Minggu, 10 Desember 2017

Mengikuti Program Pertukaran Pelajar Ke Luar Negeri



 Mengikuti Program Pertukaran Pelajar Ke Luar Negeri

Terinspirasi Untuk Ikut Pertukaran Pelajar
Mengikuti proram pertukar pelajar ke manca negara adalah program yang banyak diminati oleh pelajar dari seluruh pelosok Indonesia. Beberapa bentuk program tersebut seperti: AFS (American Field Service), Yes (Youth Exchange Studies), dan Jenesys (program ke Jepang) masing-masing untuk satu tahun, namun juga ada program Jenesys untuk dua minggu.
Program ini terbatas untuk beberapa orang saja. Program ini tentu saja cukup bergengsi sehingga peminat yang ingin mengikutinya  harus punya persiapan yang matang agar bisa menang dalam seleksi. Tulisan ini merupakan- Sepenggal Pengalaman Mengikuti Program Pertukaran Pelajar Ke Luar Negeri- tersinspirasi oleh pengalaman Miftahul Khairi (17 tahun), seorang pelajar dari  salah satu SMA di kota Bukittinggi.       
Miftahul Khairi beruntung bisa mengikuti program pertukaran pelajar Yes (Youth Exchange Studies) di Amerika Serikat yang juga disebut dengan negara “Uncle Sam” atau “Paman Sam”. Tentu saja Miftahul (yang biasanya juga dipanggil “Ari”) terlebih dahulu melakukan persiapan yang cukup matang sehingga bisa mengikuti program Program Yes ini dan tinggal serta belajar di Amerika Serikat dengan orangtua angkat selama satu tahun.
Seperti remaja pada umumnya, Ari terlihat sebagai remaja yang rajin tapi kadang-kadang juga suka hangout-nya. Di rumah, dia terbiasa membantu orangtuanya- mengisi bak air, mencuci motor, merapikan rumah, membantu pekerjaan ayah, dll. Dia suka belajar- telah mandiri dalam belajar. Ari punya banyak teman dan juga suka berolahraga. Dia juga suka main game on-line namun tidak sampai ketagihan.
”Apa alasan mengapa kamu tertarik mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika, Ari?”
Ari menjawab bahwa bisa memenangkan persaingan program pertukaran pelajar ke Amerika merupakan sebuah kesempatan yang langka dan sangat berharga. Karena kita akan bisa memperoleh soft-skill kaliber internasional dan keberanian internasional dan kita pun juga akan bisa menjadi seseorang yang bermental internasional. Kita akan bisa bergaul dan bertukar cerita dengan banyak orang selama di sana.
Suatu hari kakak temannya Ari yang baru saja kembali mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri berbagi cerita dengan Ari sehingga rasa ingin tahu dan motivasi Ari juga muncul. Faktor lain yang mendorong Ari ingin mengikuti program ini adalah karena ingin melihat dan merasakan tentang bagaimana budaya orang lain dan juga ingin merasakan pengalaman baru tinggal di Amerika.
Ia memperoleh informasi bahwa peserta yang kemungkinan akan lulus dalam program American Field Service ini mereka yang selain mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris juga memiliki pengalaman leadership dan aktif dalam organisasi. Ia sendiri juga aktif dalam organisasi di sekolah dan organisasi di sekitar rumah- kegiatan bertetangga. Ia harus memiliki banyak wawasan, setiap hari mengikuti berita-berita dan mencatat semua issue berita pada buku catatan khusus.
Kadang-kadang Ari juga pergi ke internet untuk melakukan browsing tentang berita terkini dari seluruh pelosok Indonesia dan dari seantaro dunia- misal tentang global warming, migrasi, perang saudara, kekurangan bahan pangan dunia, tentang proliferasi nuklir, tentang cloning, tentang kematian Michael Jackson, tentang perkawinan kaum homo seks, dan lain-lain. 
Ari melompat hampir setinggi langit, riang gembira karena dinyatakan lulus dalam mengikuti seleksi pertukaran pelajar tersebut. Ia mengatakan bahwa :
Preparation is mother of successfulness”.
Tentu saja persiapan Ari yang lain, selain kemahiran dalam bahasa Inggris, adalah juga dalam hal berdebat, menguasai kesenian dan life skill lain- ia belajar memasak gulai dan rendang Padang.
Ari juga belajar tari Minang, silat Minang, masakan Minang, dan juga membaca buku-buku tetang budaya Indonesia secara keseluruhan karena Ari kelak adalah menjadi duta bangsa di luar negeri. Kebiasaaan berdebat sangat penting dalam membentuk mental yang kuat dan berani, sebab program pertukaran pelajar tidak perlu menjadi anak manis yang serba penurut, patuh tapi susah dalam berkomunikasi.
Ari bebagi cerita bahwa saat itu ada sekitar 600-an peminat program pertukaran pelajar dari seluruh Sumatera Barat dan juga mungkin dari Riau. Yang ia ambil adalah program YES (Youth Exchange Studies) dan yang diambil dari seluruh pelamar hanya 5 orang. Ari termasuk satu dari lima orang yang beruntung. Seleksi program ini meliputi test tertulis, wawancara dalam bahasa Inggris, wawancara non Bahasa Inggris tentang pengetahuan umum, wawasan lain, kepribadian, penilaian individu tentang kerja kelompok atau team-work.

Tip dan Trick Agar Lolos Seleksi
Tip dan trick agar menang dalam seleksi program pertukaran pelajar tersebut adalah “be your self- jadilah dirimu sendiri !!!”. Penilaian dengan skor rendah selama aktifitas team work adalah kalau seseorang memperlihatkan sikap hiperaktif, suka memonopoli, egois dan adanya kesan arrogant atau angkuh. Selanjutnya karakter yang tinggi skor penilaiannya adalah untuk  karakter cooperative, leadership, dan kreatif.
Tipe “be yourself” yang disenangi oleh program pertukaran pelajar. Setiap orang harus menjadi dirinya sendiri untuk semua karakter- ada yang agak pendiam, suka usil, humoris, dll. Yang dinilai tidak hanya cerdas, ramah, cooperative, leadership dan kreatif, tetapi juga harus bersifat “out going, easy going dan humoris”.
“Apa yang kamu rasakan begitu kamu dinyatakan lulus dalam seleksi?”
Kelima peserta yang lulus kemungkinan “feeling between belive or not believe” kalau mereka lulus, kemudian merasa excited dan mulai membuat seribu impian dan sejuta andai, “Kalau…. Kalau….kalau…., saya akan…..”. Mereka juga ingin tahu tentang seperti apa sih USA itu. Pokoknya ada harapan yang begitu tinggi dengan sejuta mimpi. Namun kemudian bercampur dengan emosi kesedihan. Sedih karena harus berpisah dengan keluarga, sedih berpisah dengan teman dan sedih kehilangan waktu- tertunda belajar  di sekolah selama satu tahun.
“Apa persiapan kamu menuju negara Amerika Serikat?”
Selain faktor bahasa dan pengetahuan budaya juga harus menyiapkan logistik. Menyiapkan pakaian yang digunakan seperlunya, buku-buku yang diperlukan , paspor, visa dan souvenir. Sekali lagi karena pertukaran pelajar adalah juga berarti pertukaran budaya, maka peserta juga harus punya persiapan yaitu pengetahuan tentang budaya. Jadinya Ari belajar tari, belajar seruling, belajar gitar dan lagu daerah.
Sebelum keberangkatan ke negara tujuan maka semua peserta yang lolos seleksi dari seluruh Indonesia berkumpul di Jakarrta, tentu saja diantarkan oleh orangtua. Mereka diberi program orientasi- pembekalan untuk mengenal negeri orang dan mengenal negeri sendiri. Mereka memperoleh materi pelajaran CCU atau “Cross Culture Understanding- pemahaman lintas budaya”. Dan setelah itu acara Talent Show- penampilan bakat- yang disuguhkan buat orangtua peserta yang baru saja mengantarkan anak-anak mereka untuk program pertukaran pelajar.
“Bagaimana perasaan kamu saat terbang melintasi samudra pasifik?”
 Peserta program AFS dan Yes tidak terbang melintasi samudra Pasifik. Itulah kondisi pesawat GIA- Garuda Indonesia Airways- saat Ari terbang (beberapa tahun lalu)  belum memperoleh izin untuk mendarat di bandara Eropa, karena diangap kurang memenuhi standard keselamatan dan mungkin karena pesawat sudah agak tua (maaf), maka peserta terbang dengan MAS (Malaysia Airline System) dari Jakarta ke Kuala Lumpur selama dua jam. Dari Kuala Lumpur terbang lama selama 12 jam dengan pesawat menuju Frankfurt. Hari terasa selalu siang selama 12 jam karena pesawat terbang menyonsong matahari. Agar bisa tidur maka pilot menyarankan agar menutup semua jendela pesawat dan sebagian penumpang bisa tidur.
“Oh ya kalau sekarang mungkin sudah ada izin mendaran pesawat Garuda ke Eropa, karena GIA sudah melakukan perbaikan manajemen”.
Peserta pertukaran pemuda transit di Frankfurt. Bandaranya sangat rapi, bersih dan udaranya bearoma harum sehingga setiap pengunjung merasa dimanja. Kemuian peserta terbang dengan pesawat United Airline menuju Washington, DC selama 7 jam melintasi samudra Atlantik. Peserta menjadi too excited karena sudah begitu dekat dengan negara Paman Sam, tetapi bercampur degan emosi kesedihan “ada yang menangis” karena sudah terasa begitu jauh dari tanah air dan dari mama dan papa tercinta.
“Apa kesan kamu melihat orang-orang dalam pesawat terbang moderen?”
Bule-bule dalam pesawat umumnya tampak sibuk dengan diri sendiri, sibuk dengan laptop, sibuk dengan phone cell, sibuk membaca, atau tidur. Sementara orang-orang kita- peserta yang dinyataan menang dan lulus selesi pertukaran pelajar- terlihat sibuk dengan orang lain. Mengurus orang lain, sibuk ngobrol, sibuk tersenyum. Di sinilah beda kepribadian individualitas dan masyarakat sosial. Dalam masyarakat barat atau budaya individu terkesan bahwa “no personal space”.
Akhirnya pesawat United Airline mendarat di bandara Washington DC. Sebelum menyebar maka peserta YES diberi orientasi tentang way of life di USA. Program Yes adalah program scholarship penuh dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang disediakan buat pelajar atau pemuda dari negara muslim. Makanya kegiatan orientasi di Washington juga ada pelajar dari Malaysia, Arab, Mesir, Turki, dan negara-negara muslim lainnya. Program Yes didirikan setelah adanya tragedi peledakan gedung WTC (World Trade Centre) oleh teroris, dan rakyat USA saat ini memendam rasa marah pada masyarakat muslim dunia. Maka untuk mengenal agama Islam dan masyarakat muslim, USA mengundang para pelajar muslim melalui program Yes tersebut.
Semua peserta Yes disebar ke 50 negara bagian Amerika Serikat dan tidak ada pelajar yang sebangsa tinggal bersama dalam satu tempat. Ari ditempatkan di kota Mineappolis, negara bagian Minnessota. Minneapolis adalah juga termasuk kota pelajar, ibarat Yogyakarta. Kota ini termasuk kota menengah dan di sana ada Universitas St. Cloud dan di kota ini Ari tinggal dengan Host Family.
“Apa yang kamu lakukan Ari, pertama kali tinggal dengan host familly?”
Semua peserta pasti melakukan adaptasi. Adaptasi dengan bahasa, budaya, makanan, pendidikan dan bagaimana supaya bisa “fit with new famiy and new culture”. Walaupun peserta sudah yakin memiliki bahasa Inggris yang baik namun kadang kala masih kurang mengerti dengan bahasa Inggris penduduk setempat, karena mereka berbicara cepat dan accent berbeda.
Untuk memahami komunikasi maka peserta mengandalkan (memahami) eye contact dan body laguage. Tentang makanan, masakan Indonesia lebih mengutamakan taste and flavour, sementara masakan Amerika lebih mengutamakan nilai gizi, walau sering kurang pas menurut lidah orang Indonesia.
“bagaimana pengalaman kamu tentang sekolah di sana?”
Sistem sekolah di sana juga berbeda dengan Indonesia. Di sana pelajar choose own class dan untuk tingkat SMA mereka tidak memakai seragam, tetapi free clothes. Dalam kelas terdapat banyak tempelan-tempelan yang memberi info kepada siswa/pelajar. Kertas yang ditempel selalu di-update, tidak dibiarkan terpajang selama berbulan-bulan, apa lagi tempelan selama bertahun-tahun.
Pendidikan di sekolah kita “guru-guru terlalu banyak ngomong”, namun di USA gaya pembelajaran bersifat memberi “explanation, practicing, dan pemahaman concept”. Maka pembelajaran di Amerika bercirikan banyak simulasi, game dan pemberian reward pada siswa seperi permen dan coklat- walau materi berharga kecil namun barnilai besar. Di Indonesia materi pembelajaran terlalu padat dan siswa disuguhi dan harus menghafal banyak materi. Namun tugas-tugas sekolah di sana juga banyak.

Perbedaan Pengalaman Belajar
Ari secara langsung melihat dan merasakan pebedaan pembelajaran di sana dengan di kampungnya sendiri (di Sumatera Barat). Di kelas Amerika, guru-guru memajang nilai yang diperoleh siswa dan selalu mengupdatenya, tiap kali ada penilaian. Suasana pembelajaran kadang-kadang juga lewat menonton dan membahasnya, misalnya dalam kelas politik (atau KWN- kewarga negaraan). Dalam pembelajaran ini ada kalanya juga dengan bermain peran, ada yang berperan sebagai presiden, anggota parlemen, sebagai pengacara, sebagai narapidana, dll.
Pelajaran seni di Indonesia lebih sudah berciri “praktek”. Di Amerika malah lebih banyak praktek, misal ada kelas memahat, kelas menjahit, kelas membuat keramik, dll.
Ada kesan dari kebisaaan pelajar di Indonesia, kalau pulang sekolah merea buru-buru pergi les, les matematik, les bahasa Inggris, kimia, fisika dan les komputer. Namun para pelajar Amerika tidak demikian, pulang sekolah cenderung pergi berolah raga- mengikuti team basket, team bola kaki, atletik. Makanya tubuh pelajar di sana terbentuk lebih sehat dan kuat. Penduduk di sana sangat mencintai kegiatan olah raga. Oleh karena itu mereka terkesan berani dan agresif (maksudnya-sangat aktif)  dalam bekerja dan bersosial. Inilah dampak positif dari kebisaaan berolah raga bagi masyarakat Amerika.
Kemudian masih dalam hal olah raga,  bahwa di sana selalu ada kompetisi antara sekolah. Tingginya semangat berolah raga dalam sekolah dan dalam masyarakat membuat self-believe, life skill, team work, hard work, dan self determination mereka sangat tinggi dan sudah menjadi karakter mereka. Di USA, orang tidak melihat status atau “kamu anak siapa(?)”.
Bahwa semua orang sama-sama punya kesempatan untuk maju. Seorang guru tidak membandingkan latar belakang siswanya apakah dari orangtua miskin, kaya, kulit putih, kulit berwarna, katolik atau non katolik dalam peniaian dan dalam pelayanan (tentu ini juga bergantung pada karakter seseorang).
Umumnya siswa di sana memiliki “self determination” menentukan sikap untuk masa depan mereka, makanya pelajar di sana sudah membayangkan apa yang akan mereka kerjakan kelak bila sudah dewasa. Kalau mereka tidak memiliki self determination- menentukan arah diri sendiri, maka itu berarti mereka “gagal dalam hidup”.
“Di negeri kita anak yang dipandang baik adalah sweet-kid (anak manis) yaitu patuh, menjadi pendengar yang baik, penurut dan rajin”. Di negara Amerika Serikat, jarang sekali orang dengan karakter “sweet kid”anak yang patuh dan penurut. Semua orang berkarakter “assertive-  yaitu: say what you feel” dan tidak ada istilah bahasa yang berbelit-belit atau berbasa basi. Tentang hal ini antara Indonesia dan Amerika tentu berlaku istilah  different fish different pond- lain lubuk lain ikannya”. Jadi pola berkomunikasi di Amerika adalah berkarakter clear, direct communication dan tidak berbelit-belit”.
“Bagaimana tentang appellation atau panggilan?”
Ari cukup memanggil nama saja untuk host family (orangtua angkat) dan pada gurunya. Bagi mereka ini menandakan closeness- kedekatan. Sementara di Sumatera Barat “Panggilan” disesuaikan dengan empat tingkat kata: kata mendaki, kata menurun, kata mendatar, dan kata melereng. Ada yang panggil adik, uni, uda, ibu, etek, sumando, menantu, dan lain-lain”.
Keluarga Amerika menerapkan berbagi kerja dalam mengurus tugas rumah. Walaupun di sana sudah serba mesin. Dan hukuman buat pelanggaran yang dilakukan oleh seorang anak yang diterapkan oleh host family atau orang-orang lain adalah “grounded punishment”. Misalnya seorang anak melanggar peraturan rumah maka selama seminggu  Phone Cellnya, Lap topnya, MP 3 nya disita, fasilitas buat dia dicabut, dan tidak boleh keluar rumah sehingga mendatangkan efek rasa bosan dan akhirnya menjadi jera.
Sementara hukum spangking “melampang (dalam bahasa Minang)” atau menampar pantat anak tidak ada lagi. Apalagi hukuman fisik sampai menempeleng kepala, mencambuk kaki anak, menjewer telinga dan hukuman fisik lain.  sudah lama ditinggalkan karena bisa dipandang bertetangan dengan hak azazi manusia. Pelaksanaan hukum tergantung pada karakter pribadi, karena juga ada orangtua yang menganiaya dan sampai menelantarkan anak mereka.

Lain Indonesia, Lain Amerika
“Bagaimana teman-teman mu di Sekolah Amerika dalam memandang negerimu- Indonesia?”
Ternyata banyak pelajar di sana yang buta dengan informasi budaya dan informasi geografi tentang negara lain, termasuk tentang Indonesia. Mereka masih memandang Indonesia sebagai negara yang jauh tertinggal atau primitive, sehingga muncul pertanyaan yang lucu-lucu.
“Apa kamu pernah makan daging orang utan…? Apa kamu tinggal dalam goa atau di atas pohon kayu besar?”
Orang di negara Paman Sam yang sudah tahu tentang geografi internasional, memandang Indonesia sebagai negara yang indah apalagi orang di sana menyukai derah tropis, menyukai warna kulit yang terbakar matahari sebagai “sun tanned skin” sebagai lambang kulit yang sehat makanya orang di sana gemar berjemur saat musim panas. Orang di sana juga menyukai budaya Indonesia seperti tari dan kreasi seni, karena di sana tidak ada tari atau seni seperti yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mereka juga memandang orang Indonesia sebagai bangsa yang hospitality- ramah tamah.
Host family memandang Ari sebagai remaja yang riang, lucu, dan smart. Di sekolah Ari sangat jago dengan pelajaran matematika dan umumnya anak-anak Asia jago di sekolah. Ternyata pelajaran Indonesia lebih tinggi- Ari sering kali tampil ke depan dalam mata pelajaran matematika, namun kita hanya kaya dengan hafalan dan mereka kaya dengan praktek. Jadinya di Indonesia, banyak yang memperoleh juara olimpiade, kalau mereka hanya sebatas juara karena hafal konsep dan teori namun tidak punya soft-skill, pengalaman dan keberanian maka akhirnya mereka selalu stagnant atau jalan di tempat.
Di mata mereka bahwa Ari adalah anak yang suka membantu, suka memotret-motret, hospitality dan smart. Walau Bahasa Inggris Ari terasa sudah bagus tetapi di telinga mereka bahasa Inggrisnya terkesan lucu dan enak untuk didengar, ibarat kita mendengar mereka berbahasa Indonesia dengan aksen yang cadel.
Suasana kehidupan sosial di daerah perkotaan terasa sangat individu, mungkin sama juga dengan kondisi di kota besar Indonesia. Namun di country side- di pedesaan agak sama dengan di desa Indonesia- juga ada suasana bersosial yang tinggi.
“Bagaimana dengan pola bersahabat atau berteman di sana?”
Beda tentang berteman, kalau di Indonesia seorang remaja mengenal “a lot of close friend”, namun di sana remaja mengenal “few close friends”. Di mata mereka bahwa keramah tamahan itu hanya  sebatas  memperlihatkan kebaikan saja. Di sana remaja aktif  mencari teman yag memiliki minat yang sama, misal dalam bidang olah raga dan musik. .     
“Bagaimana tentang hubungan orangtua dan anak di Amrik?”
 Hubungan orangtua dan anak di sana, ya sama dengan kondisi keluarga demokrasi di Indonesia. Mereka memberi anak “freedom to choose” tetapi tetap selalu ada nasehat-nasehat. Anak-anak di sana diajar untuk mandiri dan banyak remaja melakukan kerja “part time”- kerja paroh waktu di swalayan, street construction, di restorant fast food.
‘Tentang UMR?”
UMR (Upah Minimum Regional) di negara kita hitungannya adalah per-bulan, sementara di sana per-jam. UMR-nya adalah 7.25 Dollar Amerika atau setara dengan Rp. 82.000. Namun mereka dibatasi kerja perminggu oleh undang-undang. Untuk memperoleh kerja part time, mereka harus menulis resume atau lamaran. Hasil pendapatan part time mereka tabung untuk kepentingan berlibur, jalan-jalan ke luar negeri, untuk beli mobil, untuk membantu uang kuliah dan membeli barang yang mereka butuhkan. Part time diberikan untuk remaja minimal usia 16 tahun.
“Setelah kamu berada di Amerika, bagaimana kamu melihat Indonesia dari arah luar seperti dari Amerika Serika?”.
 Ari merasa bangga sebagai bangsa Indonesia karena alamnya cantik apalagi Ari juga dipandang oleh orang sana termasuk remaja yang creative, dan kulitnya dianggap bagus. Apalagi ada persaan emosional, bangga atas nilai kebersamaan yang ada di Indonesia, kemudian Indonesia juga sangat kaya dengan ragam budaya dan seni.
Orang Amerika kagum dengan anak-anak Indonesia karena kecil-kecil sudah mahir berbahasa Inggris, mereka saja hanya bisa berbahasa Inggris (bahasa Ibu) dan mempelajari bahasa asing seperti bahasa Perancis, bahasa Spanyol dan bahasa Jerman hanya saat duduk di bangku SMA saja. Tentang jurusan favorit di universitas ya sama fenomenanya dengan di Indonesia, mereka menyukai jurusan ekonomi, jurusan kedokteran, bisnis, hukum dan tekhnik atau engineering.
Mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri, walau kehilangnan waktu belajar selama satu tahun, namun di sana Ari juga belajar di SMA Amerika dan juga memperoleh ijazah atau sertifikat tanda tamat belajar yang nilainya sama dengan diploma satu untuk Indonesia, dengan diploma tersebut Ari pun bisa melamar kuliah di jurusan yag menggunakan bahasa Inggris di universitas Indonesia. Saat sebelum mengikuti pertukaran pelajar, Ari terlihat sebagai anak yang manis- baik dan patuh. Namun setelah mengikuti program pertukaran pelajar selama setahun, rasa nasionalismenya bertambah, semangat bekerja dan belajar lebih progresif seperti anak anak di Amerika dan kemandirian dan self determination Ari juga lebih meningkat.  

Banyak Yang Pintar, Sedikit Yang Kreatif



Banyak Yang Pintar, Sedikit Yang Kreatif

Mengapa Orang Barat Kreatif ?
            Dalam dunia sastra, bahwa cerita-cerita klasik yang datang dari dunia Barat. Cerita-cerita klasik tersebut telah mengglobal sejak dahulu kala. Kita mengenal cerita Pinokio, Cinderella, The Swan, The beast and the beautiful, dan malah dalam zaman sekarang ada cerita Harry Porter yang juga ditulis oleh JK. Rowling yang lahir di Barat yaitu di Yate, Gloucestershire Utara, Inggris. Sementara untuk bidang cyber atau internet dengan fiturnya seperti Google, Yahoo, Gmail, Blogspot, hingga ke media sosial (medsos) seperti BBM, Facebook, Twitter dan Instagram juga diciptakan oleh orang Barat dan oleh orang-orang  Asia yang besar dan didik di Barat- di Eropa dan Amerika.
Dengan demikian terasa adanya suatu fenomena bahwa “orang Barat lebih kreatif dari orang Asia dan termasuk orang Indonesia”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini telah dijawab oleh William K. Lim (2010) dan Ng Aik Kwang (2001).
William K. Lim (2010) dalam bukunya  yang berjudul "Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity- Budaya Ujian Cara Orang Asia, Hanya Berdasarkan Skor Menghancurkan Kreatifitas". Dia menjelaskan bahwa meskipun sejak bertahun-tahun, orang Asia didaulat akan menjadi pendorong dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi. Dalam kenyataannya malah Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara).
“Ada apa kalau pendidikan hanya berorientasi pada skor-tes?”
Menurutnya bahwa akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil. 
Di Asia, para pelajar dan juga manajemen sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya- misalnya bagaimana sekolah bisa memperoleh peringkat skor UN (Ujian Nasional) yang tertinggi. Banyak yang beranggapan bahwa pelajar yang mampu meraih skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes.
Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak.
Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di Asia karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu. 
Akibat iklim pendidikan hanya berorientasi skor-tes, para orangtua lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah atau bimbel (bimbingan belajar)  sejak usia dini. Akibat waktu sekolah yang panjang dan beban PR yang berat, para pelajar hanya terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar.
“Padahal keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah”.
Ng Aik Kwang (2001) menulis tulisan ilmiah yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”, Dia adalah seorang dosen dari Universitas Queensland juga seorang Australia keturunan Asia (atau China). Dia merasakan langsung fenomena ini. Renungan dan fenomena ini dipaparkanya kedalam opininya- essaynya:
"Why Asians Are Less Creative Than Westerners- Mengapa orang Asia kurang kreatif dari orang Barat".
Pada mulanya tulisan dosen ini dipandang cukup kontroversial, karena bersifat sentimentil rasial. Namun akhirnya opininya cukup objektif dan  membuka mata dan pikiran para stakeholder pendidikan di kampusnya- Universitas Queesland- Australia.
            Sebagai dosen dan Professor yang memiliki kepekaan intelektual, ia menemukan fenomena ini pada mahasiswa dan keluarga besar Universitas Queensland yang bersifat multi kultur dan multi bangsa, namun mereka semua dikelompokan atas “the Asians and the Westerners -orang Asia dan orang Barat”. Tentu saja ia memahami proses kreativitas orang Eropa, Amerika (sebagai Orang Barat) dan orang-orang Asia. Jadinya kreativitas sebagaimana yang diobservasi oleh Ng Aik Kwang (2001) lebih tumbuh pada orang Barat. Ini terjadi karena titik pandang dan juga akibat metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang jarang menumbuhkan kebiasan bereksplorasi atau bertanya jawab.
“Bagaimana ukuran sukses bagi orang kita?”
Karena beda titik pandang atau budaya, misal untuk sukses, orang kita (juga sebagian orang Asia) menganggap yang sukses itu kalau punya banyak materi. Punya rumah bagus, mobil mewah, uang banyak dan harta lain. Jadi orang yang bisa menjadi dokter spesialis atau manajer pada perusahaan minyak dipandang lebih sukses dibanding dengan seorang ulama, jurnalis, wartawan dan pelayan publik (PNS), yang melalui karir mereka tidak bisa mengumpulkan banyak materi. Sehingga sekarang orang berbuat/ beraktivitas, bersekolah dan termasuk menuntut ilmu pada perguruan tinggi dengan tujuan materialism oriented.
Bagi orang Asia dan juga termasuk orang kita bahwa banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai  dibandingkan orang yang memiliki sedikit materi. Guru yang memilki mobil lebih terpandang dari pada guru yang hanya datang berjalan kaki. Begitu juga seorang Ustad atau seorang motivator yang datang hanya dengan sepeda motor butut bisa jadi dibayar lebih rendah dari pada yang datang dengan mobil sedan.
“Pada hal mereka yang hanya datang berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor butut bisa jadi lebih berkualitas. Dengan demikian orang kita lebih peduli pada bentuk casing atau kulit luar saja”.
Perilaku sebagian masyarakat kita yang lebih menghormati materi dan kekayaan bersifat benda duniawi ini juga terpantau dari kegemaran banyak orang yang menyukai  ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir atau diterima sebagai sesuatu yang wajar.
“Apa pembelajaran kita terbiasa dengan budaya menghafal?”
Ya benar. Dalam pembelajaran, kita terbiasa dengan budaya menghafal. Pendidikan kita identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, dan juga tes masuk perguruan tinggi, dll, semuanya berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal dengan rumus- rumus Ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
Sebuah cara pandang yang berbeda, misalnya untuk mata pelajaran sejarah. Banyak siswa yang menganggap sejarah sebagai mata pelajaran yang mudah. Karena ujian sejarah hanya sebatas menghafal dan mencari jawaban antara A, B, C, D atau E. Sementara seorang siswa dari Jerman, yang mengikuti pertukaran pelajar Indonesia dan Jerman untuk wilayah kota Padang yang bernama Lewin Gastrich, mengatakan pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran yang sangat sulit. Karena ia harus mampu menyampaikan sebab akibat peristiwa sejarah dan dampaknya di depan guru sejarahnya.
Ya betul bahwa metode belajar siswa kita, malah hingga mahasiswa adalah bersifat hafalan. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia termasuk pelajar Indonesia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi jarang sekali orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis invention (penemuan), inovasi dan kreativitas.
Penyebab lain adalah sifat eksploratif atau penjelajah yang masih kurang. Kalau ada eksplorasi, banyak siswa hanya sebatas senang menjelajah atau melintasi alam atau mendaki gunung. Eksplorasi yang dimaksud adalah pencarian buat menjawab rasa ingin tahu. Ya sifat eksploratif sebagai  upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko.

Rasa Ingintahu Mendorong Kreativitas
Adi Jaderock melalui Forum Orisinil (http://forum.orisinil.com/) menggagas dialog online tentang: “Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dibandingkan dengan bangsa Barat?”
Respondennya menjelaskan tentang rasa ingin tahu dan eksplorasinya bagi ilmuwan Barat telah menyebabkan munculnya temuan- temuan baru. Misalnya rasa ingin tahu yang muncul dari pikiran Newton, Edwin land, Wright bersaudara, Johan Gutenberg, Ray Tomlinson, Graham Bell, Martin Cooper, Mark Zuckerberg, dan ilmuwan lainnya. Jadi rasa ingin tahu adalah sebagai pemicu kreativitas. Seperti apa proses kreatif para inovator tersebut. Agaknya beginilah profil sekilas tentang usaha inovasi mereka:
a). Issac Newton
Issac Newton- seorang matematikawan, fisikawan, ahli astronomi yang juga penemu dari teori gravitasi. Ia terlahir prematur, kurang cukup bulan, dari keluarga petani. Ketika Isaac Newton sedang berjalan di taman, di bawah pohon apel dan melihat jatuhnya sebuah apel yang menginspirasinya dan bertanya dalam hatinya... mengapa buah apel ini bisa jatuhnya ke bawah dan bukan ke atas...? Padahal Newton sendiri mengatakan bahwa ia sedang di dalam rumah ketika ia melihat dari jendela sebuah apel jatuh dari pohonnya, ini menginspirasinya untuk menemukan teori gravitasi, kemudian munculah Hukum Gravitasi (Hatch Robert A, 1998).
b). Edwin Herbert Land
Edwin Land - seorang tokoh dalam sejarah fotografi industri. Pada masa mudanya, Edwin Land sering membaca buku mengenai Fisika Optik yang ditulis oleh Robert W. Wood, terutama bagian mengenai polarisasi cahaya. Setelah lulus dari Norwich Free Academy, Land melanjutkan studinya di Universitas Harvard dengan niat untuk meneliti tentang polarisasi cahaya. Setelah tahun pertama belajar di Harvard, Land memutuskan untuk berhenti sekolah dan berkonsentrasi untuk menemukan cara menghasilkan teknologi polarisasi murah dan efisien yang di kemudian hari disebut sebagai Polaroid. Sejak itu, ia meneruskan belajar di Perpustakaan Umum New York.
Penemuan Polaroid diilhami dari pertanyaan Jennifer Land, anak Edwin Land yang saat itu berusia tiga tahun. Dia menanyakan kepada ayahnya mengapa tidak dapat melihat hasil foto jepretan ayahnya secara langsung. Edwin juga bertanya dalam hatinya, Mengapa hasil foto harus menunggu berhari-hari untuk di cetak..? Dia menggunakan prinsip transfer difusi untuk menghasilkan kembali gambar yang direkam oleh lensa kamera secara langsung ke permukaan sensitif cahaya yang berfungsi sebagai film atau foto- maka terciptalah foto langsung jadi Polaroid (Victor Mc Elheny, 1999).
c). Wright Bersaudara.
Wright bersaudara yang terdiri dari dua orang adik beradik, Orville Wright dan Wilbur Wright. Kedua kakak beradik itu pada awalnya mengelola sebuah toko di Dayton, Ohio. Toko tersebut menjual dan memperbaiki sepeda motor. Wright bersaudara tentu saja bertanya-tanya dalam hatinya mengapa burung bisa terbang dan manusia tidak? Jadinya kemudian mereka mulai mempelajari masalah penerbangan pada tahun 1889.
Kemudian mereka mulai membuat tiga pesawat terbang layang bersayap kembar. Ketiganya dites di pantai Kitty Hawk di Carolina Utara. Pesawat yang ketiga telah diujinya sebanyak 1000 kali penerbangan dan ternyata berhasil dengan sukses. Kemudian mereka membuat mesin motor ringan. Mesin tersebut di pasang di pesawatnya yang keempat, yang dinamakannya Wright Flyer, jadinya maka terciptalah pesawat udara (Tejvan Pettingen, 2010).
d). Johan Gutenberg
Johann Gutenberg dianggap penemu mesin cetak yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Tak ada penemuan yang terlompat dari pemikiran seseorang. Segel dan bulatan segel yang pengerjaannya menganut prinsip serupa dengan cetak blok sudah dikenal di Cina berabad-abad sebelum Gutenberg lahir.
Waktu muda ia tentu sempat bertanya dalam hatinya mengapa kita harus menulis ulang naskah-naskah sebanyak ini. Dia mengembangkan metal logam campuran untuk huruf cetak; menuangkan cairan logam- maka terciptalah Mesin Cetak. Betapa penemuan Gutenberg amat berarti bahkan bisa disebut suatu penemuan penting dalam kaitan penarikan pelatuk revolusi kemajuan jaman modern (Kay Melchisedech Olson, 2006).
e). Ray Tomlinson
Raymond Samuel Tomlinson atau Ray Tomlinson dikenal sebagai Penemu dari Email atau Elektronik Mail. Agaknya ia sempat bertanya-tanya dalam hati mengapa surat harus dikirim via post dan penerimanya menunggu berhari-hari? Ray Tomlinson pernah kuliah di Politeknik, kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Master di Massachusetts Institute of Technology dalam bidang teknik elektro.
Tomlinson mengembangkan teknologi analog-digital hybrid speech synthesizer yang dijadikan sebagai subyek untuk tesis. Ray Tomlinson menulis sebuah program transfer file yang disebut CPYNET untuk mentransfer file melalui ARPANET. Ray Tomlinson diminta untuk mengubah sebuah program yang disebut SNDMSG, yang mengirim pesan ke pengguna lain dari komputer time-sharing, untuk dapat dijalankan pada TENEX. Dia menambahkan kode yang ia ambil dari CPYNET ke SNDMSG sehingga pesan dapat dikirim ke pengguna pada komputer lain- maka terciptalah email (Jesse Hicks, 2012).
f). Graham Bell
Alexander Graham Bell dikenal sebagai penemu telepon. Dia pernah mengajar orang yang bisu dan tuli, mempopulerkan system yang disebut 'bahasa visual'. System yang dikembangkan oleh ayahnya, Alexander Melville Bell, yang menunjukkan bagaimana bibir, lidah, dan tenggorokan digunakan dalam menggambarkan suara. Graham Bell agaknya pernah bertanya-tanya dalam hati bagaimana ya agar orang dapat bicara meskipun terpisah jarak?
Pada masa kanak-kanaknya, dia telah memperlihatkan rasa ingin tahu yang sangat besar pada dunia ini, yang menyebabkan dia sering mengumpulkan contoh-contoh tumbuhan. Bersama teman baiknya yang memiliki penggilingan gandum yang juga merupakan tetangganya, dia sering membuat keributan, dan suatu hari ayah temannya berkata, "Mengapa kalian tidak membuat sesuatu yang lebih berguna?”
Sejak usia 18 tahun, Bell telah meneliti gagasan bagaimana mengirimkan dan mentransfer perkataan. Tahun 1874 saat dia mengerjakan telegraph, dia mengembangkan gagasan dasar yang baru bagi telephone- ya maka terciptalah telepon (Harold S. Osborne, 1943).
g). Martin Cooper
Martin Cooper dialah sang penemu handphone atau telepon genggam pertama. Dia sendiri tidak membayangkan bahwa telepon selular bisa sekecil sekarang ini sehingga dapat dibawa kemana saja sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan di zaman nirkabel sekarang ini. Martin juga sempat bertanya-tanya dalam hatinya mengapa telepon harus pakai kabel?
Martin Cooper dibesarkan di Chicago adalah imigran Ukraina. Ketika masih muda ia menyukai rekayasa elektronika. Cooper (bersama temannya John F. Mitchell) membayangkan sebuah produk komunikasi yang tidak hanya terpaku di dalam mobil. Sehingga alat tersebut haruslah kecil dan cukup ringan untuk menjadi alat portabel- bukan alat yang bikir repot saja. Cooper dianggap sebagai penemu pertama telepon genggam seluler (handphone)- maka terciptalah Handphone yang pertama dan orang pertama yang melakukan panggilan dengan prototipe ponsel genggam seluler tersebut pada 3 April 1973. Kejadian yang bersejarah tersebut disaksikan di muka umum di depan wartawan dan orang orang yang lewat di jalan kota New York (Sean Maloney, 2008).
h). Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg adalah penemu FaceBook. Umurnya masih muda namun ia dikenal sebagai pemuda terkaya di dunia berkat Facebook. Sejak kecil Zuckerberg suka mengu­tak-atik komputer, mencoba berbagai program komputer dan belajar membuatnya. Ia tentu sempat bertanya-tanya dalam hatinya Bagaimana ya supaya kita bisa saling berbagi pencerahan dan kebaikan bagi sesama tanpa harus beranjak dari depan meja kerja kita?
Bagaimana cikal bakal ia menemukan FaceBook? Saat berada di Universitas Harvard inilah Zuckerberg menemukan ide membuat buku direktori mahasiswa online karena universitasnya tak membagikan facebook (buku mahasiswa yang memuat foto dan identitas mahasiswa di universitas itu) pada mahasiswa baru sebagai ajang pertemanan di antara mereka. Namun setiap kali ia menawarkan diri membuat direktori itu, Harvard menolaknya. "Mereka mengatakan punya alasan untuk tidak mengumpulkan informasi (mahasiswa) ini”.
Meski ditolak ia selalu mencari cara untuk mewujudkannya. Suatu malam di tahun kedua ia kuliah di Harvard, Zuckerberg menyabot data mahasiswa Harvard dan memasukkannya ke dalam website yang ia buat bernama Facemash. Sejumlah foto rekan mahasiswanya terpampang di situ. Tak lupa ia membubuhkan kalimat yang meminta pengun­jungnya menentukan mana dari foto-foto tersebut yang paling "hot".
Pancingannya mengena. Dalam tempo empat jam sejak ia meluncurkan webiste itu tercatat 450 orang mengunjungi Facemash dan sebanyak 22.000 foto mereka buka. Pihak Harvard mengetahuinya dan sambungan internet pun diputus. Zuckerberg diperkarakan karena dianggap mencuri data. Anak muda berambut keriting ini pun meminta maaf kepada rekan-rekan yang fotonya masuk di Facemash
Ia tidak patah semangat dan ia malah membuat website baru dengan nama Facebook (www.thefacebook.com). Website ini ia luncurkan pada Februari 2004. Facebook merupakan penyempurnaan dari Facemash- maka terciptalah FaceBook yang sangat digandrungi di Indonesia dan di seluruh dunia (Lev Grossman, 2010).

Eksplorasi Untuk Mendorong Kreativitas
Pertanyaannya kita adalah: “Mengapa para penemu fitur atau produk teknologi ini semua berasal dari Barat dan bukan dari Padang, Medan, Jakarta, atau daerah Indonesia lainnya?”. Salah satu alasan terbesarnya adalah karena selama ini banyak anak-anak Indonesia yang dilatih untuk pandai menjawab soal-soal ujian yang sudah ada jawabannya dalam buku dan bukan dilatih untuk pandai bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam hatinya sendiri untuk memecahkan masalah-masalah dunia lainnya.
Kemudian konsep memahami ilmu kita cenderung sempit. Untuk tingkat SMA yang dianggap sains itu adalah “kimia, biologi dan fisika”. Maka seorang siswa jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) hanya membatasi diri dalam memahami dan mendalami bidang studi tadi. Sebaliknya buat jurusan sosial adalah “akutansi, ekonomi dan sosiologi” dan siswa jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) hanya membatasi diri buat mempelajari mata pelajaran IPS saja. Lebih meluas, bahwa, mahasiswa kedokteran hanya mendalami kedokteran dan tidak begitu peduli untuk bidang yang lain, demikian pula sebaliknya untuk mahasiswa jurusan lain.
Pada hal ilmuwan besar dunia tidak seperti itu. Mereka memahami ilmu sain, ilmu sosial, ilmu agama, filsafat dan ilmu yang mereka anggap juga bermanfaat buat dirinya. Seperti Ibnu Sina dan Ibnu Arabi mendalami berbagai bidang ilmu. Ibnu Sina fasih berbahasa Arab dan Persia, ia mendalami filsafat, agama atau teologi, matematika, astronomi, kedokteran, psikologi dan puisi. Sehingga ia mampu menulis 99 buku. Ibnu Arabi sendiri menguasai ilmu politik, teologi atau agama, filsafat dan agama.
Untuk ilmuwan dari barat juga demikian. Frank Loyd, seorang arsitektur Amerika Serikat memiliki ilmu yang luas. Ia seorang arsitek, seorang penulis dan juga seorang pendidik. Begitu pula dengan Benjamin Franklin, ia memahami matematika, politik, diplomasi atau bahasa dan fisika. Jadi ilmu yang luaslah yang membuat mereka jadi kreatif pada konsep berpikir. 
Saya jadi memahami semangat eksplorasi secara langsung dari teman saya orang Perancis, mereka adalah Louis Deharveng, Anne Bedos dan Francois Brouquisse. Mereka datang berulang-ulang datang ke Kabupaten Tanah Datar (Batusangkar) dan kami bareng-bareng menjelajah goa-goa (dalam group speleologie) untuk mencari  serangga baru yang belum teridentifikasi di sana (Louis Deharveng, 2005). Atau eksplorasi yang dilakukan oleh Jerry Drawhorm, antroplog dari Universitas California, untuk menemui fosil-fosil kecil sesuai dengan tulisan yang dia baca.
Eksplorasi juga bisa mendorong kreativitas. Eksplorasi juga bisa terbentuk dalam kelas, untuk penemuan pemahaman konsep dan menjawab rasa ingin tahu (curiousity) namun sayangnya PBM kita miskin dengan suasana tanya jawab. Saat diberikan sesi tanya jawab, cukup banyak siswa yang tidak tahu apa yang ditanyakan dan juga tidak mau bertanya. Mungkin mereka punya prinsip bahwa bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran (rasa ingin tahu) tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.
Juga karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru atau narasumber untuk minta penjelasan tambahan. Ng Aik Kwang (2001) menawarkan beberapa solusi untuk pengalaman pendidikan untuk membentuk remaja yang lebih kreatif, yakni sebagai berikut: 
1). Hargai proses pembelajaran. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2). Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban, imbangi dengan ujian berbasis essay dan penalaran. Jangan memaksa murid untuk menguasai semua bidang studi namun biarkan mereka memahami bidang studi yang paling disukainya.
3). Jangan menjejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika dan sains yang punya rumus. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban rumus untuk “X :  Y” harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar mereka kuasai.
4). Biarkan anak/ siswa memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang
lebih cepat menghasilkan uang.
5). Dasar kreativitas adalah adanya rasa penasaran atau rasa ingin tahu (curiosity) dan berani ambil resiko. Maka mari aktifkan anak/ siswa untuk banyak bertanya dan jangan pernah bosan untuk memberi jawaban yang bisa melepaskan dahaga ingin tahu mereka. Kalau tidak bisa menjawab maka cari sumbernya bersama- sama.
6). Guru dan dosen adalah seorang fasilitator, bukan kotak Pandora yang harus tahu segala jawabannya. Maka kalau guru dan dosen tidak tahu ya akui tentang ketidak tahuan tersebut.
7). Passion atau rasa cinta seorang manusia adalah anugerah Tuhan. Maka sebagai orangtua dan guru/dosen kita perlu punya rasa bertanggung-jawab untuk mengarahkan mereka dalam menemukan passionnya dan selalu memberi mereka dukungan.
Mudah- mudahan dengan cara begini dunia pendidikan kita bisa memiliki remaja, yaitu siswa dan mahasiswa- yang kreatif dan innovatif. Berharap kelak bila mereka dewasa akan juga mewariskan semangat bereksplorasi dan berinovasi, memiliki integritas dan idealisme tinggi buat generasi berikutnya. Dengan demikian mereka akan mampu membangkitkan peradaban yang berkualitas buat republik ini.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture