Senin, 03 April 2017

Kemampuan Akademik Dan Pengalaman Kerja Sebagai Jalan Toll Menuju Masa Depan

Kemampuan Akademik Dan Pengalaman Kerja Sebagai Jalan Toll Menuju Masa Depan
Oleh: Marjohan, M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)
Saya sangat tertarik dengan tulisan Annie Mueller yang saya baca pada www.investopedia.com dengan judul: work experience vs education- which lands you the best job ? Tulisan ini dijabarkan dalam bentuk tinjauan pro dan kontra. Beberapa argumen yang dipaparkannya adalah seperti:
- Pendidikan tinggi hanya membuktikan bahwa anda hanya bisa sukses dalam
bidang akademik, bukan dalam dunia kerja yang nyata.
- Sukses dalam pekerjaan yang aktual (pengalaman kerja) lebih berarti dari sukses
dalam bidang pendidikan.
Tinjauan pro dan kontra di atas didukung oleh pendapat George D Kuh yang menulis tentang “the chronicle of higher education”. Ia mengatakan bahwa seseorang yang bekerja saat masih kuliah akan memperoleh keterampilan yang sangat berguna seperti keterampilan team work dan manajemen waktu.
George D Kuh menambahkan bahwa bekerja part time (sambil kuliah) akan membantu mahasiswa untuk melihat dari dekat tentang nilai praktek sesuai dengan teori yang dipelajari dalam kelas dan diapplikasikan dalam bentuk nyata. Pengalaman tersebut juga akan punya dampak langsung dengan cita-cita atau karir yang sedang dicari.
Gelar kesarjanaan yang diperoleh seseorang 20 tahun lalu, khususnya untuk bidang tekhnologi, ilmunya bisa jadi tidak begitu terpakai untuk saat ini. Kecuali kalau seseorang memiliki akumulasi pengalaman kerja yang relevan yang lamanya juga 20 tahun. Dengan demikian pengalaman kerja lebih punya nilai signifikan dibandingan teori yang diperoleh melalui pendidikan sebelumnya. Sekarang banyak hal telah berubah maka kita sangat direkomendasi untuk memahami berbagai kecendrungan- trendy- di dunia ini namun kita selalu bisa melatih diri agar selalu memiliki banyak pengalaman kerja.
Paparan di atas, sekali lagi, merupakan pro dan kontra atas issue “mana yang lebih punya pengaruh signifikan antara pengalaman kerja atau keberadaan pendidikan dengan pengalaman akademiknya ?”.Namun saya ingin menggabungkan kedua titik pandang tersebut menjadi dua kekuatan yang aat bermanfaat untuk menuju masa depan menjadi konsep pemikiran yaitu: Kemampuan Akademik Dan Pengalaman Kerja Sebagai Jalan Toll Menuju Masa Depan.
Saya juga termasuk orang yang mendukung bahwa pengalaman kerja tetap lebih signifikan dari hanya sekedar memiliki segudang teori yang diperoleh lewat gelar kesarjanaan. Saya terinspirasi dengan kesuksesan dua orang tokoh yaitu pengalaman hidup Presiden Sukarno dan Ciputra, seorang pengusaha sukses dan konglomerat terkaya di Indonesia. Kedua-duanya adalah alumnus ITB.
Yang menjadi pertanyaan adalah “apakah ITB yang telah mampu membuat mereka sukses atau malah mereka yang secara sugnifikan membuat ITB menjadi lebih populer ?” Dan pertanyaan ini tidak perlu untuk direspon.
Benar bahwa ITB merupakan salah satu perguruan tinggi yang paling populer dan bergengsi di tanah air. Dan pada perguruan tinggi ini sempat belajar dua orang yang juga cukup populer. Dari biografi kita tahu bahwa yang membuat mereka lebih sukses adalah proses belajar dan proses kehidupan yang mereka ciptakan dan lewati.
Bagaimana pendapat banyak orang tentang apa yang perlu dimiliki oleh para siswa dan juga mahasiswa agar mereka mampu meraih masa depan ? Mayoritas orang tua
berpendapat bahwa sekolah atau pendidikan merupakan jembatan emas buat mengantarkan mereka menuju mimpi mereka tersebut. Sekolah yang juga identik dengan dunia akademik. Maka di sekolah para siswa yang jagoan dalam bidang akademik, ya merekalah yang dianggap sebagai orang yang sukses. Para siswa yang memperoleh juara kelas, juara bidang studi, juara olimpiade, hingga juara umum, ya mereka dielu-elukan ibarat seorang hero.
Para orangtua juga demikian, mereka rela untuk membebaskan anak dari tanggung jawab ikut mengerjakan house work- membersihkan rumah, menyapu, cuci piring, menutup warung, dll- asal anak mereka bisa ikut bimbel dan melahap semua contoh-contoh soal ujian. Sebab terbayang sudah bahwa kalau sang anak mampu memperoleh ijazah dengan skor- skor yang fantastis, wow dapat dipastikan bahwa jalan toll menuju masa depan sudah terbentang. Sang anak akan melenggang kangkung buat melangkah menuju perguruan tinggi favorit dan sebentar lagi mimpi mereka akan menjadi kenyataan.
Fenomena bahwa cukup banyak anak- anak yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi namun terlihat kebingun. Mereka bengong hendak mau dibawa kemana dibawa ijazah tersebut. Bahkan cukup banyak pemuda dan pemudi yang telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, sekalipun dari perguruan tinggi favorit, masih memperpanjak kontrak rumah kost mereka agar bisa tinggal lebih lama dan berharap kerja favorit yang mereka impikan jatuh dari langit atau segera datang melayang mendekatinya. Itu semua nonsense !!!
Ternyata nggak ada pekerjaan yang jatuh dari langit atau datang melayang-layang mendatangi seseorang yang sekalipun jagoan akademik. Bahwa pekerjaan itu tidak akan datang mengejar kita dan juga tidak datang dengan mudah. Bahwa kitalah yang wajib mencari pekerjaan atau menciptakan suatu pekerjaan. Ya kesuksesan kerja yang hebat itu kitalah yang menciptakannya.
Pernah dinyatakan bahwa kalau dahulu, 20 atau 30 tahun lalu, kalau ada kelulusan 100 % sarjana baru, maka yang 80 % memperoleh pekerjaan, sementara yang 20 % menjadi pengangguran. Mereka menjadi sarjana pencaker- pencari pekerjaan. Fenomena tersebut berbalik 180 derajat untuk kelulusan sarjana hari ini. Maka dari 100 % kelulusan sarjana baru, yang 20 % mampu memperoleh pekerjaan dan yang 80 % menjadi PTT alias Pengangguran Tingkat Tinggi.
Siapa sih 20 % para sarjana baru yang mampu memperoleh pekerjaan dan dari mana mereka berasal dan apa kegiatan mereka saat di SLTA dan saat jadi mahasiswa ? Para sarjana yang mampu memperoleh pekerjaan setelah wisuda adalah mereka para mahasiswa yang bukan mahasiswa “kupu-kupu”. Yaitu para mahasiswa yang kebanyakan hanya terfokus pada urusan akademik dan tahunya hanya “kuliah pulang- kuliah pulang”. Atau juga BUKAN tipe mahasiswa yang terjebak dalam karakter pasif- karakter 4D yaitu tahunya cuma “datang, duduk, dengar, diam”. Mereka adalah para mahasiswa yang selain aktif belajar juga ikut melibatkan diri dalam ekskul di kampus dan punya seabrek peran dalam hidup mereka.
Juga diperkirakan bahwa para sarjana yang mampu memperoleh pekerjaan tak lama setelah mereka wisuda adalah mereka yang saat jadi siswa SLTA bukan termasuk tipe siswa yang tahunya hanya jadi anak manis, siswa yang patuh, kaku, kuper, nggak punya banyak waktu buat membuka diri. Namun mereka adalah para siswa yang selain bertanggung jawab dalam belajar , juga meluangkan waktu dan fikiran dalam mengurus kegiatan OSIS di sekolah. Malah di rumah mereka adalah juga para anak yang juga pinter buat menyenangi hati orang tua- ayah dan ibuya.
“Jadinya mereka juga peduli dalam mengurus diri sendiri, merapikan kamar, membantu mama di dapur, menemani papa untuk beres-beres di perkarangan rumah”.
Untuk zaman sekarang para siswa yang hanya sekedar jago dalam menaklukan buku, bisa jadi juara kelas dan juara lomba bidang akademik, namun kurang membuka diri dan juga kurang peduli dengan sesama. Susah diajak ngomong dan susah buat bekerja sama dengan team work, maka diprediksi bahwa skor-skor yang tinggi pada selembar ijazah tidak akan banyak berguna bagi orang lain.
“Cukup banyak para pelajar yang pinter di sekolah, ya sekedar pinter cari nilai dan miskin pengalaman hidup, setelah dewasa hanya mampu jadi wong kecil atau pekerjaan biasa-biasa saja. Sementara itu ada orang yag saat remaja- sekolah di SMA/ MA yang pintarnya biasa-biasa saja, namun sangat peduli dengan sesama dan juga aktif dengan kehidupan sosial. Singkat kata dia adalah tipe orang yang cepat kaki- ringan tangan. Senang bekerja dan suka memberi bantuan pada sesama, maka setelah dewasa mereka alhamdulillah menjadi orang yang rata-rata tergolong sukses”.
Kalau demikian bagaima jadinya tentang sekolah ? Ya keberhasilan dalam hidup ini tidak hanya ditentukan semata-mata pada prestasi akademik. Prestasi akademik yang tinggi juga mutlak diperlukan bagi orang-orang yang juga akan berkarir dalam akademik, munkin untuk menjadi tentor pada bimbel, guru dan dosen. Namun pekerjaan di luar itu sangat direkomendasi untuk memiliki nilai dan keterampilan sosial yang juga ekstra. Kemampuan akademik tidak cukup buat meraih masa depan. Jadinya mereka mutlak untuk memili kecakapan hidup yang lain seperti kemampuan kerja sama (team work), keberanian, keterampilan berkomunikasi, kemampuan manajemen, kemampuan memimpin, kemampuan beradaptasi, dll.
Dari proses kehidupan bapak proklamator negara kita, Presiden Sukarno, tercatat bahwa prestasi akademik dan serangkaian pengalaman sosial/ pengalaman hidup telah menjadi kunci utama dalam mengantarkannya menjadi orang yang hebat dalam sejarah Indonesia, bahkan juga dalam sejarah dunia. Sejak berusia masih muda Presiden Sukarno sangat gemar belajar, membaca dan berorganisasi. Ia belajar secara otodidak untuk banyak bidang. Saat dia pindah rumah maka dia membutuhkan truk untuk membawa buku-bukunya dalam berbagai bahasa. Karena ia menguasai bahasa Inggris dan Belanda secara fasih dan beberapa bahasa asing lainnya.
Sukarno juga membaca banyak buku-buku politik, filsafat, agama, sosial dan biografi yang langsung ditulis oleh penuls besar di dunia. Dengan membaca buku-buku dalam bahasa Belanda dan Inggris maka ia langsung bersentuhan dengan para tokoh dunia. Untuk keterampilan sosial maka Sukarno banyak mengunjungi para tokoh hebat yang ada di kota dimana ia hidup. Dia senang bertukar fikiran, menulis dan berpidato sehingga ia adalah juga presiden yang jago menulis dan seorang orator ulung yang telah menggemparkan dunia. Melalui Sukarno maka orang-orang di dunia mengenal dan menyegani bangsa Indonesia.
“Betul bahwa ia tidak terpaku pada teori yang ia baca, maka ia juga aktif bergabung dengan berbagai klub dan partai politik yang mana merupakan wadah yang membuatnya bisa saling berbagi dan menyalurkan aspirasi untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka hingga bisa setara dengan bangsa-bangsa lain di duna”.
Begitu juga dengan Ciputra. Saat dia tercatat sebagai mahasiswa ITB, kemiskinan telah menjadi teman kehidupannya. Maka untuk melawan kemiskinan ini, ia memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Ia berkolaborasi dengan temannya untuk mendirikan usha konstruksi, pada mulanya hanya secara kecil- kecil. Ia memberanikan diri untuk menawarkan jasa konstruksi kepada pihak pemerintah dan swasta. Dia mengalami jatuh bangun dalam mengelola kehidupan dan bisnis. Walau ada badai menerjang, ia tetap bangkit dan bertahan. Hingga usahanya ikut mencerahkan konstruksi ibu kota dan beberapa persada nusantara.
Hidup memang selalu berjuang, bangkin dan bergerak. Kemampuan akademik yang didukung oleh berbagai keterampilan lain seperti keberanian, manajemen waktu, rasa tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi an beradaptasi mutlak untuk dimiliki. Ini semua merupakan jalan toll untuk memudahkan kita dalam menggapai masa depan kita.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture