Selasa, 07 Januari 2014

Menuju Pulau Bali



Menuju Pulau Bali

1. Cek out Dari Kalibata
            Jam 10.00 pagi inisaatnya kami harus cekout dari hotel Kaisar yang berlokasi di daerah Kalibata ini.tidurku semalaman sangat nyenyak dan ini membuatku merasa sangat bugar. Di bawah bis wisata sudah menunggu kami, kami semua menyeret bagasi. Bis segera menuju terminal keberangkatan internasional di Bandara Sukarno Hatta.
            “Oh, aku berjumpa dengan Niman lagi. Niman adalah officer tour travel yang bekerja untuk melayani orang yang bakal terbang ke luar negeri”.
            Niman sudah menunggu kami dan juga memandu kami ke dalam terminal. Kami masih punya waktu selama 3 jam untuk free- duty, maksudnya untuk kegiatan bebas di bandara sebelum boarding ke dalam pesawat. Kami sengaja melakukan shopping minuman dan makanan ringan saja. Kemudian kami juga sholat, ya jamak zuhur dan ashar.
            Pada mulanya kami mau membawa laptop ke Melbourne. Setelah difikir bahwa itu akan membuat hand carry jadi bertambah. Kami yakin laptop juga bakal tidak terpakai. Wah lebih baik ditip saja pada Niman. Dan Niman akan menyimpan semua laptop ini di kantornya.     
            Kami masih punya waktu satu atau duajam lagi. Pemandu kami, Mas Rahman segera datang. Aku sengaja duduk beberapa meter dari grup untuk menikmati satu cangkir kopi panas. Ya masih terasa panas sehingga susah buat aku minum. Wow sudah ada panggilan buat menuju ruang boarding- minumanku masih banyak. Ya aku tinggalkan saja, karena betul betul panas. Biasanya aku tidak terbiasa membuat makanan dan minuman bersisa, mubazir makana tidak direstui oleh agama Islam. Aku segera menyusul grup ke ruangan boarding.
            Ada beberapa tiket pesawat yang kami terima dari Niman tadi yaitu tiket buat Jakarta –Bali, Bali- Melbourne, Melbourne- Sydney dan Sydney- Jakarna. Mas Rahman kembali mengingatkan agar kami nanti tidak salah beri pada pegawai penerbangan nanti.   
            Aku sngat merasakan bahwa andaikata aku tidak punya kegiatan maka menunggu adalah sesuatu yang terasa lama dan membosankan. Aku sudah terbiasa untuk membaca dan menulis, jadi no problem, hingga jadwal  boarding menuju Denpasar segera datang.
            Aku tahu bahwa Denpasar atau Bali adalah salah satu pulau di Indonesia. Namun sebagai pulau internasional. Namun proses pergi ke sana sekarang ibarat proses pergi ke luar negeri, ya sedikit rumit disbanding pergi ke kota lain. Dalam pesawat yang aku naiki jumlah wajah penumpang yang berwajah Indonesialebih sedikit dari yang berwajah asing. Ini juga menjadi alasan bagiku bahwa pulau Bali adalah pulau internasional. Apalagi saat kami terbang sekarang juga sedang berlangsung ajang seleksi “Miss World”, maka seleksi atau prosedur boarding jadi lebih dicurigai- ya dengan alasan keselamatan dan keamanan pesawat dan pulau Bali.   

2. Jakarta dan Bali
            Seumur-umur aku belum belum pernah pergi keBali. Kadang- kadang kalau turis dan juga-juga teman luar negeriku bertanya “have you ever been in Bali ?”. Aku tidak bisa menjawab sudah apa belu, aku merasa malu karena sebagai orang Indonesia aku belum sempat ke Bali, maka untuk merespon mereka aku cuma tersenyum, atau terpaksa berdusta- meski itu tidak bagus. Jadi transit di Bali kali ini adalah merupakan kunjunganku yang pertama ke Denpasar/ Bali.
            Terbang Jakarta dan Bali jaraknya hanya 1,5 jam. Aku berangkat dengan pesawat Garuda dan aku merasakan adanya pelayanan yang sangat bagus. Kali ini juga ada gerakan cinta membaca secara tidak langsung dari pada penerbagan sebelumnya. Tidak hanya dengan pesawat ini, engan pesawat kelas ekonomi juga demikian.
Kemaren saat aku terbang dengan Lion Air dari Padang ke Jakarta, kami- semua penumpang- disuguhi sebuah tabloid. Sehingga banyak orang dalam pesawat terlihat membaca. Sekarang penerbangan dari Jakarta ke Denpasar kami juga disuguhi beberapa pilihan surat kabaroleh flight attendant pesawat Garuda buat dibaca. Penumpang boleh membawanya secara gratis.
Biasanya membaca dalam pesawat seolah-olah hanya budaya orang Barat.namun sekarang itu sudah budaya/ kebiasaan orang kita. Orang kita juga sudah membaca dalam pesawat. Ini adalah kebijakan manajemen penerbangan untuk membuat penumpang tidak bengong dalam pesawat- mereka musti punya kegiatan, seperti membaca, dan sekaligus untuk memantapkan SDM penumpang melalui membaca koran dan tabloid.
Aku sendiri menikmati beberapa artikel yang tersaji dalam majalah “Garuda Indonesia Colours”. Ada beberapa opini dan juga catatan yang bisa aku peroleh. Colourberbincang dengan Martha Tilaar mengenai kesuksesannya sebagai seorang beauty-preneur dan juga tentang komitmennya terhadap lingkunga. Pernyataanya adalah bahwa:
- Ia punya mimpi besar untuk mempercantik wanita Indonesia.
- Kekayaan alam dan budaya Indonesia sangat indah dan bervariasi.
- Kita perlu mencintai alam dan budaya Indonesia. Jangan kita ikut-ikutan latah tidak menyukai produk Indonesia. Kalau produk kita tidak berkualitas maka kita jangan hanya pintar mencela. Yang kita harapkan adalah agar ikut berkontribusi untuk meningkatkan kualitasnya- paling kurang ikut sumbang saran positif.
- Dalam menjalankan bisnis, Martha juga sering jatuh bangun. Namun ia mencari strategi untuk bangkit lagi.  
- Martha meraih gelar Doktor kehormatan (Honoraris Causa) dalam bidang fashion and artistry dari World University Tuscon, Amerika Serikat 1984. Ia juga melakukan banyak riset dan ia ingin mengubah cara pandang banyak orang ke arah positif melalui motivasinya. Walau iaorang kampung namun ia bisa juga untuk go international.  Mimpi Martha sudah tercapai, tapi iabelum puas, ia tetap ingin memperdayakan wanita Indonesia.    
Martha mengidolakan R.A Kartini dan juga Cut Nyak Dien. Tentu saja ia bisa mengidolakan kedua tokoh sejarah ini setelah membaca biografi mereka. Pengalaman kedua tokoh ini ikut memotivasi potensinya.
Martha sukses dalam karir juga sukses sebagai ibu. Ia punya 4 orang anak dan ia telah menjadi model ideal bagi anak-anaknya. Ia berprinsip bahwa ia hidup sebagai orang timur, maka ia harus hidup sederhana, menunjukan rasa hormat pada orang tua dan kepada siapa saja.

3. Bali Sebagai Pulau Internasional
            Sebagaimana yang telah aku katakana bahwa Bali adalah sebuah pulau internasional. Saat pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, aku mendengan turis berbicara dalam berbagai bahasa- bahasa negara mereka masing- masing.
            Parawisata pulau Bali sudah level internasional. Tentu saja manajemen wisatanya bagus sekali sehingga semua Propinsi di Tanah Air harusbelajar ke sini. Begitu memasuki terminal, kita dapat menemui berbagai brosur tentang tawaran berwisata.  Dari peta terlihat setiap jengkal geografi Bali adalah tempat objek wisata. Itu berarti bahwa setiap jengkal geografi Bali adalah bisnis yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Maka di saat mencari kerja itu sulit maka menata daerah dan mengaktifkan dunia atau industry wisata akan bisa mengurangi indeks pengangguran.
            Tampaknya bahwa parawisata di pulau ini tidak semata-mata dikelola oleh pemerintah, namun hampir semuanya diserahkan ke pihak swasta. Ada ratusan malah mungkin ribuan grup pemilik industry wisata di sini. Fungsi pemerintah hanya sebagai koordinator. Semuanya tumbuh dan mengiasi grup mereka dan pada akhirnya membentuk kecantikan pada pulau Bali.
            Orang orang asing sangat banyak yang bermukim di pulau ini. Dan tentu saja banyak teman dan keluarga mereka yang ingin datang- buat berlibur- dari negara mereka. Aku perhatikan saat keluar dari terminal bandara, warga Indonesia dan warga asing membaur satu sama lain dalam menyambut family dan kenalan mereka.
            Kami terus melangkah menuju ke terminal transit. Bule-bule, warga Australia, terlihat sudah sangat familiar dengan Bali. Tentu saja mereka lebih familiar dibandingkan dengan grup kami. Bagi kita pergi berlibur ke pulau ini masih termasuk sangat sulit dan juga mahal.              Kami masih punya waktu, sekitar dua atau tiga jam, sebelum terbang- menunggu buat boarding lagi menuju Melbourne.
            “Wah kesempatan ini kami manfaatkan buat rileks, buat duty free dan juga cuci mata. Namun yang paling penting kami perlu mencari praying room buat sholat. Akhirnya kami menemukan tempat sholat pada ujung sebuah gang. Di sini kami melakukan sholat jamak buat sholat magrib dan isya. Ada rasa tenang dalam praying room kecil ini, ukurannya mungkin sekitar 4 kali 4 meter”.
            Usai sholat kami belum mau keluar-pergi ke tempat lain. Kami menghabiskan sisa waktu dan bercanda sehangat canda anak anak kecil. Teman- temanku yang pada umumnya berlogat Jawa berbagi cerita, kadang mereka bercanda dalam bahasa kampungnya. Aku mengerti namun aku tidak bisa ngobrol bahasa mereka. Sekali sekali mereka tertawa terbahak- bahak memecah kesunyian di senja itu. Bule bule yang datang buat mampir ke toilet juga menoleh memperhatikan kami. Kami semuanya adalah 10 orang dan juga berasal dari 10 propinsi yang juga berbeda.
            Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan praying room. Aku melemparkan pandangan ke toko-toko buku dan juga toko kerajinan. Namun seleraku buat membeli buku muncul. Ingin rasanya aku membeli lusinan buku, tetapi tidak mungkin untuk menambah bagasi. Niat buat beli aku batalkan, mungkin nanti bila sudah balik lagi ke Indonesia maka aku akan bali banyak buku.
            Aku merasa senang memperhatikan prilaku bule-bule dan interaksi mereka satu sama lain. Ternyata mereka juga suka punya anak sebagaimana halnya orang- orang kita. Beberapa keluarga bule Australia baru saja pulang berlibur dari Bali atau mungkin dari bagian Indonesia lainnya. Bukan dimana- dimana saja anak-anak selalu mudah jadi rewel.dan aku lihat bahwa beberapa keluarga usia muda asal Australia sangat sabar dalam menenangkan balita mereka yang lagi rewel- mungkin karena mengantuk atau karena kelelahan.
            Mereka- ayah dan ibu- berbagi peran dan juga berbagi waktu dalam mengasuh anak dan dalam menenangkan anak. Berbagi waktu untuk menggendongnya. Agar balita mereka tidak terlalu bosan rewel dalam perjalanan, maka mereka telah menyiapkan kebutuhan balita seperti perangkat makan dan minuman ringan, alat alat elektronik buat hiburan dan juga alat tulis dan juga buku- buku cerita. Aku tidak pernah mendengan orang muda itu menghardik dan mengeluh pada balita mereka. Kesimpulan aku lihat bahwa mereka betul betul siap buat menjadi orang tua dan mereka tentu selalu membaca buku tentang parenting.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture