Selasa, 13 Juni 2017

Keterampilan Dan Keberanian Untuk Kehidupan



Keterampilan Dan Keberanian Untuk Kehidupan

            Skill and experiences ring more louder than theory- keterampilan dan pengalaman lebih nyaring bunyinya dari hanya sekedar teori. Kalimat ini bisa kita buktikan dalam pengalaman hidup ini. Misanya pada apa yang terjadi pada seorang lelaki muda, sebut saja namanya Abdul Jalil, lelaki muda immigran Mesir. Abdul Jalil seorang lelaki muda asal Mesir berwajah tampan, tinggi sekitar 180 cm dan berambut ikal. Ia mampu berkomunikasi dalam empat bahasa yaitu bahasa Arab, Perancis, Inggris dan bahasa Indonesia.
Pastilah ia seorang lelaki yang smart. Kemampuan polyglotnya- banyak bahasa- juga dibuktikan dengan kemampuannya menulis dalam huruf Arab dan huruf latin buat bahasa Indonesia, Perancis dan Inggris. Saya sendiri merasa susah payah untuk menguasai tatabahasa Arab dan Perancis serta menulis dalam huruf Arab. Sementara bagi Abdul Jalil keempat bahasa ini sudah terasa amat fasih dan amat mudah bagi lidahnya. Sekali lagi bahwa pastilah ia seorang lelaki muda yang amat cerdas, dan kecerdasanya ini akan mampu mendatangkan banyak keberuntungan baginya, semisal kekayaan dan uang yang jumlahnya lebih dari cukup.
Wah ternyata itu tidak. Malah tiap hari ia hidup dalam kondisi yang bersahaja dan sangat sederhana. Saya sering menjumpainya merokok yang tidak putus-putusnya, ini sebagai indikasi bahwa ia lagi dilanda stress akibat tidak punya uang. Ya baginya uang susah buat mampir. Mengapa hal ini terjadi ?
Saya yakin bahwa saat masih berada di Mesir, Abdul Jalil pasti seorang siswa yang sangat cerdas dan sangat berbakat. Huruf bahasa Arab dan tatabahasa Arab sangat jauh berbeda dengan tatabahasa Perancis dan Inggris dan perbedaan antara huruf Arab dan huruf Latin. Namun itu semua sangat dikuasai oleh Abdul Jalil. Sehingga suatu ketika ia menjumpai situs Darmasiswa yaitu “an Indonesia scholarship program” yang boleh dilamar oleh mahasiswa dari 83 negara di dunia.
Beberapa tahun lalu saya sempat berjumpa dengan para mahasiswa asal Eropa Tengah (Rumania dan Bulgaria) yang tengah belajar di Sekolah Tinggi Seni di Padang Panjang melalui program beasiswa Darmasiswa dari Dikti. Juga saya berjumpa sangat banyak mahasiswa asing yang terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Gunadarma juga melalui program beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia.
Setelah membaca informasi tentang kuliah beasiswa di Indonesia dan membaca profil beasiswa Darmasiswa, maka Abdul Jalil menjatuhkan pilihan untuk kuliah di Indonesia dengan pilihan jurusan Bahasa Indonesia. Tentu saja sebelum menjadi mahasiswa di Indonesia, dia telah bergiat untuk menguasai dasar-dasar bahasa Indonesia secara self learning. Ini dibantu dengan teknologi google language dan juga situs-situs belajar bahasa lainnya. Utamanya dia menguasai cara pengucapan bahasa Indonesia, kosakata dan tatabahasa dasar bahasa Indonesia.
Akhirnya Abdul Jalil berangkat menuju Indonesia setelah lulus seleksi, mengurus dokumen keimigrasian dan visa belajar di Indonesia ari kantor Kedutaan Indonesia di Kairo. Abdul Jalil memilih jurusan bahasa Indonesia dan kuliah di UGM Yogyakarta. Tentu saja ada visi dan misi mengapa dia tertarik buat belajar bahasa Indonesia, mungkin juga ingin menikah dengan orang Indonesia ?
Keputusan menikah di Indonesia memang beda dari Mesir. Pernikahan di Indonesia bisa dibikin lebih sederhana dan juga bisa dibikin sumper rumit dan super mewah. Bagi yang belum mampu biaya menikah bisa dicicil ada pinjam uang sana-sini. Tidak demikian halnya dengan di Mesir. Bisa jadi sepasang anak muda yang saling jatuh cinta begitu mendalam, namun ketika mau menikah cinta mereka bisa berantakan.
Di Mesir menikah tidak cukup sekedar bermodalkan cinta saja. Banyak pemuda Mesir merasa kesusahan buat menikahi kekasih mereka karena mahalnya harga mahar. Orangtua akan meminta mahar dengan nilai sekitar 150.000 EGP atau setara dengan 225 juta Rupiah. Cukup banyak yang merasa tidak mungkin bisa punya tabungan sebanyak itu. Khusus bagi laki-laki yang masih muda, yang tidak punya uang, jadinya cinta mereka harus. Selain biaya mahar yang tinggi, biaya pesta perkawinan juga cukup tinggi yaitu sekitar 50.000- 100.000 EGP, atau sekitar 75 juta hingga 150 juta rupiah.
Ada juga yang mengatakan bahwa bukan mahalnya biaya mahar, namun seorang laki-laki Mesir yang mau menikah harus menyedakan terlebih dahulu sebuah rumah atau apartemen buat istri mereka setelah menikah. Harga sebuah apartemen sekitar 225 juta Rupiah, ya setara dengan harga sebuah rumah perumnas ukuran sederhana di Indonesia. Tidak semua lelaki muda yang mau menikah bisa menyediakan rumah, jadinya banyak laki-laki Mesir yang telat menikah, yaitu mendekati usia 40 tahun.
Hal yang demikian juga dialami oleh Abdul Jalil. Mahalnya harga pernikahan membuat laki-laki ini tetap single sampai usia di atas 30-an, sampai ia punya kesempatan untuk memperoleh beasiswa kuliah di Yogyakarta. Dengan kemudahan media sosial, utamanya Facebook, dia mulai rajin berselancar- browsing- untuk mendapatkan gadis idamannya yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Akhirnya yang beruntung adalah seorang gadis di Sumatera. Mereka saling kontak dengan intens dan berjanji, sempat saling ketemuan di Jakarta dan Yogyakarta beberapa kali.
Gadis lembut Sumatera sangat merespon cinta lelaki ganteng ini. Kualitas cinta mereka semakin meningkat saban hari. Abdul Jalil memutuskan untuk datang menemui calon mertua, meminang secara sederhana dan menikah dengan proses yang sangat ringan, kontra dengan proses pernikahan di Mesir yang terasa mahal.
Tentu saja dengan menikah terjadi perpaduan dan kemudia akan terasa persamaan dan perbedaan. Rasa cinta yang tinggi dan persamaan keyakinan- yaitu agama Islam- menjadi perekat perkawinan yang cukut kuat. Setahun setelah menikah perkawinan mereka membuahkan seorang momongan mungil yang tampan. Dan sekarang bayi mereka sudah menjadi balita- aktif dan suka mengganggu ayahnya.
Balita mereka dengan perpaduan wajah Indonesia dan Mesir terlihat sangat tampan, membuat keluarga besar mereka menjadi terhibur. Balita mereka bisa tumbuh sempurna, apalagi Abdul Jalil dalam usia yang cukup telat buat berumah tangga cukup rajin mendalami ilmu parenting, jadinya bisa membantu pertumbuhan dan perkembangan buah hati mereka. Namun tetap ada masalah yang mengganjal.
Mereka memutuskan buat menyewa rumah kecil sendiri. Dan kendala baru bahwa dapur rumah tangga mereka kadang tidak berasap. Anak dan istrinya butuh makan. Dalam realita bahwa kecerdasan berbahasa Abdul Jalil- menguasai 4 bahasa- belum mampu mengusir rasa lapar keluarga. Dalam kondisi begini yang diperlukan oleh keluarga Abdul Jalil adalah pengalaman dan keterampilannya untuk mencari nafkah. Ternyata Abdul Jalil yang cerdas kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan kampung istrinya sehingga ia belum mampu buat pencari nafkah.
Sebagai seorang ayah dan suam ternyata Abdul Jalil barur sebatas cerdas kognitif, cerdas di atas kertas, atau cerdas akademik. Anak dan istrinya butuh rupiah atau dollar dan sangat berharap agar dia punya life skill- kecerdasan dan keterampilan buat mencari nafkah, mungkin menjadi pekerja tukang, pedagang kecil, atau membuka warung kecil ala Mesir di Sumatra- namun itu belum ada.
Sebenarnya Abdul Jalil bukan lelaki yang pemalas. Ia pun sempat berdagang kecil-kecilan, seperti berdagang kurma, namun kurma bukan kebutuhan utama orang di Sumatra jadinya keberuntungan masih agak jauh darinya. Buat sementara mereka membuat alternatif, yaitu sang istri sebagai pencari nafkah part time, tentu saja dengan nominal upah dan gaji yang kecil untuk menopang ekonomi mereka. Sementara Abdul Jalil sebagai pengasuh balita di rumah.
Perkawinan mereka cukup bagus namun Abdul Jalil masih kebingungan, mau bagaimana lagi. Mau membawa keluarga ke Mesir, biaya pesawat dan kebutuhan lain begitu mahal. Laki-laki yang mau menikah, sebagai pemimpin rumah tangga, memang memikirkan secara matang dan menyiapkan keuangan yang cukup buat mendukung perkawinan mereka.
Perkawinan tidak hanya sebatas kata cinta. Karena ungkapan “I love you” hanya sebagai hiasan pada hati namun tidak bisa membuat perut kenyang. Kehidupan perkawinan butuh uang dan makan. Makan laki-laki harus terampil buat mencari rezeki. Kalau istri mampu mencari tambahan rezeki, tentu itu berguna buat meringankan beban suami.
Dalam membangun relasi dengan seseorang dan juga buat menjaga kelanggengan keluarga sangat diperlukan teori yang relevan. Namun untuk memenuhi kebutuhan dasar- maan, pakaian, perumahan- diperlukan proses kehidupan. Proses kehidupan yang memerlukan keterampilan dan pengalaman yang luas.
Hal ini juga terbukti pada kisah sukses seseorang yang tinggal di pulau Bali. Saya jadi hanyut dalam emosi saat membaca biografi Gusti Ngurah Anom- Ajik Cok, seorang raja pendiri galeri oleh-oleh khas Bali. A.Bobby (2015) memaparkan kisah sukses Ajik Cok dengan apik, sekali lagi, saya terbawa emosi membaca biografinya.
Gusti Anom, panggilannya Ajik Cok, waktu kecil dikenal sebagai anak yang bodoh, miskin, dan nakal. Namun setelah dewasa ia mampu keluar dari jerat kemiskinan. Ayahnya seorang petani penggarap, jadi sangat miskin dan ia pun punya dua istri. Ibunya Ajik Cok adalah istri kedua. Untuk mendukung ekonomi keluarga, ibunya berjualan kue kecil-kecilan.
Ajik Cok terakhir sempat masuk sekolah pariwisata, namun karena keterbatasan dana buat beli buku, pakaian dan kebutuhan sekolah lainnya maka Ajik Cok memutuskan buat drop out dari sekolah. Saat sekolah ia pun sering menunggak spp.
Didera oleh kemiskinan yang tidak berkesudahan akhirnya ia memutuskan meninggalkan rumah hanya berbekal pakaian yang melekat di badan. Ia merantau menuju kota Denpasar dengan harapan moga-moga ada perubahan pada kehidupannya. Dia mau mengerjakan apa saja jenis pekerjaan. Tidak pilih-pilih pekerjaan. Pekerjaan pertama yang ia geluti adalah sebagai tukang cuci mobil para tamu hotel dan ia pun tidur di emperan.
Beberapa waktu kemudian ia melamar menjadi buruh garmen- pakaian jadi. Profesi ini ia tekuni dengan bersemangat dan penuh hati-hati. Sehingga ia menjadi kesayangan bos. Karena karakternya yang rajin dan bekerja penuh semngat. Ia pun menjadi orang kepercayaan bosnya. Dan ia pun mengembangkan dan menumbuhkan perusahaan garmen milik bosnya.
Seiring waktu ia pun pamit sebagai buruh garmen dan memberanikan diri pula untuk membuka usaha garmen sendiri. Tentu saja secara kecil-kecilan dan ia pun langsung menjajakan produk konveksinya ke pantai, lokasi wisata, tanpa malu-malu. Ia pun belajar mengatasi beberapa kelemahan. Usaha garmennya pun tumbuh. Tidak puas hanya dengan usaha konveksi maka ia juga membuka toko oleh-oleh yang diberi nama toko krisna.
Ia tidak punya ilmu formal dari bangku sekolah yang bayak. Kecuali ia suka menimba pengalaman yang berharga dari banyak orang. Ia suka sekali learning by doing. Dengan metode bisnis- lihat, tiru, kembangkan- maka bisnis garment dan bisnis toko oleh-oleh berkembangkan pesat. Ia sekarang punya toko oleh-oleh krisna 1 hingga toko krisna 5. Sekarang banyak supplier yang tertarik untuk bergabung dengan Ajik Cok.
Saya tetap percaya bahwa proses kehidupan melalui keterampilan an keberanian lebih dahsyat hasilnya daripada hanya sekedar tahu teori. Tahun 1986 saat saya kuliah saya sempat membaca sebuah buku biografi Hasyim Ning dan hingga sekarang isi buku itu masih berkesan. Makanya apa yang kita pelajari saat masih kecil- anak anakdan remaja akan berkesan seumur hidup.
Hasyim Ning adalah seorang pengusaha sukse kelahiran Padang. Pendidikan formalnya tidak tinggi, ia hanya sekolah di SD Adabiah Padang dan juga Mulo di Padang. Mulo adalah sekolah Belanda setingkat dengan SMP yang kepanjangannya “Meer Uitgebried Larger”. Karena kesulitan hidup maka ia merantau ke Jakarta dan bekerja menjadi tukang cuci mobil. Kemudian ia dipercaya menjadi perwakilan motorcars. Karena bergelut dengan bisnis maka ia mengambil kursus pembukuan, sejenis ilmu akutansi.
Karena faktor dorongan hidup ia hijrah ke Tanjung Karang. Ia menjadi pemborong tambang batubara di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Ia kemudian pindah lagi ke Jakarta dan bekerja sebagai aministrasi kebun teh.
Hidup ini butuh keberanian dan juga butuh ilmu praktis yang langsung terpakai di lapangan. Kemampuan bergaul dan kemampuan berkomunikasi, kemampuan membaca peluang hidup, serta izin Allah Swt telah mengantarkannya menjadi Presiden Direktur Jakarta Motor Company.
Ada lagi tokoh kehidupan yang tumbuh sukses bukan karena otaknya penuh dengan teori, namun karena proses kehidupan yang ia alami mengantarkan dia dari kegelapan hidup menjadi kegemilangan masa dewasanya. Dia adalah Bazrizal Koto.
Dekat kampus UNP Padang ada plaza Basko. Saya baru tahu kalau Basko itu singkatan dari Basrizal Koto. Basko adalah pengusaha sukses yang tidak tamat SD. Proses kehidupannya adalah menggeluti bisnis yang menyentuh kebutuhan orang banyak yaitu seperti: media, percetakan, pertambangan, peternakan, perhotelan dan properti. Basrizal Koto mengawali proses hidupnya tanpa modal, dan pendidikan yang rendah, namun punya pengalaman hidup yang tinggi.
Awal proses kehidupannya adalah setelah putus sekolah ia merantau ke Riau. Namun ibunya menitip nasehat, bukan uang karena hidup miskin, yaitu agar: pandai-pandai dalam berkomunikasi, carilah segala kemungkinan/ peluang hidup, dan manfaatkan kesempatan. Sampai di Pekanbaru untuk bisa hidup, maka ia sempat menjual pisang dan petai, menjadi kenek oplet (kondektur oplet) dan ini kesempatan buat belajar berkomunikasi, melayani orang atau penumpang. Kemudian ia menjadi sopir dan ia juga menjadi makelar kendaraan. Setelah itu baru ia menekuni bisnis yang lebih berarti yaitu pada usaha properti dan juga pertambangan.Pesan artikel ini kepada anak muda bahwa selain tekun dalam studi, mendalami teori ilmu dan bidang studi, juga perlu memiliki pengalaman hidup yang diperoleh melalui proses beraktivitas. Harus membuang jauh budaya instan seperti ingin cepat kaya dan cepat pintar. Ini adalah nonsense atau omong kosong. Bahwa pintar dan kaya yang berkualitas harus dipakai melalui proses, bukan melalui proses yang instan, namun proses yang punya target capaian, yang didukung dengan keberanian, tidak gengsi-gengsian, mampu berkomunikasi, mampu membaca peluang dan juga dekat dengan manusia dan dekat dengan Allah Swt.     

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture