Sabtu, 03 Oktober 2015

Menuntut Ilmu Buat Menajamkan Fikiran



Menuntut Ilmu Buat Menajamkan Fikiran
OLeh: Marjohan, M.Pd
SMAN Negeri 3 Batusangkar

Menuntut ilmu sudah menjadi kebutuhan masyarakat kita. Sekarang banyak orang tua dan anak-anak mereka berlomba agar bisa bersekolah di sekolah yang terkemuka kualitasnya. Dari  tulisan-tulisan yang kita baca pada media cetak dan internet ditemui bahwa banyak pelajar Indonesia yang begitu tekun dalam belajar, mengikuti kursus atau bimbingan belajar agar lebih cerdas.
Kita sering melihat bahwa skor ujian anak-anak Indonesia cukup bagus, malah sering memperoleh juara olimpiade sains di dunia. Tentu saja mereka diharapkan bisa memimpin sains dan tekhnologi, namun kenyataan pendidikan kita tetap tertinggal disbanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan New Zealand. Penyebabnya adalah karena budaya pendidikan kita yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan (keterampilan berfikir dan kreativitas) itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.
Ya betul bahwa para siswa  dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya. Para siswa yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak. Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di kita- terutama di sekolah unggulan karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu.
Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Akibat waktu sekolah yang panjang dan beban PR yang berat, para pelajar kita hanya terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar, yang sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah.
Saya sendiri mengajara pada sebuah sekolah unggulan, dimana para siswa lebih sering menggenggam buku-buku berisi rumus-rumus dan sangat lemah dalam melihat hubungan-hubungan dalam berbagai literature-mereka kurang terbiasa banyak membaca buku-buku yang bisamembaca wawasan mereka. Termasuk bagi mereka yang tercatat sebagai jagoan, akhirnya kebiasaan mereka tidak melahirkan talenta saintifik.
Indonesia sendiri telah berkali-kali memiliki para juara. Akan tetapi mereka merupakan hasil penggodokan khusus oleh tim khusus olimpiade sains. Mereka bukan hasil alami iklim pendidikan seperti biasa.
Pendidikan di negara yang maju di Asia, seperti di Singapura dan Malaysia, juga seperti itu.  Negara ini digambarkan kuat dalam menyerap pengetahuan yang ada dan dalam mengadaptasi teknologi yang sudah ada (maklum, mereka canggih dalam mengingat). Akan tetapi belum signifikan dalam membuat kontribusi orisinil terhadap ilmu-ilmu dasar. Hingga kini tidak ada temuan-temuan ilmiah berarti dari Asia. Kemajuan besar dalam sains dan teknologi yang digapai negeri-negeri Asia tidak ada yang merupakan karya orisinil Asia: nyaris semuanya merupakan adaptasi teknologi dari negeri-negeri barat.
Saya sering berbagi cerita dengan siswakelas 12 di SMA dan mereka sangat berambisi untuk bisa mengikuti bimbingan belajar, malah ada yang melahap dua atau tiga bimbingan belajar, berharap agar mereka bisa memperoleh passing grade yang tinggi dan akhirnya bisa kuliah di Perguruan Tinggi yang bergengsi.
Makin dekat datang tanggal Ujian Nasional maka kebutuhan buat ikut bimbel semakin tinggi, harapan agar skor UN bisa jadi hebat. Di mana-mana di berbagai sekolah di seluruh penjuru negeri, orientasi pengajarannya hanya agar para peserta didiknya berhasil melewati ujian nasional. Bulan-bulan menjelang ujian, berbagai mata pelajaran yang tidak diujiankan akan dihapus dari jadwal, dan dianggap menjadi pelajaran kelas dua. Latihan tes ditekankan. Berbagai les diselenggarakan. Maklum, sekolah akan dianggap gagal jika tidak berhasil meluluskan siswa-siswanya dalam ujian nasional.
Pendidikan yang berorientasi skor-tes menjadi berkah tersendiri bagi industri persiapan tes. Industri itu akan menjadi industri pendidikan yang paling menjanjikan.  Namun itu semua kebijakan pemerintah. Silahkan mengikuti bimbel namun jangan lupa buat membuat adaptasi teknologi sehingga memakmurkan negeri ini.
Yang perlu kita ingat bahwa skor yang tinggi hanya berguna buat memudahkan untuk kelulusan dari universitas. Sementara untuk kesuksesan sangat ditentukan oleh factor lain seperti keterampilan dalam kepemimpinan, motivasi diri, kemampuan berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, membaca peluang sebagaimana yang dibuktikan oleh biografi Presiden Sukarno, Irwan Prayitno- Gubernur Sumatra Barat, Ciputra sebagai pemisnis kelas dunia dimana mereka lulusan Perguruan Tinggi favorite di Indonesia. Namun Perguruan Tinggi tersebut tidak menjanjikan pekerjaan, kecuali hanya mengasah nyali dan keberanian dalam berbuat. Demikian juga yang dilakukan oleh Kasmiati yang belajar dari alam dan ibu Ade yang meninggalkan karir PNS dan menemui pekerjaan yang memberikan tantangan buatnya.  
1). Presiden Sukarno, dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo seorang guru, dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai, seorangperempuan Bali.
Sukarno waktu kecil tinggal bareng kakeknya di Tulung Agung, Jawa Timur. Sekolah berkualitas memang penting untuk memacu motivasi, maka ayah Sukarno memasukkannya ke sekolah Eerste Inlandse School, sekolah tempat ayahnya bekerja. Berarti ayahnya juga guru yang hebab. Ayah yang hebab akan memotivasi anak untuk jadi hebat.
Sukarno sejak dari kecil sudah punya prinsip senang dengan”kemandirian”  yang dia berdiri istilah dengan “berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri” Ia berdikari dalam meningkatkan kualitas diri, melalui banyak membaca, belajar pidato sendirian, dan juga dalam menguasai bahasa asing. Ya  Bung karno menganut ideologi ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Saat menjadi presiden Bung Karno dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu. Ia mengajak negara-nega-ra sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar Revolusi ini juga berhasil mengge-lorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI. Bung Karno juga memiliki slogan yang kuat yaitu “gantungkan cita-cita setinggi bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur”.
Dalam usia 16 tahun, Bung Karno fasih berbahasa dan membaca dalam Bahasa Belanda. Ia sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya dalah Thomas Jefferson dengan bukunya Declaration of Independence. Bung Karno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln, mereka adalah tokoh hebat dari Amerika Serikat. Tokoh pemikir bangsa lain adalah seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Bung Karno juga mempelajari ‘Gerakan Buruh Inggris” dari tokoh-tokoh tadi. Bung Karno juga membaca tentang Tokoh Italia, dan ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Bung Karno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Bung Karno muda untuk menjadi maju dan smart.
Kemudian, bagaimana masa kecil dan proses kreatifitas  Bung Karno yang lain? Agaknya Bung Karno telah memiliki jiwa leadership (kepemimpinan) sejak kecil, karena apa saja yang diperbuat Bung Karno kecil, maka teman-temannya akan mengikuti. Apa saja yang diceritakan Bung Karno kecil, maka teman-teman akan patuh mendengarkannya. Oleh teman-temannya, Bung Karno bahkan dijuluki “jago”. karena gayanya yang begitu “pe-de atau Percaya Diri”. Itu pula yang mengakibatkan ia sering berkelahi dengan anak anak Belanda.
Bung Karno adalah juga orator Ulung. Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya dan latihan latihan berpidato yang ia lakukan. Ketika masih belajar Bung Karno sering berlatih berpidato sendirian di depan kaca dan juga berbicara di depan gang nya (teman-temanya).
Setelah ituSukarno menyambung sekolah ke HBS (Hogere Burger School) dan ia juga sempat sekolah di Europeesche Lagere School (ELS).Membaca adalah kebiasaan positif yang selalu dilakukan Bung Karno sejak kecil. Apa alasan mengapa Bung Karno harus gemar membaca, rajin belajar dan belajar tentang segala sesuatu ?  Didorong oleh ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, maka Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius dalam belajar. Ketika belajar di HBS- Hoogere Burger School  Surabaya, dari 300 murid yang ada dan hanya 20 murid saja yang pribumi (satu di antaranya adalah Bung Karno) yang sulit menarik simpati teman-teman sekelas. Mereka memandang rendah kepada anak pribumi sebagai anak kampungan. Namun Bung Karno adalah murid yang hebat sehingga satu atau dua guru menaruh rasa simpati padanya.
Rasa simpati gurunya, membuat Bung Karno bisa memperoleh fasilitas yang  lebih untuk “mengacak-acak atau memanfaatkan” perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Umumnya buku ditulis dalam bahasa Belanda. Problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya (membaca buku yang ditulis dalam bahasa Belanda). Entah strategi apa yang ia peroleh secara kebetulan, namun Bung Karno punya jalan pintas (cara cepat) dalam menguasai bahasa Belanda. Bung karno menjadi akrab dengan noni Belanda sebagai kekasihnya. Berkomunikasi langsung dalam bahasa asing (Bahasa Belanda) adalah cara praktis untuk lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu kekasih Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.
Saat sekolah di HBS, Sukarno indekost di pondokan H.O.S. Tjokroaminoto, seorang pemuka masyarakat, cendekiawan dan teman ayahnya. Saat bersekolah Sukarno aktif berorganisasi, dan akti mengambil peran dan juga selalu berrtukar fikiran dengan para tokoh.
Sukarno mengikuti organisasi Tri Koro Dharmo, kemudian ganti nama menjadi Jong Java atau Pemuda Jawa.
Dari hasil banyak berdiskusi, Sukarno tentu punya banyak ide, dan ia jadi rajin menulis. Tulisannya terbit pada surat kabar Oetoesan Hindia, pimpinan Tjokrominito. Bung Karno juga gemar menuliskan opini-opininya dalam bentuk artikel. Kumpulan tulisannya dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Tulisanya yang lain dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya.
Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921 Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya.
Saat kuliah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Jadi yang juga membuat Sukarno tumbuh berkualitas, selain dia memiliki motivasi belajar yang hebat, dia juga memiliki teman-teman yang berkualitas untuk tempat mengasah logika dan intelektual komuniasi sosialnya.
Tamat dari ITB, Sukarno tidak mencari kerja, ia malah mendirikan pekerjaan, pada tahun 1926 ia mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya. Malah ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota.
2). Ir. Ciputra, lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ia terkenal sebagai pengusaha properti yang sukses, antara lain pada Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra. Masa muda Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Parigi, Sulawesi Tengah. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Bapaknya Tjie Siem Poe ditangkap oleh pasukan tak dikenal, karena dituduh sebagai mata-mata Belanda/Jepang dan tidak pernah kembali lagi pada tahun 1944.
Ketika remaja ia bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari SMA, ia meninggalkan desanya menuju Jawa. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung. Pada tingkat empat, ia bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor di sebuah garasi. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia pindah ke Jakarta.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di ITB, Ciputra mengawali kariernya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI. Ciputra bekerja di Jaya Group sebagai direksi sampai dengan usia 65 tahun, dan setelah itusebagai penasihat. Di perusahaan tersebut, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol.
Ciputra saat ini dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship / kewirausahaan di Indonesia. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menanamkan pentingnya kewirausahaan untuk membuat bangsa Indonesia maju.
3) Irwan Prayitno, yang gelar lengkapnya adalah Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc datang dari keluarga Minangkabau, Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang. Irwan Prayitno adalah anak pertama, memiliki tiga adik, dari orangtua yang sama-sama dosen.
Jadi orang tua yang berpendidikan biasanya mampu mendidik anak yang juga cerdas dan berkualitas. Masa kecilnya yang sering pindah-pindah telah membuat pengalaman geografi dan pengalaman adaptasi sosial. Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA, menjalani dua kali kepengurusan OSIS pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Selama di SMA, ia meraih juara pertama di kelasnya dan selalu dipercayakan sebagai ketua kelas.
Ternyata anak-anak yang sempat menjadi ketua Osis saat di SMA memiliki kemampuan leadership yang bagus dan pada umumnya sukses setelah dewasa. Ini dibuktikan pada beberapa teman. Teman saya saat di SMA, Hidayat Rusdi, saat di SMA ia pernah menjadi ketua Osis di SMA Negeri 1 Payakumbuh dan setelah dewasa ia sukses berkarir di Perusahaan Perminyakan. Teman saya lain, adalah juga bernama Rusdi, tetapi Rusdi Thaib. Saat di SMA ia juga pernah menjadi Ketua Osis di SMA Solok, dan setelah dewasa ia berkarir sebagai Dosen Pasca Sarjana dan di Atase Budaya di Kantor Kedutaan. Betapa pentingnya para siswa harus memiliki keterampilan leadership saat masih kecil atau remaja, dengan harapan setelah dewasa akan lebih mudah meraih sukses dalam karirnya.
Selanjutnya tentang Irwan, ia sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya. Namun, karena memunyai masalah mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia. Setelah tamat pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun, menurutnya yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai semata, tetapi pengembangan diri.
Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Karena IPK rendah, Irwan memilih tidak melamar pekerjaan di Jakarta. Ia memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Sebelum mengakhiri kuliahnya, ia telah berpikir bagaimana merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Semula, Irwan merintis kursus bimbingan belajar Adzkia di Lolong pada 1987. Selain dirinya, beberapa pendiri Adzkia adalah sekaligus guru di antaranya Syukri Arief dan Mahyeldi Ansharullah.
Saat itu saya kuliah di jurusan Bahasa Inggris-IKIP Padang dan saya juga menyibukan di pada Perpustakaan Masjid Al-azhar di Komplek Pendidikan IKIP dan UNAND. Di sana saya berkenalan dengan Bang Irwan Prayitno yang sering membawa anak sulungnya. Dan saya mengira itu adalah adiknya, ternyata adalah anaknya.
Saya masih ingat bahwa pada awal karirnya, ia sempat memberi bimbingan konsultasi gratisan bagi mahasiswa yang mau kuliah melalui kegiatan amal yang diselenggarakan oleh Yayasan Amal Shaleh di Air Tawar- Padang. Yayasan ini dibimbing oleh Dr Muchtar Naim, seorang sosiolog dari Unand. Akhirnya Bang Irwan bikin kegiatan bimbingan belajar dan juga aktivitas sosial yang lebih professional. Ia dan teman- teman membuat kelas-kelas kursus.
Pada 1988, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati. Bermula dari kursus bimbingan belajar, Irwan membentuk Yayasan Pendidikan Adzkia yang secara bertahap mewadahi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Secara bertahap sejak 1994, Adzkia membuka jenjang perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan. Dalam pembinaan anak didik, ia mencurahkan ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah.
Perkembangan Yayasan Pendidikan Adzkia berpengaruh pada kemapanan hidupnya, mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Pada tahun 1995, Irwan mengambil kuliah di Selangor, Malaysia sambil membawa serta istri dan anaknya. Namun, karena IPK rendah, lamarannya sempat beberapa kali ditolak. Teman sesama aktivis dakwah di Selangor mempertemukannya dengan Pembantu Rektor UPM. Kepada Prof. Hasyim Hamzah, Irwan menyatakan kesanggupan menyelesaikan studi dalam tiga semester. Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM (Human Resource Development) di Universitas Putra Malaysia (UPM), Selangor. Tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun pada 1996, ia melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama.
Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.
Move on yang dilakukan oleh Irwan Prayitno sangat pesawat, bagaimana ia bisa menjadi Ketua Partai Keadilan, menjadi anggota DPR RI, dan terus menjadi Gubernur Sumatra Barat. Namun beberapa catatan awal hanya bertujuan bahwa Irwan Prayitno kuliah ke Universitas Indonesia bukan untuk mencari pekerjaan, namun untuk mematangkan pribadi, mengembangkan pemikiran, intelektual, mengawas leadership, kemampuan komunikasinya serta keberanian enterpreurship-nya.
4). Ibu Ade, saya tidak tahu dengan namalengkapnya. Yang saya tahu bahwa ia adalah Ibu kandung dari salah seorang murid saya. Ibu ade dahulu juga kuliah di IKIP Padang dan setelah itu menjadi Guru. Profesi guru akhirnya ditinggalnya, bukan profesi ini ini tidak bagus, namun bakat berbisnis atau berwirausahanya lebih berkembang. Saya sepat bertukar cerita saat saya berbelanja di tokonya.
Ibu Ade punya bisnis dalam bidang property (pengembangan perumnas), emas dan money changer. Di daerah yang tidak jauh dari rumahnya, ia mengobservasi ada hamparan tanah yang kurang produktif. Maka ia menemui pemilik tanah tersebut dan terjadi transaksi. Pendek kata tanah tersebut telah menjadi milik Ibu Ade dan selanjutnya dibuat kavling dan pembangunan perumahan buat warga dan utamanya para PNS. Sekarang property atau perumnas yang dikembangkan oleh Ibu Ade menjadi Perumnas yang cukup popular di kota Batusangkar.
Selain itu Ibu Ade juga menggeluti bisnis jual beli emas dan valas (valuta asing). Ya tidak hanya Ibu Ade, tetapi juga banyak orang yang memahami bahwa Jual beli valuta asing (foreign exchange trading) semakin dilirik selain investasi saham, obligasi, emas. Berbisnis pada bidang ini menekankan pada kecepatan transaksi dan juga keuntungan. Dalam investasi ini perlu fokus penuh dan jeli dalam melihat pergerakan market dan yakin saat mengambil keputusan. Ya sama seperti investasi lainnya, kita perlu kenali dan pahami agar bisa menikmati hasilnya. Bagi pemula juga bisa melakukan bisnis ini misal dengan cara mengikuti saja aktivitas para trader top. Dengan mengikuti pola trading mereka maka para investor pemula relatif lebih mampu mengidentifikasi peluang serta menghindari kerugian dengan lebih baik.
Saya tidak menjelaskan cara berbisnis property, emas, obligasi dan valas, namun ingin menginformasikan bahwa kaum perempuan, seperti Ibu Ade, juga melihat bahwa kuliah di Perguruan Tinggi bukan untuk mencari kerja, namun buat mematangkan pola berfikir. Malah pekerjaan sebagai Guru yang diberikan oleh Perguruan Tinggi telah ditinggalkan oleh Ibu Ade. Dan kemampuan melihat dan membaca peluang dan keberanian untuk berbisnis telah mengantar Ibu Ade sebagai warga yang terkemuka di kota Batusangkar.
5) Kasmiati, tidak pernah kuliah di Perguruan Tinggi. Iamenikah di usia muda, usia 22 tahun dan setelah punya 5 anak terasa himpinan masalah ekonomi yang mendera. Gaji suaminya sebagai prajutit TNI tidak pernah mencukupi, hingga ia berhutang dan akhirnya terpaksa gali lobang tutup lobang untuk menutupi kekurangan uang. Namun masalah keuangan makin melebar. Akhirnya ia menuntut ilmupada Universitas Kehidupan. Maksudnya ia curhat kepada lingkungan, tetangga, kenalan dan family yang dianggap lebih dewasa dan tahu solusinya. Akhirnya ia tertarik berbisnis dalam bidang kuliner dengan nama warung “Warung Ketupat Uni Upik”. Usahanya tidak begitu besar, namun ia sudah memiliki karyawan dan bisa menyediakan kebutuhan sarapan para langganannya yang jumlahnya cukup banyak menurut pandangan. Di sini yang penting bagaimana pandangan Uni Kasmiati dalam merajut sukses pada bisnis warungnya.
Kita sering mendengar bahwa urusan perut itu tidak bisa ditolerir. Ya, anggapan tersebut memang ada benarnya, karena kebutuhan manusia akan makan dan minum sudah menjadi kebutuhan pokok yang sama sekali tidak bisa ditunda-tunda. Dengan demikian, tak heran bila beberapa tahun belakang ini banyak pebisnis makanan betebaran di mana-mana, mulai dari pedagang makanan tradisional dengan istilah pedagang kaki lima, hingga pedagang makanan modern yang diklaim sebagai pengusaha kafe dan resto.
Kasmiati membuka usaha warung makanan yang modalnya cukup bisa dijangkau. Usaha makanan dan minuman bermodal rendah dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jenis dan tempat usahanya.
Kasmiati membuat survey di awal membikin warung dan ia menemukan produk khususbuat usahanya yaitu “Ketupat Gulai”. Meskipun juga ada produk lain seperti nasi goring, nasi soto, nasi sup dan aneka minuman.
Kebetulan Kasmiati memiliki lokasi usaha yang bagus, yaitu pada daerah persimpangan jalan di dekat Rumah Sakit Umum yang pengunjungnya selalu ramai. Tentu saja mereka membutuhkanjajan buat mengusir lapar.
Kasmiatim membuat konsep warungnya yaitu bagaimana agar outlet makannya dapat menarik pengunjung dan membuat mereka nyaman untuk memasukinya. Konsepnya ya warung dengan tata ruang yang sederhana, tetapi bersih dan nyaman.
Kasmiati juga memperhatikan pelayanan yang mengesankan. Ya Kasmiati membutuhkan beberapa orang karyawan buat membantu. Dan karyawan dilatih dan namun juga diaggap sebagai family, agar mereka bekerja dengan ikhlas dan setia, dengan bayaran gaji yang bagus. Karena karyawan juga merupakan aset bisnis.
Kasmiati kemudian juga menguasai manajemen keuangan. Disiplin adalah kunci untuk menjamin kondisi keuangan kita baik baik saja. Sederhananya dibisnis kuliner keuntungan bersih yang seharusnya kita dapat adalah 20 % jadi kalo outet kita menghasilkan 100 % per bulan mestinya 20 % masuk ke rekening kita. Ada bebrapa hal yang biasanya membuat bisnis kuliner kita tidak ada untung. Antara lain biaya bahan baku yang berlebihan, mestinya biaya bahan baku kita kontrol maksimal 60% dari target penjualan harian kita. Yang kedua biaya operasional yang cetar membahana, bisa jadi karena sewa tempat yang terlalu mahal, jumlah karyawan yang terlampau banyak. Intinya jika kita dapat mengelola keuangan dengan baik maka kita dapat menghasilkan uang dari bisnis kuliner kita.

Menunggu Cita-cita Jatuh Dari Langit



Menunggu Cita-cita Jatuh Dari Langit
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

            Saat kita masih kecil  sekolah di TK dan SD, ibu guru, bapak guru dan orang tua kita rajin memotivasi kita agar kita memiliki cita-cita- kelak di masa depan bisa menjadi orang sukses. Mereka berdoa dan berharap “moga-moga kamu kelak bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa negara dan agama. Untuk itu gantungkanlah cinta-cintamu setinggi bintang di langit.
            Ya…jadinya sejak itu kita menggantung cita-cita setinggi bintang di langit dan belajar sekuat tenaga. Cita-cita anak-anak TK dan SD memang sangat tinggi, mereka ingin menjadi Presiden, menjadi Menteri dan menjadi Jenderal. Bertambah usia maka cita-cita mereka sedikit menjadi lebih realis, kemudian mereka ingin menjadi dokter, polisi, pilot, tentara, perawat, dan pramugari. Cita-cita mereka sesuai dengan profesi yang sering mereka jumpai, cara berpakaian orang dengan profesi yang telah kita sebutkan di atas membuat mereka kagum dan ingin pula berkarir seperti mereka.
            Kebanyakan anak-anak (siswa SD hingga siswa SLTA) berfikir bahwa untuk menggapai sebuah cita-cita tidak begitu ribet. Cukup belajar sekuat mungkin. Bila mereka bisa juara kelas apalagi juara umum maka kelak karir yang hebat bakal berada digenggam. Saat mereka duduk di bangku SMA, maka kalau mereka ujian dan mampu memperoleh skor mata pelajaran yang masuk ke dalam Ujian Nasional, maka mereka bakal mampu kuliah di Perguruan Tinggi favorite. Dan kalau sudah kuliah di sana (menjadi sarjana)  maka karir yang basah dengan gaji yang gede bakal mengucur ke dalam kantong mereka.
            Dalam zaman merekrut PNS, Pegawai BUMN dan pegawai swasta yang begitu agak longgar- hanya berdasarkan skor memang mereka termasuk orang-orang yang beruntung. Namun peraturan sudah jauh berubah. Untuk PNS, misalnya, pemerintah sangat membatasi penerimaannya. Karena selama ini jumlah PNS yang berlimpah dan tak terkendalikan telah ikut memberatkan anggaran negara untuk menggaji mereka. Dan gara-gara rektuitmen PNS dilakukan secara asal-asalan maka cukup banyak yang direkrut para PNS yang kurang rajin, yang kinerjanya kurang bagus dan kurang mampu memajukan negara.
            Dulu nilai yang tinggi seolah-olah berguna buat menjangkau bintang-bintang yang tinggi, atau cita-cita yang bertebaran di langit. Begitu juara umum maka kelak seseorang bisa meraih karir sebagai dokter, perawat, pramugari, dll. Sekarang tidak lagi, malah dikatakan nilai yang tinggi berguna hanya buat syarat kelulusan dari Perguruan Tinggi, sementara untuk karir lebih didukung oleh keterampilan berwirausaha, leadership dan kemampuan berkomunikasi.
            Sebetulnya juga ada karir yang cukup menantang yang tidak mutlak ditentukan oleh nilai atau skor yang tinggi, tapi dipengaruhi oleh multi talenta seseorang. Untuk hal ini kita bisa bercermin pada biografi public figure, sebut saja seperti Mutiara Djokosoetono , Najwa Shibab, dan Oki Setiana Dewi.
Bagi warga Jakarta dan siapa saja yang mengunjungi Jakarta sudah pasti mengenal Taksi Blue Bird, ya sebuah armada taksi yang banyak bersileweran di kota Jakarta, dan sudah merupakan salah jenis kendaraan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di ibukota Jakarta. Pendiri Taksi Blue Bird adalah seorang perempuan pejuang dari Malang bernama Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Ia berasal dari keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupan berubah drastis. Dari seorang gadis cilik yang dikelilingi fasilitas hidup naik kemudian menjadi miskin. ia kemudian meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa.
Jadi penderitaan dan hidup susah bisa memicu seseorang dalam memperkuat motivasi berprestasinya. Kesederhaan hidup Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono telah menjadi motivasi hidupnya. Kesederhanaan hidup Bu Djoko semasa kecil, seperti makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan.
Menginjak remaja ketegaran semakin terasah. Ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran atau skill. Ia banyak membaca kisah-kisah inspiratif yang diperoleh dengan meminjam. Jadi tidak ada orang yang ingin sukses menjauhi kebiasaan membaca. Membaca malah bisa memperkaya wawasan berfikir seseorang.
Ia menyelesaikan pendidikan HBS, kemudian lulus Sekolah Guru Belanda atau Europese Kweekschool. Dengan tekad yang kuat ia meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan menumpang di rumah pamannya di Menteng. Kemudian jalan hidup membawa berkenalan dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, yang juga pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Laki-laki itulah yang menikahinya selagi Bu Djoko masih kuliah.
Mereka dikaruniai 3 anak, bekerja sebagai dosen di FHUI dan PTIK. Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri. Karakter tidak gengsi-gengsian penting untuk meraih sukses. Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Hingga Bu Djoko beralih kemudian berusaha telur di depan rumahnya.
Realita berjualan telur menjadi pilihan bisnis yang brilian masa itu. Saat itu telur belum sepopuler sekarang. Kemudian suaminya sakit-sakitan dan suaminya meninggal. Tak berapa lama setelah kepergian suaminya. PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup menghibur keluarga. Ia mendapatkan dua buah mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes. Disinilah embrio lahirnya Taksi Blue Bird.  
Pada suatu malam, Bu Djoko mulai merancang gagasan bagi operasional taksi yang dimulai dengan dua buah sedan pemberian yang dimiliki. Bu Djoko menyusun konsep untuk menjalankan usaha taksinya. Ia memikirkan mobil, cara mengelola dan juga memikirkan pengemudi. Pengemudi itu akan dididik dengan baik, dibina, dirangkul untuk sama-sama berkembang. Inilah fase yang penting dalam sejarah kelahiran Blue Bird.
Usaha taksi terebut menggunakan penentuan tarif sistem meter yang kala itu belum ada di Jakarta. Untuk order taksi, ia menggunakan nomor telefon rumahnya. Karena Chandra ditugaskan menerima telepon dari pelanggan maka orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra. Taksi Chandra yang hanya dua sedan itu kemudian melesat popular di lingkungan Menteng karena pelayanan yang luar biasa. Order muncul tanpa henti. Dari hasil keuntungan saat itu, BU Djoko bisa membeli mobil lagi.
Permintaan akan Taksi Chandra terus mengalir. Beberapa mobil yang telah dimiliki dirasa kurang mencukupi. Titik layanan kian melebar, tak hanya di daerah Menteng, tebet, Kabayoran Baru dan wilayah-wilayah di Jakarta Pusat, tapi juga sampai ke Jakarta Timur, Barat dan Utara. Dalam kesederhanaan Bu Djoko memimpin perjalanan besar membawa Blue Bird siap mengarungi zaman. Dia menanamkan kepada awak angkutan bagaimana menumbuhkan sense of belonging yang tinggi terhadap Blue Bird dengan menjadi "serdadu-serdadu" tangguh dan penuh pengorbanan.
Oki Setiana Dewi, sosok publik figur satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, wanita muslimah yang cantik ini mulai dikenal ketika ia sukses membintangi film yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih”. Aktif sebagai seorang penulis, pembicara di berbagai pertemuan serta juga sebagai uztadzah,
Oki sendiri menyelesaikan SMA nya juga di SMAN 1 Depok. Ketika SMA, Oki selalu langganan menjadi juara kelas. Ia juga sering mewakili sekolahnya dalam berbagai perlombaan akademis dan non akademis. Oki termasuk siswa yang pintar hingga bisa diterima di Universitas Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada tahun 2012.
Usai meraih gelar sarjana, Oki menjadi santriwati program Tahfidzul Qur’an di Rumah Qur’an yang terletak di Depok. Lalu, ia mempelajari bahasa arab di Universitas Umm Al Qura di Makkah pada tahun 2012.
Kisah Oki ketika memutuskan memakai jilbab adalah ketika sang bunda terserang sakit yang kata dokter sudah sulit disembuhkan. Mendengar itu Oki jadi sangat sedih. Ia pun lalu memutuskan untuk berjilbab agar bisa lebih dekat dengan Allah dan bisa lebi khusyuk mendoakan kedua orang tuanya terutama bundanya. Sejak saat itulah Oki memakai jilbab.
Selain menjadi artis, ia juga aktif sebagai penulis dengan beberapa judul bukunya yaitu Melukis Pelangi :Catatan Hati Oki Setiana Dewi, Sejuta Pelangi : Pernik Cinta Oki Setiana Dewi, Cahaya Di Atas cahaya Perjalanan Spiritual Oki Setiana Dewi, Hijab I'm In Love, Dekapan Kematian, Ketika Guru SD Sakit. Dalam bukunya yang berjudul Hijab I’m In Love, merupakan karyanya yang paling berbeda karena ia juga mengeluarkan album perdananya dengan judul yang sama.Dalam album Hijab Im in Love (2013) ini dinyanyikan bersama adiknya bernama Shindy.
Oki juga sering mengisi seminar kemuslimahan dan kepemudaan. Oki juga meluangkan waktunya mengajar ngaji di TPA untuk anak-anak dan ibu-ibu. Oki menggalakkan kegiatan DMKM yaitu Dari Masjid ke Masjid dan juga program “Yuk Mengaji, Al Qur’an di Hati” dimana pelaksanaannya juga menyentuh lingkungan Lapas Wanita Tangerang. Kecerdasan dan prestasi Oki juga diakui ketika dirinya ditunjuk sebagai duta untuk Anak-anak Rumah Autis (2012) dan duta Internet Sehat dan Aman oleh kementrian Komunikasi dan Informatika 2010. Oki Setiana Dewi menikah dengan Ory Vitrio yang seorang pengusaha pengusaha restoran.
Kita telah membaca kisah sukses Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono dan Oki Setiana Dewi secara sekilas, kemudian bagaimana dengan kisah sukses Najwa Shihab ? Najwa Shihab nama wanita satu ini dikenal masyarakat sebagai presenter atau pembawa acara di Mata Najwa yang disiarkan di Stasiun televisi Metro TV. Dia merupakan putri kedua dari seorang Tokoh bernama Prof. Dr. Quraish Shihab yang merupakan seorang cendekiawan muslim Indonesia. Berarti Najwa didik dengan banyak ilmu pengetahuan dan banyak pengalaman.
Mengenai pendidikan, Ketika di Sekolah Menengah Atas (SMA), Najwa Shihab terpilih sebagai siswa yang berangkat ke Amerika selama satu tahun dalam program bernama AFS yang dikelola oleh Yayasan Bina Antarbudaya, karenamemiliki wawasan yang luas dan didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris. Najwa Shihab kuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Ilmu Hukum dan menjadi alumni pada tahun 2000. Kendati lulus sebagai Sarjana Hukum, Najwa Shihab lebih memilih terjun di dunia jurnalistik ketimbang seorang pengacara.
Tidakah mengehrankan, ia kemudian bergabung dengan Metro TV salah satu Stasiun Televisi Indonesia untuk mengasah kemampuannya dibidang jurnalistik. Dia dianugrahi penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam hal laporan-laporanya ketika menjadi repoter bencana Tsunami di Aceh dimaa ia merupakan reporter pertama yang berhasil melaporkan kondisi setelah tsunami menerjang Aceh, dari laporan atau liputannya, dinilai memberi andil yang sangat berarti dalam hal berkembangnya kepedulian dan juga rasa empati masyarakat luas terhadap tragedi tsunami tersebut yang banyak memakan korban jiwa.
Terlihat bahwa cita-cita seseorang tidak jatuh dengan mudah dari langit. Cita-cita setinggi bintang di langit adalah kata-kata yang diucapkan buat anak-anak kecil sebatas ilusi. Kisah hidup ringkas 3 publik figure di atas memberi tahu pada kita bahwa cita-cita buat sukses harus dipersiapkan, bukan semudah membalik telapak tangan dan, juara kelas saja juga tidak menjamin buat sukses.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono mengingatkan kita betapa pentingnya seseorang bisa membaca peluang- seperti memimpikan bisnis dalam sektor transportasi taxi yang didukung dengan semangat dan kegigihan tekad. Pintar saja secara akademik, sebagaimana yang dimiliki Oki, juga belum menjamin buat sukses. Ia mengasah potensi diri untuk memilki keterampilan berganda, bisa sebagai pembicara dan penulis. Tentu saja sejak kecil dan remaja ia juga rajin berlatih berpidato, ikut berorganisasi dan berlatih dalam menulis dan jurnalistik, kemudia ia juga mendalami ilmu Al-Quran dan ilmu jiwa, hingga ia menjadi seorang public figure nasional.
Begitu juga dengan Najwa Shihab, bahwa ia juga memilki kepintaran berganda, kemampuan berbahasa Inggris dan keberanian. Andai ia seorang perempuan yang pasif dan pemalu maka tentu ia sulit untuk move-on. Jadinya bahwaaktif berorganisasi, banyak membaca untuk memperluas wawasan serta kemampuan dalam menulis- jurnalistik- telah memuluskan karir Najwa Shihab itu sendiri.

Tujuan Kuliah Bukan Untuk Menjadi Kaya Raya



Tujuan Kuliah Bukan Untuk Menjadi Kaya Raya
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
            Belajar sudah menjadi kebutuhan primer setiap orang dan orangtua juga menyadari dan mendukung pendidikan anak-anak mereka. Malah mereka memilihkan sekolah terbaik buat anak-anak, jadinya sekolah berlabel unggul seperti “sekolah unggul, sekolah plus, sekolah perintis, sekolah percontohan, sekolah model” sangat diserbu. Karena mereka yakin sekolah berkualitas merupakan jalan sukses buat mewujudkan mimpi mereka dan mimpi anak-anak mereka.
            Apa mimpi dan tujuan mereka mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah ? Tentu saja jawaban setiap orang bisa berbeda. Namun tujuan pendidikan nasional menurut undang-undang negara kita adalah untuk menciptakan generasi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian bagaimana mimpi orang tua dan sang anak lewat pendidikan ? Tentu jawabannya juga bervariasi, namun yang sering terucap saat anak masih kecil, mereka menginginkan anak mereka menjadi “orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama”. Ya jawaban yang sangat umum dan sangat akrab, sehingga susah buat dideskripsikan.
            Tujuan pendidikan waktu tentu saja sama dengan zaman sekarang namun campur tangan yang diberikan orang tua cukup berbeda. Gaya parenting atau cara mendidik dan membesarkan anak zaman dulu juga berbeda.    
            Generasi orang tua atau kakek kita cukup berbeda dengan zaman kita. Dalam generasi lama, orang tua cenderung memiliki banyak anak hingga 10 atau 11 orang. Parenting orang tua kita, mereka memisahkan gender berdasarkan tanggung jawab. Pekerjaan di rumah adalah tugasnya perempuan. Memasak, cuci piring, cuci pakaian, menyapu, memasak adalah pekerjaan buat anak perempuan. Lantas bagaimana dengan anak laki-laki ?
            Ya harus membantu tugas ayah dan paman. Kalau tugas ayah dan paman juga tidak ada maka anak laki-laki bakal tumbuh menjadi anak-anak yang tidak mengenal tanggung jawab. Anak laki laki yang tidak tahu tanggung jawab selanjutnya akan kekurangan pengalaman sukses. Pada masa itu atmosfir sekolah juga kurang kondusif maka di sekolah mereka juga menjadi anak anak yang juga gagal atau kurang sukses.
            Akhirnya bermuncullan banyak anak laki-laki yang putus sekolah dan tidak tahu dengan pekerjaan. Orang tua juga tidak tahu apa yang bakal diberikan pada anak laki-laki mereka yang gagal dalam pendidikan. Yang selalu dipesankan oleh orang tua pada anak laki-lakimereka dan juga buat anak perempuan agar selalu menjaga moral dan mohon untuk tidak memberi pada keluarga. Jadi pesan moral selalu disampaikan tiap saat.
            Anak-anak yang gagal dalam pendidikan formal akhirnya juga ingin memperbaiki kualitas diri mereka. Filsafat Minang mengatakan: “Karatau madang di hulu, di rumah baguno balun, marantau bujang dahulu, di rumah banguno balun”. Yakni filsafat yang mendorong pemuda Minang, terutama,  untuk pergi merantau guna bisa memperbaiki kualitas diri.
            Para pemuda yang memiliki pribadi yang kuat memutuskan untuk merantau, sementara yang nyalinya kecil akan tetap tinggal di kampong da berkarir sebagai petani, peternak atau buruh. Sementara bagi yang bermental kuat akan pergi merantau buat mencari “induk seman” atau boss tempat menumpang hidup.
            Tidak ada istilah bermanja-manja dan bermalas-malas dengan induk semang. Cepat kaki-ringan adalah karakter yang disenangi oleh induk semang. Pemuda yang tinggal di kampong akan berjuang dan bekerja buat mencari sesuap nasi, sementara pemuda yang merantau akan belajar dan berguru pada alam agar bisa mengubah nasib. Inilah wujud alam takambang jadikan guru- the nature is the teacher.
            Pada umumnya orang yang pergi merantau akan belajar berdagang dengan famil: tetangga, kerabat, hingga dengan paman. Mereka berdagang dalam bentuk menjual sepatu, kain/ pakaian, barang elektronik, kebutuhan harian hingga menjual nasi pada restoran atau rumah maka. Maka rumah makan Padang sangat mudah ditemui di mana- mana di Indonesia.
            Setelah 2 atau 3 dekade atau lebih, maka terjadilah perbaikan pada tingkat kehidupan. Kemajuan dalam tekhnologi dan informasi membuat anak-anak dan orang tua lebih kaya dengan informasi. Mereka mencari sekolah-sekolah yang berkualitas untuk bisa memberi mereka pelayanan dalam bidang pendidikan.
            Ada tiga jenis pendidikan untuk tingkat SLTA, yaitu SMA, SMK dan MA (Madrasah Aliah). Di negara Jerman lebih banyak dibangun Sekolah Kejuruan disbanding sekolah SMA. Namun di SMA jumlah SMA jauh lebih banyak disbanding SMK. Dimana mana bermunculan SMA, sehingga masyarakat lebih menyerbu SMA, apalagi SMA yang punya label keunggulan.
            Anak-anak yang belajar di SMA disarankan untuk melanjutkan studi mereka ke Perguruan Tinggi. Anehnya saat di bangku SLTA banyak yang berhasrat untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah SMA dari pada SEkolah Kejuruan. Namun saat lulus dari SMA, banyak siswa yang tertarik kuliah ke Perguruan Tinggi Kejuruan. ITB- Institut Tekhnologi Bandung dan juga jurusan tekhnik termasuk tempat yang sangat mereka minati.
            Sekarang cukup banyak anak-anak yang berlomba agar bisa kuliah di Perguruan Tinggi di Pulau Jawa, karena dianggap lebih berkualitas dan semuanya dianggap lebih favorite. Siapa saja yang bisa kuliah di ITB, UI, ITB, IPB, UNPAD, UNIBRAW, ITS, UGM, dan UNDIP akan memperoleh acungan jempol.
            Maka bermunculan ratusan hingga ribuan waralaba Bimbel (bimbingan belajar) untuk memberi pelayanan agar bisa bisa menuju Perguruan Tinggi yang mereka impikan. Dimana kelak mau kuliah ? Maka pada umumnya menybebut beberapa Perguruan Tinggidi Pulau Jawa atau beberapa jurusan favorite untuk Perguruan Tinggi di daerah seperti di Kedokteran atau Fakultas Tekhnik.
            Bila kelak selesai kuliah, apa yang bakal dilakukan ? Maka di zaman pasca PNS sudah sulit, pada umumnya mereka tidak tahu apa lagi yang dilakukan, paling-paling mereka menjawab: “saya ingin berwirausaha”. Apa jenis wirausahanya ?
            Dan lagi-lagi mereka tidak bisa menjawab. Yang jelas para siswa yang tengah bergiat belajar sekarang hanya sekedar bermimpi buat bisa masuk Perguruan Tinggi Favorite dan setelah itu tidak tahu apalagi apa yang bisa dikerjakan. Mayoritas siswa di SMA banyak mengungkapkan bahwa mereka ingin kuliah agar bisa menjadi Dokter, karena karir Dokter itu lebih menjanjikan dan uang mudah mengalir. Juga banyak yang ingin kuliah di jurusan Tekhnik agar nanti bisa berkarir dalam bidang Perminyakan dan karirnya menjanjikan. Apakah mungkin siswa cerdas yang bermental manja, anak mama kelak cocok berkarir di lading pemboran minyak yang membutuhkan mental dan pribadi yang kuat ?
            Itulah femonena bahwa sekarang cukup banyak siswa yang tidak tahu apa dan bagaimana kegiatan mereka setelah dewasa. Yang jelas mereka ingin kuliah di tempat yang bergengsi sesuai dengan mata pelajaran yang mereka agungkan seperti “kimia, fisika, biologi, matematika, ekonomi dan akutansi”. Mereka kuliah agar bisa kelak menjadi ilmuwan dan menjadi orang yang kaya raya, namun bengong apa dan bagaimana kelak.
            Ya apa sih tujuan masuk Universitas (Perguruan Tinggi) ?. Dewasa ini sudah terdapat cukup banyak Perguruan Tinggi, mulai dari kota kecil, ibu kota Propinsi hingga Perguruan Tinggi di Pulau Jawa. Berbagai Perguruan Tinggi sekarang berlomba buat merebut minat para siswa, malah ada juga Perguruan Tinggi yang nyaris mati karena kekurangan mahasiswa.
Umumnya orang tua menginginkan anak-anak mereka bisa sukses berkarir setelah mereka tamat dari Perguruan Tinggi. Yang jelas anak-anak yang selesai kuliah di Perguruan Tinggi akan memperoleh diploma atau ijazah. Yang jelas cukup banyak sekarang yang pergi ke Perguruan Tinggi hanya sebatas pergi belajar, karena miskin motivasi maka mereka kuliah dengan semangat yang lemah.  Ya cukup banyak problem yang muncul saat seseorang pergi ke Perguruan Tinggi, antara lain:
1). Apakah jurusan yang diambil sesuai dengan impian mereka.
2). Apakah jurusannya susah dan apakah mampu wisuda sesuai dengan waktunya.
3). Apakah jurusan yang diambil direstui oleh orang tua.
4). Andai kuliah mengalami kesulitan keuangan, siapa kelak yang akan mendukung.
5). Apa ada jaminan buat mudah memperoleh pekerjaan begitu seseorang selesai kuliah.
6). Ya apa pekerjaan yang cocok…ya cukup banyak yang galau dan bingung.
Untuk diketahui bahwa sebenarnya, belajar di universiti bukanlah untuk mendapat pekerjaan. Jikalau banyak sarjana yang tidak ada kerja, atau bisa menjadi tenaga honorer atau menjadi guru sementara di sekolah hingga bisa menjadi guru tetap. Namun kebijakan begini tidak mudah lagi. Sekarang lulusan Perguruan Tinggi yang dicari adalah yang punya kualitas, bukan kuantitas.
Bagi yang ingin menjadi mahasiswa, perlu mengetahui bahwa inti tujuan belajar di universitas adalah meningkatkan kualitas pemikiran. Diharapkan pemikiran seseorang yang kuliah di Perguruan Tinggi harus berbeda dengan yang tidak pernah kuliah di Perguruan Tinggi. Orang yang belajar di Perguruan Tinggi adalah seorang yang “Willing To Learn” “Sudi buat Selalu Belajar” dan mereka ini seharusnya menjadi orang yang selalu “Belajar Sepanjang Hayat atau Long Life Education”.
Minat mereka terhadap ilmu pengetahuan selalu terjaga dan terlaksana. Mereka memiliki open minded atau berfikiran terbuka. Orang yang selalu mengadopsi long life education musti banyak membaca buku, dan mencintai ilmu pengetahuan. Tentu saja orang yang berfikiran terbuka dan luas ilmunya akan lebih berhasil kelak. Maka cobalah untuk mengabaikan semua persoalan yang bisa menjatuhkan semangat belajar kita. Kini yang penting adalah selagi anda ada minat terhadap segala ilmu pengetahuan, maka selalulah tuntut ilmu pengetahuan dan insyaallah kita kelak bakal menjadi orang jaya dalam hidup ini.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...