Sabtu, 19 Januari 2013

Mengikuti Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional 2012



Mengikuti Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional 2012

            Tiba- tiba aku  memperoleh pesan singkat (SMS) bahwa juri pemilihan guru berprestasi  Propinsi Sumatera Barat (Bapak Hasponizar dari LPMP Padang dan Bapak Jufri dari UNP) akan mengunjungi para nominasi guru berprestasi ke tempat tinggal mereka. Masing masing adalah Nurlaila (SMAN 1 Suliki- Kab. Lima Puluh Kota), Musniar  dari SMAN 1 Bukittinggi  dan Marjohan- aku sendiri (dari SMAN 3 Batusangkar).
            “Dewan juri datang ke sekolahku. Mengapa mereka datang dan buat apa harus berkunjung ke sekolah dan ke rumahku?”
            Kedatangan tim juri adalah untuk klarifikasi dan pembuktian prestasi seperti yang terdapat dalam portofolio. Seperti halnya padaku, dewan juri ingin mengumpulkan informasi tentang seberapa jauh prestasi dan kontribusiku buat anak-didik, sekolah, buat keluarga dan tetanggaku.
Sebagai guru Bahasa Inggris, aku dan teman membimbing siswa dalam kegiatan ekskul debat bahasa Inggris. Sebagai hasil siswa-siswa kami mampu meraih prestasi/ juara sampai ke tingkat Kabupaten dan juga tingkat Propinsi.
“Apakah itu saja ?”
Tidak....dan aku sendiri juga membimbing siswa/ grup LPIR dan siswa yang aku bimbing sering meraih juara hingga tingkat Propinsi dan Tingkat Indonesia. Juri juga mencari tahu tentang prestasiku yang lain dari teman-teman guru atau kolegaku dan juga dari siswa serta dari informan lain. Al-hasil aku dinyatakan sbagai pemenang 1 (satu) guru berprestasi tingkat Sumatera Barat. Penyerahan sertifikat dan hadiah dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2012 (Hari Kemerdekaan Republik Indonesia). Untuk selanjutnya aku dan juga ada beberapa orang lagi sebagai utusan Sumatera Barat untuk mengikuti seleksi pada level nasional. Aku akan menulis semua pengalaman tersebut pada paragraf- paragraf berikutnya serba sedikit dari awal hingga akhir. 

1. Memilih Masa Depan
            Seperti yang dialami oleh kebanyakan siswa SLTA, maka  aku  juga mencari info sana-sini tentang mau  kuliah ke mana aku kuliah setelah tamat SMA Negeri 1 Payakumbuh. Meskipun  aku dibesarkan oleh ayah  seorang prajurit polisi dan ibu seorang petani kecil, namun aku  merasa mantap untuk menjadi seorang guru.
            Akhirnya aku  mendaftar dan lulus sebagai mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris pada IKIP Padang. Sejak mahasiswa aku  sudah mencari tahu bahwa seorang mahasiswa harus kreatif dan inovatif. Aku  memperkaya pengalaman dengan  mengikuti berbagai kegiatan seperti aktif di Mesjid kampus (Mesjid Al-Azhar UNP)  dan juga menjadi Pemandu Wisata Sumatra Barat serta  aku  juga menerima pesanan terjemah dari mahasiswa  untuk tugas kuliah mereka. Ini sangat  melatih kemampuan akademik dan sekaligus bisa memperoleh sedikit uang untuk pembeli jajan.
            Sejak kuliah  aku  sudah punya target dalam membaca dan melatih menulis. Aku  membuat target untuk membaca sekitar 100 halaman perhari, sementara untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggris, aku  membaca satu majalah bahasa Inggris per minggu. Kemudian untuk mengasah kemampuan sosialku  adalah dengan cara membaca buku biografi tentang penulis terkenal dan kemudian  membiasakan  menuliskan pengalaman paling kurang 2 halaman folio per hari.
Akhirnya aku  mampu merampungkan pendidikan sarjananya sesuai dengan target. Aku  selanjutnya menjadi guru pada SMA Negeri 1 Lintau- Kab. Tanah Datar, Sumbar. Maka aku kembali  menulis/  membuat refleksi diri  yaitu  “Bahwa aku harus menjadi guru yang berbeda- yaitu guru yang menguasai berbagai kemampuan”.

2. Ingin menjadi guru dengan keterampilan berganda
            Menjadi guru yang punya tekad untuk memiliki berbagai kemampuan, bukan berarti   menjadi guru yang anti sosial. Aku  cukup aktif melibatkan diri dalam pergaulan sosial- mengunjungi rumah/ orang tua siswa, ikut kegiatan mesjid, aktif dengan kegiatan sekolah dan mempersiapkan kegiatan mengajar serta melaksanakan tugas sebagai guru.
            Pada waktu luang apakah siang ataupun malam, aku  selalu  meluangkan waktu buat membaca berbagai buku. Target bacaan tentu yang menjurus pada peningkatan kompetensi sebagai guru, misal buku-buku tentang sosial, pedagogi, psikologi, buku-buku filsafat dan agama. Aku   terinspirasi oleh biografi penulis besar dunia untuk juga bisa menjadi penulis. Maka aku  juga rajin berlatih atau membuat target dalam menulis, hingga akhirnya aku  bisa menulis artikel dan tulisan tersebut bisa dipublikasi pada koran-koran di Sumatera Barat.
            Tulisan-tulisanku  yang terbit pada koran tentu harus dibuat klipingnya dan dijadikan sebagai dokumen atau portofolio. Pada lain kesempatan aku  juga sempat berkenalan dan berteman baik dengan sarjana Perancis (Dr. Louis deharveng, Dr. Anne Bedos dan Dr. Francois Brouquisse) dimana mereka adalah ahli bilogi dan tertarik melakukan riset di seputar Kabupaten Agam, Kab. Tanah Datar, Kab. Sawahlunto Sijunjung dan Kab. Lima Puluh Kota.
Mereka adalah ahli  Biologi yang juga bekerjasama dengan  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Riset mereka adalah tentang serangga dan fenomena alam. Lewat mereka aku  juga tertarik untuk menguasai dan mendalami Bahasa Perancis. Juga lewat pengalaman bersama  mereka antara tahun 1995- 2005 terasa bahwa kemampuan menulis, membaca dan kemampuan Bahasa Perancisku  semakin meningkat.
            Dalam tahun 1998  aku  mengikuti seleksi guru teladan utusan sekolah. Aku  mengumpulkan berbagai dokumen hingga menjadi porto folio dan aku dikirim sebagai utusan kecamatan Lintau Buo untuk seleksi guru teladan tingkat Kab. Tanah Datar. Pada tahun tersebut  aku  menang dan mewakili Kab. Tanah Datar untuk tingkat Propinsi Sumatera Barat. Aku  masuk ke dalam  nominasi dan setelah tim juri turun ke lokasi akhirnya aku  berpuas hati sebagai peraih guru teladan nomor 2 untuk tingkat Sumatera Barat.

3. Hijrah Ke SMA Unggulan Kab. Tanah Datar
            Tidak terasa bahwa aku  telah mengabdi cukup lama (14 tahun) di sekolah lama  (SMAN 1 Lintau)  yang berlokasi di daerah pedesaan. Untuk maksud penyegaran aku  ingin hijrah ke sekolah alumni di Payakumbuh, namun akhirnya aku  diizinkan/ direkomendasikan untuk mengabdi di sekolah baru SMA Negeri 3 Batusangkar, sebuah sekolah unggulan di Kab. Tanah Datar.
            Bakat menulis dan bakat untuk menguasai bahasa asing yang lain aku semakin bertambah. Aku  juga tertarik dalam mendalami bahasa Arab, karena bahasa ini akan memudahkan ku  dalam memahami bacaan sholat dan memahami kitab suci al-Qur’an.
            Mengabdi di sekolah unggulan dengan rekruitmen guru berdasarkan skor TOEFL dan TPA (Test Potensi Akademik) tertinggi serta rekruitmen siswa yang cukup selektif- hingga terjaring para siswa yang berbakat bagus memberi peluang yang besar bagi penulis untuk mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru. Tantangan dari lingkungan membuatku  mampu membaca banyak buku,  dan juga mampu menulis lebih banyak artikel. Anak didik juga lebih gampang untuk dibimbing hingga mereka mampu  meraih juara sampai ke tingkat propinsi dan bahkan ke tingkat nasional.
            Kesempatan  untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascarjana lebih terbuka lebar bagi guru-guru sekolah unggulan (juga bagi sekolah non unggulan, dan aku   juga pada tahun 2008 tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana UNP. Kebiasaan membaca dan menulis sangat membantuku  dalam menyelesaikan kuliah dan dalam merampungkan penulisan tesis. Akhirnya aku  mampu menyelesaikan perkuliahan pada pascasarjana sesuai dengan target waktu dengan IPK cum-laude. Setelah meraih pendidikan master, kemampuanku  terasa lebih meningkat hingga aku  mampu menerbitkan 4 buku pada penerbit Yogyakarta dan buku- buku tersebut beredar pada toko-toko buku di Indonesia.

4. Seleksi Guru Berprestasi
            Suatu hari  Kepala Sekolahku   menyuruh ku   untuk ikut seleksi guru berprestasi. Pada mulanya aku  separoh ragu, karena dahulu sempat juara guru teladan peringkat 2 Sumatera Barat. Namun label itu  dianggap sudah kadaluarsa apalagi waktunya sudah terpisah selama 14 tahun. Akhirnya aku  setuju untuk mengikuti seleksi, dahulu bernama “seleksi guru teladan” dan sekarang berubah nama menjadi “seleksi guru berprestasi”, ya mulai dari jenjang sekolah dan kecamatan.
            Karena aku  sebelumnya pernah meraih juara 2 Sumatera Barat, maka aku  merasa cukup percaya diri, apalagi dukungan portofolio sangat memadai- seperti jumlah sertifikat, penghargaan, karya tulis dan dokumen- dokumen yang lain. Agaknya aku  merasa cukup merasa mudah untuk menjadi guru berprestasi tingkat Kab. Tanah Datar.
            Kebijakan juri penseleksi guru berprestasi Kab. Tanah Datar untuk memberi pelatihan dan persiapan bagi peserta seleksi yang akan mewakili Kab. Tanah Datar ke tingkat propinsi cukup signifikan, agar pserta ada punya persiapan.  Penulis pada tahun berikutnya (2012) mewakili Kab. Tanah Datar ke tingkat Propinsi. Untuk tingkat propinsi sudah terasa persaingan yang ketat dengan utusan dari 19 Kabupaten/ Kotamadya  di Sumarera Barat.
            Lawan- lawan yang berat terasa bagi ku adalah yang datang dari daerah Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Solok. Apalagi di daerah-daerah ini terdapat sekolah unggulan yang hebat di Sumatera Barat- tentu guru-guru mereka juga hebat. Para juri cukup profesional dan bersikap netral dalam menilai. Penulis kemudian juga terjaring sebagai nominasi guru berprestasi Sumatera Barat dan dua nominasi lain berasal dari Bukittinggi dan Kab. 50 Kota.
            Para nominasi tingkat Sumatra mendapat penilaian  atau kunjungan lapangan lapangan-untuk mencari informasi tentang kontribusi calon juara terhadap  kondisi di sekolah dan di seputar rumah. Fokus yang menjadi penilaian tim juri adalah seputar keberadaan dan sumbangsih nominator terhadap sekolah dan terhadap anak didik.
“Apakah penulis hanya pintar untuk diri sendiri saja”, demikian juga petranyaan dann investigasi tim juri terhadap nominator dengan lingkungan rumah “Apakah penulis tidak berperan terhadap lingkungan ?.
            Dari bukti portofolio- sertifikat dan surat keterangan- bahwa aku  cukup  memberi kontribusi yang signifikan terhadap sekolah, seperti rata-rata nilai UN Bahasa Inggris yang cukup bagus, kemudian dalam pembimbingan pada siswa hingga  bisa menang dalam perlombaan sampai ke level Propinsi malah hingga tingkat nasional. Kemudian peranku terhadap masyarakat seperti membina mesjid dan menjadi narasumber dalam lokakarya.
            Hal yang sangat signifikan sebagai pendukung bahwa aku  dipilih sebagai peringkat 1 (satu) Sumatera Barat adalah karena kenampuanku  yang cukup banyak. Aku  telah menulis artikel  lebih dari 120 judul. Artikel- artikel tersebut  terbit pada koran- koran di Sumbar dan Sumsel. Kemudian , kemudian  5 judul tulisanku  terbit untuk tingkat internasional (perancis), empat buku dengan ISBN dan beredar secara nasional, beberapa penghargaan tingkat nasional dan dokumen kerjasama penerbitan atau  surat kontrak  dengan beberapa penerbit nasional, serta kemampuan menguasai 3 bahasa asing  ( Bahasa Inggris, Perancis dan Arab).
Meraih guru berprestasi tingkat 1 (satu) Sumatera Barat agaknya telah terasa sebagai prestasi sangat tinggi bagiku dan aku  tidak  tahu apa kekuatan diri untuk melaju untuk persaingan di tingkat nasional di Jakarta, yang jelas aku  akan mewakili Propinsi Sumatera Barat untuk seleksi guru berprestasi tingkat nasional.

5. Persiapan diri menuju lomba tingkat nasional
Pada pertengahan bulan puasa (Ramadhan/  Agustus 2012) seluruh guru dan tenaga kependidikan  yang meraih peringkat 1 Sumatera Barat diundang untuk berkumpul di Padang. Semuanya ada 13 orang, masing-masing  mewakili guru- guru pertingkat, kepala sekolah per tingkat dan juga pengawas sekolah. Agar utusan Sumatera Barat bisa berkiprah di tingkat nasional maka panitia Propinsi mengundang seorang ahli yang punya pengalaman dalam urusan seleksi guru berprestasi tingkat nasional.
Dalam acara pembekalan yang dilaksanakan di Hotel Mariani Padang, Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat- Bapak Syamsurizal-  memberi pencerahan kepada semua peserta. Beberapa uraian pencerahan yang masih teringat oleh penulis adalah sebagai berikut:
            “Pendidikan  sangat penting, maka pelajaran pertama yang ditekankan dan harus dibiasakan adalah  membaca. Perintah membaca adalah  perintah pertama yang disampaikan oleh Sang Khalik kepada kita, melalui Nabi Muhammad SAW. Ayat yang pertama turun adalah : iqra’ bismirabbillazi khalak- bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.
            Membaca adalah salah satu strategi dalam belajar dan belajar itu sendiri diwajibkan bagi laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut dikatakan bahwa musuh utama kita adalah kebodohan dan untuk melawan kebodohan tentu saja melalui pendidikan.  Pendidikan punya induk yaitu “membaca”.   Selain membiasakan diri dalam membaca dan belajar, maka kita juga perlu bearktifitas atau bekerja. Dalam ajaran agama Islam dikatakan bahwa:
 “Jika kamu bekerja, maka cukupkanlah, bila selesai dalam satu pekerjaan maka pindah pada pekerjaan yang lain”.
Selanjutnya dikatakan bahwa kita perlu untuk memiliki percaya diri yang baik. Seseorang yang memiliki percaya diri yang mantap maka ia boleh punya filsafat atau moto hidup yaitu “saya bisa”.
Aku juga tahu  bahwa seorang guru mutlak untuk  memiliki karakter. Guru yang berkarakter harus  memiliki “kemandirian, profesional dan percaya diri’. Atau dalam program sertifikasi sekarang dikatakan bahwa setiapguru mutlak untuk memiliki 4 kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
            Pakar/ ahli yang diundang oleh Dinas Pendidikan  Sumbar adalah ibu Dra. Farida Ariani, M.Pd, yang sering  berpengalaman  sebagai juri (juri yang adil/ juri yang netral). Beliau juga bertugas pada P4TK Bahasa Jakarta. Sekali lagi bahwa beliau  tentu saja tetap non blok, ia hanya memberikan wawasan secara umum- yaitu bagaimana agar setiap peserta (utusan Sumatera Barat) bisa mempersiapkan diri.
Dia mengatakan   dari pengalaman setiap tahun bahwa peserta yang hebat  banyak datang dari “Jawa Timur, Jawa Tengan dan DKI Jakarta”.
 Namun utusan Sumatra Barat harus tetap optimis bahwa yang menentukan nasib kita- menang atau kalah- adalah kita sendiri, nasib kita kitalah yang menentukannya. Guru yang bakal mewakili Sumatra Barat untuk seleksi tingkat nasional harus memiliki motivasi yang tinggi. Biasanya orang yang memilki motivasi terlihat sehat- sehat dan yang kurang memiliki motivasa biasanya terlihat banyak penyakit.
“Dipesankan bahwa  yang penting kita harus  mampu menjadi diri sendiri- be ourself- kita harus menjadi yang terbaik- ya menjadi yang terbaik dalam hidup kita. Maka untuk itu selalulah  untuk menambah pengetahuan dan pengalaman” 
Agar utusan Sumatra Barat bisa meraih prestasi di Jakarta, maka semua peserta diberi pengetahuan dan pembekalan yang meliputi pengetahuan dan penyempurnaan portofolio. Bagian- bagian portofolio meliputi:
- Kelengkapan bio data (seperti Nama, Surat keterangan dokter, dll)
- Sertifikat –sertifikat dari suatu kegiatan,
- Foto- foto kegiatan guru dan siswa yang dibimbing bisa sebagai dokumen.
- Piagam penghargaan
- Bukti fisik semua prestasi murid dan guru, misal dalam bentuk surat keterangan dari
   pihak yang berwenang.
- Bukti fisik dalam bentuk buku, artikel, karya tulis dan juga karya inovatif.
- Penulisan buku bisa dalam bentuk buku fiksi dan non fiksi dalam bidang pendidikan.
- Juga bisa penulisan dalam bidang inovasi (pembaharuan) untuk tujuan peningkatan
   mutu pembelajaran.  Juga bisa dalam bentuk penemuan tekhnologi tepat guna dalam
   bidang pendidikan.   
Tema seleksi guru berprestasi dan berdedikasi adalah “ menjadi guru profesional, bermatabat dan sejahtera”. Secara sekilas susunan portofolio adalah sebagai berikut:
- Kualifikasi akademik
- Pendidikan dan pelatihan
- Pengalaman mengajar
- Perencanaan pembelajaran
- Prestasi akademik yang meliputi lomba dan karya akademik
-  Sertifikat keahlian dan keterampilan
- Pembinaan siswa
- Karya tulis
- Penelitian
- Sertifikat forum ilmiah
- Pengalaman pengurus organisasi dan sosial
- Penghargaan
Pada prinsipsipnya bahwa bentuk kegiatan pembekalan bagi guru- guru berprestasi untuk menuju  tingkat nasional ada 2 macam yaitu, penyusunan kembali portofolio dan latihan  presentasi karya ilmiah- langsung dibedah dimana kelebihan dan kekuranganya. 
Setiap peserta  juga  harus menyiapkan tulisan untuk presentasi di Jakarta. Tulisan tersebut adalah  tentang  best practice” yang judulnya:
“ Mengapa saya layak sebagai guru berprestasi”
Aku  juga menyiapkan tulisan ilmiah yang lain yaitu tentang PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Aku dan peserta lain menunggu tanggal pelaksanaan seleksi yaitu antara 4- 10 September 2012. Keberangkatan kami  pada tanggal 3 September 2012 dengan pesawat Garuda Indonesia Airways.
.

6. Siapa Yang Bakalan Menjadi Guru Terbaik di Indonesia ?
            Akhirnya tanggal 3 September 2012 yang kami tunggu pun tiba. 13 orang peserta utusan  Sumbar untuk seleksi PTK (Pendidik dan Tenaga Pendidik) yang berprestasi berkumpul di Bandara Minangkabau, Padang. Ternyata keberangkatan dalam dua grup- grup pagi dan grup siang. Aku masuk kedalam grup siang. Namun utusan Sumatera Barat yang akan ikut seleksi guru berprestasi di tingkat nasional adalah:
-  Yeni Fitri Yenti (Guru TK)
-  Deswita (Guru SD)
- Suyetmi (Guru SMP)
-  Marjohan (Guru SMA)
- Netrowintis (Guru SMK)
- Afrida Kasmawati (Guru SLB)
- Lasmayeni (Kepala TK)
-  Artispen (Kepala SD)
- Edison (Kepala SMP)
- Dian Mulyati Syarfi (Kepala SMA)
- Endryaty (Pengawas TK/SD)
- Sudirman (Pengawas SMP)
- Azwirman (Pengawas SMA/ SMK)  
Semua utusan ini terbang dengan pesawat Garuda dan di Jakarta mereka akan ditempatkan pada 3 hotel yaitu di Hotel Sahid, Hotel Century dan Hotel Milenium.  Selama dalam penerbangan aku  menghitung-hitung kekuatan dan potensi diri, tentu saja teman-teman yang  juga demikian.
Popularitas kota kota dan orang orang di Pulau Jawa, kadang-kadang membuat rasa percaya diri tidak menentu, pendek kata aku  terbang menuju  Jakarta tanpa beban dan aku sering berucap:
“Menjadi juara 1 di Propinsi Sumbar itu sudah bagus, aku terbang tanpa beban- andai peringkat 1 itu adalah miliku maka datanglah, bila tidak maka pergilah”.
Setelah berada di Hotel Millenium maka kegiatan seleksi guru berprestasi adalah seperti penerimaan peserta, penyerahan berkas- berkas dan check in kamar, kemudian dilanjutkan dengan persiapan peserta untuk menuju Puri Agung Hotel Sahid Jakarta untuk acara pembukaan. Kami semua memakai batik atau seragam propinsi masing- masing. Pembukaan PTK Berprestasi dilaksanakan oleh Bapak Menteri Muhammad Nuh dan juga perkenalan panitia dengan peserta.
            Seleksi guru berprestasi yang dilaksanakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional diikuti oleh 642 guru berprestasi, yaitu  utusan dari 33 propinsi. Lomba guru berprestasi mempunyai tujuan   untuk memberi nilai appresiatif dan konstruktif bagi guru.
“ Guru yang diberi appresiasi adalah atas prestasinya dan diharapkan mereka juga bisa memberi penghargaan pada prestasi seseorang- misal pada anak didik”.

7. Pembukaan Oleh Menteri Pendidikan
            Pidato pembukaan disampaikan  oleh Menteri  Pendidikan- Prof. Dr. Mohammad Nuh. Banyak sekali ide ide cemerlang yang dapat aku pungut. Misalnya Menteri mengatakan  bahwa:
“ Orang yang bisa memberi penghargaan biasanya adalah orang-orang yang juga berprestasi. Orang yang berprestasi akan mampu memberi appresiasi pada orang-orang yang berprestasi. Akibatnya orang lain juga gemar untuk mengejar prestasi. Prestasi juga perlu diraih oleh para pelajar. Agar berprestasi maka orang tua dan guru harus memasukan anak-anak ke dalam saluran besar yaitu saluran pendidikan”.
Menteri juga menekankan agar di sekolah bisa dibentuk kultur atau iklim sosial  yang positif- yaitu iklim yang memperlihatkan kepedulian pada yang lain. Dalam kultur sekolah yang positif musti ada guru-guru dan staf sekolah yang memberikan perhatian dan rasa cinta pada sesama. Kultur yang begini akan  penuh inspirasi. Dengan kultur begini  musti berlaku pendidikan inklusif. Dan sekolah yang beriklim penuh kepedulian ini musti bebas dari budaya “bullying- menggertak dan mengancam sesama”
“What is bullying ?”. 
Orang tua dan guru adalah arsitek bagi otak dan pribadi anak. Semakin cepat anak berfikir ya semakin ktreatif  dia.  Selanjutnya dikatakan bahwa jangan biasakan membuat anak stress sebab kalau anak sering stress maka kreatifitasnya akan mengecil. Mungkin anak butuh musik, sebab dengan musik ia bisa bergembira.           Kalau anak (siswa) stress gara-gara guru, PR yang banyak dan karakter teman-teman yang kurang bersahabat maka mental anak bisa tumbuh tidak sehat (terganggu mentalnya- seperti penggugup, mudah stress, mudah menarik diri dari pergaulan).  Akibatnya detak jantung anakpun juga kurang teratur.  Untuk itu kita perlu ingat:
 “Jangan pernah membuat anak-anak stress dan menangis”.
Bila kita melihat ada  anak menangis karena stress maka bantulah dia (mengapa itu bisa terjadi). Dianjurkan bahwa guru musti membiasakan   banyak memberi reward- pujian (mengatakan very good, you are great” karena ini bisa membesarkan hatinya dan membuat hidup anak lebih bergairah, sebaliknya jauhkan mereka dari punisment/ hukuman karena budaya punisment bisa memutuskan ikatan batin. 
            Pak Menteri juga mengatakan bahwa  orang tua dan guru perlu memilki bonding emotion (ikatan emosi)  dengan anak, ini berguna agar anak merasa bahwa guru dan orang tua adalah milik mereka.           High spirit of learning (belajar dengan semangat tinggi) perlu dibentuk di rumah dan di sekolah. Ini dapat dibentuk melalui prinsip “loving, inspiring and encouraging”.
            Fenomena dalam masyarakat bahwa high spirit of learning berbeda kualitasnya diantara keluarga kaya, keluarga kelas pekerja dan keluarga miskin. Dalam keluarga miskin mungkin bisa terjadi miskinnya pemberian inspirasi dan dorongan semangat juang/ semangat kerja/ belajar mereka.      Di daerah yang banyak terdapat penduduk miskin, di sana mungkin banyak terjadi kekerasan, kebiasaan mematahkan semangat, juga miskin pujian, miskin sarana, miskin informasi, miskin aktivitas dan miskin pemberian pesan- pesan positif pada anggota keluarga. Pak Menteri menyarankan agar orang tua dan guru bisa memberikanlah hormon cinta buat anak dan siswa.
 “Ternyata banyak orang mengidolakan guru-guru, saya berbahagia karena idola saya adalah guru-guru saya sejak di SD, SMP dan SMA. Maka guru adalah orang yang selalu bermartabat di mata anak- anak bangsa ini” Demikian kata Pak Menteri mengakhiri pidatonya.

8. Menjalani Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Nasional
            Pelaksanaan seleksi guru berprestasi tingkat nasional tidak seberat seleksi di tingkat propinsi. Namun yang terasa berat adalah perasaan atau beban mental. Saat itu bullying  aku harus berhadapan dengan  utusan-utusan terbaik dari setiap propinsi dan jumlah mereka lebih besar dibanding saingan saat di Propinsi.
“Aku  ibarat berada di antara bintang-bintang dan aku  tidak bisa lagi melihat dan merasakan cahaya diri sendiri, karena bisa jadi kemilau diri  kalah  bersaing dari kemilau atau pesona teman-teman lain”.
            Meskipun kami ditempatkan di Hotel Millenium dengan iklim yang nyaman namun fikiran tidak senyaman suasana, karena dalam fikiran terjadi psy-war-  perang syaraf atau perang dalam fikiran. Ya  bagaimana aku bisa menaklukan soal-soal ujian test tulis yang jumlah soalnya tidak sebanding dengan alokasi waktu.
 “Karena anda adalah orang-orang pilihan maka tidak mungkin kami memberikan anda soal-soal yang mudah”. Kata salah seorang dewan juri.
            Selama dua hari kami dihujani oleh test tulis sepanjang hari, otak terasa lelah dan panitia ujian  juga terlihat  lelah. Dua hari berikutnya kami harus mempresentasikan karya ilmiah, dengan kuota 1 (satu) jam perorang. Ini adalah saat yang menegangkan menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari dewan juri dan bagaimana kita bisa merespon dan meyakinkan dewan juri dengan logika dan dengan penuh sopan santun.
            Aku  juga harus antri, menunggu giliran dan  memang cukup  membosankan. Jadwal tampilku ternyata  jam 09.00 atau 10.00 malam. Namun saat itu aku  tidak berada di tempat karena harus menunaikan sholat Isya. Jadwal tampilku  ditunda pada pagi berikutnya.
            Habis sarapan pagi maka semua  peserta memakai pakaian PSL- baju putih lengan panjang, memakai jas dan juga dasi. Setiap peserta mencari informasi tentang apa jenis pertanyaan dan bagaimana karakter dewan juri.
 “Woww  jurinya ada yang rada-rada galak. Suasana presentasi  seperti mengikuti kompre untuk tesis pada kuliah pascasarjana”.
 Akhirnya tibalah jadwal bagiku  untuk mempresentasikan karya ilmiah  dengan media power point. Yang kita perlukan adalah sikap tenang, santai dan penuh percaya diri. Setelah melalui presentasi ternyata suasana presentasi tidak menakutkan seperti yang aku bayangkan. Alhamdulillah aku  aku tampil cukup prima karena semalaman tidurku pulas dan aku merasa bugar, hingga  bisa merespon semua pertanyaan dewan juri, malah aku  menerima ucapan selamat dari dewan juri - mogas-moga anda sukses.
“Aku yakin itu hanya ucapan selamat untuk membesarkan hati setiap peserta”
 Selesai presentasi,  sebetulnya  suasana  fikranku  sedikit lega, kecuali aku  harus menyiapkan mental untuk mendengar hasil pengumuman pada hari berikutnya.
            Acara setelah kegiatan  presentasi adalah kegiatan  di luar Hotel Millenium. Kami semua  menuju Hotel Sahid untuk acara makan malam, acara ramah tamah dan pemberian hadiah dari Bank Mandiri oleh Direktur Bank Mandiri dan juga oleh Menteri Pendidikan Nasional.


Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture