Selasa, 07 Januari 2014

Jangan Lupa Sholat, ya…!!!



A. Jangan Lupa Sholat, ya…!!!
1. Batal Shopping
            Kami membatalkan rencana untuk pergi ke shopping centre di Swenston Shopping Centre. Hari sudah menunjukan  pukul 16.00 lewat. Kami belum merasa gelisah karena belum melakukan sholat zuhur dan juga sholat ashar.
            Meskipun  teman-teman dalam grup kami ngobrolnya kayak siswa sekolahan, sedikit urakan, membebaskan diri dari formalitas. Namun kami tetapi berhati Makkah- maksudnya kami masih punya hati yang cukup religious.
            Kami mengatakan kepada tour leader agar membatalkan shopping dan baiknya kami kembali saja ke hotel. Tujuan adalah agar kami bisa melakukan sholat- sholat jamak zuhur dan ashar. Meninggalkan sholat adalah dosa besar.
            Tour leader merespon bahwa kalau kami pergi ke hotel berarti kami akan kehilangan moment buat berlibur. kami tidak melihat keindahan suasana di shopping centre swenston dan sekaligus tidak bisa cuci mata.
            “Kalau alasannya hanya untuk sholat, bukankah orang Islam bisa sholat dalam bis dan cukup melakukan tayamum saja”. Kata Rahman.
            “Itu benar, bang Rahman. Namun kami tidak merasa bersih, pakaian kami sudah tidak bersih lagi. Sebab banyak toilet di Australia kurang mendukung kitauntuk suci dari hadast atau najis. Malah ada toiletnya tanpa air sehingga kita tak bisa bersuci. Disana tertulis toilet with non water urination. Jadi bagusnya kita kembali saja ke hotel”.
            Sebagai jalan tengah, sekarang ada alternative. Bagi yang ingin ke hotel akan diantar ke hotel dan bagi yang mau ke shopping center juga diantar. Kami memilih untuk pulang ke hotel, dengan catatan bahwa kami akan rendesvouz pukul 18.00 sore di restoran West Lake.
            Kami memutuskan buat kembali ke hotel. Aku sendiri merasa sangat bahagia. Aku bisa mandi pake air hangat, tadi pagi aku malas mandi karena merasa sangat dingin- suhu cukup rendah yaitu 10o C dan juga kurang mood buat mandi. Pokoknya aku jadi males buat mandi.
            “Sore ini aku bisamandi dengan memutar sedikit kran air panas dan jugamemutar kran air dingin, jadinya suhur air bercampur menjadi sejuk. Aku merasa air tidak begitu panas dan juga tidak begitu dingin.
            Selesai mandi aku bisa melakukan sholat- menjamak zuhur dan ashar. Untuk arah sholat- arah kiblat- kemaren aku mematok dimana arah dan dimana tibmur. Ya tentu saja berdasarkan arah jatuh bayangan mata hari. Aku tidak memiliki kompas dan yang tadi adalah cara yang juga praktis.
            Woooww terasa plong, aku sudah sholat dan tidak ada rasa berhutang pada Tuhan rasanya. Temanku Abdul Hajar memanaskan air dan bakal membuat teh hangat untuk dinikmati di sore yang dingin ini.
            Aku masih terbayang dengan suasana di Dandenong High School. Pelayanan sekolah sangat bagus dan Miss Susan Ogdan cukup cerdas. Ia mampu menjawab semua pertanyaan kami dan juga menjelaskan sedetail mungkin. Aku rasa bahwa Miss Ogdan bisa menjadi profil kepala sekolah yang ideal buat banyak sekolah di Indonesia.
“Ia cerdas- punya wawasan, memiliki kemampuan manajemen yang baik. Ia juga memiliki komunikatif yang sangat baik. Ia tidak kaku. Dandannya sederhana namun terlihat anggun”.        
Kami kemudian dibawa jalan-jalan melihat lokasi sekolah dan juga masuk ke ruangan kelas. Kami bisa melihat suasana PBM. Aku menyaksikan PBM pada beberapa kelas. Suasananya beda dengan suasana kelas di negara kita- paling kurang suasana kelas di kampungku, yang mana PBMnya sebagian berciri konvensional. Sati guru memandu 25 orang siswa yang diminta duduk dengan manis. Mayoritas PBM bercorak berceramah dan siswa mendengar dan mencatat saja.
Sementara pada PBM di sekolah ini, sebagaimana aku lihat, bahwa para siswa dikondisikan sedang melakukan sebuah projek dan semua grup bertanggung jawab untuk kesuksesan proyek ini. Siswa duduk dalam grup dan kemudian team guru turun memberikan instruksi. Siswa dalam grup bekerjasama untuk mencari apa yang diminta guru- apa yang diharapkan oleh instruksi. Guru melangkah buat memonitor dan memberi pelayanan/ bantuan. Pada akhirnya grup siswa memaparkan hasil kerja mereka.Team guru tentu saja betanggung jawab pada semua siswa dalam kelas itu.  
Aku memotret segala sesuatu yang bisa memberi pesan padaku tentang keunggulan DHS (Dandenong High School). Aku khawatir tidak bisa cepat mencatat segala sesuatu buat memory, maka selembar potret bisa memberi seribu makna.
Guru- guru di sekolah DHS juga punya pakaian seragam. Kalau berjalan, jalan mereka cukup besemangat, tidak ada yang berjalan lunglai. Tidak ada guru yang dalam PBM terlalu banyak duduk dan banyak berceramah, tidak ada guru yang berpenampilan lesu. Guru yang bersemangat akan membuat PBM dan siswa juga bersemangat.
Meja guru tidak perlu lebih nyaman dari siswa, khawatir kalau gurunya jadi kebanyakan duduk. Guru- guru kalau berjumpa di luar DHS terlihat individu dan tidak ramah, namun setelah berada dalam kompleks sekolah semuanya berubah ramah dan melayani.   
   
2. Restoran Indonesia
            Aku berfikir bahwa semua orang tua perlu membuat anak untuk berani. Mereka perlu untuk melibatkan anak dalam berbagai aktivitas di rumah dan memberi mereka pengalaman untuk memcobanya sendiri.
            Aku melihat satu keluarga Australia. Orang tua menghela bagasi dan anak mereka yang masih balita atau yang berusia sangat kecil juga ikut menghela bagasi mereka sendiri. Saat orang tua berada di dapur memasak sayur, mereka juga ikut mempersilahkan anak untuk mencoba memasak. Bukan melarang mereka- dengan alasan mengganggu. Ikut memberi anak pengalaman dan ikut melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan bisa membuat mereka cerdas dengan life skill.
            Mana kira-kira yang lebih kaya pengalaman hidup antara mahasiswa Indonesia yang kuliah di Australia dengan mahasiswa yang hidup bersama orang tua dan serba di bantu oleh orang tua. Tentu saja yang kuliah jauh dari orang tua, mereka akan lebih mandiri untuk membantu diri sendiri dan juga mengatasi problem diri sendiri.
            Mahasiswa yang tinggal bareng dengan orang tua, tidak masalah. Yang penting mereka musti punya peran dalam hidup dan mereka punya tanggung jawab dalam membantu diri sendiri terlebih dahulu. Anak- anak dan mahasiswa yang miskin pengalaman dan serba dibantu adalah anak- anak yang memiliki pribadi yang rapuh. Mereka bisa diberi gelar sebagai “Si anak mami”.
Sebelum jam 18.00 sore kami turun semua. Aku turun dari kamar 1012 untuk berjalan di bawah guyuran gerimis menuju restoran di daerah West Lake. Kami cari- cari dimana letak restoran ini. Tentu saja kami harus bertanya pada orang- orang yang lewat, dan tidak ada yang tahu. Kami kemudian bertanya pada salah seorang shopkeeper yang terdekat dan ternyata juga tidak mengenal resto yang kami cari.
            Namun aneh mengapa mereka tidak kenal (?), mereka sudah menjadi warga daerah ini atau paling kurang sudah lama tinggal di daerah ini. Semuanya hanya bisa bilang “I have no idea- maksudnya aku betul betul tidak tahu”.
            Beda dengan di Jakarta, kalau kita menanyakan sesuatu maka orang orang akan memberi respon. Paling kurang mereka akan memberi deskripsi tentang tempat yang bisa kami tuju. Entahlah mungkin kami belum bertanya pada the right man tentang the right place.
            Akhirnya kami berjumpa dengan resto yang kami cari. Tertulis nama “West Lake Restaurant”. Kami datang lebih cepat dari grup teman yang pergi shopping tadi. Kami menjadi tempat yang meja dan kursinya lebih luas dekat sebuah pojok, kami segera duduk di sana.
            Kami segera disuguhi minuman teh hangat, kami harus bikin tehnya sendiri- sendiri. Sambil menunggu grup teman, kami ngobrol tentang berbagai hal dalam bahasa Jawa, karena mayoritas temanku adalah berasal dari keturunan Jawa yang kebetulan menyebar ke propinsi lain. Aku mengerti dengan apa yang mereka obrolkan tetapi aku tidak bisa ngomong Jawa. Tentu saja orang orang Australia lebih tidak mengerti lagi dengan obrolan mereka.
            Pengunjung restorang yang lain, juga tidak ngobrol dalam bahasa Inggris. Mereka ngobrol dalam bahasa nenek moyang mereka, mungkin bahasa Vietnam, Korea, Japan China, atau bahasa lain. Kami sengaja minum air teh perlahan-lahan hingga teman-teman datang.  
Perut kami terasa keroncongan. Tidak ada yang special yang aku temui di restoran ini. Kecuali aku sempat menyapa salah seorang pelayan restoran. Ia adalah mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sini. Ia sekarang bekerja part time- kerja sampingan untuk mengatasi problem keuangannya.
Malam ini kami makan hidangan yang cukup lezat. Dulu- saat datang ke sini 6 bulan lalu- aku merasa sedikit curiga setiap kali makan daging pada restoran yang bukan milik orang muslim. Aku khawatir kalau termakan daging babi atau minyak babi- itukan haram. Namun karena sekarang kami berangkat dipandu oleh travel biro Reira- mengerti tentang Islam dan makanan halal.
Rahman, pemandu kami juga beragama Islam. Maka kami menyantap semua daging dengan penuh rasa aman. Moga moga semua daging dan semuahidangan yang kami konsumsi memang halal.
Usai makan malam aku sempat bertanya pada salah seorang pelayan perempuan berwajah China, berusia muda dan cantik, tentang apakah semua hiding yang konsumsi halal. ya prosesnya memang halal- katanya. Aku juga bertanya tentang tekhnik menggunakan chopstick. Aku pengen makan sayur atau mie pake chopstick. Wah cukup sulit juga menggunakan chopstick.
“ No, it is easy, just see and like this….hold up, open…close, open- close on your fingers”.
Pelayan itu memberi aku kursus kilat menggunakan chopstick- gratis. Ope- close- buka jari..tutup jari. Wah sulit dan aku butuh waktu latihan kira kira 20 kali atau 100 kali.
Alhamdulillah, perut kami semua terasa kenyang. Yang kepikir adalah kami pengen balik ke hotel. Kami cuma duduk sebentar, beres- beres dan tour leader mengurur biayanya- semua dibayar oleh negara dan kami ke sini adalah biaya negara.
Kami menuju mobil wisata yang sudah menunggu di luar. Kami semua diantar lagi ke hotel. Aku merasa lega. Aku bisa sholat maghrib dan isya dan juga bisa buat membaca dan menulis.

3. Membaca Membuat Anak Mengakses Dunia
            Ada banyak koran- koran Australia yang bisa aku ambil dan baca secara gratis. Semua harga koran sudah dibebankan kepada harga sewa kamar. Dengan demikian orang orang di sini jadi suka membaca, sedikit- sedikit mereka membaca. Ada satu topik yang menarik buat aku baca, yaitu tentang berapa jauh kosa kata bisa membuat seseorang bisa berubah.   
            Rick Morton (2013) seorang pendidik Australia mengatakan bahwa anak- anak dari kommunitas Yakanarra, di daerah terpencil Kimberley yang cukup terisolasi dari dunia luarbisa menjadi pengarang dan menguasai dua bahasa yaitu bahasa ibunya dan bahasa Inggris. Di sana dalam kenyataan bahwa ada satu dari lima anak yang bisa menjumpai buku bacaan, yang materi bacaannya pun masih sederhana dalam bahasa Inggris. Ternyata membaca bisa membuat anak-anak bisa mengakses dunia di luar kommunitas mereka. Oleh sebab itu anak-anak perlu diberi banyak buku bacaan sejak dini. Bagi anak yang punya prestasi perlu diberi reward.
            Kemudian Katheryne Shine (2013) juga mengingatkan agar orang tua meluangkan waktu agar bisa banyak bercerita-ngobrol- dengan anak dan juga membacakan cerita buat mereka. Karena anak yang mengenal berbagai bacaan- juga yang orang tuamereka sering mengajak mereka ngobrol- akan membuat mereka lebih cerdas dan berkualitas dalam percakapan. Sebaliknya, anak anak yang berasal dari keluarga yang tidak memperkenalkan buku- literasi- pada anak akan membuat kualitas SDM-nya jauh tertinggal dibanding dengan anak sebaya yang sudah mengenal buku/bacaan.  
            Ukuran keluarga (jumlah orang dalam keluarga) juga juga faktor yang menentukan atas kualitas bahasa (juga SDM) anak. Anak  yang memiliki saudara lebih banyak- tentu akan memperoleh pelayanan berbahasa dari orang tua- akan tertinggal kualitas bahasanya disbanding anak sebayanya. Untuk itu orang tua kita ingatkan agar selalu berbagi cerita anak-anak mereka sesering mungkin. Mungkin saat makan, saat mandi, saat berkumpul bareng keluarga dan juga saat menjelang tidur. Tentu saja anak anak selalu menyenangi suasana berbahasa yang hangat- bukan komunikasi/ bahasa yang penuh jengkel, hardikan dan marah.   

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture