Selasa, 11 Oktober 2016

Sebuah Urgensi: Program Literasi Menjadi Prioritas Utama di Sekolah



Sebuah Urgensi: Program Literasi Menjadi Prioritas Utama di Sekolah
Oleh: Marjohan, M.Pd
(SMA Negeri 3 Batusangkar)

            Kata “literasi atau literacy” termasuk kosata low -frequency- yang jarang disebut paling kurang dalam kehidupan saya (sekarang sudah menjadi high frequency- sering disebut). Saat masih muda dan menutut ilmu di IKIP Padang (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) yang sekarang berubah nama menjadi UNP (Universitas Negeri Padang) saya dan mungkin juga sebahagian orang- kurang mengenal kata literasi. Sehingga jadilah kebanyakan  mahasiswa yang di kos-kosan menghabiskan waktu dengan kurang efektif. Mereka datang jauh- jauh dari kampung hanya sekedar belajar sebagaimana cara mereka belajar di bangku SLTA dulu.
            Hingga mencapai usia yang lebih dari separoh baya ini, saya masih belum mengenal istilah kata “literacy”. Dua tahun yang lalu- saya mendapat kesempatan ikut dalam program benchmarking  program, dan saya menemui sebuah ruang di “Norwood Secondary College”- sejenis SMA di daerah Norwood- Melbourne, dengan tulisan “Literacy Room”.
Saya ajukan pertanyaan pada Prof. Dr. Ismet Fanany- pria Asal Batusangkar yang menjadi dekan pada Universitas Deakin. Ia menjelaskan bahwa “Literacy Room” adalah ruangan yang berguna buat membantu para siswa yang bermasalah dengan literasi- seperti membaca dan menulis.
Saya berfikir bahwa literasi sudah menjadi program penting di sekolah. Literasi menjadi prioritas utama mereka. Omong kosong seorang siswa akan menjadi pelajar yang mandiri dalam belajar kalau ia masih melek dengan literasi.
            Dalam makna yang kita pahami bahwa “illiterate” yang berarti “buta huruf atau kurang mengenal literasi”. Sebahagian orangtua yang anak mereka sekolah di bangku SD menjadi puas kalau mereka sudah mengenal abjad dari A hingga Z. Program atau capaian target dasar literasi kita sangat ringan. Baru sebatas bisa membaca huruf- membaca kalimat sederhana- dan hingga membaca paragraf dan terhenti hanya hingga membaca dogeng- dogeng kuno, setelah itu tidak ada lagi.
Beberapa bulan lalu saya ikut dalam kegiatan SEKOLAH GURU INDONESIA yang dikelola oleh yayasan Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Koran Singgalang. Kegiatan ini dibimbing oleh teman-teman yang latar belakangnya bukan pendidikan keguruan, namun mereka sangat peduli dalam memajukan pendidikan bangsa kita.
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu agar tidak mengganggu PBM di sekolah. Kesan saya dan juga kesan dari yang lain bahwa pada umumnya peserta para guru muda yang memenuhi kriteria selalu datang dengan antuasias, mereka sangat ikhlas menggunakan uang pribadi dari kocek sendiri buat dana transport dan buat beli makanan.
Memang tugas buat mencerdaskan bangsa dan menggenjot kualitas SDM tidak mutlak tanggung jawan para pendidik. Itu semua merupakan tanggung jawab kita semua. Maka rekan-rekan dari yayasan Dompet Dhuafa juga menujukan kepedulian. Mereka merancang program literasi dan program lain buat para guru, yaitu seperti:
1.    Penguasaan literasi digital
2.    Penguasaan komunikasi efektif
3.    Penguasaan metodologi pembelajaran; dan
4.    Pemahaman psikologi yang shahih
Saya jadi malu diri saat membandingkan pelaksanaan kegiatan ini dengan kegiatan MGMP yang saya ikuti bersama kawan- kawan guru dari berbagai sekolah. Dimana pesertanya terkesan kurang antusias dan kurang bersemangat dalam berpartisipasi. Persentase kehadiran saja jauh dari harapan.
Sejak negara kita merdeka, 70 tahun yang lalu, baru sekarang ada ajakan dan kepedulian dalam menggunakan kata “literasi”. Maka baru sekarang kegiatan literasi jadi program di sekolah. Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Tujuan gerakan ini untuk membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.
"Kegiatan literasi ini tidak hanya membaca, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan menulis yang harus dilandasi dengan keterampilan atau kiat untuk mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali, dan seterusnya,"
Akhirnya Kurikulum 13, yang sempat menjadi pro-kontra dalam tahun sebelumnya, direvisi dan urgensi untuk diterapkan untuk semua lini pendidikan di Tanah Air. Jumlah peserta sekolah yang menerapkan kurikulum 13 selalu meningkat, hingga akhirnya semua harus menerapkan kurikulum ini.
Di awal semester 2016/ 2017 ini banyak pemanggilan guru- guru (sebagai guru sasaran) untuk mengikuti sosialisasi kurikulum 13 yang sudah direvisi. Dalam sosialisasi tercakup bahwa betapa setiap sekolah dan apalagi setiap guru perlu mensukseskan program  pembelajaran melalui “ Pembelajaran aktif, Penguatan Literasi dan Penumbuhan Budi Pekerti”. Sebuah keputusan dan kebijakan yang sangat tepat, karena andai kata ini terwujud maka anak-anak Indonesia akan menjadi manusia punya budi pekerti luhur, aktif dalam belajar dan dan sangat peduli dengan budaya literasi.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh UNESCO bahwa persentase minat baca bangsa Indonesia hanya 0,001 persen, maksudnya bahwa dari 1000 orang hanya satu yang terbiasa membaca. Ini sangat minim sekali dan sangat memprihatinkan.
Minat baca bangsa kita masih rendah. Mengapa minat baca orang Indonesia rendah ? Menurut Lucya Andam Dewi, ketua IKAPI- Ikatan Penerbit Indonesia (http://www.cnnindonesia.com) bahwa:
“Kondisi perbukuan Indonesia masih menghadapi masalah klasik: minat baca dan distribusi. Jumlah penulis masih sangat sedikit. Pada 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Jumlah penerbit pun kurang. Anggota IKAPI yang tercatat, ada 1.300-an. Namun yang aktif hanya 700 sampai 800 penerbit. Penerbit terpusat di Jawa. Di Sumatra ada sedikit. Di Kalimantan dan Sulawesi ada, tapi belum banyak. Seharusnya penerbit itu ada di setiap provinsi, jadi ada kearifan lokal. Tapi kita masalahnya minat baca."
Fakta-fakta itu membuat Indonesia kalah jauh dengan negara maju. Mereka mempulikasi sekitar 30 ribu judul buku per tahun dibanding penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta orang, jelas jauh. Perbandingannya satu orang belum bisa membaca satu buku. Padahal di negara maju, satu orang bisa membaca tiga sampai lima buku. Di Indonesia malah kebalikannya. Tiga sampai lima buku dibaca oleh hanya satu orang.
Pengalaman dengan mata dan kepala membuktikan bahwa bangsa kita amat lemah untuk urusan literasi. Kepedulian bangsa maju apa mereka datang dari utara atau selatan menunjukan bahwa mereka sangat mandiri untuk urusan literasi.
Craig Pentland, teman saya sejak tahun 1996 dari Perth- Australia setiap kali datang berlibur ke Sumatera selalu tak pernah lupa menamatkan bacaan tentang Indonesia. Terakhir ia menghadiahkan saya buku “The Rainbow Troop- atau Laskar Pelangi”, karya Andre Hirata dalam versi Bahasa Inggris. Rekan- rekan yang datang dari utara- Eva, Guni dan Ulla Mo (dari Swedia) juga sangat bergairah saat mengomentari buku- buku yang barusan mereka baca. Begitu juga dengan Benjamin dan Celine (dari Perancis) yang menanyakan:
“Siapa nama pengarang Indonesia yang cukup populer dan dimana saya bisa membeli atau memperoleh buku-buku tersebut ?”
Sungguh literasi telah menjadi kebutuhan kognitif utama mereka. Ibarat kebutuhan perut akan makanan dan minuman yang selalu perlu kita cari tiap hari. Pantaslah Bangsa Australia, Swedia dan Perancis lebih maju. Warga negara mereka yang sangat peduli dan butuh dengan literasi ikut memajukan SDM negara mereka.
Akhirnya sosialisasi atau pelatihan Kurikulum 13 yang saya ikuti pada sebuah hotel di Padang berakhir. Ada rasa optimis bahwa program literasi juga menjadi program yang diprioritaskan di sekolah. Semua sekolah- stake holdernya- juga segera menggelar program penguatan literasi sekolah.
Hari berlalu dan minggu berganti, program literasi yang sempat bergema hanya sebatas wacana dan sebatas slogan. Bukankah semua sekolah lebih peduli untuk mengejar skor, demi menjaga nama baik sekolah, nagari, instansi, dan hingga kabupaten atau propinsi. Maka program active learning dan penguatan literasi terasa sepi kembali dan tidak jelas wujudnya. Yang ada hanyalan pelatihan dan pelatihan untuk memacu kehebatan kognitif. Skor yang tinggi melalui kekuatan kognitif bakal bikin orang akan berdecak kagum.    
Dalam buku “School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah” yang ditulis oleh Marjohan (Terbitan :Insan Madani, Yogyakarta, 2009) dapat dibaca bahwa literasi memang merupakan problem di sekolah. Beberapa sub- judul kupasan buku ini: Budaya Membaca dan Menulis  Masih Minim Di Sekolah, Menumbuhkan Budaya Gemar Belajar Dan Hidup Mandiri, dan Kemandirian dalam Belajar Perlu Ditingkatkan.
Ini menunjukan bahwa program literasi belum menjadi agenda utama. Dengan arti kata bahwa perpustakaan yang semrawut, minat baca yang rendah, motivasi belajar yang rendah belum merupakan kekhawatiran yang besar dari warga sekolah. Pada hal cukup banyak program- program unggulan yang kebijakannya dari pusat telah dirancang/ ditulis oleh pakar pendidikan untuk segera diimplementasikan. Namun karena minimnya budaya literasi- yaitu kemampuan seseorang (masyarakat sekolah) dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan kualitas diri susah buat terwujud.
Petunjuk untuk melaksanakan gerakan literasi sekolah, ternyata sudah dirancang. Sayangnya sejumlah orang yang katanya punya peran dalam manajemen pendidikan, tidak memahami/ membaca buku petunjuk tersebut. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah merancang parameter sekolah yang telah membangun budaya literasi yang mencakup lingkungan fisik, Lingkungan Sosial dan Afektif dan Lingkungan Akademik. Gambarannya sebagai berikut:
a). Lingkungan Fisik
- Karya peserta didik dipajang di sepanjang lingkungan sekolah, termasuk koridor dan
   kantor (kepala sekolah, guru, administrasi, bimbingan konseling).
- Karya peserta didik dirotasi secara berkala untuk memberi kesempatan yang
   seimbang kepada semua peserta didik.
- Buku dan materi bacaan lain tersedia di pojok-pojok baca di semua ruang kelas.
- Buku dan materi bacaan lain tersedia juga untuk peserta didik dan orang
   tua/pengunjung di kantor dan ruangan selain ruang kelas.
- Kantor kepala sekolah memajang karya peserta didik dan buku bacaan untuk anak.
- Kantor kepala sekolah mudah diakses oleh warga sekolah.

b) Lingkungan Sosial dan Afektif
- Penghargaan terhadap prestasi peserta didik (akademik dan non-akademik)
   diberikan secara rutin (tiap minggu/bulan). Upacara hari Senin merupakan salah
   satu kesempatan yang tepat untuk pemberian penghargaan mingguan.
- Kepala sekolah mengenali peserta didik bila masuk ruang kelas (bukan hanya
   peserta didik yang berprestasi atau dianggap bermasalah).
- Kepala sekolah terlibat aktif dalam pengembangan literasi.
- Merayakan hari-hari besar dan nasional dengan nuansa literasi, misalnya merayakan
  Hari Kartini dengan membaca surat-suratnya.
- Terdapat budaya kolaborasi antarguru dan staf, dengan mengakui kepakaran masing-
   masing (dan tidak saling menjatuhkan).
- Terdapat waktu yang memadai bagi staf untuk berkolaborasi menjalankan program
   literasi dan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaannya.
- Staf sekolah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam
  menjalankan program literasi.

c) Lingkungan Akademik
- Terdapat Tim Literasi Sekolah yang bertugas melakukan asesmen dan perencanaan.
   Bila diperlukan, ada pendampingan dari pihak eksternal.
- Disediakan waktu khusus dan cukup banyak untuk pembelajaran dan pembiasaan
   literasi: membaca dalam hati (sustained silent reading), membacakan buku dengan
   nyaring (reading aloud), membaca bersama (shared reading), membaca terpandu
   (guided reading), diskusi buku, bedah buku, presentasi (show-and-tell
   presentation).
- Waktu berkegiatan literasi dijaga agar tidak dikorbankan untuk kepentingan lain   
   yang dianggap tidak perlu.
- Disepakati waktu berkala untuk Tim Literasi Sekolah membahas pelaksanaan
  gerakan literasi sekolah.
- Disepakati waktu berkala untuk Tim Literasi Sekolah membahas pelaksanaan
  gerakan literasi sekolah.
- Ada kesempatan pengembangan profesional tentang literasi yang diberikan untuk
  staf, melalui kerja sama dengan institusi terkait (perguruan tinggi, dinas pendidikan,
  dinas perpustakaan, atau berbagi pengalaman dengan sekolah lain).
- Seluruh warga sekolah antusias menjalankan program literasi, dengan tujuan
   membangun organisasi sekolah yang suka belajar.

Ternyata langkah- langkah untuk menerapkan program literasi di sekolah sudah cukup detail, namun jarang atau belum sempat terbaca oleh sebagian stakeholder pendidikan. Yang menjadi kepedulian urgen dari pihak sekolah adalah mengejar prestasi akademik dan non akademik. Kebijakan begini sangat tepat dan tidak salah. Yang salah adalah untuk kebutuhan zaman sekarang adalah apabila pihak sekolah kurang peduli dalam urusan literasi- siswa yang tidak bergairah dalam membaca dan menulis, dan kepedulian belajar secara mandiri. Untuk itu, sebagaimana judul tulisan ini, bahwa amat mendesak: program literasi menjadi prioritas utama di sekolah.
Kini saatnya bagi kita untuk sangat peduli buat menumbuhkan kepedulian pada literasi. Ada banyak sumber bagi kita buat menimba ilmu dan pengalaman. Pratiwi Retnaningdyah, Kandidat PhD di Bidang Cultural Studies, University of Melbourne dan tergabung dalam komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan- GSM (http://www.radioaustralia.net.au/indonesian) memaparkan pengalamannya literasi, yaitu tentang: Meningkatkan Minat Baca Ala Sekolah Australia.
“Bagaimana program literasi berjalan di tingkat pendidikan dasar, Siswa di bangku SD selalu membawa pulang satu buah buku di dalam tas sekolahnya untuk bacaan di rumah. Itu merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi setiap anak. Sementara PR bagi orang tua ialah membimbing anak membaca buku yang dibawa dari sekolah itu. Di luar buku yang dipilihkan gurunya untuk PR membaca, sekolah juga ingin mengajak orang tua dan anak mencatat kebiasaan membaca buku yang tersedia di rumah, entah itu buku cerita, pengetahuan, dan lain-lain. Untuk itu, sekolah menyediakan buku catatan Home Reading. Tidak diberi nilai meski guru akan memberikan komentar secara berkala setiap bulan. Jadinya di rumah selalu ada reading time, orang memberi catatan atau laporan dan guru di sekolah memberi komentar. Maka beginilah kiat menumbuhkan literasi buat anak melalui kerjasama antara orang tua dan guru”.
Firman Parlindungan, Dosen Universitas Teuku Umar, saat   melanjutkan pendidikan S-3 di Columbus University, Ohio-Amarika Serikat, melaporkan tentang Pendidikan Literasi: Membaca dan Menulis di Ohio - Amerika Serikat (http://utu.ac.id/utunews/artikel-cakrawala). Ia menjelaskan bahwa:
“Belajar tentang pendidikan literasi di Columbus, Amerika Serikat membuka cakrawala tentang nikmatnya dunia membaca dan menulis masyarakat di sini. Semua orang membaca buku, majalah, atau surat kabar harian di halte, di bus kota, atau di kafe-kafe. Orang tua atau generasi muda duduk di taman kota sambil menikmati buku atau novel ratusan halaman. Siswa merasa malu jika tidak membaca. Mahasiswa menjadikan membaca dan menulis sebagai tradisi ilmiah, sedangkan diskusi menjadi rutinitasnya. Perpustakaan bukan satu-satunya tempat untuk membaca. Bagi mereka membaca dan menulis sudah menjadi budaya yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Di Columbus, Ohio, Amerika Serikat, upaya menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya sudah dimulai sejak puluhan tahun silam. Dinas Pendidikan mendorong sekolah untuk merancang kurikulum dan program pembelajaran yang mengarah pada stimulus anak mencintai membaca dan menulis sejak usia dini. Bahkan banyak program yang melatih orang tua untuk membaca cerita-cerita dongeng kepada anaknya di rumah. Orang tua yang memiliki anak usia balita selain menyekolahkan anaknya di Taman Kanak-Kanak atau menitipkannya di Taman Penitipan Anak (Children’s Day Care), mereka juga belajar bagaimana mendukung perkembangan membaca dan menulis anak di rumah secara efektif. Dan program-program tersebut dilaksanakan gratis oleh pemerintah lokal secara berkala”.
- Di sekolah TK, guru-guru dengan kreatifnya membacakan cerita kepada anak-anak di setiap awal pembelajaran. Kegiatan ini juga diikuti dengan latihan pelafalan kalimat dengan penekanan dan intonasi yang tepat. Sudah terbuktik  efektifitas kegiatan semacam ini dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak yang mengarah pada kemampuan membaca dan menulis mereka.
- Di tingkat SD kelas satu sampai dengan tiga, setiap siswa diwajibkan membaca dan menulis di rumah melalui penerapan tugas membaca mandiri. Setiap siswa punya reading-log, semacam buku harian membaca, yang berisi berapa lama waktu yang siswa habiskan untuk membaca di rumah dan paraf orang tuanya. Tidak ada patokan menit atau jam. Buku harian itu juga berisi tugas-tugas sekolah lainnya yang harus dikerjakan di rumah seperti menulis. Pada usia ini siswa diharuskan menulis paragraf pendek tentang apa yang sudah dibaca. Saat di sekolah mereka akan diminta untuk menceritakan bacaannya di depan kelas atau di kelompok kecil.
- Sedangkan pada kelas empat sampai dengan enam, ada waktu minimal yang ditetapkan sekolah. Untuk kelas lima misalnya, siswa harus membaca di rumah minimal selama 25 menit sehari dengan pantauan orang tua. Dan kewajiban menulis pada level ini mengharuskan siswa menulis esai yang biasanya terintegrasi dengan pelajaran IPA atau IPS. Kewajiban membaca ini terus berlanjut sampai level SMP dan SMA. Yang membedakannya adalah bahan bacaan dan batasan minimal waktunya.
- Di SMP misalnya, siswa diharuskan membaca buku atau novel kemudian diwajibkan menulis laporan bacaannya di buku harian mereka. Setiap sekolah menerapkan aktivitas yang berbeda dalam rangka membiasakan anak untuk membaca dan menulis.
Deskripsi di atas adalah tentang bagaimana menumbuh-kembangkan literasi buat anak didik dan buat generasi muda Indonesia. Himbauan buat semua sekolah adalah agar “Program Literasi Menjadi Prioritas Utama di Sekolah”.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Gulaman Zaki dan Bahrul Ulum

 Ini dua cowok sholeh yang sering juara MTQ, mereka adalah Gulaman Zaki dan Bahrul Ulum
sekarang mereka ikut musabaqah di SMAN 3 Batusangkar....

Kalau Gulaman Zaki, saat di MtSN ya satu kelas dengan anak saya Nadila Azzahra

Jumat, 29 Juli 2016

Edison Says:

I run private English school for children aged between 10 and 19 years old in a small city in West Sumatra. My goal as the principal of the school is to provide youth from my region with the English skills required to communicate better in the modern world, and therefore provide them with better opportunities in their lives.

I would like to welcome any fluent English speakers under the age of thirty to come assist my teachers in the classroom. You would help immensely by having simple conversations with the students and give them a real English speaking experience inside or outside the classroom.

All the students are very welcoming and curious about my visitors and I am certain that you will have a great experience while interacting with them. You can expect answering all their curious questions, pose for pictures and be invited for lunches, snacks and dinners.

Classes in my school run from 2pm to 6pm and mostly consist of two lessons/classrooms per day. I would also like to invite you to visit government schools in the mornings, where you can help me by talking with students there and promoting my after-school English program.
In return for your efforts, I will provide you with accommodation in a private room next to my house with its own separate entrance, private bathroom and a balcony with views of the mountain range. Apart from that I will provide you with breakfast, dinner, and unlimited coffee. Dinners are prepared by my wonderful wife Noufie and you will be able to taste true local cuisine.

Additionally, if you are able to drive a scooter, I can provide you with one to get around for a nominal fee. This way you can explore surrounding areas in the mornings before the classes.
In your free time I would like to introduce you to the local culture and will help organize your visits to places worth visiting nearby my town of Batusangkar (a rather small town at the center of Minangkabau culture). This town is surrounded by mountains, lush jungles, tropical plants, and vast rice fields.

No credentials are required. Do not worry if you don’t have previous experience in teaching. Your presence in the classroom and your efforts in encouraging students to have simple conversations is still very valuable.
I hope to host you at my place and MY TEACHING STAFF 's village and introduce you to my family, friends and unique culture of West Sumatra.

Please note that we are unable to host couples that are not married, as my family and I are Muslim and it conflicts with our beliefs. Thank you for your understanding.

Jumat, 15 Juli 2016

Ironi perayaan gelar sarjana: sebuah naskah pidato Wisuda

Ironi perayaan gelar sarjana: sebuah naskah pidato Wisuda

Oleh: Dewi Setya


Siapa sih yang nggak tahu mbak Erica Goldson? Lulusan terbaik Coxackie-Athens High School Amerika yang beberapa tahun silam pidato wisudanya menjadi viral di peredaran maya. Pidato nyinyir yang mengkritik sistem pendidikan ala peternakan. Berikut saya kutip secuil nyinyirannya.

“…the majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interest of large corporations and secretive government, and worst of all, they completely unaware of it…”

“…mayoritas siswa dicuci otaknya agar puas menjadi tenaga kerja perusahaan besar dan badan rahasia pemerintah, dan yang terburuk dari itu semua, mereka sama sekali tidak menyadarinya…”

Terinspirasi darinya, saya pun menyusun naskah pidato untuk sebuah upacara yang sama. Sayangnya, saya enggak berkesempatan untuk berpidato, sebab bukan mahasiswa terbaik yang terindikasi memperoleh skor tertinggi.

Di sini kekecewaan berujung. Jika mahasiswa terbaik indikatornya hanya IPK, lantas bagaimana cara institusi pendidikan tinggi menghargai puncak karya ilmiah mahasiswa? Kenapa enggak ada skripsi terbaik?

Kan mesakne mahasiswa yang serius mengerjakan penelitian dengan segala asketisme dan idealismenya, eh, dianggap kalah berharga dibanding presensi kehadiran mahasiswa yang dikonversi menjadi Indeks Prestasi Akademik. Untung, saya bukan tipe mahasiswa yang mengerjakan karya ilmiah seserius itu.

Well, sebab naskah pidato ini enggak memuat sanjungan penuh takzim untuk para dosen sebagaimana lazimnya sehingga juga ditolak untuk dibacakan. Maka, dengan segala kepasrahan saya serahkan kepada Mas Eddward S. Kennedy, selaku pihak otoritatif dari situs paling bahagia se-jagat maya.

Berikut naskah pidato wisuda yang saya coba susun.

Assalammualaikum wr.wb..

Yang terhormat seluruh wisudawan-wisudawati setanah air…

Ada tiga momentum berurutan di mana linimasa medsos dipenuhi foto perayaan pelepasan status mahasiswa. Pendadaran, yudisium, dan upacara wisuda. Ini semacam prosesi lamaran, pre-wedding, lalu nikahan.

Karena ada 3 periode wisuda dalam setahun di kampus ini, maka sebanyak 9 kali setahun linimasa medsos saya mengalami musim upload foto nyengir memegang balon dan bunga, dengan interval waktu tertentu.

Ternyata perayaan gelar sarjana kini tak kalah ngepop dengan event hip hip hura UKM maupun BEM (Badan Event Mahasiswa). Coba bayangkan, berapa omset studio foto dan rias wajah wisuda per tahun? Hmm.. bisnis yang prospektebel, bukan?

Memandang upload-an foto dengan caption “Alhamdulilah” yang bisa saja lebih panjang dari kereta api Malioboro Express itu, saya bukannya iri, tapi, geli(sah) dan diliputi perasaan campur aduk setelah mengalami hal serupa yang disebut kelulusan.

Kelulusan sejatinya adalah melepas hak untuk mengakses jurnal-jurnal nasional hingga internasional yang dilanggankan oleh kampus (well, meski kita juga bayar sih, tapi kan kolektif, sehingga lebih murah). Melepas hak untuk berlangganan jurnal tertentu dengan biaya jauh lebih murah dari harga normal. Melepas diskon-diskon via member card bertipe mahasiswa di beberapa merchant tertentu. Melepas kesempatan makan enak di seminar-seminar besar dengan gratis atau dengan biaya lebih murah dan bonus-bonus lainnya.

Jadi, status mahasiswa dan bonus materi adalah sesuatu yang inheren.

Lha, gelar sarjana sodara sekarang? Apa bisa buat beli tiket ArtJog 9 di JNM dengan rabat 50%?

Terlepasnya status mahasiswa juga mengurangi rasa percaya diri untuk turut melafazkan SUMPAH MAHASISWA setelah beratus-ratus meter longmarch di jalanan. Ini, kawan-kawanku sekalian, akibat dari pranata sosial yang senantiasa mengusik melalui julukan “pengangguran”.

Wisudawan-wisudawati rahimakumullah…

Sudah berapa judul buku yang khatam Anda baca dan didiskusikan? Berapa karya ilmiah yang Anda produksi? Berapa ulasan kritis atas persoalan sosial yang Anda terbitkan? Seberapa luas bergaulkah Anda? Mampukah Anda kini membaca realitas sosial? Seberapa banyak lembaga riset yang pernah Anda kunjungi? Seberapa sering Anda berbaur di ruang-ruang diskusi? Berapa kali Anda turun aksi (meski cuma megangin bendera sambil selfie)?

Pertanyaan sarkas di atas harus selesai dijawab, sebelum Anda tergesa-gesa bangga mengupload foto-foto berkostum kebaya dengan seperangkat konde itu di seluruh akun medsos. Btw, kenapa, ya, musti kebaya? Kalau mau total berbudaya, harusnya sekalian pakai baju adat daerah masing-masing dong, supaya nggak Jawa-sentris, biar kita bisa juga karnavalan.

Jangan-jangan selfie cengar-cengir pamer selempang cumlaude itu enggak relevan dengan gelar sarjana Anda yang penuh beban ideologis?

Kan ngisin-ngisini kalau lulus sarjana taunya cuma kampus, warung kongkow, dan kos-kosan. Kalau kosannya mirip rumah kos Tjokroaminoto, tempat berkumpul orang-orang repolusioner, sih mending, lha ini cuma buat kelonan. Jangan-jangan sodara juga enggak tau Angmo? Keterlaluan betul. Kurang populer apa Mas Puthut EA mengudara di linimasa medsos sampai-sampai mahasiswa di kota berpredikat ‘pelajar’ ini enggak tau Angkringan Mojok?

Mereka yang mengantar kita sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan pastilah berangkat dari realitas sosial, bukan dari ruang berpendingin yang harum. Gimana sekarang mau membuka pintu gerbang dan masuk ke halaman kemerdekaan kalau membaca ruang sosial saja Anda belum tuntas? Mau selamanya di depan pintu gerbang?

Sudah begitu, sodara mengaku sebagai intelektual setelah dapet toga? Memangnya seberapa berarti karya ilmiah Anda dalam menuntaskan persoalan fakir, miskin, anak terlantar, hingga jomblo? Tanpa visi ideologis, jumlah angka yang dibanggakan itu hanyalah sarana transaksi antara tenaga dan kapital.

Duhai wisudawan-wisudawati yang berbangga diri…

Mari kita kenang masa kenikmatan menjadi mahasiswa. Masa di mana kebebasan berkarya dan kritik sana sini, tanpa merasa tertekan kala mengosongkan kolom gaji perbulan pada formulir pendaftaran SIM. Maka, ingin rasanya misuh saat menjumpai mahasiswa yang baru lulus ospek kok sudah kebelet lulus kuliah prematur.

Oalah, le… Selesai kuliah 3.5 tahun itu hal yang lumrah semenjak perguruan tinggi menerapkan sistem SKS (Selesai Kuliah Secepatnya).

Contohlah Mbak Kalis Mardiasih yang tertawan lama oleh status mahasiswanya, namun produktif tak kepalang. Apa? Anda enggak kenal dia siapa? Ngana sepertinya punya smartphone yang sudah saatnya juga diwisuda.

Dari tulisan-tulisan tercecer Mbak Kalis seseungguhnya kesadaran naif masa mengambang medsos perlahan dikonversi menjadi kritis. Nilainya bisa melebihi tugas kuliah yang ujung-ujungnya dikonversi menjadi angka-angka dengan judul indeks prestasi kumulatif. Mahasiswa sejenis itu yang kelak perayaan wisudanya bakal jadi sebuah milestone, bukan ironis. Laksana calon jama’ah haji yang tiba giliran keberangkatan setelah beratus-ratus purnama mengantri.

Wisudawan-wisudawati yang sudah siap siaga tongsis…

Sebelum saya mengakhiri pidato ini, marilah kita mengukur seberapa ironis perayaan gelar sarjana kita hari ini?

Demikian, saya tutup pidato ini dengan berpura-pura candid di depan kamera. Mas yang megang kamera tolong agak mendekat… *cekrek*

sumber: http://mojok.co/…/ironi-perayaan-gelar-sarjana-sebuah-nask…/ via Bangsa Mahasiswa

(rewritten from Facebooknya ALVIN SALENDRA : 
https://www.facebook.com/PendidikanIndonesia123/photos/a.863657890351749.1073741828.852951308089074/1142721719112030/?type=3&theater

Jumat, 17 Juni 2016

A new home for threatened species

This article is rewritten from my friend's site: and a million thanks refer to Mrs Norjana Pentland

Dr. Craig Pentland

Twenty three threatened rock wallabies have been transferred by air back to their home.
After spending years in a reserve to keep them safe from wild cats and foxes.
Experts thought they wouldn't do well in a 600 kay drive.
So they put them on a plane.

watch the video at :
https://au.gwn7.yahoo.com/w1/news/a/-/national/31576337/

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

Ada kesalahan di dalam gadget ini