Selasa, 17 November 2015

Mencari Penerbit yang butuh naskah. Ini ada naskah yang berjudul HUNTING THE FUTURE Langkah- Langkah Yang Dilakukan Banyak Orang Dalam Berburu Masa Depan



Naskah Buku
HUNTING THE FUTURE
Langkah- Langkah Yang Dilakukan Banyak Orang Dalam Berburu Masa Depan


Oleh: Marjohan, M.Pd

Pengantar

Hidup ini harus dinamis. Setiap orang didorong untuk melangkah menuju masa depan. Kualitas hidup ditentukan oleh persiapan dan perjuangan yang tiada henti. Hampir semua orang ingin menggapai masa depan yang gemilang. Di sekolah para pelajar juga berjuang menggapai pendidikan mereka yang selanjutnya, yaitu jurusan dan perguruan tinggi terbaik menurut mereka. Itu merupakan bentuk dari perburuan masa depan. Namun sebelumnya mereka sering bingung dalam menentukan pilihan studi di masa depan itu sendiri.
Dalam dunia akademik setiap tahun ribuan remaja melakukan perburuan perguruan tinggi, sebahagian bisa berhasil tetapi sebahagian lagi belum. Penulis mencoba memaparkan bagaimana orang mempersiapkan masa depan dalam bentuk kompilasi tulisan. Kompilasi ini dikumpulkan menjadi sebuah buku kecil dan diberi judul “Hunting The Future- Langkah Langkah Yang Dilakukan Banyak Orang Dalam Berburu Masa Depan”. Kompilasi tulisan ini memuat sekitar 30 judul. Semuanya merupakan opini, celotehan, dan ungkapan- ungkapan yang mungkin terucap oleh guru, siswa, orang tua siswa and stakeholder dalam mempersiapkan anak- anak atau siswa dalam meraih masa depan mereka.
Buku kecil ini sebaiknya dibaca oleh para guru, orang tua, pelajar, mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk memahami dunia pendidikan. Tentu saja dalam penulisan buku ini terdapat kesalahan di sana-sini dan penulis dengan senang hati menerima masukan serta kritik yang membangun. Penulis menunggu saran dan masukan itu semua pada marjohanusman@yahoo.com. Kompilasi artikel ini juga dapat diakses pada http://penulisbatusangkar.blogspot.com. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dari berbagai pihak.

Batusangkar, November, 2015
                                                                                             Marjohan M.Pd



Daftar Isi

Pengantar
Daftar Isi

1. Merencanakan Studi Di Perguruan Tinggi Sejak Dini
2. Menumbuhkan Pribadi Yang Bahagia Dalam Belajar
3. Menjadi Manusia Kelas Dunia (World Class People)
4. Cita-cita Tidak Jatuh Dari Langit
5. Kiat- Kiat Sukses Dalam Belajar
6. Lima Kekuatan Yang Perlu Dimiliki Mahasiswa
7. Pentingnya Memiliki Jiwa Wirausaha, Teknokrat dan Leadership Dalam Hidup
8. Mencegah Drop-Out Sedini Mungkin
9. Meningkatkan Kemandirian Dalam Hidup
10. IPK Itu Penting, Namun Bukan Segala- Galanya
11. Pentingnya Menjadi Siswa Yang Smart Book dan Smart Street
12. Strategi Bisa Mengikuti Pertukaran Pelajar
13. Jalan Sukses Dalam Cabang Olah Raga
14. Jangan Biarkan Semangat Berwirausaha Memudar
15. Siswa Perlu Memiliki Cita-Cita Yang Spesifik
16. Kuliah Membentul Pola Berfikir- Bukan Untuk Jadi Kaya Raya
17. Kunci Kehebatan Bangsa  Barat ?
18. Menggenjot Semangat Berwirausaha
19. Mahasiswa, Jangan Doyan Main Game Ala Anak SD Lagi !!!
20. Prestasi Hebat Butuh Karakter Yang Dahsyat
21. Tidak Memaksa, Namun Mendorong Anak Dalam Belajar
22. Campur Tangan Ayah Menentukan  Kualitas Pribadi Anak
23. Menjadi Orang Yang Berfikiran Realita, Bukan Pemimpi
24. Meledakan Pertumbuhan Kecerdasan Anak
25. Home Schooling Sebagai Alternatif Buat Menjadi Cerdas
26. Sejarah Rasulullah Sebagai Parenting Terbaik Bagi Kita
27. Banyak Yang Pintar Tapi Sedikit Yang Kreatif
28. Mengaplikasikan Prinsip “Long life education
29. Sekolah Perlu Menghasilkan Siswa Yang Mandiri
30. Menajamkan Fokus Pendidikan Antara Kognitif dan Afektif

Daftar Pustaka
Tentang Penulis


1.Merencanakan Studi Di Perguruan Tinggi Sejak Dini

Saat kecil kita sudah punya cita-cita. Di sekolah ibu dan bapak guru sering menanyakan tentang cita-cita kita. Sekarang saatnya penulis, sebagai guru, juga sering ngobrol dengan siswa tentang pilihan studi dan karirnya di masa depan. Pada umumnya mereka bingung dalam memilih cita-citanya. Mereka berkata: “Saya tidak tahu ingin jadi apa” atau “saya tidak tahu bagaimana mencapai cita-citaku kelak.
Berdasarkan pengalaman ini penulis menyimpulkan bahwa sungguh banyak siswa yang memiliki pemahaman tentang masa depan yang sangat minim. Mengapa setelah berusia remaja mereka bingung dengan masa depan pilihan karir mereka, pada hal saat sekolah di TK dan SD mereka dengan lantang meneriakan pilihan karir mereka. Orang tua kita juga punya peran dalam menumbuhkan cita-cita kita. Mereka membisikan sekeping cita-cita guna memotivasi semangat belajar kita. Ketika kita sekolah di SD (Sekolah Dasar) orang tua kita punya peran yang banyak dalam memilihkan sesuatu untuk kita, tentu saja mereka membisikan cita-cita yang masuk akal buat kita:
“Moga-moga kamu bisa menjadi seorang tokoh masyarakat, menjadi dokter, polisi, perawat, jadi pilot, juga menjadi pemuka agama, dll”.
Terasa saat di SD orang tua kita juga memilihkan banyak hal buat kita, termasuk memilihkan kebutuhan kita dan juga bentuk cita-cita kita. Namun selepas dari SD, kita mulai dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan studi kita. Walau kemudian, lagi-lagi orang tua masih berperan besar- misalnya memberi pertimbangan- dalam keputusan yang kita ambil.
Usai SD terus kita belajar di SMP, dimana di usia SMP kita juga melakukan sejumlah pilihan dalam studi dan kehidupan. Ketika di SMA, pilihan-pilihan itu semakin banyak. Mulai dari memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan yang akan diambil, lulus sekolah mau kuliah atau bekerja. Dan peran orang tua dalam menentukan pilihan kita sudah berkurang. Termasuk dalam menentukan pilihan kuliah.
Kalau mau kuliah tentu ada sejumlah pilihan. Kita diharapkan bisa memutuskan sendiri. Mulai dari menentukan mengambil program studi D3 atau S1, di universitas mana, program studi atau jurusannya apa, dan ada sederet pilihan lainnya. Sekarang bagi lulusan SLTA/ SMA, terutama remaja, semestinya sudah bisa memutuskan pilihannya sendiri. Karena semua pilihan yang mereka ambil sebenarnya adalah pilihan tentang masa depan mereka.
Dulu saat zamat rekruitmen PNS terasa agak mudah, pilihan kuliah terasa cukup mudah. Orang bisa menunjuk apakah mereka mau berkarir pada bidang kedokteran, perawat, farmasi. Kemudia kalau mereka pilih studi di IPA atau IPS maka mereka akan berkarir di dunia sains atau sosial. Namun sekarang, atau sejak beberapa tahun belakang,  tidak demikian lagi. Fenomena sekarang bahwa pilihan jurusan di perguruan tinggi tidak mutlak menentukan karir. Ada orang yang lulusan fakultas tekhnik atau fakultas hukum ternyata berkarir  dalam bidang perdagangan. Jadinya sekarang pada banyak jenjang pendidikan SMA banyak siswa yang menjadi bingung dan tidak tahu arah untuk karir masa depan, kenapa demikian ?
Mungkin kondisi pendidikan kita yang tidak fokus. Memang benar bahwa ini sering terjadi di Indonesia. Pendidikan tidak banyak membicarakan tentang masa depan, hanya sekedar memberi teori dan PR dan menagih PR keesokan harinya. Juga pendidikan kita mungkin juga miskin tentang motivasi hidup. Mata pelajaran agama hanya 2 jam dalam seminggu dan tidak ada waktu untuk mengupas tentang kisah-kisah hidup Rasul, para sahabat dan ulama cerdas di dunia.
Pelajaran sains kita hanya banyak berkutat pada teori- menghafal rumus-rumus- dan hampir tidak pernah mengupas tentang proses kreatif sang penemu (tokoh sains) mengapa mereka bisa menemukan rumus dan terkenal sebagai ilmuwan. Pelajaran olah raga hanya melatih siswa untuk menguasai gerak dasar dan jarang sekali untuk mempersiapkan menjadi atlit nasional, apa lagi atlit dunia. Dan lain-lain, sehingga saat anak-anak lulus SMA, mereka kaget dan tidak tahu mau ngapain. Itulah bentuk kebingungan anak-anak soal masa depannya.
Belajar dengan motivasi tinggi dapat kita temui pada banyak SMA, apalagi bagi sekolah yang berlabel unggul. Motivasi terkuat mereka untuk belajar dengan sepenuh hati adalah agar bisa jebol di perguruan tinggi favorit yang terletak berjejer di pulau Jawa. Malah untuk menghadapi persaingan yang ketat dan agar bisa menang dalam persaingan dengan menggapai skor yang tinggi maka mereka jugabelajar pada bimbel (bimbingan belajar) yang sekarang sudah menjamur di penjuru tanah air.
Tapi mereka tetap sekedar bisa belajar keras dan bisa meraih skor yang depan. Untuk ke depannya mereka tidak tahu mau kuliah dimana dan mau jadi apa. Rata- rata siswa ingin berkarir di jurusan yang fantastis. Pada umumnya ingin kuliah di Fakultas Kedokteran UI dimana ini hampir tidak mungkin buat menampung banyak siswa yang kualitasnya rendah. Ada juga siswa yang memilih jurusan yang juga secara ikut-ikutan.
Kita bisa menemukan/membaca banyak kasus siswa yang galau dengan karir masa depan. Yaitu banyak mereka yang sudah berpayah-payah mengikuti bimbel dan juga SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) hingga bisa diterima di jurusan yang mereka tuju, tapi malah akhirnya mundur karena merasa tidak cocok dengan pilihan kuliahnya.
Malah ada sebahagian siswa yang malah ngotot ikut “bimbel” dan ikut lagi SPMB berulang-ulang agar bisa jebol ke fakultas kedokteran dan fakultas favorite lainnya namun juga tak juga lulus. Mengapa mereka memaksa diri, karena bisa jadi peruntungannya atau kapasitasnya tidak di sana. Mengapa mereka selalu memaksakan kehendak, tentu saja itu efek dari prilaku yang penuh dengan kebingungan terhadap masa depan studi dan karirnya.
Dalam mengikuti pelajaran, para siswa seolah-olah menganut prinsip “like atau dislike” untuk sejumlah mata pelajaran. Namun mereka harus juga mengikuti pelajaran yang mereka tidak suka. Berbeda dengan pendidikan di luar negeri, seperti di Amerika dimana para siswa boleh memilih mata pelajaran yang mereka suka, sehingga untuk ke depan mereka sudah memahami seperti apa dan dimana karir mereka kelak.
Tentu saja terjadi fenomena “kebingung dengan masa depan”. Mereka tidak tahu kemanamau kuliah dan apa karir mereka kelak. Seharusnya mereka memerlukan bimbingan orang tua.
Kurang fokusnya siswa terhadap masa depan yang akan mereka jalani terjadi karena minimnya wawasan dan pengalaman siswa itu sendiri, peran orang tua sangat dibutuhkan. Memang belum banyak orang tua yang bisa mengarahkan dan membimbing anaknya untuk fokus pada masa depan.
“Bagi saya kemana dan dimana anak mau kuliah saya serahkan padanya. Saya hanya memberi dukungan secara moral, spiritual dan finansial padanya”.
Namun juga ada sebagian orang tua yang kelihatannya cukup peduli peduli tapi mereka hanya menginginkan masa depannya anak sesuai dengan patokannya tanpa melibatkan anak. Mereka ingin anaknya kelak sebagaimana yang mereka inginkan, misalnya menjadi dokter, bankir, dan sebagainya. Celakanya keinginan anak berdasarkan potensi kurang mereka hiraukan.
Sementara di sisi lain, ada orang tua yang permisif- seperti yang telah kita ungkapkan di atas- pokonya dimana anak/ siswa mau kuliah yan terserah mereka, apa saja boleh. Tipe orang tua seperti ini tidak memberi arahan sama sekali. Sekali lagi bahwa akibatnya anak menjadi kebingungan sendiri. Seharusnya peran orang tua tidak memaksakan diri. Orang tua perlu lebih arif dan lebih cerdas. Mereka harus mengenali potensi anak, setelah itu baru membantu dan memberikan alternatif yang bisa dilakukan anak.
“Mari kita berikan ana- anak beberapa alternatif, dan biarkan mereka yang memutuskannya. Karena urusan masa depan- apa jurusan dan dimana mau kuliah- adalah tergantung minant dan potensi anak itu sendiri, namun anak tetap dilibatkan dalam urusan masa depannya”.
Ketika seorang anak sudah beranjak remaja, namun ia belumn juga punya cita-cita atau pilihan karier di masa depan, maka ini adalah warning bagi guru dan orang tua untuk secepatnya memberi arahan masa depan bagi anak-anak/ siswa.  Pertanda bahwa mereka adalah remaja tidak punya cita-cita atau target hidup, dan seharusnya mereka punya cita-cita masa depan.
Bagaimana merancang masa depan buat anak ? Sebenarnya sudah dapat dimulai sejak dari rumah. Orang tua dapat mengarahkan anak tentang masa depannya yaitu dengan pengenalan kepada berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya di masa depan bisa dimulai sejak usia TK atau SD. Mungkin saat libur orang tua dan anak sengaja mengunjungi objek-objek karir seperti pertokoan, properti, plaza, kantor, pabrik, lembaga hingga bandara. Selama jalan-jalan tersebut mereka melakukan percakapan seputar karir.
Selain itu percakapan tentang karir juga bisa dilakukan dengan membahas biografi para tokoh. Hingga anak mendapatkan tentang karir, bahwa karir itu tidak hanya seputar karir dalam lingkungan PNS namun jauh melampui itu. Menjadi atlit, pengusaha dan seniman adalah juga karir. Kemudian pemantapan atau pematangan baru bisa dilakukan saat anak duduk di bangku SMP dan SMA.
Pada usia SMP dan SMA inilah orang tua harus mulai membicarakan masa depan secara lebih serius. Tentunya dengan gaya berkomunikasi interaktif (dua arah) yang bisa diterima anak. Sebab, anak-anak usia belasan tak bisa diatur dan diajak bicara dengan gaya directive- gaya berkomunikasi satu arah dan banyak mendikte- yang bernada serba mengatur begini dan begitu.
Pendekatan berkomunikasi dengan anak musti secara perlahan dan kesadaran harus timbul dari dalam diri mereka. Orang tua harus bersikap lebih bijaksana dan berusaha agar bisa memberi gambaran tentang masa depan itu dan bagaimana tuntutan buat anak untuk mengejar masa depan, tidak mungkin dengan cara berpangku tangan, bukan ? Kemudian orang tua juga harus mengenal potensi anak. Dengan potensi yang dimilikinya, apa kira-kira yang bisa dilakukan anak untuk menjawab tantangan masa depannya.
Dalam zaman dahulu untuk memilih studio rang punya banyak pertimbangan. Pertimbangan utama adalah soal finansial dan mereka berfikir tentang kesanggupan finansial orang tua. Ujung-ujungnya banyak yang mengambil sekolah kejuruan yang dianggap sebagai pendidikan siap bisa bekerja bila sudah menamatkan jenjang pendidikan SLTA, seperti SMEA, STM atau sekolah kejuruan lainnya.
Anak-anak yang bersekolah di sekolah unggulan, seperti di SMA Unggul, cenderung memilih cita-cita setinggi mungkin. Malah terkesan mereka cenderung memilih juruan yang dianggap keren. Mereka juga tidak begitu mempertimbangkan apakah orang tua cukup mampu secara finansial, apalagi dengan adanyak iming-iming beasiswa yang berlimpah ruang yang datang dari mana saja. Maka mereka lebih mendengar sugesti dari para senior dari pada saran para guru dan juga dari para orang tua. Idealnya sang anak tetap melakukan pertimbangan keuangan untuk memilih kuliah yang kemungkinan butuh dana yang besar.
Memang orang tua akan melakukan apa pun untuk masa depan anak, namun tentu kemampuannya terbatas. Untuk itu beri gambaran padanya. Saat anak merasa mantap dengan keputusannya, disertai pertimbangan yang matang terkait dengan potensinya dan pertimbangan lainnya, juga sudah melibatkan orang tua, maka keputusan ini dapat dianggap sebagai keputusan terbaik. Kini orang tua mesti mengawasi konsistensi anak dalam menjalankan semua rencananya.
Agaknya ada beberapa saran untuk menentukan masa depan buat para siswa yang akan menamatkan sekolah SMA atau SLTA-nya. Sebaiknya mereka focus untuk belajar, misal lewat bimbel atau belajar secara mandiri (otodidak) untuk sekedar menghemat biaya, karena untuk bisa kuliah tidak perlu melalui bimbel segala. Namun juga nikmati suasanaberlibur untuk menambah wawasan sosial. Kadang kehidupan tidak berjalan sesuai rencana. Untuk itu jangan kaku dan terlalu terpaku pada “planning”.  Bisa saja rencana kita keluar dari jalur dan itu adalah wajar dan biasa saja. Yang penting kita tidak perlu mengikuti mimpi atau rencana orang lain. Karena mimpi orang lain adalah milik orang lain. Yang yang terpenting kita harus mengetahui talent atau bakat kita. Untuk itu mari kitapertimbangkan bakat kita sendiri.
Cita-cita kita yang lebih konkrit adalah saat kita sudah berusia 18 tahun, yaitu di ujung masa remaja kita dan dimana usia dewasa kita datang menyambut. Keputusan kita buat kuliah sudah cukup logika dan masuk akal. Beberapa hal yang kita rasakan dulu mungkin akan berubah. Itu adalah hal yang biasa saja. Lagi- lagi dalam hal ini kita perlu mencari info, mungkin lewat membaca buku/ majalah/ surat kabar atau petunjukm orang lain. Moga- moga ada petunjuk yang bermanfaat bagi kita.
Ada sebuah ungkapan baru yaitu: Habiskan waktu sebelum menghabiskan uang. Ya untuk hal ini kita perlu berinvestasi dalam membaca, membicarakan, dan mencari tahu sebelum kita menyalurkan sejumlah besar uang untuk meraih sebuah gelar, sertifikasi, atau relokasi. Perlu kita sadari bahwa kita tidak perlu selalu mengeluarkan uang untuk menyusun masa depan.
Ada lagi prinsip yang harus kita punya untuk menyiapkan karir masa depan yaitu kita tidak perlu menjadi yang terbaik- ini tentu saja pendapat penulis. Karena sangat sedikit orang yang menjadi terbaik dalam suatu hal. Melakukan yang terbaik bukan berarti harus jadi yang terbaik. Kadang kita mungkin gagal pada percobaan pertama, tapi hidup adalah kata lain dari kesempatan.
Anak-anak muda sekarang perlu tahu dengan prinsip pendakian. Bahwa untuk mendaki sebuah tangga tentu saja dimulai dari injakan paling bawah. Banyak siswa sekarang yang berfikir dengan cara menggampangkan.
Saat terjadi perbincangan antara guru dan siswa di sekolah, salah seorang siswa mengangkat tangannya bahwa dia kelak setelah tamat dari SMA ingin melanjutkan studi ke jurusan Hubungan Internasional, dengan alasan setelah itu ia ingin menjadi seorang Duta Besar, penjelasannya dengan mantap.
Apakah ada orang yang menjadi Duta Besar di usia 20 tahunan ? Tentu saja tidak. Bahwa jabatan Duta Besar adalah kebijakan dari seorang Presiden, dan rata-rata seorang menjadi Duta Besar dalam usia di atas 50 tahun. Makanya setiap remaja, siswa dan mahasiswa perlu selalu menambah ilmu, memperluas wawasan dan menajamkan visinya.
Namanya orang tua tentu saja tetap membimbing anaknya dalam menempuh kehidupan di dunia ini. Ada seorang teman penulis, sebagai contoh, tidak memperoleh pendidikan tinggi dari universitas. Dia hanya banyak belajar dari alam dan berpendapat bahwa sekarang pintu untuk bekerja di jalur PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah sangat susah. Maka semua orang tetap dimotivasi untuk selalu meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal dan non formal.
Teman tersebut berpendapat kalau seorang anak tidak mungkin bisa menciptakan lapangan pekerjaan, maka lebih baik kalau ia ingin melajutkan pendidikan ke Perguruan tinggi untuk memilih jurusan yang tamatannya jelas dimana tempat untuk berkarir. Misalnya anak memilih jurusan tekhnik maka tempatnya cukup banyak berlimpah di pelosok negeri, atau memilih jurusan perhotelan dan parawisata maka usaha karirnya juga terlihat jelas. Ia berpendapat untuk tidak memilih jurusan yang abu-abu karena tamat kuliah, menjadi sarjana namun bingung apa yang mau dikerjakan. Kita sebagai guru dan orang tua sangat tepat untuk menganjurkan pada anak-anak kita buat studi lanjutan mereka dan menulis pesan pada dinding kamar mereka dengan frase: Rencanakan studi perguruan tinggimu sedini mungkin.


Selasa, 06 Oktober 2015

Para Guru Perlu Mengaplikasikan Prinsip “Long life education- Belajar Seumur Hidup”


Perjalanan Hidup Rasulullah Sebagai Cermin Parenting Bagi Kita
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

            Akhir-akhir ini saya amat tekun membaca artikel-artikel tentang parenting. Parenting adalah ilmu tentang bagaimana menjadi orang tua yang ideal. Kualitas parenting orang tua di rumah sangat menentukan kualitas anggota keluarga (anak-anak). Dari media internet kita bisa memperoleh informasi bahwa kualitas parenting orangtua Indonesia belum menggembirakan. Malah sebahagian bisa berkategori sebagai fail-parenting- atau orang tua yang gagal, karena cukup banyak mereka yang tidak tahu peran mereka sebagai orang tua. Pintar mereka sebagai orang tua hanya sebatas menyuruh, melarang dan mencukupi kebutuhan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Selebihnya orang tua menyerahkan urusan mendidik kesekolah secara bulat- bulat. Ironisnya cukup banyak orang tua yang serba tidak mengerti tentang parenting ini.
            Kualitas SDM atau pendidikan bangsa Indonesia sangat tidak membahagiakan, masih menempati rangking diatas seratus. Ini berarti bahwa Indonesia,ibarat kapal besar, dengan penduduk lebih dari 250 juta, ternyata mereka adalah orang orang yang rendah kualitasnya. Ini juga dibuktikan bahwa setiap kali diadakan pesta olahraga untuk negara-negara Asia Tenggara (Asean Games) maka jarang sekali Indonesia menempati peringkat juara satu atau juara umum. Selalu bisa dikalahkan oleh negara tetangga yang lain.
            Negara Singapura saja, yang besarnya hanya sebesar kota Padang, bisa mengalahkan kualitas prestasi bangsa kita. Apa maksudnya, bangsa bangsa kita adalah bangsa yang kurang rajin, lemah semangat, kurang memiliki semangat juang dan kompetisi. Ya kita adalah sebagai bangsa penonton dan suka konsumerisme yang berlebihan. Penyebabnya banyak, salah satunya karena kualitas parenting kita yang rendah. Sebagai orang tua belum berhasil dalam menanamkan semangat belajar dan bekerja keras- kerja yang serius dan berkualitas.
            Kita boleh kagum dengan kualitas pendidikan di Belanda, yang mana disebut memilki kualitas ibu yang terbaik. Atau kita kagum dengan parenting orang tua di Jepang, Findlandia, Perancis, Australia dan negara Barat lainnya.
Negara Australia merupakan cerminan dari bangsa Eropa di dekat Indonesia. Saat saya berada di Melbourne dan Sydney, saya melihat betapa rapi dan teraturnya tata ruang negara mereka. Betapa berkualitasnya warganya- mereka terbiasa tepat waktu, suka antri dan budaya tertib. Itu semua untuk urusan dunia.
            Namun sayangnya saat saya berada di Hotel Ibis, Hotel Mercure  dan hotel lainnya, saya menjumpai muda-mudi bergaul bebas, persis saat merpesta di akhir pecan. Mereka mengadopsi budaya pergaulan bebas. Di taman kota muda-mudi tanpa risih bermesraan yang di luar batas. Bukan kah hidup ini utamanya bagi orang Islam adalah buat mengabdi pada Allah. Itulah yang saya temukan bahwa parenting mereka adalah parenting sekuler, hanya sebatas berkualitas dan rapi buat urusan dunia semata. Namun buat buat urusan spiritual dan rohani, mereka cenderung mengabaikannya. Jadinya saya ingin bahwa yang patut dikagumi bukan parenting ala Barat, namun adalah parenting yang Islami.
Terus terang bahwa parenting yang sangat baik itu adalah parenting Islam. Sejarah dan prilaku Nabi Muhammad Saw adalah sumber inspirasi parenting yang terbaik bagi kita. Persis sebagaimana Firman Allah dalam kitab suci Al-Quran. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan  yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al-Ahzab, 21).
Dalam teori Tabularasa, dinyatakan seorang anak ibarat sehelai kertas putih, coretan-coretan yang diberikan oleh lingkungannya akan menentukan karakter dan kualitas pribadinya. Tukang coret atau pengukir buat kehidupan utama atas diri sang anak tentu saja adalah ibu dan bapanya. Senada dengan teori tabularasa, agama kita, Islam,juga mengatakan bahwa orang tua juga penentu eksistensi kepercayaan seorang anak.
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.
Aneh-aneh saja gaya orang tua sekarang dalam menumbuhkan anak, termasuk mereka yang mengaku punya ilmu mendidik. Begitu anak lahir dan terus tumbuh, mereka diperkenalkan suguhan lirik-lirik lagu yang jauh dari nafas rohani Islam. Bayi-bayi mereka tidur lelap sambil didendang dengan lagu lagu sekuler yang keluar dari audio HP atau gadget mereka.Kemudian saat bayi tumbuh dewasa dan ternyata jauh dari ajaran Islam, maka yang tertuduh adalah pengaruh lingkungan- tanpa alamat yang jelas.
Fenomena orang tua lain, yang mengaku sebagai orang tua modern yang juga tahu dengan ilmu agama adalah mengajak anak mereka untuk terlalu banyak bersenang-senang. Mencari makanan fast-food di mall, pergi eksplore di time-zone atau arena bermain yang berharga mahal dan menjauhi anak dari pengalaman hidup yang susah. Mengapa tidak membawa anak ke kebun, sawah, pinggir sungai agar mereka tahu bahwa ini semua adalah alam yang diciptakan oleh Allah. Jadinya anak tidak mengenal bagaimana orang-orang yang kurang beruntung menjalani kehidupan mereka. Akibatnya orangtua telah mencetak anak-anak yang berkarakter hedonism- memuja kesenangan dan kemewahan hidup.
Setelah itu bahwa sikap orang tua yang terlalu mendorong dan memotivasi anak mereka untuk memuja-muja kecerdasan otak dari pada menjaga kesucian hati anak juga banyak. Anak digenjot untuk mengikuti belasan les, kursus dan bimbel demi bimbel dengan tujuan kelak menjadi orang sukses. Atas nama belajar sang anak dibebaskan dari bekerja. Kebutuhan makan, minum, pakaian dan semua keperluan anak dilayani. Akibatnya anak- anak mereka yang telah merangkak menjadi remaja akhir dan dewasa awal cukup banyak yang tidak mampu melayani diri sendiri. Tidak tahu cara memasak, membersihkan rumah, menstrika pakaian. Malah gara gara dibelenggu oleh tugas belajar dan ikut kursus hingga sang anak tidak tahu cara bersosial lagi. Jadinya mereka tumbuh menjadi pemuda dan pemudi dengan  kecerdasan yang palsu yang tidak akan memberi manfaat pada dirinya dan juga bagi orang lain.
Barusan tadi siang, saya dan anak perempuan saya, menghadiri sebuah kenduri pada suatu tempat di kota Batusangkar. Kemudian kami menyaksikan lantunan lagu-lagu lucu yang dibawakan oleh seorang gadis cilik. Lagu-lagu dangdut yang membahas tentang cinta. Tidak tanggung-tanggung ada tiga lagu yang ia lantunkan dan goyangnya juga terlihat tidak pas untuk usianya. Saya bertanya pada anak perempuan saya: “ Mana sih yang lebih berfaedah dari sisi agama, jago melantunkan lagu lagu konsumsi buat orang dewasa kayak itu atau mampu menghafal sura-surat pendek dari kitab suci Al-Quran ?. Ya demikian, cukup banyak orang tua dan juga penulis, sering melupakan akan makna hidup kita di dunia ini:
“Hidup ini apakah hanya sekedar hura-hura atau buat mengabdi dan beribadah untuk Allah- Tuhan Pencipta Jagat Raya ini ?.” Jadinya kita sering lupa dengan tujuan hidup ini.
Ya itu semua karena kesalahan parenting. Ilmu mendidik kita kerap salah arah. Ada yang tidak memiliki ilmu parenting, sehingga begitu anak terlahir, maka anak tumbuh ibarat bunga liar- tumbuh tanpa arah. Ditiup oleh badai dan diinjak injak oleh berbagai peradaban yang salah.
Anak yang terlahir dari keluarga kita adalah amanah. Roh sucinya seharunya kita tumbuhkan agar selalu mengenal Rabb-nya. Bayi-bayi kecil itu kelak perlu kita tumbuhkan menjadi orang yang bertanggung jawab buat dirinya, lingkungan dan juga buat Tuhan.
Maka parenting yang terbaik adalah parenting yang bercermin pada sejarah tumbuh dan kembangnya pribadi Nabi Muhammad SAW. Nabi terlahir dari lingkungan yang sangat baik. Lingkungan sebagai pembentuk pribadi Nabi yang utama. Ibunda Nabi adalah wanita yang baik dan terhormat. Ibunda Nabi- Aminah binti Wahab- pada waktu mudanya merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.
Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibu Muhammad yaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan).
Begitu baginda Nabi lahir ke dunia, beliau tidak mengenal kemewahan hidup. Padahal beliau terlahir dari keluarga terpandang. Tentu saja orang yang pertama kali menyusui baginda Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah ibunya sendiri Aminah az—Zurriyah, setelah itu Tsuwaibah al-Aslamiyah selama beberapa hari. Setelah itu Halimah, Nabi Muhammad dibawa ke desanya di Bani Sa’ad yaitu sebuah desa di wilayah Thaif (selama empat tahun).
Sejak awal-awal kehidupanya, beliau diperkenalkan akan realita kehidupan. Bukan diperkenalkan dengan kemewahan dan pemanjaan dengan sejuta larangan. Cukup lama Nabi dalam pengasuhan Halimah, sejak ia bayi- yang butuh asi langsung dari Halimah. Nabi Muhammad dirawat- dibesarkan sebagaimana Halimah membesarkan anak kandungnya sendiri.
Syaima’ adalah puteri Halimah as-Sa’diyah juga turut mengasuh baginda Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam. Sejak usia dini Nabi telah memahami perjuangan hidup, ia ikut mengembalakan kambing sebagai mana anak-anak lain juga melakukannya.
Suatu ketika, ditempat yang agak jauh dari rumah, saat baginda Nabi bermain/ mengembalakan ternak, ia ditangkap oleh Malaikat dan dadanya dibedah- dengan tujuan untuk membersihkan hatinya dari noda- sekejab setelah itu Nabi duduk termenung dan ketakutan hingga ia dijumpai oleh ibu asuhnya- Halimah- dan menceritakan tentang apa yang sudah terjadi.
Maka Halimah takut kalau hal serupa bakal menimpa Nabi lagi. Selanjutnya Halimah as-Sa’diyah mengembalikan Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada ibunya karena takut terhadap peristiwa pembedahan dada yang terjadi padanya ketika Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia empat atau lima tahun.
Peristiwa dalam kehidupan Nabi selanjutnya cukup banyak. Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dibesarkan dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal dunia pada saat beliau sholallah alahi was salam masih berada dalam kandungan ibunya. Sepeninggal ayahnya semua biaya hidup Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam ditanggung oleh kakek beliau yang bernama Abdul Muthalib.
Pada saat berusia enam tahun, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam diajak pergi oleh ibunya ke kota Yatsrib (Madinah al-Munawwarah) untuk mengunjungi keluarga bibi-bibi beliau dari Bani Najjar. Di sana beliau tinggal bersama mereka selama satu bulan. Setelah itu, barulah mereka kembali. Namun dalam perjalan pulang ibunya sakit yang menyebabkannya meninggal dunia, sehingga sekaligus dimakamkan di desa Abwa’. Beliau pulang bersama Ummu Aiaman yang kemudian menyerahkan Nabi sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam pada kakeknya Abdul Muthalib.
Ini berarti bahwa dalam usia anak-anak, baginda Nabi telah memiliki dan mengalami liku-liku kehidupan. Pengalaman hidup ini membuat Nabi memiliki hati dan fikiran yang sangat peka atas penderitaan hidup orang lain. Kepekaan hati dan fikiran cukup jarang dimiliki oleh banyak orang sekarang, terutama bagi kalangan selalu bergelimang dengan gaya hidup hura-hura dan hedonism.
Kakek beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam wafat pada saat beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam berusia 8 tahun. Setelah itu, Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam diasuh oleh paman beliau Abu Thalib sesuai dengan wasiat kakeknya. Abu Thalib juga sangat mencintai Rasulullah sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam. Kehidupan Abu Thalib sangat miskin, namun Allah Swt telah melimpahkan keberkahan dan kemakmuran kepadanya berkat pengasuhannya terhadap Nabi Muhammad sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam. Ketika berusia 12 tahun, beliau sholallah alahi wa aalihi wa shohbihi was salam dibawa oleh pamannya Abu Thalib ke Syam untuk berdagang.
Dari sejarah Nabi kita tahu bahwa cukup banyak orang-orang yang sangat baik- berhati mulia- yang ikut membesarkan Nabi, yang ikut terlibat dalam parenting Nabi. Mulai dari ibunya, ibu asuhnya, kakeknya hingga pamannya. Parenting yang dialami oleh Nabi tidak memanjakan beliau, namun menumbuhkan beliau untuk memiliki pengalaman hidup, kaya hati, mengenal kekuasaan Allah, Sang Pencipta alam, mengenal tentang hidup yang perlu bekerja, belajar, bergaul, berbuat baik, tidak berpangku tangan. Hingga akhirnya baginda Nabi juga tumbuh menjadi orang yang mampu berorganisasi dan berwirausaha atau berdagang secara baik dan jujur, dan utamanya adalah Nabi sebagai pelita zaman. Membawa kita dari zaman kebodohan ke zaman yang beradab dan juga mengabdi pada Allah.
Moga-moga sejarah Nabi Muhammad selalu menjadi inspirasi bagi kita untuk banyak hal, termasuk dalam hal parenting. Bila kita- anda dan juga saya- memilki anak dan menginginkan anak tumbuh menjadi generasi yang bertaqwa dan beriman. Namun kita membesarkan melalui gaya hidup yang hura-hura, pemanjaan, cinta dunia yang berlebihan, hedonism, dan sekuler, maka kelak tumbuh menjadi orang menurut gaya hidup mereka lalui. Mereka jauh dari Tuhan, jauh dari dunia, jauh dari alam, menjadi pribadi yang cengeng dan kurang bertanggung jawab.  Untuk itu mari kita jadikan sejarah Nabi sebagai paduan parenting bagi kita (http://penulisbatusangkar.blogspot.com ).   

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture