Selasa, 07 Januari 2014

Kamar Hotel



Kamar Hotel
1. Green Apple Available
            Sejak dari Indonesia aku khawatir kalau aku bakal terserang sariawan. Maka sebelum berangkat aku membeli beberapa biji apple segar di Batusangkar dan menyimpannya ke dalam kotak dengan tujuan agar bisa aku konsumsi satu biji perhari di Australia. Mengkonsumsi buah segar sangat bagus buat pencernaan, apalagi buat mencegah gangguan percernaan. Kurang mengkonsumsi buah segar dan sayur bisa membuat kita susah untuk bab (buang air besar).
            Namun seperti yang dijelaskan oleh Rahman (tour leader) dan juga seperti yang aku lihat pada tulisan peringatan di bandara Sukarno Hatta, bandara Ngurah Raid an bandara Melbourne- Tullamarine- bahwa penumpang pesawat dilarang membawa sayur, buah segar dan beberapa produk makanan, herbal, minuman ke dalam Australia-ke dalam pesawat.
            Salah satu alasan logika mengapa Australia melarang penumpang membawa barang-barang tersebut buat masuk ke sini adalah buat melindungi produk makanan dan minuman benua ini. Dengan demikian perdagangan atau perekonimian ereka tetap jadi hidup.
            Aku jadi kasihan untuk membuang apple bagus tersebut, maka..ya aku bagi bagi buat dikonsumsi oleh teman- teman. Kecemasanku akan kekurangan buah segar tidak terbukti saat aku tinggal di Rydges Hotel ini. Meskipun banyak hal yang musti serba dibayar- serba dibeli di hotel ini, untuk apple semuanya gratis. Boleh ambil apple hijau atau apple merah dan malah boleh konsumsi kedua-duanya. Kami keberatan buat membeli dengan alasan mata uang dollar kami terbatas dan kalau ada yang tersedia secara gratis- ya kami nikmati sebaik mungkin.
            Abdul Hajjar melirik pada appleku ku. Mungkin ia merasa kurang segar dan tubuhnya butuh apple. Aku anjurkan ia untuk pergi ke parlour (ruang tunggu) dan di sana masih banyak tersedia apple merah dan apple hijau, tersedia secara cuma-cuma. Masing masing teman yang lain juga datang buat mengambil dan membawanya ke dalam kamar masing- masing.
            Kami sudah berada dalam kamar dan tiba tiba ada telpon. Siapa pula yang menelponku sampai ke Melbourne segala- fikirku.
            “Allo..pak Marjohan. Ini dari Rahman”
            “Iya, Mas rahman…,what’s the matter” Sapaku.
            “Begini, air mineral dalam kamar, bila label harga dan itu dibeli- dibayar. Menggunakan WiFi minta konfirmasi ke petugas hotel dan juga menggunakan TV juga musti bayar. Namun kopi, teh, crème ada yang tersedia gratis”.
            “Ohh..begitu. Berarti saya harus puasa, karena tidak tahu letak money buat menukar rupiah ke dollar”.
            “Tidak harus kehausan. Pak Marjohan bisa merebus air kran- airnya cukup layak buat diminum, coba panasin dengan tea-boiler. Setelah mendidih bisa bikin teh atau kopi atau krim, dan airnya juga bisa didinginkan. Itu semua gratis juga”.
            “Terima kasih Mas Rahman , yang sudah jadi problem solver bagi kami selama di Australia”.
            “Ah..biasa, itukan peran saya sebagai tour leader”. Kata Mas Rahman lagi. Ya kami merasa senang dan kami percaya saja untuk mengkonsumsi air keran- faucet water- karena supply air bersih Australia telah memenuhi standar air yang layak buat diminum.
            Aku tidak tahu kondisi waktu di Melbourne dan ternyata hari sudah menunjukan pukul 23.00 tengah malam. Sebelumnya aku sudah memanfaatkan waktu buat menulis dan membaca tentang Australia. Suhu dalam kamar terasa dingin dan aku menyukainya. Namun aku harus memasang kaus kaki untuk menjaga suhu tubuh ya…setelah itu aku tertidur dalam do’a pada Tuhanku- Allah Azza wajalla.
            Aku tidak merasa tidur di Melbourne, ya rasa tidur di Jakarta atau di Padang saja. Aku berharap bisamenengar suara azan untuk membangunkan aku- dan buat sholat subuh setelah itu. Walau dimana saja aku berada- sholat tak pernah aku lupakan, kan ada keringan buat sholat seperti melakukan qasar atau jamak.Wah itu impossible, ini kan Australia…!!!
             
2. Australia, negara Sekuler
            Australia telah mendelakrasikan diri sebagai negara sekuler, yaitu negarayang tudak mencampuri urusan agama warganya. Pendidikan agama buat anak- anak ya diurus oleh keluarga melalui komunitas. Ssebagai dampak bahwa gema agama tidak terasa. Dan mayoritas terlihat orang orang seolah-olah tidak beragama.
            Alhamdulillah kami merasa beruntung berada dalam satu grup yang masih kental dengan nilai agama Islamnya. Rasanya kalau kita selalu mengamalkan ajaran agama maka hubungan kita pada Tuhan dan juga pada manusia terasa dekat. Bila melihat orang susah, maka hati mudah tersentuh.
            Semalam saat kami berada di jalan di China town, aku perhatikan bahwa pada umumnya orang-orang tidak peduli atas kesengsaraan seorang pengemis. Tidak ada yang melirik padanya, entah itu penilaian subjektif aku saja. Kami sebagai orang yang datang dari Jakarta/ Indonesia merasa kasihan dan berfikir:
            “Mengapa pemuda ini menjadi gelandangan, dimana ibu dan bapaknya ?” Sementara itu aku perhatikan orang-orang lalu lalang saja dengan langkah-langkah amat cepat dan hampir tidak punya waktu buat sekedar melirik pada pengemis tersebut. Andai dia berada di kampungku- menjadi pengemis- adabanyak orang yang akan memberi dia santunan dan bakal berjatuhan coin-coin rupiah. Itu karena kita punya rasa belas kasih. Tetapi itu kan secuil peristiwa di Melbourne.
            Karena kurang mengenal agama maka free-sexadalah gaya hidup di sini. Sebagaimana yang aku lihat terhadap anak anak remaja Australia. Remaja di sini sangat memuja-muja cinta, juga kebebasan dan termasuk kebebasan sex.
            Di Rydges hotel, tempat kami menginap, aku melihat beberapa pasangan remaja- mungkin mereka masih kelas 3 SMA atau mungkin mahasiswa- memesan kamar dan melangkah dengan percaya diri menuju lift. Aku yakin mereka tidak menikah tetapi mereka tidur bersama tanpa merasa bersalah pada Tuhan.
            Kalau di hotel Indonesia- yang aku tahu- pasangan muda yang mau menginap di hotel musti memperlihatkan kartu nikah mereka. Kalau mereka tidak punya wah merekaharus menahan kantuk, atau kembali pulang, atau numpang tidur di pos ronda. Di Australia ketentuan ini tidak berlaku. Free sex sudah terlalu melangkah ke dalam kehidupan mereka.
            “Tidak…tidak, andai aku punya anak remaja ingin sekolah ke sini, ya aku belum memberi izin, karena khwatir mereka juga akan mengadopt pola hidup free sex. Yang lebih aman mengizinkan anak buat studi di sini ya setelah mereka cukup dewasa untuk berbuat dan berfikir”.
    









F. Menuju Dandenong High School

1. Satu dan setengah jam
            Hari ini adalah jadwal kami menuju sekolah- Dandenong high school. Jaraknya kira-kira satu setengah jam dari Rydges hotel. Sekolah ini terletak di suburb dan banyak sekolah berlokasi di suburb. Diperkirakan bahwa jalan menuju sekolah tesebut bisa lancar.
            Aku memilih bangku belakang, terasa lebih nyaman dan lebih rileks dan aku melemparkan pandangan ke luar. Aku melihat lebih banyak arus mobil/ kendaraan masuk menuju kota Melbourne lebih banyak ketimbang keluar kota. Berarti bahwa para pekerja di kotaMelbourne banyak yang tinggal di suburb.
            Aku merasa lapar, dan untung aku tadi pagi saat sarapan menyiapkan roti yang telah aku polesi dengan madu dan aku simpan dalam kotak. Ini cukup menghilang rasa laparku. Diam diam aku menikmati sisa sarapanku. Aku yakin bahwa teman teman di depan juga punya cara tersendiri buat mengusir rasa lapar mereka. Aku membuang pembungkusmakanan ke dalam tong sampah yang sengaja disedikan dalam bis ini.
            Aku berharap agar semua mobil di tanah airku juga dilengkapi dengan tong-tong sampah. Kita tahu bahwa semua sampah yang bertebaran di pinggir jalan di kampung kita itu semua berasal dari sampah yang sengaja dibuang dari kacsa mobil.
            Sebetul makan atau minum dalam mobil musti minta izin pada sopir. Kami semua sudah memperoleh izin dari Michael dan ia sudah memberi tahu pada kami untuk bisa jaga kebersihan. Oke kami tentu sudah tahu itu semua dan itu juga bagian dari gaya hidup guru guru terbaik ini, hhh.
            Sekali sekali bis kami melewati pom bensin. Atau pom BBM. Ada beberapa nama perusahaan BBM yaitu seperti Bp,Seven-Eleven, dan Liberty. Kalau di kampung kita- terutama di Sumatra Barat BBm masih dikelola dan dikuasai oleh Pertamina. Sama dengan di kampung kita bahwa pom bensin juga merupakan rest area. Di sana tersedia toilet, kafe, dan fasilitas ATM untuk warga Australia.

2. Ramah tamah di Sekolah Dandenong
            Setelah berada dalam bis selama kurang dari 2 jam, akhirnya kami sampai dekat Dandenong High School. Lokasinya di suburb atau di kabupaten. Kami menunggu dalam bis dan sementara itu Rahman turun untuk menghubungi pihak humas sekolah Dandenong. Bis akhirnya merapat ke sisi jalan dekat gerbang. Aku melibat ada palang yang menandakan bahwa semua kendaraan dilarang masuk ke halaman sekolah, alasannya adalah bisa merusak lantai pekarangan, aku melihat guru guru sekolah ini datang dengan taxi atau dengan tram yang lokasinya tidak jauh dari sekolah ini. Kami hanya diturunkan dan bis berangkat, karena bis dilarang parkir di sana.
            Kami mengikuti langkah Mas Rahman. Aku khawatir kehilangan moment dan memanfaatkan mengambil foto. Kami agakterlambat memasuki ruangan konferensi. Di sana kami disambut oleh Miss Susan Ogden- Kepala Sekolah Dandenong High School. Kami duduk melingkari meja bundar dengan lantai karpet. Dindingnya dikelilingi oleh pajangan foto-foto event sekolah. Ia sudah menjadi kepala sekolah di sana selama 1 tahun, dan secara keseluruhan ia sudah punya pengalaman sebagai kepala sekolah selama 24 tahun. Di sekolah ini ia dibantu oleh 4 orang wakil.
            Dandenong High School berdiri pada tahun 1919, dan merupakan salah satu sekolah tertua di negara bagian Victoria. Jumlah siswa di sekolah ini sekitar 2000 orang dan sekolah ini adalah sekolah multikultur, siswanya berasal dari berbagai immigrant dan menggunakan berbagai bahasa. Sekolah ini tentu saja sekolah heterogen ada suasana kompetisi yang sehat dengan demikian merupakan siswa dengan motivasi yang tinggi.
            Manajemen sekolah ini sangat baik, sehingga ada 3 sekolah telah bergabung atau merger dengan sekolah ini. Keputusan untuk merger bukan instruksi dari pemerintah tetapi permintaan dari masyarakat- orang tua siswa agar anak- anak merekajuga memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas. 3 sekolah yang merger juga bisa menerapkan seperti apa bentuk komunitas dan cara belajar yang diharapkan.   

2. Rahasia Manajemen Sekolah
            Sekolah yang sudah merger ini membentuk visi sekolah, kemudian merancang langkah strategis atau special misi buat menuju sukses. Dalam membangun visi mereka melibatkan banyak pihak seperti masyarakat, guru, orang tua dan alumni. Jadi membangun visi tidak menjadi hak mutlak seorang kepala sekolah.
            Kepala sekolah dan masyarakat meminta hadir semua guru dan mereka mengusulkan jenis atau pola mengajar yang sesuai untuk perkembangan kemajuan. Tentu saja banyak orang tua yang memiliki wawasan luas dan mereka memberi sumbang saran tentang bagaimana proses pengajaran yang bisa mengembangkan potensi murid. Kemudian juga meminta kepada guru sepertoi apa pola pengajaran yang bisa membuat guru-guru merasa nyaman.
            Ternyata ruangan tempat kami rapat adalah ruangan kelas. Pantasan aku melihat ada papan tulis, board marker dan juga foto foto aktifitas siswa. Aku juga ingin mengusulkan agar kelas- kelas di sekolah Sumatera juga lebih serius untuk mendesain kelas mereka.
            Pembelajaran di sekolah ini dilakukan dengan usaha yang innovative. Pembelajaran ada yang dilakukan oleh satu guru dan kalau jumlah guru berlebih maka dilakukan dalam team teaching, ada 2 atau 3 orang. Tugas team juga mendesain rencana pengajaran, melakukan dan menilainya- penilaian, misal dalam bentuk assessment dan kemudian menulis laporannya. Team bertanggung jawab atas 50 orang siswa per kelas.  
Tanggung jawab team teaching adalah one heart, tidak yang merasa superior dan yang lain merasa inferior. Pola team teaching yang damai perlu diaplikasi di sekolah kita. Setiap sore, guru mata pelajaran sejenis duduk bareng untuk membahas hasil kinerja mereka.

3. Suasana Kelas Yang Nyaman
            Usai bertukar fikiran dengan Miss Susan Ogden, kami dipersilahkan untuk berkunjung ke kelas. Aku mengikuti langkah seorang guru pemandu menuju sebuah kelas. Saat itu ada kegiatan PBM. Aku melihat suasana kelas yang berbeda. Satu kelas yang satu terhubung dengan kelas yang lain, kemudian aktivitas PBM di kelas sebelah bisa terlihat oleh guru lain.
            “Kenapa satu kelas dengan kelas yang lain hanya dipisah dengan kaca dan apa tidak mengganggu ?”:
            “Ini model pelayanan pendidikan kami. Kelas yang di sini dengan kelas yang di sebelah bisa saling melihat. Agar semangat bisa saling menular. Kalau kelas di sebelah belajar semangat, di sini tidak, maka sebagai guru, saya juga membuat kelas ini juga bersemangat”. Demikian penjelasan salah seorang guru.
            Tadi sebelum memasuki gedung kelas ini kami berjumpa dengan dua orang siswa, memakai jaketseperti jaket polisi, di punggungnya ada tulisan: on duty- atau sedang bertugas. Setelah kami tanya ternyata mereka sedang dapat tugas piket untuk kebersihan. Jadi mereka harus mencari cari sampah dalam perkarangan sekolah dan memungutnya dengan jepitan.
            Ide ini juga bagus untuk diadopsi, bahwa siswa yang piket kelas wilayahnya tidak hanya dalam kelas. Tentu saja ada dua orang perkelas memakai jaket piket dan mencari sampah di seputar perkarangan sekolah.
            Aku ingin mengambil foto. Mengambil foto siswa tentu saja diizinkan asal secara umum. Kemudian kami dipandu ke luar kelas- ke halaman. Kami melihat blok-blok gedung kelas. Ada gedung berwarna biru, berwarna hitam dan gedung dengan dinding batu-bata. Itu semua hanya sekedar membedakan kelompok kelas saja.
            Kami memasuki kelas yang lain dan PBM dipandu oleh team guru, dimana siswa duduk dalam grup. Team guru terlihat cerdas dan sangat kompak, tidak ada yang terlihat cukup dominan. Aku melihat bahwa meja guru hanya kecil saja, dan aku melihat tidak ada guru yang duduk- semua berjalan- beraktivitas dalam memandu siswa.
            Saat itu aku perhatikanm ada dua siswa yang bertugas hanya menyiapkan pertanyaan, ada kelompok yang memahami satu topik, ada kelompok lain yang memahami topik lain, dan juga ada siswayang sedang browsing internet untuk mencari info tambahan. Setelah itu akan ada proses prestasi dan kegiatan tanya jawab. Dan guru telah memiliki lembaran assessment di tangan.
            Aku memfoto setumpuk tugas siswa di atas meja guru. Saat itu adalah pelajaran bahasa Inggeris. Aku melihat coretan- coretan dan catatan revisi dan editing guru atas naskah artikel siswa, jadi guru betul- betul membaca tulisan siswa, tidak sekedar memberi tanda tangan dan memberi kata- kata “very good” saja. Tentu saja siswa merasa senang ya sebagai efek bahwa karya mereka ada dibaca oleh guru.
            Hari itu katanya adalah hari persiapan ekhibisi atau pameran budaya, karena para siswa berasal dari berbagai kultur di dunia. Mereka sedang mempersiapkan pernak pernik negaramereka, ada yang lagi membuat bendera, menulis kalimat dalam bahasa mereka- seperti bahasa Vietnam, Thailand, Indonesia, Croasia, dll. Adajuga yang bingin mempromosikan wisata, kuliner dan tari dari negaramereka. Mereka memajang dan setelah itu kelak akan saling mengunjungi stand masing- masing.
            Kalau sekolah di Jakarta, siswanya bisajadi berasal dari berbagai propinsi. Tentu saja mereka bisa mengadopsi kegiatan ini. Misalnya pada hari sabtu membuat kegiatan pameran daerah.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture