Jumat, 09 Januari 2015

Stress Dan Bosan



Stress Dan Bosan
            Ternyata wajahku menjadi tidak menarik dan karena sering bertengkar dengan keluarga di rumah maka rasa peka-ku jadi hilang. Phonechell-ku jadi tidak aktif, aku mengganti kartu sim phonechell. Jadinya aku tidak dapat dihubungi oleh teman-temanku dan aku sempat kehilangan nara sumber. Pada hal  saat itu  aku mau diundang buat mengisi acara di tingkat propinsi, jadinya  panitia tidak bisa menghubungi aku.
Wah nasibku lagi apes dan aku popularitasku jadi melorot. Banyak orang mulai melupakan aku. Sehingga aku juga menjadi kehilangan motivasi buat menulis. Biasanya kalau aku punya waktu aku lebih suka menulis artikel- aku edit  dan aku publikasi pada surat kabar di Sumatera Barat dan juga di Palembang. Jadinya banyak orang  yang membaca tulisanku hingga namaku dikenal oleh banyak orang. Berharap namaku dikenang dalam hati orang. Namun saat aku lagi dilanda galau aku jadi pasif dan malas berkarya.
            Aku kehilangan mood dan merasa tidak berguna- akibatnya aku kehilangan popularitas. Ya Allah akhirnya aku jadi malas buat tersenyum. Ternyata teman-teman di sekolah juga membaca perubahan pada sikap dan wajahku yang kurang bersahabat.  Tidak seperti biasanya, aku sangat ramah dan senang menyapa banyak orang terlebih dahulu.
            “Hallo apa kabar...!!! Hai cantik…hai ganteng...mau kemana !!! Hallo sahabatku mari mampir !!!”. Kalimat kalimat seperti itu sudah terhenti aku ucapkan. Bila aku tiba di sekolah aku langsung sibuk dengan diri sendiri, ya paling kurang aku sibuk mengisi kebosananku dengan mengisi status di facebook yang isinya jugsa banyak galau.
            Karena aku merasa tidak ngetop- tidak begitu popular lagi di dunia nyata, maka aku berharap agar bisa menjadi populer di dunia maya. Agar orang orang yang hadir di facebook aku harap masih bisa menyukai dan menyayangiku. Ahhh ternyata juga tidak dan mereka juga tidak mengetahui apa yang aku butuh.
“Teman facebooker ...aku butuh sekeping hati dan perhatian buatku. Mohon sayangi aku”. Ahhh betapa aku terlihat lucu dan galau. Kalau dulu aku suka menebar salam dan senyum dan nggak butuh dikagumi- aku lebih dahulu memberi perhatian, tetapi sekarang aku jadi cengeng, aku menunggu sapaan dan dicintai.
            Oh...Tuhan, mengapa aku mudah jadi stress sendirian. Dan suatu hari aku jadi susah tidur (insomania) karena fikiranku sangat tegang. Mata mengantuk tetapi mengapa mata ini  nggak bisa terpejam (?). Ini mungkin karena aku  punya dosa dan punya kesalahan yang aku bikin- bikin sendiri. Aku menjadi sadar buat sesaat, maka aku minta istriku buat menemani aku untuk bisa pergi ke UGD di rumah sakit. Aku berharap tekanan darahku diperiksa dan aku juga bisa diberi pil tidur karena aku merindukan bisa tertidur pulas.
            Ternyata aku mengalami masalah kesehatan- tekanan darah tinggi (hypertensi), pikiran tegang, aku susah tidur maka aku juga diberi pil tidur. Namun pil tidur itu adalah termasuk jenis obat narkoba dan obat terlarang. Dokter mengharapkan aku agar bisa rileks dan bisa tidur hingga aku tidak tergantung pada pil tidur. Aku belajar mengosongkan fikiran, berdoa pada Allah dan bagaimana agar aku bisa tertidur pulas lagi.           
            Sejak fikiranku mudah jadi kalut maka perkataaku juga sering kurang ramah dan kalimatku di facebook juga sering kurang sedap. Maka tentu saja ada orang yang terluka oleh caraku berbahasa.
“Bila ada yang terluka oleh bahasaku, maka mohon maafkan aku”. Ya begitu mereka terluka maka mereka menjauh dariku dan memutuskan tali komunikasi dari aku. Akhirnya aku merasa ditinggalkan oleh para pengagumku. Aku mersasa dibenci dan aku merasa bersalah.
Aku merasa guilty- merasa bersalah yang berkepanjangan. Jadinya aku jadi susah bernafas. Nafasku tersengal- sengal ditimpa rasa sedih. Aku selalu merasa bersedih yang berkepanjangan. Aku merasa sedu-sedan dari desahan nafasku...ya yang  keluar hanya separoh dari desah kesedihanku dan separoh lagi tersekat dalam dadaku.
            Bulan puasa yang lalu merupakan  puasaku yang aku lewati tanpa kesan. Aku telah merasa sebagai  manusia yang aneh bagi tetanggaku. Aku tidak begitu aktif lagi di musholaku. Kalau aku memberi ceramah di mushola (dalam komplek perumnas) maka ceramahku menjadi tidak menarik. Itu karena fikiranku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, jadinya  jalan fikiranku juga menjadi mudah ngawur- mengambang.
Yahhh aku menjadi orang tidak menarik lagi. Terus terang tetanggaku tentu juga ada berbisik bisik tentang apa gerangan yang terjadi padaku, mengapa pribadi yang sebelumnya begitu hangat, ceria dan mudah tersenyum kini berubah menjadi orang asing dengan pribadi yang sangat tidak menarik. Berbeda dengan bulan puasa sebelumnya, dimana  aku begitu rajin membangunkan tetangga untuk bisa bangun.
“Sahur....sahur....mohon kaum ibu dan remaja putri agar bisa bangun karena sekarang sudah menunjukan pukul 03.30 dini hari, saat buat mempersiapkan hidangan sahur”. Demikian kalimatku keluar dari loud-speaker mushola buat membangunkan warga sekitar. Dengan cara aku sendiri seperti itu bisa membuat warga menjadi senang.
Kini segala sesuatu padakun jadi berubah. Jiwaku menjadi amat sepi. Dan aku juga tahu tetanggaku tidak mau banyak betanya karena mereka paham bahwa pribadiku lagi dalam masa krisis kehilangan, yaitu krisis kehilangan  jati diri.
“Punya masalah itu sangat lazim dan juga sangat manusiawi. Tiap orang tidak luput dari masalah dan moga mogaku  jangan sampai larut terlalu lama.
            Memasuki masa liburan di penghujung bulan puasa, kami memutuskan buat berlibur bersama ke Jakarta. Ini bertujuan agar kami kami- terutama anak anak-  bisa lebih akrab dengan famili yang ada di Jakarta. Untuk itu kami harus bisa menghemat dana. Jadinya kami memutuskan keberangkatan ke Jakarta hanya dengan mobil karena ongkosnya bisa lebih hemat.
“Tetapi mengapa hatiku dan hati istri selalu terpecah. Ya jiwa kami terasa masih terpecah dan belum bisa menyatu. Istri sangat bosan melihatku, kalau aku masih memegang phonecell dan juga masih getol menggunakan SMS, BBM dan facebook. Aku jadi gila dengan sdroid ya ibarat anak muda saja”.
            Aku orangnya nggak mau diatur dan aku orangnya sangat keras kepala. Saat kami berada dalam kapal penyeberangan di Selat Sunda aku jadi malas duduk berdampingan dengan istri. Ia masih terasa sebagai orang asing bagiku. Kadang-kadang ada rasa benciku padanya. Rasa benci selalu tumbuh melihatnya, namun aku nggak tahu apa penyebavnya.
“Mengapa aku merasa benci padanya. Pada hal istriku masih menyayangi dan mencintaiku, ia sering mencium pipiku bila aku tidur dan aku tetap enggan membalas ciuman nya- aku masih dingin padanya. Aku tahu bahwa rasa cintanya begitu gede padaku dan pada anak-anak kami. Sementara itu cintaku menciut menjadi kerdil padanya.
            Akhirnya kapal penyeberangan merapat  ke pelabuhan di Propinsi Banten. Saat ke luar kapal ternyata aku terpisah dengan istri. Anak perempuanku ikut dengan ibunya, sementara anak laki lakiku ikut dengan aku.
“Wah ternyata aku salah keluar dan salah jalan. Istriku mengambil jalan semula buat menuju mobil. Namun aku tetap bertahan bahwa aku selalu benar. Aku yakin para penumpang mobil yang sama dengaku  denganku dari Padang sudah pada naik mobil. Dan  mobil itu sendiri sudah berangkat keluar- meninggalkan kapal penyeberangan. Tetapi bagaimana denganku dan anak laki-lakiku ?”
            Ya aku telah memilih jalan yang salah saat keluar kapal. Aku mengikuti penumpang kapal yang lain yang memang tujuannya hanya ke Banten, namun aku tidak- kami mau menuju Jakarta. Aku berjalan muter-muter di jalan kecil di pinggir pelabuhan. Tentu saja istriku sudah menelpon ke phonecell-ku. Wah baterai phonechell-ku sudah mau drop. Biar aku matikan, kemudian aku aktifkan lagi. Ya ternyata istriku menelponku:
            Hei...kamu lagi dimana ?? Ini  mobil sudah berangkat meningggalkan kapal dan kondektur bis dan sopir serta semua penumpang sudah pada marah menunggu mu. Kamu harap pergi ke  Jakarta dengan mobil lain saja. Istriku sebal dan anak perempuanku menangis.
Aku tetap merasa tenang tanpa ada rasa bersalah. Nun di sana istriku dan anak perempuanku sudah pada stress dan menangis ketakuktan. Takut  kalau hal yang jelek terjadi pada ku dan anak laki-lakiku. Kemudian ada telepon lagi:
“Hei....mobil bakal berhenti pada sebuah restoran Padang di penghujung jalan dari pelabuhan ini, kamu pergi ke sana segera ya...!!!”. Dan aku serta anak laki-laki ku diharapkan agar segera ke sana. Aku memutuskan agar naik ojek saja menuju lokasi yang ia maksudkan dan aku setuju. Aku mencari ojek. Ternyata kami memerlukan dua ojek untuk mengantarkan kami menuju restoran Padang yang dimaksud.
            Akhir ojek berhenti di depan sebuah restoran Padang. Kami akhirnya bisa berkumpul. Anak-anak  ku merasa gembira dan juga bercampur geram padaku. Aku tidak banyakm memberi komentar, aku hanya diam seribu bahasa dan memutuskan buat makan dini hari (makan sahur di ujung bulan puasa). Ya aku makan tidak begitu banyak karena mobil segera melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Jakarta. Karena suasana lebaran sudah di ambang pintu maka penduduk Jakarta banyak yang pulang kampong. Kota Jakarta dan jalan raya menjadi sepi. Akses transportasi menjadi lebih mudah dan lebih lancar. Jam 10.00 pagi bis kami sudah berada di terminal Tanah Abang dan segera  adik kami Eriko (iparku) datang untuk menjemput kami.
            Selama liburan di Jakarta ternyata masih ada pertengkaran ku dengan istriku. Wah mengapa pertengkaran demi pertengkaran mudah terjadi. Tahun lalu aku sempat mampir ke rumah saudaraku di Pondok Kopi dan kali ini aku juga mau mampir dan sekaligus aku ingin memperkenalkan istri dan kedua anakku kepada Abangku (saudara tiriku)..
            Aku merasa sudah cukup kenal dengan alamat rumah Abangku. Ya cukup cari saja lokasi dimana ada jalan layang dan jembatan dan di sebelah kiri ada rel kereta api, di daerah Pondok Kopi- Jakarta. Maka pagi itu kami berempat segera menuju ke sana dengan menggunakan mobil angkot (angkutan kota). Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai pada alamat yang aku maksud. Aku mengajak istri dan anak- anakku buat berjalan sekitar 300 atau 400 meter. Anak anakku berjalan dengan rasa kurang mood. Istriku juga demikian. Kami kemudian berjalan memasuki gang (jalann kecil).
“Wah mengapa aku jadi lupa dengan jalann ke rumah Abangku . Aku segera menelepon kakakku dan ternyata ia lagi berada di kota Bogor.
            Mendengar responnya istriku terlihat jengkel dan juga menahan amarahnya. Aku telpon lagi namun susah masuknya. Aku telpon selama berkali kali, dan tidak ada respon-mungkin sinyal lagi jelek. Dan aku juga bertanya pada beberapa orang di sana dan hampir semuanya tidak mengenal lokasi rumah Abangku  yang aku maksud. Ya maklum kota Jakarta, banyak penduduknya dan banyak pula gang kecil nya.          Aku jadi malas melihat dan mendengar omelan istri dan anak anakku. Aku jadi membungkam dan memutuskan untuk balik ke rumah iparku- Eriko.
            “Oke sekarang kamu yang menjadi kepala keluarga dan aku selalu salah dan gagal sebagai kepala kepala keluarga, karena kamu lah yang hebat. Akhirnya balik ke rumah Eriko dan pada pukul 02.00 sore kami  memutuskan buat pergi ke rumah famili yang lain yang berlokasi di Cileduk dekat Tanggerang.
            Kami segera naik taxi dan aku tidak banyak ngobrol. Aku biarkan istriku yang memandu sopir taxi. Akhirnya taxi memasuki wilayah Cileduk- Tanggerang dan ternyata sopir taxi juga mengalami kesulitan buat mencari jalan dan rumah yang dimaksud. Aku juga merasa agak marah dan berkata untuk melepaskan balas dendamku atas keangkuhan istriku:
            “Nah perempuan hebat, ternyata kamu juga gagal mencari alamat. Ini Jakarta semua orang baru biasa tersesat. Kamu saja yang merasa serba pintar juga membuat sopir nggak tahu dengan rumah yang kau maksud. Lain kali cobalah berkata dan bersikap yang manis padaku, kalau tidak bisa lebih baik kau diam saja

Instrospeksi Diri
            Aku ingin menjadi guru yang baik dan selalu berbuat baik yang banyak pada sekolah. Aku sering menebar rasa senang di rumah:
“Wah..siswa dan siswiku lagi menang dalam lomba tingkat propinsi. Dan istiku merespon bahwa ia tidak begitu gembira karena itu adalah anak orang.
Aku lebih gembira kalau yang menang itu adalah anakku, anak kita. Demikian respon istriku. Mendengar respon seperti itu aku jadi malas buat ngomong lebih lanjut. Istriku pernah berkomentar bahwa umumnya kaum wanita banyak yang punya hati lebih setia dan lebih mulia dari kaum lelaki. Dan aku meyanggah, setia atau pun tidak  itu sangat tergantung pada pribadi seseorang. Di sebuah desa kecil tempat aku mengajar sebelumnya juga ada seorang ayah yang sudah jadi duda dan sangat setia menghidupi (mendampingi) 6 orang anak tanpa yang sudah kehilangan ibu.  
            Di lain tempat malah juga ada “seorang ibu” yang suka selingkuh dan menelantarkan anak anaknya. Sementara ia pergi besenang senang dengan pria lain. Di sini bukan berarti aku berselingkuh, namun hatiku lagi diinterogasi sebagai seorang ayah yang hatinya lagi lengah.
“Hatimu harus dekat pada keluarga dan ke dua orang anakmu”.  
            Istriku memang tipe ibu yang sangat dekat pada kedua anakku. Mungkin karena mereka berdua terlahir dari rahimnya. Rahim itu berarti “rasa sayang”. Jadi yang terlahir dari rahimnya akan disayanginya.
            Meskipun bahasa istriku tidak semanis dan seramah bahasaku, namun kedua anakku begitu dekat dengan ibunya. Kalau kena marah, mereka nggak takut. Bahasaku mungkin lebih indah dan lebih persuasive namun kalau aku marah, maka kedua anakku langsung menjauh.
            Sekali lagi bahwa mengapa maka aku merasa jauh saja dari istriku. Mungkin karena sering beda pendapat, beda hobby, kami jarang melakukan kebersamaan dan jarang pergi ke luar bareng. Akhir akhir ini kami sering bertengkar, namun rasa benci dan dendamku lama bersemayam.
“Istriku masih memiliki sisi positif, dia lebih pemaaf dan aku lebih mudah jadi bad-mood dan emosi dengan bahasa yang meledak-ledak padanya. Sementara istriku lebih mudah memaafkan dan  melupakan bahasa kasarku padanya”.
Dan bila aku sengaja duduk disampingnya  maka ia tetap rajin membelai rambutku  dan juga mencium pipiku. Namun aku tidak begitu aku enggan menciumnya, dan  aku sekedar duduk saja disampingnya. Dan ia sudah menyatakan bahwa:
“Tidak masalah bagiku kalau kamu  tidak mencintai dan menyayangi aku, asal kamu tetap cinta dan sayang pada kedua anak kita , karena mereka sangat membutuhkan figur seorang ayah darimu”. Terus terang dalam hatiku aku  selalu berfikir dan melakukan introspeksi diri:
Mengapa aku sekarang suka bertingkah dan apa sih salah istriku. Bukankah dulu ia adalah gadis terbaik dalam hidup ku. Malah saat gadis ia sangat aku punya dan bila aku mendengar senandung lagu maka fikiran dan hatiku selalu terpaut padanya.
            Memang sih ada saat-saat kami rujuk lagi dan melaksanakan gencatan senjata- malas bertengkar. Mungkin saat kami nonton TV bareng, sambil duduk bareng, istriku masih selalu membelai pundakku. Aku nggak tahu apakah belaiannya entah tulus entah tidak (?). Tapi aku yakin bahwa ia selalu tulus karena aku adalah ayah dari kedua anaknya. Namun kalau kami berdialog, maka selalu berakhir dengan pertengkaran.  Aku sering berujar:
“Mengapa sih kita kalau ngobrol  yang selalu diawali dengan senyum tetapi selalu berakhir dengan pertengkaran. Munkin kamu sudah bosan denganku dan aku juga bosan denganmu. Mungkin inilah takdir hidup kita. Andai sesuatu yang buruk terjadi ya terserah”. Ucapkan dengan lidah yang tidak aku kontrol lagi.
            “Ya kamu orangnya memang baik dan jempolan, namun kamu baik keluar  tetapi dingin ke dalam”. Demikian ulas istriku.
Kalau sudah ngobrol seperti itu untuk selanjutnya aku jadi malas ngomong dan aku memilih bungkam. Kalau aku meledak..., emosiku lagi meledak maka aku bakal melempar benda-benda yang  bisa menimbulkan suara bising sehingga anak anakku menjadi cemas. Namun begitu aku melihat ke dua anakku jadi ketakutan- cemas- dan istriku juga menangis, maka aku segera menurunkan ego dan emosiku. Maka aku segera menghampiri istriku dan mencium pipinya. Tujuanku berbuat demikian adalah agar kedua anakku menjadi tenang melihat orang tua mereka kembali berdamai.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture