Selasa, 12 Januari 2016

Pentingnya Suasana Bahagia Dalam Belajar



Pentingnya Suasana Bahagia Dalam Belajar

            Setiap pagi penulis keluar dari rumah lebih awal dengan tujuan bisa mengantarkan ke dua anak penulis ke sekolah yang berbeda. Yang kecil bersekolah di madrasah dan yang besar bersekolah di SMA. Setiap pagi terlihat suasana anak-anak lain yang juga penuh ceria. Wajah mereka dihiasi oleh senyum- senyum yang asli datang dari lubuk hati mereka. Mereka tentu saja mengawali dan mengisi hari-hari mereka penuh dengan rasa bahagia dan mereka adalah para siswa yang memiliki pribadi yang bahagia.
            Saat pulang mengantarkan anak, penulis masih melihat beberapa remaja sengaja berlambat- lambat untuk pergi ke sekolah mereka. Tentu saja timbul pertanyaan, mengapa mereka sengaja menunda keberangkatannya ke sekolah ? Mengapa wajah mereka kelihatan tanpa ekspresi ? Mungkin mereka kurang tidur, kurang bahagia dan tentu mereka lagi bermasalah di rumah, atau paling kurang bermasalah dengan diri mereka sendiri.
            Anak-anak yang bermasalah dengan dirinya pada umumnya kurang berhasil di sekolah. Mereka terlihat kurang bersemangat dan kehilangan motivasi belajar. Penyebabnya tidak terjadi secara instan, namun mempunyai faktor yang terjadi sejak awal kehidupan. Bisa jadi gara-gara  konsep parenting dari orang tuanya.
            Orang tua yang kurang paham tentang konsep cara menjadi orang tua ideal- cenderung menganggap anak sebagai objek yang siap untuk didikte, diatur, dan diperlakukan dengan semau gue. Orang tua yang cenderung mengadopsi pola komunikasi satu arah, kemudian orang tua yang punya karakter serba monopoli, suka terlalu mencampuri privacy anak dan juga kurang memberi anak rasa bertanggung jawab. Cara-cara begini pada akhirnya akan menciptakan anak yang unhappy dalam hidup mereka.
            Kita semua- terutama guru dan orang tua- perlu mengkondisikan dan membantu perkembangan anak sehingga mereka menjadi siswa dengan pribadi yang bahagia. Siswa dengan pribadi yang bahagia insyaAllah akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan sukses. Berikut kita akan berdiskusi tentang hal tersebut. Mari kita tumbuhkan pribadi mereka menjadi bahagia !
            Terutama di rumah bahwa tugas seorang orang tua bukanlah hanya sebatas mengurus keperluan serta kebutuhan harian mereka dan mendidik mental/ prilakunya, namun juga juga mampu menjadi penghibur bagi si anak. Terutama saat mereka merasa terluka dan bersedih.
Memiliki anak yang gembira dan riang- gembira tentunya sangat bermanfaat, karena anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mungkin lebih kreatif dan berkarakter open minded (berfikiran terbuka). Anak yang berkarakter gembira, mampu menguasai suasana hatinya, akan belajar dan bekerja lebih optimal.
Sementara itu kalau ada anak yang dalam usia masih kecil sudah sering mengalami stress, apalagi depressi, tentu sangat tidak baik untuk pertumbuhannya. Makanya orang tua perlu melakukan tiga hal untuk membuat anaknya menjadi individu yang bahagia, yaitu dengan memahami dan mengaplikasikan tiga kata kunci (key word) seperti “mengenal, mencintai, dan meniru”.
Orang tua yang baik harus selalu memberi anak pegalaman hidup melalui pengenalan hal-hal positif buat anak. Mengenal hal-hal yang positif punya dampak dalam memperkaya imajinasi anak. Imajinasi bisa sebagai permulaan dari sebuah kreativitas. Sebuah pemikiran yang kreatifitas mungkin akan menggugah pertumbuhan kognitif anak secara optimal.
Ketika anak tersebut telah “mengenal hal-hal yang baru kita berikan maka akan timbul rasa sukanya. Dalam konteks ini menyukai atau mencintai merupakan mengeksplorasi hal baru sebagai pengalamannya. Setelah anak mengenal dan mencintai “pengalaman baru” maka secara otomatis dirinya akan meniru sebuah hal yang baik untuk ditiru. Konteks peniruan ini  mencakup bentuk latihan dan penerapan.
Sebagai contoh, kita ambil objek yang disenangi anak, seperti key board atau alat musik yang lain-, jika anak telah mengetahuinya maka ia akan banyak bertanya kepada kita tentang key board tersebut. Dengan demikian dari jawaban dan informasi yang ia peroleh, ia menjadi sangat tertarik. Selanjutnya ia akan mencoba untuk meniru bagaimana orang bisa mempraktekanya. Hingga pada akhirnya sang anak memiliki idola yang lebih jago dan popular dalam bidang music. Selanjutnya dia berlatih dan meniru agar bisa sehebat sang idolanya.
Agar anak bisa memiliki pribadi yang bahagia, maka orang tua perlu meningkatkan ketertarikan anak (motivasi) untuk belajar. Memang dalam praktek dalam kehidupan ini bahwa mendidik anak untukm senang belajar cukup sulit. Kadang kita butuh kesabaran yang lebih untuk membuat anak kita mengerti bagaimana pentingnya belajar. Kalau belajar buat anak, terutama anak kecil, maka kita harus bikin kondisi yang menyenangkan dan menghindari tekanan. Belajar yang menyenangkan akan membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran.
Malah sekarang ada teori tentang “pailkem”, Hamzah B.Uno dan Nurdin Mohammad (2012) telah menulis tentang “pailkem”- singkatan dari akronim “pembelajaran aktif inovatif lingkungan kreatif efektif menarik”, yaitu salah satu strategi untuk mengoptimalkan pembelajaran di sekolah. Dengan pailkem insyaallah akan bisa terbentuk suasana belajar yang menyenangkan. 
Membuat suasana belajar yang menyenangkan untuk anak diakui memang tidaklah mudah. Dia butuh persuasif (bujukan) dan memberinya kegiatan yang sesuai dengan minat dan kapasitas anak. Dengan demikian anak dapat dengan mudah diajak untuk belajar. Juga lingkungan yang kondusif sangatlah berpengaruh pada niat anak belajar. Jika lingkungan nya dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan rasa penasaran si anak, pasti anak dapat dengan mudah diajak untuk belajar.
Teman-teman bergaul juga berpengaruh pada minat belajar anak. Semangat teman itu ibarat virus yang bisa menular. Dengan teman-teman yang aktif, maka anak akan juga menjadi aktif, hingga ia dapat dengan mudah mulai belajar. Sebaliknya teman-teman yang pasif akan membuat anak juga terserang oleh virus (semangat) yang juga pasif. Dimana akhirnya minat belajar jadi lemah dan hilang.
Selain membuat suasana belajar yang menyenangkan, orang tua juga perlu mengajarkan tentang kedisiplinan. Ya disiplin di dalam kegiatan anak belajar, dan disiplin disini bukan dalam arti kata untuk mengekang si anak. Namun disiplin untuk membuat anak selalu konsistensi dalam belajar. Disiplin dapat dipraktekan dengan bahasa yang tetap menyenangkan, yaitu melalui kalimat atau bahasa yang tidak terkesan merendahkan tetapi selalu memberi semangat dan tetap positif.
Dalam berbuat (beramal) agama kita memperkenalkan istilah pahala atau dosa. Istilah lainnya adalah hadiah dan hukuman (reward or punishment). Sistem hukuman dan hadiah pun dapat di sisipkan diantara kegiatan belajar. Sebab hukuman dan hadiah dapat dijadikan motivasi untuk si anak dalam kegiatan belajar. Tetapi harus diperhatikan juga sistem hadiah dan hukuman ini, sebab kadang kita terlalu banyak memberikan porsi hadiah atau hukuman tersebut. Jika kita terlalu banyak memberikan hadiah, maka si anak cenderung akan menjadi manja lalu jika kita terlalu banyak memberikan hukuman, maka si anak akan merasa takut dan juga merasa tertekan. Ya semua tergantung pada seni mendidik dari orang tua.
Orang tua, begitu juga dengan guru, perlu tahu tentang kiat untuk mengembangkan minat belajar anak- mengembangkan minat membaca. Membaca- dan juga menulis-  merupakan aktifitas yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Kemampuan membaca dan menulis anak memberi kontribusi terhadap prestasi si anak di sekolah. Orang tua umumnya sangat bangga kalau pada kelas rendah – kelas 1 dan 2 SD- anak sudah pandai membaca dengan lancar. Sebagai catatan bahwa orang tua tidak boleh memaksa anak untuk belajar membaca saat usia mereka masih balita. 
Agaknya perlu dikenal faktor yang bisa mendorong minat belajar membaca anak-anaknya. Kebiasaan gemar membaca mereka sebaiknya dikembangkan sejak anak masih berusia balita, bukan. Bukan dalam bentuk memaksa, namun dalam bentuk bermain- karena dunia anak- anak adalah dunia bermain.
Kemampuan membaca buat anak adalah anugerah buat mereka karena anak yang gemar membaca umumnya akan tumbuh menjadi pelajar yang cerdas dan berwawasan luas. Jadi untuk menumbuhkan minat belajar membaca anak, orang tua perlu memulainya dari rumah. Berikut langkah-langkah untuk menumbuhkan minat belajar membaca anak.
a) Perpustakaan mini buat keluarga, tentu saja pembentukan perpustakaan keluarga tidak harus langsung jadi. Menyediakan bacaan buat keluarga yang dimulai dengan beberapa judul buku adalah merupakan langkah awal. Lebih penting terlebih dahulu untuk menarik minat baca anak melalui buku-buku yang berisi banyak gambar menarik dan penuh warna, ya sesuai dengan tingkat usia anak.
b) Membaca bersama dalam keluarga. Teman penulis, Ulla Mo, Eva dan Guini, yang datang dari Swedia mengatakan bahwa di negeri mereka ada kebiasaan membaca dalam keluarga, yaitu ada kegiatan reading time setelah makan malam. Agaknya kita juga bisa mengadopsi kegiatan ini. Orang tua (kita) menyediakan buku dan setelah memilih buku yang tepat, kita menumbuhkan minat membaca pada anak dengan cara sering membacakan buku cerita- kisah petualangan di saat bermain atau di waktu menjelang tidur.
c) Mengikuti pemahaman anak, tentu saja orang tua perlu meluangan waktu secara teratur untuk menemani anak, membaca bersama dan sekaligus melihat/ memonitor pemahaman anak dalam membaca. Membaca berguna untuk mengembangkan daya nalar anak. Biasakan setelah selesai membaca sebuah buku, kita tanyakan pada anak tentang kesimpulan yang diperoleh dari buku tersebut. Kebiasaan ini dapat membantu anak dalam berpikir secara sistematis dan menarik kesimpulan.
Namun menumbuhkan minat belajar membaca anak juga tidak bisa dipaksakan. Beberapa anak memiliki tingkat perkembangan membaca yang lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Memaksa anak untuk belajar membaca sangat tidak baik. Anak akan menjadi tertekan karena dituntut melakukan sesuatu yang ia tidak bisa, akibatnya anak menjadi malas-malasan ketika disuruh belajar pada waktu selanjutnya. Atau bahkan dapat membuat anak mengalami gangguan membaca.
Kapan ya anak kita siap untuk belajar membaca ? Tentu saja mereka belajar membaca dengan cara yang menyenangkan. Anak kita agaknya siap untuk mulai belajar membaca kalau ia sudah dapat membedakan kiri dan kanan, maksudnya ia juga agak mampu membedakanan huruf yang mirip seperti huruf ‘p’ dan ‘q’ atau ‘b’ dan ‘d’. Kemudian bila kemampuan motorik yang baik, yaitu setelah ia mampu untuk melempar, menggunting dan menangkap bola. Dan juga punya kemampuan untuk memahami. Anak yang sudah dapat membedakan  bentuk, warna, ukuran, bunyi dan mengingat apa yang ia lihat akan lebih cepat dilatih membaca. Karena dalam belajar membaca anak harus bisa mengenali bentuk-bentuk huruf dan membedakannya. Misalnya saja, anak akan mudah memahami ejaan kata ‘kucing’ jika ia sudah tahu apa itu kucing.
Akhir kata bahwa dalam mengajar anak kita perlu memahami prinsip “memberi dorongan dan bukan mendukung”. Pendidikan memerlukan kesungguhan. Filosofi mendidik bagi negara maju dan juga orang-orang yang berfikiran maju adalah bahwa mendidik bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang anak agar bisa untuk maju. Jadi memberikan “encouragement”. Kita tidak mungkin mengukur prestasi anak atau orang lain menurut ukuran kita. Kita bisa meniru karakter guru-guru di negara maju dalam mendidik yaitu “karakter yang membangun semangat belajar anak, bukan karakter yang merusak atau menghancurkan mental belajar anak”.
Kita tidak mungkin bisa menciptakan generasi yang hebat dengan mendidik penuh dengan ancaman, tekanan, gertakan dan segudang rasa takut. Jadi generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya sebagai generasi maledukasi, yaitu generasi salah didik. Juga anak-anak yang dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: awas nanti ya !!!, dan juga diancam dengan nilai rendah, tinta merah hingga nilai di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal) di sekolah sebagai bentuk praktik mal-edukasi juga.
Jadi idealnya kita- para guru dan orang tua harus selalu mendidik dan mengajar dengan penuh semangat, memberi dorongan, suasana hati gembira dan wajah ceria. Pendek kata kita perlu menumbuhkan jiwa dan pribadi anak menjadi bahagia dalam hidupnya. Karena Melalui pribadi yang bahagia belajar akan menjadi lebih mudah, indah dan menyenangkan.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture