Selasa, 23 Januari 2018

Melejitkan Kecerdasan Yang Berimbang

Melejitkan Kecerdasan Yang Berimbang

Quantum Quotient
            Di awal tahun 2000-an, dalam dunia pendidikan ada istilah quantum quotient atau kecerdasan quantum. Banyak orang ingin memahami apa dan bagaimana dengan istilah quantum quotient, yaitu bagaimana meledakkan (menumbuh-kembangkan) kecerdasan. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002) membahas tentang istilah ini. Mereka menyebutnya dengan istilah quantum learning, yaitu bagaimana membiasakan belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Bahwa aktivitas belajar perlu suasana nyaman dan menyenangkan. Kalau begitu, adakah sekolah yang menyenangkan di seputar kita?
            Sekolah yang nyaman dan menyenangkan itu tentu ada, mulai dari sekolah rendah sampai ke sekolah yang lebih tinggi. Pada umumnya TK (Taman Kanak-kanak) dan juga pada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sangat nyaman dan menyenangkan. Karena di sana guru-gurunya mengajar dan menemani anak dengan ramah dan sepenuh hati.
Selanjutnya sekolah-sekolah yang dirancang menjadi sekolah ramah anak juga sebagai sekolah yang nyaman dan menyenangkan. Sekolah tersebut mungkin ada di tingkat SD, SLTP dan SLTA. Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia gencar mengkapanyekan “Sekolah Ramah Anak.”
Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah sekolah yang nyaman. Sekolah yang begini merupakan upaya mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan anak selama 8 jam anak berada di sekolah, melalui upaya sekolah untuk menjadikan sekolah dengan suasana:
- Bersih
- Aman
- Ramah
- Indah
- Inklusif
- Sehat
- Asri
- Nyaman
            Dewasa ini sudah banyak sekolah yang nyaman, terutama untuk tingkat dasar dan menengah. Pada sekolah ramah anak, para siswa merasa nyaman dan senang belajar, karena lingkungan sekolah telah didesain begitu menyenangkan.
Yang diperlukan oleh para siswa untuk belajar adalah lingkungan yang menyenangkan, kemampuan berkomunikasi, keterampilan belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri. Suasana menyenangkan juga berhubungan  dengan perlakuan yang diterima dari lingkungan.
Dorothy Law Nolte memaparkan efek lingkungan terhadap pendidikan anak, sebagaimana tertulis dalam puisinya edukasi yang berjudul “children learn what they live- anak anak belajar dari lingkungan”. Beberapa cuplikan puisinya mengenai suasana pendidikan dengan lingkungan positif, yaitu sebagai berikut (Ahmad Faiz Zainuddin, 2009):
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang penuh toleransi, ia belajar untuk
              bersabar.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberi pujian, ia belajar untuk
               menghargai.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menerimanya apa adanya, ia belajar 
               untuk mencintai.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberikan dukungan, ia belajar
               untuk menyenangi dirinya.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang memberikan penghargaan, ia belajar
               untuk memiliki tujuan dan cita-cita.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang suka berbagi, ia belajar untuk
               bermurah hati dan suka memberi.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi kejujuran, ia
               belajar  untuk mencintai kebenaran.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang menghargai keadilan, ia belajar untuk
               bersikap adil.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang baik hati dan penuh tenggang rasa, ia
               belajar untuk menghormati.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang penuh rasa aman, ia belajar untuk
               memiliki keyakinan dan berbaik sangka.
            - Jika anak tumbuh di lingkungan yang bersahabat, ia belajar untuk merasa
              bahwa dunia ini indah dan hidup ini begitu berharga.
            Nah bagaimana dengan remaja (atau anak-anak) di lingkungan kita? Mengapa di sekolah-sekolah dan kelas-kelas tersebut aktivitas belajar ada yang terasa nyaman dan menyenangkan dan juga ada lingkungan sekolah yang belum memberi suasana kurang nyaman dan menyenangkan?
Suasana nyaman dan menyenangkan bisa  terjadi karena adanya lingkungan yang memberi semangat dan dukungan. Lingkungan yang memberi pujian dan menerima, juga memberi penghargaan dan rasa aman, serta lingkungan yang penuh bersahabat dengan anak didik (para remaja).
Sebaliknya bahwa suasana tidak nyaman, tidak menyenangkan terjadi karena adanya lingkungan yang tidak ada memberi semangat dan dukungan, tidak ada lingkungan yang memberi pujian dan menerimanya. Juga tidak ada lingkungan yang memberi penghargaan dan rasa aman, serta lingkungan yang tidak bersahabat dengan anak didik atau tidak.
            Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002) mengatakan bahwa setiap hari para remaja akan memperoleh dua macam komentar dari  teman, orangtua, guru dan lingkungan mereka, yaitu komentar positif dan komentar negatif. Adalah berbahaya bila mereka banyak memperoleh komentar negatif, sebab semangat belajar mereka bisa melorot.
            Jika mereka sering kena ancam atau tidak memperoleh modeling  dalam hidup, maka kecerdasannya pada akhirnya akan mandek. Lingkungan yang kaya akan rangsangan, menghasilkan siswa atau remaja yang sukses. Sementara lingkungan yang miskin dengan rangsangan akan menghasilkan siswa yang lambat cara belajarnya.   



Lingkungan Rumah Yang Mencerdaskan
            Saya menjumpai sebuah lingkungan rumah yang memungkinkan seseorang dari usia anak-anak hingga remaja bisa tinggal, berinteraksi dan belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Memang orangtua harus menyediakan ruang belajar dan merancangnya seapik mungkin. Rumah tersebut adalah rumah seorang mahasiswa Asia yang mengikuti kuliah Post Graduate lewat beasiswa di Universitas Melbourne.
Umumnya orang di Australia hidup secara mandiri (independent), dan tidak terbiasa punya pembantu. Punya pembantu malah melambangkan ketidak berdayaan dan juga tidak mandiri dalam hidup. 
            Mahasiswa doktoral ini membawa anaknya dan merancang ruang belajar dan ruang eksplorasi buat anak. Ada sarana bermain edukatif, ada bacaan, ada aturan kehidupan, ada interaksi. Lingkungan begini memberikan rasa aman bagi anak, ada pujian dan penerimaan. Orangtua berusia muda ini menyediakan pengalaman yang banyak dan beragam buat anaknya. Sang anak punya pengalaman mencoba, bergaul dan pengalaman perjalanan. Sebab anak atau seseorang yang punya koleksi pengalaman pribadi yang banyak akan lebih kreatif dari orang yang kurang pengalamannya (Ibrahim Elfiky, 2011).
            Orangtua dan guru juga tidak perlu terlalu mencampuri dan terlalu mendikte mengapa dan bagaimana idealnya seorang anak dalam belajar. Bahwa orang belajar tergantung pada faktor fisik, faktor emosional dan faktor sosiologi. Ada anak yang senang belajar dengan cahaya terang dan juga ada yang suka cahaya agak redup. Ada yang suka belajar dengan berkelompok dan ada yang suka sendiri. Kemudian ada yang suka belajar pakai musik dan ada yang suka suasana sepi, dan juga ada yang suka belajar dengan kondisi rapi dan ada yang suka suasana berantakan.
            Sekarang ini banyak orang beranggapan bahwa belajar yang nyaman dan menyenangkan hanya terjadi di sekolah-sekolah berlabel unggul, karena sekolah tersebut sengaja dirancang dan para siswanya menjadi cerdas karena diprogramkan. Namun jauh di sana di Indonesia bagian timur, pada sebuah sekolah biasa-biasa saja di kota Ambon telah muncul seorang siswa polyglot- menguasai lebih dari 10 bahasa-bahasa dunia, sementara itu orangtuanya hanya seorang buruh kecil, namun dia (namanya Gayatri) menemukan quantum learning sendiri dalam menguasai banyak bahasa, sehingga sempat mengantarkan dia menjadi duta bangsa ke PBB di New York (Murad Maulana, 2014).
            Latif Pramudiana, seorang teman saya asal Tangerang, yang pernah mengabdi sebagai guru di Lintau, sebuah kota kecil di Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, mengadopsi konsep long life education- dan tidak berhenti belajar dalam hidupnya. Laki-laki ini terbiasa untuk selalu belajar dalam hidupnya. Saya menemukan alat musik dan juga tumpukan buku-buku di kamar kontrakannya. Dia terbiasa kalau belajar membiarkan buku-buku yang dia perlukan bertebaran di sekitarnya. Pada lain waktu ia bermain gitar atau membaca buku yang ditemani lantunan instrumen musik yang lembut.
            Baginya memegang buku itu sebuah kenikmatan. Ia melahap buku dengan sepenuh hati. Ia menggunakan sebuah pensil untuk mencoret-coret, menggaris bawahi dan menghubungkan ide-ide dalam buku tersebut. Bila bisa menamatkan satu buku, ia merasakan bahwa ia berhasil menaklukan sebuah peradaban dan ia pun merayakan. Banyak membaca bukan berarti membuat ia menjadi kurang pergaulan. Ia juga meluangkan waktu untuk saling bertukar pikiran dengan sesama dan juga melakukan banyak perjalanan untuk menemui orang baru dan pengalaman baru.

Quatum Learning
            Secara tidak sengaja saya sering berkunjung ke sebuah rumah di Lintau. Bagi saya rumah tersebut adalah sebuah rumah inspirasi karena di dalamnya terdapat beberapa lemari yang penuh dengan berbagai jenis buku. Orang yang memiliki buku-buku tersebut bernama Fasli Jalal, yang kemudian sempat  menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam usia muda dia telah telah membaca/ menamatkan dan mentelaah semua isi buku tersebut. Sehingga dia memiliki wawasan yang luas dan dalam. 
            Quantum learning- kebiasaan belajar nyaman dan menyenangkan- telah mengantarkan Fasli Jalal menjadi salah seorang tokoh pendidikan terkemuka di Indonesia. Itu diawali dengan keputusannya saat muda untuk memilih sekolah berkualitas Di Kota Solok  jauh dari kampungnya di Lintau. Di sana dia hidup mandiri dan terbiasa dengan active learning dan peduli denga literasi membaca yang banyak dan berkualitas. Semangat suka berkompetisi memberinya motivasi yang tinggi untuk mencapai visinya melalui strategi hidupnya yang terencana hingga ia memperoleh puncak karirnya. Itu sebagaimana dikatakan oleh kerabat Fasli Jalal pada saya.  
            Untuk zaman sekarang, bahwa seseorang yang hebat bukan hanya harus memiliki IQ (inteligent quotient) yang bagus, namun juga harus peka dan peduli dengan eksistensi EQ (emotional quotient)dan SQ (spiritual quotient). Dia harus memiliki komponen kecerdasan yang berimbang, yaitu EQ, SQ dan IQ.
Dengan IQ yang bagus, akan menjadi syarat mutlak untuk berkompetisi. EQ yang bagus menjadi syarat untuk mencapai prestasi puncak dan SQ menjadi syarat untuk mencapai tujuan dunia dan akhirat. Kesuksesan kita ditentukan oleh IQ, dan kebahagiaan kita ditentukan oleh IQ dan SQ. Maka inilah hakekat untuk melejitkan kecerdasan yang berimbang.
            Agus Nggermanto (2003) menjelaskan tentang bagaimana cara melejitkan IQ, EQ dan SQ secara harmonis. Salah satunya adalah melalui accelerated learning atau percepatan belajar. Percepatan belajar bagi siswa dengan IQ yang mantap bisa dilakukan melalui membaca cepat, membaca yang cepat, dan berpikir kreatif.
            Rata-rata kita memiliki IQ yang standard dan kita perlu mengasah IQ kita. Kebiasan yang bisa kita lakukan untuk mengasah IQ  adalah melalui membaca cepat, menghafal yang cepat, berpikir kreatif, berhitung cepat dan, mencatat yang cepat- misal melalui mind mapping.   
            Menghafal yang cepat dapat kita lakukan dengan menggunakan semua indera yang berhubungan penyerapan informasi seperti audio (pendengaran), visual (penglihatan) dan kinestetik atau gerak. Intensitas dan pengulangan pokok pikiran dengan cara membaca bersuara atau melalui peta pikiran juga menentukan kualitas hafalan. Menggunakan unsur emosional, seperti bernyanyi (memakai musik) dan melakukan gerakan juga menentukan kualitas hafalan. Bergerak dapat membangkitkan semangat. 
            Membaca cepat adalah kebutuhan dasar manusia. Membaca telah dianjurkan oleh Allah Swt  seperti yang dapat kita baca dalam alquran. Membaca merupakan kunci untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk mengatasi masalah membaca adalah dengan mempercepat kemampuan membaca. Untuk itu kita harus membiasakan banyak membaca.
            Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002: 178) menjelaskan tentang menulis dan mencatat, kita semua adalah penulis. Dorongan untuk menulis itu sama besar dengan dorongan untuk berbicara, yaitu untuk mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita.
Tentang mencatat, bahwa mencatat berguna unuk meningkatkan daya pikir kita. Ada 2 cara mencatat yang dapat kita terapkan yaitu dengan cara membuat peta pikiran atau mind mapping dan yang lain dengan bentuk catat tulis susun. Kiat-kiat tambahan dalam mecatat berguna untuk membuat kita menjadi pendengar yang aktif.
Seseorang kalau mendengar ceramah, pidato dan seminar, kalau hanya sebatas  mendengar maka daya tahan atau fokusnya tidak begitu lama. Setelah itu dia akan merasa bosan dan mengantuk. Maka mendengar aktif perlu dilaksanakan, yaitu mendengar dan mencatat ide-ide penting. Maka saat mendengar ceramah, pidato dan seminar, duduklah dibagian depan dan mendengar sambil mencatat poin-poin penting. Maka rasa kantuk akan hilang dan kualitas konsentrasi bertambah.
Tentang korelasi multi-intelegensi (kecerdasan berganda) dengan IQ, SQ dan EQ. Yang termasuk kecerdasan intelektua (IQ) meliputi kecerdasan logis dan linguistik atau numerikal dan verbal. Kecerdasan emosional (EQ) meliputi kecerdasan intrapersonal (memahami dan menguasai diri) dan interpersonal (bergaul dan beradaptasi  dengan orang lain), kemudian kecerdasan spiritual (SQ) meliputi kecerdasan substantial (zat) dan kecerdasan ekistensial (memahami keberadaan hidup dan penciptaan kehidupan). Bentuk kecerdasan yang lain (quotient lain) adalah kecerdasan kinestetik (psikomotorik atau kecerdasan tubuh)  dan kecerdasan musik.
Melejitkan kecerdasan yang berimbang, yaitu antara kecerdasan IQ, EQ dan SQ perlu diusahakan. Kalau kita hanya sebatas cerdas dengan IQ, kita memang mampu bersaing dalam hidup, namun kita akan susah untuk mencapai karir puncak karena karir puncak dilalui lewat tangga sosial atau kecerdasan emosional (EQ). Kemudian hidup juga terasa kosong dan miskin dari nilai-nilai kehidupan, karena kita lemah dalam kecerdasan spiritual (SQ).
Sebelumnya kita sudah memaparkan cara meningkatkan potensi IQ, maka berikut adalah cara buat meningkatkan potensi EQ dan SQ. Emotional quotient kita bisa berkembang melalui:
- Bergaul dengan banyak orang, dengan cara demikian kita akan memiliki
   pengalaman yang kaya dengan berbagai jenis emosi orang.
- Sudi untuk mengambil tanggungjawab.
- Mendengar dengan cara berempati, utamanya pada anak dan murid, dan
   juga pada orang yang lebih muda usianya.
- Mengungkapkan suasana hati.
- Membantu untuk menemukan solusi lewat curhat (curah hati atau curah
   perasaan).
- Dengan cara menjadi modeling atau teladan bagi orang sekitar. Seseorang
  suka melihat atau meniru contoh daripada diceramahi atau digurui.
Tentang spiritual quotient, bahwa banyak orang yang sukses ditinjau dari ukuran dunia, namun mereka merasa kering dan gersang pada rohaninya. Itu terjadi karena mereka kurang memahami substansial zat diri dan penciptanya, dan juga kurang memahami eksistensi atau keberadaanya.
Menurut ajaran Islam bahwa setiap manusia harus punya hubungan yang berimbang antara “ hablul minallah wa hablul minannas- berhubungan dengan Allah Swt (Tuhan) dan juga berhubungan dengan manusia”. Untuk meningkatkan kualitas spiritual quotient atau kecerdasan spiritual, maka kita harus punya ilmu pengetahuan tentang agama, kita mampu menerapkan atau mengamalkan ilmu tersebut. Kemudian kita harus memiliki komunitas atau jamaah dimana disana kita dapat saling bercermin diri atau melakukan refleksi serta introspeksi diri.

Keterampilan Dan Keberanian Buat Kehidupan

Keterampilan Dan Keberanian Buat Kehidupan

Pilih Teori Atau Pengalaman?
Skill and experiences ring louder than theory- keterampilan dan pengalaman lebih nyaring bunyinya dari hanya sebatas berteori. Kalimat ini bisa kita buktikan melalui pengalaman hidup. Misalnya melalui pengalaman hidup yang dialami oleh seorang lelaki muda bernama Abdel Maghdi, bukan nama sebenarnya.
Abdel Maghdi adalah seorang lelaki muda berasal dari salah satu kota di Mesir. Dia memiliki wajah tampan dengan kumis dan jambang yang digunting rapi, berkulit sawo-matang dan tingginya sekitar 180 cm serta berambut ikal. Para tetangga mengaguminya karena ia mampu berkomunikasi dalam empat bahasa yaitu bahasa Arab, Perancis, Inggris dan bahasa Indonesia.
Pastilah ia seorang lelaki muda yang terbilang yang sangat hebat di negeri asalnya. Jadinya dia adalah seorang pemuda yang polyglot, maksudnya mampu menguasai banyak bahasa. Ia juga punya kemampuan menulis menggunakan huruf Arab dan huruf latin. Huruf latin khusus untuk bahasa Indonesia, Perancis dan Inggris.
Saya sendiri merasa susah payah untuk menguasai tata-bahasa Arab dan Perancis serta menulis dalam huruf Arab. Sementara bagi Abdel Maghdi keempat bahasa ini sudah terdengar amat fasih dan amat mudah bagi lidahnya. Sekali lagi bahwa pastilah ia seorang lelaki muda yang amat cerdas, dan kecerdasanya ini akan mampu mendatangkan banyak keberuntungan baginya, semisal kekayaan dan uang yang jumlahnya lebih dari cukup. Apakah benar seperti itu?
Wah ternyata itu tidak. Malah tiap hari ia hidup dalam kondisi yang cukup bersahaja dan mungkin juga dalam kondisi kekurangan secara finansial. Saya sering menjumpainya merokok yang tidak putus-putusnya, ini sebagai indikasi bahwa ia lagi dilanda stress akibat tidak punya uang yang cukup untuk menghidupi anak dan istrinya. Ya baginya uang susah banget buat mampir.
Abdel Maghdi memang seorang pemuda yang cerdas. Mengapa? Huruf  Arab dan tatabahasa Arab sangat jauh berbeda dengan tatabahasa Indonesia, Begitu pula tatabahasa Perancis dan Inggris juga jauh berbeda dari tatabahasa Indonesia. Namun itu semua sangat dikuasai oleh Abdel Maghdi.
Abdel Maghdi pasti memiliki kecerdasan verbal. Sangat jarang orang yang bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa. Umumnya satu bahasa atau dua bahasa sekaligus. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling terakhir dikuasai oleh Abdel Maghdi.
Sehingga suatu ketika ia menjumpai situs Darmasiswa yaitu “an Indonesia scholarship program” yang bisa dilamar oleh para mahasiswa asing dari 83 negara di dunia, salah satunya adalah Abdel Maghdi.
Beberapa tahun lalu saya sempat berjumpa dengan para mahasiswa asal Eropa Tengah (Rumania dan Bulgaria) yang tengah belajar di Sekolah Tinggi Seni di Padang-Panjang, Sumatera Barat melalui program beasiswa Darmasiswa dari Dikti (Dirjen Pendidikan Tinggi). Pada kesempatan lain- saat saya sama-sama menginap di Hotel Millennium Sirih, Jakarta- saya juga berjumpa dengan satu grup mahasiswa asing yang terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Gunadarma-Jakarta. Mereka memperoleh program beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia.
Setelah membaca informasi tentang kuliah beasiswa di Indonesia dan membaca profil beasiswa Darmasiswa, maka Abdel Maghdi menjatuhkan pilihan untuk kuliah di Indonesia dengan pilihan jurusan Bahasa Indonesia. Tentu saja sebelum menjadi mahasiswa di Indonesia, dia telah bergiat untuk menguasai dasar-dasar bahasa Indonesia secara self learning. Ini dibantu dengan teknologi google language dan juga situs-situs belajar bahasa Indonesia lainnya. Utamanya dia menguasai cara pengucapan bahasa Indonesia, kosakata dan tatabahasa, juga dasar-dasar bahasa Indonesia.
Akhirnya Abdel Maghdi berangkat menuju Indonesia setelah lulus seleksi, mengurus dokumen keimigrasian dan visa belajar di Indonesia dari kantor Kedutaan Indonesia di Kairo. Abdel Maghdi memilih jurusan bahasa Indonesia dan kuliah di UGM Yogyakarta. Tentu saja ada visi dan misi mengapa dia tertarik buat belajar bahasa Indonesia, mungkin juga ingin menikah dengan orang Indonesia? Mau menikah saat kuliah di Indonesia, mengapa?

Menikah Adalah Naluri
Dorongan untuk menikah sudah ada pada semua orang. Dorongan ini semakin kuat saat mereka menginjak usia remaja. Keinginan untuk menikah adalah fitrah atau dorongan naluri yang diberi oleh Allah Swt. Jadinya Abdel Maghdi juga ingin untuk menikah, karena dia juga punya fitrah atau instink ini.
Keputusan menikah di Indonesia memang beda dari Mesir. Pernikahan di Indonesia bisa dibikin lebih sederhana dan juga bisa dibikin super rumit dan super mewah. Bagi yang belum mampu biaya menikah bisa dicicil, atau pinjam uang sana-sini. Tidak demikian halnya dengan pernikahan di Mesir. Bisa jadi sepasang anak muda yang saling jatuh cinta begitu mendalam, namun ketika mau menikah cinta mereka bisa berantakan, terkendala oleh finansial..
Di Mesir menikah tidak cukup sebatas  bermodalkan cinta saja, bermodalkan kata “I love you”. Banyak pemuda Mesir merasa kesusahan buat menikahi kekasih mereka karena mahalnya harga mahar. Orangtua pengantin wanita akan meminta mahar dengan nilai sekitar 150.000 EGP (Egyptian Pound) atau setara dengan 225 juta Rupiah. Cukup banyak yang merasa tidak mungkin bisa punya tabungan sebanyak itu. Khusus bagi laki-laki yang masih muda, yang tidak punya uang, jadinya cinta mereka harus kandas. Selain biaya mahar yang tinggi, biaya pesta perkawinan juga cukup tinggi yaitu sekitar 50.000- 100.000 EGP, atau sekitar 75 juta hingga 150 juta rupiah.
Ada juga yang mengatakan bahwa bukan mahalnya biaya mahar, namun seorang laki-laki Mesir yang mau menikah harus mampu menyediakan terlebih dahulu sebuah rumah atau apartemen buat istri, sebagai tempat tinggal permanen bagi mereka begitu mereka setelah menikah. Bagaimana harga sebuah rumah sederhana atau sebuah apartemen di Mesir?
Harga sebuah apartemen tipe dan ukuran yang standar biasa di sana, ya sekitar 225 juta Rupiah. Itu setara dengan harga sebuah rumah perumnas ukuran sederhana di Indonesia. Namun tidak semua lelaki muda yang mau menikah bisa menyediakan rumah buat calon istrinya, jadinya banyak laki-laki Mesir yang telat menikah. Baru bisa menikah yaitu mendekati usia 40 tahun, setelah punya cukup uang.
Hal yang demikian juga dialami oleh Abdel Maghdi. Mahalnya harga pernikahan di kampungnya membuat laki-laki ini tetap single sampai usia di atas 30-an, hingga ia punya kesempatan untuk memperoleh beasiswa kuliah di Yogyakarta. Dengan kemudahan media sosial, utamanya Facebook, dia mulai rajin berselancar- browsing- untuk mendapatkan gadis idamannya yang akan mampu mengisi kekosongan hatinya. Akhirnya yang beruntung adalah seorang gadis di Sumatera Barat. Mereka saling kontak dengan intens dan berjanji, malah sempat saling ketemuan di Jakarta dan Yogyakarta beberapa kali. Rasa cinta mulai bersemi.
Gadis lembut dari Sumatera Barat tersebut sangat merespon cinta lelaki ganteng ini. Kualitas cinta mereka semakin meningkat saban hari. Akhirnya Abdel Maghdi memutuskan untuk datang menemui calon mertua, meminang secara sederhana dan menikah dengan proses yang sangat ringan, kontra dengan proses pernikahan di Mesir yang terasa mahal.
Tentu saja dengan menikah maka terjadi perpaduan kasih sayang dua pribadi dan kemudian akan terasa persamaan dan perbedaan. Rasa cinta yang tinggi dan persamaan dalam keyakinan- yaitu agama Islam- menjadi perekat perkawinan yang cukut kuat. Setahun setelah menikah, perkawinan mereka membuahkan seorang momongan mungil yang tampan. Dan sekarang bayi mereka sudah menjadi balita- aktif dan sangat memikat hati ayah dan bundanya.
Balita mereka dengan perpaduan wajah Indonesia dan Mesir terlihat sangat tampan, membuat keluarga besar mereka menjadi terhibur. Balita mereka bisa tumbuh sempurna, apalagi Abdel Maghdi dalam usia yang cukup telat buat berumah tangga (menikah) membuat dia betul-betul mendambakan kehadiran seorang anak, hingga dia cukup rajin mendalami ilmu parenting. Orangtua dengan ilmu parenting yang mantap sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan buah hati mereka. Namun Abdel Maghdi tetap ada masalah yang mengganjal. Yaitu “finansial atau uang”.
Keluarga baru harus bisa hidup mandiri. Mereka memutuskan buat menyewa rumah kecil sendiri. Dan kendala baru muncul, bahwa dapur mereka kadang-kadang tidak berasap. Anak dan istrinya butuh makan. Dalam realita bahwa kecerdasan berbahasa Abdel Maghdi- menguasai 4 bahasa, menandakan dia orang yang cerdas. Namun di lingkungan yang baru ia susah memperoleh pekerjaan dan ia mengalami kesulitan finansial.
Kecerdasan dalam bentuk tahu teori belum mampu mengusir rasa lapar keluarga. Dalam kondisi begini yang diperlukan oleh keluarga Abdel Maghdi adalah pengalaman dan keterampilannya untuk mencari nafkah. Ternyata Abdel Maghdi yang cerdas kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan kampung istrinya sehingga ia belum mampu buat pencari nafkah.
Sebagai seorang ayah dan suami ternyata Abdel Maghdi baru sebatas cerdas akademik (kognitif) yaitu cerdas di atas kertas, atau cerdas dengan teori. Sementara anak dan istrinya tidak butuh teori atau ceramah namun mereka butuh rupiah atau dollar dan sangat berharap agar dia punya life skill- kecerdasan dan keterampilan buat mencari nafkah, mungkin menjadi pekerja tukang, pedagang kecil, jual rujak, jual nasi Padang atau membuka warung kecil ala Mesir di Sumatra Barat- namun itu sulit untuk terwujud.
Sebenarnya Abdel Maghdi bukan lelaki yang pemalas. Ia pun sempat berdagang kecil-kecilan, seperti berdagang kurma. Namun tidak begitu laris, karena kurma bukan kebutuhan utama orang di Sumatra Barat jadinya keberuntungan masih agak jauh darinya. Untuk solusi masalah, mereka membuat alternatif, yaitu sang istri sebagai pencari nafkah part-time, tentu saja dengan nominal upah dan gaji yang kecil untuk menopang ekonomi mereka. Sementara Abdel Maghdi sebagai pengasuh balita di rumah.
Hari-hari tetap berlalu. Perkawinan mereka cukup bahagia, namun Abdel Maghdi masih kebingungan. Mau bagaimana lagi. Mau membawa keluarga pulang ke Mesir? Woww...biaya pesawat dan kebutuhan lain begitu mahal. Laki-laki yang mau menikah, sebagai pemimpin rumah tangga, memang memikirkan secara matang dan menyiapkan keuangan yang cukup buat mendukung perkawinan mereka.
Dalam realita bahwa perkawinan tidak hanya sebatas kata cinta. Karena ungkapan “I love you” hanya sebagai hiasan pada hati namun tidak bisa membuat perut kenyang. Kehidupan perkawinan butuh uang dan makan. Makanya seorang laki-laki yang mau menikah musti mempersiapkan diri, harus terampil buat mencari rezeki. Kalau istri mampu mencari tambahan rezeki, tentu itu berguna buat meringankan beban suami.

Hidup Harus Terampil
Dalam membangun relasi dengan seseorang dan juga buat menjaga kelanggengan keluarga sangat diperlukan teori yang relevan. Namun untuk memenuhi kebutuhan dasar- seperti: makan, pakaian, perumahan- diperlukan proses kehidupan. Proses kehidupan sangat memerlukan keterampilan dan pengalaman hidup yang luas.
Hal ini bisa dibuktikan melalui kisah nyata tentang bagaimana kesuksesan seseorang yang tinggal di pulau Bali bisa terjadi. Saya jadi hanyut dalam emosi saat membaca biografi Gusti Ngurah Anom- dengan nama populernya “Ajik Cok”. Dia adalah seorang raja pendiri galeri oleh-oleh khas pulau Bali (A.Bobby, 2015). Dalam biografinya dipaparkan kisah suksesnya dengan apik, sekali lagi, saya terbawa emosi membaca biografinya. 
Gusti Anom, panggilannya Ajik Cok, waktu kecil dikenal sebagai anak yang bodoh, miskin, dan nakal. Namun setelah dewasa ia mampu keluar dari jerat kemiskinan. Ayahnya seorang petani penggarap, jadi sangat miskin dan ia pun punya dua istri. Ibunya Ajik Cok adalah istri kedua. Untuk mendukung ekonomi keluarga, ibunya berjualan kue kecil-kecilan.
Ajik Cok untuk pendidikan terakhirnya sempat masuk sekolah pariwisata, namun karena keterbatasan dana buat beli buku, pakaian dan kebutuhan sekolah lainnya maka Ajik Cok memutuskan buat drop out dari sekolah. Saat sekolah ia pun sering menunggak spp (uang sekolah).
Didera oleh kemiskinan yang tidak berkesudahan akhirnya ia memutuskan meninggalkan rumah hanya berbekal pakaian yang melekat di badan. Ia merantau menuju kota Denpasar dengan harapan moga-moga ada perubahan pada kehidupannya. Dia mau mengerjakan apa saja jenis pekerjaan. Tidak pilih-pilih pekerjaan. Pekerjaan pertama yang ia geluti adalah sebagai tukang cuci mobil para tamu hotel dan ia pun tidur di emperan.
Beberapa waktu kemudian ia melamar menjadi buruh garmen- atau pakaian jadi. Profesi ini ia tekuni dengan bersemangat dan penuh hati-hati. Sehingga ia menjadi kesayangan boss. Karena karakternya yang rajin dan bekerja penuh semangat, maka ia pun menjadi orang kepercayaan boss-nya. Dan ia pun mengembangkan diri dan menumbuhkan perusahaan garmen milik boss-nya.
Seiring berjalannya waktu, maka ia pun pamit sebagai buruh garmen dan memberanikan diri pula untuk membuka usaha garmen sendiri. Tentu saja memulainya secara kecil-kecilan dan ia pun langsung menjajakan produk konveksinya ke pantai, lokasi wisata, tanpa malu-malu.
Ia pun belajar mengatasi beberapa kelemahan disana-sini. Usaha garmennya pun tumbuh. Tidak puas hanya dengan usaha konveksi maka ia juga membuka toko oleh-oleh yang diberi nama toko krisna.
Terus terang bahwa ia tidak punya ilmu formal dari bangku sekolah yang banyak tentang manajemen berdagang. Kecuali ia suka menimba pengalaman langsung yang berharga dari banyak orang. Ia suka sekali learning by doing. Dengan metode bisnis yang dia sebut dengan istilah “lihat, tiru, kembangkan”, maka bisnis garmen dan bisnis toko oleh-oleh berkembangkan pesat. Ia sekarang punya toko oleh-oleh krisna 1 hingga toko krisna 5. Sekarang sudah banyak supplier yang tertarik untuk bergabung dengan toko milik Ajik Cok.
Saya tetap percaya bahwa proses kehidupan melalui keterampilan dan keberanian lebih dahsyat hasilnya daripada hanya sebatas  tahu teori. Tahun 1986 saat saya kuliah saya sempat membaca sebuah buku biografi Hasyim Ning dan hingga sekarang isi buku itu masih berkesan dalampikiran. Makanya apa yang kita pelajari saat masih kecil- anak anak dan remaja- maka  akan berkesan seumur hidup.
Hasyim Ning adalah seorang pengusaha sukses kelahiran Padang. Pendidikan formalnya tidak tinggi, ia hanya sekolah di SD Adabiah Padang dan juga Mulo di Padang. Mulo adalah sekolah Belanda setingkat dengan SMP yang kepanjangannya “Meer Uitgebreid Lager Onderwijs”. Karena kesulitan hidup maka ia merantau ke Jakarta dan bekerja menjadi tukang cuci mobil. Kemudian ia dipercaya menjadi perwakilan motorcars. Karena bergelut dengan bisnis maka ia mengambil kursus pembukuan, sejenis ilmu akutansi.
Karena faktor kesulitan hidup, ini mendorongnya untuk hijrah ke Tanjung Karang. Ia kemudian hijrah lagi dan menjadi pemborong tambang batubara di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Ia kemudian pindah lagi ke Jakarta dan bekerja sebagai aministrasi kebun teh.
Hidupnya penuh degan hijrah dan hidup ini butuh keberanian dan juga butuh ilmu praktis yang langsung terpakai di lapangan. Dalam hidup, Hasyim Ning berusaha untuk memiliki kemampuan bergaul dan kemampuan berkomunikasi, kemampuan membaca peluang hidup, serta izin Allah Swt telah mengantarkannya menjadi Presiden Direktur Jakarta Motor Company (AA Navis, 1987).
Ada lagi tokoh kehidupan yang tumbuh sukses bukan karena otaknya penuh dengan teori, namun karena proses kehidupan yang ia alami mengantarkan dia dari kegelapan hidup menjadi kegemilangan masa dewasanya. Dekat kampus UNP Padang dekat Ulak Karang ada plaza Basko.
Saya baru tahu kalau Basko itu singkatan dari Basrizal Koto. Basko adalah pengusaha sukses yang tidak tamat SD. Proses kehidupannya adalah menggeluti bisnis yang menyentuh kebutuhan orang banyak yaitu seperti: media, percetakan, pertambangan, peternakan, perhotelan dan properti. Basrizal Koto mengawali proses hidupnya tanpa modal, dan pendidikan yang rendah, namun punya pengalaman hidup yang tinggi.
Awal proses kehidupannya adalah setelah putus sekolah ia merantau ke Propinsi Riau. Namun ibunya menitip nasehat, bukan menitip uang karena hidup miskin, yaitu agar dia pandai-pandai dalam berkomunikasi, carilah segala kemungkinan atau peluang hidup, dan manfaatkan kesempatan. Sampai di Pekanbaru untuk bisa hidup, maka ia sempat menjual pisang dan petai, menjadi kenek oplet (kondektur oplet) dan ini kesempatan buat belajar berkomunikasi, melayani orang atau penumpang. Kemudian ia menjadi sopir dan ia juga menjadi makelar kendaraan. Setelah itu baru ia menekuni bisnis yang lebih berarti yaitu pada usaha properti dan juga pertambangan (Ahmad Fatahillah,2014).
Pesan tulisan ini kepada para remaja bahwa tekunlah dalam belajar. Selain mendalami teori ilmu dan bidang studi, juga perlu memiliki pengalaman hidup. Semua bisa diperoleh melalui proses beraktivitas. Kemudian kita harus membuang jauh budaya instan seperti ingin cepat kaya dan cepat pintar. Ini adalah nonsense atau omong kosong. Bahwa pintar dan kaya yang berkualitas harus dipakai melalui proses, bukan melalui proses yang instan, namun proses yang punya target capaian, yang didukung dengan keberanian, tidak gengsi-gengsian, mampu berkomunikasi, mampu membaca peluang dan juga dekat dengan manusia dan dekat dengan Allah Swt. Dengan cara ini inshaAllah kemudahan hidup akan terbuka lebar.

Hidup Tidak Sebatas Berteori Tetapi Butuh Proses

Hidup Tidak Sebatas Berteori Tetapi Butuh Proses

Hidup Butuh Proses
            Membaca buku biografi bermanfaat untuk memperkaya pengalaman jiwa kita. Misalnya membaca biografi para tokoh politik, pendidikan, wirausaha, dll. Dengan membaca biografi mereka kita jadi tahu bagaimana proses kehidupan mereka. Yaitu apa dan bagaimana peristiwa demi peristiwa terjadi dalam kehidupan. Proses kehidupan yang baik akan membentuk pribadi seseorang jadi hebat, hidup tidak sebatas berteori tetapi butuh proses.
Saya juga menyenangi buku biografi- salah satunya adalah tentang biografi tentang Ciputra. St. Sularto (2010), memamparkan biografi Ciputra dengan gaya bahasa yang mudah buat dicerna. Dia memaparkan biografinya secara ringkas.
Ciputra memulai hidupnya dengan sebuah mimpi yang kecil, dan kemudian dia punya mimpi yang lebih besar. Saat usianya 30 tahun dia telah mewujudkan mimpinya. Dalam usia yang relatif sangat muda dia menjadi direktur perusahaan Pt. Pembangunan Jaya. Buat ukuran generasi muda zaman sekarang perjalanan hidup Ciputra sangat luar biasa.
Ciputra betul-betul mengawali jalan hidupnya dari kondisi uncomfort zone- suasana rumah yang jauh dari suasana nyaman. Suasana uncomfort zone tersebut terjadi karena cobaan hidup yang menimpa keluarganya.
Memasuki masa remaja, sekitar zaman perang dunia ke-2, saat tinggal di Sulawesi Tengah, ia kehilangan ayahnya yang tercinta. Ia menyaksikan tentara Jepang menyeret ayahnya dan memisahkan dari keluarga. Ayahnya dituduh sebagai mata-mata Belanda dan dijebloskan ke dalam penjara. Ayahnya meninggal dalam tahanan Jepang, namun hingga sekarang dia tidak mengetahui kuburan ayahnya.
            Ia tidak saja kehilangan ayah, namun juga kehilangan mata pencarian. Toko kelontong sebagai sumber rezki, sumber keuangan yang telah dirintis ayahnya buat menghidupi keluarga juga hancur. Sejak itu mereka (ia dan keluarganya) jatuh miskin. Masa remaja yang seharusnya ceria, ia lalui dengan penuh suasana suram.
            Fenomena umum adalah bahwa orang miskin jarang diperhitungkan keberadaanya. Mereka sering dilihat sebelah mata. Itu sangat dirasakan oleh Ciputra. Ia merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang miskin, karena tidak pernah atau jarang dihargai eksistensinya oleh orang lain. Inilah pemicunya bagi Ciputra untuk segera bangkit dan mematrikan tekad “Aku harus menjadi orang kaya dan sukses”.
            Untuk menjadi kaya dan sukses akan bisa diperoleh melalui jenjang akademik dan prestasi. Makanya Ciputa juga ingin berprestasi, ia harus hidup independent (mandiri), tidak bergantung pada orang lain. Malah sebaliknya ia juga ingin bisa membantu orang lain. Untuk meraih itu semua maka Ciputra menggapainya  melalui keputusan hidup. Apa keputusan hidup yang ditempuh Ciputra?
            “Yaitu meninggalkan kampung halaman, dengan cara merantau atau hijrah”.
            Maka dia memutuskan untuk merantau ke pulau Jawa, pulau yang sejak dahulu SDM-nya lebih baik dari pulau-pulau lain di Indonesia. Niat utamanya pergi ke pulau Jawa adalah untuk menuntut ilmu, yaitu ingin masuk ke ITB.
            Apakah mustahil untuk bisa kuliah di ITB saat itu? Untuk orang-orang kebanyakan tentu saja mustahil. Transportasi menuju pulau Jawa di tahun 1940-an dan 1950-an belum lagi semudah dan senyaman zaman dirgantara sekarang. Saat itu orang-orang hanya mengandalkan kapal laut dengan jarak tempuh hitungan minggu. Begitu pula masuk ITB di tahun-tahun tersebut juga tidak semudah di zaman cyber sekarang, yang kadang kala juga banyak program-program yang membuat calon mahasiswa memperoleh kemudahan.
            Dengan berbagai tantangan dan keterbatasan maka Ciputra berhasil menjadi mahasiswa ITB. Akhirnya dia bisa mengikuti perkuliahan sebagaimana mahasiswa lainnya. Semester pertama berlalu dan datang semester ke dua.
Namun kehidupannya sebagai mahasiswa ITB tidak senyaman teman-temannya yang lain. Ketika duduk di tingkat dua ITB kiriman keuangan dari ibunya sudah terputus. Akibat kesulitan ekonomi, jadinya Ciputra memutar otaknya bagaimana untuk bisa mencari duit agar mampu membantu diri sendiri- menopang kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang lagi dilanda kesulitan hidup.
            Sebagian teman-temannya mempunyai kecukupan uang dan mereka bisa hang-out, mengikuti kegiata ekskul, menekun hobby di bidang kesenian dan olahraga, atau meluangkan waktu untuk memadu janji dengan kekasihnya. Maka hal seperti itu sangat mustahil bagi Ciputra.
            Ia mencari kerja serabutan sambil kuliah. Ia pernah menjadi pedagang batik. Ia bukan menggelar dagangannya di pasar kakilima di kota Bandung. Namun ia mencari batik ke Bandung dan menjualnya sampai ke Medan. Selain itu ia juga sempat menjual meubel. Ia merancang gambar meubel  dan membayar tukang meubel untuk membuatkannya.
            Fenomena yang kita lihat dan dengar bahwa banyak orang yang baru merintis usaha (bisnis) bukan saat masih kuliah, namun setelah mereka wisuda, menjadi seorang sarjana. Sehingga merasa kesulitan untuk eksis. Namun Ciputra malah memulai usaha bisnis saat masih kuliah, itu karena desakan ekonomi- kesulitan biaya hidup. Maka bersama dengan temannya mereka mendirikan konsultan pembangunan yang mereka beri nama “PT Perentjanaan Djaja”.
Betul-betul kesulitan hidup- suasana uncomfort zone- memberi dampak motivasi yang dahsyat. Perusahaan yang mereka rancang tersebut masih beroperasi hingga sekarang. Agar kuliah tidak terganggu, maka Ciputra sangat ketat dengan pengelolaan waktu- yaitu time management yang bagus.
            Mengapa Ciputra memulai kemandirian hidup dan semangat entrepreneur sedini mungkin? Sekali lagi, bahwa itu karena faktor kesusahan hidup. Derita kemiskinan dan merasa tidak nyaman diremehkan orang akibat faktor kemiskinan dan juga faktor kesulitan keuangan saat kuliah di ITB. Ini semua telah menjadi bahan bakar buat menyalakan semangan juangnya.
            Semangat entrepreneurnya muncul karena ia lahir di tengah keluarga pedagang. Tidak heran kalau sejak kecil ia bisa bermain dan bergerak di antara barang dagangaan. Ia bertemu dan berkomunikasi dengan pelanggan toko sejak masa kanak-kanak. Orangtuanya telah berhasil menciptakan lingkungan enterpreneur buatnya. Nilai-nilai enterpreneurship tertanam sejak kecil, hingga remaja dan juga hingga dewasa.
            Seorang enterpreneur harus menghormati dan menghargai pelanggannya. Ciputra tahu dari ayah dan ibunya, bahwa seorang pedagang (enterpreneur) harus menghargai pelanggannya. Pribahasa umum dalam dunia perdangan mengatakan bahwa “pembeli itu adalah raja”. Pembeli harus dihargai dan dilayani dengan penuh etika. Keunggulan dalam pelayanan terwujud dalam bagaimana cara memuaskan pelanggan.
            “Apa saja yang dijual Ciputra pada waktu kecilnya?”
            Ia juga harus mampu menjual hasil pertanian untuk kehidupan keluarga sehari-hari.  Ia juga terbiasa membuat topi dari pandan dan menjual ke masyarakat. Ia tidak merasa malu atau enggan melakukannya. Begitulah cara Ciputra dalam mengisi masa remajanya, dan sekali lagi kebiasaan ini menubuhkan jiwa enterpreneurship  dalam dirinya.

Proses Menjadi Enterpreneur
            Bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang dalam menumbuhkan jiwa enterpreneurnya? Tentu ada banyak cara yang bisa mereka lakukan. Ya utamanya dalam bentuk membaca buku-buku tentang wirausaha, juga menghadiri seminar tentar kewirausahaan. Kebanyakan yang diperoleh hanya sebatas teori demi teori tentang cara berwirausaha. Mereka umumnya buta untuk melangkah, atau juga belum punya percaya diri yang kuat untuk terjun sebagai seorang wirausahawan muda. Tetapi that is oke dari nggak pernah tahu tentang kewirausahaan sama sekali.
Lebih bagus adalah sejak usia anak-anak hingga remaja, seseorang yang ingin berwirausaha musti rajin-rajin untuk bertandang (berkunjung) ke pusat-pusat  wirausaha agar mereka keciprat semangat wirausaha. Membangun wirausaha saat masih kuliah, ini adalah awal sukses bisnisnya Ciputra. Ya saat para temannya asyik menggeluti hobby, maka Ciputra telah memulai merajut mimpinya dengan serius. Yakni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang dibelit kesusahan finansial.
“Saya harus menjadi arsitek yang berjiwa enterpreneurial. Hasrat inilah yang akhirnya membawa keputusan saya untuk mendirikan PT Penbangunan Jaya bersama pemerintah DKI Jakarta dan beberapa pengusaha nasional. Saya bukan pasif lagi menunggu pekerjaan, tetapi aktif menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain”.  Demikian papar Ciputra dalam meneguhkan dirinya.
Hidup perlu punya visi dan kita harus selalu bermimpi untuk mencapai visi tersebut. Itulah prinsip hidup Ciputra. Dalam tahun 1960-an ia mendirikan Jaya Group, dan selanjutnya tahun 1970-an ia mendirikan perusahaan Metropolitan Group bersama kawan-kawannya dari ITB. Kemudian pada tahun 1980-an ia mendirikan Ciputa Group, bukan bersama teman-temannya, namun bersama anak-anaknya sendiri.
Saya yang lagi menulis artikel ini lagi merasa bersimpati kepada seseorang yang baru saja meraih gelar sarjananya dari jurusan teknik. Ia lulusan universitas terkemuka dengan nilai sangat bagus yang telah membuat bahagia orangtuanya. Namun setelah itu ia terlihat kebingungan hendak bagaimana lagi dan hendak mau diapakan ijazah sarjananya.
Terasa kalau hanya bangga dengan nilai yang tinggi itu adalah kebanggaan yang semu. Nilai yang tinggi tak lebih hanylah sebagai hiasan pada selembar ijazah. Sarjana baru ini terlihat sangat tidak berdaya dan barangkali sarjana baru ini adalah gambaran dari sebagian sarjana baru di Indonesia yang hanya sebatas jago atau cerdas dengan kertas. Setiap hari waktunya habis dengan merunduk mengotak atik gadgetnya dan ia tidak jauh berbeda dengan anak-anak SMP dan juga anak SMA yang sedang mabuk dengan gadgetnya.
Ya sarjana baru ini hanya sebatas cerdas kertas, cerdas dengan teori. Ibarat orang yang ingin pintar main bola maka dia sudah terlalu banyak membaca buku teori bagaimana cara main bola. Yang dia butuhkan bukan teori tetapi dia butuh langsung berlatih menendang bola. Semakin banyak ia berlatih menendang bola maka akan semakin hebat ia untuk menjadi pemain profesional. Jadi yang dibutuhkan mahasiswa baru ini adalah sebuah action lagi-lagi bahwa hidup tidak sebatas berteori tetapi butuh proses.
Cukup banyak orang, lembaga, dan komunitas yang hanya sebatas  kaya dengan informasi, tetapi miskin dengan karya nyata. Hanya masyarakat yang suka bekerja yang mampu membina para remaja (generasi muda) untuk bekerja keras dan tekun. Kita harus punya cita-cita yang konkrit, dan kita perlu punya cita-cita. Cita-cita tersebut adalah visi dalam kehidupan. Dalam membangun cita-cita kita lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman dan orang lain dari pada orangtua kita sendiri (Torsten Husen, 1995).   
Sarjana baru yang bermental penakut ini tidak perlu lagi pendidikan, dengan arti kata belajar sebatas teori. Yang dia butuhkan adalah keberanian mental dan latihan demi latihan. Ia membutuhkan ratusan kali latihan di lapangan kerja yang nyata.
Maka berinteraksi dengan banyak orang, utamanya yang satu visi dengan kita. Kita tidak perlu merasa alergi atau merasa lebih hebat dengan orang-orang yang bukan tamatan universitas, karena bisa jadi mereka lebih hebat lewat pengalaman lapangannya. Indonesia sangat membutuhkan orang-orang yang rajin melakukan proses, berevolusi untuk meningkatkan kualitas.
Semua anak muda dan terutama para sarjana yang baru lulus dari perguruan tinggi, harus banyak melakukan proses bukan sebatas terpaku pada teori. Sekarang memperoleh pekerjaan amat sulit, namun kesempatan buat berwirausaha sangat terbuka lebar. Ciputra menyatakan bahwa wirausaha harus dimulai dari pendidikan yang bukan asal-asalan. Karena kunci utama perubahan manusia ada pada diri manusia itu sendiri. Dengan kata lain kunci utama mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan adalah dengan mendidik dan “melatih diri, dan melakukan pratek langsung sebanyak mungkin”.
Maka manusia seperti inilah yang kita sebut sebagai manusia enterpreneur. Manusia enterpreneur tidak akan jadi beban masyarakat, ia malah bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Ia akan mampu mengubah kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi produk yang dibutuhkan dunia. Kalau boleh jiwa enterpreneur harus dimulai lebih dini agar tumbuhnya dalam jiwa lebih kuat, kalau diperkenalkan saat sudah dewasa maka dampaknya sedikit saja. Pendidikan Amerika Serikat, misalnya, meberikan pengalaman dan latihan enterpreneurship lebih dini yakni sejak dari pendidikan dasar, dan enterpreneur memperkaya kurikulum mereka. Jadinya enterpreneur mereka lebih sukses. Kita di Indonesia juga harus berbuat demikian agar kita semua juga bisa lebih sukses, semoga.

Long Life Education Untuk Menggapai Hidup Berkualitas

Long Life Education Untuk Menggapai Hidup Berkualitas

Belajar Sepanjang Umur
            Kata-kata “long life education atau belajar sepanjang kehidupan” sering didengungkan di perguruan tinggi. Saya juga sempat mendengar frasa ini saat menuntut ilmu di IKIP Padang (sekarang- UNP atau Universitas Negeri Padang). Apakah frasa ini juga digelontorkan di fakultas dan perguruan tinggi yang lain?. Tentu saja iya, bahwa  kata-kata ini juga sudah sampai ke telinga para remaja agar mereka bisa menjadi warga yang senantiasa mengaplikasikan “long life education” sebagai konsep untuk meningkatkan kualitas hidup kita.
            Konsep long life education juga dideklarasikan oleh badan pendidikan dunia- Unesco (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization). Unesco memotivasi agar warga dunia untuk selalu belajar sepanjang hayat mereka. Bukankah kehidupan ini selalu berubah dan perubahan harus diantisipasi dengan cara memiliki ilmu pengetahuan.  Agama Islam juga mengajarkan tentang prinsip long life education sebagaimana ungkapan seperti:
            “Utlubu ilman minal mahdi ilallahdi- tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat. Utlubu ilman faridatan ‘ala kulli muslim- menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim. Al ilmu amama amalu, wa amalu tabiuhu- ilmu itu memimpin di depan amal dan amal akan mengikutinya.”
Berbarengan dengan ungkapan long life education (pendidikan seumur hidup) juga ada ungkapan long life learning (pembelajaran seumur hidup). Kedua ungkapan ini sama maknanya. Konsep long life learning sangat relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Konsep ini menyentuh semua generasi, dan kultur sosial-budaya. Untuk mewujudkan konsep belajar seumur hidup maka warga dunia musti mengaktifkan literasi melalui pendidikan formal dan informal, serta mempromosikan konsep demokrasi (Caroly Medel dan Anonuevo, 2002).

Pengalaman Belajar Warga Dunia
            Long life education memang sudah mendapat sambutan bagi warga dunia, terutama di negara maju, mereka selalu belajar dan belajar dalam kehidupannya. Saya membuka diri untuk pergaulan dengan orang-orang asing. Sekitar 20 tahun lalu, saya berkenalan dengan Dr Francois Brouquisse, Dr Anne Bedos dan Dr Louis Deharveng. Ke tiga warga Perancis ini telah menjadi teman saya hingga sekarang, sebelumnya mereka sempat bekerja di LIPI- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung. Pertemuan secara kebetulan berujung sangat menguntungkan saya terutama dalam mempelajari kultur, sosial budaya dan Bahasa Perancis. Saya jadi memahami apa dan bagaimana “prinsip otodidak” dan motivasi untuk belajar sepanjang umur atau long life education.
            Ketiga teman ini bekerja pada bidang yang berbeda, namun punya minat pada zoology. Kami berjumpa di daerah Kecamatan Lintau Buo- Kabupaten Tanah Datar- Sumatera Barat. Daerah di Pegunungan Bukit Barisan yang bentangan wilayahnya dari daerah Sijunjung, Lintau Buo hingga Halaban. Yang menarik bagi saya dari figur mereka bertiga adalah konsep hidupnya sesuai dengan moto “long life education”. Belajar sepanjang hayat ini sudah menjadi kebutuhan hidup mereka.
Mereka menghabiskan waktu liburannya di Sumatera untuk studi tentang konservasi hutan tradisionil dan zoology. Mereka melakukan eksplorasi, menyandang tas besar di punggung. Di dalam tas penuh dengan instrument penelitian dan juga buku-buku tentang sains, juga ada tentang bahasa Indonesia, adat dan way of life orang-orang Indonesia. Sebagai orang Perancis mereka jauh tahu banyak tentang Indonesia dan Bahasa Indonesia mereka cukup terpakai.
Saya sering mengikuti kegiatan mereka, melakukan survey tentang speleologie. Yaitu melakukan eksplorasi kedalam hutan dan ke dalam goa- mengobservasi eksistensi hewan-hewan kecil di dalam goa, yaitu goa “ngalau indah” di Nagari Pangian, Kec. Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Saya juga sempat memberikan tulisan untuk dipublikasikan pada jurnal speleologie mereka.
            Ternyata mereka bertiga juga manusia yang polyglot- yaitu orang-orang yang mampu berbicara dalam banyak bahasa. Anne Bedos dan Louis Deharveng menguasai bahasa Perancis, Inggris, dan tahu bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Indonesia, Vietnam, dan China.
Francois Brouquisse, seorang ahli manajemen perairan, juga  memahami Bahasa Inggris, Arab, Vietnam, Bahasa Indonesia dan Bahasa China, serta bahasa ibunya- bahasa Perancis. Ia sendiri pendukung NGO Palestine D’Action di Perancis. Yaitu sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mendukung perjuangan bagsa Palestina.
Francoise adalah seorang pembaca yang hebat. Dia selalu membaca bervariasi buku saat beristirahat. Jadi beristirahat baginya bukan berarti harus duduk tenang. Namun ia beristirahat sambil membaca.
Saya sempat mengintip buku-buku yang dipegang oleh Francois Brouquisse. Untuk menguasai bahasa Indonesia, Francois melakukan prinsip “learning by doing” atau “learning by direct practicing”  hingga saya dengar Bahasa Indonesianya cukup bagus dan mudah dimengerti. Saat anak balita saya, Muhammad Fachrul, rewel dan menangis maka ia menenangkan balita saya dengan Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. 
            Anne Bedos adalah seorang perawat dan juga mendalami bidang zoology. Untuk menjadi warga dunia yang berkualitas maka dia mengadopsi prinsip hidup belajar seumur hidup secara naturalis. Saya pernah duduk bareng dengan Anne Bedos, Louis Deharveng dan Francoise Brouquisse sambil makan buah-buahan tropis- jambu, mangga, duku dan belimbing. Saya melihat Anne Bedos sedang makan jambu air yang baru saja dipetik. Dia memakan jambu tanpa melepas kuping jambu yang sering bersarang semut hitam. Ia membiarkan semut hitam bersarang pada lipatan jambu dan memakannya dan saya sempat berteriak:
Tu mange les fourmis dedans le jambu- Anda memakan semut semut yang bersarang dalam jambu?”
              “Ce naturalement, J’aime a manger les fournis- itu semua sangat alami, tidak masalah biar saya makan semua semut.” Anne Bedos dan dua teman Perancis tadi adalah guru saya secara langsung. Dari mereka saya jadi tahu cara belajar bahasa asing yang lain, seperti bahasa Perancis, melalui strategi berbuat atau learning by doing. Saya belajar bahasa Perancis dengan cara menuliskan semua pengalaman haris menggunakan bahasa Perancis.



Membaca Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
            Craig Pentland, dan saudaranya John Pentland, adalah pemuda Australia yang berjumpa dengan saya secara kebetulan di Payakumbuh tahun 1996. Dan tahun-tahun berikutnya ia (Craig Pentland) sering mengunjungi kami di Sumatra Barat. Ia juga mengadopsi prinsip long life education dalam hidupnya. Kami sering pergi menjelajah bukit, gunung dan lembah di wilayah Batusangkar hingga Payakumbuh dan pernah juga menjelajah ke dalam  sebuah lembah dekat Indarung- Padang.
Dalam ranselnya juga terdapat buku-buku tentang alam dan buku tentang sosial budaya. Sebagai orang Australia ia adalah seorang pembaca yang hebat. Ia mengisi waktu istirahatnya dengan membaca. Saya juga termotivasi dan jadi suka membaca banyak buku sejak itu. Ada kalimatnya yang saya selalu ingat, katanya:
Reading is important for having personal quality, do reading,please  don’t read all the book. See the natural phenomenon and read the book on them.Membaca sangat penting dalam membentuk kualitas diri, lakukanlah banyak membaca, namun jangan baca semua buku, perhatikan fenomena alam dan sesuaikan dengan minat anda”.
Demikian kata teman saya Craig dan saya selalu ingat kalimat ini. Bulan September 2017 kemaren kami bertemu lagi. Dia mengatur untuk berjumpa lagi di Novotel Hotel Bukittinggi. Dia dan istrinya Norjana datang lagi. Craig Pentland sudah menyelesaikan pendidikan Doktoralnya. Saya sempat membaca disertasinya dengan judul “Behavioural ecology of the black-flanked rock-wallaby, Petrogale lateralis (Craig Pentland, 2014)”.
Dalam kunjungan di bulan Oktober 2014, dia membawa buku-buku dan juga sebuah novel terjemahan dari Bahasa Indonesia. Ia membaca novel (buku) yang berjudul “the Rainbow Troop (Andrea Hirata,2013) atau Laskar Pelangi”. Dalam kunjungan ke Batusangkar, Sumatra Barat, adalah buat berlibur, namun ia selalu membawa beberapa buku untuk dibaca selama libur.
Jadi membaca buku bukan merupakan beban belajar buatnya, namun sudah menjadi kebutuhan primer ibarat kebutuhan makan, minum, pakaian dan perumahan. Sebetulnya membaca memang sebuah makanan atau minuman buat memuaskan spiritual dan pikiran yang lapar. Maka bagi orang-orang yang enggan buat membaca berarti mereka telah membiarkan selalu pikiran mereka dalam keadaan lapar.
Saya dan seorang teman, namanya Arjus Putra, seorang guru Bahasa Inggris dari SMAN 3 Batusangkar, setiap semester merancang program “English Home Stay” sebagai ekskul. Ekskul itu berguna untuk menggenjot kemampuan berbahasa Inggris para siswa kami. Beberapa resort yang sering kami pilih buat  Home Stay ini adalah daerah Danau Singkarak, Danau Maninjau, Mifan Padang Panjang, Danau Diateh di Alahan Panjang, Lembah Harau di Payakumbuh hingga pernah ke Pakan Baru, dan juga Resort Mandeh di Painan.
Home Stay kami lakukan dengan menyewa beberapa villa di lokasi wisata dan biasanya kami mengundang juga native speaker sebagai model penggunaan Bahasa Inggris buat siswa kami. Jadinya semua siswa sangat antuasias menggunakan Bahasa Inggris dengan kehadiran para bule tersebut.
Australia, negara tetangga Indonesia, merupakan negara yang menyediakan bantuan pendidikan internasional, termasuk negara kita dalam bentuk program “Australia Volunteering International.” Program ini menyediakan bantuan pembelajaran dan sumber belajar bagi guru-guru. Selain itu juga berbagi pengalaman budaya (Maureen Cane, 2015).
Tahun lalu kami mengundang John Duke dan Alexa, sepasang guru internasional asal Australia. Mereka bekerja sebagai Australian Teacher Volunteer yang kebetulan ditempatkan di kota Padang. John Duke dan Alexa sangat senang bergabung dengan “English out door activity” yang kami selenggarakan pada home stay di objek wisata Lembah Harau dekat Payakumbuh. Untuk ikut memotivasi kemamuan berbicara bahasa Inggris siswa kami mereka merancang “language game”. Tentu saja para siswa beraktivitas dengan antusias dan sangat gembira. Kegiatan home stay selama 3 hari terasa sangat singkat.
Saya memperhatikan bahwa di waktu senggang dan di waktu istirahat, kedua-duanya, John Duke dan Alexa tetap membaca buku sebagai bacaan waktu senggang- leisure time reading. Memang di negara maju ada istilah leisure time reading. Jadinya bahwa membaca adalah budaya mereka dan membaca telah merupakan bagian dari hidup mereka.
Sangat berbeda dengan eksistensi beristirahat antara kami berdua dengan mereka berdua. Kami berdua, juga sebagai guru- mungkin cukup popular untuk kota kecil di Batusangkar. Namun kami beristirahat tanpa memegang buku. Istirahat kami hanya buat tidur atau berkelakar. Istirahat mereka, John Duke dan Alexa, adalah dengan membaca. Pemodelan istirahat kami juga ditiru oleh siswa, istirahat tanpa membaca. Ya istirahat seperti kebanyakan anak-anak Indonesia, yaitu istirahat hanya sebatas tidur, otak-atik gadget/HP, menyumbat telinga dengan head-set untuk mendengar lantunan lagu, atau bergurau.
Terpikir bagi kami bahwa perintah agama yang berbunyi “iqra’ bismirabbikallazi khalaq- bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” entah dimana dan bagaimana kami aplikasikan. Perintah agama ini hanya sebatas  bacaan saja untuk berharap pahala semata, belum lagi untuk diapplikasikan. Sebenarnya perintah agama untuk membaca tidak ditujukan buat John Duke dan Alexa, karena agama mereka bukan Islam. Namun mereka berdua membudayakan membaca sebagai budaya bangsa dan kebutuhan hidup mereka. Banyak membaca membuat kita banyak tahu, banyak tahu berarti indikator kecerdasan dan indikator itu hanya buat mereka.
Selanjutnya, apakah kebiasaan long life education sebagai kebutuhan hidup dalam wujud membaca saat beristirahat- leisure time reading- hanya ada pada budaya hidup orang Australia? Tentu saja tidak. Teman saya, Jerry Drawhorn, dari California- Amerika Serikat juga selalu membaca saat berlibur di Batusangkar dan Bukittinggi. Kemudian Eva, Guini dan Ulla Mo, tiga orang guru senior dari Swedia yang saya jumpai menghabiskan waktu  belasan jam sambil berjemur di pinggir Pulau Samosir, di Danau Toba, Sumatera Utara.
Mereka bertiga adalah tetangga saya di sebuah penginapan Lekjon di Desa Tuktuk- di Pulau Samosir. Mereka akhirnya memutuskan untuk datang ke Batusangkar melalui Bukittinggi. Seminggu setelah itu kami berjumpa di rumah saya di Batusangkar. Kami bertukar pikiran sangat banyak, termasuk tentang konsep long life education di negaranya, Swedia.
Bahwa di Swedia juga ada konsep long life education. Semua warga negara mempunyai reading time di rumah mereka dan selama musim dingin (winter)- 3 bulan setiap tahun, semua orang Swedia menghabiskan waktu buat membaca. Sehingga dalam musim dingin, mereka ibarat kepompong yang sedang membungkus diri buat belajar dan kelak setelah salju mencair, mereka menetas jadi cerdas, ibarat kupu kupu yang memancarkan warna warni dengan bentuk yang cantik.

Otokritik
Saya terkesan bahwa guru-guru dari negara maju juga suka membaca. Mereka terbiasa membaca buku sebagai wujud dari long life education. Membaca buku juga sebagai wujud self learning atau autonomy learning. Dan bagaimana fenomena guru-guru di Indonesia?
Bahwa mayoritas guru-guru di negara kita tidak suka membaca dan alergi membaca buku. Bila para guru belum menjadi model yang baik dalam gerakan literasi membaca, maka tentu akan berdampak pada minat literasi membaca siswa (Mahmood Khalil dan Zaher Accariyal, 2016).
Mereka tidak mengenal konsep long life education. Waktu-waktu istirahat mereka hanya dihabiskan tanpa membaca sehelai kertaspun. Apagi dengan istilah adanya reading time.
Ini merupakan sebuah otokritik. Sebagai guru juga perlu memberi kritik yang membangun buat profesi guru. Ya guru-guru kita kita belum mengadopsi long life education dalam hidup mereka.
Memang ada kebijakan pemerintah agar setiap guru senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan mereka secara mandiri. Itu pun diikuti dengan kegiatan belajar- melanjutkan pendidikan. Mengikuti penataran, workshop, seminar dan pelatihan lainnya. Memang cukup banyak guru kita yang mengikuti seminar, pelatihan, penataran, workshop. Itu hanya sebatas hadir untuk mendapatkan sehelai sertifikat buat dijadikaan portofolio untuk kenaikan pangkat. selesai dari kegiatan tersebut, memang yang diperoleh hanya sehelai kertas- sehelai sertifikat. Namun penambahan ilmu pengetahuan lewat membaca kembali tidak ada.   
Secara keseluruhan bahwa ada yang kurang terwujud dalam sistem pendidikan kita, yaitu kita tidak begitu mempersoalkan ada atau tidaknya budaya membaca. Pada banyak sekolah eksistensi perpustakaan tidak menjadi prioritas utama. Perpustakaan kita belum menjadi tempat yang menarik buat siswa dan guru.
Di zaman teknologi komunikasi dengan keberadaan gadget yang berlimpah, maka memegang gadget untuk mengotak atik permaiman lebih menarik dari pada membaca. Jadinya ada  jutaan anak didik kita buta dengan buku. Mereka tidak tertarik untuk membaca dan sehingga mereka tidak mengenal sosok tokoh-tokoh sejarah yang berguna buat cermin  kehidupan untuk memacu kualitas SDM mereka.
Demikian juga para guru. Ada jutaan guru di Indonesia juga tidak tertarik untuk membaca. Kecuali hanya sebatas membaca buku teks, jadinya jutaan guru hanya menjadi guru kurikulum, atau guru buku teks, yang tugas mereka adalah sebagai “tukang atau worker” untuk memidahkan isi buku teks ke dalam memori para siswa dengan cara yang tidak menarik. Kenapa tidak menarik? Karena mereka diajar oleh para guru yang miskin dengan wawasan sehingga mereka jauh dari keberadaan guru yang menginspirasi.
Untuk itu para siswa membutuhkan kehadiran sosok guru yang inspiratif yang memiliki banyak wawasan. Guru inspiratif adalah guru yang selalu melakukan long life education, senantiasa belajar dan belajar. Guru ispiratif adalah guru yang mengaplikasikan semboyan “iqra’ bismirabikallazi khalak, atau guru yang menerapkan prinsip long life education dalam hidup mereka.

Kini kita merindukan guru-guru, para siswa dan masyarakat yang mengenal dan menerapkan semboyan long life education dan juga long life learning  sebagai prinsip hidup kita semua. Andai ini bisa terwujud maka insyaallah kualitas SDM bangsa ini yang selalu peringkatnya cukup rendah secara global bisa merangkat membaik, pada akhirnya kita akan tumbuh menjadi bangsa yang cerdas, berwibawa dan berkarakter di dunia ini. 

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...