Rabu, 24 Februari 2016

Menajamkan Fokus Pendidikan Antara Kognitif dan Afektif

 Menajamkan Fokus Pendidikan Antara Kognitif dan Afektif

Menuntut ilmu sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Banyak siswa dengan dukungan orang tua berlomba agar bisa bersekolah di sekolah yang terkemuka kualitasnya. Dari  tulisan-tulisan yang kita baca pada media massa dan dari pengalaman langsung ditemui bahwa banyak pelajar Indonesia yang begitu tekun dalam aktivitas belajar termasuk juga aktif mengikuti kursus atau bimbingan belajar agar lebih cerdas.
Kita sering mendengar bahwa banyak anak-anak Indonesia yang bisa menjagoi berbagai perlombaan akademik. Putra-putri Indonesia mampu memperoleh juara olimpiade sains di tingkat internasional. Tentu saja mereka diharapkan bisa berbuat banyak dalam bidang sains dan tekhnologi.
Walaupun dalam setiap perlombaan sains internasional, putra-putri kita bampu meraih banyak penghargaan. Namun setelah mereka dewasa prestasi atau karya nyata mereka jarang terdengar. Kata seorang teman penulis mengatakan bahwa putra-putri Indonesia baru sebatas cerdas dengan teori dan belum lagi secara secara karya.
Kemudian, meskipun siswa kitamampu memperoleh banyak kemenangan dalam berbagai perlombaan, namun ini belum mewakili kualitas pendidikan Indonesia secara umum. Karena kenyataan pendidikan kita tetap tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan New Zealand.
Menurut………..penyebabnya adalah karena budaya pendidikan kita yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan (keterampilan berfikir dan kreativitas) itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.
Memang benar bahwa para siswa siswa kita baru sebatas cerdas dengan teori sehingga mampu meraih skor-tes setinggi-tingginya. Selama ini ada anggapan bahwa para siswa yang mampu meraih skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes.
Jadinya Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi hanya akan bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor yang  tinggi. Begitu pula bahwa sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya. Dengan demikian bisa menjamin pendanaan (bantuan finansial) lebih banyak dari pemerinah. Akibatnya para guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi.
Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orang tua lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah. Malah sejak sejak usia dini. Akibat waktu bersekolah yang panjang dan beban PR yang berat, para pelajar kita hanya terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar, yang sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah.
Ada 3 ranah pendidikan yaitu kognitif, afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Aspek yang paling banyak disentuh oleh sekolah adalah kognitif. Agaknya aspek kognitif berhubungan langsung dengan akademik. Kita tidak mungkin menyalahkan sekolah yang lebih banyak terfokus untuk mempertajam aspek kognitif. Bila seorang siswa belajar banyak di sekolah dan kemudian belajar lagi di tempat les atau lembaga bimbingan belajar. Lagi-lagi ini adalah kegiatan untuk mempertajam aspek kognitif.
Anak harus memiliki kecerdasan yang berimbang antara kognitif, afektif dan psikomotorik. Tidak tetap kalau kita masih protes pada sekolah agar juga focus pada pembinaan afektif. Karena orang tua juga harus berkontribusi untuk mempercedas anaknya sendiri.
Orang tua punya peran besar dalam menumbuh-kembangkan prilaku dan life-skill anak dalam bentuk melibatkan mereka untuk ikut beraktifitas di rumah. Misalnya orang tua mengajak anak untuk merapikan rumah, merawat tanaman dikebut, menanam pohon penghijau untuk keindahan lingkungan, dan juga mengikuti berbagai kegiatan tetangga lainnya.
Ada satu keluarga yang menginginkan anak-anak mereka menjadi cerdas dengan cara banyak belajar agar bisamemiliki prestasi akademik yang tinggi. Sementara mereka dibebaskan untuk ikut berbagi tugas di rumah. Bagaimana hasilnya ? anak-anak mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri. Urusan pribadi seperti kebutuhan pakaian, makan dan kebutuhan kecil lainnya masih dilayani. Sang anak telah menjadi raja kecil atau boss kecil, yang kerja suka minta tolong atau serba memerintah.
Mendorong anak-anak sekuat tenaga hanya untuk satu bidang saja, yaitu bidang akademik atau kognitif dan menjaudi pengembangan afektif dan psimotorik merupakan langkah yang belum tepat. Seharusnya kita dalam mendidik anak-anak tetap berkontribusi untuk memantapkan ketiga aspek tadi yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dalam hidup bahwa tidak selamanya orang berkaris sesuai dengan kualitas kognitifnya, yaitu bekerja pada profesi yang didukung oleh unsur akademik, menjadi dokter, peneliti, pendidik, dan karir lain pada bidang pemerintah. Namun juga berkarir karena kekuatan afektif dan psimotorik mereka, seperti menjadi atlit, artis, pengacara, motivator, menteri, presiden, dll. 
Dalam hidup ini kita bisa mendengar langsung atau membaca kisah- kisah orang yang bisa berhasil dalam profesinya yang pada mulanya tidak didukung oleh unsur kognitif atau akademik, namun didukun oleh kematangan afektif dan psikomotorik.
Kekuatan nilai afektif dan psikomotorik juga dirasakan oleh orang lokal. Penulis menemui contoh dari salah seorang wirausaha kuliner dan seorang pedagang. Kasmiati, menekuni usaha kuliner di Payakumbuh, mengaku bahwa ia banyak menuntut ilmu pengetahuan untuk menjadi mandiri dari alam saja. Sementara itu Ibu Ade yang meninggalkan karir PNS dan menekuni usaha properti dan perdagangan di Batusangkar, suatu pekerjaan yang memberikan tantangan buatnya. Berikut kita lihat sepintas kupasan jalan sukses 5 orang, presiden, pengusaha besar, gubernur, kuliner biasa dan juga pebisnis biasa. Usaha atau prestasi mereka bisa tumbuh dan berkembang bukan semata-mata oleh kekuatan factor kognitif, namun dari kemampuan afektif dan psikomotoriknya.   
1). Presiden Sukarno
Presiden Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo seorang guru, dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai, seorang perempuan Bali. Sukarno waktu kecil tinggal bareng kakeknya di Tulung Agung, Jawa Timur. Sekolah berkualitas memang penting untuk memacu motivasi, maka ayah Sukarno memasukkannya ke sekolah Eerste Inlandse School, sekolah tempat ayahnya bekerja. Berarti ayahnya juga guru yang hebab. Ayah yang hebat akan memotivasi anak untuk jadi hebat.
Sukarno sejak dari kecil sudah punya prinsip senang dengan”kemandirian”  yang dia berdiri istilah dengan “berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri” Ia berdikari dalam meningkatkan kualitas diri, melalui banyak membaca, belajar pidato sendirian, dan juga dalam menguasai bahasa asing. Ya  Bung karno menganut ideologi “berdiri di atas kaki sendiri”. Saat menjadi presiden Bung Karno dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid- persetan dengan bantuanmu”.
Ia mengajak negara-nega-ra sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar Revolusi ini juga berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dalam memotivasi diri Bung Karno juga memiliki slogan yang kuat yaitu “gantungkan cita-cita setinggi bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur”.
Dalam usia 16 tahun, Bung Karno fasih berbahasa dan membaca dalam Bahasa Belanda. Ia sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya dalah Thomas Jefferson dengan bukunya Declaration of Independence. Bung Karno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln, mereka adalah tokoh hebat dari Amerika Serikat. Tokoh pemikir bangsa lain adalah seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Bung Karno juga mempelajari ‘Gerakan Buruh Inggris” dari tokoh-tokoh tadi.
Bung Karno juga membaca tentang Tokoh Italia, dan ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Bung Karno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Bung Karno muda untuk menjadi maju dan smart.
Kemudian, bagaimana masa kecil dan proses kreatifitas  Bung Karno yang lain? Agaknya Bung Karno telah memiliki jiwa leadership (kepemimpinan) sejak kecil, karena apa saja yang diperbuat Bung Karno kecil, maka teman-temannya akan mengikuti. Apa saja yang diceritakan Bung Karno kecil, maka teman-teman akan patuh mendengarkannya. Oleh teman-temannya, Bung Karno bahkan dijuluki “jago”. karena gayanya yang begitu “pe-de atau Percaya Diri”. Itu pula yang mengakibatkan ia sering berkelahi dengan anak anak Belanda.
Bung Karno adalah juga orator ulung. Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya dan latihan latihan berpidato yang ia lakukan. Ketika masih remaja- belajar di sekolah menengah- Bung Karno sering berlatih berpidato sendirian di depan kaca dan juga berbicara di depan gang nya (teman-temanya). Setelah itu Sukarno menyambung sekolah ke HBS (Hogere Burger School) dan ia juga sempat sekolah di Europeesche Lagere School (ELS).
Membaca adalah kebiasaan positif yang selalu dilakukan Bung Karno sejak kecil. Apa alasan mengapa Bung Karno harus gemar membaca, rajin belajar dan belajar tentang segala sesuatu ?  Karena didorong oleh ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, maka Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius dalam belajar. Ketika belajar di HBS- Hoogere Burger School  Surabaya, dari 300 murid yang ada dan hanya 20 murid saja yang berasal dari orang pribumi (satu di antaranya adalah Bung Karno) yang sulit menarik simpati teman-teman sekelas. Mereka memandang rendah kepada anak pribumi sebagai anak kampungan. Namun Bung Karno adalah murid yang hebat sehingga satu atau dua guru menaruh rasa simpati padanya.
Rasa simpati gurunya, membuat Bung Karno bisa memperoleh fasilitas yang  lebih untuk “mengacak-acak atau memanfaatkan” perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Umumnya buku-buku ditulis dalam bahasa Belanda. Problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya (membaca buku yang ditulis dalam bahasa Belanda), maka Bung Karno dengan sekuat hati mendalami Bahasa Belanda.
Entah strategi apa yang ia peroleh secara kebetulan. Namun Bung Karno punya jalan pintas (cara cepat) dalam menguasai bahasa Belanda. Bung karno menjadi akrab dengan noni Belanda sebagai kekasihnya. Berkomunikasi langsung dalam bahasa asing (Bahasa Belanda) adalah cara praktis untuk lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu kekasih Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.
Saat sekolah di HBS, Sukarno indekost di pondokan H.O.S. Tjokroaminoto, seorang pemuka masyarakat, cendekiawan dan teman ayahnya. Saat bersekolah Sukarno aktif berorganisasi, dan akti mengambil peran dan juga selalu berrtukar fikiran dengan para tokoh.
Sukarno mengikuti organisasi Tri Koro Dharmo, kemudian ganti nama menjadi Jong Java atau Pemuda Jawa.
Dari hasil banyak berdiskusi, Sukarno tentu punya banyak ide, dan ia jadi rajin menulis. Tulisannya terbit pada surat kabar Oetoesan Hindia, pimpinan Tjokrominito. Bung Karno juga gemar menuliskan opini-opininya dalam bentuk artikel. Kumpulan tulisannya dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Tulisanya yang lain dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya.
Tamat HBS Soerabaja bulan Juli 1921 Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921 setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat pada tahun 1926. Soekarno dinyatakan lulus ujian insinyur pada tanggal 25 Mei 1926 dan pada Dies Natalis ke-6 TH Bandung tanggal 3 Juli 1926 dia diwisuda bersama delapan belas insinyur lainnya.
Saat kuliah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Tjokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Jadi yang juga membuat Sukarno tumbuh berkualitas, selain dia memiliki motivasi belajar yang hebat. Dia juga memiliki teman-teman yang berkualitas untuk tempat mengasah logika dan intelektual komuniasi sosialnya.
Tamat dari ITB, Sukarno tidak mencari kerja, ia malah mendirikan pekerjaan, pada tahun 1926 ia mendirikan biro insinyur bersama Ir. Anwari, banyak mengerjakan rancang bangun bangunan. Selanjutnya bersama Ir. Rooseno juga merancang dan membangun rumah-rumah dan jenis bangunan lainnya. Malah ketika dibuang di Bengkulu menyempatkan merancang beberapa rumah dan merenovasi total masjid Jami' di tengah kota.
2). Ir. Ciputra
Ia lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ia terkenal sebagai pengusaha properti yang sukses, antara lain pada Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra.
Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Parigi, Sulawesi Tengah. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Bapaknya Tjie Siem Poe ditangkap oleh pasukan tak dikenal, karena dituduh sebagai mata-mata Belanda/Jepang dan tidak pernah kembali lagi pada tahun 1944.
Ketika remaja ia bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari SMA, ia meninggalkan desanya menuju Jawa. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung. Pada tingkat empat, ia bersama Budi Brasali dan Ismail Sofyan mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor di sebuah garasi. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur pada tahun 1960, ia pindah ke Jakarta.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di ITB, Ciputra mengawali kariernya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI. Ciputra bekerja di Jaya Group sebagai direksi sampai dengan usia 65 tahun, dan setelah itu sebagai penasihat. Di perusahaan tersebut, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol.Ciputra saat ini dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship / kewirausahaan di Indonesia. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menanamkan pentingnya kewirausahaan untuk membuat bangsa Indonesia maju.
3) Irwan Prayitno
Ia punya nama lengkap yaitu Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc datang dari keluarga Minangkabau, Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang. Irwan Prayitno adalah anak pertama, memiliki tiga adik, dari orang tua yang sama-sama dosen.
Jadi orang tua yang berpendidikan biasanya mampu mendidik anak yang juga cerdas dan berkualitas. Masa kecilnya yang sering pindah-pindah telah membuat pengalaman geografi dan pengalaman adaptasi sosial semakin kaya. Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA, menjalani dua kali kepengurusan OSIS pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Selama di SMA, ia meraih juara pertama di kelasnya dan selalu dipercayakan sebagai ketua kelas.
Ternyata anak-anak yang sempat menjadi ketua Osis saat di SMA memiliki kemampuan leadership yang bagus dan pada umumnya sukses setelah dewasa. Ini dibuktikan pada beberapa teman. Teman penulis saat di SMA, Hidayat Rusdi, pernah menjadi ketua Osis di SMA Negeri 1 Payakumbuh dan setelah dewasa ia sukses berkarir di Perusahaan Perminyakan. Teman penulis yang lain, adalah juga bernama Rusdi, tetapi Rusdi Thaib. Saat di SMA ia juga pernah menjadi Ketua Osis di SMA Solok, dan setelah dewasa ia berkarir sebagai Dosen Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang dan di Atase Budaya di Kantor Kedutaan RI- Kuala Lumpur. Betapa pentingnya para siswa harus memiliki keterampilan leadership saat masih kecil atau remaja, dengan harapan setelah dewasa akan lebih mudah meraih sukses dalam karirnya.
Selanjutnya tentang Irwan Prayitno, ia sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya. Namun, karena mempunyai masalah dengan mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia. Setelah tamat SMA pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun, menurutnya yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai semata, tetapi pengembangan diri.
Saat mulai masuk perguruan tinggi, ia aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Akhirnya Irwan mampu menyelesaikan kuliahnya pada jurusan psikologi UI, sayangnya IPK (Indeks Prestasi Kumulatifnya) cukup rendah.
Karena IPK rendah, Irwan memilih tidak melamar pekerjaan di Jakarta. Ia memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Sebelum mengakhiri kuliahnya, ia telah berpikir bagaimana merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Semula, Irwan merintis kursus bimbingan belajar Adzkia di Lolong-Padang  pada tahun 1987. Selain dirinya, beberapa pendiri Adzkia adalah sekaligus guru di antaranya Syukri Arief dan Mahyeldi Ansharullah.
Saat itu penulis kuliah di jurusan Bahasa Inggris-IKIP Padang dan penulis juga menyibukan diri pada Perpustakaan Masjid Al-azhar di Komplek Pendidikan IKIP dan UNAND. Di sana penulis berkenalan dengan Bang Irwan Prayitno yang sering membawa anak sulungnya. Dan penulis mengira itu adalah adiknya, ternyata adalah anaknya.
Penulis masih ingat bahwa pada awal karirnya, ia sempat memberi bimbingan konsultasi gratisan bagi mahasiswa yang mau kuliah melalui kegiatan amal yang diselenggarakan oleh Yayasan Amal Shaleh di Air Tawar- Padang. Yayasan ini dibimbing oleh Dr Muchtar Naim, seorang sosiolog dari Unand. Akhirnya Bang Irwan mendirikan kegiatan bimbingan belajar dan juga menjadi aktivitas sosial yang lebih professional. Ia dan teman- teman membuat kelas-kelas kursus.
Pada 1988, kelas kursus berpindah ke Komplek PGAI, Jati. Bermula dari kursus bimbingan belajar, Irwan membentuk Yayasan Pendidikan Adzkia yang secara bertahap mewadahi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Secara bertahap sejak 1994, Adzkia membuka jenjang perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan. Dalam pembinaan anak didik, ia mencurahkan ilmu psikologi yang ditimbanya di bangku kuliah.
Perkembangan Yayasan Pendidikan Adzkia berpengaruh pada kemapanan hidupnya, mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Pada tahun 1995, Irwan mengambil kuliah di Selangor, Malaysia sambil membawa serta istri dan anaknya. Namun, karena IPK rendah, lamarannya sempat beberapa kali ditolak. Teman sesama aktivis dakwah di Selangor mempertemukannya dengan Pembantu Rektor UPM (Iniversity Putra Malaysia). Kepada Prof. Hasyim Hamzah, Irwan menyatakan kesanggupan menyelesaikan studi dalam tiga semester. Ia mengambil kuliah S-2 bidang pengembangan SDM (Human Resource Development) di UPM- Selangor. Tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal tiga tahun pada 1996, ia melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama.
Sehari-hari di Selangor, ia harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dengan istri, ia berbagi tugas karena tak ada pembantu. Irwan mengaku, di antara kegiatannya, dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke London, Inggris dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.
Move on yang dilakukan oleh Irwan Prayitno sangat pesat. Hidupnya mengalir, ia selalu melakukan proses hingga ia bisa menjadi Ketua Partai Keadilan propinsi Sumatra Barat, menjadi anggota DPR RI, dan terus menjadi Gubernur Sumatra Barat. Namun beberapa catatan awal hanya bertujuan bahwa Irwan Prayitno kuliah ke Universitas Indonesia bukan untuk mencari pekerjaan, namun untuk mematangkan pribadi, mengembangkan pemikiran, intelektual, mengawas leadership, kemampuan komunikasinya serta keberanian enterpreurship-nya.
4). Ibu Ade
Penulis tidak tahu dengan nama lengkapnya, namun penulis sempat bercerita panjang dengannya di pasar Batusangkar. Yang penulis tahu bahwa ia adalah Ibu kandung dari salah seorang murid penulis. Ibu Ade dahulu juga kuliah di IKIP Padang dan setelah itu sempat menjadi PNS yaitu sebagai seorang guru. Profesi guru akhirnya ditinggalnya, bukan profesi ini ini tidak bagus, namun bakat berbisnis atau berwirausahanya lebih menonjol dan memberi tantangan baginya. Penulis sempat bertukar cerita saat penulis berbelanja di tokonya.
Ibu Ade punya bisnis dalam bidang properti (pengembangan perumnas), jual-beliemas dan money changer. Di daerah yang tidak jauh dari rumahnya, ia mengobservasi ada hamparan tanah yang kurang produktif. Maka ia menemui pemilik tanah tersebut dan terjadi transaksi. Pendek kata tanah tersebut telah menjadi milik Ibu Ade dan selanjutnya dijadikan petak-petak atau “kavling” dan pembangunan perumahan buat warga dan utamanya para PNS. Sekarang properti atau perumnas yang dikembangkan oleh Ibu Ade menjadi Perumnas yang cukup popular di kota Batusangkar.
Selain itu Ibu Ade juga menggeluti bisnis jual beli emas dan valas (valuta asing). Ya tidak hanya Ibu Ade, tetapi juga banyak orang yang memahami bahwa Jual beli valuta asing (foreign exchange trading) semakin dilirik selain investasi saham, obligasi, emas. Berbisnis pada bidang ini menekankan pada kecepatan transaksi dan juga keuntungan. Dalam investasi ini perlu fokus penuh dan jeli dalam melihat pergerakan market dan yakin saat mengambil keputusan. Ya sama seperti investasi lainnya, kita perlu kenali dan pahami agar bisa menikmati hasilnya. Bagi pemula juga bisa melakukan bisnis ini misal dengan cara mengikuti saja aktivitas para trader yang cukup top. Dengan mengikuti pola trading mereka maka para investor pemula relatif lebih mampu mengidentifikasi peluang serta menghindari kerugian dengan lebih baik.
Penulis tidak menjelaskan bagaimana cara berbisnis properti, emas, obligasi dan valas, namun ingin menginformasikan bahwa kaum perempuan, seperti Ibu Ade, juga melihat bahwa kuliah di perguruan tinggi bukan untuk mencari kerja, namun buat mematangkan pola berfikir. Malah pekerjaan sebagai guru yang diberikan oleh perguruan tinggi telah ditinggalkan oleh Ibu Ade, menjadi seorang guru itu bagus, sekali lagi bahwa Ibu Ade merasakan adanya kepuasan kerja (satisfaction) melalui karir sebagai pebisnis. Kemampuan melihat dan membaca peluang dan keberanian untuk berbisnis telah mengantar Ibu Ade sebagai warga yang terkemuka di kota Batusangkar.
5) Kasmiati
Ia tidak pernah kuliah di perguruan tinggi. Ia menikah di usia muda, usia 22 tahun dan setelah punya 5 orang anak, terasa ada himpinan masalah ekonomi yang mendera. Gaji suaminya sebagai prajutit TNI tidak pernah mencukupi, hingga ia berhutang dan berhutang, akhirnya ia terpaksa gali lobang tutup lobang untuk menutupi masalah keuangan. Namun masalah keuangannya menjadi makin melebar.
Akhirnya ia menuntut ilmu pada life university (universitas kehidupan). Maksudnya ia curhat kepada lingkungan, tetangga, kenalan dan famili yang dianggap lebih dewasa dan tahu solusinya. Akhirnya ia tertarik berbisnis dalam bidang kuliner dengan nama warung “Warung Ketupat Uni Upik”. Usahanya tidak begitu besar, namun ia sudah memiliki beberapa orang karyawan untuk membantu bisnis kulinernya. Ia mampu menyediakan kebutuhan sarapan pagi para pelanggannya yang jumlahnya cukup banyak sebagaimana yang sempat penulis saksikan. Di sini yang penting bagaimana proses kehidupan Uni Kasmiati mengalir dalam merajut sukses pada bisnis warungnya.
Kita sering mendengar bahwa urusan perut itu tidak bisa ditolerir. Ya, anggapan tersebut memang ada benarnya, karena kebutuhan manusia akan makan dan minum sudah menjadi kebutuhan pokok yang sama sekali tidak bisa ditunda-tunda. Dengan demikian, tak heran bila beberapa tahun belakang ini banyak pebisnis makanan betebaran di mana-mana, mulai dari pedagang makanan tradisional dengan istilah pedagang kaki lima, hingga pedagang makanan modern yang diklaim sebagai pengusaha kafe dan resto.
Kasmiati membuka usaha warung makanan yang modalnya cukup bisa dijangkau bagi kebanyakan orang. Sebenarnya bisnis makanan dan minuman bermodal rendah dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jenis dan tempat usahanya.
Kasmiati dan suaminya Rostian tinggal di rumah bedeng (asrama) milik Batalyon Denzipur. Kebetulan lokasinya di pinggir jalan di persimpangan yang ramai di depan Rumah Sakit Umum. Kasmiati memanfaatkan satu petak kecil lahan tidur dan mendirikan warung sederhana yang terbuat dari papan. Semampunya ia menata perabot warung.
Ternyata Kasmiati melakukan survey sebelum membikin warung. Orang- orang di kiri dan kanan menjual sate, nasi goreng, pecal, dan beberapa jenis makanan lain. Ia menemukan produk khusus buat usahanya yaitu “ketupat gulai”, ya sebagai produk unggulannya. Ia juga bakal menjual produk yang sama seperti nasi goreng, nasi soto, nasi sup dan aneka minuman. Ya hidup memang bersaing- tentu harus dengan persaingan yang sehat, pelanggan bisa memilih sesuai dengan selera mereka.
Kasmiati merasa bersyukur karena bisa memiliki lokasi usaha yang bagus, yaitu pada daerah persimpangan jalan di dekat Rumah Sakit Umum. Ia berharap kelak pengunjung warungnya bisa ramai oleh orang-orang yang membutuhkan jajan buat mengusir lapar.
Kasmiati membuat konsep warungnya yaitu bagaimana agar outlet makannya dapat menarik pengunjung dan membuat mereka nyaman untuk memasukinya. Konsepnya ya warung dengan tata ruang yang sederhana, tetapi bersih dan nyaman. Dia juga memperhatikan pelayanan yang mengesankan. Ya Kasmiati membutuhkan beberapa orang karyawan buat membantu. Dan karyawan dilatih dan namun juga diaggap sebagai famili, agar mereka bekerja dengan ikhlas dan setia, dengan bayaran gaji yang bagus. Karena karyawan juga merupakan aset bisnis.
Kasmiati kemudian juga menguasai manajemen keuangan. Disiplin adalah kunci untuk menjamin kondisi keuangan bisa selalu baik-baik saja. Sederhananya dengan berbisnis kuliner keuntungan bersih yang bisa diperoleh adalah 20 %. Kalau bisnis menghasilkan 100 % per bulan, maka 20 % masuk ke rekening pemilik bisnis kecil ini.
Untung atau rugi musti jadi perhitungan dalam berdagang. Ada beberapa hal yang biasanya membuat bisnis kuliner bisa tidak ada untung. Antara lain biaya bahan baku yang berlebihan, mestinya biaya bahan baku bisa kontrol maksimal 60% dari target penjualan harian. Yang kedua biaya operasional yang membahana, bisa jadi karena sewa tempat yang terlalu mahal, jumlah karyawan yang terlampau banyak.
Sebelumnya Kasmiati tidak perlu menyewa warung, karena hak pakai sebagai keluarga Batalyon Denzipur. Setelah suaminya pension ia pindah dan menyewa warung untuk bisnis kulinernya. Alhamdulillah ia masih dapat mengelola keuangan dengan baik hingga ia dapat memperoleh uang dari bisnis kulinernya.

Dari uraian profil 5 orang tokoh di atas terlihat bahwa betapa setiap orang memiliki keberanian dan kecerdasan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Wawasan yang luas, selalu membuka mata dalam pergaulan sosial membuat afektif kita menjadi kaya. Bertukar fikiran dengan orang- orang yang berhasil, aktif dalam hidup (sosial) akan memberi manfaat dalam mencari posisi kita di masa depan. Tentu saja selalu diperlukan keberanian untuk mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan.     

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture