Jumat, 14 April 2017

Lima Kekuatan Untuk Menunjang Sukses Dalam Belajar



Lima Kekuatan Untuk Menunjang Sukses Dalam Belajar
Oleh: Marjohan, M.Pd

            Menuntut ilmu dan mendapatkan pengalaman sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Dewasa ini banyak pelajar yang memburu sekolah dan perguruan tinggi yang bergengsi (karena kualitasnya). Mereka menuntut ilmu dan berburu perguruan tinggi: pergi kuliah  ke pulau jawa, universitas yang berlokasi di ibu kota Propinsi sampai kepada tempat kuliah di kota-kota kecil melalui universitas, sekolah tinggi, politeknik atau akademi. Sukses kuliah itu ada di mana-mana dan cara untuk memperoleh kualitas  kulitas tentu saja tergantung pada pribadi kita.
Namun ada juga sebagian yang berkarakterkuliah orang kuliah kita- atau kuliah secara ikut-ikutan”. Sebahagian dari mereka  pergi kuliah hanya sekedar  datang, duduk, dengar  dan diam saja di dalam kelas. Sementara itu  di tempat kost kerja mereka hanya makan, minum, menghafal, menghayal, hura-hura, main game, sampai begadang tidak karuan.  Padahal sang dosen di kampus mungkin pernah berkata:
“Anda sebagai seorang  mahasiswa telah menjadi kaum intelektual dan berfungsi sebagai “agent of change” atau agen perubahan social”.
Tapi kalau  demikian gaya belajar dan gaya hidup  mereka apakah  pantas disebut sebagai agent of change ? O tentu saja belum pantas.
Namun tentang prilaku mahasiswa dalam belajar atau kuliah juga bermacam-macam.Tentu saja ada yang rajin kuliah.Semua waktu mereka curahkan untuk kegiatan akademik. Namun ada juga  yang hanya sebatas kutu-buku hingga tidak punya kesempatan untuk bergaul. Mereka yang malas bergaul pada akhirnya akan memiliki karakter yang kaku , dingin, serta kurang peka terhadap orang lain. Kelak walau mereka bisa meraih prestasi tinggi dalam pekerjaan namun  mereka akan menjadi orang yang kaku.
            Sebagaimana yang telah kita nyatakan bahwa gaya belajar siswa dan mahasiswa sangat bervariasi. Misal, ada yang bergaya study oriented atau academic oriented. Masa muda mereka dihabiskan hanya untuk berkutat dengan diktat dan buku-buku pelajaran, tujuannya agar bisa memperoleh nilai sempurna pada setiap mata pelajaran.Ada pula yang hanya senang berorganisasi, namun masa bodoh dengan urusan belajar.Ya ujung-ujungnya jadi gagal dalam bidang akademik.
            Selanjutnya  ada  yang telah berkarakter produktif. Yaitu bagi mereka yang telah memiliki agenda hidup- punya banyak aktifitas, mulai dari membaca buku, kuliah/ bersekolah, berolahraga, beribadah sampai merencanakan agenda-agenda hidup lainnya. Namun juga ada yang bengong saja sehingga tidak tahu apa yang mau dikerjakan. Mereka hanya pandai  menghabiskan waktu dalam box warnet-  di depan komputer untuk bermain game atau kecanduan nonton TV selama ber jam-jam. 
            Memang terasa bahwa saat kita tidak punya aktivitas maka akan sulit bagi kita untuk memulai sebuah aktivitas yang bermanfaat, misalnya mengerjakan tugas sekolah, mencuci pakaian, atau membantu orang tua. Ada gejala penyakit yang sering melanda remaja (pelajar dan mahasiswa), yaitu banyak tidur, boros (buang buang uang terhadap hal  yang tidak perlu),  menganggap sepele terhadap tugas- tugas sekolah, kecanduan talk mania (gila ngobrol pake HP), gila main game,  dan senang hura-hura.  Namun kita harus berhati-hati, bahwa kebiasaan ini kalau selalu kita biasakan maka akan berubah menjadi karakter kita.
            Gejala yang kita jelaskan tadi bisa menjadi indikasi bahwa seseorang sedang mengalami demotivasi (merosotnya motivasi seseorang). Dan sebetulnya ada beberapa tips untuk mengcounter (mencegah) gejala-gejala demotivasi tersebut:
a). Segera melakukan silaturahmi kepada sahabat dan orang orang yang memiliki
inspirasai dan motivasi hidup.
b)  Kemudian, bacalah buku-buku untuk penambah semangat hidup atau motivasi.
c) Kalau ingin sukses, maka cobalah membuat agenda hidup- target kegiatan harian,
mingguan dan bulanan.
d) Juga perlu melakukan hijrah (andai lingkungan menjadi penyebab kemalasan
kita),
karena  lingkungan teman yang santai akan juga membuat kita santai.
Untuk itu  kita perlu mencari teman yang smart dalam hidupnya. Kalau demikian, kita perlu mencari komunitas di mana berkumpulnya orang-orang yang punya semangat hidup, produktif dan suka berbagi pengalaman.
            Sebenarnya hidup ini juga dipengaruhi oleh hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak hanya ada dalam pelajaran sains, tetapi juga ada dalam pribahasa: siapa yang menanam dia yang akan menuai (memetik). Cepat atau lambat maka  setiap kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan hasil.
Kejelekan yang sering kita kerjakan juga akan kembali pada kita. Oleh sebab itu kita perlu  banyak-banyak menanam kebaikan. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Ya seperti pepatah dalam bahasa Arab yang berbunyi :man jadda wa jadda- barang siapa yang bersungguh-sunggu akan berhasil.
Dan semua kebiasaan atau karakter yang kita miliki, penyebabnya adalah kita sendiri. Siklus pembentukan karakter tersebut adalah sebagai berikut: Bermula dari pola berfikir, pikiran akan jadi perkataan, perkataan jadi perbuatan, perbuatan jadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, dan karakter menjadi budaya”.
Tentang kebarhasilan, bahwa kadang-kadang keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh faktor kesempatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa  itu kadang kala hanya datang sekali saja. Jadi kalau ada datang kesempatan, maka kita harus memanfaatkannya.Contohnya, ada orang yang sangat jenius, namun mendapatkan nasib yang tidak terlalu bagus.Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak punya antusias dan usaha yang besar untuk mengambil kesempatan yang datang.Untuk itu kita harus mencari kesempatan dan peluang.Kita sendiri juga harus rajin mencari informasi.
            Sekali lagi bahwa di negara kita banyak orang yang cerdas dan memiliki nilai akademik, namun mengapa menjadi pengangguran ?  Penyebabnya adalah akibat gaya belajar yang hanyasekedar  study oriented- pintarnya hanya belajar melulu.Idealnya mereka harus cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam kehidupan.Total learning bisa menjadi solusi bagi kita.
Total learningdapat  kita lakukan  dengan mengembangkan potensi atau kekuatan yang ada pada diri kita. Tulisan yang saya tulis ini terinspirasi oleh training yang diberikanSetia Furqon (2010) untuk memotivasi banyak anak muda- terutama pelajar dan mahasiswa- catatan training tersebut dijadikannya buku  yang berjudul “Jangan kuliah kalau gak sukses”.
Ia sendiri adalah seorang penulis dan motivator berusia muda. Ia mengatakan bahwa untuk sukses dalam belajar, maka kita memerlukan  lima fondasi dasar sebagai kekuatan kita,  yaitu : kekuatan spiritual, kekuatan emosional, kekuatan finansial, kekuatan intelektual dan kekuatan aksi. Istilah  lima kekuatan tersebut dalam bahasa Inggris adalah  spiritual power, emotional power, financial power, intellectual power dan actional power”. Saya merefleksi pemikirannya tentang kiat sukses dalam belajar, dengan judul: Lima Kekuatan Untuk Menunjang Sukses Dalam Belajar. Pembahasannya sebagai berikut:
            1) Spiritual power
Ini berarti kekuatan spiritual.Bahwa kesuksesan sejati adalah saat kita merasa dekat dengan sumber kesuksesan itu sendiri, yaitu Allah- Sang Khalik.Untuk itu ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar hidayah/ petunjuk bisa datang. Bahwa hidayah (petunjuk hidup) itu sendiri  harus dijemput, bukan ditunggu. Kemudian kita harus mencari lingkungan yang kondusif, karena sangat sulit bagi kita untuk keluar dari lingkaran kemalasan jika lingkungan itu sendiri mendorong kita untuk jadi pemalas. Untuk mengatasinya, maka  kita bisa hijrah atau pindah kost ke tempat yang mendukung. Kalau sulit untuk pindah kost, maka kita bisa melakukan hijrah melalui perobahan sikap dan fikiran.
            Untuk memperoleh hidayah,  kita bisa menemukan guru-guru dalam kehidupan. Guru tersebut adalah orang-orang yang akan  memberi  kita inspirasi agar bisa  bangkit setelah kita terjatuh. Sang inspirator kita tidak harus jago dalam ngomong, orang tersebut  bisa jadi sedikit bicara, namun karya dan prilakunya membuat kita termotivasi.
            2) Emotional power
Kekuatan ini (kekuatan emosi) juga dapat kita sebut dengan istilah  kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan ini juga sebagai penentu kesuksesan seseorang.Di dunia ini ada banyak orang-orang cerdas atau jenius dengan IQ di atas rata-rata namun pekerjaanya selalu pada level bawah.Itu terjadi karena kepribadiannya yang kurang disukai atau sulit bersosialisasi. Kecerdasan emosional bisa berkembang, karena ia merupakan akumulasi dari karakter individu, dan dukungan dari faktor lingkungan. Sikap atau karakter sangat penting  dalam membentuk kecerdasan emosi seseorang. Apakah ia berkarakter ramah, gigih dan ulet- adalah contoh dari bentuk emosional power. 
            Karakter adalah ibarat sebuah perjalanan yang panjang.Sebagaimana telah dijelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari bentuk fikiran, ide yang kita ekspresikan lewat ucapan dan tindakan, kemudian dipoles dengan suasana emosi. Orang lainlah yang  akan melihat kualitas emosional  kita tadi- apakah disana ada unsur “ jujur, peduli, ikhlas, disiplin, dan berani”, atau malah yang terlihat banyak unsure “suka berkhianat, angkuh, boros, cepat bosan dan malas”.
            Emosi itu sendiri dapat dilatih. Beberapa cara untuk melatihnya adalah seperti : tersenyum dengan tulus, bila berjumpa teman ya jabat tangannya dengan penuh antusias. Kalau ngobrol mari kita biasakan untuk mendengar orang terlebih dahulu. Kita perlu ingat bahwa tidak bijak untuk membuat orang tersinggung. Kalau kita sedang ngobrol maka kita usahakan untuk  menatap mata lawan bicara sebagai tanda bahwa kita sedang serius dan ia juga akan  merasa dihargai. Kita juga harus ingat dan tahu dengan nama lawan bicara kita.
            3) Financial power
Financial power  berarti kekuatan dalam hal keuangan. Bahwa kita harus memiliki kekuatan keuangan agar bisa sukses dalam studi.Namun  banyak orang  menganggap bahwa uang bukanlah hal yang  utama- mereka takut dikatakan sebagai orang yang matre (mata duitan).  Paling kurang ada dua karakter orang berdasarkan pendekatan ekonomi atau keauangan.Ada  orang bermental miskin dan orang bermental kaya.
Karakter orang bermental miskin adalah mereka yang menginginkan hasil sesuatu yang serba instan, lebih banyak membeli barang yang konsumtif, tidak mau berubah, dan senang mengandalkan bantuan orang lain. Mereka juga  berkarakter  suka  menerima,dan kalau belajar hanya untuk mengejar nilai yang bagus. Sementara itu orang yang bermental kaya adalah mereka yang karakter terbiasa menyukai  proses. Dalam shopping ya lebih suka membeli barang yang produktif. Selanjutnya ia (mereka) bersifat kreatif, mandiri, senang memberi, dan dalam belajar/ kuliah bertujuan  untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
            4) Intelectual Power
Kemudian lain yang harus kita miliki adalah “intelektual power”. Bahwa otak kita sedikit banyak juga harus memahami tentang keberadaan otak. Otak kita  membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar ia  bisa beroperasi secara optimal. Maka kita perlu untuk bisa memperoleh tidur yang nyenyak, karena  sangat berguna untuk kesehatan otak. Salah satu fungsi otak adalah membantu kita dalam memahami apa yang kita amati dan yang kita tiru.
5) Actional Power
Ini berarti kekuatan bertindak. Seorang pemuda (siswa atau mahasiswa) yang menjadi atlit sepak bola menghabiskan puluhan jam untuk membaca buku sepak bola, tentu saja susah baginya untuk menjadi sepak bola yang sejati. Kecuali kalau ia memang sangat rajin dalam latihan menendang bola. Karena praktek menendang bola lebih berarti dari pada hanya membaca buku teori tentang bermain sepak bola.
Dikatakan bahwa orang Jepang menjadi cerdas karena punya kebiasaan mengamati, meniru dan memodifikasi. Bangsa Jepang bukanlah bangsa yang menemukan  kendaraan roda dua dan roda empat. Namun mereka adalah bangsa yang  gigih dalam meniru-melakukan action power- dan memodifikasi penemuan bangsa lain. Budaya senang meniru dan senang memodifikasi tersebut  telah membuat Jepang sebagai negara produsen mobil terbesar di dunia. Negara Jepang pada mulanya mengamati dan  meniru serta  memodifikasi mobil Ford buatan Amerika dan mobil buatan negara lainnya. Jepang  memodifikasinya  hingga bisa menjadi mobil yang cantik, seksi dan hemat bahan bakar.
            Jadi dapat dikatakan bahwa sekarang kita perlu menjadi cerdas, cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam hidup.Untuk  bisa cerdas atau  berhasil dalam  hidup ini maka kita memiliki dan memperdayakan lima kekuatan yaitu action power, financial power, spiritual power, intellectual power, dan emotional power. Dengan demikian pelajar dan mahasiswa yang bakal sukses itu adalah mereka yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi, kecerdasan dalam bersikap/ aksi dan memiliki dukungan keuangan- biar pas-pasan namun bisa menunjang studi.(Note: Setia Furqon Khalid (2010). Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses. Sumedang: Rumah Karya).



Pentingnya Menjadi Siswa Yang Smart Book dan Smart Street



Pentingnya Menjadi Siswa  Yang Smart Book dan Smart Street
Oleh: Marjohan, M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)



            Kata-kata “smart” sangat disukai banyak orang, dan pusat kegiatan yang memakai kata smart seperti smart kid, smart group, smart hobby, smart house, dll selalu diburu oleh paraorang tua. Karena  mereka ingin memilki anak-anak mereka menjadi smart kid dan bersekolah di smart school. Banyak masyarakat yang memburu tempat kursus yang punya label “smart”. Kata smart lagi fenomena  sepertismart book, smart phone dan smart street.
            Banyak orang tahu bahwa kata smart berarti cerdas.Smart book berarti cerdas dengan buku.Maksudnya kalau di sekolah seorang siswa mampu melahap semua buku teks dengan tuntas.Apa saja yang dibaca bisa semua masuk ke dalam fikirannya. Sementara itu, smartstreet berarti cerdas di jalanan, maksudnya seorang siswa pintar dalam hidup, tahu menempatkan diri.Orang yang smart street adalah orang yang memiliki life skill.
            Anak anak kita yang belajar di sekolah favorit yang sangat focus dengan urusan akademik pada umumnya sudah memiliki karakter sebagai  smartbook. Pengalaman seorang yang mengajak tour satu grup para siswa yang hanya sekedar cerdas akademis atau smart book pergi tour melintasi Pulau Jawa dan suati ketika berhenti di rest area dan pergi ke sebuah mall besar.
Namun para siswa yang hanya sekedar smart book tersesat dalam mall yang gede dan tidak tahu bagaima harus keluar buat berkumpul ke dalam bis wisata yang telah menunggu cukup lama. Mereka cukup kehilangan akal, tentu saja tour leader butuh waktu cukup lama buat membantu mereka.Ini terjadi mereka minim dengat pengalaman di luar rumah, kurang memahami liku-liku jalan di alamini atau kurang paham dengan smartstreet sehingga bermasalah dalam sepenggal kehidupan nyata.
Sementara itu teman teman mereka yang berasal dari sekolah biasa-biasa saja lain yang tidak punya label unggul atau label smart juga pernah dibawa tour oleh sekolah mereka dan dilepaskan ke sebuah mall sangat besar, tidak satu orang pun yang menelpon karena merasasesatjalan.  Ternyata mereka sudah terbiasa menjelajah lingkungan dan alam lebih luas, sehingga mereka menjadi siswa yang smart street. Sebenarnya negara kita sangat membutuhkan generasi muda yang smart book dan sekaligus juga sebagai smart street.
            Indonesia dan Amerika Serikat adalah dua negara yang cukup berbeda, ibarat berbedanya timur dan barat. Jalaluddin Rakhmat (1998) mengatakan perbedaan kultur 2 bangsa sebagian bersifat stereotipe atau pendapat umum yang sudah digeneralisasi. Orang Amerika diajar untuk berkepala dingin, roman muka keras dan pikiran tenang.Dalam belajar di Amerika para siswa/ mahasiswa menghormati dosen (guru) mereka, namun mereka boleh memiliki pikiran sendiri, malah kadang- kadang juga berdebat dengan dosen untuk menguji gagasannya.Namun dalam pergaulan bersikap santai dan ramah.
Sementara di Indonesia orang cenderung menggunakan visualisasi dan bahasa yang lidak langsung ke pokok permasalahan.Dalam belajar mereka menghormati dosen/guru, tidak terbiasa untuk berdebat karena dosen dan guru dianggap ahli, dan mahasiswa/ siswa terbiasa mencatat sebanyak mungkin.
Kedua negara ini berbeda dalam kemajuan sistem pendidikan, kualitas SDM masyarakatnya, budayanya, dan banyak hal.Praktek pelaksaan mendidik di sekolah Amerika juga sangat berbeda dengan sekolah di Indonesia. Penulis menulis tentang hal ini bukan bermaksud untuk  menyanjung Amerika Serikat setinggi langit, dan merendahkan wibawa Indonesia, negara yang selalu kita cintai.
            Adalah fenomena bahwa di Indonesia semua anak didorong buat belajar dan membaca membaca sebanyak mungkin, agar mereka menjadi smartbook.Kemudian campur tangan orang tua dalam mendidik sebagian dalam bentuk pintar memerintah, menyuruh dan kapan perlu melarang dan marah- marah, dan berpangku tangan setelah itu.Di sekolah anak-anak belajar, berkompetisi buat memahami dan melahap isi semua buku teks.Kapan perlu mereka harus menghafal semua teori, tanpa melewatkan titik dan koma-nya.Al-hasil penguasaan kognitif atau akademik mereka signifikan cukup bagus.
            Di negara ini banyak anak yang hanya belajar dan terbelenggu oleh urusan kognitif semata.Meski sudah ada pemaham kearah konsep afektif/ sikap dan praktek, tetapi itu hanya sebatas basa-basi.Maksudnya belum menyentuh dasar keberanian anak.
            Urusan akademik memang selalu nomor satu, dari pagi hingga sekitar jam tiga sore- hingga usai jam belajar buat pulang ke rumah.Setelah itu anak- anak cerdas tadi dikirim lagi oleh orang tua ke tempat bimbel (bimbingan belajar).
“Cukup melelahkan pak keluh seorang anak.Namun orang tua selalu memaksa agar saya bisa memperoleh passing grade yang tinggi.Agar saya kelak bisa jebul di jurusan yang bergengsi dan di perguruan tinggi favorit”.
Ya begitulah sebahagian anak cukup lama mereka dibelenggu atau terpenjara dalam kamar akademik.Hingga mereka pulang ke rumah dengan letih dan lesu menjelang senja tiba.Dan seperti itulah fenomena anak anak cerdas a’la Indonesia.
            Memang belajar pada Bimbel sudah menjadi sebuah fenomena bagi anak-anak cerdas , utamanya bagi orang tua mereka yang punya duit cukup. Bimbel itu sendiri gedungnya sudah bertebaran di mana-mana, malah sudah dibikn dalam franchise education atau bisnis pendidikan.Bimbel telah menjamur dan tinggal memilih mana yang terbaik dan cocok menurut selera.
            Saat penulis remaja, sering melihat orang pergi les dalam bentuk les menjahit, les memasak kue yang diselenggarakan oleh keluarga Tionghoa.Juga les otomotif, les merangkai elektronik, hingga les main organ, biola, gitar, dan lain-lain.Les- les seperti itu membuat para remaja cerdas secara non akademik.Namun les- les seperti itu sudah sangat langka, yang menjamur adalah les mengolah soal- soal mata pelajaran yang pokok dalam ujian nasional.Les ini dikemas dalam bentuk “bimbingan belajar”.Sekali bahwa sekarang bimbingan belajar sudah melimpah.
            Antara satu Bimbel dengan Bimbel yang lain juga ada kompetisi dalam memperebutkan anak anak cerdas. Agar bisa menjadi menariki maka pemilik bimbel mendesain interior dan eksterior gedungnya seapik mungkin.Pakai spray pengharum pada ruang cantik penuh AC. Ruang belajar bimbel dengan tentor yang memiliki pribadi menarik dan performance anggun, semuanya menjadi belajar dengan mentor pilihan.
            Tentor bimbel yang ramah tamah, bersahabat dan pribadi hangat sering lebih mereka idolakan dari guru- guru mereka sendiri di sekolah mereka yang kadang kala berwajah sewot dan berbahasa yang kurang simpatik. Ya ini adalah fenomena, bahwa pribadi tentor dan proses pembelajaran pada bimbel telah mengalahkan PBM di kelas yang kusam dengan guru yang nggak bersahabat.
            Singkat cerita bahwa untuk urusan akademik atau kognitif seorang siswa menghabiskan waktu sebanyak 10 jam per hari. Mereka sangat percaya bahwa pencapaian akademik adalah visi dan tujuan belajar mereka.Yang mereka yakini adalah kalau mereka mampu memperoleh skor akademik yang tinggi maka kelak mereka bisa memilih jurusan yang bagus, kuliah di tempat favorit. Setelah kuliah dan wisuda mereka akan tersenyum karena bakalan berkarir di tempat yang basah, kapan perlu banjir dengan duit.
            Orang tua di rumah juga sudah memahami bahwa anak perlu belajar kuat dan bersemangat untuk meraih skor dan rangking setinggi langit.Anak perlu memiliki prestasi akademik yang bagus.Jadinya anak-anak musti bisa belajar di sekolah favorit.Orang tua memilihkan sekolah berlabel unggul buat mereka.Mereka menyerbu sekolah berlabel unggul, sekolah model, sekolah perintis, sekolah percontohan, sekolah multi-talenta, dll.
            Memang bangsa kita dan apalagi anak anak muda senang dengan merek atau label.Mereka selalu mencari pakaian mereka, sebagai contoh. Sehelai baju kaos berharga 50 ribu  perak yang ada merek “Foot Ball of Europe” lebih dikagumi dan diminati dari pada sehelai baju kaos berharga “satu juta perak” namun  pada punggungnya ada tulisan “Club Sepak Bola Bintang Kecil”.
            Seorang famili yang baru pulang dari Amerika Serikat, setelah mengikuti program pertukaran pelajar, YES- Youth Exchange Program” tindak henti henti berbagi cerita dan pengalaman menarik tentang way of life orang Amerika dan way of life kita.Ia mengatakan bahwa program pembelajaran di sekolahnya di Colorado- Amerika Serikat cukup berbeda dari sekolahnya yang di Bukittinggi.
Banyak teman-temannya yang sekolah di Bukittinggi,  juga siswa-siswa  di Indonesia secara umum, pada terlalu sibuk dengan urusan akademik. Semua anak pada bersitungkin (semata- mata terfokus pada satu tujuan saja) untuk melahap rumus- rumus pelajaran.Dari pagi hingga awal sore mereka belajar di sekolah dan dari sore hingga malam belajar lagi di bimbel. Pulang sekolah sudah telat  dan pulang bimbel juga sudah malam semua membuat badan terasa capek:
“Ah pengen tidur saja atau nonton saja lagi, tetapi takut kena ledek oleh mama dan dianggap malas”.Juga mana ada waktu lagi buat menolong mama di rumah.
Sebagian siswa merasakan badan mereka yang lesu karena asupan gizi yang salah dan tidak berimbang.Pada umumnya anak anak kita telah merasa sebagai warga modern dengan mengkonsumsi jajanan cepat saji, makanan dan minuman yang kaya dengan zat kimia atau adiktif.Kemudian kebiasaan mengkonsumsi minuman langsung dari show-case, minumah dalam label mewah namun tidak menjanjinkan kesan ikut mendorong anak berperilaku hidup tidak sehat dan juga mengadoppsi life style yang mereka anggap mewah.Pokoknya asupan gizi yang kurang berimbang membuat mereka juga kurang sehat.
“Mana mungkin tubuh dan fikiran terasa bisa jadi segar dan bugar dengan life style seperti itu”.
“Ya demikianlan realita cara belajar dan gaya hidup sebahagian generasi sekarang mereka. Yaitu gaya hidup yang hanya belajar buat menggapai cerdas akademik setinggi mungkin, namun mengabaikan kecerdasan non akademik”
Di negara Paman Sam sana, dikatakan bahwa bahwa anak-anak belajar secara alami saja, tidak begitu demam bimbel betul. Tempat bimbel itu tetap ada namun tidah ada fenomena deman bimbel setiap akhir tahun akademik. Belajar di sekolah saja itu mereka rasakan  sudah cukup. Mereka tidak perlu lagi pergi harus ikut bimbel.
Guru- guru mereka di sekolah sudah cukup professional. Penampilan menarik, pribadi hangat, sangat menguasai bidang studi dan tahu cara menyajikannya dengan cara kreatif dan menyenangkan. Ruangan kelas dan lingkungan sekolah penuh dengan iklim layanan prima: look smile, greed, serve, and thank. Bisa jadi guru-guru di kelas Amerika sebagus kualitas guru-guru bimbel kita, atau malah lebih lagi.
“Ya betul bahwa di sana kami tidak perlu pergi bimbel lagi. Dan bimbel memang ada, tapi hanya dikunjungi bagi yang betul- betul memerlukan layanan”.
Kebiasaan di sana, usai sekolah mereka pulang dan selanjutnya pergi untuk menekuni hobi mereka. Bagi yang gemar berolah raga akan pergi ke lapangan, ada yang main badminton, menunggang kuda, main base ball, main cricket, hingga main karate. Mereka menekuninya bersungguh- sungguh- sangat menikmati hobinya.Sehingga pada akhirnya banyak yang menjadi atlit nasional atau internasional beneran”.
Bagi yang gemar pada bidang music dan seni, mereka pada menyerbu theater. Ada yang mendalami music jazz, musicpop, biola, key board, mendalami ballet hingga seni lainnya. Mereka juga menekuni hobi ini hingga pada akhirnya- saat tumbuh dewasa-  mereka bisa berkarir pada bidang ini. Menjadi pemain biola, music, dan theter professional.
Bagaimana dengan urusan akademik ?Ya mereka juga selalu memahami dan menekuni.Walau mereka pada umumnya tidak beragama Islam, namun mereka berbuat sesuai dengan konsep agama kita “man jadda wa jadda- barang siapa yang bersungguh akan berhasil”.
“Sekali lagi bahwa kualitas PBM di kelas di sekolah Amerika sebagus kualitas bimbel di kelas bimbel terbaik di negara kita, atau lebih baik lagi”.
Orang tua juga punya peran penting dalam mendukung sukses kehidupan seorang anak.Orang tua di negara kita memahami bahwa setiap anak perlu memahami dan menguasai akademik.Mereka sangat bersimpati dengan anak mereka yang telah menghabiskan waktu di sekolah dan di tempat bimbel agar bisa memperoleh skor akademik yang tinggi dan kelak kuliah di tempat yang favorit (?).Setelah itu seperti ilustrasi yang mereka peroleh bahwa karir cemerlang datang dengan mudah.
Makanya orang tua bersimpati bahwa anak- anak mereka sudah cukup lelah oleh urusan akademik dan mereka tidak mau mengganggu anak lagi.Anak tidak perlu lagi ikut cuci piring, cuci motor, merapikan ruang rumah, juga tidak perlu terlibat dalam kegiatan social di lingkungan tetangga.
Karena anak sudah begitu lelah, mereka perlu dibantu dan dilayani.Kalau perlu anak harus dimanjakan.Ada kesan bahwa pendidikan di rumah sekarang bahwa anak tidak perlu lagi dilibatkan.Jadinya anak tidak kenal dengan pengalaman memasak, mencuci malah juga tidak tahu bagaimana orang tua mereka berbisnis.
Kasihan anak sudah letih, dan akhirnya anak memilih untuk bersenang- senang, bersantai, sibuk dengan gadget, terbenam dengan game on-line atau hanyut dengan facebook, twitter, bbm, dan media social lainnya. Karena sudah terlanjur suka dengan aktifitas sendiri, tidak melebur dengan tetangga atau lingkungan sosial maka lahir ribuan generasi yang kurang peduli dengan sosial.
Kita mendidik dengan salah konsep, anak korban tekhnologi dan hiburan, hingga rumah-rumah dan sekolah kita yang menciptakan anak yang hanya cerdas akademik namun buta dengan lingkungan- tidak punya life skill- kurang mampu dalam mengurus diri. Pendidikan kita telah menciptakan anak- anak yang sekedar “rancak di labuah- sekedar bagus pada penampilan”  yang sekedar cakep pada penampilan, smart book but poor life skill.
Hal yang berbeda dengan orang tua di Amerika- bukan bermaksud untuk memuji bangsa Amerika- mereka adalah orang tua yang memahami konsep parenting. Perkawinan di sana punya sarat bahwa semua calon pengantin sebelum menikah musti mengikuti kursus parenting- bagaimana menjadi orang tua yang ideal. Orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan menumbuhkan anak- anak yang berkualitas.
Hampir semua orang tua di sana tahu dengan peran mereka. Orang tua sebagai educator, dan guru di sekolah sebagai teacher.Educator berarti pendidik dan teacher berarti pengajar. Orang tua sebagai educator akan menumbuh kembangkan prilaku dan tanggung jawab anak. Individu yang baik adalah individu yang tahu dengan tanggung jawab mereka.
Al-hasil setiap anggota keluarga tahu dengan job description (pembagian tugas) mereka.Setiap orang di rumah punya tugas dan tanggung jawab masing- masing. Ayah dan ibu ikut melibatkan anak dalam aktifitas di rumah dan mendorong anak untuk juga aktif dalam sosial. Hingga sekolah dan rumah- rumah di Amerika menciptakan anak-anak yang smart book and smart street.
Anak- anak di Indonesia berlomba-lomba buat belajar smart agar kelak mampu menuju perguruan tinggi terbaik.Mereka sudah terbiasa dengan belajar dan belajar demi kualitas akademik- hingga mereka menjadi smart book, dan itu juga sangat penting. Namun proses kehidupan membuat mereka menjadi miskin dengan smart street atau life skill.
Karena memiliki skor akademik yang bagus, pada akhirnya mereka mampu menerobos perguruan tinggi terbaik. Mereka kemudian mengikuti proses perkualiahan hingga tamat dan wisuda. Namun semua universitas tidak memberikan sebuah jabatan dan pekerjaan yang basah buat mereka sebagai sarjana baru, kecuali hanya memberikan selembar janji dalam bentuk ijazah dan transkrip nilai.
Selepas itu bagi sarjana yang miskin smartstreet dan tidak punya life skill akan dilanda oleh ketidak berdayaan dan kegalauan akademik. Mereka berusaha bertahan buat menunggu datangnya “job- fair” tahun berikutnya atau mengirim lamaran demi lamaran ke daerah yang jauh darim kampung halaman.Mau pulang kampung ahhhhh enggan. Biarlah dulu menghabiskan masa hingga usia merangkak tua.
Anak- anak di sekolah sana, saat masih di level SLTA telah punya pilihan karir yang jelas. Pembinaan dan pilihan karir mereka sangat jelas.Jadi mereka memilih perguruan tinggi tidak secara menerabas atau hantam kromo.Memilih jurusan dan perguruan tinggi bukan sekedar ikut-ikutan atau gengsi- gengsian. Di sana tidak ada fenomena memfavoritekan suatu jurusan dan perguruan tinggi secara berlebihan.
Proses belajar di sekolah dan perkuliahan di perguruan tinggi telah menggiring anak- anak untuk menjadi smartbook dan smartstreet. Kemudian semua orang yang mengerti dengan konsep parenting juga telah menjadi guru terbaik bagi anak- anak mereka, hingga juga ikut mendorong mereka menjadi generasi yang cerdas dengan buku, cerdas di lapangan, berani, punya nyali dan punya rasa tanggung jawab.
Kualitas pendidikan kita di tanah air, apakah di sekolah berlabel unggul, apalagi di sekolah biasa- biasa saja mendidik anak menjadi cerdas. Namun cerdas mereka mungkin baru sebatas cerdas di tingkat sekolah, tingkat, kecamatan, atau kota. Hanya segelitir saja yang cedas berkualitas propinsi apa lagi cerdas di level nasional. Sementara pendidikan di sana, juga di negara maju lainnya, seperti di Singapura, Jepang, Eropa, anak- anak belajar untuk menjadi generasi cerdas tingkat nasional, dan kapan perlu cerdas untuk tingkat internasional. (Note: Jalaluddin Rakhmat .(1998). Komunikasi Antar Budaya, Paduan Berkomunikasi DenganOrang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya).


Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture