangkar.blogspot.com

            Kedamaian fikiran sangat berharga dalam hidup ini. Kondisi fikiran yang begini mampu membuat aku bisa tersenyum meski aku tinggal dalam gubuk sederhana. Aku bisa tetap bahagia walau sedang mengendarai sepeda motor rinsek. Hilangnya kedamaian fikiran bisa menjadi musibah bagiku, termasuk bagi beberapa orang temanku. Beberapa orang temanku tidak mengenal dirinya lagi dan malah ada yang telah hilang ditelan bumi.

            Suatu hari di akhir usia anak-anak, aku memperoleh teman baru. Aku berfikir bahwa ia pasti seorang anak yang beruntung, karena ia tinggal dengan bibinya seorang wanita kaya, punya rumah bagus. Semua kaum kerabatnya terkenal sebagai orang-orang yang punya pengaruh dan punya ekonomi sangat mapan. Saat itu ia pindah sekolah dari sebuah SMP di Propinsi Riau. Papanya seorang kontraktor dan mama tidak bekerja, kecuali mengurus rumah saja. Mamanya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati dan malah terkesan over protektif- terlalu banyak melindungi dan banyak melarang “kamu tak boleh melakukan yang itu…dan juga tidak boleh pergi ke sana”.

            Temanku yang bernama Hendra ini banyak berada dalam rumah. Itu karena pola asuhan mamanya yang banyak nerasa taku atas keselamatan anaknya- “takut anak cedera, taklut anak terjatuh, takut anak berkelahi dengan teman dan takut anak tertabrak mobil”. Ya siapa yang merasa takut, tapi ini terlalu berlebihan. Akhirnya Hendra menjadi anak yang penurut, kurang banyak teman- kurang mampu bersosial, dan juga menjadi anak yang pemalu.

            Suatu hari mamanya terjatuh saat menyapu lantai, dilarikan ke rumah sakit dan meningga dunia. Mamanya meninggal karena gangguan jantung. Untuk selanjutnya pengasuhan Hendra berpindah ke bibinya, seorang janda separoh baya dengan enam orang anak. Bibinya berwatak keras dan terkesan kurang ramah. Tersenyum adalah sesuatu hal yang sangat mahal darinya. Temanku Hendra seharusnya  memiliki kemampuan beradaptasi dari pola asuh ibu yang overprotektif dan penuh kasih sayang kepada bibi yang tegas, keras dan suka aktivitas. Ia member  tanggung jawab pada Hendra dan Hendra mematuhi semua aturan dan larangan yang berlaku di rumanya “Tidak boleh menghidupkan TV, tidak boleh mendengar lagu terlalu berisik, tidak boleh menerima teman karena rumah pasti akan sembrawut, tidak boleh berkelahi dengan anak tetangga” dan akhirnya Hendra memilih tinggal dalam kamar sepanjang hari sebagai alternatif aman.

            Aku termasuk remaja kecil yang dibolehkan berkunjung ke rumah Hendra- karena menurut bibinya aku memiliki karakter yang baik, dan bibinya senang dengan ku. Aku memanggil Hendra dan mengajaknya bercanda… namun aku melihat bahwa Hendra sangat penggugup di rumahnya sendiri. Namun ia senang bermain ke rumahku, walau kondisi bangunannya amat sederhana. Di rumahku Hendra bisa tertawa terbahak-bahak dan bisa bercanda sepuas-puasnya. Namun bila balik ke rumahnya, ia harus memasang karakter serius kembali. Ada lagi karakter aneh pada Hendra yang kulihat bahwa ia suka tarik diri dari keramaian orang. Bila familinya datang walau dengan mobil sedan mewah, maka ia buru-buru lari ke rumahku yang hanya terbuat dari papan yang agak reot. Aku pernah bertanya “Kok kamu lari ke sini, enaklah punya family kaya dan punya bobil bagus”. Ia menjawab bahwa ia tidak memperoleh tempat dalam hati famili-familinya, ia hanya merasa sebagai orang kelas dua bersama mereka. 

            Karena tuntutan studi, aku akhirnya berpisah dengan sahabatku. Pernah setelah satu atau dua tahun aku tidak berjumpa lagi, saat aku menjumpainya ia sudah menjadi semakin mudah gugup dan sangat kaku. Mukanya penuh jerawat, karena ia tidak peduli lagi dalam merawat mukanya. Aneh….bahwa kalau berjalan ia suka menunduk- melihat ibu jari kaki saja. Akupun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengannya. Ia terlihat menjadi antisocial dan tidak peduli untuk berkomunikasi. Akupun tidak punya waktu untuk mendekat sekedar untuk mengatakan hello. Namun setelah bertahun tahun tidak berjumpa, aku datang menemui bibinya. Bibinya mengatakan bahwa ia telah mengalami gangguan mental- skizoprenia/ pribadi yang terbelah. Ia suka jalan sendirian, marah-marah dan suka mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk dihisap.

            Kedamaian fikiran juga sirna dari temanku yang bernama “Zamri Amros”. Ia saat itu belajar di sebuah SLTA dan tinggal dalam kamar kost yang sangat sederhana. Aku sering mengajaknya ke rumah atau mengantarkan nasi dengan sepotong goreng telur. Sarapan yang demikian adalah sesuatu yang mahal buatnya. Aku memahami posisi ekonomi orangtuanya sebagai petani kecil- petani miskin yang tinggal di kaki bukit kapur yang tidak subur. Ia jarang pulang kampung karena bakal tidak ada yang diharapkan (uang, harta dan makanan) dari kampung.

            Pulang kampung bukan lah yang membahagiakan bagi Zamri. Di sana ia malah menderita dan sedih yang mendalam melihat kondisi ekonomi dan kesehatan semua anggota keluarganya. Ia tidak pernah memperoleh motivasi dan inspirasi untuk sukses dari mama dan papanya. Sebaliknya, ia malah banyak memperoleh keluhan dan ratapan dari mereka. Ia merasakan hidup ini sempit dan suram. Akibatnya perilakunya tidak ceria dan ia malah penuh  dengan kecemasan- cemas kalau berbuat salah dan cemas kalau dimarahi orang.

            Tamat SLTA, ia malah bengong “mau pergi kemana ?” Ia tidak punya keberanian karena ia memandang diri sangat rendah. Ia tidak berani untuk m,elangkah, karena ia tidak pernah diajar untuk berani. Ia akhirnya pulang kampung dan ia menjadi tumpuan harapan semua orang. Ia sendiri tak mampu memenuhi harapan banyak family. Aku mendengar sahabatku mengalami sakit berat gara-gara fikirannya. Badannya kurus dan ia akhirnya hilang ditelan bumi ini…untung aku masih menyimpan fotonya, saat berkunjung ke kampungku. Hidup ini sangat ganas bila fikiran kita tidak damai.

            Andi adalah teman masa kecilku yang amat aku kagumi. Karena ia pintar dan mudah bergaul dan jago dalam balapan. Aku punya banyak memori bersamanya- kami pernah lomba balapan sepeda, pergi berburu burung di sawah dan mencari buah buahan ke kebun tetangga. Itulah bahwa banyak orang tua diseputar rumahku yang hanya pintar berharap namun miskin dalam berempati. Andi sendiri di rumahnya tidak memperoleh banyak bimbingan dalam belajar. Orang tua hanya berfikir dan berprinsip bahwa mengajar anak untuk jadi pintar adalah tanggung jawab guru di sekolah. Urusan pendidikan Andi diserahkan bulat-bulat pada gurunya di sekolah.

            Tentu saja prestasi akademiknya tidak begitu menggembirakan. Namun orangtuanya mampu untuk mengirim Andi ke sekolah dan universitas swasta yang bergengsi dan biayanya mahal. Pendidikan Andi dari SD hingga perguruan tinggi semuanya swasta dan orangtuanya telah mengeluarkan banyak uang dari koceknya buat Andi, kadang mengeluh dan menyesal “Uang banyak habis tapi kamu tetap bodoh dalam belajar”. 

            Tamat Perguruan Tinggi, ia diharapkan harus bekerja, tidak boleh menganggur karena telah menghabiskan banyak uang. Pergi ke kota Jakarta adalah solusinya. Andi pun jadi immigrant di negara sendiri- ternyata susah mencari kerja di kota dengan jutaan manusia yang stress. Yang mudah hanya menjadi sopir taxi. Itupun ia memperoleh cibiran dikampung, “Apa gunanya kuliah mahal-mahal kalau hanya menjadi sopir taxi…!!”. Andi pasti kalut dan kedamaian fikiran adalah hal yang sangat mahal. Hari itu aku ikut berkumpul di rumahnya menunggu mayatnya, ia korban kekerasan dari penumpang taxi yang tidak dikenalnya. Orangtuanya amat terpukul dengan kepergian Andi, anak laki-laki yang gagah, lembut, namun hilang ditelan keberingasan kota Jakarta.

            Sahabatku yang lain yang telah kehilangan kedamaian dalam fikirannya adalah Gope. Secara sekilas aku fikir bahwa ia anak yang beruntung. Ia punya ayah dan ibu dengan ekonomi dan kondisi social yang begitu sehat. Ia malah juga punya hobbi main sepak bola dan ia sendiri ikut masuk klub bola. Aku kemudian berpisah cukup lama karena aku harus melanjutkan studi. Ia sedikit lebih tua dari aku dan seharusnya ia juga harus meninggalkan rumah untuk pergi studi.

            Setelah tiga tahun aku pulang kampung dan berjumpa dengannya, namun ia menjadi pemuda yang banyak minder (rendah diri) dan suka mengurung diri. Ia tidak tertarik berinteraksi dengan tetangga dan juga dengan familinya sendiri. Aku fikir bahwa penyebabnya menjadi kehilangan ketenangan dalam berfikir adalah dari lingkungan rumah sendiri- namun orang suka menyalahkan tetangga. Menurutku penyebabnya adalah factor orang tuanya dan sibling (saudara kandungnya).

            Aku lihat ayahnya tidak berinteraksi dengannya. Mereka terbisaa berjalan sendiri-sendiri, tidak ada acara kebersamaan. Yang ada malah kebisaaan mengecam dan menyalahkan anak bertubi-tubi. Ibunya juga demikian, kurang banyak peduli dengan perkembangan emosi anak- kecuali ia memperhatikan minum dan makan saja. Dalam bidan akademik ia gagal tiap semester dan tentu saja ia tidak memperoleh penghargaan dalam hidup, aku fikir betapa dahsyatnya arti sebuah pujian dan perhatian. Sejak itu ia sering mengkonsumsi pil penenang untuk mengendorkan ketegangan sarafnya. Kekacauan jiwa susah untuk sembuh total setelah usia dewasa. Maka aku ingin semua orang sejak anak-anak memperoleh pujian, perhatian, kebersamaan, dan pengalaman- pengalaman sukses dalam hidup mereka.  

            Bulan lalu aku pulang ke desaku, aku sudah lama tidak kesana, namun begitu sampai di sana aku menemukan ada kuburan baru. Kuburan temanku…ada apa ? Temanku, Young, akhir-akhir kematiannya sangat menderita dengan fikirannya. Ia tidak bergairah dengan hidupnya. Ia juga tidak berbahagia dengan orang tuanya, terutama ayahnya yang sangat pemarah. Dahulu, kalau Young ada kesalahan maka ayahnya suka naik pitam dan memukul kepala dan telinga anaknya. Akibatnya di rumah Young tidak banyak mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Ia merasa orang asing di rumahnya sendiri, mungkin inilah yang dapat dikatakan sebagai peristiwa KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berkepanjangan yang bisa membuat trauma dan depresi bagi teman ku, yang bernama Young.

            Aku sendiri kadang-kadang juga mengalami problem dengan fikiran sendiri- hingga kedamaian  dalam fikiranku jadi hilang. Namun yang aku rasa sebagai penyebabnya adalah karena masa kecilku yang juga kurang bahagia. Ayahku hampir tidak melowongkan waktu untuk melakukan kebersamaan dengan ku, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan karirnya sendiri. Ibuku juga tidak pernah mengatakan “I love you” pada ku, tidak tahu cara memujiku. Yang ia bisa Cuma banyak marah, mrmerintah dan serba mengatur. Disamping itu aku juga tumbuh sebagai anak yang punya sejuta keinginan dan aku tak mungkin mencapai keinginan tersebut maka aku menangis dalam mimpiku. Namun masih beruntung karena masih ada family, bila datang, yang memberi aku sekeping senyum dan sekeping cinta. Aku bisa bahagia karena masih menjadi remaja/ anak yang punya arti hidup. Aku dan teman-temanku pasti takut kehilangan rasa damai dalam fikiran ini. Aku berdoa kepada Tuhan pemilik kedamaian ini, agar memberi aku dan teman-temanku rasa damai dalam fikiran kami.  

Selasa, 05 Juli 2011

Aku Tidak Ingin Menjadi Muda Lagi

Aku Tidak Ingin Menjadi Muda Lagi
Oleh: Marjohan
http://penulisbatusangkar.blogspot.com
            Hidup ini sangat indah. Namun indah atau susah adalah suasana dari dalam hati. Aku sendiri paling senang memperhatikan keindahan lewat kecerian anak-anak- mengembara, berlari, berlompatan- tidak kenal lelah, dari pagi hingga malam datang lagi dan tertidur- kembali bermimpi.
            Aku juga paling senang memperhatian kecerian remaja, karena dalam kecerian mereka terdapat vitalitas hidup. Aku fikir bahwa anak-anak dan remaja adalah manusia yang paling sibuk di dunia. Coba perhatikan kalau ada keramaian dan acara-acara social yang  penuh dengan kegembiraan, maka di sana pasti terdapat banyak ana-anak dan para remaja.
            Ada hal lain yang membuat aku senang. Aku paling senang melihat seorang ayah yang menggendong dan bermain akrab dan penuh cinta dengan bayinya, karena suasana begini masih langka terlihat. Aku juga senang melihat anak-anak muda yang selalu menebar kebaikan dalam hidup ini. Lantas apakah aku ingin muda lagi ?
            Masa mudah memang sangat mudah. Tetapi aku takut menjadi muda lagi. Dari usia muda hingga usia tua ini aku telah melalui serangkaian peristiwa yang menyenangkan dan peristiwa yang menakutkan dan aku tidak ingin lagi mengulangi peristiwa yang menakutkan dalam hidup. Peristiwa yang menakutkan ada dalam masa anak- anak, masa remaja hingga masa dewasa dan masa tua.
            Peristiwa seperti perpisahan, ditinggalkan, suasana menakutkan dan dimarahi adalah hal-hal yang menakutkan bagiku saat masih anak-anak. Aku sangat gembira bila ada pertemuan dan sedih dengan perpisahan. Pada masa kecil aku sempat dipelihara oleh seorang famili yang amat setia menemaniku. Mengajak aku bermain- membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali dan membelinya tali- lalu menyerahkannya padaku. Saat aku menarik mobil-mobilan tersebut ia selalu memberi  aku semangat agar mengembara sekelilng rumah. Bila aku terjatuh dan terluka, maka ia akan meniup luka kecilku dengan tiupan angin dari mulutnya dan berkata “ah jangan menangis, kamu bakal jadi orang hebat”. Namun aku merasa sangat  berduka saat ia harus pergi karena ia harus berumah tangga. Saat itu aku tidak mengerti apa maksudnya berumah tangga, yang jelas aku ditinggal pergi dan aku merasa tidak akan ada lagi orang yang tersenyum pada ku atau menenangkan tangisku.
             Saat aku kecil, aku paling takut kalau aku rewel, karena aku aku segera diusir keluar rumah dan dibiarkan berada dikegelapan malam. Ini termasuk strategi orang tuaku dalam menenangkan semua anak anak- menakut-nakuti dengan kata-kata hantu, kuntilanak, hantu pocong dan aku dibiarkan dalam kegelaman. Aku merasa seolah olah ada jari jari hantu yang  memang menggerogoti sekujur tubuhku. Aku ingin semua orang tua tidak berbuat demikian pada anak-anaknya karena mereka pasti akan menjadi penakut dan tidak bisa mencari solusi atas problema yang mereka hadapi, juga kebiasaan demikian akan menghilangkan karakter kepemimpinan yang baik bagi anak.
             Hal lain yang membuat aku terluka saat masih kecil adalah karena dibeda-bedakan dari saudaraku yang lain. Suatu hari aku pergi bermain-main bersama teman jauh di kebun di belakang rumah. Aku tiba tiba ingin pulang karena aku merasa sangat dahaga. Apa yang aku temukan ayah dan ibuku dan saudara-saudara ku sedang makan sate, makanan kesukaanku, namun buat ku tidak ada. Mereka menduga aku tidak ada di rumah dan jatah sateku diberikan pada anggota yang lain. Aku tidak mengerti alasan mereka, yang jelas aku merasa sedih sekali dan aku pergi ke belakang rumah dan di sana air mataku tumpah sebanyak mungkin. Ibuku memanggilku namun aku ngambek, karena aku merasa sebagai anak yang berbeda dan anak yang tidak berharga. Wah aku tidak ingin menjadi kecil seperti itu lagi.
            Kesedihan-kesedihan ku, dan anak-anak lain- dalam masa anak-anak adalah karena adanya perbedaan. Sebagai anak-anak aku ingin diajak pergi ketempat permainan atau paling kurang aku juga harus diberikan mainan. Tetapi apa boleh dikatakan, orang tuaku tidak pernah tahu dengan keinginan ku. Teman-temanku berpacu dengan sepeda kecil mereka dan aku hanya menjadi penonton saja. Akhirnya suatu hari aku memperoleh sepeda dan aku rajin berlatih main sepeda.
             Setelah aku pintar bersepeda maka aku membonceng adikku. Aku dayung sepeda tersebut sekencang mungkin dan aku menjadi orang paling jago dan paling hebat di dunia ini. Aku suka dengan tantangan maka akau melaju kencang dan kencang. Aku melaju ke atas tumpukan tanah dan aku membuat sepedaku untuk melompati tumpukan tanah. Aku kehilangan keseimbangan dan aku serta adikku segera terbanting ke bumi. Aku luka-luka dan adikku juga luka-luka. Aku segera membeli plester anti luka- handyplast- untuk membalut luka-luka adikku.
              Aku taku dengan ibuku. Ia pasti marah besar. Akhirnya aku dengar suara ibu marah besar dan aku yakin bakal akan dicambuk. Aku tetap membetulkan letak plester pada luka pada wajah adikku. Anehnya  bahwa adikku juga cukup gentlemen, ia tidak menangis. Melihat aku lagi bertanggung jawab atas luka-luka adikku, ibuku batal untuk mencambukku. Mungkin ia juga kasihan melihat aku luka-luka dan adikku juga luka-luka dan buat apa dicambuk lagi. Ibuku termasuk generasi terakhir yang berprinsip bahwa “sayang dengan anak dicambuki dan sayang dengan kampung ditinggalkan. Pada hal sekarang hukum fisik harus dikurangi atau dihentikan.
              Ternyata anak laki-laki paling senang adu kekuatan fisik. Hampir tiap hari aku dan kakakku adu kekuatan fisik- siapa sih yang paling kuat ?. Aku selalu kalah dan aku sakit hati. Aku merasa dendam dan aku mencari teman yang bisa aku ajak untuk adu kekuatan di sekolah dan aku menang. Namun aku kena marah oleh ibu guru karena aku dianggap membuat keributan atau berkelahi di kelas..
               Masa bermain di usia Sekolah Dasar memang mengasyikan. Suatu kali guru-guru DI SD Negeri 3 Payakumbuh lagi rapat. Rapatnya agak lama. Aku dan teman-teman pergi bermain sangat jauh sampai dekat kolam besar. Kami memandang kolam tersebut sebagai tempat melakukan kreativitas. Kami semua melepaskan seragam sekolah dan semua berloncatan ke dalam kolam dan kami berenang. Kami lupa dengan waktu. Seorang temanku “Erman Syam” menemui sebelah anting-anting emas dan ia rembug dengan kami semua untuk menjualnya nanti dan uangnya kita bagi-bagi. Namun kami harus segera ke sekolah. Di sekolah kami ditunggu dengan hukuman dan kami disuruh mencangkul kebun sekolah. Itulah pertama kali aku mencangkul, mengangkat tangkai cangkul yang terasa cukup  berat. Kami tidak tahu kalau itu adalah pelanggaran disiplin di sekolah. Usai pulang sekolah kami pergi ke took emas. Anting emas tadi ternyata memang emas betulan dan telah dibeli oleh penjual di sebuah took emas. Uangnnya digunakan untuk pesta membeli makanan. Hari itu aku punya uang yang agak lebih. Namanya saja uang rezki nomplok.
                Masa-masa di SMP juga tidak begitu terasa indah. Semua teman-temanku mulai memperhatikan penampilan dan aku …aku tampil amat bersahaja. Aku takut minta tambahan koleksi pakaian pada orang tua. Pakaian ku sedikit dan aku jadi malas kalau ikut acara-acara teman. Aku juga tidak mengajak teman-temankku ke rumah, aku malu dengan kondisi rumahku yang begitu kecil, pengap dan berlepotan, sementara teman-temankku rumahnya bagus, bersih dan indah.
               Aku tumbuh menjadi anak yang rendah diri- karena tidak ada potensi yang musti diandalkan- kemampuan olah raga, seni dan akademikku- semuanya hampa. Akhirnya aku musti bergiat dan aku tertarik dengan bahasa Inggris. Aku menjadi lebih jago dari kawan-kawanku dan aku menjadi lebih popular dan punya banyak teman.
                Aku selalu tumbuh dan tumbuh. Aku melihat semua teman-temanku pada bersinar- punya mobil, punya alat music, punya sarana olah raga dan punya orang tua yang beken. Tetapi aku hanya punya mimpi dan suka melamun. Namun aku tidak berguna meratapi kekuranganku, aku tidak meratapi mengapa ayahku tidak memberi aku model hidup yang bagus- mengapa ayahku tidak mengajakku bertukar fikiran . dan ibuku mengapa terlalu banyak melarang dan marah marah sehingga aku tidak punya inisiatif.
                Suatu hari aku mau jatuh cinta pada teman sekelasku. Tetapi bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Aku tidak berani dan cintaku pasti bakal ditolak. Aku sudah duluan memandang diri ini sangat rendah. Memandang diri rendah berarti merasa rendah diri. Aneh teman wanita yang mau aku taksir tidak respon padaku. Yang tidak aku taksir itulah yang memberi respon, banyak yang datang pada ku. Aku termasuk yang rajin belajar, namun nilai ku kadang kadang begitu melorot dan aku jadi sedih. Aku melihat bahwa kedekatan guru dan murid bisa membuat nilai tinggi dan aku tidak tahu cara  mendekatkan diri dengan guru-guruku. Namun suatu kali guru kesenianku merayakan ulang tahunku bersama teman-temanku  dalam kelas- dan itu sangat berkesan bagi ku sampai sekarang.
               Tiba-tiba usia belasanku mau berakhir…aku sedi banget. Besok usiaku sudah dua puluh tahun dan aku tidak remaja lagi, karena remaja itu usianya belasan. Kalau dipikir pikir bahwa usia muda tidak akan pernah datang lagi. Aku tidak suka melamun apalagi mencari-cari kelemahan diri. Aku mengembangkan diri semampu ku. Aku memperluas pergaulan dengan orang orang yang sesuai dengan pribadiku. Aku selalu ingin menjadi orang berguna dan dan orang penting. Maka aku rajin mencari identitas diri- kadang aku ingin jadi dokter, aku ingin jadi polisi seperti ayahku, aku ingin jadi pedagang seperti tetanggaku, jadi nakhoda kapal seperti kapal yang pernah aku lihat di Teluk Bayur di Padang dan aku juga membaca buku filsafat dan buku agama untuk ketenangan fikiran dan emosiku.
               Aku belajar untuk menerima diri apa adanya. Karena menerima diri sebagaimana adanya akan membuat fikiran tenang. Suatu hari teman Perancisku berada bersamaku. Mereka dalah Anne Bedos dan Louis Deharveng, mereka berdua sangat pintar tetapi mengapa penampilannya begitu urakan. Rambut panjang dan tidak disisir. Mereka menjawab ‘C’est moi et cela natural”. Suatu hari aku memberi mereka jambu dan mereka langsung memakannya tanpa membuang semut-semut hitam yang terkurung dalam telinga jambu tersebut. Katanya “Je mange tout les foumis et tout sont naturalement- aku makan semua dan semuanya alami”. Aku baru tahu kalau mereka suka dengan ungkapan back to basic dan back to natural.
                   Suatu ketika penjaja kosmetik datang padaku, ia langsung berseru “Duh kasihan uban anda bermunculan dan pakailah semir yang aku jual ini..?”. Aku protes bahwa apakah saya menjadi jelek atau hina kalau rambut beruban dan aku menjawab” Maaf uban ini membuat harga diriku bertambah, kemaren aku salah menyeberang jalan dan karena pak Polisi melihat ubanku, mereka memberi peringatan padaku dengan penuh sopan santun”.
                 Banyak orang takut tua dan mereka tambil jadi aneh-aneh dan salah tingkah. Aku masih ingat bahwa saat bibiku mau menjadi tua , ia sibuk pergi ke salon intuk mengubah penampilannya, suatu ketika ia meniru rambut kribo ala Achmad Albar. Maka ia diledek oleh temannya sebagai gadis tua dengan rambut sarang burung tempua. Orang orang yang takut tua memang telah menyerbu salon dan rajin mengkonsumsi obat obatan.
                   Aku baru tahu bahwa mengapa dulu ada teman ayahku yang usianya sekitar 40-an suka memakai kacamata gelap, memakai topi koboi, dan penampilannya mirip orang orang muda. Atau teman ibuku yang setelah usia 40 tahun atau lebih kembali peduli mengupdate penampilan- memakai lipstick tebal, rambut yang dimodifikasi ibarat penampilan remaja kemudian khawatir terus dengan kerutan yang mulai bermunculan pada wajah mereka. Mereka takut tua dan juga lebih takut kalau ditinggalkan oleh pasangan hidup mereka.
                Aku sendiri masih ingat saat ibuku meratapi kesedihannya karena ditinggal oleh masa mudanya. “Dulu dalam usia begini.. aku tinggalkan nenek mu dan sekarang aku sudah setua dia pula sekaranmg”. Aku saat itu tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibuku dan sekarang aku juga mengikuti pertumbuhan usia seperti mereka. Nenekku sudah meninggal dan ibuku baru saja meninggal dan esok aku akan juga menyusul mereka.
               Aku senang menjadi tua dan aku takut menjadi muda lagi. Yang aku takutkan adalah mengulang kesedihan demi kesedihan yang sempat aku lalui sejak kecil hingga aku dewasa dan aku menuju tua seperti ini. Tetapi kalau aku fikir bahwa menjadi tua itu adalah sangat alami dan semua orang serentak lahir dan menjadi besar dan tua sedunia ini. Teman-teman yang dulu sempat aku tinggalkan maka saat berjumpa dengan aku juga aku temui mengalami penuaaan. Wah mengapa harus takut tua dan aku malah takut menjadi muda. Tua yang menyenangkan adalah menjadi tua dengan penuh bijaksana. Menjadi tua yang selalu berbahasa dengan santun dan menjadi dekat dengan manusia dan juga yang terpenting dekat kepada Sang Khalik. Kini aku tengah menikmati penambahan usiaku dengan penuh bijaksana. Aku juga mengisi sebahagian malam dengan tenggelam di atas sajadah dan merasakan kedamaian dalam relung hatiku.  

Minggu, 03 Juli 2011

Kasihan…..Anak- Anak Tanpa Masa Depan

Kasihan…..Anak- Anak Tanpa Masa Depan


Oleh: Marjohan

http://penulisbatusangkar.blogspot.com

Semua orang Minangkabau (orang Padang) pasti mengikuti garis keturunan ibu (matriachat) dan ibuku sendiri berasal dari Lubuk Alung. Nenekku memiliki sawah- ladang dan perumahan di tepi aliran Batang Anai, kira-kira 3 km dari pasar Lubuk Alung. Aku tidak tahu banyak tentang nenekku dan siapa serta bagaimana dengan anak-anak dari nenekku tersebut. Yang masih aku ingat adalah bahwa ibuku memiliki 8 orang bersaudara dan masing masing memiliki anak yang cukup banyak, berkisar 4 orang sampai sepuluh orang. Itulah kelemahan ibuku- dan juga kelemahan beberapa orang lain- yang tidak terbiasa memperkenalkan anaknya dengan anggota keluarga besarnya. Sehingga aku hampir hampir tidak banyak mengenal mereka, malah saat aku pulang kampung aku sendiri merasa sebagai orang asing di antara mereka.

Andaikata aku dibesarkan di sekitar rumah nenekku, pastilah aku akan ikut tumbuh sebagai anak- anak yang juga kurang beruntung dalam memandang masa depan. Aku dan saudara kandungku dibesarkan di kota lain (Payakumbuh), dimana ayahku bertugas sebagai polisi. Aku beruntung bisa tumbuh di daerah perkotaan dengan latar belakang budaya yang cukup heterogen sehingga aku bisa memiliki motivasi hidup yang tinggi dan kompetisi belajar yang juga besar hingga aku bisa memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik dibanding familiku di daerah asal usulku- Lubuk Alung. Dimana sebagian besar kaum kerabatku tumbuh tanpa masa depan dan mereka cenderung memiliki pribadi yang rapuh- mudah putus asa.

Ibuku mengatakan bahwa nenekku memiliki 8 orang anak dan masing-masing mereka memilki anak- anak yang banyak. Sayangnya perkawinan mereka semua hampir tidak bahagia. Pamanku yang paling tua menjalani hari-hari tua seolah-olah diasingkan dari keluarganya. Tatkala ia mengalami sakit pneumonia- paru-paru berair- maka semua anak-anaknya enggan untuk memelihara dan mengantarkan ayah mereka yang bertubuh lemah dan sakit sakitan ke tempat nenek ku. Ibarat kata pepatah “habis manis sepah dibuang”.

Ibuku mengatakan bahwa pamanku, sewaktu muda cukup bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, buktinya ia bisa membangunkan sebuah rumah yang cukup bagus buat istri dan anak-anaknya. Namun mengapa ia dibuang atau diasingkan di hari tuanya saat ia mengalami sakit hingga ia meninggal dunia dalam keadaan menderita dan kesepian.

Aku rasa bahwa rasa kemanusiaan anak-anak perlu untuk ditumbuhkan. Anak-anak yang tidak terbiasa dilatih untuk mencintai sesama dan menyayangi sesama akan tumbuh menjadi pribadi yang tanpa hati- rasa cinta. Anak-anak yang tidak punya hubungan batin yang erat dengan ayahnya sejak kecil, ya akan tetap renggang hingga akhir hayat ayahnya. Aku rasa pamanku waktu muda- pada awal punya anak- kemungkinan lupa untuk membangun jembatan hati dengan anaknya. Barangkali ia cenderung memelihara karakter yang otoriter dan banyak marah dan serba memerintah, itulah bahwa akhirnya semua anaknya tidak memiliki rasa rindu pada ayahnya.

Nasib pamanku yang ke dua juga tidak lebih baik dari yang pertama. Aku masih ingat bahwa pamanku yang ke dua cukup berkarakter pekerja keras- ia memiliki kecakapan sebagai tukang bangunan dan sebagai petani. Ia bisa membuatkan rumah yang cukup besar untuk istri dan anak-anaknya. Namun yang belum ia miliki adalah kemampuan berkomunikasi yang pas.

Pamanku yang ke dua tersebut karakternya lebih baik walau tetap bersifat otoriter dalam berkomunikasi. Ia kurang memiliki kemampuan dalam memahami percakapan orang dan gaya berkomunikasinya kurang indah- bahasanya cenderung menghardik hardik dan membentak- bentak. Dalam urusan pendidikan anak, tentu saja ia tidak tahu sehingga rata-rata anaknya hampir hampir tidak ada yang tamat dari Sekolah Dasar. Nasibnya di usia tua juga cukup sengsara, karena istrinya jauh lebih muda dan sempat selingkuh dan menikah dengan pria lain. Akhirnya ia juga meninggal dalam pengasingan di rumah nenek.

Pamanku yang ke tiga cukup beruntung karena hingga saat ini ia sangat rukun dengan istrinya, walau mereka tidak punya keturunan. Namun ia tidak begitu dekat dengan semua keponakanya, ia jarang dan malas berkomunikasi dengan keponakannya. Akhirnya kaum kerabatnya juga tidak memiliki rasa kangen dan juga cenderung membiarkan karakter individualisnya. Suatu hari ia sakit keras dan hampir tidak ada kaum kerabatnya yang datang untuk membezuknya. Itulah hidup ini secara tidak langsung penuh dengan sebab akibat. Bahwa ia cenderung diabaikan (ignored) oleh yang lain karena ia juga tidak acuh pada kerabat dekatnya.

Tiga orang bibiku tidak pernah pergi ke kota dan tidak memperoleh ilmu yang cukup, maka persis wawasannya juga sempit dan miskin keberanian dan ilmu pengetahuan. Mereka menikah dengan pria-pria yang juga kurang terdidik dan berwawasan sempit. Hampir semua bibiku punya banyak anak. Yang paling sedikit, mempunyai 4 anak, itupun dua anaknya ada yang meninggal. Mereka hidup terlalu menyerahkan hidup pada garis nasib (hidup pasrah atau fatalistic) seperti aliran air. Ada apa gerangan ?

Suami- suami bibiku tidak punya rencana yang hebat dalam hidup mereka. Mereka cuma berfikir bahwa hidup hanya sekedar butuh makan dan pakaian, maka perjuangan mereka dalam hidup hanya sekedar mencari satu suap nasi atau satu liter beras per hari. Namun begitu anak lahir, mereka tidak tahu cara menumbuh-kembangkan anak dan apa yang harus dibutuhkan anak. Para suami bibiku adalah orang-orang kecil dan pola fikirannya juga sangat kecil.

Bibiku yang tua punya 7 anak dan suaminya hanya seorang petani kecil, hidup hanya mengandalkan hasil kebun. Ia tidak punya fikiran bisnis untuk menjual hasil kebunnnya, akhirnya ekonominya sangat minim dan layak dikatakan sebagai keluarga pra-sejahtera. Kenapa ? mereka hidup dalam rumah, yang cocok dikatakan sebagai gubuk, tanpa listrik, tanpa perabot dan fasilitas hidup yang layak dan menyantap makanan yang gizinya tidak memadai- mereka tidak kenal apa itu multi vitamin, apa itu susu dan apa itu makanan yang bergizi.

Hidup mereka hanya bersahaja, untuk makan ya cukup dengan nasi yang ditemani dengan rebusan sayur dan lumuran cabe. Mereka tidak kenal bagaimana standar pendidikan dan standar kesehatan. Untuk sekolah ya sekedar bisa mengeja kalimat- bukan bisa membaca buku. Dan untuk kesehatan maka mereka tidak kenal apa itu istilah pola makan “empat sehat dan lima sempurna”. Dalam keluarga mereka tidak ada kata kata motivasi yang ada hanya kata-kata “menyuruh, melarang, memarahi, menghardik dan kata-kata pasrah- wah kasihan kami memang orang susah dan kami orang miskin”. Demikian bagaimana anak- anak bisa memiliki motivasi dalam hidup dan bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak dengan lancer. Sehingga semua anak-anak mereka putus sekolah saat masih di bangku SD dan juga hidup dengan pola pasrah pada takdir/ nasib.

Anak-anak mereka punya obsesi yang sangat praktis. Sebagian dari mereka membayangkan bahwa hidup enak adalah hidup di Jakarta atau di kota besar lainnya. Maka anaknya yang paling tua dengan modal nekad pergi ke Jakarta dan bermimpi untuk bias hidup enak. Namun, kenyataan kemudian, bahwa sudah puluhan tahun sang anak tidak pulang-pulang dan diperkrakan bahwa anaknya sudah jadi mayad dan jasad anaknya sudah terkubur dalam keganasan bumi Jakarta.

Bibiku yang paling tua segera menjadi janda. Suaminya pencandu rokok dan pencandu minuman kopi. Ia adalah perokok maniak dan peminum kopi maniak. Menghabiskan 2 sampai 3 bungkus rokok per hari. Lucu ya…untuk pembeli telur dan ikan- mengaku tidak punya uang namun untuk membeli rokok cukup mudah- ya demikianlah pola hidup orang miskin. Kemudian ia punya pola minum kopi sampai 3 gelas tiap hari- tentu saja bisa menderita gagal ginjal oleh zat racun yang ada pada kopi. Ya akhirnya sakit parah- gangguan paru-paru dan gagal ginjal, karena pola hidup yang tidak sehat.

Bibiku yang ke dua, juga menjadi janda. Suaminya kelewat sensitive dan orang-orang kampung juga usil dalam berbahasa- mereka paling gemar saling mengejek, saling mengkeritik dan saling menghina “Jadi suaminya hanya pintar b ikin anak dan bikin masalah” Tentu saja ejekan demikian bias membakar emosi dan bikin sakit hati. Miskinya gaya berkomunikasi- tidak ada bahasa yang santun- telah membuat hati saling terluka. Ya…bercerai dan tinggalah 5 orang anak dengan seorang ibu yang juga buta huruf dan buta keterampilan hidup.

Anak-anak yang tumbuh dengan ibu sebagai single parent yang miskin pengetahuan dan ketermpilan telah menumbuhkan anak-anak bermental lemagh dan hidup tanpa masa depan. Mereka memandang hidup ini begitu suram “wah buat apa aku harus lahir ke dunia kalau ditakdirkan jadi orang sengsara”. Hidup mereka hanya mengerjakan hal-hal yang sederhana- mengumpulkan pasir dan kerikil dari dasar sungai Batang Anai buat dijual dengan harga murah dan mereka hidup tanpa moto, kecuali selalu dalam keadaan rendah diri. Beberapa di antara mereka tidak menikah karena tidak tahu cara mengatakan “I love you pada lawan jenis”. Atau lawan jenisnya juga kurang tertarik karena mereka tidak bisa mengubah penampilan dan menggunakan bahasa yang indah. Sungguh penampilan dan bahasa yang indah amat berguna dalam hidup ini.

Sebenarnya nenekku tidak miskin karena ia mewariskan lahan tanah yang cukup luas- ada sawah dan ladang dalam ukuran cukup luas. Ada beberapa bidang tanah yang bagus untuk dikembangkan untuk ternak kambing atau ternak ayam/ itik. Namun lahan yang luas tidak ada artinya kalau ilmu dan wawasan kurang. Maka bagi mereka (kaum family) yang memiliki keberanian ya mereka pergi merantau ke metropolitan untuk menjadi buruh.

Malah ada yang telah tinggal cukup lama di metropolitan, kemudian terpaksa pulang kampung. Ternyata mereka juga sengsara di metropolitan, katanya “Dari pada sengsara di negeri orang biarlah sengsara di negeri sendiri”. Andaikata ibu dan ayahkuku tidak hijrah ke daerah lain dan maka kemungkinan pola pikiran ku dan juga orang tuaku juga akan sama dengan mereka (familiku yang di kampung.

Itulah aku merasa beruntung karena bisa hidup pada sebuah kota dengan lingkungan yang cukup heterogen. Sebetulnya kami- para anak anak dari sebuah keluarga- bisa jadi pintar, bukan terbentuk oleh pemodelan dari orang tua. Soalnya ibuku termasuk orang yang sangat otoriter dan pemarah. Dalam ia hanya menggunakan prinsip “menyuruh dan melarang”, pelanggaran atas disiplin yang ia bentuk sendiri akan dicambuk sebagai hukuman. Bagaimana dengan reward ? Reward atau pujian adalah hal yang sangat mahal. Dalam hidupku, orang tuaku mungkin tidak pernah mengajarkan dan memengucapkan kata “Maaf, terimakasih, dan kata kata pujian padaku”.

Ayahku sendiri, sebagai presiden di keluarga, hanya sebagai pemimpin laizzes faire- pemimpin yang serba membolehkan atau masa bodoh. Ayahku hanya cuma tahu bahwa kami hanya butuh makan, pakaian dan kesehatan. Ia berprinsip pada anak-anaknya “Terserah kamu, mau jadi orang gede atau tidak. Namun jadilah orang yang hebat”. Ternyata sepenggal harapan dari ayahku “jadilah orang yang hebat” cukup berguna dalam menggugah semangat juang ku.

Yang banyak menggugah semangat belajar dan semangat hidupku adalah faktor lingkungan dan bacaan yang sering aku konsumsi. Sampai sekarang aku merasa beruntung punya tetangga, dimana orang tua teman cukup peduli dengan makna pendidikan, aku keciprat kena pengaruh. Aku juga terlibat aktif dalam kelompok belajar dengan teman, kami juga punya aktivitas dengan teman-teman tetangga- ikut latihan karate/ dan silat (namun aku sering bolos karena latihannya malam-malam dan aku sering diserang oleh rasa kantuk), aku juga ikut dalam kegiatan karang taruna, aku senang bisa keliling RT buat mengumpul sumbangan. Dan setiap hari minggu pagi kami pergi ke lapangan sepak bola POLIKO untuk berolah raga. Aku bisa lari sepuluh kali keliling lapangan, itu berarti aku bisa lari sejauh empat kilo meter.

Aku juga beruntung bahwa ayahku ternyata juga suka membaca, akibatnya aku menyenangi bacaan. Akhirnya aku punya majalah sendiri yang aku beli tiap minggu- ada majalah Hai, Majalah Sikuncung dan majalah Kawanku. Lewat membaca aku punya sahabat pena dan kemampuan menulisku juga meningkat.

Aku menjadi gemar menulis, menulis cerpen, kisah nyata dan opini. Aku coba-coba menulis dan mengirimnya ke koran- koran dan majalah. Ya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak, namun aku tidak patah semangat dan malah selalu menulis. Namun sejak tahun 1992 hingga sekarang tulisanku sudah puluhan atau ratusan yang sudah aku tulis dan dipublikasikan. Malah dua buah buku ku juga sudah terbit untuk skala nasional.

Aku juga memperoleh pengaruh dari orang orang dewasa yang ada di mesjid- mereka adalah para pengurus mesjid. Walau aku tidak memperoleh banyak pengaruh dari orangtua sendiri di rumah, namun orang-orang dewasa lain yang memberi aku perhatian, mengaggap aku sebagai anak mereka sendiri- mengajakku bercerita dan bertukar fikiran. Kadang kadang aku juga rindu dengan mereka. Namun aku tidak mungkin berjumpa dengan mereka, karena mereka mungkin sudah berada di alam sana- sudah meninggal dunia. Moga moga Tuhan (Allah) menyayangi mereka.

Tulisan ini aku tulis bukanlah untuk mengekpose tentang kekurangan keluargaku, tetapi aku ingin berbagi dengan banyak pembaca bahwa betapa banyak keluarga lain yang nasib mereka seperti nasib keluarga ku. Dibalik itu dapat dipetik kesimpulan bahwa betapa hidup ini butuh persiapan, rencana dan motivasi. Bahwa menikah dan punya keluarga itu perlu rencana dan butuh tanggung jawab. Bahwa siapa saja yang mau menikah perlu memiliki ilmu tentang berkeluarga, ilmu mendidik keluarga dan ilmu agama dan kesehatan. Bahwa betapa kekayaan fikran dan keterampilan hidup lebih berharga dari kekayaan alam.

Motivasi dan bahasa yang santun juga sangat dibutuhkan dalam hidup. Kemudian hidup kita bisa berubah melalui bacaan, melalui model atau contoh. Dan yang perlu juga untuk dimiliki adalah semangat juang dan semangat otodidak- atau self learning- dalam hidup. Sungguh hidup terasa indah bila kita memiliki kekayaan ilmu, kekayaan bahasa, kekayaan keterampilan, kekayaan spiritual dan juga kekayaan social/ kekayaan dalam bergaul.

.

Kamis, 30 Juni 2011

Perjumpaanku yang Terakhir Kali Dengan Ayah

Perjumpaanku yang Terakhir Kali Dengan Ayah

Oleh: Marjohan

http://penulisbatusangkar.blogspot.com

Sudah 8 tahun aku tidak berjumpa lagi dengan ayahku. Saat itu aku ditelpon agar segera menuju rumah sakit M.Jamil Padang. Sebelumnya aku juga telah lama tidak berjumpa dengannya yaitu ada selama sepuluh tahun pula. Itu berarti bahwa aku kehilangan figure ayah selama belasan tahun dan berarti masa anak-anak dan masa remajaku hampa dari sentuhan dan kasih sayang seorang ayah. Apakah ayahku seorang pria yang sibuk ? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya.

Ternyata aku masih punya memori dengan ayah. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar aku dibawa ke Padang, ke kampung ayah. Di Koto tangah Lubuk Minturun- Padang. Saat itu transportasi tidak begitu lancar, aku dan ayah berjalan kaki dari pasar Lubuk Buaya menuju Ikur Koto, terus ke Rumah nenek jauh sekali rasanya…dibalik hamparan perkampungan orang dan sawah. Yang aku ingat adalah kebahagiaan di awalnya saja, namun dalam perjalanan aku merasa tersiksa karena kakiku merasa capek dan pegal-pegal. Aku harus berjalan mengikuti langkah ayah dengan kakinya yang panjang.

Aku hampir menangis dan hampir rubuh karena harus berjalan menuju ujung jalan yang amat jauh. Aku ingin saat itu bisa naik sepeda atau bisa digendong oleh ayah. Namun aku tidak terbiasa bermanja- manja. Akhirnya aku (kami) sampai juga di rumah nenek. Di sana aku jadi tahu tentang cerita ayah dan saudara- saudaranya.

Ayah adalah anak laki-laki satu-sarunya dari ia memiliki 3 orang saudara perempuan. Diperkirakan ayah termasuk anak yang manja. Namun ternyata tidak, malah waktu kecil ayah termasuk anak paling bandel. Hingga ia pernah diusir atau lari dari rumah.

Suatu hari ayah pulang sekolah dengan perasaan lapar. Namun nenek mengatakan bahwa tidak ada makanan buat dimakan. Diam-diam ayah menjumpai ada makanan dan gulai rendang tersembunyi. Merasa dibohongi, maka ayah menghabiskan semua gulai tadi kemudian dengan rasa sakit hati ayah melumuri sprei kasur dengan saus/ cabe dan sisa makanan. Melihat karakter ayah yang demikian, nenek juga marah besar. Sehingga akibatnya ayah lari ke desa lain dekat kota Padang Panjang.

Ayah tumbuh jauh dari orang tuanya. Dalam pelarian ayah memperoleh banyak pengalaman. Ia pernah belajar sebagai pandai emas atau tukang emas di kota Padang Panjang. Diceritakan bahwa saat muda, ayah juga pernah ikut pergi berdagang ke Tanjung Pinang- Kepulauan Riau. Tentu saja ayahku harus berperilaku baik selama tinggal dengan orang lain.

Dalam masa remaja, ayah mencoba untuk pulang ke kampungnya. Ternyata semua familinya sudah kangen dengan dia. Kedatangan ayah, sebagai anak yang hilang, disambut dengan penuh suka cita. Selama tinggal di kampungnya lagi - dengan nenek dan kakek, tentu ayahku tidak perlu bekerja keras, karena kebutuhan makan dan minum bisa diperoleh dari orang tuanya.

Dalam masa remaja, tentu saja ayahku memiliki teman khususnya. Dan yang aku masih ingat bahwa ayah jatuh cinta dengan gadis satu kampungnya yang bernama “Banir”. Berarti ayah nikah dalam usia yang sangat muda. Ayah memperoleh seorang anak perempuan. Namun aku yakin, bahwa ayah tidak memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga sebagai suami. Barangkali itu adalah gara-gara factor ekonomi atau keuangan. Ya akhirnya ayah ku bercerai dari istri pertamanya dan ia segera menjadi duda dalam usia remajanya.

Dasar pria yang gampang jatuh cinta, ayah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis. Gadis tersebut bernama “Nurlaya” yang juga berasal dari Padang. Perkawinan ayah yang kedua tidak seumur jagung, lebih lama dari pernikahannya yang pertama. Agaknya sebagai seorang suami, ayah belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pasti mereka sering cekcok dan ayah orangnya bersifat keras kepala dan sensitive, itu karena ia sempat tumbuh dalam pemanjaan namun ttidak dilatih/ diajari tanggung jawab. Maka suatu hari ayahku dan istri keduanya naik kereta api menuju Bukittinggi. Selama dalam perjalanan mungkin mereka penuh cekcok. Klimaks pertengkarannya terjadi di Kayutanam, kereta api berhenti dan ayahku “mengatakan good bye” selamat tinggal selamanya untuk perkawinannya yang kedua. Begitu mudah bagi ayahku menikah, begitu muda bercerai dan meninggalkan/ melupakan anak-anaknya.

Ya kembali ayahku bertualang dalam hidupnya. Akhirnya ayah ikut-ikutan sebagai tentara pemberontak melawan pemerintahan pusat, ia pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen untuk membentuk negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ayahku sampai ke Lubuk Alung. Di sana ia jatuh cinta lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah ibuku sendiri.

Saat itu ibu berstatus masih punya suami, seorang tentara. Namun sudah satu tahun tidak pulang-pulang karena pergi bertugas ke daerah Jambi. Wah…ibuku terlibat cinta dengan seorang pria, kelak sebagai calon ayahku. Mereka jatuh cinta dan tentu saja semua family tidak setuju- karena status ibu masih sedang bersuami- hingga akhirnya berita cinta segitiga ibu tercium oleh suaminya. Akhirnya ibu diberi surat cerai- diberi talak tiga. Ibu sangat bersedih dan ibarat berjalan di awang-awang, namun ibu juga sangat gembira dengan kekasih barunya- yaitu calon ayahku.

Tampaknya ibu dan ayah tidak bisa dipisahkan, ya ada gula da semut rupanya. Mereka menikah dan selanjutnya hidup sebagai suami istri. Saat itu ibuku juga telah punya 3 anak dari perkawinan sebelumnya- namun ibu juga menikah dalam usia yang amat muda. Anaknya yang tua saja memanggil “kakak” padanya. Saat itu ayah berhenti sebagai tentara pemberontak, karena tidak ada jaminan financial dan ayah juga sebagai pria pengangguran. Namun ibuku termasuk wanita yang kreatif dan mandiri. Ia mengajak ayah untuk berdagang makanan dan pada hari-hari senggang menjadi nelayan di sepanjang aliran sungai “batang anai”.

Kata ibu bahwa saat aku lahir, rezki mereka melimpah. Kalau berdagang ya…laris, kalau menangkap ikan…hasilnya berlimpah. Kata ibu bahwa saat aku lahir ..ayah lulus menjadi polisi. Itulah maka aku memperoleh perlakuan sedikit ekstra baik oleh ibu. Aku tidak boleh dimarahi terlalu kasar oleh ayah.

Akhirnya ayah diangkat menjadi polisi di Resor Kepolisian 303 Kota Payakumbuh dan kami semua diboyong ke sana. Kehidupan pun berobah. Ibuku juga tetap menjadi wanita yang mandiri, ia mengasuh kami dan juga membantu karir ayah sebagai polisi. Ibu cukup pintar mengelola keuangan, walau pangkat ayah kecil, kami tidak pernah kekurangan uang. Ibu punya ternak unggas- itik dan juga ternak ayam. Kalau ada uang, ibu paling senang menabung dalam bentuk emas. Kalau berpergian, aku sering melihat tubuh ibu dihiasi oleh banyak perhiasan emas.

Dalam hidupnya, sebagai polisi berpangkat rendah, ayahku cukup pintar. Ia juga membuat usaha bisnis dengan teman-temannya. Sambil bertugas sebagai polisi, ayah juga berbisnis ternak ayam, bisnis daging sapi, bisnis penebangan kayu untuk diekspor. Waktu aku kecil aku melihat bahwa ayahku juga memiliki sebuah truck, mobil Chevrolet dan rice milling, namun aku aku tidak pernah tahu bagaimana caranya ayah memperolehnya.

Saat aku kecil hingga remaja, aku melihat ayah jarang di rumah. Ya kalau di rumah ia cuma banyak tidur, pantaslah adik-adiku juga banyak. Sekali aku ingat, aku diajak ayah naik sepeda motor sejauh 250 km. Saat itu merupakan sebuah perjalanan yang eksotik. Namun aku paling bosan menunggu ayah yang ngobrolnya dengan temannya kelewat lama. Aku juga senang kalau diajak ayah ke tempat teman-temannya karena aku pasti bakal dikasih oleh-oleh dan uang yang banyak.

Ada satu hal yang aku suka protes. Yaitu bahwa ayah kurang mendukung proses pembelajaranku di rumah.Padahal aku sendiri anak yang sangat rajin dalam belajar Suatu hari aku tengah asyik belajar di rumah dan ayah dengan grupnya datang hendak bermain domino. Aku pasti terganggu dengan suara dan suasana yang buka budayaku, lantas aku protes, aku lempari atap rumah dengan batu bata, agar mereka berhenti mengganggu ku. Sebagai protesku yang lain adalah aku mengempeskan motor- motor teman ayahku, agar mereka jera datang dan menggangguku dalam belajar. Itulah ayahku tidak pernah marah pada ku hingga ia pindah tempat ke tempat lain.

Ternyata ibuku lebih tua usianya beberapa tahun dari ayahku dan api cinta mereka mulai meredup dan rumah tangga mereka sering cekcok. Hari-hari yang ku lihat dan ku dengar adalah percekcokan ayah dan ibu. Pernah ayahku marah sambil mengacungkan revolver (pistol) pada ibu. Dan aku pun juga pernah main main pistol dan secara tidak sengaja meletus….dor… dan untung aku tidak menembak kakakku. Sejak itu, pistol dijauhkan dari jangkauanku.

Maka aku dan saudaraku yang lain dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cekcok- broken home- sepanjang hari. Aku sendiri selama dua tahun lari dari rumah dan memilih tinggal jauh dari rumah dan begitu juga dengan kakakku. Untung saja nilai pelajaran ku tidak begitu jelek dan tidak terjebak dalam menghisap obat terlarang. Malah walau aku berasal dari rumah yang broken home, aku pernah beberapa kali juara di kelas dan selebihnya masuk nilai tujuh besar.

Hubungan cinta ayah dan ibu makin genting, karena ada wanita lain dalam hidup ayah. Pernah suatu kali ibuku lari ke Jakarta dan menelantarkan kami anak-anaknya. Namun family yang di Jakarta memberi ibu nasehat agar bersabar dan itu juga demi anak-anak- biarlah ayah berkarakter demikian asal keuangan tetap lancar.

Masa depan dan studiku ku saat itu merasa terancam, namun untung ibu pintar menabung dan ia memiliki cadangan emas untuk membiayai kuliahku. Aku takut memilih jurusan dan universitas yang bakal menghabiskan banyak dana dan waktu yang lama. Aku memilih kuliah di Padang saja, dan batal untuk kuliah ke pulau Jawa. Suatu hari ibu dan ayah bakal bercerai dan kami bakal berpisah-pisah dalam pengasuhan berbagai family. Hubungan cinta ayah dengan wanita lain makin menggila. Ia malah pergi jauh dari rumah dan hidup bersama wanita yang baru. Demi keselamatan pendidikan aku menjadi masa bodoh dengan urusan pertengkaran ayah dan ibu.

Akhirnyya aku kuliah di Universitas dan juga bias mengembangkan diri agar aku bias mandiri kelak bila selesai kuliah. Aku bekerja sambil kuliah, menjadi pemandu wisata, memberi lest privat bahasa Inggris untuk anak-anak orang yang berduit. Untuk keuangan aku tidak memperoleh kesulitan. Aku memperoleh uang yang cukup dari orang tua dan aku juga dapat uang sendiri, aku bisa menabung dan aku beli cincin emas sebagai tabungan.

Perkawinan ayah dan ibuku kandas sudah, ibuku sering sakit dan sengsara- ibu sering kujumpai menangis dan meratap sebagai istri yang dibuang oleh suaminya. Namun itu sudah menjadi pemandangan biasa bagiku- kadang kadang aku juga membujuk ibu bahwa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan. Aku bisa melepaskan diri dari keruwetan rumah tangga. Sejak ayahku punya wanita simpanan dan suka cekcok dengan ibu maka aku merasa kehilangan idola/ figure ayah. Ada pengaruhnya terhadap jiwaku, pada mulanya aku sedikit jadi sulit jatuh cinta. Namun aku menguasai emosiku hingga aku bisa memperoleh cinta lagi dari seorang gadis yang cantik menurutku namun punya karakter yang sederhana.

Akhirnya bantuan keuangan ayah untuk ibu nyaris putus. Sehingga ibu ku pernah menjadi buruh pada rumah tetangga. Untung aku segera lulus dari Perguruan Tinggi dan segera punya pekerjaan. Gajiku aku tabung dan juga aku gunakan untuk membantu ibu. Ibu akhirnya ditinggal pergi oleh ayah. Aku melarang ibu untuk berduka dan menangis, karena ibu masih punya anak- anak yang baik dan bisa mengabdi ke orang tuanya.

Ibuku menjadi wanita yang nestapa dan memutuskan kembali ke kampung ke Lubuk Alung. Ia berniat untuk mengisi hari-hari dan mengobat hatinya yang terluka gara-pgara cinta ayah yang lenyap dari kalbu ibu. Ibupun bisa menjadi tegar sekali dalam hidupnya, aku tiap bulan datang berkunjung an ikut berbagi rezki dengan ibu. Ibu bersyukur, walau cintanya hancur namun lima orang anak anaknya bisa memperoleh masa depan, bisa bekerja dan juga lulus dari perguruan tinggi.

Kami semuanya patungan untuk menghidupi ibu dan membiarkan ayah dan gajinya untuk bersenang- senang di tempat kerajaan cintanya. Sejak masa remajaku hingga aku menginjak dewasa aku tidak lagi berjumpa dengan ayahku selama belasan tahun- kami tidak ingin mencari ayah dan sudah mengikhlaskan ayah untuk hidup senang pada istana cintanya yang baru. Dari dalam hati bahwa ternyata aku cukup rindu dengan cerita- cerita ayah. Namun suatu hari aku memperoleh berita/ telepon “Harap segera datang” sangat penting. Bahwa ayah tersungkur dan koma, dilarikan ke rumah sakit M.Jamil Padang.

Kami segera berkumpul menuju rumah sakit. Perjalananku dan saudaraku yang lain dengan mobil travel terasa lambat dan sunyi menuju rumah sakit. Kami tiba di gerbang rumah sakit setelah maghrib. Aku mencari tahu di mana posisi ayahku “Kamaruddin Usman”. Akhirnya aku menemui ayah pada pada sebuah ruangan ICU, aku diizinkan masuk. Aku mendapati ayahku dalam keadaan koma. Ajaib bahwa saat kami datang/ masuk ayah sempat membuka matanya melihat kami dan menangis namun setelah itu mata ayah terpejam untuk selanjutnya. Ayah masih bernafah dengah susah payah, dibantu oleh oksigen luar. Kadang-kadang air matanya bercucuran- barangkali ayah menyesal yang mendalam- namun kami harus memafkan dan kami tidak marah dan dendam pada ayah. Buktinya kami masih datang dan member ayah ciuman.

Aku berada di rumah sakit hampir sepuluh hari. Itu berarti ayahku dalam keadaan koma juga sudah sepuluh hari. Kami yakin bahwa ayah tidak bakal sembuh lagi maka kami memberi khabar kepada family di kampung ayah bahwa kalau tiba khabar jelek “ayah meninggal” maka harap segera dipersiapkan kuburan buat ayah disebelah kuburan nenek.

Akhirnya ayah dinyakan meninggal dunia. Aku bingung apalagi saat itu juga ada anak kecil usia 10 tahun menangis mendekati mayat ayahku, aku berfikir “Siapa sih bocah kecil yang juga ikut menangis”. Ternyata ia adalah bocah kecil hasil cinta ayah dengan wanita simpanannya. Aku akhirnya memeluk bocah kecil tersebut dan ikut menghiburnnya bahwa aku adalah kakak satu ayah dengannya. Aku usap air matanya dan kami bawa jasad ayah ke kampungnya.

Hari-hari terasa sunyi. Setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan ayah dan bercanda dengan ayah maka aku jumpai saat sudah mau sekarat terbujur jadi mayat. Sore itu langit mendung, aku ikut mengantarkan jasad ayah ke dalam kuburannya di Desa Lubuk Minturun dekat Padang. Aku amat sedih dengan kepergian ayah. Aku juga ikut mengakat dan meletakan jasad ayah ke dalam liang lahatnya. Tubuh ayah masih berisi kekar dan gagah. Aku mengingat- ingat hari indah bersama ayah dan melantunkan doa pada Sang Khalik buat memafkan ayahku. “Tuhanku…maafkanlah ayahku….sayangilah ayahku…” Aku ikhlas sekali melepas ayah hingga airmataku dengan mudah meluncur membasahi pipiku. Saat itu dalam mpenghujan dan tiba-tiba hujan turun lebat, membasahi bumi dan airnya tumpah ke dalam kuburanm ayahku. Aku dan saudaraku yang lain tetap menyelesaikan penimbunan tanah kuburan ayahku- air mataku lenyap bersama derasnya air hujan.

Malam itu aku tidak bias tertidur. Fikiranku melayang jauh bersama memoriku, pengalaman indah tentangku dan ayahku bergulir lagi. Walaupun bagaimana karakter ayahku, ia adalah tetap pahlawan terbaik bukan aku dan saydara- saudaraku. Aku ajak ibu untuk memaafkan ayah. “Ibuku maafkanlah ayah karena aku dan saudaraku yang lahir adalah karena adanya engkau dan ayahku”. Aku tidak pernah tahu bahwa apakah ibu memaafkan ayah atau tidak namun buatku ayah adalah pahlawan ku dan aku tetap mencintai ayahku.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...