Jumat, 09 Januari 2015

Lintau Buo



Lintau Buo
            Lintau Buo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tanah Datar- di Propinsi Sumatera Barat. Daerah ini terletak di lereng Gunung Sago, di pinggiran Batang Sinamar. Daeranya subur dan di sisinya terbentang perbukitan Gunung Barisan dengan puncak yang bergelombang. Bentangan puncaknya mirip dengan pegunungan di daerah Guang Dong China, kata Anne Bedos.[1]
Aku sudah tahu bahwa penempatan aku sebagai guru adalah di SMA Negeri 1 Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar dari SK (Surat Keputusan) pemerintah yang diantarkan oleh Pak Pos dan Giro di Payakumbuh. Hari itu aku datang sendirian ke Lintau dan aku harus menemui Kepala Sekolahnya yang bernama “Drs. Abuzar”.
Aku kemudian mencari tempat kosan sebagai guru muda di Desa Ampera dekat Balai Tangah. Dalam beberapa hari aku datang lagi membawa barang- barangku dari Payakumbuh dan aku dibantu oleh adikku Naser. Ia berjasa ikut membawa barang barangku seperti kasur dan peralatan masak ke Lintau.
Aku menyewa kamar pavilion milik Hajjah Rasyidah. Di sana juga ada beberapa guru- guru muda yang juga baru diangkat. Jadinya aku punya teman guru-guru muda. Mereka adalah Emrizal, Ismet Eliskal, Nazarruddin dan Latif Pramudiana Sukara.
            Aku merasa tidak seperti guru tetapi seperti mahasiswa PL (Praktek Lapangan) saja. Bedanya kalau tiap pagi kami jalan bareng menuju sekolah memakai seragam PNS (Pegawai negeri Sipil). Dan para tetangga menyapa kami, mereka tidak menyebut nama kami lagi, meski kami tetap merasa masih ABG. Haaaa ha…tapi para tetangga memanggil kami  “Bapak”, pada mulanyakami merasa risih dan lambat laun jadi terbiasa dipanggil “Bapak”.
Tiba- tiba pada suatu hari ada rombongan siswaku datang dari SMA Negeri 1 Pakan Rabaa (dekat Payakumbuh) datang ke kosanku di Lintau. Mereka jadi sedih berpisah denganku dan mereka berharap agar aku bisa balik lagi menjadi guru di sana.
Sedih dan metetes juga air mataku mendengar permohonan mereka. Memang setiap kali ada pertemuan. Itu terasa sangat indah dan setiap kali berpisah sungguh membuat aku terasa sangat menderita, sedih sekali. Dan c’est la vie..itulah kenyataan dalam hidup. Namun rasa sedih bisa pulih, hingga stabil kembali, seiring dengan pertambahan waktu.
            Jadinya aku memulai kehidupan baru dengan suasana yang baru pula yaitu menjadi guru. Memang bahwa  aku sangat menikmati karir sebagai guru baru. Agaknya saat itulah aku merasa bahagia. Kami para guru muda punya kegiatan yang membuat hidup ini indah. Kami tiap sore masak bareng- bareng- ibarat tinggal di kosan mahasiswadahulunya. Juga kami belajar bareng- bareng mempersiapkan materi mata pelajaran buat hari berikutnya. Kadang-kadang kami juga  mengunjungi rumah siswa, buat silaturahmi dengan orang tua mereka.
            Bila musim durian tiba, para siswa mengundang kami agar mampir ke rumah mereka dan biasanya ada pesta makan durian pake nasi ketan. Kami menjalin komunikasi yang akrab dengan siswa dan juga dengan orang tua mereka. Saat itu ada lima guru muda dan masing-masing siswa mengidolakan kami.
Kami berlima ada sebagai guru Bahasa Inggris, Fisika danKimia. Para siswa adalah sahabat kami.             Bila hari minggu datang,  beberapa siswa perempuan mampir ke pavilion kami. Mereka senang melihat bapak guru mereka memasak…meski rasa hidangan kami tidak begitu lezat, karena sering kelewat asin, kelewat pedas atau kelewat hambar….dan mereka sering membantu kami memasak. Dan mereka lebih jago memasak disbanding kami semua.
            Setiap awal bulan baru datang maka itu adalah hari yang indah. Karena kami bisa memperoleh gaji yang bisa kami gunakan buat membeli makanan yang enak.  Aku juga menyisihkan gajiku buat membantu ibuku di Payakumbuh. Biasanya aku luangkan waktu  buat pulang ke Payakumbuh. Aku juga membeli oleh-oleh buat ibu dan adik-adik.
Yang membuat aku bahagia adalah saat aku bisa menyodorkan uang jajan buat ibu. Ya Allah itulah saatnya aku membalas jasa ibu. Dan itu pun tentu nggak seberapa dibandingkan jasa dan ketulusan ibu sejak aku masih bayi, merawat dan membesarkan aku dengan penuh rasa kasih dan cinta. Tentu saja aku jua mendoakan ayah dan ibu, agar Allah melimpahkan kesehatan dan rezki yang cukup bagi mereka.
“Moga moga orang tuaku yang sudah berada dalam tidur yang panjang selalu merasa daman dan tenang. Moga moga Tuhan menyayangi mereka selalu, amiiin”.
            Bila sore tiba aku dan Emrizal pergi ke Mesjid Raya di Balai Tangah buat melakukan sholat magrib berjamaah.  Aku senang memakai baju panjang lengan karena membuat statusku sebagai guru semakin mantap. Di lain waktu aku juga pergi sholat di Mushola di daerah Payabadar. Ha…ha…akibatnya aku sering dikunjungi oleh ibu-ibu atau bapak-bapak dan mereka sering bertanya padaku:
“Apakah aku sudi menjadi menantu mereka, maksudnya apakah aku sudi menikah dengan anak gadis mereka”. Dan untuk hal ini aku harus bersikap hati-hati, menimbang untuk menerima atau  menolak tawaran mereka secara baik-baik tanpa menyinggung perasaan orang. 
            Kadang-kadang aku pergi sholat ke mesjid sendirian dan pulang ke rumah bareng dengan jemaah yang berusia tua. Ada seorang jemaah pria yang sudah berumur tua, kami sering pulang bareng. Dia sering bercerita:
“Aku ibarat mobil baru dan lampunya masih terang, sementara dia sendiri sudah tua dan juga ibarat mobil yang sudah tua. Mesinnya  mudah rusak- sering mogok- sehingga sering masuk bengkel. Maksudnya bahwa dalam usia tua, dia sering pergi ke rumah sakit”.
Dia menambahkan bahwa mataharinya sudah amat senja dan sebentar lagi bakal tenggelam. Kalimat-kalimat seperti itu sangat berbekas dalam memoryku. Bahwa manusia itu wajib tua dan wajib tenggelam atau meninggal. Secara tidak langsung bapak tua itu telah berbagi pengalaman hidup bagiku, yakni aku juga  harus mempersiapkan diri selagi masih masih muda dan juga kelak bakalan jadi tua.
Saat jiwa ku terasa kosong maka nasehat-nasehat seperti itu bisa muncul kembali dalam memoriku….dimana aku juga  harus mendekatkan diri pada Allah. Kini bapak tua yang bijaksana tersebut memang sudah meninggal dan kata kata bijaknya selalu lengket dalam memoriku.  

Menyenangi Kelas Yang Membosankan
            Di tahun 1990-an  SMA Negeri 1 Lintau memiliki 3 penjurusan, yaitu IPA, Sosial dan Bahasa. Entah bagaimana (secara tidak langsung) para siswa sepakat menganggap bahwa jurusan IPA adalah jurusan yang favorite, kemudian jurusan Sosial sebagai jurusan yang bagus dan jurusan Bahasa sebagai jurusan yang kurang favorite. Itu akibat system rekruitmen  yang kurang bagus, yakni semua anak anak yang lemah motivasi belajarnya berkumpul dalam jurusan Bahasa. Jurusan ini harus belajar bahasa Inggris 10 jam per minggu. Itu berarti aku harus mengajar kelas yang membosankan- siswa yang rendah motivasi belajarnya.
            Menjadi guru di kelas dengan motivasi belajar rendah memerlukan seni mengajar tersendiri. Jadinya seorang guru tidak mungkin  terlalu berorientasi pada buku teks. Dalam mengajar, aku  memakai filsafat  air, yaitu  aku harus mengalir. Atau aku harus ibarat angin, dimana ada saat tenang dan ada saat ribut. Ternyata saat suasana kelas tenang, kosentrasi siswa bagus- lagi fokus- maka  aku dengan mudah bisa memberikan konsep tentang materi bahasa Inggris dan habis itu memberi latihan dan praktek.
            Namun bila  kosentrasi belajar siswa lagi hancur…. ya aku juga menikmati suasana yang hiruk pikuk, dengan catatan aku harus mengingatkan agar mereka tidak sampai mengganggu kelas di sebelah. Dan utuk kelas ini aku selalu ingat dengan seorang siswa yang bernama “Asmadi”.
            Siswa yang satu ini cukup  lucu dan humoris. Asmadi anaknya heboh, selalu bikin eksperimen. Suatu hari ia sengaja menyembunyikan semir sepatu dalam tasnya. Mungkin ia selalu memperhatikan penampilanku- aku selalu memakai sepatu selalu kotor kesekolah, karena aku jarang  menyemir sepatu. Nah tiba-tiba Asmadi tampil ke depan dan ia segera menyemir sepatuku, haaa haaa..!!!.  
            Jadinya aku merasa sangat  senang sepatuku disemir hingga jadi bersih dan mengkilap. Aku malah menjulurkan kakiku- sepatuku, agar  Asmadi bisa menyemir sepatuku. Kelas menjadi heboh namun bersemangat. Setelah  mereka letih tertawa maka konsentrasi mereka muncul lagi dan aku melanjutkan mengajar Bahasa Inggris hingga bell pulang berdentang.
            Jumlah siswa atau populasi siswa saat itu cukup banyak. Lebih dari 40 siswa per kelas. Kalau dalam kelas terdapat lebih banyak siswa laki-laki maka kebisingan kelas lebih keras dan kalau aku ngomong maka volume suaraku jadi hilang ditelan oleh suara mereka.
Jadinya suaraku harus bisa melebihi kebisingan suaramereka. Aku sering merasa capek karena ngomong keras-keras dalam kelas dan untuk itu sekali- sekali aku pergi ke kantor buat minum untuk melepas dahaga, kalau bisa minum segelas susu tentu lebih baik lagi, karena energiku bisa pulih lagi.
            Aku menyadari bahwa mengajar kelas yang besar populasinya dan siswanya rendah motivasi belajarnya…yaa…  memang kurang enak, namun inilah perjuanganku sebagai guru. Kalau aku bisa membantu siswa yang lemah motivasi menjadi lebih berhasil maka itu berarti aku lebih berhasil sebagai guru.
            Meskipun aku lelah selama mengajar namun aku mesti terlalu tersenyum dan aku selalu berusaha tampil bersemangat. Sebab kalau aku tidak tersenyum dan tidak ceria maka semua siswa terlihat juga tidak bersemangat. Juga aku menghindari untuk tidak banyak duduk, aku harus banyak berjalan dan untung usiaku masih muda, dengan demikian siswa merasa aku layani dalam belajar.
            Sekali-sekali siswaku mengajakku untuk ikut pesta makan-makan. Lokasinya pesta kami cukup sederhana, ya seperti dipinggir sungai di Desa Purnama di Lintau. Kadang kadang kami pergi ke Puncak Pato atau pergi ke Ngalau Pangiang. Di sana kami menelusuri galeri ngalau yang penuh dengan burung layang-layang yang bertebangan. Acara jalan jalan atau menjelajah bareng siswa cukup bagus buat mendekatkan hubunganku dengan siswa. Kalau mereka dekat denganku maka mereka secara tak langsung akan menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris.


[1] Salah seorang teman ku dari grup Spelelologie Perancis

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture