Selasa, 07 Januari 2014

Kepastian Untuk Terbang



Kepastian Untuk Terbang
1. Menunggu Informasi
            Kemaren aku berjumpa dengan Yayat, siswaku di SMA 7 tahun lalu, ia lulusan dari IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) dan sekarang ia bekerja di kantor Bupati Tanah Datar. Untuk sebuah kabupaten yang tergolong kecil di SumateraBarat, namun arus administrasi cukup padat. Aku tak sabaran menunggu turunnya surat izin buatku dari Bupati untuk ke luar negeri. Aku titip pesan dan mohon bantuannya agar surat batku segera diproses. Sebagaimana aku berprinsip bahwa berita dan informasi jangan ditunggu tetapi dikejar.
            Ada telepon dari Yayat bahwa suratku sudah di-acc oleh Bupati dan aku bisa menjemputnya segera ke asisten segera. Pokoknya dalam waktu singkat aku sudah berada di kantor bupati dan di kantor dinas Pendidikan. Aku harus menunggu karena hari Rabu ini adalah date line buatku. Akhirnya Pak Erman menyelesaikan penerbitan surat izin buatku. Setelah itu baru aku berani untuk memesan tiket bis eksekutif dan juga tikat pesawat menuju Jakarta.
            Aku memastikan tidak ada yang ketinggalan, seperti paspor dan dokumen lain. Aku memilah- milah isi koperku lagi. Yang tidak boleh kelupaan tentu saja, buku catatan, kamera dan peralatan elektronik lainnya.
            Aku membeli tiket pesawat pada tempat yang resmi agar jelas manajemen dan pelayanannya. Andai kelak ada keluhan maka jelas tempat untuk mengadu.malam ini aku sungguh merasa amat rileks- tidak ada kerjaan. Biasanya aku meluangkan waktu buat mengajar- mengulang pelajaran- kedua anakku, khusus untuk mendalami bahasa Inggrisnya.
            Bagi anakku yang sekolah di SMA, maka aku berharap agar kemampuan bahasa Inggrisnya musti sama dengan level mahasiswa. Sementara bagi anak perempuanku yang bersekolah di MTsN maka kemampuan bahasa Inggrisnya aku harapkan sama dengan kemampuan level SLTA. Dengan demikian ada target dan peningkatan kemampuannya.
            Aku dan istri musti juga menjadi guru bagi kedua anak kami. Kami berdua meluangkan waktu buat menggenjot kualitas akademik anak-anak. Mereka mendalami pelajaran sains dan matematik bersama ibunya. Untuk kemampuan bahasaArab, bahasa Inggris dan pelajaran sosial maka mereka belajar bersama ku.
            Habis sholat subuh di Mushola Mukhlisin- sebuah musholla kecil di depan rumahku, tiba- tiba aku mendengar deringan phoncell. Rupanya dari sopir mobil travel yang sudah bergerak menuju alamatku. Aku sendiri sudah berkemas- sudah standby- dan malah aku sudah memarkir bagasiku dekat gerbang rumah. Akhirnya sopir menghentikan mobilnya.
            Aku terbiasa mengambil bangku yang lebih, tempat duduk dan juga buat meletakkan bagasi. Dengan cara demikian pemilik mobil tidak merasa terganggu dengan jumlah barangku yang berlebih. Aku tidak ingin bertengkar seperti penumpang yang memesan hanya satu bangku sementara barangnya amat banyak, hingga di pajang di atas atap mobil.
            “Ya itu agar sopir dan penumpang merasa nyaman dan tidak merasa terganggu dengan keberadaan bagasiku. Ya aku bayar sewa mobil sedikit berlebih juga no problem bagiku. Itu demi kenyamanan diri dan juga kenyamanan penumpang mobil yang lain.  
            Hari ini tidak banyak penumpang yang menunggu mobil. Dalam mobil hanya ada aku dan sopir. Agar tidak sepi aku rajin memberi pertanyaan pada sopir. Untunglah dekat daerah Simabur- 20 km setelah Batusangkar- naik penumpang baru, yaitu seorang pria tua. Kini kami bertiga dan merasa berteman satu sama lain. Kami saling bercerita dan berbagi pengalaman. Waktu tidak terasa berjalan hingga akhirnya mobil telah sampai di komplek BIM dan aku turun pada salah satu pelataran.
            Aku sengaja tidak makan tadi pagi dan sekarang aku merasa lapar. Benar bahwa aku terbiasa tidak makan dan juga tidak minum kalau mau berpergian dengan mobil umum. Ini agar aku tidak bermasalah dengan perut/ perncernaakan.
            “Ahhh aku lapar…”Aku mampir pada sebuah resto yang terdekat, yaitu Resto Lumitu. Aku memesan hidangan sup ayam yang terasa lezat. Di depanku duduk tiga pengunjung lain- yaitu sepasang orang China yang selalu ngomong pake bahasa Mandarin dan satu lagi orang Melayu.
            Aku tidak mengerti apa yang mereka omongkan. Aku melihat bahwa mereka cukup tekun dalam menjaga budaya China. Namun kemudian aku yakin bahwa mereka adalah warga Singapura. Itu wajar karena di negara kecil ini ada 4 bahasa yang diakui negara yaitu Bahasa Inggris, bahasa China, bahasa Melayu dan bahasa Tamil. Bahasa- bahasa tersebut juga hidup di negara Malaysia.    
            Etnik China memang hebat,bukan terlalu berlebihan dalam memuji. Mereka adalah suku minoritas yang tersebar di kota-kota Indonesia dan mereka tidak memiliki tanah ulayat- tanah warisan adat- namun terkenal sukses dalam bidang ekonomi. Orang China tidak pernah bercita-cita ingin jadi PNS, mereka juga tidak punya sawah dan lading, namun mereka optimis tidak bakal kelaparan dalam hidup. Bila mereka punya anak, maka mereka terlebih dahulu akan mendidik anak untuk punyakarakter rajin bekerja dan punya mental berwirausaha.
            Aku pernah melihat orang China di Payakumbuh dan juga di Bukittinggi yang menempatkan meja dan satu stoples bon-bon, kemudian menyuruh anaknya yang lagi sekolah di SD untuk menjaga (menjual) bon-bon ini. Bukan saja tujuannya agar anak bisa beruntung namun mereka tengah mendidik jiwa berbisnis pada anak. Kecintaan berbisnis atau berwirausaha yang tertanam dalam jiwa anak sejak usia dini adalah modal buat hidup bagi mereka pada usia selanjutnya- terutama saat dewasa. Demikianlah kiat mereka menanamkan jiwa wirausaha dari generasi ke generasi.   

2. Chek-in
            Aku sekali- sekali memandang ke layar minitor untuk memantau daftar terbang pesawat. Aku memesan tiket murah, yaitu Lion Air Jt 353. Wow….peswat yang aku maksud nomornya sudah berada pada deret atas, itu maksudnya bahwa aku harus bersiap-siap buat check in. Sudah lewat pukul 09.00 pagi, ini mendekati jam terbang pesawatku. Aku segera check-in, menyerahkan billing tiket atau ticket itenary pada counter. Aku menerima satu tiket dan juga satu eksemplar tabloid.
            “Wooow…. Amazing ! Ada gerakan peduli pada aksara- ya sebentar lagi adalah hari aksara nasional. Setiap penumpang yang menyerahkan ticket itenary akan memperoleh satu tabloid “Harian Nasional”. Ini merupakan sebuah kebijakan yang hebat agar semua penumpang pesawat perlu membaca sebagai kebutuhan mereka. Memang dalam peawat sudah terlihat banyak yang membaca, prilaku mereka sudah seperti prilaku warga internasional, seperti dari Jepang dan Eropa. 
            Gerakan mendorong warga negara Indonesia untuk serius dalam membaca seharusnya perlu dihidupkan lagi. Sebab kita bisa merasa khawatir dengan fenomena dalam masyarakat bahwa banyak mereka yang lebih peduli menjadi “watching oriented”. Warga kita memang telah menjadi warga yang visual oriented- yang hanya terbiasa menonton: mampu mengkonsumsi lusinan DVD film dalam waktu satu minggu, juga suka mendengar dan menghabiskan rarusan jam hanya untuk mendengar senandung lagu.
            Kebiasaan menonton dan mendengar ini, tidak ada salahnya- juga memberi dampak positif dalam memperkaya wawasan seseorang. Namun sekarang yang membuat kita merasa miris adalah dengan eksistensi membaca. Budaya membaca kita, meskipun negara kita sudah lebih dari setengah abad merdeka, masih belum memuaskan. Negara- negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Australia dan New Zealand sudah memiliki budaya membaca yang sangat bagus. Kita perlu memiliki budaya membaca. Budaya membaca akan membuat masyarakat punya daya fikir yang lebih kritis, tidak sekedar serba tahu- namun juga mungkin serba dangkal.   
            “Ahaaa….aku nanti dapat bangku pesawat di nomor 12A, berarti aku duduk dekat jendela lagi. Aku lebih suka duduk dekat jendela karena bisa melemparkan pandangan jauh ke langit biru, kea wan putih dan ke bentangan bumi di bawah”.
            Aku ikut duduk di ruang tunggu buat panggilan boarding. Lebih enak membaca, aku menikmati membaca koran/ tabloid “Harian Nasional”. Konten- materi bacaanya yang aku suka adalah tentang serba-serbi, ini sangat menantang intelektual. Ada beberapa fitur yang dapat aku kutip, seperti:
            - Untuk berita internasional, aku memilih warisan global, yaitu tentang immigrant Myanmar yang ingin mencari suaka di negara lain- tentunya Australia. Mereka adalah dari suku Rohingya yang beragama Islam, yang menjadi suku minoritas dan merasa tidak nyaman hidup di kampung sendiri. Suku ini selalu merasa terancam dan tertekan oleh pemeluk agama mayoritas di sana.
            - Juga ada konten tentang peringkatan 12 tahun tragedy peledakan gedung WTC (Worl Trade Centre) tanggal 11 September. Orang Amerika selalu mengenangnya dengan sebutan “the tragedy eleven nine atau 11 September.
- Aku juga membaca tentang betapa pentingnya menghentikan penyebaran ideology radical. Badan nasional penanggulangan terorrisme sudah menandatangani tentang MoU (memorandum of understanding) kesepahaman dengan sentilan organisasi massa. Kemudian perlunya mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
- Aku juga membaca risalah atau kupasan tentang keluarga. Bahwa anak- anak yang tertarik berkeliaran di jalanan- di luar rumah- salah satu penyebabnya adalah gara- gara orang tua mereka bermasalah. Intinya bahwa orang tua perlu menciptakan suasana aman, nyaman, damai dan menyenangkan dalam rumah.          
- Kemudian banyaknya angka pekerja anak sebagai refleksi dari kemiskinan. Diharapkan agar rantai kemiskinan bisa diputuskan lewat pendidikan, pengalaman, bacaan yang berkualitas, dan juga melalui keterampilan yang berkualitas.
Aku dengar aba- aba bahwa pesawat kami agak tertunda terbang untuk beberapa menit, dengan demikian aku punya banyak waktu untuk melahap banyak bacaan. Aku sedang melahap topik tentang life style,- bahwa perempuan itu adalah makhluk yang indah dan lebih sempurna kalau perempuan memiliki dan memelihara aura (kharismatiknya) dan juga memiliki sense of inner beauty. Tentu saja pria juga harus mengimbanginya dimana mereka juga perlu memiliki karakter yang gentlemen.
Topik lain yang aku baca adalah tentang devisa. Bahwa lalu lintas devisa perlu untuk dikontrol. Kalau tidak diatur maka pasar valas- valuta asing- Indonesia akan mudah kering, akibatnya ekonomi kita akan bisa tergoncang ketidak stabilan pasar uang. Meskipun sebagai guru, aku juga perlu untuk punya wawasan yang luas, termasuk untuk juga mengetahui tentang dunia ekonomi.    

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture