Minggu, 21 April 2013

Tertarik Dengan Jepang

Tertarik Dengan Jepang
            Mengapa aku tertarikdengan Jepang ? Pada mulanya aku tidak tertarik dengan negara ini. Aku belajar bahasa Jepang…ya hanya sekedar belajar saja. Seperti apa ya bahasa Jepang itu ? Apakah aku mampu belajar bahasa Jepang ? Sementara itu waktu  di SMA aku tidak pernah belajar bahasa ini .
            “Waktu SMP dan SMA kan hanya belajar bahasa Inggris. Aku hanya mengenal bahasa Jepang saat kursus bahasa Jepang di kota Bukittinggi. Itu aku juga sekedar ingin mencoba seperti apa bahasa Jepang itu. Di Bukittinggi aku tahu tentang negara Jepang: pemandangannya indah, kota- kotanya bersih dan suhunya sejuk (kecuali saat di musim panas)”.
            Siapa saja bisa mempelajari dan menguasai bahasa Jepang. Pertama tentu saja ia harus memiliki motivasi yang kuat. Kemudian ia harus belajar untuk mengenal alphabet Jepang, seperti huruf Kanji. Alphabet Jepang berbeda dari alpfabet Bahasa Inggris dan juga Bahasa Indonesia atau bahasa yang menggunakan huruf Latin. Belajar bahasa apa saja jangan belajar setengah- setengah (separoh hati).
            Kalau rajin berlatih menulis dan menghafalnya nanti kita mampu menguasai alpfabet Jepang.  Kita perlu tahu seni menguasai kosakata Jepang yang benar. Aku punya strategi dalam menaklukan kesulitan belajar bahasa Jepang. Setiap hari aku menulis dan selalu membaca sambil bermain. Aku berlatih menghafal dan menuliskan 5 buah huruf- paling kurang. Bahasa Jepang, sebagaimana bahasa-bahasa yang  lain- ada unsur listening, speaking, writing dan reading-nya.
            Untuk meningkatkan kemampuan listening, aku mendengar lagu bahasa Jepang. Waktu di Jepang aku sering menonton dan mendengar (sambil menutup mata)  siaran TV Jepang. Untuk belajar/ menambah  vocabulary..ya itu sudah dimulai sejak dari Bukitgombak- Batusangkar. Cara meningkatkan kosa kata (vocabulary):lewat menterjemahkan lagu, cerita atau membuat karangan tentang pengalaman pribadi.
Untuk dapat mengungkapkan apa yang ingin kita utarakan sudah tentu kita  membutuhkan banyak kosakata. Ibarat sebuah bangunan, kosakata adalah bahan baku, dan tata-bahasa adalah designernya. Jadi untuk bisa melakukan percakapan dengan benar, kita harus menggabungkan 2 point tadi, yaitu: kosakata dan tata-bahasa.
Dalam mempelajari kosakata kita pun harus berhati-hati, usahakan untuk menyingkirkan kosakata yang jarang kita gunakan. Misalnya kata “dongkrak ” tentu kita tidak perlu menghafalkan kata tersebut kecuali kita  seorang montir. Intinya adalah kita harus memilih kosakata yang benar-benar sering digunakan.  Cara lain untuk meningkatkan kosakata bahasa Jepang adalah dengan rajin berlatih menulis pengalaman harian kita- kita akan menulis atau memakai kosa kata yang betul- betul kita gunakan.
Cara terbaik menguasai kemampuan speaking bahasa Jepang, bisa juga dapat dilakukan dengan nonton kartun Jepang  dan mendengarkan Lagu Jepang. Menonton film Jepang merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang kita. Pastikan kita menghafal ungkapan atau dialog-dialog singkat yang ada di drama atau film tersebut. Jangan khawatir apabila kita tidak mengerti apa yang diucapkan, coba dan cobalah terus karena semua itu memang membutuhkan waktu dan proses.
Mengkonsumsi lagu-lagu Jepang juga salah satu metode jitu untuk melatih kemampuan pendengaran kita. Hal tersebut terbukti sangat efektif terutama untuk meningkatkan perbendaharaan kosakata kita. Membuka kamus pada saat menemukan kosakata yang tidak kita pahami dalam lagu-lagu Jepang tersebut juga akan membuat kosakata bahasa Jepang kita  semakin banyak.
Aku belajar skill tersebut tidak terpisah, bisa jadi aku belajar membaca dan juga menulis dalam waktu yang sama. Aku menulis tulisan berbentuk huruf Jepang/ kanji- huruf katakana dan hiragana. Bahasa Jepang  memiliki banyak alphabet. Kalau menulis nama kita- nama diluar nama Jepang- ya ditulis dalam huruf katakana. Kalau nama orang Jepang, menulis nama mereka dalam huruf hiragana dan juga kanji.
            Aku juga mencoba mengarang tentang pengalaman sendiri dalam bahasa Jepang. Ya aku mengarang tentang mendeskripsikan lingkungan: rumah, tetangga, halaman, hewan seputar rumah, tanaman seputar rumah, lingkungan kantor dan sekolah dan juga tentang kota dan alam, dan lain-lain.
            Meskipun aku hanya ikut les bahasa Jepang, namun aku mampu membimbing mahasiswa bahasa Jepang yang kuliah di Universitas Bung Hatta dalam menyelesaikan tugas mengarangnya. Aku membimbing ia mengarang tentang: pengalaman menjadi mahasiswa di universitas. Tekhnik pertama mengarang adalah lewat menterjemah dari bahasa Indonesia ke Bahasa Jepang. Dan ternyata ia memperoleh nilai A plus.
            Dalam mengembangkan kemampuan bahasa Jepang, aku juga pernah menterjemahkan cerita anak-anak dari bahasa Indonesia ke Bahasa Jepang. Jadi strategiku dalam bahasa asing ya melalui menceritakan/ mendeskripsikan lingkungan, menceritakan pengalaman sendiri dan menterjemahkan cerita- cerita rakyat kebahasa Jepang dan sebaliknya dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia.
            Bahasa Inggris memiliki tingkat kemahiran (proficiency) seperti tingkat: beginner (pemula), intermediate (menengah) dan advance (lanjutan). Pemerintah Jepang[1] sebagai pihak yang mengatur bahasa Jepang menyediakan tes profisiensi sejenis TOEFL yaitu JLPT (Japanese Language Proficiency Test). Japanese Language Proficiency Test Nihongo Nōryoku Shiken atau JLPT adalah ujian kemampuan berbahasa Jepang yang dikhususkan bagi para penutur asing bahasa Jepang.
JLPT dilangsungkan pertama kali pada tahun 1984. Ujian ini diselenggarakan pada bulan Desember tiap tahun dengan empat tingkat kesulitan (1, 2, 3, 4). Akan tetapi, sejak tahun 2010, sistem tersebut diubah menjadi lima tingkat (N1, N2, N3, N4, N5) dan diselenggarakan dua kali dalam satu tahun (khusus untuk tingkat N1, N2, dan N3), yaitu pada bulan Juli dan Desember.
Aku merasa bahasa Jepangku belum begitu mahir namun yang lebih penting adalah kemahiran untuk mencoba. Keberanian lebih penting, malah ada orang yang mahir berbahasa asing namun memiliki keberanian yang rendah…jadi ya kurang berguna untuk maju.
            Maka  persiapan untuk menuju negara Jepang adalah dalam bidang penguasaan Bahasa Jepang, persiapan mental, ekonomi dan pengetahuan budaya. Persiapan mental…ya saat itu ada sedikit rasa takut dan cemas, namun tidak begitu besar karena aku tahu bahwa negara Jepang adalah negara yang bagus aturan hukumnya. Dibandingkan pergi bekerja ke negara Jiran atau negara Timur Tengah maka keselamatan bekerja di Jepang secara fisik dan mental agaknya lebih bagus jaminan di sini. Jarang atau tidak ada pemberitaan negatif  dari Jepang tentang pekerja kita di sana.
            Setelah itu juga ada persiapan dokumen- passport, visa dan juga memperoleh sertifikat jaminan untuk biaya keberangkatan. Akhirnya semua dokumen sudah siap maka aku berangkat menuju Jepang, mulai dari BIM Padang- kami ada 7 orang yaitu Via (dari Solok), Desi (dari Padang), Dodi (dari Bukittinggi), Hasra (dari Pasaman), Boy dan Edo  (dari Padang), dan aku Oshin/ Sefrita Yenti (dari Lintau- Batusangkar). Kami  terbang ke Kuala Lumpur dan terus ke Osaka. Dari Osaka kami naik bus menuju ke tempat kerja.
            Aku masih terbayang bagaimana mula-mula berangkat dengan seribu macam perasaan. Saat itu ibu pimpinan bertanya tentang siapa yang pernah naik pesawat. Hanya aku dan Tia yang belum pernah terbang. Kami diantar oleh famili/ orang tua dengan perasaan haru: apa nanti anakku Sefrita Yenti pulang bisa sehat/ selamat atau tidak, ya aku juga tidak tahu.
“Ada rasa sedih, apalagi aku tidak punya ayah untuk melepas keberangkatanku. Hanya yang melepasku adalah paman, bibi dan ibu. Aku tahu ibuku dalam hatinya tidak mengizinkan aku untuk terbang jauh- maka ibu terlihat menyembunyikan perasaan khawatirnya. Tapi semua harus aku jalani- aku harus tegar dan ikhlas menjalani hidup ini asal itu selalu baik dan benar. Hidup tidak perlu penuh ketakutan dan berharap yang muluk- muluk. Hidup ini mengalir”.
“Orang tua kami melambaikan tangan dan kami terbang dengan pesawat Air Asia. Dalam pesawat kami tidak banyak ngomong karena kami masih punya perasaan sedih. Hampir satu jam, kami sampai di Malaysia. Kami transit- turun dan mengurus barang- barang dan bergerak menuju bandara internasional dengan bus bandara. Kami punya banyak waktu menunggu transit di Malaysia, keberangkatan jam 12.00 malam. Maka kami bisa jalan- jalan sepuntar bandara, pergi makan dan juga bisa rilek atau tidur- tiduran agar stamina kami pulih lagi”.
Kami terbang menuju Jepang dengan pesawat MAS (Malaysia Air System) menuju Osaka.  Aku merasa ibarat si Kebayan (orang gunung/ orang desa yang menuju metropolitan). Namun anehnya semua teman- teman bertanya padaku tentang ini dan itu. Secara aklamasi aku ditunjuk menjadi. Jadi aku dianggap lebih tahu dengan lokasi- itu mungkin karena penampilanku yang selalu tenang.
“Secara spontan aku dianggap menjadi tour leader- pada hal dalam group kami ada cowok dua orang. Ketua rombongan sebenarnya Desi, tapi ia tidak mau ngomong- ia kurang punya percaya diri mungkin. Kalau bertanya- tanya aku yang diandalkan untuk ngomong dalam bahasa Jepang”.     
Teman ku Via, ngomongnya jarang. Tetapi kalau ngomong ia bisa melucu dan humoris sehingga bisa membuat kami rileks. Sekarang- setelah pulang dari Jepang- ia membuat usaha komunikasi yaitu Radio buat masyarakat Dharmasraya. Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Osaka butuh waktu 8 jam. Suhu dalam  pesawat terasa dingin dan hidangan dalam pesawat tidak terasa cocok dengan selera kami.
Dalam pesawat kami berbagi cerita: bagaimana cara belajar Bahasa Jepang, kisah- kisah saat sekolah. Bosan bercerita ya kami nonton, baca buku atau mendengar musik. Aku perhatikan beda waktu Indonesia (WIB) dengan Malaysia hanya 1 jam dan beda waktu dengan Jepang yaitu 2 jam. Bahasa petunjuk pesawat menuju Jepang tentu saja dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang.

B. Jepang Di Depan Mata
            Pesawat sudah memasuki wilayah Jepang dan negara Jepang sudah di depan mata. Aku merasa takut dan juga gembira. Aku mera takut/ cemas karena berfikir bagaimana memakai bahasa Jepang- apa bahasa Jepangku nanti bisa dimengerti orang atau tidak (?). Ada tiga bahasa petunjuk yang dipakai di bandara Osaka yaitu Bahasa Jepang, Bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Aku berfikir bahwa selain bahasa Jepang- bahasa yang perlu aku kuasai mungkin juga Bahasa Mandarin atau Inggris.  
            Kami segera turun pesawat MAS dan yang aku lihat bahwa aksara kanji sudah mendominasi suasana sekitar. Sistem operasional bandaranya juga berbeda dan itu serba baru bagi kami dan aku berfikir “ini untuk apa dan itu untuk apa ?”.
Kami berada di bandara Osaka. Bandara ini disebut juga sebagai Osaka Airport dalam bahasa Inggris, Bandar Udara Internasional Osaka yang terletak lebih dekat dengan kota Osaka. Kesan pertama yang kutangkap adalah kesan bahwa negara Jepang sangat bersih- tidak ada sepotong sampah yang menghiasi bumi bandara Osaka. Kami mulai berjalan dan bergerak, kami saling menunggu teman. Kalau jumlah rombongan sudah cukup 7 orang baru bergerak lagi- soalnya kalau ada yang ketinggalan ya bisa bikin repot juga. Beginilah kekompakan kami terus untuk menjaga kebersamaan- jangan ada yang sampai kececer di jalan.
            Kami membawa bagasi agak banyak. Soalnya kami  sampai di Jepang adalah di musin dingin. Tentu kami membawa banyak perlengkapan musim dingin. Aku menggambarkan sedikit, seperti apa musin di Jepang dan suasana di immigrasi serta Prefecture Kagawa.
1) Jepang di Musim Dingin
Salju baru saja turun ketika kami sampai di Bandara Osaka. Begitu keluar dari bandara aku langsung disergap udara dingin. Aku sudah tahu bahwa Jepang mengenal empat musim: musim panas (natsu), Juni, Juli, Agustus; musim gugur (aki), September, Oktober, November; musim dingin (fuyu), Desember, Januari, Februari; dan musim semi (haru), Maret, April, dan Mei.
Di sini aku seperti menemukan pemandangan baru yang belum aku temukan sebelumnya. Orang-orang berjalan di trotoar dengan tertib dan disiplin. Trotoar hanya disediakan bagi pejalan kaki dan beberapa pengguna sepeda ontel. Aku tak melihat pengendara mobil atau motor yang ugal-ugalan, apalagi penyebrang jalan sembarangan. Semuanya seperti “mesin” yang tunduk mengikuti aturan. Setiap kali hendak menyebrang jalan, orang-orang dengan sabar menunggu di depan lampu merah hingga lampu menyala hijau. Zebracross betul-betul difungsikan untuk penyebrang jalan.
Di sini pembagian wilayahnya sangat jelas: pusat perbelanjaan, perumahanan, perkantoran, pusat bisnis, pusat pemerintahan. Aku tak menemukan sepeda motor, kecuali hanya beberapa. Padahal, sebagaimana yang kita tahu, Jepang adalah produsen terbesar mobil/sepeda motor. Merek-merek besar seperti Honda, Suzuki, ataupun Kawasaki hampir membanjiri seluruh jalanan di Indonesia. Anehnya, di negeri asalnya, orang Jepang jarang sekali menggunakan sepeda motor.
Aku penasaran dan mencoba menanyakan pada orang Jepang sendiri tentang itu. Menurutnya, setidaknya, ada dua alasan: pertama, moda transportasi umum, seperti kereta, bus, trem sudah dianggap cukup mengantar dan menemani mereka bepergian kemanapun. Mereka tak harus susah payah menggunakan kendaraan pribadi karena moda transportasi umum dianggap lebih ekonomis, tepat waktu, dan dapat dengan mudah ditemukan. Kedua, bagi orang Jepang, sepeda motor dianggap kendaraan yang paling beresiko mengancam keselamatan, namun mereka memproduksiknya dan menjualnya buat negara ketiga. .
2) Immigrasi Jepang
            Aku merasa was-was (cemas) saat masuk imigrasi Osaka. Soalnya orang suka memberikan yang seram- seram (pengalaman seram) di immigrasi. Entah ya entah tidak lebih baik jangan gugup- tenang saja karena kami bukan pendatang illegal dan juga sebaiknya  cari sendiri pengalaman tentang immigrasi Jepang.
Ada temanku yang agak lama keluar dari immigrasi- mungkin apakah gara- gara kami dari Indonesia. Wah itu cuma su’uzon (buruk sangka saja), ya barangkali petugas butuh waktu untuk memeriksa barang dan dokumennya. Ia bercerita pada kami. Bahwa kami masih ingat betul dengan pesan petugas tenaga kerja mengenai trik melewati petugas imigrasi. Pertama, jangan mengesankan penampilan yang mencurigakan. Jawab pertanyaan yang jelas mengenai tujuan dan tempat tinggal selama di Jepang. Sertakan nomor atau alamat juga contact person yang bisa dihubungi di sana. Kesankan kepada mereka bahwa kita adalah visitor atau pengunjung wisata.
Bahkan biasanya, kita akan diminta untuk menunjukkan uang yang dibawa agar meyakinkan mereka bahwa kita tidak akan menjadi gelandangan di Jepang. Untungnya, beberapa hal diatas tidak semuanya terjadi pada kami. Temanku hanya ditanyakan tujuan datang ke Jepang, berapa lama dan tinggal dimana? Ia agak kelabakan ketika petugas menanyakan “ where do you live ? Ia berfikir agak lama- tidak berfikir pula untuk menjawab dalam bahasa Jepang. Akhirnya, dengan jawaban asal ia bilang “ Apartmen “. Petugas kembali bertanya “ What name of apartment ?
“Waduhh…”, dia tambah kelabakan, mau jawab apalagi yaa? Akhirnya dia coba menenangkan diri, berusaha tidak panik, walaupun sebenarnya panik juga. Dengan mengandalkan bahasa inggris hasil kursus cepat dengan teman, dia jawab dengan bahasa Inggris apa adanya. “ Sorry sir. I don’t know name of apartment. But, I have friend in there but I can speak Japanese language.“ Petugas itu cuma mengangguk-anggukkan kepala. Entah karena faham tentang kondisinya, atau karena bingung? Yang pasti , paspornya berhasil diberikan stempel- sebagai tanda bahwa ia bisa masuk imigrasi dengan sukses. Alhamdulillah.
Kami keluarga dan ternyata kami sudah ditunggu oleh bapak Fujioka dan Fukuisan yang datang dengan mobil menjembut kami ke Osaka.  Fujioka adalah orang yang mengatur dan mengurus kami di Jepang dan Fukuisan adalah petugas yang memperkenalkan kami dengan tugas di perusahaan. Ia akan melatih kami selama satu bulan tentang prosedur kerja ala Jepang.
“Kami diajarkan bahasa Jepang yang berhubungan dengan pertanian. Kami juga diperkenalkan tentang budaya Jepang, perlunya hidup tenang dan perlunya membuang sampah ke tempatnya. Andaikata Fujioka dan Fukuisan tidak ada atau datang terlambat maka  tentu kami tidak tahu mau kemana atau kami menunggu sesuai dengan prosedur- atau ha..ha….kami menelpon lagi ke Indonesia”.
Fukuisan selama di Jepang kami anggap sebagai orang tua sendiri. Ia memberi kami perhatian yang besar. Tiap saat- pagi, siang dan sore beliau selalu melihat kami. Orang- orang Jepang itu sangat baik semuanya. Tidak ada pembohongan atau basa basi pergaulan.
Kenapa sih Jepang merekrut kami untuk membatu perusahaan mereka ? Aku juga ingin tahu. Namun setelah sampai di sana aku jadi tahu bahwa di seputar perusahaan kami ternyata daerahnya kekurangan anak- anak muda, yang banyak adalah orang- orang tua. Ya Jepang memiliki populasi banyak orang tuanya dibanding angkatan mudanya- khusus untuk wilayah tempat kerjaku. Itu akibat banyak orang Jepang yang hanya punya satu anak atau menikah tanpa punya anak, sertaberusia panjang.  

3) Propinsi Kagawa
Bus kami bergerak menuju Propinsi atau Prefektur Kagawa- di daerah/ kabupaten Onohara. Prefektur Kagawa ( Kagawa-ken?) adalah prefektur Jepang yang terletak di Pulau Shikoku. Ibu kota prefektur di Takamatsu. Kagawa terletak di sebelah timur laut Pulau Shikoku, berbatasan langsung dengan Prefektur Ehime di sebelah barat dan Prefektur Tokushima di sebelah selatan, serta garis pantai pada Laut Pedalaman Seto yang menjadi batas alami dengan Prefektur Okayama dan Wilayah Kansai.
Kagawa merupakan prefektur dengan luas wilayah tersempit di Jepang. Sebelumnya, Prefektur Osaka adalah yang tersempit sampai Bandar Udara Internasional Kansai dibangun di atas tanah reklamasi pada awal tahun 1990-an yang membuat jumlah luas daratannya sedikit lebih luas dari Prefektur Kagawa.
Prefektur Kagawa mempunyai Taman Ritsurin di pinggir Kota Takamatsu. Takamatsu juga dikenal sebagai pusat udon di Jepang. Beberapa objek wisata yang ada di Prefektur Kagawa antara lain: Kuil Kotohira, Shōdoshima, Istana Takamatsu,  Yashima, Taman Ritsurin dan Situs Seni Benesse Naoshima.
Jarak perjalanan dari Osaka ke Kagawa sekita 3 ata 4 jam. Jalan rayanya bagus. Kalau ada bukit ya bukit itu diterobos- dibikin terowongan. Jadi bukan dibikin jalan mengelilingi bukit dengan lembah yang terjal dan berpotensi bahaya kalau kalau ada longsor.  Menerobos bukit bisa membuat jarak tempuh lebih dekat dan tidak banyak merusak alam.
Kami turun dari bus dan bergerak menuju asrama dan esoknya juga ke perusahaan masing-masing. Malamnya kami berkumpul untuk berkenalan dengan teman- teman senior yang lain. Pagi berikutnya kami mengurus KTP sebagai penduduk Jepang. Pada umumnya penghuni asrama adalah orang Indonesia saja- perkamar ada 4 orang. Ada 2 asrama dan masing- masing asrama ada 25 orang.
“Asramaku yang di Padang berbeda dengan asrama yang di Jepang. Kalau di Jepang asramanya dilengkapi dengan AC yang bisa digunakan sesuai dengan musim: musim panas, dingin, gugur dan musim bunga. Kami mandi pakai bak rendam. Asrama ini menjadi rumahku selama di Jepang. Aku berfikir bahwa kami harus membeli perlengkapan dan kebutuhan buat masak nanti di supermarket- Lebih ringan biaya hidup kalau kami bisa masak daripada kami makan ke restoran yang serba mahal menurut ukuran mata uang kita.”
Meskipun di sana/ di asrama banyak orang Indonesia, Fujioka menyarankan agar kami selalu menggunakan bahasa Jepang karena ini akan membantu kelancaran prosedur kerja dan juga memperlancar penguasaan bahasa Jepang kami. Namun sekali- sekali kami juga mencuri- curi memakai bahasa Indonesia atau bahasa Minang. Namun aku juga sadar untuk mengaktifkan teman teman memakai bahasa Jepang agar bagus kualitas bahasa dan juga kualitas kerja, maka aku selalu menyapamereka dalam bahasa Jepang.  
“Pakailah selalu bahasaJepang pesan Fujioka setiap  saat. Perintah dari atasan kamu selalu dalam bahasa Jepang, kalau kamu pake bahasa Indonesia nanti bakal jadi salah komunikasi”
Aku juga punya sedikit pengalaman tentang makanan. Kami sampai saat hujan lebat di musim dingin- perut terasa lapar. Terbayang betapa enaknya makan sup pake nasi- sebagaimana hidangan kami adalah sup. Ternyata supnya berisi ubi keladi- ubi talas- yang masih terasa lendir  atau getahnya. Wah nafsu makanku jadi hilang. Selain itu rasa berasnya beda dari beras Solok (beras popular di Padang). Beras Jepang kalau dijual di Padang bakalan nggak laku, karena berasnya banyak getahnya dan agak lengket.
“Aku harus bisa adaptasi dengan beras Jepang. Hingga akhirnya aku rasakan Beras Jepang terasa lunak dan lembut. Akhinya pada hari berikutnya aku bisa menyantap nasi Jepang meski tanpa lauk dan cabe. Aku juga berdaptasi untuk minum susu yang expirenya hanya untuk satu minggu- jadi susu mentah Jepang lebih sehat dengan sedikit bahan pengawet. Susunya adalah susu sapi”.
Untuk kebutuhan konsumsi kami sepakat untuk masak bareng- bareng per-kamar (4 orang). Kami iyuran per orang  ¥. 2 000 (2 000 Yendaka). Kami berbagi tugas untuk masak nasi dan masak lauk pauk serta sayur. Sekali- sekali teman- teman yang lain dapat kiriman bumbu dari Indonesia dan kami saat pulang kerja atau saat libur kerja bisa bikin makanan lezat khas Indonesia. Namun tentu saja tidak seenak yang di Indonesia- kami harus beli santan kalengan produk Thailand, rasanya juga beda dari santan kita.

C. Adaptasi dalam hidup
            Kami perlu adaptasi tentang cara makan Jepang. Bagi yang pertama kali datang ke Jepang dan  makanan Jepang memang akan terasa hambar. Lidah orang Jepang memang berbeda dengan lidah orang-orang Asia lainnya yang sangat suka pada rasa bumbu yang kuat. Orang Jepang tidak suka hal yang terlalu manis. Orang Jepang juga tidak suka yang terlalu asin, terlalu pedas, terlalu gurih. Sehingga banyak makanan yang harus diadaptasi, termasuk dengan kare India.
“Kami  pernah mencicipi  kare buatan orang Jepang. Menurut teman bahwa kare di Jepang ini rasanya hambar, jadi kami  perlu memberi tambahan garam”.
Adaptasi memang diperlukan dalam kerangka menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki perbedaan-perbedaan termasuk perbedaan budaya dan selera. Adaptasi tentu berbeda dengan metamorphosis. Adaptasi hanya melibatkan atribut sementara metamorphosis melibatkan perubahan identitas dan jati diri secara fundamental.
Beras Jepang juga berbeda dengan beras Batusangkar. Cara panennya juga beda. Kalau di Batusangkar, padi yang sudah masak dipanen, dijemur dan digiling/ diolah jadi beras di rice-milling, rasanya enak bagi lidah kita. Kalau di Jepang, saat panen,padinya langsung diproses- dikelupasi oleh mesih dan kulit ari padi dibiarkan lengket. Dan langsung disimpan dalam kulkas.
            Orang Jepang suka makan sayur. Aku juga suka sayur. Untuk sayur aku beli wortel, tauge dan bayam. Aku tidak perlu membeli selada dan brokoli karena perusahaanku memproduksi bahan ini. Kami diizinkan untuk membawanya pulang setiap kali panen sayur.
            Aku segera cari tahu tentang shopping di Jepang. Kalau di Indonesia warung dapat kita jumpai dengan mudah namun di Jepang tidak ada warung. Kami belanja di supermarket, semua label pake harga dan komunikasi sederhana dalam bahasa Jepang. Kadang- kadang juga ada tertulis diskon harga maka kita perlu tahu tulisan Jepang. Kita harus tahu kapan expirenya datang. Barang- barang yang hampir expire harganya bisa jadi separoh harga. Bahan makanan yang di jual di sana lebih sehat- menghindari zat pengawet- jadi tahannya bisa 2 atau 3 hari saja. Hari pertama mahal dan hari berikutnya harganya sudah jatuh atau diberi diskon.
            Kita lihat berapa harganya dan kita serahkan duitnya pada kasir, jadi bayar tunai- tak berlaku tawar menawar. Koperasi lokal juga mengurus supermarket dengan berbagai daya tarik seperti pemberian diskon harga dan pemberian bonus. Produk makanan yang sudah expire dibuang ke tong sampah basah. Tong sampahnya bagus tidak asal- asalan, ada 3 tong sampah dengan 3 warna- colour red (for daily rubbish/kitchen rubbish), green (for leaves and natural rubbish) dan yellow  (for recycle rubbish seperti plastik, kertas dan logam).
“Jadi makan expired harus dibuang. Makanan expired- karena kasihan untuk dibuang- maka diberikan kepada masyarakat miskin, ini bisa bikin mereka sakit masal- sakit diare. Ini bisa dihukum berat dipenjara. Tapi di Jepang jarang sekali makanan expire dan dibuang karena mereka sudah membuat prediksi daya beli dan kebutuhan masyarakat”.
“Siapa yang  pernah pergi pesta dikampungnya di Indonesia ? Apa yang terjadi…aku melihat banyak orang yang mubazir- mereka menyisakan makanan. Mula- mula ambil satu piring penuh dengan lauk pauk bejibun, kemudian dimakan seperlunya dan selebihnya disisakan…..ada fenomena bahwa mereka merasa malu kalau tidak menyisakan makanan. Ini namanya termasuk prilaku boros, budaya begini jangan dilestarikan”.
 Orang Jepang tidak suka menyisakan makana- apakah makan sendiri atau di tempat pesta…ya selalu habis. Mereka menghargai waktu- bahwa untuk menanam dan memanen makanan butuh waktu panjang. Kalau makan dan sudah kenyang, mereka instirahat sejenak dan menghabiskan makan dalam piring mereka semuanya. Jadi mereka tidak mubazir.
Di tempat aku shopping kebutuhan harian, aku juga mempunyai orang yang wajahnya mirip melayu, bahasanya beda. Aku rasa mereka orang Vietnam. Aku perhatikan di sana juga toko menjual barang- barang bekas dan pembelinya juga ada orang- orang Jepang. Jadi bila musim dingin jangan beli di musim dingin ya bisa sangat mahal. Aku beli baju musim dingin saat musim panas dan harganya ada diskonnya. Aku juga pernah membeli barang seken (barang bekas)- aku beli sepeda dan juga baju musim dingin. Terlihat masih bagus karena ada labelnya.
Aku beruntung punya asrama yang tidak begitu jauh dari swalayan, jadi kami bisa pergi shopping atau sekedar cuci mata di sana. Pertama kali aku pernah ke mall sendiri namun sampai di perempatan aku jadi ragu karena semua sudut terlihat sama. Maka aku lebih membuka mata untuk membaca berbagai merek jalan atau marka alam. Saat aku sesat jalan ya aku balik lagi ke jalan semula.
Ketika kami dalam grup, kami pernah mencoba keberanian. Kami memberanikan melewati jalan lorong. Kami lewati tanpa takut tersesat ya kami bisa mengenal beberapa jalan. Apalagi kami selalu membawa peta kota. Sekali lagi yang membuat aku ragu adalah saat sampai tiba di perempatan- semuanya tampak sama.
Saat pertama di Jepang, seperti yang aku katakan- kami pergi bareng untuk mengurus pembuatan KTP dan membuka rekening tabungan. Aku ikut membuat perjanjian kontrak, tentu semua dalam bahasa Jepang. Kami mengurusnya di kantor Walikota Onohara. Habis menyelesaikan perjanjian kontrak, kami pergi membeli perlengkapan harian: beli sabun, piring, sendok, handuk dan lain-lain.
Aku membawa uang pangkal sebanyak  ¥. 11.000 dan aku harus berhemat agar tidak kehabisan uang sebelum memperoleh gaji pertama. Aku berbagi uang dengan teman menjadi ¥ 5.500 dan ternyata uang kami memang tidak cukup. Maka aku pinjam lewat teman lain dan dibayar nanti lewat gaji. Saat itu ¥. 10.000 sama harganya dengan Rp.10 Juta. Maka saat aku berbelanja aku perlu mengukurnya dalam nilai rupiah- idealnya kalau berbelanja ya ukur saja dengan mata uang setempat.
“Efek negatifnya aku jadi takut dalam berbelanja, mungkin khawatir tidak cukup uang di rantau orang. Aku akhirnya tidak begitu kikir dengan kebutuhan tubuh dan dengan nilai kesehatan. Aku yakin yang aku makan itulah rezeki buat ku dan yang ada di tangan belum tentu rezekiku”.
Kalau kita berada di Jepang kita akan melihat sangat banyak orang tua- tua. Itu berarti orang Jepang rata- rata berumur panjang. Selama 25 tahun terakhir wanita Jepang telah memegang rekor dunia memiliki harapan hidup terpanjang dengan rata-rata usia  86,4 tahun. Bukan hanya wanita, pria Jepang juga memiliki harapan hidup terpanjang di antara semua pria di 192 negara di dunia. Banyak penelitian mengungkap, perbedaan ini disebabkan pola makan yang sehat.
Dalam bukunya, seorang penulis Naomi Moriyama membuat buku berjudul 'Japanese Women Don’t Get Old or Fat'[2],  Moriyama membawa pembaca ke dapur ibunya di Jepang dan mengungkapkan rahasia keluarganya untuk hidup panjang umur dan tetap sehat hingga masa tua. Ternyata rahasia awet muda masyarakat Jepang cukup sederhana, selain tetap aktif dan rajin berolahraga, jugakarena faktor diet/ makanan. Beginilah rahasia makan orang Jepang:
1) Mengonsumsi makanan lengkap bervariasi
Bahan makanan di dapur masyarakat Jepang adalah berbagai makanan yang dimakan sederhana secara konsisten dan harian. Semua bahan makanan itu bukanlah bahan makanan mahal, namun mengandung tinggi nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh. Rata-rata masyarakat Jepang rajin mengonsumsi ikan, sayuran laut, sayur mayur, kedelai, beras, buah dan teh hijau.
2) Orang Jepang menikmati makanan rumahan yang dimasak sendiri setiap hari
Hidangan makanan tradisional Jepang biasanya terdiri dari ikan bakar, semangkuk nasi, sayuran yang direbus, sup miso, irisan buah untuk makanan penutup dan teh hijau. Orang Jepang merupakan pengonsumsi ikan tertinggi di dunia.  Mereka mengonsumsi £ 150 ikan (68,04 kg) per tahun/ orang dibandingkan dengan rata-rata orang dunia hanya 35 kilogram per tahun. Seperti diketahui ikan mengandung dosis tinggi omega-3 asam lemak. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka hidup lebih lama dan sehat. Tidak hanya Itu, fakta lain menyatakan, mereka juga rajin mengonsumsi brokoli dan sayuran lainnya. Mereka  konsumsi 5 kali lebih banyak jumlah sayuran seperti  brokoli, kubis, kale, kembang kol dan kubis Brussel, dibanding dengan orang Amerika.
3). Orang Jepang hanya memasak makanan yang segar
Penekanan cara memasak orang  Jepang, hanya menggunakan bahan yang segar yang ada di musim itu. Aku melihat bahwa supermarket Jepang selalu mengutamakan kesegaran. Makanan tidak hanya diperhatikan tanggal kadaluarsanya saja, tapi wanita Jepang rata-rata juga selektif saat membeli ikan, daging, sayuran. Makanan yang disiapkan dihitung per setengah jam yang  dikemas hari itu.
4) Orang Jepang makan dengan porsi kecil
Orang Jepang masa kanak-kanak mereka diajarkan untuk makan perlahan-lahan dan belajar menikmati setiap gigitan. Dan makanan yang  disajikan di atas piring hanya sepertiga ukuran peralatan makan Amerika. Demikianlah tata cara dan dasar-dasar cara menyajikan hidangan makanan di Jepang. Makanan harus segar, setiap item disajikan  dalam satu piring, makanan harus dihias dan setiap item harus diatur untuk menampilkan keindahan.

5). Teknik  memasak di Jepang cukup ringan dan lembut
Sebagian besar pekerjaan dilakukan di atas kompor menggunakan variasi teknik seperti mengukus, memanggang di atas panci, menumis, digoreng, dan  mendidihkan makanan secara cepat dalam wajan. Koki Jepang selalu menggunakan minyak khusus untuk jantung sehat dan kaldu rasa asli dari bahan alami.
6) Orang Jepang makan nasi bukan roti setiap makan
Ini merupakan perbedaan penting antara cara makan  orang Timur dan Barat. Mereka yakin,  konsumsi berlebih dari tepung terigu halus merupakan penyebab utama dari obesitas di Amerika saat ini. Jika kita terbiasa makan roti setiap hari, coba ganti dengan ukuran porsi setengah cangkir beras merah atau gandum  1-2 kali per hari.
7) Di Jepang, sarapan adalah makan yang paling dianggap penting dan terbesar
Sarapan mereka terdiri dari berbagai makanan porsi kecil yang meliputi teh hijau, nasi kukus, sup miso dengan tahu dan daun bawang, lembaran kecil rumput laut nori, telur dadar atau telur ikan atau sepotong ikan.
8). Masyarakat Jepang hanya mengkonsumsi sedikit Dessert manis
Di Jepang, makanan penutup dengan rasa manis hanya  disajikan dalam porsi kecil, tidak seperti di Amerika. Namun, bukan berarti coklat, kue kering, kue-kue, es krim dan kue kacang merah tidak berharga. Sebaliknya, mereka sangat menghormati tubuh mereka, ini bisa menjadi cara melawan hawa nafsu. Mereka sadar akan merugi jika terlalu banyak mengonsumsi makanan manis berlebih.
9) Orang Jepang memiliki mind-set yang berbeda tentang makanan.
Sementara orang Amerika prihatin dengan masalah diet dan berat badan, masyarakat Jepang justru dibangkitkan dan didorong untuk menikmati berbagai makanan yang lebih beragam tanpa masalah diet. Namun, saat ini masyarakat Jepang mulai berhati-hati, apalagi dengan diperkenalkannya gaya makan cepat ala  Barat, tingkat obesitas di kalangan anak muda Jepang mulai meningkat.
10) Olahraga merupakan bagian dari ritual harian Jepang.
Orang Jepang berada dalam kesehatan yang baik dan dalam kondisi sangat baik, mereka adalah orang-orang aktif yang menggabungkan banyak latihan insidental dalam hari-hari mereka.  Mereka selalu menciptakan lingkungan yang sehat dengan bersepeda di sekitar kota, berjalan, hiking, dan umumnya, mereka berusaha  tetap aktif.
D. Adaptasi di Lingkungan Kerja
            Aku pada mulanya punya kesulitan dalam lingkungan kerja, karena awal beraktivitas tanganku keseleo. Penyebabnya karena aku tidak konsentrasi dan tanganku salah pegang dan tertumpu ya keseleo. Saat itu musim dingin dan yang aku rasakan keseleo itu lama sembuhnya dalam musim dingin, mungkin aliran darah atau metabolism tubuh tidak seperti dalam musim panas. Maka aku bekerja pake tangan kiri- aku tidak memberi tahu pada boss dan setelah terasa sakit banget baru aku beritahu pada boss-ku.
            “Aku susah mengangkat tangan, aku bilang pada senior dan senior bilang pada atasan. Akhirnya aku dibawa berobat ke tempat sense untuk dipijat akupuntur- pijat pada titik- titik tertentu. Ada tiga kali aku ke sana hingga keseleoku sembuh. Satu kali berobar bayar ¥. 5.000. Yang membayarnya adalah atasan- atau boss, tanpa potong gaji. Itu sebenarnya kita yang bayar- tapi kalau ke rumah sakit baru ada jaminan kesehatan ya semacam program jamsostek- jaminan sosial tenaga kerja. Asal kita memiliki kartu kesehatan, kalau kita beli obat nanti juga ada diskonnya”.
Aku berfikir bahwa beradaptasi dengan orang-orang baru mungkin bukan tantangan berat. Namun menghadapi atasan baru pasti butuh keahlian beradaptasi yang baik. Berhadapan dengan atasan menuntut kita memahami pola pikirnya, cara kerjanya, juga karakternya. Yang tak kalah penting, hubungan dengan atasan amat berpengaruh dalam perkembangan karier. Membangun fondasi hubungan yang baik dengan atasan dan lingkungan kerja yang baru menjadi hal paling penting dan mendasar. Jika kita  merasa kesulitan membangunnya, berikut langkah-langkah yang bisa  kita  lakukan dalam menyesuaikan diri dengan atasan baru. Ada beberapa hal yang musti kita miliki seperti: berfikir terbuka, ikuti system yang sudah ada, bersikap fleksibel, dan bangunlah komunikasi[3]. 
1) Berpikir terbuka
Setiap orang punya cara masing-masing dalam menangani sesuatu, terutama pekerjaan. Atasan dan rekan-rekan kerja baru kita  pasti punya cara sendiri dalam menjalankan pekerjaan di kantor dan mencapai tujuan tim. Saatnya kita  bersiap-siap dengan ide dan pandangan mereka dalam menangani pekerjaan. Siapkan pula diri kita menghadapi konflik perbedaan ide. Karenanya, cobalah berpikir terbuka, berbeda bukan berarti lebih buruk. Tak ada salahnya mencoba cara kerja baru.
2) Ikuti sistem yang sudah ada
Sebagai karyawan baru, kemungkinan kita  mengalami masalah dalam menyesuaikan diri dengan ritme kerja. Alih-alih merusak sistem yang telah berjalan, cobalah mengikutinya. Berikan kontribusi yang baik tanpa banyak mengeluh. Semakin banyak kontribusi yang kita  berikan untuk tim dan atasan, akan makin memberi nilai plus. Asal jangan berlebihan, karena akan membuat Kita terlihat seperti penjilat dan hanya akan menciptakan konflik baru.
3) Fleksibel
Menghadapi atasan baru menjadi poin penting dalam penyesuaian diri dengan lingkungan kerja baru. Tak perlu jengkel jika atasan baru terlihat lebih ribet. Misalnya, meminta update laporan dua kali seminggu, mengadakan rapat dua hari sekali, atau cerewet mengecek ini-itu. Bukan berarti ia tak memercayai kita; hanya saja ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik. Dalam situasi ini, mencoba bersikap fleksibel dan bersabar rasanya sikap yang bijak.
4) Bangun komunikasi
Daripada terus-menerus mengeluhkan cara kerja atasan baru yang mungkin jauh berbeda dengan kebiasaan kerja Kita dengan atasan lama, cobalah membangun komunikasi yang baik. Bagaimana metode dan cara yang dipilihnya untuk berkomunikasi, menangani masalah, dan berhubungan dengan orang lain? Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi perlahan-lahan pasti terjawab dengan belajar memahami sifat, karakter, dan cara kerjanya. Tapi lebih asyik jika penyesuaian diri dilakukan dari dua arah

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture