Sabtu, 19 Januari 2013

Jangan Menyalahkan Masa Lalu



Jangan Menyalahkan Masa Lalu

1.Makna Figur Ayah bagiku
Cukup lama aku merasa surprised atas diriku. Surprised karena aku mampu meraih guru berprestasi  peringkat 1 kategori guru SMA tingkat nasional,. Pengumumannya tanggal 12 September  bulan lalu (1012). Surprised ini makin hebat saat mengingat bahwa aku sendiri bukan berasal dari keluarga utuh, dan bukan pula dari keluarga yang kurang mengenal akan makna dari pendidikan.  Jangankan  memperoleh  kehangatan perhatian dari orang tua, malah yang aku alami adalah minusnya perhatian dari ayah dan ibuku.
Aku sempat  8 tahun  tidak berjumpa dengan ayah. Setelah 8 tahun  aku ditelpon agar segera menuju rumah sakit M.Jamil Padang. Sebelumnya aku juga telah lama tidak berjumpa dengan ayah yaitu ada selama sepuluh tahun pula. Itu berarti bahwa aku kehilangan figure ayah selama belasan tahun dan berarti masa anak-anak dan masa remajaku hampa dari sentuhan dan kasih sayang seorang ayah.
“Apakah ayahku seorang pria yang sibuk ? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya”.
Ternyata aku masih punya memori dengan ayah. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, sekitar tahun 1970-an, aku dibawa ke Padang, ke kampung ayah, di  Nagari Koto tangah Lubuk Minturun- Padang. Saat itu transportasi publik belum begitu lancar, aku dan ayah berjalan kaki dari pasar Lubuk Buaya menuju Ikur Koto, terus ke rumah nenek.
“Wah... jauh sekali rasanya…dibalik hamparan perkampungan orang dan sawah”. Yang aku ingat adalah kebahagiaan bersama ayah pada di awaln masa remajaku  saja. Aku ingat dengan  perjalanan yang terasa  merasa tersiksa karena kakiku merasa capek dan pegal-pegal. Namun aku bangga dan senang karena bisa  jalan bareng dengan ayah. Meskipun aku harus berpacu untuk mengikuti langkah ayah yang panjang.
Aku hampir menangis dan hampir rubuh karena harus berjalan menuju ujung jalan yang amat jauh. Aku ingin saat itu bisa naik sepeda atau bisa digendong oleh ayah. Namun aku tidak terbiasa bermanja- manja. Akhirnya aku (kami) sampai juga di rumah nenek. Di sana aku jadi tahu tentang cerita ayah dan saudara- saudaranya.
Ayah adalah anak laki-laki satu-sarunya dari ia memiliki 3 orang saudara perempuan. Diperkirakan ayah termasuk anak yang manja. Namun ternyata tidak, malah waktu kecil ayah termasuk anak paling bandel, tetapi berani. Hingga ia pernah diusir atau lari dari rumah.
Aku amat senang mendengar ayah bercerita tentang masa kecilnya. Suatu hari ayah pulang sekolah dengan perasaan lapar. Namun nenek mengatakan bahwa tidak ada makanan buat dimakan. Dalam hati ayah merasa kurang yakin. Maka diam-diam ia mencari-cari dan ternyata ia  menjumpai ada makanan dan gulai rendang tersembunyi.
 Merasa dibohongi, maka ayah menghabiskan semua gulai rendang  tadi. Namun karena merasa jengkel  ayah melumuri sprei kasur dengan saus/ cabe dan sisa makanan. Melihat  kelakuan  ayah yang brandal demikian maka  nenek menjadi marah besar. Ayah dikejar dan mau dipukul. Ayah juga merasa sangat ketakutan yang hebat hingga ia melarikan diri menuju rumah keluarga yang lain yang berlokasi di sebuah desa dekat kota Padang Panjang.

2. Tidak Guna Menyesal
Ayahku  tumbuh jauh dari orang tuanya. Dalam pelariannya, ayah memperoleh banyak pengalaman. Ia pernah belajar sebagai pandai emas atau tukang emas di kota Padang Panjang. Diceritakan bahwa saat muda, ayah juga pernah ikut pergi berdagang ke Tanjung Pinang- Kepulauan Riau. Tentu saja ayahku harus berperilaku baik selama tinggal dengan orang lain.
Dalam masa remaja, ayah mencoba untuk pulang ke kampungnya ke Padang, saat itu ia masih memendam rasa takut. Ternyata orang tua dan semua familinya sudah kangen dengannya. Kedatangan ayah, sebagai anak yang hilang, disambut dengan penuh suka cita. Selama tinggal di kampungnya lagi - dengan nenek dan kakek, tentu ayahku tidak perlu bekerja keras, karena kebutuhan makan dan minum bisa diperoleh dari orang tuanya.
Dalam masa remaja, tentu saja ayahku memiliki teman khususnya. Dan yang aku masih ingat bahwa  dia jatuh cinta dengan gadis satu kampungnya. Ayah menikah dalam usia yang sangat muda- pernikahan dini.  Dari perkawinannya, ayah memperoleh seorang anak perempuan. Dari sejarah hidup ayah, aku tangkap kisahnya bahwa ayah kurang memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga sebagai suami.
Barangkali itu adalah gara-gara factor ekonomi atau keuangan. Ya akhirnya ayah ku bercerai dari istri pertamanya dan ia segera menjadi duda dalam usia remajanya. Dan ayahku termasuk orang yang  gampang jatuh cinta. Ia  jatuh cinta lagi dengan seorang perempuan. Perempuan kedua yang hadir dalam hati ayah juga berasal dari Padang. Perkawinan ayah yang kedua tidak berlangsung lama, hanya seumur jagung. Namun sedikit lebih lama dari pernikahannya yang pertama.
Lagi-lagi  seorang suami, ayah belum bisa mencukupi kebutuhan buat rumah tangganya dan pasti mereka sering cekcok dengan antara ayah dan istri keduanya. Ayah orangnya bersifat keras kepala dan sensitive. Dalam hidupnya ia sempat tumbuh dalam pemanjaan, namun  ayah  kurang  dilatih/ diajari tanggung jawab.
Satu hari ayahku dan istri keduanya naik kereta api menuju Bukittinggi. Selama dalam perjalanan telah terjadi perbedaan pendapat dan mereka terlibat cekcok. Klimaks pertengkarannya terjadi di Kayutanam, sebuah kota kecil tidak jauh dari Padang Panjang. Di stasiun persinggahan, kereta api berhenti dan ayahku ngambek dan  “mengatakan good bye” selamat tinggal selamanya untuk perkawinannya yang kedua. Begitu mudah bagi ayahku menikah, begitu muda bercerai dan meninggalkan/ melupakan anak-anaknya.
“Wah aku tidak perlu menyalahkan siapa- siapa dalam kisah nyata ayah itu, itu bisa menjadi guru bagiku dan agar aku tidak mengulang kegagalan perkawinan ayah buat perkawinanku kelak”.
Ya kembali ayahku bertualang dalam hidupnya. Akhirnya ayahku pun  ikut-ikutan masuk kelompok militer liar. Ayah kemudian tercatat  sebagai tentara pemberontak melawan pemerintahan pusat, ia pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen untuk membentuk negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ayahku bergerilya untuk melawan pemerintahan yang syah, ia dan grupnya bergerak  hingga sampai ke Lubuk Alung. Di sana ia jatuh cinta lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah ibuku sendiri.
Saat itu ibuku  berstatus masih punya suami, seorang tentara resmi pemerintah Indonesia. Namun suami ibuku  sudah satu tahun tidak pulang-pulang karena ia pergi bertugas ke daerah Jambi.
“Wah…ibuku terlibat cinta dengan seorang pria. Kelak pria tersebut  adalah sebagai ayahku. Mereka jatuh cinta dan tentu saja semua family tidak setuju- karena status ibu masih sedang bersuami- hingga akhirnya berita cinta segitiga ibu tercium oleh suaminya. Akhirnya ibu diberi surat cerai- diberi talak tiga. Ibu sangat bersedih dan ibarat berjalan di awang-awang, namun ibu juga sangat gembira dengan kekasih barunya- yaitu calon ayahku”.
Tampaknya ibu dan ayah tidak bisa dipisahkan, ya ada gula ada semut rupanya. Mereka menikah dan selanjutnya hidup sebagai suami istri. Saat itu ibuku juga telah punya 3 anak dari perkawinan sebelumnya- namun ibu juga menikah dalam usia yang amat muda. Anaknya yang tua saja memanggil “kakak” padanya. Saat itu ayah berhenti sebagai tentara pemberontak, karena tidak ada jaminan financial dan ayah juga sebagai pria pengangguran. Namun ibuku termasuk wanita yang kreatif dan mandiri. Ia mengajak ayah untuk berdagang makanan dan pada hari-hari senggang menjadi nelayan di sepanjang aliran sungai Batang Anai yang mengalir melintasi Lubuk Alung.

3. Saat Kelahiranku Ke Dunia
Kata ibu bahwa saat aku lahir, rezki mereka melimpah. Kalau berdagang ya…laris, kalau menangkap ikan…hasilnya berlimpah. Kata ibu bahwa saat aku lahir ..ayahku memperoleh nasib baik. Karena isengiseng ia mendaftarkan diri untuk masuk ke dalam rekruitmen Kepolisian RI, seputar tahun 1965 atau 1966 dan ia  lulus menjadi polisi. Itulah maka aku memperoleh perlakuan sedikit ekstra baik oleh ibu. Aku tidak boleh dimarahi terlalu kasar oleh ayah.
Ayah mengikuti  program pendidikan Kepolisian di daerah Padang Besi dekat kota Padang. Akhirnya ayah diangkat menjadi polisi di Resor Kepolisian 303 Kota Payakumbuh.  Hidup kami terasa berubah dan kami semua diboyong pindah  ke sana. Kehidupan pun berobah. Ibuku menjadi  istri prajurid Polisi dan juga tetap menjadi wanita yang mandiri. Ia mengasuh kami dan juga membantu karir ayah sebagai polisi.
Ibu cukup pintar mengelola keuangan, walau pangkat ayah kecil, kami tidak pernah kekurangan uang. Ibu punya ternak unggas- itik dan juga ternak ayam. Kalau ada uang, ibu paling senang menabung dalam bentuk emas. Kalau berpergian, aku sering melihat tubuh ibu dihiasi oleh banyak perhiasan emas.
Dalam hidupnya, sebagai polisi berpangkat rendah, ayahku cukup pintar. Ia juga membuat usaha bisnis dengan teman-temannya. Sambil bertugas sebagai polisi, ayah juga berbisnis ternak ayam, bisnis daging sapi, bisnis penebangan kayu untuk diekspor- kegiatan ini kemudian disebut sebagai kegiatan “illegal loging atau penebangan liar”.
Aku rasa bahwa ayahku cukup hebat. Meski berpangkat sebagai prajurid Polisi namun  waktu aku kecil aku melihat bahwa ayahku juga memiliki sebuah truck, mobil Chevrolet dan rice milling. Namun aku tidak pernah tahu bagaimana caranya ayah memperolehnya.
Saat aku kecil hingga remaja, aku jarang melihat ayah berada  di rumah. Kalau aku tanya “Ayah pergi kemana”. Maka jawabnya adalah bahwa ayah pergi mencari rezeki/ mencari uang.
 Ya kalau di rumah ia cuma banyak tidur. Seharusnya ayah mengajak kami atau menemani kami dalam belajar. “Ah lagi lagi aku tidak suka menyalahkan masa lalu itu”.
Suatu ketika  aku ingat, aku diajak ayah naik sepeda motor sejauh 120 km, dari kotya Payakumbuh menuju Padang. Aku berbonceng dibelakang ayah dan berusaha untuk tidak mengantuk dan khawatir bisa terjatuh dari sepeda motor. Saat itu merupakan sebuah perjalanan yang eksotik bagiku. Namun aku paling bosan menunggu ayah yang ngobrolnya dengan temannya kelewat lama. Aku juga senang kalau diajak ayah ke tempat teman-temannya karena aku pasti bakal dikasih oleh-oleh dan uang yang banyak.
Ada satu hal yang aku suka protes. Yaitu bahwa ayah kurang mendukung proses pembelajaranku di rumah.Padahal aku sendiri anak yang sangat rajin dalam belajar Suatu hari aku tengah asyik belajar di rumah dan ayah dengan grupnya datang hendak bermain domino. Aku pasti terganggu dengan suara dan suasana yang bukan  budaya yang aku, lantas aku protes, aku lempari atap rumah dengan batu bata, agar mereka berhenti mengganggu ku. Sebagai protesku yang lain adalah aku mengempeskan motor- motor teman ayahku, agar mereka jera datang dan menggangguku dalam belajar. Untung  ayahku tidak pernah marah pada ku hingga ia pindah tempat ke tempat lain. Atau ia paham bahwa aku butuh ketenangan dalam belajar.

4. Prahara Dalam Rumah Tangga
Ternyata ibuku lebih tua usianya beberapa tahun dari ayahku dan api cinta mereka mulai meredup dan rumah tangga mereka sering cekcok. Hari-hari yang ku lihat dan ku dengar adalah percekcokan ayah dan ibu. Pernah ayahku marah sambil mengacungkan revolver (pistol) pada ibu. Dan aku pun juga pernah main main pistol dan secara tidak sengaja meletus….dor… dan untung aku tidak menembak kakakku. Sejak itu, pistol dijauhkan dari jangkauanku.
Maka aku dan saudaraku yang lain dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cekcok- broken home- sepanjang hari. Aku masih ingat bahwa saat aku duduk di bangku SMP di kota Payakumbu bahwa aku sendiri selama dua tahun lari dari rumah. Aku  memilih tinggal jauh dari rumah dan begitu juga dengan kakakku.
“Aku tinggal di rumah temanku dan orang tua temanku bisa menerimaku”
Untung saja nilai pelajaran ku tidak begitu jelek dan tidak terjebak dalam menghisap obat terlarang. Malah walau aku berasal dari rumah yang broken home, aku pernah beberapa kali juara di kelas dan selebihnya masuk nilai tujuh besar dalam kelas.
Hubungan cinta ayah dan ibu makin genting, karena ada wanita lain hadir dalam hidup ayah. Pernah suatu kali ibuku lari ke Jakarta dan menelantarkan kami anak-anaknya. Namun family yang di Jakarta memberi ibu nasehat agar bersabar dan itu juga demi anak-anak- biarlah ayah berkarakter demikian asal keuangan tetap lancar. Lagi-lagi aku tidak akan menyalahkan ayahku.
Masa depan dan studiku ku saat itu merasa terancam, namun untung ibu bisa bersabar dan mencari mkesibukan hingga bisa melupakan problem hidupnya. Ibuku juga pintar menabung dan ia memiliki cadangan emas untuk membiayai kuliahku. Aku takut memilih jurusan dan universitas yang bakal menghabiskan banyak dana dan waktu yang lama. Aku memilih kuliah di Padang saja, dan batal untuk kuliah ke pulau Jawa.
“Aku masih ingat  bahwa andai suatu hari ibu dan ayah nyaris bakal bercerai dan kami bakal berpisah-pisah dalam pengasuhan berbagai family. Hubungan cinta ayah dengan wanita lain makin menggila. Ia malah pergi jauh dari rumah dan hidup bersama wanita yang baru. Demi keselamatan pendidikan aku, maka aku  menjadi masa bodoh dengan urusan pertengkaran ayah dan ibu”.
Akhirnya aku bisa kuliah di Universitas. Aku  juga harus bisa  mengembangkan diri. Ini berguna  agar aku bisa tumbuh menjadi pria  mandiri kelak bila selesai kuliah. Aku bekerja sambil kuliah. Aku mendaftar untuk  menjadi pemandu wisata Sumatera Barat. Aku juga  memberi lest privat bahasa Inggris untuk anak-anak orang yang berduit. Untuk keuangan aku tidak memperoleh kesulitan. Aku memperoleh uang yang cukup dari orang tua dan aku juga dapat uang sendiri, aku bisa menabung dan aku suka membeli cincin emas sebagai tabungan karena harga emas sangat standar.
Perkawinan ayah dan ibuku kandas sudah, ibuku sering sakit dan terlihat sangat sengsara. Aku menemui bahwa  ibu sering   menangis dan meratap sebagai istri yang dibuang oleh suaminya. Namun itu sudah menjadi pemandangan biasa bagiku- kadang kadang aku juga membujuk ibu bahwa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan.

5. Aku Sempat Kehilangan Sosok Idola
Aku bisa melepaskan diri dari keruwetan rumah tangga- broken home. Sejak ayahku punya wanita simpanan dan suka cekcok dengan ibu maka aku merasa kehilangan idola/ figure ayah. Ada pengaruhnya terhadap jiwaku, pada mulanya aku sedikit jadi sulit jatuh cinta. Namun aku menguasai emosiku hingga aku bisa memperoleh cinta lagi dari seorang gadis yang cantik menurutku namun punya karakter yang sederhana.
Akhirnya bantuan keuangan ayah untuk ibu nyaris putus. Sehingga ibuku pernah menjadi buruh pada rumah tetangga. Untung aku segera lulus dari Perguruan Tinggi dan segera punya pekerjaan. Gajiku aku tabung dan juga aku gunakan untuk membantu ibu. Ibu akhirnya ditinggal pergi oleh ayah. Aku melarang ibu untuk berduka dan menangis.
“Tidak ada gunanya mak banyak menangis dan meratapi nasib karena mak  masih punya anak- anak yang baik dan bisa mengabdi ke orang tuanya”.
Ibuku akhirnya bosan untuk bersedih namun ia terlihat  menjadi wanita yang nestapa> Ia  memutuskan untuk kembali ke kampung ke Lubuk Alung. Ia berniat untuk mengisi hari-hari berikutnya dengan hal-hal yang berarti – pergi ke mesjid dan berbagi cerita dengan teman-teman seusianya. Dengan cara tersebut ibu bisa  mengobat hatinya yang terluka gara-gara cinta ayah yang lenyap dari kalbu ibu. Ibupun bisa menjadi tegar sekali dalam hidupnya,
“Aku sendiri tiap bulan datang berkunjung dan juga ikut berbagi rezki dengan ibu. Ibu bersyukur, walau cintanya hancur namun lima orang anak anaknya bisa memperoleh masa depan, bisa bekerja dan juga lulus dari perguruan tinggi atau juga tamatan SLTA”.
Kami semuanya patungan untuk menghidupi ibu dan membiarkan ayah dan gajinya untuk bersenang- senang di tempat kerajaan cintanya. Sejak masa remajaku hingga aku menginjak dewasa aku tidak lagi berjumpa dengan ayahku selama belasan tahun- kami tidak ingin mencari ayah dan sudah mengikhlaskan ayah untuk hidup senang pada istana cintanya yang baru. Dari dalam hati bahwa ternyata aku cukup rindu dengan cerita- cerita ayah. Namun suatu hari aku memperoleh berita/ telepon:
 “Harap segera datang” sangat penting. Bahwa ayah tersungkur dan koma, dilarikan ke rumah sakit M.Jamil Padang”.
Kami segera berkumpul menuju rumah sakit di Padang. Perjalananku dan saudaraku yang lain dengan mobil travel terasa lambat dan sunyi menuju rumah sakit. Setelah dua jam kami tiba di gerbang rumah sakit setelah maghrib. Aku mencari tahu di mana posisi ayahku “Kamaruddin Usman”. Akhirnya aku menemui ayah pada pada sebuah ruangan ICU, aku diizinkan masuk. Aku mendapati ayahku dalam keadaan koma. Ajaib bahwa saat kami datang/ masuk ayah sempat membuka matanya melihat kami dan menangis namun setelah itu mata ayah terpejam. Malah mata ayah terpejam buat selamanya.
 Ayah masih bernafah, namun agak  susah payah. Perlu  dibantu oleh oksigen luar. Kadang-kadang air matanya bercucuran- barangkali ayah menyesal yang mendalam namun sudah tidak bisa berucap. Kami harus memafkan dan kami tidak marah dan dendam pada ayah. Buktinya kami masih datang dan memberi ayah ciuman.
‘Tidak perlu menyalahkan masa lalu, tidak ada gunanya berjiwa kerdil. Kisahnya nyata ini aku ungkapkan untuk memberi hikmah- yaitu jangan pernah manyalahkan masa lalu”.
Aku berada di rumah sakit hampir sepuluh hari. Itu berarti ayahku dalam keadaan koma juga sudah sepuluh hari. Kami yakin bahwa ayah tidak bakal sembuh lagi maka kami memberi khabar kepada family di kampung ayah bahwa kalau tiba khabar jelek “ayah meninggal” maka harap segera dipersiapkan kuburan buat ayah disebelah kuburan nenek.
Akhirnya ayah dinyakan meninggal dunia. Aku bingung apalagi saat itu juga ada anak kecil usia  5  tahun menangis mendekati mayat ayahku, aku berfikir “Siapa sih bocah kecil yang juga ikut menangis”. Ternyata ia adalah bocah kecil hasil cinta ayah dengan wanita simpanannya. Aku akhirnya memeluk bocah kecil tersebut dan ikut menghiburnnya bahwa aku adalah kakak satu ayah dengannya. Aku usap air matanya dan kami bawa jasad ayah ke kampungnya.
Hari-hari terasa sunyi. Setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan ayah dan bercanda dengan ayah maka aku jumpai ayah saat sudah mau sekarat terbujur jadi mayat. Sore itu langit mendung, aku ikut mengantarkan jasad ayah ke dalam kuburannya di Desa Lubuk Minturun dekat Padang. Aku amat sedih dengan kepergian ayah. Aku juga ikut mengakat dan meletakan jasad ayah ke dalam liang lahatnya. Tubuh ayah masih berisi kekar dan gagah. Aku mengingat- ingat hari indah bersama ayah dan melantunkan doa pada Sang Khalik buat memafkan ayahku.
 “Tuhanku…maafkanlah ayahku….sayangilah ayahku…” Aku ikhlas sekali melepas ayah hingga airmataku dengan mudah meluncur membasahi pipiku. Saat itu dalam mpenghujan dan tiba-tiba hujan turun lebat, membasahi bumi dan airnya tumpah ke dalam kuburanm ayahku. Aku dan saudaraku yang lain tetap menyelesaikan penimbunan tanah kuburan ayahku- air mataku lenyap bersama derasnya air hujan.
Malam itu aku tidak bias tertidur. Fikiranku melayang jauh bersama memoriku, pengalaman indah tentangku dan ayahku bergulir lagi. Walaupun bagaimana karakter ayahku, ia adalah tetap pahlawan terbaik bukan aku dan saudara- saudaraku. Aku ajak ibu untuk memaafkan ayah.
“Ibuku maafkanlah ayah karena aku dan saudaraku yang lahir adalah karena adanya engkau dan ayahku”. Aku tidak pernah tahu bahwa apakah ibu memaafkan ayah atau tidak namun buatku ayah adalah pahlawan ku dan aku tetap mencintai ayahku.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture