Kamis, 23 Agustus 2018

Resensi Novel: Mandi Cahaya Rembulan

Judul:Mandi Cahaya Rembulan
Penulis:Abdul Mutaqin
No ISBN:978-602-16950-05
Kategori:Keluarga
Cover:Hard Cover
Isi:228
Ukuran:13,5 x 20,5 cm

Novel ini bikin saya penasaran sehingga saya betah membacanya berlama-lama. Novel ini juga membuat saya mengerti  bagaimana kehidupan tatanan masyarakat patrilineal (yang berfokus pada laki-laki) yang kontra dengan masyarakat saya- masyarakat Padang/ Minang yang matrilineal (yang berfokus pada kaum perempuan).
Setting novel ini sangat asyik, penggambaran tentang Kampung Pesisir (dekat Depok- Jawa Barat) pada masa lalu dan bagaimana tulusnya pengabdian seorang guru di sebuah madrasah atau sekolah pinggiran  membuat saya ikut hanyut ke dalam kisah-kisahnya. Ada juga pesan tersirat buat  “Pemerintah, Legislatif dan masyarakat luas” agar memberikan kepedulian yang sungguh-sungguh atas kesejahteraan “guru kelas dua/ guru honorer” yang selalu berjuang buat mencerdaskan anak-anak bangsa. Pengabdian mereka malah bisa melebihi hebatnya pengabdian para guru di sekolah-sekolah yang disponsori pemerintah.
Novel ini tidak hanya sekedar menghibur namun juga memberi kita pandangan hidup- bagaimana  seharusnya kita bersikap saat terjebak dalam konflik keluarga/ sosial, bagaimana pentingnya berbahasa yang santun, dan bagaimana menjadi orang timur/ orang Indonesia yang bijaksana. Usai membaca novel dipastikan bahwa kita juga memperoleh segudang ilmu yang berguna buat hidup: tentang cara mendidik anak, cara hidup dalam rumah tangga dan masyarakat dan cara beradaptasi yang baik dengan komunitas sekitar.
Saya bangga dengan Abdul Muttaqin yang telah meluangkan waktu, tenaga dan fikirannya untuk menyelesaikan novel “Mandi Cahaya Rembulan”, sebuah novel yang sangat hebat. Abdul- melalui novel ini- mengingat kepada saya dan juga semua pendidik bagaimana menjadi guru ideal- melalui peran tokoh “Qori/ Bayram Abqori, yaitu seorang guru yang amat tulus, mencintai profesinya dan memperoleh  kepuasan kerja sebagai guru.
Indonesia  membutuhkan  seratus atau seribu “Abdul Muttaqin” lainnya yang senantiasa berkarya- berkreasi dan berinovasi- buat bangsa. Bila muncul seratus atau seribu Pangarang dan Guru yang tulus seperti Abdul Muttaqin- sang penulis novel ini- saya yakin bahwa pendidikan Indonesia akan jauh lebih maju. Ungkapan yang mengatakan bahwa “banyak guru yang buta dalam membaca dan lumpuh dalam menulis” bakal sirna.
(Marjohan, M.Pd: Guru SMA Berprestasi Tingkat Nasional 2012 dan Penulis Nasional asal SMAN 3 Batusangkar, Sumatera Barat)   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

if you have comments on my writings so let me know them

Penerimaan Siswa Baru "PPDB 2021-2022 SMAN 3 BATUSANGKAR"

  SMA NEGERI 3 BATUSANGKAR INFORMASI PEDAFTARAN PPDB 2021 -2022 1. Persyaratan PPDB Umum : 1. Ijazah atau surat keterangan Lulus 2. Kartu ke...