Minggu, 21 April 2013

Return to Japan- Kembali Ke Jepang


Kesempatan Terbang Ke Jepang Lagi

            Seperti judul bab IV ini, Return to Japan- yang berarti kesempatan bagiku untuk terbang ke Jepang Lagi. Kesempatan ini datang secara tiba- tiba dan kesempatan memang datang satu kali dan harus kita ambil- jangan disia-siakan.  
            Aku pulang dari Jepang- setelah berada di sana selama 3 tahun- pada bulan November 2012. Aku tidak pernah membayangkan kalau- kalau aku bisa balik lagi ke sana, dengan alasan bahwa programku sudah habis dan biaya pesawat serta biaya hidup sangat mahal. Namun aku memperoleh kesempatan untuk balik lagi buat beberapa minggu saja dalam bulan Februari 2013.
            Aku bukan kangen balik ke Jepang- seolah-olah Jepang adalah tanah airku. Negara yang lebih aku cintai tentu saja Indonesia. Aku ke sana ingin karena ada kesempatan- aku senang ke sana karena terus terang negaranya bersih, tertib dan aman. Segala sesuatu terlihat teratur.
            Aku memperoleh undangan dari Oonishinorio San, pemilik perusahaan tempat aku bekerja sebelumnya. Dia mau datang ke Indonesia untuk suatu urusan. Jadi aku datang menyusul dan berencana aku balik ke Indonesia bareng dengan rombongannya. Singkat cerita saat aku tiba di sana aku diajak untuk jalan- jalan di seputar daerah- tidak jauh dari Osaka- propinsinya Fukuyama.
            “Kami pergi ke pantai, menyaksikan dolphin, kami juga pergi ke kebun binatang-menyaksikan panda”.
            Osaka sendiri adalah kota terbesar kedua di Jepang, dan merupakan terbesar diantara Kansai Trio yaitu Osaka, Kobe dan Kyoto. Sejak jaman dahulu Osaka sudah terkenal sebagai kota perdagangan dan transit. Sebagian orang memandang  Osaka adalah kota yang membosankan, karena kalau sebagai kota wisata, reputasi Osaka masih kalah jauh dibandingkan Tokyo. Kota Osaka memang tidak memiliki banyak atraksi tetapi jika kita  merencanakan berkunjung ke daerah Kansai maka mau tidak mau kita harus lewat Osaka. Untuk itu tidak ada salahnya kita menyediakan beberapa hari untuk menjelajah kota ini. Osaka juga mempunyai moto yaitu kuidaore yang artinya kurang lebih “makanlah sampai puas”.

B. Prosedur Ke Luar Negeri
            Tiba-tiba Oonishinorio San  meneleponku  dari Jepang. Ia mengundangku untuk bisa berkunjung ke sana. sebagai Ia menjamin untuk akomodasiku  disana. “Horeeee…..tentu aku merasa sangat bahagia”.  Aku harus mengurus prosedur keberangkatan ke luar neger- aku mengurus visa kunjungan ke Jepang.
Terus terang aku belum pernah pergi ke Medan- jadi aku tidak tahu daerah Medan sama sekali. Sebelumnya yang mengurus perjalanan kami ke Jepang diatur oleh pihak pemerintah Kab. Tanah Datar. Aku memberanikan diri untuk berangkat ke Medan. Untung aku punya paman di sana. Maka aku harus berkunjung ke rumah paman terlebih dahulu. Aku berjumpa paman dan bibi di Medan, namun  aku memutuskan untuk tinggal di penginapan (hotel).
Aku tidak bisa tidur dengan nyaman hotel dengan pencahayaan agak remang- reman, aku punya kebiasaan phobi kegelapaan- ingat dengan cerita kanak- kanak- cerita tentang hantu atau makhluk yang seram- seram. “Wah aku sudah dewasa…..hantu itu tidak ada….kuntilanak itu hanya dongeng anak-anak” Aku harus mengalahkan ketakukan ala anak- anak. Maka sekarang aku  berpesan pada semua orangtua  bahwa anak- anak tidak boleh disuguhi cerita seram- seram yang berlebihan karena dalam memori  jangka panjangnya bisa tertanam ketakutan tanpa alasan.
            Aku meninggalkan hotel lebih awal di pagi hari. Aku berjalan menuju Wisma BII di jalan Diponegoro  untuk mengurus visa. Aku berjalan kaki sekitar 8 km dari Istana Maimun. Untuk wilayah Pulau Sumatera Attase Budaya Jepang ada di Medan- di sana juga ada perpustakaan yang bisa kita gunakan untuk mencari literature tentang Jepang.     
            “Konsulate Jepang ada di Wisma BII lantai 5. Aku diberitahu tentang persyaratan pengurusan visa: tiket pulang pergi, pas foto dengan latar belakang putih, fotocopy buku tabungan, jaminan dari orang Jepang, tabungan, kartu keluarga, dan rencana perjalanan. Kemudian aku juga harus mengisi formulir. Biaya pengurus visa Rp. 325 ribu. Juga ada wawancara dengan orang Jepang dengan bahasa Jepang, yaitu tentang: apa tujuannya, alasan dan berapa lama tinggal di Jepang.
Saat itu  aku menunggu visa keluar selama 3 hari. Sambil menunggu visa aku bisa jalan- jalan seperti ke dalam Istana Maimun, pergi sholat ke Mesjid Raya Medan. Juga aku pergi untuk membaca literature tentang negeri sakura di perpustakaan  Konsulate Jepang”.
            Selesai pengurusan visa, aku kembali mengambil barang- barang ke penginapan dan menuju Bandara Polonia Medan, untuk bisa terbang ke BIM Padang. Aku harus segera pulang ke rumah- aku tidak punyabanyak waktu dan aku harus berkemas- kemas untuk menuju Jepang.
            Aku hanya punya satu hari saja di Lintau dan balik lagi ke Padang. Aku terbang dari BIM Padang terus ke Kuala Lumpur dan Osaka. Kali ini aku juga terbang dari Kuala Lumpur ke Osaka dengan Malaysia Airline. Terbang kali aku pergi sendirian- jadi aku harus lebih berani.

C. Terbang Sendirian
            “Terbang sendirian, berarti aku sudah berani dan sudah dewasa. Namun ada sedikit problem, dari Padang aku membeli tiket  pesawat  Air Asia. Aku baru tahu kalau di Kuala Lumpur ada 2 Bandara:  KL (Kuala Lumpur) dan LCC. Sebenarnya aku harus pergi ke LCC bukan ke KL. Akibatnya aku repot menuju bandara transit. Untung  aku dibantu oleh seorang warga Australia untuk menenteng koperku yang berat- mungkin ia  kasihan melihatku  bertubuh mungil dengan  bagasi yang banyak. Ia adalah pelancong Australia yang sama terbang denganku dari Padang menuju Kuala Lumpur dan kami duduk bersebelahan”. 
            Kami mendarat di Kuala Lumpur setelah terbang selama satu jam.  Aku berencana untuk transit- karena aku beli tiket Air Asia di Padang dengan rute Padang- Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur Osaka. Terus terang aku tidak mengerti dengan bahasa Inggris. Aku jadi gelisah karena pesawat yang bakalan aku ambil untuk transit ke Osaka sudah terbang. Aku mohon bule Australia mengatakan ke pada petugas  bandara bahwa aku ketinggalan pesawat. Namun aku memang  harus mengurus tiket baru lagi. Aku rugi- kehilangan satu tiket pesawar Air Asia rute Malaysia- Jepang, sekitar Rp. 3 juta dan aku ambil tiket baru dengan pesawat Malaysia Airlines.
            “Idealnya aku di Padang ngurus tiket ke biro penerbangan namun aku beli tiket secara pribadi.Tiket yang baru lebih mahal ya harganya sekitar Rp. 6 juta atau 1.804 Ringgit. Usai ngurus tiket aku merasa capek dan lapar namun aku sulit untuk melahap makanan- mungkin gara- gara stress lagi.Untung aku bawa duit ¥. 100.000. Rencana aku bawa sejumlah uang demikian  buat beli oleh- oleh bila pulang ke Indonesia, karena biaya tiket sudah ada porsinya”.
            Aku punya pengalaman jelek namun tentu juga ada  indahnya- yaitu adanya toleransi atau kebersamaan bersama warga lintas bangsa- dengan orang Australia. Aku tidak mengerti bahasa Inggris, namun untung aku punya buku electronic- frase Bahasa Inggris dan Jepang: percakapan dalam perjalanan.
            Sayang kini  aku lupa dengan nama pria Australia yang baik itu.  Saat itu aku harus menjadi  wanita yang tetap kuat dan semangat. Oh ya aku masih ingat bahwa  aku dan bule itu juga  satu taxi saat mau pindah  bandara- waaah ….. aku kehabisan dollar namun masih punya mata uang Jepang.  Maka aku  memberanikan diri untuk meminjam  duit dia sampai aku pergi ke money changer- aku turun taxi pergi dan langsung ke money changer dan aku bayar utangku pada bule itu.
“Mengapa aku musti memakai dollar…mengapa tidak memakai mata uang Rupiah, aku bangga lho punya mata uang negara sendiri. Itulah aku berharap usaha pemerintah dalam kebijakan denumerasi- pengurangan tiga nol mata Rupiah bisa bikin Rupiah menjadi mata uang yang laku di Internasional- aku iri dengan ¥ (Yendaka), satu Yendaka (¥) masih punya nilai di pasaran internasional. Sementara Rp 500 juga hampir tak punya nilai lagi. Anak anak saja tak mau menerima uang Rp.500 sebagai oleh-oleh, ia tahu nilainya amat kecil”.
Pernah suatu ketika temanku orang Jepang bilang, “kalian kan punya mata uang sendiri, kenapa harus membayar dengan dollar ? Seharusnya juga  bisa bayar dengan uang sendiri.”
 Aku tidak mengerti tentang moneter dan aku tentu tidak bisa menjawab.Sebagai bangsa Indonesia aku jadi sedih dan malu. Di Malaysia, saat aku beli tiket, ia tidak mau terima dollar- ia hanya menerima Ringgit- ia lebih mencintai mata uangnya sendiri.Apakah sikapku salah, aku bukan pura-pura malu.
“Satu lagi adalah aku bermimpi atau punya keinginan untuk melihat Indonesia yang bersih. Kadang aku berfikir- andai aku sebagai penanggung jawab kebersihan di negeriku, biarlah aku terjun langsung untuk memungut sampah dari bumi Indonesia yang tercinta. Andai aku punya lahan di sebuah kota- aku akan menggunakan lahan tersebut untuk menampung sampah dan aku ingin mengolah sampah dengan dibantu warga lokal seperti negara maju (Jepang) mendaur ulang sampah tersebut. Kalau sampah bersih maka tata ruang kota akan tampak semakin berseri”.
Namun mimpi yang sedang aku wujudkan sekarang adalah bahwa kami sedang mendirikan lembaga bahasa Mandarin dan Jepang di Lampung. Kami  ingin mengelolanya dengan memadukan system pengelolaan kebersihan lingkungan, dimana anak- anak/ para remaja yang  belajar bahasa asing   juga harus belajar tentang budaya bersih. Jadi kita hidup jangan sembrono saja.
            Aku seharusnya sudah terbang ke Jepang jam 03.00 sore, namun karena ada problem maka harus menunggu terbang jam 12.00  malam. Akhirnya aku bisajuga  terbang malam itu dan di sebelahku duduk orang Jepang asal Kobe. Aku merasa senang karena  kami bisa ngobrol dalam bahasa Jepang. Aku juga menceritakan pengalaman indahku yang terjadi hari itu. Nama orang Jepang itu Yosida San. Sangat mudah bagiku untuk mengingat nama orang Jepang daripada nama orang Australia- mungkin Bahasa Jepang sudah menjadi bahasa keduaku.
            Percaya diriku menggunakan bahasa Jepang dengan orang asli Jepang tumbuh lagi. Aku menceritakan padanya bahwa aku sebelumnya pernah di Jepang dan bekerja di perusahaan pertanian. Teman warga Jepang itu (Yosida San)  juga mengatakan bahwa ia pergi ke Malaysia untuk berlibur- menghindari musim dingin yang sangat ektsrim di Jepang. Dia mengatakan tidak terlalu suka dengan musim dingin.
            Yosida belum pernah ke Indonesia- namun aku  juga sempat menceritakan tentang budaya dan iklim di Indonesia. Aku menganjurkan agar lain waktu ia juga berlibur ke Indonesia. Apalagi jarak Indonesia dan Malaysia hanya 45 menit saja.
            Aku pengen tahu tentang beberapa profesi yang banyak digeluti oleh orang Jepang. Yosida itu kayaknya seorang guru atau mungkin seorang petugas konseling. Yang aku tangkap dari percakapan kami bahwa ia juga tahu dengan psikologi. Yosida punya anak dan juga istri yang menetap di kota Kobe. Terbang kali ini aku bisa tidur pulas dalam pesawat dan itu akibat kelelahan pada siang sebelumnya.
            Aku akhirnya sampai di  bandara Osaka- saat itu sudah pagi. Aku beradaptasi dengan cuaca Jepang yang dinginnya sangat menusuk. Waktu itu aku sedikit kurang sehat- aku mungkin masuk angin. Suaraku agak serak dan malah cenderung hilang.
Betul bahwa aku kayak bermimpi lagi karena bisa tiba lagi di bandara Osaka. Aku tidak ada berfikir untuk terbang ke sana buat kedua kalinya. Ternyata aku bisa terbang dalam kesempatan lain dan melalui cara yang lain.
            Kedatangan aku pertama kali ke Jepang pada bulan November- di musim gugur dan kedatangan yang ke dua ini dalam bulan Februari- musim dingin. Aku melihat ada perbedaannya. Dalam musim gugur udara sudah terasa dingin namun banyak angin, dan kedatanganku dalam musim dingin udara  terasa dingin yang ekstrim. Salju pada turun dan suhu sampai minus dibawah titik nol. “Bapak Yosida mengatakan padaku bahwa kedatanganku ke Osaka pada musim dingin  yang paling dingin”.

D. Kedatangan penuh Kejutan- Surprised Arrival.
Aku turun pesawat dan aku dijemput oleh Oonishinorio San di Bandara Osaka. Bersama bus Oonishinorio San  juga ada teman- teman satu perusahaan dan mereka tidak tahu kalau aku datang lagi. Jadi mereka surprised dan merasa nggak percaya kalau yang datang itu aku. Apalagi  Oonishinorio San  juga tidak bilang pada mereka tentang kedatanganku.
Memang bahwa kedatanganku  ke Jepang tanpa memberi tahu teman-teman ….ya untuk kejutan. Suasana bandara dan kota Osaka  di musim dingin tetap ramai, yang membedakan hanya suasana pakaian saja. Saat aku datang bertepatan dengan musim libur- aku melihat yang banyak yang berkunjung di Osaka adalah orang- orang China, aku tahu dari bahasa mereka dan juga wajah mereka.
Sekedar bagi- bagi rahasia saja tentang bagaimana beda wajah orang China dan Jepang (?). Orang Jepang cenderung memiliki struktur wajah oval bermata besar dan hidung yang lebih jelas. Wanita Jepang sering memakai make-up tebal memberikan kesan warna kulit putih pucat.  Sementara orang China cenderung memiliki wajah bulat daripada orang Korea dan Jepang. China adalah negara dengan multi-etnis besar, tidak seperti Korea dan Jepang (yang punya etnis lebih  homogen) sehingga lebih sulit untuk membedakan atau mengeneralisasi.
Saat datang di musim dingin, kegiatan orang di perusahaan pertanian tetap berjalan- aktivitas tetap berjalan. Kalau mereka beraktivitas di luar maka mereka harus memakai baju berlapis- lapis. Bisa 4 lapis atau 5 lapis, tidak cukup hanya dengan satu helai baju tebal saja. Kedatangan kali kedua aku masih menginap di daerah Onohara- propinsi Kagawa-Ke, Kecamatan Kawaninggishi. Jaraknya 3 jam naik mobil dari Osaka.
Kota Osaka adalah kota pantai- terlihat banyak pemandangan laut. Sementara daerah tempat  kami menginap di daerah dataran tinggi dan daerah pertanian. Disana kita melihat perbukitan, pergunungan dan kebuh sayur yang luas dan modern. Daerah desa sama bersihnya dengan daerah perkotaan- jadi manajemen tata ruang sudah tersebar dari kota hingga ke desa.
Begitu berjumpa dengan teman lama di asrama, spontan saja kami berbincang- bincang tentang pengalaman masa lalu. Aku juga bertanya tentang suka dukanya sejak aku tinggalkan. Beberapa senior datang padaku dan mereka melaporkan tentang masalah yang mereka hadapi. Namun aku katakan pada mereka bahwa aku datang bukan sebagai karyawan lagi, tetapi datang kali ini sebagai turis Indonesia yang berkunjung ke Jepang. Namun mereka tampak tidak percaya- mereka menduga kalau aku memperoleh perpanjangan kerja disana lagi. Dan mereka membutuhkan aku sebagai kakak senior buat curhat. Tampaknya mereka selalu butuh teman curhat di saat suka dan duka.
Akhirnya  teman- temanku jadi  kaget semuan. Malah saat kunjungan singkat terebut aku sempat diminta untuk mewawancarai karyawan. Dia asli orang Jepang yang ingin memperpanjang masa kontraknya. Meskipun aku orang Indonesia dan berpendidikan rendah- hanya SMA saja- namun mereka menghargaiku. Dimata atasan perusahaan bahwa mungkin aku memiliki kualitas.  Mereka tidak melihat ijazahku tetapi melihat pengalaman lapanganku.
Aku saat mewawancarai dia, bahasa Jepangku agak terbata- bata tidak sebagus bahasa Jepang asli Orang Jepang. Namun ingat dengan perkataan guruku di Batusangkar bahwa di mata orang Jepang asli…bahasa Jepangku yang patah-patah enak untuk didengar. Ya ibarat kita mendengar orang asing menggunakan bahasa Indonesia. Pantas saat aku ngomong Jepang mereka mendengarku  dengan tenang.
Ada yang mengatakan bahwa meskipun aku hanya tamatan SMA- sebagai pendidikan formal- namun wawasanku sama dengan tamatan Universitas, malah seolah-olah aku adalah tamatan pascasarjana. Alasannya aku bisa mengambil keputusan- juga lancar berkomunikasi menurut ukuran  warga non-Jepang. Katamereka bahwa aku  punya wawasan dan punya percaya diri- ya mungkin itu berkat pengalaman dan tuntutan hiduplah yang membuat aku lebih  dewasa- Alhamdulillah….!!!
Terus terang bahwa sebenarnya aku juga banyak belajar dari Sacho- pemilik perusahaan pertanian- Jepang. Dia idolaku dan aku tahu bahwa dia  juga tidak kuliah (tidak tamat universitas). Ia juga tamat SMA namun ia memiliki semangat sukses yang tinggi. Dia berprinsip bahwa dia  tidak mau kalah dan selalu ingin menjadi nomor satu dalam menyelesaikan pekerjaan yang berkualitas. Walaupun Sacho sudah berusia separo baya  dan kadang- kadang terlihat lelah namun ia tidak mau mengatakan “Aku tidak bisa….!!!”  Ia secara tidak langsung punya motto: the nature is the teacher atau alam takambang jadi guru.
Aku masih ingat saat ia menjemputku ke bandara dan aku duduk di depan bersebelahan dengan Sacho. Kami sempat bercerita sepanjang jalan tentang berbagai hal. Aku juga menceritakan bahwa aku sedang menulis buku. Ya buku yang sedang and abaca ini. Yaitu   tentang kisah hidup dan perjalananku selama di Jepang. Ia bertanya tentang apa judul buku dan gambar apa di depannya (?). Judulnya mungkin tentang True Story- menimba motivasi di negeri Jepang.  
 Aku merasakan beda kedatanganku  ke Jepang kali ini. Saat datang pertama kali aku butuh energi  yang besar untuk beradaptasi. Saat itu  aku juga mengalami cultural shock (kejutan budaya)  tentang Jepang. Kedatanganku yang ke-dua, aku merasakan sudah  penuh kemudahan- aku tidak mengalami kekagetan budaya….aku datang karena diundang, mungkin aku orang VIP (Very important person…ha..ha), dan juga kedatanganku penuh surprised.
“Kedatangan ya petama aku banyak merasakan khawatir…kedatangan yang kedua aku merasa enjoy”
Yang membuat aku khawatir saat datang pertama adalah tentang makanannya. Sebagai orang muslim tentu kami berpantangan untuk makan babi. Babi itu haram, sementara dimana- mana di Jepang aku temui betaburan makanan mengandung babi. Namun untuk datang yang ke dua aku sudah tahu banyak cara  mengatasi permasalahan hidup/ makanan. Bedanya hanya aku kaget dengan beda cuaca yang sangat kontra antara Indonesia dan Jepang. Sekarang kalau aku pergi ke restaurant aku perlu membaca dan mengenal kanji untuk nama babi: sosis, ham dan pig.
Rata rata kalau kita makan mie di Jepang, diperkirakan ada unsur babi- paling kurang mengandung minyak babi. Tetapi kalau Sacho yang mengajak kami makan, maka ia  akan mengatakan tentang “some do’s dan some don’t’s” - yang boleh dan yang tidak boleh- tentang makan bagi orang Islam. Satu lagi kedatanganku kedua ke Jepang, bahasa Jepangku sudah semakin bagus.
E. Kehangatan Persahabatan
            Kualitas persahabatan sangat penting- apalagi saat kita berada jauh di rantau orang. Sahabat  bisa menjadi obat bagi kesehatan jiwa kita. Aku merasakan hal yang demikian. Saat kita lagi dilanda galau, saat kita diterpa rasa duka maka kehangatan pergaulan sangat berarti. Dimana kita bisa mengadukan keluh- kesah perasaan pada teman, maka ini bisa menjadi sitawa sidingin- pelipur lara bagi kita.
            Aku merasa surprised bisa datang ke Jepang lagi dan aku sengaja tidak memberitahu kedatanganku pada teman-teman dan mantan atasanku yang aku anggap sebegai teman di Kagawa- Oonishinorio San yang mengundangku- juga demikian. Dia juga tidak menginformasikan kedatanganku pada teman lain. Kami khawatir kalau kosentrasi kerja mereka terganggu  oleh kedatanganku. Junior- juniorku yang berada di asrama juga tidak tahu kalau- kalau aku datang. Mereka tahu bahwa aku di Jepang saat aku mampir ke asrama mereka. Mereka marah semuanya:
            “Kenapa kak Sefrita (Kak Oshin) sudah 2 minggu berada Di Jepang tak bilang- bilang, Kak Oshin sudah sombong sekarang. Kenapa Kak Oshin bisa ke sini lagi ?” Gerundel mereka ramai- ramai. 
            “Aku datang ke sini karena diundang oleh perusahaan jadi aku nggak bisa keluar atau berkunjung seenak dewe. Aku tidak bisa keluyuran untuk datang ke sini semau gue saja. Kalau aku ke luar aku harus minta izin pada Oonishinorio San - karena aku selama di Jepang berada pada tanggung jawab dia. Aku tidak punyaKTP- kecuali hanya passport. Kalau kemana-mana  dan terjadi accident maka tentu tanggung jawab beliau”. Aku menjelaskan agak detail.
            Kunjungan ke Jepang yang ke dua kali sangat mengesankan bagi persahabatan kami. Begitu sampai di Jepang aku diajak makan bersama oleh perusahaan, aku berjumpa teman dan aku sengaja  membawakan  oleh- oleh buat mereka. Oleh-oleh yang aku bawa bisa membuat mereka jadi kangen pada tanah air. Aku bawakan mereka “randang talua (rendang telur), kerupuk ikan dari Lampung, kerupuk pisang khas Lampung, pisang coklat, kerupuk sanjay, batiah” dan juga aku bawakan mereka baju kaus dengan merek Jepang yang aku pesan khusus buat mereka sejak dari Batusangkar.
            Oleh- oleh tersebut aku persiapkan buat orang Indonesia dan juga orang Jepang. Oleh- oleh penganan yang aku bawa membuat orang Indonesia dan juga orang Jepang teringat dengan Indonesia- Batusangkar, Padang dan Bukittinggi. Jadi mereka makan dengan feeling atau emosi mereka.  
            Bagi orang Jepang sendiri, mereka menyukai karupuak balado (keripik balado). Meskipun rasanya pedas- membuat mata berair,  tetapi mereka berusaha untuk menikmatinya. Apalagi di Jepang tidak ada singkong- jadi mereka sangat menyukai keripik singkong balado- “Enaaak…..!!!” kata mereka.
            “Mengapa ya aku diundang oleh Sacho..dan mengapa aku seolah- olah menjadi penting di matanya ?” Ya mungkin Sacho punya kesan positif dengan kinerjaku. Karena dulu sebelum pergi kelapangan- dalam meeting- aku aktif berbagi ide dalam membuat rencana kerja sebelum terjun ke lapangan. Jadi aku sering bertukar pikiran dengan beliau.
            Aku dulu mengurus bidang pembibitan- aku harus tahu dengan kadar tanah dan kadar suhunya. Aku rasanya sangat bersahabat dengan tanaman- maka saat beraktivitas aku rasanya bercerita- cerita dengan tanaman tersebut, sehingga aku jadi tahu banyak tentang pembibitan. Itu yang membuat  aku bisa menjelaskan proses pembibitan dan penanaman yang baik pada teman- teman dan juga pada Sacho.
            Dulu saat ada kunjungan dari luar, aku pernah diminta oleh Sacho untuk jadi Host (tuan rumah) untuk menjelaskan  segala sesuatu tentang pertanian: proses pembibitan, penanaman dan panen. Ada yang mengatakan bahwa aku juga punya bakat sebagai leadership buat para junior di perusahaan. Jadi alhamdulillah  Sacho berkesan dengan kemampuanku.
            “Bakatku apakah sebagai leader atau konsultan buat para junior tidak pernah aku ketahui. Mungkin bakat ini muncul mengalir bersama waktu. Jadi saat aku mengajar atau menjelaskan prosedur pertanian pada junior aku jelaskan dengan tenang- tanpa pernah emosional. Kalau kita berkata dengan nada tinggi atau marah, tentu orang yang mendengar bakal jadi mendongkol dan merasa kurang enak. Karakter junior bermacam- macam, ada yang butuh ditegur/ dimarahi, ada yang butuh diberi warning agar bekerja, ada yang butuh kelembutan baru berbuat/ bekerja".
            Bakat leadership kita juga bisa muncul dan berkembang melalui aktivitas yang kita lakukan. Aku sendiri dulu aktif dalam kegiatan pramuka, karena pramuka membuat kita mandiri, percaya diri dan berani serta beranggung jawab. Tamat SMA  jiwa leadershipku menjadi tumbuh. Paling kurang  buat diri sendiri dan juga buat memimpin adik- adik. Apalagi aku sadari aku tidak punya ayah, kami berasal dari keluarga broken home, ya aku harus menjadi leader.
            Tamat SMA aku tentu harus punya fikiran, punya  visi untuk mengangkat harga diri. Aku tidak mungkin bisa kuliah- karena tidak punya cukup uang. Solusinya aku harus berfikir untuk mencari kerja. Ya itulah melalui perjuangan dan usaha hingga aku sampai di Jepang. Leadershipku juga aku salurkan buat membimbing para junior dalam bekerja di perusahaan.
            Kehangatan orang Jepang  aku rasakan  sama saja dengan orang  kita. Kalau kita smart maka mereka (Jepang)  juga ada yang smart dan kalau kita loyo maka mereka juga ada yang loyo. Pekerja asal Indonesia juga bekerja dengan semangat tinggi. Semangat atau tidak tentu saja tergantung suasana hati atau motivasi.

F. Plus Minus Orang Jepang dan Orang Kita
            Teman- temanku di kampung (Batusangkar)  sering bertanya: Apa sih beda orang Jepang dan orang Indonesia (?). Namun aku cenderung mengatakan beda orang Jepang dengan orang kita atau pribadi kita sendiri tentu saja. Misal dari segi parenting- atau bagaimana menjadi orang tua yang ideal, bedanya cukup banyak.
“Apa beda parenting gaya orang  Jepang dan parenting gaya orang kita di negeri kita ? Jawabannya- banyak bedanya”. Kalau ada sekumpulan anak Jepang dan sekumpulan anak anak kita yang jelas  akan terlihat perrbedaan mereka. Beda yang terlihat tentu dari sisi yang negatifnya dan tujuannya buat instropeksi bagi kita. Anak-anak di Jepang, misalnya, mereka sangat  well behaved- perangainya baik, sedang anak- anak kita banyak yang berperilaku ala negara dunia ketiga. Misal anak kita suka mencoret- coret, merusak fasilitas umum atau tawuran. Ngomong- ngomong mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya adalah:
1) Parenting orang kita bersifat permisif dan kurang disiplin.
Permisif  maksudnya semuanya diperbolehkan, banyak pemakluman. Sering orang tua berpendapat, toh masih anak-anak jadi maklum saja. Anak-anak punya kecenderungan untuk mencoba melawan batas. Sebetulnya melarang anak bukan menekan kreatifitas. Kreatifitas harus terus didukung, tetapi juga harus pada tempatnya. Misal, anak suka bermain bola. Tentu saja mereka harus bermain bola di lapangan bola. Bukan di sembarang tempat dalam ruangan sehingga kaca- kaca bisa pecah.
2) Anak diasuh pembantu (sebagian orang).
Pembantu tentu saja tidak punya kekuasaan dan kemampuan untuk melarang dan mendidik. Dan banyak orang tua yang merasa punya duit yang terlalu menyerahkan anaknya kepada pembantu karena tidak ingin repot, tidak ingin diganggu waktunya sehingga anak kurang mendapat perhatian dan pengawasan.
3) Kurangnya empati dan budaya egosentris.
Sebahagian kita selalu memikirkan diri sendiri terlebih dahulu, baru orang lain. Kita tidak peduli jika kelakuan sang anak mengganggu hak orang lain.
4). Miskin dengan pesan Karakter Positif
Kita lupa untuk melatih dan membudayakan disiplin dan mudah lagi melanggar disiplin. Belajar untuk bergantian dan bersabar terhadap mainan saja sulit dilakukan. Akibatnya anak- anak kita terbiasa main rebut. Kata-kata “tolong, terima kasih dan maaf”  pun jarang terucap dari mulut orang tua sendiri.
5) Pengaruh buruk media TV yang banyak menyiarkan kekerasan dan berita-berita
     negatif.
Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar dan lihat di televisi. TV kita menganut filsafat “bad news is good news, jadi berita/ programnya banyak yang buruk”. Jika anak- anak terus menerus terpapar berita kekerasan maka lambat laun mereka merasa bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah dan biasa bagi mereka.


G. Sebuah Observasi Kecil- Kecilan
Tiga tahun aku berada di Jepang, aku juga mengamati- melakukan observasi kecil- kecilan- tentang  bagaimana orang- orang Jepang mengasuh anak-anaknya. Terutama anak-anak mulai bayi sampai masuk SD. Perbedaan mendasar yang terdapat dari pola pengasuhan di Jepang  adalah sebagai berikut:
1) Disiplin.
Dari lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang ibu. Ibu-ibu di Jepang disiplin sekali terhadap anak-anaknya dan kedisiplinan ini diajarkan sejak dini. Jika sang anak tidak mematuhi, maka mereka akan memukul kepala si anak (tentu saja tidak memukul sampai babak belur, ya masih pukulan dengan kasih sayang. Bangsa Indonesia jangan tiru kebiasaan memuluk kepala…ha..ha). Hukuman ini lazim buat orang Jepang. Namun di tempat umum, pantang untuk memarahi atau bersikap kasar terhadap anak. Mereka dihukum ketika sudah di rumah. Oleh sebab itu, anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya karena mereka tahu apa konsekwensinya jika mereka melanggar aturan. Namun kadang ada juga ibu-ibu yang memukul kepada si anak di tempat umum jika sang anak bersikap kelewatan atau berbahaya.
2) Berempati- harus mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri.
Orang Jepang selalu menasehati anaknya dengan cara : jika kita begini maka orang lain begitu. Setiap tindakan anak akan selalu membawa akibat kepada orang lain. Jadi ia akan terbiasa mementingkan perasaan dan kepentingan orang lain lain terlebih dahulu sebelum kepentingannya.
Di tempat umum, anak-anak jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Misalkan di restoran, tidak ada anak-anak yang hilir mudik, berjalan kesana kemari. Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh ibunya. Jika sang bayi rewel, sang ibu akan berdiri dan menggendongnya. Di Jepang, ibu-ibu tidak pernah menyusui bayinya di tempat umum. Mereka selalu menyusui di ruangan menyusui- ruang laktasi.
3) Sekolah menitikberatkan kepada etika dan hal ini diajarkan sejak dini.
Semua komponen masyarakat, baik keluarga dan sekolah, mengajarkan anak untuk beretika dan bersopan santun. Jika bermain bersama, si anak ingin meminjam mainan temannya maka harus meminta ijin terlebih dahulu. Jika diijinkan maka harus mengucapkan terima kasih. Setelah selesai bermain juga harus mengucapkan terima kasih lagi. Jika melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak, anak harus meminta maaf dan temannya harus memberikan maafnya. Anak-anak tidak boleh mengambil yang bukan miliknya. Semua harus meminta ijin terlebih dahulu.
Terutama di SD, anak-anak diajarkan untuk duduk diam dan mendengarkan ketika guru sedang berbicara. Kebiasaan ini terbawa sampai dewasa, sehingga ketika ada seorang pembicara di suatu pertemuan, para pendengar menyimak dengan serius. Guru mempunyai kewenangan utuk mendisiplinkan sang anak jika nakal dan mengganggu teman-temannya.
4) Media Jepang terutama televisi tidak berlebihan
Bukan bermaksud menyanjung Jepang kalau kita   mengatakan bahwa TV Jepang bersifat TV positif. Aku perhatikan bahwa TV Jepang jarang menayangkan berita kekerasan dan andaikan ada korban jiwa atau luka-luka, mereka tidak pernah memasang (menayangkan)  gambar korban. Berita tsunami di Ibaraki beberapa tahun lalu (Maret 2011) tidak begitu diekspose buat konsumsi masyarakat Jepang. Isi TV di Jepang kebanyakan adalah acara talk show, makan-makan, jalan-jalan dan ilmu pengetahuan.
Satu hal lagi, sebagian siswa dan orang tua kita memburu berbagai sekolah yang punya label berkualitas. Sekolah berlabel unggul di kota diburu oleh orang tua, tamat SLTA banyak anak- anak di daerah memburu perguruan tinggi di Pulau Jawa. Di Jepang, fenomena ini juga ada, namun tidak begitu kentara- karena semua perguruan tinggi sudah sama- sama tumbuh menjadi maju. Yang aku perhatikan bahwa siswa Jepang banyak anak- anak hanya belajar di SD, SMP dan SMA di seputar rumah mereka. Nanti kalau mau kuliah baru mereka mencari Universitas yang mereka minati.
            Kalau mereka ambil SMK di bidang pertanian maka mereka mencari perguruan tinggi yang juga bisa memperkaya keahlian mereka. Nanti mereka juga akan bekerja di bidang pertanian.  
H. Tidak Memandang Rendah Profesi Pertanian
            Bukan aku antipati  dengan cita- cita anak- anak di negeriku- di Sumatera. Namun yang aku tangkap bahwa banyak pelajar yang tidak belum  cita- cita yang jelas. Kalau aku berkunjung ke sekolah dan aku tanya, “adek nanti mau jadi apa..??” Maka hampir semua menjawab “mau jadi dokter…!!!”
Menjadi dokter itu sangat bagus, namun mengapa semuanya ingin jadi dokter. Itu menandakan bahwa mereka nggak tahu karir atau profesi yang lain.  Kalau mereka belajar di sekolah yang dipandang punya label unggul maka mereka kebanyakan akan melanjutkan studi kekedokteran. Hampir semua memilih kedokteran, atau di fakultas teknik. Mereka tahunya kuliah itu hanya di fakultas teknik dan kedokteran saja- wah miskin dengan dengan cita cita. Di Jepang tidak demikian. Karena pendidikan mereka memiliki pusat pengembangan karir atau career centre.
Kalau di Sumatera banyak orang memandang rendah bidang pertanian- tentu adapenyebabnya dan ini perlu disikapi/ diatasi oleh para stakeholder. Kalau di sana (Jepang) cukup banyak pemuda yang mendalami bidang pertanian dengan serius. Jurusan pertanian adalah jurusan yang amat dekat dengan kebutuhan kita- memenuhi kebutuhan pokok kita.
            Malah aku lihat ada yang berlatar belakang S.2 (pascasarjana non pertanian) juga bekerja di bidang pertanian. Mereka sadar bahwa bekerja tidak harus sesuai jurusan pendidikan. Bisa saja mereka adalah sarjana tekhnik namun berkaris di bidang sosial. Ada sarjana teknik elektronika, namun tertarik juga mempelajari seluk beluk pertanian dan membuka perusahaan di bidang pertanian.
            Profesi pertanian berkembang pesat di Jepang, sementara itu dikampungku profesi petani masih dilihat sebelah mata. Para pemuda lebih memilih menjadi tukang ojek- bisa memperoleh uang- walau jumlahnya kecil- dengan cepat. Namun lahan lahan subur dan kolam- kolam yang masih punya air banyak terbuang (tak disentuh) oleh para pemudanya.
Kota Jakarta masih  punya daya tarik bagi pemuda, mereka berharap untuk bisa memperoleh pekerjaan yang mampan di sana. Sebagian besar ini akan menjadi mimpi belaka, hanya sangat kecil yangh bisa berhasil. Sementara itu kota besar Jepang dengan gedung-gedung pencakar langit dan segala pesonanya perlahan mulai kehilangan daya tariknya. Mengapa (?). Karena saat ini, kaum muda Jepang mulai tertarik untuk kembali ke desa. Di tempat aku bekerja juga banyak pemuda Jepang- mereka ada yang tamatan S.2 menjadi bekerja bersama kami.
Apalagi dimana- mana sistem rekruitmen karyawan/ pekerja adalah sistem kontrak. Maka itulah alasan, setelah pemuda/ pekerja muda bila  habis kontraknya maka mereka ingin mencoba hidup di desa. Mereka ingin kembali merasakan sentuhan kemanusiaan yang masih ramah dibandingkan  masyarakat kota besar yang mayortitas bersifat individualis.
Mencari ketenangan, ini juga alasan para pemuda Jepang untuk bekerja di daerah. Sebelumnya pemuda berbondong- bondong untuk bekerja di sektor ekonomi dan pabrik di perkotaan- apalagi sebelumnya dengan status karyawan tetap- yang dianggap punya jaminan bagi kehidupan. Kini sistem kerja secara kontrak- tidak ada kepastian jaminan hidup- membuat mereka memilih untuk bekerja di daerah pedesaan.
Di daerah prefektur Kagawa aku lihat daerah ini sebagai daerah agrikultur dan pertanian daerah ini kekurangan tenaga penggarap. Di Negeri Matahari Terbit[1], rata-rata usia petani adalah 68,5 tahun. Namun  kini semakin banyak pemuda yang ingin mencoba bertani dan hidup di desa. Petani di prefektur yang banyak pertaniannya ingin membantu mereka, karena jadi petani itu juga perlu latihan.
Selain di daerah prefektur Kagawa juga di prerfektur Naganao yang juga merupakan daerah pertanian/ agrikultur. Prefektur Nagano terkenal dengan ladang stroberi, mentimun, dan padi, menawarkan program menjadi petani pada akhir pekan untuk para pemuda. Disini, mereka memperoleh pelatihan hal-hal yang berkenaan dengan pertanian, berikut dengan prakteknya.
Temanku warga Jepang mengaku bahwa pengalaman yang diperolehnya di Nagano berharga, karena ia jadi bisa lebih santai. Ia juga mengaku terkesan dengan keramahan orang-orang desa yang masih saling mengenal tetangganya, berbeda dengan yang dialaminya di Tokyo.
Keramahan desa juga menjadi faktor utama bagi mereka untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pekerja di kota besar karena merasa muak hidup di kota, karena hidup hanya habis untuk bekerja. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk jadi petani karena ritme kerjanya lebih pelan namun bisa memuaskan batin.
            Teman- temanku yang sempat bekerja di Jepang, pulang kampung …mereka terlihat makin cerdas. Mereka tidak bermental pembantu atau mental buruh. Contohnya pada kami bahwa sebelum perpisahan boss kami  akan berpesan agar kami  bisa mengambil ilmu dan motivasi dari Jepang untuk bisa diterapkan di negara kita. Dengan demikian kami  tidak mau pulang kampung dengan kepala kosong saja.
            Teman- temanku yang pulang dari Jepang juga terinspirasi untuk berwirausaha (enterpreur) ada yang membuka usaha pertanian, usaha peternakan dan perikanan atau membuka usaha restoran/ kuliner. Yang memperoleh inspirasi untuk menjadi orang yang smart setelah bekerja di Jepang juga orang dari Vietnam, Philipina dan China. Karena pekeja yang juga aku lihat dari negara- negara ini.

I. Pekerja Yang Pernah Magang Ke Jepang Lebih Percaya Diri
Para pekerja Indonesia yang pernah mengikuti program Kenshusei atau pemagangan di Jepang[2] sebetulnya memiliki potensi yang besar sebagai pengusaha, mengingat pengalaman mereka bekerja di perusahaan-perusahaan Negeri Sakura itu.  Ini pernah diungkapkan oleh Dubes RI untuk Jepang, Jusuf Anwar, di Tokyo.
"Berbeda dengan TKI ke negara lain (misal ke negara tetangga atau negara Timur Tengah) maka pekerja Indonesia di Jepang umumnya bekerja di sektor ekonomi yang cukup penting dan memiliki nilai tambah bagi perekonomian Jepang, sehingga pengalaman itu dapat menjadi bekal untuk memulai suatu usaha dan bukan saatnya jadi pekerja lagi.
Program kerja magang atau lebih dikenal sebagai Kenshusei merupakan kebijakan pemerintah Jepang untuk menerima pekerja asing. Ketentuan hukum Jepang sendiri melarang keras masuknya pekerja asing yang tidak memiliki keahlian.
Menurut Dubes, kesempatan magang di Jepang jangan hanya dijadikan untuk sekedar memperoleh penghasilan semata, mengingat sifatnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis bagi para pekerja Indonesia sendiri. Budaya bekerja keras atau etos kerja Jepang semestinya bisa menular ke pekerja Indonesia sehingga bisa lebih produktif dan inovatif, karena telah memahami standar kerja dan kebutuhan Jepang sebagai negara maju.
"Berbekal semuanya inilah, lulusan pekerja Jepang memiliki kesempatan besar untuk jadi pengusaha yang sukses."
Beberapa orang temanku juga demikian. Seorang pemuda yang pernah mengikuti program kerja di Jepang asal Lubuk Alung- bernama Muhammad Ikhlas- sekembali dari Jepang punya keberanian untuk membuka usaha dagang, mendirikan ruko (rumah toko) dan menjual suku cadang (spare part) buat kendaraan motor. Yose, asal Batusangkar, juga memiliki keberanian untuk buka usaha sendiri. Ia mendirikan usaha rice milling (gilingan padi), memiliki kolam budi daya perikanan dan juga toko grosir plastik. Demikian juga salah seorang pemuda Bukitgombak- Batusangkar, panggilannya “Khairul Huda, dengan panggilan Si-Ay”, setelah kembali dari Jepang ia punya motivasi sukses yang tinggi. Ia mampu merenovasi rumah buat orang tuanya, membuat usaha restoran dan usaha ternak puyuh.
Tentu saja kita berharap agar pemerintah terus menciptakan suasana kondusif yang lebih berpihak kepada usaha kecil dan menengah serta membantu secara lebih nyata kepada pekerja yang memang sudah diketahui memiliki jiwa kewirausahaan. Apalagi usaha kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah tekanan krisis ekonomi.
"Kalau mereka diarahkan jadi wirausawan bisa sukses. Tentu saja dilengkapi dengan berbagai atmosfir yang membantunya bisa berkembang. Pada akhirnya akan mendorong sektor riil bisa bergerak lebih cepat lagi."
Pekerja Indonesia menempati urutan nomor dua terbesar pekerja asing di Jepang, setelah China. Melalui program "trainee" tersebut, rata-rata sekitar 5.000 TKI setiap tahunnya datang ke Jepang dengan masa kerja tiga tahun.  Pekerja Indonesia banyak dipekerjakan di tujuh bidang pekerjaan, yaitu pertanian, perikanan, konstruksi, industri pengolahan makanan, industri tekstil, industri mesin dan barang logam dan di bidang furniture.
Penghasilan yang diterima bervariasi (tergantung sektornya), rata-rata menerima uang saku sebesar  ¥ 60.000 hingga ¥ 80.000 di tahun pertama. Sedangkan tahun berikutnya rata-rata gaji yang diterima berkisar ¥ 90.000 yen hingga ¥ 100.000 yen. Belum lagi bila mengambil lembur yang bisa memperoleh tambahan sekitar ¥ 65.000 yen.
Sejak tahun 1992 hingga 2006, jumlah TKI jebolan Jepang sebanyak 75 ribu orang yang selama ini dikelola tiga organisasi penyalur tenaga kerja Indonesia, yaitu IMM, JIAEC, dan JAVADA. Namun demikian beberapa persoalan juga menyelimuti para peserta Kenshusei itu, seperti penempatan kerja lebih banyak ditentukan perusahaan, ketimbang minat yang dimiliki TKI, gaji yang tidak mengalami perubahan dalam 15 tahun belakangan.

J. Aktivitas Seorang Siswa di Sekolah
Aku juga mau menceritakan sedikit tentang aktifitas keseharian siswa di Jepang- berdasarkan observasiku terhadap anak atasan yang bersekolah di SD dan Sekolah Lanjutan. Perilaku siswa  Jepang di kelas terlihat lebih baik. Mungkin kita bisa mengatakan sebagai perilaku terbaik di dunia.
“Tentang mulai proses kegiatan belajar, bahwa kegiatan belajar sekolah di Jepang biasanya dimulai pukul 09.00 pagi”.
Kalau di Surabaya mulai belajar jam 06.00 pagi, itu sama suasananya dengan jam 07.30 untuk di Padang. Namun jam 07.00 bagi Jepang, aku rasa masih sangat pagi- masih agak gelap. Jam seperti 09.00 itu bagi kita mungkin sudah mulai kesiangan. Namun sudah merupakan waktu pagi yang bagus untuk mulai belajar. Tapi yang aku perhatikan bahwa siswa-siswi Jepang harus bersiap-siap pergi sekolah dari pagi-pagi sekali. Sama seperti siswa- siswa kita. Yang tinggal dekat tentu berjalan kaki, dan yang agak jauh mungkin menaiki bis, kereta, ataupun naik sepeda.
Biasanya saat senggang di dalam kereta atau bis, mereka mendengarkan musik atau membaca buku. Membaca novel adalah salah satu kebiasaan siswa di Jepang. Kegiatan membaca sebagai budaya sudah terbentuk dari rumah- orang tua mereka juga suka membaca. Bagi mereka, sekolah jauh tidak jadi masalah, yang penting sekolah itu bagus dan berkualitas.
Untuk menunjukkan reputasi (nama baik) sekolahnya, para pelajar bahkan diminta untuk tidak membaca, mengunyah permen karet, dan makan- makan sambil berjalan. Ini termasuk sopan santun sekolah.  Setibanya di sekolah, mereka akan menyimpan sepatunya di loker sepatu dan menggantinya dengan sepatu khusus yang digunakan di ruang kelas (uwabaki).
Tentang kegiatan siswa di sekolah, bahwa sebelum memulai pelajaran di kelas, terlebih dahulu siswa di Jepang terbiasa memberi salam. Pelajaran pokok SMA di Jepang adalah Bahasa Jepang sebagai bahasa nasional. Pelajaran lainnya yaitu Bahasa Inggris, Matematika, eksak (Kimia, Biologi, Fisika, dll) dan Sosiologi (Ilmu kemasyarakatan, Sejarah Jepang, Sejarah Dunia, Ekonomi Pemerintah dll). Selain itu juga ada Olahraga, Musik, Seni rupa, dan seni kaligrafi huruf Jepang, serta juga terdapat kelas memasak dan juga diajari bagaimana cara membuat pakaian.
Sekolah Jepang hanya memiliki satu pelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Semua siswa menggunakan kamus elektronik (denshi jisho). Tidak hanya bahasa Inggris, bahasa Jepang pun terasa lebih mudah jika menggunakan kamus.
Di tiap sekolah biasanya memiliki gedung olahraga, halaman sekolah, dan kolam renang tersendiri. Gedung olahraga dan kolam enang digunakan pada saat ada jam pelajaran olahraga voli, bola basket, sepak bola, dan berenang.
Tentang kegiatan saat istirahat, bahwa pada jam istirahat biasanya murid-murid Jepang  makan siang. Mereka biasanya membawa bekal (makanan) yang dibawa dari rumah. Namun ada juga yang membelinya di kantin sekolah. Ruang kelas juga bisa dijadikan tempat makan selain kantin.
Tentang kegiatan siswa bila pulang sekolah, bila kegiatan belajar mengajar berakhir pada pukul 16.00 sore. Sebelum pulang, mereka membersihkan kelas dulu, ada yang membersihkan papan tulis, menyapu, ngepel, dll- sama dengan kegiatan di sekolah Indonesia. Lalu mereka mengganti sepatu yang disimpan di dalam locker. Setelah pelajaran selesai, ada yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (yang terdiri dari sports clubs dan culture club, Kegiatan ekskul siswa Jepang rata-rata juga padat. Tentu saja juga ada yang mengikuti bimbingan belajar/les diluar sekolah.
Anak-anak yang mengikuti les ini kebanyakan adalah anak-anak kelas III (Kelas XII) yang akan mengikuti ujian semester dan persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi. Di Jepang, tidak ada Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah, atau Ujian Praktek. Jadi, siswa yang telah berhasil mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi, akan diumumkan nama perguruan tingginya di papan pengumuman yang ada di buku tersebut.
Tentang kegiatan siswa bila sudah berada di rumah, yaitu mereka  makan malam bersama keluarga lalu mandi. Sebelum tidur, siswa  membaca, mendengarkan musik dan kembali belajar selama 1 jam atau bahkan lebih. Di Jepang tidak ada Ujian Nasionalnya lagi, jadi setelah selesai ujian semester mereka bisa langsung mengikuti tes masuk perguruan tinggi.


[1] http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/267977-bertani--trend-baru-para-pemuda-di-jepang
[2] http://www.antaranews.com/view/?i=1194238612&c=EKB&s=

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...