Sabtu, 21 Mei 2016

Langkah-Langkah Reformasi Proses Pembelajaran.



 Langkah-Langkah Reformasi Proses Pembelajaran.
            Reformasi pendidikan di sekolah bisa terlaksana tergantung pada kecerdasan kepala sekolah dan stakeholder dalam mewarnai dan melaksanakan manajemen sekolah. Peran para guru, sebagai unsur dari sekolah, akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Mereka- para guru, melakukan reformasi dalam proses pembelajaran mereka.
            Guru ideal perlu tahu bagaimana menata lingkungan fisik kelas yang kondusif, agar kelak proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak didik dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) bahwa lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dapat diartikan disini bahwa lingkungan sosial pembelajaran di kelas maupun di sekolah (kantor guru dan staf tata usaha) mempunyai pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap proses KBM.
Menata Lingkungan Fisik Kelas yang Kondusif
Kesuksesan hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya bergantung pada kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran , tetapi juga dipengaruhi oleh suasana kelas yang berlangsung. Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang yang mendukung proses pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu, perlu diperhatikan pengaturan atau penataan ruang kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan. Pada lingkungan kelas secara fisik perlu diperhatikan pengaturan atau penataan ruang kelas dan isinya selama proses pembelajaran berlangsung.
Lingkungan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara guru dengan siswa ataupun siswa sesamanya. Tujuan penataan lingkungan kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan menegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan. Hal ini dilakukan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan benda-benda lainnya yang terdapat pada kelas tersebut.
Menurut Ekosiswoyo dan Maman (2000) bahwa terdapat empat prinsip yang dapat dipakai dalam menata kelas, yaitu:
a.Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang.
b. Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak. Sebagai manajer kelas, guru penting untuk memonitor anak secara cermat.
c.Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak didik harus mudah diakses.
d.Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.
2) Mempersiapkan suasana kelas yang kondusif.
Suasana kelas yang kondusif berhubungan dengan sosial pribadi antara guru dan siswa serta antara siswa tersebut. Keberhasilan guru dalam mengelola kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri. Karakteristik yang harus dimiliki oleh guru agar terciptanya suasana kelas yang kondusif adalah:
a.Disukai oleh siswa
b.Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru dengan siswa.
c.Bersikap positif terhadap pertanyaan atau respon siswa.
d.Sabar, teguh, dan tegar.
Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam menciptakan iklim kelas yang berkualitas dan kondusif guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Adapun beberapa faktor yang perlu diperhatikan tersebut antara lain (Ali Muhtadi, 2005), yaitu:
a.Pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa belajar- fokus pada siswa (student centered).
Proses pembelajaran hendaknya diarahkan pada siswa yang aktif mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Dengan demikian, proses pembelajaran yang dilaksanakan hendaknya berusaha memberi peluang terjadinya proses aktif siswa dalam mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam pembelajaran. Pendekatan ini biasa disebut dengan pendekatan konstruktivistik.
Dalam pendekatan ini yang perlu dilakukan guru adalah membantu siswa membangun pengetahuan sendiri di dalam benaknya, dengan cara membuat informasi pembelajaran menjadi sangat bermakna dan relevan bagi siswa. Hal ini dapat dilakukan guru dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan sendiri ide-idenya dan mengajak siswa agar menyadari dan secara sadar menggunakan cara-cara mereka sendiri untuk belajar. Dengan pendekatan pembelajaran ini diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih berkualitas dan bermakna bagi siswa yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan prestasi belajar siswa.
b. Guru harus mampu memberi penghargaan terhadap partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran.
Hal ini akan mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya, dan berani mengkritisi materi pembelajaran yang sedang dibahas. Dengan demikian siswa akan terbiasa untuk berpikir kritis, kreatif, dan terlatih untuk mengemukakan pendapatnya tanpa adanya perasaan minder atau rendah diri. Dalam kaitannya dengan penghargaan terhadap partisipasi aktif siswa ini, hendaknya tidak sekedar dinilai dari segi keaktifannya saja, tetapi juga perlu diperhatikan sikap penghargaan siswa terhadap aktivitas teman-temannya dan kemampuannya didalam bekerja sama dengan orang lain.
Oleh karena itu, guru hendaknya mampu mengarahkan siswa untuk dapat bekerjasama dengan anggota kelompok yang lain dan selalu bersikap positif terhadap teman-temannya serta selalu berusaha sebaik mungkin dalam setiap kesempatan yang diberikan saat interaksi pembelajaran berlangsung. Partisipasi siswa yang tergolong baik dalam proses pembelajaran secara garis besar antara lain diindikasikan sebagai berikut: siswa dapat bekerjasama dengan anggota kelompok yang lain, siswa selalu bersikap positif terhadap teman-temannya dan selalu berusaha sebaik mungkin dalam setiap kesempatan.
c.Guru hendaknya bersikap demokratis dalam mengelola kegiatan pembelajaran.
Hal ini diperlukan karena kepemimpinan guru yang demokratis dalam mengelola proses pembelajaran akan dapat menjadikan siswa merasa nyaman untuk dapat belajar semaksimal mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa setting demokrasi merupakan pemberian kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk belajar, yaitu bahwa sekolah menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk semaksimal mungkin mereka belajar. Kemampuan guru dalam menanamkan setting demokrasi pada siswa sangat berpengaruh terhadap pencapaian misi pendidikan. Dengan demikian suasana pembelajaran yang disetting secara demokratis sangat penting untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif, berkualitas dan bermakna.
d.   Setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas secara dialogis.
Hal ini diperlukan karena proses dialogis dalam interaksi pembelajaran lebih mendudukkan siswa sebagai subyek didik yang mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam setiap interaksi pembelajaran. Proses dialogis juga akan mampu mengembangkan pemikiran kritis siswa dalam membahas dan menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran.
e.Lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi belajar siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam menyetting lingkungan kelas yang kondusif untuk belajar siswa yaitu dengan cara mengatur tempat duduk atau meja-kursi siswa secara variatif dan pengaturan perobot sekolah yang cukup artistik, serta pemanfaatan dinding-dinding rungan kelas sebagai media penyampai pesan pembelajaran. Pengaturan setting tempat duduk hendaknya dilakukan sesuai kebutuhan dan strategi pembelajaran yang digunakan. Pesan yang ditempel di dinding hendaknya kontekstual dengan materi pembelajaran. Oleh karena itu, icon-icon, grafis-grafis di dinding yang memuat pesan pembelajaran hendaknya selalu di perbaharui atau diganti-ganti setiap bulannya.
Pengaturan lingkungan kelas ini, jika diperhatikan akan mampu mendukung terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif dan berkualitas. Pengaturan itu hendaknya memungkinkan siswa duduk berkelompok dan memudahkan guru secara leluasa membimbing dan membantu siswa dalam belajar. Pengaturan meja secara berkelompok, akan mampu meningkatkan kerjasama yang baik antar siswa. Dengan terciptanya gairah siswa dalam belajar, tentunya akan berpengaruh pada efektifitas belajar siswa. Dan dengan terciptanya suasana belajar yang wajar tanpa tekanan tentunya akan memungkinkan munculnya daya kritis dan kreatifitas siswa.
f.Menyediakan berbagai jenis sumber belajar atau informasi yang berkaitan dengan berbagai sumber belajar yang dapat diakses atau dipelajari siswa dengan cepat.
Hal ini berarti guru bukan satu-satunya sumber belajar dalam proses pembelajaran. Siswa dapat belajar dalam ruang perpustakaan, dalam ”ruang sumber belajar” yang khusus atau bahkan di luar sekolah, bila ia mempelajari lingkungan yang berhubungan dengan tugas atau masalah tertentu. Peranan guru adalah memberi bimbingan konsultasi, pengarahan jika ada kesulitan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut untuk memberikan informasi tentang dimana sumber belajar yang harus dipelajari tersebut berada, sehingga siswa secara aktif dan mandiri dapat menemukan dan mengakses sumber belajar tersebut.
Keberadaan berbagai jenis sumber belajar yang memadai di lingkungan sekolah cukup membantu siswa untuk membangun dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Jenis sumber belajar tersebut bisa dalam bentuk: buku, modul, pembelajaran berprograma, audio, video, dan lain sebagainya. Hal ini akan mempermudah siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan karakteristik gaya belajarnya masing-masing. Dengan demikian pembelajaran diharapkan akan lebih bermakna dan berkualitas.
Kelas sebagai komunitas terkecil dapat mempengaruhi suasana kelas dalam berinteraksi dan berpengaruh terhadap prestasi siwa baik dibidang akademik maupun non akademik. Kelas yang kondusif memiliki ciri-ciri:
1.Tenang
2.Dinamis
3.Tertib
4.Suasana saling menghargai, saling mendorong.
5.Kreatifitas tinggi, persaudaraan yang kuat.
6.Saling berinteraksi dengan baik dan saling bersaing sehat untuk kemajuan.
   Dalam proses pembelajaran tentunya siswa juga melakukan kegiatan yang hiruk namun terkontrol dan member manfaat bagi siwa, tentunya tidak semua guru mampu melakukannya. Alternative lain yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif adalah:
1.Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan yang bertolak dari potensi, minat, dan kebutuhan siswa.
2.Selama kegiatan belajar berlangsung guru dapat mengembangkan sense of humor, dengan syarat harus pada etika dan tidak memojokkan siswa.
3.Kegiatan belajar hendanya diseling dengan berbagai atraksi atau game terutama dilakukan pada saat suasana kelas tidak kondusif.
4.Sewaktu-waktu ajaklah siswa melakukan kegiatan pembelajaran diluar kelas agar siswa tidak selalu terkurung dalam kelas.
5.Memberikan materi dan tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat atau tidak terlalu mudah dan menggunakan pendekatan humanistic yang bertujuan mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan baik dengan guru maupun dengan siswa.
Untuk membangun kondisi kelas yang kondusif dan mantap sebenarnya mudah kalau guru dapat mengkondisikan kelas dengan baik. Sebaliknya akan sulit jika guru kurang peduli dengan kondisi kelas. Oleh karena itu terciptanya kondisi kelas yang mantap dan kondusif bagi pembelajaran yang efektif merupakan langkah awal dalam peningkatan prestasi belajar siswa.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture