Sabtu, 21 Mei 2016

Malpraktek Dalam Pendidikan



Malpraktek Dalam Pendidikan
Indikasi “Malpraktek” kemungkinan banyak terjadi di sekolah-sekolah. Selama ini kita tahu bahwa malpraktek hanya terjadi di rumah sakit dan dilakukan oleh dokter yang kurang bertanggung jawab dan ilmu kedokterannya masih mentah. Ternyata malpraktek juga terjadi dalam dunia pendidikan, seperti di dalam kelas. Bentuk malpraketnya adalah seperti: Teacher Talking Time, Kurang Terampil menjadi MC (Master Ceremony) Dalam Kelas  dan Kebiasaan Suka Memberi Label (labelling) Pada Siswa  
1. Teacher Talking Time
Malpraktek atau kesalahan praktek pertama seorang guru adalah hanya mengisi proses pembelajaran secara monoton dengan “Talking- atau ngomong melulu”. Ceramah terlalu banyak. Pembelajaran hanya berjalan satu arah dari guru ke siswa. Padahal, pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi.
Guru mengajar dan siswa belajar adalah dua proses atau jalan yang berbeda. Proses pertama guru mengajar atau memberikan presentasi. Proses kedua siswa belajar atau siswa beraktivitas. Ketika guru mengajar, belum tentu siswa ikut belajar. Proses transfer pengetahuan ini akan berhasil apabila waktu terlama difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas, bukan pada kondisi guru mengajar.
Keberhasilan pembelajaran akan lebih terwujud apabila proses transfer dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan dan mengaktifkan siswa. Tidak melulu menyampaikan dengan ceramah yang membosankan. Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, itu sebabnya guru harus selalu berusaha menjadi pendengar yang baik ketimbang “obral bualan” di kelas sepanjang waktu.
Guru harus mengetahui bahwa modalitas belajar atau kecenderungan cara informasi masuk dan disimpan kedalam memori otak melalui pengolahan indera oleh siswa adalah berbeda-beda. Terdapat 3 macam modalitas, visual (citra penglihatan), auditorial (pendengaran), dan kinestetik (gerak, aktivitas tubuh). Untuk memaksimalkan ingatan mengenai Informasi yang disimpan kedalam memori jangka panjang di otak adalah dengan cara menyampaikannya mengikuti aturan sebagai berikut: terkait dengan keselamatan hidup, memiliki muatan emosi yang kuat terhadap seseorang, memberikan penghargaan terhadap eksistensi diri, dan mempunyai frekuensi yang tinggi (sering diulang).
2. Kurang Terampil menjadi MC (Master Ceremony) Dalam Kelas
Guru bisa disamakan dengan actor atau pembawa acara dalam sebuah concert. Concert akan menjadi lebih menarik atau malah membosankan, itu sangat ditentukan oleh oleh kualitas MC nya.
Ada kalanya guru ketika mengajar, apa yang diajarkannya tidak menarik perhatian dan minat siswa karena apa yang diajarkan merupakan hal yang tidak bermakna bagi mereka. Kebanyakan siswa akan kesulitan dan merasa jenuh ketika diharuskan menghapal rumus-rumus rumit karena mereka tidak paham bagaimana dan apa pentingnya mempelajari hal tersebut. Para siswa tidak mengetahui kegunaanya didalam kehidupan sehari-hari.
Siswa akan lebih termotivasi dan mudah memahami apabila belajar merupakan kegiatan bermakna dan sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, kemanfaatan ilmu dalam kegiatan sehari-hari harus dijelasakan di awal pembelajaran oleh guru (apersepsi).
Seorang guru harus kreatif dalam memberikan penjabaran mengenai pemanfaatan ilmu yang diajarkannya kepada siswa. Proses pembelajaran juga harus disampaikan secara bertahap, dari hal yang paling mudah kepada hal yang dianggap lebih kompleks. Untuk mengetahui tingkatan tahapan ini kita bisa melihat dalam penjabaran yang diuraikan dalam Taksonomi Blooms. Intinya adalah ketika memberikan pembelajaran materi yang disampaikan alangkah lebih baiknya memberikan gambaran umumnya atau gambaran besarnya terlebih dahulu baru kemudian lebih mendetail kedalam gambaran yang lebih spesifik dan khusus.
Untuk menyelesaikan sebuah puzzle berupa gambar pesawat terbang dengan serakan potongan gambar yang kecil-kecil, agar mudahnya kita harus mengetahui terlebih dahulu gambar pesawat terbang tersebut secara keseluruhannya. Barulah kita dapat dengan mudah menyusun potongan gambar kecil tersebut menjadi gambar utuh sebuah pesawat terbang yang besar. Artinya, gambaran umum terlebih dahulu barulah gambaran khususnya (hal ini disebut sebagai logika deduksi, penjabaran dari umum ke khusus) barulah induksi (pejabaran dari khusus ke umum). Selanjutnya penggunaan kedua logika ini dilakukan secara proporsional.
3. Kebiasaan Suka Memberi Label (labelling) Pada Siswa
Pengelompokan siswa dan dan pemberian label (labeling), misalnya berdasarkan kemampuan kognitifnya. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh Munif Chatib (2012) dalam bukunya “Sekolahnya Manusia”. Dikatakan bahwa dengan mudahnya kadang seorang guru melabeli siswanya dengan “cap pintar atau bodoh” berdasarkan tingkat kognitifnya. Kita harus menyadari bahwa kecerdasan adalah jamak. Memang benar, dalam kasus tertentu mungkin seorang siswa memang tidak cakap dalam hal tertentu, akan tetapi itu bukan lantas melabelinya dengan cap bodoh. 
Semua siswa apapun bentuknya merupakan makhluk yang cerdas. Kecerdasan setiap siswa berbeda-beda, ada yang pandai bermusik, menari, menggambar, melakukan perhitungan matematis, menghapal dan sebagainya. Pada umumnya dalam pendidikan formal, kita terjebak kedalam bentuk kecerdasan kognitif. Siswa dipandang pandai atau cerdas apabila sesuai dengan kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan praktik persekolahan seperti membaca, menulis, mengingat dan berhitung. Padahal kecerdasan manusia lebih luas lagi dari itu.
Siswa dengan kecerdasan menonjol di bidang tertentu dapat pula menguasai bidang lainnya. Misalnya siswa dengan bakat musik bukan berarti juga tidak dapat belajar atau diajari matematika. Semua siswa dapat belajar apapun, namun cara mereka belajar harus disesuaikan dengan kemampuan yang menjadi daya tarik dan bakatnya masing-masing. Misalnya siswa dengan kecerdasan dominan musik akan lebih mudah memahami belajar matematika dengan strategi menyanyi atau yang berhubungan dengan kecerdasan musikalnya. Oleh sebab itu penting bagi guru untuk mengajar dengan berbagai macam pendekatan, model dan strategi pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan siswanya.
Ternyata perkembangan psikologi dan kompetensi seorang siswa pandai yang masuk dalam kelas khusus anak pandai (secara perhitungan IQ) atau kelas akselerasi mempunyai resiko kemunduran tingkat kecerdasan. Karena menimbulkan ketegangan dan memenjarakan siswa dalam dikotomi menang kalah. Siswa yang tertinggal sejengkal saja akan frustasi dan murung, sangat buruk terhadap perkembangan psikologis anak tersebut. 
3) Reformasi Proses Pembelajaran
Melihat dan menyadari bahwa pendidikan kita selalu tertinggal, malah nyaris lari ditempat, maka reformasi pendidikan adalah solusi yang selalu didengungkan, termasuk reformasi cara megajar guru- guru yang kebanyakan melakukan malpraktek dalam mengajar.
Reformasi pendidikan memang sangat dibutuhkan. Tidak hanya reformasi birokrasi, reformasi pendidikan nasional sangat diperlukan untuk memajukan pendidikan bangsa. Tujuan reformasi pendidikan adalah untuk menciptakan pendidikan berkualitas, merata, dan terjangkau. Sementara, reformasi sistem pembelajaran dilakukan dalam bidang isi, metodologi, dan evaluasi hasil pembelajaran.
Sebagaimana dikatakan di atas bahwa malpraktek dan krisis pendidikan menyerang umumnya banyak sekolah. Biasanya krisis pendidikan terlihat bila event pendidikan berskala besar yang namanya “Ujian Nasional” yang diselenggarakan dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Papua) untul jenjang SD hingga SLTA. Bila UN berakhir maka akan terlihat masalah. Memang banyak pihak yang bertanggung jawab bila kualitas pendidikan rendah, utamanya guru, pihak sekolah, orang tua hingga Dinas Pendidikan. Guru merupakan ujung tombak utama yang perlu dipuji atau dikritik saat SDM naik atau turun.
Adalah fenomena bahwa  kualitas guru banyak yang belum mengembirakan dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugasnya belum berjalan maksimal dalam menciptakan kondisi kondusif dalam kegiatan belajar mengajar anak.
“Ada guru yang mengajar hanya sebatas melaksanakan tugas. Ini sangat berpengaruh terhadap prestasi yang akan dicapai anak didik”.
Karena itu pendidik (para guru) harus mempersiapkan diri secara matang, mengubah paradigma berpikir peserta didik yang lebih aktif dan kreatif terhadap berbagai disipilin ilmu dan ketersediaan anggaran benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan mutu.
Dalam rangka reformasi “proses pembelajaran”, maka kita- para guru, khusunya guru- guru di Aceh, bisa belajar dari para guru dari negara tetangga seperti Australia dan Singapura. Bagaimana keberadaan pendidikan di negara tetangga, seperi Australia, sebagaimana yang sempat saya lihat dalam dua kali kunjungan ke sekolah- sekolah di Melbourne dan Sydney (dan juga seperti ditulis oleh Zubaidah Ningsih (2009) dalam artikelnya: What I've learned from Australia.
Beda budaya cara mendidik kita (Indonesia) dengan Australia, adalah cara pendekatan kita dalam mendidik. Bagi kita, posisi guru sebagai “orang yang serba tahu dan lebih pintar”. Jadinya para “guru, ustadz atau kyai” sebagai pusat segala ilmu, maka di Australia (dunia barat ini) guru hanyalah sebagai “fasilitator- penyedia sarana dan kesempatan belajar dan sekaligur memberikan motivasi belajar yang terus menerus”. Jadinya di lingkungan sekolah kita para siswa menjadi tidak mandiri dalam menggunakan otak.
Kita mengajar membuat anak didik susah ngomong, sehingga siswa jarang menjadi berani dan takut berbeda pendapat- taku salah, takut dicela dan ditertawakan oleh teman- teman.
Konsep yang dikembangkan dalam metode pembelajaran di kelas  adalah dengan membiarkan anak didik mengekspresikan makna obyek tertentu dalam proses belajarnya. Dan yang lebih menarik lagi guru bisa mengembangkan daya kritis anak dengan membantunya terus bertanya tentang obyek tersebut. Learning through questions adalah konsep yang bisa dikembangkan untuk mengembangkan daya kritis anak sekaligus membangun pengetahuan seorang anak akan suatu obyek yang dekat dalam kesehariannya. Proses belajar ini bisa membawa anak mempertanyakan hal-hal dalam kesehariannya yang tentu saja sangat membantunya memahami lingkungan di sekitarnya.
Selain konsep learning through questions ini, juga ada metode pembelajaran yang bernama Show and Tell . Metode ini banyak dikembangkan di sekolah-sekolah dasar di sini. Dalam program ini anak didik diharapkan membawa sebuah benda dan berbagi cerita tentang benda ini di depan teman-temannya. Dia bisa mengekspresikan pendapatnya akan benda tersebut sekaligus berbagi informasi mengenai benda ini. Keuntungan dari dua program ini adalah adanya pengembangan self actualization (aktualisasi anak didik) dan appreciation value (penghargaan pada anak didik).
Dua program ini berdampak pada pola pikir anak didik maupun pola pikir guru atau orang tua. Sudah saatnya kita mengembangkan paradigma (pemikiran) bahwa guru atau orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya pusat informasi tetapi menjadi fasilitator yang diharuskan lebih menghargai, memberi ruang dan tentu saja lebih open minded. Orang tua dan guru diharapkan tidak egois, mau mengakui kekurangan dan terus mendukung anak-anak dalam proses pembelajaran ini.  
Satu praktek menarik di Australia adalah bahwa sebuah sekolah mempunyai motto yang menarik. Motto ini diharapkan bisa mewarnai sikap anak didiknya. Motto ini misalnya honesty, integrity, responsible and getting along. Nilai-nilai ini akan selalu dikembangkan dalam segala proses belajar mengajar. Pengikutsertaan orang tua dalam program- program  sekolah juga menjadi satu kunci penting berhasilnya proses penanaman nilai-nilai ini.
Apa yang diharapkan warga dari sebuah sistem pendidikan? Bagi orang awam sekalipun pasti tahu bahwa yang dibutuhkan adalah setidaknya kurikulum yang baik, pengajar yang enak, fasilitas memadai, dan biaya murah, jika bisa. lingkungan sekolah yang kondusif, daya saing yang tinggi, serta segala aspek lain yang ada di luar ruang sekolah. Tampaknya hal itu tersedia di Singapura. Perbandingan sistem pendidikan di Singapura dengan Indonesia seperti bumi dan langit rasanya.
Dari sekolah dasar hingga universitas, misalnya, siswa sudah dipantau dan diarahkan untuk mendapatkan pendidikan yang cocok untuknya. Jadi, tidak semua warga layak atau bebas masuk universitas di Singapura. Sementara pendidikan kita terkesan “ala kadarnya dan tidak begitu terpatau perkembangan kualitas SDM anak didik dari SD hingga Universitas, sehingga saat duduk di bangku SMA terlihat galau atau bengong kemana hendak menyambung studi.
Ruang kelas, perpustakaan, kantin sekolah, dan tempat bersantai juga tersedia. Ruang kelas ditata secara bersih dan membuat murid bisa melihat guru atau dosen dan sebaliknya dosen atau guru bisa memantau semua anak didiknya. Kelas diperlengkapi dengan peralatan yang memudahkan guru melakukan presentasi lewat slide yang sudah melekat di setiap ruang sekolah sehingga tidak perlu repot setiap kali melakukan presentasi.
Guru di Singapura juga tidak kalah profesionalnya. Dengan gaji yang tergolong memadai, orang- orang terangsang menjadi guru. Yaitu orang- orang yang talenta di dunia pendidikan.
Jadi, selain mendapatkan ilmu, para siswa dan guru juga diberi pencerahan dengan menghadiri seminar-seminar gratis tetapi sangat berkualitas. Tentu saja presentasi seminar tidak membuat bosan dan mengantuk.
Guru dan siswa sering kali mendapatkan kesempatan untuk melakukan studi tur dengan menjelajah daerah lain buat melihat kemajuan dan menimba pengalamannya. Melakukan banyak eksplorasi- kunjungan- dan mengundang orang/ tokoh lain ke sekolah otomatis membuat warganya terbiasa bergaul secara luas ketika masih berada di sekolah. Sehingga warganya tidak menjadi seperti katak di bawah tempurung.

4) Pengalaman Tentang Proses Pembelajaran di Negara Tetangga
            Pepatah dari daerah Minang yang berbunyi “alam takambang jadi guru”- alam yang terbetang bisa dijadikan guru. Pribahasa ini juga dipakai di negara- negara Barat, “the nature is teacher”. Kebetulan penulispunya kesempatan mengobservasi kemajuan pendidikan Australia di kota Melbourne sebanyak dua kali yaitu di Norwood Secondary College dan Box Hill Institute. Juga salah seorang kepala SD (Zulfahmi, saat itu sebagai mahasiswa pascasarjana UNP dan kepala SD 09 Pauh kota Padang) yang melihat proses pembelajaran di “Gibbs Street Primary School Perth, Australia. Begini hasil kunjungan kita:

a) Tujuan Kunjungan
            - Melihat bagaimana guru membuat rencana pembelajaran, kapan, dimana dan dengan siapa mereka bekerja ?
            - Bagaimana guru mengelola kelas dan membelajarkan siswa ?
            - Bagaimana cara guru melaksanakan assesmen (penilaian berbasis portofolio), evaluasi dan melaporkan hasil belajar kepada orang tua ?
            - Bagaimana filosofi penddikan setiap guru dalam mengajar dan melaksanakan tugas –tugas di sekolah?

b) Memahami Kondisi Pendidikan kita di Indonesia
            - Indonesia telah melakukan sejumlah perubahan kurikulum- 1968, 1974, 1984, 1994,  2004, kurikulul KTSP dan sekarang Kurikulum 2013.
            - Umumnya kegiatan pembelajaran di kelas tetap sama, yaitu dalam bentuk ceramah, menulis dengan kapur atau board marker pada papan tulis tetap mendominasi proses pembelajaran di kelas.
            - Masih relatif sedikit gerak buat menuju perubahan.
            - Proses pembelajaran yang miskin dengan action guru.
            - Ruang kelas belum bisa sebagai agen perubahan sosial

c) Hasil Kunjungan Pendidikan Ke Sekolah Bermutu (di Australia)
            - adalah hal yang keliru bila kita menyimpulkan bahwa kemajuan pendidikan Australia karena mereka punya uang cukup atau karena kelengkapan fasilitas.
            - Uang dan fasilitas hanya merupakan sata faktor dan bukan domain yang utama, kata kuncinya terletak pada “sikap mental, mindset/ pola pikir, kreatifitas guru, dan kreativitas kepala sekolah”.
- Ternyata media belajar mereka terbuat dari barang- barang bekas.
            - Perencanaan guru sangat matang, semua guru membuat perencanaan guru untuk 10 minggu,  perencanaan mengajar  dalam bentuk utuh, meliputi seluruh kebutuhan siswa dan guru (LKS, alat peraga, media pendidikan, alat pendukung dan team teaching).
            - Penyusunan rencana mengajar guru kelas bekerja sama dengan guru bidang study, guru pembimbing, wakil, kepala sekolah dan orang tua.
-  PBM di Australia untuk SD dimulai pukul 09.00 s.d 15.00. Namun pukul 07.30 semua guru sudah di sekolah untuk menyempurnakan berbagai keperluan mengajar. Kemudian setelah lonceng pulang guru tidak langsung pulang, tetapi memeriksa PR siswa pada hari itu juga.
- Tiga atau empat PR siswa terbaik dipajang di kelas, selebihnya disimpan dalam file/ portofolio.
- Kegiatan morning news yang mengagumkan, bahwa lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai, 5 orang siswa secara bergiliran selama 3-4 menit menyampaikan morning news di depan kelas, siswa yang lain mendengarkan, bertanya dan menaggapinya.
- Orang tua sering datang ke sekolah, bahkan ikut mengajar di kelas.
- Suasana kelas sangat menarik dan menyenangkan, siswa terlibat seara psikomotorik, intelektual dan emosional.
- Pembelajaran bahasa melalui kegiatan: menulis surat kepada orang tua, menulis kembali berita yang pernah didengar dan dibaca dengan bahasa sendiri, dan membuat komentar/ taggapan yang kegiatan ini sudah dimulai sejakkelas 1 SD.
- Pendidikan inklusif sudah berjalan sedeikian rupa, guru tidak lagi berbicara sebatas konsep PAKEM atau  life skill, namun konsep tersebut terlihat langsung terpadu dalam pembelajaran kelas.
- Anak- anak tidak diajari tentang “sikap dan prilaku” sebagaimana anak belajar KWN, tetapi setiap kelas membiasakan dan telah menjalankan dalam bentuk “class rule” atau peraturan kelas. Class rule ini adalah aturan kelas yang disepakati bersama siswa dan guru.
            Laporan hasil belajar siswa siswa dibuat dalam bentuk portofolio, lebih bersifat deskriptif, tiap pekerjaan siswa dikomentari dan direward seperti “very good, excellent, atau fantastic. Tidak menggunakan ungkapan yang menyudutkan.
- Siswa merasa tidak sedang dipenjara, karena siswa menjalankan proses: learning to do (belajar dengan mengerjakan), learning to how (belajar untuk mengetahui), learnig together (belajar bersama). Dan siswa asyik menikmati belajar karena guru dan siswa bercanda dan tertawa bersama.
Maka sebagai renungan bagi kita:
- Apakah saya sudah menjalankan tugas sebagai seorang guru dengan baik ?
- Apakah saya megejar hanya sekedar melepaskan tanggung jawab ?
- Apakah gaji yang saya terima sudah setimpal dengan pengorbanan yang saya lakukan dalam mengajar.
- Persiapan mengajar, apakah ada?
- Materi mengajar, apakah sesuai ?
- Metode mengajar apakah sudah tepat ?
- PR siswa apakah selalu diperiksa ?
- Soal ujian, apakah sudah disusun dengan benar ?
- Media pembelajaran apakah selalu digunakan ?
- Apakah saya ikhlas menjadi guru ?
- Apakah saya sering memarahi siswa ?
Apakah kelas saya selalu menyenangkan ?
- Apakah siswa merasa gelisahdan ingin cepat pulang ?
- Apakah siswa- siswa saya kreatf ?
- Apakah materi pembelajaran saya bermafaat bagi kehidupan anak ?
- Apakah pekerjaan saya selama ini saya lakukan karena terpaksa ?
Kita tetap optimis bahwa pendidikan di Aceh juga bisa akan semakin bagus. Tak benar jika bule atau daerah Pulau Jawa selalu superior pendidikannya dibanding Aceh. Pendidikan sangat krusial untuk membentuk Aceh yang lebih baik, dan anda- Para guru di Aceh- akan selalu bisa berpartisipasi di dalamnya. Be creative and together we’ll make a better Indonesia!!!

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture