Sabtu, 27 Juni 2015

Menjadi Bangsa Yang Maju



Menjadi Bangsa Yang Maju


Marjohan Usman
Guru SMAN 3 Batusangkar, West Sumatra Indonesia
phone: 085264340180


1. Posisi SDM Negara Kita
            Perkembangan pembangunan negara kita secara signifikan cukup maju. Kalau kita berpergian di nusantara ini dan kita lemparkan pemandangan jauh kedepan akan terlihat pembangunan infra-struktur di sana sini. Namun kalau kitabandingkan dengan beberapa negara di dunia atau dengan kemajuan negara-negara di Asia ternyata kita masih jauh tertinggal.
            Di dunia ini para ahli demografi dan ahli ekonomi telah mengelompokan negara- negara di dunia atas sebutan negara maju, negara berkembang dan negara belum berkembang. Negara maju[1] adalah sebutan bagi negara yang menikmati taraf standar hidup yang relatif tinggi melalui berbagai teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan Gross domestic product (GDP) per kapita tinggi dianggap sebagai negara berkembang. Namun beberapa negara telah mencapai Gross domestic product (GDP) tinggi melalui eksploitasi sumber daya alam tanpa mengembangkan industri yang beragam dan ekonomi berdasarkan-jasa tidak dianggap memiliki status 'Maju'.
Nah kemudian bagaima dengan posisi negara kita- Indonesia ?Negara kita masih dalam kategori sebuah negara berkembang. Negara Berkembang[2] adalah sebutan untuk sebuah negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah dan infrastruktur yang relatif terbelakang, serta indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma secara global. Kita berharap agar kualitas SDM (sumber Daya Manusia) bangsa kitabisa selalu meningkat, cepat atau lambat tentu ditentukan oleh usaha kita (dan izin dari Allah Swt).
Bagaimana peringkat SDM negara kita di dunia[3] Kita bisa melihat melihat perkembangan SDM setiap negara melalui situs “World Competitiveness Year Book [4]) sejak tahun 1997 – 2007. Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007 pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut:
- Pada tahun 1997, Indonesia berada di urutan 39 (dari 49 negara yang disurvei). 
- Pada tahun 1999, Indonesia berada pada urutan 46 (dari 47 negara yang disurvei).
- Tahun 2002, Indonesia berada pada urutan 47 (dari 49 negara yang disurvei).
- Pada tahun 2007, Indonesia berada pada urutan 53 (dari 55 negara yang disurvei).
Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 1980-2013[5], laporan dalam tahun 2013 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 108 dari 187 negara yang diteliti,dan Samoa (urutan 106) dan Mongolia(urutan 103) posisinya lebih baik dari negara kita. Posisi negara Singapura (urutan 9) dan Malaysia (urutan 62) jauh lebih baik. Tingkat SDM ini diukur berdasarkan kualitas kesehatan, umur, tingkat pendidikan dan rata-rata income penduduk.
Kemudian bagaimana dengan kualitas pendidikan negara kita ? Kita bisa lihat pada situs Asian South Pacific Bureau of Adult Education[6] (ASPBAE), bahwa posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan.
Wah meninjau tentang posisi Indonesia di dunia bukan buat menjelekan negara kita. Namun buat refleksi bagi kita sendiri. Bukankah memajukan bangsa ini adalah tanggung jawab kita semua. Salah satu cara memajukan bangsa adalah melalui memajukan ilmu parenting bagi setiap keluarga di Indonesia.

2. Kualitas Parenting Masyarakat Menentukan
            Negara maju sangat peduli dengan kualitas parenting. Kualitas parenting negara Norwegia adalah terbaik di dunia dan Amerika Serikat menempati peringkat 25 di dunia. Walaupun Amerika Serikat merupakan salah satu negara paling kaya dan paling kuat di dunia namun hanya menempati posisi 25 dalam kategori parenting atau tempat terbaik dalam mendidik dan membesarkan anak, sebagaimana diteliti oleh organisasi Save the Children[7]. Penelitian ini berdasarkan indikator atas kualitas gizi anak, kebijakan pemberian asi, tingkat kesehatan ibu dan anak, dan juga tingkat pendidikan ibu.
Umumnya parenting di negara maju sudah berkualitas, sementara di negara berkembang parenting mereka mungkin meniru pola mendidik generasi sebelumnya, atau meniru kebiasaan gaya mendidik yang dipungut dari pengalaman. Orang-orang yang pernah berkunjung ke negara Jepang, sebagai negara maju, akan merasakan perbedaan gaya mendidik anak oleh orang tua dengan kebiasaan dengan keluarga di negara berkembang, dan termasuk dengan keluarga di Indonesia.
Bagaima kira- kira deskripsinya[8]? Sefrita Yenti Punya pengalaman (dalam bukunya: Berguru Di negeri Jepang[9]). Memang ada beda parenting atau gaya mendidik anak antara Jepang dengan kebanyakan orang tua di negara kita. Bila kita sorot sekelompok anak Jepang dan sekelompok anak-anak (sebagian) di negara kita, maka anak- anak Jepang cenderung berprilaku baik, sedang anak Indonesia banyak yang berperilaku a la negara dunia ketiga yang kurang beretika. Mengapa hal ini bisa terjadi?
-1) Parenting a la masyarakat Indonesia (maaf) ya bersifat  permisif dan kurang mengenal disiplin. Terlihat bahwa semuanya serba diperbolehkan, banyak pemakluman.
“Dia agak malas, ya maklumnya karena masih kecil…masih belum cukup pengalaman”. Pokoknya kita sering mendengar orang tua berpendapat membela dan bersifat permisif. Karena orang tua bersikap seperti itu maka kadang-kadang anak-anak juga punya kecenderungan untuk mencoba melawan batas. Kadang masyarakat kita juga salah mendefinisikan kata “kreatifitas”, sehingga terkesan bahwa melarang anak  dianggap menekan kreatifitas.
“Hei….jangan main bola di sini !!”
“wah mama jangan banyak melarang, nanti hilang lho kreatifitas anak mama”.
“Betul….kreativitas selalu mama dukung, tetapi juga harus pada tempatnya. Kalau anak suka bermain bola ya jangan dalam kamar, bisa pecah kaca. Mereka bisa bermain bola di halaman atau lapangan bola, bukan di sembarang tempat”.
- 2) Sabar dan Kurang Tegas.
Ha..ha..kebanyakan orang tua memang banyak yang sabar, namun mereka kurang tegas. Memang orang tua yang sabar sering terkesan sebagai orang yang baik. Seharusnya  sabar itu adalah sabar yang tegas. Sabar bukan tidak perlu menunjukan marah…., yakatabanyak orang bahwa “sabar harus pada tempatnya”.
 Jika seorang anak menunjukan prilaku agak nakal dan mengganggu, maka orang tua juga perlu memberikan sedikit reaksi, tidak perlu bersikap diam- atau sabar bukan pada tempatnya- sikap tegas orang tua diperlukan buat membuat anak bersikap disiplin. Anak yang cenderung serba dibiarkan bisa terkesan nakal. Bila anak berprilaku negative orang tua harus bisa marah dan bila anak berprilaku positif maka orang juga harus bisa memuji.
Karakter anak berbeda-beda. Ada anak yang berkarakter kalem dan mudah dinasehati. Ada pula anak yang berkaraker kuat dan cenderung keras kepala. Orang tua harus tahu bagaimana cara mendisiplinkan sang anak sesuai karakternya tersebut.
3. Anak diasuh pembantu.
Kecendrungan keluarga baru tinggal terpisah dari keluarga. Mereka bisa jadi di rumah yang mereka sewa atau beli yang ditempati oleh ayah, ibu dan anak. Dan saat anak- anak masih kecil ,mereka membutuhkan pembantu. Ana kalanya sebuah keluarga yang cenderung menyerahkan pengasuhan  anak pada pembantu untuk waktu yang cukup lama, karena ayah dan ibucukup sibuk dan tidak ingin diganggu oleh anak. Yang membatu bisa jadi diambil dari kaum kerabat.  Anak yang dibesarkan oleh pembantu untuk waktu yang cukup lama cenderung kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua.
4. Kurikulum di sekolah berorientasi Teori
Adalah pengalaman umum bahwa kalau di lingkungan anak SD, kalau ada yang jatud dari SD akan disoraki ramai-ramai dan malah bukan ditolong. Sebaliknya bagi anak- anak SD di Melbourne (bukan maksud memuji),kalau ada seorang teman terjatuh dari sepeda, maka yang lain akan berembati dan berhamburan buat memberi bantuan. Ini terjadi karena proses pembelajaran di sekolah kita bersifat menghafal nilai nilai positif dan bukan malah mempraktekan nilai positif.
5. Pengaruh buruk media seperti TV, majalah, surat kabar yang banyak menyiarkan kekerasan, berita-berita negative- karena TV kita menganut paham bahwa “good news is bad news”. Dan sekarang program TV yang bertema mistik juga banyak akibatnya anak menjadi penakut dan nyali berani positifnya jadi hilang. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar dan lihat di televisi. Jika terus menerus terpapar berita kekerasan maka lambat laun mereka merasa bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah dan biasa.
Bagaima dengan kualitas karakter anak-anak  di Jepang ? Kualitas mereka terbentuk dari kualitas parenting para orang tua dan juga dukungan media masa sehingga terbentuklah masyarakat yang punya disiplin, empati dan pendidikan yang pro pada karakter.
1. Disiplin.
Tentu saja setiap pemuda dan pemudi Jepang yang ingin menikah maka mereka terlebih dahulu mengikuti kursus parenting, atau juga belajar secara otodidak tentang menjadi orang tua yang baik (parenting). Jadinya setelah menikah dan punya anak maka mereka tidak kebingungan dalam menanamkan konsep. Disiplin adalah konsep utama yang selalu ditanamkan oleh keluarga.
Karena memahami konsep parenting, maka ibu di Jepang bersikap lembut namun juga tegas. Sejak lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang ibu. Ibu-ibu di Jepang disiplin sekali terhadap anak-anaknya dan kedisiplinan ini diajarkan sejak dini. Anak-anak tidak selamanya bersikap manis, kadang-kadang bersikap agak nakal dan menjadi hilang control.
Jika sang anak tidak mematuhi- bersikapmenganggu ketertipan umum, maka mereka akan memukul kepala si anak. Hukuman ini lazim buat orang Jepang, dan memukul kepala tentu saja tidak lazim bagi kita dan juga tidak harus kita tiru (mungkin diganti dengan bentuk mencubit atau memukul selain kepala untuk tujuan mendidik.
Namun di tempat umum, ibu-ibu Jepang pantang untuk memarahi atau bersikap kasar terhadap anak, karenaanak perlu dipelihara harga dirinya. Mereka dihukum ketika sudah di rumah. Oleh sebab itu, anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya karena jika mereka melanggar aturan maka mereka tahu apa konsekwensinya. Namun kadang ada juga ibu-ibu yang memukul kepada si anak di tempat umum jika sang anak bersikap kelewatan atau berbahaya.
2. Berempati bisa berarti memahami perasaan orang lain.
Orang tua Jepang umumnya sudah punya wawasan yang baik, yang mereka peroleh lewat pendidikan atau lewat otodidak, hingga mereka bisa menjadi model bagi anak. Orang tua yang berkarakter baik akan cenderung melahirkan anak yang juga baik. Umumnya orang Jepang dan juga orang di negara maju cenderung  mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri. Misal kalau lagi menyetir maka cenderung memperlihatkan kesabaran dan tidak mau menjadi raja jalanan.
Ketertiban dan sopan santun anak sangat diperhatikan di Jepang bila anak tidak tertib  maka mereka memperoleh hukuman. Di tempat umum, anak-anak jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Misalkan di restoran, tidak ada anak-anak yang hilir mudik, berjalan kesana kemari. Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh ibunya. Jika sang bayi rewel, sang ibu akan berdiri dan menggendongnya.
Di rumah sakit, klinik, mall, dan tempat umum lainnya, tidak ada anak-anak yang berjalan mundar mandir, lari kesana kemari, berbicara keras-keras. Misalkan di klinik atau rumah sakit, berbahaya jika anak kita berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari. Di kereta, anak-anak harus duduk dengan tertib dan tidak berisik. Banyak penumpang yang ingin tidur dan beristirahat, jadi pikirkan kenyamanan mereka juga.
3. Sekolah atau pendidikan  menitikberatkan kepada etika
Pembelajaran untuk etika dilakukan dalam bentuk praktek dan tidak dalam bentuk teori. Semua komponen masyarakat, baik keluarga dan sekolah, mengajarkan anak untuk beretika dan bersopan santun. Jika bermain bersama, si anak ingin meminjam mainan temannya maka harus meminta ijin terlebih dahulu. Jika diijinkan maka harus mengucapkan terima kasih. Setelah selesai bermain juga harus mengucapkan terima kasih lagi. Jika melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak, anak harus meminta maaf dan temannya harus memberikan maafnya. Anak-anak tidak boleh mengambil yang bukan miliknya. Semua harus meminta ijin terlebih dahulu.
4. Media Massa Jepang
Media massa Jepang  terutama televisi yang jarang menayangkan berita kekerasan dan andaikan ada korban jiwa- misalnya saat ada berita tentang tsunami atau gempa- sehingga ada  luka-luka, mereka tidak pernah memasang gambar korban. Kalau ada ya disamarkan dari pandangan pemirsa TV.  Isi TV di Jepang- misal seperti pada TV NHK yang bisa terlihat dari negara kita-  kebanyakan adalah acara talk show, makan-makan, jalan-jalan dan ilmu pengetahuan.


[1] http://penulis.web.id/contoh-negara-maju-dan-berkembang-di-dunia.html
[2] http://penulis.web.id/contoh-negara-maju-dan-berkembang-di-dunia.html
[3] http://sukabaca-baca.blogspot.com/2011/11/urutan-kualitas-pendidikan-indonesia-di.html
[4] http://www.imd.org/wcc/news-wcy-ranking/
[5] http://hdr.undp.org/en/content/table-2-human-development-index-trends-1980-2013
[6] http://www.asmitacollective.in/asian_south_pacific.html
[7] http://www.empowher.com/parenting/content/norway-best-country-raise-kids-united-states-ranks-25th
[8] https://tutee.wordpress.com/2013/03/24/parenting-a-la-jepang-dan-indonesia/
[9] Berguru Di Negeri Jepang, Marjohan dan Sefrita Yenti, Yogyakarta: Diva Press, 2013.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture