Jumat, 09 Januari 2015

Menyandarkan Jiwa Pada Allah



Menyandarkan Jiwa Pada Allah
            Aku  kehabisan akal karena dalam usia separoh baya ini tiba-tiba fikiranku menjadi liar dan aku ingin mencari identitas diri yang baru. Sekarang apa sih yang mau aku cari?.
Tentu saja aku ingin mencari kebahagiaan. Kenapa kebahagiaan yang sempat aku rasakan dan aku miliki pada saat  sebelumnya, kini tidak berpihak lagi padaku. Dengan siapa sih aku bisa berbagi cerita dan berbagi perasaan. Tidak ada rasanya, karena aku  sudah terlanjur merasa harus mandiri, mandiri dalam belajar (otodidak) dan juga mandiri dalam mengatasi masalah. Seharusnya aku tidak boleh demikian.
            Aku tidak menutup diri. Bila ada orang bertanya padaku tentang mengapa aku sekarang berubah, ya aku jelaskan. Meskipun penjelasanku tidak sempurna dan aku masih menutupi kekurangan kekuranganku. Kapan dan kepada siapa aku bisa mengeluh dan mengadukan apa yang aku rasa dan apa yang terasa ? Aku meluangkan waktu buat merenung, merenung tentang diriku:
“Siapa sih aku dan bagaimana aku sebenarnya dan buat siapa aku ini hidup (?)”. Aku jadi rajin mencari penyembuhan konflik diriku dan membaca tulisan tentang pencerahan. Aku juga membaca tulisan yang aku temukan di internet yaitu tentang bagaimana meringankan masalah yang ada pada kita[1], kita juga harus tahu tentang bagaimana eksistensi kita dan untuk itu kita harus kembali bertawakal pada Allah.
Tiada daya upaya kami hambaMu yang lemah melainkan dengan izinMu ya Allah. Dugaan dan ujian takkan pernah jauh dari kita, sebagai tanda peringatan dan kasih sayang Allah buat hambaNya. Kita dibobok dan dimomokkan dengan teori, spekulasi dan berita yang kita tidak tahu, apakah  benar atau tidak, betul atau palsu yang kadang-kadang  akan membuat hati ini berdegup kencang. Bila kita lagi dilanda masalah atau musibah maka mohon pertolonganlah selalu pada Pencipta kita, Allah Azza wa jalla. Telah dijelaskan dalam Al Quran:
“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut, kelaparan, kekurangan dari harta benda, jiwa serta hasil tanaman. dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali”. Mereka itu ialah orang-orang yang dilimpahi dengan berbagai-bagai kebaikan dari Tuhan mereka serta rahmatNya; dan mereka itulah orang-orang yang dapat hidayah- (Surah al-Baqarah 155-157). La Hawla Wala Quwata Illah Billah, kembalilah bertawakkal kepada Allah dan  Benarlah ayat ini:
 Dunia itu penjara bagi orang mukmin”.  Aku merasakan terlalu banyak tipu daya dunia,fitnah, dan perkara yang menjauhkan kita dari Pencipta kita (yaitu  Allah Swt) dan sesungguhnya aku  telah menzalimi diriku  sendiri ya Allah. Ya Allah maafkanlah hamba  atas setiap salah tutur perbuatan saya. Ya Allah...hamba ini  hanyalah insan yang kerdil yang jauh dari kesempurnaan.
Aku harus mengubah diri, mau baik atau mau tidak tentu tergantung pada keputusan dan pilihan hidupku. Demi Islam, demi tanggungjawabku sebagai hambaNya. Aku tahu bahwa pintu taubat Allah terbuka luas, tanda sayang dan kasihnya Allah pada ku dan pada semua umat manusia. Biarlah hidup ini mengalir dan moga-moga semuanya karana Allah Taa’la. Moga-moga aku  akan selalu menadikan Al-Quran dan sunnah sebagai pegangan hidupku.
Dan bertawakallah hanya pada Dia....barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya- (Surah al-Talaq, 3). Semoga aku  (dan kita semua)  dilindungi, dipelihara imanku  dan diberi kebaikan dunia dan akhirat. Aku  hanya bergantung hanya pada Allah Ta’ala. Dan tentu Allah tidak akan memberi  hamba (kita) ujian/ cobaan di luar batas kemampuan kita. Aku makin rajin bertawassul (berkata/ berdialog dengan hati):
“Rabbi engkaulah penciptaku, engkaulah pemilik hatiku, engkaulah pemberi cahaya pada hatikiu. Ya Rabbi, jangan biarkan hati dam fikiranku hancur, jangan biarkan hatiku tergores dan terluka oleh ketidak tahuanku dan juga oleh egoku”.
            Aku membuat keputusan untuk membuka hatiku di malam hari. Aku harus tidur lebih awal agar aku bisa terbangun sekitar jam 02.00 atau jam 03.00 dini hari. Itulah waktu yang terbaik buatku. Memang sih terasa sulit buat bangun- melawan rasa malas- dan juga melawan kantuk. Namun alhamdulillah  aku bisa terbangun pada waktu seperti itu dan aku segera menunaikan shalat tahajjud. Alhamdulillah rasa tenang akan terasa lebih dahsyat. Aku selalu melantunkan doa dan keluhanku. Aku tidakm mau mengeluh kecuali hanya pada Allah:
            “Ya Allah, aku lelah..lelah karena memilki hati yang liar, hingga hatiku luka luka. Ya Allah aku tidak tahu mau dibawa kemana hatiku  ini, luka nya makin menjadi-jadi, ya..karena aku sering membenturkan hatiku sendiri. Ya Allah..balutlah hatiku  dan sentuhlah hatiku hingga ia kembali sembuh dan tenang seperti masa-masa sebelumnya”. Aku merasa ringan nuntuk bangun di keheningan malam dan aku menyinsingkan lengan baju, celana buat berwudlu:
“Dan aku membasahi dan membasuh tangan, wajah, kepala, kaki, pokoknya anggota wudlu  agar najis- najis dari tubuh, dosa-dosa dari tubuhku rontok, kesalahan- kesalahanku hanyut...hanyut terus ke lautan. Setelah itu aku bersujud pada Illahi. Aku tempatkan kepalaku yang hina ini datar di atas bumi. Karena harga kepalaku di hadapan Tuhan sama dengan harga kaki dan tanganku. Tetapi mengapa kepalaku yang tinggi sering gagal memimpin hatiku hingga hati ini resah dan gelisah. Kepalaku juga sering gagal memimpin tangan dan kaki untuk berbuat- seharusnya kepalaku (fikiranku) harus mampu memimpin tanganku untuk berbuat dan kaki buat melangkah.   Memang ada rasa tenang aku peroleh dan aku rasakan setelah melakukan shalat malam (shalat tahajjud). Namun perubahan yang aku rasa belum seberapa:
Ah tentu saja, shalat tahajjud satu kali atau dua kali belum mampu memberi warna dan mempengaruhi hati dan fikiranku. Bagaimana shalat tahajjud ini dijadikan sebagai kebutuhan dan kebiasaan. Ya karena aku butuh ketenangan jiwa dan aku butuh Allah dekat dengan urat nadiku. Aku membutuh Tuhanku dan Tuhan tidak membutuhkan aku. Ya Allah hamba butuh Engkau…sentuhlah jiwaku sentuhlah kalbuku. Jangan biarkan jiwaku hancur dan sepi..!!!”    Aku merasakan bahwa Tahajjud memberi perubahan pada hatiku namun belum banyak memberi aku rasa damai. Aku baca ayat suci dalam al-Quran:
“Minta tolonglah kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Namun rasa tenang dan damai belum 100 % aku rasakan. Tentu saja kualitas shalat ku belum prima dan kesabaranku belum maksimal. Fashabron jamil- sabar itu indah dan sabar itu tidak bertepi. Jadinya aku junga ingat dengan senandung (lagu) yang berjudul: Obat Hati atau Tambo Hati. Biasanya bila bila bulan Puasa datang maka senandung ini sering aku dengar dari radio dan juga dari siaran televisi, liriknya membuat kalbuku tenang.
Obat hati itu ada lima perkaranya, yang pertama- baca al quran dan maknanya, yang kedua- shalat malam dirikanlah, yang ke tiga- berkumpulah dengan orang shaleh , yang ke empat - perbanyaklah berpuasa, dan yang ke lima- zikir malam perpanjanglah. Salah satunya siapa bisa menjalankannya, moga moga Allah Ta’ala mencukupi”. Ya Allah senandung ini begitu dahsyat buatku.    
            Mudah mudahan lagu (senandung) Tambo Hati bisa memberiku inspirasi buat merajut hati yang masih mudah gelisah agar menjadi hati yang lebih tenang. Maka selesai menunaikan shalat tahajjud, aku tidur- tiduran hingga datang waktu subuh. Menjelang sholat subuh, aku meluncur menuju ke mesjid dan aku jumpai beberapa orang shalat terlihat khusuk dan wajah mereka terlihat tenang. Aku merasa seperti terlahir kembali, bukannya aku tidak kenal dengan mesjid. Aku biasanya hanya sholat di mesjid  hanya kalau lagi shalat jum’at saja. Sementara buat shalat subuh aku melakukan di mushola yang terletak di depan rumah. Di sana proses ibadahku tidak begitu banyak.. Aku datang buat shalat subuh, setelah itu ngobrol biasa-biasa saja dan pulang ke rumah.
            Ya.... aku sangat merindukan bisa hadir di mesjid yang damai. Aku berdiri dan melakukan shalat bareng-bareng dengan jamaah yang lain. Memang ada kedamaian, rumah Allah memang terasa damai. Aku duduk yang lama, memejamkan mata, dan melantunkan zikir sebanyaknya dan aku bermohon pada Allah agar merontokkan fikiran-fikiran yang nggak berguna yang selalu bertengger dalam kepala ku.
            Suasana damai aku peroleh dengan cara ikut hadir (berkumpul) bersama orang-orang shaleh. Yaitu orang yang selalu meyediakan hatinya buat Allah, bukan orang yang membiarkan hatinya mengembara dan dipandu oleh fikiran-fikiran yang liar. Saat seperti itu, aku jadi teringat suasana saat aku kuliah (masih jadi mahasiswa), dimana aku sering mengikuti  kegiatan halaqah. Kami meluangkan waktu dan membentuk grup kecil (halaqah) dan kami membahas seputar kajian agama. Tujuannya bukan buat menggurui tetapi buat memantapkan pemahaman agama.
            Aku juga merindukan suasana hadir bersama orang-orang shaleh seperti dulu. Saat aku masih jadi mahasiswa dimana aku pernah pergi ke Mesjid Muhammadan di Padang. Di sana sering ada kegitan Tabligh- menyampaikan kajian ayat ayat Allah. Kami duduk rapat ke depan, dan semua mendengar dengan khidmad, kemudian saat  makan malam atau sarapan, maka kami sarapan dari satu dulang bundar (semacam piring besar) dan kami makan bareng-bareng. Ada rasa kebersamaan dengan teman-teman yang shaleh Ya aku juga merindukan suasana seperti itu, sangat bermanfaat buat menjaga hatiku agar tidak menjadi yang liar terus.
            Wah aku menyesal, pada beberapa waktu yang lalu- aku merasa beruntung kalau bisa berteman dengan teman atau orang-orang yang punya wajah  cakep- ganteng dan cantik. Apalagi kalau mereka berusia muda  dengan wajah yang cantik dan cakep. Dan mereka memuja dan memujaku. Ahhh itu bisa membuat aku terbuai ibarat seorang selebriti. Ya aku menjadi ibarat selebriti, aku butuh sanjungan. Padahal aku sudah tahu bahwa:
Sanjungan dan pujian hanya buat Allah semata-mata”. Alhamdulillah kini aku sadar bahwa aku tidak harus memuja dan menyukai orang orang yang berwajah cakep (cantik dan ganteng). Wajah dan penampilan itu hanya bersifat sangat relatif.
Allah sebagai Pemilik jagat raya ini, tidak melihat bentuk bagusnya tubuh seseorang juga tidak melihat bagaimana bagusnya wajah seseorang, namun Allah melihat kualitas hati seseorang.
            “Aku jadi malu....dan aku juga harus lebih menghargai kualitas hati seseorang. Aku harus lebih dekat dengan orang orang yang hatinya dekat pada mesjid- pada Allah, moga moga hatinya juga mempengaruhi hatiku. Aku akan lebih kagum pada senyuman  seseorang yang selalu ceriameski ia memiliki keterbatasan fisik- nggak mampu melihat dan nggak mampu berjalan. Mengapa senyumnya lebih cerah dan tulus, dibanding senyumku dengan fisik yang lengkap.    

Jangan Mengeluh
            Aku sudah banyak berbuat namun mengapa kualitas ketenangan jiwaku sering turun naik. Ahh aku tidakm mau mengeluh dan juga menyalahkan diri. Namun mengapa galau hatiku begitu lama bertengger dalam jasmaniku.
‘”Apalagi ya...usaha usaha lain yang harus aku perbuat. Yang jelas aku sangat beruntung terlahir sebagai seorang Islam- agama yang amat aku yakini. Aku bisa bisa mencari ketenangan jiwa, misal dengan membaca kitab suci. Sebab dengan membaca kitab suci (Al quran) dan juga membaca maknanya bisa menjadi “As sifya- atau sebagai penyembuh buat hati yang sakit dan juga sebagai petunjuk hidup.
Mendirikan shalat dan bersabar insyaAllah bisa membuatku menjadi lebih tenang. Mengingat Allah atau berzikir juga bisa membuat aku jadi tenang. Maka tinggal lagi bagaimana agar kualitas sabar, shalat, usaha dan zikirku selalu meningkat.
            Sewaktu berada di Jakarta, aku sempat berjumpa dengan seorang sahabat, orangnya shaleh dan ia bukan warga indonesia, ia berasal dari timur tengah, ia menikah dengan keluarga kami dan memiliki anak banyak. Aku yakin bahwa problem kehidupannya tentu jauh lebih berat dibanding dengan problemku. Namun mengapa ia bisa terlihat gembira dan tersenyum. Ya karena hatinya selalu ceria, makanya aku minta rahasia hidupnya tentang mengapa dan apa yang ia baca sebagai zikir. Semua zikir insyaAllah membuat kita menjadi tenang dan juga zikir atau doa seperti berikut:
            “Lailla haillalah, “alimul “azim- Lailla haillalah,  Rabbi ‘arsyil ‘azim- Lailla haillalah, Rabbi samawati wa rabbil ardi- wa Rabbil “arsyil karim. Ini adalah doa untuk segala macam kegelisahan  hati. Dan doa ini bisa dibaca kapan saja, bisa sebagai zikir”. Alhamdulillah aku rajin berzikir, dan rasa gelisah bisa membaik sedikit-demi sedikit.
Ya  Allah tolonglah hamba yang berhati lemah ini...!!!”.  
            Aku juga rajin mencari cari kata-kata penguat jiwa. Aku jadi tahu bahwa kebahagian itu tidak ditentukan oleh jumlah harta yang kita miliki dan apa yang kita kendarai, tetapi dibentuk oleh fikiran kita sendiri. Kalau begitu aku harus berubah total- aku harus berserah diri pada Allah secara total. Sahabat-sahabat ku di dunia maya (di internet, di facebook) memaafkan kesalahanku. Jadinya guilty karena aku salah ucap dan salah bersikap  sudah hilang dan beban hatiku juga terasa berkurang dan insyaallah juga hilang.
Ah aku hidup di alam nyata, bukan di dunia maya. Maka porsi fikiran dan interaksiku dengan manusia (teman, keluarga, dan tetangga) di alam nyata musti lebih banyak. Aku harus berubah, my lifestyle must be changed. Mindset-ku juga harus berobah”.  Bentuk dan kualitas fikiranku sangat menentukan ketenangan hatiku.
Kini aku memutuskan untuk mengurangi untuk menyentuh tekhnologi yang bisa membuatku jadi lengah dan lalai. Gila yang berlebihan dengan jejaring sosial menjadikan aku lalai terhadap Tuhan (ibadahku terabaikan) dan begitu pula dengan anak dan keluargaku juga terabaikan.
Aku nggak perlu tidur sampai jam 12.00 malam lagi hanya gara-gara ingin mengotak atik tekhnologi (android dan laptopku) dan terbius dengan BBM, SMS, Twitteran dan juga FB. Aku sadar bahwa jejaring sosial hanyalah sarana buat berkomunikasi- untuk mempermudah berkomunikasi- bukan untuk menghancurkan komunikasi, apalagi buat menghacurkan kualitas hidup.
“Ya jangan salah gunakan  sarana tekhnologi: HP, gadget, laptop,... dan juga jangan menyalahgunakan jejaring sosial....apalagi sampai mabuk/ lupa diri dengan jejaring sosial. Mudah- mudahan aku akan menyentuh tekhnologi hanya seperlunya saja.
Selanjutnya aku mulai rajin dan juga membiasakan diri untuk kembali membelai dan memeluk kedua anakku. Mereka berasal dari bahagiann diriku dan darahku mengalir dalam diri mereka...mereka  butuh aku, mereka tidak butuh khotbah dariku. Mereka butuh aku bisa menemani merekai.
Aku harus sering sering duduk bareng di samping anak-ana dan njuga keluargaku dan sekali sekali aku mencolek kulitnya yang masih halus, ya kulit mereka yang sudah menjadi seorang remaja, kulinya cerah dan bercahaya. Aku harus rajin bertanya tentang bagaimana kabar sekolahnya, kabar teman-temannya dan juga bagaimana kisahnya di hari itu. Aku membuka telinga buat mendengar protest, canda dan tawanya dengan sepenuh hati.
            Begitu juga terhadap istriku, aku juga harus rajin menemaninya di dapur, kami bakal mencuci piring lagi bareng- bareng, dan juga kami akan melibatkan anak dengan naktivitas di rumah. Aku juga akan menemani istri bikin makanan enak. Ha..haaa aku akan lebih rajin duduk disampingnya meski hanya sebatas mendengar obrolannya atau menonton TV dan juga aku belajar lagi menjadi imam bagi mereka dalam shalat.
            Life needs changing.., yaa aku harus berubah, waktuku musti banyak buat Tuhanku. Aku telah membiasakan melakukan tahajud dan kadang-kadang juga sholat dhuha. Aku rajin membaca Al quran dan juga membaca makna- moga moga aku mengungkapkan hal ini bukan untuk menjadi manusia yang riya- ingin pujian manusia.
Tuhanku sentuhlah selalu kalbuku..Tuhanku ingatkan aku bila hatiku lalai dan terlupa...Tuhanku bimbinglah aku selalu..!!!”.
            Aku menghindari hal-hal yang mengganggu fikiranku.  Aku memutuskan untuk mengubah gaya hidupku, aku harus hidup lebih alami. Haa..haa aku jadi dengan teman-temanku ya...aku kagum dengan teman Perancis (Anne Bedos, Louis Deharveng dan Francoise Brouquisse) mereka semua orang moderen namun mereka bisa menerima diri. Mereka bisa hidup secara natural.
“Ya sekali lagi bahwa mereka tidak malu dengan usia tua dan kulit yang keriput, serta rambut yang memutih. Mereka membiarkan uban tumbuh karena itu sudah zamannya punya uban”. Aku juga harus berbuat demikian dan tentu saja aku harus selalu tampil dengan rapi. Aku harus bersikap positif dengan penambahan usiaku, usiaku lima puluh dan bukan dua puluh tahun. Aku  bukan seorang remaja lagi...aku harus malu dengan kealpaan fikiranku. Aku adalah orang tua, seorang ayah dengan dua anak remaja. Aku tidak boleh bersikap cengeng dalam usia menjelang tua ini. Aku harus berprinsip:
“Lebih baik memulai dan bukan menunggu. Aku harus lebih duluan memberi salam dan bukan menunggu salam. Akuu harus memberi cinta dan perhatian bukan mengemis cinta dan perhatian. Bila salam dan sapaanku yang positif tidak direspon, maka aku tidak perlu berkecil hati. Aku harus memahami dan menerima karakter seseorang apa  adanya:
“Tangan di atas lebih mulya dari pada tangan di bawah. Insyaallah ketenangan jiwaku terasa sudah lebih dari 50 %, atau mungkin nsudah lebih dari 75 %. Namun kadang-kadang rasa sedu-sedan yang tak menentu timbul lagi- aku terengah-engah dalam kesedihan. Aku tak perlu banyak berharap pada manusia. Sekali bahwa suatu hari salah seorang temanku meninggal dunia dan aku tertegun bahwa itulah sandiwara hidup dann itulah akhir dari kehidupan maka:
“Apa sih makna dari  hidup ini ? Apa yang perlu buat dicari ? Dan ujung-ujung dari kehidupan ini adalah menunggu kematian. Buat apa aku harus banyak mengeluh dan berharap, lebih baik aku banyak berserah diri pada Allah Rabbi. Aku sering melantunkan kalimat kalimat atau kata-kata yang bisa memotivasku buat berubah.
“Tuhanku usiaku sudah semakin tua juga, rambutku  sudah mulai memutih dan mataku sudah mulai kabur. Tuhankui jauhkanlah aku dari ma’siat dan fitnah dan Tuhanku matikanlah aku dalam keadaan tenang, amiin”.
Saat mengakhiri tulisan ini, Alhamdulillah jiwaku sudah semakin tenang. Ketenangan memang dengan beserah diri pada Allah, dengan mendekatkan diri padanya. Akan aku dekatkan diriku selalu melalui” shalat tahajjud, membaca al Quran, zikir yang banyak, menolong orang susah dengan hartaku dan juga aku melaksanakan puasa sunnah yang banyak. Hidup ini memang berisi dengan ujian atau cobaan. Berat atau ringan masalah atau problem seseorang adalah relatif. Problem kita yang sering terjadi adalah karena salah komunikasi dengan manusia, mungkin dengan orang lain, tetangga, teman, keluarga dan juga teman- teman yang dikenal lewat dunia maya. Bila problem terjadi maka atasilah problem tersebut. Problem kehidupan  membuat hati dan fikiran jadi tertekan. Atasilah problem yang lagi melanda kita dan aku berprinsip dalam hidup: Get Changing 1800:  Bila Tertinggal, Terluka atau  Galau, Berubahlah…Berubahlah ..!!!”.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture