Rabu, 13 Januari 2016

Cita-cita Tidak Jatuh Dari Langit



Cita-cita Tidak Jatuh Dari Langit

            Saat kita masih kecil  bersekolah di TK dan SD, ibu guru, bapak guru dan juga orang tua kita rajin memotivasi kita agar kita memiliki cita-cita- kelak di masa depan, agar kita  bisa menjadi orang sukses. Mereka berdoa dan berharap “moga-moga kamu kelak bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa negara dan agama. Untuk itu gantungkanlah cinta-cintamu setinggi bintang di langit”.
            Ya…jadinya sejak itu kita menggantung cita-cita setinggi bintang di langit dan belajar sekuat tenaga. Cita-cita anak-anak TK dan SD memang sangat tinggi, mereka ingin menjadi Presiden, menjadi Menteri dan menjadi Jenderal. Bertambah usia maka cita-cita mereka sedikit menjadi lebih realis, kemudian mereka ingin menjadi dokter, polisi, pilot, tentara, perawat, dan pramugari. Cita-cita mereka sesuai dengan profesi yang sering mereka jumpai, cara berpakaian orang dengan profesi yang telah kita sebutkan di atas membuat mereka kagum dan ingin pula berkarir seperti mereka.
            Kebanyakan anak-anak (siswa SD hingga siswa SLTA) berfikir bahwa untuk menggapai sebuah cita-cita tidak begitu ribet. Cukup belajar sekuat mungkin. Bila mereka bisa juara kelas apalagi juara umum maka kelak karir yang hebat bakal berada digenggam. Saat mereka duduk di bangku SMA, maka kalau mereka ujian dan mampu memperoleh skor mata pelajaran yang masuk ke dalam Ujian Nasional, maka mereka bakal mampu kuliah di Perguruan tinggi favorit. Dan kalau sudah kuliah di sana (menjadi sarjana)  maka karir yang basah dengan gaji yang gede bakal mengucur ke dalam kantong mereka.
            Dalam masa-masa sebelumnya bahwa merekrut PNS, Pegawai BUMN dan pegawai swasta terlihat begitu agak longgar- hanya berdasarkan skor memang mereka termasuk orang-orang yang beruntung. Namun peraturan perekrutan sudah jauh berubah. Untuk PNS, misalnya, pemerintah sangat membatasi penerimaannya. Karena selama ini jumlah PNS yang berlimpah dan tak terkendalikan telah ikut memberatkan anggaran negara untuk menggaji mereka. Dan gara-gara rektuitmen PNS dilakukan secara asal-asalan maka cukup banyak yang direkrut para PNS yang kurang rajin, yang kinerjanya kurang bagus dan kurang mampu memajukan negara.
            Dulu nilai yang tinggi seolah-olah berguna buat menjangkau bintang-bintang yang tinggi, atau cita-cita yang bertebaran di langit. Begitu juara umum maka kelak seseorang bisa meraih karir sebagai dokter, perawat, pramugari, dll. Sekarang tidak lagi, malah dikatakan nilai yang tinggi berguna hanya buat syarat kelulusan dari Perguruan Tinggi, sementara untuk karir lebih didukung oleh keterampilan berwirausaha, leadership dan kemampuan berkomunikasi.
            Sebetulnya juga ada karir yang cukup menantang yang tidak mutlak ditentukan oleh nilai atau skor yang tinggi, tapi dipengaruhi oleh multi talenta seseorang. Untuk hal ini kita bisa bercermin pada biografi public figure, sebut saja seperti Mutiara Djokosoetono , Najwa Shibab, dan Oki Setiana Dewi.
            1) Profil Pendiri Armada Taxi
Bagi warga Jakarta dan siapa saja yang mengunjungi Jakarta sudah pasti mengenal Taksi Blue Bird. Ini sebuah armada taksi yang banyak bersileweran di kota Jakarta, dan sudah merupakan salah jenis kendaraan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di ibukota Jakarta. Pendiri Taksi Blue Bird adalah seorang perempuan pejuang dari Malang bernama Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Ia berasal dari keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupan berubah drastis. Dari seorang gadis cilik yang dikelilingi fasilitas hidup naik kemudian menjadi miskin. ia kemudian meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa.
Jadi penderitaan dan hidup susah bisa memicu seseorang dalam memperkuat motivasi berprestasinya. Kesederhaan hidup Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono telah menjadi motivasi hidupnya. Kesederhanaan hidup Bu Djoko semasa kecil, seperti makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan.
Menginjak remaja ketegaran semakin terasah. Ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran atau skill. Ia banyak membaca kisah-kisah inspiratif yang diperoleh dengan meminjam. Jadi tidak ada orang yang ingin sukses menjauhi kebiasaan membaca. Membaca malah bisa memperkaya wawasan berfikir seseorang.
Ia menyelesaikan pendidikan HBS, kemudian lulus Sekolah Guru Belanda atau Europese Kweekschool. Dengan tekad yang kuat ia meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan menumpang di rumah pamannya di Menteng. Kemudian jalan hidup membawa berkenalan dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, yang juga pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Laki-laki itulah yang menikahinya selagi Bu Djoko masih kuliah.
Mereka dikaruniai 3 anak, bekerja sebagai dosen di FHUI dan PTIK. Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri. Karakter tidak gengsi-gengsian penting untuk meraih sukses. Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Hingga Bu Djoko beralih kemudian berusaha telur di depan rumahnya.
Realita berjualan telur menjadi pilihan bisnis yang brilian masa itu. Saat itu telur belum sepopuler sekarang. Kemudian suaminya sakit-sakitan dan suaminya meninggal. Tak berapa lama setelah kepergian suaminya. PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup menghibur keluarga. Ia mendapatkan dua buah mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes. Disinilah embrio lahirnya Taksi Blue Bird. 
Pada suatu malam, Bu Djoko mulai merancang gagasan bagi operasional taksi yang dimulai dengan dua buah sedan pemberian yang dimiliki. Bu Djoko menyusun konsep untuk menjalankan usaha taksinya. Ia memikirkan mobil, cara mengelola dan juga memikirkan pengemudi. Pengemudi itu akan dididik dengan baik, dibina, dirangkul untuk sama-sama berkembang. Inilah fase yang penting dalam sejarah kelahiran Blue Bird.
Usaha taksi terebut menggunakan penentuan tarif sistem meter yang kala itu belum ada di Jakarta. Untuk order taksi, ia menggunakan nomor telefon rumahnya. Karena Chandra ditugaskan menerima telepon dari pelanggan maka orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra. Taksi Chandra yang hanya dua sedan itu kemudian melesat popular di lingkungan Menteng karena pelayanan yang luar biasa. Order muncul tanpa henti. Dari hasil keuntungan saat itu, BU Djoko bisa membeli mobil lagi.
Permintaan akan Taksi Chandra terus mengalir. Beberapa mobil yang telah dimiliki dirasa kurang mencukupi. Titik layanan kian melebar, tak hanya di daerah Menteng, tebet, Kabayoran Baru dan wilayah-wilayah di Jakarta Pusat, tapi juga sampai ke Jakarta Timur, Barat dan Utara. Dalam kesederhanaan Bu Djoko memimpin perjalanan besar membawa Blue Bird siap mengarungi zaman. Dia menanamkan kepada awak angkutan bagaimana menumbuhkan sense of belonging yang tinggi terhadap Blue Bird dengan menjadi "serdadu-serdadu" tangguh dan penuh pengorbanan.
2) Profil Tokoh Muslimah Muda
Oki Setiana Dewi, sosok publik figur satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, profil tokoh muslimah muda yang cantik ini mulai dikenal ketika ia sukses membintangi film yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih”. Aktif sebagai seorang penulis, pembicara di berbagai pertemuan serta juga sebagai uztadzah,
Oki sendiri menyelesaikan SMA nya juga di SMAN 1 Depok. Ketika SMA, Oki selalu langganan menjadi juara kelas. Ia juga sering mewakili sekolahnya dalam berbagai perlombaan akademis dan non-akademis. Oki termasuk siswa yang pintar hingga bisa diterima di Universitas Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada tahun 2012.
Usai meraih gelar sarjana, Oki menjadi santriwati program Tahfidzul Qur’an di Rumah Qur’an yang terletak di Depok- Jawa Barat. Lalu, ia mempelajari bahasa Arab di Universitas Umm Al Qura di Makkah pada tahun 2012.
Kisah Oki ketika memutuskan memakai jilbab adalah ketika sang bunda terserang sakit yang kata dokter sudah sulit disembuhkan. Mendengar itu Oki jadi sangat sedih. Ia pun lalu memutuskan untuk berjilbab agar bisa lebih dekat dengan Allah dan bisa lebi khusyuk mendoakan kedua orang tuanya terutama bundanya. Sejak saat itulah Oki memakai jilbab.
Selain menjadi artis, ia juga aktif sebagai penulis dengan beberapa judul bukunya yaitu Melukis Pelangi :Catatan Hati Oki Setiana Dewi, Sejuta Pelangi : Pernik Cinta Oki Setiana Dewi, Cahaya Di Atas cahaya Perjalanan Spiritual Oki Setiana Dewi, Hijab I'm In Love, Dekapan Kematian, Ketika Guru SD Sakit. Dalam bukunya yang berjudul Hijab I’m In Love, merupakan karyanya yang paling berbeda karena ia juga mengeluarkan album perdananya dengan judul yang sama.Dalam album Hijab Im in Love (2013) ini dinyanyikan bersama adiknya bernama Shindy.
Oki juga sering mengisi seminar kemuslimahan dan kepemudaan. Oki juga meluangkan waktunya mengajar ngaji di TPA untuk anak-anak dan ibu-ibu. Oki menggalakkan kegiatan DMKM yaitu Dari Masjid ke Masjid dan juga program “Yuk Mengaji, Al Qur’an di Hati” dimana pelaksanaannya juga menyentuh lingkungan Lapas Wanita Tangerang. Kecerdasan dan prestasi Oki juga diakui ketika dirinya ditunjuk sebagai duta untuk Anak-anak Rumah Autis dan duta Internet Sehat dan Aman oleh kementrian Komunikasi dan Informatika. Oki Setiana Dewi menikah dengan Ory Vitrio yang seorang pengusaha pengusaha restoran.
3) Profil Presenter Sukses
Kita telah membaca kisah sukses Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono dan Oki Setiana Dewi secara sekilas, kemudian bagaimana dengan kisah sukses Najwa Shihab ? Najwa Shihab nama wanita satu ini dikenal masyarakat sebagai presenter atau pembawa acara di Mata Najwa yang disiarkan di Stasiun televisi Metro TV. Dia merupakan putri kedua dari seorang Tokoh bernama Prof. Dr. Quraish Shihab yang merupakan seorang cendekiawan muslim Indonesia. Berarti Najwa didik dengan banyak ilmu pengetahuan dan banyak pengalaman.
Mengenai pendidikan, Ketika di Sekolah Menengah Atas (SMA), Najwa Shihab terpilih sebagai siswa yang berangkat ke Amerika selama satu tahun dalam program bernama AFS yang dikelola oleh Yayasan Bina Antarbudaya, karena memiliki wawasan yang luas dan didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris. Najwa Shihab kuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Ilmu Hukum dan menjadi alumni pada tahun 2000. Kendati lulus sebagai Sarjana Hukum, Najwa Shihab lebih memilih terjun di dunia jurnalistik ketimbang seorang pengacara.
Tidakah mengehrankan, ia kemudian bergabung dengan Metro TV salah satu Stasiun Televisi Indonesia untuk mengasah kemampuannya dibidang jurnalistik. Dia dianugrahi penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam hal laporan-laporanya ketika menjadi repoter bencana Tsunami di Aceh dimaa ia merupakan reporter pertama yang berhasil melaporkan kondisi setelah tsunami menerjang Aceh, dari laporan atau liputannya, dinilai memberi andil yang sangat berarti dalam hal berkembangnya kepedulian dan juga rasa empati masyarakat luas terhadap tragedi tsunami tersebut yang banyak memakan korban jiwa.
Terlihat bahwa cita-cita seseorang tidak jatuh dengan mudah dari langit. Cita-cita setinggi bintang di langit adalah kata-kata yang diucapkan buat anak-anak kecil sebatas ilusi. Kisah hidup ringkas 3 publik figur di atas memberi tahu pada kita bahwa cita-cita buat sukses harus dipersiapkan, bukan semudah membalik telapak tangan dan, juara kelas saja juga tidak menjamin buat sukses.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono mengingatkan kita betapa pentingnya seseorang bisa membaca peluang- seperti memimpikan bisnis dalam sektor transportasi taxi yang didukung dengan semangat dan kegigihan tekad. Pintar saja secara akademik, sebagaimana yang dimiliki Oki, juga belum menjamin buat sukses. Ia mengasah potensi diri untuk memilki keterampilan berganda, bisa sebagai pembicara dan penulis. Tentu saja sejak kecil dan remaja ia juga rajin berlatih berpidato, ikut berorganisasi dan berlatih dalam menulis dan jurnalistik, kemudia ia juga mendalami ilmu Al-Quran dan ilmu jiwa, hingga ia menjadi seorang publik figur nasional. 
Begitu juga dengan Najwa Shihab, bahwa ia juga memilki kepintaran berganda, kemampuan berbahasa Inggris dan keberanian. Andai ia seorang perempuan yang pasif dan pemalu maka tentu ia sulit untuk move-on. Jadinya bahwa aktif berorganisasi, banyak membaca untuk memperluas wawasan serta kemampuan dalam menulis- jurnalistik- telah memuluskan karir Najwa Shihab itu sendiri.

Menjadi Manusia Yang Hebat



Menjadi Manusia Yang Hebat

            Peradaban zaman sekarang sudah sangat maju. Hal ini terjadi karena banyak warga dunia yang telah mengakses ilmu pengetahuan dan juga karena melek tekhnologi- utamanya tekhnologi informasi. Tekhnologi informasi sangat signifikan dalam membuat terjadinya lompatan kualitas SDM bangsa-bangsa di dunia.
            Kini banyak orang berfikir bagaimana untuk selalu memajukan diri mereka, group dan institusi. Pertumbuhan kualitas SDM telah bergerak dari level kecamatan, kabupaten, propinsi hingga menjadi kualitas nasional. Dan setelah itu ada pula gebrakan untuk bergerak menuju level dunia. Untuk lembaga perguruan tinggi kita telah mendengar istilah world class university- universitas kelas dunia, yang lain adalah world class school, world class business, dll.
Melalui media massa kita juga dapat melihat banyak perusahaan yang sudah sangat bergengsi. Bergengsi karena sudah berada pada level perusahaan kelas dunia atau “world class company”. Contoh-contoh perusahaan tersebut adalah seperti Boeing, Toyota, Exxon, Samsung, Toyota, IBM, General Electric, Hotel Hilton, Carrefour, dll. Perusahaan – perusahaan yang berlevel kelas dunia tersebut selama ini sering menjadi acuan dalam memahat best management practices.
Mengapa dan apa faktor yang membuat perusahaan-perusaan tersebut bisa menjadi perusahaan yang hebat atau  world class company ? Tentu saja karena perusahaan- perusahan ini juga memiliki orang-orang hebat di dalamnya. Mereka selalu berbuat yang gebrakannya juga dalam standard internasional. Dengan demikian perusahaan tersebut bisa menjadi  world class company.
Selanjutnya mengapa orang-orang bisa menjadi “world class citizen- atau orang hebat level internasional ? Jawabanya karena mereka memiliki kinerja yang mereka kelola dengan sistematis dan efektif. Kinerja mereka penuh dengan perencanaan yang matang. Sarat dengan perhitungan yang seksama. Untuk criteria perusahaan kelas dunia ketika dilakukan pengukuran kinerja SDM. Fokus pengukurannya adalah pada dua elemen kunci, yaitu elemen kinerja (performance results) dan elemen perilaku/sikap kerja/budaya kerja.
Untuk kategori personal maka Michael Faraday, Benjamin Franklin, Richard Buckminster dan Karl Marx pada mulanya adalah orang- orang yang hanya dikenal di lingkungan. Namun setelah mereka melakukan serangkaian proses kreatif dan menemui sebuah penemuan tentang elektromagnetik (Michael Farady), teori listrik (Benjamin Franklin), arsitektur (Richard Buckminster) dan filsafat sosialis (Karl Marx) yang cukup bergengsi dan sangat signifikan untuk peradaban maka mereka semua kemudian menjadi orang-orang yang hebat atau  world class people.
Begitu pula dengan Rabindranath Tagore (India), Herman Melville (Novelis dari Amerika), Johann Wolfgang von Goethe (Penulis Jerman) dan William Shakespeare (sastrawan Inggris) juga merupakan orang yang pada mulanya hanya dikenal untuk lingkungan daerahnya. Namun melalui proses otodidak yang hebat atau melalui home schooling telah mampu berkarya sehingga mereka menjadi warga kelas dunia.
Sebetulnya seseorang yang kualitasnya berkaliber nasional dan internasional, saat terlahir ke dunia persis sama kondisinya dengan orang yang berkualitas biasa-biasa saja. Kenapa kemudian mereka bisa berbeda ?. Salah satunya karena mereka berbeda dalam memanfaatkan waktu.
Ya betul bahwa ketika terlahir ke dunia, manusia datang tanpa membawa bekal apapun. Namun semua manusia diberikan modal yang sama yaitu waktu. Allah Swt juga mengingatkan umat manusia dalam hal waktu, Allah bersumpah dengan waktu, seperti yang dapat kita baca pada al-Quran (surat 103:1-3):
“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Jadi seberuntung-beruntung manusia adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktunya untuk berbuat kebaikan dan juga senantiasa saling berbagi nasehat. Secelaka-celakanya manusia adalah mereka yang menyia-nyiakan waktunya untuk berbuat keburukan dan bagi yang suka berbuat keburukan dan pelanggaran di dunia.
Ada apa dengan “waktu”? Bahwa Bill Gate, Presiden Jokowi, Zainuddin MZ (alm), Najwa Shihab, seorang Satpan hingga seorang tukang jual bubur sama-sama mempunyai waktu 24 jam dalam 1 hari. Dan kuantitas di dalam waktu ini tidak bisa ditawar dan tidak bisa dilebihkan. Sehingga ada yang sukses sebagai enterpreneur, ada yang suksesnya jadi presiden, dan ada yang  menjadi motivator spiritual (Da’i kondang), Presenter TV, hingga menjadi seorang Satpam dan tukang jual bubur. Mereka semua sukses dan semua dibutuhkan. Lantas bagaimana dengan nasib para pengangguran dan pengemis ?
Apakah waktu di dalam hidup mereka (para pengangguran dan pengemis ) juga berbeda? Ya tentu saja sama! Pengemis dan pengangguran juga hidup 24 jam dalam sehari dan semalam. Tapi mengapa nasib mereka begitu berbeda ?.
 Back to the original statement kitab suci Al-Quran yang mengupas tentang waktu atau masa: Seberuntung-beruntung manusia adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik untuk berbuat kebaikan. Manusia yang mampu menjadi manusia kelas dunia tentu saja lebih mampu berbuat dengat sangat prima. Orang orang Indonesia juga cukup banyak yang menjadi orang kelas dunia. Amin Rais, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan banyak lagi, juga Salim Said, Syafii Ma’arif dan Azyumardi Azra adalah juga orang Indonesia kelas dunia.
Kita berharap akan banyak bermunculan manusia kelas dunia. Agaknya kita bisa bercermin dari perjalanan hidup orang-orang  yang pada mulanya biasa-biasa saja, mereka bergerak- melakukan proses yang hebab kita bisa menjadi world class level people. Misalnya kita telusuri profil Salim Said, Syafii Maarif dan Azyumadi Azra yang bergerak dari lingkungan lokal hingga bisa menuju pentas dunia.
1) Salim Said
Dia lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan. Salim Said bisa dibilang sebagai kritikus perfilman di Indonesia, ketajamannya dalam mengulas film membuat dirinya tidak disukai oleh para produser. Hingga akhirnya dengan keahliannya tersebut, ia diangkat sebagai Kepala Urusan (desk) Film & Luar Negri majalah Tempo. Jabatannya yang juga pernah ia pegang adalah sebagai ketua dewan kesenian Jakarta. Ia  telah menerbitkan beberapa buku seperti “Profil Dunia Film Indonesia, Pantulan Layar Perak, dan Dari Festival ke Festival”.
Ia menempuh pendidikannya pada SMA, ATNI (1964-1965), Fakultas Psikologi, Fakultas Sosial & Politik UI Jakarta. Lulusan doktor ilmu politik di Ohio State University (Amerika) ini semulanya dikenal sebagai wartawan dan penulis. Ketajaman penanya dalam mengulas film (Indonesia)  menyebabkan dia kurang disukai para produser film. Hingga awal 1980-an ia menjadi Kepala Urusan (desk) Film & Luar Negeri majalah Tempo. Tetap bergiat di bidang film, meski ia juga dikenal sebagai pengamat politik dan militer. Anggota.
Dewan Film Nasional selama 2 periode 1989-1995, disamping sebagai Ketua Bidang Luar Negeri Pantap FFI (1988-1992). Pada 1990 dipilih sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan terpilih lagi pada 1993. Sebelum itu menerbitkan pula buku kumpulan tulisan Profil Dunia Film Indonesia (1989), Pantulan Layar Perak (The Shadow on the Silver Screen) dan Dari Festival ke Festival.
2) Ahmad Syafii Ma'arif
Dia lahir di Minangkabau pada 31 Mei 1935. Ia bersaudara dengan 15 orang yang seayah namun tidak seibu. Sewaktu ia berusia satu setengah tahun, ibunya meninggal hingga ia kemudian dititipkan oleh ayahnya ke rumah bibinya yang bernama Bainah. Tahun 1942, ia dimasukkan ke Sekolah Rakyat di Sumpur Kudus dan kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Muallimin di Balai Tengah, Lintau. Saat ia berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk merantau ke Jawa, tepatnya ke Yogyakarta. Di sana ia ingin meneruskan sekolahnya ke Madrasah Mualimin di kota itu. Namun keinginan tersebut tidak terwujud dengan alasan bahwa kelas sudah penuh. Malahan ia direkrut menjadi guru pengajar di sekolah itu.
Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari Muallimin pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya. Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru. Sesampai di Lombok Timur, ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di Pohgading tempat ia ditugaskan sebagai guru.
Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya, kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Surakarta. Sesampai di Surakarta, ia masuk ke Universitas Cokroaminoto dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat doktoral pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968.Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958.
Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian sempat menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo. Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.
Selanjutnya bekas aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini, terus meneruskan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi : Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.
Selama di Chicago inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.Penulis Damiem Demantra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi'i Maarif, yang berjudul “Si Anak Kampung”. Novel ini telah difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).
Setelah meninggalkan posisnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, kini ia aktif dalam komunitas Maarif Institute. Di samping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain berjudul : Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak?, kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985. Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.
3). Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE
Azyumardi Azra lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, 4 Maret 1955; umur 60 tahun adalah akademisi Muslim asal Indonesia.Ia juga dikenal sebagai cendekiawan muslim. Azyumardi terpilih sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1998 dan mengakhirinya pada 2006. Pada tahun 2010, dia memperoleh titel Commander of the Order of British Empire, sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris. Dengan gelar ini, maka Azyumardi adalah orang pertama di luar warga negara anggota Persemakmuran yang boleh mengenakan Sir di depan namanya.
Azyumardi memulai karier pendidikan tinggginya sebagai mahasiswa sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta pada tahun 1982, kemudian atas bantuan beasiswa Fullbright, ia mendapakan gelar Master of Art (MA) pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Columbia University tahun 1988. Ia memenangkan beasiswa Columbia President Fellowship dari kampus yang sama, tapi kali ini Azyumardi pindah ke Departemen Sejarah, dan memperoleh gelar MA pada 1989.
Pada 1992, ia memeroleh gelar Master of Philosophy (MPhil) dari Departemen Sejarah, Columbia University tahun 1990, dan Doctor of Philosophy Degree dengan disertasi berjudul The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama ini the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Tahun 2004 disertasi yang sudah direvisi diterbitkan secara simultan di Canberra (Allen Unwin dan AAAS), Honolulu (Hawaii University Press), dan Leiden, Negeri Belanda (KITLV Press).
Kembali ke Jakarta, pada tahun 1993 Azyumardi mendirikan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Studia Islamika, sebuah jurnal Indonesia untuk studi Islam. Pada tahun 1994-1995 dia mengunjungi Southeast Asian Studies pada Oxford Centre for Islamic Studies, Oxford University, Inggris, sambil mengajar sebagai dosen pada St. Anthony College.
Azyumardi pernah pula menjadi profesor tamu pada University of Philippines, Philipina dan University Malaya, Malaysia keduanya pada tahun 1997. Selain itu, dia adalah anggota dari Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) yang diorganisir oleh Toyota Foundation dan Japan Center, Tokyo, Jepang antara tahun 1997-1999.
Sejak Desember 2006 menjabat Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sebelumnya sejak tahun 1998 hingga akhir 2006 Azyumardi Azra adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ia pernah menjadi Wartawan Panji Masyarakat (1979-1985), Dosen Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1992-sekarang), Guru Besar Sejarah Fakultas Adab IAIN Jakarta, dan Pembantu Rektor I IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1998). Ia juga merupakan orang Asia Tenggara pertama yang di angkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004-2009), dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad Pakistan (2004-2009). Ia juga masih menjadi salah satu anggota Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.
Azyumardi Azra dikenal sebagai Profesor yang ahli sejarah, sosial dan intelektual Islam. Ketika menjadi Rektor pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia melakukan terobosan besar terhadap institusi pendidikan tersebut. Pada Mei 2002 IAIN tersebut berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal ini merupakan kelanjutan ide Rektor terdahulu Prof.Dr. Harun Nasution, yang menginginkan lulusan IAIN haruslah orang yang berpikiran rasional, modern, demokratis dan toleran.
Menjadi manusia hebat- manusia kelas dunia- tidak datang dengan mudah namun terbentuk  melalui serangkaian proses yang sangat panjang. Sebagaimana yang dilakoni oleh Salim Said, Azyumardi Azra dan Salim Said sejak usia muda dia sudah gemar membaca, berorganisasi dan menuliskan berbagai pemikirannya. Kemudian pengalaman jelajah yang luas, berinteraksi dengan orang baru dan tempat baru juga menambah kekuatan pribadinya. Proses menjadi warga dunia- world class people- adalah juga melalui pendidikan yang berkualitas untuk master dan program Doktornya. Kemudian sangat aktif menulis artikel dan buku berskala internasional dan juga selalu berbagi pengetahuan dengan masyarakat ilmiah internasional.

Pentingnya Suasana Bahagia Dalam Belajar



Pentingnya Suasana Bahagia Dalam Belajar

            Setiap pagi penulis keluar dari rumah lebih awal dengan tujuan bisa mengantarkan ke dua anak penulis ke sekolah yang berbeda. Yang kecil bersekolah di madrasah dan yang besar bersekolah di SMA. Setiap pagi terlihat suasana anak-anak lain yang juga penuh ceria. Wajah mereka dihiasi oleh senyum- senyum yang asli datang dari lubuk hati mereka. Mereka tentu saja mengawali dan mengisi hari-hari mereka penuh dengan rasa bahagia dan mereka adalah para siswa yang memiliki pribadi yang bahagia.
            Saat pulang mengantarkan anak, penulis masih melihat beberapa remaja sengaja berlambat- lambat untuk pergi ke sekolah mereka. Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa mereka sengaja menunda keberangkatannya ke sekolah ? Mengapa wajah mereka kelihatan tanpa ekspresi ? Mungkin mereka kurang tidur, kurang bahagia dan tentu mereka lagi bermasalah di rumah, atau paling kurang bermasalah dengan diri mereka sendiri.
            Anak-anak yang bermasalah dengan dirinya pada umumnya kurang berhasil di sekolah. Mereka terlihat kurang bersemangat dan kehilangan motivasi belajar. Penyebabnya tidak terjadi secara instan, namun mempunyai faktor yang terjadi sejak awal kehidupan. Bisa jadi gara-gara  konsep parenting dari orang tuanya.
            Orang tua yang kurang paham tentang konsep cara menjadi orang tua ideal- cenderung menganggap anak sebagai objek yang siap untuk didikte, diatur, dan diperlakukan dengan semau gue. Orang tua yang cenderung mengadopsi pola komunikasi satu arah, kemudian orang tua yang punya karakter serba monopoli, suka terlalu mencampuri privacy anak dan juga kurang memberi anak rasa bertanggung jawab. Cara-cara begini pada akhirnya akan menciptakan anak yang unhappy dalam hidup mereka.
            Kita semua- terutama guru dan orang tua- perlu mengkondisikan dan membantu perkembangan anak sehingga mereka menjadi siswa dengan pribadi yang bahagia. Siswa dengan pribadi yang bahagia insyaAllah akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan sukses. Berikut kita akan berdiskusi tentang hal tersebut. Mari kita tumbuhkan pribadi mereka menjadi bahagia !
            Terutama di rumah bahwa tugas seorang orang tua bukanlah hanya sebatas mengurus keperluan serta kebutuhan harian mereka dan mendidik mental/ prilakunya, namun juga juga mampu menjadi penghibur bagi si anak. Terutama saat mereka merasa terluka dan bersedih.
Memiliki anak yang gembira dan riang- gembira tentunya sangat bermanfaat, karena anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mungkin lebih kreatif dan berkarakter open minded (berfikiran terbuka). Anak yang berkarakter gembira, mampu menguasai suasana hatinya, akan belajar dan bekerja lebih optimal.
Sementara itu kalau ada anak yang dalam usia masih kecil sudah sering mengalami stress, apalagi depressi, tentu sangat tidak baik untuk pertumbuhannya. Makanya orang tua perlu melakukan tiga hal untuk membuat anaknya menjadi individu yang bahagia, yaitu dengan memahami dan mengaplikasikan tiga kata kunci (key word) seperti “mengenal, mencintai, dan meniru”.
Orang tua yang baik harus selalu memberi anak pegalaman hidup melalui pengenalan hal-hal positif buat anak. Mengenal hal-hal yang positif punya dampak dalam memperkaya imajinasi anak. Imajinasi bisa sebagai permulaan dari sebuah kreativitas. Sebuah pemikiran yang kreatifitas mungkin akan menggugah pertumbuhan kognitif anak secara optimal.
Ketika anak tersebut telah “mengenal hal-hal yang baru kita berikan maka akan timbul rasa sukanya. Dalam konteks ini menyukai atau mencintai merupakan mengeksplorasi hal baru sebagai pengalamannya. Setelah anak mengenal dan mencintai “pengalaman baru” maka secara otomatis dirinya akan meniru sebuah hal yang baik untuk ditiru. Konteks peniruan ini  mencakup bentuk latihan dan penerapan.
Sebagai contoh, kita ambil objek yang disenangi anak, seperti key board atau alat musik yang lain-, jika anak telah mengetahuinya maka ia akan banyak bertanya kepada kita tentang key board tersebut. Dengan demikian dari jawaban dan informasi yang ia peroleh, ia menjadi sangat tertarik. Selanjutnya ia akan mencoba untuk meniru bagaimana orang bisa mempraktekanya. Hingga pada akhirnya sang anak memiliki idola yang lebih jago dan popular dalam bidang music. Selanjutnya dia berlatih dan meniru agar bisa sehebat sang idolanya.
Agar anak bisa memiliki pribadi yang bahagia, maka orang tua perlu meningkatkan ketertarikan anak (motivasi) untuk belajar. Memang dalam praktek dalam kehidupan ini bahwa mendidik anak untukm senang belajar cukup sulit. Kadang kita butuh kesabaran yang lebih untuk membuat anak kita mengerti bagaimana pentingnya belajar. Kalau belajar buat anak, terutama anak kecil, maka kita harus bikin kondisi yang menyenangkan dan menghindari tekanan. Belajar yang menyenangkan akan membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran.
Malah sekarang ada teori tentang “pailkem”, Hamzah B.Uno dan Nurdin Mohammad (2012) telah menulis tentang “pailkem”- singkatan dari akronim “pembelajaran aktif inovatif lingkungan kreatif efektif menarik”, yaitu salah satu strategi untuk mengoptimalkan pembelajaran di sekolah. Dengan pailkem insyaallah akan bisa terbentuk suasana belajar yang menyenangkan. 
Membuat suasana belajar yang menyenangkan untuk anak diakui memang tidaklah mudah. Dia butuh persuasif (bujukan) dan memberinya kegiatan yang sesuai dengan minat dan kapasitas anak. Dengan demikian anak dapat dengan mudah diajak untuk belajar. Juga lingkungan yang kondusif sangatlah berpengaruh pada niat anak belajar. Jika lingkungan nya dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan rasa penasaran si anak, pasti anak dapat dengan mudah diajak untuk belajar.
Teman-teman bergaul juga berpengaruh pada minat belajar anak. Semangat teman itu ibarat virus yang bisa menular. Dengan teman-teman yang aktif, maka anak akan juga menjadi aktif, hingga ia dapat dengan mudah mulai belajar. Sebaliknya teman-teman yang pasif akan membuat anak juga terserang oleh virus (semangat) yang juga pasif. Dimana akhirnya minat belajar jadi lemah dan hilang.
Selain membuat suasana belajar yang menyenangkan, orang tua juga perlu mengajarkan tentang kedisiplinan. Ya disiplin di dalam kegiatan anak belajar, dan disiplin disini bukan dalam arti kata untuk mengekang si anak. Namun disiplin untuk membuat anak selalu konsistensi dalam belajar. Disiplin dapat dipraktekan dengan bahasa yang tetap menyenangkan, yaitu melalui kalimat atau bahasa yang tidak terkesan merendahkan tetapi selalu memberi semangat dan tetap positif.
Dalam berbuat (beramal) agama kita memperkenalkan istilah pahala atau dosa. Istilah lainnya adalah hadiah dan hukuman (reward or punishment). Sistem hukuman dan hadiah pun dapat di sisipkan diantara kegiatan belajar. Sebab hukuman dan hadiah dapat dijadikan motivasi untuk si anak dalam kegiatan belajar. Tetapi harus diperhatikan juga sistem hadiah dan hukuman ini, sebab kadang kita terlalu banyak memberikan porsi hadiah atau hukuman tersebut. Jika kita terlalu banyak memberikan hadiah, maka si anak cenderung akan menjadi manja lalu jika kita terlalu banyak memberikan hukuman, maka si anak akan merasa takut dan juga merasa tertekan. Ya semua tergantung pada seni mendidik dari orang tua.
Orang tua, begitu juga dengan guru, perlu tahu tentang kiat untuk mengembangkan minat belajar anak- mengembangkan minat membaca. Membaca- dan juga menulis-  merupakan aktifitas yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Kemampuan membaca dan menulis anak memberi kontribusi terhadap prestasi si anak di sekolah. Orang tua umumnya sangat bangga kalau pada kelas rendah – kelas 1 dan 2 SD- anak sudah pandai membaca dengan lancar. Sebagai catatan bahwa orang tua tidak boleh memaksa anak untuk belajar membaca saat usia mereka masih balita. 
Agaknya perlu dikenal faktor yang bisa mendorong minat belajar membaca anak-anaknya. Kebiasaan gemar membaca mereka sebaiknya dikembangkan sejak anak masih berusia balita, bukan. Bukan dalam bentuk memaksa, namun dalam bentuk bermain- karena dunia anak- anak adalah dunia bermain.
Kemampuan membaca buat anak adalah anugerah buat mereka karena anak yang gemar membaca umumnya akan tumbuh menjadi pelajar yang cerdas dan berwawasan luas. Jadi untuk menumbuhkan minat belajar membaca anak, orang tua perlu memulainya dari rumah. Berikut langkah-langkah untuk menumbuhkan minat belajar membaca anak.
a) Perpustakaan mini buat keluarga, tentu saja pembentukan perpustakaan keluarga tidak harus langsung jadi. Menyediakan bacaan buat keluarga yang dimulai dengan beberapa judul buku adalah merupakan langkah awal. Lebih penting terlebih dahulu untuk menarik minat baca anak melalui buku-buku yang berisi banyak gambar menarik dan penuh warna, ya sesuai dengan tingkat usia anak.
b) Membaca bersama dalam keluarga. Teman penulis, Ulla Mo, Eva dan Guini, yang datang dari Swedia mengatakan bahwa di negeri mereka ada kebiasaan membaca dalam keluarga, yaitu ada kegiatan reading time setelah makan malam. Agaknya kita juga bisa mengadopsi kegiatan ini. Orang tua (kita) menyediakan buku dan setelah memilih buku yang tepat, kita menumbuhkan minat membaca pada anak dengan cara sering membacakan buku cerita- kisah petualangan di saat bermain atau di waktu menjelang tidur.
c) Mengikuti pemahaman anak, tentu saja orang tua perlu meluangan waktu secara teratur untuk menemani anak, membaca bersama dan sekaligus melihat/ memonitor pemahaman anak dalam membaca. Membaca berguna untuk mengembangkan daya nalar anak. Biasakan setelah selesai membaca sebuah buku, kita tanyakan pada anak tentang kesimpulan yang diperoleh dari buku tersebut. Kebiasaan ini dapat membantu anak dalam berpikir secara sistematis dan menarik kesimpulan.
Namun menumbuhkan minat belajar membaca anak juga tidak bisa dipaksakan. Beberapa anak memiliki tingkat perkembangan membaca yang lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Memaksa anak untuk belajar membaca sangat tidak baik. Anak akan menjadi tertekan karena dituntut melakukan sesuatu yang ia tidak bisa, akibatnya anak menjadi malas-malasan ketika disuruh belajar pada waktu selanjutnya. Atau bahkan dapat membuat anak mengalami gangguan membaca.
Kapan ya anak kita siap untuk belajar membaca ? Tentu saja mereka belajar membaca dengan cara yang menyenangkan. Anak kita agaknya siap untuk mulai belajar membaca kalau ia sudah dapat membedakan kiri dan kanan, maksudnya ia juga agak mampu membedakanan huruf yang mirip seperti huruf ‘p’ dan ‘q’ atau ‘b’ dan ‘d’. Kemudian bila kemampuan motorik yang baik, yaitu setelah ia mampu untuk melempar, menggunting dan menangkap bola. Dan juga punya kemampuan untuk memahami. Anak yang sudah dapat membedakan  bentuk, warna, ukuran, bunyi dan mengingat apa yang ia lihat akan lebih cepat dilatih membaca. Karena dalam belajar membaca anak harus bisa mengenali bentuk-bentuk huruf dan membedakannya. Misalnya saja, anak akan mudah memahami ejaan kata ‘kucing’ jika ia sudah tahu apa itu kucing.
Akhir kata bahwa dalam mengajar anak kita perlu memahami prinsip “memberi dorongan dan bukan mendukung”. Pendidikan memerlukan kesungguhan. Filosofi mendidik bagi negara maju dan juga orang-orang yang berfikiran maju adalah bahwa mendidik bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang anak agar bisa untuk maju. Jadi memberikan “encouragement”. Kita tidak mungkin mengukur prestasi anak atau orang lain menurut ukuran kita. Kita bisa meniru karakter guru-guru di negara maju dalam mendidik yaitu “karakter yang membangun semangat belajar anak, bukan karakter yang merusak atau menghancurkan mental belajar anak”.
Kita tidak mungkin bisa menciptakan generasi yang hebat dengan mendidik penuh dengan ancaman, tekanan, gertakan dan segudang rasa takut. Jadi generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya sebagai generasi maledukasi, yaitu generasi salah didik. Juga anak-anak yang dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: awas nanti ya !!!, dan juga diancam dengan nilai rendah, tinta merah hingga nilai di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal) di sekolah sebagai bentuk praktik mal-edukasi juga.
Jadi idealnya kita- para guru dan orang tua harus selalu mendidik dan mengajar dengan penuh semangat, memberi dorongan, suasana hati gembira dan wajah ceria. Pendek kata kita perlu menumbuhkan jiwa dan pribadi anak menjadi bahagia dalam hidupnya. Karena Melalui pribadi yang bahagia belajar akan menjadi lebih mudah, indah dan menyenangkan.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...