Selasa, 12 Januari 2016

Merencanakan Studi Perguruan Tinggi Sejak Dini



Merencanakan Studi Perguruan Tinggi Sejak Dini

Saat kecil kita sudah punya cita-cita. Di sekolah ibu dan bapak guru sering menanyakan tentang cita-cita kita. Sekarang saatnya penulis, sebagai guru, juga sering ngobrol dengan siswa tentang pilihan studi dan karirnya di masa depan. Namun pada umumnya mereka bingung dalam memilih cita-citanya. Mereka berkata: “Saya tidak tahu ingin jadi apa” atau “saya tidak tahu bagaimana mencapai cita-citaku kelak.
Berdasarkan pengalaman ini penulis menyimpulkan bahwa sungguh banyak siswa yang memiliki pemahaman tentang masa depan yang sangat minim. Mengapa setelah berusia remaja mereka bingung dengan masa depan atau pilihan karir mereka, pada hal saat sekolah di TK dan SD mereka dengan lantang meneriakan pilihan karir mereka. Orang tua kita juga punya peran dalam menumbuhkan cita-cita kita. Mereka membisikan sekeping cita-cita guna memotivasi semangat belajar kita. Ketika kita sekolah di SD (Sekolah Dasar) orang tua kita punya peran yang banyak dalam memilihkan sesuatu untuk kita, tentu saja mereka membisikan cita-cita yang masuk akal buat kita:
“Moga-moga kamu bisa menjadi seorang tokoh masyarakat, menjadi dokter, polisi, perawat, jadi pilot, juga menjadi pemuka agama, dll”.
Terasa saat di SD orang tua kita juga memilihkan banyak hal buat kita, termasuk memilihkan kebutuhan kita dan juga bentuk cita-cita kita. Namun selepas dari SD, kita mulai dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan studi kita. Walau kemudian, lagi-lagi orang tua masih berperan besar- misalnya memberi pertimbangan- dalam keputusan yang kita ambil.
Usai SD terus kita belajar di SMP, dimana di usia SMP kita juga melakukan sejumlah pilihan dalam studi dan kehidupan. Ketika di SMA, pilihan-pilihan itu semakin banyak. Mulai dari memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan yang akan diambil, lulus sekolah mau kuliah atau bekerja. Dan peran orang tua dalam menentukan pilihan kita sudah berkurang. Termasuk dalam menentukan pilihan kuliah.
Kalau mau kuliah tentu ada sejumlah pilihan. Kita diharapkan bisa memutuskan sendiri. Mulai dari menentukan mengambil program studi D3 atau S1, di universitas mana, program studi atau jurusannya apa, dan ada sederet pilihan lainnya. Sekarang bagi lulusan SLTA/ SMA, terutama remaja, semestinya sudah bisa memutuskan pilihannya sendiri. Karena semua pilihan yang mereka ambil sebenarnya adalah pilihan tentang masa depan mereka.
Dulu saat zamat rekruitmen PNS terasa agak mudah, pilihan kuliah terasa cukup mudah. Orang bisa menunjuk apakah mereka mau berkarir pada bidang kedokteran, perawat, farmasi. Kemudia kalau mereka pilih studi di IPA atau IPS maka mereka akan berkarir di dunia sains atau sosial. Namun sekarang, atau sejak beberapa tahun belakang,  tidak demikian lagi. Fenomena sekarang bahwa pilihan jurusan di perguruan tinggi tidak mutlak menentukan karir. Ada orang yang lulusan fakultas tekhnik atau fakultas hukum ternyata berkarir  dalam bidang perdagangan. Jadinya sekarang pada banyak jenjang pendidikan SMA banyak siswa yang menjadi bingung dan tidak tahu arah untuk karir masa depan, kenapa demikian ?
Mungkin kondisi pendidikan kita yang tidak fokus. Memang benar bahwa ini sering terjadi di Indonesia. Pendidikan tidak banyak membicarakan tentang masa depan, hanya sekedar memberi teori dan PR dan menagih PR keesokan harinya. Juga pendidikan kita mungkin juga miskin tentang motivasi hidup. Mata pelajaran agama hanya 2 jam dalam seminggu dan tidak ada waktu untuk mengupas tentang kisah-kisah hidup Rasul, para sahabat dan ulama cerdas di dunia.
Pelajaran sains kita hanya banyak berkutat pada teori- menghafal rumus-rumus- dan hampir tidak pernah mengupas tentang proses kreatif sang penemu (tokoh sains) mengapa mereka bisa menemukan rumus dan terkenal sebagai ilmuwan. Pelajaran olah raga hanya melatih siswa untuk menguasai gerak dasar dan jarang sekali untuk mempersiapkan menjadi atlit nasional, apa lagi atlit dunia. Dan lain-lain, sehingga saat anak-anak lulus SMA, mereka kaget dan tidak tahu mau ngapain. Itulah bentuk kebingungan anak-anak soal masa depannya.
Belajar dengan motivasi tinggi dapat kita temui pada banyak SMA, apalagi bagi sekolah yang berlabel unggul. Motivasi terkuat mereka untuk belajar dengan sepenuh hati adalah agar bisa jebol di perguruan tinggi favorit yang terletak berjejer di pulau Jawa. Malah untuk menghadapi persaingan yang ketat dan agar bisa menang dalam persaingan dengan menggapai skor yang tinggi maka mereka jugabelajar pada bimbel (bimbingan belajar) yang sekarang sudah menjamur di penjuru tanah air.
Tapi mereka tetap sekedar bisa belajar keras dan bisa meraih skor yang depan. Untuk ke depannya mereka tidak tahu mau kuliah dimana dan mau jadi apa. Rata- rata siswa ingin berkarir di jurusan yang fantastis. Pada umumnya ingin kuliah di Fakultas Kedokteran UI dimana ini hampir tidak mungkin buat menampung banyak siswa yang kualitasnya rendah. Ada juga siswa yang memilih jurusan yang juga secara ikut-ikutan.
Kita bisa menemukan/membaca banyak kasus siswa yang galau dengan karir masa depan. Yaitu banyak mereka yang sudah berpayah-payah mengikuti bimbel dan juga SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) hingga bisa diterima di jurusan yang mereka tuju, tapi malah akhirnya mundur karena merasa tidak cocok dengan pilihan kuliahnya.
Malah ada sebahagian siswa yang sangat ngotot ikut “bimbel” dan ikut lagi SPMB berulang-ulang agar bisa jebol ke fakultas kedokteran dan fakultas favorite lainnya namun juga tak juga lulus. Mengapa mereka memaksa diri, karena bisa jadi peruntungannya atau kapasitasnya tidak di sana (?). Mengapa mereka selalu memaksakan kehendak, tentu saja itu efek dari prilaku yang penuh dengan kebingungan terhadap masa depan studi dan karirnya.
Dalam mengikuti pelajaran, para siswa seolah-olah menganut prinsip “like atau dislike” untuk sejumlah mata pelajaran. Namun mereka harus juga mengikuti pelajaran yang mereka tidak suka. Berbeda dengan pendidikan di luar negeri, seperti di Amerika dimana para siswa boleh memilih mata pelajaran yang mereka suka, sehingga untuk ke depan mereka sudah memahami seperti apa dan dimana karir mereka kelak.
Tentu saja terjadi fenomena “kebingung dengan masa depan”. Mereka tidak tahu kemana mau kuliah dan apa karir mereka kelak. Seharusnya mereka memerlukan bimbingan orang tua.
Kurang fokusnya siswa terhadap masa depan yang akan mereka jalani terjadi karena minimnya wawasan dan pengalaman siswa itu sendiri, peran orang tua sangat dibutuhkan. Memang belum banyak orang tua yang bisa mengarahkan dan membimbing anaknya untuk fokus pada masa depan.
“Bagi saya kemana dan dimana anak mau kuliah saya serahkan padanya. Saya hanya memberi dukungan secara moral, spiritual dan finansial padanya”.
Namun juga ada sebagian orang tua yang kelihatannya cukup peduli. Namun mereka hanya menginginkan masa depan anaknya  sesuai dengan patokannya tanpa melibatkan anak untuk berargumen tentang masa depan mereka. Mereka ingin anaknya kelak sebagaimana yang mereka inginkan, misalnya menjadi dokter, bankir, dan sebagainya. Sekali lagi- sayangnya keinginan anak berdasarkan potensi kurang mereka hiraukan.
Sementara di sisi lain, ada orang tua yang permisif- seperti yang telah kita ungkapkan di atas- pokonya dimana anak/ siswa mau kuliah yan terserah mereka, apa saja boleh. Tipe orang tua seperti ini tidak memberi arahan sama sekali. Sekali lagi bahwa akibatnya anak menjadi kebingungan sendiri. Seharusnya peran orang tua tidak memaksakan diri. Orang tua perlu lebih arif dan lebih cerdas. Mereka harus mengenali potensi anak, setelah itu baru membantu dan memberikan alternatif yang bisa dilakukan anak.
“Mari kita berikan anak- anak kita beberapa alternative pilihan studi, dan biarkan mereka yang memutuskannya. Karena urusan masa depan- apa jurusan dan dimana mau kuliah- adalah tergantung minat dan potensi anak itu sendiri, jadinya anak harus tetap dilibatkan dalam urusan masa depannya”.
Ketika seorang anak sudah beranjak remaja, namun ia belumn juga punya cita-cita atau pilihan karier di masa depan, maka ini adalah warning bagi guru dan orang tua untuk secepatnya memberi arahan masa depan bagi anak-anak/ siswa.  Ini sebagai pertanda bahwa mereka adalah remaja tidak punya cita-cita atau target hidup, dan seharusnya mereka punya cita-cita masa depan.
Bagaimana merancang masa depan buat anak ? Sebenarnya sudah dapat dimulai sejak dari rumah. Orang tua dapat mengarahkan anak tentang masa depannya yaitu dengan pengenalan kepada berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya di masa depan bisa dimulai sejak usia TK atau SD. Mungkin saat libur orang tua dan anak sengaja mengunjungi objek-objek karir seperti pertokoan, properti, plaza, kantor, pabrik, lembaga sains, areal peternakan  hingga bandara. Selama jalan-jalan tersebut mereka perlu melakukan percakapan seputar karir.
Selain itu percakapan tentang karir juga bisa dilakukan dengan membahas biografi para tokoh. Hingga anak mendapatkan tentang karir, bahwa karir itu tidak hanya seputar karir dalam lingkungan PNS namun jauh melampui itu. Menjadi atlit, pengusaha dan seniman adalah juga karir. Kemudian pemantapan atau pematangan baru bisa dilakukan saat anak duduk di bangku SMP dan SMA.
Pada usia SMP dan SMA inilah orang tua harus mulai membicarakan masa depan secara lebih serius. Tentunya dengan gaya berkomunikasi interaktif (dua arah) yang bisa diterima anak. Sebab, anak-anak usia belasan tak bisa diatur dan diajak bicara dengan gaya directive- gaya berkomunikasi satu arah dan banyak mendikte- yang bernada serba mengatur begini dan begitu.
Pendekatan berkomunikasi dengan anak musti secara perlahan dan kesadaran harus timbul dari dalam diri mereka. Orang tua harus bersikap lebih bijaksana dan berusaha agar bisa memberi gambaran tentang masa depan itu dan bagaimana tuntutan buat anak untuk mengejar masa depan, tidak mungkin dengan cara berpangku tangan, bukan ? Kemudian orang tua juga harus mengenal potensi anak. Dengan potensi yang dimilikinya, apa kira-kira yang bisa dilakukan anak untuk menjawab tantangan masa depannya.
Dalam zaman dahulu untuk memilih suatu studi (sekolah) orang punya banyak pertimbangan. Pertimbangan utama adalah soal finansial dan mereka berfikir tentang kesanggupan finansial orang tua. Ujung-ujungnya banyak yang mengambil sekolah kejuruan yang dianggap sebagai pendidikan siap bisa bekerja bila sudah menamatkan jenjang pendidikan SLTA, seperti SMEA, STM atau sekolah kejuruan lainnya.
Anak-anak yang bersekolah di sekolah unggulan, seperti di SMA Unggul, cenderung memilih cita-cita setinggi mungkin. Malah terkesan mereka cenderung memilih juruan yang dianggap keren. Mereka juga tidak begitu mempertimbangkan apakah orang tua cukup mampu secara finansial, apalagi dengan adanyak iming-iming beasiswa yang berlimpah ruah  yang datang dari mana saja- kebenarannya harus dilacak. Malah mereka lebih mendengar sugesti para senior dari pada saran para guru dan juga dari para orang tua. Idealnya sang anak tetap melakukan pertimbangan keuangan untuk memilih kuliah yang kemungkinan butuh dana yang besar.
Memang orang tua akan melakukan apa pun untuk masa depan anak, namun tentu kemampuannya terbatas. Untuk itu beri gambaran padanya. Saat anak merasa mantap dengan keputusannya, disertai pertimbangan yang matang terkait dengan potensinya dan pertimbangan lainnya, juga sudah melibatkan orang tua, maka keputusan ini dapat dianggap sebagai keputusan terbaik. Kini orang tua mesti mengawasi konsistensi anak dalam menjalankan semua rencananya.
Agaknya ada beberapa saran untuk menentukan masa depan buat para siswa yang akan menamatkan sekolah SMA atau SLTA-nya. Sebaiknya mereka focus untuk belajar, misal lewat bimbel atau belajar secara mandiri (otodidak) untuk sekedar menghemat biaya, karena untuk bisa kuliah tidak perlu melalui bimbel segala. Namun juga nikmati suasanaberlibur untuk menambah wawasan sosial. Kadang-kadang jalan kehidupan kita tidak berjalan sesuai rencana. Untuk itu jangan kaku dan terlalu terpaku pada “planning”.  Bisa saja rencana kita keluar dari jalur dan itu adalah wajar dan biasa saja. Yang penting kita tidak perlu mengikuti mimpi atau rencana orang lain. Karena mimpi orang lain adalah milik orang lain. Yang yang terpenting kita harus mengetahui talent atau bakat kita. Untuk itu mari kita pertimbangkan bakat kita sendiri.
Agaknya cita-cita kita yang lebih konkrit adalah saat kita sudah berusia 18 tahun, yaitu di ujung masa remaja kita dan dimana usia dewasa kita datang menyambut. Keputusan kita buat kuliah sudah cukup logika dan masuk akal. Beberapa hal yang kita rasakan dulu mungkin akan berubah. Itu adalah hal yang biasa saja. Lagi- lagi dalam hal ini kita perlu mencari info, mungkin lewat membaca buku/ majalah/ surat kabar atau petunjukm orang lain. Moga- moga ada petunjuk yang bermanfaat bagi kita.
Ada sebuah ungkapan baru yaitu: Habiskan waktu sebelum menghabiskan uang. Ya untuk hal ini kita perlu berinvestasi dalam membaca, membicarakan, dan mencari tahu sebelum kita menyalurkan sejumlah besar uang untuk meraih sebuah gelar, sertifikasi, atau relokasi. Perlu kita sadari bahwa kita tidak perlu selalu mengeluarkan uang untuk menyusun masa depan.
Ada lagi prinsip yang harus kita punya untuk menyiapkan karir masa depan yaitu kita tidak perlu menjadi yang terbaik- ini tentu saja pendapat penulis. Karena sangat sedikit orang yang menjadi terbaik dalam suatu hal. Melakukan yang terbaik bukan berarti harus jadi yang terbaik. Kadang kita mungkin gagal pada percobaan pertama, tapi hidup adalah kata lain dari kesempatan.
Anak-anak muda sekarang perlu tahu dengan prinsip pendakian. Bahwa untuk mendaki sebuah tangga tentu saja dimulai dari injakan paling bawah. Banyak siswa sekarang yang berfikir dengan cara menggampangkan.
Saat terjadi perbincangan antara guru dan siswa di sekolah, salah seorang siswa mengangkat tangannya bahwa dia kelak setelah tamat dari SMA ingin melanjutkan studi ke jurusan Hubungan Internasional, dengan alasan setelah itu ia ingin menjadi seorang Duta Besar, demikian penjelasannya dengan mantap.
Apakah ada orang yang menjadi Duta Besar di usia 20 tahunan ? Tentu saja tidak. Bahwa jabatan Duta Besar adalah kebijakan dari seorang Presiden, dan rata-rata seorang menjadi Duta Besar dalam usia di atas 50 tahun. Makanya setiap remaja, siswa dan mahasiswa perlu selalu menambah ilmu, memperluas wawasan dan juga menajamkan visinya.
Namanya orang tua tentu saja dia tetap membimbing anaknya dalam menempuh kehidupan di dunia ini. Ada seorang teman penulis, sebagai contoh, tidak memperoleh pendidikan tinggi dari universitas. Dia hanya banyak belajar dari alam dan berpendapat bahwa sekarang pintu untuk bekerja di jalur PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah sangat susah. Maka semua orang tetap dimotivasi untuk selalu meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal dan non formal.
Teman tersebut berpendapat kalau seorang anak tidak mungkin bisa menciptakan lapangan pekerjaan, maka lebih baik kalau ia ingin melajutkan pendidikan ke Perguruan tinggi untuk memilih jurusan yang tamatannya jelas dimana tempat untuk berkarir. Misalnya anak memilih jurusan tekhnik maka tempatnya cukup banyak berlimpah di pelosok negeri, atau memilih jurusan perhotelan dan parawisata maka usaha karirnya juga terlihat jelas. Ia berpendapat untuk tidak memilih jurusan yang abu-abu karena tamat kuliah, menjadi sarjana namun bingung apa yang mau dikerjakan. Kita sebagai guru dan orang tua sangat tepat untuk menganjurkan pada anak-anak kita buat studi lanjutan mereka dan menulis pesan pada dinding kamar mereka dengan frase: Rencanakan studi perguruan tinggimu sedini mungkin.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture