Sabtu, 19 Januari 2013

Ikut Seleksi Guru Berprestasi



Ikut Seleksi Guru Berprestasi

            Tiba-tiba Bapak Rosfairil- Kepala Sekolahku/ Kepala SMA Negeri 3 Batusangkar- mengusulkan dan menganjurkan agar aku ikut seleksi Guru Berprestasi. Namun aku tidak langsung menerima dan aku berargumen:
            “Bapak.....,tidak usah daya ikut lagi, karena dulu tahun 1998 saya sudah pernah mengikuti pemilihan Guru Teladan dan malah saya bisa meraih peringkat dua Guru Teladan Tingkat Propinsi Sumatera Barat. Alasan lain bahwa umur saya sudah cukup senior/ tua dan lebih baik peluang lomba ini diberikan kepada guru-guru yang masih berusia muda, agar mereka bisa mempersiapkan diri dan berkiprah dalam mengembangkan profesi mereka sebagai pendidik.
            Namun Kepala Sekolah tetap menganjurkan untuk kali ini, mana tahu aku bisa menang dan diberi reawrd oleh Pemeerintah Sumatera Barat untuk bisa menunaikan ibadah Haji ke tanah suci, Makkah.
            “Baiklah..” Jawabku dan aku mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi pada tingkat Kecamatan Limo Kaum- dan aku bisa meraih skor yang tinggi. Selanjutnya aku memperbaiki persiapan diri untuk lomba di tingkat Kabupaten Tanah Datar.
Lomba guru berprestasi untuk tingkat Kabupaten terasamulai ada tantangan dari utusan sekolah atau kecamatan lain. Setelah penilaian dari dewan juri atas ujian tulis, oresentasi dan portofolioku..maka aku dinyakan meraih skor tertringgi dan selanjutnya aku bakal bersaing dengan para utusan dari kabupaten lain dalam Propinsi Sumatera Barat.
Seleksi guru berprestasi untuk tingkat Sumatera Barat diselenggaran di kota Bukittinggi. Selain membawa dokumen atau portofolio, peserta juga harus menulis best practice (pengalaman sukses) yang judulnya “Mengapa Aku layak Sebagai Guru Berprestasi:. Cuplikan dari tulisan ini adalah adalah sebagai berikut:
    
1.Memotivasi Diri
            Motivasi untuk berprestasi perlu dikembangkan pada siapa saja, termasuk pada anak-anak. Orang yang berhasil adalah orang yang punya motivasi. Alex Sobur (1986: 13) mengatakan bahwa motivasi dapat tumbuh dalam suasana yang bebas, merdeka, tanpa ada ketegangan dan tuntutan yang berlebihan pada anak. Ia perlu merasa dihargai dan diterima apa adanya. Untuk merangsang potensi anak maka orang tua perlu menyediakan lingkungan yang kaya dengan imajinasi, membiarkan anak untuk menyelidiki (bereksplorasi) lingkungan tanpa banyak diusik.
            Sesuai dengan judul esai ini “Mengapa Saya Layak Sebagai Guru Berprestasi”, tentu saja karena akumulasi dari pengalaman masa laluku, yaitu hasil dari eksplorasi demi eksplorasi yang pernah  aku  lakukan. Sebagaimana dikatakan oleh Simajutak dan Pasaribu (1984: 13) bahwa anak perlu melakukan eksplorasi (menjelajah) ke luar rumah lebih luas untuk mengenal dunia, hal-hal baru, peristiwa baru, suasana baru dan orang-orang baru jauh di luar sana. Aku beruntung bisa mempunyai orang tua yang tidak begitu otoriter dan overprotektif  meski almarhum ayah dan ibuku  bukan orang berpendidikan tinggi, mereka hanya bersekolah di Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).
            Mengapa aku  layak dipilih sebagai guru berprestasi, itu adalah karena rahmat Allah Swt, dimana aku menyenangi dunia tulis-menulis hingga menjadi seorang penulis disamping berprofesi sebagai guru. Aku juga melakukan otodidak untuk menguasai bahasa Inggris, Perancis, bahasa Arab, dan Spanyol. Disamping itu aku  juga mencintai bidang sosial dan kemanusiaan. Aku  akan memaparkan pengalaman- pengalaman tersebut secara ringkas.     

2. Menjadi Seorang Penulis
Menulis adalah aktifitas yang sulit bagi sebagian orang. Mereka mengatakan bahwa menulis itu sungguh sulit. Ada yang mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, kalau menulis matanya jadi berair. Ada pula yang mengatakan kalau menulis kepalanya jadi sakit, ada pula yang  berlindung dibalik alasan dan kata “tetapi”.
 “Saya ingin menulis, tetapi tidak punya waktu, saya mau menulis tetapi saya sibuk, saya ingin menulis tetapi anak sering mengganggu”. Dan masih ada belasan alasan dibalik kata “tetapi”.
Aku sendiri pada mulanya juga merasakan hal yang sama dan juga beranggapan bahwa menulis itu sangat sulit. Namun aku  beruntung saat bersekolah di tingkat SMP aku  berlangganan majalah Kawanku dan majalah Hai. Waktu itu aku  belajar di SMP Negeri 1 Payakumbuh (tahun 1980an). Dalam sebuah edisi majalah dimuat  profil Leila Chudori Budiman, seorang redaktur  majalah tersebut, yang kemudian tulisannya sering muncul dalam koran Kompas. Dalam profilnya ia memaparkan bagaimana ia bisa menjadi penulis dan menjadi kolumnis. Aku  berfikir:
“wah enak sekali ya menjadi penulis, bisa menjadi orang ngetop, punya banyak teman dan bisa memperoleh uang”.
Rasa ingin tahuku  tentang bagaimana menjadi seorang penulis terobati saat aku berkenalan dengan berbagai buku biografi para penulis. Buku tersebut yang aku  peroleh dari perpustakaan sekolah dan rumah tetangga. Aku  mempunyai tetangga, namanya Bapak Jamaran seorang pensiunan Camat di kota Payakumbuh. Ia jago  bermain biola dan memiliki koleksi buku-buku di rumahnya. Aku  melihat ada koleksi buku dalam bahasa asing- bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Aku  menjumpai buku biografi Ernest Hemingway, Buya Hamka dan Cindy Adam penulis buku “Sukarno as retold to Cindy Adam”. Pada masa-masa selanjutnya aku  rajin membaca  biografi penulis novel, termasuk kisah hidup Prof. Zakiah Darajat, hingga aku   menjadi tahu bahwa untuk menulis dan menjadi seorang penulis butuh ketekunan dan latihan yang teratur.
Saat berusia remaja aku  tidak banyak mengalami godaan dan gangguan untuk tumbuh dan berkembang. Aku  masih ingat bahwa saat itu (tahun 1980-an) tidak banyak stasium televisi dan dan fasilitas elektronik yang bisa mengganggu kosentrasi belajar. Tayangan televisi yang ada hanya dari stasiun TVRI, jam tayangnya juga singkat.
Saat itu juga belum ada HP kamera, digital game, online game dan MP-3 untuk diotak atik dan juga tidak ada VCD player buat  home theatre. Teknologi komputer, laptop, netbook dan fitur internet seperti zaman sekarang belum lahir. Oleh karena itu aku  memiliki banyak waktu dan memperoleh kebebasan yang banyak dari orang tua untuk bereksperimen.
Aku senang menulis karena terinspirasi oleh biografi penulis dan aku  kemudian mempunyai lusinan buku diari yang penuh dengan coretan-coretan mimpi dan pengalaman nyata serta pengalaman dalam ilusi. Pulang sekolah aku terbiasa menulis tentang pengalaman hidup.
Mimpiku  dalam usia muda adalah bahwa aku  merasa sebagai orang yang paling jago dalam segala hal. Aku  jago dalam bidang olah raga, matematik dan beberapa mata pelajaran lain, juga jago dengan bahasa Inggris. Aku  ingin semua teman kagum padaku. Aku juga jatuh cinta dengan teman sekelas- sebagai cinta monyet. Mimpi dan ilusiku  sebagai orang yang paling romantis  aku  paparkan dalam bentuk cerpen pada buku tulis (buku diary).
Bila selesai menulis, maka aku  serahkan pada teman yang gemar membaca namun tidak bisa menulis agar ia bisa menikmati tulisanku. Kadang-kadang aku  juga mengundang adik-adik dan anak tetangga untuk mendengar kisah- kisah romantis khayalan  yang aku  tulis.
Bertambah umur tentu tentu bertambah pula pengalaman hidup. Saat kuliah di UNP (saat itu IKIP Padang) aku  bekerja paroh waktu sebagai pemandu wisata. Aku  ikut seleksi menjadi West Sumatra Guide di dinas Pariwisata Sumbar, aku  lulus dan aku  bergabung dengan sebuah travel biro. Aku  bekerja sebagai pemandu bila  kuliah senggang.
Aku  melalui  pengalaman suka duka selama menjadi guide. Aku pernah  dibentak oleh bule-bule yang datang dari negara Benelux (Belgia- Netherland- Luxembourg) karena mereka tidak mengerti bahasa Inggrisku, dan aku  tidak bisa menggunakan bahasa mereka atau menyapa mereka seperti dalam bahasa Perancis:
“Bonjour tout le monde, bienvenue dans notre Sumatra d’Ouest. Elle est une belle region. Je vous accompgne pour aller et voir quel q’un et quel que chose”.
Aku  kemudian berbicara dengan tour leader-nya dan dia menterjemahkan informasiku ke dalam bahasa mereka. Aku  merasa senang memperoleh gaji dari perusahaaan dan uang tip dari mereka. Pengalaman- pengalaman tersebut juga aku  tulis pada buku diari dengan tekun.
Membaca banyak buku, artikel dan fikiran-fikiran orang lain sangat bermanfaat karena bisa membuat tulisan kita lebih berkualitas. Mulai tahun 1987, aku  memutuskan untuk menjadi pembaca yang baik. Aku  berlatih, membuat target untuk membaca 100 halaman setiap hari. Bila liburan datang aku  juga punya target untuk bisa menamatkan membaca 4 atau 5 judul buku. Banyak membaca tentu akan membuat kita kaya dengan wawasan dan informasi. Bila banyak berlatih menulis maka tulisan kita akan lebih menarik. Dalam menulis kita harus bisa memaparkan banyak ilustrasi dan contoh-contoh dalam kehidupan.  
Tahun 1990-an, aku  menajdi guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Lintau Kabupaten Tanah Datar. Aku  berprinsip bahwa aku  harus menjadi guru plus. Tidak menjadi guru yang biasa- biasa saja- guru kebanyakan yang aktifitasnya sangat monoton dan tidak bervariasi. Aktivitasnya hanya pergi sekolah, duduk, ngobrol, masuk kelas, keluar kelas...pulang, tidur dan seterusnya.
Aku  ingin menjadi guru dengan kepintaran berganda. Guru yang menguasai bidang studi, menguasai seni berkomunikasi, menguasai bahasa asing yang lain dan trampil dalam menulis. Atau jadi guru yang menguasai kompetensi paedagogi, profesional, komunikasi dan kompetensi sosial. Untuk itu aku  membuka diri dan juga membaca buku tentang paedagogy, psikologi, filsafat, biografi dan kisah-kisah pencerahan (seperti kisah-kisah sukses). Akhirnya kemampuan dan energi menulisku  makin meningkat.
Tulisan pertamaku  terbit pada koran Singgalang. Aku  merasa senang yang sangat luar biasa. Aku  terus menulis. Setiap minggu saya mampu menulis satu atau dua artikel. Aku  memutuskan untuk mempublikasikanya pada koran-koran di Sumbar. Aku  mengirimnya ke koran Canang, Haluan, Singgalang, sekarang juga pada koran Serambi Pos. Tahun 1992 tulisanku  bermunculan dalam koran- koran. Judulnya seputar remaja, misalnya “Melacak pergaulan remaja dan tidak perlu frustasi bila gagal masuk perguruan tinggi”.
Lewat menulis aku  merasa dihargai dan aku  sangat bahagia. Energi menulis semakin bertambah. Aku  terus mengirim artikel ke koran-koran di daerah lain. Tulisanku  juga terbit pada Sripo (Sriwijaya Pos) di Palembang. Bila tulisan dipublikasi aku  tentu merasa senang dan kalau ditolak aku  berusaha untuk tidak merasa kecewa apalagi sampai menjadi frustasi. Frustasi tentu bisa membunuh kreatifitas menulis dan energi untuk melakukan aktifitas lain.
Tahun 2005, aku  mutasi ke kota Batusangkar dan bertugas di sekolah baru berdiri-  pada sekolah “Pelayan Unggul” satu atap SMP-SMA unggul, yang mana kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Batusangkar dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Berdomisili di kota Batusangkar membuatku  mudah bersentuhan dengan tekhnologi- computer dan internet. Aku  terus menulis dan menyalurkan tulisan lewat internet, mengirim artikel ke berbagai koran lewat e-mail (lebih mudah dan efektif). Kemudian aku  juga membuat situs lewat blogger. Sebetulnya ada beberapa bentuk blog gratisan dalam internet seperti: wordpress dan multiply. Namun aku suka fitur blogspot. Situs saya bernama http://penulisbatusangkar.blogspot.com.
Tahun 2006, aku  memperoleh beasiswa untuk mengikuti program pascasarjana di Universitas Negeri Padang. Kemampuan menulis membuat kuliahku   jadi lancar. Orang yang suka menulis akan mudah menyelesaikan tugas proposal, menyelesaikan skripsi, tesis atau disertasi. Alhamdulillah, aku  bisa menyelesaikan pendidikan program Pascasarjana UNP dalam waktu 3 semester dan nilai IPK cum-laude (3.81). Kemampuan menulis membuat tesis saya bisa selesai lebih cepat, saya wisuda pada pertengahan tahun 2008.
Issue sertifikasi untuk guru menjadi professional pun bergulir dan segera menjadi realita. Bagi yang mampu memenuhi angka atau skor, maka portofolionya  bisa lulus dan memperoleh sertifikasi sebagai guru professional. Aku  mengetik ulang semua artikel yang pernah diterbitkan pada koran-koran. Semua artikel yang telah diketik ulang saya kirim lagi ke koran, tentu saja diedit lagi. Semuanya terbit lagi dan saya memperoleh honorarium lagi. Aku  juga mempostingkan tulisan tadi dalam blogspot saya,   termasuk kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan. Kemampuan menulis membuatku  bisa lulus sertifikasi lewat portofolio. Betul-betul dana sertifikasi yang telah aku  terima membuat ku dan keluarga menjadi lebih sejahtera, bisa membeli laptop, membeli buku, fasilitas belajar  dan memperbaiki bangunan rumah.
Aku ingin menjadi penulis buku dan tidak harus menulis buku tebal dari awal sampai akhir sebanyak 250 halaman. Aku  menseleksi beberapa tulisan  yang sama temanya menjadi satu buku. Temanya tentang pendidikan dan aku beri judul: School Healing Menyembuhkan Problem Sekolah.
Dalam bulan Februari 2009 aku  punya rencana untuk menyerahkan naskah buku pada teman untuk diterbitkan di Provinsi Riau, namun lebih dahulu ada telepon dari Jogjakarta- penerbit Pustaka Insan Madani- ingin mencetak dan meberbit naskah bukuku. Aku menyetujuinya. Maka kemudian ada surat MoU (memorandum of understanding) atau surat perjanjian kontrak. Insyaallah, menurut pihak penerbit bahwa dalam bulan Agustus 2009 itu buku tersebut sudah siap cetak dan siap untuk diluncurkan dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Kemampuan menulis itu ternyata adalah sebuah keterampilan. Semua orang bisa menjadi penulis asal dia banyak berlatih dan menyenangi aktifitas menulis. Menulis bisa mendatangkan manfaat. Penulis bisa berbagi ide dan opini dengan pembaca, bisa memperoleh honor dan sangat membantu bagi guru untuk memperoleh skor portofolio untuk sertifikasi guru. Penulis artikel bisa mengembangkan diri menjadi penulis buku dan memperoleh royalty- biar jumlahnya kecil tetapi berkah.
Sebagai penulis freelance, aku  juga diundang unduk berbagi pengalaman dengan berbagai kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Aku  memberi seminar tentang penulisan pada MGMP Bahasa Indonesia, tentang penulisan dan penelitian PTK (Penelitian Tindakan Kelas) pada MGMP Matematika, Geografi, KWN, Kelompok MGMP untuk tingkat SMP dan SD.  Pengalaman dan aktifitas yang telah aku  lakukan menjadi alasan mengapa aku  layak untuk menjadi seorang guru berprestasi.

3. Otodidak Belajar Bahasa Asing
            Sebetulnya kemampuan bahasa Inggrisku, tidak hanya aku peroleh lewat universitas. Jauh sebelumnya saat belajar di SMP Negeri 1 Payakumbuh aku  belajar Bahasa Inggris secara otodidak. Itu terinspirasi oleh tetangga mengapa mereka bisa menguasai bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Aku  menguasai bahasa asing lewat menuliska  semua pengalaman dalam bahasa Inggris- aku hanya menggunakan kamus. Tidak masalah kalau grammarnya  belum tepat. Akhirnya kosa kataku  bertambah dan aku  semakin lancar menulis dan berbicara Bahasa Inggris di sekolah. Aku jadi  dikenal guru dan juga banyak teman. Tamat dari SMA aku  memutuskan untuk studi pada jurusan Bahasa Inggris IKIP Padang/ UNP. Untuk program S.2 (Pascasarjana) juga  pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (Pascasarjana UNP), jadi bidang ilmuku cukup linear. .
Di awal tahun 1990-an ada 3 orang asing, warga Perancis- yaitu  Francoise Brouquisse, Anne Bedos dan Louis Deharveng. Mereka bertugas pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta dan melakukan penelitian tentang hutan tradisionil di Sumatra Barat. Orang- orang Perancis tersebut kemudian menjadi temn baikku. Pada tahun tahun berikutnya  mereka datang lagi  ke Sumatra dan tinggal bersamaku, kami melakukan eksplorasi tentang alam- touristique dan serangga. Aku  kemudia menyukai bahasa Perancis dan mempelajari bahasa ini secara otodidak. 
Mereka juga membatuku  dalam mempelajari bahasa Perancis. Mereka mencarikan buku-buku dan kaset bahasa Perancis buatku, juga merekam cara bacaan bahasa Perancis lewat casset. Aku  terus belajar hingga bahasa Perancisku  cukup signifikan dalam penggunaanya. Teman dari Perancis (Fraoncois Brouquisse) memintaku  menulis artikel tentang Sumatra dan daerahku untuk dipublikasi dalam bahasa Inggris pada journal spelelogie yang terbit di Perancis. Dengan demikian tulisanku  tentang parawisata juga dipublikasi pada journal mereka, speleologie,di kota Tarbes, Perancis.
Kemampuan menguasai dua Bahasa Asing (Inggris dan Perancis) secara aktif dan juga Bahasa Arab (pasif) membuatku  lebih mudah mengakses berbagai informasi. Juga menyapa orang orang dari negara lain dalam bahasa asing tersebut. Kemampuan menguasai bahasa Perancis membuatku  bisa membantu sarjana/ mahasiswa untuk belajar Bahasa Perancis yang menyelesaikan pendidikannya pada Universitas Sourbone, Paris- Perancis. Dari kisah suksesnya aku  mampu menulis buku: success story- Tuntutlah Ilmu hingga Ke Negeri Perancis, yang diterbitkan pada Diva Press- Yogyakarta.
“Pengalaman ini juga menjadi alasan mengapa aku  layak menjadi guru berprestasi”.

4. Menjadi Guru dengan Pendekatan Humanisme
Kata menyenangkan dalam Bahasa Inggris berarti “fun”. Kata fun sekarang sangat disenangi oleh banyak pebisnis dan sangat fenomena. Banyak aktivitas sosial dan aktivitas pembelajaran yang menggunakan label fun. Yaitu seperti fun bike, fun learning, fun house atau having fun. Event atau kegiatan yang menggunakan kata fun pasti menyenangkan, karena terasa menantang dan sekaligus memberi hiburan. Sebaliknya kegiatan yang jauh dari suasana fun (menyenangkan) diperkirakan bahwa suasananya akan membosankan dan menyebalkan, itu karena suasananya banyak menekan dan menyiksa perasaan.
            Dapat dibayangkan bahwa aktivitas yang bernuansa fun (menyenangkan) memang akan menggairahkan. Seperti dalam kegiatan fun bike, peserta yang bercucuran keringat namun masih menebar senyum karena di sana ada suasana riang gembira. Aktivitas fun learning yaitu suasana belajar yang membuat pesertanya selalu bersemangat dalam melakukan eksplorasi intelektual. Begitu pula aktivitas dalam fun house, yang mana anggota keluarganya selalu riang gembira karena diberi kehangatan dan komunikasi yang sangat menyenangkan.
            Bayangkan kalau suasana di atas jauh dari kondisi fun, maka suasana tersebut tentu akan diganti oleh kondisi yang serba membosankan- bored atau boring. Maka selanjutnya label aktifitas akan menjadi boring bike, bored learning, boring house, atau yang lain mungkin menjadi boring school, boring game, boring hospital, dan lain-lain.
            Rasa menyenangkan- feeling fun- memang sangat penting dalam semua aktivitas kehidupan. Dengan feeling fun hidup ini akan jadi berarti dan bergairah. Aku  sangat tertarik dengan konsep fun learning atau konsep PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan.
            Konsep pembelajaran Pakem adalah konsep belajar dengan pendekatan menghargai perasaan siswa.  Aku sudah   mengabdi sebagai guru selama 23 tahun, yaitu  dari tahun 1989 hingga sekarang (2012). Aku  mempunyai prinsip bahwa mengajar bisa jadi asyik dengan motto “terimalah karakter anak didik apa adanya”. Dalam mendidik bangunlah komunikasi dan jembatan hati. Jauhi kebiasaan mengancam dan menyakiti hati anak didik.
Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2002:5) mengatakan bahwa orang belajar tergantung pada faktor fisik, faktor emosional dan faktor sosiologi. Dalam mendidik guru perlu membangun jembatan hati, sebab yang sering diingat oleh anak didik kita bukanlah kehebatan atau kecerdasan otak kita, tetapi yang diingat adalah kebaikan hati kita.
            Saat buku yang  aku tulis dengan judul  “school healing menyembuhkan problem sekolah” launching atau diperkenalkan kepada para tamu dan juga pada Bupati Kabupaten Tanah Datar (November 2009) di gedung Indo Jolito, Wakil Bupati Bapak Aulizul Syuib  bertanya:
 “Bagaimana pendapat anda tentang siswa yang nakal dan suka mengganggu di dalam kelas ?”
            Aku  menjawab bahwa di mataku  tidak ada siswa yang nakal, siswa yang bandel atau siswa yang mengganggu bukanlah siswa yang nakal. Yang ada adalah “siswa yang mengalami skin hunger- kulit yang haus akan belaian”. Maka begitu bila guru melihat seorang siswa yang dianggap mengganggu maka  mohon JANGAN diomeli, JANGAN dicerca apalagi sampai dihardik dan diusir. Namun tersenyumlah, bersalamanlah, belailah pundaknya sambil berkata “apa yang bisa bapak atau ibu bantu buat ananda....?” Biasanya sang siswa secara drastis berubah jadi lembut, mereka  akan jadi senang- kagum, simpati dengan figur sang guru dan menyukai pelajaran kita.
Aku  bukan seorang superman, namun aku suka  bersahabat dengan semua siswa hingga aku  tidak perlu memusuhi mereka. Aku  mencintai siswa secara utuh dan menerima karakter mereka apa adanya.
“Kita harus memaafkan kesalahan mereka. Ini berarti kita menganggap mereka sebagai manusia, menjaga dan menghargai perasaan mereka”.
Di sekolah tempat aku mengabdi sekarang (SMA Negeri 3 Batusangkar) aku  juga mengajar dan menghargai perasaan siswa,  mengajar dengan menggunakan komunikasi yang santun. Sebagai guru aku  mempunyai tugas tambahan dalam bidang LPIR dan LKIR (Penelitian Ilmiah Remaja dan Karya Ilmiah Remaja).
Aku  memotivasi dan membimbing siswa untuk melakukan penelitian yang disponsori oleh  perusahaan sepeda motor. Aku, tentu saja dengan dukungan berbagai pihak, mampu mengantarkan beberapa orang siswa meraih “juara nasional” di Jakarta. Tentu saja juga ada beberapa siswa yang kami bimbing memperoleh juara tingkat Propinsi dalam bidang lomba debat Bahasa Inggris dan LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja). 
Aku  juga menekuni profesi sebagai guru dan membimbing siswa dengan sepenuh hati. Sedangkan untuk lingkungan rumah aku  menyediakan waktu membimbing anak-anak warga/ tetangga dalam dalam kegiatan ibadah di musholla/ suarau untuk TPA (Taman Pendidikan Alquran). Pengalaman dan kegiatan- kegiatan yang pernah aku  lakukan bisa menjadi alasan mengapa saya layak menjadi guru berprestasi.      

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture