Senin, 27 April 2009

Pola Belajar Siswa Cenderung Menunggu Komando Guru

Pola Belajar Siswa Cenderung Menunggu Komando Guru
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


Dalam bahasa Perancis kata “apprendre” berarti belajar, dan kata “travailler” berarti bekerja. Namun dalam percakapan “je me travaille”, bukan dimaksudkan sebagai “saya suka bekerja” tetapi “saya suka belajar”. Demikianlah orang Perancis, orang Eropa dan orang-orang dari negara maju kalau belajar mereka menghadapinya dengan sepenuh hati ibarat sedang bekerja. “Monsieur, kalau begitu bagi orang Perancis belajar itu adalah bekerja ?”

Memang begitu bagi orang orang dan bangsa yang sudah punya budaya belajar bahwa mereka kalau belajar bersikap sungguh-sungguh, seolah-olah sedang mengerjakan sebuah proyek atau pekerjaan besar. Menjadi students bisa jadi dianggap sebuah profesi. Maka begitu anak belajar di primary school, secondary school dan university (SD, SMP, SMA, SMK, Madrasah dan Perguruan Tinggi) memandang bahwa menjadi students (siswa da mahasiswa) adalah sebagai profesi dan mereka telah punya budaya dan karakter untuk serius dalam belajar. Dapat kita katakan bahwa mereka belajar secara professional- sekali lagi, dengan serius dan penuh perhatian. Belajar tanpa terlalu banyak diperintah dan dikomandokan oleh orangtua, guru, dosen dan professor. Lantas bagaimana keprofesionalan, keseriusan dan kesungguhan, belajar generasi kita ?

Sebagian dari mereka sudah ada yang punya karakter dan budaya belajar serius sehingga mampu berprestasi di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan memperoleh juara olimpiade. Mereka berasal dari rumah, sekolah dan lingkungan sosial yang punya budaya belajar. Namun cukup banyak dari generasi, teman-teman dan lingkungan kita sendiri yang belum begini. Itu disebabkan bahwa mayoritas dari siswa belajar tanpa target.
Belajar tanpa target terjadi karena kita (guru dan orangtua) bisa memberi mereka komando, kebiasaaan menggantungkan belajar pada guru, anak tidak terbiasa dalam membuat keputusan atau pendapat sendiri, mereka jarang punya pengalaman sukses/ berprestasi, karena terlambat berkenaan dengan buku, dan akibat korban disiplin yang serba berlebihan, juga karena akibat anak tidak boleh melakukan kesalahan.

Belajar tanpa target telah menjadi fenomena dalam kalangan (sebahagian) siswa. “Hari ini aku harus membantu ibu, setelah itu aku harus membaca buku membaca novel 20 halaman, besok aku ulangan harian sejarah dan aku membaca sejarah satu jam…” Memang jarang sekali siswa yang punya target atau menulis agenda untuk dilaksanakan setiap hari. Kecendrungan hidup tanpa target adalah efek negatif dari kehidupan mereka yang terlalu banyak dibantu oleh orang tua. Akibat banyak dibantu dan serba diarang maka banyak siswa yang miskin pengalaman, menjadi serba tidak terampil- gagap dalam membantu diri sendiri. Tidak tahu cara merapikan kamar sendiri, tidak terbiasa dalam mencuci pakaian, jarang atau tidak pernah terlibat dalam membersihkan rumah dan tidak berpengalaman bagaimana menggoreng sebutir telur.

Keluarga yang punya pembantu yang mengurus seluruh kebutuhan rumah telah membuat anak menjadi tahu beres. Makan, minum dan pakaian tingga beres saja. Akibatnya anak punya kelebihan waktu dan tidak memanfaatkannya secara efektif, kecuali kerjanya hanya mengelamun, memanjakan kulit (ber-make up) dan takut dengan cahaya matahari, kulit jadi hitam karena figurnya pada poster di dinding kamar berkulit putih, mengotak atik phone cell untuk mengirim sms mubazir, menghibur diri sepanjang waktu dengan mp3 mereka, dan asyik dengan kegiatan egosentris sehingga tidak peduli dengan lingkungan, apalagi jika juga tidak ikut dalam kegiatan sosial di sekolah dan masyarakat.

Karakter siswa yang lain adalah terbiasa belajar kalau ada komando atau perintah dari guru. “ Fajar, kenapa kamu tidak mengerjakan PR latihan nomor 13 ini”, kata seorang ibu. “Itu belum di suruh oleh ibuk guru”, jawab anaknya. Demikian prilaku belajar yang sangat tergantung bagi seorang anak tidak saja untuk siswa SD, malah sudah menjad fenomena bagi mereka yang belajar di tingkat SD, SMP, SMA, SMK, MAN dan sampai di Perguruan Tinggi. Kebiasaaan ini terbentuk karena mereka terkondisi dalam memandang bahwa belajar atau membaca buku pelajaran sebagai beban. Mereka baru belajar kalau sudah disuruh oleh guru karena topik tertentu akan diuji oleh guru di sekolah. Kalau demikian hal nya maka berarti mayoritas mereka masih memiliki motivasi ekstrinsik- yaitu motivasi yang masih datang dari luar. Kebisaaan ini juga terbentuk oleh streotipe (anggapan umum) bahwa anak atau siswa yang baik adalah anak yang patuh, mengikuti perintah dan menghentikan larangan, “Kalau tidak disuruh membaca buku, ya buat apa harus membaca”.

Selalu mengantungkan pembelajaran pada guru sangat umum dilakukan oleh banyak pelajar. Dapat ditelusuri bahwa ini adalah akibat negatif dari pola pembelajaran teacher centered yang berkepanjangan, yaitu pembelajaran yang terpusat pada guru. Dalam aktifitas belajar dalam poa begini gurulah yang selalu aktif dan siswa pasif. Apa yang dikatakan oleh guru maka itulah yang benar. Dalam anggapan siswa bahwa semua ucapan guru “mutlak benar dan takut untuk dibantah, karena kalau sang guru tidak sudi maka nilai kita bisa merah dalam rapor”.

Kelas tradisionl, walau gedungnya sudah mewah, dengan setting bangku yang berbaris menghadap guru, sehingga siswa harus duduk dengan manis, mendengar semua penjelasan guru, tidak boleh menyela, apalagi mengganggu, “kalau terkesan menyela lebih baik mengusir sang siswa ke luar kelas”. Guru tidak boleh diprotes dan dibantah. Pembelajaran dalam gaya begini terjadi sepanjang masa, dari generasi ke generasi, dan telah membentuk pola belajar siswa hingga menjadi serba tergantung pada siswa.

Ciri lain yang membuat siswa kita berbeda dari siswa di negara maju adalah tidak terbiasa dalam membuat keputusan. Pola hidup seperti ini bisa jadi pola yang terbawa dari rumah. Kecuali bagi orang tua yang membiasakan kebersamaan- selau makan bersama, ngobrol bersama alam keluarga, sehingga setiap anggota keluaga bisa ngobrol menyampakan fikiran, unek-unek yang terasa dalam hati. Setiap anggota keluarga berhak berbicara dan juga harus mendengar. Maka mereka akan terpola menjadi berani dan mandiri dan bisa mengambil keputusan. Namun ini tidak berlaku bagi keluarga yang tidak punya hubungan komunikasi yang utuh, kecuai di sana yang terdengar adalah gaya bahasa satu arah yang berisi anjuran, nasehat, ancaman dan larangan “ kamu harus…., kamu tidak boleh…..!”. Atau contoh kongkritnya “pergilah mandi nak.., pergilah makan…, pergilah belajar…!”.

Kadang-kadang kita menjadi orang tua yang hanya pintar menyuruh tanpa harus memberi model dan anak harus menjadi manusia yang serba patuh. Dalam suasana komunikasi yang begini biasanya jarang tercipta pola kebersamaan. Ibu punya kesibukan sendiri, ayah juga asyik dengan kegiatannya dan anak sibuk menonton televisi karena televisi sudah menjadi surrogate mother atau ibu asuh bagi anak agar betah di rumah.

Fenomena lain dalam pendidikan adalah bahwa juga banyak siswa yang jarang punya pengalaman berprestasi. Ini adalah dampak dari anak yang miskin dalam melakukan pengalaman hidup, akibat kita sebagai orang tua yang gemar serba melarang. Pada dasarnya anak-anak waktu kecil suka bekerja, bermain kreatif. Saat sang ayah sibuk membetulkan mesin motor maka anak juga asik membantu dengan tangkai obeng. “Ini adalah mengganggu di mata sang ayah dan harus dilarang”, namun asal melarang saja telah mematikan semangat kreatif bekerja mereka. Kecuali bagi ayah bijak, ia akan memberi anak kesempatan untuk beraktifitas pada sisi motor yang lain, yang tidak merusak.

Begitu pula saat ibu sibuk memasak, memotong sayur dan ikan di dapur, maka si upik juga membantu dan kesan dimata ibu adalah bahwa sang anak juga sedang mengganggu. Pada hal dalam naluri anak bahwa ia sedang mempelajari life skill atau keterampian hidup, mana tahu kelak bila dewasa ia akan memiliki restoran super internasional. Maka asal serba melarang sangat potensial mematikan aktifitas dan kreatifitas anak.

Demikianlah fenomena yang terjadi dalam ratusan ribu atau jutaan rumah di Indonesia. Tunas-tunas bangsa yang ingin beraktifitas sesuai dengan kodratnya karena dianggap mengganggu telah kena gusur untuk tidak banyak melakukan eksperimen dalam hidup. Pada hal yang mereka butuhkan adalah ingin mencoba. Bila orang tua cukup bijaksana, maka mereka tidak perlu mematikan potensi kreatif anak melalui penyediaan sarana serba kecil buat si buyung dan si upik, seperti sapu kecil, cangkul kecil, bangku kecil, pisau tumpul dan item-item lain yang layak untuk digunakan oleh anak.

Anak-anak yang kaya dengan pengalaman beraktifitas, karena diberitanggung jawab- bisa memasak, bisa mencuci, bisa merapikan kamar, bisa menjaga warung, bisa bekerja di kebun, bisa memasak telur dadar, dan lain lain. Kemudian kalau mereka bisa menyelesaikan sebuah tanggung jawab, memperoleh penghargaan dari orang tua maka tentu itu adalah wujud dari pengalaman sukses dalam hidup.

Terlambat berkenalan dengan buku juga menjadi penyebab banyak anak kurang terbiasa belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam menumbuh kembangkan pengalaman anak umumnya orangtua memperkenalkan dan menyediakan permainan elektronik dan permainan konvensional seperti boneka, mobil-mobilan, pesawat-pesawat, layang-layang, dan sebagainya. Namun amat jarang bagi ayah dan ibu yang memperkenalkan bacaan- majalah dan buku cerita. Kalaupun ada hanya nanti lewat guru Tk yang memperkenakan majalah kanak-kanak, tetapi nanti tidak ada kelanjutan dari pihak orang tua untuk menanamkan kecintaan pada bacaan. Maka jadilah bahan bacaan, buku, majaah, komik, novel dan sebagainya menjadi hal yang langka daam kehidupan mereka. Pada hal anak-anak yang doyan membaca sejak usia kecil, di sekolah kelak mereka juga harus membaca, maka mereka tidak akan punya masalah dengan buku-buku saat belajar di SD, SMP, SLTA dan sampai Keperguruan Tinggi. Sekali lagi bahwa pola belajar anak cenderung menunggu komando banyak penyebabnya,maka untuk mengatasi sejak dini adalah dengan membantu anak agar punya agenda kegiatan dalam hidup mereka, stimulasi agar mereka terbiasa untuk punya inisiatif dalam belajar dan bekerja, orangtua perlu membantu agar mereka terkondisi belajar secara otodidak dan mandiri. Orang tua juga perlu memperkenalkan bahan bacaan sejak usia diri dan mereka perlu diberi tanggung jawab yang diikuti dengan penghargaan bila selesai beraktifitas.

Sabtu, 25 April 2009

Indonesia Berpotensi Lenyap Dari Peta Kesusasteraan Dunia

Indonesia Berpotensi Lenyap Dari Peta Kesusasteraan Dunia
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Bila kita pergi ke kota-kota besar di Indonesia, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, dan lain-lain, dan berintegrasi dengan penduduk di sana maka akan ditemukan bahwa paling kurang ada empat etnis yang warganya hidup melalui semangat wirausaha. Mereka ikut menggerakan nadi perekonomian kota-kota tersebut. Etnis ini adalah Batak, Jawa, Minang dan Cina, etnis-etnis lain tentu juga memiliki cirri khas positif tersendiri. Tekad mula-mula berwirausaha adalah untuk menghidupi diri dan keuarga. Mereka menanamkan semangat wirausaha- suka bekerja keras, menghargai waktu, disipin, jujur dan semangat sebagai perintis/pioneer, dari generasi ke generasi agar mampu berusaha untuk memayungi diri dan keluarga untuk selamat dari terik panas kehidupan dan hujan problema. Semangat wirausaha ternyata juga berdampak dalam memajukan negara ini, membuka lapangan kerja dan mengatasi pengangguran.

Etnis Minang sejak dahulu terkenal sebagai etnis yang suka merantau, melakukan migrasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan semangat pioneer, kerja keras dan disiplin mereka bisa tumbuh sukses melalui wirausaha- mereka menjadi pedagang, membuka perusahaan, industri, dan bisnis lain. Di mana-mana di Indonesia kita dapat menjumpai orang-orang yang mengaku berasal dari Padang (Minang atau Sumatera Barat) dan sukses di sana melalui wirausaha mereka.

Namun tidak semua orang Minang yang berwirausaha melaui berdagang atau menjadi saudagar. Sebagian ada yang berkembang melalui potensi. Zoelverdi (1995) menulis buku yang berjudul “Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang”, memaparkan sejumlah orang Minang yang tumbuh dan berkembang dalam berwirausaha melaui potensi menulis. Dengan energi menulis yang besar mereka mengembangkan diri menjadi wartawan, budayawan, sutradara, pengusaha penerbitan majalah, sosiolog, psikolog dan lain-lain. Mereka adalah seperti A.A Navis, Karni Ilyas, Montinggo Boesye, Kamardi Rais, Ani Idrus, Asrul Sani, Arizal, Lukman Umar, Mochtar Naim, Zakiah Daradjat, dan tentu masih ada sejumlah tokoh-tokoh sukses lainnya.

A.A Navis adalah penulis yang ngetop dengan novel nya yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Walau ia berkarya dari kota kecil di pertengahan pulau Sumatra, namun gema karyanya luas sekali melintasi nusantara. Tulisannya banyak dalam bentuk cerpen (cerita pendek), dan tema cerpennya adalah seputar celoteh atau gaya ngobrol orang-orang di lapau (warung kopi di daerah Minang). Strateginya dalam mengembangkan fiksinya adalah melalui sudut pandang “pro dan kontra” dan ditambah dengan nilai-nilai Islam. Karya tulisnya menjadi hidup, menjadi fenomena dan digemari oleh banyak orang, malah tulisannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang dan Jerman.

Saat Navis muda, karis sebagai penulis dipandang rendah- underestimate,oleh sebahagian masyarakat. Karena sejak dulu orang ada yang selalu memandang hidup ini dari jumlah uang atau matre, namun Navis selalu berbuat- menulis cerpen demi cerpen dan menulis apa saja yang terlintas dalam fikirannya. Bila selesai menulis maka dikirim ke penerbit, Koran dan majalah. Tulisan atau cerpennya juga sering ditolak namun ia tidak patah semangat dan selalu menulis. Kupasan tulisannya adalah tentang masalah kemanusiaan yaitu penderitaan, kegetiran hidup, kebahagiaan dan harapan. Ternyata tiap orang harus punya obsesi dan obsesi Navis adalah “pantang kalah” – tidak suka menyerah atas kesulitan dan penderitaan hidup.

Karni Iyas adalah kolumnis dan wartawan yang tulisannya sangat bekualitas (dapat dibaca pada majalah Tempo). Ia sejak kecil sangat suka membaca dan berdiskusi. Waktu di Sekolah Dasar ayahnya menjadi teman berdebatnya tentang poitik. Waktu ia sekolah di SMP ia pun sangat aktif menulis, kalau selesai ia coba untuk mengirimnya ke koran-koran, “kalau terbit ya syukur dan kalau tidak ya tidak patah hati dan terus menulis”. Karni menjadikan menulis sebagai hobbi dan untuk kepuasan batin.

Seperti orang kebanyakan, ia juga merantau ke Jakarta, malah dengan uang pas- pasan. Untuk mengatasi kesuitan hidup bukan dengan cara mengeluh dan minta belas kasihan, tetapi dengan kerja serabutan- “tidak perlu gengsi-gengsian yang penting halal”. Ia kemudian meniti karir sebagai penulis dan wartawan yang terkemuka di ibu kota.

Montinggo Boesye adalah penulis yang sangat produktif. Karena ia bisa menyelesaikan 200 novel, 200 cerpen dan 10 drama. Namanya terpahat di taman kota Seoul, Korea Selatan, masuk di antara 1.000 penyair dunia. Ternyata masa kecil penulis tidak musti bertindak sebagai anak yang manis, Boesye malah sebagai anak laki-laki yang nakal dan agresif. Waktu kecil di zaman penjajahan Jepang, Boesye punya sepeda roda kecil. Iseng-iseng diduduki oleh serdadu Jepang dan patah, tentu saja si kecil Boesye menangis. Namun diganti dengan sebuah mesin tik. Boesye sangat senang dan di situlah tumbuh minant awalnya untuk menulis. Sunguh sangat hebat pada masa itu ada anak kecil yang belajar menulis memakai mesin ketik.

Ide-ide yang ia tulis terbentuk akibat kebiasaan nya yang suka melahap buku (membaca banyak buku). Bakat mengarangnya terbentuk/termotivasi setelah membaca buku cerita pertualangan, “Ah kalau menulis kayak begini aku juga bisa”. Di akhir masa anak-anaknya Boesye menjadi yatim piatu (ayah dan ibu nya berpulang ke Rahmatullah) namun ia masih beruntung karena di pelihara dan dibesarkan oleh pamannya yang penyayang. Pengalaman bertualang tinggal bersama paman sempat berkembang karena pamannya punya mobil jeep dan ia sering dibawa pergi. Mobil Jeep pada waktu itu dipandang sangat lux dan pengalamannya yang lain, untuk menumbuhkan jiwa wirausaha, adalah membantu paman dalam berdagang koran.

Kamardi Rais, potensinya sebagai penulis mengantarkannya sebagai wartawan. Waktu kecil ia suka membaca kisah fiksi- kisah pertualangan. Kemudian ia termotivasi dan meniru- niru menulis kisah petualangan. Bakat menulisnya berkembang secara otodidak. Ketika duduk di bangku SMA ia menulis pengalaman pribadi dan juga menulis tentang problem tetangga yang sering bertengkar.

Ternyata ayah Kamardi juga suka membaca dan mengkoleksi majalah Islam, Pedoman Masyarakat. Di sana ia mengenal nama-nama dan tulisan tokoh-tokoh besar seperti HAMKA, Adi Negoro, Natsir, Yunan Nasution. Seorang calon penulis juga perlu punya figure untuk menumbuh-kembangkan potensi menulisnya.

Ani Idrus adalah perempuan yang berkarir sebagai wartawan. Ayahnya Cuma seorang pegawai kecil. Orangtuanya tidak membatasi pergaulannya waktu kecil, temannya banyak pria dan juga wanita. Ia termasuk anak yang lasak- ingin tahu banyak dan serba suka melihat dan memegang hal-hal yang dianggap baru. Jadinya ia punya banyak pengalaman.

Ia beruntung tingga di daerah yang berkualitas, di kota Medan, dan ia juga bersekolah di tempat yang berkualitas. Di sana ia memperoleh banyak budaya positif- berani, disiplin, ingin tahu, bekerja keras, belajar keras dan gemar membaca. Ia pun diizinkan mengikuti kursus Bahasa Asing, kursus menjahit. Saat sekloah di MULO (semacam SMA sekarang) ia juga aktif berorganisasi dan mengikuti kegiatan pramuka. Ia mengembangkan hobi menulis dan mengirimnya ke koran-koran, ia juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi tokoh-tokoh terkemuka saat itu. Pengalaman berorganisasi dan menulis membuat ia terdorong untuk menerbitkan Koran “Waspada” di Medan.

Asrul Sani beruntung memiliki dua kemampuan yang bagus, sebagai penulis dan good speaker. Bakat sastranya (menulis) berkembang lewat otodidak yaitu membaca buku-buku abangnya. Ia mulai mengenal puisi dan sastra Eropa. Ia belajar Bahasa Jerman juga secara otodidak dan menterjemahkan sastra Eropa. Setelah dewasa ia berada di Jakarta dan mencari teman untuk mempertajam pola berfikir, ia berjumpa dengan Usmar Ismail dan mendirikan Akademi Teater. Ia kemudian dikenal sebagai penulis skenario film dan itu semua diawali oleh kegemaran membaca dan menulis.

Arizal, di usia anak-anak sudah mahir memainkan alat musik. Tentu saja karena orang tuanya memberi nya perhatian dan fasilitas alat musik. Pernah pada masa itu ia tampil di pasar malam memainkan harmonika dan memukau penonton. Tentu saja ia memperoleh applause, sebuah penghargaan yang akan mengangkat potensi dan harga dirinya berkembang.

Pada masa remaja ia punya bakat yang lain- pintar main sulap, musik, dan melukis. Ia bergabung dengan band sekolah dan band di masyarakat. Tiap akhir pekan, malam minggu, ia jadi musisi hiburan untuk pesta perkawinan. Karena pintar melukis ia juga menulis komik dan juga menulis cerpen. Ia sering mengirim komik dan cerpen ke majalah. Kemampuan menulis dan melukis mengantarkan karirnya ke dunia film. Filmnya dipengaruhi oleh komik yaitu tentang hal- hal yang lucu, karena itu ia mampu melahirkan film lucu pula seperi film yang dibintangi oeh Warkop DKI- Warung Kopi Dono, Kasino dan Indro. Suksesnya sebagai sutradara film karena ia memiliki kepintaran berganda dan ditambah dengan penglamannya belajar di Holywood Amerika dan pernah bermain fim sebagai figuran pembantu di sana.

Lukman Umar, ayahnya hanyalah petani kecil dan hidup serba kekurangan oleh karena itu ia terlibat membantu orang tua bekerja di sawah dan landang. Secara tidak langsung pengalaman ini memberi nya life skil atau kecakapan hidup. Hidup serba kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk tidak bersekolah. Lukman juga punya prinsip hidup yaitu “pantang menyerah dan tidak gengsi-gensian bekerja” asal itu halal. Maka sambil kuliah di IAIN Jogjakarta ia juga jualan Koran. Ia juga aktif di koperasi mahasiswa di kampus. Kemudian ia merantau lagi ke Jakarata. Merantau ke Jogja untuk cari ilmu dan pengalaman dan merantau ke Jakarta untuk cari hidup. Di sini ini tertarik dengan dunia penerbitan. Ia berjuang hidup dan kemudian menjadi redaktur majalah Varia. Ia terjun langsung mengantarkan majalah kea agen-agen. Kemudian ia menerbitkan sejumlah majalah seperti majalah Kartini, Putri Indonesia, Sarinah, Hasta Karya, Asri, Amanah, Panasea, dan Forum Keadilan.

Mochtar Naim, sebagai sosiolog, ia juga seorang penulis. Orang tuanya adalah pedagang harian dan ia didik taat beragama. Waktu kecil ia gemar membaca, ia punya tokoh-tokoh idola seperti Hatta, Soekarno dan Assa’at. Waktu kecil juga ibunya meninggal dan ayahnya berjalan, maka pendidikannya dibantu secara bergotong royong (kolaborasi) oleh paman-pamannya. Ternyata mahasiswa yang bakalan sukses, sebagaimana halnya Mochtar ketika kuliah di Jogja, harus aktif berorganisasi. Dan ia mendirikan Islam Study Club dan mengundang tokoh-tokoh terkenal untuk bertukar fikiran. Inilah yang membuatnya menjadi lebih intelektual dengan pendidikan dan pengalaman kerja di Amerika dan Singapura membuatnya sebagai tokoh Sosiolog.

Zakiah daraDjat, adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara dan ia sebagai tempat curhat (curah perhatian atau sharing ideas) bagi adik-adiknya. Kelas empat SD ia terlatih berbicara di muka umum- sebagai tugas yang diberikan oleh guru. Ia juga sering mengkuti kegiatan muhadharah, berpidato/ceramah, di mesjid. Ia rajin bekerja dan belajar. Pemerintah memberinya beasiswa ke Mesir dan ia langsung mengambil program Doktoral di sana seteah delapan tahun belajar ia pulang ke Indonesia. Ia aktif member ceramah dan konsultasi. Tentu saja ia memerlukan mengembangkan kemampuan menulis.

Uraian-uraian tentang figure di atas memperlihatkan bahwa mereka juga orang-orang biasa namun memiliki karakter dan budaya yang ekstra atau berebih dari orang-orang kebanyakan. Ada yang memiliki latar belakang orangtua terdidik atau biasa-biasa saja. Namun mereka berasal dari keluarga besar sehingga memperoleh bagian kerja- untuk melatih tanggung jawab. Orang tua zaman sekarang juga perlu memberi anak tanggung jawab- kerja anak tidak hanya belajar dan belajar. Mereka harus bisa memasak, cuci piring, mengasuh adik/ keponakan, kalau boeh juga bisa mencangkul, gembala hewan- bagi yang tingga di daerah pedesaan.

Melahirkan generasi yang jago menulis, mereka harus terbiasa gemar membaca sejak kecil, kemudian berdiskusi, menulis cerpen dan atau prosa lain. Mereka perlu punya pengalaman hidup dan perlu punya tokoh idola dalam mencari jati diri. Untuk menjadi orang berkuaitas, faktor tempat tinggal/ rumah, sekolah dan lingkungan yang berkualitas sangat menentukan. Lingkungan berkualitas akan membuat mereka memiliki pribadi yang positif- berani, disiplin, ingin tahu, bekerja keras, belajar keras dan gemar membaca.

Namun zaman bergulir dan perobahan selalu terjadi. Dahulu banyak orang terbiasa saling berkiriman surat satu sama lain. Bagi pelajar secara tidak langsung kebiasaan berkirim surat atau korespondensi bias menyuburkan bakat sastranya, menulis puisi dan prosa. Kini zaman berobah, orang amat jarang berkirim surat teknologi seluler membuat orang senang menulis SMS, pesan singkat dan kosakata serta tatasan diketik amburadul. Walau ada internet pengganti sarana berkirim surat elektronik atau e-mai, namun pelajar lebih suka melakukan chatting, bertukar gambar lewat friendster, mendownoad lagu, main game, baca komik, nonton pada tube (perlu diingatkan agar tidak salah tonton- say no to porn situs).

Andai bakat dan potensi menulis pelajar tidak digubris dalam zaman yang budaya menulis yang sudah kering ini maka dapat dipastikan Indonesia akan lenyap dari peta sastra dunia. Tentu orang tidak mengenal penulis dan pendidikan di negara ini. Sebelum hal ini terlanjur terjadi maka tugas kita para pendidik, guru dan orang tua, dan terutama para pelajar itu sendiri untuk kembali mengaktifkan diri dalam mengembangkan minat menulis mereka (generasi muda). Diharapkan mereka bias memiiki kemampuan menulis yang hebat, dan ini kelak akan mampu membuat mereka menjadi orang yang sukses, suka berwirausaha dan mengembangkan diri untuk maju.
(Catatan, Zoeverdi, Ed.(1995). Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang. Jakarta: BK3AM DKI)

Sabtu, 18 April 2009

Pelajar Korban Gaya Hidup Hedonisme

Pelajar Korban Gaya Hidup Hedonisme
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Dalam kamus Collins Gem (1993) dinyatakan bahwa hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata (Echols,2003). Gaya hidup hedonisme sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pendidikan bangsa kita.
Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4). Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau mengutamakan diri sendiri. Apakah banyak pelajar yang berpotensi menjadi generasi yang hedonism yaitu generasi yang memandang kesenangan hidup dan kenikmatan materi sebagai tujuan yang utama ? Jawabnya adalah “ya”. Lantas apa indikatornya ?
Bahwa hedonismee sebagai fenomena dan gaya hidup sudah tercermin dari prilaku mereka sehari-hari. Mayoritas pelajar berlomba dan bermimpi untuk bisa hidup mewah. Berfoya-foya dan nongkrong di kafe, mall dan plaza. Ini merupakan bagian dari agenda hidup mereka. Barangkali inilah efek negative dari menjamurnya mall, plaza dan hypermarket lainnya. Mengaku sebagai orang timur yang beragama, namun mereka tidak risih bermesraan di depan public . ini adalah juga gaya hidup mereka. Hal lain yang membuat hati kita gundah- menyimak berita pada televisi dan Koran-koran bahwa sudah cukup banyak pemuda-pemudi kita yang menganut paham hidup free sex dan tidak peduli lagi pada orang-orang sekitar. Hamil di luar nikah bukan jadi ‘aib lagi, malah sudah dianggap model karena para-para model mereka juga banyak yang begitu seperti digossipkan oleh media elektronik (TV) dan media cetak (majalah, Koran dan tabloid).
Gaya hidup hedonismee tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonisme. Orang tua dan kaum kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Mereka (atau kita) lalai untuk mewarisi anak dan keponakan dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Kita tidak banyak mencikaraui (campurtangan) anak tentang hal spiritual. Sebagai orang tua, kta jarang yang ambil pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum, apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan nilai puasa.
Kecendrungan orang tua yang pro dengan gaya hidup hedonism, memandang anak bukan sebagai titipan Ilahi. Tapi memandang anak sebagai objek untk diotak atik. Sejak kecil anak sudah diperlakukan dengan hal yang aneh-aneh; anak dianggap lucu kalau rambutnya di gondrongkan, nyanyinya ya nyanyi tentang cinta- kalau perlu syair yang jorok. Katanya Sejak kecil anak didik bahwa shopping yang ngetren musti di mall, dan makanan yang bergizi adalah KFC atau burger.
Orang tua yang pro hedonisme tidak begitu peduli dalam mengasah spiritual anak. Tidak heran kalau anak-anak mereka cenderung menjadi generasi free thingker atau generasi yang kurang diajar untuk mengenal Sang Khalik. Akibatnya mereka tumbuh jadi generasi yang rapuh, mudah putus asa dan mencari kambing hitam, bila ditimpa musibah “Aku sakit karena shio ku shio kuda, atau aku lagi sial gara-gara memakai kemeja merah ini”.
Sampai sekarang tetap orang, termasuk pelajar/generasi muda, memandang segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai hal yanh hebat. Pelajar merasa minder kalau ketahuan lebih mengidolakan lagu daerah, lagu Minang, dan lagu dangdut. Mereka harus mengidolakan lagu dan musisi dari barat. Poster-poster figur dari Barat, artis dan atlit, patut ditempel di kamar belajar. Kemudian tiap saat mengupdate atau mengikuti perkembangan beritanya; “ oh artis atau atlit dari klub itu lagi pacaran, yang ini mau cerai, yang itu punya mobil mewah, yang itu lagi bersenang-senang dengan kekasihnya di laut caribia….wah aku patut meniru gaya hidup nya”. Demikianlah pelajar dari dalam kamarnya menyerap gaya hedonisme dari info-info tentang figur-fugur idola yang menempel di dinding kamarnya dibandingkan figur-figur intelektual, pahlawan, pendidik dan tokoh spiritual lainnya.
Faktor bacaan dan tontonan memang dapat mencuci otak pelajar untuk menjadi orang yang memegang prinsip hedonisme. Adalah kebiasaan pelajar kalau pulang sekolah pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di kiosk penjualan majalah dan tabloid. Ada sejumlah tabloid dan majalah, ada untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Tabloid dan majalah untuk remaja ada yang punya tema tentang agama, olahraga, pendidikan, dan majalah/tabloid popular. Umumnya yang berbau agama dan pendidikan kurang laku. Yang paling laris adalah tabloid dan majalah remaja popular yang isinya banyak bersifat hura-hura- shopping dan kencan.
Coba ambill satu majalah pop remaja (tidak perlu sebut nama majalahnya) maka yang terlihat pada covernya adalah sepasang kaum adam-hawa yang berusia belia lagi dimabuk asmara. Kalau tidak demikian mana mungkin laku, karena pebisnis sengaja meraup untung lewat mencuci otak remaja menjadi sekuler dan hedonisme. Kemudian coba balik halaman demi halaman. Maka yang kita jumpai adalah gambar-gambar iklan seputar, parfum, make up, pakaian sexy yang sangat tidak pantas untuk orang timur yang terkenal punya budaya malu. Kemudian style rambut dan assesori- untuk cowok rambut dipanjangkan atau model punk, diberi warna, style wanita lain lagi. Memakai celana harus melorot, jangan lupa dengan assesori. Karena yang membelinya adalah para pelajar maka tabloid dan majalah pun telah mencuci otak mereka. Akibatnya pelajar sering bermasalah dengan disiplin sekolah.
Sampai detik ini semua sekolah di Indonesia tidak pernah mengizinkan siswan pria ya memakai anting-anting pada sebelah telinga, memakai tattoo, mengambil style rambut seperti artis atau atlit- di gunting panjang/ gondrong atau disisir punk seperti duri landak. Selanjutnya sampai detik ini sekolah tetap mengharapkan siswanya supaya berpenampilan rapi, kalau boleh gagah seperti ABRI, ke sekolah bukan ibarat artis pergi ke concert- seragam dengan celana melorot, harus tersumbul sedikit celana dalam di bagian punggung, kaki di beri gelang atau rantai, ibarat kaki gajah di Way Kambas Lampung, tangan dan jari penuh dengan assesori. Pelajar-pelajar yang berjiwa hedonis umumnya tidak begitu menghargai waktu dan dan jalannya lemas, beda dengan kaum hedonis di Barat. Mereka kerja keras mati-matian untuk mewujudkan hedonismeenya. Sementara pelajar kita yang menyenangi gaya hidup hedonisme cenderung bekerja dan belajar santai (karena mereka punya moto: hidup santai masa depan cerah) mereka terlalu bergantung dan menghabiskan harta orang tua.
Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang pelajar untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah nggak apa-apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali hanya banyak menghibur.
Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di negara kita memang sedang menggiring pelajar menjadi generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk menjadi generasi produktif. Tema iklannya adalah “manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua pelajar dan mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit. Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua takut jadi hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa banyak pelajar dengan gaya hidup hedonisme yang mereka sadur lewat budaya hedo dari barat, terinspirasi oleh model-model atlit dan artis yang info perkembangannya selalu mereka update tiap saat. Kemudian gaya hidup hedo (hedonisme) juga diperkaya oleh suguhan majalah pop remaja dan belasan stasiun televisi swasta yang bernuansa sekuler dengan gaya hidup figur yang penuh glamour dan kepalsuan. Namun ada bedanya, yaitu tokoh tokoh yang bergaya hidup hedonisme dari dunia Barat dan dari Indonesia sendiri, mereka memperoleh gaya hidup hedonisme lewat kerja keras. Sementara remaja dan juga mahasiswa (juga banyak terjebak dalam gaya hedonisme) menjadi hedonism dengan cara bermimpi, kadang-kadang tampil keren karena memakai baju dan celana pinjam atau hidup dengan gaya hedonisme lewat menggunakan fasilitas orang tua, inilah yang dikatakan sebagai hedonisme picisan.
Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencri rezki.

Rabu, 15 April 2009


Indonesia Bangsa Yang Jarang Kena Contreng (V) Di Dunia

Oleh : Marjohan, M.Pd

Guru SMAN 3 Batusangkar


Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, pemilu (pemilihan umum) sudah terselenggara selama beberapa kali. Untuk melakukan voting peserta pemilu cukup menusuk gambar partai dengan sebuah paku besar. Kata “tusuk” sudah menjadi kosakata popular bila musim kampanye datang. Malah dalam kampanye di zaman orde baru pelaku dan pendukung partai meneriakan yel-yel untuk tiga partai; “tusuk beringin…, tusuk ka’bah…, dan tusuk banteng…!” Namun yel-yel “tusuk” pada pemilu tanggal 9 April 2009 tidak berlaku lagi, peserta pemilu diminta untuk “mencontreng”. Mereka disarankan untuk mencontreng nomor atau gambar caleg (calon legislative) sang idola. Sinonim kata contreng adalah centang atau check-list. Namun kata contreng tetap lebih populer.

Usai pemilu anggota caleg dan pendukung antusias atau takut setengah mati untuk mengetahui hasil polling melalui contreng. Bagi yang memperoleh banyak tanda contreng tentu merasa amat berbahagia, berpesta pora atau melakukan sujud syukur. Yang sedikit memperoleh tanda contreng atau kalah suara itu membuat mereka berduka yang berkepanjangan. Kita seharusnya mendoakan caleg tersebut agar tidak stress dan depresi, moga-moga Allah Swt menentramkan hati mereka.

Mencontreng tidak hanya identik untuk pemilu. Dalam melakukan observasi dan penelitian, peneliti menggunakan tanda contreng untuk option pada skala likert (lima pilihan), dan skala gutmann (dua pilihan), atau pilihan lain.

Organisasi berskala dunia dan badan PBB- seperti World Bank, Unicef, Unesco, LSM-LSM dunia lainnya- juga sering melakukan penelitian. Penelitian yang berhubungan dengan tingkat buta huruf, kejahatan korupsi, dan tingkat hutang luar negeri, maka Indonesia sering memperoleh tanda contreng. Namun penelitian tentang tingkat kesejahteraan, tingkat kualitas pendidikan, tentang income masyarakat, maka Indonesia jarang kena contreng. Contoh lebih kongkrit, sebuah survey yang dilakukan oleh majalah Japan Close-Up (Maret 2001) tentang factors that contribute to success in society yang menjadi respondenya adalah warga negara di Jepang, Cina, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia dan India. Namun kita betanya-tanya “mengapa Indonesia tidak masuk sebagai responden atau sample dalam survey itu ?

Juri-juri yang terlibat dalam event olah raga dunia seperti sepak bola, tour de france, tenis, atletik, renang, dan lain-lain, jarang yang mencontreng Indonesia. Para peneliti tentang life expectancy, life quality, perdagangan dan industry, tingkat income nasional, dan penelitian tentang hal-hal yang positif maka Indonesia merupakan negara yang jarang kena contreng, mengapa demikian ?

Indonesia masuk atau tidak masuk hitungan untuk di-polling atau dicontreng tergantung pada beberapa faktor, yaitu seperti endeavor (kerja keras), karakter, bakat, pengalaman hidup, kesehatan, dan latar belakang pendidikan. Endeavor memang faktor yang patut menempati urutan pertama. Urutan berikutnya adalah faktor kesehatan, karakter dan latar belakang pendidikan.

Endeavor atau kerja keras umumnya belum dimiliki oleh bangsa kita. Hal ini kita kupas bukan karena kita benci pada bangsa ini, tetapi sebagai usaha refleksi- koreksi diri dan melakukan perbaikan terhadap kualitas diri. Untuk membuktikan, coba lihat cara berjalan kebanyakan anak-anak sekolah kita. Jalanya tidak smart, tampak agak pelan, dan kesannya loyo, tidak semangat, dan kalau ngobrol ya kemanja-manjaan dan rada kekanak-kanakan. Ini adalah sinyal bahwa budaya belajar keras dan kerja keras kurang sempurna.

Kalau kita melewati deretan perumahan penduduk, akan terlihat deretan tiang-tiang antene parabola dan antene UHF (Ultra High Frequency) sebagai pertanda bahwa warga di sana adalah orang yang suka hiburan. Rumah-rumah mereka telah disulap menjadi home theatre, hampir sepanjang waktu televisi, tape recorder, vcd playermenyala. Anak-anak sampai orang tua adakalanya terpaku di depan layar menghabiskan umur. Ini berarti bahwa budaya menonton adalah budaya utama kita.

Kemudian bila kita lewat menelusuri kantor-kantor pemerintah, akan dijumpai beberapa anggota PNS asyik ngobrol sambil berdiri. Atau mereka ngumpul-ngumpul sambil menghisap rokok dan menghabiskan secangkir kopi. Sementara itu lantai kantor dan perabot di kantor ada yang sudah kusam karena lupa untuk dirawat. Ini juga sebagai sinyal bahwa budaya kerja pegawai pemerintah masih dalam taraf basa-basi.

Selanjutnya bila kita berkendraan menelusuri jalan luar kota akan dijumpai banyak lahan terlantar, kolam ikan dan kebun tidak terurus dan sawah-sawah dengan tanah subuh yang penuh dengan gulma. Generasi petani tidak lagi menghargai profesi bertani. Generasi muda mereka disugesti untuk menjadi tukang ojek atau exodus ke kota untuk jadi buruh dan melakukan dagang kecil-kecilan. Kalau gagal ya jadi penganggur.

Sebahagian manusia Indonesia sudah punya karakter bagus, namun sebahagian lagi bermasalah dengan karakter. Mereka terperangkap menjadi orang yang santai dan tidak tahu cara menghargai waktu. Kerja sedikit dan langsung merasa cepat puas. Kadang-kadang kita sendiri mungkin tidak memiliki agenda kegiatan dalam hidup dan kita menjadi orang yang bengong. Orang orang yang bengong dan pasif kerap hanya menjadi penonton dan bukan menjadi actor atau pelaku dalam hidup, menjadi buruh pabrik dan bukan menjadi pemilik pabrik. Menjadi konsumen dan bukan menjai produsen. Hal ini terjadi karena kita belum mengamalkan filsafat long life education- pendidikan seumur hidup.

Yang cendrung kita lakukan adalah baru half lifa education- pendidikan separoh umur. Fenomena ini sangat benar, kalau tidak percya ini dapat dibuktikan. Umumnya warga kita hanya belajar sampai level SLTA atau masuk Perguruan Tinggi. Tamat kuliah, menjai sarjana dan kemudian berhenti belajar. Kalau pun ada belajar atau membaca, itu pun cuma sebatas basa basi, mengisi waktu senggang. Coba perhatikan tas-tas yang disandang oleh wanita-wanita yang pernah kuliah dulu (sekarang mungkin jadi guru, pegawai swasta, BUMN, dan wiraswasta, ukuran tas mereka semakin kecil dan isinya cuma HP, sisir, lipstick, bedak, dompet, permen dan amat jarang yang membawa buku yang berbobot. Atau kita bertandang ke rumah-rumah mereka dan rumah penduduk kebanyakan, maka yang kita jumpai mungkin garasi dengan mobil second, lemari yang penuh dengan boneka dan keramik, rak-rak yang berisi tumpukan kaset vcd player dan amat jarang dijumpai rumah penduuk yang memiliki pustaka keluarga.

Faktor kesehatan juga menentukan kualitas bangsa Indonesia, berpengaruh apakah Indonesia kena contreng di dunia atau tidak. Bangsa Indonesia mungkin boleh dikatakan sebagai bangsa perokok. Coba lihat iklan dan poster apa yang banyak bertebaran di pinggir jalan ? “Merokok membuat anda lebih jantan, merokok sebagai selera pria sejati, merokok untuk selera petualang….!”. Begitu banyak kalimat kalimat indah untuk pembohongan publik. Sehingga amat banyak pria yang terpedaya oleh rokok, malah rokok itu sendiri sudah menjadi event budaya. Undangan untuk datang ke pesta di kampung-kampung pengganti undangan resmi adalah dengan menggunakan media sirih dan rokok dalam carano- sirih (sereh) untuk kaum perempuan dan rokok sebagai undangan buat kaum laki-laki.

Pendapat khalayak ramai yang salah adalah bahwa rumah yang berbudaya adalah yang menyediakan asbak rokok (?) karena laki-laki Indonesia memang perokok berat. PNS, pegawai swasta, pegawai BUMN, polisi, ABRI, mahasiswa, sebahagian pelajar, pedagang, petani, nelayan dan kaum buruh banyak yang telah menjadi perokok sejati. Pantaslah nasehat-nasehat yang bertuliskan seperti “merokok membuat anda impotent, merokok membuat janin cacat, merokok mengganggu kesehatan jantung dan paru-paru, pokoknya merokok merusak kesehatan ” tidak mudah dipercaya oleh pelajar, dan anak-anak. Malah pelajar memperoleh inspirasi dari guru perokok, anak meniru ayah dan keponakan meniru gaya merokok paman. Arti dan nilai kesehatan tidak begitu dijunjung tinggi.

Bumi Indonesia terkenal dengan keindahan dan keelokannya, tetapi mungkin juga terkenal dengan kejorokannya- sampah. Tidak percaya dan bukan asal bicara, mari kita telusuri jalan-jalan dari pinggir kota terus ke lokasi objek wisata- goa, pinggir sungai, pinggir laut, taman alam dan pinggir danau. Di sana bertebaran sampah- bungkus-bungkus makanan. Bangsa kita memang sangat gemar melemparkan sampah. Undang undang tentang sampah tidak efektif lagi, kecuali hanyak menggertak saja- membuang sampah didenda enam juta rupiah. Sungai kecil dan saluran air yang melewati kota bersampah dan tercemar limbah. Cegahlah anak-anak tak berdosa untuk bermain air dan mandi mandi dengan air sungai yang mengalir di kota, sebab berpotensi untuk kematian atau penyakit kalau airnya tertelan karena polusi logam berat dan racun.

Pelajar pelajar putri kita gemar diet dan banyak yang salah diet. Diet bukannya semacam mogok makan karena takut gendut. Tapi adalah mengatur pola makan. Namun banyak pelajar salah diet dan jarang yang makan kalau pergi ke sekolah, mereka menuntut ilmu dalam keadaan kurang gizi. Di waktu istirahat mereka tidak mengkosumsi makanan bergizi maka pantaslah mereka susah payah menghadapi ulangan harian dan ujian nasional karena juga akibat faktor kurang gizi.

Anak-anak dan balita kita juga berpotensi menjadi generasi yang kurang gizi. Itu gara-gara mereka banyak yang susah makan. Mereka lebih menyukai permen, makanan industry dengan harga murah meriah dan mengundang penyakit karena kaya dengan bahan kimia- penyedap rasa dan zat pewarna. Anak- anak kita pun terdidik menjadi generasi yang percaya dirinya tumbuh kalau mengkonsumsi KFC, Burger, dan hidangan fast food yang kaya kolesterol dan kaya penyakit. Mereka kurang mengenal bagaimana citra rasa goreng singkong, godok ubi, onde-ode, lopi, rujak dan kue talam yang lebih sehat dan bergizi.

Latar belakang pendidikan termasuk hal yang menentukan apakah suatu Negara diperhitungkan di tingkat dunia atau tidak. Untuk Indonesia kenapa ia tidak banyak dicontreng/ diperhitungkan adalah karena posisi human development index yang rendah. Karena Indonesia adalah Negara besar di dunia maka ia seharusnya menjadi Negara yang hebat- kuat dan belajar untuk maju dari Negara maju.

Yang membuat suatu negara maju atau tidak adalah bukan berapa gedung pencakar langit dan berapa plaza modern yang ia miliki, tetapi berapa jumlah doktor dan professor yang mereka miliki. Tentu saja bukan doktor dan professor yang pasif, tetapi mereka yang kreatif dan innovative dalam melakukan riset untuk memajukan negaranya.

Dalam era otonomi daerah banyak beasiswa diberikan bagi undergraduate (sarjana S.1) untuk menyelesaikan program pascasarjana (graduate) dan doctoral (post graduate). Namun banyak mereka terkendala dengan kemampuan TOEFl (Test Of English Foreign Language) karena score di bawah 500 atau di bawah 550. Kalaupun bisa mengikuti program beasiswa namun juga banyak yang stagnant alias mandek karena terbentuk susah untuk menyelesaikan tesis dan disertasi. Yang licik mencari jalan pintas- minta tolong untuk menyelesaikan karya tulis- ini adalah pembohongan diri dan plagiat. Kalau tidak demikian maka meeka harus rela untuk drop out. Kemapuan menulis orang kita belum lagi terasah dan membuat momok untuk menyelesaikan pendidikan tinggi di universitas.

Kualitas pendidikan di negara maju memang berbeda dengan negara kita. Di sana pada umumnya orang tua banyak yang berpendidikan sarjana, master dan doctor. Bila anak anak punya problem dengan pelajaran sekolah maka orang tua mereka , sebagai guru ke dua di rumah, bisa membantu mereka untuk memahami pelajaran. Dan sangat kontra perbedaanya dengan kita, dimana rata-rata orang tua hanya tamatan SMP dan SLTA, satu satu lulusan Perguruan Tinggi, yang susah memahami pelajaran anak anak. Sehingga urusan pendidikan diserahkan bulat-bulat pada guru di sekolah. Guru adalah perpanjangan tangan orang tua di rumah atau sebagai pelimpahan mandate orang tua dalam mendidik anak. Maka tidak heran kalau banyak anak yang memiliki semangat belajar dan motivasi belajar yang rendah, karena orang tua kurang tahu tentang memberi motivasi.

Sekali lagi bahwa tulisan ini sama sekali bukan untuk mengekspos tentang hal yang minus di negara kita yang elok ini. Namun tulisan ini adalah untuk refleksi atau renungan moga-moga ada sumbangan untuk membentuk mind set baru agar bangsa kita bisa kena contreng, diperhitungkan, di dunia sebagai responden atau sample dalam penelitian positif. Oleh karena itu kita semua harus memiliki endeavor/ semangat kerja keras, karakter positif yang kuat, lebih menghargai pentingnya nilai kesehatan dari pada gaya hidup. Kemudian menjadikan dan mengamalkan long life education sebagai motto hidup, kemudian mengembangkan dan mengoptimalkan talent/ bakat, potensi diri, serta memperkaya pengalaman hidup. .

Minggu, 12 April 2009

Sekolah Unggulan Jembatan Menuju PNS, Pengangguran Atau Wirausaha

Sekolah Unggulan Jembatan Menuju PNS, Pengangguran Atau Wirausaha
Oleh: Marjohan, M.Pd
SMA Negeri 3 Batusangkar

Sekolah-sekolah di negara maju seperti di Singapura, Jepang, Amerika, Australia, dan negara-negara Eropa tidak memberi label terhadap anak didik dan lembaga pendidikan, “dia siswa unggul atau itu sekolah unggul”. Ini terjadi karena program pendidikan mereka sudah terlaksana dengan professional dan accountable- teruji. Kesadaran warga terhadap kebutuhan pendidikan sudah tinggi. Pemberian label terhadap anak didik dan sekolah, seperti Siswa Sekolah Unggul, Sekolah Perintis, Sekolah Bilingual, Sekolah Akselerasi, Sekolah Plus, Sekolah SSN (Sekolah Standar Nasional), dan Sekolah SBI (Sekolah Berstandar Internasional) mungkin hanya fenomena untuk pendidikan kita. Tujuannya bagus, yaitu untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mudah anjlok, untuk membuat warga sekolah yang mempunyai label tersebut bisa termotivasi untuk berprestasi karena punya tanggung jawab menjaga harga diri sekolah, atau untuk menjadi warga sekolah yang exclusive? Atau memang dasar orang kita demam label/ merek dari pada mencari kualitas ?

Paradigma kini sudah berubah, sekolah berlabel mungkin untuk sekolah swasta. Bagi sekolah pemerintah cukup dengan sebutan “Sekolah Negeri- SMP Negeri dan SMA Negeri”.Kata kata label atau merek digunakan untuk program pelayanan pendidikan, seperti SMA program akselerasi, SMA program Unggulan, SMA program bilingual dan sebagainya.

Lahirnya sekolah-sekolah berlabel- sekolah unggulan- adalah sebagai respon dari kualitas pendidikan kita di level dunia yang sempat memprihatinkan. Dalam buku L’etat du monde annuaire, annuaire economique geopolitique mondial, diedit oleh Didiot Beatrice (2001) dilaporkan bahwa menjelang tahun 2000 posisi human indicator index atau tingkat Sumber Daya Manusia Indonesia menempati peringkat 102, negara Vietnam yang merdeka lebih akhir dibanding Indonesia satu digit lebih baik dari Indonesia, yaitu 101. Kemudian dalam buku The State of The World Atlas, ditulis oleh Dan Smith (1999) memaparkan bahwa posisi SDM Indonesia menempati peringkat 88 di dunia dan Negara Turkmenistan yang baru merdeka tahun 1991, lepas dari Uni Soviet, posisi SDM nya juga lebih baik satu digit dibandingkan Indonesia, yaitu posisi 87.

Tulisan ke dua penulis di atas mencerminkan bahwa kualitas SDM bangsa Indonesia sangat rendah dan memalukan kita sebagai bangsa yang termasuk penduduk terbanyak dan ukuran negara terluas di dunia. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pemerintah dan masyarakat merespon dengan cara melakukan pembenahan dan perbaikan di sana-sini. Termasuk dengan cara melahirkan kebijakan pendidikan- program unggulan.

Kalau begitu di Indonesia ada beberapa model sekolah. Ada sekolah negeri yang konvensional yang jumlahnya ribuan, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sekolah konvensional kualitasnya sangat bervariasi, mulai dari sekolah negeri dengan murid pemalas dan motivasi belajar rendah sampai kepada sekolah negeri super berkualitas. Kemudian sekolah swasta yang jumlahnya juga banyak dan tersebar di persada nusantara. Ada sekolah swasta yang hampir punah karena kehabisan murid dan kekurangan dana sampai kepada sekolah swasta super modern di metropolitan, dengan gedung megah dan uang sekolahnya sangat mahal yang dapat dijangkau oleh anak anak cerdas dari keluarga kaya. Kemudian adalah sekolah negeri- sekolah milik pemerintah- yang memperoleh keistimewaaan untuk menjalankan program keunggulan dalam bidang pendidikan. Jenis sekolah yang terakhir ini disediakan untuk anak-anak cerdas dari semua tingkat lapisan ekonomi.

Para siswa yang belajar di sekolah-sekolah unggul pastilah anak-anak cerdas yang memiliki motivasi belajar yang tinggi. Profesi orang tua mereka adalah ABRI, Polisi, PNS, BUMN, dan wiraswasta. Tetapi bagaimana visi masa depan mereka setelah lulus dari sekolah unggul dan dari perguruan tinggi favorite pilihan mereka ?

Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada mereka yaitu menjadi PNS, wirausaha, dan pengangguran. Para pelajar sekolah unggulan juga berkompetisi jadi PNS ? PNS adalah profesi yang sudah dibisikan oleh guru guru dan orang tua sejak kecil. Coba lihat ketika anak bersekolah di TK dan SD, ada murid yang dikaderkan dalam program dokter kecil dan polisi kecil, tentu saja program ini berguna. Kemudian bila anak-anak sudah bersekolah di tingkat SMP dan SMA, ditanya, maka mereka ingin menjadi Dokter, Bidan, Guru, Staff di Departemen Pemerintah, pokoknya jadi PNS. Orang tua banyak yang separoh memaksa agar kelak anak memilih profesi PNS.

“Kalau hanya ingin menjadi PNS, buat apa sih sekolah unggul segala, si Erni Juwita yang dulu hanya sekolah di SMA negeri di desa bisa lulus PNS, sedangkan si Firdaus yang dulu sekolah di SMA unggulan tidak jebol PNS”. Mengikuti seleksi PNS dan lulus, memang nasib-nasiban. Yang pintar dan rajin sekolah/ kuliah boleh jadi tidak lulus dalam test PNS, sementara yang dulu senang hura-hura dan sekolah asal-asalan bisa lulus. Apalagi sekarang peserta yang tidak pandai, tetapi pandai-pandai (smart street) bisa mencari buku pintar, jurus ampuh untuk lulus test PNS, berisi resep resep soal test yang meliputi test potensi akademik- verbal, numerikal dan spatial. Itulah mengapa kualitas PNS agak beda dengan kualitas kerja mereka yang berada di perbankan, sebagai contoh. Seleksi PNS tidak begitu menjaring semua potensi partisipan. Sementara test menjadi karyawan BUMN lebih ketat, lebih selektif dan banyak prosedurnya- melibatkan psikolog dan proses seleksi yang lebih berkualitas dan sehingga lebih menjaring potensi, the rightman on the right place.

Kalau dahulu orang memandang profesi PNS lebih rendah dari pada profesi berwira usaha, seperti berdagang. Elly Kasim, penyanyi tempo dulu dari daerah Minang, menceritakan tentang hal ini dalam lirik lagunya: “alah ka nasib laki den jadi pagawai, sa bulan gaji indak cukuik untuak sa pakan, tibo dek urang hiduik sanang rasaki murah, tibo dek kito rasaki nan baagakkan”.

Sekarang entah siapa yang memulai sehingga kebanyakan masyarakat tetap mengagungkan PNS sebagai profesi impian. “Enak ya jadi PNS, gaji mencukupi dan masa depan terjamin, sakit pun masih menerima gaji”. Dokrin PNS sebagai pekerjaan yang paling menjamin dan pekerjaan dengan status tertinggi masih melekat kuat dalam diri masyarakat.

Cukup lucu dan bisa menyedihkan kalau ternyata sekolah unggul hanya mampu membesarkan dan memotivasi anak didiknya kelak menjadi PNS, dan menjadi pegawai swasta. Bagaimana nanti kalau ada yang menjadi pengangguran. Ini terjadi bukan karena bodoh, tetapi karena kalah bersaing dari rekan-rekan mereka yang lihai dan pandai-pandai membaca situasi.

Sangat tepat kalau penyelenggara pendidikan di daerah kita bisa belajar bagaimana pelaksanaan proses pendidikan di negara yang lebih maju, misal dari negara tetangga, Singapura. Sarjana berusia muda di negara kecil ini tidak begitu tertarik untuk menjadi pegawai pemerintah. Setiap hari banyak iklan dari departemen pemerintah yang muncul berulang-ulang untuk mencari pegawai negei. Kebanyakan generasi muda Singapura yang baru lulus dari universitas lebih tertarik pada wirausaha dan kerja swasta. Generasi di sana memiliki sikap berwirswasta yang sudah mantap. Perwujudan sikap wirausaha yang sebenarnya merupakan implementasi dari sikap budaya terhadap kerja, prestasi, dan kreatifitas. Kemudian bagaimana dengan keberadaan karakter para pelajar di sekolah-sekolah unggul di negeri kita?

Kemungkinan para pelajar dari sekolah unggulan kelak juga tertarik menjadi PNS. Banyak generasi muda mengidolakan PNS dan takut berwirausaha- menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan mengatasi masalah sosial/ masalah pengangguran- terjadi karena mereka kurang mandiri dan berkarakter manja, terbiasa serba banyak dibantu. Sejak Taman Kanak-Kanak mereka tidak diajar mandiri. Bagaimana mereka menghabiskan hari-hari ? kebanyakan anak-anak kurang dilibatkan dalam kegiatan di rumah- membersihkan dan merapikan rumah. Setelah agak besar tidak tahu cara memasak. Malah bagi orang tua yang punya bisnis sampingan seperti berkebun, bertani, beternak, berdagang, ada kalanya anak-anak tidak dilibatkan. Khawatir kalau sekolah mereka terganggu- pada hal alasan ini berpotensi mematikan kreatifitas dan life skill mereka. Maka rutinitas para pelajar sekarang cuma pergi sekolah, pergi les, membuat PR, otak atik HP, bermain gitar, main game dan lalu tidur. Hari berikutnya kegiatan yang sama berulang lagi.

Ilustrasi di atas memperlihat bahwa kehidupan mereka sangat monoton tanpa ada tantangan hidup. Apalagi orang tua sekarang banyak yang merasa serba khwatir- khawatir anak sakit, terjatuh. Maka mereka cenderung menjadi serba melarang dan pribadi anak tumbuh kerdil karena serba diatur, banyak dilarang dan serba diarahkan. Maka lengkap sudah mereka menjadi generasi manja. Mereka cerdas tetapi, penakut dan miskin dengan pengalaman hidup.

Dewasa ini banyak mahasiswa yang cerdas, wisuda dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hampir empat (4.00) atau cum laude. Namun belum tentu ada jaminan untk dapat pekerjaan. Cerdas saja, pernah belajar di sekolah unggul, kemudian lulus dari universitas favorite juga belum tentu ada jaminan untuk berhasil, apalagi kalau tidak mempunyai jiwa wirausaha. Sementara itu pintu PNS semakin sempit juga. Maka kemungkinan bagi alumni dari sekolah unggul dan universitas favorite untuk menjadi pengangguran intelektual semakin nyata.
Perguruan tinggi seperti UI, IPB, ITB dan UGM adalah perguruan tinggi favorite dan diidolakan oleh hampir semua siswa di Indonesia. Tetapi tunggu dulu, apa semua yang kuliah di sana sudah dijamin untuk sukses ?. Ada beberapa kenalan penulis yang lulus dari sana sempat menganggur selama bertahun-tahun.

Namun kini banyak universitas menyadari hal hal penyebab terjadinya penyakit pengangguran. Maka untuk mewanti-wanti kegagalan mahasiswa, banyak perguruan tinggi membuat program wirausaha, menawarkan program kewirausahaan, mencari kerja, dan membuka lapangan kerja secara mandiri. Sekali lagi, mengingat lulusan perguruan tinggi apakah yang favorite atau non favorite, berpotensi untuk menambah jumlah pengangguran setiap kali terlaksana wisuda. Maka mereka perlu menumbuhkan jiwa wira usaha bagi lulusannya, sering mengadakan kerjasama dengan instansi dan perusahaan berskala nasional dan internasonal, dan melaksanakan lomba-lomba wirausaha.

Melakukan pembinaan wirausaha, ada yang sebatas memberikan mata kuliah wirausaha dan, seperti yang dikatakan di atas, bekerja dengan berbagai lembaga atau instansi pekerjaan. Langkah yang dilakukan oleh berbagai perguruan inggi ini sudah bagus, paling tidak sudah memperkenalkan dan mengajak mahasiswa untuk berwirausaha, bisa menciptakan lapang kerja sendiri. Namun memperkenalkan wirausaha saat mereka di perguruan tinggi, apalagi saat mereka selesai wisuda, adakalanya sudah sangat terlambat dalam membentuk karakter berani dalam berwirausaha. Karena karakter berani terbentuk paling bagus sejak anak-anak berusia muda, paling kurang pada saat anak belajar di bangku SLTA (SMA, Madrasah dan SMK).

Program wirausaha seperti yang dilakukan oleh perguruan tinggi juga sangat tepat bila diperkenalkan di sekolah-sekolah unggulan. Selama ini kegiatan kegiatan ekstra di sekolah unggulan cendrung banyak memompa siswa dengan rumus-rumus olimpiade, pengembangan afektif dan skill hanya sebatas kegiatan otot dan seremonial; olah raga, camping, pramuka, mengikuti lomba mata pelajaran namun tetap kurang terampil dalam mengurus diri, dan masih serba dibantu di rumah. Kini sudah saatnya bagi pengelola sekolah unggulan untuk bisa mengundang para alumni dan tokoh tokoh wirausaha di kabupaten, propinsi, nasional dan kalau perlu dari level internasional untuk memperkenalkan apa dan bagaimana eksistensi wirausaha itu pada pelajar-pelar di sekolah unggulan. Kemudian sekolah-sekolah ini perlu pula untuk melaksanak kegiatan wirausaha dengan OSIS, atau sebagai kegiatan ekstra kurikuler; mengunjungi pusat-pusat kegiatan wirausaha/ industry di tingkat kabupaten, priopinsi dan nasional atau internasional. Kembali ke sekolah mereka melakukan presentasi dan bediskusi dan kalau boleh juga melakukan kegiatan wirausaha kecl-kecilan dulu. Ini dalah salah satu strategi efektif untuk memotong wabah pengangguran.

Umumnya para pelajar di sekolah unggulan memiliki semangat belajar yang tinggi dan potensi yang amat besar. Tentu sangat mudah untuk menumbuhkan jiwa berani dan jiwa berwirausaha sejak usia dini. Silahkankah mereka belajar sebanyak-banyaknya, kemudian pilihlah universitas favoritenya, selalu pelihara keberanian dan jiwa wirausaha, maka insyaalah kelak mereka bisa dengan jiwa wira usaha bias menemukan bahan bakar non fosil dalam volume besar, menciptakan perangkat computer dan laptop murah tetapi berkualitas, mendirikan bengkel prabot berskala internasional hingga mampu menyerap dan sekaligus mengatasi masalah pengangguran, mendirikan pabrik dan bengkel-bengkel kapal laut yang digunakan untuk mengolah potensi laut di tiap propinsi sehingga kita tidak perlu lagi bergantung pada orang lain atau negara lain. Kalau boleh orang lain dan negara lain lah yang bergantung pada kita. Amin.

Catatan : 1) Dan Smith (1999) The State of The World Atlas, The Unique Visual Survey of Political, Economic and Social Trends.London: Penguin Reference. 2) Didiot, Beatrice. (2001) L’etat du monde annuaire, annuaire economique geopolitique mondial. Paris: La Decouverte

Kamis, 09 April 2009

Kesadaran Pelajar Terhadap Keselamatan Diri Dalam Berkendaraan Sangat Kurang

Kesadaran Pelajar Terhadap Keselamatan Diri Dalam Berkendaraan Sangat Kurang

Oleh; Marjohan, M.Pd
SMAN.3 Batusangkar

Fenomena dalam bidang transportasi yang terlihat dewasa ini adalah pekarangan sekolah tidak lagi sekedar menjadi taman bunga, tetapi telah menjadi show room atau arena pajang bagi kendaraan roda dua/ sepeda motor milik pelajar (bagi sekolah anak-anak orang kaya mungkin yang berjejer adalah kendaraan roda empat yang berharga ratusan juta rupiah). Di sana kita bisa menemukan bermacam- macam merek sepeda motor seperti Yamaha, Suzuki, Honda, Kymco, atau nama-nama sepeda motor seperti; Jupiter, Vario, Vegar, Mio, Supra, dan lain-lain. Ini berarti bahwa sepeda motor sudah menjadi kebutuhan mereka dan orang tua sudah menganggap anak cukup matang dan sudah saatnya untuk memiliki sepeda motor. Namun apakah orang tua sudah siap mental kalau anak terjatuh, tabrakan- ditabrak atau menabrak orang dan benda lain, kemudian dibawa ke rumah sakit dan paling akhir dibawa ke kuburan ?
Pada umumnya sepeda motor sebagai sarana transport mulai digunakan oleh pelajar tingkat SMP dan SLTA (SMA, MAN dan SMK). Sayangnya mereka umumnya belum cukup umur untuk menyetir atau mengendarai sepeda motor. Banyak dari mereka yang belum memiliki izin (license) dari kepolisian. Kalau begitu mereka semuanya dapat dikatakan sebagai pengendara sepeda motor illegal. Dan memang cukup banyak pelajar yang memiliki sepeda motor legal, tetapi mereka- sekali lagi- adalah pengendara yang illegal dan berpotensi sebagai pembuat masalah di jalan raya.
Memang pada umumnya korban lalu lintas di jalan raya mayoritas adalah remaja (anak-anak sekolah dan mahasiswa). Rumah-rumah sakit pada saat event tertentu yang berhubungan dengan keramaian umum- seperti tahun baru, pada saat diselenggarakannya concert di kota, saat lebaran, saat tahun ajaran baru- sering menerima pasien ganteng- ganteng dengan anggota tubuh patah, tubuh robek, batok kepala luka atau bocor, sampai kepada tubuh yang sudah menjadi mayat. Sekali- sekali rumah sakit juga menerima pasien cantik, karena pelajar wanita juga sering menjadi korban dalam menggunakan sepeda motor.
Di mata pelajar, sepeda motor itu apakah sebagai sarana transportasi atau sarana untuk bergaya ? Jawabnya adalah sepeda motor di mata pelajar/ remaja adalah sebagai sarana untuk transport dan juga untuk bergaya. Malah sepeda motor juga sebagai sarana untuk game, untuk melakukan road race seperti game dalam play station yang sering mereka mainkan. Dan sekarang dengan kemurahan hati orang tua yang sebahagian tanpa pengawasan sudah membuat anak menjadi lakon- pelaku utama- dalam road race- ngebut- sambil pergi dan pulang sekolah. Yang bisa melaju cepat dengan kecepata 100 m/jam atau lebih itu yang jago. Yang bisa slalome, jalan mangalewa-ngalewa, untuk menghalangi teman dan juga mengganggu pengendara lain itulah yang jago jalanan. Kalau mendapat kecelakaan ya resiko dan tanggung sendiri.
Menjadi pengendara sepeda motor yang standar atau yang ideal sering dipandang kuno. Sepeda motor yang memasang dua buah kaca spion dianggap sebagai sepeda motor orang udik karena kaca spion nya ibarat dua tangan yang sedang mengemis. Menurut pandangan mereka harus diganti dan dibeli yang berukuran kecil. Mengubah bahagian sepeda motor ini disebut dengan istilah modifikasi.
Modifikasi sepeda motor adakalanya bisa memecahkan selaput gendang telinga orang lain dan kalau lepas control dari pandangan polisi lalu lintas, seperti pelajar yang berada di daerah jauh dari jangkauan wibawa polisi, mereka seenak hati memasang knalpot racing dan ngebut sambil mengepulkan suara, menganggu masyarakat sepanjang jalan. Modifikasi negatif lain adalah memasang cahaya lampu yang menyilaukan mata pengenadara lain dan pejalan kaki. Sedangkan modifikasi yang membuat kendaraan lebih ceper akan berpotensi untk terjatuh dan mencederai tubuh sendiri, namun orang tua mereka sudah restu atau tidak mengerti ?
Pengendara yang ideal adalah pengendara yang selalu membawa SIM (Surat Izin Mengemudi) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan bermotor), menjaga kebugaran tubuh dalam berkendaraan, memeriksa kendaraan sebelum berangkat dan memakai helm dan memahami serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Namun sayang semua ketentuan ini direspon oleh sebahagian pelajar dengan cara basa-basi, atau sekedar mengambil muka saja pada Bapak dan Ibu polisi.
Perhatikanlah setiap pagi atau setiap waktu, bila jalan raya dipadati oleh pengendara remaja. Bila dalam kota, semua orang menjadi pengendara sepeda motor yang santun- pengendara yang standard. Sebagian sudah menjai safety driver. Namun cukup banyak pengendara yang terpaksa santun atau pura-pura santun sekedar menyenangi hati penegak hukum- polisi lalu lintas. Namun lepas dari kontrol polisi, di wilayah jauh dari pasar atau luar kota, maka timbul prilaku pengendara motor remaja yang ugal-ugalan.
Sebahagian pelajar lebih sayang pada model rambut- punk- berdiri ibarat bulu tupai karena diberi jelly, atau model rambut wet look, atau juga karena sisiran rambut, cara pasang selendang dan jilbab (bagi pelajar wanita) sedang lagi apik. Maka mereka merasa risih kalau memakai helm, dan karena wajib memakai helm, maka helm lebih baik dipegang saja- sebagai cara waspada kalau nanti melalui wilayah polisi, cukup ditenggerkan saja sedikit di atas sisiran rambut, jangan sampai sisiran rambut jadi kusut. Karakter memakai helm secara basa basi ini dilakukan oleh penumpang yang berboncengan dan tidak memakai helm secara tidak wajar telah mendatangkan banyak korban. Mereka cendrung berkarakter sama saat melaju kencang atau ngebut.
Kita berterima kasih kepada kepolisian pada beberapa kota yang punya prinsip say no to helmet non standard. Pengendara memakai helm non standard harus disita helm nya, karena helm ini telah berpotensi membuat puluhan kepala pengendara sepeda motor jadi terkoyak dan menghantarkan mereka kepada kematian yang dipercepat.
Entah mengapa nenek moyang kita merancang jalan raya dengan ukuran lebar yang sempit. Barangkali mereka berfikir bahwa pada masa selanjutnya yang akan lewat itu tetap kendaraann tradisionil seperti pedati, dokar, pejalan kaki, sepeda, beca, motor pit dan sekali- sekali lewat bus umum. Di tahun 1960-an, 1970-an dan tahun 1980-an bentuk transportasi umum masih bercorak tradisionil. Pengguna jalan raya masih bisa merasakan kenyamanan di jalan raya. Namun dalam tahun 2000-an bentuk transportasi sudah berubah drastis. Jalan jalan sudah terasa sangat sempit karena yang lewat adalah booming nya mobil dan sepeda motor. Ada ribuan kendaraan roda empat dan roda dua dengan sopir atau pengendara yang kadang-kadang kurang sadar dengan keselamatan nyawa orang lain sudah menggilas ribuan tubuh manusia.
Jalan raya sudah menjadi tempat parade bermacam-macam merek dan jenis kendaraan. Dari mobil baru sampai ke kendaraan tua yang selalu mengepulkan asap untuk merusak paru-paru manusia. Seharusnya semakin padat jalan raya, maka pengemudi- termasuk pengendara pelajar- seharusnya berkendaraan lebih hati-hati dan pelan-pelan. Namun ironisnya sekarang banyak pengendara roda empat dan roda dua yang seolah-olah kurang punya hati nurani lagi. Mereka mengendarai kendaraan cukup kencang dan menganggap jalan-jalan ini ibarat sirkuit balapan, dan nyawa orang lain sebagai taruhannya, seolah-olah nyawa tidak berharga lagi, Hampir setiap hari ada berita tabrakan dan mungkin tiap jam nyawa manusia melayang. Oknumnya apakah sengaja atau tidak sengaja harus dihukum untuk mempertanggung jawabkan prilakunya. Namun karena keberadaan uang maka perdamaian dapat dilakukan dan nyawa seolah-olah sudah bisa dibeli dengan uang. Sebahagian besar korban lalu lintas adalah para pelajar sendiri.
Pengenadara remaja harus memahami tentang safety riding. Sekali lagi bahwa fenomena yang sering terlihat bahwa banyak pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan; ngebut, bonceng tiga, mengelewa ngelewa (slalome), mendahului pengendara lain dari sebelah kiri, sehingga mengganggu pengendara lain. Begitu juga banyak pejalan kaki yang terganggu oleh karakter pengenndara remaja, “Minta ampun ambo jo pengendara anak sikolsa kini, alah bajalan di tapi-tapi masih hampia nyo gilliang ambo- sangat disayangkan dengan karakter pengendara remaja, masih nekad melaju sampai ke pinggir jalan”. Memang demikian karakter sebahagian pelajar, kalau tidak kena tabrak ya menabrak orang lain.
Safety riding memang perlu keseriusan untuk disosialissikan di sekolah dan di rumah. Orang tua perlu commit untuk mengizinkan anak mengendara kalau sudah dibelikan kendaraan. Kalau mereka tidak taat peraturan dan cendrung menjadi raja jalanan maka lebih baik mereka tidak dibelikan sepeda motor atau dicabut lagi kepemilikan sepeda motor mereka. Sangat patut bahwa pengendara sepeda motor harus menyayangi keselamatan diri dan menyayangi keselamatan orang lain lewat prilaku bersopan santun di jalanan.

Buya Hamka Berkembang Melalui Otodidak

Buya Hamka Berkembang Melalui Otodidak

Oleh : Marjohan, M.Pd
Siswi SMA Negeri 3 Batusangkar
(Program Layanan Keunggulan)


Otodidak
Otodidak berasal dari kata ”auto” dan ”Didak” yang berarti “belajar sendiri. Kata otodidak berkaitan erat dengan pendidikan. Dan pendidikan adalah usaha manusia atau diri sendiri untuk berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi pintar, dari miskin informasi menjadi kaya dengan informasi. Tentu saja maíh banyak ekspressi lain dapat kita tambahkan disini.
Pendidikan ádalah sarana untuk menjadi pintar dan kaya dengan informasi. Bangsa kita sudah beruntung karena banyak orang yang sudah peduli dengan pendidian. Masyarakat dan orang tua sudah mulai selektif dalam memilih pendidikan dan mereka telah ikhlas ikut berpartisipasi secara moril dan materil.
Kini yang dituntut adalah pendidikan yang bermutu. De Porter (2002) mengataan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang meliputi dan mengembangkan kecerdasan berganda, menghargai unsur modalitas visual, audiotorial dan inestetik. Hasri (2004) mengatakan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dilasanakan oleh sekolah efektif dan guru yang efektif.
Pendidikan yang berkualitas adalah dambaan semua orang. Pendidian yang ideal adalah pendidian yang berimbang antara unsur kognitif (otak), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (atau afektif). Namun fenomena sekarang adalah bahwa pendidikan yang membuat anak didik untuk pintar mencari kerja. Fenomena yang didesripsian oleh media ceta dan media elektronik bahwa orang sekarang sekolah setinggi mungkin hanya untuk menjadi kaya dan mengejar posisi. Begitu posisi susah untuk diperoleh maka mereka bermimpi menjadi PNS- atau Pegawai Negeri Sipil. Karena kuota untuk menjadi PNS juga PNS, maka orang cendrung setelah menempuh pendidikan yang lama dan panjang hanya mampu menulis surat lamaran, gagal dan menjadi pengangguran.
Fenomena pengangguran sudah menjadi beban pemerintah, karena lapangan kerja mereka harus dicarikan dan mereka masih jadi beban bagi masyarakat atau orang tua yang punya anak yang masih luntang- lantung. Sebelum deretan pengangguran makin lama makin panjang, maka lebih baik fenomena penyakit pengangguran (sebagai penyakit masyarakat) dipenggal saja, misal dengan meningkatankan kepintaran berganda- multiplied intelligent lewat otodidak. Untuk ini kini perlu bercermin kepada figur- figur atau tokoh besar, mereka itu bisa jadi tokoh intelektual dan tokoh ulama. Mereka itu bisa jadi Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Corominoto, Buya Hama, dan lain- lain. Tulisan ini aan membahas tokoh yang bernama ”Buya Hamka” dengan judul tulisan adalah: Buya Hamka Sang Otodidak Sejati.

Tidak Mengenal istilah Pengangguran
Kata lain dari “pengangguran” adalah tunakarya. Tetapi kata pengangguran lebih lazim diucapkan oleh banyak orang. Terutama dikalangan orang- orang yang sedang mencari kerja atau merasa telah gagal dalam mencari kerja. Saat Buya Hamka kecil, orang orang dan Buya Hamka sendiri belum mengenal kata atau istilah pengangguran, karena pada masa itu semua orang punya pekerjaan. Pekerjaan yang populer saat itu adalah seperti bertani, nelayan, beternak, bertukang, berdagang atau sebagai buruh dan satu dua orang ada yang menjadi guru di surau (Ulama) dan guru di seolah pemerintah (penjajah). Saat itu pekerjaan diwariskan dari orang tua turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari, dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.
Pada masa itu, dalam suasana masyaraskat tradisionil,seperti yang telah diungkapkan- generasi tua peduli terhadap kelangsungan kerja generasi muda. Seorang ayah akan melatih anak laki- laki yang sudah besar untuk mengikuti dan menekuni profesi sang ayah. Dan kelak bila sudah dewasa ia boleh bekerja berdikari- berdiri di atas kaki sendiri. Itu berarti bahwa aktivitas on job training – atau magang- sudah berjalan dan malah telah mengangkar dan membudaya dalam keluarga. Begitu juga dengan kaum wanita, ibu- ibu juga melatih dan mempersiapkan masa depan anak wanita dengan memperi peran- peran sosial sebagai kaum wanita, calon ibu dan calon istri. Kegiatan menjahit, merenda, memasak, merawat adik- adik dan merawat rumah adalah bentuk kegiatan yang umum. Ini berarti nilai- nilai keterampilan dan sikap bertanggung jawab diajarkan dan diwariskan turun temurun. Orang sekarang memberi istilah bahwa telah terjadi pewarisan nilai psikomotorik dan afektif dari orang tua ke anak.
Hamka adalah akronim dari ”Haji Abdul Malik bin Abdul karim Amrulla”- lahir tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau Sumatra Barat dan meninggal di Jakarta tahun 1981- beruntung karena juga mempunyai ayah yang juga tokoh masyarakat pada saat itu. Ayah beliau adalah Syekh Abdul karim Amrullah, nama lainnya adalah Haji Rasul. Ia dikenal sebagai pelopor gerakan pembaharuan Islam atau Tajdid di Minangkabau setelah ia kembali dari Makkah- kota pusat suci umat Islam dan pusat pendidikan Islam di dunia dan saat itu orang Islam di Minangkabau bersikap fanatik buta, percaya hanya terhadap apa yang dikatakan oleh pemuka masyarakat tanpa menganalisa benar atau salah (www.ujanailmu.com.my)
Saat Buya Hama kecil nilai otak (nilai kecerdasan otak) sangat dijunjung tinggi oleh banyak orang. Namun tidak banyak orang tua yang tahu bagaimana agar anak mereka bisa menuntut ilmu setinggi mungkin, dan sikecil Hamka tentu merasa beruntung mempunyai ayah ”Haji Rasul” sebagai orang terpandang dan tokoh masyarakat pada saat itu.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ia tidak pernah memperoleh pendidikan formal seperti SLTP, SLTA apalagi pendidian di Perguruan Tinggi. Untuk memperoleh ilmu ia hanya melakukan otodidak. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka melalui kebiasaannya melakukan otodidiak- belajar mandiri- mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. (http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah)
Kegiatan otodidak Buya Hamak, membaca dan menulis berbagai bidang disiplin ilmu- filsafat, pendidikan, agama, kebudayaan, politik dan lain-lain- membuat Hamka mampu memahami permasalah dalam bidang kehidupan ini. Dalam hidup nya Hamak tanpa ia sadari telah menjalani banyak bidang kehidupan.
Sebagai politikus, kegiatan politik Hamka berawal pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Dalam hidupnya Buya Hamka sempat melalui multi karir atau multi kegiatan. Ia aktif dalam bidang keagamaan dan politik, dan selain itu Hamka juga sebagai seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
Hamka juga dikenal sebagai Tokoh Budaya atau Budayawan karena beliau mampu menghasilkan banyak karya ilmiah dalam bidang agama Islam, dalam bidang kebudayaan dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Otodidak Buya Hamka dalam bidang menulis membuat beliau mampu melahirkan puluhan buku yang dibaca orang di seluruh pelosok nusantara- malah juga di baca oleh bangsa – bangsa Melayu. Tokoh- tokoh pendidik di Universitas tekremuka memonitor dan menilai hasil- hasil karya tulisnya. Untuk itu Buya Hama menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan dari negara Mesir, kerajaan Malaysia dan juga dari dalam negeri ita, Indonesia. Maka Universitas al-Azhar, 1958 menganugerahinya Doctor Honoris Causa,; Doktor Honoris Causa juga diperoleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. (http://www.mail-archive.com/rantau-net@groups.or.id/msg01582.html)
Buya Hamka Sebagai Inspirator
Kini Buya Hamka sudah tiada, karena beliau sudah berpulang ke haribaan Allah. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan bangsa, negara dan agama.
Namun sekarang ada fenomena dalam kehidupan yaitu populasi generasi muda yang menempati posisi sangat mayoritas dalam piramida demografi kependudukan di Indonesia. Mereka adalah anak- anak muda, remaja dan pelajar yang sangat sibuk menumbuh kembangkan potensi diri. Setiap saat selalu mencoba dan mencoba untuk mencari identifikasi diri, mereka selalu merenung dan berfikir untuk menemui figur yang sangat pas untuk diadopsi dan ditiru dalam rangka membentuk karakter diri sendiri.
Generasi muda yang jumlahnya jutaan jiwa itu dapat kita umpamakan sebagai koloni serangga yang beterbangan di malam hari mengejar sinar yang dipancarkan oleh figur- figur orang orang besar dan orang orang ternama di Indonesia (malah bisa jadi juga orang terkenal di level dunia). Figur atau tokoh yang memancarkan sinar popularitas yang kuat pastilah mampu menarik banyak anak- anak muda untuk menjadikan mereka sebagai idola atau sebagai panutan (model) bagi hidup.
Dalam satu generasi yang lalu sampai kepada dua puluh tahun yang silam, yaitu tahun 1970-an dan 1980-an, agaknya cahaya tokoh intelektual, juga tokoh agama, masih memiliki sinar yang terang untuk menyinari generasi muda di Indonesia. Begitu juga bagi generasi pada zaman sebelumnya. Sebut saja generasi di tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, saat anak- anak muda dan para pelajar Minangkabau masih tidur di surau, mereka sebelum tidur selalu bermimpi ingin menjadi orang hebat- menjadi tokoh intelektual- seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Buya Hamka, Haji Agus salim, dan lain- lain. Di saat senggang mereka bercengkrama dan berdialog sampai separoh bertengkar mempertahankan reputasi figur idola mereka kalau di rendahkan oleh lawan bicara. Tentu saja mereka juga rajin untuk mengumpulkan kliping tulisan yang mempublikasikan figur tersebut dari majalah dan koran- koran, atau mereka mencari buku biografi tentang orang ternama lain untuk perbendaharaan wawasan mereka lewat meminjam, dari pustaka atau membelinya di toko buku. .
Rata- rata generasi muda (baca: anak sekolah) pada masa itu yang menjadikan tokoh intelektual sebagai panutan mampu membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang berkualitas. Tidak saja kualitas untuk kognitif, tetapi juga kualitas untuk sikap, prilaku, akhlak sampai kepada kualitas kecakapan hidup lainnya. Walau istilah quantum quotient- kepintaran berganda, belum dikenal saat itu namun dalam kenyataan mereka telah memiliki pribadi dengan kecerdasan berganda secara tak langsung. Maka tidak heran kalau rata- rata remaja- sebagai calon intelektuak saat itu- mampu tumbuh menjadi orang yang sukses dan terpandang dalam masyarskat. Bukti itu masih terlihat bagi mereka yang berkarir pada tahun 1970 an dan 1980 an.
Dapat dikatakan bahwa figur tokoh intelektual dan juga tokoh agama yang ada di Indonesia pada saat itu betul- betul memiliki kekuatan dan mampu memberikan model atau panutan bagi generasi muda pada masa itu. Suara, tulisan dan kehadiran mereka selalu ditunggu tunggu setiap saat. Dan adalah juga menjadi tradisi bagi tokoh intelektual pada masa itu untuk banyak meleburkan diri dengan anak- anak muda. Mereka turun ke bawah, ke surau, ke langgar dan ke sekolah untuk menemui generasi muda atau orang- orang yang mengidolakan mereka. Mereka tidak sibuk meleburkan diri dengan proyek yang ujung- ujungnya untuk menebalkan dompet. Karena pada masa itu yang bernama proyek demi proyek memang juga jarang.
Tokoh- tokoh intelektual ukuran lokal pun juga mempunyai arti bagi anak- anak muda pada masa itu. Mereka juga mempunyai andil atau peran lewat model atau figur yang mereka miliki untuk menggerakkan semangat, dan motivasi mereka untuk maju dan berkembang. Kultur yang tinggi dan karakter yang baik pada diri mereka mampu menular kepada generasi muda pada masa itu. Sehingga saat itu mungkin istilah tawuran masal dan istilah kenakalan remaja belum terdengar segenjar sekarang.
Pada masa itu tokoh intelektual masih punya agenda rutin untuk melakukan turba atau turun ke bawah. Sebutlah Buya Hamka, sebagai contoh, sebelum meninggalnya di tahun 1980, dalam tahun- tahun sebelumnya selalu punya agenda untuk turun dan berbagi fikiran dan pengalaman (berdakwah), tanpa protokoler seperti intelektual sekarang, kepada masyarakat yang berada di lapis bawah yang sudah menunggu di mesjid di daerah tingkat dua. Tokoh agama dan tokoh intelektual dirasakan sebagai milik masyarakat, bukan sebagai miliki kampus, milik perkumpulan atau kaum elit.
Adalah fenomena pada saat itu bahwa tokoh intelektual membuka pintu rumahnya lebar- lebar untuk banyak orang, tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Mereka berbicara hati ke hati secara langsung dan bukan dari jauh lewat seminar atau workshop. Karena pada masa itu kegiatan seminar dan workshop belum segencar sekarang. Sekarang hanya kalangan tertentu saja yang bisa berbagi pengalaman dengan tokoh intelektual, dan tempatnya pun harus di lokasi seminar yang ujung- ujungnya hanya untuk orang yang berduit dan orang yang mengharapkan selembar sertifikat untuk sertifikasi atau keperluan naik pangkat.
Awal tahun 1980-an adalah era televisi mulai merangkak dan hadir ke tengah masyarakat Indonesia. Televisi pada mulanya punya visi dan misi suci yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan juga sebagai corong komunikasi dari pemerintah untuk rakyat. Lambat laut peranan televisi- si kotak ajaib, tadi memberikan fungsi dan peranan ganda. Yaitu sebagai media pendidikan dan hiburan. Bila porsi fungsi ini masih berimbang- fifty- fifty antara hiburan dan pendidikan- maka tentu ini tidak lah menjadi masalah. Yakni selagi masih berada dalam koridor kebudayaan Indonesia. Namun entah mengapa, entah siapa yang memulai (tentu saja orang yang mempunysi duit dan mengusai dunia komunikasi) maka porsi televisi sebagai hiburan sudah semakin menciut. Malah sekarang di tahun 2000 an ini, dapat dikatakan bahwa fungsi televisi adalah banyak sebagai benda penghibur untuk anggota masyarakat.
Kalau dahulu televisi dipandang sebagai benda lux atau kebutuhan mewah, maka sekarang ia telah menjadi kebutuhan primer, seperti hal-nya kebutuhan terhadap sandang, pangan dan papan. Dan sering ditemui rumah- rumah kumuh atau gubuk yang agak reot tetapi pemiliknya mampu mempunyai televisi berwarna- walau itu adalah pemberian kaum kerabat mereka. Karena kini televisi telah berubah fungsi menjadi teman untuk memecah kesepian dan sebagai babby sitter untuk menemani anak selama berjam- jam walau dengan seribu satu dampak yang ia berikan.
Sekarang para pebisnis tahu betul bahwa untuk bisa berdagang dan meraup laba sebanyak mungkin dari lapisan masyarakat maka televisi bisa menjadi media massa yang andal. Maka dalam masa satu atau dua dekade saja, belasan stasiun televisi pun bisa bermunculan di bumi Indonesia. Kehadiran televisi sekarang bukan punya niat untuk mendidik tetapi banyak punyas niat untuk menghibur (sambil menyuguhkan budaya baru sebagai pilihan).
Kehadiran televisi dalam keluarga, tidak memupuk budaya belajar, malah menyuburkan budaya menonton. Anak anak muda menjadi lebih suka menonton dari pada membaca. Selama ini pribadi tokoh intelektual hanya bisa ditemui lewat kebiasaan membaca. Budaya menonton membuat mereka tidak bisa kenal dan malah makin jauh dari figur intelektual, karena mereka sendiri membenci hobi membaca.
Agar program komersial dan hiburan televisi makin laku dan makin mampu bersaing sesama mereka- stasiun televisi- dan mampu merebut hati remaja dan generasi muda (yang tidak suka atau separoh suka membaca) maka pemilik stasiun televisi yang jumlahnya belasan menghadirkan sosok figur yang ramah tamah, cantik, menarik dan penampilan nyentrik. Mereka ini belakangan akrab disebut atau disapa sebagai kaum selebriti. Mereka terdiri dari bintang film, bintang sinetron , artis, penyanyi, presenter atau bintang iklan, atau mungkin ada dari grup lain dengan istilah lain pula.
Para selebriti, kehadiran mereka sungguh sangat mempesona dan kelincahan mereka dalam menjual pribadi yang dipoles oleh hal- hal yang bersifat imitasi- tiruan dan penuh kepalsuan- mampu membuat mereka menjadi kaya dalam sekejam mata. Sehingga ini menjadi inspirasi bagi penonton televisi. Pada mulanya pribadi atau pesona selebriti ini hanya memberi inspirasi kepada kaum remaja yang memang sedang deman mencari figur atau identifikasi diri. Lambat laun pesona penampilan selebriti ini merebak kesemua lapisan masyarskat.
Pada mulanya hanya kaum remaja sajalah yang tampil dan berperilaku mirip artis atau selebriti yang mereka tonton di laya kaca, cara berpakaian, cara ber make-up, cara berbicara, cara bersopan santun. Namun sekarang pria dan wanita setengah baya pun banyak yang tampil lebih glamour dari pada selebriti itu sendiri- memakai rambut berwarna, celana ketat, lensa kontak, muka dipermak, atau bagi pria memakai celana model melorot, merek pakaian musti trendy dan sampai mereka melangkah menjauhi mode dari kebudayaan sendiri.
Maka inilah fenomena yang kini terjadi, saat pesona selebriti mengalahkan popularitas dan pengaruh tokoh inteletual, telah mengakibatkan generasi muda tumbuh menjadi generasi kebingungan, generasi yang tercabut dari akar budayanya. Fenomena kebingungan generasi muda ini bisa diatasi apabila tokoh intelektual mempopulerkan lagi reputasi mereka. Kini kita- pelajar bermohon sangat kepada piha pengelola media masa- media eletronik dan media cetak, para pendidik, educational staeholder untuk membimbing pelajar memahami dan mengenal figur Buya Hamaka (dan juga Tokoh tokoh bangsa yang lain) agar kami (kita) menjadi bangsa yang cerdas, beragama dan bermatabat.

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...