Senin, 23 Mei 2016

Remaja Perlu Punya Mimpi



Remaja Perlu Punya Mimpi
            Apa sih mimpiku buat masa depan ? Melalui  kisah nyata Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis ini aku ingin para  remaja untuk memiliki mimpi- yaitu memiliki cita-cita buat masa depan mereka.  Aku  juga ingin memaparkan beberapa mimpi atau keinginanku. Aku ingin berbagi cerita agar kaum perempuan, termasuk  yang berada di daerah pinggir, agar bisa melakukan move on. Sekali lagi bahwa mereka harus melakukan MOVE ON, yaitu bergerak, berusaha, berkarya dan belajar selalu. Jangan statis, beku apalagi serba pasif.
            Aku sebagai tokoh dapat dikatakan sebagai perempuan yang pada mulanya ultra kampung yang sering menemui banyak kekagetan atau  cultural- shocked.   Aku sudah memperoleh comparison (perbandingan) antara timur dan  barat melalui pengalaman hidup selama tinggal di Paris.
Aku jadi mengerti  bahwa “ternyata sistem pendidikan yang bagus seperti ini... tidak hanya membebek padas guru, tidak hanya nrimo saja”.
Aku juga memperoleh studi di bidang pariwista maka aku berani mengungkapkan bahwa “pariwisata kita jauh lebih bagus dari pariwisata Perancis itu sendiri”. Namun problemnya adalah pengelolaan pariwisata kita sangat kurang....jauh lebih kurang dibandingkan Perancis.
Pengembangan pariwisata kita tampaknya masih tergantung dari sistem proyek. “Kalau tidak ada proyek maka asset wisata yang begitu eksotik dibiarkan sia-sia saja hingga tidak berjalan lagi”.
            “Pembangunan dan pengelolaan wisata Perancis bersifat kontinue sepanjang waktu. Mereka telah membuat kalender event wisata begitu detail. Mengapa demikian....ya karena wisata mereka sudah bien organisee (well organized). Pengembangan pariwisatanya terlaksana secara desentralisasi yang profesional. Sekali lagi- kalau pengembangan pariwisata kita terkesan  berdasarkan proyek secara desentralisasi”.
            Aku juga ingin menyampaikan kepada para ABG- anak baru gede atau para remaja sebagai pembaca buku dan bacaan lain  yang terhebat di dunia. Para ABG adalah orang orang yang memiliki kemampuan dan semangat yang lebih besar di bandingkan kelompok generasi yang lain. Di mana- mana ada aktivitas pasti para ABG menempati porsi yang lebih banyak. Konsert musik dan event olah raga selalu penuh oleh dukungan  remaja (ABG).
 “Karena ABG memiliki semangat yang gede maka aku berharap agar mereka memanfaatkan semangat tersebut untuk hal-hal yang positif untuk menuju masa depan. Dengan memiliki  sebuah masa depan maka cobalah untuk move on bersama mimpi itu. Mimpi tersebut dapat diwujudkan melalui semangat”.
            Aku fikir bahwa para ABG  perlu  berfikir untuk  jangka panjang.....untuk masa depan. Arah visi mereka kemana ? Untuk pengembangan visi...ya perlu rencana jangka panjang. Visi jangka panjang perlu didukung oleh banyak ilmu pengetahuan. Untuk itu mereka perlu membaca  yang harus ekstra banyak. Mereka harus cari tahu tentang isue-isue tentang dunia 20 atau 30 tahun ke depan dan  jangan hanya bersikap apatis.
            Sebagian remaja  memang  ada yang  belum punya mimpi. Begitu ditanya tentang masa depan,  mereka banyak menjawab “I don’t know...I don’t know”.
Penyebanya adalah remaja sekarang hidupnya serba gampang. Mereka selalu merasa keenakan. Alam juga membuat mereka jadi manja. Akibatnya mereka cenderung berkata “wah esok itu akan ngampang aja”.
            Contohnya kalau mereka berhalangan untuk hadir, untuk menyampaikan problem juga gampang. Cukup telepon aja atau kirim SMS ...ya beres. Kalau dulu untuk memberi khabar harus kirim surat dan mencari orang untuk mengantarkan surat tersebut. Problemnya lagi bahwa teman itu sendiri jaraknya jauh, kita harus jalan. Sekali lagi kalau sekarang kita bisa naik ojek atau kasih telpon, jadi hidup begitu enak dan tantangan hidup jadi kurang.
Fasilitas yang serba mudah bisa membuat orang kehilangan motivasi untuk jadi maju. Aku melihat fenomena tersebut. Setelah itu yang membuat para ABG susah untuk move on adalah karena kurang  terbiasa untuk mandiri “semua serba di bantu, makan dihidang, pakaian disetrikakan, kebutuhan yang lain disediakan...mereka minim usaha dan minim pengalaman hidup”.
Karena aku sudah punya pengalaman hidup di Eropa, aku bisa membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita. “Jauh  sekali bedanya, kalau dari budaya kemandirian, mereka punya  budaya yang  lebih invidu. Individualism tentu tidak pas buat kita. Efek dari kemandirian juga ada bagusnya-  mereka lebih struggle..mereka lebih berjuang.
Umur 20 tahun mereka musti ke luar rumah, mereka harus hidup mandiri. Namun sistem pemerintahan memandang bahwa anak- anak yang usianya masih 25 tahun ke bawah dianggap masih kecil, sehingga mereka musti punya kartu khusus dan dalam menggunakan fasilitas umum, seperti naik bus, trem...mereka akan memperoleh banyak potongan harga. Walau pemerintah memberi mereka banyak kemudahan dalam memberikan potongan harga..itu semua punya tujuan untuk mengimprove mereka. Semenatara mereka harus ke luar rumah dan mandiri yang dilakukan oleh keluarga...juga untuk mengimprove mereka.
“Terlihat bahwa umur 20 tahu mereka harus dilepas...dan pemerintah menerima mereka dengan memberikan layanan kemudahan hidup sampai usia 25 tahun. Jadi ada sistem membina untuk kemandirian generasi muda mereka. Bukan terlalu memuji kalau aku berani menyatakan bahwa orang Perancis sangat kommitment dengan dirinya. Really they have self commitment”.
Aku berfikir bahwa para remaja kita yang bisa melakukan move on dan berhasil, itu terjadi karena mereka memiliki kommitment yang hebat.  Aku melihat bahwa ibunya anak-anak Perancis  tidak monopoli kekuasaan- tidak suka banyak memerintah, tetapi malah menghargai. Begitu anak  melakukan aktivitas positif, ya langsung diberi reward- pujian dan penghargaan.
“Anak-anak yang orang tuanya sangat otoriter, gemar bertengkar, gemar mengomel...ya akhirnya pendidikan anak juga tidak akan berjalan mulus”.
Remaja juga bakal tumbuh sukses andai mereka punya orang tua, sebagai figur, yang punya kesibukan. Sehingga mereka mengappreciate bahwa hidup memang butuh kesibukan atau akativitas.
Aku berasal dari keluarga, dimana orang tuaku memilkiki tiga orang anak perempuan. Namun walau kami semua perempuan kami semua harus keep struggle sebagaimana halnya anak-anak laki-laki. Papa sering berkata: “Kamu harus kuat, dan tidak boleh cengeng. Tidak zamannya lagi bagi perempuan untuk bersikap cengeng, karena cengeng melambangkan sebagai karakter yang lemah. Orang yang lemah  akan mudah diotak atik oleh orang lain”.
Papa juga  mengajarkan bahwa aku harus tahu dan menguasai hal hal yang baru, kalau tidak aku bakal ketinggalan. Lain halnya dengan mamaku, ia lebih suka memberitahu tentang batasan-batasan “kamu tidak boleh begini dan kamu harus melakukan ini”.  Dengan cara demikian  aku jadi tahu tentang berbagai rule of life (peraturan hidup). Ini aku peroleh lewat dialog.
“Dialog keluarga perlu selalu untuk dijaga/ dipelihara dan selalu dikembangkan. Apalah yang akan terjadi andai suatu keluarga jarang berdialog, maka pasti anggota keluarga akan jalan sendiri- sendiri dan mereka juga tidak akan akrab dan utuh”.
Melalui kisah nyata ini aku juga ingin, secara sekilas, membandingkan perempuan di pedesaan Perancis dan perempuan di desaku sendiri. Perempuan di desaku hidup  dibawah pengaruh keluarga, mereka belum punya kemerdekaan sepenuhnya...namun itu bagus menurut kulturku. Pasti intinya demi keamanan dan perlindungan terhadap perempuan itu sendiri.
“Namun jeleknya,  mereka menjadi kaku dalam membikin decision (keputusan) buat hidupnya”. Well.....!! Di kampungku terlalu banyak musyawarahnya dalam mengambil keputusan, sehingga seseorang  susah untuk menjadi dewasa. Di Perancis seseorang  merasa dewasa kalau sudah tamat kuliah atau kalau sudah bekerja.
Dalam kultur kita, selama kita masih kuliah maka kita masih belum dewasa dan belum ada kekuasan dalam membuast keputusan yang penuh. Namun   kadang- kadang, seperti halnya aku, meski udah bekerja dan tamat kuliah, mama dan papaku masih tetap mengurusku seperti mengurus anak kecil. “Akhirnya kita merasa terbuai dan termanja gara gara campur tangan orang tua yang kelewat banyak. Orang tua berfikir bahwa aku masih sebagai seorang gadis yang harus diayomi selalu”.
Di perancis, keluarga memperkenalkan budaya demokrasi dan setiap anak harus memiliki nilai struggle yang hebat. Orang tua akan berkata “kamu harus menjadi desicion maker untuk dirimu sendiri, hidup kamu tergantung pada- kamu mau susah atau kamu mau senang semua tergantung pada kamu ”.
Namun kalau di sini, musti bawa-bawa nama keluarga. Kalau menjadi orang sukses dan orang baik, maka nama keluarga juga jadi baik. Kalau kamu melakukan kesalahan atau sampai membuat hal yang kontra, maka nama keluarga akan ikut tercemar. Kalau di Perancis tidak begitu, “Kalau kamu gagal dalam hidup ya resikonya buat kamu sendiri. Sekali lagi bahwa kalau dalam budaya kita, keberhasilan dan kegagalan akan dikaitkan dengan keluarga besar kita.

Aku  Menggunakan Pola Fikir Gabungan
Bagaimana ya pola fikirku setelah pulang dari Perancis ? Aku kenal ada seorang teman yang sempat mengikuti program YES (Youth Exchange Student) di Amerika Serikat selama satu tahun. Sebelum pergi ke sana dia dikenal baik, karena suka serba mengikut pada pola fikiran orang tua. Namun begitu pulang dari Amerika serikat, ayahnya telah menganggap dia sebagai anak yang suka kontra dan keras kepala. Itu gara-gara ia suka memiliki pola fikiran yang kritis- dan mengungkapkan perasaan dan fikiran secara serta merta. Kalau tidak suka ya, ia bilang tidak suka, dengan resiko bahwa orang tua merasa ditentang.
Namun bagiku, aku akan menggunakan cara berfikir yang combine (gabungan) pola fikir asliku dan pola fikir Eropa. Aku berfikir bahwa pasti budaya kita itu bagus dari pada budaya fikir barat. Tetapi begitu aku pergi ke Eropa aku lihat budaya fikir mereka dengan semangat struggle (berjuang) juga sangat  bagus untuk disadur.
Aku pingin orang tua juga mempersiapkan anak anak untuk struggle dan bersikap terbuka pada anak-anak. Bila ada masalah keluarga maka ada baiknya untuk dibicarakan dengan melibatkan anak-anak.
Budaya Minang yang aku lihat ya bersifat “tarik ulur”. Seorang anak dilepas...mereka dilepas, bila ternyata ada kesalahan ya ditarik lagi. Budaya tarik ulur begini tidak ada di sana. Kalau salah ya salah kamu, kalau untung ya manfaatnya bagi kamu. “Kalau saya salah ya ini hidup saya, yang lain mengapa harus repot repot mengurusku”.
Aku masih ingat tentang bagaimana perlakuan orang tua Perancis pada anak-anak mereka. Pasti orang tua memahami tentang perkembangan dan prilaku anaknya dan mereka berusaha untuk mengembangkan anak anaknya buat menghadapi masa depan, jadi kesannya bahwa orang tua Perancis sangat bertanggung jawab buat masa depan anak.
Anak anak disuruh agar memiliki hobbi, namun jangan larut hanya dengan hobbi semata, karena itu itu tidak hanya untuk satu sisi, anak musti mampu hidup dalam banyak sisi. Sebagai target di Indonesia, bahwa setiap anak harus menguasai IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi), namun juga harus mantap IMTAQnya (Iman dan Taqwanya). Hidup itu ada sisi A, B, C nya. Jadi anak jangan hanya menguasai sisi A saja, tetapi juga bagus dalam menguasai sisi B dan C nya.
Aku merasa bahwa meskipun aku sudah menjadi decision maker (pengambil keputusan), namun aku masih memerlukan peran mama dan papaku. Bila aku tidak tahu satu hal maka aku akan melemparkan permasalahanku pada papa dan mamaku. Bagiku papa adalah ibarat  kamus berjalan, walau ia miskin dalam referensi pengetahuan, namun ia mampu memberi solusi berdasarkan pengalaman hidup yang ia miliki. Sementara mama berperan sebagai pemberi pertimbangan bagiku. Jadi begitu selesai pendidikan di Eropa bukan berarti aku sudah mandiri dalam menggunakan pemikiran, ternyata aku masih butuh pemikiran orang di sekitarku- sekali lagi mama dan papaku.
Ada yang bertanya bahwa apakah orang tua yang di Perancis semuanya memperoleh pendidikan Pascasarjana dan Doktoral. Aku  lihat  tidak semuanya, namun mereka semuanya cukup well educated. Mereka menjadi well educated karena sistem pendidikan mereka yang berkualitas. Umumnya tidak ada anak anak SD, SMP dan SMA yang berkeliaran saat jam belajar. Saat mengajar guru dan stakedholder sekolah bekerja dengan profesional dalam mendidik.
Kalau kedapatan ada anak yang berkeliaran pada saat jam belajar, maka orang tuanya dipanggil dan didenda oleh pemerintah. Umumnya sekolah di Perancis dari SD sampai SMA adalah gratis. Jadi orang tua sangat diminta untuk turut peduli dalam mendidik anak mereka, tolonglah ikut mengantarkan anak kesekolah dan genjotlah disiplin dan motivasi belajar mereka.
Televisi perancis juga tidak begitu banyak mempengaruhi karakter konsumtif anak anak sekolah. Iklan televisi sering menggoda anak anak untuk menjadi konsumtif, apalagi kalau materi iklan khusus untuk konsumsi mereka seperti iklan parfum, kosmetik, makanan. Aku perhatikan bahwa iklan di TV Perancis tidak begitu dominan. Dalam satu jam, tayangan televisinya cuma selama 15 atau 20 menit. Beda dengan TV di negara kita, yang mana tayangan iklan lebih panjang dari acara pokoknya. Iklan nyang panjang terkesan tidak banyak mendidik, tapi malah membuat masyarakat menjadi konsumerisme.
Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kualitas para guru. Guru-guru di TK, SD, SMP dan SMA semuanya menerapkan model pembelajaran fun learning. Fun learning juga dikenal dengan istilah PAKEM yaitu- pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan. Aku melihat selama musim dingin pembelajaran memang banyak berada dalam ruangan, namun dalam musim semi, para guru membawa anak anak untuk belajar ke luar kelas, malah sampai ke luar sekolah, mereka belajar di alam.
Dalam musim semi tersebut, aku pernah menemui guru TK menggiring murid mereka berjalan di taman, di jalan dan terus naik metro. Anak anak berjalan berbaris berpasangan, mengikuti alur alur. Guru guru amat terbuka pada siswa dan siswa lebih berani untuk berbicara dengan guru guru mereka. Namun kalau di negara kita, terlihat bahwa sebahagian siswa mendewakan guru dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh guru “semuanya betul”. Seolah olah guru adalah sumber ilmu dan sumber kebenaran secara mutlak.
Di Perancis saat mereka entre le metro (saat masuk metro) aku dengar pembicaraan guru dan murid sangat terbuka. Anak- anak bilang pada gurunya “Ibuk kenapa ini harus begini....ibuk kenapa harus begitu...?”
Anak anak sangat antusias bertanya pada guru mereka. Dan guru mereka menjawab, namun ada yang protes kenapa begitu mon pere dis moi nes pas comme ca (ayah ku bilang tidak begitu). Anak anak sangat berani dalam berbicara dan termasuk dalam memprotes, aku lihat bahwa sosok guru bukan sebagai sosok yang menakutkan bagi siswa siswi mereka. Guru guru look nice semua terhadap anak anaknya.
Di saat anak anak sibuk berbicara dan ruangan terkesan bruyant (ribut) gurunya terllihat senyum saja. Tidak menghardik hardik untuk mendiamkan anak anak didik mereka. Mereka mengatakan bahwa suasana ribut itu menandakan adanya  suasana yang kreatif. Guru Tk tersebut berkata padaku “Pardone si mes enfantes sont bruyantes”- maaf ya kalau anak-anakku semua berisik.
Sekali lagi bahwa aku lihat banyak guru guru di sana suka ngajak anak anak ke lapangan. Mereka semua adalah guru guru yang bersikap terbuka- membuka diri terhadap anak didik mereka. Berdebat dengan guru adalah hal yang biasa, dan kalau guru tidak tahu maka dengan enteng guru akan berkata “Je pas atau aku tidak tahu”. Kemudian hubungan guru dan orang tua adalah berbentuk partner. Apakah guru ataupun orang tua tidak satupun yang bersifat dominan. Itulah kira-kira isi kisah nyata ini yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture