Selasa, 07 Januari 2014

Beberapa hal Menarik dari Dandenong High School



Beberapa hal Menarik dari Dandenong High School

1. Kesan pada pendidikan Australia
            Aku memiliki kesan yang sangat positif melihat system pendidikan di Dandenong High School, sama halnya dengan applkasi penddkan pada sekolah lan. Pengalaman observasiku tentang penddkan di sekolah ini sama dengan pengalaman yang dalami oleh Risa Bhinekawati[1] yang menyekolahkan anaknya di Australia, ia sendiri menerima beasiswa Australian Leadership Award (ALA) untuk melanjutkan pendidikan tingkat doktoral di Australian National University di Canberra.
Pada intinya, sistem pendidikan menengah di Australia sangatlah relevan dan mencerdaskan.  Pemerintah dan siswa sama-sama melakukan investasi.  Pemerintah membangun sistem sekolah untuk mencetak manusia yang cerdas, bermartabat dan mampu bersaing secara global, sedangkan siswa menginvestasikan waktunya untuk menjadi manusia yang tangguh.
Wajib belajar di Australia berlaku hingga SMA, sudah menjadi kewajiban bagi sekolah untuk menjamin bahwa tidak ada anak usia sekolah di rayon sekolah tersebut yang tidak bersekolah. Kalender sekolah Indonesia dimulai di bulan Juli sedangkan  di Australia dimulai bulan Januari, Di Australia, high school berlangsung dari kelas 7 sampai kelas 10.  Sedangkan kelas 11 dan 12 (setara dengan kelas 2 dan 3 SMA di Indonesia) dikategorikan sebagai “College” atau persiapan ke perguruan tinggi.
Mata pelajaran SMP di Australia sangatlah tepat guna dan mendalam.  Misalnya, di tingkat SMP seorang siswa bisa memilih 5 mata pelajaran wajib dan 2 mata pelajaran pilihan.   Mata pelajaran wajib meliputi Matematika, Bahasa Inggris, IPA dan IPS, dan olah raga.  Sedangkan mata pelajaran pilihan meliputi band, pertukangan, memasak, metalurgi, seni lukis dan banyak lagi.   Agama tidak diajarkan di sekolah- karenaAustralia adalah negara sekuler, untuk itu peran orang tua untuk bisa memelihara kualitas agama anak. Budi pekerti dinilai dari kedisiplinan siswa dalam memenuhi jadwal tugas, tidak terlambat ke sekolah, dan partisipasi di dalam dan di luar kelas.  Jika siswa terlambat 15 menit tanpa lapor, secara otomatis orang tua  diberitahu oleh sekolah melalui sms.  Jika siswa gagal memenuhi tenggang  waktu memasukkan tugas, maka orang tua dikirimi email oleh gurunya.  Selain itu ada sanksi yang berat jika siswa melakukan pelecehan kepada siswa lain, juga merokok atau mabuk.
Di usia 15 tahun, siswa  juga sudah boleh bekerja paling banyak 10 jam seminggu.  Dalam hal ini, mungkin mengambil kesempatan untuk bekerja di Pizza Hut sampai dia berusia 16 tahun. Pengalaman ini sangat baik bagi siswa untuk menghargai uang, waktu, dan hubungan antar manusia.
Setelah tamat dari kelas 10 tentu saja siswa  melanjutkan kuliah di  College- kalau di SMA tentu masih kelas 11 dan 12. Di College anak bisa belajar berkelompok di perpustakaan- ya tentu saat line-off (jam kosong). Untuk tingkat College (kelas 11 dan 12), siswa diajarkan untuk mandiri dan dipersiapkan untuk ke universitas.  Sistem sekolah mirip dengan kuliah, dimana siswa bisa memilih 4 mata pelajaran wajib dan satu atau 2 mata pelajaran pilihan. 
Bagi yang berminat untuk melanjutkan ke jurusan Komunikasi dan Media di perguruan tinggi- sebagai contoh, dia memilih matematika, bahasa Inggris (writer’s workshop), Media, sejarah dan hubungan internasional.Setiap awal kwartal, siswa menerima silabus yang berisi rincian tentang pelajaran, jadwal dan target yang akan dicapai pada semester tersebut.   Informasi tersebut juga tersedia on-line dan bisa diakses oleh orang tua siswa.  Sama dengan di High School, hubungan antar siswa, guru dan orang tua di tingkat College juga sangat erat.  Setiap acara pertemuan orang tua dan guru, maka orang tua diberi masukan tentang kelebihan dan kelemahan sang anak, sehingga orang tua bisa bekerjasama dengan guru untuk mendukung perkembangan anak untuk mencapai nilai maksimal.  Dalam banyak hal  siswa Australia sangatlah menjaga tata krama dalam berhubungan dengan sesama.  Karena pendidikan yang interaktif, siswa belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.

2. Pendidikan membentuk manusia berpikiran maju
Sistem pendidikan menengah di Australia sangatlah humanism (manusiawi)  baik bagi siswa maupun guru.  Pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.  Pilihannya banyak, namun siswa hanya memilih pelajaran yang mereka minati.  Di kelas 7 sampai 10, siswa boleh memilih maksimum 7 mata pelajaran (5 wajib dan 1 atau 2 pilihan; sedangkan di kelas 11 sampai 12, siswa memilih maksimum 6 mata pelajaran (4 wajib dan 1 atau 2 pilihan).  Dengan demikian siswa menekuni pelajaran yang sesuai dengan minat dan pilihan masa depan mereka.
Mata pelajaran tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa secara akademis, namun, karena cara penyampaiannya sangat interaktif, kemampuan hidup life skill  seperti berpikir (berpikir kritis, berpikir kreatif dan memecahkan masalah), serta berkelakuan baik behavioral skill (berkomunikasi, berorganisasi, bekerjasama dan memimpin) siswa juga semakin meningkat.
Selain itu, sistem pendidikan di Australia khususnya, tidak mengenal istilah anak yang bodoh, karena semua anak dapat memberi manfaat bagi kehidupan.  Misalnya, pelajaran Matematika di tingkat SMA terdiri dari 4 kategori.  Kategori 1 untuk siswa yang ingin menjadi ilmuwan; kategori 2 untuk siswa yang ingin kuliah di bisnis atau ekonomi; kategori 3 untuk siswa yang ingin melanjutkan kuliah di bidang ilmu sosial; dan kategori 4 untuk yang tidak ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi. Siswa bisa mendapatkan nilai “A” di kategorinya masing-masing.  Dengan demikian mereka dapat memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Dengan cara penyampaian yang menyenangkan, para siswa termotivasi untuk memberikan yang terbaik.  Misalnya, pelajaran sejarah yang di Indonesia biasa dianggap membosankan, di Australia justru menjadi pelajaran yang menyenangkan karena siswa diminta menganalisa sejarah, misalnya tentang Napoleon.  Siswa mempelajari karakter kepemipinan Napoleon dan melihat relevansi kepemimpian beliau terhadap konteks masa kini dan masa depan.  Dengan demikian, pelajaran sejarah menjadi relevan dengan kebutuhan jaman. Atau untuk pelajaran mengarang, setiap siswa harus mempersiapkan tulisan sebesar 1,500 kata untuk mendapatkan peer review dari 4 orang temannya yang diundi pada saat pelajaran bahasa Inggris dimulai.  Kelima orang siswa duduk dalam satu kelompok dan secara bergantian membaca dan memberi masukan konstruktif untuk karya 4 orang siswa lainnya.
Yang juga tak kalah penting adalah jumlah siswa per kelas yang tidak terlalu besar, maksimum 25 siswa per kelas sehingga guru dapat memperhatikan siswa dengan baik.  Jika siswa mengalami kesulitan, guru siap untuk dihubungi setiap saat.  Selain itu, guru juga memberikan masukan bagi konsep tugas yang diberikan oleh siswa sebelum tenggat waktu.  Setiap siswa mendapat kesempatan untuk melakukan yang terbaik karena dukungan sekolah dan guru yang memadai.  
Guru merupakan profesi yang terhormat.  Komunikasi antara guru, siswa dan orang tua sangat terbuka.  Mereka berteman dan saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing serta bekerjasama untuk mencapai prestasi akademis yang maksimal. Dalam sistem pendidikan Australia, dari hari ke hari kita amati betapa siswa menjadi lebih mandiri, baik secara akademis maupun dalam pemecahan masalah sehari-hari. 

3. Aplikasi penddikan Sekolah Australia
Aplikasi penddikan di negara ini juga menarik untuk diekspose[2]. Pemerintah Australia pada akademisi membuat kurikulim dan tehnik pengajaran yang efektif dan efisien. Tehnik pengajaran dan kurikulum di Australia sangat berbeda dengan negara-negara lainnya, tehnik pengajaran di Australia telah diakui oleh dunia sebagai salah satu yang terbaik. Tehnik ini diterapkan mulai dari tingkat dasar (sekolah) hingga jejang pendidikan tinggi (kuliah dan seterusnya).
Didalam kelas siswa belajar dengan cara-cara yang berbeda dan mengasyikan, siswa dilibatkan dalam sesi tanya jawab interaktif sehingga menciptakan atmosfir positif. Tentu hal ini berbeda dengan cara pengajaran konvensional, hingga sat ini kita masih sering menemukan atau mungkin anda pernah mengalami sekolah dan atau kuliah dengan tehnik pembelajaran teror dan ancaman. misalanya guru dan dosen menerapkan larangan dan hukuman yang berlebihan yang akan berakibat pada mental siswa serta negatifnya atmofir kelas/pelajaran tersebut.
Di Australia, tensi hubungan antara siswa dengan guru/dosen didalam kelas lebih santai (relaks), namun tetap menjaga rasa hormat. Para guru/dosen akan lebih sering memberikan dukungan, inspirasi dan menantang (mendorong) siswa untuk lebih berprestasi.  Akses menghubungi para guru/dosen pun lebih mudah, mereka dapat kita dekati dengan mudah. mereka pun akan terbuka bila kita  membutuhkan mereka secara personal, serta siswa pun memiliki "International Student Coordinator" dimana siswa dapat mendapatkan dukungan (support) baik diluar maupun didalam kegiatan sekolah/kuliah.
Salah satu alasan mengapa kualitas lulusan sekolah, college, dan Universitas memiliki standar yang baik/tinggi adalah kualitas para pengajar/dosen/guru. Untuk mendapatkan semua itu institusi-institusi pendidikan menanamkan investasi besar pada pengajarnya, serta seluruh pengajar memiliki kualifikasi khusus dan selalu memperbaharui ilmu dan keahlian mereka. Sistem pendidikan juga memperhatikan sstem penlaian.
Penilaian untuk suatu mata pelajaran/bidang studi mengacu kepada prestasi siswa dalam mengejakan tugas, baik itu tertulis maupun praktek (tergantung dari bidang studi), ujian, keaktifan dalam kelas, jumlah kehadiran dan nilai kelompok.
Pada tingkat college, dan Universitas penilaian dilakukan pada akhir semester dan atau disesuaikan dengan tahun akademik lembaga/institusi pendidikan yang anda gunakan. Sedangkan penilaian untuk penelitian "research" pasca sarjana diberikan oleh komite khusus, komite tersebut akan menilai dan mengevaluasi kualitas tesis anda, serta anda pun dapat mengikuti ujian lisan untuk mendukung tesis anda.

4. Miss Ogdan- Kepala Sekolah DHS
Miss Ogdan, sebagai kepala sekolah DHS- Dandenong Hgh School, sangat memahami tentang aspek pendidikan. Ia menguasai tentang padegogi, metode mengajar, psikologi remaja, teknik manajemen, dan banyak hal. Ia mengetahui syarat atau kualifikasi menjadi kepala sekolah, memahami kurikulum, memahami tugas-tugas dan tangung jawab guru, memahami tugas- tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dan memahami tugas-tugas dan tanggung jawab administrasi.
Kami berbincang bincang dengan Miss Ogdan, ia menjelaskan bahwa di Dandenong High School mengenal istilah “leadership team”- gunanya untuk mengembangkan kualtas leadership dan manajemen. Ia mengatakan bahwa seorang kepala sekolah harus tahu cara memotivasi/ mensupport guru, dan juga kebutuhan guru. Juga seorang kepala sekolah harus fokus pada teacher’s teaching quality.
Untuk menjaga kualtas manajemen kepala sekolah, Miss Ogdan membangun sustainable relationship (hubungan yang berkesinambungan). Ia juga membuat leading program, membuat regulasi sekolah- melibatkan guru, orang tua dan siswa dan juga masyarakat dan membangun kultur sekolah.
Seorang kepala sekolah, sebagamana Miss Ogden, selalu menciptakan iklim sekolah yang positif[3]. Sekolah secara fisik hanya sebatas gedung berikut sarana pendukungnya. Namun sebagai sebuah lembaga sekolah merupakan lingkungan bagi warganya untuk beraktifitas melaksanakan tugasnya demi mencapai tujuan bersama. Dari berbagai kepentingan yang ada maka disatukanlah dalam satu visi dan misi yakni memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi siswa-siswinya. Untuk tujuan tersebut maka perlu diciptakan lingkungan sekolah yang positif.
Faktor-faktor pendukung terwujudnya iklim sekolah yang positif didukung oleh kepemimpinan kepala sekolah yang mendukung terselenggaranya seluruh program sekolah. Staf pengajar dan non pengajar yang memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam mensukseskan tercapainya tujuan institusi. Staff yang merasa bahwa keterlibatan mereka dalam pengambilan kebijakan sekolah adalah berharga dan masukan mereka pun dihargai. Kesempatan untuk meningkatkan profesionalitas kerja dan pengembangan karir. Adanya budaya kerjasama yang kental. Staff yang memahami dan melaksanakan peraturan dan tujuan sekolah dengan penuh kesadaran, kemudian lingkungan yang aman dan nyaman bagi staff untuk bekerja.
Terwujudnya Iklim sekolah yang positif tidak terlepas dari keterlibatan orang tua serta stake holder lainnya. Komunikasi dan kerjasama yang baik dalam bentuk dukungan terhadap setiap kebijakan sekolah sangatlah mutlak diperlukan.
Begitu kami selesai melakukan kunjungan di sekolah ini, tentu saja kami berkumpul lagi. Kami melakukan foto bersama. Akhirnya Miss Ogdan memberi kami surat ucapan terima kasih.  Pengalaman mengunjungi Dandenong Hgh School, sebagai sekolah tertua dan terbak di Melbourne tdak akan terlupakan.



[1] http://nengkoala.com/2012/11/16/smp-dan-sma-di-australia-relevan-dan-mencerdaskan/
[2] http://studydiaustralia.com/page/61353/metode-pendidikan.html
[3] http://majulahsekolahku.wordpress.com/2009/02/15/menciptakan-iklim-sekolah-yang-positif/

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture