Rabu, 08 Januari 2014

Sholat di Kaki Sydney Tower



3. Sholat di Kaki Sydney Tower
            Aku tidak mau membuang-buang waktu selama berada di Sydney. Aku ingin selalu mencari-cari pengalaman baru dan juga membuat pengalaman baru. Sebagaimana kemaren dalam acara terakhir di kota Sydney. Bis wisata men-drop kami di kaki Sydney tower persis disamping Plaza Meiyer dan di bawah jalur monorail. Mono rail ini sudah lama tidak difungsikan, kemungkin karena penumpangnya sedikit, jadi tidak efektif buat dimanfaatkan.
            Dari kejauhan menara Sydney terlihat megah dan menjulang tinggi. Namun dari kaki menara ini kami tidak seperti berada di bawah menara. Ternyata di kaki menara ini adalah komplek plaza modern yaitu pusat pertokoan tentu saja harga barang- barang cukup mahal di sini.
            Kami tidak mungkin bisa berbelanja, karena harus mengehemat uang. Yang bisa kami lakukan adalah cuci mata. Melihat- lihat kegiatan toko yang semuanya banting harga. Disana sini aku melihat tawaran potong harga 20 % off, 50 % off  hingga 60 % off. Maksudnya yaitu: 20 % sikat, 50 % sikat atau 60 % sikat.
            Setelah kami hitung-hitung ke dalam konversi Rupiah tetap saja harganya terasa cukup mahal. Apalagi kalau kami bandingkan dengan harga komoditas yang cukup banyak di pasar Tanah Abang. Wah jauh murah harga komoditas dalam negeri kita. Itulah yang membuat aku sering berucap: I love you Indonesia.
            Kami punya waktu lebih kurang 3 jam buat cuci mata. Alfi Rokhana salah seorang teman wanita anggota rombongan juga bergabung dengan grup cowok. Dia kemudian jepret sana sini pada moment yang menarik matanya.
            “Alfi Rokhana, kamu cuma jepret itu dan jepret ini tanpa ada kamu dalamnya. Itu percuma saja. Itu tidak ada sweet memory buat orang-orang di kampung kamu. Ayo kamu berdiri disana, biar saya jepret kamu sepuas-puasnya”.
            Tentu saja Alfi Rokhana menjadi amat senang. Dia aku suruh berdiri dan membuat pose seperti pose berfoto para ABG- anak baru gede. Kadang-kadang ia mengangkat kedua tangannya, kadang- kadang ia mengacungkan dua jari membentuk huruf V- atau victory. Kadang-kadang ia berdiri dan menekuk sebelah kaki.
            Kami naik lift dan juga turun lift. Kami akhirnya mencapai ke lantai atau level 4. Di komplek pertokoan itu ada hingga level 6 dan setelah itu ada tangga menuju puncak tower dengan ketinggian lebih dari 300 meter. Dari sana kita akan dapat melihat view kota Sydney yang amat menakjubkan.
Kami ingin naik lift menuju puncak tower. Namun kami batal karena terkendala oleh mahalnya bayaran ke sana. Lagi- lagi karena alasan klasik- cadangan dollar kami sudah menipis hanya tinggal beberapa keeping lagi. Mungkin kami masih butuh sisa uang dollar buat membeli souvenir kota Sydney buat orang-orang yang kami cinta di tanah air. Meskipun barang yang bakal kami beli ada di tanah air, namun yang membuat berbeda adalah karena merek Sydney-nya.
Kami berkeliling-keling dan sempat berjumpa dengan petugas buat masuk kedalam resto Sydney- menuju Sydney tower. Buat masuk kesana musti melalui screening door dan metal detector. Petugasnya terlihat ramah dan ujung-ujungnya lebih enak bagi kami mengajaknya foto bareng. Itu bisa kami jadi sebagai sweet memory dan bahan cerita di tanah air. Itupun berarti kami sudah sampai di pinggang menara.
Kami kemudian memutuskan buat jalan-jalan- berkeliling. Imron selalu ngobrol dengan kami dalam bahasa Jawa yang aku sendiri juga separoh mengerti- suaranya sedikit lantang hingga memecah kesunyian. Volume suaranya mengalahkan volume suara pengunjung yang lain yang juga ngobrol dalam bahasa bangsa mereka.    
Entah Imron, entah Slamet, mereka mengusulkan agar kami bisa mencari tempat buat sholat. Soalnya kami belum sholat zhuhur dan sekarang waktu sholat ashar juga sudah jauh berlalu. Aku merasa amat senang dan juga merasa bersyukur punya grup yang cukup taat pada Allah Swt. Walau kami jauh di negeri Kangguru, tidak berjumpa dengan mesjid atau musholla maka sholat wajib selalu dilakukan.
Dingin membuat kami selalu mencari- cari lokasi toilet. Pada salah satu gang menuju toilet kami melihat balai-balai, wah ada teriakan dari belakang.
“Yuuk kawan- kawan kita sholat di sini saja. Sekarang kan sudah pukul 3.30 sore. Kita belum sholat zuhur dan sholat ashar juga belum. Kita berwudhuk saja di sini. Kita semua kan orang musyafir”.
Kami kemudian berwudhlu hanya pada wash tube saja. Kami terpaksa membawa kaki lebih tinggi untuk dibasuh. Kadang- kadang kami separoh rebutan dengan bule yang mau cuci tangan. Setelah itu kami sholat di atas balai- balai. Kami hanya sholat sambil duduk. Masing- masing sholat 2 rakaat, kami melakukan jamak dan qashar waktu zuhur dan ashar.
Bule-bule berjalan lalu lalang di samping kami. Sekali sekali mereka mengitip kami sholat lewat sudut mata mereka. Aku yakin bahwa mereka berfikir bahwa kami sedang yoga…karena gerak sholat kami sangat terbatas. Tidak…, ini tidak yoga, ini adalah sholat dalam keadaan darurat.
Kami masih mempunyai waktu satu jam tersisa. Berdasar kesepakatan bahwa satu jam lagi bis wisata akan datang buat menjemput kami. Kami semua memutuskan untuk keluar komplek Sydney tower. Kami berjalan menuju pusat keramaian. Woow ada lantunan lagu dari penyanyi jalanan. Ternyata benar bahwa pertunjukan musik gratis oleh seorang anak muda dengan tubuh tinggi sekitar 185 cm dan wajah tampan. Ia ternyata penyanyi dan pemusik yang berbakat.
Ternyata ia lagi memperkenalkan albumnya. Beberapa orang, terutama para wanita yang simpati dengan suara dan wajahnya segera membeli kepingan CD nya yang berisi lagu-lagu atau musik klip ciptaanya. Gadis-gadis lain, mungkin para siswi Secondary School juga mendekat dan membeli kepingan CD-nya, kemudian sebagai kenangan juga foto bareng dengannya. Gadis-gadis tersebut mengagumi suaranya dan juga penampilannya yang tinggi gagah.
Sore semakin gelap. Sopir kami belum juga datang buat menjemput. Aku masih memperhatikan aktivitas pemusik jalanan tersebut. Sementara teman- temanku yang lain duduk atau nongkrong di tempat lain buat menunggu bis.
“Ohh, tampaknya pemusik jalanan itu sudah mau tutup. Hari makin larut dan cuaca berubah lebih dingin. Ia melepaskan kabel-kabel sound system. Kemudian ada satu CD-nya bersisa. Ia sengaja meninggalkan CD tersebut pada pinggir trotoar. Mungkin tanggung buat dibawa pulang, tetapi CD-nya masih bagus”. Aku penasaran dan aku mendekati artis jalanan tersebut. Aku berniat membeli separoh harga dan aku bertanya:
“Why do you toss that one. Let me buy it ?”
“ No,…just take it” Katanya.
“Oke, good idea” Responku. Ya segera aku pungut CD itu tanpa memperhatikan orang-orang disekitar kami. Di sore itu ada ratusan orang duduk dan rileks menikmati suasana sore yang nyaman. Namun di Sydney ini aku tidak perlu merasa risih atau malu.
Aku jadikan CD itu sebagai souvenir. Kebetulan saat itu dekatku ada Alfi Rokhana dan aku ingin foto bareng dengan pemusik yang punya nama beken “JMF atau Jack Man Friday”. Alfi memotret kami, namun kualitasnya tidak begitu bagus. Aku menghampiri Jack lagi.
“Hi Jack, look the photo quality is not nice. Let’s have re-photo !”
“oke let me take for both of us”.  Aku berikan tabletku padanya dan ia mengatur fitur auto photo direction dan kami photo barengan. Ya hasilnya bagus sekali. Aku akan mengupload photo tersebut padaFacebook-ku.
Aku janji akan mengkonek facebooknya dan kami akan berteman. Inilah salah satu kisah nyata tentang Kackman Friday. Seorang pemuda berbakat musik dan lagu. Menciptakan lagu dan mengemasnya kedalam CD dan kemudian menjualnya ke pada publik secara konvensional.
Dalam waktu singkat kami segera berpisah. Jack menyalami aku dan aku bergabing dengan grup kembali ke bis wista yang sudah datang. Aku melangkah sambil mengagumi CD yang baru saja aku peroleh. Pada kovernya tertera ada 4 lagu popular yaitu seperti: You and I, Run Away, Take Aim dan Straight and Narrow. Thanks for your kindness Jackmanfriday, see you in Facebook !!!
Kami merasa sangat bahagia di sore itu namun kami malas ngobrol karena sudah terlalu kelelahan gara-gara tour yang amat padat. Sebentar kemudian kami kembali diturunkan di depan hotel Mercure. Ini adalah saat yang terakhir kami di Sydney. Nanti usai makan malam kami semua berkemas kemas buat cekout dari hotel dan mau terbang lagi ketanah air.


Orang Indonesia Juara Nyanyi



Orang Indonesia Juara Nyanyi

1. Konjen, Tempat  Yang Nyaman
            Hari terakhir di Australia kami habiskan di kantor Konsulate Jenderal RI di Sydney. Alamatnya adalah di 236 Maroubra Rd, Maroubra NSW 2035, Australia.  Selesai mengikuti kegiatan ramah tamah dengan Pak Nicolas dan juga Pak Akbar Makarti, kami semua menyebar ke sekeliling gedung. Aku merasa senang dan nyaman, seperti di rumah sendiri. Orang orang banyak yang datang dan pergi ke gedung ini.  
            Konsulate Jenderal memang sangat diperlukan. Seorang konsul atau konsul jenderal[1] adalah pemimpin sebuah konsulat  wakil resmi sebuah negara bertindak untuk membantu dan melindungi warga negaranya serta menfasilitasi hubungan perdagangan dan persahabatan (hal ini yang membedakan tugas antara seorang konsul dengan duta besar yang mewakili sebuah negara) yang ditugaskan di luar wilayah metropolitan atau ibu kota sebuah negara di luar negeri dan berkewajiban menjaga kepentingan negara serta rakyatnya yang berada di negara luar negeri tersebut. Kantor tempat konsul bertugas disebut konsulat atau konsulat jenderal, dan umumnya berada di bawah pimpinan sebuah kedutaan besar, yang biasanya terletak di ibu kota negara.
            Aku sempat berbincang- bincang dengan warga Indonesia yang telah lama tinggal di sini. Aku lupa dengan namanya. Ia mengatakan bahwa saat merasa sendiri di perantauan, kangen rumah sudah tentu melanda. Ingat teman-teman di tanah air, rindu keluarga di rumah, kangen masakan ibu dan segudang perasaan lainnya campur aduk di benak pelajar Indonesia di Australia. Untuk mengatasi perasaan ‘homesick’ itu ada banyak cara yang bisa dilakukan. Agar semakin bersemangat menimba ilmu di Negeri Kanguru siswa dapat bergabung dengan kelompok-kelompok kemahasiswaan maupun komunitas Indonesia di Australia. Biasanya kelompok-kelompok ini banyak di jumpai di Universitas atau kampus yang memiliki banyak pelajar dari Indonesia yang menuntut ilmu di beberapa kampus di Australia barat seperti Curtin University, Edith Cowan University, TAFE maupun Murdoch.
Salah satu contohnya adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia-Western Australia[2]. Perhimpunan ini menyatukan ratusan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di negara bagian Australia paling barat. Mereka memiliki beragam aktifitas seperti Lomba Pidato Bahasa Indonesia, acara olah raga dan kesenian, ramah-tamah dengan penduduk Australia lewat pesta BBQ dan beragam kegiatan lainnya. Apabila Anda adalah pelajar Indonesia di Australia dan ingin bergabung, bisa mengisi formulir berikut ; http://ppia-wa.org/wp-login.php?action=register Dengan bergabung dalam perhimpunan ini, pelajar bisa bergabung, bertukar pikiran, berkegiatan, mempererat persaudaraan, membangun jaringan/networking, dan tentunya dapat bertemu sesama orang Indonesia dan merasa seperti di rumah sendiri.
Selain itu, Konsulat Jenderal Indonesia (seperti di Sydney, Perth dan tempat lain) siap membantu mengakomodir kepentingan warga Indonesia di Australia untuk tinggal secara nyaman. Berbagai informasi mengenai komunitas ini dapat dengan mudah di temui di Konjen RI yang terletak di Pusat Kota. Dengan bergabung bersama komunitas/perhimpunan tersebut dapat menjaga diri dari kegiatan-kegiatan negative yang mungkin dapat mempengaruhi tujuan utama kita untuk belajar di Australia demi masa depan. Komunitas-komunitas tersebut juga sangat welcome untuk menyambut anggota baru dan senang berbagi berbagai informasi penting tentang pengalaman mereka selama belajar, bekerja maupun tinggal di kota-kota Australia.
Di konjen Sydney ini ada cukup berita, apalagi tentang kemajuan bangsa kita di benua Australia ini. Aku merasa surprised saat mengetahui bahwa ternyata saat ada kegiatan pemilihan “Bintang Australia Idol- yang dalam programnya disebut Australia’s Got Talent atau AGT”, ternyata pemenangnya adalah orang kita yang bernama Julius Firdaus. Aku ingin menceritakan tentang pria ini buat teman- teman di Indonesia.

2. Julius Firdaus- Juaranya Australia Idol
            Julius Firdaus adalah asal Indonesia yang memperoleh juara sebagai Australia Idol, yang dalam nama kejuaraannya adalah “Australia’s Got Talent (AGT)”[3]. Media-media Australia menjulukinya gelar “a man with angelic voice’. Di satu sisi sebagai orang Indonesia kita merasa bangga, namun di sisi lain kita menyadari ironi betapa minimnya orang kita yang berpengaruh baik dalam segi entertainment maupun politik disbanding orang-orang background Asia lainnya di Australia.  
            Julius menjadi pioneer dan contoh bahwa orang Indonesia juga bisa turut berintegrasi dengan kultur mainstream entertainment di Australia. Julius datang ke Sydney kira- kira 3-4 tahun yang lalu. Ia adalah pelajar musik pada Australia International Conservatorium of Music di Rozelle.
            Ia datang ke Sydney karena mendapat beasiswa untuk classical singing di bidang opera. Lumayan terhormat karena dari semua murid conservatorium, ia satu satunya yang dapat beasiswa penuh dan satu satunya orang donesia. Kebanyakan pelajarnya datang dari Iran, Irak, Amerika, Perancis, Spanyol, dll. Ia pertama kali menemukan talenta dalam menyanyi saat iamasih kecil. Karena pada kenyataanya ia mendapat scholarship juga sejak dini. Sepertinya memang sudah jalan baginya, waktu kecil ia sudah ikut banyak kompetisi.
            Dalam keluarganya sendiri tak ada yang berdarah musik. Oleh karena itu dulu orang tuanya/ papanya sempat menentang hobbynya. Karena papanya punya bisnis besar, sukses dan papanya ingin agar ia menjadi penerusnya.
            Sebelum mengikuti kegiatan Australia Idol, ia memiliki kegiatan rutinitas sehari-hari. Kebetulan pas tahun kedua ia bikin program dan ia diminta jadi director acara tersebut. Sejak saat itu teman-temannya, rata-rata orang bule, berkata bahwa mereka ingin bekerjasama dan ingin belajar bersama. Maka ia mulai menjadi pengajar musik. Dan saat ia bertemu dengan komunitas Korea, mereka mengajak Julius buat membuka sekolah bareng di Ashfield dan Julius menjadi kepala pengajar hingga sekarang.
            Julius kemudian juga diangkat menjadi pengajar di conservatorium tempat ia belajar. Jadi ia sebagai pelajar dan sekaligus juga menjadi pengajar- semacam assisten professor. Memang hidup ini tidak ada yang terjadi secara instant (secara tiba-tiba. Semua harus dijalani dengan telaten.
            Pengalaman saat mengikuti AGT (atau Australia Idol) tentu saja pada mulanya ia sempat nervous. Apalagi iatahu bahasa Inggrisnya masih ajep-ajep. Namanya saja mengikuti acara Australia’s Got Talent, jadi ia harus tampil selayaknya orang Australia, bukan Indonesia. Jadi perjuanganya tiap saat harus berbicara bahasa Inggris. Sebagai orang Indonesia sebelum mengucapkan sesuatu harus mikir dulu, bahasa Indonesianya apa dan terus diterjemahkan ke bahasa Inggris.
            Bayangkan di dalam gedung ada 2000- 3000 orang dan 4 juri. Semuanya orang besar, salah satunya Geri Halliwell[4]…yang merupakan idolnya Julius sejak ia berumur 14 tahun. Mengetahui bahwa ia bakal nyanyi di depan mereka lalu akan dikomentari tentu membuanya nervous. Julius sangat bersyukur karena acara Australia idol itu hanya dibuka buat citizen Australia dan permanent resident, sementara ia belum- tapi sedang mengurus menjadi permanent resident. Namun ia bisa mengikuti acara tersebut.   
            Julius sering disebut sebagai penyanyi seriosa. Ia tahun bahwa kalau di Indonesia jaman dulu seriosa dimulai pas pada jaman pak Pranajaya[5]- merupakan seorang penyanyi tenor dalam musik seriosa Indonesia. Ia sering disebut sebagai "Bapak Seriosa Indonesia"-  dan banyak penyanyi era 1940- 1950. Sebenarnya seriosa itu diambil dari kata opera namanya seria. Jaman dulu ada istilah operetta, opera buffa dan opera seria.
            Berkat prestasi pada AGT Julius mendapat tawaran kontrak banyak label musik. Ada yang menawarkan untuk pindah ke London dan Amerika Serikat. Tentu saja tidak bisa diambil karena ia sebagai murid beasiswa sudah tanda tangan kontrak sampai selesai. Maka fokusnya untuk sementara hanya belajar dulu. Yang jelas ia tidak mau menjadi orang yang sebagai penonton saja, ia selalu ingin mengambil peran dalam hidup ini.
            Julius punya pesan bagi anak anak Indonesia agar bisa menjadi Go Internasional maka perlu mengubah cara berfikir. Memang itu semua soal mindset, musti dibentuk dari dalam. Kalau di Australia terlihat orang sini melihat apa yang kita bisa….bukan apa yang kamu punya. Sementara itu di Indonesia, sering lihatnya dari apa yang kita punya…bukan apa yang kita bisa. Yah kalau kitamau ingin jadi orang yang lebih internasional, maka jadilah orang yang kepribadian dan etos kerjanya internasional juga.  



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Konsul
[2] http://www.educationone-indo.com/perkumpulan-mahasiswa-dan-komunitas-indonesia-di-perth-australia/
[3] Oz-Indo, Monthly Indonesian Magazine. Po Box 682. Rosebery -New South Wales
[4] http://www.gerihalliwell.com/
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Pranajaya

Konsulate Jenderal Sydney



Konsulate Jenderal Sydney

1. Hindari Obesitas
Seperti biasa sarapan pagi kami selama di Australia adalah di hotel. Sebelum jam 7 pagi kami sudah turun menuju ruang makan. Kali ini kesehatanku sedikit terganggu gara-gara hari sebelumnya aku kebanyakan mengkonsumsi daging dan juga bumbu. Pagi ini aku hanya mengambil sedikit nasi dan satu butir telur. Aku juga khawatir kalau menjadi obesitas- kegemukan.
Banyak orang mengalami obesitas gara- gara tidak kuat menahan nafsu makan. Untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh maka aku hanya mengambil sayatan jeruk, melon, pine apple dan juga juice apple. Aku coba untuk menikmati semua serba sedikit. Karena semua jenis hidangan adalah buat tamu hotel.
Aku juga mengambil satu gelas cappuchino. Pada mulanya aku tidak mengerti cara menggunakan mesinnya. Ya aku perhatikan bagaimana orang membuat minuman cappuchino. Cappunchinonya tanpa gula- pada umumnya orang Australia mengurangi penggunaan gula. Memang rasanya tidak begitu enak. Dengan demikian aku harus meminumnya sedikit demi sedikit hingga habis.

2. Aktivitas Konjen
            Konjen adalah singkatan dari Konsulate Jenderal. Kegiatan kami hari ini adalah mengunjungi Konjen Indonesia di Sydney. Setelah kunjungan ke sana kami akan pergi ke Paddys market, yaitu sebuah kompleh pasar murah di kota Sydney. Di sana kami akan membeli souvenir tambahan buat teman dan family.
            Hanya dalam waktu sekitar setengah jam saja bis kami berhenti di depan konjen RI Sydney. Kami menunggu sebentar hingga ada aba-aba dari Rachman. Untuk kantor kedutaan RI berlokasi di Canberra- ibu kota Australia.
            Akhirnya kami diperbolehkan masuk ke dalam gedung Konjen. Seperti biasa kami semua melihat sana-sini dan memotret- motret sesuatu yang akan menjadi sweet memory bila sudah berada kembali di Indonesia.
            Kami diberitahu bahwa bapak Duta Besar sedang tidak ada di Sydney. Ia sedang dinas ke Jakarta. Jadinya kami di sini disambut oleh Pak Nicolas yang bertugas sebagai kepala biro kebudayaan dan juga oleh Akbar Makarti, juga sebagai staff di Konjen ini.  
            Orang- orang Indonesia tentu tidak akan merasa asing dengan Konjen RI di Sydney ini. Karena Konjen juga merupakan rumah bagi orang-orang Indonesia yang berada di Sydney. Wilayah kerja Konjen RI Sydney ini meliputi daerah New South Wales, Queensland dan South Australia. Sydney sendiri merupakan ibukota New South Wales.
            Pimpinan New South Wales adalah seorang Premiere, sementara pimpinan tertinggi Australia adalah Prime Minister (Perdana Menteri) dan berkedudukan di Canberra. Juga ada Gubernur Jenderal yang mewakili Kerajaan Inggris, karena Australia adalah negara persemakmuran- commonwealth Inggris.
            Wilayah kerja KBRI yang berkedudukan di Canberra meliputi seluruh negara Australia. KBRI dibantu oleh Konjen. Konjen mengurus hal-hal operasional tentang sosial, budaya dan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan.
            Dalam ruang lingkup Departemen Luar Negeri, sebetulnya ada istilah Konsulate Biasa, kalau statusnya sudah meningkat maka akan meningkat menjadi Konsulate Jenderal. Beberapa hal yang bisa diurus oleh Konjen RI Sydney adalah seperti urusan ekonomi, sosial budaya, komunikasi dan immigrasi.            
            Saat ini Konjen RI Sydney sedang aktif mempromosikan pelajaran bahasa Indonesia. Itu dilakukan karena minat belajar bahasa Indonesia sedang turun di Sydney. Untuk itu Konjen sedang mengusahakan berdirinya sebuah sekolah yang namanya “Sekolah Satu”. Disini akan diajarkan bahasa Indonesia dan juga budaya Indonesia seperti tari dan lagu.
            Sekolah satu ini murid-muridnya berasal dari orang-orang Indonesia dan juga para immigrant keturunan Indonesia. Namun murid sekolah satu ini cenderung habis karena orang tua mereka lebih cenderung memasukan anak-anak mereka ke sekolah Australia.
            Kementrian luar negeri Indonesia merasa khawatir kalau anak-anak Indonesia dan juga para immigrant Australia keturunan Indonesia yang kulitnya coklat- kulit Indonesia- namun tidak mengerti dengan bahasa dan budaya leluhurnya. Pemerintah Australia juga bersifat futuristic- berfikir ke depan- maka juga mendukung program pembentukan dan pengembangan sekolah satu ini.
            Seluruh sekolah yang diselenggarakan oleh perwakilan pemerintah negara lain selalu dipantau dan diawasi oleh pemerintah Australia. Kalau posisi dan kondisinya sudah meningkat makan diberi grant atau bantuan. Selanjutnya kalau perkembangan lebih pesat lagi maka akan diberi bangunan.
            Konjen Sydney juga mendukung pembentukan sister school antara sekolah Indonesia dengan sekolah di New South Wales. Beberapa sekolah di pulau Jawa dan juga di pulau Bali telah memiliki program sister school dengan sekolah di New South Wales. Dalam program kerjanya mereka sering berkomunikasi melalui teleconference.        
            Selain KBRI dan Konjen, adalagi attase. Attase berada satu kantor dengan KBRI di Canberra dan punya tugas sesuai dengan kebutuhan. Bila Indonesia memiliki urusan yang sangat penting dalam hal pendidikan maka pasti ada attase budaya. Jenis-jenis atase adalah seperti attase budaya, attase pendidikan, attase perdagangan, dan untuk Jeddah- di Arab Saudi- juga ada attase hajji. Attase hajji yakni akan mengurus jemaah haji Indonesia.      
            Dikatakan bahwa selain Konjen, warga Indonesia dan juga warga Australia juga aktif dan aggresif dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Mereka misalnya membuat bazaar dan festifal. Misal festival Indonesia multicultural. Ada kelompok yang juga rajin berpromosi, misalnya kelompok Minang Saiyo- sangat rajin melakukan acara kebudayaan dan juga bazaar buat seluruh warga Sydney.  

3. Perkenalan Diri
            Bu Maria memperkenalkan kami semua sebagai guru- tenaga pendidik dan kependidikan- berprestasi Indonesia di tingkat nasional kepada Konjen. Kedatangan kami ke Australia sebagai bentuk reward dari pemerintah Indonesia buat kami. Gunanya adalah agar kami juga bertambah pengalaman internasional.
            Tentu saja kami tidak ingin menjadi kerdil, ibarat katak dalam tempurung. Untuk itu kami juga harus tahu bagaimana orang mengurus lembaga pendidikan mereka hingga kualitasnya diperhitungkan di tingkat internasional. Lewat perjalanan ke beberapa tempat pendidikan I Australia, kami bisa membuat perbandingan tentang manajemen pendidikan.   
            Dalam acara perkenalan tersebut, Pak Nicolas juga menjelaskan bahwa ia bertugas sebagai home staff dan ia memiliki paspor dengan kulit hitam. Ia sendiri lulusan dari Unsrat (Universitas Samratulangi). Lulus dari universitas ini ia ikut melamardan ingin bekerja di Kementrian Luar Negeri. Saat itu ada 12 ribu pelamar yang saling berkompetisi  untuk memperebutkan quota buat 47 orang. Ia akhirnya lulus satu di antara 47 orang tersebut.
            Siapa saja punya berhak untuk berkarir di Kemenlu, dengan syarat bahwapendidikan sarjananya harus pada bidang sosial. Mereka bisa berkarir pada KBRI, apakah pada bidang Konjen, atau attase. Informasi rekruitmen selalu disebarkan ke publik luas. Syaratnya adalah seperti: pendidikan S.1, umur maksimal 30 tahun. Dan untuk S.3 maka umur maksimal adalah 33- 35 tahun.
            “Apakah Australia membutuhkan TKI dari Indonesia ?” Demikian pertanyaan salah seorang teman. Maka Pak Nicolas menjawab bahwa Australia tidak pernah membutuhkan TKI.
Kalau kita menjumpai orang-orang Indonesia sdang bekerja pada sebuah restoran atau menjadi pelayan sebuah toko, seperti yang kami lihat di pasar Paddys.mereka bukanlah TKI, mereka adalah mahasiswa S.2 atau S.3 asal Indonesia yang lagi memperoleh kesempatan kerja sambilan- kerja part time dan mereka dapat izin dari kampunya. Biasanya setiap hari sabtu atau minggu. Itu gunanya untuk meringankan beban finansial mereka.    
            Jumlah warga Indonesia yang ada di Sydney adalah sekitar 20. 000 orang. Pak Nicolas menjelaskan bahwa pemerintah New South Wales memiliki visi yaitu ingin menjadikan pendidikan New South Wales sebagai pendidikan yang terbaik di dunia. Makanya ini terlihat sejak pendidikan rendah. Anak- anak TK misalnya diajarkan bagaimana mereka mampu bercerita- berkomunikasi, mampu menceritakan tentang keluarga mereka. Anak- anak kelas 10 harus sudah mengerti jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Cita- cita mereka tidak terlalu muluk- muluk. Dengan demikian banyak siswa kelas 10 yang sudah mampu kerja part time, sehingga pada usia 17 tahun banyak yang sudah mampu tinggal mandiri- jauh dari orang tua mereka, karena mereka sudah punya pendapatan sendiri. Mereka mungkin bekerja di Kentucky fried chicken.
            Sekolah-sekolah Australia juga sangat peduliagar para siswa respek dan toleran pada orang lain. Pada saat orang tua mendaftarkan mereka ke sekolah, maka guru berpesan agar orang tua tidak boleh memiliki anak yang suka bullying pada anak-anak yang lain. Bulying itu maksudnya adalah menggertak atau mengejek teman. Pada anak harus ditanamkan agar mereka saling respek. Anak yang suka bulying bakal dikeluarkan dari sekolah.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...