Jumat, 09 Januari 2015

Menjadi Guru- Menyenangi Profesi

Menjadi Guru- Menyenangi Profesi
            Setiap orang yang punya profesi harus mencintai profesinya. Untuk hal ini nggak usah melihat terlalu tinggi ke atas, lihat saja pada petani. Seorang petani sangat menyukai dan mencintai sawah dan ladangnya, sehingga mereka memiliki alat, cangkul atau traktor, buat berusaha. Bila berjumpa sesama petani mereka mungkin ngobrol tentang irigasi, tentang pupuk dan juga tentang wabah penyakit.
            Aku memilih profesi sebagai guru dan aku harusmencintai profesi sebagai guru. Namun bagaimana seorang guru berjumpa dengan guru lain. Sebagai plesetan, bila mereka berjumpa sesama guru apakah mungkin mereka berbagi gossip atau mereka banyak mengeluh tentang gaji yang kecil dan juga tentang anak didik yang susah diatur ?
            Seharusnya setiap guru menyukai dunia pendidikan. Dan untuk itu mereka tidak harus sekedar mengejar tagihan untuk mencapai target agar anak didik buru-buru memahami buku teks, sementara anak diri belum siap kondisi dirinya. Para guru  harus memahami dunia anak didik mereka: dunia anak- anak dunia remaja. Mereka juga harus tahu lebih dalam  tentang teori mendidik (paedagogi)  dan teori memberi motivasi (psikologi). Kalau ada anak yang nakal maka itu wajar, dimana-mana di dunia semua anak itu sama saja nakalnya.
            Aku bukan tipe orang perfect atau orang yang sempurna, karena aku adalah orang biasa-biasa saja. Namun prinsipku dalam mengajar adalah “terimalah karakter semua anak itu apa adanya” dengan demikian aku harus mengenal mereka dan kita tidak perlu banyak mengeluh bila menjumpai mereka malas atau nakal selama melaksanakan proses belajar dan mengajar.
            Saat itu aku masih kuliah di tahun terakhir pada UNP. Aku punya rencana untuk bisa segera diwisuda  dan pada saat yang sama ternyata ada peluang rekruitmen untuk  menjadi guru (PNS) dan aku berminat. Karena belum punya ijazah  maka aku meminta surat keterangan bahwa aku bakal lulus dalam waktu yang singkat. Surat keterangan tersebut memberi aku kekuatan sebagai persyaratan untuk mengikuti seleksi rekruitmen menjadi guru yang diselenggarakan oleh pemerintah Sumatera Barat.
            Untuk menyukai profesi guru maka aku rajin membaca artikel tentang tokoh pendidikan. Ada banyak tokoh pendidikan di dunia ini. Aku sempat membaca kisah hidup Ki Hajar Dewantara, Muhammad Syafei’, Dorothy Law, Paulo Freire, dan lain-lain.
            Ki Hajar Dewantara[1]  berasal dan keluarga keturunan Keraton Yogyakarta. Dia mengganti namanya tanpa gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Dia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia. Ki Hajar Dewantara juga aktif di bidang politik dengan bergabung ke dalam Budi Utomo, lalu mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia.
Ki Hajar Dewantara memusatkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa. Ia menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah:
“Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan”. Selain ajarannya di bidang pendidikan, Ki Hadjar juga meninggalkan pesan yang sangat balk diteladani. Pesan tersebut kini dapat dilihat pada Museum Sumpah Pemuda di JI. Kramat Raya, Jakarta:
“Aku hanya orang biasa yang, bekerja untuk bangsa lndonesia dengan cara Indonesia. Namun, yang penting untuk kalian yakini, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati tanah air dan bangsaku, lahir maupun batin aku tak pernah mengkorup kekayaan Negara”.
            Muhammad Syafe’i[2] adalah tokoh pendidikan dari Sumatera Barat. Moh. Syafei menuntut ilmu di Negeri Belanda dengan biaya sendiri. Di sini ia bergabung dengan "Perhimpunan Indonesia", sebagai ketua seksi pendidikan.
Di negeri Belanda ini ia akrab dengan Moh. Hatta, yang memiliki banyak kesamaan dan karakteristik dan gagagasan dengannya, terutama tentang pendidikan bagi pengembangan nasionalisme di Indonesia. Dia berpendapat bahwa agar gerakan nasionalis dapat berhasil dalam menentang penjajahan Belanda, maka pendidikan rakyat haruslah diperluas dan diperdalam.
Semasa di negeri Belanda ia pernah ditawari untuk mengajar dan menduduki jabatan di sekolah pemerintah. Tapi Syafei menolak dan kembali ke Sumatara Barat pada tahun 1925. Ia bertekad mendirikan sebuah sekolah yang dapat mengembangkan bakat murid-muridnya dan disesuaikan dengan kebutuhan rakyat Indonesia, baik yang hidup di kota maupun di pedalaman.
Mohamad Syafei mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Indonesische Nederland School (INS) pada tanggal 31 oktober 1926. Itu sebagai reaksi terhadap sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Semboyan M. Syafei adalah "cari sendiri dan kerja sendiri”. Tujuan lain INS yaitu menanamkan kepercayaan pada diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
Prinsip pertama yang dipegang teguh oleh M. Syafei dalam pendidikannya adalah "belajar, bekerja, dan berbuat". Apabila murid hanya mendengarkan saja ilmu pengetahuan yang diajarkan guru melalui kata-kata yang kadang-kadang tidak dimengerti,  tidak  akan  berguna bagi  murid  karena mereka tidak tahu dan tidak akan pandai mempergunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya.
Pendidikan yang melahirkan bangsa yang suka meniru tanpa berpikir dan bangsa itu tidak akan dapat menjadi bangsa yang besar. Menurut M. Syafei pada setiap manusia terdapat tiga hal pokok yang dapat dikembangkan untuk mendidik manusia itu ke arah yang dikehendaki, yaitu: melihat (45%), mendengar (25%) dan bergerak (35%). Dengan bekerja dan berbuat dalam pendidikan sekaligus dapat mengembangkan seluruh pancainderanya dengan aktif. Sekolah yang baik harus aktif dan dinamis, dengan demikian anak belajar melalui pengalamannya dalam hubungan dengan orang lain.
Aku mengagumi Dorothy Law Nolte[3]. Ia adalah seorang pendidikan yang kutipannya sangat popular dalam bentuk puisi. Aku mengagumi puisi yang ia gubah, yakni sebagai berikut:
-Jika anak hidup dengan celaan, ia belajar memaki
- Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar melawan
-Jika anak hidup dengan ketakutan, ia belajar gelisah
-Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
- Jika anak hidup dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
- Jika anak hidup dengan iri hati, ia belajar kedengkian
- Jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah.
- Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
- Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
- Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
- Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
- Jika anak hidup dengan dukungan, ia belajar menyukai diri mereka sendiri.
- Jika anak hidup dengan pengakuan, ia belajar memiliki tujuan
-Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
- Jika anak hidup dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
- Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan pertimbangan, ia belajar menghargai
- Jika anak hidup dengan keamanan, ia belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka
- Jika anak hidup dengan keramahan, ia belajar bahwa dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.
Dan seperti apakah dulu kita dibesarkan? Dan bagaimanakah cara yang kita  inginkan untuk membesarkan anak kita ? Untuk para pendidik, bagaimanakah dulu kita  didik di sekolah kita? Dan bagaimanakah kita ingin mendidik anak didik kita di sekolah dan juga di rumah ? Lebih lanjut aku juga tertarik dengan pemikiran Paulo Freire.
Paulo Freire[4] (lahir di Recife, Brasil, 19 September 1921 – meninggal di São Paulo, Brasil, 2 Mei 1997 pada umur 75 tahun) adalah seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brasil. Namun ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas.
Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis. Pada 1944 ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka.
Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikand an Kebudayaan dari Dinas Sosial di negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan.
Pada 1967, Freire menerbitkan bukunya yang pertama, Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan. Buku ini disambut dengan baik, dan Freire ditawari jabatan sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun sebelumnya, ia menulis bukunya yang paling terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di São Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsip Freire.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture