Selasa, 13 Juni 2017

Anak-Anak Keluarga Kurang Mampu Tidak Boleh Tertinggal



Anak-Anak Keluarga Kurang Mampu Tidak Boleh Tertinggal

            Ada artikel yang cukup memberi motivasi bagi orang-orang dari kalangan yang kurang mampu (the have no familly). Artikel tersebut ditulis oleh Molly McManus dengan judul “why do rich kids do better than poor kids in school?”. Saya baca artikel ini beberapa kali. Lantas saya teringat dengan kerabat saya yang hidup juga dalam siklus kemiskinan yang tinggal di pinggir Batang Anai (Sungai Anai) di Lubuk Alung, Sumatera Barat. Juga kenalan saya di kota lain yang hidup di bawah garis kemiskinan, dalam sebuah pondok kecil yang terbuat dari kayu- mungkin layak disebut sebagai “sebuah gubuk kecil”. Di dalamnya mereka tinggal  dengan anggota keluarga yang cukup banyak- 5 orang anak remaja, yang pendidikan mereka tercecer karena drop-out.
            Kerabat saya di pinggir Batang Anai di Lubuk Alung hidup dengat budget satu atau dua dollar perhari. Mereka hidup sebagai buruh tani, mengumpulkan batu dan pasir untuk dijual buat orang kota.
            Rumah kami, di pinggiran kota kecil Lubuk Alung- 35 km dari Padang- jauh dari sentuhan media massa. Para keluarga mengenal majalah, surat kabar dan buku-buku cerita buat dibaca. Listrik saja baru dapat diakses beberapa tahun lalu. Saya beruntung bisa pindah, dibawa orangtua, ke Payakumbuh, sehingga disana dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik dibanding dengan kaum kerabat  saya yang berdomisili di kampung.
Sementara kaum kerabat saya yang berprofesi sebagai buruh tani dan juga anak-anak mereka selalu punya masalah dengan pendidikan. Mereka  sering tinggal kelas hingga akhirnya drop out dari sekolah. Sebagai pilihan hidup, seolah-olah melanjutkan tongkat estafet buat rantai kemiskinan, anak-anak mereka kembali memilih menjadi buruh tani. Ya mengikuti profesi orang tua mereka dan akhirnya mereka juga hidup dalam garis kemiskinan.
Saya melihat bahwa anak-anak mereka (kaum kerabat saya) mengalami keterhambatan perkembangan- kepribadian sosial, kemajuan berbahasa, sikap adaptif, motorik halus dan motorik kasar. Apa yang dikatakan Molly McManus yaitu terulang lagi, yaitu  “mengapa anak-anak keluarga kaya prestasinya lebih baik dari anak miskin- why do rich kids do better than poor kids in school”.
            Fenomena seperti ini bisa saja terjadi di daerah lain di tanah air ini. Conny Semiawan dalam St. Sularto (2010: 55-56) melaporkan hasil risetnya di empat daerah yang beragam di Papua, yaitu: Merauke, Saruni, Nabire dan Jayapura. Masing-masing daerah tersebut mewakili daerah tertinggal yang geografinya seperti di  pantai, pedalaman dan pegunungan, perkampungan dan daerah kota, dengan keragaman sifat, sikap dan kemampuan peserta didik yang berbeda- beda.
            Temuan penelitian yang dipaparkan oleh Conny Semiawan adalah tentang kondisi keterdidikan anak Papua yang memperlihatkan keadaan yang memprihatinkan. Mereka ternyata mengalami keterhambatan perkembangan- kepribadian sosial, kemajuan berbahasa, sikap adaptif, motorik halus dan motorik kasar.
            Perkembangan hidup anak ketika berusia dini sangat berpengaruh pada kesiapan mereka untuk masuk ke dalam lingkungan pendidikan formal dalam usia selanjutnya. Dapat dipastikan bahwa sebagian besar dari anak Papua tidak akan siap untuk mengikuti proses belajar dengan baik di bangku sekolah dasar dimana kurikulum nasional diberlakukan secara seragam di seluruh wilayah Indonesia. Sampai kapan pun anak-anak Papua akan mengalami hambatan dalam belajar jika tidak ada intervensi dari pemerintah/ stake holder pendidikan untuk menaikan angka perkembangan hidup mereka untuk taraf nasional. Juga intervensi untuk mengembangkan kepribadian sosial, kemajuan bahasa, sikap adaptif, motorik halus, dan motorik kasar dari anak-anak Papua tersebut.
            Dibalik itu saya jadi teringat dengan kenalan saya, sebagaimana yang telah saya sebutkan, yang mana mereka hidup dalam lilitan kemiskinan, mungkin pendapatan ekonominya per-hari adalah sekitar 2 dollar. Sebagai buruh kecil- tukang tambal ban- rezekinya tidak menentu. Kalau lagi mujur maka banyak anak anak remaja (anak-anak sekolah yang membawa sepeda-motor) yang bocor atau kempes ban sepeda motornya maka dibawa begkel tambal ban kenalan saya tersebut. Maka da akan kebanjiran pekerjaan/ kebanjiran rezeki. Sehingga dia bisa membawa uang yang agak berlebih buat membeli lauk pauk buat keluarga.
            Kenalan saya yang miskin ini memiliki 5 orang anak yang sudah agak besar. Pendidikan mereka sebelumnya juga mengalami kesulitan akademik. Anak-anaknya  terlihat  susah payah  untuk menamatkan pendidikan dasar mereka, karena selalu bermasalah dengan guru dan mata pelajaran yang tidak menarik bagi mereka.
Saya lihat di anatara anak-anaknya ada yang sering tinggal kelas  dan juga ada yang drop out dari bangku SMP. Sementara itu mereka memiliki rumah kayu yang berukuran kecil, hanya ada satu ruangan buat berkumpul dan tidak ada ruang atau kamar untuk masing-masing anggota keluarga. Ruang keluarga yang ukurannya 3 kali 2 meter, menjadi ruangan banyak fungsi- ya sebagai dapur, kemudian menjadi ruang utama keluarga dan bila malam tiba, ruang tersebut menjadi ruang tidur bagi anggota keluarga yang masih lajang (anak laki-laki).
            Jika lagi panas terik atau suhu lagi tinggi, mereka memilih duduk di halaman di bawah pokok pohon yang rindang. Kadang tempat itu (bangku atau balai-balai di bawah pohon) juga berfungsi sebagai area keluarga- living room terbuka.
            Lilitan kemiskinan membuat anak-anak mereka tumbuh menjadi kurang berkualitas, mereka terlihat mudah emosional, sensitif sekali dan mudah cekcok oleh hal-hal yang sepele. Anak- anak mereka yang sudah dewasa menikah, dan lagi-lagi juga dengan pasangan yang serupa tingkat ekonomi, tingkat pendidikan karakternya.
Jadinya mereka tumbuh lagi dalam rumah kecil yang layak disebut pondok dengan gaya hidup yang juga sama. Mereka tetap miskin dengan pengalaman dan juga miskin dengan ilmu pengetahuan, terlebih juga miskin dengan keuangan. Lagi-lagi apa yang dikatakan oleh Molly McManus bertemu lagi yaitu “ mengapa anak-anak keluarga kaya lebih berprestasi/ beruntung dibandingkan anak-anak keluarga miskin”. Ya mereka cenderung mengulang kemiskinan orangtua mereka.
            Molly mcManus lebih lanjut menjelaskan tentang why do rich kids do better than poor kids in school. Mengapa anak-anak keluarga kaya berprestasi lebih baik daripada anak-anak orang miskin di sekolah. Penyebabnya adalah karena adanya “gap atau celah. Gap ini terbentuk sejak berumur 3 tahun yaitu terlihat dari kualitas bahasa (jumlah kosakata). Kosakata anak-anak keluarga kaya sedikit lebih banyak dari anak keluarga miskin.
            Molly McManus menambahkan bahwa ada sebuah studi yang dilakukan 30 tahun yang lalu dan ditemukan bahwa memang ada perbedaan (gap) antara anak-anak dari keluarga yang rendah income-nya dengan keluarga yang bagus posisi ekonominya. Perbedaan tersebut terlihat pada kualitas berbahasa, persisnya proses bertukar bahasa antara anak dan orangtua. Dimana terjadinya proses bahasa anak keluarga kaya, mereka lebih intensif berkomunikasi dengan satu sama lain.
            Saya kadang-kadang bersilaturahmi, mengunjungi rumah kenalan saya yang hidup dililit kemiskinan, dan ngobrol-ngobrol untuk mencari tahu tentang bagaimana kualitas kehidupan dan juga kualitas pendidikan dan mengapa anak-anak mereka dulu sering bermasalah di sekolah (setelah itu putus sekolah dan sekarang anaknya bekerja sebagai buruh serabutan). Mengapa pendidikan mereka dan anak-anak keluarga lain yang senasib bisa tertinggal/ bermasalah dan beberapa penyebabnya antara lain:
            a). Kondisi rumah
               Keadaan rumah mereka yang kecil hingga kesulitan menampung anggota keluarga, tidak ada ruang atau kamar sendiri buat urusan privacy anak-anaknya. Suasana               rumah yang kecil dan pengap berpotensi menimbulkan stress.
            b). Tidak ada budaya membaca
               Umumnya dalam rumah dari keluarga ekonomi lemah dan juga lemah tingkat pendidikannya memang tidak ada sarana buat mendukung budaya membaca (tidak ada koran, buku bacaan, majalah-majalah bekas sekalipun), sehingga kualitas verbal atau bahasa mereka juga kurang menarik. Jadinya  para anggota keluarga satu-sama lain cenderung berbahasa agak kasar (berbahasa yang emosional), menghardik-hardik dan gara-gara hal sepele mereka jadi  mudah saling melukai perasaan satu sama lain.           
            c) Tidak adanya time management yang jelas.
                Time management atau pengelolaan waktu dalam suatu keluarga harus ada. Misal kapan waktu sarapan, makan siang, makan malam, waktu buat bangun, waktu untuk tidur, waktu buat bikin PR, dll. Dalam keluarga miskin ini tidak jelas. Televisi menyala dari pagi hingga malam, sehingga suasana ruang rumah yang kecil dan pengap ikut menjadi berisik. Jadinya anak-anak juga  tidak mengenal tetang pola tidur. Anak-anak terbiasa begadang hingga tengah malam. Keesokan pagi harinya mereka harus pergi ke sekolah dengan keadaan mata mengantuk. Tentu saja sekolah dan pelajaran tidak begitu menarik buat diikuti. Ini adalah penyebab awal mengapa anak keluarga miskin bermasalah dengan sekolah.
            d). Tidak ada model tetang cara bertanggungjawab.
             Tentu saja keluarga miskin sangat minus dengan pengetahuan parenting. Dimana anak-anak kurang dilibatkan untuk bisa mandiri- seperti ikut mengurus diri sendiri: memasak, mencuci, menstrika, terutama untuk anak laki-laki. Apalagi mereka punya persepsi yang salah bahwa “memasak, mencuci, menstrika” bukan pekerjaan anak laki-laki. Jadi anak laki-laki tidak tahu dengan tanggung jawab. Jadinya anak-anak mereka tumbuh menjadi orang-orang  yang sangat pemalas.  
            e). Tidak ada budaya memuji.
Kata-kata penuh simpati seperti “terimakasih, maaf dan memuji” belum tubuh dalam lingkungan keluarga miskin. Karena kata-kata tersebut perlu kecerdasan orangtua (parenting) untuk membudayakannya. Sehingga kata-kata dan ungkapan yang sering muncul  adalah banyak mencela, menghukum, mencaci, menghina  dan hingga membullying sesama anggota keluarga. Ini semua sering memicu terjadinya pertengkaran.
            f). Only Watching TV
Yang ada hanya budaya menonton, memerintah dan mengancam. Ya seperti yang telah kita paparkan di atas tadi. Ini terjadi sepanjang hari dan sepanjang masa dalam kehidupan mereka.
Namun tidak semua keluarga yang hidup dalam kategori miskin melahirkan anak-anak yang selalu lemah kualitas pendidikannya. Di tempat lain, beberapa tahun yang lalu, saya juga berkenalan dengan sebuah keluarga yang miskin secara ekonomi. Namun di sana terasa adanya kehangatan dalam berkomunikasi, terjalinnya bahasa yang sopan dan santun antara orangtua dan anak.
            Walau rumah mereka sederhana, tebuat dari kayu yang sudah dimakan usia, dindingnya reot, namun di dalam rumah ada cukup kamar untuk anggota keluarga dan mereka privacy. Sang ayah memiliki koleksi buku-buku berkualitas dan juga koleksi majalah. ( saya sendiri sempat meminjam sebuah buku koleksinya yang berjudul- Soekarno as retold to Cindy Adam). Dan dia mengajak anak-anak mereka untuk juga cinta membaca.  Karena  sang ayah sendiri adalah juga seorang pembaca yang hebat. Uang boleh sedikit namun ilmu pengetahuan harus luas dan dalam, karena ilmu pengetahuan yang luas akan membuat keluarga berwibawa dan dihargai masyarakat.
            Meski jumlah uang sedikit, sang ayah terbiasa menyisihkan uang buat membeli buku-buku bekas yang berkualitas dan juga majalah bekas. Karena semua anggota keluarga suka membaca, mereka jadi kaya dengan wawasan dan gaya bahasa mereka juga terpelihara dan sangat berkualitas, mereka saling menghargai dalam berkomunikasi. Anak- anak-anak juga terlatih untuk bertanggungjawab dan juga hidup mandiri, terbiasa melayani diri dan juga melayani satu sama lain. Apa yang dikatakan oleh Molly McManus tidak terbukti, karena anak keluarga miskin juga bisa lebih baik dari anak keluarga kaya.
            Ada kisah nyata (true story)  yang berjudul “True Story- Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar- sebuah kisah perjuangan yang sangat menggugah, dari mahasiswi berkantong pas-pasan hingga bisa meraih penghasilan 1 juta dolar di usia 26 tahun, ditulis oleh Aberthiene Endah (2012), Penerbit Gramedia- Jakarta. Buku tersebut milik perpustakaan sekolah saya, tidak seorang pun yang tertarik membacanya. Bukan buku tersebut tidak punya kualitas, namun karena semangat literasi kita rata-rata masih rendah. Namun secara iseng saya baca dan akhir merasa sangat tertarik dan segera saya melahap isi buku tersebut.
            Merry Riana mengatakan bahwa wajahnya cenderung menunjukan ekspresi tertawa. Dia tumbuh sebagai anak perempuan yang lincah dan attraktif. Di sangat suka dengan hal-hal yang berbau kesenian, dia sangat gemar menyanyi dan menari. Masa kecilnya dengan pola hidup yang digelar orangtuanya memungkinkan dia berkembang menjadi anak perempuan yang luwes.
            Saat ada kerusuhan sara di Jakarta tahun 1998- saat juga terjadi krisis moneter, terjadi pergesekan sosial orang yang merasa sebagai kaum pribumi merasa anti pada keturunan etnis Tionghoa. Papa dan mamanya kemudian melakukan pembicaraan serius dengannya untuk mendiskusikan masalah kuliahnya di luar negeri- karena kondisi Jakarta dianggap rawan- dan dia sangat terkejut.
            Dia adalah anak perempuan yang tidak pernah berpikir bahwa akan ada satu masa di tengah masa mudanya, dia akan pergi meninggalkan keluarga atas alasan yang tidak cukup enak. Yaitu kerusuhan. Papanya menjelaskan dan akan berjuang untuk mengatasi biaya sehari-harinya di Singapura. Untuk biaya kuliah, mereka akan berutang pada bank yang bekerjasama dengan institusi pendidikan  yang mereka pilih. Dia mengangguk dengan perasaan gentar.
            Memang di dalam hidup kita tidak bisa banyak berharap tentang segala yang kita dambakan bisa diraih dalam sekejap mata. Makanya kita harus melakukan perjuangan dan berdoa, maka Allah akan menunjukan jalan selangkah demi selangkah. NTU menyediakan pinjaman biaya pendidikan yang meliputi biaya srama, biaya kuliah, dan uang saku, yang akan diberikan setiap enam bulan. Sementarauntuk biaya buku dan kebutuhan lainnya, mahasiswa harus menanggung sendiri. Jumlah utang yang diberikan, jika ditotal mencapai sekitar 300 juta rupiah atau 40 ribu dolar Singapura dalam kurs saat itu. Jadianya dia tak perlu banyak berbelanja agar bekal uang dari orangtua tidak cepat habis.
            Jadinya Merry Riana berpikir positif bahwa kepergiannya ke negeri orang tanpa didampingi orangtuanya brangkali adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan kemandiriannya di sana. Dia berusaha untuk menciptakan keberanian semangat. Perasaan bahwa dia sedang didik untuk mandiri.
            Sebagai mahasiswa NTU, sebuah kondisi baru menyambutnya degan satu pilihan saja: bertahan eksis sebagai mahasiswi dalam balutan kemiskinan. Dia bercerita bagaimana menghadapi masa transisi yang cukup mencekam. Sebuah transisi yang mengantarkan dia dengan kehidupan baru di mana pikiran dan keberanian sangat berpengaruh dalam kelanjutan hidupnya.
            Dia dan tidak pernah berdiskusi dengan orang-orang yang pernah melewatkan studi di Singapura, setidaknya untuk menanyakan biaya hidup rata-rata, harga makanan rata-rata, dan sebagainya. Ada konsep lihat saja nanti di antara keberanian yang dia hidupkan. Akhirnya dia sampai di NTU. Seperti apa NTU itu ? Teramat sangat indah mengingatkannya pada kampus Universitas Indonesia. Tetapi jauh lebih rimbun. Di kampus NTU dia mulai merasakan detik-detik yang penting. Dia memesan nasi goreng. Tanpa tambahan apa-apa. Nasi goreng polos. Habis makan, dia mulai mengambil dompet dan untuk pertama kalinya dia mengegrakan jemarinya pada lembaran uang dolar Singapura. Pemilik kantin langsung memberitahukan harganya padanya.
“Dua dolar,” di tahun 1998 kurs menjadi sepuluh ribu rupiah per dolar. Dua puluh ribu harus dia keluarkan untuk sepiring nasi goreng tanpa imbuhan apapun. Hanya nasi, sedikit bumbu dan kecap. Rasanya ia ingin mengatakan tak jadi mmbeli. Dia berpikir apakah bisa makan dengan sepuluh ribu saja sekali makan. Bagaimana bila dia makan dengan sayuran, dan lauk daging, buah dan minumannya ? Otaknya langsung disinggahi kalkulator dan dia merasakan hidup mendadak jadi rumi sekali.
Saat memasuki kamar dia merasa berdebar. Kamar asrama ternyata tidak secantik saat dia lihat dari sisi luar. Sama seperti kamar-kamar kos mahasiswa di Indonesia. Ruang dalam kamar jauh dari dugaanya, ternyata kondisinya sangat sederhana. Di dalam kamar berukuran 3 m x 4m itu hanya ada sebuah dipan kayu dengan kasur tanpa seprai, sebuah meja tulis sederhana dan lemari kecil.
Hari itu dia dan sejumlah teman Indonesia yang memerlukan pinjaman dana untuk kuliah akan diantar oleh senior ke sebuah bank pemerintah yang bekerja sama dengan NTU. Mereka akan diberi pinjaman 300 juta rupiah dalam kurs dolar Singapura. Biaya sewa asrama dan uang saku diberikan setiap enam bulan, sebesar 1.500 dolar.
Dia langsung berhitung dengan sangat cepat. Uang 1.500 dolar dibagi enam, menjadi 250 dolar perbulan. Sewa asrama asrama 180 dolar perbulan. Sisa 70 dolar. Biaya buku, fotokopi dan lain lain sekitar 30 sampai 50 dolar. Sisa sekitar 40 dolar. Wah dia terpana, berarti uang saku yang ada hanya 10 dolar seminggu. Itu yang bisa digunakannya buat hidup selama 7 hari, dan dia menjadi benar-banar lemah.
Ya itulah eksistensinya, mahasiswa yang harus bertahan hidup dengan uang 10 dolar Singapura seminggu, di mana harga sepiring nasi goreng polos tak kurang dari 2 dolar. Sementara dia harus makan tiga kali dalam sehari, selama tujuh hari. Pikirannya mendadak begitu ruwet memikirkan perhitungan itu. Dan dia membangun semangat dengan mati-matian.
Merry Riana membeli buku. Harga buku itu membuatnya terperanjat. Bagi kebanyakan mahasiswa lain tu tidak mahal. Tapi untuknya, itu cukup untuk menguras isi dompet. Seberapa kuat dana yang dia bawa dari Indonesia, hanya cukup untuk membeli buku-buku awal kuliah. Sebelum berangkat ke Singapura dia memang telah membuatkan akun email untuk mamanya agar mereka bisa berkirim kabar dengan gratis. Jika mengandalkan telepon itu akan sangat menyedot biaya.
Dulu saat di Jakarta bila lapar dia sering merebus sendiri mi instant sekedar iseng ingin mengganjal perut setelah makan. Tetapi tak pernah dia rasakan getaran sedramatis seperti hari itu. Betapa berartinya kini mi instan itu bagi hidupnya.      
 Berjuang hemat, dia mengatasi rasa takutnya dan membangun keberanian dengan paksa. Jatah uang saku  sepuluh dolar ya sepuluh dolar. Dia tidak perlu berpura-pura dan itu bukan di Jakarta. Dia sendiri menghadapi kenyataan hidup yang konkret. Hal pertama yang dibangunnya adalah menciptakan sebanyak-banyaknya pikiran positif.
Uang sebanyak sepuluh dolar seminggu adalah jumlah yang membuat siapa pun di Singapura akan bergidik jika itu diharuskan cukup untuk bertahan hidup seminggu. Masa bertahan di tahun pertama kuliah merupakan embrio keberanian luar biasa yang akan melontarkan dia pada semangat-semangat berikutnya. Saat itu dia belum terpikirkan untuk melakukan hal apa pun guna mendapatkan tambahan uang, seperti kerja paruh waktu. Dia putuskan untuk bertahan dengan strategi bisa menahan lapar sebisa mungkin. Itu saja sudah cukup bagus.  
Masalah selanjutnya adalah kecermatannya mengatur strategi untuk mengoperasikan uang 10 dollar. Pada akhir pekan dia ke ATM, mengambil 10 dolar. Kemudian membeli roti tawar besar yang akan menjadi bekalnya ke kampus setiap siang. Satu bilah roti tawar cukup untuk beberapa hari. Setiap pagi dia merebus mi instant untuk sarapan. Kadang dia bahkan tidak sarapan jika mi instan habis. Tidak ada makanan camilan sampai jam makan siang tiba.
Dengan bekal roti tawar, dia tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan di kantin. Apa yang dia atur itu sangat mudah mengatakannya, tetapi sulit merealisasikannya. Kuliah teknik dan praktikum adalah aktivitas yang menyedot energi. Pada pukul sepuluh dan sebelas dia sudah didera kelaparan hebat. Mi instan rebus ternyata tak cukup kuat memberi energi sampai menjelang siang.
Siang hari masalah lain muncul. Teman-teman kuliahnya biasanya akan melakukan diskusi tentang pelajaran di kantin, sambil makan siang. Tentu saja dia ingin mengikuti ajang diskusi itu karena penting bagi wawasannya. Mana kala temannya membeli makanan dan bersantap sementara dia tidak. Pandangan mata teman terlihat menyelidik ke arahnya. Beberapa kali dia mengatakan tidak lapar, tetapi akhirnya perutnya berbunyi.  
Jadinya dia mengatur, dua atau tiga kali seminggu dia makan siang di kantin sekolah. Itupun dengan memilih kedai yang paling murah- 1 dolar. Dengan uang sejumlah itu dia bisa mendapatkan nasi dan 2 jenis sayuran. Biasanya dia memilih sayur tauge dan sayur tahu. Yang menguntungkan di kedai itu juga disediakan sepanci besar kuah kari, gratis. Dia paling bersemangat menyendok kuah kari atau kaldu, mana tahu bisa mendapatkan potongan daging. Namun betapa langkanya dia menemukan sepotong daging saat itu.
Dia sempat syok, dan hampir setiap malam dia duduk di depan jendela dan menahan tangis. Dia mengusahakan bisa mengerjakan tugas kuliah sambl menahan perut yang yang kurang kenyang dan perasaan sedih yang dalam. Di asrama ada mahasiswa India yang hampir setiap hari aku kepergok olehnya sedang merebus mi.
“Hei, bukankah makanan itu tidak sehat kalau dimakan setiap hari ? Kamu tidak takut sakit ?” Tanyanya dengan wajah menyiratkan keseriusan.
“ Aku suka sekali mi instan”, Jawab Merry Riana singkat dan tersenyum lagi. Perasaannya benar-benar getir saat mengucapkannya.
Acara makan bekal roti tawar di kampus pun bukannya tanpa beban. Nyaris tak ada satu pun mahasiswa yang membawa bekal, apalagi hanya dua lembar roti tawar ke kampus. Maka dia akan melahap roti di...toilet, ya di toilet. Acap kali pintu toilet digedor orang yang merasa curiga kenapa pintu toilet terkunci begitu lama tapi tak terdengar suara. Jika sudah begitu, dia menekan tombol flush untuk memberi sinyal bahwa masih ada orang di dalam.
Dia juga tidak membeli air minum untuk menghemat uang. Bagaimana dia melepas rasa dahaga ? Ya dari air keran. Biasanya mahasiswa memanfaatkan tap water untuk mencuci muka atau sekedr mencuci tangan, tetapi bagi Merry buat minum- melepas dahaga. Ya tap water itulah yang menjadi andalannya untuk minum. Dia menampung airnya ke dalam botol air mineral kosong yang dia bawa.
Begitulah perjuangannya untuk bertahan mendapatkan tenaga dari makanan dengan cara mengirit habis-habisan. Ada juga strategi unik menghemat uang sengaja mengikuti jadwal kegiatan beberapa organisasi. Misalnya ada perkumpulan keagamaan, setiap kali ada acara kumpul-kumpul, mereka akan menutup kegiatan dengan makan bersama yang disediakan gratis.
Beberapa perjuangan hidup, manusia tidak akan mengetahui kekuatan maksimalnya, sampai ia berada dalam kondisi di mana ia dipaksa kuat untuk bisa bertahan. Jika hari ini dia ditanya, kepada siapa dia harus berterimakasih atas sukses yang dia raih. Tentu terimakasih patut ditujukan pada Allah- Tuhan yang telah memberikan dia kesulitan luar biasa di usianya yang masih sangat belia. Ujian yang sulit melahirkan kekuatan ajaib yang tidak terduga.
Perut Merry sudah terbiasa dengan asupan gizi yang datang dari mi instan rebus di pagi hari, dua lembar roti tawar di siang hari, jika beruntung bisa numpang makan di acara-acara berbagai organisasi, dan itupun juga jarang. Sesekali dia makan di kantin kampus dan merasakan nikmatnya hidangan mewah berupa nasi, oseng tauge dan sepotong tahu. Seharga 1 dolar.
Begitulah dia membangun rasa syukur atas kebertahanannya melewati hari hari super irit- super hemat. Tak jarang sejumlah teman asrama melakukan janji beramai-ramai hangout (nongkrong) ke Orchad. Sekadar mengopi atau berbelanja. Tak jarang pergi makan siang ke kafe di luar kampus karena bosan dengan makanan di kantin. Godaan semacam itu harus ia tahan mati-matian.  
Buku tersebut sangat menginspirasi saya dan tentu juga menginspirasi banyak orang lainnya. Saya merasa beruntung bisa menamtkan buku tersebut. Akhirnya Merry Riana melakukan kerja sambilan. Ia sangat gigih dan seorang pemberani untuk berjuangan mengatasi kesulitan hidupnya. Kerjanya adalah menyebarkan brosur buat orang yang lalu lalang, itupun dengan upah yang kecil, namun jumlahnya cukup signifikan untuk mengatasi kesulitan. Tidak mencari pekerjaan lainnya, hingga akhirnya ia bisa bekerja di perusahaan yang berhubungan dengan servis di bidang keuangan. Juga buku ini membuktikan bahwa anak yang miskin bisa lebih berhasil dibanding anak dari keluarga kaya.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture