Jumat, 09 Januari 2015

Perkawinan-Choose Your Love, Love Your Choice



Perkawinan-Choose Your Love, Love Your Choice
            Aku sempat membaca sebuah artikel yang berjudul “choose your love and love your choice- pilihlah cintamu dan cintai pilihanmu yang ditulis oleh La Rose belasan tahun yang lalu. Tulisan ini sangat memberiku inspirasi dalam mencari cinta.
Memilih kekasih buat calon istri ternyata gampang-gampang susah. Kalau dikejar  ya…susah dapatnya,kalau nggak dikejar juga nggak bakal datang. Yang jelas bahwa akhirnya aku bisa mencintai wanita. Padahal sebelumnya aku sempat merasa sulit untuk jatuh cinta pada wanita. Aku merasa kurang tertarik dengan wanita… akibat trauma melihat pertengkaran ayah dan ibuku yang berkepanjangan.
“Dalam memoriku sempat terekam bahwa menikah dan perkawinan itu tidak menarik. Karena menikah itu identik bertengkar dan berselisih paham yang berkepanjangan”. Kemudian aku berjuang untuk mengubah minset- cara berfikirku.
            Pada mulanya saat aku berada di Palorimbo- Payakumbuh, ada seorang teman sebut saja namanya Mirna (nama samaran) datang dengan ibunya. Mirna adalah teman satu kuliah dengan ku di jurusan Bahasa Inggris UNP. Ia berasal dari Payakumbuh, ketika masih kuliah di Padang aku memang hampir  setiap sore mengunjungi rumah kosnya. Tapi aku belum pernah mengatakan “I Love You” padanya. Jadi aku belum punya ikatan janji apa-apa dengannya.
            Aku tahu ia adalah adalah anak tunggal dan anak satu-satunya. Saat itu aku mulai rajin membaca artikel dan mencari tahu tentang karakter wanita. Kalau dia adalah satu satunya anak wanita dalam keluarganya. Dengan demikian andai aku menikah denganya  maka kami diharapkan untuk segera punya banyak anak- berusaha untuk bisa membuat dia berkembang biak. Andai aku nggak bisa memberinya anak, tentu aku bakal merasa stress. Lagi pula anak tunggal memiliki karakter keras, maka itulah alasan ku nggak mengatakan I Love You padanya. Jadinya aku menolak.
“Tapi itu hanya penilaian dan kecemasanku sepihak saja, dan dalam kenyataan tidak seperti itu karakter semua anak tunggal”.
            “Mirna memang sahabat saya bu, dan saya sering berkunjung ke rumah Mirna, namun buat menikah silahkan Mirna duluan, soalnya abang saya masih kuliah dan saya belum mau nikah lebih dahulu dari abang saya” Seperti itulah aku menolak dengan halus. Dan Alhamdulillah Mirna nggak merasa sedih, ia hanya butuh konfirmasi dariku-menanyakan kepastianku “ya atau tidak”.
            Ternya ada pria dari Jawa Barat yang telah hadir dalam diri Mirna, ia tengah datang ke pada Mirna- buat melamarnya. Ternyata benar…. aku dengar setelah itu Mirna segera menikah.
Tidak masalah kalau aku tidak diundang. Dan aku juga nggak merasa sedih karena kami baru sebatas teman biasa dan belum ada rasa rindu atau kangen-kangenan yang  tumbuh dalam hati. Saat aku ingin jatuh cinta aku rajin membaca artikel tentang wanita. Dan aku berprinsip mencari calon istri seperti ajaran Islam:
“Nikahilah wanita karena kecantikannya, keturunannya dan karena hartanya, maka utamakan karena hartanya”. Yang jelas aku mencari wanita yang nggak arogan.  Aku mencari wanita yang kecerdasannya bisa menyamaiku dan ngak boleh lebih cerdas dari ku, nggak  juga lebih kaya dariku. Yang penting uangku berharga di matanya.
            Ternyata juga ada gadis gadis tetangga yang dulu adalah teman masa kanak kanakku. Aku tahu ia  juga tertarik dengan ku. Namun aku nggak tertarik dengan mereka, ya mereka sudah aku anggap seperti saudara sendiri.
            Aku rajin berkunjung ke rumah para gadis ya hanya sekedar untuk bertamu atau bercanda dengan mereka. Saat bertamu dengan mereka, orang tua mereka ada yang iseng berkata agar aku bisa menikahi anak gadis mereka. Ahhh…hanya sekedar bercanda dan tentu kami hanya sebatasberteman biasa saja.

Kena Guna Guna
            Ada seorang perempuan separoh baya dan ia adalah seorang guru  SD di Lubuk Alung. Ia mengaku sebagai teman masa kecil ibuku. Suatu hari ia berkunjung dan bersilaturahmi dengan ibu, dan ia juga punya tujuan mau mencari calon suami buat anak perempuannya. Ia ingin mengambilku menjadi menantunya. Aku merasa senang bahwa aku mulai laku. Tetapi bukan aku suka begitu saja dengan anaknya.
            Suatu hari ia datang lagi dan ia menganjurkan agar aku menikah dengan anaknya. Namun saat aku ingin melihat foto anaknya, ia nggak membawa foto anaknya. Malah aku ditawarkan untuk datang ke Lubuk Alung buat melihat dan berkenalan dengan anaknya. Aku nggak punya mood buat berkenalan dengan anak gadisnya.
            Pada hari lain ibu Yar datang lagi dengan maksud untuk meminangku. Ia mendekati ayah dan ibuku dan juga membujuk ibu agar mempengaruhiku. Kalau aku sudi menikah dengan anaknya maka aku akan memperoleh uang jemputan sebanyak puluhan juta rupiah dan ibu juga akan diberi uang dapur. Mendengar tawaran demikian tentu ibu senang namun aku tidak. Aku membungkam- tidak memberikan komentar.
            Ibu Yar datang lagi dan ia bertanya pada ibu. Pada mulanya ibu sempat membujukku agar menikah dengan anaknya dengan catatan bahwa aku akan memperoleh uang jemputan. Namun aku menolak. Dan ibu mengatakan padanya bahwa aku belum mau menikah.
Namun ia berkata kalau aku belum mau menikah cepat juga nggak apa-apa. Bukankah aku dan anaknya bisa bertunangan dulu. Sebenarnya bukan masalah bertunangan, aku sendiri nggak kenal siapa anaknya dan aku nggak punya api cinta padanya.
Suatu hari buk Yar datang lagi dari Lubuk Alung, dan ia ditemani oleh seorang laki-laki, yang diperkenalkan sebagai paman oleh anaknya. Namanya Ibrahim. Dan ia lama tinggal di Banten, daerah Jawa Barat. Tetapi aneh Pak Ibrahim datang membawa ayam putih dan juga monyet. Sehingga aku bertanya:
“Mengapa bapak datang membawa ayam dan monyet ke sini ?”
“Wah tadi kebetulan saya dari pasar Lubuk Alung dan berjumpa dengan buk Yard an diajak ke sini, ke Payakumbuh”. Demikian keterangannya.
Di mataku Pak Ibrahim adalah orang tua yang ramah, ia duduk disamping, ngobrol dengan sambil membelai pundakku. Ayahku saja nggak pernah seperti itu. Ia meminta aku menikah dengan anak perempuan buk Yard an aku menolak dengan halus dan ia bersikap ramah dan menatap mataku lebih lama.
Saat waktu sholat ashar masuk aku meninggalkan pak Ibrahim, aku pergi ke mushola Al-Ishlah di Palorimbo dan pak Ibrahim juga pergi.Namun ayam dan monyetnya tetap di bawa ke mushola dan diikatkan dekat sumur. Aku mengganggap itu hal biasa bagi seorang petani dari desa di Lubuk Alung. Aku selesai sholat dan segera pulang, Pak Ibrahim juga menyusulku dan membawa ayam putih dan monyet pulang. Sore itu juga rasnya Pak Ibrahim balik ke Lubuk Alung dengan Ibu Yar.
            Payakumbuh saat itu tersa agak ingin aku cepat merasa nggantuk. Ayahku entah dimana dan yang di rumah hanya ibuku dan adik adikku. Aku tertidur cukup nyenyak malam itu. Namun tiba-tiba aku terbangun secara mendadak. Saat itu aku perkirakan pukul 02.00 dini hari dan suasana amat sepi. Suara cecak menggema dan batok kepalaku bagian belakang terasa berat dan mau meledak rasanya. Aku mau berteriak dan seakan mau jatuh.
            Aku berdiri tetapi aku hanya bisa berjalan membungkuk. Aku melawan rasa berat dalam kepalaku yang mau pecah itu. Untung jarak sumur dan kamar tidur hanya kira kira 10 langkah di balik kamar. Aku segara mengambil air wudhuk:
            “Nawaitu wudhuk liraf hil hadhasi adgharillahi toalla”. Aku beruduk dan mengihklaskan diri pada Allah. Aku sucikan wajah, ke dua belah tangan, ku basuh kepala dan dua daun telinga dan juga aku basuh ke dua belah kakiku. Rasa berat dalam kepalaku terasa terangkat dan berkurang.
            Aku segera sholat tahajjud dua rakaat, setelah itu aku tambah dua rakaat lagi. Selesai sholat aku berzikir membaca “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan laillahaillah. Setelah itu aku juga berdoa mohon ampun dan mengikhlaskan diri pada Allah. Aku bermohon semoga Allah menjauhkan sakit kepalaku.
            Alhamdulillah sakit kepalaku berkurang dan hilang dan aku merasa ringan kembali seperti semula. Aku selesai sholat dan segera bangkit dan berdiri. Aku teringat dengan ibuku dan segera melangkah menuju kamar dimana ibuku tertidur sendirian.
            “Mak…kepala awak tadi sakit mau pecah mak, awak ingin berteriak keras keras mak, namun awak tahan dan awak segera mengambil air udhuk dan sholat tahajjud. Alhamdulillah sekarang sudah normal kembali. Sakit apa itu namanya mak ?”
            “Masya Allah kamu barusan kena guna guna, untung kamu sadar dan bisa mengontrol diri dan bisa melakukan sholat tahajjd. Kalau nggak kamu bisa gila, bisa terganggu fikiran atau nggak sadarkan diri. Ibuku jadi geram:
“Siapa yang sudah mengganggu jiwamu dan memberi kamu ilmu sihir- guna guna. Biar besok emak pergi ke kampong untuk mencari tahu”. Keesokan paginya ibuku segera berkemas dan pergi keLubuk Alung untuk mencari tahu.
Di sore harinya ibuku pun pulang dan bergegas duduk di dekatku dan memberi tahu bahwa dukun yang memberi aku guna guna adalah “Si Ibrahim yang datang ke Payakumbuh dengan membawa monyet dan ayam putih sebagai perantara ilmu sihirnya. Pada mulanya sihir sempat menyerang fikiranku dan karena aku mendekatkan diri pada Allah- sholat tahajjut maka ilmu guna guna dari Ibrahim menjadi kurang mempan. Malah berbalik mencederai fikitran Ibrahim. Ibrahim pun juga jadi kesakitan pada kepalanya.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture